Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW dapat dilakukan setiap muslim dengan membina diri sebagai seorang yang adil dalam melakukan amal-amal, yaitu beriman dan tidak mencampurkan kedzaliman dengan iman mereka. Keadaan ini merupakan bagian dari akhlak mulia yang harus diusahakan oleh orang-orang beriman.
﴾۲۸﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al-An’aam : 82)
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kedzaliman memperoleh keamanan dan merupakan orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Mereka memperoleh keamanan dalam kehidupan dunia dan akhirat, dan mereka memperoleh petunjuk Allah untuk kehidupan diri mereka, baik dalam kehidupan dunia maupun kehidupan di akhirat.
Di antara keamanan yang bisa diperoleh di dunia adalah mereka tidak tersentuh oleh makar-makar yang dibuat oleh syaitan-syaitan yang disembah oleh orang-orang musyrik manakala orang-orang musyrik bersama syaitan mereka berusaha mencelakakan. Keamanan yang mereka peroleh di akhirat di antaranya mereka tidak tersentuh oleh api yang membersihkan kedzaliman yang ada.
Mereka adalah orang-orang yang tergolong sebagai orang yang mendapatkan petunjuk, yaitu mendapatkan petunjuk yang benar. Manusia sangat membutuhkan petunjuk untuk memperoleh jalan kehidupan yang selamat. Dalam kehidupan dunia, sangat banyak bentuk petunjuk yang dapat muncul kepada manusia, baik melalui kauniyah yang terjadi, melalui hawa nafsu atau pikiran, petunjuk melalui hati dan sebagainya. Sangat banyak petunjuk Allah yang diturunkan kepada manusia melalui berbagai media yang tersedia. Keadaan setiap manusia akan mempengaruhi cara mereka dalam memahami petunjuk yang datang, dan setiap manusia dapat memahaminya petunjuk melalui berbagai media petunjuk yang diikutinya secara salah atau benar. Orang-orang yang membina diri sebagai orang beriman dan tidak mencampur keimanannya dengan kedzaliman akan memahami petunjuk yang datang dengan benar.
Mengenal Allah Menghindari Syirik
Keadaan demikian merupakan keadaan yang sangat baik bagi setiap orang beriman. Tidak semua orang beriman berada dalam keadaan demikian, bahkan di zaman Rasulullah SAW kaum beriman merasa susah manakala ayat tersebut diturunkan. Tetapi hendaknya setiap orang beriman selalu berkeinginan untuk mencapai keadaan itu. Untuk mencapai keadaan demikian, setiap orang hendaknya berusaha sungguh-sungguh untuk menghindari perbuatan syirik, karena kesyirikan merupakan kedzaliman yang besar.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata : ”Ketika turun ayat (Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman) [Surah Al-An'am: 82], hal itu membuat para sahabat Rasulullah SAW susah dan mereka bertanya, ”Siapakah di antara kita yang tidak mencampuradukkan keimanan dengan kedzaliman?” Maka Rasulullah SAW bersabda, ”Ini bukan tentang itu, apakah kalian tidak mendengar perkataan Luqman: ("Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.") (Shahih Bukhari 8/ 144 no. 4629)
Dari kisah di atas, tergambar bahwa para sahabat merasa gundah dengan keadaan diri mereka karena merasa masih mencampurkan keimanan mereka dengan kedzaliman-kedzaliman. Perasaan demikian merupakan sikap jujur dari para sahabat, tidak memandang diri mereka sendiri sebagai orang yang suci. Mereka bertanya kepada diri sendiri, adakah seseorang di antara mereka yang tidak berbuat kedzaliman sedangkan mereka menyangka setiap orang tentu tidaklah bersih dari kedzaliman. Rasulullah SAW tidak menyangkal persangkaan mereka, tetapi menolak persangkaan para sahabat tentang kedzaliman yang dimaksud. Rasulullah SAW memberikan ketenangan kepada mereka bahwa kedzaliman itu adalah sebagaimana disebutkan pada ayat luqman 82.
﴾۳۱﴿وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar". (QS Luqman : 13)
Ayat di atas mengungkap metode pembinaan Luqman kepada anaknya, bahwa tujuan pembinaan adalah agar seseorang dapat beribadah kepada Allah tanpa tercampur dengan kesyirikan sedikitpun. Sesungguhnya kesyirikan merupakan kedzaliman yang besar. Campuran kedzaliman terhadap iman yang harus dihindari oleh setiap orang beriman adalah kedzaliman yang merupakan bagian dari kesyirikan. Penjelasan Rasulullah SAW dengan cara demikian itu menunjukkan bahwa kedzaliman dan kesyirikan harus dilihat secara mendasar sebagai sesuatu yang terkait erat. Beliau tidak mengubah redaksi kedzaliman dengan kesyirikan.
Keimanan berfungsi agar seseorang dapat beribadah dengan benar kepada Allah berdasar keikhlasan, bersih dari campuran-campuran kesyirikan dan kedzaliman-kedzaliman yang muncul dari kesyirikan. Dalam kehidupan di dunia, seorang manusia akan hidup dengan menyembah sesuatu baik harta benda, kehormatan hawa nafsu dirinya sendiri, atau beribadah kepada Allah untuk mewujudkan kebaikan-kebaikan bagi semesta diri mereka. Ada orang-orang yang berbuat syirik menyembah syaitan atau berhala-berhala yang merepresentasikan syaitan agar dapat memperoleh sesuatu dengan bantuan syaitan-syaitan yang mereka sembah. Ada pula manusia hidup dengan menyembah berbagai tuhan hingga ada orang-orang menjadikan pula sesuatu yang lain sebagai tuhan selain Allah, sedangkan mereka menjadikan Allah sebagai tuhan. Keimanan hendaknya dimanfaatkan agar seseorang dapat beribadah kepada Allah dengan ibadah yang ikhlas, bersih dari penyembahan-penyembahan selain Allah.
Dalam kehidupan di bumi, keikhlasan harus dibangun dengan berusaha mengenal Allah, yaitu dengan cara membina diri menjadi sesuai dengan kehendak Allah. Allah akan dikenali oleh orang-orang yang membina diri sesuai dengan asma yang disukai Allah. Allah tidak akan dikenali makhluk dengan membuat patung imajiner tentang Dia dalam pikiran manusia, tetapi hanya akan dikenali oleh orang-orang yang membina diri dengan asma yang disukai-Nya. Seseorang yang nafsnya terbina dalam asma yang baik akan mengerti makna dari perintah-perintah Allah dengan benar, maka ia akan mengenali kebaikan dari pemberi perintah itu. Seseorang yang hatinya jahat mungkin akan menterjemahkan perintah Allah sebagai kekejaman yang harus dilaksanakan, maka sebenarnya ia tidaklah memahami perintah Allah dengan benar.
Allah benar-benar menurunkan pengetahuan tentang diri-Nya hingga dapat dikenali di alam dunia sebagai alam yang paling jauh dari-Nya. Allah tidak hanya bisa dikenali oleh makhluk-makhluk langit yang berada di alam tinggi, tetapi juga dapat dikenali oleh makhluk-makhluk di alam yang paling rendah. Bahkan makhluk yang paling mengenal Allah diciptakan di alam dunia, beliau adalah Rasulullah SAW. Akan tetapi hanya dengan cara tertentu saja Allah dapat dikenali dengan benar oleh makhluknya. Manusia hanya dapat mengenal Allah dengan benar apabila ia membina akhlak dirinya dengan akhlak mulia yaitu dengan membina akhlak mengikuti asma Allah yang mulia. Sebagai landasan dasar, Allah berkehendak untuk memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, maka hendaknya setiap orang beriman membina diri dengan sifat rahman dan rahim.
Menghindari Kedzaliman
Pengenalan seseorang kepada Allah akan menjadikan ibadahnya semakin ikhlas, terhindar dari kedzaliman-kedzaliman. Pengenalan itu akan terjadi melalui keimanan. Sekalipun tinggal di alam yang paling gelap dan jauh dari sumber cahaya, seorang manusia diberi kemampuan untuk dapat mengenal Allah dengan pengenalan yang paling baik, lebih baik daripada makhluk-makhluk di alam yang tinggi. Akan tetapi kehidupan dunia tetaplah menyimpan potensi kesesatan bagi manusia. Justru lebih banyak manusia terhijab dari kebenaran karena jauhnya dari sumber cahaya daripada orang yang mengenal Allah dengan benar. Sebagian manusia syirik kepada Allah untuk memenuhi syahwat dan hawa nafsunya di dunia, sebagian manusia mempertuhankan syahwat dan hawa nafsunya sendiri, sebagian manusia menjadikan makhluk sebagai tuhan selain Allah, dan sebagian manusia berusaha sungguh-sungguh untuk beribadah semata-mata kepada Allah dengan landasan pengenalan kepada Allah.
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan tidak mencampurkan kedzaliman yang muncul dari kesyirikan akan memperoleh keamanan dan menjadi orang yang memperoleh petunjuk. Kesyirikan dalam hal ini bukan hanya kesyirikan dalam bentuk penyembahan syaitan saja. Setiap orang harus berusaha untuk melaksanakan amal-amal yang merupakan perwujudan dari turunan pengetahuan tentang Allah. Allah menurunkan pengetahuan tentang diri-Nya, maka hendaknya manusia menemukan pengetahuan yang diturunkan itu sebagai landasan dalam beramal, karena hal itu yang akan mengikhlaskan ibadahnya kepada Allah. Pengetahuan tentang Allah yang diturunkan itu akan menghindarkan manusia dari kedzaliman dan kesyirikan-kesyirikan yang menyebabkannya, hingga hilang kesyirikan yang mungkin tidak terlihat.
Kesyirikan yang harus dibersihkan dari diri setiap orang beriman terdapat dalam berbagai bentuk dari syirik yang jelas berupa penyembahan terhadap syaitan hingga bentuk-bentuk kesyirikan yang samar seperti semut hitam yang berjalan di atas batu hitam pada malam hari. Di antara keduanya, terdapat banyak keadaan syirik yang harus dihindari oleh setiap orang beriman. Ada orang-orang yang menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tuhan, ada orang-orang yang melakukan shalat dengan sebaik-baiknya sedangkan mereka mengharapkan manusia memandang mereka sebagai orang yang shalih, ada yang menjadikan pemimpin mereka sebagai tuhan selain Allah, menjadikan Allah sebagai tuhan dan juga menjadikan pemimpin mereka sebagai tuhan, dan banyak bentuk-bentuk kesyirikan lain yang merupakan kesyirikan yang samar sulit untuk dikenali.
Tuntunan tentang masalah kesyirikan yang tersamar ini tidak boleh disalahgunakan oleh umat islam. Sebagian orang islam menuduh muslimin lainnya telah terjatuh ke dalam kesyirikan tanpa memahami makna dari kesyirikan yang tersamar. Kadangkala dijumpai hanya karena amal-amal orang lain yang tidak dipahami oleh suatu firqah menjadikan firqah itu menuduh orang yang beramal sebagai orang-orang musyrik. Misalnya sebagian orang yang merawat kuburan atau berziarah kubur dikatakan sebagai para penyembah ahli kubur, sedangkan mereka sama sekali tidak berkeinginan menyembah kubur, hanya sekadar menghormati ahli kubur yang berhak atas penghormatan itu. Hal-hal demikian mudah terjadi karena suatu kaum tidak mau memahami dengan benar makna kesyirikan yang tersamar. Orang yang menuduh dengan serampangan itu sebenarnya tidak memahami makna kesyirikan yang mereka tuduhkan.
Kesyirikan merupakan sumber kedzaliman. Setiap kesyirikan baik dalam bentuk kesyirikan yang dzahir dan kesyirikan yang halus tersamarkan dari mata manusia akan memunculkan suatu bentuk kedzaliman. Dengan hubungan semacam ini, suatu kedzaliman dapat menjadi penanda bahwa mungkin ada bentuk kesyirikan tersembunyi dalam diri seseorang yang menjadikan ia berbuat dzalim. Manakala seseorang lebih menyukai kedzaliman yang dilakukannya daripada seruan untuk berbuat sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, hal itu menunjukkan bahwa kedzaliman itu terlahir dari kesyirikan yang tersembunyi dalam diri seseorang. Kedzaliman-kedzaliman semacam inilah yang harus dihindari oleh setiap orang beriman dalam mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s dan Rasulullah SAW. Hendaknya setiap orang menghindari kedzaliman-kedzaliman yang terwujud dari kesyirikan-kesyirikan baik yang tersembunyi ataupun kesyirikan yang dzahir sebagaimana diterangkan Rasulullah SAW.
Kedzaliman karena kesyirikan di antara orang-orang beriman akan menimbulkan kesulitan bagi orang-orang beriman. Misalnya ketika seseorang melaksanakan shalat untuk dipandang shalih, ia mungkin akan dipandang shalih oleh orang-orang beriman hingga mereka mungkin mudah mengikuti dirinya sedangkan keshalihan itu hanya suatu kepalsuan. Dengan jalan semacam itu, seseorang mungkin akan dijadikan oleh kaum muslimin sebagai tuhan selain Allah sedangkan ia menikmatinya. Orang shalih yang sebenarnya akan merasa takut manakala orang-orang memandang kebaikan diri mereka lebih dari yang seharusnya, apalagi manakala ia dijadikan sebagai tuhan oleh kaumnya. Manakala muslimin menjadikan seseorang sebagai tuhan selain Allah, kaum muslimin tidak lagi mengetahui apa yang dihalalkan bagi mereka dan apa yang diharamkan. Ini merupakan kebodohan yang sangat besar, dan mushibah yang besar akan mudah menimpa diri mereka. Mereka tidak mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya.
Contoh sebagaimana di atas bisa saja terjadi karena syaitan sangat pandai membuat tipu daya. Ia sangat menyukai kesyirikan di antara manusia walaupun sangat tersamar. Setiap orang harus bergantung kepada Allah dalam melaksanakan ibadah dan amalnya agar dibersihkan dari kesyirikan, dan berpegang teguh dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak hanya mengikuti keyakinan diri sendiri. Apabila seseorang tidak bergantung kepada Allah dalam melaksanakan ibadah, syaitan akan menghembuskan kesyirikan dalam ibadahnya atau amal-amalnya. Manakala seseorang tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, syaitan akan memperoleh jalan yang luas untuk menjadikan suatu kesyirikan yang samar menjadi kesyirikan yang nyata.
Suatu kebodohan kadangkala menjadikan seseorang atau suatu kaum secara bersama-sama menjadi orang yang terjangkiti kesyirikan hingga menyerupai para ahli kitab, menjadikan orang-orang di antara mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Manakala suatu kaum menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, kaum tersebut sebenarnya telah menjadikan para panutan mereka sebagai tuhan selain Allah. Ini merupakan kesyirikan yang besar. Akal mereka telah mengalami kesulitan dalam mengenali kebenaran dan akan mudah dalam melakukan kedzaliman karena kelemahan akal. Mungkin mereka tampak beribadah kepada Allah dan melakukan amal-amal untuk masyarakat, akan tetapi segala sesuatu yang buruk dilakukan pula tanpa mengetahui keburukannya. Kebaikan-kebaikan yang mereka inginkan tidak mempunyai hasil yang baik sedangkan keburukan-keburukan semakin tampak di antara mereka. Untuk mewujudkan kebaikan di bumi, setiap orang harus berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sehingga apa-apa yang terwujud sesuai dengan harapan umat tentang kebaikan.
Apabila diperhatikan dengan baik, akan ditemukan banyak kedzaliman pada kaum demikian. Orang-orang yang berkeinginan mengikuti petunjuk Allah mungkin saja akan tertindas oleh orang lain dengan cara bertuhan mereka yang menyimpang. Orang benar tidak akan mau bertuhan dengan cara yang terlihat bodoh baginya. Yang penting bagi orang benar dalam beribadah adalah musyahadah (penyaksian) terhadap kebenaran ilahiyah Allah dan risalah Muhammad SAW, bukan sekadar ketaatan dalam melakukan ritual-ritual atau amal-amal yang dikatakan sebagai perintah Allah tanpa suatu dasar dari tuntunan Allah. Tentu saja ia tidak menolak amal-amal atau ibadah-ibadah, tetapi akan sulit mengikuti manakala diperintahkan tanpa suatu dasar yang dapat dipersepsi inderanya atau akalnya dengan benar. Mungkin saja ia hanya butuh sebuah dasar inderawi yang masuk akal untuk melaksanakannya, tanpa mensyaratkan memahami karena melihat amal itu sebagai pintu membuka pemahaman. Tetapi ia tentu menolak suatu amal apabila terlihat menyimpang. Sebagian orang berlebih-lebihan dalam menekankan pentingnya dalil-dalil tanpa mengetahui tujuan dari dalil-dalilnya, sedangkan mereka berafiliasi kepada orang-orang musyrik. Kedzaliman pada tingkatan pelaksanaan kebenaran itu akan sangat menyengsarakan umat secara umum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar