Pencarian

Minggu, 25 Mei 2025

Bersungguh-sungguh Mengikuti Kitabullah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW setiap orang beriman harus mencari tuntunan dari kitabullah Alquran. Kitabullah Alquran merupakan sumber pengetahuan yang paling utama bagi kaum beriman, menjadi sumber yang mengeluarkan pengetahuan-pengetahuan sepanjang masa. Allah menurunkan pengetahuan dari sisi-Nya kepada orang-orang yang dikehendaki. Orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan mendatangkan kebaikan bagi semesta diri mereka, dan Alquran menjadi sumber kebaikan yang dapat mereka wujudkan dengan langkah taubat.

Mencari pengetahuan demikian membutuhkan kesungguhan memperhatikan tuntunan kitabullah. Ada pihak-pihak yang berusaha menyembunyikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait kitabullah sehingga manusia akan teralihkan atau kesulitan memperhatikan tuntunan kitabullah. Mereka tidak akan dapat menyembunyikan ayat-ayat kitabullah yang terang benderang, tetapi mereka akan berusaha menyembunyikan penjelasan-penjelasan yang benar terkait ayat kitabullah, terutama jika penjelasan dan petunjuk itu sesuatu yang diturunkan Allah. Karenanya setiap orang harus bersungguh-sungguh memperhatikan tuntunan ayat-ayat Allah.

﴾۹۵۱﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati (QS Al-Baqarah : 159)

Allah telah menurunkan kitabullah Alquran kepada Rasulullah SAW, dan Allah sebenarnya juga menurunkan penjelasan-penjelasan dan petunjuk-petunjuk terkait dengan ayat-ayat dalam kitabullah Alquran kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah itu terjadi setelah Alquran sempurna diturunkan. Kaum muslimin tidaklah akan kehilangan pemahaman terhadap firman Allah dalam Alquran manakala mereka benar-benar ingin mentaati kehendak Allah karena Allah akan menurunkan penjelasan dan petunjuk tentang ayat-ayat Alquran. Hanya saja kaum muslimin kebanyakan tidak benar-benar mengharapkan penjelasan dan petunjuk Allah, maka mereka tidak memperoleh penjelasan dan petunjuk Allah tentang makna Alquran. Kebanyakan kaum muslimin terkurung dalam waham sendiri atau waham yang dibuat oleh musuh-musuh mereka dari kalangan iblis maupun manusia.

Sifat penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah benar-benar hanya mengikuti kitabullah Alquran. Penjelasan itu bersifat hanya menjelaskan suatu makna dari ayat Allah tanpa ada pemaksaan, pemotongan atau pembelokan makna dari kata-kata dalam Alquran, dan tidak terlepas dari redaksi ayat Alquran yang dijelaskan. Manakala manusia menyimak suatu penjelasan atau petunjuk yang diturunkan Allah, mereka dapat mengetahui bahwa penjelasan itu tidak menyimpang dari makna harfiyah ayat Alquran. Bila seseorang menemukan suatu penjelasan yang dipaksakan atau mengandung arti kata atau kalimat yang dibelokkan atau disimpangkan, penjelasan itu tidak benar-benar merupakan penjelasan atau petunjuk tentang suatu ayat. Kata atau kalimat dalam hal ini adalah kata Alquran dalam bahasa arab, bukan terjemahannya, di mana suatu kata dalam bahasa arab seringkali mempunyai banyak makna dari kata-kata di tingkatan hakikat hingga kata-kata populer. Suatu penjelasan yang menyimpang atau bertentangan dengan kitabullah Alquran tidaklah merupakan penjelasan atau petunjuk yang diturunkan Allah, mungkin hanya dari hawa nafsu atau justru dari syaitan.

Kadangkala suatu kaum menyimpang dalam mengikuti penjelasan suatu ayat. Misalnya pada suatu ayat yang menekankan agar orang beriman menggunakan akal dengan menggunakan indera bathiniah, sebagian orang mungkin menekankan kelebihan mereka dengan indera-indera bathiniah. Hal ini termasuk penyimpangan dalam penjelasan atau pemahaman terhadap makna ayat. Setiap orang hendaknya memperhatikan tuntunan suatu ayat dengan seksama dan kemudian mempelajari perincian-perincian yang terkait dengan ayat tersebut.

Memotong makna dari penjelasan dan petunjuk adalah mengambil sebagian dari penjelasan ayat tanpa mengetahui keselarasan dengan keseluruhan makna suatu ayat. Boleh jadi seseorang hanya menjelaskan sebagian dari penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah, tetapi ia tidak terlepas dari keseluruhan pemahaman terhadap makna suatu ayat kitabullah, maka hal demikian tidak termasuk memotong penjelasan dan petunjuk tersebut. Sebenarnya ia memahami makna ayat tersebut, tetapi perlu menjelaskan kepada orang lain dalam bentuk potongan, maka itu tidak termasuk memotong penjelasan dan petunjuk. Bila seseorang mencomot potongan ayat untuk kepentingan tertentu yang tidak baik, hal itu dapat menunjukkan perbuatan memotong penjelasan dan petunjuk.

Sikap tidak memaksakan penjelasan ayat terletak pada sikap mengikuti kalimat dari suatu ayat dengan memperhatikan rincian-rincian yang terkait dengan ayat-ayat tersebut. Kadangkala suatu kaum mempunyai suatu teori tertentu kemudian mengambil suatu ayat Alquran atau potongannya secara paksa untuk mendukung teori tersebut, maka hal itu merupakan pemaksaan penjelasan terhadap ayat Alquran. Atau kadang suatu kaum membangkitkan teori dari suatu ayat tanpa memperhatikan penekanan keseluruhan kalimat dalam ayat tersebut, maka hal itu termasuk pemaksaan penjelasan suatu ayat. Misalnya tentang hijrah ke tanah yang dijanjikan, sebagian kaum menekankan teori tanah suci secara berlebihan dengan menggunakan potongan ayat tanpa menimbang kedudukan ayat tersebut. Penjelasan tentang tanah suci itu hendaknya tidak dipaksakan hingga seolah menjadi tujuan akhir dari perjalanan manusia, karena sebenarnya uswah bagi setiap orang adalah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Bila seruan hijrah ke tanah suci dilakukan untuk mengikuti millah nabi Ibrahim a.s maka itu penjelasan demikian tidak termasuk memaksakan penjelasan ayat.

Penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah merupakan penjelas bagi ilmu-ilmu yang dapat diperoleh manusia dengan usahanya. Penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah merupakan kehendak Allah. Sebelum memperoleh penjelasan dan petunjuk demikian, seseorang harus mencari pengetahuan dengan pikiran yang benar, yaitu mencari berita yang benar dan melakukan penalaran dengan benar. Pikiran yang benar akan menumbuhkan akal manakala dibimbing dengan tuntunan kitabullah Alquran. Cahaya dari kitabullah Alquran akan terlihat kuat manakala dijelaskan oleh seseorang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk Allah. Sangat penting bagi setiap orang untuk mencari pengetahuan-pengetahuan kauniyah untuk membina penalaran yang benar sebagai landasan akal. Lebih dari itu, sangat penting untuk mencari pengetahuan dari kitabullah dan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah yang akan menjadi bahan pembangun akalnya. Dengan kedua ilmu demikian, seseorang dapat memahami kehendak Allah dengan sebaik-baiknya, dan dapat menunaikan amanah sebagai pemakmur bumi.

Ada pihak-pihak yang berpendapat bahwa pengetahuan kauniyah tidak penting, dan setiap orang hanya membutuhkan pengetahuan agama. Hal ini sama sekali tidak benar. Pengetahuan agama mencakup pengetahuan tentang tuntunan syariat dan pengetahuan untuk memberikan manfaat kepada kehidupan hingga alam dunia. Seseorang tidaklah bisa membangun pikiran tanpa pengetahuan kauniyah dan tidak dapat membangun akal tanpa pengetahuan tuntunan agama. Setiap orang harus bisa memberikan manfaat pada kehidupan dunia dengan pengetahuan kauniyah. Setiap orang harus mempunyai pengetahuan tuntunan agama dan pengetahuan kauniyah untuk melaksanakan agamanya. Sebagian muslimin mengikuti langkah Dzulkhuwaisirah dalam melaksanakan ibadah, memandang ibadah hanya berupa ritual-ritual tanpa mengetahui makna agama yang harus ditunaikan dalam kehidupan dunia, sedangkan ritual yang mereka jadikan agama itu berbentuk sama dengan syariat yang dicontohkan nabi Muhammad SAW.

Memahami Penjelasan dan Petunjuk

Penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat kitabullah akan menyatukan pengetahuan kauniyah dan pengetahuan ayat kitabullah pada diri seseorang. Penjelas dan petunjuk demikian itulah yang akan mengantarkan umat manusia untuk dapat memakmurkan bumi seutuhnya, baik untuk jiwa-jiwa manusia ataupun bentuk-bentuk ragawi kemakmuran. Petunjuk demikian itu lebih tinggi kedudukannya dibandingkan petunjuk-petunjuk lain yang tidak terkait dengan ayat kitabullah, karena merupakan pengetahuan yang berasal dari hadirat Allah. Petunjuk lain berasal dari kedudukan yang lebih rendah dari petunjuk tentang ayat kitabullah yang mungkin benar ataupun mungkin pula sesat.

Dampak yang besar akan muncul dari pengabaian penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat kitabullah, setimbang dengan tingginya derajat dan kedudukan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah. Orang-orang yang menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat kitabullah akan mendapat laknat Allah dan laknat dari makhluk-makhluk yang dapat melaknat. Perbuatan demikian ini mendatangkan madlarat yang sangat besar dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang bodoh, sesat atau jahat. Pada dasarnya seseorang yang mempunyai kebaikan akan dapat merasakan kebaikan-kebaikan dalam penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah yang disampaikan kepada mereka. Manakala akal masih lemah, akan timbul pertanyaan-pertanyaan dalam diri mereka tentang kebenaran dari penjelasan dan petunjuk yang disampaikan, tetapi tidak akan mempunyai gagasan untuk menyembunyikan penjelasan dan petunjuk itu. Hanya orang-orang yang bodoh, sesat atau jahat yang berusaha menyembunyikan penjelasan dan petunjuk demikian, karena itu mereka akan mendapatkan laknat Allah karena keadaan mereka.

Kebodohan pada manusia terjadi karena kebiasaan tidak menggunakan pikiran dan akal. Pikiran berbentuk kemampuan untuk melakukan penalaran yang benar dan memilih berita yang benar. Akal merupakan kecerdasan dalam memahami ayat-ayat Allah secara tepat. Orang yang tidak terbiasa menggunakan pikiran dan akal akan kesulitan merasakan kebaikan dan kebenaran yang terdapat pada firman Allah Alquran, atau yang terdapat pada penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat kitabullah. Bentuk-bentuk kebenaran yang mereka ikuti seringkali merupakan perkataan-perkataan yang disampaikan orang lain sebagai kebenaran tanpa mengetahui nilai dari perkataan itu. Keadaan demikian termasuk sebagai kebodohan, dan kebodohan demikian seringkali menjadikan orang bertindak menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait dengan ayat Alquran.

Setiap orang beriman harus berusaha menggunakan pikiran dan akal dengan sebaik-baiknya dengan berusaha mengenali kebenaran dan merasakan nilai-nilai kebenaran yang disampaikan. Kebenaran yang telah dikenali tanpa suatu keburukan di dalamnya hendaknya diikuti dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya karena akan menambahkan pengenalan mereka terhadap kebenaran. Suatu kebenaran yang masih terlihat samar bagi mereka hendaknya dipikirkan dengan seksama dan dilihat tuntunannya dari kitabullah karena akan memperkuat akal. Segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hendaknya tidak diikuti. Bila orang-orang beriman tidak menggunakan pikiran dan akalnya dengan cara demikian, mereka akan terjebak melangkah pada kebodohan dan kesesatan, hingga mungkin saja mereka termasuk sebagi orang-orang yang dilaknat Allah dan dilaknat oleh makhluk-makhluk yang melaknat.

Usaha ini kadangkala tidak mudah dilakukan. Lawan berat yang harus dikalahkan oleh orang-orang beriman dalam menggunakan pikiran dan akal adalah waham yang terbina dalam diri mereka sendiri. Waham merupakan bagian pengetahuan yang terbina pada hawa nafsu. Kadangkala seseorang atau suatu kaum mempunyai waham telah mengikuti kehendak Allah sedangkan kehendak Allah yang mereka kenali tidak mempunyai landasan yang kokoh dari kitabullah. Manakala suatu penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait suatu ayat kitabullah disampaikan kepada mereka, mereka harus merombak kembali persepsi mereka tentang kehendak Allah. Perjuangan demikian merupakan perjuangan yang sangat besar karena merupakan bagian dari perjuangan melawan kepandaian hawa nafsu sendiri sebagai jihad akbar.

Orang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat dalam kitabullah merupakan misykat cahaya yang telah terbentuk sebagai mitsal bagi cahaya Allah. Mereka merupakan makhluk yang paling mampu menjelaskan tentang kehendak Allah daripada makhluk lainnya. Dalam proses pembinaan pikiran dan akal, hendaknya penjelasan-penjelasan mereka diperhatikan dengan sebaik-baiknya tanpa melepaskan penjelasan mereka dari tuntunan kitabullah. Bagaimanapun kitabullah merupakan firman Allah yang menjadi sumber cahaya bagi misykat cahaya, dan mungkin ada kelemahan manusiawi pada diri seorang misykat cahaya. Hanya saja seseorang hendaknya tidak lebih mempercayai dirinya sendiri dalam memahami kehendak Allah daripada penjelasan dari seorang misykat cahaya, kecuali manakala tentang redaksi kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya manakala terbentuk suatu pemahaman yang tumbuh dalam proses taubat seseorang, pemahaman itu belum tentu benar, dan seorang misykat cahaya lebih mengetahui kekeliruan yang mungkin ada dalam pemahaman tersebut. Seseorang boleh meninggalkan pendapat seorang misykat cahaya manakala pendapat itu bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau pendapat tersebut sedang tidak terkait dengan tuntunan Allah. Pada misykat cahaya pemula atau lemah, ada kemungkinan ia tidak sepenuhnya dalam dzikir kepada Allah pada beberapa bagian waktu.

Sangat penting bagi setiap orang beriman untuk memperhatikan pembacaan kitabullah dan merasakan nilai kebenaran pada pembacaan itu. Ada bermacam jenis bacaan kitabullah. Ada pembacaan yang dilakukan dengan tujuan tidak baik, ada yang bersifat menambah pengetahuan dan paling tinggi derajatnya adalah pembacaan kitabullah yang merupakan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah, maka pembacaan demikian akan sangat membantu dalam menemukan tujuan kehidupan. Setiap pembacaan kitabullah bernilai baik bila dibacakan dan didengarkan dengan iktikad yang baik. Bila ada orang-orang yang berusaha menyembunyikan pembacaan dari penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah hingga kaum mereka mengalami kesulitan mengetahui atau tidak dapat mengetahui penjelasan itu, Allah akan melaknat mereka. Allah Maha Mengetahui keadaan mereka hingga Dia melaknatnya. Kelak makhluk-makhluk yang lain juga akan mengetahui akibat buruk perbuatan yang dilakukannya, maka mereka akan melaknat pula orang yang melakukannya.

Menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang suatu ayat kitabullah Alquran akan mendatangkan laknat Allah. Seorang misykat cahaya yang berbicara bukan tentang ayat kitabullah mungkin tidak mendatangkan laknat, tetapi manakala ia berbicara tentang kitabullah dan disembunyikan oleh manusia maka manusia itu akan mendapat laknat Allah. Laknat itu lebih melekat pada urusan penjelasan dan petunjuk tentang ayat kitabullah yang disembunyikan, bukan terjadi karena sikap terhadap seseorang. Orang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk itu barangkali tidak merasa kecewa karena tidak memperoleh tanggapan yang layak, tetapi merasa kecewa karena tuntunan kitabullah tidak diperhatikan. Mereka mengetahui bahwa mendustakan dan menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah kepada mereka tentang kitabullah akan mendatangkan efek yang berat berupa laknat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar