Pencarian

Senin, 11 Mei 2026

Menimbang Manfaat Ilmu

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan hingga seseorang mengenal shirat al-mustaqim dan menempuhnya dengan hati-hati dan seksama tidak terjebak pada langkah-langkah yang menyimpang. Pengenalan shirat al-mustaqim berupa suatu keterbukaan pengetahuan tentang jalan kehidupan yang dikehendaki Allah. Pengetahuan itu bisa sangat luas walaupun tetap terbatas. Dengan pengetahuan itu, seseorang bisa bersaksi bahwa “Tiada Ilah selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasulullah”. Seseorang yang memperoleh nikmat Allah bisa mengetahui keadaan kauniyah dengan benar melampaui batas persepsi indera jasmaniah dirinya. Mungkin pula akan ditemukan sangat banyak jebakan pengetahuan yang keliru, maka setiap orang hendaknya menggunakan pengetahuan yang jelas manfaat bagi jalan kehidupan mereka, tidak bermudah menggunakan atau mempercayai setiap pengetahuan yang terbuka kepada dirinya. Syaitan akan menyertai keterbukaan pengetahuan seseorang, di mana tanduk syaitan terbit bersama terbitnya matahari.

Integritas Ilmu Terhadap Rasulullah SAW

Tidak semua kebenaran dapat dimengerti dengan mudah oleh masyarakat umum. Misalnya pengetahuan tentang pasukan syaitan. Dalam banyak kasus, pengetahuan demikian dapat menjerumuskan manusia dalam tipuan syaitan. Pengetahuan-pengetahuan terkait syaitan tidak perlu dipelajari oleh manusia kecuali dengan cara mengikuti penjelasan yang disampaikan oleh para nabi. Setiap orang hendaknya berusaha memahami dengan tepat apa yang dimaksud oleh para nabi dalam ajarannya, tidak membuat makna yang menyimpang. Dalam hal ini syaitan akan mendorong manusia yang ingin memperoleh pengetahuan tentang mereka agar menyimpang. Setiap orang hendaknya berusaha untuk memahami dengan benar nilai dari pengetahuan yang diperolehnya.

Akan tetapi sebenarnya tidak tertutup kemungkinan seseorang memperoleh pengetahuan demikian dengan benar. Ilmu yang benar itu bisa bermanfaat karena duduk pada urusannya secara benar. Misalnya mungkin ada orang-orang yang mempunyai komitmen yang kuat terhadap jamaah, berkeinginan untuk membantu urusan Rasulullah SAW. Mungkin orang demikian kemudian memahami urusan Rasulullah SAW terkait alam syaitan. Pemahaman demikian itupun seringkali bukan pengetahuan yang diperoleh secara mandiri, tetapi berada di belakang pemahaman terhadap urusan seorang wasilah misalnya khalifatullah Al-Mahdi. Bagi yang memperolehnya, ia mengetahui bahwa pengetahuan tentang syaitan itu hanya merupakan sisi koin yang lain dari pengetahuan yang diperoleh karena komitmen membantu khalifatullah untuk menolong urusan Rasulullah SAW. Bila suatu ilmu mempunyai kedudukan demikian, ilmu yang tampak seperti fitnah itu bisa memberikan manfaat, dan itu merupakan ilmu yang bisa dianggap benar selama tidak disalahgunakan.

Ilmu demikian tergolong ilmu yang bersumber dari kitabullah Alquran. Sebagai penjelasan, ayat 3 dan 4 surat Al-Fatihah sebenarnya dapat dipandang sebagai penjelasan tentang kedudukan kedua uswatun hasanah dan khalifatullah. Penyaksian seseorang terhadap risalah Rasulullah SAW merupakan bukti kebenaran musyahadah seseorang terhadap Ilahiah Allah. Musyahadah terhadap risalah itu telah dijadikan sebagai bagian dari ummul kitab. Dalam umul kitab, musyahadah itu sebenarnya tidak berdiri sendiri. Seorang mukmin yang benar kesaksiannya terhadap risalah sebenarnya juga akan mempunyai pengetahuan tentang khalilullah Ibrahim a.s sebagai uswatun hasanah, dan juga mempunyai pengetahuan tentang khalifatullah sebagai perpanjangan bayangan Rasulullah SAW di alam dunia.

﴾۳﴿الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
﴾۴﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
(3)Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (4) Raja di Hari Agama (QS Al-Faatihah : 3-4)

Allah memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk dalam berbagai derajat. Derajat tertinggi adalah asma Ar-Rahman yang beristiwa di atas ‘Arsy. Pada derajat yang berdekatan, Allah memperkenalkan diri-Nya dengan asma Ar-Rahim, berkedudukan sangat tinggi melekat pada ‘arsy. Rasulullah SAW merupakan insan paling sempurna yang diberi kemampuan memanifestasikan asma yang tertinggi Ar-Rahman, dan nabi Ibrahim a.s merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Ar-Rahiim secara sempurna. Kedua insan tersebut merupakan uswatun hasanah yang memanifestasikan asma Allah dengan benar sepanjang masa. Kedua asma itu dipanjangkan bayangannya hingga asma yang bertakhta di Kursy sebagai Malik (raja), dan khalifatullah Al-Mahdi merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Malik. Asma Malik hanya merupakan manifestasi asma Allah yang bersifat temporer pada waktu yang ditentukan yaitu pada hari agama, dan khalifatullah bukan termasuk sebagai uswatun hasanah.

Hari agama pada satu sisi adalah landmark dimulainya masa kekuasaan khalifatullah Al-Mahdi, dan sisi lainnya merupakan landmark berakhirnya kekuasaan Iblis sebagai penguasa bumi. Kebanyakan muslimin tidak tepat merujukkan istilah hari agama. Sebagian besar merujukkan hari agama sebagai hari pembalasan atau hari-hari di alam akhirat. Sebenarnya Alquran sendiri telah menunjukkan apa yang dimaksud sebagai hari agama. Hari agama adalah hari di mana kekuasaan Iblis di dunia seharusnya akan berakhir. Iblis meminta perpanjangan waktu penguasaan kepada Allah, dari yang seharusnya berakhir pada hari agama memohon diperpanjang hingga hari kebangkitan. Allah mengabulkannya akan tetapi hanya hingga hari yang ditentukan, yaitu hari kiamat. Hari agama sebenarnya adalah hari-hari dimana khalifatullah Al-Mahdi diberi kekuasaan di bumi sedemikian agama yang telah sempurna diturunkan kepada Rasulullah SAW ditegakkan. Pada masa kekuasaan khalifatullah itu Allah memperkenalkan tajalliat diri-Nya sebagai Malik.

Pengetahuan seseorang tentang Iblis dan balatentaranya merupakan sisi koin yang lain dari pengetahuan terhadap khalifatullah Al-Mahdi. Pencarian pengetahuan tentang Rasulullah SAW, Khalilullah a.s dan khalifatullah merupakan bentuk utama pencarian pengetahuan dalam beribadah kepada Allah, sedangkan pengetahuan tentang syaitan hanya imbas yang tumbuh dari pengetahuan yang harus dicari hamba Allah. Pengetahuan imbas saja kadang berbahaya tidak boleh diusahakan dengan niat mencarinya. Pengetahuan demikian bisa bermanfaat manakala merupakan imbas karena kepedulian seseorang terhadap urusan Rasulullah SAW dan perpanjangannya. Seseorang yang peduli pada urusan khalifatullah akan terdorong untuk memperoleh pengetahuan tentang apa yang seharusnya dikerjakan termasuk dalam hal ini pengetahuan tentang musuh yang harus dihadapi sang khalifatullah. Manakala seseorang memperoleh pengetahuan yang mencurigakan dengan jalan yang haqq seperti di atas, pengetahuan itu bisa tidak berbahaya bagi dirinya dan justru memberikan manfaat yang besar bagi umat manusia.

Dengan terintegrasi pada kebenaran universal, pengetahuan-pengetahuan yang sekilas tampak berbahaya bisa memberikan manfaat kepada orang-orang yang memperolehnya selama pengetahuan itu benar. Misalnya boleh jadi seseorang melihat sepak terjang para syaitan pengikut Asytoret memalsukan nilai-nilai pengajaran agama, maka ia bisa berusaha menangkalnya dengan merumuskan ilmu tauhid yang lebih mendekati kehendak Allah. Atau manakala seseorang melihat iblis pengamat memporakporandakan tatanan kaum mukminin melalui perusakan pernikahan, ia bisa menyeru kaum mukminin untuk menata barisan dengan benar mengikuti tuntunan Allah sekalipun apabila ia bukan musuh si pengamat secara langsung. Seseorang yang mengetahui tipu daya dapat membantu sahabatnya yang berurusan untuk menghadapi tipu daya Iblis. Demikian gambaran manfaat yang dapat diperoleh dari ilmu yang terintegrasi dengan kebenaran Rasulullah SAW.

Melampaui Kesemuan Pada Ilmu

Pada sisi lainnya, ada pengetahuan-pengetahuan yang tampaknya berkilau akan tetapi sebenarnya merupakan fitnah. Syaitan menyesatkan manusia tidak hanya menggunakan ilmu yang salah, akan tetapi juga menggunakan kebenaran yang tidak diketahui nilainya. Iblis dahulu mendorong Adam dan Hawa untuk mendatangi pohon khuldi. Pada dasarnya setiap manusia merupakan pohon yang harus tumbuh dan berbuah sebagai kalimah Allah. Itu merupakan kebenaran. Tetapi sebenarnya syaitan bisa menggunakan kebenaran yang tidak diketahui nilainya oleh manusia untuk menyesatkan mereka. Manakala seseorang tergesa-gesa atau bisa dibuat tergesa-gesa mendatangi pohon thayibah dirinya, syaitan sebenarnya menunggu mereka pada pohon itu. Tanduk syaitan akan terbit bersama dengan terbitnya matahari. Setiap orang harus membina keikhlasan yang kokoh dalam berusaha mengenali pohon thayibah dirinya sedemikian ia bisa mengenali tanduk syaitan yang menyertai pohon thayibah manakala berbuah.

Seseorang yang kokoh dalam keikhlasan akan lebih berusaha mengenali kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW, tidak menempatkan dirinya dalam urusan mandiri yang terpisah. Pengetahuan yang mereka bangun seringkali disertai pengetahuan tentang silsilah urusan dirinya. Misalnya jika seseorang adalah pembantu khalifatullah maka ia mengenal khalifatullah sebagai wasilah yang menghubungkan dirinya kepada Rasulullah SAW. Seseorang yang merasa sebagai puncak pemegang urusan menunjukkan ia tidak sepenuhnya mengetahui kedudukan Rasulullah SAW, termasuk bagi urusan dirinya. Itu bisa menjadi tanda bahwa ia mungkin mengikuti tanduk syaitan. Seseorang yang benar akan mengetahui dirinya merupakan bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW bukan sumber urusan. Yang penting bagi orang yang benar adalah pelaksanaan urusan Rasulullah SAW bukan urusan dirinya sendiri. Mungkin ia tidak peduli urusan dirinya. Ia hanya memperhatikan urusan yang keluar dalam bentuk ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan menggunakan apa yang ada dalam dirinya untuk mewujudkan urusan dari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengutamakan apa yang ada dalam dirinya. Seandainya ia berjumpa dengan wasilahnya, ia akan lebih mendengarkan arahan wasilahnya daripada yang ada dalam dirinya karena arahan itu lebih sempurna mendekati urusan Rasulullah SAW.

Dalam pelaksanaan amal, seseorang yang mengenal urusan diri perlu memperhatikan banyak hal. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW terkait urusan dan pelaksanaan urusan yang harus ditunaikan. Selanjutnya ia harus memperhatikan segala sesuatu yang terkandung dalam dirinya berupa pengetahuan-pengetahuan internal ataupun hal lain yang ada dalam dirinya. Ia juga perlu memperhatikan objek untuk mewujudkan amalnya dan bila perlu melakukan penyesuaian seperlunya dengan keadaan. Kadangkala keadaan yang harus diperhatikan terkait dengan langkah musuh yang merusak urusannya. Misalnya seseorang mengetahui urusan musuh, ia perlu mempertimbangkan kerusakan yang telah diperbuat oleh musuhnya dan memperbaikinya dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala keadaan yang harus diperhatikan adalah sinergi dengan sahabat-sahabat yang menolong agama baik dalam urusan wasilah yang sama atau sahabat yang lebih jauh.

Mengenal urusan wasilah kepada Rasulullah SAW akan menjadikan seseorang dapat bekerjasama dengan sahabatnya. Misalnya apabila urusan seseorang adalah membantu khalifatullah pada satu bagian urusan, ia dapat membantu sahabatnya dalam membantu khalifatullah pada bagian yang lain sesuai dengan keadaan dirinya. Hubungan bantu membantu ini pasti ada, tidak ada seseorang yang diciptakan dengan urusan sendirian. Bila ia tidak mengenal urusan wasilahnya, ia mungkin tidak menyadari manfaat dari urusan sahabatnya hingga ia mungkin bekerja sendiri tanpa peduli sahabatnya atau justru merusak urusan sahabatnya yang lain. Ia mungkin hanya memandang penting urusannya sendiri dan memandang yang lain tidak penting. Lebih buruk lagi mungkin seseorang memandang sahabatnya sebagai pesaing atau justru lawan karena kurangnya pemahaman terhadap urusan Al-Jamaah. Hal demikian tidak boleh terjadi. Setiap orang hendaknya berusaha menemukan dirinya sebagai bagian dari Al-Jamaah yang membantu pelaksanaan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Pengenalan sebagai bagian Al-Jamaah hendaknya dibentuk hingga seseorang mengetahui urusan jaman dan hubungan wasilah yang seharusnya dibentuk pada jamaah tersebut, bukan terus menerus hanya sebagai kumpulan orang-orang yang bekerja bersama tanpa mengetahui hubungan urusan masing-masing dengan sahabatnya. Saling membantu di jalan Allah berlaku bagi setiap muslim.

Bukan hanya membantu, seseorang perlu bisa melihat apa yang bisa menolong dirinya menempuh jalan Allah dari sahabatnya. Hal itu bisa dilakukan dengan benar bila setiap orang berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar. Keberhasilan seorang mukmin dalam mengenali urusan jaman sebenarnya akan sangat memudahkan mukminin lain untuk mengenal urusan bagi dirinya. Manakala seseorang mengenali urusannya, seharusnya kaum mukminin lainnya akan mudah mengikuti langkahnya mengenali urusan Allah yang harus ditunaikan dengan memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang ditunaikan sahabatnya. Akan tetapi tidak jarang suatu kaum terliputi oleh waham yang menjadikan mereka sulit untuk mengenali urusan Allah. Kadangkala suatu kaum hanya mengikuti suatu ajaran tanpa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang ditunaikan, maka mereka tidak menemukan urusan Allah hanya mengikuti doktrin secara membuta. Kadangkala seseorang tidak berhati-hati memahami urusan Allah hingga terjebak mengerjakan urusan sendiri bukan mengerjakan urusan Allah, tetapi menyangka itu urusan Allah. Bila tidak memperhatikan tuntunan Allah, suatu kaum tersebut akan kesulitan untuk mengenal urusan Allah. Urusan Allah akan ditemukan oleh orang yang mengikuti sahabatnya dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Setiap orang harus membangun ilmu yang terintegrasi dengan Rasulullah SAW agar ilmu yang diperoleh semakin bertambah bobot manfaatnya semakin mendekati nilai hakikat. Banyak muslimin yang tidak melangkah dengan benar hingga menjadi tersesat. Sebagian muslimin yang bodoh mengikuti nilai-nilai syaitaniah yang disusun dengan dalil-dalil tanpa berusaha memahami hingga menjadi kaum khawarij yang terlempar dari islam. Sebagian muslimin mengasah kemampuan menggunakan akal tetapi tidak mengintegrasikan pemahaman mereka dengan amr jami’ Rasulullah SAW sedemikian mereka berbuat baik secara menyimpang dari maksud Rasulullah SAW menjadi ahlul bidah. Dalam beberapa hal, amal yang dipandang ahlul bid’ah sebagai kebaikan itu sebenarnya menghancurkan upaya orang-orang yang benar-benar peduli dengan pelaksanaan urusan Rasulullah SAW. Beberapa kaum muslimin mungkin hanya memperhatikan urusan diri sendiri hingga tidak berjalan mendekat kepada Allah dengan melaksanakan amal-amal yang ditentukan bagi mereka, terus saja berada di tepian jurang dalam ibadahnya kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar