Pencarian

Kamis, 29 Mei 2025

Bayyinah dan Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW setiap orang beriman harus mencari tuntunan dari kitabullah Alquran. Allah telah menurunkan kitabullah Alquran kepada Rasulullah SAW, dan Allah sebenarnya juga menurunkan penjelasan-penjelasan dan petunjuk-petunjuk terkait dengan ayat-ayat dalam kitabullah Alquran kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Dengan berpegang pada tuntunan kitabullah, kaum muslimin akan memperoleh jalan untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW.

﴾۹۵۱﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati (QS Al-Baqarah : 159)

Penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah itu sangat bermanfaat untuk mewujudkan pemakmuran di bumi. Penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah berasal dari hakikat-hakikat di sisi Allah, dan hakikat-hakikat itu banyak terhubung dengan fenomena kauniyah yang terjadi di alam dunia, tidak hanya suatu kisah tentang keadaan di alam yang tinggi. Bagian-bagian Alquran yang terhubung dengan fenomena kauniyah di alam dunia merupakan bagian yang diperuntuhkkan utamanya bagi manusia untuk dijadikan jalan untuk melakukan pemakmuran dunia.

Setiap orang hendaknya memperhatikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah untuk melakukan pemakmuran bumi, karena firman Allah-lah yang menjadi sumber pemakmuran. Perintah-perintah Allah tidaklah semata-mata berbentuk ketentuan-ketentuan dasar syariat, tetapi ada yang berbentuk amal-amal duniawi terkait dengan keadaan kauniyah. Manakala seseorang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang ayat kitabullah, ia dapat beramal mengikuti penjelasan dan petunjuk itu dan apa yang dilaksanakan darinya merupakan amal-amal yang diperintahkan Allah. Apa-apa yang perlu dilaksanakan untuk mewujudkan penjelasan-penjelasan yang diturunkan Allah hendaknya dilaksanakan, dan apa-apa yang akan merusak penjelasan-penjelasan dan petunjuk itu hendaknya dihindari. Amal-amal demikian akan mendatangkan pemakmuran di bumi.

Penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang ayat kitabullah merupakan bentuk petunjuk tertinggi yang dapat diperoleh makhluk Allah. Tidak ada bentuk petunjuk yang lebih baik daripada penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang ayat kitabullah. Ayat kitabullah Alquran itu sendiri merupakan bentuk petunjuk yang tertinggi, maka penjelasan serta petunjuk yang diturunkan Allah terkait suatu ayat Alquran akan membukakan bagi seseorang kandungan dari petunjuk tertinggi itu sehingga seseorang memperoleh penjelasan dan petunjuk yang paling baik. Mungkin terdapat perbedaan derajat di antara penjelasan dan petunjuk demikian yang diberikan kepada setiap makhluk yang menerima, tetapi setiap keterbukaan penjelasan dan petunjuk demikian itu termasuk pada kelompok petunjuk yang paling tinggi.

Mengikuti penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah merupakan petunjuk yang lebih terang daripada mengikuti seseorang yang beramal semata berdasar ayat kitabullah. Tidak jarang seseorang yang beramal berdasar ayat kitabullah sebenarnya tidak terlalu memahami ayat kitabullah yang diamalkannya. Hal ini bukan sesuatu yang buruk, bahkan hal yang baik, tetapi ada perbedaan derajat pemahaman pada orang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah. Mereka adalah orang-orang yang memahami tuntunan kitabullah untuk semesta kauniyah mereka, maka mereka melakukan amal-amal yang merupakan perintah Allah, maka ada perbedaan derajat yang sangat banyak antara seseorang yang sekadar beramal dengan kitabullah dengan orang yang beramal berdasarkan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang kitabullah. Tidak ada orang dengan derajat demikian beramal dengan amal yang bertentangan dengan kitabullah. Adapun amal yang bertentangan dengan kitabullah tidak dapat dikatakan sebagai amal mengikuti tuntunan Allah.

Kadangkala dijumpai orang-orang yang mengikuti petunjuk yang tampak tidak terkait langsung dengan tuntunan kitabullah. Derajat nilai petunjuk demikian harus diukur berdasarkan tuntunan kitabullah. Meninggalkan langkah mengukur ini kadang bisa menjadi sangat berbahaya. Setiap petunjuk yang ditampakkan kepada manusia hendaknya diperiksa dengan tuntunan kitabullah. Mungkin saja suatu petunjuk merupakan bagian dari ayat kitabullah tertentu yang harus diikuti, maka kewajiban mengikuti petunjuk itu berlaku manakala seseorang mengetahui tuntunan kitabullah untuk urusan itu. Seseorang tidak harus mengikuti suatu penglihatan atau pendengaran manakala belum memahami apa yang dicerap inderanya. Atau boleh jadi ada petunjuk dari alam-alam yang tampak tinggi tetapi bukan merupakan kebenaran, maka mengikuti petunjuk demikian akan menjadikan manusia tersesat dari jalan Allah. Ada banyak potensi masalah yang dapat terjadi jika seseorang meninggalkan tuntunan kitabullah.

Kesengsaraan dapat muncul karena orang-orang yang beramal dengan berdasar petunjuk tanpa memeriksa kedudukan petunjuknya dalam tuntunan kitabullah. Bisa saja petunjuk demikian berbenturan dengan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang kitabullah, maka petunjuk yang diturunkan Allah kemudian menjadi terhambat. Kadangkala suatu penglihatan atau pendengaran menjadikan seseorang bertindak melawan petunjuk Allah maka ia kemudian berbuat kerusakan terhadap keadaan mereka. Suatu kesengsaraan bisa mengikuti orang-orang yang tidak berpegang pada tuntunan kitabullah. Hal demikian itu akan mendatangkan laknat Allah. Orang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang kitabullah hanya melaksanakan amal shalih mereka mengikuti tuntunan kitabullah dengan suatu pemahaman terhadap kauniyah mereka, maka mereka akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Mungkin ada bagian amal yang bukan merupakan amal shalih tetapi mereka mengetahui bahwa mereka beramal dengan keinginan mereka sendiri, tidak mengatakan amal yang mereka laksanakan semata karena Allah.

Mewujudkan Bayyinah untuk Pemakmuran

Untuk mewujudkan pemakmuran bumi, hendaknya setiap orang berusaha untuk mengikuti penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang suatu ayat kitabullah manakala menjumpainya. Pemakmuran di bumi akan terwujud mengikuti langkah berdasar tuntunan kitabullah. Tanpa mengikuti kitabullah, akan sulit terwujud kemakmuran yang sebenarnya. Suatu masalah seringkali timbul karena suatu kaum tidak mengikuti penjelasan kitabullah atau justru menghambatnya. Manakala terjadi masalah, kaum demikian seringkali kemudian menebak masalah mereka berdasarkan prasangka atau rekaan-rekaan pikiran tanpa melihat akar masalah menurut kitabullah. Rekaan pikiran demikian bisa saja justru menjadi jerat prasangka atas mereka dalam mengenali kehendak Allah tetapi dipandang sebagai kehendak Allah, sedangkan prasangka itu tidak menolong mereka untuk mengenali jalan yang dikehendaki Allah. Kaum demikian dapat berjalan berputar-putar dalam waham sendiri yang dipandang baik tanpa kemampuan mengenali masalah yang sebenarnya terjadi dan tidak mengetahui jalan yang disediakan Allah bagi masalah tersebut. Orang beriman hendaknya tidak terus-menerus hanya mengikuti prasangka dengan mencari pengetahuan tentang keadaan mereka dari kitabullah. Bila mereka mau membaca tuntunan kitabullah yang disampaikan, mereka akan melihat secercah jalan untuk mengenal kehendak Allah. Bila terus mengikuti tuntunan kitabullah secara jujur, mereka akan mengenali kehendak Allah dengan utuh.

Tidak ada keburukan pada langkah orang-orang yang berusaha mengikuti tuntunan kitabullah. Kadangkala seseorang berbuat salah meskipun mengikuti kitabullah, dan sebaliknya dapat berbuat benar tanpa mengetahui landasan dari kitabullah. Salah ataupun benar suatu langkah yang diambil, bila seseorang berusaha untuk mengikuti tuntunan kitabullah ia akan mempunyai hujjah atas kesalahan atau kebenaran yang dilakukannya, dan tanggungannya hanya berupa hawa nafsunya. Bila langkah yang benar dilakukan tanpa landasan pengetahuan kitabullah, kebenaran yang dilakukan itu mungkin hanya berbobot ringan di sisi Allah. Tanggung jawab manusia atas suatu perbuatan tidak hanya ditimbang berdasar benar dan salahnya. Manakala seseorang menentukan sesuatu perbuatan yang harus dilakukan dengan meninggalkan tuntunan kitabullah yang disampaikan, perbuatannya itu akan menjadi pertanyaan yang berat di sisi Allah.

Untuk mengikuti kitabullah, perkataan orang yang mengenal penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang suatu ayat kitabullah akan sangat membantu suatu kaum untuk memahami kandungan kitabullah. Secara khusus penjelasan dan petunjuk itu terutama yang terkait kitabullah, bukan petunjuk dalam bentuk bebas. Penjelasan dan petunjuk yang terkait kitabullah itu kemungkinan besar diturunkan Allah dari sisi-Nya, tidak diturunkan hanya dari suatu alam langit yang derajat kebenarannya belum dapat ditentukan. Boleh jadi orang yang menerima penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang ayat kitabullah demikian tidak benar-benar mengetahui keadaan bumi kecuali sekadar yang diberitakan kepadanya, tetapi penjelasan dan petunjuk itu bisa dijadikan visi pedoman arah bagi setiap orang untuk mengarahkan langkah bersama karena berita itu ada dalam kitabullah dari sisi Allah. Apa yang merusak langkah menuju pedoman itu merupakan kesesatan.

Penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang kitabullah kepada seorang hamba membawa amanah yang harus ditunaikan. Hal itu harus ditunaikan. Tetapi kadangkala seseorang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang suatu ayat kitabullah tidak serta merta harus bertugas setelah turunnya penjelasan dan petunjuk itu. Misalnya bila seseorang diberi amanah sebagai pemimpin negara, mungkin saja ia akan diperintahkan melaksanakan amanahnya hanya setelah mi’rajnya atau terpenuhi kondisi-kondisi lainnya. Ia mungkin mengetahui hak dan kewajibannya sebagai pemimpin negara, tetapi hak dan kewajiban itu belum melekat kepada dirinya. Kemampuan untuk melaksanakan tugas itu mungkin juga tidak diberikan. Tetapi bukan berarti ia boleh menganggur selama masa tunggunya menjalankan amanah. Ia harus beramal shalih dengan berdasarkan penjelasan dan petunjuk yang diberikan kepadanya, tanpa perlu bersikap mengharap datangnya kedudukan atau amanahnya. Demikian pula masyarakat hendaknya tidak mengabaikan perkataannya dalam urusan penjelasan dan petunjuk. Keilmuannya tentang bernegara harus diserukan kepada orang lain agar terbentuk baldatun thayibah wa rabbun ghafur sebagaimana yang dikehendaki Allah. Ia hendaknya melakukan amal shalih tanpa bertujuan mencapai kedudukan sebagai kepala negara dengan usahanya, tetapi bertujuan agar manusia dapat memahami kehendak Allah dalam urusan bernegara, sedangkan ia tidak perlu mengingat kedudukan yang dijanjikan baginya cukup beramal untuk kebaikan bagi semua.

Usaha menyeru manusia untuk melaksanakan urusan Allah hanya dapat dilakukan dengan baik secara berjamaah, karena setiap manusia hanya merupakan pelaksana suatu bagian dari urusan Allah yang sangat besar. Titik tumbuh keberjamaahan itu terletak pada pernikahan. Manakala seseorang tidak membentuk keluarganya untuk memahami dan melaksanakan kehendak Allah, ia tidak akan dapat terhubung dengan umatnya dalam urusan Allah. Kadangkala syaitan merusak keluarga untuk memutuskan hubungan keberjamaahan seseorang. Hal ini akan memutuskan seorang laki-laki shalih untuk terhubung kepada umatnya. Walaupun mungkin ia tetap dapat terhubung dengan para washilahnya hingga kepada Rasulullah SAW, ia tidak dapat terhubung dengan umatnya. Dampak dari terputusnya hubungan keberjamaahan pada titik tumbuh ini sangat besar terhadap keadaan masyarakat. Masyarakat akan mengalami kerugian yang sangat besar manakala titik kritis ini rusak. Dampak buruk ini tetap menimpa walaupun manakala seseorang belum mendapatkan mandat untuk melaksanakan amanah. Bagi orangnya, ia mungkin kehilangan salah satu kesempatan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Manakala suatu penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat Allah dipatuhi oleh hanya segelintir manusia, pemakmuran yang akan terjadi hanya sedikit atau kadang-kadang hanya berada pada tataran wacana pemakmuran tanpa ada realisasi pemakmuran. Masyarakat luas sebenarnya akan terjebak pada masalah kemasyarakatan tanpa suatu pengetahuan tentang langkah yang baik untuk mentas dari masalah mereka. Hal ini merupakan suatu ketentuan manakala suatu kebenaran diabaikan maka masalah akan muncul menjerat manusia. Hal ini merupakan bayangan dari ketentuan manakala suatu penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat kitabullah disembunyikan maka laknat Allah akan menimpa orang-orang yang menyembunyikannya. Pemakmuran akan terjadi manakala umat manusia mengikuti penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait dengan ayat kitabullah.







Minggu, 25 Mei 2025

Bersungguh-sungguh Mengikuti Kitabullah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW setiap orang beriman harus mencari tuntunan dari kitabullah Alquran. Kitabullah Alquran merupakan sumber pengetahuan yang paling utama bagi kaum beriman, menjadi sumber yang mengeluarkan pengetahuan-pengetahuan sepanjang masa. Allah menurunkan pengetahuan dari sisi-Nya kepada orang-orang yang dikehendaki. Orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan mendatangkan kebaikan bagi semesta diri mereka, dan Alquran menjadi sumber kebaikan yang dapat mereka wujudkan dengan langkah taubat.

Mencari pengetahuan demikian membutuhkan kesungguhan memperhatikan tuntunan kitabullah. Ada pihak-pihak yang berusaha menyembunyikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait kitabullah sehingga manusia akan teralihkan atau kesulitan memperhatikan tuntunan kitabullah. Mereka tidak akan dapat menyembunyikan ayat-ayat kitabullah yang terang benderang, tetapi mereka akan berusaha menyembunyikan penjelasan-penjelasan yang benar terkait ayat kitabullah, terutama jika penjelasan dan petunjuk itu sesuatu yang diturunkan Allah. Karenanya setiap orang harus bersungguh-sungguh memperhatikan tuntunan ayat-ayat Allah.

﴾۹۵۱﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati (QS Al-Baqarah : 159)

Allah telah menurunkan kitabullah Alquran kepada Rasulullah SAW, dan Allah sebenarnya juga menurunkan penjelasan-penjelasan dan petunjuk-petunjuk terkait dengan ayat-ayat dalam kitabullah Alquran kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah itu terjadi setelah Alquran sempurna diturunkan. Kaum muslimin tidaklah akan kehilangan pemahaman terhadap firman Allah dalam Alquran manakala mereka benar-benar ingin mentaati kehendak Allah karena Allah akan menurunkan penjelasan dan petunjuk tentang ayat-ayat Alquran. Hanya saja kaum muslimin kebanyakan tidak benar-benar mengharapkan penjelasan dan petunjuk Allah, maka mereka tidak memperoleh penjelasan dan petunjuk Allah tentang makna Alquran. Kebanyakan kaum muslimin terkurung dalam waham sendiri atau waham yang dibuat oleh musuh-musuh mereka dari kalangan iblis maupun manusia.

Sifat penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah benar-benar hanya mengikuti kitabullah Alquran. Penjelasan itu bersifat hanya menjelaskan suatu makna dari ayat Allah tanpa ada pemaksaan, pemotongan atau pembelokan makna dari kata-kata dalam Alquran, dan tidak terlepas dari redaksi ayat Alquran yang dijelaskan. Manakala manusia menyimak suatu penjelasan atau petunjuk yang diturunkan Allah, mereka dapat mengetahui bahwa penjelasan itu tidak menyimpang dari makna harfiyah ayat Alquran. Bila seseorang menemukan suatu penjelasan yang dipaksakan atau mengandung arti kata atau kalimat yang dibelokkan atau disimpangkan, penjelasan itu tidak benar-benar merupakan penjelasan atau petunjuk tentang suatu ayat. Kata atau kalimat dalam hal ini adalah kata Alquran dalam bahasa arab, bukan terjemahannya, di mana suatu kata dalam bahasa arab seringkali mempunyai banyak makna dari kata-kata di tingkatan hakikat hingga kata-kata populer. Suatu penjelasan yang menyimpang atau bertentangan dengan kitabullah Alquran tidaklah merupakan penjelasan atau petunjuk yang diturunkan Allah, mungkin hanya dari hawa nafsu atau justru dari syaitan.

Kadangkala suatu kaum menyimpang dalam mengikuti penjelasan suatu ayat. Misalnya pada suatu ayat yang menekankan agar orang beriman menggunakan akal dengan menggunakan indera bathiniah, sebagian orang mungkin menekankan kelebihan mereka dengan indera-indera bathiniah. Hal ini termasuk penyimpangan dalam penjelasan atau pemahaman terhadap makna ayat. Setiap orang hendaknya memperhatikan tuntunan suatu ayat dengan seksama dan kemudian mempelajari perincian-perincian yang terkait dengan ayat tersebut.

Memotong makna dari penjelasan dan petunjuk adalah mengambil sebagian dari penjelasan ayat tanpa mengetahui keselarasan dengan keseluruhan makna suatu ayat. Boleh jadi seseorang hanya menjelaskan sebagian dari penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah, tetapi ia tidak terlepas dari keseluruhan pemahaman terhadap makna suatu ayat kitabullah, maka hal demikian tidak termasuk memotong penjelasan dan petunjuk tersebut. Sebenarnya ia memahami makna ayat tersebut, tetapi perlu menjelaskan kepada orang lain dalam bentuk potongan, maka itu tidak termasuk memotong penjelasan dan petunjuk. Bila seseorang mencomot potongan ayat untuk kepentingan tertentu yang tidak baik, hal itu dapat menunjukkan perbuatan memotong penjelasan dan petunjuk.

Sikap tidak memaksakan penjelasan ayat terletak pada sikap mengikuti kalimat dari suatu ayat dengan memperhatikan rincian-rincian yang terkait dengan ayat-ayat tersebut. Kadangkala suatu kaum mempunyai suatu teori tertentu kemudian mengambil suatu ayat Alquran atau potongannya secara paksa untuk mendukung teori tersebut, maka hal itu merupakan pemaksaan penjelasan terhadap ayat Alquran. Atau kadang suatu kaum membangkitkan teori dari suatu ayat tanpa memperhatikan penekanan keseluruhan kalimat dalam ayat tersebut, maka hal itu termasuk pemaksaan penjelasan suatu ayat. Misalnya tentang hijrah ke tanah yang dijanjikan, sebagian kaum menekankan teori tanah suci secara berlebihan dengan menggunakan potongan ayat tanpa menimbang kedudukan ayat tersebut. Penjelasan tentang tanah suci itu hendaknya tidak dipaksakan hingga seolah menjadi tujuan akhir dari perjalanan manusia, karena sebenarnya uswah bagi setiap orang adalah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Bila seruan hijrah ke tanah suci dilakukan untuk mengikuti millah nabi Ibrahim a.s maka itu penjelasan demikian tidak termasuk memaksakan penjelasan ayat.

Penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah merupakan penjelas bagi ilmu-ilmu yang dapat diperoleh manusia dengan usahanya. Penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah merupakan kehendak Allah. Sebelum memperoleh penjelasan dan petunjuk demikian, seseorang harus mencari pengetahuan dengan pikiran yang benar, yaitu mencari berita yang benar dan melakukan penalaran dengan benar. Pikiran yang benar akan menumbuhkan akal manakala dibimbing dengan tuntunan kitabullah Alquran. Cahaya dari kitabullah Alquran akan terlihat kuat manakala dijelaskan oleh seseorang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk Allah. Sangat penting bagi setiap orang untuk mencari pengetahuan-pengetahuan kauniyah untuk membina penalaran yang benar sebagai landasan akal. Lebih dari itu, sangat penting untuk mencari pengetahuan dari kitabullah dan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah yang akan menjadi bahan pembangun akalnya. Dengan kedua ilmu demikian, seseorang dapat memahami kehendak Allah dengan sebaik-baiknya, dan dapat menunaikan amanah sebagai pemakmur bumi.

Ada pihak-pihak yang berpendapat bahwa pengetahuan kauniyah tidak penting, dan setiap orang hanya membutuhkan pengetahuan agama. Hal ini sama sekali tidak benar. Pengetahuan agama mencakup pengetahuan tentang tuntunan syariat dan pengetahuan untuk memberikan manfaat kepada kehidupan hingga alam dunia. Seseorang tidaklah bisa membangun pikiran tanpa pengetahuan kauniyah dan tidak dapat membangun akal tanpa pengetahuan tuntunan agama. Setiap orang harus bisa memberikan manfaat pada kehidupan dunia dengan pengetahuan kauniyah. Setiap orang harus mempunyai pengetahuan tuntunan agama dan pengetahuan kauniyah untuk melaksanakan agamanya. Sebagian muslimin mengikuti langkah Dzulkhuwaisirah dalam melaksanakan ibadah, memandang ibadah hanya berupa ritual-ritual tanpa mengetahui makna agama yang harus ditunaikan dalam kehidupan dunia, sedangkan ritual yang mereka jadikan agama itu berbentuk sama dengan syariat yang dicontohkan nabi Muhammad SAW.

Memahami Penjelasan dan Petunjuk

Penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat kitabullah akan menyatukan pengetahuan kauniyah dan pengetahuan ayat kitabullah pada diri seseorang. Penjelas dan petunjuk demikian itulah yang akan mengantarkan umat manusia untuk dapat memakmurkan bumi seutuhnya, baik untuk jiwa-jiwa manusia ataupun bentuk-bentuk ragawi kemakmuran. Petunjuk demikian itu lebih tinggi kedudukannya dibandingkan petunjuk-petunjuk lain yang tidak terkait dengan ayat kitabullah, karena merupakan pengetahuan yang berasal dari hadirat Allah. Petunjuk lain berasal dari kedudukan yang lebih rendah dari petunjuk tentang ayat kitabullah yang mungkin benar ataupun mungkin pula sesat.

Dampak yang besar akan muncul dari pengabaian penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat kitabullah, setimbang dengan tingginya derajat dan kedudukan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah. Orang-orang yang menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat kitabullah akan mendapat laknat Allah dan laknat dari makhluk-makhluk yang dapat melaknat. Perbuatan demikian ini mendatangkan madlarat yang sangat besar dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang bodoh, sesat atau jahat. Pada dasarnya seseorang yang mempunyai kebaikan akan dapat merasakan kebaikan-kebaikan dalam penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah yang disampaikan kepada mereka. Manakala akal masih lemah, akan timbul pertanyaan-pertanyaan dalam diri mereka tentang kebenaran dari penjelasan dan petunjuk yang disampaikan, tetapi tidak akan mempunyai gagasan untuk menyembunyikan penjelasan dan petunjuk itu. Hanya orang-orang yang bodoh, sesat atau jahat yang berusaha menyembunyikan penjelasan dan petunjuk demikian, karena itu mereka akan mendapatkan laknat Allah karena keadaan mereka.

Kebodohan pada manusia terjadi karena kebiasaan tidak menggunakan pikiran dan akal. Pikiran berbentuk kemampuan untuk melakukan penalaran yang benar dan memilih berita yang benar. Akal merupakan kecerdasan dalam memahami ayat-ayat Allah secara tepat. Orang yang tidak terbiasa menggunakan pikiran dan akal akan kesulitan merasakan kebaikan dan kebenaran yang terdapat pada firman Allah Alquran, atau yang terdapat pada penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat kitabullah. Bentuk-bentuk kebenaran yang mereka ikuti seringkali merupakan perkataan-perkataan yang disampaikan orang lain sebagai kebenaran tanpa mengetahui nilai dari perkataan itu. Keadaan demikian termasuk sebagai kebodohan, dan kebodohan demikian seringkali menjadikan orang bertindak menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait dengan ayat Alquran.

Setiap orang beriman harus berusaha menggunakan pikiran dan akal dengan sebaik-baiknya dengan berusaha mengenali kebenaran dan merasakan nilai-nilai kebenaran yang disampaikan. Kebenaran yang telah dikenali tanpa suatu keburukan di dalamnya hendaknya diikuti dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya karena akan menambahkan pengenalan mereka terhadap kebenaran. Suatu kebenaran yang masih terlihat samar bagi mereka hendaknya dipikirkan dengan seksama dan dilihat tuntunannya dari kitabullah karena akan memperkuat akal. Segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hendaknya tidak diikuti. Bila orang-orang beriman tidak menggunakan pikiran dan akalnya dengan cara demikian, mereka akan terjebak melangkah pada kebodohan dan kesesatan, hingga mungkin saja mereka termasuk sebagi orang-orang yang dilaknat Allah dan dilaknat oleh makhluk-makhluk yang melaknat.

Usaha ini kadangkala tidak mudah dilakukan. Lawan berat yang harus dikalahkan oleh orang-orang beriman dalam menggunakan pikiran dan akal adalah waham yang terbina dalam diri mereka sendiri. Waham merupakan bagian pengetahuan yang terbina pada hawa nafsu. Kadangkala seseorang atau suatu kaum mempunyai waham telah mengikuti kehendak Allah sedangkan kehendak Allah yang mereka kenali tidak mempunyai landasan yang kokoh dari kitabullah. Manakala suatu penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait suatu ayat kitabullah disampaikan kepada mereka, mereka harus merombak kembali persepsi mereka tentang kehendak Allah. Perjuangan demikian merupakan perjuangan yang sangat besar karena merupakan bagian dari perjuangan melawan kepandaian hawa nafsu sendiri sebagai jihad akbar.

Orang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat dalam kitabullah merupakan misykat cahaya yang telah terbentuk sebagai mitsal bagi cahaya Allah. Mereka merupakan makhluk yang paling mampu menjelaskan tentang kehendak Allah daripada makhluk lainnya. Dalam proses pembinaan pikiran dan akal, hendaknya penjelasan-penjelasan mereka diperhatikan dengan sebaik-baiknya tanpa melepaskan penjelasan mereka dari tuntunan kitabullah. Bagaimanapun kitabullah merupakan firman Allah yang menjadi sumber cahaya bagi misykat cahaya, dan mungkin ada kelemahan manusiawi pada diri seorang misykat cahaya. Hanya saja seseorang hendaknya tidak lebih mempercayai dirinya sendiri dalam memahami kehendak Allah daripada penjelasan dari seorang misykat cahaya, kecuali manakala tentang redaksi kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Misalnya manakala terbentuk suatu pemahaman yang tumbuh dalam proses taubat seseorang, pemahaman itu belum tentu benar, dan seorang misykat cahaya lebih mengetahui kekeliruan yang mungkin ada dalam pemahaman tersebut. Seseorang boleh meninggalkan pendapat seorang misykat cahaya manakala pendapat itu bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, atau pendapat tersebut sedang tidak terkait dengan tuntunan Allah. Pada misykat cahaya pemula atau lemah, ada kemungkinan ia tidak sepenuhnya dalam dzikir kepada Allah pada beberapa bagian waktu.

Sangat penting bagi setiap orang beriman untuk memperhatikan pembacaan kitabullah dan merasakan nilai kebenaran pada pembacaan itu. Ada bermacam jenis bacaan kitabullah. Ada pembacaan yang dilakukan dengan tujuan tidak baik, ada yang bersifat menambah pengetahuan dan paling tinggi derajatnya adalah pembacaan kitabullah yang merupakan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah, maka pembacaan demikian akan sangat membantu dalam menemukan tujuan kehidupan. Setiap pembacaan kitabullah bernilai baik bila dibacakan dan didengarkan dengan iktikad yang baik. Bila ada orang-orang yang berusaha menyembunyikan pembacaan dari penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah hingga kaum mereka mengalami kesulitan mengetahui atau tidak dapat mengetahui penjelasan itu, Allah akan melaknat mereka. Allah Maha Mengetahui keadaan mereka hingga Dia melaknatnya. Kelak makhluk-makhluk yang lain juga akan mengetahui akibat buruk perbuatan yang dilakukannya, maka mereka akan melaknat pula orang yang melakukannya.

Menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang suatu ayat kitabullah Alquran akan mendatangkan laknat Allah. Seorang misykat cahaya yang berbicara bukan tentang ayat kitabullah mungkin tidak mendatangkan laknat, tetapi manakala ia berbicara tentang kitabullah dan disembunyikan oleh manusia maka manusia itu akan mendapat laknat Allah. Laknat itu lebih melekat pada urusan penjelasan dan petunjuk tentang ayat kitabullah yang disembunyikan, bukan terjadi karena sikap terhadap seseorang. Orang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk itu barangkali tidak merasa kecewa karena tidak memperoleh tanggapan yang layak, tetapi merasa kecewa karena tuntunan kitabullah tidak diperhatikan. Mereka mengetahui bahwa mendustakan dan menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah kepada mereka tentang kitabullah akan mendatangkan efek yang berat berupa laknat.

Rabu, 21 Mei 2025

Amal Shalih dan Kedekatan Kepada Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Taubat ke jalan Allah harus ditempuh melalui jalan pemakmuran bumi. Seseorang tidak dapat menempuh jalan taubat kepada Allah tanpa memperhatikan proses pemakmuran yang harus diusahakan bagi semesta diri mereka. Orang yang mendekat kepada Allah hanya dengan jalan keasyikan dengan rabb-nya tidaklah menempuh jalan taubat yang sempurna, karena setiap manusia diciptakan untuk menumbuhkan kemakmuran di alam bumi. Sebaliknya proses pemakmuran bumi harus dilaksanakan dengan menempuh jalan taubat kepada Allah. Sangat banyak orang yang tergelincir manakala berusaha menumbuhkan pemakmuran. Banyak peristiwa orang-orang yang semula berkeinginan untuk memakmurkan bumi tetapi kemudian tergelincir dalam hasrat memakmurkan diri sendiri karena kurangnya kekuatan dalam beribadah kepada Allah. Kekuatan ibadah kepada Allah akan bertambah apabila manusia bertaubat kepada Allah.

Hubungan taubat, harapan untuk dekat kepada Allah dan pemakmuran bumi dapat ditemukan penjelasannya pada ayat berikut :

﴾۸۵۱﴿ إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah : 158)

Haji menunjukkan arti berkunjung, berusaha untuk hadir ke dekat objek yang dicintai dan dihormati. Baitullah merupakan arah yang ditentukan bagi manusia yang menginginkan kehadiran di hadirat Allah. Rasulullah SAW mengalami Isra’ Mi’raj hingga dihadirkan di hadirat Allah di ufuq yang tertinggi dari baitullah al-haram. Bait al haram itulah sarana yang ditentukan bagi para hamba Allah untuk dapat dihadirkan di hadirat Allah melalui mi’raj masing-masing. Orang-orang yang menginginkan memperoleh sarana untuk hadir di hadirat Allah merupakan orang-orang yang berkeinginan untuk berhajji ke baitullah. Mereka mencintai Allah karena kebaikan yang mengalir dari sisi Allah, dan karena cinta mereka kepada Allah mereka menginginkan untuk berhaji ke baitullah.

Baitullah itu dalam wujud fisiknya adalah bangunan yang didirikan oleh nabi Ibrahim a.s bersama keluarganya, siti Hajar r.a dan Ismail a.s. Nilai bathin dari baitullah itu terletak pada pembinaan keluarga dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tujuan utama pembinaan bayt itu adalah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan sangat banyak hal-hal terperinci yang harus diperhatikan setiap orang dalam membina diri kembali kepada Allah. Hal-hal itu telah dicontohkan dengan baik oleh nabi Ibrahim a.s dan keluarganya, dan hal itu diabadikan bagi umat manusia dalam bentuk bait al-haram. Sangat penting bagi manusia untuk memperhatikan nilai bathiniah dalam berhajji dan umrah karena nilai bathiniah itu merupakan inti pembinaan yang dicontohkan beliau a.s. Nilai bathin itu menjangkau setiap manusia tanpa dibatasi dengan kemampuan secara fisik untuk datang ke tanah suci.

Umrah ( اعْتَمَرَ ) menunjuk pada suatu pengusahaan pemakmuran. Orang-orang yang mengerjakan umrah pada ayat di atas tidak hanya menunjuk pada orang-orang yang berangkat ke tanah suci makkah untuk melakukan umrah, tetapi juga orang-orang yang berkeinginan untuk mengusahakan pemakmuran-pemakmuran, mereka termasuk sebagai orang-orang yang berkeinginan umrah. Untuk mengusahakan pemakmuran, arah yang menjadi kunci bagi manusia adalah mengarah menuju baitullah. Ini merupakan suatu gambaran yang jelas bagi manusia bahwa untuk melakukan pemakmuran hendaknya setiap manusia berusaha untuk mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s dan Rasulullah SAW membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Langkah kedua uswatun hasanah tersebut merupakan tauladan tentang langkah taubat yang sempurna.

Umrah maupun haji keduanya merupakan sarana untuk dekat kepada Allah, dijadikan gambaran fisik langkah yang harus ditempuh setiap orang yang bertaubat. Umrah dapat dilakukan pada setiap waktu tanpa dibatasi dengan waktu-waktu tertentu, sedangkan hajji hanya dapat dilakukan pada masa hajji. Setiap orang dapat menempuh jalan untuk kedekatan kepada Allah pada setiap saat dengan melakukan pemakmuran kehidupan di bumi tanpa dibatasi dengan waktu-waktu tertentu, sedangkan kehadiran pada kedekatan kepada Allah hanya diberikan pada waktu-waktu tertentu. Rasulullah SAW dimi’rajkan kepada Allah hanya pada satu waktu tertentu, tidak melakukannya dengan keinginan sendiri. Demikian pula bagi hamba Allah yang lain, ada waktu tertentu yang diberikan kepadanya untuk dimi’rajkan ke hadirat Allah yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Sebagian besar manusia tidak mengetahui waktu itu, tetapi ada hamba Allah yang mengetahui sesi mi’raj yang dijanjikan baginya.

Pemakmuran bumi ataupun haji hendaknya dilakukan mengarah pada pembentukan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tidak dilakukan tanpa arah yang jelas. Pembentukan keluarga demikian itu merupakan elemen fundamental pembentukan pemakmuran ataupun haji. Tanpa usaha pembentukan demikian, tidak akan terwujud pembentukan pemakmuran ataupun haji karena tidak terbentuknya fundamennya. Seandainya terbentuk suatu pemakmuran tanpa fundamen, pemakmuran yang demikian sebenarnya bersifat semu tidak menyentuh landasan pemakmuran yang sebenarnya. Sangat mudah bagi musuh manusia untuk menjadikan pemakmuran yang terbentuk kembali berantakan karena sifat pemakmuran yang semu. Apabila suatu kaum membentuk keluarga untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, pemakmuran yang terbentuk mengikuti proses itu akan kokoh tidak mudah diruntuhkan oleh musuh. Demikian pula manakala seseorang membangun kedekatan kepada Allah tanpa suatu fundamen yang benar, kedekatan yang dicapai itu kelak akan menjadi pertanyaan-pertanyaan berat yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Banyak upaya-upaya pemakmuran yang dilakukan manusia tanpa arah yang benar, maka pemakmuran yang terjadi sebenarnya hanya menyenangkan bagi syahwat dan hawa nafsu manusia, tidak menyentuh pemakmuran manusia secara utuh. Manusia mungkin bersenang-senang dengan pemakmuran-pemakmuran yang dilakukan tetapi hanya merupakan kesenangan-kesenangan jasmaniah ataupun kesenangan-kesenangan hawa nafsu tanpa menyentuh peningkatan kualitas diri mereka. Contohnya, suatu bangsa mungkin mempunyai sarana kereta cepat tetapi hanya merupakan bangunan yang dibuatkan baginya oleh orang asing sedangkan para insinyur yang ada di dalam negeri hanya disingkirkan. Pemakmuran demikian hanya merupakan kesenangan syahwat dan hawa nafsu sedangkan nilai diri bangsa disingkirkan dari diri mereka. Mereka justru harus menanggung hutang karena adanya pemakmuran itu tanpa suatu kesenangan dari jiwa para penduduknya.

Membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah penyatuan nafs wahidah dengan segala sesuatu yang diciptakan bagi dirinya, yang dilakukan sesuai dengan kehendak Allah. Bentuk dasar bayt demikian adalah pernikahan antara seorang laki-laki dengan isteri-isterinya. Berkembangnya suatu bayt akan mewujud dalam bentuk kemakmuran pada pernikahan dengan harta dan anak-anak yang mendukung jihad di jalan Allah dengan karya-karya yang dikehendaki Allah. Penyatuan nafs wahidah sesuai kehendak Allah demikian harus dilakukan termasuk dalam membentuk keluarga ta’addud manakala suatu nafs wahidah diciptakan dalam bentuk ta’addud. Bentuk penyatuan nafs wahidah akan diketahui seseorang manakala ia mengenal nafs wahidah, dan upaya penyatuan nafs wahidah tersebut merupakan upaya membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Ada beberapa tahapan yang harus ditempuh seseorang dalam membentuk bayt. Tazkiyatun-nafs merupakan tahapan dasar yang harus ditempuh. Suatu tazkiyatun nafs akan membentuk seseorang untuk dapat memahami cahaya Allah yang terpantul melalui ayat-ayat-Nya. Pemahaman yang terbentuk terhadap cahaya Allah akan mengantarkan seseorang mengenal Allah dengan mengenal diri sendiri. Pengenalan terhadap penciptaan diri sendiri itu merupakan tanah suci tempat seharusnya bayt didirikan. Proses tazkiyatun nafs merupakan proses hijrah yang harus ditempuh seseorang untuk berpindah ke tanah suci dirinya. Setelah menempati tanah suci diri, seseorang dapat berusaha membina bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah.

Upaya memperoleh pengenalan diri hanya dapat dilakukan seseorang dengan membaca ayat-ayat Allah setelah tazkiyatun nafs. Pengenalan diri tidak dapat dicapai dengan jalan hanya melakukan perhitungan-perhitungan kadar diri. Pengenalan diri merupakan pengenalan terhadap kedudukan diri dalam urusan Allah, maka mengenal urusan Allah itu menjadi prasyarat untuk mengenal diri. Membaca ayat Allah itu jalan utamanya, sedangkan pengukuran kadar-kadar diri akan mengarahkan seseorang secara tepat pada urusan Allah. Tanpa memahami ayat Allah, seseorang tidak akan bisa menemukan kedudukan diri dalam urusan Allah. Boleh jadi seseorang menemukan pengenalan diri, tetapi tidak terhubung dengan urusan Allah. Hal itu telah terjadi sejak penciptaan Adam dan Hawa di surga hingga menyebabkan keduanya tergelincir ke bumi. Pengenalan diri tanpa mengenal urusan Allah pada dasarnya sangat berbahaya karena sangat licinnya jalan kembali kepada Allah.

Tahapan-tahapan demikian pada tingkatan dzahir tidak berjalan sekuensial terurut. Seseorang bisa menikah membentuk rumah tangga jauh sebelum mengenal tanah sucinya, tidak harus dilakukan setelahnya. Akan tetapi hendaknya ia mengenal tahapan keadaan dirinya secara jujur. Apabila ia belum mampu membaca ayat-ayat Allah dengan benar, ia belum menyempurnakan tahap tazkiyatun nafs. Manakala seseorang belum mengetahui kedudukan dirinya dalam jamaah Rasulullah SAW, ia belum mengenal dirinya secara sempurna, dan urusan yang harus ditunaikan dalam kehidupan dunia mungkin tidak benar-benar ia pahami. Bila seseorang mengenal kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW, ia telah mengenal urusan Allah bagi dirinya. Setelah keadaan demikian, ia hendaknya berusaha untuk bersungguh-sungguh mengumpulkan segala yang terserak baginya dengan usaha sebaik-baiknya tanpa suatu kebimbangan karena ia harus melangkah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pada dasarnya suatu pernikahan saja akan menjadikan apa yang terserak bagi diri seseorang terkumpul, tetapi pengetahuan tentang manfaatnya akan diperoleh manakala seseorang mengenal kedudukan dirinya.

Menyembunyikan Kebenaran

Membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah akan mendatangkan pemakmuran. Usaha itu akan mendatangkan penolakan yang keras dari alam syaitan. Seseorang mungkin harus berhadapan dengan berbagai lapis perlawanan alam syaitan untuk menghalangi manusia membentuk bayt. Syaitan akan berusaha menghalangi dengan semua usaha termasuk melibatkan kalangan manusia yang dapat dilibatkan. Semua orang yang terlibat dalam upaya syaitan menghalangi akan menjadi orang-orang yang dilaknat Allah dan makhluk-makhluk yang lain akan melaknat pula.

Di antara usaha syaitan demikian adalah menjadikan orang-orang menyembunyikan petunjuk-petunjuk dan penjelasan-penjelasan yang diturunkan Allah terkait dengan tuntunan dalam kitabullah Alquran.

﴾۹۵۱﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati (QS Al-Baqarah : 159)

Allah telah menurunkan kitabullah Alquran kepada Rasulullah SAW, dan Allah sebenarnya juga menurunkan penjelasan-penjelasan dan petunjuk-petunjuk terkait dengan ayat-ayat dalam kitabullah Alquran kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah itu terjadi setelah Alquran diturunkan. Orang yang memberikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah hanya melakukannya karena mengikuti ayat-ayat dalam kitabullah, dan penjelasan-penjelasan dan petunjuk itu diterimanya dengan mengikuti ayat-ayat kitabullah.

Tidak semua penjelasan dan petunjuk demikian disukai oleh manusia. Sebagian manusia tidak dapat memahami penjelasan dan petunjuk karena pikiran dan akal mereka lemah. Sebagian orang merasa sombong hingga tidak memahami kebenaran. Sebagian orang mungkin terganggu dengan penjelasan dan petunjuk yang disampaikan karena pengaruhnya terhadap kehormatan atau harta mereka. Manakala seseorang merasa terganggu dengan penjelasan dan petunjuk, syaitan akan menghembuskan suatu godaan sedemikian orang-orang yang terbujuk godaan itu akan berusaha menyembunyikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk terkait ayat-ayat kitabullah yang disampaikan. Bila seseorang bergerak menyembunyikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk-petunjuk yang diturunkan Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya terkait dengan ayat-ayat kitabullah, mereka akan mendapatkan laknat Allah dan kelak makhluk-makhluk yang dapat melaknat akan melaknat pula.

Menyembunyikan penjelasan dan petunjuk Allah dapat terjadi dalam bentuk menghalangi tersampaikannya penjelasan dan petunjuk kepada masyarakat atau mengurangi sebagian dari penjelasan dan petunjuk dengan suatu iktikad tertentu yang kurang baik. Mungkin bukan iktikad buruk tetapi dampak perbuatannya kurang baik. Kadangkala seseorang merasa kurang suka dengan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah dan ia memandang lebih baik mengurangi penjelasan dan petunjuk itu, maka hal itu merupakan upaya menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah. Demikian pula menutup jalan seseorang yang mempunyai kemampuan untuk menyampaikan penjelasan dan petunjuk merupakan perbuatan menyembunyikan penjelasan dan petunjuk. Keterbatasan atau kurangnya kemampuan menyampaikan penjelasan dan petunjuk secara utuh tidak termasuk dalam kategori menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah.

Setiap orang harus berusaha sebaik-baiknya untuk menyampaikan kepada orang lain penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah secara lengkap tanpa dikurangi. Hal itu merupakan bentuk rahmaniah terhadap orang lain. Menyampaikan dapat dilakukan dengan cara yang baik tanpa mengurangi esensi penjelasan yang harus disampaikan, dan tidak boleh dilakukan dengan mengumbar cela dalam diri sendiri. Bila diperlukan, seseorang bisa meminta orang lain untuk menyampaikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah. Setidaknya manusia tidak menutup jalan orang yang berhak menyampaikan untuk menyampaikan. Suatu sifat rahmaniah akan menjadikan umat manusia mengenal kehendak Allah dengan baik hingga manusia dapat beramal sesuai dengan kehendak Allah bagi dirinya. Manakala seseorang tidak berusaha dengan sebaik-baiknya, ia akan mudah tergelincir sebagai orang yang menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah.

Menyembunyikan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat kitabullah akan mendatangkan laknat Allah dan laknat makhluk yang dapat melaknat. Laknat merupakan sumber kesengsaraan. Orang yang dilaknat Allah usahanya akan mendatangkan kesengsaraan sekalipun memandangnya baik. Dalam hal di atas kesengsaraan itu setidaknya karena tertutupnya penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah. Orang-orang yang menyembunyikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk terkait ayat kitabullah akan mendatangkan suatu kesengsaraan bagi umat manusia. Manusia akan terputus washilahnya kepada Allah karena penjelasan dan petunjuk yang disembunyikan. Bila manusia dapat memperoleh penjelasan dan petunjuk secara lengkap untuk memahami kehendak Allah mereka akan dapat mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan dengan penjelasan dan petunjuk itu, sedangkan manakala penjelasan dan petunjuk itu dihalangai atau dikurangi maka mereka akan kesulitan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan dengan mengikuti kehendak Allah.


Minggu, 18 Mei 2025

Kitabullah Sebagai Landasan Amal Shalih

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan kembali kepada Allah terbentang bagi manusia sejak di alam dunia hingga tiba di sisi Allah. Jalan kembali ini bukan hanya berbentuk permohonan ampunan saja, tetapi juga dalam bentuk amal-amal kehidupan dunia. Permohonan ampunan terhadap dosa-dosa merupakan bentuk dasar jalan kembali kepada Allah, sedangkan orang yang telah berjalan akan menemukan bentuk-bentuk amal duniawi yang harus dikerjakannya sedangkan ia terus memohon ampunan atas dosa dan kesalahan yang mungkin dilakukannya. Amal-amal duniawi yang dikerjakan mengikuti kehendak Allah merupakan jalan kembali yang dibentangkan Allah bagi umat manusia dalam bentuk yang lebih jelas.

Amal-amal demikian selalu terhubung dengan pengetahuan tentang ayat kauniyah yang terintegrasi dengan ayat kitabullah, dan dilakukan sesuai dengan syariat-syariat yang ditentukan Allah tidak melanggarnya. Hal ini perlu diperhatikan. Mungkin saja seseorang mencari jalan kembali kepada Allah tetapi tidak waspada terhadap syaitan hingga suatu perintah Allah dilakukan dengan melanggar ketentuan Allah, maka ia justru membantu syaitan. Suatu perintah Allah kadangkala membangkitkan hawa nafsu yang mendorong keinginan untuk dipandang sebagai pahlawan bagi manusia, maka ia menjadi menyimpang. Kadangkala seseorang menyangka bahwa ia telah sampai kepada Allah hingga berbuat dzalim terhadap manusia dalam urusan Allah. Banyak hal yang dapat menyimpangkan manusia dari jalan kembali kepada Allah, maka hendaknya setiap orang memperhatikan tuntunan kitabullah.

Allah memberikan peringatan kepada umat manusia sebagaimana kisah pada ayat berikut :

﴾۲۰۱﴿وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan atas kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, hanya syaitan-syaitan lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (dari ilmunya) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya fitnah, sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka (para syaitan) mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan ilmu itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (para syaitan) tidak memberi mudharat dengan ilmu itu kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka (manusia) mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepada mereka (manusia) dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang membelinya, tiadalah baginya akhlak (demikian) di akhirat, dan amat buruklah perbuatan mereka menjual dirinya dengan ilmu itu, kalau mereka mengetahui. (QS Al-Baqarah : 102)

Kitabullah memberitahukan bahwa sekelompok manusia mengikuti bacaan-bacaan syaitan atas kerajaan nabi Sulaiman a.s sedangkan tuntunan pada bacaan itu sangatlah kafir. Bukan nabi Sulaiman yang memberikan tuntunan demikian, tetapi syaitan-lah yang kafir. Para pengikut bacaan syaitan itu saat ini dapat kita lihat di timur tengah dalam bentuk gerakan zionisme yang melakukan genosida di palestina atas nama agama. Gerakan demikian itu telah ada sejak jaman setelah nabi Sulaiman a.s, dan nampak jelas pada jaman ini. Bila seseorang mengamati dengan baik gerakan zionisme, ia akan menemukan bahwa zionisme sebenarnya tidaklah hanya di bumi palestina. Mereka mempunyai dukungan senjata yang sangat besar di amerika dan bagian dunia lainnya, sedangkan pengaruh ekonomi dan politik serta pengaruh lain mereka menjangkau hampir seluruh dunia tanpa disadari oleh manusia yang mengikutinya. Perbankan modern di dunia hampir sepenuhnya mengikuti konsep zion. Orang-orang beriman hendaknya bisa memahami tuntunan kitabullah terkait dengan gerakan pengikut bacaan syaitan.

Licinnya Berpijak  Waham

Kebanyakan orang beriman yang bertaubat terliputi waham hingga tidak dapat membaca tuntunan kitabullah terkait alam kauniyah mereka. Waham itu syaitan bangkitkan bagi umat manusia dan diliputkan atas manusia dengan sarana berupa dua bentuk ilmu, yaitu ilmu sihir dan ilmu Harut dan Marut. Kedua ilmu itu efektif diterapkan bagi seluruh kalangan manusia, baik bagi orang-orang yang jahat ataupun bagi orang-orang yang beriman. Bagi orang kebanyakan, syaitan menggunakan ilmu sihir bersama orang-orang yang bersekutu dengan mereka. Bagi orang beriman, syaitan menggunakan ilmu Harut dan Marut bersama orang-orang yang mereka tipu dari kalangan orang beriman. Kedua ilmu itu akan menutupkan waham atas seluruh golongan manusia dari kalangan orang-orang jahat hingga kalangan orang-orang yang beriman.

Dengan ilmu sihir, syaitan menjadikan orang-orang yang bersekutu dengan mereka sebagai pembesar-pembesar bagi manusia. Manusia akan memandang pembesar-pembesar yang mengikuti ilmu sihir sebagai orang yang sangat berjasa sekaligus melihat pula kelicikan-kelicikan yang dilakukannya sebagai tipu muslihat dalam menjaga kekuasaan mereka. Sekalipun merasakan tetapi manusia tidak dapat menentukan langkah yang baik untuk masalah itu. Tidak semua pembesar manusia merupakan pengikut sihir syaitan, atau boleh dikatakan hanya sedikit pembesar manusia yang mengikuti sihir syaitan, tetapi hampir seluruh dunia terpengaruh oleh sihir syaitan karena pengaruh-pengaruh yang dibuat melalui jalan yang lain misalnya pengaruh ekonomi ataupun politik serta pengaruh lainnya.

Ilmu Harut dan Marut dipergunakan syaitan untuk mengurung orang-orang beriman dalam waham mereka sendiri tidak mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang beriman pastilah berkeinginan untuk memberikan kebaikan bagi alam semesta mereka, tetapi manakala ilmu Harut dan Marut mempengaruhi, mereka akan memandang apa-apa yang mereka pahami lebih baik daripada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bagaimanapun ilmu Harut dan Marut merupakan fitnah. Sekalipun manusia memandang baik apa-apa yang ada pada mereka, sebenarnya apa yang mereka lakukan mengikuti ilmu Harut dan Marut mendatangkan kerusakan yang sangat besar bagi umat manusia. Pandangan baik terhadap diri mereka itu merupakan pengaruh dari ilmu Harut dan Marut. Ilmu itu akan menipu manusia dalam bentuk-bentuk yang terlihat indah.

Akhlak manusia tidak boleh dibentuk dengan ilmu Harut dan Marut, karena sekalipun akhlak itu tampak menakjubkan di alam dunia hingga alam barzakh, akhlak itu akan terlepas kelak di akhirat. مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ . Ilmu Harut dan Marut itu hanyalah sebuah fitnah. Manakala seseorang menggunakan ilmu Harut dan Marut, ia akan kehilangan manfaat kehidupan dunia. Kehidupan dunia sangat bermanfaat untuk membina akhlak manusia. Seseorang mungkin harus mengulang kembali pembinaan akhlak dirinya di alam akhirat, karena ilmu Harut dan Marut akan menyebabkan mereka kehilangan akhlak yang diperoleh dari kehidupan di dunia. Mungkin akhlaknya di dunia sudah tampak indah, tetapi bila keindahannya karena mengikuti ilmu Harut dan Marut itu maka akhlak itu akan musnah. Kehidupan akhirat akan sangat panjang dibandingkan dengan kehidupan di dunia, sedangkan tidak ada tanda-tanda yang mengarahkan pembinaan diri dalam kehidupan akhirat.

Pembinaan akhlak umat manusia harus dibentuk dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW tidak menyimpang darinya. Akhlak berdasar kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW itulah akhlak yang sebenarnya, tidak akan hilang manakala telah terbentuk selama dirinya sendiri tidak membuangnya. Membentuk akhlak mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan membersihkan jiwa (tazkiyatun Nafs) agar seseorang dapat mengenal kandungan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa tazkiyatun-nafs, seseorang hanya akan membentuk pemahaman pada tingkatan hawa nafsu saja. Proses tazkiyatun-nafs dapat diibaratkan layaknya mempersiapkan lahan untuk bercocok tanam. Ia harus dibersihkan dari gulma dan tanaman pengganggu, serta dibersihkan dari penyakit-penyakit yang dapat menghinggapi tanaman yang ditanam.

Pembinaan akhlak itu sendiri adalah menumbuhkan benih diri manusia hingga tumbuh pohon diri berupa kalimah Thayyibah. Benih diri itu merupakan jati diri manusia berupa kalimah thayyibah yang akan tumbuh manakala memperoleh stimulasi dari kalimah thayibah kitabullah Alquran. Kedua kalimah itu merupakan dua hal yang sama, kalimah sebagai benih dalam diri manusia dan kalimah dalam bentuk ayat kitabullah Alquran. Kalimah yang tumbuh dalam diri manusia harus serupa dengan kalimah dalam kitabullah Alquran, dibentuk melalui mekanisme misykat cahaya sebagaimana kamera membentuk gambar objek. Manakala kalimah diri yang tumbuh diketahui menyimpang atau melanggar kalimah dalam kitabullah, kalimah itu harus dipotong agar tidak tumbuh sebagai pohon yang liar tanpa suatu landasan dari tuntunan Allah. Hal ini harus dipahami secara hati-hati. Tidak semua ilmu yang belum diketahui manusia secara umum merupakan ilmu liar. Pohon bisa menumbuhkan buah yang mungkin tidak disebutkan secara langsung dalam kitabullah, tetapi buah itu merangkum pengetahuan-pengetahuan dari ayat-ayat yang tersebar baik ayat kitabullah maupun ayat kauniyah yang tersebar pada semesta diri mereka.

Menumbuhkan kalimah thayibah merupakan bagian dari jalan kembali kepada Allah yang harus diutamakan. Kadangkala suatu kaum menempuh proses tazkiyatun-nafs tetapi tidak digunakan untuk berusaha memahami tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini seperti orang-orang yang mengolah lahan tetapi tidak menanam tanaman, tentulah tidak ada pohon yang tumbuh. Mereka tampak sebagai orang-orang yang baik tetapi tidak dapat memahami perintah Allah. Benih-benih yang seharusnya ditanam itu berupa ayat-ayat dari kitabullah yang terkait dengan ayat-ayat kauniyah. Setiap orang yang menempuh jalan taubat hendaknya mempunyai suatu perhatian terhadap tuntunan ayat kitabullah yang sesuai dengan keadaan diri mereka tanpa mengada-ada, maka ayat itu akan menjadi cahaya yang menumbuhkan benih kalimah thayibah yang telah dititipkan dalam diri mereka.

Ilmu Harut dan Marut dimanfaatkan syaitan untuk membelokkan manusia dari memahami tuntunan kitabullah dengan menyuburkan waham kebaikan dalam diri. Sebagian pemahaman manusia bisa tumbuh dari kitabullah dan pemahaman yang lain turun dari syaitan, sedemikian manusia tidak mengenali apa yang diselipkan syaitan bagi diri mereka. Hal ini dapat dihindari apabila orang beriman berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Akan tetapi syaitan akan menghalangi upaya ini, di antaranya yang paling ampuh adalah dengan akhlak semu yang ditumbuhkan dengan ilmu Harut dan Marut. Manusia akan mempercayai akhlak yang tampak megah di mata mereka daripada tuntunan kitabullah. Kepercayaan ini akan tumbuh secara rumit melibatkan kebenaran-kebenaran yang dipergunakan secara tidak semestinya. Bila orang-orang beriman dapat mengikuti tuntunan kitabullah secara tulus tanpa terjerat kerumitan demikian, mereka akan dapat melihat secara tepat ayat-ayat Allah untuk menumbuhkan benih kalimah thayibah pada diri mereka.

Akhlak yang tumbuh mengikuti ilmu Harut dan Marut pada dasarnya sama dengan para perempuan yang berakhlak (tampak) benar-benar berjubah agung di alam dunia akan tetapi akan telanjang kelak di akhirat. Akhlak demikian merupakan dampak secara langsung ilmu Harut dan Marut. Dampak ilmu itu tidak terbatas pada keadaan demikian. Ada orang-orang yang akan dipaksa tercerai dari keutuhan dirinya sedangkan ia menginginkan keutuhan nafs wahidah, atau tertelanjangi dari jalan ketakwaannya. Bagian dari ilmu Harut Marut yang sangat diperhatikan oleh syaitan adalah memisahkan isteri dari suaminya. Perempuan-perempuan dibuat menjadi pejuang agama yang meninggalkan jalan ibadah yang ditetapkan baginya berupa suaminya, maka mereka menjadi perempuan-perempuan yang berjubah di alam dunia tetapi kelak di akhirat akan telanjang. Itu adalah dampak langsung dari fitnah ilmu Harut dan Marut.

Para laki-laki yang terkena fitnah ilmu Harut Marut pada dasarnya sama dengan perempuan demikian. Mereka berakhlak megah di alam dunia, tetapi kelak di akhirat akhlak itu akan terlepas dari mereka karena tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Akhlak yang akan bertahan hingga seseorang hadir di hadapan Allah hanyalah akhlak yang dibina selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sedikitnya akhlak demikian itu akan bertahan hingga abadi, dan banyaknya akhlak itu akan menjadikan seseorang bertambah kemuliaan di sisi Allah. Amal-amal yang dilakukan manusia dengan kemegahan semu tanpa mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW justru akan menjadi beban yang harus dibersihkan di hadapan Allah, bukan mendatangkan timbangan hakikat yang mendatangkan bobot bernilai baginya.

Akhlak yang Lurus

Kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW akan membentuk manusia berakhlak lurus. Ada kelompok di antara manusia yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah karena tidak lurusnya akhlak diri mereka. Mereka tidak membina akhlak diri mereka mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

﴾۵۶۱﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengambil tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat adzab, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).(QS Al-Baqarah : 165)

Golongan demikian itu adalah orang-orang yang menjadikan Allah sebagai tuhan mereka dan mereka mencintai Allah, tetapi mereka juga mencintai makhluk lain sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Masalah pada mereka bukan berupa kekufuran kepada Allah, tetapi bahwa kecintaan mereka kepada makhluk yang mereka cintai setara dengan kecintaan mereka kepada Allah. Perbuatan demikian seringkali tumbuh tanpa disadari dalam bentuk mengikuti perintah-perintah orang yang mereka cintai tanpa memperhatikan perintah Allah. Atau manakala suatu ayat Allah dibacakan, mereka mengabaikan bacaan itu karena bukan dibacakan oleh orang yang mereka cintai layaknya Allah, maka mereka mengabaikan urusan Allah. Barangkali mereka memandang bahwa makhluk-makhluk itu adalah representasi Allah kepada diri mereka maka mereka mencintai makhluk itu sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Kadangkala mereka melakukan itu tanpa persetujuan makhluk-makhluk yang mereka cintai, karena rasa takut kepada Allah pada orang yang dicintai. Adapun makhluk yang menyukainya hanyalah makhluk bodoh yang tidak mengenal Allah. Iblis sebenarnya merasa takut kepada Allah kala menjadikan manusia menyembah mereka, tetapi rasa hasad pada diri mereka mengalahkan rasa takut kepada Allah.

Dalam kasus tertentu bisa ditemukan bukti bahwa mereka tidaklah mencintai makhluk karena mencintai Allah, tetapi menunjukkan dengan jelas bahwa sikap mereka itu menjadikan tandingan-tandingan selain Allah. Manakala makhluk-makhluk yang mereka cintai menyelisihi atau menentang tuntunan kitabullah Alquran, mungkin mereka akan lebih mengikuti makhluk yang mereka cintai, maka akan terlihat bahwa mereka menjadikan makhluk sebagai tandingan-tandingan selain Allah. Kecintaan kepada mereka dalam rangka kecintaan kepada Allah tidak terbukti karena pelanggaran kepada tuntunan Allah. Cara pandang bahwa makhluk-makhluk yang mereka cintai adalah representasi Allah mengandung bahaya yang besar karena mudah menggelincirkan seseorang untuk mengambil tandingan-tandingan bagi Allah. Setiap orang harus menilai kedudukan makhluk secara semestinya, bahwa Muhammad SAW adalah rasulullah dan kitabullah Alquran adalah firman Allah. Orang-orang beriman hendaknya tidak menjadikan makhluk sebagai objek kecintaan (mahabbah) tanpa suatu landasan yang benar. Landasan itu berupa bukti kedudukan orang yang dicintai dalam penjelasan kitabullah dan urusan Rasulullah SAW. Sangat tidak boleh menjadikan makhluk sebagai tara (bandingan) bagi Allah. Mencintai makhluk sebagai perpanjangan kecintaan kepada Allah hendaknya dilakukan dengan mengukur keselarasan makhluk yang dicintai dengan bagian yang mereka peroleh dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mengada-adakan perpanjangan kecintaan kepada Allah tanpa dasar yang jelas.

Akhlak yang tumbuh dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW inilah yang dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan umat manusia, tidak teralihkan oleh waham walaupun itu waham kebaikan. Mereka akan mengenali kauniyah yang terjadi selaras dengan hakikat dari sisi Allah, maka mereka akan mengetahui amal yang perlu dilakukan. Manusia-manusia terlaknat yang mengikuti bacaan syaitan untuk mendirikan kerajaan bagi mereka mempunyai ilmu-ilmu yang berasal dari syaitan, dan ini akan sulit ditandingi oleh umat manusia lainnya bila tidak menumbuhkan dan membina akhlak yang benar-benar bersumber dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Syaitan-pun berkepentingan membina akhlak manusia yang tampak megah bagi manusia tetapi sebenarnya hanya merupakan fitnah. Akhlak itu mereka jadikan kunci untuk merusak umat manusia dengan bentuk-bentuk kekejian yang dipandang baik oleh manusia, sebagaimana para perempuan yang berjubah di alam dunia tetapi menyimpang dari jalan ibadah yang benar. Itu akan mendatangkan fitnah yang sangat besar. Manusia harus membina diri mereka dengan pengetahuan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar dapat memberi manfaat sebaik-baiknya bagi semesta mereka.



Selasa, 13 Mei 2025

Pembinaan Akhlak yang Kokoh

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW dilakukan dengan membina akhlak mulia sedemikian seseorang dapat memberikan manfaat dirinya dengan sebaik-baiknya. Pembinaan demikian harus dilakukan dengan berlandaskan ketakwaan dan harapan terhadap keridlaan Allah. Tanpa berlandaskan ketakwaan dan harapan akan ridha Allah, seseorang akan membina diri seperti membangun bangunan di tepi jurang yang mudah jatuh.

﴾۹۰۱﴿أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS At-Taubah : 109)

Secara bathin, ayat tersebut terkait dengan pembinaan diri dalam bersujud kepada Allah. Ada orang-orang yang membina dirinya untuk bersujud kepada Allah dengan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah bagi dirinya, maka pembinaan tersebut merupakan pembinaan yang baik. Sebagian orang lainnya melakukan pembinaan dirinya di tepian jurang yang mudah runtuh, tidak berdasarkan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah. Manakala seseorang tidak bertakwa, semesta seseorang membawa kecenderungan menyeret orang tersebut hingga mereka dapat terhanyut di dalamnya seperti sungai yang dapat menggerus bangunan-bangunan yang didirikan di bantarannya. Demikian orang-orang yang membina diri mereka tanpa suatu landasan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah akan terhanyut oleh alam ciptaan hingga menyeret mereka menuju neraka jahannam.

Ketakwaan merupakan sumber dari petunjuk Allah. Orang-orang yang berusaha untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah akan memperoleh petunjuk Allah sedangkan orang-orang yang dzalim tidak akan diberi petunjuk oleh Allah. Petunjuk merupakan penjelasan yang menunjukkan kemuliaan yang dapat diperoleh manakala seseorang berusaha mengikuti kehendak Allah. Boleh jadi petunjuk itu adalah suatu jalan keluar dari suatu masalah, atau boleh jadi berupa penjelasan tentang sesuatu dari sisi Allah, atau boleh jadi bentuk-bentuk lain yang mengantarkan seseorang untuk lebih mengenal kemuliaan Allah. Orang-orang yang bertakwa akan memperoleh petunjuk yang mengantarkan diri mereka untuk lebih mengenal kemuliaan Allah hingga mereka dapat melangkah membina akhlak mulia. Orang-orang dzalim tidak memperoleh petunjuk demikian. Seandainya mereka mendapat petunjuk, sebenarnya mereka tidak melangkah pada akhlak mulia sedangkan petunjuk itu hanyalah persangkaan bahwa mereka mendapat petunjuk.

Kokohnya pondasi pembinaan adalah ketakwaan karena ketakwaan akan membentuk akhlak mulia. Sebagian golongan kaum muslimin menggunakan ayat-ayat Allah untuk menyombongkan diri sebagai orang-orang yang paling benar dengan mencari-cari kesalahan kelompok-kelompok lain yang tidak sama dengan mereka sedangkan mereka yang disalahkan sebenarnya juga ingin mengikuti tuntunan agama. Ini tidak menunjukkan adanya keinginan berakhlak mulia, dan golongan demikian sebenarnya cenderung bersifat mendekati atau tergolong sebagai kaum khawarij. Sebagian orang berusaha mencari petunjuk dan berusaha memberikan petunjuk yang diperolehnya kepada umat manusia tetapi disertai sikap ingin menampakkan kedudukan mereka. Hal ini seringkali disertai berkurangnya upaya menunjukkan kemuliaan Allah karena menonjolkan kedudukan diri. Manakala orang-orang yang mengikuti tidak bertambah akalnya dalam memahami kehendak Allah, tetapi justru menjadi buruk karena kurangnya akal, mereka tidak dapat menyadarinya. Hal ini juga menunjukkan tidak kokohnya akhlak mulia. Orang yang berakhlak mulia akan menunjukkan kemuliaan Allah kepada umat manusia agar umat manusia memahami kemuliaan kehendak Allah dengan akalnya sehingga setiap orang berusaha membentuk akhlak mulia.

Tanda-tanda Pembinaan yang Kokoh

Setiap orang hendaknya membina diri dalam akhlak mulia dengan landasan ketakwaan dan harapan terhadap ridha Allah. Akhlak yang tumbuh dari ketakwaan dan harapan keridhaan Allah itu adalah akhlak mulia yang sebenarnya. Akhlak mulia tidak akan benar-benar tumbuh manakala seseorang membinanya di tepian jurang yang akan runtuh. Ketakwaan kepada Allah dan harapan terhadap ridha Allah akan tumbuh dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Seluruh bentuk ketakwaan kepada Allah bersumber dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak menyimpang darinya, dan segala sesuatu yang menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak boleh dianggap sebagai ketakwaan. Akan tetapi tidak semua orang yang menggunakan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah adalah orang yang bertakwa. Ada orang-orang yang memanfaatkan tuntunan kitabullah tanpa suatu ketakwaan.

Lokus pembinaan akhlak terletak pada nafs wahidah. Nafs wahidah merupakan entitas inti penciptaan diri manusia yang dapat mengenal rabb-nya, mengenal kedudukan diri dalam jamaah Rasulullah SAW, mengenal sifat rahman dan rahim yang harus ditumbuhkan dalam kebersamaan dengan apa-apa yang terwujud dari dirinya baik berupa isteri-isterinya ataupun umat mereka. Pengenalan terhadap nafs wahidah merupakan tanda terbentuknya akhlak mulia, karena seseorang akan mengenal urusan dari rabb-nya, mengenal kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW dan mempunyai pengetahuan yang benar tentang jalan mewujudkan kehendak Allah di alam dunia. Hawa nafsu – hawa nafsu seseorang yang mengenal nafs wahidah akan mempunyai pemimpin dalam beribadah kepada Allah. Hal itu seringkali disertai pula dengan mengenal pemimpin bagi dirinya dari kalangan manusia lainnya, karena nafs wahidah mengenal kedudukannya dalam al-jamaah. Pernikahan merupakan bagian besar dari proses membentuk akhlak mulia.

Tumbuhnya Sifat Baik

Pada pokoknya, akhlak mulia adalah pembinaan sifat rahman dan rahim dalam diri manusia. Banyak masalah terperinci dalam kehidupan manusia yang menunjukkan terbentuknya akhlak mulia sebagai cabang dari terbentuknya sifat rahman dan rahim. Kadangkala seseorang telah membina diri sedemikian ia tampak bisa dan biasa bersikap baik kepada orang lain, tetapi sebenarnya mungkin saja ia belum cukup membina sifat rahman dan rahim manakala diuji dengan suatu urusan yang diturunkan Allah. Misalnya dalam derajat tertentu, seseorang mungkin menerima petunjuk untuk membentuk keluarga ta’addud. Secara umum dalam kasus perintah ta’addud yang benar, ta’addud berfungsi sebagai media penyempurnaan sifat rahmaniah dan rahimiah seseorang bersama keluarganya untuk berkiprah bagi masyarakat. Dari sisi rahmaniah, Allah sebenarnya berkehendak mengajarkan banyak hal melalui keluarga ta’addud. Dari sisi rahimiah, seorang isteri mungkin dituntut untuk dapat membina rasa sayang terhadap suaminya dan terhadap madunya hingga dapat menjadikan diri mereka, suami dan isteri serta madunya sebagai kesatuan nafs wahidah yang utuh. Kadangkala seseorang menolak urusan itu dan tidak mau memahami urusan yang diturunkan Allah. Hal itu menunjukkan kurangnya keinginan untuk memahami kehendak Allah dan kurangnya akhlak mulia. Kadangkala seorang isteri dan madunya tidak dapat saling menyayangi, atau justru saling bersaing untuk dipandang keutamaannya oleh manusia maka pada satu sisi tujuan dari ta’addud itu tidak tercapai. Akhlak mulia harus tumbuh pada setiap diri hingga terbentuk pada cabang-cabang perinciannya.

Sifat rahmaniah tumbuh dalam diri manusia dengan tanda mudahnya seseorang dalam memahami kebenaran. Seseorang yang benar-benar telah tumbuh sifat rahmaniahnya dapat mengenali hakikat-hakikat yang tersampaikan melalui ayat-ayat Allah dalam kitabullah dan kauniyah. Adanya sifat rahmaniah dalam diri seseorang akan terlihat dalam kecerdasan mensikapi kebenaran. Kecerdasan seseorang dalam mengenali dan mengikuti kebenaran ditentukan dengan kekuatan sifat rahmaniah yang ada dalam dirinya. Orang yang mempunyai sifat rahmaniah akan mudah memahami dan mengikuti kebenaran. Orang yang lemah sifat rahmaniahnya akan terlihat pada kesulitan memahami suatu kebenaran. Sifat rahimiyah ditandai dengan kekuatan dalam memberikan kebaikan bagi orang lain. Sifat ini dapat dilihat sangat jelas pada perempuan yang menyayangi anak-anaknya dan kadang pada suaminya. Sifat rahman dan rahim ini harus tumbuh pada setiap orang walaupun dalam proporsi yang berbeda-beda. Sifat rahman lebih dominan tumbuh pada kaum laki-laki, sedangkan sifat rahim tumbuh lebih dominan pada kaum perempuan.

Tumbuhnya akhlak seseorang tidak secara langsung terhubung dengan kesalahan perbuatan atau tindakan. Akhlak berada pada tingkatan berbeda dengan tindakan, tetapi ada suatu hubungan di antara keduanya. Suatu akhlak mulia akan membentuk dalam diri seseorang keinginan mengikuti kehendak Allah, ketidaksukaan terhadap hal syaitaniah, dan keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain. Benar atau salahnya perbuatan atau tindakan berada pada urutan setelah akhlak, dipengaruhi oleh banyak hal yang ada atau sampai pada diri seseorang. Kadangkala akhlak baik yang terbentuk pada diri seseorang tidak setimbang maka perbuatannya disalahpahami orang lain. Misalnya seorang suami mungkin berkeinginan tinggi untuk berjihad sedangkan isterinya merasa suaminya tidak menyayangi karena banyak meninggalkan pekerjaan rumah. Hal demikian mungkin merupakan suatu bentuk kesalahan perbuatan atau tindakan, sedangkan akhlak suaminya tidak buruk walaupun tidak setimbang. Bila ada sifat dasar ingin memberikan kebaikan, mengikuti perintah Allah dan tidak menyukai hal syaitaniah, itu menunjukkan akhlak mulia setidaknya benihnya, walaupun perbuatannya salah. Bila seseorang bersikap sombong memandang rendah orang yang mengikuti kehendak Allah, itu menunjukkan akhlak yang buruk.

Suatu akhlak yang buruk akan mendatangkan banyak kesalahan dalam perbuatan manusia. Ketidaktaatan terhadap perintah Allah, kesukaan pada hal-hal yang buruk, atau munculnya sifat-sifat buruk atau mementingkan diri sendiri hingga tidak peduli merugikan orang lain seringkali mengikuti akhlak yang buruk. Kesalahan dari akhlak yang buruk mempunyai dampak kerusakan dalam tingkat yang berbeda daripada kesalahan perbuatan saja. Di pihak orang lain, orang tertentu mungkin mudah memaafkan kesalahan orang lain, tetapi mungkin perlu proses memaafkan lebih panjang bila orang lain merendahkan dirinya ketika ingin mengikuti petunjuk Allah. Kadangkala akhlak buruk tidak berhenti dalam berbuat buruk. Manakala dilakukan ishlah, seseorang mungkin saja menuntut pihak lain untuk mempermalukan diri. Hal demikian tidak masuk akal, tetapi bisa terjadi. Dalam keadaan demikian, seseorang yang berakhlak baik pun akan mudah terjatuh pada kesalahan berbuat.

Keinginan Berjamaah

Mencari pemimpin merupakan bagian tanda adanya akal pada diri seseorang. Seseorang yang mati tanpa suatu baiat di lehernya merupakan kematian jahiliyah. Seseorang yang tidak peduli tentang tuntunan dan pemimpin bagi dirinya adalah seorang jahiliyah. Orang-orang yang membina diri dalam akhlak mulia akan merasakan suatu dorongan dalam dirinya untuk mencari atau menemukan pemimpin bagi dirinya. Pada diri perempuan, dorongan ini bisa berbentuk keinginan menemukan suami yang tepat. Pada kaum laki-laki, pencarian pemimpin demikian muncul dari keinginan berjuang untuk kebenaran dan rasa lemah dalam mengikuti kebenaran, bahwa ia merasa tidak mungkin sendirian berjuang dengan benar tanpa pemimpin dalam urusan Allah.

Suatu kekejian dapat terjadi pada seseorang yang sedang mencari pemimpinnya. Misalnya manakala seseorang mengambil pemimpin sedemikian ia mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram karena mengikuti pemimpinnya, maka ia telah berbuat keji dalam mengambil pemimpin. Hal ini sebagaimana seorang perempuan berbuat keji manakala menjadikan laki-laki selain suaminya sebagai pemimpin dirinya. Kekejian yang terjadi akan menjadikan dirinya berakhlak sangat buruk karena mengikuti syaitan. Setiap orang harus berusaha untuk memperhatikan perintah dan ketentuan-ketentuan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar terhindar dari kekejian.

Kadangkala akal seseorang mengenali pemimpinnya melampaui perkataan manusia hingga ia tampak tidak mengikuti suatu pemimpin di antara manusia, tetapi sebenarnya ia mengenali pemimpinnya yang sesungguhnya. Hal ini jarang terjadi, dan terjadi terutama pada masa kegelapan. Sumber pengenalan pemimpin demikian adalah tumbuhnya pengenalan dalam diri seseorang terhadap kebenaran yang harus dilaksanakan. Ia mungkin mulai dapat merasakan bentuk-bentuk kebenaran yang harus ditunaikan dalam kehidupan di dunia dan pengetahuan itu menjadikannya dapat membayangkan atau merasakan profil imam yang seharusnya memimpin dirinya. Hal demikian bisa berbahaya bila ia tidak mengendalikan diri dalam suatu ketaatan yang nyata. Bayangan tentang profil pemimpin itu dapat mengarahkan seseorang untuk mengenali nafs wahidahnya melalui pengenalan kedudukan dirinya dalam al-jamaah. Seseorang akan benar-benar mengenali pemimpin dalam urusannya manakala ia mengenali nafs wahidah, dan ia akan mengetahui bagian yang benar dan bagian bathilnya bayangan tentang pemimpin yang dahulu tergambar dalam dirinya.

Memberikan Kebaikan

Tumbuhnya akhlak mulia yang kokoh pada diri manusia akan mendatangkan manfaat kebaikan yang sangat banyak bagi kehidupan di bumi. Akhlak mulia seseorang itu tidak tumbuh hanya untuk diri sendiri. Kadangkala seseorang merasa baik dengan hubungan personal terhadap rabb-nya tanpa melihat nilai kebaikan yang dapat diwujudkan di kehidupan dunia, maka hal itu tidak menjadi indikator yang tepat bagi tumbuhnya akhlak mulia. Syaitan dapat mempermainkan keadaan orang-orang demikian dengan mudah, dan lebih sulit bermain dengan orang-orang yang memikirkan nilai kebaikan bagi umat manusia seluruhnya. Nilai kebaikan yang dapat diberikan seseorang kepada orang lain merupakan bagian dari keridhaan Allah terhadap hamba-Nya, karenanya syaitan akan sulit menghanyutkan bangunan yang dihasilkan dari cara pembinaan demikian.

Tumbuhnya sifat rahman dan rahim dalam diri seseorang akan memudahkan seseorang untuk mengenal kebaikan-kebaikan yang dapat dilakukan di bumi hingga ia dapat berbuat kebaikan bagi orang lain. Pengenalan seseorang terhadap kebaikan dapat dicapai hingga keadaan terbaik dalam bentuk mengenal hakikat yang ada di sisi Allah. Ada banyak kebaikan dalam tingkatan lebih rendah tetapi tetap mendatangkan kebaikan. Pengenalan kedudukan diri akan memudahkan seseorang untuk dapat bekerja sama dengan orang lain dalam mewujudkan kebaikan di muka bumi. Dengan nafs wahidah yang tumbuh dengan sifat baik dan menemukan keberjamaahan, seseorang akan memperoleh media yang baik untuk mewujudkan kebaikan-kebaikan yang banyak bagi kehidupan di bumi.

Setiap orang harus bersikap waspada terhadap keadaan memandang baik diri sendiri. Syaitan bisa membuat suatu kaum merasa sebagai orang-orang yang memperoleh petunjuk sedangkan sebenarnya mereka menghalangi manusia dari jalan Allah. Ini suatu keadaan yang sangat kontradiktif tetapi bisa dibuat oleh syaitan. Bangunan akhlak hendaknya selalu diukur dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW berdasarkan ketakwaan dan keridhaan Allah, tidak hanya mengikuti pendapat diri sendiri saja.