Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti Rasulullah SAW akan mendatangkan kemakmuran di bumi. Di antara langkah pemakmuran di bumi adalah membagikan harta-harta milik orang-orang yatim yang berhak atas harta itu.
﴾۲﴿وَآتُوا الْيَتَامَىٰ أَمْوَالَهُمْ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَىٰ أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا
Dan berikanlah kepada anak-anak yatim harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar. (QS An-Nisaa : 2)
Manakala seseorang belum mengenal nafs dirinya, ia sebenarnya merupakan yatim yang tidak mempunyai pembimbing dalam ibadah kepada Allah. Bila seseorang mengenal nafs dirinya, ia akan mengenal pembimbing yang menuntunnya dalam ibadah kepada Allah, maka ia tidak lagi menjadi yatim. Pembimbing berupa nafs wahidah itu akan memperkenalkan seseorang terutama pada hakikat-hakikat yang digelar Allah pada semesta dirinya, maka ia akan mengenali hakikat-hakikat itu. Seringkali nafs itu memberikan pula petunjuk praktis dalam kehidupan, tetapi fungsi utama adalah memperkenalkan hakikat. Hadirnya nafs wahidah sebagai pembimbing jalan ibadah kepada Allah itu akan menjadikan seseorang mengenali hakikat-hakikat yang digelar Allah bagi dirinya.
Sebenarnya hadirnya nafs wahidah itu juga mendatangkan suatu konsekuensi yang harus ditunaikan, yaitu ia berkewajiban untuk membagi harta kepada para yatim yang ada di sekitar dirinya, terutama dalam bentuk pengetahuan kebenaran. Memberikan harta kepada para yatim harus dilakukan terutama harta bathiniah berupa pengetahuan sebagai wadah untuk menampung harta-harta bendawiah yang akan mengikutinya. Pengetahuan yang seharusnya diberikan adalah pengetahuan-pengetahuan yang akan menjadikan seseorang dapat mewujudkan amal shalih sesuai dengan dirinya dan sesuai dengan kebutuhan umat untuk ruang dan jamannya. Hal demikian akan mendatangkan pemakmuran bagi umat manusia seluruhnya, terutama apabila amal-amal shalih tersebut dilakukan secara berjamaah dimana setiap orang melakukan sinergi dengan orang lain dalam suatu kerangka mewujudkan kehendak Allah untuk ruang dan jaman.
Thayib dan Khabits dalam Kebenaran
Kehidupan di bumi merupakan bentuk kehidupan yang paling rumit di antara seluruh kehidupan di alam semesta. Allah menggelar sangat banyak ayat-ayat-Nya di bumi, tetapi syaitan juga mencampurkan hal-hal yang bathil menyertai hakikat-hakikat yang digelar Allah. Di dalam diri manusia sendiri, setiap orang harus berurusan dengan keinginan syahwatiah, kehormatan hawa nafsu dan keinginan membentuk akhlak mulia. Seorang manusia seringkali berurusan dengan hakikat-hakikat yang besar dalam kehidupan sehari-hari tetapi ia tidak dapat melihat hakikat yang ada di hadapannya, maka ia mensikapi apa yang hadir baginya hanya dengan mengikuti hawa nafsunya dan keinginan syahwatian tanpa memahami hakikat yang digelar di hadapannya, atau bahkan kadangkala seseorang mengikuti kebathilan-kebathilan dari syaitan yang mendorongnya untuk berbuat kufur.
Manakala diperkenalkan kepada hakikat-hakikat yang ada di sekitarnya, setiap orang harus berpegang teguh pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seluruh hakikat yang mungkin ada bagi setiap orang itu benar-benar telah disebutkan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa tertinggal sedikitpun. Tidak ada hakikat yang terbuka kepada seseorang tanpa suatu landasan dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW kecuali hanya diada-adakan saja. Seluas-luasnya pengetahuan hakikat yang dibukakan kepada diri seseorang, keseluruhan pengetahuan itu akan berakar pada suatu ayat tertentu dari kitabullah Alquran tidak ada hal yang baru. Suatu hakikat yang bersifat baru merupakan kebathilan.
Terbukanya suatu hakikat kepada diri seseorang kadangkala tidak bersifat murni. Ada pengetahuan-pengetahuan yang bersifat buruk (khabits) yang dapat merusak pengetahuan hakikat yang diterima. Manakala suatu pengetahuan tercampuri dengan keinginan-keinginan dunia, pengetahuan itu bisa menjadi suatu pengetahuan yang buruk (khabits). Demikian pula pengetahuan-pengetahuan yang tercampuri dengan tipuan-tipuan syaitan akan menjadi pengetahuan yang buruk (khabits). Setiap orang yang tidak yatim hendaknya memperhatikan hal ini, kemudian memberikan harta-harta para yatim secara menyeluruh dengan tidak mencampurkan pengetahuan yang thayib dengan pengetahuan yang khabits. Manakala seseorang menahan suatu harta pengetahuan dari pemiliknya atau mencampurkan harta pengetahuan yang thayib dengan yang khabits, maka ia telah melakukan suatu dosa yang besar.
Para yatim hendaknya dibina dengan pengetahuan yang thayib melalui pembinaan pikiran yang benar maupun pembinaan akal yang benar. Bila pikiran tidak dibina dengan benar, akal tidak akan mempunyai tempat berpijak. Pikiran seseorang harus dapat memahami fenomena kauniyah dengan benar semisal memahami fenomena matematika dengan jalan berpikir matematis. Banyak fenomena kauniyah yang terjadi di semesta, bukan hanya fenomena matematika, dan setiap fenomena itu harus dapat dipahami oleh dengan logika yang sesuai. Tidak semua fenomena harus dipahami seseorang, tetapi semua yang dapat dipahami seseorang harus dipahami dengan logika yang sesuai. Pikiran yang benar itu akan menjadi landasan dalam membina akal memahami kehendak Allah. Bila akal dipaksakan untuk memahami kebenaran tanpa menggunakan pikiran, pemahaman terhadap hakikat-hakikat dari sisi Allah yang terbentuk akan menyimpang tidak bisa memahami dengan benar.
Harta pengetahuan yang harus diberikan kepada para yatim itu mencakup kumpulan pengetahuan pikiran maupun pengetahuan akal dalam memahami kehendak Allah. Pembagian harta pengetahuan itu harus mengarahkan agar para penerima dapat menyatukan harta pengetahuan pikiran dengan pengetahuan akal. Suatu pembinaan yang tepat akan menjadikan manusia menyatu di tingkat pikiran maupun akal. Kadangkala akal membimbing pikiran seseorang dalam melihat masalah secara lebih tepat berdasarkan suatu tuntunan tertentu, baik berdasarkan kitabullah ataupun suatu petunjuk dalam hati secara khusus. Pembinaan yang buruk dapat memisahkan pikiran dengan akal atau justru mematikan pikiran dan akal hingga manusia berjalan tanpa arah dalam kehidupan dunia. Kadangkala manusia menjadi penentang terhadap tuntunan Allah, atau menjadi bodoh dalam memahami ayat-ayat Allah.
Setiap manusia harus diberi harta pengetahuan baik pengetahuan tentang keadaan aktual yang terjadi di sekitarnya ataupun pengetahuan yang bersifat abadi berupa hakikat dari sisi Allah. Pengetahuan-pengetahuan itu akan menjadi wadah bagi rezeki-rezeki lahiriah mereka. Pengetahuan dalam hal ini tidak terbatas pada wacana, tetapi pengetahuan harus menjadi akhlak maka pengetahuan itu menjadi wadah rezeki. Manakala seseorang mempunyai pengetahuan yang benar sesuai dengan ruang dan jaman mereka, mereka akan bisa mengerjakan amal-amal yang mendatangkan kemakmuran hingga mereka memperoleh imbalan duniawi yang sesuai dengan apa yang dapat mereka berikan. Pengetahuan hakikat akan menjadikan mereka mengetahui nilai-nilai yang harus dicapai dengan amal yang harus dilakukan, baik nilai secara duniawi ataupun nilai kemuliaan yang akan diberikan kepada diri mereka dari sisi Allah.
Rezeki Bagi Hamba Allah
Allah menurunkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya dengan ukuran yang ditentukan. Setiap orang mempunyai potensi rezeki yang sangat besar, tetapi rezeki bagi para hamba diturunkan secara tertakar dengan ukuran yang ditentukan, tidak diturunkan seluruh kadarnya bagi para hamba. Hal ini mungkin sedikit berbeda dengan penurunan rezeki bagi orang-orang kafir yang menginginkan dunia tanpa keinginan untuk kembali kepada Allah. Boleh jadi Allah memberi perintah untuk menurunkan rezeki bagi mereka sesuai dengan keinginan dan usaha mereka, tidak memberikan takaran yang terbaik yang membawa kebaikan bagi mereka.
﴾۷۲﴿ وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ
Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat (QS Asy-Syuuraa : 21)
Ukuran itu secara umum ditakar dari wadah yang tersedia pada diri seorang hamba, tetapi rejeki yang diturunkan tidak selalu sesuai dengan wadah yang tersedia. Manakala seorang hamba mempunyai wadah yang cukup untuk rezeki yang besar, Allah boleh jadi menurunkan pula rezeki yang besar atau tetap menahan sebagian rezeki mereka tidak memenuhi wadah yang tersedia. Bila wadah yang tersedia kecil, Allah menurunkan rezeki dalam jumlah yang kecil agar tidak sia-sia. Manakala rezeki kepada seorang hamba diturunkan secara lapang tanpa melihat wadah yang tersedia, tentulah para hamba Allah itu akan melampaui batas di muka bumi.
Seorang hamba Allah tidak akan dibiarkan untuk berbuat melampaui batas, karena itu rezeki bagi mereka diturunkan secara terbatas. Manakala mereka tidak mengetahui untuk apa rezeki yang diturunkan, Allah tidak menurunkan rezeki itu untuk hamba tersebut. Boleh jadi Allah memberikan kelonggaran-kelonggaran untuk beberapa hamba-Nya manakala mereka tidak suka dibatasi, tetapi akan diketatkan untuk hamba-hamba yang mempunyai keinginan lebih kuat untuk mentaati-Nya. Boleh jadi Allah hanya menurunkan rezeki yang sedikit untuk seseorang yang telah membentuk wadah yang besar karena belum memperoleh kesempatan untuk menggunakan rezeki sesuai dengan peruntukannya. Banyak hal yang mempengaruhi besarnya rezeki yang diturunkan.
Takaran rezeki yang diturunkan Allah kepada hamba-hamba-Nya bisa menjadi ukuran tingkat pemakmuran yang dilakukan oleh orang-orang beriman. Manakala keadaan umat berantakan, rezeki untuk sebagian hamba-hamba Allah itu bisa saja terhambat. Keterhambatan itu terjadi kadang disebabkan keadaan umat bukan karena kesalahan dari hamba-hamba yang taat. Orang-orang yang taat kepada Allah bisa saja menjadi golongan yang paling sulit karena keadaan yang buruk, bahkan kadangkala mereka terdzalimi manakala orang-orang tidak merasa mendzalimi. Hal demikian bukan sesuatu yang bersifat hanya emosional, tetapi sungguh-sungguh terjadi karena Allah berkehendak menjadikan mereka sebagai orang-orang yang menanggung permasalahan umat. Mereka adalah orang-orang yang harus memahami persoalan umat dari sudut pandang hakikat dari sisi Allah dan harus mengentaskan permasalah umat dengan pengetahuan yang diberikan. Manakala seseorang yang harus menanggung persoalan umat tetap terdzalimi, sebenarnya umat manusia belum melakukan pemakmuran bumi.
Sebagai ilustrasi, kadang suatu kaum berusaha keras untuk melakukan amal-amal untuk menghasilkan pemakmuran tetapi hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan apa yang telah mereka usahakan, dan mereka tidak mengetahui permasalahan yang menghambat usaha mereka. Kadangkala keadaan justru memburuk. Hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak mengetahui persoalan umat. Sebenarnya mungkin saja ada orang-orang yang mengetahui persoalan umat di antara kaum tersebut tetapi justru mungkin mereka anggap sebagai orang-orang yang lemah. Mungkin anggapan lemah itu tampak benar karena ia harus menanggung permasalahan umat. Bila kaum tersebut mau melangkah sesuai dengan arahan orang-orang yang menanggung masalah umat, mereka akan mengetahui jalan keluar yang harus mereka tempuh. Akan tetapi seringkali umat lebih percaya kepada orang-orang yang lebih mementingkan penampilan diri mereka dalam pandangan umat daripada kepada orang yang benar-benar menanggung persoalan umat karena penampilan orang yang tampak buruk.
Untuk memperoleh pemakmuran, masyarakat hendaknya memperhatikan para penanggung persoalan mereka dan memperhatikan nasihatnya. Orang yang menanggung persoalan umat adalah orang yang mengetahui persoalan mereka dari sudut pandang hakikat sedangkan mereka mungkin tampak sebagai orang yang paling sulit keadaannya di antara suatu kaum. Nasihat mereka tidak boleh dinilai dengan cara pandang hawa nafsu, tetapi harus ditimbang berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, manusia akan tertipu dengan keadaan yang ada. Kadangkala seseorang merasa sebagai penanggung persoalan umat tanpa mempunyai pengetahuan tentang persoalan umat. orang demikian bukanlah orang yang benar-benar menanggung persoalan umat. Untuk memperoleh kemajuan dalam pemakmuran, setiap orang beriman harus memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW serta nasihat-nasihat orang yang menanggung persoalan mereka, karena nasihat mereka akan menjadikan masyarakat mengerti persoalan umat dari sudut pandang hakikat.
Bila masyarakat tidak berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, pemakmuran bumi akan sulit diperoleh. Orang yang memahami persoalan umat akan merasa senang bila menemukan orang-orang yang membutuhkan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala mereka harus berhadapan dengan manusia yang berharap petunjuk Allah tanpa berpegang pada kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, mengikuti Alquran dan sunnah yang sesuai dengan mereka tetapi memilih petunjuk mereka sendiri manakala kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bertentangan dengan petunjuk mereka. Hal-hal demikian berpengaruh besar dalam proses pemakmuran bumi, hingga kadang justru membalikkan arah proses. Kadangkala orang yang mengetahui persoalan umat melihat bahaya besar datang maka mereka memperingatkan manusia agar terhindar tetapi manusia memandang peringatan mereka secara keliru. Kadangkala mereka melihat suatu kebaikan yang bisa dilaksanakan manusia agar terwujud kebaikan maka mereka menyeru manusia untuk melaksanakannya tetapi manusia mempunyai arah usaha mereka sendiri. Manakala umat manusia tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, proses pemakmuran bumi akan sulit terwujud.
Pembinaan pengetahuan umat sebagai pembagian harta yatim harus dilakukan sedemikian akhlak mereka terbentuk sebagai wadah rezeki yang memadai. Selain itu, setiap orang harus dibina untuk dapat menjadi bagian dari al-jamaah yang mendukung urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman dirinya, yaitu melaksanakan urusan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang terkait dengan ruang dan jamannya. Dengan pembinaan demikian kunci-kunci pemakmuran bumi akan terbuka. Bila suatu umat hanya mengikuti pendapat mereka sendiri tanpa berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, wadah yang terbentuk akan keliru hingga mungkin tidak dapat digunakan sebagai wadah rezeki. Dengan pengetahuan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan terbentuk pengetahuan yang thayib, sedangkan pendapat sendiri tanpa sandaran pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah pengetahuan yang khabits. Pembinaan pengetahuan itu harus diberikan secara sempurna agar manusia mencapai akhlak yang paling mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar