Pencarian

Minggu, 31 Agustus 2025

Fajar Sang Merah Putih : Dampak

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Nusantara merupakan negeri yang akan memperoleh anugerah berupa sang merah putih. Tugas utama yang akan ditunaikan oleh sang merah putih adalah menunjukkan kepada umat manusia jalan menuju cahaya Allah, sedemikian umat manusia akan mengetahui persoalan kegelapan yang menyelimuti diri mereka dan memperoleh jalan keluar dari masalah mereka. Cahaya itu sebenarnya adalah pemahaman yang tepat terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan kauniyah. Sang merah putih itu menunjukkan kepada umat manusia tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan alam kauniyah mereka, sedemikian umat manusia memahami kauniyah yang terjadi menurut hakikat dari sisi Allah sedemikian umat manusia mengetahui jalan keluar yang seharusnya ditempuh untuk keluar dari masalah mereka.

Dunia ini pada dasarnya merupakan alam yang gelap, dan akan semakin gelap dengan dosa-dosa yang dilakukan oleh para pendosa. Banyak manusia yang mengikuti langkah-langkah syaitan untuk membangun kemakmuran bagi diri mereka tanpa mempedulikan kebaikan bagi umat secara menyeluruh. Cara-cara demikian akan menambah kegelapan dan kesulitan bagi kehidupan manusia di alam dunia. Misalnya sebagian besar kekayaan bangsa mungkin dikuasai oleh segelintir orang dengan rakus dengan dukungan kekuasaan dan tata hukum yang dibuat untuk mengesahkan penguasaan itu. Hal itu dapat menimbulkan kesulitan bagi kehidupan bangsa secara menyeluruh. Itu adalah contoh kegelapan yang dapat menyelimuti keadaan suatu bangsa, dan amanah sang merah putih adalah menunjukkan manusia kehidupan yang penuh cahaya dan menemukan jalan keluar dari kegelapan itu.

Perbuatan dosa demikian akan menyertai kemunculan sang merah putih. Apabila kaum mukminin tidak berusaha memahami keadaan dan kehendak Allah dengan tepat, mereka akan dikuasai oleh para pendosa yang mendatangkan kesulitan pada kehidupan mereka hingga pemakmuran bumi akan sulit diwujudkan, dan justru umat manusia atau bangsa indonesia akan terjebak pada kesulitan karena dosa-dosa yang diperbuat oleh orang-orang yang menjadi pembesar-pembesar mereka. Alih-alih terbentuk kemakmuran, manusia akan terbelit oleh berbagai masalah yang sengaja dibuat untuk mempersulit keadaan diri.

﴾۳۲۱﴿وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri pembesar-pembesar dari kalangan para pendosa mereka agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. (Al-An’aam : 123)

Para pendosa akan menjadi pembesar-pembesar negeri karena kurangnya pemahaman manusia terhadap tatanan yang dikehendaki Allah. Barangkali manusia tidak mengenal tatanan diri yang harus dibina sesuai dengan tuntunan kitabullah, atau tidak mengenal tatanan keluarga yang merupakan lingkaran inti tatanan sosial diri mereka maka tatanan sosial masyarakat yang lebih besar pun menjadi kacau hingga para pendosa justru menjadi pembesar-pembesar negeri sedangkan orang-orang yang mempunyai pengetahuan dan berkeinginan baik justru disingkirkan dari tatanan bermasyarakat. Kurangnya pemahaman manusia terhadap tatanan yang dikehendaki Allah menjadikan suatu bangsa justru menjadikan para pendosa sebagai pembesar-pembesar negeri. Fenomena ini berfungsi menunjukkan pentingnya menempuh jalan mengikuti kehendak Allah karena syaitan sangat lihai pula membuat makar. Selain itu juga agar suatu kaum tidak menyangka dirinya orang yang telah berilmu tentang kehendak Allah secara serampangan.

Pada masyarakat yang sama sekali buta terhadap tatanan sesuai kehendak Allah, para pendosa yang menjadi pembesar-pembesar negeri itu akan tampak di mata masyarakat bagaikan pahlawan dengan lagak yang mereka lakukan sedangkan kejahatan mereka tersembunyi dari pandangan masyarakat. Masyarakat mungkin akan memuja kebaikan para pembesar yang justru menipu dan melakukan makar terhadap diri mereka. Boleh jadi para pembesar mereka menjual kekayaan negeri untuk keuntungan sendiri, mendatangkan orang-orang asing untuk menjadi tuan di negeri sendiri dan menjadikan bangsa sendiri sebagai budak yang melayani kepentingan orang asing. Aturan-aturan dibuat untuk menjadikan orang-orang leluasa untuk berkuasa atas orang lain yang lebih lemah, dan para pembesar itu memperoleh keuntungan dengan aturan yang mereka buat dari orang-orang yang kuat.

Manakala masyarakat mulai mengerti adanya tatanan mengikuti kehendak Allah, mungkin mereka tidak bisa langsung mengikuti kehendak tersebut. Para pembesar negeri mungkin bukan sepenuhnya dari kalangan pendosa yang mempunyai keinginan jahat memanfaatkan bangsa untuk kepentingan mereka sendiri, tetapi bercampur-campur antara para manusia normal dengan para pendosa. Orang-orang baik yang berpengetahuan mulai dapat memberikan sumbangsih bagi negeri sedangkan orang-orang jahat masih mempunyai kekuatan untuk menggerakkan kekacauan pada negeri. Orang-orang baik harus melakukan negosiasi dengan orang-orang jahat untuk mewujudkan tatanan yang mendatangkan kebaikan bagi masyarakat luas. Setiap tatanan yang baik akan merugikan kepentingan para pendosa.

Manakala para pemimpin yang baik berusaha mewujudkan tatanan yang baik, para pendosa di antara mereka akan menggerakkan kekuatan untuk menimbulkan kekacauan pada masyarakat. Kekuatan mereka boleh jadi sangat besar karena mungkin telah dan masih mempunyai perpanjangan tangan pada berbagai lapisan bangsa, dari kalangan eksekutif, legislatif, yudikatif, aparat hukum dan keamanan hingga lapis rakyat jelata yang bersikap pragmatis mencari keuntungan duniawi dengan cara bersekongkol dengan kejahatan. Untuk membuat kerusuhan, mereka sebenarnya mengadu perpanjangan tangan mereka sendiri yang ada pada setiap lapisan, menyeret orang lain di sekitarnya untuk menggerakkan masyarakat yang lain hingga saling beradu. Masyarakat yang tidak menyadari akan ikut saling beradu hingga timbul berbagai korban. Makar-makar yang mereka lakukan itu sebenarnya akan kembali kepada diri mereka sendiri. Orang-orang hendaknya tidak terjebak pada kerusuhan yang dibuat oleh para pendosa yang menjadi pembesar-pembesar bagi mereka.

Menelisik Tatanan Kehendak Allah

Terwujudnya tatanan yang baik akan mulai terjadi apabila masyarakat mengerti tatanan sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini harus dimulai dari orang-orang beriman pada negeri tersebut. Bila orang-orang beriman tidak peduli dengan adanya kehendak Allah dalam merumuskan tatanan masyarakat, masyarakat umum juga tidak akan mengerti kehendak Allah tersebut. Bila orang-orang beriman memperhatikan kehendak Allah untuk melakukan tatanan pada masyarakat, mungkin masyarakat umum akan ikut menyadari pentingnya terwujudnya tatanan mengikuti kehendak Allah. Semakin tinggi kesadaran orang-orang beriman untuk mewujudkan tatanan mengikuti kehendak Allah, akan semakin baik pula tatanan masyarakat yang terbentuk. Pewujudan tatanan tersebut harus terbentu dari masing-masing orang beriman dan disebarkan secara bertahap melalui lingkungan sosial diri masing-masing.

Pemahaman tentang tatanan mengikuti kehendak Allah harus dibentuk mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW hingga terbentuk pengetahuan terhadap nilai-nilai kebaikan pada aturan yang diikuti. Pengetahuan tentang nilai kebaikan itu yang akan mendatangkan perubahan menuju kebaikan karena adanya kekuatan akal di dalamnya. Pada setiap ketentuan pada kitabullah, ada nilai-nilai kebaikan yang dapat diperoleh oleh setiap orang, dan mukminin hendaknya merumuskan nilai-nilai kebaikan demikian. Tidak boleh dibentuk tatanan yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sekalipun seluruh kaum melihat kebaikan pada suatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah, sebenarnya ada suatu keburukan yang akan menimpa umat manusia pada tatanan yang bertentangan itu. Nilai-nilai kebaikan pada setiap tuntunan Allah hendaknya disadari oleh kaum mukminin, tidak meremehkannya berdasar pendapat sendiri. Dengan cara demikian, maka pemahaman terhadap kehendak Allah itu akan benar dan mendatangkan hasil yang baik bagi masyarakat.

Kadangkala suatu kaum membentuk tatanan yang dikatakan mengikuti kehendak Allah sedangkan mereka tidak mempunyai pengetahuan terhadap nilai kebaikan dalam tatanan yang mereka ikuti dan kadangkala justru bertentangan dengan perintah Allah. Misalnya manakala dua pihak mukminin yang berselisih hendak melakukan ishlah, diterapkan tatanan bahwa ishlah itu tidak perlu dilakukan dan salah satu atau kedua pihak harus dihukum. Hal ini sama sekali tidak mempunyai dasar dari tuntunan kitabullah dan bertentangan dengan kitabullah. Tuntunan kitabullah tentang hal itu adalah apabila kedua pihak mukmin berselisih, langkah yang diperintahkan kitabullah adalah mukminin lain hendaknya mengishlahkan keduanya. Apabila salah seorang melakukan bughat atas yang lain, hendaknya yang melakukan bughat diperangi. Tidak ada perintah dua pihak mukminin yang melakukan ishlah setelah perselisihan harus dibuat tetap bermusuhan atau harus dijatuhi hukuman. Secara prinsip, dzahirnya tindakan tersebut menyalahi tuntunan kitabullah, dan secara bathin menunjukkan tidak ada pengetahuan terhadap nilai kebaikan yang ada dalam tuntunan kitabullah. Dampak dari tatanan yang buruk seringkali sangat besar.

Mewujudkan Tatanan Yang Baik

Untuk memperbaiki tatanan bermasyarakat, kaum mukminin harus melakukan perbaikan tatanan dari dalam diri sendiri. Setiap orang harus memahami langkah taubat kembali kepada Allah dengan membina akhlak mulia sebagai tatanan diri yang dikehendaki Allah. Ia mengenal untuk apa dirinya diciptakan dan mengenali kedudukan Rasulullah SAW sebagai penghulu urusan di alam ciptaan, serta mengenali para washilah dirinya termasuk sang merah putih. Itu adalah tatanan akhlak mulia yang seharusnya terbentuk pada diri setiap mukmin.

Akhlak diri itu harus pula disebarluaskan kepada masyarakatnya. Gerbang sosial inti bagi setiap mukmin adalah terbentuknya rumah tangga sebagai bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bayt demikian akan menentukan keberhasilan syi’ar akhlak mulia untuk membentuk tatanan bermasyarakat. Apabila bayt tidak berhasil dibentuk, syiar akan sulit terjadi sehingga akhlak mulia itu hanya akan diketahui oleh diri sendiri. Tidak jarang seseorang dengan akhlak mulia dengan pengetahuan fitrah diri, musyahadah yang kuat terhadap Allah dan musyahadah terhadap Rasulullah SAW, serta pengenalan dengan baik terhadap para washilah termasuk sang merah putih, ia kemudian justru dipandang hina oleh masyarakat mereka karena kegagalan dalam membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sebagaimana nabi Nuh a.s atau nabi Luth a.s.

Dalam urusan ini syaitan berusaha sungguh-sungguh untuk menjatuhkan orang-orang shalih dari pandangan kaumnya. Sekalipun mereka tidak jatuh dalam tipuan syaitan, mereka dijatuhkan dalam pandangan manusia dengan merusak rumah tangga. Kerusakan rumah tangga itu berfungsi menelanjangi (pakaian) kehormatan orang shalih. Seorang yang shalih mungkin dipandang hina oleh masyarakatnya karena kerusakan rumah tangganya. Bila ia berkata, orang mungkin menyalahkan perkataannya sekalipun tidak mengetahui kesalahannya. Atau bila masyarakat mengetahui ada kebenaran di dalam perkataannya tetapi tidak mau mengikuti karena memandang perkataan itu dari orang yang hina. Kadangkala suatu kaum menunggu kesalahan terjadi oleh orang shalih untuk menjatuhkannya. Mereka tidak berusaha mengikuti kebaikan yang disampaikan orang shalih itu tetapi mengikuti syaitan menanti terbukanya aib sahabatnya. Itu merupakan contoh fitnah dari syaitan yang menimpa orang yang dirusak rumah tangganya. Pengetahuan-pengetahuan yang ada pada dirinya tidak dipandang baik oleh masyarakat.

Kerusakan demikian bisa terjadi karena salah satu pihak atau banyak pihak, baik pihak suami maupun pihak istri, atau bahkan pihak-pihak di luar keduanya yang mungkin tidak punya sangkut paut dengan pasangan tersebut tanpa kesalahan suami atau istri. Ada ilmu-ilmu yang merupakan fitnah untuk merusak pembinaan hubungan yang baik antara suami atau istri seperti ilmu Harut dan Marut. Manakala seseorang bermudah-mudah menggunakan atau suatu kaum bersifat permisif terhadap pemakaian ilmu-ilmu demikian di antara mereka, maka kehidupan rumah tangga kaum itu akan menjadi rusak karena ilmu tersebut, dan pembinaan rohani mereka tidak akan mendatangkan kebaikan di alam dunia sekalipun pembinaan itu dapat dilakukan secara benar dan terarah.

Inti dari pembentukan bayt adalah pembahasan dan pelaksanaan urusan Allah yang harus ditunaikan pasangan suami isteri. Hal itu membutuhkan persiapan akhlak dari setiap pihak yang harus ditumbuhkan sejak masa muda. Setiap orang harus dididik untuk menjadi hamba Allah yang ikhlas dalam menunaikan perintah Allah. Para perempuan gadis harus disiapkan untuk dapat menerima jodoh yang ditentukan baginya dalam menunaikan kehendak Allah, tidak mengumbar keinginan dirinya mencari jodoh dengan mengejar ketampanan sembarang laki-laki atau mengejar harta kekayaan yang dibawa oleh sembarang laki-laki. Dalam hal perjodohan hendaknya dibangun keinginan pada perempuan berupa keinginan memperoleh imam yang tepat untuk menunaikan amanah Allah, bukan keinginan memperoleh harta yang banyak atau ketampanan. Hal demikian sebenarnya berlaku pula bagi laki-laki, yaitu keinginan menikah untuk mengenal nafs wahidah sebagai imam yang mengenal fitrah diri. Hal itu dapat dikenali melalui kesatuan nafs wahidah antara orang-orang yang berjodoh.

Selanjutnya dalam pernikahan, setiap pihak harus berjalan lurus tidak tersimpangkan dalam kekejian. Para laki-laki harus taat pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak menyimpang mengikuti tuntunan syaitan. Akan sangat banyak tipuan syaitan yang dijadikan tampak baik dalam pandangan manusia, dan setiap orang harus bisa melangkah tanpa menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Para perempuan harus taat kepada suami sebagaimana Asiyah binti Muzahim r.a mewujudkan urusan Allah mendidik masa kecil Musa a.s. Apabila suaminya shalih, ia menolong urusan suaminya untuk mewujudkan urusan Allah, dan apabila suaminya kafir ia mewujudkan urusan Allah yang diperoleh melalui suaminya dengan ridha suaminya. Perempuan tidak boleh menyimpang kepada laki-laki lain untuk mewujudkan kehendak Allah. Hal-hal demikian akan mewujudkan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Apabila menyimpang, akan sulit membentuk bayt sebagai inti struktur sosial bagi seseorang atau pasangan untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah yang telah dikenali.

Di antara para perempuan, ada kemungkinan terbentuk hubungan kemitraan horizontal dalam pernikahan ta’addud. Para perempuan harus bisa membina sifat demikian, sebagaimana para laki-laki harus membina hubungan kemitraan sejajar dalam melaksanakan urusan Allah. Kemampuan demikian akan melahirkan kultur yang sehat di masyarakat, bahwa satu orang dengan orang lain tidak perlu bersaing memperebutkan kedudukan. Sebenarnya setiap orang mempunyai kedudukan sendiri dalam pelaksanaan urusan Allah tidak perlu saling berebut kedudukan. Kadangkala masyarakat tidak mempunyai keinginan untuk menempati dan melaksanakan kedudukan yang ditentukan, hanya menginginkan kedudukan yang setinggi-tingginya tanpa mengenal batas-batas diri maka terjadilah perseteruan di antara mereka dalam melaksanakan amal. Keadaan itu akan membaik apabila para perempuan mau mengenal bentuk hubungan nafs wahidah yang seharusnya terbentuk antara dirinya, suaminya dan isteri-isteri suaminya yang lain. Bila para perempuan tidak mau mengenal bentuk hubungan nafs wahidah asal penciptaan dirinya, masyarakat akan terus terjebak pada perilaku bersaing dan berseteru dalam memperoleh kedudukan.

Hal-hal di atas merupakan sebagian dari pokok-pokok pembinaan bayt untuk mewujudkan tatanan bermasyarakat mengikuti kehendak Allah. Apabila pokok-pokok tersebut dirusak, akan timbul pula kerusakan yang besar pada masyarakat hingga terjadilah berkuasanya orang-orang jahat atas masyarakat luas. Semakin baik pokok-pokok itu terbina, akan semakin baik pula keadaan masyarakat dijauhkan dari penguasaan orang-orang jahat. Bila pokok-pokok itu diabaikan, orang jahat akan mudah memperoleh kekuasaan. Bila pokok-pokok itu dirusak, sebenarnya masyarakat telah membukakan jalan bagi orang jahat untuk memegang kekuasaan atas diri mereka. Bila pokok-pokok itu diperbaiki, kesempatan orang jahat berkuasa akan menyempit.

Proses pembentukan akhlak mulia harus dilakukan dengan benar. Pengenalan diri harus dicapai hingga bentuk pengenalan kedudukan diri di antara al-jamaah dengan mengenal washilah-washilah dirinya kepada Rasulullah SAW. Mengenal sang merah putih merupakan satu bukti penguat bahwa pembentukan akhlak mulia berada di garis yang benar, sebaliknya pendustaan terhadap sang merah putih merupakan satu bentuk menyimpangnya akhlak dari yang diharapkan. Banyak implikasi dari penyimpangan demikian. Sahabat-sahabat dalam al-jamaah akan merasa terganggu dengan penyimpangan sahabatnya. Seandainya seorang pendidik menyimpang, sahabatnya yang tentara akan kehilangan kekuatan masyarakat karena kesalahan didikan sahabatnya, atau sahabatnya yang ekonom akan kehilangan kemampuan meningkatkan ekonomi masyarakat, dan seluruh sahabat yang lain akan merasa terganggu dengan hasil didikan yang bersangkutan. Demikian pula bila bidang lain menyimpang, yang lain akan terganggu dengan penyimpangan yang terjadi, dan sebenarnya sang merah putih yang merasa paling terusik dan terjadi dengan semua penyimpangan yang terjadi.

Setelah pembinaan diri dan pembinaan bayt, seseorang dapat melangkah menuju perbaikan keadaan sosial dengan baik. Tanpa kedua pembinaan sebelumnya, seseorang seringkali hanya akan menimbulkan masalah bagi yang lain alih-alih mendatangkan kebaikan bagi yang lain. Manakala pembinaan diri belum menunjukkan tanda kebenarannya, seseorang hendaknya mengikuti langkah orang lain dalam bentuk yang nyata. Sebenarnya setelah muncul tanda kebenarannya, seseorang juga akan menemukan washilah yang juga harus dipahami urusannya dan ditaati ketentuannya sebagai imam, hanya saja mungkin washilah itu tidak hadir dalam wujud jasmaniah. Misalnya seseorang mungkin harus memahami urusan sang merah putih bagi dirinya tanpa hadirnya sang merah putih, atau harus memahami secara tepat tuntunan Rasulullah SAW untuk urusan dirinya tanpa kehadiran sang nabi. Tetap saja seseorang harus menemukan imam untuk urusannya. Hal demikian itu merupakan pokok Al-jamaah.

Rabu, 27 Agustus 2025

Merah Putih sebagai Harta Rasulullah SAW

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mendekat kepada Allah harus dilakukan hingga dalam bentuk amal-amal praktis sesuai dengan jati diri setiap manusia. Pengenalan terhadap jati diri bangsa akan sangat bermanfaat bagi umat untuk bisa mengenal jati diri. Setiap bangsa memiliki jati diri yang telah digariskan sejak dahulu kala, dan jati diri seseorang akan terkait dengan jati diri bangsanya. Nusantara misalnya, memiliki jati diri bangsa yang digambarkan sebagai sang merah putih. Apabila nilai-nilai sang merah putih dibangkitkan dengan benar, komponen-komponen bangsa akan lebih mudah mengikuti perkataan-perkataan tentang merah putih karena setiap diri berkepentingan dengan jati diri bersama sebagai bangsa. Nilai-nilai sang merah putih dapat mengarahkan bangsa untuk berbuat yang terbaik.

﴾۲۲۱﴿أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-An’aam : 122)

Jati diri nusantara merupakan hadiah Allah bagi bangsa Indonesia. Allah akan mengirimkan kepada bangsa Indonesia sesosok orang mati yang dihidupkan kembali untuk berjalan di tengah-tengah mereka. Sosok ini sama sekali tidak bisa ditiru oleh orang lain. Mungkin akan banyak orang yang mengaku-aku tetapi tidak bisa memenuhi persyaratan sebagai sang merah putih. Sang merah putih tersebut adalah orang yang telah mati secara syahid dan dikembalikan Allah ke alam dunia untuk menjadi penuntun bagi umat manusia keluar dari kegelapan dunia mereka. Dengan profil semacam ini, tidak ada orang yang dapat memalsukan identitas sebagai sang merah putih.

Tidak ada orang yang bisa memalsukan diri sebagai sang merah putih, tetapi semua orang bisa menghayati jalan sang merah putih. Hal ini bisa dilakukan dengan menjadikan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW sebagai petunjuk dalam kehidupan. Cahaya sang merah putih itu sebenarnya adalah pemahaman yang tepat terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dengan penghayatan yang benar, seseorang akan mempunyai pengenalan terhadap sang merah putih. Upaya pengenalan dalam urusan ini pada dasarnya merupakan bentuk turunan dari pengenalan terhadap Rasulullah SAW. Sang merah putih merupakan bagian dari risalah yang diemban Rasulullah SAW. Dua kalimat syahadat yang diucapkan oleh setiap muslim sebenarnya menuntut pengenalan muslimin terhadap kedudukan Rasulullah SAW di alam ciptaan Allah. Di antara bagian pengenalan terhadap kedudukan Rasulullah SAW berbentuk pengenalan terhadap sang merah putih. Seseorang yang benar-benar mengenal kedudukan Rasulullah SAW seringkali menemukan kedudukan dirinya sebagai bagian dari sang merah putih. Pengenalan seseorang terhadap sang merah putih menjadi salah satu tanda bahwa seseorang benar-benar mengenal kedudukan Rasulullah SAW sebagai pembawa seluruh urusan Allah.

Amanah Sang Merah Putih

Manfaat utama yang akan ditunaikan oleh sang merah putih adalah menunjukkan kepada umat manusia jalan menuju cahaya Allah, sedemikian umat manusia akan mengetahui persoalan kegelapan yang menyelimuti diri mereka dan memperoleh jalan keluar dari masalah mereka. Cahaya itu sebenarnya adalah pemahaman yang tepat terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan kauniyah. Sang merah putih itu menunjukkan kepada umat manusia tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan alam kauniyah mereka, sedemikian umat manusia memahami kauniyah yang terjadi menurut hakikat dari sisi Allah sedemikian umat manusia mengetahui jalan keluar yang seharusnya ditempuh untuk keluar dari masalah mereka.

Dunia ini pada dasarnya merupakan alam yang gelap, dan akan semakin gelap dengan dosa-dosa yang dilakukan oleh para pendosa. Banyak manusia yang mengikuti langkah-langkah syaitan untuk membangun kemakmuran bagi diri mereka tanpa mempedulikan kebaikan bagi umat secara menyeluruh. Cara-cara demikian akan menambah kegelapan dan kesulitan bagi kehidupan manusia di alam dunia. Misalnya sebagian besar kekayaan bangsa mungkin dikuasai oleh segelintir orang dengan rakus dengan dukungan kekuasaan dan tata hukum yang dibuat untuk mengesahkan penguasaan itu. Hal itu dapat menimbulkan kesulitan bagi kehidupan bangsa secara menyeluruh. Itu adalah contoh kegelapan yang dapat menyelimuti keadaan suatu bangsa, dan amanah sang merah putih adalah menunjukkan manusia kehidupan yang penuh cahaya dan menemukan jalan keluar dari kegelapan itu.

Banyak orang yang mengenal sang merah putih sekalipun tidak bertemu dengannya. Semangat seseorang dalam pencarian terhadap kebenaran akan mendorong mereka untuk mengenalnya, terutama bagi masyarakat nusantara. Para ksatria hindu berbondong ke nusantara untuk menolong jalan sang merah putih. Demikian pula para wali Allah banyak datang ke nusantara untuk mempersiapkan jalan sang merah putih. Kaum muslimin yang benar-benar ingin mengenal dan berjuang untuk kebenaran akan terdorong untuk mengenal sang merah putih. Kebanyakan manusia tidak ingin mengenal dan memperjuangkan kebenaran secara obyektif sehingga tidak terdorong mengarah pengenalan terhadap sang merah putih. Apabila seseorang benar-benar ingin mengenal dan berjuang untuk kebenaran, mereka akan mengetahui bahwa kebenaran mutlak terletak pada apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, dan kebenaran itu diturunkan kepada umatnya melalui jalan-jalan tertentu di antaranya melalui sang merah putih. Kebanyakan manusia mencari kebenaran hanya melalui prasangka dirinya tentang kebenaran sehingga tidak mengetahui jalan-jalan diturunkannya kebenaran dari sisi Allah, termasuk tidak terdorong mengenal sang merah putih sebagai bagian dari jalan turunnya kebenaran. Sebagian orang terkurung pada suatu waham hingga mengikuti suatu ajaran tanpa menimbangnya dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga melupakan langkah berjuang bersama sang merah putih, dan dunia menjadi gelap karena waham mereka.

Bentuk pengenalan seseorang terhadap sang merah putih bisa berbeda-beda. Sebagian wali Allah mengenal sang merah putih hingga mengenal tujuh urusan yang harus ditunaikan, sedangkan sang wali tersebut mengenal urusan dirinya sebagai pendahulu bagi kedatangan sang merah putih, bertugas mempersiapkan umat untuk bisa menggunakan akal masing-masing secara benar sedemikian tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bisa digunakan sebagai sumber cahaya yang menerangi kehidupan manusia. Tanpa akal, umat manusia tidak bisa mengetahui cahaya yang diturunkan Allah. Akal setiap manusia harus bisa merasakan kebenaran yang disampaikan kepada mereka dan memahami nilai-nilainya untuk digunakan sebagai bekal melangkah. Itu adalah penguatan akal yang harus disiapkan. Kadangkala manusia merasa menjunjung tinggi Alquran sebagai tuntunan, tetapi mengabaikan kandungan firman-Nya ketika dibacakan karena akal yang lemah. Mereka tidak dapat merasakan kebenaran dan tidak mengetahui nilai kebenaran pada apa yang disampaikan, terkurung oleh waham doktrinasi yang keliru. Hal demikian termasuk problematika akal masyarakat yang harus diatasi oleh wali tersebut untuk sang merah putih, untuk Rasulullah SAW. Sebagian wali Allah yang lain mengenal tujuh urusan yang harus ditunaikan dan ia mengenali urusan dirinya sebagai salah satu bagian dari urusan sang merah putih, dan ia mungkin mengenal urusan-urusan lain bagi sahabatnya yang harus ditunaikan untuk menolong sang merah putih. Sebagian orang mengenal sang merah putih dalam bentuk yang lain, tetapi ia mempunyai pengetahuan hubungan urusan dirinya terhadap sang merah putih. Banyak bentuk pengenalan seseorang terhadap sang merah putih.

Mengenal sang merah putih merupakan salah satu bukti ketepatan pengenalan terhadap kebenaran, sebagai turunan dari pengenalan terhadap Rasulullah SAW. Kadangkala seseorang berjuang untuk suatu kebenaran yang dianggap dari sisi Allah tetapi ia tidak mengetahui tuntunan Rasulullah SAW tentang urusannya, maka pengetahuannya tentang kebenaran itu mungkin hanya pada tingkatan hawa nafsu. Kadangkala seseorang merasa menjadi pengemban perintah Allah sedangkan sebenarnya perbuatannya merupakan maksiyat, maka itu bukanlah kebenaran tetapi tipuan tentang amr Allah. Seseorang yang mengetahui urusan Allah hendaknya meneliti pengetahuannya dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka boleh jadi pengetahuannya benar. Pengetahuan yang benar terhadap kehendak Allah akan sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan memberikan manfaat dalam melihat kebenaran yang terjadi di alam kauniyah sesuai dengan cahaya Allah. Melihat kebenaran pada alam kauniyah demikian akan berujung pada pengenalan terhadap sang merah putih, karena beliau merupakan pembawa cahaya untuk menerangi manusia dari kegelapan dan menemukan jalan keluar dari masalah.

Merah Putih Sebagai Penanda

Banyak orang merasa berjuang untuk Allah tetapi perjuangan mereka justru menimbulkan masalah bagi umat Islam dan manusia secara keseluruhan. Hal itu menunjukkan kurang tepatnya pemahaman terhadap tuntunan Rasulullah SAW. Sang Merah Putih merupakan bukti ketepatan pemahaman terhadap ajaran Rasulullah SAW yang perlu dibina pada setiap diri muslimin, sedemikian tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW menjadi cahaya yang menerangi kehidupan umat manusia dalam menempuh kehidupan. Bukti ketepatan seseorang dalam memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah pengetahuan terhadap hakikat yang terkandung pada kauniyah yang terjadi sedemikian manusia memperoleh cahaya dan mengetahui jalan keluar dari masalah mereka. Pengetahuan demikian itulah yang terbina pada diri sang merah putih yang perlu diteladani oleh setiap muslim. Terbinanya pengetahuan yang tepat terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan membukakan cahaya untuk kehidupan di bumi hingga mengetahui hakikat yang terjadi, dan akan menjadikan seseorang mengenal sang merah putih.

Sebagian orang berjuang untuk kebenaran tetapi tidak mengenal kedudukan sang merah putih. Pada tingkatan tertentu, keadaan demikian merupakan kesesatan. Pada tingkatan wali Allah, seluruh wali Allah di nusantara mengenal kedudukan sang merah putih. Mereka ingin mengenal kebenaran dan berjuang untuk kebenaran, sedangkan kebenaran itu diturunkan melalui orang-orang yang telah ditentukan Allah. Mereka mengetahui bahwa kebenaran itu diturunkan pada prinsipnya melalui Rasulullah SAW dan sang merah putih merupakan turunan/bagian dari Rasulullah SAW. Mereka tidak meletakkan kebenaran pada diri mereka sendiri, tetapi pada ajaran Rasulullah SAW. Kebenaran yang diperjuangkan para wali Allah di nusantara terletak pada sang merah putih, bukan terletak pada diri mereka masing-masing. Mereka tidak menyeru manusia kepada dirinya sendiri, tetapi kepada Rasulullah SAW dan sang merah putih sejauh yang mereka kenali. Manakala seseorang melupakan mekanisme penurunan kebenaran itu, mungkin mereka telah meletakkan kebenaran itu pada diri mereka sendiri sehingga mungkin mereka tersesat. Pengenalan terhadap Rasulullah SAW wajib dilakukan oleh setiap muslimin pada setiap tingkatan, dan pengenalan terhadap sang merah putih merupakan penanda tentang benarnya pemahaman terhadap amr Allah. Pada tingkatan tertentu, setiap orang harus mengenal sang merah putih atau bila tidak, mungkin sebenarnya langkahnya telah menyimpang.

Mempelajari kandungan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW akan menjadi cahaya yang menerangi hingga kehidupan manusia di bumi. Hendaknya setiap orang menyadari hal demikian manakala menuntut ilmu agama, tidak terjebak fanatisme terhadap suatu ajaran tanpa membina suatu pengetahuan terkait kehidupan. Banyak orang terdoktrin dengan ajaran-ajaran yang dikatakan sebagai kebenaran tetapi ajaran itu tidak menjadikan orang-orang yang mengikuti dapat memahami realitas kauniyah mereka dengan benar. Kadangkala ditemukan seseorang menyeru orang lain untuk mengikuti dirinya tanpa menggunakan pikiran. Seringkali seruan demikian dilakukan dengan mengikuti persepsi indera bathin, sedangkan indera bathiniah mereka tidak diarahkan dengan kitabullah Alquran. Setiap orang yang mengikuti ajaran agama hendaknya dapat membina pemahaman terhadap realitas di sekitar mereka dengan pemahaman sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tanda kebenaran pemahaman demikian adalah seseorang bisa mengetahui jalan keluar dari kegelapan masalah yang melingkupi mereka. Mungkin tidak seluruh realitas dipahami, tetapi setiap orang hendaknya berusaha dapat memahami realitas-realitas yang terjadi dengan tuntunan kitabullah. Dalam keadaan yang buruk, seseorang yang mengetahui jalan keluar tetapi tidak bisa melangkah karena terhalang, bahkan untuk dirinya sendiri.

Hal ini tidak berarti melarang seseorang melaksanakan suatu amal tuntunan agama hanya berdasarkan makna dzahiriahnya saja. Setiap orang boleh beramal sesuai dengan apa yang bisa diketahui dari tuntunan agama, tetapi hendaknya amal-amal yang dilakukan dapat digunakan untuk membina pemahaman terhadap realitas kauniyah sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak manfaat pada pelaksanaan amal-amal tuntunan agama sekalipun seseorang tidak memahami makna hakikatnya. Di sisi lain, banyak teori-teori kebenaran yang sebenarnya tidak mempunyai landasan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang akan menjebak seseorang pada fanatisme. Hal demikian harus dihindari dengan melakukan pemeriksaan teori-teori yang diperoleh dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila manusia mengikuti teori-teori kebenaran tanpa mengetahui tuntunannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, akal mereka akan menjadi lemah. Mempelajarai tuntunan agama harus menjadikan seseorang dapat memahami realitas kauniyah sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Itu adalah salah satu nilai dari semangat merah putih.





Rabu, 20 Agustus 2025

Menghayati Nilai Luhur Bangsa

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan berdisiplin. Setiap orang beriman harus menumbuhkan sikap mau mendengarkan perkataan-perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik. Pengenalan terhadap jati diri bangsa akan sangat bermanfaat bagi umat untuk bangkit mendengar perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik. Setiap bangsa memiliki jati diri yang telah digariskan sejak dahulu kala. Nusantara misalnya, memiliki jati diri bangsa yang digambarkan sebagai sang merah putih. Apabila nilai-nilai sang merah putih dibangkitkan dengan benar, komponen-komponen bangsa akan lebih mudah mengikuti perkataan-perkataan tentang merah putih karena setiap diri berkepentingan dengan jati diri bersama sebagai bangsa. Nilai-nilai sang merah putih dapat mengarahkan bangsa untuk berbuat yang terbaik.

Seorang syaikh mengajarkan nilai-nilai itu dengan berhati-hati agar tidak mencelakakan muridnya. Tampaknya sang syaikh hanya mengajarkan kunci pengenalan terhadap jati diri bangsa, tetapi sebenarnya mengandung suatu pengajaran yang sangat banyak. Contoh yang sering diajarkan syaikh kepada para murid adalah sebagaimana ayat berikut :

﴾۲۲۱﴿أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-An’aam : 122)

Bagi seorang murid, ayat tersebut mungkin membuat suatu gambaran tentang sesosok insan yang telah mati secara syahid dengan pakaian putih dengan jubah luar bercelup darahnya sendiri sedangkan ia dihidupkan kembali ke tengah-tengah masyarakat manusia dan berjalan bersama mereka. Sosok itu merupakan sosok merah putih yang menjadi jati diri nusantara. Gambaran demikian bukanlah gambaran yang salah atau sia-sia, dan bahwa sosok itu seharusnya menjadi tauladan bagi bangsa. Pakaian demikian menggambarkan sifat insan tersebut. Pakaian putih menggambarkan keikhlasan sedangkan jubah merah darah menggambarkan sifat rela berkorban untuk memberikan yang terbaik bagi umat manusia. Kaum muslimin harus meneladani sebisa mungkin sifat-sifat dari sang merah putih, dan ikut serta berjuang untuk mewujudkan cita-cita.

Bangsa Indonesia hendaknya menghayati nilai-nilai merah putih untuk membina peradaban yang baik. Merah putih pada ayat di atas menunjuk pada seseorang yang benar-benar tidak dapat ditiru, dan mungkin hanya sedikit orang yang dapat berjumpa dengannya. Ketika seseorang mati sekalipun syahid, raganya tidak akan bisa kembali hidup dengan keinginannya sendiri kecuali atas kehendak Allah. Tidak perlu ada seorangpun yang perlu berharap bahwa dirinya adalah sang merah putih tersebut di atas, karena tidak ada cara untuk menirunya. Hikmah yang penting diperhatikan umat dalam pengajaran merah putih itu adalah penghayatan nilai-nilai merah putih dalam kehidupan setiap orang, yaitu keikhlasan dalam beribadah kepada Allah serta sikap rela berkorban untuk memberikan yang terbaik bagi yang lain.

Keikhlasan adalah kemurnian ibadah kepada Allah, menunjukkan pada suatu keinginan melaksanakan kehendak Allah dengan landasan pengetahuan kehendak Allah secara tepat dan benar. Keikhlasan tidak ditunjukkan dengan kebersihan shalat puasa dan lainnya secara persis mengikuti syariat saja, tetapi juga terwujudnya amal-amal yang dilakukan untuk memberikan manfaat diri bagi masyarakat luas sesuai kehendak Allah. Seseorang yang ikhlas sangat berkeinginan untuk beramal sesuai dengan pengetahuan yang benar terhadap kehendak Allah, dan ia menjadikan amal berdasar pengetahuan itu sebagai jalan ibadah. Pengetahuan yang benar tersebut berupa pengetahuan yang tidak terkotori oleh campuran hawa nafsu ataupun keinginan duniawi dan tidak pula terkotori dengan kebodohan dari alam syaitan. Mungkin pengetahuan dirinya terhadap kehendak Allah tidaklah benar-benar bersih dari kesalahan, tetapi apabila ia mengetahui kesalahannya ia segera memilih yang lebih baik tidak memperturutkan dorongan untuk mengikuti yang salah.

Landasan untuk ikhlas adalah memahami kehendak Allah dengan benar di atas pertumbuhan akal. Untuk beribadah secara murni kepada Allah, seorang hamba harus beramal sesuai dengan kehendak-Nya atas dirinya. Kadangkala seseorang beramal untuk Allah sedangkan ia hanya mengikuti hawa nafsu atau keinginan diri tanpa suatu pemahaman terhadap kehendak Allah maka sebenarnya tidak ada keikhlasan pada ibadahnya. Demikian pula apabila seseorang tidak waspada terhadap bisikan syaitan kemudian beramal dengannya, ia tidak dapat dikatakan sebagai orang yang ikhlas. Keikhlasan hanya dapat dibangun di atas pemahaman terhadap kehendak Allah dengan akalnya. Manakala seseorang tidak berakal, ia tidak akan mencapai keikhlasan.

Untuk memahami kehendak Allah dengan benar, seseorang harus melakukan tazkiyatun nafs agar dapat memisahkan pemahaman yang benar dan yang berasal dari hawa nafsu dan keinginan duniawi. Bersihnya nafs dari hawa nafsu harus digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah, yaitu berusaha membentuk bayangan dari ayat-ayat Allah di dalam dirinya. Banyak orang berjuang dengan mencomot potongan ayat-ayat kitabullah dengan hawa nafsu. Hal demikian tidak menunjukkan keikhlasan karena sebenarnya ia tidak benar-benar mengetahui kehendak Allah kecuali hanya secara dzahirnya. Bukan masalah pengetahuan dzahiriahnya, tetapi karena sebenarnya pemahaman yang terbentuk hanya di atas hawa nafsu, tidak menunjukkan pahamnya akal terhadap firman Allah. Tingkat keikhlasan ditentukan oleh pemahaman seseorang terhadap kebaikan dalam kehendak Allah. Pahamnya akal ditandai dengan terbentuknya bayangan ayat-ayat Allah dalam hati seseorang.

Terbentuknya bayangan ayat-ayat Allah di dalam hati ditunjukkan dengan tumbuhnya pengetahuan terhadap nilai-nilai kebaikan dalam ayat-ayat yang dibaca. Seluruh kehendak Allah mengandung kebaikan yang sangat banyak dan tidak ada keburukan di dalamnya. Orang yang memahami ayat-ayat Allah mengenal kebaikan-kebaikan dalam ayat yang dipahaminya. Mungkin hanya sebagian dari kandungan kebaikan dalam ayat itu diketahuinya dan masih sangat banyak kandungan kebaikan yang tidak diketahui, tetapi telah cukup dikatakan ia telah mempunyai pemahaman terhadap ayat Allah. Pemahaman terhadap ayat Allah belum diperoleh oleh orang-orang yang beramal sekadar dengan melakukan perintahnya. Bukan berarti tidak boleh melakukan hal demikian, tetapi hanya menunjukkan seseorang sebenarnya belum memahami. Manakala seseorang telah mempunyai pemahaman terhadap kehendak Allah, ia bisa membangun keikhlasan.

Manfaat paling besar dari penghayatan nilai-nilai merah putih adalah terwujudnya kehidupan yang terang dan dapat berjalannya umat manusia menuju kebaikan. Terang dan dapat berjalan itu merupakan satu kesatuan tanda. Kadangkala seseorang atau suatu kaum mengaku kehidupan mereka terang tetapi tidak mengetahui jalan keluar dari masalah yang menimpa diri mereka, maka sebenarnya pengakuan demikian tidak benar sepenuhnya. Tidak sedikit seseorang atau suatu kaum bersikap memandang perbuatan-perbuatan mereka sangat baik sekalipun sebenarnya mereka kufur terhadap cahaya Allah. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya berada dalam kegelapan dan tidak mengetahui jalan keluar dari kegelapan mereka. Orang yang berada dalam cahaya mengetahui keadaan diri mereka berdasarkan hakikat dari sisi Allah dan mengetahui jalan untuk keluar dari masalah mereka.

Pengetahuan tentang keadaan diri secara hakiki sesuai dengan pandangan Allah dapat diperoleh manusia melalui penghayatan yang sungguh-sungguh terhadap nilai-nilai merah putih. Harapan untuk mengenal kehendak Allah harus tumbuh di dalam diri setiap manusia, agar ia dapat beramal sesuai dengan kehendak Allah. Bila seseorang telah mempunyai pengetahuan, ia harus beramal dengan pengetahuan itu. Kemampuan untuk beramal itu hendaknya selalu ditingkatkan dengan kekuatan rela berkorban memberikan yang terbaik bagi umat manusia. Dengan jalan demikian, nilai-nilai merah putih dapat tumbuh dengan kuat pada diri manusia.

Sebagian Manfaat dari Penghayatan Merah Putih

Terangnya kehidupan dengan cahaya akan menampakkan jalan bagi umat manusia, termasuk jalan keluar dari masalah-masalah yang menimpa diri mereka. Seseorang yang berjiwa merah putih akan mengetahui keadaan diri mereka dalam pandangan Allah secara tepat, dan mengetahui jalan keluar dari masalah-masalah yang menimpa diri mereka. Tetapi perlu diperhatikan bahwa pengetahuan itu belum tentu menjadikan umat manusia keluar dari masalah. Keluar dari masalah merupakan hasil dari jalan yang ditempuh atau amal-amal yang dilaksanakan seseorang berdasarkan pengetahuan.

Manakala seseorang atau suatu kaum tidak menempuh jalan keluar yang diketahui oleh seseorang di antara mereka, mereka tidak akan keluar dari masalah mereka. Manakala seseorang atau suatu kaum menempuh jalan yang bukan jalan keluar, mereka tidak juga akan keluar dari masalah. Atau apabila orang-orang yang berusaha untuk menempuh jalan keluar dihalang-halangi, tidak akan terwujud hasil dari pengetahuan tentang jalan keluar itu. Suatu kaum mungkin saja hanya berputar-putar dalam keadaan yang sama sepanjang waktu dengan amal-amal yang sungguh-sungguh mereka laksanakan untuk keluar dari masalah, karena mereka tidak menempuh jalan keluar dari masalah. Mereka mungkin memandang baik seluruh upaya yang telah mereka laksanakan tetapi sebenarnya mereka kufur terhadap cahaya Allah.

Dalam sebuah hadits, terkait dengan harta simpanan merah putih Rasulullah SAW diceritakan bahwa umat Islam akan melakukan suatu kesalahan yang menyebabkan harta simpanan putih Rasulullah SAW kehilangan pijakan. Hal itu akan menyebabkan banyak masalah bagi umat Islam. Manakala umat Islam tidak mau menyadari kesalahan yang dilakukan, mereka akan terus menyebabkan harta simpanan Rasulullah SAW terperosok, dan mereka tidak akan menemukan jalan keluar dari masalah yang menimpa mereka. Mungkin sangat banyak masalah menimpa negri mereka tetapi mereka tidak dapat memahami masalahnya dengan benar, apalagi mencari jalan keluar dari masalah. Mungkin masalah itu meliputi diri mereka sendiri. Mungkin mereka mempunyai suatu konsep-konsep masalah yang menimpa negeri atau menimpa diri mereka tetapi konsep-konsep itu tidak mempunyai landasan apapun dari sisi Allah. Allah menjadikan mereka memandang indah keadaan diri mereka sedangkan mereka tidak mengetahui hakikat keadaan mereka dan jalan keluar dari masalahnya.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ أَوْ قَالَ إِنَّ رَبِّي زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ مُلْكَ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ
Dari Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah menggulung bumi untukku sehingga aku bisa melihat bagian timur dan baratnya. Sesungguhnya kerajaan umatku akan mencapai bumi yang telah digulung untukku. Dan aku diberi dua harta simpanan merah dan putih. Dan sesungguhnya aku memohon kepada Rabbku untuk umatku agar Dia tidak membinasakan umatku dengan paceklik yang merata, dan agar Dia tidak menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, kecuali karena (kesalahan) diri mereka sendiri sehingga tenggelamlah (harta simpanan) putihnya (HR Abu Dawud, no: 4252; Ahmad 5/278, 284; Al-Baihaqi, no: 3952.)

Terperosoknya aspek putih menunjukkan terperosoknya aspek keikhlasan. Keinginan umat Islam pada jaman itu untuk mengetahui secara tepat kehendak Allah atas diri mereka barangkali sangat rendah sehingga mereka mengabaikan penjelasan-penjelasan yang benar (al-bayaan) yang dibacakan oleh seseorang di antara mereka. Umat Islam barangkali lebih memilih mengikuti waham mereka sendiri tentang kehendak Allah daripada penjelasan-penjelasan dari kitabullah. Waham mereka berupa pengetahuan yang tidak mempunyai akar yang kuat pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Boleh jadi mereka juga mencederai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan konsep-konsep mereka sendiri. Ada banyak hal pada kaum muslimin yang mungkin menyebabkan terperosoknya harta simpanan putih Rasulullah SAW.

Skala kesalahan ini cukup besar hingga harta simpanan putih Rasulullah SAW terperosok. Bukan hanya keikhlasan pada kaum muslimin saja yang terperosok, tetapi juga mempengaruhi harta simpanan Rasulullah SAW hingga terperosok. Hal ini menunjukkan skala kesalahan yang cukup besar. Mungkin kaum muslimin memandang diri mereka baik, sedangkan nilai-nilai agama tidak mereka hayati dengan benar. Barangkali mereka merasa menghidupkan agama tetapi sebenarnya pokok-pokok agama justru tenggelam karena tidak mempunyai pengetahuan tentang kehendak Allah. Orang-orang yang membangkitkan pokok-pokok agama barangkali tidak mampu untuk berbuat apa-apa dengan keikhlasan mereka karena terperosoknya umat dalam waham hingga tidak menyadari kesalahan mereka. Seruan untuk memahami kehendak Allah berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mungkin tidak akan diperhatikan, terganti dengan pendapat mereka sendiri tentang kehendak Allah.

Umat Islam hendaknya berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk membangun keikhlasan, tidak menggantikannya dengan yang lain karena bisa merusak keikhlasan. Mungkin saja seorang muslim menyangka dirinya ikhlas sedangkan sebenarnya ia hanya mengikuti hawa nafsu atau keinginan duniawi atau bahkan hanya mengikuti langkah-langkah syaitan. Hal itu bisa terjadi apabila umat islam tidak berpegang teguh dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan akalnya. Keterperosokan keikhlasan ini bisa sangat dalam. Ketika sahabat memperingatkan, ia menganggap sahabatnya tidak mempunyai pengetahuan. Ketika gurunya meluruskan, ia menganggap gurunya tidak menyadari rincian masalah. Ketika kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW disampaikan, ia menganggap tafsiran orang yang menyampaikan terhadap kedua tuntunan itu tidak tepat, sekalipun tidak menyimpang dari redaksi. Ia tidak berusaha memahami tuntunan sekalipun telah disampaikan. Fenomena demikian ini menunjukkan keterperosokan dalam memahami kehendak Allah.

Mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan bersikap sebagai pengikut. Kadangkala seseorang berjuang berdasarkan pikiran sendiri dan mengambil ayat kitabullah untuk mendukung usaha mereka. Hal ini kurang tepat. Dengan cara demikian seringkali seseorang sebenarnya tidak mengusahakan apa yang dimaksudkan dalam ayat kitabullah yang diambilnya, hanya memanfaatkannya saja sebagai pendukung pendapat. Kasus lainnya, banyak orang yang mengikuti orang lain dan menyangka ia telah mengikuti kitabullah dengan mengikuti orang lain tersebut. Bukan tidak boleh mengikuti orang lain, tetapi hendaknya ia memperhatikan kitabullah ketika mengikuti. Banyak orang terjebak mengikuti kesalahan orang lain karena tidak memperhatikan tuntunan kitabullah. Atau bisa saja mereka kemudian mengabaikan suatu seruan atau penjelasan dari kitabullah yang benar. Hal itu menunjukkan ia tidak memperhatikan kitabullah. Mukminin hendaknya memperhatikan ayat kauniyah dan ayat kitabullah yang bersesuaian, dan memperhatikan rincian yang disampaikan ayat kitabullah untuk dijadikan sebagai dasar bagi usaha yang perlu mereka lakukan. Prioritas usaha yang dilakukan harus terlahir dengan memperhatikan rincian penjelasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Demikian itu merupakan usaha mengikuti kitabullah.

Indikator mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan penghayatan yang benar tentang nilai merah putih adalah terangnya keadaan diri selaras dengan pandangan Allah, serta terlihatnya jalan keluar dari masalah kehidupan bangsa. Bila bangsa terlilit masalah tanpa seseorang dari kaum itu mengetahui keadaan yang sebenarnya dalam pandangan Allah, atau tidak mengetahui jalan keluar dari masalah itu, umat belum cukup menghayati nilai-nilai merah putih atau sebenarnya justru mereka orang yang menjadikan harta putih Rasulullah SAW terperosok. Bila benar penghayatan nilai-nilai merah putihnya, suatu kaum akan mengetahui keadaan diri bangsa mereka dan mengetahui jalan keluar dari masalah bangsa.

Senin, 18 Agustus 2025

Perkataan Terbaik Untuk Pembinaan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan berdisiplin. Setiap orang beriman harus menumbuhkan sikap mau mendengarkan perkataan-perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.

﴾۸۱﴿الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولٰئِكَ هُمْ أُولُوا الْأَلْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS Az-Zumar : 18)

Mendengarkan perkataan dan mengikuti yang paling baik akan mewujudkan peradaban yang baik pada bangsa, dan sebaliknya ketidakmampuan mendengar perkataan akan melahirkan kemerosotan peradaban suatu bangsa. Bangsa yang mampu mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik akan menjadi bangsa yang memahami petunjuk dan mempunyai akal, sedangkan bangsa yang tidak mempunyai kemampuan mendengar akan menjadi orang-orang yang mengikuti hawa nafsu sendiri atau bahkan taghut tanpa suatu kemampuan untuk memahami orang lain, baik kebaikan mereka ataupun hal-hal yang perlu dibantu. Setiap orang beriman harus membangun kemampuan mendengar perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.

Kemampuan mengikuti perkataan terbaik ditentukan dari perkembangan akal. Setiap orang harus melakukan tazkiyatun nafs dan belajar membobot dengan benar nilai kebaikan (atau keburukan) dari suatu perkataan secara objektif agar memahami kebaikan perkataan dengan benar. Manakala seseorang tidak berkembang akalnya, mereka tidak akan mempunyai kemampuan mengikuti perkataan yang terbaik. Mereka mungkin hanya akan mengikuti orang-orang yang mereka pandang tanpa menimbang kebenarannya. Akal menjadi modal dasar manusia untuk dapat mengenali perkataan terbaik untuk diikuti. Dengan berkembangnya akal manusia akan semakin mengenali perkataan-perkataan yang terbaik yang bisa mereka ikuti, dan peradaban mereka akan tumbuh menjadi baik.

Kaum muslimin dewasa ini sebenarnya dijadikan kurang mampu mendengar perkataan dan mengenali perkataan yang terbaik karena rekayasa kaum musyrikin yang disebarkan melalui kolonialis. Suku-suku bangsa di negeri ini misalnya, dibuat tidak lagi mengenali warisan leluhur mereka sendiri dengan penyitaan pustaka-pustaka dari negeri ini, sedemikian anak-anak negeri kehilangan pengetahuan keluhuran budi nenek moyang dan memandang masalah secara pragmatis sesuai hawa nafsu dan keinginan syahwat sendiri. Kolonialis pun menyebarkan pustaka-pustaka yang menjadikan adab anak-anak negeri terdegradasi. Sangat banyak tatacara yang mereka lakukan untuk menjadikan kaum muslimin tidak mampu mendengar perkataan dan mengikuti yang terbaik dengan menghilangkan perkataan-perkataan luhur bangsa jajahan mereka. Selain kaum musyrikin, para syaitan pun sebenarnya mengajarkan perkataan yang membangkitkan fanatisme tanpa akal melalui kaum musyrikin, dan menghembuskan bagi tiap-tiap muslimin agar tidak mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.

Hal-hal demikian membuat peradaban bangsa menjadi buruk. Nusantara ini pernah memilih pemimpin mereka dari kalangan pembohong yang menipu rakyat sendiri untuk mengumpulkan harta kekayaan bagi dirinya sendiri, melakukan hutang dalam jumlah raksasa dan membagikan sebagian kecil untuk bantuan sosial tanpa membuat program mencerdaskan rakyat. Mereka menjual kekayaan negeri tanpa mencatatnya sebagai kekayaan negara. Orang-orang yang mau menjilat dijadikan pejabat-pejabat pemerintahan hingga tanpa malu sebagian mereka memuja junjungan mereka sebagai nabi karena mengharapkan jabatan. Hal demikian merupakan salah satu dampak dari terbentuknya budaya tidak mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik. Sebagian besar masyarakat bertindak pragmatis mengikuti hasrat duniawi dan hawa nafsu sehingga peradaban menjadi buruk dan kehidupan menjadi sulit.

Keadaan yang muncul dalam fenomena adab demikian seringkali bertambah rumit karena ketiadaan atau menghilangnya perkataan yang baik sehingga masyarakat tidak mengetahui atau tidak terlatih untuk mendengar perkataan yang baik, digantikan dengan perkataan-perkataan yang menjadikan masyarakat bodoh. Masyarakat yang pragmatis dibuat hiruk pikuk memperebutkan duniawi dan kedudukan, masyarakat yang mengikuti tuntunan agama dibuat memusuhi jalan untuk memahami tuntunan Allah, dan mukminin yang ingin mengikuti aturan dan tuntunan Allah dibuat tidak bisa memahami kehendak Allah dengan fanatisme membuta. Manakala pemimpin mereka berganti lebih baik, masyarakat justru bergejolak karena mengikuti perkataan-perkataan yang buruk hingga pemimpin yang lebih baik merasa repot untuk berbuat yang terbaik. Seringkali para penjahat yang masih ingin berkuasa melakukan rekayasa sosial untuk menimbulkan gejolak dengan memanfaatkan karakter masyarakat yang terbiasa tidak mendengarkan perkataan dan tidak mengikuti perkataan yang terbaik.

Kemampuan untuk mendengar perkataan secara benar dan mengikuti perkataan yang terbaik menjadi salah satu kunci untuk melakukan perbaikan adab masyarakat. Hal demikian akan akan subur apabila dibangkitkan perkataan-perkataan terbaik untuk diikuti oleh bangsa. Banyak orang yang berusaha berkata-kata baik tetapi dilakukan untuk membangkitkan pengaruh dirinya kepada masyarakat, maka hal demikian tidak membangkitkan keinginan masyarakat mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik. Kaum mukminin hendaknya berusaha membangkitkan perkataan-perkataan yang baik dengan melahirkan kandungan-kandungan dari firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, maka itu adalah perkataan yang baik yang dapat membangkitkan umat untuk mendengar perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik. Seandainya ada perkataan yang tidak tepat atau terjadi suatu kesalahan pada perkataan itu, umat dapat menimbang kesalahannya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak terus mengikuti secara membuta kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

Perkataan yang baik dapat terlahir berupa cabang dari pokok yang tumbuh dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kisah para wali di nusantara dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam perjuangan para wali itu bisa menjadi perkataan yang baik untuk diikuti oleh bangsa. Perjuangan para pejuang kemerdekaan dewasa ini didegradasi dalam catatan sejarah kaum kolonialis. Bila kisah perjuangan itu dibangun kembali sebagai bagian dari upaya menegakkan adab bangsa yang mulia, kisah itu akan menjadi perkataan-perkataan yang baik sebagai cabang dari pohon yang tumbuh dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kisah kerajaan-kerajaan hindu di nusantara pun sebenarnya merupakan perwujudan dari cabang yang tumbuh dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bila umat dapat memahaminya. Sangat banyak perkataan-perkataan yang baik yang seharusnya dibangun kembali sebagai perwujudan nilai-nilai dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak terbatas pada kasus-kasus yang telah disebutkan. Sayangnya bangsa telah kehilangan banyak kisah-kisah yang merupakan perkataan yang baik yang merupakan nilai-nilai luhur nenek moyang.

Ada beberapa hal yang mungkin akan menghalangi atau menyimpangkan perumusan perkataan luhur bangsa. Sebagian orang mungkin berbantah tentang perkataan yang seharusnya diikuti, sebagian orang mungkin akan melahirkan perkataan-perkataan tanpa dasar yang benar. Kaum musyrikin membuat-buat perkataan yang membuat umat kehilangan keyakinan tentang perkataan yang baik di antara mereka. Sebagian dari kaum muslimin mungkin akan mencela upaya membangkitkan perkataan yang baik dari nilai luhur nenek moyang dengan sembrono menuduh bahwa itu hanya mengikuti perkataan nenek moyang. Sebagian yang mengatakan demikian karena bodoh dan sebagian adalah agen dari kaum musyrikin di antara kaum muslimin. Yang harus diperhatikan adalah nilai kebaikan dari perkataan, bahwa orang-orang terdahulu sebenarnya mempunyai arah perjuangan yang bernilai luhur untuk diteruskan oleh manusia modern, bukan membangkitkan perkataan nenek moyang sebagai tindakan melawan tuntunan agama.

Tumbuh Dengan Jati Diri Bangsa

Pengenalan terhadap jati diri bangsa akan sangat bermanfaat bagi umat untuk bangkit mendengar perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik. Setiap bangsa memiliki jati diri yang telah digariskan sejak dahulu kala. Nusantara misalnya, memiliki jati diri bangsa yang digambarkan sebagai sang merah putih. Apabila nilai-nilai sang merah putih dibangkitkan dengan benar, komponen-komponen bangsa akan lebih mudah mengikuti perkataan-perkataan tentang merah putih karena setiap diri berkepentingan dengan jati diri bersama sebagai bangsa. Nilai-nilai sang merah putih dapat mengarahkan bangsa untuk berbuat yang terbaik.

Sejak dahulu, para tokoh wali Allah dari berbagai negeri dan para ksatria dari negeri India datang berbondong-bondong ke nusantara untuk mempersiapkan jalan bagi sang merah putih. Hal ini dapat ditemukan pada petilasan-petilasan kerajaan hindu di jawa yang menggunakan bendera merah putih sebagai pengenal cita-cita mereka dalam mendirikan bangsa. Para wali Allah berbondong-bondong ke Nusantara untuk menyambut sabda Nabi Muhammad SAW tentang merah putih, dan mereka mengetahui harus berbuat apa untuk menyambut sabda Rasulullah SAW tersebut.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ أَوْ قَالَ إِنَّ رَبِّي زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ مُلْكَ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ بِعَامَّةٍ وَلَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ
Dari Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Sesungguhnya Allah menggulung bumi untukku sehingga aku bisa melihat bagian timur dan baratnya. Sesungguhnya kerajaan umatku akan mencapai bumi yang telah digulung untukku. Dan aku diberi dua harta simpanan merah dan putih. Dan sesungguhnya aku memohon kepada Rabbku untuk umatku agar Dia tidak membinasakan umatku dengan paceklik yang merata, dan agar Dia tidak menjadikan musuh dari selain mereka menguasai mereka, kecuali karena (kesalahan) diri mereka sendiri sehingga tenggelamlah (harta simpanan) putihnya (HR Abu Dawud, no: 4252; Ahmad 5/278, 284; Al-Baihaqi, no: 3952.)

Merah putih merupakan dua harta simpanan yang diberikan kepada Rasulullah SAW. Disayangkan bahwa salah satu harta simpanan tersebut akan tenggelam karena kesalahan umat Islam sendiri. Hal ini hendaknya diperhatikan agar muslimin bersikap hati-hati. Sebenarnya para wali Allah yang berbondong-bondong datang ke Nusantara mempunyai keinginan untuk mempersiapkan jalan terwujudnya harta simpanan merah dan putih tersebut. Keinginan ini akan dikenali oleh orang yang sama. Banyak orang-orang yang mencari jalan ibadah mengetahui kesamaan dorongan bahin di antara mereka untuk menemukan objek untuk pengabdian dan menemukannya dalam wujud merah putih. Di jaman yang jauh setelah Nabi SAW, orang yang ingin berjuang untuk agama Allah kebanyakan akan menemukan jalan perjuangannya untuk sang merah putih, sebagai bentuk nyata upaya menolong Rasulullah SAW. Umat beragama selain umat islam akan menemukan objek perjuangan untuk tuhannya melalui jalan merah putih.

Sebenarnya riwayat tentang sang merah putih tercantum pada setiap agama. Para ksatria hindu dari negeri India pun datang berbondong-bondong ke nusantara karena nubuat tentang merah putih. Hingga kerajaan hindu berakhir di tanah jawa, mereka tetap mengabadikan sang merah putih untuk petilasan-petilasan yang mereka tinggalkan karena untuk sang merah putih itulah mereka berjuang. Sebenarnya merah putih di kalangan Islam dan Hindu merupakan merah putih yang sama walaupun mungkin cara penuturannya berbeda. Demikian pula sang merah putih di kalangan nasrani menunjuk pada sang merah putih yang sama. Merah putih itu juga tetap terabadikan dalam jati diri bangsa Indonesia walaupun kebanyakan orang mungkin tidak lagi mengenali hakikat dari sang merah putih.

Merah putih terkait dengan kebangkitan agama. Setiap orang yang berjuang untuk membantu merah putih sebenarnya telah berbuat menolong Allah secara berjamaah, menolong menghidupkan dan menyiarkan kembali agama kepada manusia tanpa meninggalkan al-jamaah. Para wali Allah, para ksatria, para pejuang kemerdekaan yang memahami nilai merah putih dan berjuang untuknya merupakan cabang-cabang dari pohon yang tumbuh di atas tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, sedemikian mereka adalah bagian dari al-jamaah. Manakala seseorang atau suatu kaum berjuang sendiri untuk islam, kebanyakan perjuangan demikian tidak mewakili islam secara utuh hingga kadang justru menjadi fitnah bagi islam. Hal demikian terjadi karena kurangnya dorongan dalam diri untuk dapat menyatu dalam kebenaran universal pada al-jamaah hingga melupakan harta simpanan Rasulullah SAW.

Nilai-nilai merah putih merupakan landasan kebangkitan kembali ajaran Allah di antara umat manusia. Sayangnya umat islam akan berbuat salah dalam urusan itu sedemikian harta simpanan putih menjadi kehilangan pijakan tidak dapat tegak dengan kokoh. Barangkali sebagian kaum mukminin mendengar tentang suatu kebangkitan kembali Islam di antara mereka, tetapi kemudian mereka berjuang untuk kebangkitan agama tanpa mempedulikan sang merah putih harta simpanan Rasulullah SAW. Barangkali mereka memandang diri mereka cukup kuat untuk membangkitkan agama tanpa mengikuti tuntunan Rasulullah SAW kemudian melupakan sang merah putih. Atau boleh jadi mereka merasa telah memahami tuntunan Rasulullah SAW dengan sempurna hingga mampu menempuh jalan sendiri untuk agama Allah. Kelalaian terhadap harta merah putih demikian itu pada dasarnya menunjukkan sedikit atau banyak terlepasnya muslim dari Al-jamaah. Hal-hal demikian menyebabkan mereka berbuat salah hingga justru menyebabkan tenggelamnya harta simpanan putih.

Bangkitnya bangsa harus dimulai dengan membangun kebaikan adab dan hal itu dapat dibangun dengan perkataan yang baik. Musuh bangsa yang paling merusak sebenarnya berupa kerusakan adab. Para musuh dari kalangan orang-orang jahat hanya dapat memanfaatkan kelemahan bangsa tidak akan bisa mengalahkan muslimin apabila mereka baik. Untuk membangkitkan perkataan yang baik, bangsa ini perlu memperkenalkan jati diri bangsanya agar dapat menyatukan langkah membangun sinergi untuk kebaikan bangsa. Jati diri nusantara ini adalah merah putih. Orang-orang beriman hendaknya menggali khazanah dalam tuntunan kitabullah Alquran untuk dapat menggali nilai-nilai merah putih. Nilai-nilai merah putih itu sebenarnya merupakan perwujudan nilai-nilai kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dalam bentuk terapan nyata bagi hamba Allah.

Untuk memahami nilai-nilai merah putih, setiap muslim hendaknya berpegang kepada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tidak membuat suatu pemahaman atau amal-amal dengan meninggalkan tuntunan tersebut. Seandainya belum memahami nilai-nilai dari merah putih, mereka tidak akan terlepas dari Al-jamaah karena tetap mengikuti tuntunan kitabullah. Apabila mulai memahami nilai-nilai merah putih, hendaknya seseorang berusaha membantu agar nilai-nilai itu dapat tersebar luas dan dihayati oleh sebanyak mungkin umat manusia. Apabila mereka membantah kebenaran-kebenaran yang disampaikan kepada mereka, mereka akan terlepas dari al-jamaah sekalipun tetap menggunakan nama Islam untuk identitas diri. Kenyataannya, kaum muslimin atau mukminin justru membuat harta simpanan putih itu kehilangan pijakan maka hendaknya setiap orang tidak berkeras kepala dengan kebenaran versi mereka sendiri. Setiap muslim hendaknya berusaha dapat mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.

Kamis, 14 Agustus 2025

Mengikuti Perkataan Terbaik

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan berdisiplin. Banyak hal dapat membelokkan langkah seseorang dalam mengikuti Rasulullah SAW apabila tidak berhati-hati, baik pada masa awal melangkah ataupun manakala telah jauh mengikuti langkah Rasulullah SAW. Selain akan menjumpai shirat al-mustaqim, mungkin pula seseorang akan menjumpai banyak hal-hal bathil ketika melangkah hingga bisa saja seseorang kemudian justru bersembah kepada taghut. Hal tersebut menjadikan seseorang tidak lurus dalam menempuh jalan kembali kepada Allah.

Untuk dapat berjalan lurus kembali kepada Allah dan menghindari penyembahan kepada taghut, setiap orang beriman harus menumbuhkan sikap mau mendengarkan perkataan-perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.

﴾۸۱﴿الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولٰئِكَ هُمْ أُولُوا الْأَلْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS Az-Zumar : 18)

Sikap demikian merupakan bagian dari membina keikhlasan beribadah kepada Allah. Keikhlasan beribadah kepada Allah tidak terbatas dalam bentuk ibadah-ibadah mahdlah, tetapi juga dalam bentuk amal-amal dzahiriah yang nyata untuk mewujudkan hal-hal yang terbaik bagi umat dan alam semesta. Tidak pula keikhlasan itu dibatasi hanya dalam bentuk pengetahuan-pengetahuan pribadi terhadap kehendak Allah, tetapi juga dalam bentuk kemampuan mendengarkan perkataan-perkataan dari makhluk-makhluk lain serta kemampuan menilai dan mengikuti perkataan yang terbaik. Seseorang yang tidak mempunyai kemampuan memandang perkataan terbaik, atau memandang perkataan terbaik hanyalah perkataannya sendiri, orang tersebut tidaklah mempunyai nilai keikhlasan yang baik. Orang yang mempunyai keikhlasan mampu dan berkeinginan untuk mendengarkan perkataan-perkataan serta mengikuti perkataan yang terbaik.

Secara khusus, kemauan mendengarkan perkataan orang lain terkait dengan keikhlasan (kemurnian) ibadah dari penyembahan kepada taghut. Orang yang mau mendengarkan perkataan dan mengikuti yang terbaik akan terbersihkan dari penyembahan kepada taghut. Perkembangan akal umat dalam memahami kebaikan dari sisi Allah akan menghindarkan dari penyembahan kepada taghut. Keikhlasan (kemurnian) ibadah terbangun atas dasar suatu pemahaman terhadap nilai-nilai kebaikan dalam mengikuti petunjuk Allah. Pemahaman demikian dapat dibangun dengan kemauan mendengarkan perkataan-perkataan yang baik dan mengikuti perkataan yang paling baik. Manakala seseorang hanya mengikuti dorong perkataan diri sendiri saja dan tidak dapat mengerti adanya kebenaran dan kebaikan pada perkataan orang lain, ia akan sangat mudah terjebak pada penyembahan kepada taghut.

Perkataan Terbaik Sebagai Petunjuk

Secara tidak langsung, dari ayat di atas dapat diperoleh suatu pengertian bahwa taghut mengatur manusia dengan kekuatan tiran, tidak mempunyai hubungan dengan aturan tertentu dan tidak perlu dimengerti oleh para hamba mereka. Taghut menginginkan para hamba agar mendengarkan kepada perintahnya tanpa perlu menimbang nilai-nilai kebaikan dan keburukan yang ada pada pengaturan mereka. Perintah para taghut itu bersifat otoriter tanpa perlu melibatkan akal. Contoh tindakan tiran dan otoriter misalnya mungkin saja para pengikut taghut itu menghakimi seseorang yang benar di antara mereka sebagai bersalah tanpa perlu penjelasan dari orang yang dihakimi. Mereka mungkin menghakimi hanya dengan mengikuti perkataan sendiri tanpa perlu acuan kebenaran dalam penghakiman. Tidak hanya berbentuk demikian, ada banyak bentuk tiran dan otoriter yang tampak halus, tetapi tetap merupakan tiran dan otoriter berdasarkan ciri tidak mau mendengarkan perkataan orang lain sekalipun benar.

Kadang perbuatan tirani otoriter itu tampak dilakukan dengan benar tetapi tidak mencerdaskan orang-orang yang mengikuti mereka, tidak menambahkan pengetahuan manusia terhadap kebenaran. Pengaturan taghut tidak selalu melahirkan amal yang salah tetapi secara kumulatif selalu berdampak buruk bagi umat manusia. Seringkali perbuatan mereka justru terlihat hebat tetapi mendatangkan madlarat yang besar melalui pelanggaran pokok-pokok agama yang disangka ringan atau justru baik. Barangkali pengikut mereka mengatakan perintah taghut itu sebagai petunjuk, tetapi sebenarnya tidak menjadikan mereka memahami kebenaran dan kebaikan yang ada dibalik petunjuk tersebut. Petunjuk Allah tidak bersifat demikian. Seluruh petunjuk harus bisa mengacu pada tuntunan kitabullah Alquran. Alquran itu acuan yang diturunkan Allah kepada orang beriman. Petunjuk Allah berfungsi sebagai pembuka nilai-nilai kebaikan yang mungkin tidak terlihat oleh para hamba Allah sebelumnya, bukan suatu perintah tirani yang harus dilaksanakan tanpa ada suatu pemahaman yang dapat diperoleh. Manakala seseorang memperoleh suatu petunjuk yang benar, petunjuk itu bila diikuti akan mengungkapkan suatu realitas kebenaran dari sisi Allah yang mempunyai nilai kebaikan bagi umat manusia. Sayangnya banyak orang menyimpang dalam memahami petunjuk karena mengikuti hawa nafsu sehingga sebagian kelompok lain tidak mau mengakui adanya petunjuk yang turun kepada manusia. Sebenarnya petunjuk Allah sangat bermanfaat untuk membuka kebenaran bila petunjuk itu benar dan pemahaman pada penerimanya benar.

Dalam urusan mengikuti petunjuk Allah, setiap orang harus berusaha untuk dapat mendengarkan perkataan-perkataan yang baik dari orang lain terkait petunjuk atau perintah yang harus dilaksanakan, dan kemudian mengikuti perkataan yang terbaik. Hanya mempercayai kebenaran perkataan sendiri menunjukkan seseorang tidak berusaha menghindari taghut, sehingga ia mungkin akan terjebak pada tipuan taghut. Perkataan terbaik itu mungkin berupa pengetahuan baru yang tersusun dari berbagai perkataan termasuk perkataannya sendiri, atau mungkin berupa perkataan dari salah satu orang yang menyampaikannya, atau mungkin pula berupa perkataan sendiri. Perkataan terbaik berupa perkataan sendiri ini harus disertai pengamatan seksama, dan sebenarnya akan menyisakan suatu perasaan mengambang sebelum ada pendapat orang lain tentang hal itu. Apabila seseorang hanya percaya pada pendapatnya sendiri tidak bisa memahami kebenaran dari perkataan orang lain, ia akan mudah terjebak pada tipuan taghut. Manakala taghut menghampirinya, tidak ada orang lain yang dapat menolong karena tidak menemukan celah untuk memberitahu keburukan pada pendapatnya.

Dalam upaya mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik ini terdapat petunjuk Allah. Petunjuk Allah bukan hanya berbentuk tanda-tanda langit saja tetapi juga berbentuk hal-hal yang menunjukkan manusia kepada pengenalan kebenaran, termasuk di dalamnya perkataan-perkataan kebenaran dari orang lain. Perkataan kebenaran dari orang lain bisa menjadi petunjuk Allah apabila seseorang dapat memahami kebenaran yang ditunjukkan. Bila tidak memahami dengan benar, perkataan itu tidak menjadi petunjuk bagi seseorang walaupun mungkin menjadi petunjuk bagi orang lain yang memahaminya. Orang yang bisa mendengarkan perkataan yang benar dari orang lain dan bisa mengikuti perkataan yang terbaik itu menjadi orang yang memperoleh petunjuk Allah.

Perkataan Terbaik dan Al-Jamaah

Yang terbaik di antara perkataan-perkataan (أَحْسَنَهُ) adalah perkataan yang menjadikan seseorang mengenal kehendak Allah. Secara mutlak, perkataan terbaik adalah firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Secara relatif, manusia dapat berkata dengan perkataan yang terbaik. Perkataan-perkataan benar yang mengungkapkan kandungan kebenaran di dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah perkataan terbaik secara relatif, dan segala perkataan yang menentang tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah perkataan yang buruk. Setiap orang hendaknya berusaha mengikuti perkataan-perkataan terbaik baik dalam kategori mutlak maupun dalam kategori relatif. Perkataan terbaik itu merupakan petunjuk Allah yang dapat meningkatkan kualitas akal orang-orang yang mengikutinya.

Kehendak Allah selalu mengandung nilai-nilai kebaikan yang dapat dipahami manusia. Perkataan manusia mempunyai nilai kebaikan apabila ia dapat menunjukkan nilai-nilai kebaikan dari kehendak Allah. Bila seseorang tidak mengenali nilai kebaikan dari apa yang dipersepsinya sebagai suatu kehendak Allah, ia sebenarnya belum memahami kehendak Allah. Persepsi demikian mungkin baru dalam kategori melihat atau mendengar. Mungkin seseorang merasa mengetahui kehendak Allah tetapi tidak mengetahui landasannya dari kitabullah, maka nilai-nilai yang terbentuk pada pemahamannya belum tentu benar, atau bahkan mungkin apa yang disangka kehendak Allah itu tidak juga benar. Nilai kebaikan pada suatu kehendak Allah terutama terletak pada apa-apa yang menjadi firman-Nya. Setiap orang beriman hendaknya berusaha memahami nilai-nilai kebaikan yang terdapat pada kehendak Allah untuk diwujudkan dalam bentuk amal, terutama nilai kebaikan yang tertera pada firman-Nya. Seseorang hendaknya tidak beramal hanya karena mengikuti suatu perintah tanpa memahami nilai-nilai kebaikan berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Salah satu manfaat mengikuti perkataan terbaik adalah seseorang dapat mengenali al-jamaah, tidak terjebak memandang baik keadaan diri yang mungkin buruk. Tanpa mengikuti perkataan terbaik, seseorang tidak akan mengetahui adanya sahabat-sahabat yang bisa menyertai dirinya ataupun adanya orang-orang yang mempunyai kedudukan lebih dekat di sisi Allah dibandingkan dirinya. Ketika dirinya benar, ia menyangka bahwa ia satu-satunya orang yang benar di sisi Allah. Ketika salah, ia tidak bisa diingatkan oleh orang lain karena memandang kedudukan yang lain lebih rendah dari kedudukan dirinya. Keadaan demikian akan menjadikannya sulit mengetahui kedudukan diri dalam al-jamaah bahkan mungkin menjadikannya tidak mengetahui kedudukan Rasulullah SAW dan sunnah-sunnahnya menganggap dirinya bisa mempunyai sunnah sendiri kepada Allah. Ini adalah bid’ah. Bila seseorang berusaha mendengarkan perkataan-perkataan yang baik dan mengikuti yang terbaik, ia akan mengenali orang-orang yang dapat menjelaskan perkataan yang lebih baik dari khazanah Allah dan mengetahui kedudukan mereka dan dirinya dalam al-jamaah.

Pengenalan terhadap al-jamaah itu akan terbentuk apabila seseorang memahami tingkat kebaikan pada masing-masing perkataan. Ini akan dipahami apabila akal seseorang tumbuh dalam memahami kehendak Allah. Orang yang mendustakan atau beriman kepada yang bathil akan sulit menimbang bobot kebaikan suatu perkataan. Perkataan yang lebih dekat dengan perkataan Rasulullah SAW adalah perkataan yang berbobot lebih baik. Orang yang berkedudukan lebih dekat dengan Rasulullah SAW akan melahirkan perkataan-perkataan yang lebih mendekati perkataan Rasulullah SAW. Sebagian orang harus beramal pada tingkatan amal yang lebih praktis untuk pemakmuran bumi maka mereka hendaknya mengikuti perkataan yang lebih dekat dengan perkataan Rasulullah SAW. Mungkin akan ditemukan sangat banyak tingkatan kebaikan perkataan di masyarakat, dan masing-masing berusaha menempati kedudukan yang tepat sesuai keadaan diri dan setiap orang harus berusaha untuk tidak menyimpang dari tuntunan Rasulullah SAW dan orang-orang yang kedudukannya lebih dekat. Kadangkala seseorang yang berkedudukan tinggi memerintahkan seseorang untuk berdekatan dengan orang tertentu sebelum berkomunikasi dengan petinggi tersebut karena kedekatan urusan mereka. Kedekatan orang-orang dengan urusan dekat itu dapat membuka pengetahuan secara lebih rinci dibandingkan berkomunikasi dengan petinggi tersebut. Ibaratnya, seorang engineer akan lebih mampu mengeksplorasi bidang engineering bersama dengan sesama engineer dibandingkan dengan direktur.

Mengikuti perkataan yang terbaik adalah mengikuti perkataan orang-orang yang berkeinginan untuk memahami dan mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan benar. Dalam beberapa hal, seseorang atau suatu kaum menjadi tidak mendengar dan tidak mengikuti perkataan terbaik karena terjebak pada waham sebagai golongan yang terbaik. Mereka menyangka bahwa tidak ada yang lebih baik daripada pendapat mereka. Dalam beberapa kasus, mereka mendustakan nikmat Allah yang diperoleh orang lain. Keadaan demikian membuat mereka tidak dapat menyatu dengan al-jamaah dan menjadi kelompok eksklusif dari islam. Hendaknya setiap orang waspada bahwa seseorang mungkin saja berkata yang terdengar baik tetapi sebenarnya hanya berdasar hawa nafsu tanpa keinginan memahami dan mengikuti perkataan Rasulullah SAW dengan benar, maka hal demikian tidak termasuk perkataan yang baik dan tidak mengantarkan mengenal al-jamaah. Ada pula orang-orang yang berkata-kata tanpa landasan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Di antara tanda seseorang berkeinginan memahami dan mengikuti Rasulullah SAW adalah terbentuknya pengetahuan integral antara ayat kauniyah dengan ayat kitabullah. Dalam bahasa lain, mereka adalah orang-orang yang mengetahui urusan jamannya. Sebenarnya pengetahuan mereka bukan hanya urusan jamannya saja, tetapi mempunyai pengetahuan tentang urusan untuk jaman-jaman berikutnya, tetapi mungkin tidak sejelas pengetahuannya tentang urusan jamannya. Apabila ada orang bertanya kepada mereka tentang apa yang seharusnya dilakukan, mereka akan membacakan kepada orang yang bertanya tentang keadaan jaman mereka sedemikian orang yang bertanya akan mempunyai bayangan tentang urusan yang harus dikerjakannya. Perkataan mereka itu termasuk dalam kategori perkataan yang terbaik untuk diikuti.

Umat manusia hendaknya tidak mengikuti perkataan orang lain yang tidak menimbulkan pengetahuan tentang urusan Allah atas diri mereka, atau hendaknya tidak mengikuti orang lain dengan kebodohan terhadap kehendak Allah. Bila seseorang bodoh pada awalnya, ia harus menjadi berpengetahuan setelah mengikuti selama sekian waktu, tidak boleh terus menerus mengikuti dalam kebodohan. Apabila terus menerus bodoh ketika mengikuti, ia barangkali harus berusaha menemukan jalan lain untuk menemukan perkataan yang terbaik untuk diikuti. Boleh jadi ia tidak perlu meninggalkan panutan sebelumnya, tetapi harus bersikap terbuka terhadap kemungkinan adanya perkataan yang lebih baik untuk diikuti. Setiap orang harus berusaha mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik, tidak boleh mengabaikan perkataan-perkataan yang baik apalagi mendustakannya karena akan menutup dirinya dari suatu jalan petunjuk Allah. Perkataan terbaik itu bisa mengalir melalui banyak jalan sedemikian manusia tidak boleh tertutup waham bahwa tidak ada kebaikan yang bisa mengalir kecuali melalui apa yang mereka ikuti.