Pencarian

Kamis, 14 Mei 2026

Beberapa Pilar Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Penyaksian terhadap risalah Rasulullah SAW merupakan bukti kebenaran musyahadah seseorang terhadap Ilahiah Allah. Musyahadah terhadap risalah itu secara tersirat dijadikan sebagai bagian dari ummul kitab. Dalam umul kitab, musyahadah itu sebenarnya tidak berdiri sendiri. Seorang mukmin yang benar kesaksiannya terhadap risalah sebenarnya juga akan mempunyai pengetahuan tentang khalilullah Ibrahim a.s sebagai uswatun hasanah, dan juga mempunyai pengetahuan tentang khalifatullah sebagai perpanjangan bayangan Rasulullah SAW di alam bumi.

﴾۳﴿الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
﴾۴﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
(3)Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (4) Raja di Hari Agama (QS Al-Faatihah : 3-4)

Allah memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk dalam berbagai derajat. Derajat tertinggi adalah asma Ar-Rahman yang beristiwa di atas ‘Arsy. Pada derajat yang berdekatan, Allah memperkenalkan diri-Nya dengan asma Ar-Rahim, berkedudukan sangat tinggi melekat pada ‘arsy. Rasulullah SAW merupakan insan paling sempurna yang diberi kemampuan memanifestasikan asma yang tertinggi Ar-Rahman, dan nabi Ibrahim a.s merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Ar-Rahiim secara sempurna. Kedua insan tersebut merupakan uswatun hasanah yang memanifestasikan asma Allah dengan benar sepanjang masa. Kedua asma itu dipanjangkan bayangannya hingga asma yang bertakhta di Kursy sebagai Malik (raja), dan khalifatullah Al-Mahdi merupakan insan yang diberi kemampuan memanifestasikan asma Malik.

Derajat-derajat tajalliat di atas menunjukkan tingkatan fundamen jalan kembali kepada Allah. Jalan kembali itu hendaknya ditempuh oleh setiap hamba Allah dengan memperhatikan tingkatan tersebut dimulai dengan membina sifat rahman seperti Rasulullah SAW, sifat rahim seperti khalilullah hingga melakukan pemakmuran bumi sebagaimana khalifatullah. Ibadah setiap manusia berbentuk pemakmuran bumi yang harus dilakukan sesuai dengan penciptaan diri dan keadaan masing-masing dalam bentuk amal-amal. Untuk melakukan pemakmuran, setiap orang harus membina diri mengikuti tuntunan uswatun hasanah. Pemakmuran tidak akan benar-benar dapat dilakukan apabila tidak terbangun sifat rahman dan rahim pada diri manusia yang melaksanakannya.

Sifat rahman ditunjukkan dengan kemampuan seseorang untuk memahami kehendak Allah yang digelar melalui ayat-ayat-Nya, selaras antara ayat kauniyah dengan ayat kitabullah. Sifat ini merupakan pembentuk utama akhlak mulia. Sifat rahman terbentuk melalui pembinaan akhlak hamba Allah sebagai misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah. Sifat rahim merupakan pembentuk akhlak mulia yang akan mendukung terbentuknya sifat rahman pada diri seseorang. Tanpa adanya sifat rahim, sifat rahman tidak akan terbentuk pada diri seseorang. Manakala seseorang membentuk sifat rahman tanpa membina sifat rahim, bayangan cahaya Allah yang terbentuk bisa kacau, tidak benar dalam membentuk bayangan kehendak Allah. Pemakmuran bumi yang sebenarnya akan terbentuk manakala sifat rahman dan sifat rahim telah terbentuk. Semakin besar sifat rahman dan sifat rahim terbentuk, semakin besar pula potensi pemakmuran yang dapat diwujudkan oleh suatu kaum.

Pilar-Pilar Pemakmuran

Suatu pemakmuran terbentuk melalui upaya suatu kaum, bukan upaya perorangan, dan masing-masing orang bisa menyumbangkan pemakmuran. Tingkat pemakmuran yang dapat disumbangkan ditentukan dengan akhlak yang terbentuk pada diri masing-masing. Terdapat pilar-pilar yang harus ditegakkan untuk melakukan pemakmuran. Pilar pemakmuran adalah kumpulan prinsip yang harus diperhatikan untuk melaksanakan proses pemakmuran. Semakin lengkap pilar pemakmuran ditegakkan, kemakmuran yang dapat terbentuk akan semakin kokoh. Pilar pemakmuran berupa aspek-aspek rahmaniah yang dapat dikenal oleh manusia, dapat berkembang dari pokok-pokoknya hingga cabang dan ranting yang lebih terinci. Kesempurnaan pemakmuran bangsa akan terwujud pada masa khalifatullah Al-Mahdi.

Pilar-pilar pemakmuran secara lengkap akan termanifestasikan oleh khalifatullah Al-Mahdi, akan tetapi kaum mukminin boleh saja memperkirakan pilar-pilar yang akan ditegakkan sebagai sarana untuk melakukan pemakmuran, terutama bila dilakukan untuk membantu Rasulullah SAW dan khalifatullah. Pada dasarnya setiap orang bisa memperoleh pengetahuan urusan dirinya sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW dan khalifatullah. Perkiraan dalam pernyataan di atas boleh dilakukan dengan menghitung berdasar pengetahuan parsial diri. Sebagian ulama memberikan beberapa pedoman tentang pilar-pilar tersebut secara garis besar misalnya dengan menyebutkan adanya tujuh pilar. Boleh saja mukminin lain berusaha menelisik upaya yang dapat atau harus dilakukan untuk membantu urusan sang Imam. Bangsa Iran dalam hal ini terlihat sangat mengharapkan kedatangan khalifatullah dengan menegakkan pilar jihad.

Dengan mengharap memahami kebenaran, penulis berusaha mengidentifikasi pilar-pilar yang perlu ditegakkan untuk mewujudkan pemakmuran untuk membantu terselenggaranya amr Allah. Pilar-pilar itu dapat disebutkan berupa : 1. Tauhid dan keikhlasan, 2. Shilaturrahmi, 3. Pengembangan potensi diri, 4. Pengembangan potensi wilayah, 5. Jihad, 6. Sinergi dan kesetimbangan alam, 7. Pengelolaan dan basis data

Tegaknya pilar secara sempurna akan terjadi apabila seseorang dapat membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pilar-pilar tersebut tidak akan dapat ditegakkan oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah. Semakin sempurna taubat seseorang kepada Allah, semakin tegak pilar yang dapat ia tegakkan. Misalnya Imam Khameini bersama bangsa Iran terlihat telah berjuang menegakkan pilar jihad melawan kedzaliman. Bayangan paling dekat Imam Khameini tampak pada IRGC yang secara senyap berhasil menegakkan jihad perlawanan secara memadai terhadap kedzaliman. Bayangan lebih jauh, bangsa Iran secara hampir menyeluruh mempunyai integritas dalam menegakkan jihad sebagai p[ilar pemakmuran. Barangkali mereka tidak terlihat kaya raya ataupun megah pada semua aspek, akan tetapi bisa tampil bermartabat dengan kekuatan tempur yang sangat kuat. Sekilas pilar-pilar yang lain juga tumbuh baik tidak buruk akan tetapi tidak terlihat sekuat kekuatan jihad mereka. Tegaknya pilar pemakmuran demikian terjadi apabila ada seseorang yang berhasil membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Alangkah baiknya bila kaum muslimin yang lain bisa belajar dari bangsa Iran dalam menegakkan pilar jihad untuk negeri masing-masing, dan meneruskan jihad sang Imam dari negeri masing-masing.

Pilar Tauhid

Pilar tauhid dan keikhlasan harus dibina oleh setiap orang dan setiap bangsa. Pada intinya, tauhid dan keikhlasan bertujuan membentuk manusia untuk bisa mengenal kehendak Allah, berbentuk pembinaan akhlak menuju kemuliaan, dimulai dari ucapan syahadatain dan diikuti proses tazkiyatun-nafs, membina akhlak sebagai misykat cahaya hingga membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan kemudian dijadikan hamba yang didekatkan. Tauhid demikian akan menjadikan seseorang atau suatu bangsa mengalami proses pembinaan akhlak menuju kemuliaan. Dewasa ini pilar tauhid yang utuh demikian dicerai-beraikan oleh kaum khawarij hingga ajaran tauhid dikenali hanya dalam bentuk angan-angan tauhid saja. Dengan rumusan tauhid yang populer dewasa ini, seseorang hanya akan terus berada pada pintu masuk tauhid saja, tidak melangkah membina tauhid dengan sebenarnya.

Pada tingkat bangsa, barangkali tidak semua orang pada suatu bangsa mempunyai cukup keinginan untuk kembali menjadi makhluk mulia. Barangkali ada orang-orang yang membina diri hingga menjadi misykat cahaya, dan ada orang-orang yang tetap berkeinginan berkecimpung pada harta benda dunia yang banyak dan merasa cukup dengan itu, dan sangat banyak macam akhlak manusia yang ada di antara keduanya yang tidak bisa dipersamakan satu dengan yang lain. Pembinaan tauhid yang harus diterapkan adalah bahwa setiap orang dan lapisan akhlak harus bisa bertindak berpihak pada kebaikan bersama berdasarkan tuntunan Allah. Orang-orang yang telah membina diri sebagai misykat cahaya harus mempunyai kemampuan membedakan antara perintah Allah dengan sesuatu yang bathil sedemikian ia bertindak mengikuti tuntunan Allah bukan mengerjakan sesuatu yang bathil. Para pemegang kekuasaan hendaknya mampu memikirkan dan menentukan kebijakan yang memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat umum dengan menimbang aspek kebaikan secara lebih seksama. Pemimpin bangsa di negeri yang subur seharusnya bukan hanya memikirkan gizi untuk anak-anak, tetapi mampu membuat kebijakan yang membuat bangsa dapat melakukan proses produktif pada setiap lapis masyarakat termasuk pemenuhan gizi anak-anak sebagai masalah jasmaniah dengan mempertimbangkan aspek berbangsa secara lebih lengkap, dari pengetahuan tentang kehendak Allah melalui ayat-ayat yang digelar hingga hal-hal duniawi bangsa termasuk aspek jasmaniah pemenuhan gizi anak-anak bangsa. Demikian pula masyarakat bawah hendaknya dapat melaksanakan urusannya dengan mengikuti aturan yang baik menurut agama. Pedagang harus bermuamalah dengan jujur, dan demikian pula setiap orang yang berusaha untuk dirinya sendiri hendaknya dapat dibina untuk berkomitmen terhadap kebaikan bersama tidak mementingkan diri sendiri.

Banyak masalah bisa timbul karena kurangnya pembinaan tauhid. Akan banyak perselisihan yang tidak mempunyai ujung pangkal karena tidak adanya referensi kebenaran, di mana kebenaran hanya ditentukan hawa nafsu. Seorang yang berakhlak tinggi tetapi tidak berkomitmen terhadap tuntunan Allah akan menimbulkan kerusakan yang sangat besar karena mereka sebenarnya justru akan tertipu langkah syaitan, karena syaitan pasti akan menggunakannya. Perumusan kebijakan di tingkat pemegang kuasa akan mudah dipengaruhi kepentingan-kepentingan parasitis dan dibuat tampak baik, dimana penguasa tidak dapat melihat kebaikan dan keburukan dari kebijakan yang harus dirumuskan. Dalam taraf tertentu, kebijakan di antara penguasa bisa saja dibuat sungguh-sungguh untuk kepentingan parasitis. Masyarakat bawah mungkin menjadi orang-orang yang mudah diperalat oleh kepentingan parasitis karena kurangnya pengetahuan dan kaburnya kebenaran. Di masyarakat umum, mungkin akan banyak terjadi penipuan terhadap sesama karena buruknya akhlak bangsa. Orang yang bodoh bisa merasa pandai, dan orang-orang yang pandai bisa dianggap bodoh. Sangat banyak macam masalah yang bisa timbul karena kurangnya pembinaan tauhid.

Pilar tauhid harus ditegakkan di bangsa muslimin hingga bentuk-bentuk syariat terkait kehidupan sehari-hari. Ilmu-ilmu fiqih hendaknya dihidupkan sedemikian setiap orang mengerti makna kebaikan dari ketentuan yang diajarkan bagi kehidupan mereka dalam bermasyarakat. Orang-orang yang telah diberi kekuatan-kekuatan indera bathiniah hendaknya dibina untuk dapat menggunakan kekuatan mereka untuk memahami ayat-ayat Allah. Orang-orang yang bisa memahami kehendak Allah hendaknya berusaha untuk tetap berada di jalan yang lurus berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW menghindari langkah-langkah syaitan yang mungkin menipu. Demikian setiap lapisan dalam masyarakat hendaknya dibina untuk bertauhid sesuai dengan keadaan masing-masing. Setiap penyimpangan dari tauhid akan memberikan dampak buruk bagi kehidupan bermasyarakat, dan semakin besar penyimpangan yang terjadi semakin besar dampak buruk yang ditimbulkan.

Pilar Shilaturrahmi

Pilar tauhid harus disertai dengan penegakan pilar shilaturrahmi. Shilaturrahmi dalam bentuk idealnya adalah terhubungnya seseorang dalam jalinan Al-Jamaah yang melaksanakan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman, dengan pemahaman terhadap peran yang harus dilaksanakan untuk pelaksanaan urusan tersebut. Ia mengenal hubungan dirinya dengan sahabat-sahabat yang berjuang bersama, bisa memahami arahan wasilahnya, dapat memberikan bantuan kepada sahabatnya dan dapat memberikan arahan kepada orang-orang yang membantunya karena mengerti kedudukan dirinya dalam Al-Jamaah, tidak berbuat kontraproduktif yang menyebabkan kerusakan hubungan Al-Jamaah dan kerugian dalam perjuangan Al-Jamaah. Demikian itu bentuk shilaturrahmi dalam bentuk idealnya. Dalam realitas, banyak bentuk perpanjangan shilaturrahmi yang dapat atau harus dibangun oleh setiap manusia, tidak hanya shilaturrahmi dalam bentuk ideal, dan seluruh bentuk shilaturrahmi itu mendatangkan manfaat yang besar bagi umat manusia.

Menegakkan pilar shilaturrahmi secara ideal harus dilakukan dari dua arah, yaitu memperkenalkan urusan yang harus ditunaikan dan membina umat untuk layak mengenal urusan Rasulullah SAW. Seseorang yang mengetahui urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya harus memperkenalkan urusan itu kepada orang-orang yang berhak untuk mengenal. Orang-orang yang berhak untuk mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya itu adalah orang-orang beriman yang telah membina akhlak dirinya hingga dapat menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah. Kondisi demikian harus dipenuhi agar pelaksanaan urusan Rasulullah SAW dilakukan secara sinergis tidak berbantah-bantahan. Orang yang tidak mampu menggunakan akal tidak perlu dilibatkan dengan intensitas tertentu karena bisa saja mendatangkan madlarat bagi perjuangan Al-Jamaah.

Pembinaan umat harus dilakukan agar umat dapat mengenal urusan ruang dan jamannya. Dasar pembinaan shilaturrahmi yang ideal adalah pernikahan. Pada dasarnya penempatan seseorang pada urusan haq dirinya merupakan pertumbuhkembangan dari pernikahan. Peran ideal seorang isteri terhadap suaminya merupakan gambaran terbaik bagi duduk peran seseorang dalam perjuangan Rasulullah SAW yang harus dikenal setiap orang, dan pernikahan bagi seorang laki-laki merupakan media terbaik pencarian peran diri dalam urusan Rasulullah SAW. Seorang isteri telah menentukan jalan ibadah kepada Allah ketika menikah, terlepas jodohnya baik ataupun buruk baginya. Ia hanya perlu mensyukuri pernikahannya untuk menemukan jalan ibadahnya kepada Allah. Perjuangan seorang wanita untuk mengenal jalan ibadah terbaiknya dilakukan sebelum menentukan jodohnya, dimana seorang wanita harus mengendalikan hawa nafsu dan syahwat dalam menentukan suami, dan tidak jarang harus berusaha mentaati petunjuk yang diberikan kepada dirinya. Seorang laki-laki menemukan media untuk mengenal jalan ibadah hakiki baginya ketika menikah, maka ia harus menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah melalui pernikahannya. Pernikahan merupakan media pembinaan shilaturrahmi yang paling ideal bagi setiap mukmin.

Pilar shilaturrahmi akan roboh manakala fiqih pernikahan dirusak atau tidak dihormati, dan hubungan shilaturahmi di masyarakat akan menjadi rusak karena rusaknya pernikahan. Para perempuan lajang harus dibina untuk mengendalikan keinginan duniawi dan hawa nafsu untuk mengenali dan memilih jodoh yang terbaik bagi jalan ibadahnya kepada Allah, dan tidak jarang harus berusaha mentaati petunjuk Allah yang sampai kepada dirinya. Para perempuan dan para isteri tidak boleh dididik untuk memberontak terhadap suaminya sekalipun dengan ide perjuangan untuk agama. Ada penyimpangan perempuan dalam bentuk yang tampak indah berupa perjuangan untuk agama, tetapi sebenarnya merupakan kekejian. Perempuan tidak boleh terjebak dalam waham hingga memberontak terhadap suami. Kadangkala perempuan lajang mengenali jodohnya dalam bentuk yang tidak diinginkan hawa nafsunya kemudian ia menyebarkan hal-hal buruk untuk mencegah perjodohannya. Hal demikian termasuk hal yang merusak silaturrahmi yang tidak boleh dilakukan. Menyebarkan hal buruk itu mendatangkan kerusakan bagi masyarakat, sedangkan penolakan terhadap petunjuk jodoh merupakan ketidakbersyukuran kepada Allah. Para laki-laki hendaknya dibina untuk dapat membaca ayat-ayat Allah melalui pernikahan yang mereka jalani untuk membina shilaturrahmi yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar