Pencarian

Minggu, 24 November 2024

Mengikuti Kehendak Allah dengan Hasanah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW kembali kepada Allah harus disertai dengan suatu sikap istiqamah.

﴾۰۳﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fusshilat : 30)

Pada langkah awal, seseorang harus membina iktikad dalam dirinya bahwa ia berkeinginan untuk mengikuti ketentuan-ketentuan Allah dan berusaha menghindari hal-hal yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan-Nya. Mereka masuk dalam golongan manusia yang menjadikan Allah sebagai rabb bagi mereka, tidak ingin diatur oleh sesuatu selain rabb-nya. Dengan keadaan demikian itu mereka mengatakan bahwa rabb mereka adalah Allah. Secara bertahap mereka membina diri sebagai orang-orang yang bersesuaian dengan kehendak Allah dan terus memperbaiki diri mereka untuk benar-benar dapat memahami kehendak Allah terhadap diri mereka masing-masing.

Malaikat akan turun kepada orang-orang yang menjadikan Allah sebagai rabb mereka dan mereka dalam keadaan istiqamah. Orang-orang yang terus menjaga diri untuk menjadi hamba Allah akan mencapai keadaan istiqamah. Istiqamah menunjukkan pada usaha seseorang untuk dapat tegak di atas kehendak Allah. Istiqamah dalam urusan itu dilakukan dengan amal-amal yang nyata dalam beribadah kepada Allah di atas landasan kasih sayang kepada sesama untuk mendatangkan kebaikan bagi masyarakat. Istiqamah bukan hanya dilakukan dengan terus-menerus mengatakan bahwa tuhan mereka adalah Allah. Perkataan bahwa mereka bertuhan kepada Allah tidak boleh dimaknai secara keliru tanpa mengenal rasa kasih sayang.

Turunnya malaikat kepada seseorang yang menjadikan Allah sebagai rabb-nya dan beristiqamah bertujuan untuk menyampaikan kalimat agar orang tersebut tidak merasa takut dan tidak bersedih. Kedua sifat itu merupakan sifat para wali Allah. Sekalipun bukan atau belum menjadi wali Allah, orang-orang demikian akan mulai mempunyai perasaan tidak takut dan tidak bersedih dengan hal-hal yang terjadi. Mereka akan mengenal perasaan tidak takut dengan kehidupan duniawi dengan segala peristiwa yang mungkin terjadi karena mempunyai keyakinan bahwa Allah-lah rabb yang mengatur dirinya. Hal itu akan muncul manakala seseorang beristiqamah dalam amal-amal sesuai tuntunan Allah.

Manakala seseorang tidak beristiqamah sedangkan ia mengatakan bahwa rabb-nya adalah Allah, keyakinan bahwa rabb-nya adalah Allah itu belum mempunyai akar dalam dirinya maka keyakinan itu hanya merupakan keyakinan yang lemah. Keyakinan demikian tidak akan tumbuh manakala seseorang mengatakan rabb-nya adalah Allah tetapi ia terus melayani keinginan diri sendiri untuk memenuhi keinginan syahwat dan hawa nafsunya sendiri. Perbuatan demikian menunjukkan bahwa dirinya tidak benar-benar menjadikan Allah sebagai rabb karena mengambil diri sendiri sebagai pengatur, sedangkan Allah adalah Zat yang tidak menghendaki demikian. Keyakinan bahwa rabb-nya adalah Allah akan tumbuh menguat manakala seseorang selalu berusaha untuk mengenal dan melaksanakan kehendak-Nya karena perbuatan demikian adalah manifestasi dari perkataan bahwa rabb-nya adalah Allah.

Di antara amal-amal terbaik dalam memberikan kebaikan kepada umat manusia adalah menyeru manusia untuk kembali kepada Allah disertai dengan melakukan amal-amal shalih dan mewujudkan keberserah-dirian kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang berkata dengan perkataan-perkataan yang paling baik. Perkataan yang terbaik itu keluar dari manusia tidak hanya dalam bentuk perkataan-perkataan lisan, tetapi juga dalam bentuk amal-amal shalih dan tindakan-tindakan yang dilakukan dalam rangka berserah diri terhadap kehendak Allah. Perkataan terbaik itu mungkin tidak diikuti dengan amal-amal atau keberserahdirian yang nyata karena tidak ada kesempatan untuk mewujudkan, tetapi seandainya ada kemampuan dan kesempatan untuk mewujudkan niscaya ia akan mewujudkan, bukan hanya perkataan yang tidak ada iktikad di dalamnya. Manakala seseorang hanya mengatakan perkataan yang terbaik tanpa suatu keinginan untuk mewujudkan amal, maka hal itu tidak termasuk dalam perkataan yang terbaik.

Hasanah Menghilangkan Permusuhan

Perkataan terbaik itu merupakan suatu hasanah yaitu pengetahuan tentang Allah. Boleh jadi pengetahuan itu tentang ayat-ayat Allah atau pengetahuan tentang kehendak Allah. Perkataan yang tidak berdasarkan pengetahuan tentang Allah tidak termasuk dalam suatu hasanah. Manusia yang tidak menginginkan pertemuan dengan Allah atau tidak bertaubat kepada Allah mungkin bisa berkata-kata tentang pengetahuan yang telah dikumpulkan selama kehidupan dirinya, maka pengetahuan demikian tidak termasuk dalam suatu hasanah. Orang-orang yang berkeinginan untuk kembali kepada Allah akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan yang bersifat hasanah. Semakin kuat keinginan seseorang untuk mengenal sumber kebaikan, semakin besar hasanah yang bisa diperolehnya. Kadangkala pengetahuan demikian diperoleh selaras dengan ujian yang menimpa dirinya, atau kadangkala berjalan sesuai waktu.

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ ٣٤ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْاۚ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ
Dan tidaklah sama antara hasanah dan sayyiah. Tukarkanlah (sayiah) dengan yang lebih ihsan, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang dekat. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan, melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan, melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” [Fushilat/41 : 34-35].

Hasanah mempunyai sifat berbeda dengan pengetahuan yang diketahui dari hawa nafsu. Suatu hasanah akan bermanfaat menyeru manusia untuk kembali kepada Allah hingga terbentuk persatuan di antara manusia. Pengetahuan hawa nafsu seringkali justru memunculkan perselisihan karena kurangnya kebaikan yang terkandung dalam perkataan tersebut baik karena perkataannya ataupun orang yang mengatakannya. Seseorang yang menyampaikan perkataan hasanah tanpa suatu keinginan yang baik akan memunculkan distraksi terhadap kebenaran yang ada pada perkataannya. Mungkin suatu hasanah tidak disambut baik oleh pendengarnya karena hawa nafsu mereka, tetapi ada kebaikan dalam perkataan hasanah. Bila para pendengar adalah orang-orang yang baik, mereka dapat mengenali kebaikan dalam perkataan dalam kategori hasanah.

Di antara manusia, banyak pengetahuan yang tampak baik tetapi tidak benar-benar bersumber dari pengetahuan kebenaran. Bukan berarti semua pengetahuan demikian buruk, tetapi ada banyak celah yang mungkin menjebak manusia bila tidak ditelaah dengan benar. Sikap orang yang mendengarnya akan menentukan baik atau buruknya akibat yang ditimbulkan dari perkataan demikian. Kadangkala pengetahuan dari hawa nafsu tampak benar tetapi seseorang tidak dapat mengkoreksi manakala terjadi kebengkokan. Suatu hasanah akan memberikan pengetahuan yang benar, dan sekalipun bersifat parsial tetapi akan terlihat atau diketahui benih-benih kebengkokan manakala seseorang memahami dengan salah. Perkataan-perkataan yang terbaik dari seseorang berupa hasanah demikian inilah yang merupakan perkataan terbaik.

Penyatuan langkah mengikuti hasanah yang terbaik bukan suatu hal yang mudah dilakukan. Hanya orang-orang yang sabar dan orang-orang yang memperoleh keberuntungan yang besar yang dapat menyatukan diri mengikuti hasanah yang terbaik. Ada orang-orang yang memperoleh hasanah-hasanah tetapi ada campuran sayyiah pada hasanah mereka. Ada orang-orang yang memperoleh hasanah sedangkan masing-masing mempunyai hasanah yang berbeda. Tidak jarang orang-orang yang memperoleh hasanah tidak mau menyatukan diri dengan orang lain yang juga memperoleh hasanah karena merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang memperoleh hasanah. Keadaan demikian menunjukkan bahwa mereka belum menjadi orang-orang yang bersabar dan belum memperoleh keberuntungan yang besar. Hanya orang-orang yang bersabar dan memperoleh keberuntungan yang besar yang dapat menyatukan diri untuk mengikuti hasanah yang terbaik.

Tidak jarang terjadi perselisihan di antara manusia dalam merumuskan langkah terbaik yang perlu ditempuh, sedangkan setiap pihak mengajukan rumusan-rumusan terbaik menurut diri masing-masing. Bahkan manakala setiap pihak mendasarkan diri pada kebenaran, mereka dapat berselisih. Perselisihan demikian terjadi karena adanya kandungan-kandungan sayyiah dalam rumusan masing-masing hingga menimbulkan perselisihan. Untuk memperoleh langkah terbaik, setiap pihak tidak boleh mengandalkan hawa nafsu. Perselisihan demikian harus diselesaikan dengan setiap pihak mengikuti rumusan yang lebih mendekati hasanah. Apabila setiap pihak berusaha mengikuti hasanah, maka akan hilang permusuhan dan perselisihan di antara yang berselisih. Mereka akan menjadi orang-orang yang bersahabat dekat.

Semua pihak yang berusaha untuk menjadikan Allah sebagai rabb dengan mengikuti hasanah yang terbaik di antara mereka akan menjadi orang-orang yang bersahabat dekat sekalipun mungkin saja mengalami perbedaan-perbedaan. Dalam beberapa hal, perselisihan di antara orang yang kembali kepada Allah bisa berjalan panjang karena panjangnya perbedaan di antara mereka. Kadangkala satu pihak atau dua pihak berselisih harus membongkar kembali banyak pengetahuan mereka tentang Allah hingga memerlukan waktu panjang untuk menyatukan diri dalam persahabatan dekat, tetapi keduanya tidak bercerai-berai karena perbedaan yang ada. Penyatuan kembali sebagai sahabat itu akan terjadi manakala kedua pihak berusaha untuk mengikuti hasanah yang lebih baik di antara mereka. Semakin lambat seseorang dalam mengikuti hasanah yang terbaik, semakin lama perselisihan itu akan terjadi.

Penyatuan sebagai sahabat itu akan terjadi manakala setiap pihak bersepakat untuk mengikuti hasanah yang terbaik yang mereka ketahui bersama. Kadangkala satu pihak menyatakan banyak hasanah dan pihak lain tidak mau mengetahui hasanah yang diikuti pihak lainnya maka tidak terbentuk penyatuan di antara mereka. Kadangkala satu pihak tidak memberikan pernyataan apapun terkait perselisihan di antara mereka maka pihak lain tidak mengetahui keadaan perselisihan di antara mereka, maka tidak terjadi penyatuan pendapat di antara mereka. Penyatuan sebagai orang-orang yang bersahabat dekat di antara orang-orang yang kembali kepada Allah hendaknya diwujudkan dalam suatu kesepakatan bahwa mereka mengikuti hasanah yang terbaik di antara mereka, atau setidaknya terlihat dalam langkah bahwa mereka mengikuti hasanah terbaik itu. Manakala penyatuan itu hanya terlihat dalam langkah, barangkali salah satu pihak masih memandang ada banyak perbedaan di antara keduanya sedangkan perbedaan itu mungkin saja bersifat fundamental dan menghalangi kedekatan yang seharusnya dibina di antara mereka. Semakin akrab hubungan yang seharusnya terbina, semakin tinggi syarat kejelasan yang dibutuhkan oleh setiap pihak dan lingkup kejelasan yang semakin luas. Potensi perselisihan demikian hendaknya dikurangi dengan komunikasi yang baik untuk mengetahui masalah secara jelas.

Hasanah Menggantikan Sayyiah

Penyatuan langkah mengikuti hasanah yang terbaik bukan suatu hal yang mudah dilakukan. Hanya orang-orang yang sabar dan orang-orang yang memperoleh keberuntungan yang besar yang dapat menyatukan diri mengikuti hasanah yang terbaik. Mereka adalah orang-orang yang bertakwa dan menggantikan sayiah yang ada pada mereka dengan hasanah agar hasanah itu menghapuskan sayyiah mereka. Selain menggantikan sayyiah dengan hasanah, mereka bergaul dengan manusia dengan akhlak sesuai dengan kehendak Allah.

dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah SAW berkata :
اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
Bertaqwalah dimanapun engkau berada, dan iringilah sayyiah dengan hasanah, niscaya akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” [HR at Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi, no. 2516]

Akhlak yang baik pada hadits di atas disabdakan rasulullah SAW dengan redaksi خُلُقٍ حَسَن. , menunjukkan akhlak yang baik berupa adab yang sesuai dengan kehendak Allah. Akhlak demikian terbentuk manakala seseorang merendahkan hatinya terhadap orang lain. Ia tidak berbicara hal-hal yang tidak berguna atau berbicara dengan cara yang buruk untuk meninggikan dirinya di antara manusia.

dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا. وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ: قَالَ: الْمُتَكَبِّرُونَ
Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat kelak, yaitu orang yang terbaik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat kelak, yaitu tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun”. Sahabat bertanya : “Ya, Rasulullah. Kami sudah mengetahui arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiqun?” Beliau menjawab,”Orang yang sombong.” [HR at Tirmidzi, dalam kitab Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 2018]

Orang yang baik akhlaknya tidaklah bersifat tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun. الثَّرْثَارُونَ (tsartsarun) menunjukkan banyak omong dengan pembicaraan yang menyimpang dari kebenaran. الْمُتَشَدِّقُونَ (mutasyaddiqun), kata-kata yang meremehkan orang lain dan berbicara dengan suara lagak untuk menunjukkan kefasihannya dan bangga dengan perkataannya sendiri. الْمُتَفَيْهِقُونَ (mutafaihiqun), berasal dari kata al fahq, yang berarti penuh. Maksudnya, seseorang yang berbicara untuk menunjukkan dirinya lebih hebat dari yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar