Pencarian

Minggu, 29 Juni 2025

Mentaati Ulul Amri

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk menjadi hamba yang didekatkan merupakan langkah tauhid. Tauhid bukan hanya urusan seseorang dengan rabb-nya saja, tetapi juga terkait dengan keberjamaahan berupa ketaatan terhadap perintah Allah hingga dalam bentuk perintah-perintah secara konkrit dari para ulul amri. Para ulul amr adalah orang-orang yang mengemban amr Allah dengan suatu landasan pengetahuan tentang urusan Allah untuk ruang dan jaman bagi mereka. Keberjamaahan itu akan terjadi melalui ketaatan kepada mereka karena mereka melaksanakan urusan Allah sebagai bagian dari perjuangan Rasulullah SAW.

﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)

Ulul amr mempunyai pengetahuan tentang urusan yang menjadi amanah mereka dalam tingkatan hakikat sedemikian langkah mereka dapat menghindarkan manusia dari bahaya dan keburukan atau memberikan manfaat terbaik bagi umat manusia. Mereka bukan mencomot ayat untuk pembenaran langkah atau kepentingan diri mereka, tetapi mengikuti tuntunan kitabullah untuk merumuskan langkah yang terbaik. Mereka bukan sekadar orang-orang yang mengurus kepentingan diri sendiri, tetapi memberikan kebaikan bagi umat melalui amanah yang diemban. Orang-orang yang mengurus kepentingan umat demi kepentingan diri mereka sendiri tidak termasuk sebagai ulul amr, tetapi mungkin hanya pemimpin-pemimpin yang diangkat untuk mereka.

Diangkatnya pemimpin suatu kaum tergantung pada keadaan diri. Suatu kaum yang baik akan diberikan kepada mereka pemimpin yang baik. Kaum yang bodoh akan mengambil pemimpin daru orang-orang yang mensiasati diri mereka untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya, dan kaumnya ditipu dengan pencitraan-pencitraan kosong. Kadangkala pemimpin kaum yang bodoh mengurus kaum mereka dengan bersekutu dengan syaitan, melakukan kejahatan-kejahatan dan melancarkan tuduhan-tuduhan kejahatan kepada kaumnya dengan kejahatan-kejahatan yang dilakukan sendiri. Kadangkala banyak orang baik pada suatu kaum tetapi tidak bisa mengangkat orang baik sebagai pemimpin karena mereka mengabaikan ulul amr yang ada di antara mereka. Diangkatnya orang jahat sebagai pemimpin di antara orang-orang baik pada satu sisi menunjukkan bahwa diri mereka sebenarnya tidaklah benar-benar baik karena mengabaikan urusan Allah yang diturunkan melalui ulul amr di antara mereka.

Mengikuti Ulul Amri

Para ulul amri mempunyai kedudukan yang tertentu dalam urusan Rasulullah SAW. Masing-masing mempunyai kedudukan yang berbeda baik tetapi terdapat hubungan antara satu ulul amri dengan ulul amri yang lain karena masing-masing melaksanakan suatu bagian dari urusan Rasulullah SAW. Hubungan itu bisa berbentuk hubungan sejawat ataupun hubungan dalam bentuk atasan-bawahan. Masing-masing ulul amri mungkin mempunyai irisan dalam urusan mereka. Mungkin seorang ulul amri tidak mengenal ulul amri yang lain karena baru mengenal amr-Nya atau jauhnya urusan di antara mereka, tetapi setiap ulul amri selalu mengenal kedudukan Rasulullah SAW dan kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Dengan semua bentuk usaha mereka, tidak ada ulul amri yang melakukan sesuatu bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka bukanlah pemikul amanah dalam derajat ulul amri.

Para ulul amri mempunyai pengetahuan keadaan kauniyah berdasarkan suatu hakikat dari sisi Allah. Banyak hal bisa tampak dari seorang ulul amri, maka bagian terpenting yang harus diperhatikan adalah pengetahuan mereka tentang hakikat dari sisi Allah. Seorang ulul amri mungkin saja tidak mengetahui persis hal-hal yang terjadi di alam dunia, tetapi mengetahui hakikat yang menjadi landasan fenomena kauniyah mereka. Hendaknya umat memperhatikan sisi hakikat yang dijelaskan oleh para ulul amri, tidak memperdebatkan kesahihan para rincian peristiwa yang terjadi. Mungkin ulul amri tertentu diberi kemampuan mengetahui rincian peristiwa, maka umat hendaknya memperhatikan hakikat yang dijelaskannya, tidak berlebihan membesar-besarkan kehebatan ulul amri tersebut. Sikap demikian ini hendaknya dilakukan tanpa memandang rendah perkataan para ulul amri karena perkataan itu disampaikan mengikuti pengetahuan hakikat. Hanya manakala seseorang melihat kesalahan yang nyata dari para ulul amri, maka ia dapat mengambil sikap yang berbeda dengan ulul amri. Perbedaan sikap itu hendaknya dilakukan sewajarnya, tidak berlebihan membesar-besarkan perbedaan pendapat dirinya dengan ulul amri. Manakala perbedaan itu terkait firman Allah, ia boleh atau hendaknya bertanya hingga ia mengerti dengan jelas maksud perbedaan itu karena tidak ada firman Allah yang tidak penting.

Hal terpenting yang disampaikan para ulul amri adalah firman Allah. Mungkin saja beberapa ulul amri bersikap tidak memperhatikan hasil duniawi yang harus mereka capai. Sikap demikian menjadikan beberapa ulul amri tidak dikenali oleh kaumnya, karena keadaan kaumnya. Tentu saja setiap ulul amri berkeinginan untuk berbuat yang terbaik bagi umat mereka hingga wujud duniawi, tetapi manakala suatu umat tetap dalam keadaan bodoh mereka mungkin saja akan membiarkan sesuatu terjadi atas umatnya agar umatnya memahami firman Allah. Mereka menginginkan terwujudnya kemakmuran atas umat mereka, tetapi mungkin tidak benar-benar akan berusaha mencapainya manakala umatnya tidak berusaha memahami firman Allah yang disampaikannya. Lebih penting bagi mereka menyampaikan firman Allah kepada umat mereka dengan harapan agar umat memperoleh bersama-sama jalan untuk memberikan kebaikan kepada sesama. Manakala umat tidak mau memahami firman Allah, mereka mungkin saja akan membiarkan akibat yang bisa terjadi dari sikap umatnya. Manakala suatu kaum tidak mau memperhatikan firman Allah, seringkali tidak ada cara lain yang perlu diusahakan untuk memperoleh kebaikan.

Sumber kebaikan bagi para ulul amri adalah firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan diri mereka hanya mengalirkan khazanah yang dapat mengalir melalui mereka. Khazanah yang dapat mengalir melalui ulul amri adalah khazanah yang bersifat uraian, dan seringkali terkait dengan ruang dan jamannya selain khazanah yang bersifat pokok dan abadi. Sebagai pengurai, tidak semua penjelasan yang keluar melalu ulul amri bisa dikatakan dalam bentuk yang sama persis dengan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi uraian itu tidak pernah menyimpang dari keduanya. Kadangkala para ulul amri harus berbicara banyak hal tentang satu firman Allah atau sunnah Rasulullah SAW, tetapi perkataan mereka sebenarnya berhubungan dengan hanya satu ayat yang dijelaskan tidak terlepas darinya.

Umat manusia hendaknya memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ketika mentaati para ulul amri agar bisa memperoleh kebaikan dari khazanah yang dialirkan. Bisa saja ada pengotor yang mengotori perkataan dari mereka karena kebutuhan berbicara lebih banyak untuk menguraikan, hingga mungkin ada yang kuran bermanfaat atau justru meracuni ketika dipahami dalam bentuk potongannya. Potongan perkataan sekalipun benar seringkali tidak dipahami dengan kedudukan yang tepat oleh orang-orang yang tidak memperhatikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Pengotor-pengotor demikian akan dapat dikenali setiap orang dengan memperhatikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Bukan tidak mungkin suatu kaum tersesat dari jalan kepada Allah karena mengikuti orang lain tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bahkan apabila khazanah yang mengalir kepada mereka sepenuhnya benar. Hal itu bisa terjadi karena kurangnya berharap kepada Allah dalam sikap yang nyata. Mengikuti kebenaran tanpa memperhatikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW menjadikan kebenaran yang mereka peroleh tidak tersambung kepada Rasulullah SAW, maka mungkin mereka akan menjadi kaum yang terpisah dari jamaah Rasulullah SAW. Keadaan buruknya, seringkali kaum demikian menjadi kaum yang merasa paling benar sedangkan mereka terjebak pada suatu kedzaliman.

Berbagai masalah dalam Ketaatan

Memperhatikan sungguh-sungguh urusan Allah dapat dilakukan dengan memperhatikan arahan dari ulul amr yang ada di antara mereka. Para ulul amri itu adalah orang-orang yang mengenal urusan Allah dalam tingkatan hakikat. Hakikat itu merupakan mitsal dari cahaya Allah yang terbentuk dalam diri manusia yang telah terbina sebagai misykat cahaya. Manakala suatu perjuangan dilakukan dengan hanya berdasarkan tafsiran-tafsiran sendiri tanpa suatu kesatuan dengan hakikat di sisi Allah, akan banyak perselisihan terjadi di antara umat walaupun masing-masing berusaha melakukan hal-hal yang baik. Perselisihan itu dimunculkan oleh para syaitan di antara manusia, sedangkan pengetahuan para syaitan itu lebih baik daripada orang-orang yang berusaha mengikuti tafsiran sendiri terhadap kitabullah. Para ulul amri itulah yang mengetahui hakikat-hakikat dari sisi Allah yang tidak dikalahkan oleh syaitan. Sangat banyak kaum yang berusaha bersungguh-sungguh untuk memberikan manfaat tetapi tidak mendatangkan hasil yang memadai karena tidak memperhatikan arahan dari ulul amri. Mereka memboroskan biaya dan tenaga untuk sesuatu yang tidak tepat sasaran.

Ada banyak macam usaha manusia mengikuti tuntunan Allah. Ada suatu kaum yang menganggap bahwa mengikuti tuntunan kitabullah untuk mengurus kepentingan mereka merupakan tindakan politisasi agama. Dalam beberapa kasus, hal itu mungkin ada benarnya tetapi keburukan dari tindakan demikian akan terbatasi dengan ketentuan agama. Kebanyakan orang berusaha mengikuti ketentuan-ketentuan agama untuk kepentingan mereka tetapi tidak disertai dengan suatu pemahaman yang kokoh terhadap tuntunan itu. Hasil dari usaha demikian tidak benar-benar mendatangkan kebaikan, dan kebanyakan mereka akan terkalahkan oleh orang-orang kafir atau munafik yang berusaha menegakkan urusan untuk kepentingan kelompok sendiri. Ada juga orang-orang yang menjadikan diri mereka sebagai penuntun umat tetapi sebenarnya mereka termasuk golongan orang-orang musyrik tidak mengikuti tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila mengikuti mereka, manusia akan termasuk dalam golongan orang-orang musyrik. Bila suatu kaum benar-benar memperhatikan urusan Allah dengan mentaati ulul amri, mereka akan bisa menegakkan urusan Allah sesuai dengan kehendak Allah.

Perintah mengikuti ulul amri tidak berarti kaum muslimin tidak boleh berusaha memahami tuntunan. Langkah manusia tidak cukup dengan mengikuti saja tanpa memahami. Setiap orang diberi kemampuan untuk memahami tuntunan Allah, tetapi nilai kebenarannya bersyarat yaitu manakala bertujuan untuk mengikuti tuntunan Allah. Tanpa keinginan mengikuti tuntunan Allah, orang tidak bisa memahami tuntunan Allah dengan benar. Banyak manusia belajar agama untuk tujuan selain mengikuti tuntunan Allah, maka tujuan mereka tidak benar dan pemahamannya sangat mungkin keliru setidaknya tidak memahami nilai kebenaran. Tujuan dapat dikatakan benar manakala secara praktis seseorang membina diri untuk menjadi misykat cahaya sebagai mitsal bagi cahaya Allah. Ia melakukan tazkiyatun nafs, berhijrah menuju tanah suci yang dijanjikan berupa pengenalan terhadap jati diri, dan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Semua pemahaman yang benar yang terbentuk dalam upaya pembinaan diri dengan proses demikian bukan merupakan tafsiran sendiri. Pemahaman yag benar demikian akan menjadi mudah terbina manakala umat manusia mengenali dan mentaati ulul amri yang ada di antara mereka.

Ketaatan terhadap ulul amri sangat berpengaruh dalam pembinaan akal. Suatu keinginan mengikuti tuntunan pastilah akan menuntun manusia menemukan dan mentaati ulul amri. Manakala seseorang tidak mengarah pada menemukan ulul amr, mereka tidak dalam ikatan ketaatan. Kadang seseorang mengikuti ulul amri tetapi kemudian tidak mentaatinya tanpa suatu alasan yang jelas, maka ia akan berpotensi tersesat. Dalam banyak kasus, seringkali hanya orang-orang yang telah menempuh jalan lebih jauh yang mengetahui kesesatan seseorang. Manakala seseorang yang telah menempuh sekian jarak perjalanan taubat, ia mungkin akan terlihat baik dalam pandangan kebanyakan manusia walaupun sesat, sedangkan hanya ulul amri dan orang-orang tertentu yang mengetahui kesesatannya. Manakala seseorang menentang ulul amri, ia akan sangat berpotensi tersesat tanpa mengetahui dirinya tersesat. Perbedaan sikap atau membantah ulul amri hanya boleh dilakukan ketika melihat ulul amri bertentangan atau berbeda dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Perbedaan sikap itu dilakukan untuk mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bukan mengikuti sikap sendiri. Kadangkala seseorang tersesat karena tidak mentaati ulul amri hingga ia menentang tuntunan Rasulullah SAW dan menentang tuntunan kitabullahi. Umat mungkin menghormati mereka sedangkan para ulul amri dan orang-orang yang benar bersedih karena tenggelamnya kebenaran dari pandangan manusia.

Mengikuti tafsiran sendiri banyak menyebabkan perselisihan. Tidak sedikit perselisihan di antara muslimin sedangkan masing-masing mempunyai landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena mereka mengikuti tafsiran sendiri, tidak mengerti nilai kebaikan yang terkandung pada landasan yang mereka ikuti. Syaitan memanfaatkan jalan mengikuti tafsiran sendiri untuk menimbulkan perselisihan di antara orang beriman. Para syaitan itu membuat ajaran dari tuntunan kitabullah dan memberikan ajaran yang mereka inginkan kepada orang-orang munafiq dan orang-orang islam yang mudah ditipu agar mereka mengikuti langkah-langkah kaum musyrikin. Orang-orang islam yang memecah belah agama menjadi bergolongan dan setiap golongan berbangga dengan kelompoknya merupakan pengikut orang-orang musyrik, dan mereka termasuk sebagai golongan musyrikin.

Ketika sebagian muslimin bertempur dengan musyrikin, tidak sedikit orang Islam yang memunculkan tuduhan keji kepada para mujahidin. Israel zionis jaman ini sebenarnya pengikut syaitan bukan penyembah Allah, bani Israel bangsa samaria yang dahulu telah membunuh para nabi, yang diperangi oleh bangsa Yahudi hamba Allah. Seberapapun dahsyatnya pertempuran yang dilakukan mujahidin terhadap musyrikin, pemihak musyrikin menuduh bahwa itu sandiwara, sedangkan mereka memberi bantuan kepada kaum musyrikin. Mereka tidak mampu melihat dengan benar bahwa panutan mereka bermesraan dengan musyrikin memusuhi muslimin. Mereka tidak menyadari bahwa Allah menggolongkan mereka sebagai orang musyrik, yaitu sejak mereka memecah belah agama menjadi beberapa golongan dan berbangga-bangga dengan golongan sendiri tidak mau memahami perintah Allah. Ajaran demikian itu sebenarnya merupakan ajaran kaum musyrikin bagi umat islam, bukan ajaran dari Rasulullah SAW. Kaum musyrikin berkepentingan agar kaum muslimin menjadi bagian dari pasukan musyrikin. Kemusyrikan pada kaum muslimin demikian akan nyata terlihat manakala mujahidin bertempur dengan musyrikin dan mereka akan menjadi agen musyrikin melakukan agitasi kepada muslimin.



Rabu, 25 Juni 2025

Membina Jamaah dengan Tauhid

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk menjadi hamba yang didekatkan merupakan langkah tauhid. Tauhid bukan hanya urusan seseorang dengan rabb-nya saja, tetapi juga terkait dengan keberjamaahan berupa ketaatan terhadap perintah Allah hingga dalam bentuk perintah-perintah secara konkrit dari para ulul amri. Para ulul amr adalah orang-orang yang mengemban amr Allah dengan suatu landasan pengetahuan tentang urusan Allah untuk ruang dan jaman bagi mereka. Keberjamaahan itu akan terjadi melalui ketaatan kepada mereka karena mereka melaksanakan urusan Allah sebagai bagian dari perjuangan Rasulullah SAW.

﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)

Terdapat urutan prioritas yang perlu dilakukan oleh umat dalam mengikuti keberjamaahan. Pokok dari keberjamaahan adalah ketaatan terhadap tuntunan Allah dan ketaatan terhadap sunnah Rasulullah SAW. Dengan kedua ketaatan tersebut, setiap orang harus berusaha mengenali ulul amri yang ada di antara mereka. Umat tidak boleh mengikuti langkah-langkah seseorang yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena akan menjadikan mereka durhaka terhadap Allah dan terhadap Rasulullah SAW. Hal ini menjauhkan mereka dari keberjamaahan, walaupun mungkin tampak bergerombol. Untuk mengenal ulul amr di antara mereka, seseorang harus menyusun pemahaman yang benar berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka ia akan mengenali ulul amr bagi mereka. Setiap ulul amr mengenal tuntunan Allah yang menjadi amanah bagi mereka, dan memahami penjelasan dari sunnah Rasulullah SAW terkait dengan urusan mereka. Mungkin mereka tidak mengetahui hal-hal yang bukan merupakan amanah bagi mereka, tetapi tidak mungkin melakukan perbuatan yang menentang tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW.

Keadaan Umat

Dewasa ini umat islam banyak mengalami kerancuan dalam berjamaah. Pangkal masalah dari kerancuan ini karena kurangnya pemahaman umat islam terhadap urusan Allah untuk ruang dan jaman mereka berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apa yang terjadi pada semesta mereka dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari firman dalam kitabullah. Manakala ulul amri menjelaskan tuntunan kitabullah terkait fenomena kauniyah mereka, umat tidak mau memahami penjelasan itu dan lebih mengikuti pendapat mereka sendiri sekalipun mungkin tidak mempunyai landasan apapun dari tuntunan Allah, atau hanya mencomot tuntunan tanpa pemahaman hakikat, atau bahkan justru mengikuti pendapat yang sesat. Kadangkala umat mengikuti suatu panutan yang mereka inginkan tanpa mencari dasar langkah-langkah yang mereka ikuti hingga terjebak pada hal yang tidak baik. Manakala orang yang mereka ikuti memasuki lubang biawak tanpa suatu tujuan yang benar, mereka mengikuti pula masuk lubang biawak. Hal-hal demikian ini menjadikan umat islam tidak dapat berjamaah dengan benar.

Sebagai contoh, umat mungkin akan dibuat syaitan tercerai-berai mensikapi peperangan umat islam terhadap israel akhir-akhir ini. Mungkin umat akan dipecah belah agar tidak bersepakat untuk memerangi israel. Sebagian orang mungkin akan memunculkan opini bahwa Iran bukanlah islam karena syiah. Atau sebagian orang mungkin akan mengatakan bahwa tanah palestina telah ditentukan untuk orang-orang Israel maka umat islam harus melindungi upaya bangsa Israel saat ini. Ada banyak kemungkinan lain yang menjadikan orang islam berpecah belah. Bagi seorang ulul amri terkait urusan tersebut, telah jelas bahwa amanah yang harus ditunaikan meliputi permusuhan dengan bangsa israel tersebut. Mereka mengetahui hakikat dari kasusnya berdasarkan tuntunan kitabullah. Demikian pula mereka mempunyai pengetahuan hal-hal terkait dengan amanah itu.

﴾۲۰۱﴿وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan mereka mengikuti pembacaan syaitan-syaitan atas kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi syaitan-syaitan-lah yang kafir. Mereka (syaitan-syaitan) mengajarkan sihir kepada manusia dan (mengajarkan) apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (ilmu itu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya fitnah (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka (para syaitan) mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan (ilmu) itu dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (para syaitan) tidak memberi mudharat dengan (ilmu) itu kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka (manusia) mempelajari sesuatu yang membahayakan mereka dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang membeli (ilmu) itu, tiadalah baginya akhlak itu di akhirat, dan amat buruklah perbuatan mereka membeli (ilmu) itu dengan dirinya, kalau mereka mengetahui. (QS Al-Baqarah : 102)

Zionis di Israel saat ini adalah kumpulan orang-orang yang mengikuti pembacaan syaitan tentang kerajaan Sulaiman, pembacaan dalam format kafirnya. Mereka berkeinginan mewujudkan kembali suatu kerajaan seperti kerajaan Sulaiman dalam bentuk yang sangat kafir. Kaum itu telah ada setelah jaman nabi Sulaiman a.s yang menyebabkan terpecahnya bani israel menjadi dua bangsa, yaitu bangsa Yahudi di selatan yang tetap beribadah kepada Allah dan bangsa Israel di utara yang mengikuti syaitan-syaitan. Bangsa Yahudi sendiri sering diperintahkan memerangi bangsa Israel bahkan hingga pernah diturunkan perintah untuk memusnahkan seluruh yang hidup di permukaan negeri utara. Bangsa yang pernah dimusnahkan itu hidup kembali pada zaman ini sebagai Zionis Israel, dan sebenarnya telah ada pula pada jaman Rasulullah SAW. Kaum itu merupakan sumber masalah bagi dunia.

Peperangan Iran-Israel saat ini merupakan fenomena besar yang muncul menjelaskan kandungan ayat tersebut di atas. Fenomena ini dimunculkan secara jelas dalam waktu yang cukup lama dalam bentuk kekerasan yang menyertai orang-orang jahat dengan fitnah-fitnah yang membelokkan informasi bagi masyarakat luas. Sebenarnya sangat banyak orang islam yang seharusnya berurusan dengan fenomena semacam ini, atau boleh dikatakan bahwa semua orang islam sebenarnya harus berurusan dengan masalah demikian. Setiap orang islam hendaknya membangun kepedulian terhadap masalah ini dan berusaha memberikan sumbangsih sesuai dengan keadaan masing-masing dengan cara yang terbaik. Sumbangsih dalam masalah ini tidak selalu berupa bantuan harta dan nyawa, tetapi juga pemikiran-pemikiran yang dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik bagi umat secara keseluruhan. Dalam hal ini ketaatan kepada ulul amr akan cukup membantu memperbaiki keadaan dan memberikan sumbangsih yang memadai terhadap keadaan.

Ulul amr yang terkait dengan ayat di atas mempunyai pengetahuan tentang kaum pengikut bacaan syaitan dari ayat tersebut, dan/atau pengetahuan yang dibenarkan oleh ayat tersebut. Mereka bukan mencomot ayat untuk pembenaran langkah. Misalnya pengetahuan tentang dasar-dasar perjuangan. Untuk mengalahkan para pengikut syaitan, umat Islam harus melakukan dekoding sihir-sihir yang mereka gunakan. Kekuatan pengikut syaitan utamanya pada sihir-sihir, dan mereka menggunakan senjata-senjata fisik yang hebat hanya untuk kekuatan perusakan fisiknya. Untuk memperkuat perjuangan melawan kekuatan pengikut syaitan, umat islam harus mengarahkan dan memanfaatkan rumah tangga dengan sebaik-baiknya sesuai tuntunan Allah. Manakala rumah tangga muslimin dirusak, kaum muslimin akan menjadi lemah menghadapi strategi-strategi mendirikan kerajaan syaitaniah. Para ulul amr bergerak tidak berdasarkan persangkaan. Dalam urusan melawan gerak para pengikut syaitan, para ulul amri mempunyai pengetahuan tentang amanah yang harus diemban dalam tingkatan pengetahuan hakikat, karena itu hendaknya kaum muslimin mentaati ulul amri agar terhubung dengan urusan Allah untuk ruang dan jaman mereka, sehingga dapat melangkah secara berjamaah.

Keberjamaahan terutama terbentuk manakala pengetahuan suatu kaum menyentuh pengetahuan hakikat. Pengetahuan itu merupakan pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah. Umat manusia bisa memperoleh pengetahuan-pengetahuan yang banyak walaupun mungkin belum menyentuh hakikatnya, tetapi belum tentu efektif melawan pengetahuan dari alam yang lebih tinggi. Hal itu merupakan kebaikan manakala dilandasi hati yang baik, tetapi mungkin masih akan ditemukan berbagai perselisihan antara satu orang dengan orang lainnya hingga tidak dapat menyatukan manusia dalam suatu jamaah. Langkah yang dirumuskan dari pengetahuan tanpa mengenal hakikat suatu masalah tidak akan seefektif langkah yang ditempuh berdasarkan pengetahuan hakikat. Manakala suatu pengetahuan terkait dengan hakikat dari sisi Allah, setiap makhluk berakal akan berusaha memperhatikan dan melaksanakan hakikat itu kecuali orang-orang yang tidak memahami.

Membina Jamaah

Sihir syaitan yang menjalar di antara manusia saat ini sebenarnya telah memasuki hampir setiap sendi kehidupan. Riba yang dibuat oleh para pengikut syaitan itu telah sedemikian menguasai umat manusia di hampir seluruh permukaan dunia kecuali beberapa bangsa saja. Pada riba itu sebenarnya terdapat simpul-simpul sihir penguasaan dunia yang harus diurai simpulnya oleh kaum mukminin. Demikian pula sihir menjalar di banyak aspek lain kehidupan manusia. Orang-orang islam dijadikan tercerabut dari tauhid yang hakiki digantikan dengan tauhid yang menjadikan diri mereka sebagai golongan yang berbangga-bangga dengan diri mereka sendiri dan merusak orang lain. Orang-orang Islam mungkin saja akan dibuat berselisih sendiri dalam menghadapi sepak terjang para pengikut syaitan, dan sebagian muslim justru menjadi para pelindung bagi pengikut syaitan dari upaya kaum muslimin lain mencegah kejahatan mereka. Pada puncaknya, syaitan menggunakan ilmu Harut Marut (bukan hanya sihir) untuk mencerai-beraikan manusia yang berusaha mengurai simpul-simpul sihir mereka. Segolongan manusia dijadikan syaitan alat menceraikan para pengurai simpul sihir syaitan dari isteri-isterinya hingga tidak mampu berbuat banyak dalam usahanya.

Umat islam harus kembali bertauhid dengan sebenarnya yaitu membina akhlak mulia dalam bentuk memahami kehendak Allah dan mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri. Tidak ada kebodohan yang boleh diikuti umat islam karena akan mencoreng kemurnian ibadah mereka kepada Allah. Orang-orang yang tidak berakal kadang-kadang merasa beribadah semata-mata kepada Allah tetapi sebenarnya hanya mengikuti hawa nafsu mereka sendiri bodoh terhadap kehendak Allah. Kadangkala mereka merasa sebagai pelaksana perintah-perintah Allah tetapi sebenarnya hanya membantu syaitan menimbulkan kekacauan di bumi. Manakala suatu ayat Allah dalam bentuk ayat kauniyah dan ayat kitabullah dibacakan, mereka meninggalkan ayat-ayat itu untuk mengikuti urusan mereka sendiri tanpa tuntunan Allah. Manakala seorang mukmin berusaha mengurai simpul-simpul sihir syaitan melalui para pengikutnya, orang-orang kurang akal itu mungkin akan mengganggu proses penguraian itu. Hal-hal demikian tidak boleh terjadi. Setiap orang harus berusaha memperjelas kemurnian ibadah mereka kepada Allah sebagai tauhid dalam bentuk akhlak mulia, yaitu memahami kehendak Allah dan mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri.

Dampak dari tauhid yang tidak tepat di antaranya adalah sulitnya terbentuk keberjamaahan di antara kaum muslimin. Kadangkala suatu kaum berusaha sungguh-sungguh untuk merealisasikan kebenaran tetapi kebenaran mereka tidak terhubung dengan baik pada suatu hakikat yang digelar pada kauniyah mereka. Yang seringkali terjadi, para penyeru kepada Allah di antara mereka itu diabaikan karena mereka hanya mengikuti pendapat mereka sendiri. Suatu kaum mungkin terwahami mencari jati diri untuk beribadah kepada Allah, tetapi tidak memperhatikan urusan Allah yang digelar pada kauniyah semesta diri mereka. Manakala ada ulil amri di antara mereka, mereka tidak memperhatikannya karena tidak mengenal kehendak Allah sekalipun kehendak itu telah tertulis secara nyata di dalam kitabullah menyentuh kecerdasan jasmaniah. Manakala tidak mengenali ulul amri, mereka tidak akan dapat mentaati ulil amri, dan tidak dapat membentuk al-jamaah mengikuti langkah-langkah Rasulullah SAW. Hal-hal demikian ini sering menjadi warna ironi pada orang-orang yang bertauhid tetapi tidak mengetahui arah yang harus ditempuh.

Tauhid harus dibina di antara pengikut Rasulullah SAW dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW disertai memperhatikan penjelasan-penjelasan yang terjadi pada ayat-ayat kauniyah. Fikiran pada tingkatan jasmaniah harus digunakan untuk mencari pengetahuan-pengetahuan kebenaran dan melakukan penalaran dengan benar, tidak disia-siakan. Pengetahuan yang paling benar adalah tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Sekalipun apabila seseorang tidak mengerti makna kebenarannya, hendaknya ia tidak mendustakan. Apa yang selain Alquran dan sunnah Rasulullah SAW bisa mengandung kebenaran dan kebathilan, maka hal ini membutuhkan kekuatan fikiran dan akal untuk memisahkannya. Seseorang boleh mengikuti perkataan yang lain dengan berusaha memisahkan kebenaran dan kebathilan yang ada di dalamnya, maka pikiran dan akalnya akan menguat. Mengikuti perkataan-perkataan yang tidak jelas kebenarannya akan menjadikan pikiran manusia lemah.







Senin, 23 Juni 2025

Berjamaah dan Tauhid

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk menjadi hamba yang didekatkan merupakan langkah tauhid. Tauhid secara harfiah mempunyai arti ‘memanunggalkan’, dan secara makna menunjuk pada usaha yang perlu dilakukan manusia untuk memanunggalkan keadaan diri dan amal-amalnya dengan kehendak Allah. Pemanunggalan tidak menunjukkan suatu panteisme dalam arti bersatunya manusia dengan Allah, tetapi menunjukkan bersatunya keadaan manusia dan amal-amalnya dengan kehendak Allah. Pada tataran praktis, pemanunggalan itu terwujud melalui terbentuknya seseorang sebagai misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah secara tepat berupa kalimah thayibah atau pohon thayibah tidak terdistorsi dengan cahaya lainnya, maka bayangan cahaya Allah dalam diri itu adalah bukti pemanunggalan seseorang dengan kehendak Allah.

Orang-orang yang telah mampu membentuk bayangan cahaya Allah dalam diri mereka adalah para ulul amri. Mereka mempunyai suatu bayangan dari suatu urusan tertentu dari Allah, dan merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW yang merupakan misykat cahaya paling sempurna yang membentuk bayangan dari keseluruhan urusan Allah. Ulul amr tidak selalu menjadi pemegang urusan di antara manusia tetapi selalu menjadi pemegang urusan dari Allah, terutama manakala umat manusia dalam keadaan buruk. Manakala umat dalam keadaan baik, mereka akan mempunyai tempat di antara tatanan manusia karena manusia dapat menghargai kebenaran yang mereka sampaikan.

Tauhid bukan hanya urusan seseorang dengan rabb-nya saja, tetapi juga terkait dengan upaya suatu kaum dalam mentaati perintah Allah hingga dalam bentuk perintah-perintah secara konkrit dari para ulul amri.

﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)

Orang-orang beriman hendaknya menyatukan diri mereka dalam urusan Allah melalui ketaatan kepada Rasulullah SAW dan para ulul amri. Seseorang tidak dapat dikatakan mentaati Allah tanpa mentaati Rasulullah SAW karena ketaatan mereka pasti dilakukan secara keliru. Menentang atau menyelisihi tuntunan yang diturunkan kepada Rasulullah SAW baik berupa kitabullah ataupun sunnah Rasulullah SAW jelas menunjukkan suatu penentangan atau penyelisihan terhadap perintah Allah. Tidak ada seorangpun boleh merasa benar dalam mentaati Allah dengan menyelisihi tuntunan Rasulullah SAW. Iblis sangat ingin kembali dekat kepada rabb yang dahulu mengusir dirinya dari surga, tetapi ia tidak mau bersujud kepada Adam maka keinginannya kembali tidaklah dapat dikatakan keinginan yang benar. Rasulullah SAW berkedudukan jauh lebih tinggi daripada Adam a.s, maka penentangan terhadap tuntunan yang diturunkan kepada beliau SAW selalu merupakan penentangan kepada Allah.

Cahaya Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW sebenarnya juga diturunkan kepada para ulul amri sebagai misykat cahaya dalam skala yang lebih kecil, sebagai bagian dari cahaya Rasulullah SAW. Turunan cahaya itu tidak ada yang menyimpang dari cahaya Rasulullah SAW, walaupun mungkin bisa menunjukkan hal-hal yang lebih terinci dalam urusan Allah. Manakala yang dikatakan sebagai suatu turunan cahaya menyimpang dari cahaya Rasulullah SAW dan kitabullah, maka turunan cahaya itu bukan merupakan turunan cahaya yang benar dari cahaya Rasulullah SAW. Para ahli bid’ah seringkali mengikuti cahaya-cahaya selain dari Rasulullah SAW yang menyebabkan mereka mudah tergelincir dari jalan yang lurus. Mungkin mereka mengikuti sebagian dari cahaya Rasulullah SAW tetapi mengikuti pula cahaya selain dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka sedikit atau banyak cahaya palsu itu menjadi sumber kesesatan mereka.

Akhlak Sebagai Landasan Tauhid

Tauhid seringkali dihubungkan dengan pemurnian dalam beribadah kepada Allah. Hal ini sering dimaknai secara berlebihan dengan meninggalkan esensi pemanunggalan terhadap kehendak Allah. Memahami kehendak Allah dan menyayangi orang lain sebagaimana menyayangi diri sendiri merupakan pokok tauhid yang dapat mengantarkan manusia memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata-mata. Ibadah yang murni itu berbentuk amal-amal nyata mengikuti kehendak Allah tanpa menyimpang atau memaksakan paham sendiri. Rasulullah SAW mengajarkan keikhlasan beribadah kepada Allah harus dilakukan dengan menempuh jalan yang menjadikan diri berakhlak mulia, sedangkan akhlak mulia itu adalah berusaha memahami kehendak Allah dan menyayangi orang lain sebagaimana menyayangi diri sendiri. Dzulkhuwaisirah dan orang-orang yang mengikutinya seringkali memaksakan bahwa keikhlasan ibadah kepada Allah dapat dilakukan hanya dengan memperbaiki syariat-syariat. Pemurnian ibadah kepada Allah tidak akan dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah Dzulkhuwaisirah, hanya dapat dilakukan dengan membina akhlak diri mengikuti Rasulullah SAW. Manakala mengikuti Dzulkhuwaisirah, manusia akan seperti Iblis yang menolak perintah bersujud kepada Adam, dalam bentuk penolakan-penolakan terhadap bentuk-bentuk ketaatan terhadap sesuatu yang diperintahkan Allah.

Tidak jarang suatu kelompok menyerang aktifitas-aktifitas kelompok lain dengan tuduhan perbuatan syirik dan bid’ah karena aktifitas-aktifitas yang dilakukan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Tentulah Rasulullah SAW tidak memberikan semua contoh perbuatan bagi umat manusia, tetapi beliau SAW telah memberikan setiap contoh prinsip amal-amal yang mengantarkan manusia ke surga dan menjauhkan umat manusia dari neraka. Mustahil bagi beliau untuk memberikan contoh semua amal yang dapat dikerjakan manusia, tetapi beliau telah menjelaskan seluruh prinsip yang perlu dituju oleh manusia. Rasulullah SAW tidak pernah menggunakan telepon, tetapi banyak prinsip-prinsip penggunaan telepon telah diberikan tuntunan Rasulullah SAW. Hendaknya umat tidak berselisih karena hal yang tidak penting dan meninggalkan prinsip yang penting. Hal prinsip yang seringkali dilanggar oleh orang-orang yang sering menyerang aktifitas orang lain adalah prinsip pembinaan akhlak mulia yaitu memahami kehendak Allah dan menyayangi orang lain sebagaimana menyayangi diri sendiri.

Media terbaik yang disediakan Allah bagi manusia dalam membentuk akhlak mulia adalah pernikahan. Pernikahan merupakan setengah bagian agama yang menyediakan media bagi seseorang untuk mengenal hubungan secara vertikal dan horizontal yang dikehendaki Allah. Seorang suami menjadi penghubung vertikal bagi isterinya, dan isteri serta anak-anak menjadi media bagi seorang laki-laki untuk mewujudkan cinta kasihnya dalam hubungan horizontal. Melalui pernikahan harus terbina akhlak yang baik pada masing-masing pihak dalam bentuk nyata yang dapat dimengerti oleh orang lain. Seorang isteri harus berusaha memahami urusan Allah melalui suaminya sebagai urusan dirinya sendiri. Manakala suaminya seorang yang shalih, ia bisa menemukan urusannya dengan membantu suaminya, dan bila suaminya seperti Fir’aun ia bisa bertindak seperti Asiah binti Muzahim r.a merawat bayi Musa sebagai qurrata ‘ain bagi Fir’aun, yang sebenarnya juga merawat calon pejuang kebenaran.

Tujuan dari pernikahan adalah terbentuknya akhlak mulia pada diri setiap orang, tidak boleh menjadikan seseorang berakhlak buruk. Pembinaan akhlak mulia akan menjadi subur melalui interaksi yang baik antara pihak-pihak dalam pernikahan. Suatu wawasan yang baik dari seorang suami akan menjadi bahan pembinaan kebaikan pada diri isterinya, dan suatu kebaikan dari isteri akan menjadi modal bagi suaminya untuk mewujudkan amal-amal shalih. Suatu nafkah yang diberikan secara cukup kepada isteri mungkin akan menjadi suatu shadaqah yang menjadi sumber kebaikan rumah tangga mereka kepada masyarakat yang luas. Demikian kebaikan itu akan tumbuh subur melalui pernikahan di antara orang-orang yang mempunyai arah kehidupan yang sama membentuk akhlak mulia.

Setiap pihak hendaknya berusaha untuk membentuk akhlak mulia melalui pernikahan. Akhlak-akhlak yang buruk seringkali dapat menular dari satu pihak kepada pihak lainnya. Suatu kesombongan berupa sikap menolak kebenaran dan meremehkan pihak lain akan bisa menghambat terbentuknya akhlak mulia pada setiap pihak. Misalnya manakala seorang perempuan bemudah-mudah membantah suaminya tanpa berusaha memahami secara lengkap maksud suaminya, suaminya mungkin akan mudah terjatuh untuk mengabaikan perbuatan baik isteri untuk suaminya. Demikian pula sebaliknya manakala seorang suami sering menganggap remeh kebaikan isterinya, isterinya akan mudah terjatuh untuk membantah suaminya. Demikian suatu keburukan dapat menular dalam bentuk pembalasan antara satu pihak dengan pihak lain.

Sifat-sifat buruk manakala tumbuh subur dalam suatu pernikahan akan sangat menyiksa setiap pihak karena tingkat kedekatan dalam pernikahan. Tingkat kedekatan dalam rumah tangga tidak sama dengan kedekatan dalam perkara yang lain. Setiap orang hendaknya memperhatikan potensi terbentuknya sifat buruk ini sebagai pertimbangan mengambil jodoh pernikahan. Seorang perempuan yang merendahkan laki-lakinya bukanlah jodoh yang baik bagi laki-laki tersebut. Demikian pula laki-laki yang bersifat haus terhadap kecantikan jasmaniah bisa berubah menjadi pasangan yang buruk bagi perempuan. Kebaikan akan ditemukan pasangan menikah manakala setiap pihak mempunyai iktikad sama membangun akhlak mulia melalui pernikahan, dan siap untuk menghadapi segala kemungkinan bersama-sama tidak hanya mempertuhankan keinginan masing-masing. Kadangkala suatu pasangan tampak siap untuk bersama-sama manakala masih saling mencintai, tetapi berubah manakala telah menempuh kehidupan pernikahan karena landasan akhlak yang tidak cukup memadai dari salah satu pihak atau keduanya. Sebaliknya ada orang-orang yang bermasalah pada awalnya tetapi dapat membentuk kebersamaan dengan iktikad yang sama dan kemauan menjalani kehidupan bersama-sama, tidak meninggalkan yang lain ketika berbuat tidak sesuai dengan keinginannya. Hal-hal demikian harus diperhatikan dengan seksama agar diperoleh kebaikan melalui pernikahan.

Akhlak dan Jamaah Sebagai Bagian Tauhid

Pernikahan akan menjadi pintu untuk berjamaah. Seorang laki-aki yang baik akan berpikir tentang pemimpin yang tepat bagi dirinya ketika mengamati bahwa isterinya mempunyai pemimpin, dalam wujud dirinya. Tidak jarang seseorang mengenali pemimpin yang tepat bagi dirinya melalui pengenalan terhadap isterinya. Dengan kesadaran demikian, seseorang akan berproses hingga mengetahui kedudukan dirinya dalam al-jamaah dan mengetahui amal-amal yang ditentukan bagi dirinya karena pengajaran-pengajaran yang dipahaminya dari petunjuk-petunjuk yang turun kepadanya. Pengetahuan kedudukan diri dalam al-jamaah akan terbentuk seiring dengan tumbuhnya sifat rahman dan rahim. Pengetahuan seseorang terhadap imam dirinya merupakan bagian dari sifat rahman, dan pengetahuan terhadap amal-amalnya merupakan bagian dari sifat rahim, dan keduanya pada dasarnya tumbuh bersama-sama bukan dua hal yang terpisah. Karena itu pengetahuan terhadap kedudukan diri dan pengetahuan tentang amal-amal diri merupakan perkembangan paling kokoh dalam membina tauhid.

Terbentuknya al-jamaah akan mendatangkan kemakmuran di bumi, dan al-jamaah itu berakar pada kebersamaan keluarga dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah dalam tatanan keluarga sesuai kehendak Allah. Kadangkala suatu keluarga berkeinginan untuk menjadi baik tetapi hanya terjebak pada upaya pemenuhan kebutuhan kehidupan keluarga tanpa kemampuan meninggikan dan mendzikirkan asma Allah karena setiap pihak hanya berusaha sendiri-sendiri. Kadangkala suatu keluarga hanya memunculkan tekanan dari satu pihak kepada pihak lain dalam kebersamaan karena akhlak yang kurang baik pada salah satu atau kedua pihak. Keberhasilan dalam mendatangkan kemakmuran di bumi akan terjadi manakala setiap pihak berusaha memahami kehendak Allah dan memberikan upaya yang terbaik dari diri mereka melalui tatanan yang dikehendaki Allah. Tatanan dalam keluarga itu akan meluas hingga terbentuk tatanan pada masyarakat secara bertahap.

Tidak boleh ada satu pihakpun dalam pernikahan yang boleh memandang rendah pihak lain hingga muncul perbuatan menghinakan. Kadangkala seorang laki-laki tidak lagi mencintai isterinya karena kecantikan isteri yang memudar, sedangkan isterinya telah berjuang memberikan banyak hal untuk suaminya. Atau kadangkala perempuan merendahkan suaminya dan menolak mengikuti langkah-langkah yang ditempuh suaminya karena kurang mampu memberikan materi yang diinginkannya tanpa menyadari bahwa ia menjadi penghambat rezeki bagi mereka, sedangkan suaminya telah memberikan wawasan yang cukup tentang arah kehidupan yang hendak mereka tempuh. Hal demikian itu bisa menjadi contoh tentang akhlak buruk yang harus dihindari dalam pernikahan. Landasan untuk mencegah munculnya akhlak buruk itu adalah sifat rahman dan rahim, yaitu keinginan untuk mengenal kehendak Allah dan mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri.

Tatanan keluarga merupakan tempat bagi setiap orang untuk menumbuhkan akar hingga mampu berjamaah dengan mentaati perintah Allah, mentaati Rasulullah SAW dan para ulul amri dalam bentuk paling nyata. Sebenarnya ketaatan dalam bentuk nyata demikian merupakan bagian terbesar dari tauhid merupakan bentuk pemanunggalan keadaan dan amal-amal seseorang terhadap kehendak Allah. Kaum yang bertauhid secara murni adalah orang-orang yang mengetahui kehendak Allah untuk ruang dan jamannya sebagai urusan jamaah dan beramal bersama-sama dengan mentaati ulul amri. Akar pertumbuhan seeseorang dalam pelaksanaan kehendak Allah itu terletak pada pernikahan.

Manakala seseorang tidak memahami makna pernikahan sebagai setengah bagian agama, akan sulit bagi mereka untuk memahami tauhid. Demikian pula manakala masyarakat tidak menyadari arti al-jamaah dalam pelaksanaan urusan-urusan mereka dengan ketaatan kepada Allah, ketaatan kepada Rasulullah SAW hingga bentuk ketaaatan yang nyata terhadap ulul amri dalam urusan ulul amri itu, masyarakat itu belum mengenal arti tauhid yang sesungguhnya. Kaum demikian kadangkala menjadikan orang yang paling buruk di antara mereka sebagai pemimpin. Umat islam dewasa ini kebanyakan bersikap seperti perempuan yang tidak mau melaksanakan pengajaran Allah hanya mengikuti pemahaman hawa nafsu atau bahkan syaitan. Mereka menyangka tidak ada suatu pengajaran yang harus dilaksanakan. Mungkin suatu kaum bertauhid dengan berusaha mentaati Allah dan mentaati sunnah Rasulullah SAW tetapi tidak mengerti urusan Allah dan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya, maka tauhid demikian hanya merupakan dasar-dasar tauhid. Masyarakat yang sungguh-sungguh bertauhid adalah masyarakat yang memahami urusan Allah dan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya, dengan tanda mengenal dan mentaati ulul amri di antara mereka sebagai tatanan umat yang dikehendaki Allah layaknya pernikahan.

Selasa, 17 Juni 2025

Pengajaran dan Kesejahteraan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Berpegang pada tuntunan kitabullah akan menjadikan umat menemukan jalan keluar dari kesempitan kehidupan mereka. Banyak masalah kesempitan kehidupan dunia disebabkan karena manusia berpaling dari pengajaran Allah, dan kesempitan karena hal itu akan diangkat Allah dengan melaksanakan pengajaran-pengajaran Allah. Sebaliknya orang-orang beriman akan terpuruk pada kehidupan yang sempit manakala mereka meninggalkan pengajaran-pengajaran Allah.

﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaahaa :124)

Pengajaran Allah ( ذِكْرِي ) pada ayat di atas menunjuk pada petunjuk yang telah dipahami oleh orang beriman secara matang hingga siap untuk dilaksanakan. Ayat-ayat kitabullah merupakan petunjuk paling benar yang diturunkan Allah kepada umat manusia agar manusia dapat memahami kehendak Allah atas diri mereka. Selain kitabullah, Allah menurunkan pula petunjuk-petunjuk kepada umat manusia ke dalam hati-hati orang beriman. Petunjuk-petunjuk demikian bertujuan agar manusia memahami ayat kitabullah. Kumpulan petunjuk-petunjuk pada diri manusia yang menjadikan akalnya dapat memahami urusan Allah yang tertera dalam kitabullah Alquran akan membentuk suatu pengajaran Allah ( ذِكْرِي ) yang merupakan jalan keluar untuk mengatasi kesempitan kehidupan dunia.

Suatu pengajaran yang diberikan kepada seseorang dapat memberikan manfaat yang besar bagi umat. Suatu pengajaran hampir selalu bersifat berlaku umum walaupun mungkin saja yang wajib melaksanakan hanya orang-orang tertentu. Kadangkala suatu adz-dzikra harus dilaksanakan oleh beberapa orang secara berjamaah. Misalnya boleh jadi suatu pengajaran disampaikan agar suatu kaum membentuk organisasi pada mereka. Pengajaran demikian mungkin disampaikan kepada satu atau beberapa orang di antara mereka, dan masing-masing orang yang terlibat harus membina diri untuk layak melaksanakan perannya dalam organisasi itu. Kadangkala orang yang terlibat tidak menerima pengajaran itu tetapi mau mengikuti pengajaran untuk melaksanakan urusan Allah.

Akhlak Sebagai Sasaran Pengajaran

Pembinaan untuk mewujudkan pengajaran Allah demikian tidak hanya dilakukan terkait keterampilan melaksanakan tugas, tetapi yang lebih utama adalah akhlak mulia untuk melaksanakan kehendak Allah. Sebagai gambaran dapat dilihat pada kasus pengajaran yang harus ditunaikan dalam skala rumah tangga, misalnya suatu rumah tangga harus membentuk rumah tangga ta’addud karena ada petunjuk Allah kepada mereka. Seorang suami mungkin harus berpikir keras untuk memahami urusan ta’addud yang diberikan kepada dirinya dengan menimbang berbagai faktor dalam kehidupan dirinya dan tuntunan kitabullah tentang urusan pernikahan. Seorang isteri mungkin harus berjuang keras menerima tuntunan itu manakala benar, atau ia terjebak pada sikap memandang rendah suaminya yang terseret syahwat dan hawa nafsu terhadap banyak perempuan selain dirinya. Demikian pula perempuan yang terlibat dalam urusan ta’addud itu harus berusaha menerima urusan itu sebagai isteri kedua atau seterusnya. Melaksanakan pengajaran demikian membutuhkan akhlak mulia lebih daripada kemampuan untuk membentuk sekian rumah tangga dalam satu keluarga, karena Allah memberikan pengajaran kepada setiap pihak untuk membentuk akhlak mulia bagi diri mereka.

Melalui pernikahan ta’addud, seorang isteri mungkin harus belajar untuk menyayangi perempuan lain sebagaimana ia menyayangi dirinya sebagai isteri dari suaminya. Itu merupakan standar akhlak yang seharusnya dicapai dan diwujudkan dalam dirinya. Seorang perempuan lain mungkin harus mewujudkan akhlak untuk mau/mampu berperan menolong suaminya dalam menunaikan pengajaran-pengajaran yang diperoleh suaminya, bersama madunya. Seorang suami mungkin harus berusaha memahami dengan lebih baik setengah bagian agama bagi dirinya melalui ta’addud, selain bahwa ia harus menambah amal shalih karena memperoleh penolong untuk melaksanakan amanah yang diberikan kepada dirinya, dan pengurai amanahnya. Pembentukan akhlak ini harus dipahami dan diwujudkan oleh setiap orang yang menerima pengajaran. Dalam hal ini, pengajaran berbentuk petunjuk dalam hati yang telah dipahami kemaslahatannya oleh seorang laki-laki berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan petunjuk dalam bentuk yang belum terpahami.

Berbalik dari pengajaran demikian akan mendatangkan kesempitan dalam kehidupan bagi masing-masing pihak, bahkan mungkin kesempitan bagi semua pihak. Sekalipun misalnya pengajaran itu berupa pengajaran membentuk rumah tangga, tetapi boleh jadi rumah tangga itu akan menjadi sumber mengalirnya khazanah Allah bagi umat manusia. Terganggunya rumah tangga akan mendatangkan kesempitan bagi umat seluruhnya. Setiap orang harus berusaha mewujudkan pengajaran yang telah sampai kepada dirinya manakala dapat dilakukan. Mungkin pengajaran itu berat, tetapi meninggalkan pengajaran itu lebih berat konsekuensinya. Bila tidak dapat dilakukan maka tidak mengapa ia mengesampingkan sejenak niat melaksanakannya untuk mengerjakan amal-amal yang lain, hingga datang kesempatan untuk melaksanakan pengajaran. Kadangkala memaksakan diri berusaha melaksanakan suatu pengajaran lebih mendatangkan kerusakan pada banyak pihak daripada manfaatnya, maka hal ini bisa menjadi alasan untuk mengesampingkan sementara waktu pelaksanaannya. Misalnya bila para perempuan saling menyerang satu dengan yang lain dan menghinakan suaminya karena pengajaran yang diberikan, maka seseorang bisa menunda usaha pelaksanaan hingga keadaan menjadi memungkinkan.

Sangat banyak pihak yang akan mengganggu proses memahami dan melaksanakan pengajaran demikian karena nilai manfaat yang akan tumbuh dari pelaksanaan pengajaran. Sekadar untuk memahami pengajaran pun akan ada pihak yang berusaha membengkokkan agar manusia tidak memperoleh pengajaran yang benar. Manakala seorang laki-laki dapat memahami pengajaran dengan lurus, mungkin para perempuan akan diberi perkataan-perkataan yang menyimpang agar timbul perselisihan di antara mereka hingga mengganggu atau menggagalkan pelaksanaan pengajaran. Demikian pula umat mungkin akan dibuat memandang buruk pelaksanaan pengajaran di antara mereka. Alih-alih membina akhlak untuk menyayangi calon madunya, seorang isteri bisa saja justru berselisih dengan calon madunya tidak mau menerima pengajaran suaminya, atau seorang calon madu membakar permusuhan di antara suami dan isteri dengan perkataan tidak baik terhadap keluarga yang sudah terjalin. Itu adalah contoh-contoh gangguan yang bisa muncul dalam melaksanakan pengajaran. Syaitan sangat berkepentingan untuk menggagalkan pelaksanaan pengajaran.

Selain menyebabkan kesempitan dalam kehidupan, meninggalkan pelaksanaan pengajaran akan menyebabkan seseorang akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Setiap ditinggalkannya pengajaran akan mendatangkan kesempitan kehidupan baik bagi diri sendiri ataupun orang-orang yang terkait dengan mereka, baik ditinggalkan dengan terpaksa karena keadaan yang tidak memungkinkan ataupun ditinggalkan karena seseorang mengikuti hawa nafsu. Manakala seseorang meninggalkan pengajaran karena mengikuti hawa nafsu, mereka akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Manakala seseorang meninggalkan pengajaran karena terpaksa tidak dapat melaksanakannya, barangkali ia dapat berharap ampunan Allah tidak mampu melaksanakannya dan berharap agar ia tetap diberi penglihatan kelak di akhirat. Tetapi tetap saja ia akan dihantui ketakutan tertutupnya penglihatannya di akhirat. Setiap orang harus selalu berusaha mengukur kemungkinan pelaksanaannya manakala meninggalkannya.

Kesempitan akan terjadi atas orang-orang yang meninggalkan pengajaran Allah. Orang-orang yang tidak menyadari masalah mungkin akan berusaha menghindari kesempitan itu tetapi tidak memperoleh jalan untuk mencapai kehidupan yang layak. Ada hal buruk yang mungkin timbul dari hal demikian, bahwa ia akan sulit mensyukuri keadaan yang diberikan Allah dan mungkin bersikap kufur terhadap ketetapan atas dirinya. Mungkin ia akan mencela orang-orang yang ada di sekitarnya. Sebenarnya kesempitan yang terjadi atas diri mereka disebabkan karena mereka meninggalkan pengajaran Allah, bukan karena orang lain bertindak tidak sesuai keinginannya. Sebagian orang yang menyadari telah meninggalkannya mungkin akan bersikap memilih kesempitan sekalipun manakala melihat peluang mencapai kemakmuran karena mengetahui ketetapan atau pilihan Allah atas dirinya, atau karena berpikir bahwa peluang yang terlihat itu hanyalah sebuah prank. Walaupun bersikap demikian, bisa saja ia terjebak bersikap mencela orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal ini harus diwaspadai. Ia hendaknya selalu memperhatikan setiap kesempatan terbukanya peluang untuk melaksanakan pengajaran yang sampai kepada dirinya, atau bahkan berusaha untuk membuka kesempatan bila memungkinkan.

Pengajaran hendaknya disampaikan kepada orang-orang yang mau menggunakan akalnya. Hal ini sedikit banyak akan membantu membuka kesempatan untuk melaksanakan pengajaran. Kadangkala penghalang pelaksanaan pengajaran tidak hanya disebabkan oleh orang-orang yang terlibat dalam pengajaran itu tetapi juga karena adab dan cara berpikir masyarakat yang lebih luas. Kebanyakan orang hanya mengikuti waham, dan ini merupakan penghalang yang paling sulit untuk menyampaikan pengajaran, tetapi selalu ada kemungkinan seseorang menggunakan akalnya yang mungkin kemudian akan membantu dirinya untuk melaksanakan pengajaran. Seringkali orang yang tidak berpengetahuan lebih mudah melihat kebenaran pada suatu pengajaran yang disampaikan, daripada orang-orang yang mengikuti waham tertutupi dengan wahamnya. Waham pada umat itu bertingkat-tingkat hingga kadang dapat terbentuk sedemikian kuat sedemikian suatu maksiat dipandang sebagai suatu kebenaran. Ketika pengajaran disampaikan kepada orang yang mengikuti waham, seringkali mereka tidak melihat kebenaran pada pengajaran karena tertutupi waham mereka. Tidak jarang mereka memaksakan waham mereka untuk menghalangi kesempatan melaksanakan pengajaran. Hal demikian ini akan menjadi sumber kesempitan kehidupan secara luas.

Keadaan Umat

Umat islam dewasa ini kebanyakan bersikap seperti perempuan yang tidak mau dimadu untuk melaksanakan pengajaran Allah. Mereka menyangka tidak ada suatu pengajaran Allah yang harus dilaksanakan kecuali apa yang mereka pahami saja. Barangkali menurut mereka perintah Allah itu hanyalah apa-apa yang dapat dibaca dari kertas saja. Manakala menemukan suatu pengajaran barangkali mereka mengira bahwa hal itu hanya omong kosong orang yang mencari keuntungan, tidak berusaha membaca kebenaran pada pengajaran yang disampaikan kepada mereka oleh seseorang yang menerima pengajaran. Manakala mengenali kebenarannya, mereka berusaha menghindar dari pelaksanaannya karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Pola pikir demikian diperparah dengan tingkah orang-orang yang memang mencari keuntungan dengan ajaran agama atau orang-orang yang salah menempuh jalan. Hal demikian ini akan menimbulkan kesulitan dalam proses pemakmuran.

Keberhasilan pensejahteraan kehidupan akan dipengaruhi oleh setiap pihak yang seharusnya terlibat dalam suatu pengajaran. Manakala seseorang tidak mau mengikuti pengajaran dan berpaling dari pengajaran itu, akan muncul suatu kesempitan terhadap diri mereka. Acapkali manusia berusaha menghindari kesempitan kehidupan sedangkan jelas mereka telah meninggalkan suatu pengajaran yang seharusnya dilaksanakan, maka upaya mereka untuk mencapai kesejahteraan akan sia-sia karena Allah menentukan kesempitan bagi mereka. Mungkin suatu kesejahteraan akan lebih mudah terwujud apabila mereka menjadi kafir, tetapi itu hanya kesejahteraan ragawi saja. Akhlak mereka akan menjadi buruk hingga tidak dapat mengenal kebenaran yang menjadi sumber kesejahteraan jiwa, dan keadaan mereka secara keseluruhan selain harta benda akan buruk.

Terlaksananya suatu pengajaran akan membuka jalan turunnya pengajaran lain yang akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat secara lebih luas. Seseorang harus menata dirinya, maka mungkin ia akan memperoleh suatu pengajaran untuk menata keluarga. Manakala ia telah menata keluarga, boleh jadi ia akan memperoleh pengajaran untuk menata umat dalam skala yang kecil. Manakala pengajaran umat skala kecil telah ditunaikan, ia mungkin akan memperoleh pengajaran untuk menata umat yang lebih besar. Demikian seterusnya bahwa suatu pengajaran akan membuka kesejahteraan bagi umat manusia secara luas. Pusat dari pengajaran itu bersumber dari pernikahan sebagai setengah bagian dari agama. Landasan pembinaan akhlak mulia berupa sifat rahman dan rahim sebagian besar ditemukan dalam rumah tangga, dan harus ditumbuhkan dalam keluarga. Wujud sifat rahman dan rahim itu kadangkala dituntut hingga setiap orang dapat menyayangi seluruh anggota keluarga ta’addudnya sebagaimana ia menyayangi diri sendiri, dan suami memahami urusan Allah melalui keluarga yang lebih kompleks. Peran keumatan secara lebih luas harus terbangun di atas pertumbuhan sifat rahman dan rahim dalam keluarga.

Minggu, 15 Juni 2025

Beberapa Penghambat Proses Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kesejahteraan umat akan muncul manakala akhlak mulia terbentuk pada umat, yaitu tumbuhnya sifat-sifat mulia berupa sifat rahman dan rahim. Orang-orang yang menumbuhkan sifat mulia termasuk dalam golongan orang-orang yang berharap menemukan shirat al-mustaqim. Banyak masalah kesempitan kehidupan dunia disebabkan karena manusia berpaling dari pengajaran Allah, dan kesempitan karena hal itu akan diangkat Allah dengan melaksanakan pengajaran-pengajaran Allah. Sebaliknya orang-orang beriman akan terpuruk pada kehidupan yang sempit manakala mereka meninggalkan pengajaran-pengajaran Allah. Orang-orang demikian akan mudah terjerumus pada suatu kesesatan, yaitu sekalipun mereka menginginkan kembali kepada Allah tetapi langkah mereka sebenarnya tidak mendekat kepada Allah.

﴾۷﴿صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)

Orang beriman hendaknya benar-benar berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar tidak terjebak pada suatu kesesatan. Suatu keinginan untuk bertaubat saja tidaklah mencukupi bagi hamba Allah untuk menempuh langkah taubat yang benar, tetapi harus disertai dengan sikap berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang menempuh langkah taubat tanpa berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, ia akan sangat mudah tersesat atau disesatkan oleh syaitan. Tidak ada jaminan tertulis sama sekali atas keselamatan perjalanan kembali kepada Allah bagi orang-orang yang menginginkannya, kecuali jaminan bagi orang-orang yang berpegang teguh dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak peringatan bagi manusia dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar mereka tidak tersesat. Jika manusia melupakan peringatan-peringatan itu niscaya mereka tersesat. Hendaknya manusia tidak terlena dengan keinginan baiknya saja, tetapi harus melangkah bertaubat dengan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Hubungan seorang hamba kepada Allah tidaklah dapat dibangun dengan daya upaya sendiri kecuali melalui washilah yang telah diturunkan Allah. Washilah yang paling utama bagi manusia untuk membina hubungan demikian adalah kitabullah Alquran dan Rasulullah SAW. Keduanya adalah titik puncak washilah bagi makhluk untuk terhubung pada Allah dengan benar. Ada banyak washilah lain yang ada sebagai perpanjangan washilah yang dapat terhubung kepada manusia. Ciri perpanjangan washilah tersebut adalah terhubung secara baik kepada kitabullah dan Rasulullah SAW. Manakala suatu washilah tidak terhubung kepada kitabullah Alquran dan Rasulullah SAW, mereka bukanlah washilah yang dapat mengantarkan seseorang untuk terhubung kepada Allah dengan benar. Para washilah yang benar akan sangat membantu seseorang untuk terhubung kepada kitabullah dan Rasulullah SAW. Hendaknya seseorang tidak mengabaikan orang-orang yang dapat menghubungkan diri mereka kepada kitabullah Alquran dan Rasulullah SAW. Dalam banyak hal tertentu, menyelisihi mereka adalah menyelisihi Allah dan Rasulullah SAW.

Di antara orang yang tersesat adalah orang-orang yang merasa terhubung kepada Allah tanpa mengenal atau menghormati secara selayaknya kedudukan Rasulullah SAW dan kitabullah Alquran sebagai penghubung kepada Allah. Merasa terhubung secara langsung kepada Allah tanpa mengenal kedudukan Rasulullah SAW dan kitabullah Alquran merupakan sumber kesesatan. Kadangkala orang-orang demikian merasa menjadi wakil Allah bagi umat manusia sedemikian perbuatan-perbuatan buruk mereka pun dipandang sebagai wujud dari perintah Allah. Misalnya manakala berbuat kekejian, mereka memandang bahwa para sesepuh yang mereka ikuti juga berbuat yang sama dengan perbuatan mereka dan perbuatan keji yang mereka lakukan itu merupakan perintah Allah. Mereka memperoleh perintah dari langit untuk berbuat sesuatu tanpa melakukan pemeriksaan dengan benar siapa yang memberikan perintah itu. Hal itu terjadi karena mereka tidak berpegang erat pada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Seandainya mereka berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, niscaya mereka mengetahui bahwa pendapat mereka tidak benar.

Suatu kesesatan akan mendatangkan madlarat yang besar terhadap umat manusia. Secara kasus, bisa saja orang-orang tersesat itu merasa berbuat kebaikan terhadap umat manusia, tetapi mungkin ada amal-amal yang membuka kerusakan yang besar melalui kesesatan yang terjadi. Mereka memandang indah keadaan diri mereka karena perbuatan baik yang dilakukan tanpa menyadari keburukan yang terjadi karena kesesatan yang tidak tampak, atau hanya tampak secuil. Pada umumnya, kesesatan itu menjadikan akhlak manusia tumbuh tidak selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka kemudian akhlak itu menumbuhkan keburukan yang besar. Kadangkala suatu kesesatan membuka pintu fitnah yang sangat besar sebagai jalan syaitan untuk merusak umat manusia. Banyak kemungkinan munculnya keburukan karena kesesatan yang terjadi di antara manusia.

Pokok kebaikan suatu masyarakat adalah tumbuhnya akhlak mulia pada anggota masyarakat yang muncul karena ingin mengikuti kehendak Allah dan memberikan kebaikan bagi orang lain. Salah satu pokok pertumbuhan akhlak mulia adalah akal dalam memahami kehendak Allah. Tanpa akal yang tumbuh, manusia akan tetap bodoh dan masyarakat akan tetap dalam keadaan yang buruk. Pertumbuhan akhlak manusia dimulai dari keinginan untuk melakukan tazkiyatun nafs agar dapat memahami petunjuk Allah dengan tepat, kemudian mengenal amanah yang ditetapkan Allah untuk dilaksanakan dalam kehidupan di bumi dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Itu adalah tahapan-tahapan perkembangan akhlak pada diri manusia. Kadangkala suatu kaum menilai kebaikan akhlak pada bentuk-bentuk amal yang menyenangkan bagi mereka saja tanpa melihat keselarasan dengan tuntunan Allah. Hal ini tidak menunjukkan secara tepat pada akhlak mulia. Sikap kebaikan manusia kadangkala muncul karena keinginan dipandang baik oleh orang lain maka hal itu tidak menunjukkan akhlak mulia. Hanya sikap kebaikan yang muncul karena ingin mengikuti kehendak Allah dan memberikan kebaikan bagi orang lain yang termasuk akhlak mulia.

Kelurusan Langkah Pemakmuran

Setiap akhlak mulia yang tumbuh akan memberikan kebaikan bagi masyarakat, tetapi ada tuntutan bagi setiap orang untuk menyeru pada al-ma’ruf dan mencegah kemunkaran. Seorang beriman tidak boleh tumbuh sendirian tanpa mencari sahabat untuk tumbuh, setidaknya ia menyeru isteri dan anak-anaknya untuk menumbuhkan akhlak mulia hingga mampu melaksanakan penghambaan sesuai tuntunan Allah. Bila gagal dalam menyeru isteri dan anak-anaknya untuk mengikuti pembinaan akhlak mulia, seseorang tidak akan dapat memberikan kebaikan dirinya kepada masyarakatnya. Sekalipun demikian, kegagalan dalam keluarga itu bukanlah udzur yang boleh menghambat usaha untuk menyeru orang lain menunaikan al-ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Setiap orang harus berusaha sebaik-baiknya untuk melaksanakan amal shalih, adapun berhasil atau gagal bukan tanggung jawab dirinya.

Hasil duniawi yang bisa tumbuh dari seruan itu akan terlihat bila suatu keluarga bisa tumbuh bersama berjuang melaksanakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Hasil usaha demikian dapat diibaratkan perkembangbiakan yang bisa terjadi manakala benih dari laki-laki dan perempuan dapat bersatu bersama. Benih akhlak laki-laki akan cenderung tumbuh pada sisi rahmaniah berupa kekuatan pemahaman akal sedangkan benih akhlak perempuan akan tumbuh lebih dominan pada sisi rahimiah berupa terwujudnya kebaikan aspek-aspek duniawi. Kebaikan dalam wujud duniawi akan diperoleh manakala terjadi penyatuan urusan antara laki-laki dan perempuan. Tanpa penyatuan laki-laki dan perempuan pada urusan yang sama, seorang yang shalih akan kesulitan mewujudkan pemahamannya pada tingkatan duniawi. Sekalipun keduanya berkeinginan menjalankan urusan Allah tetapi pada urusan yang berbeda, tidak akan diperoleh hasil yang memadai dari masing-masing dengan usahanya. Secara duniawi, mungkin terbentuk pemakmuran melalui pihak perempuan tetapi tidak kokoh karena tidak terhubung pada suatu kehendak tertentu Allah.

Para isteri hendaknya dapat mengikuti pemahaman suaminya dalam menunaikan amanah Allah, maka Allah akan memberikan bagian kesejahteraan duniawi bagi mereka. Seorang isteri yang mengharap kesejahteraan dari suaminya hendaknya tidak menuntut suaminya untuk melayani laki-laki lain, tetapi harus berusaha memahami keadaan suaminya dan membantunya untuk melahirkan pemahamannya. Imam bagi mereka akan ditemukan suaminya, sedangkan imam bagi perempuan adalah suaminya. Kadangkala seorang perempuan melihat laki-laki lain dengan kekaguman hingga menganggap remeh suaminya. Hal demikian tidak boleh terjadi, apalagi menjadi alasan untuk memaksa suaminya untuk menjadi pelayan orang yang dikaguminya. Menyimpangnya seorang isteri terhadap suaminya, atau seorang laki-laki dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan bentuk kekejian (al-fakhsyaa). Keduanya sebenarnya mempunyai nilai yang sama sekalipun dalam bentuk yang berbeda. Tidak akan terbentuk kesejahteraan manakala suatu masyarakat terwarnai atau terliputi dengan kekejian. Prinsip-prinsip bermasyarakat akan bergeser dari pondasinya manakala masyarakat membiasakan kekejian di antara mereka, dan prinsip-prinsip tanpa pondasi yang kuat itu tidak akan menghasilkan kesejahteraan yang kokoh.

Melencengnya para laki-laki dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dapat terjadi melalui berbagai cara. Di antara hal yang menyebabkan orang menyimpang adalah tidak berusaha memahami tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW dalam melaksanakan amanah bagi diri mereka.

﴾۹۷۱﴿وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahannam banyak dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS Al-A’raaf : 179)

Ayat di atas bisa menjadi contoh penyebab menyimpangnya (kekejian/al-fakhsya) umat manusia dari pengabdian kepada Allah. Mereka diberi qalb yang mestinya bisa digunakan untuk memahami, mempunyai mata yang mestinya bisa melihat ayat-ayat Allah, dan mempunyai telinga yang mestinya bisa digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, tetapi mereka tidak menggunakannya. Mereka bukan orang-orang yang hanya menginginkan dunia, tetapi tidak menggunakan indera bathiniah mereka untuk memahami ayat Allah. Dalam beberapa kasus, mereka menjadikan persepsi indera bathiniah sebagai puncak kebenaran, melupakan kedudukan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bergesernya arah kebenaran itu bisa menjadi awal menyimpangnya langkah pengabdian kepada Allah. Lurusnya langkah akan dapat dijaga apabila kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dijadikan kebenaran puncak. Sebanyak apapun kebodohan dan kesalahan pemahaman atau sikap umat manusia, sikap-sikap itu bisa diluruskan selama mereka menjadikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai puncak kebenaran. Sebaliknya manakala puncak kebenaran itu digantikan, sepandai apapun umat mereka akan mudah digoyang akalnya dengan bergantinya arah kebenaran.

Kesejahteraan dapat diwujudkan di masyarakat apabila ada orang-orang yang berusaha untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan menerapkan pemahaman itu sesuai dengan keadaan mereka. Kadangkala suatu kaum berusaha untuk memaksakan penerapan suatu tuntunan tanpa mengetahui keadaan diri sendiri dalam tuntunan kitabullah, maka apa yang mereka usahakan tidak mendatangkan hasil yang memadai. Hal demikian sedikit banyak menunjukkan kurangnya kefahaman terhadap tuntunan Allah. Setiap orang harus berusaha memahami kedudukan diri dan masyarakat mereka dalam tuntunan kitabullah secara tepat dan kemudian menempuh jalan yang dapat dilihat dari tuntunan kitabullah tentang keadaan itu, maka mereka akan mendapat pemahaman terhadap tuntunan kitabullah. Seseorang yang sedang dalam kegelapan tidak dapat mendatangkan cahaya kepada dunia mereka. Mereka harus bergerak menuju cahaya maka ia akan dapat mendatangkan cahaya itu kepada dunia. Tanpa suatu pemahaman terhadap keadaan diri menurut kitabullah, seseorang tidak dapat memberikan cahaya kitabullah kepada kaumnya dengan tepat. Pastinya, kemajuan dalam menerapkan tuntunan kitabullah tidak akan terealisasi manakala seseorang tidak menyadari keadaan diri mereka dalam kitabullah. Manakala setiap orang menyadari keadaan diri dan keadaan kaum, mereka dapat bergerak bersama dengan mendatangkan hasil kemajuan masing-masing.

Kesejahteraan bergantung pada akhlak masyarakat, bukan datang dari kekayaan alam. Suatu negeri yang kaya raya tidak menjamin masyarakat hidup sejahtera. Sekian banyak masyarakat di negeri yang kaya raya sumber daya alam terhimpit dengan kesulitan kehidupan. Sebagian besar modal melakukan aktifitas ekonomi ditumpuk pada segelintir orang, dan dari sebagian modal yang beredar di masyarakat dikumpulkan para koruptor untuk keserakahan terhadap kekuasaan. Banyak pekerja tidak dapat bekerja dengan layak karena modal usaha tertahan pada segelintir pihak yang berkepentingan buruk dengan kekuatan modal yang terkumpul pada dirinya. Karena tertahannya modal ekonomi pada segelintir pihak, masyarakat umum relatif sulit memperoleh modal untuk melakukan aktifitas ekonomi. Sebenarnya demikian pula para koruptor kecil mengalami kesulitan yang semakin besar melayani koruptor besar yang ingin mempertahankan kekuasaannya dengan jalan tidak semestinya. Banyak hal buruk dapat terjadi pada suatu negeri yang kaya manakala akhlak mulia tidak tumbuh pada diri mereka. Orang-orang beriman harus berusaha untuk dapat mewujudkan tatanan bermasyarakat yang baik dengan membina akhlak mulia yang tumbuh di atas landasan sifat rahman dan rahim, yaitu pengetahuan terhadap kehendak Allah melalui tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW serta keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain.

Qalb, penglihatan bathin dan pendengaran bathin hendaknya digunakan sebaik-baiknya untuk memahami keadaan sesuai dengan tuntunan kitabullah. Dengan penglihatan, pendengaran dan qalb setiap orang harus melihat keadaan diri dan tuntunan kitabullah secara jujur dan seksama hingga diketahui kedudukan diri dalam kitabullah. Manakala menemukan diri dalam keadaan buruk, hendaknya seseorang berusaha menemukan jalan untuk memperbaiki diri. Manakala menemukan diri dalam keadaan baik, hendaknya seseorang beramal dengan kebaikan yang diketahui ada dalam dirinya. Hal-hal demikian itu akan ditemukan oleh setiap orang dengan menggunakan qalb, penglihatan dan pendengaran bathin secara tepat, tidak melakukan klaim-klaim kebaikan dan kebenaran hanya untuk diri sendiri dan kelompoknya dan tidak membuat tuduhan keburukan hanya untuk orang lain. Manakala telah bisa bersikap jujur tidak terliputi waham, seseorang akan dijadikan mampu mengetahui berita-berita dalam kitabullah Alquran terkait dengan keadaan kauniyah yang terjadi di sekitar diri mereka. Dengan pengetahuan demikian, suatu kaum akan mampu memahami langkah yang harus diperbuat untuk memperbaiki keadaan diri dan masyarakat mereka.

Keberjamaahan akan menjaga lurusnya langkah membentuk akhlak mulia. Mengikuti al-jamaah harus dilakukan dengan memperkuat akal dalam memahami kehendak Allah tidak hanya dengan pikiran hawa nafsu. Pada pokoknya berjamaah tumbuh di atas tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pada cabangnya, berjamaah terlihat pada kebersamaan dengan orang-orang yang melangkah pada tujuan yang sama dalam suatu tatanan menurut urusan Allah. Mungkin akan banyak perselisihan terjadi di antara orang-orang yang berkumpul bersama, maka orang yang mentaati kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah yang berada di atas al-jamaah. Secara kongkrit, berjamaah itu ditunjukkan dengan ketaatan kepada ulil amr, tetapi tidak bersifat mutlak yaitu manakala ulil amri berada pada urusan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala setiap orang berjamaah, akan terwujud kemajuan dalam bermasyarakat. Manakala tidak berjamaah, mungkin tidak terbentuk suatu sinergi pemakmuran hingga mungkin saja langkah orang yang benar akan terjegal oleh perkataan orang lain.