Pencarian

Minggu, 27 April 2025

Mengikuti Bashirah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW bersama orang-orang yang mengikuti menyeru umat manusia untuk kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah merupakan usaha yang harus dilakukan sepanjang kehidupan sejak di bumi hingga kelak di akhirat, menempuh perjalanan yang sangat jauh. Ada orang-orang yang menempuh jalan yang paling pendek berupa shirat al mustaqim untuk kembali kepada Allah, dan sebagian besar manusia menempuh perjalanan berliku-liku yang sangat jauh hingga mungkin banyak orang tidak mengetahui lagi apa makna kehidupan diri mereka atau tidak mengetahui jalan untuk kembali kepada Allah. Rasulullah SAW menyeru umat manusia untuk dapat menemukan jalan kembali tersebut dan menyeru untuk menempuh jalan kembali. Demikian pula orang-orang beriman yang bersama beliau SAW menyeru manusia kepada Allah.

﴾۸۰۱﴿قُلْ هٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Inilah jalan-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas bashirah, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS Yusuf : 108)

Seruan tersebut dilakukan di atas bashirah yang jelas. Bashirah menunjukkan suatu pengetahuan terhadap kebenaran yang harus dijadikan arah melangkah. Orang-orang yang bersama Rasulullah SAW mempunyai pengetahuan tentang arah langkah yang perlu ditempuh umat manusia sebagai jalan kembali kepada Allah. Bashirah bukan berbentuk kilasan penglihatan-penglihatan mata bathin, tetapi suatu pengetahuan yang integral tentang kehendak Allah.

Rasulullah SAW menyeru umat manusia kembali kepada Allah berdasarkan bashirah yang jelas tentang kemuliaan yang dihamparkan Allah hingga di alam dunia. Seruan itu akan menjadikan manusia menjadi lebih mulia karena kedekatan kepada Allah, dan terwujud kehidupan yang lebih baik bagi seluruh makhluk. Demikian pula orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW menyeru dengan bashirah. Ada banyak kelompok-kelompok manusia atau muslimin yang mengatakan bahwa mereka menyeru kepada Allah tetapi sebenarnya mereka tidak mempunyai bashirah yang mampu menunjukkan jalan menuju kemuliaan. Sebagian seruan mereka menjadikan manusia bodoh dalam memahami tuntunan kitabullah, kehilangan kemampuan menggunakan akal untuk memahami tuntunan. Hal demikian bukanlah seruan kepada Allah. Seruan kepada Allah akan menjadikan manusia mengenal nilai-nilai kemuliaan yang akan mengantarkan manusia untuk dekat kepada Allah.

Contoh yang jelas tentang bashirah dapat dilihat pada pengetahuan urusan keberpasangan, di mana seseorang memperoleh suatu pengetahuan tentang suatu hakikat langit terkait jodoh diikuti pula dengan pengetahuan di bumi berupa pasangan jodohnya dari kalangan makhluk bumi. Di tingkat hakikat, diketahui bahwa setiap laki-laki diciptakan dari suatu nafs wahidah tertentu, dan setiap perempuan diciptakan dari nafs wahidah laki-laki tertentu. Suatu keberpasangan yang baik akan menumbuhkan kesuburan pada manusia hingga manusia dapat berkembang dengan baik. Itu adalah hakikat dari penciptaan manusia di alam yang tinggi yang dekat dengan Allah. Dalam kehidupan dunia, seseorang yang mempunyai bashirah mungkin mengetahui jodohnya yang demikian. Tidak banyak orang yang mengenal pasangan yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama. Kebanyakan manusia melakukan pernikahan bukan berdasarkan hakikat penciptaan dirinya, dan hanya sedikit orang yang memperhatikan hakikat keberpasangan dirinya tersebut. Kebanyakan manusia memilih jodoh karena kecantikan/ketampanan, karena harta atau kedudukan dan hal-hal lain. Dari sedikit orang yang memperhatikan hakikat perjodohannya, tidak banyak orang yang benar-benar mengenal pasangannya. Di antara orang yang memperoleh petunjuk tentang jodohnya, tidak sedikit orang yang tidak mau menerima jodoh yang ada dalam petunjuknya. Bashirah mencakup pengetahuan yang benar secara integral tentang ketentuan Allah dari alam hakikat hingga alam praktis duniawi.

Bashirah membentuk pengetahuan yang integral tentang suatu urusan sesuai dengan kehendak Allah, sedemikian seseorang dapat bertindak secara praktis di bumi sesuai dengan kehendak Allah. Bashirah dalam urusan nafs wahidah di atas dapat ditemukan dalam bentuk integralitas pengetahuan dari pengetahuan tentang konsep perjodohan, pengenalan terhadap jodoh di alam dunia hingga amal-amal praktis dalam menempuh biduk rumah tangga dan segala hal yang terkait dengan pernikahan yang ditentukan Allah bagi dirinya. Sangat banyak ketentuan Allah bagi seseorang dalam menempuh pelaksanaan suatu urusan, dan setiap hamba harus berusaha untuk sebanyak mungkin memahami dan bertindak sesuai dengan ketentuan yang digariskan. Dalam setiap pilihan perbuatan, ada potensi hakikat yang bisa dicapai oleh seorang dengan amalnya dan ada pula potensi keharaman yang tidak boleh dilakukan hamba Allah. Hakikat itu akan menjadi bobot kebaikan, dan yang diharamkan itu akan menjadi dosa yang bisa menjadi benih tumbuhnya pemahaman yang salah. Seseorang bisa memilih salah satu dari semua kemungkinan perbuatan yang tersedia sehingga ia bisa memperoleh hakikat dalam bobot besar, bobot sedang, bobot kecil atau justru harus menanggung dosa karena pilihan amalnya.

Ada banyak hakikat digelar Allah, dan hakikat-hakikat itu membentuk suatu hubungan yang mengantarkan manusia mengenal Allah. Misalnya al-jamaah dan pernikahan. Al-jamaah merupakan bagian inti dari perjalanan kembali kepada Allah yang harus ditempuh dengan langkah berupa penyatuan nafs wahidah terhadap seruan Rasulullah SAW. Pernikahan merupakan turunan pertama dari penyatuan nafs wahidah yang seharusnya terwujud pada setiap hamba Allah yang mengikuti seruan itu sejak alam dunia. Pernikahan dapat digambarkan sebagai gerbang menuju al-jamaah, dan gerbang itu dihadirkan kepada setiap hamba Allah untuk mengarahkan langkahnya menuju al-jamaah. Penyatuan terhadap langkah Rasulullah SAW terjadi manakala seseorang menjalani pernikahannya sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak hakikat-hakikat yang diperkenalkan Allah kepada makhluk dan seluruhnya terhubung dalam kesatuan pengetahuan hakikat yang menggelar ilmu Allah.

Yang dikatakan sebagai orang yang menyeru kepada Allah dengan bashirah yang nyata hanyalah orang yang mengerti arah seruan itu, juga implikasi arah itu pada amal-amal pada tingkatan praktis. Orang tidak sah mengaku menyeru kepada Allah sedangkan amalnya justru menimbulkan perpecahan umat di jalan Allah. Seandainya seseorang tidak mengetahui amal pada tingkatan praktisnya, setidaknya ia tetap menimbang amalnya untuk menyatu dengan Rasulullah SAW tidak menimbulkan perselisihan di jalan Allah. Setiap pelanggaran terhadap penyatuan al-jamaah merupakan penyelisihan atau penentangan terhadap seruan kepada Allah. Kadangkala dijumpai suatu kaum yang menyangka diri mereka menyeru kepada Allah tetapi dengan mudahnya melanggar aturan dengan alasan yang tidak jelas tetapi dipandang baik. Manakala terkait pernikahan, perbuatan semacam itu semisal dengan memindahkan gerbang al-jamaah menuju sesuatu selain al-jamaah. Atau suatu kaum kadangkala memperjuangkan syariat tetapi justru menimbulkan kekisruhan di antara umat islam tanpa mengerti arah penyatuan nafs wahidah. Mereka mengacaukan proses kembali kepada Allah. Hal-hal demikian menunjukkan mereka tidak mengerti makna menyeru kepada Allah dengan bashirah.

Orang-orang yang menyeru di atas bashirah mempunyai pengetahuan terkait urusan yang mereka kerjakan, sedemikian seruan mereka akan menjadikan orang yang diseru menjadi semakin dekat kepada Allah dengan bertambahnya akhlak mulia ataupun unsur-unsur akhlak mulia. Boleh jadi pengetahuan seseorang itu sedikit tetapi dapat mengantarkan orang yang mengikutinya semakin dekat kepada Allah, maka sedikitnya itu termasuk dalam bashirah. Bila suatu seruan menjadikan orang yang diseru semakin buruk, orang tersebut sebenarnya berdosa merusak tatanan Allah, dan ia tidak di atas bashirah. Pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan yang diberikan Allah bagi hamba-Nya merupakan dosa yang akan mendatangkan kesengsaraan di bumi. Pemutusan shilaturrahmi, mencegah ishlahnya orang beriman, perusakan keberpasangan manusia, perusakan rumah tangga dan hal-hal yang merusak ketentuan-ketentuan Allah bagi manusia merupakan dosa yang merusak ketentuan tatanan dari sisi Allah.

Bersungguh-sungguh Mengikuti Bashirah

Bobot seorang mukmin dalam pandangan Allah terletak pada pengetahuannya terhadap hakikat. Mengumpulkan pengetahuan hakikat paling efektif dilakukan dengan berjihad melaksanakan bashirah tentang ketentuan Allah. Seseorang yang mengenal suatu hakikat tertentu di sisi Allah kemudian harus berjihad menata kehidupannya di bumi sesuai dengan hakikat yang dikenalnya. Sebagai gambaran, mungkin seseorang mengenal jodoh dirinya di bumi yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama. Petunjuk itu merupakan suatu bashirah apabila ia memahami manfaat yang dapat diperoleh dengan mengikuti petunjuk sesuai ketentuan-ketentuan Allah dan sesuai dengan kauniyah yang terjadi. Dengan petunjuk itu ia harus berjuang keras untuk mewujudkan penyatuan nafs wahidah tersebut.

Suatu bashirah merupakan pengetahuan dalam mengikuti perintah Allah, dan hal itu seringkali bertentangan dengan keinginan hawa nafsu dan syahwat. Misalnya bisa saja keadaan bumi orang yang berjodoh menurut bashirah sama sekali tidak ideal, tidak bisa dibayangkan sama sekali romantisme keberpasangan. Boleh jadi mereka adalah pihak-pihak yang berseteru sebelum memperoleh petunjuk jodoh, maka mereka harus berjuang untuk melakukan ishlah terlebih dahulu, kemudian menjalin shilaturrahmi, baru dapat mengenal sifat dan sikap yang asli dari masing-masing pihak tanpa tertutup oleh prasangka buruk. Usaha itu kadang harus dilakukan hingga masing-masing meyakini bahwa memang benar mereka berjodoh. Sangat banyak kemungkinan salah paham, salah informasi dan perbedaan pendapat yang bisa terjadi dalam hubungan demikian. Setiap pihak boleh jadi perlu membangun kesepahaman bersama, meluruskan kesalahan-kesalahan informasi dan persepsi dan menselaraskan langkah untuk menerima perbedaan yang mungkin akan tetap ada di antara mereka. Mungkin akan terbantu apabila setiap pihak berkeinginan untuk mengikuti bashirah mereka, tetapi resiko kesalahpahaman itu tetap membayangi.

Upaya mewujudkan bashirah ini sangat menentang tipu daya syaitan hingga para syaitan berusaha keras menghambatnya. Sekadar untuk ishlah saja, kedua pihak itu bisa dibenturkan sangat keras dengan mengobarkan perselisihan yang pernah ada atau dikobarkan perselisihan baru. Shilaturrahmi kadangkala tampak bagaikan hal yang mustahil ditempuh. Syaitan membangkitkan halangan-halangan. Halangan itu bisa dimunculkan syaitan di dalam diri masing-masing pihak ataupun orang-orang lain di masyarakatnya. Kadangkala di tingkat bashirah perjodohan-pun mereka dipermasalahkan oleh orang lain. Boleh jadi ada orang yang merasa lebih mengetahui hakikat urusan mereka dan mempermasalahkannya, sekalipun orang tersebut mungkin tidak mengetahui ketentuan dalam urusan itu. Masyarakat yang tidak berpegang pada tuntunan yang benar atau justru mengikuti takhayyul rentan berbuat demikian, bahkan kadang berbuat tanpa memperhatikan ketentuan halal atau haram. Seringkali jerih payah masing-masing pihak yang berjodoh untuk mewujudkan perjodohan mereka tidak dipertimbangkan dalam bobot kebenaran visinya. Sangat banyak halangan yang bisa dibuat oleh syaitan untuk orang yang berusaha mewujudkan langkah berdasarkan bashirah.

Ada potensi masalah internal pada pasangan demikian berupa kegamangan melaksanakan petunjuk Allah karena perselisihan masa lalu. Masalah mereka sebagai orang beriman boleh jadi bukan berupa dendam perselisihan, tetapi rasa gamang menghadapi akhlak pasangannya yang diketahui berdasar masa lalu. Syaitan banyak berperan dalam perselisihan antara individu-individu berpasangan hingga boleh jadi masing-masing individu dijadikan merasa heran dan tidak percayabahwa partnernya bisa berperilaku sedemikian buruk terhdap dirinya. Banyak prasangka yang bisa timbul dalam diri seseorang karena perlakuan buruk orang lain baik prasangka yang timbul sendiri dalam pikiran manusia ataupun prasangka yang dihembuskan syaitan, dan syaitan sangat berkepentingan dengan prasangka-prasangka manusia untuk siasat mereka. Kegamangan demikian dapat diredam dengan suatu shilaturahmi yang baik atau ta'aruf agar pasangan bisa lebih mengenal akhlak yang sebenarnya tidak berdasar persepsi yang salah atau kesalahan informasi. Tetapi upaya demikian ini juga akan dihalangi atau dibiaskan syaitan baik melalui diri masing-masing ataupun masyarakat yang buruk.

Demikian itu gambaran yang jelas tentang suatu bashirah khususnya tentang perjodohan. Bashirah itu berupa suatu visi tentang perintah Allah yang memberikan manfaat untuk menuju kemuliaan baik diri sendiri ataupun umat manusia secara keseluruhan. Banyak hal yang akan diketahui oleh orang-orang yang diberi bashirah terkait proses menuju kemuliaan berdasarkan bashirah. Bashirah perjodohan itu bukan suatu luapan keinginan syahwat atau hawa nafsu yang muncul melalui penglihatan bathin, tetapi suatu urusan yang haq dari sisi Allah untuk mewujudkan kemuliaan. Banyak orang yang memperoleh suatu penglihatan jodoh tetapi tidak mempunyai pengetahuan tentang manfaat sesuai ketentuan Allah atau bahkan tidak mengukur kehalalannya berdasarkan syariat, maka hal demikian bukanlah suatu bashirah. Manakala seseorang memperoleh bashirah, hendaknya umat tidak menganggap remeh. Tidak jarang umat menimbulkan gangguan terhadap orang yang mempunyai bashirah hingga menambah kesulitan dalam menempuh langkah mengikuti bashirah.

Dalam situasi perselisihan atau perbantahan, setiap orang harus berusaha melangkah yang terbaik. Pada dasarnya perbantahan tidak diperbolehkan terjadi di antara orang beriman. Manakala seseorang mempunyai visi perjodohan dirinya, ia boleh mengusahakan terwujudnya perjodohan itu dengan dialog manakala terjebak pada situasi yang mengarah perbantahan. Boleh jadi pihak jodohnya perlu diperjuangkan pula haknya untuk menempuh setengah bagian agamanya. Bila pihak jodohnya tidak sepakat dengan dengan visi perjodohan itu, berdialog memperjuangkan visi dalam situasi perbantahan itu tidak berguna dan tidak perlu dilakukan. Boleh jadi visi itu hanya berasal dari syahwat diri, hawa nafsu atau syaitan. Dalam kasus lainnya, usaha dialog sekalipun tampak diperlukan kadang justru meluaskan terbakarnya persoalan lain. Misalnya manakala umat seseorang dihasut untuk durhaka padanya karena persoalan visi yang diperoleh, ia berhak berjuang untuk mencegah meluasnya hasutan durhaka itu dengan dialog atau berbantah kepada penghasutnya agar tidak menambah persoalan dalam upaya mengikuti bashirahnya. Pihak-pihak yang memperoleh visi perjodohan yang sama tidak boleh menempuh langkah yang menimbulkan masalah meluasnya persoalan bagi pihak lainnya, karena itu akan merusak hubungan mereka sendiri.

Setiap orang harus berusaha mengikuti bashirahnya. Bashirah itu merupakan jalan kembali bagi dirinya kepada Allah yang layak untuk diperjuangkan. Bila seseorang berjalan untuk mewujudkan bashirahnya, akan banyak hakikat terkait urusan bashirahnya yang terbuka sekalipun jika bashirahnya itu belum atau tidak terwujud. Kadangkala jalan untuk mewujudkan bashirah terbuka setelah semua kesulitan yang ditempuh. Apabila ia telah berusaha melaksanakan bashirah dirinya, ia dapat menyeru orang lain kepada Allah dengan benar berdasarkan bashirahnya. Bila ia mengingkari bashirah jalan kehidupan dirinya, ia tidak berada di atas bashirah dan seruan itu tidak dihitung sebagai bashirah yang benar. Manakala seseorang tidak mempunyai bashirah yang benar baik karena bashirah yang keliru ataupun mengingkari bashirah yang benar, ia tidak berada di atas bashirah. Orang yang bersama Rasulullah SAW menyeru manusia kepada Allah hanyalah orang-orang yang menyeru dengan bashirah yang nyata. Bashirah yang benar itulah yang akan mengantarkan manusia untuk dekat kepada Allah.

Kamis, 24 April 2025

Bertaubat dengan Bashirah


Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW bersama orang-orang yang mengikuti menyeru umat manusia untuk kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah merupakan usaha yang harus dilakukan sepanjang kehidupan sejak di bumi hingga kelak di akhirat, menempuh perjalanan yang sangat jauh. Ada orang-orang yang menempuh jalan yang paling pendek berupa shirat al mustaqim untuk kembali kepada Allah, dan sebagian besar manusia menempuh perjalanan berliku-liku yang sangat jauh hingga mungkin banyak orang tidak mengetahui lagi apa makna kehidupan diri mereka atau tidak mengetahui jalan untuk kembali kepada Allah. Rasulullah SAW menyeru umat manusia untuk dapat menemukan jalan kembali tersebut dan menyeru untuk menempuh jalan kembali. Demikian pula orang-orang beriman yang bersama beliau SAW menyeru manusia kepada Allah.

﴾۸۰۱﴿قُلْ هٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Inilah jalan-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas bashirah, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS Yusuf : 108)

Seruan tersebut dilakukan di atas bashirah yang jelas. Rasulullah SAW mengetahui jalan yang perlu ditempuh setiap manusia untuk kembali kepada Allah apapun keadaan mereka masing-masing. Orang-orang beriman mungkin mengetahui pula secara terbatas jalan kembali kepada Allah bagi dirinya dan orang-orang yang dekat dengan mereka maka mereka ikut menyeru untuk kembali kepada Allah sesuai keadaan masing-masing, setidaknya untuk mengikuti jalan Rasulullah SAW. Seruan itu dilakukan berdasarkan suatu bashirah yang jelas, bukan suatu dorongan hawa nafsu atau tebak-tebakan bahwa apa yang perlu mereka lakukan akan mengantar mereka menemukan jalan kembali. Rasulullah SAW dan orang-orang bersama beliau SAW akan bisa menjelaskan maksud kembali kepada Allah secara tepat sesuai dengan keadaan masing-masing orang. Mungkin ada orang yang berfikir bahwa seruan kembali kepada Allah adalah mengajak mati atau bunuh diri. Tentu tidak demikian. Jawaban tentang jalan kembali kepada Allah akan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya sesuai keadaan masing-masing.

Barangkali setiap orang yang bersama dengan Rasulullah SAW mempunyai kekuatan bashirah yang berbeda-beda dalam menunjukkaan jalan kembali kepada orang lain, tetapi mereka mengetahui keberadaan jalan kembali itu untuk bersama dengan Rasulullah SAW. Seorang dengan akal yang sangat kuat akan mampu menjelaskan jalan kembali kepada orang lain dengan sangat jelas dan terperinci hingga mungkin saja orang yang mendengarkan merasa yakin untuk menempuh jalan itu karena telah menjelaskan keadaan dirinya secara khusus dengan sangat terperinci. Mungkin hamba Allah yang lain hanya dapat menjelaskan secara garis besar tentang keadaan diri mereka bersama tanpa dapat menjelaskan secara terperinci keadaan pendengar secara khusus. Sekalipun mungkin hanya dapat menjelaskan secara garis besar, apabila mereka orang yang melangkah bersama dengan Rasulullah SAW maka seseorang akan mendekat pada jalan kembali kepada Allah apabila mau mengikuti seruan hamba Allah tersebut.

Di sisi lain, ada kelompok di antara umat islam yang mengaku menyeru manusia kepada Allah bersama dengan Rasulullah SAW tetapi sebenarnya mereka tidak mengetahui jalan kembali kepada Allah bahkan untuk diri mereka sendiri. Mereka tidak mengenal sedikitpun kehendak Allah atas diri mereka kemudian tergesa-gesa melabel diri mereka sebagai ahlu sunnah, orang-orang yang bersama dengan Rasulullah SAW. Dengan mengikuti sifat dan sikap Dzulkhuwaisirah mereka mengatakan diri sebagai ahlu sunnah, sedangkan mereka tidak mempunyai bashirah sedikitpun tentang apa yang diseru oleh Rasulullah SAW. Mereka mencomot ayat-ayat dan hadits-hadits untuk diterapkan dalam tindakan tanpa membina landasan visi tentang akhlak mulia yang diserukan oleh Rasulullah SAW dalam melangkah kembali kepada Allah.

Ada pula orang-orang yang menempuh jalan kembali kepada Allah tetapi kemudian menyimpang dari jalan Allah. Mereka mengerjakan amal-amal tanpa berpegang pada firman Allah dan mungkin menganggap apa yang mereka kerjakan akan mendatangkan kebaikan bagi umat manusia, maka tetap saja mereka tidak menuju kepada Allah tetapi ke tempat yang lain. Mereka mengerjakan amal hanya mengikuti hawa nafsu sendiri atau seruan yang lain, tidak tidak berupaya melaksanakan penghambaan kepada Allah. Seruan yang lain itu berupa bisikan syaitan ataupun waham-waham yang mereka bina sendiri tanpa tuntunan kitabullah Alquran. Orang-orang yang melangkah bersama Rasulullah SAW akan selalu berusaha mengerjakan amal-amal mereka mengikuti firman Allah tidak mengikuti hawa nafsu diri mereka dan tidak mengikuti perintah syaitan. Mereka akan selalu berusaha memeriksa amal-amal dengan berpegang pada firman Allah. Mungkin ada kesalahan dalam suatu amal pada mereka, tetapi tidak terjadi karena sikap durhaka mengingkari firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti hawa nafsu atau syaitan. Bila muslimin melangkah tanpa berusaha memperoleh bashirah dari tuntunan kitabullah Alquran, mereka akan tersesat dalam perjalanan tidak kembali kepada Allah dengan selamat.

Rasulullah SAW adalah pemimpin Al-jamaah, dan orang-orang yang bersama beliau SAW mengenal kedudukan diri masing-masing dalam al-jamaah. Mereka mengenal perintah Allah bagi diri masing-masing di alam dunia sebagai bagian dari perintah Allah kepada Rasulullah SAW, dan sangat mungkin masing-masing mengetahui hubungan dirinya dengan sahabatnya hingga terbentuk al-jamaah. Demikian itulah al-jamaah. Kaum muslimin jaman ini banyak yang mendakwakan dirinya sebagai al-jamaah tetapi tidak sedikitpun mengetahui urusan dirinya di alam dunia yang datang dari sisi Allah, dan klaim demikian digunakan untuk berbuat rusuh di antara kaum muslimin. Pengakuan-pengakuan demikian tidak menunjukkan bahwa mereka adalah al-jamaah yang sebenarnya. Al-jamaah yang sebenarnya mengetahui ayat-ayat Allah di alam dunia selaras dengan ayat kitabullah, dan mengetahui urusan dirinya di alam dunia yang datang dari sisi Allah sebagai bagian dari perintah Allah kepada Rasulullah SAW.

Bashirah dan Akhlak Mulia

Bashirah menunjukkan suatu pengetahuan terhadap kebenaran yang harus dijadikan arah melangkah. Orang-orang yang bersama Rasulullah SAW mempunyai pengetahuan tentang arah langkah yang perlu ditempuh umat manusia sebagai jalan kembali kepada Allah untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Bashirah bukan berbentuk kilasan penglihatan-penglihatan mata bathin, tetapi suatu pengetahuan yang integral tentang kehendak Allah. Kilasan penglihatan mata bathin seringkali diistilahkan sebagai ‘ain atau a’yun (mata/banyak mata), merupakan bahan yang seharusnya digunakan untuk membina bashirah setelah diketahui sebagai berita yang benar. Bila kilasan itu dari hawa nafsu atau alam syaitan, kilasan itu tidak boleh digunakan untuk membangun bashirah.

Bashirah akan menjadi suatu ilmu tentang Allah. Kaum muslimin hendaknya mencari ilmu dengan sungguh-sungguh karena ilmu itu akan menjadikan akhlak mulia. Ilmu tentang Allah dan akhlak sangat berkaitan erat. Ilmu akan membentuk akhlak mulia, dan akhlak mulia akan menjadikan manusia memahami ilmu. Mustahil orang-orang berakhlak buruk bisa mengenali ketinggian nilai ilmu tentang Allah, seperti binatang babi hanya akan mengenali lumpur dan tempat kotor sebagai hal yang berharga bagi mereka, tidak akan mengenali ketinggian nilai mutiara, intan dan emas apabila diberikan kepada mereka.

Dari Anas ibn Malik r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ
Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dan orang yang meletakkan ilmu bukan pada pada ahlinya, seperti seorang yang mengalungkan mutiara, intan, dan emas ke leher babi.” (HR. Ibnu Majah)

Hadits di atas lebih ditujukan kepada orang-orang berilmu agar tidak memberikan ilmu mereka kepada orang-orang yang tidak bisa memahami nilai ilmu yang bisa diberikan. Hendaknya orang-orang yang bisa memberikan ilmu memperbaiki terlebih dahulu akhlak orang-orang yang kerkeinginan memperolehnya. Ilmu-ilmu yang telah diberikan hendaknya membentuk akhlak terlebih dahulu, dan akhlak itu menjadi landasan ilmu berikutnya. Bila sekiranya orang-orang yang akan diberi ilmu tampak akan membawa ilmunya ke tempat-tempat yang hina, hendaknya ilmu itu dicegah terlebih dahulu hingga seseorang mengerti untuk apa ilmu itu harus digunakan. Apabila ilmu diberikan kepada orang-orang yang akan menggunakannya untuk sekadar mencari gelimang harta atau mencari kedudukan di antara manusia, memberikan ilmu itu seperti mengalungkan mutiara, intan dan emas ke leher babi.

Akhlak akan menjadikan seseorang peka terhadap apa yang dibutuhkannya, termasuk ilmu. Orang-orang yang akhlaknya mulia akan peka terhadap kebenaran-kebenaran yang ada di sekitar dirinya, sedangkan orang-orang yang berakhlak buruk akan peka terhadap berbagai pengetahuan siasat untuk mendatangkan keuntungan yang sebesar-besarnya untuk dirinya. Sangat banyak tingkatan akhlak di antara manusia, tidak hanya orang yang jahat dan orang yang peka terhadap kebenaran. Ada orang-orang yang ingin menempuh jalan kembali kepada Allah tetapi tidak mampu membedakan ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang mendatangkan madlarat. Di tingkatan lain, banyak ilmu-ilmu dari kitabullah yang diabaikan oleh orang-orang yang membutuhkan ilmu karena mereka lebih menyukai ilmu-ilmu yang tidak jelas kebenarannya, karena waham mereka menjadikan mereka memandang ilmu dari kitabullah tidak terlalu bermanfaat. Kadangkala seseorang bisa merasakan nilai dari tuntunan kitabullah tetapi tidak mempunyai keberanian untuk mengikuti. Hal demikian juga menunjukkan suatu tingkat akhlak yang kurang. Setiap orang harus bisa mengenali nilai kebenaran pada ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka.

Sebagian orang mengatakan bahwa manusia akan serta merta mengetahui suatu kebaikan apabila disampaikan kepada mereka. Sebenarnya tidak selalu demikian, karena manusia akan mempunyai kecenderungan mengikuti akhlaknya. Tanpa memperbaiki akhlak, manusia akan tersesat manakala kembali kepada Allah. Orang-orang yang tersesat mungkin akan marah bila ditunjukkan kesesatan mereka berdasarkan tuntunan kitabullah, sekalipun mereka ingin kembali kepada Allah. Demikian pula orang-orang yang kurang akalnya mungkin menyangka bahwa mereka adalah orang-orang terpilih di antara manusia, sedangkan mereka memilih mengikuti waham mereka sendiri daripada mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hanya orang-orang yang ingin memperbaiki akhlak saja yang akan mendengar tuntunan kitabullah secara benar, baik untuk beramal ataupun untuk memperbaiki keadaan mereka. Keinginan kembali kepada Allah itu harus ditempuh dengan jalan yang benar yaitu memperbaiki akhlak hingga Allah berkenan dengan akhlak dirinya.

Rasulullah SAW menyeru umat manusia kembali kepada Allah berdasarkan bashirah yang jelas tentang kemuliaan yang dihamparkan Allah hingga di alam dunia. Demikian pula orang-orang yang bersama dengan Rasulullah SAW dalam al-jamaah menyeru manusia kepada Allah dengan bashirah yang jelas. Seruan mereka akan menjadikan manusia menjadi lebih mulia karena kedekatan kepada Allah, dan terwujud kehidupan yang lebih baik bagi seluruh makhluk. Ada banyak kelompok-kelompok manusia atau muslimin yang mengatakan bahwa mereka menyeru kepada Allah tetapi mereka tidak mempunyai bashirah yang mampu menunjukkan jalan menuju kemuliaan. Sebagian seruan mereka menjadikan manusia bodoh dalam memahami tuntunan kitabullah atau bahkan kehilangan kemampuan menggunakan akal untuk memahami tuntunan. Hal demikian bukanlah seruan kepada Allah. Seruan kepada Allah akan menjadikan manusia mengenal nilai-nilai kemuliaan yang akan mengantarkan manusia untuk dekat kepada Allah.

Selasa, 22 April 2025

Mengikuti Langkah Rasul Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Dalam kehidupan dunia, ada banyak jalan kehidupan yang ditempuh oleh manusia. Di antara jalan-jalan yang ditempuh manusia, ada suatu bentuk jalan kehidupan yang merupakan jalan yang lurus untuk kembali kepada Allah. Sebagian besar manusia belum mampu mengenal jalan kehidupan yang ditentukan bagi dirinya. Seseorang dikatakan mengenal shirat al-mustaqim apabila ia mengenal amanah Allah dalam kitabullah Alquran yang menjadi tugas bagi dirinya. Kaum muslimin diperintahkan untuk mengikuti shirat al mustaqim, dan diperintahkan pula untuk meninggalkan jalan-jalan yang lain karena akan mencerai-beraikan mereka dari jalan Allah. Bila muslimin mengikuti shirat al-mustaqim dari orang-orang yang mengenalnya, ia akan menemukan al-jamaah.

Perintah mengikuti shirat al mustaqim dan meninggalkan jalan-jalan yang lain berlaku apabila seorang muslim telah mengetahui kejelasan benarnya petunjuk yang datang kepada mereka. Setiap muslim harus berusaha untuk bersegera memahami kebenaran petunjuk yang disampaikan kepada mereka, dan kemudian mengikuti jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang mengikuti kebenaran tidak berlama-lama dengan kebodohan diri mereka sendiri.

﴾۵۱۱﴿وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa dalam urusan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisaa’ : 115)

setiap orang harus berusaha untuk mengikuti langkah para rasul dan orang-orang beriman setelah memperoleh kejelasan petunjuk yang mereka ikuti, tidak berlama-lama dalam kebodohan. Berlama-lama dalam kebodohan sendiri dalam banyak kasus menunjukkan keadaan yang tidak baik. Boleh jadi orang demikian merupakan orang-orang yang tidak menggunakan akal atau ia sebenarnya adalah orang kafir. Seandainya setiap manusia menggunakan akalnya dengan baik, ia akan mudah memahami kebenaran yang disampaikan oleh para rasul Allah. Usaha memahami merupakan usaha yang ditentukan secara intrinsik diri manusia, tidak dipengaruhi oleh keadaan luar, tidak seperti usaha yang bisa diwujudkan dari pemahaman bisa jadi sangat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan orang lain, tidak sepenuhnya ditentukan keadaan internal. Karena itu, berlama-lama tidak memahami kebenaran yang disampaikan oleh rasul merupakan pertanda keadaan yang tidak baik pada diri seseorang atau suatu kaum.

Manakala seseorang menemukan rasul atau orang-orang beriman yang dapat menjelaskan petunjuk-petunjuk Allah dengan benar, hendaknya mereka bersegera untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh rasul dan orang-orang beriman yang bersama rasul tersebut, tidak terus menerus mengikuti langkah kaum selain rasul dan orang beriman tersebut. Yang dimaksud orang beriman pada ayat di atas adalah orang-orang yang benar-benar mengikuti langkah rasul Allah dengan benar dalam sebuah jihad yang jelas berlandaskan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka memahami tuntunan yang mereka ikuti dalam jihad dengan pemahaman yang benar tidak menyimpang, dan apa yang mereka perjuangkan merupakan hal-hal yang dapat dimengerti kesesuaiannya dengan kauniyah yang terjadi.

Langkah rasul dan orang beriman adalah langkah yang diwarnai dengan kejelasan karena Allah menurunkan al-bayaan kepada mereka, yaitu suatu penjelasan tentang ayat-ayat yang saling berkaitan antara ayat kauniyah dan ayat kitabullah. Dengan al-bayaan, orang beriman memahami peristiwa kauniyah pada semesta mereka sesuai dengan tuntunan ayat-ayat kitabullah. Keduanya adalah ayat Allah yang saling berkaitan, yaitu ayat kitabullah sebagai hakikat dari ayat kauniyah yang terjadi. Langkah orang beriman merupakan amal-amal yang terwujud dari pengetahuan hakikat terkait hal-hal yang terjadi pada semesta mereka. Rasul Allah memimpin orang-orang beriman dalam memahami ayat-ayat Allah sesuai dengan kehendak Allah, dan mereka melakukan amal-amal berdasarkan pemahaman tersebut dalam bentuk sesuai keadaan masing-masing.

Langkah orang beriman adalah langkah mereka bersama rasul. Apabila mereka hanya mengikuti waham dan keinginan mereka sendiri, langkah mereka itu tidak dihitung sebagai langkah orang beriman, tanpa menggolongkan bahwa mereka kafir. Kadangkala orang beriman melaksanakan sesuatu yang tampak bersama dengan rasul tetapi tidak berusaha untuk benar-benar memahami makna dari tuntunan rasul tersebut, maka amal demikian hanya terlahir dari hawa nafsu meskipun tampak bersesuaian dengan amal yang ditentukan. Orang-orang munafiq atau orang yang terhinggapi penyakit nifaq seringkali melakukan perbuatan demikian, karena mereka menginginkan terpandang di antara manusia dengan amal-amal. Mereka tidak akan memperoleh al-bayaan untuk langkah-langkah mereka sekalipun amal itu sesuai dengan keadaan kauniyah dan tuntunan rasul. Orang-orang yang beriman akan mengalami kejumudan dalam melaksanakan amal yang demikian karena tidak memperoleh kebaikan bagi bathin mereka dalam amalnya, sedangkan orang munafiq akan memandangnya baik-baik saja. 

Orang-orang beriman mungkin tidak menguasai sepenuhnya pengetahuan rasul Allah, tetapi mereka tidak mempunyai keinginan sedikitpun untuk meninggalkan ajaran rasul. Manakala mengerjakan suatu amal, mereka berusaha memahami maksud amal mereka sesuai dengan yang diajarkan rasul, tidak ingin mengerjakan agenda diri mereka sendiri yang tidak mempunyai landasan dari tuntunan Rasulullah SAW. Bila rasul memperingatkan kesalahan yang mereka lakukan, mereka akan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi hingga sesuai dengan langkah yang ditunjukkan rasul, tidak bersikap merasa lebih pandai dan lebih mengetahui keadaan daripada rasul. Manakala seseorang tidak bersikap demikian, ia tidak termasuk orang beriman yang layak untuk diikuti langkahnya sebagaimana langkah Rasulullah SAW.  

Setiap orang hendaknya berusaha menemukan jalan yang ditempuh para rasul Allah dan orang-orang beriman yang bersama dengan mereka. Jalan itu adalah jalan yang terang penuh dengan penjelasan tentang makna kehidupan. Apabila mereka telah menemukan jalan itu, hendaknya mereka ikut melangkah bersama dengan orang-orang beriman yang mengikuti langkah tersebut. Mungkin ada kesalahan-kesalahan dalam langkah yang dilakukan orang-orang beriman maka hendaknya mereka bersabar dan berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak meninggalkan langkah itu. Apabila ia bisa memberikan peringatan terhadap kesalahan orang beriman, hendaknya ia memberikan peringatan agar orang beriman selamat. Apabila tidak mampu, kesalahan itu tanggungan orang-orang yang melakukannya. Hendaknya ia berusaha untuk memberikan petunjuk dari suatu kebaikan yang diketahuinya manakala melangkah di jalan Allah agar memberikan manfaat kepada orang beriman lainnya.

Bila seseorang tidak mengikuti langkah rasul dan langkah orang beriman setelah memperoleh kejelasan dari petunjuk Allah, Allah tidak akan menjadikannya sebagai orang sengsara di dunia, tetapi ia akan menjadi ahli neraka kelak di akhirat. Ia mungkin akan menjadi orang yang menguasai urusan yang diinginkannya di alam dunia, tetapi kelak di akhirat akan dimasukkan sebagai ahli neraka.

Memohon Perlindungan Ketika Membaca Kitabullah

Pada masa tertentu seseorang mungkin tidak menemukan rasul atau orang-orang beriman yang bersama dengan rasul Allah yang dapat menjelaskan petunjuk dengan benar. Bukan tidak ada, tetapi ia tidak mudah menemukannya. Tidak semua penjelasan yang ditemukan merupakan penjelasan yang benar tentang petunjuk Allah walaupun penjelasan-penjelasan itu dilakukan dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Ada suatu kelompok yang selama ratusan tahun berjuang untuk memurnikan agama tanpa membuat umat islam dapat memahami kebaikan dari langkah-langkah yang mereka lakukan, dan sebenarnya mereka sendiri tidak memahami kebaikan yang mereka perjuangkan kecuali karena waham yang dibangun sendiri. Mereka memperjuangkan sesuatu yang telah dijaga Allah kemurniannya dan Allah tidak memerintahkan mereka untuk menjaga. Mereka menyimpang dalam memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengerti pokok ajaran Rasulullah SAW hingga upaya mereka mendatangkan fitnah bagi agama Allah. Mereka adalah kaum khawarij.

Kaum muslimin harus memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan sekalipun sedang membaca kitabullah Alquran. Kitabullah Alquran sendiri merupakan perkataan yang paling benar tanpa suatu kebathilan sedikitpun di dalamnya, tetapi di dalam diri manusia terdapat tempat duduk bagi syaitan yang dapat membelokkan makna yang diperoleh dari pembacaan seseorang terhadap kitabullah. Manakala seseorang membaca tanpa keikhlasan yang memadai, syaitan dapat membelokkan pemahaman yang timbul tanpa membengkokkan lafadz dari kitabullah Alquran.

﴾۸۹﴿فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS An-Nahl : 98)

Perintah di atas tidak boleh menimbulkan sedikitpun keraguan dalam hati para hamba Allah terhadap kebenaran kitabullah Alquran. Permohonan perlindungan dari bisikan syaitan itu dilakukan terkait dengan diri mereka masing-masing, bukan terkait dengan kitabullah Alquran sama sekali. Setiap kekeliruan dalam pembacaan Alquran muncul dari diri manusia sepenuhnya sama sekali bukan dari Alquran. Syaitan menggunakan celah dalam diri manusia untuk menyelipkan kekacauan dalam makna dari kitabullah. Apabila manusia tidak memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk manakala membaca kitabullah Alquran, maka ia tidak terlindungi dari upaya syaitan menyelipkan makna yang keliru dalam pembacaannya terhadap kitabullah Alquran.

Terkait dengan permohonan perlindungan tersebut, ada niat yang harus diperhatikan setiap hamba Allah sebelum membaca kitabullah Alquran, dan ada tindakan yang harus diperhatikan setelah membaca kitabullah Alquran. Niat setiap hamba Allah dalam membaca kitabullah harus ikhlas untuk meningkatkan kemuliaan akhlak mengikuti kitabullah dengan terbinanya sifat-sifat rahman dan rahim. Adapun suatu pemahaman yang timbul setelah membacanya harus diserahkan kepada Allah dengan bertawakkal, tidak menganggap pemahamannya adalah pemahaman sempurna dan mutlak kebenarannya, disertai pula dengan berharap Allah meridhai pemahaman yang diperoleh.

Pemahaman terbaik yang diperoleh dari pembacaan kitabullah Alquran harus diikuti oleh setiap hamba Allah tanpa meragukan petunjuknya sedikitpun selama tidak menyimpang dari lafadz kitabullah. Keyakinan itu hendaknya disertai sikap bahwa mungkin pemahamannya bukanlah pemahaman sempurna atau paling sempurna. Tidak boleh muncul suatu keraguan terhadap suatu pemahaman dari Alquran selama tidak menyimpang dari lafadz Alquran. Syaitan bisa membelokkan pemahaman yang terbentuk dengan pemahaman yang tidak benar-benar berakar pada lafadz kitabullah, atau dengan suatu pemahaman yang benar-benar menyimpang. Hendaknya para hamba Allah tidak membiarkan pemahaman yang tumbuh tanpa benar-benar terkait dengan kitabullah Alquran tanpa memeriksa nilai-nilai yang tumbuh dari pemahaman yang tumbuh itu. Kadang pemahaman yang belum benar-benar berakar tidak keliru maknanya, tetapi membutuhkan akal lebih kuat untuk mengerti keterkaitannya. Kadang pemahaman demikian dijadikan pijakan syaitan untuk menyimpangkan manusia sedikit demi sedikit. Karena sifat demikian itu, Allah memerintahkan kepada manusia untuk memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan bahkan ketika mereka akan dan sedang membaca kitabullah Alquran.

Setiap orang harus bertawakkal kepada Allah setelah mencari petunjuk kitabullah Alquran. Para hamba Allah tidak boleh merasa gamang dengan petunjuk yang diterima dari kitabullah Alquran, tanpa menutup mata bahwa dirinya mungkin saja berbuat salah. Setiap kesalahan itu berasal dari dirinya, bukan dari kitabullah Alquran maka hendaknya ia bertawakkal. Tawakkal dilakukan dengan berharap agar Allah memberikan kekuatan untuk mengikuti kebenaran yang bisa ia peroleh dari pembacaan kitabullah Alquran, dan berharap pula Allah menunjukkan kesalahan yang mungkin terjadi pada pemahamannya dan membetulkan kesalahan itu. Manakala seseorang merasa gamang dalam upaya memahami kitabullah Alquran, syaitan sebenarnya menjebak dirinya dalam kegamangan itu. Setiap orang harus membangun keyakinan dengan kebenaran Alquran walaupun mungkin hanya sedikit dan berharap memperoleh kebenaran yang lebih baik dan besar dari Alquran dengan sikap tawakkal.

Setiap orang harus meyakini semua pemahaman yang selaras dengan kitabullah Alquran. Bila seseorang tidak mempunyai keyakinan terhadap pemahaman yang selaras dengan lafadz kitabullah, ia akan kehilangan jalan untuk mencari petunjuk karena kitabullah Alquran adalah petunjuk yang paling benar. Bila seseorang merasa yakin bahwa pemahamannya sempurna atau paling sempurna, syaitan akan menutup akalnya untuk memahami kitabullah dengan benar. Segala pemahaman yang muncul dari pembacaan kitabullah harus ditimbang nilainya berdasarkan kebaikan. Semua pemahaman yang diterima hendaknya digunakan untuk berbuat kebaikan, tidak boleh digunakan untuk berbuat aniaya terhadap orang lain. Sekalipun benar, bila digunakan untuk perbuatan aniaya maka seseorang telah terjebak oleh tipuan syaitan. Semua pemahaman dari kitabullah Alquran yang mendatangkan kebaikan harus digunakan untuk melangkah untuk kebaikan karena itu termasuk petunjuk, sedangkan pemahaman yang mendatangkan akibat buruk datang dari syaitan. Mereka memperoleh pijakan pada keburukan diri seseorang. Dalam godaan syaitan ini, sangat banyak orang memandang pemahaman yang buruk itu sebagai suatu kebaikan karena syaitan berusaha menjadikan setiap orang memandang indah keburukan.

Sikap demikian juga berlaku manakala mengikuti orang lain. Semua pengajaran yang dilakukan mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dengan tujuan yang baik merupakan kebaikan, dan semua pengajaran yang bertentangan dengan kitabullah Alquran merupakan kebathilan. Setiap orang harus mempunyai keyakinan terhadap tuntunan kitabullah Alquran, dan berhati-hati terhadap bisikan syaitan melalui kelemahan dalam diri manusia baik dirinya ataupun orang lain. Syaitan benar-benar berusaha menyelipkan keburukan melalui hawa nafsu manusia dan menampakkan indah pada pandangan manusia. Apabila orang yang diikuti mempunyai iktikad tidak baik, ajaran yang tampak baik itu bukanlah petunjuk yang menjelaskan karena akan menjatuhkan manusia. Mereka akan berbuat kerusakan di antara manusia bahkan mungkin saja merusak di dalam kalangan muslimin sendiri. Kaum khawarij menjadi contoh bagaimana syaitan menggunakan ayat-ayat kitabullah untuk merusak muslimin dengan berpijak pada hawa nafsu beragama. Selain cara itu, kadangkala syaitan menipu orang-orang yang beriktikad baik melalui kebodohan manusia, sedemikian bahwa orang yang berkeinginan baik itu melakukan sesuatu yang diinginkan syaitan dan merasa melaksanakan suatu perintah Allah. Setiap orang harus berpegang teguh pada tuntunan kitabullah Alquran dengan memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.