Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Membina Akhlak dan Hambatannya
Kaum muslimin tidak boleh terus berdiam di alam dunia, harus melangkah mendekat kepada Allah. Setiap manusia harus melangkah pada suatu tujuan yang paling berharga, dan tujuan terbaik bagi setiap muslimin adalah menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Allah adalah sumber segala kebaikan dan tidak ada sumber kebaikan selain dari-Nya. Manakala seseorang menemukan suatu kebaikan dari sesuatu yang bersumber dari selain Dia, sebenarnya kebaikan itu berasal dari-Nya yang mengalir melalui makhluk yang tampak bagi seorang hamba. Ia harus berterima kasih kepada makhluk yang mengalirkannya dan bersyukur kepada Allah untuk kebaikan yang diberikan kepadanya, dan berusaha mengalirkan kebaikan dari sisi Allah kepada semesta dirinya.
Allah mencela orang-orang yang mengikatkan dirinya kepada alam dunia. Sebenarnya pengikatan itu akan menjadi sumber kecelakaan bagi setiap orang, sedangkan orang yang mengikatkan dirinya kepada dunia memandang baik apa yang dilakukannya. Sebenarnya sama sekali tidak demikian. Barangkali aspek duniawinya akan memperoleh fasilitas untuk memenuhi kebutuhannya secara berlebih, tetapi tidak akan dapat menyediakan kebutuhan secara sempurna. Pengikatan diri terhadap aspek duniawi akan menjadikan seseorang celaka, karena aspek kehidupan yang lebih eternal daripada aspek jasmaninya akan terdzalimi. Sebenarnya aspek jasmani seseorang akan tercukupi manakala ia mengikuti nafs yang bersifat lebih eternal.
﴾۱﴿وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ
﴾۲﴿الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ
﴾۳﴿يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ
(1)Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,(2)yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, (3) dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, (QS Al-Humazah : 2-3)
Setiap manusia harus memperhatikan kehidupan dirinya secara seimbang, menyadari bahwa di dalam dirinya terdapat entitas cahaya yang benar-benar merupakan dirinya. Selain jasmani, setiap orang mempunyai nafs yang merupakan makhluk cahaya yang berkebutuhan terhadap kebenaran, dan nafs itu bukan makhluk lain tetapi dirinya sendiri. Selain nafs, ada ruh yang merupakan entitas pembawa ketetapan Allah bagi seseorang, dan ruh bukanlah bagian diri manusia yang terdampak tanggungjawab. Ruh menghadirkan kauniyah bagi setiap orang sesuai kehendak Allah yang harus dihadapi masing-masing. Manakala ruh dipanggil Allah, jasmani manusia akan mati dan nafs mereka harus melanjutkan kehidupan di alam barzakh. Entitas nafs inilah yang harus diperhatikan oleh setiap orang karena ia akan bertanggung jawab atas semua hal yang dilakukan.
Rejeki manusia mencakup rezeki bagi alam jasmani dan nafs, mencakup tetapi tidak terbatas pada harta benda duniawi dan pengetahuan tentang kebenaran. Seringkali kedua rezeki tersebut tampak kepada kebanyakan manusia layaknya dua hal berlawanan. Manakala mengikuti kebenaran ia kehilangan harta benda dan sebaliknya manakala mencari harta benda ia mungkin harus melepaskan kebenaran. Sebenarnya tidak sepenuhnya demikian. Ada jalan rezeki yang diberikan kepada setiap manusia dalam bentuk rezeki yang mengalir melalui iman dan amal shalih. Iman dan amal shalih itu terletak pada pengenalan seseorang terhadap nafs dirinya sendiri. Apabila seseorang berusaha beribadah kepada Allah dengan jalan kehidupan yang ditentukan bagi dirinya, ia akan diberi iman dan menemukan amal shalih sebagai jalan rezeki terbaik yang ditentukan bagi dirinya, jalan rezeki yang menyatukan rezeki bagi jasmaniah dan bagi nafsnya. Hal itu akan dapat dikenali manakala seseorang menempuh jalan kembali kepada Allah melepaskan keterikatan kepada dunia.
Jalan rezeki terbaik itu tidak akan dikenali manakala seseorang berkeinginan mengumpulkan harta benda dan menghitung-hitungnya. Orang demikian berarti mengikatkan diri pada dunia, menyangka bahwa harta benda itu akan menjadikan dirinya kekal dalam kemakmuran. Keadaan demikian akan menjadi penghalang seseorang untuk menempuh jalan kembali kepada Allah, dan ia akan kesulitan memahami bahwa Allah menyediakan suatu jalan kehidupan yang baik melalui integritas yang terbangun pada diri manusia. Yang dapat dipahami hanya berupa kaidah-kaidah duniawi sehingga ia harus sepenuhnya mengikuti kaidah duniawi, di antaranya bahwa kesejahteraan akan diperoleh dengan mengumpulkan harta benda duniawi, maka ia selalu menghitung-hitung harta benda yang ada pada dirinya. Hal demikian akan menjadikan seseorang mempunyai akhlak yang buruk setidaknya ia akan menjadi pencela dan memburuk-burukkan orang lain.
Menempuh jalan kembali kepada Allah adalah berupaya menjadi hamba Allah yang didekatkan. Rasulullah SAW menjadi uswatun hasanah sebagai hamba yang didekatkan sebagaimana ketika beliau mi’raj di hadirat asma Allah di ufuk yang tertinggi. Jalan kembali itu terbagi dalam berbagai tahapan yang menunjukkan tahap kekuatan akal dalam memahami kehendak Allah, maka seseorang dapat menempuh setiap tahapan yang dekat dan dapat dilakukan dirinya. Membentuk bayt, memperoleh pengenalan diri dan tazkiyatun-nafs merupakan tahapan pendahuluan yang dapat dilakukan oleh setiap manusia. Nabi Ibrahim a.s dihadirkan sebagai uswatun hasanah yang dapat ditiru langkahnya oleh setiap manusia dengan membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sebagai tahap akhir sebelum dimi’rajkan. Manakala seseorang telah mengikuti nabi Ibrahim a.s membentuk bayt, maka ia telah tersambung kepada Rasulullah SAW dan manakala menentang atau menyimpang maka ia terputus dari Rasulullah SAW. Tahapan itu diturunkan lagi hingga menyentuh setiap diri manusia berupa pengenalan jati diri yang digambarkan dalam langkah nabi Musa a.s berhijrah ke tanah yang dijanjikan. Tanah yang dijanjikan itu adalah gambaran jati diri manusia. Untuk menempuh hijrah, setiap orang harus melakukan tazkiyatun-nafs yang menjadi syarat menempuh perjalanan. Tazkiyatun-nafs harus dilakukan dengan landasan berupa suatu iktikad yang benar dan kuat, hingga ia dapat menempuh jalan taubat tanpa menyimpang atau gugur karena ujian pembersihan dalam proses tazkiyatun-nafs.
Setengah bagian dari proses taubat itu berbentuk pernikahan. Hal ini menunjukkan bahwa proses taubat harus ditempuh dengan proses melahirkan kebaikan bagi orang lain, bukan semata membina hubungan personal dengan Allah. Sasaran akhir taubat yang dapat diusahakan manusia adalah terbentuknya bayt berupa pernikahan untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan langkah awal untuk menempuh langkah tazkiyatun-nafs adalah pernikahan. Pada bagian pertengahan (pengenalan diri), pengenalan nafs wahidah sebenarnya sangat terkait dengan pernikahan. Setiap tahap dari proses taubat itu dapat ditempuh dengan baik memperhatikan pernikahan. Bila suatu pernikahan dilakukan dengan baik, maka akan baik pula agama yang terbentuk pada diri seseorang, dan apabila buruk maka buruk pula agama seseorang. Rumah tangga yang baik merupakan tanda paling utama kebaikan yang terbentuk di antara masyarakat, dan rumah tangga yang buruk merupakan tanda paling utama keburukan yang terjadi di antara masyarakat.
Orang-orang yang hidup dengan mengumpulkan harta dan menghitung-hitung harta mereka melekat pada alam bumi yang rendah dan sulit untuk melangkah menuju kemuliaan dengan kedekatan kepada Allah. Seandainya mereka adalah orang-orang yang rajin shalat dan berpuasa, dan tidak mempunyai banyak harta, tetap saja tidak akan dapat membentuk masyarakat yang baik. Seandainya dibukakan kepada mereka pintu-pintu duniawi, mereka akan berlompatan berebut untuk menguasai dunia. Mereka mungkin akan sulit membentuk keluarga yang baik dan pada akhirnya membentuk masyarakat yang buruk. Langkah membentuk kebaikan di antara manusia harus dilakukan dengan mengikuti arah langkah uswatun hasanah, membentuk diri dalam kebaikan dan perluasannya di tingkat sosial melalui terbentuknya keluarga yang baik.
Infaq untuk Pemakmuran
Orang beriman pada dasarnya tidak dilarang untuk bekerja keras dalam mencari harta, tetapi harus didasarkan pada suatu tujuan yang jelas. Di antara tujuan yang harus dicapai orang beriman dalam melakukan kerja keras mencari harta adalah agar dapat melakukan infaq. Infaq merupakan usaha seseorang untuk turut serta dalam pembiayaan terhadap proses jihad di jalan Allah mewujudkan kemakmuran di bumi.
﴾۷۶۲﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS Al-Baqarah : 267)
Setiap orang beriman hendaknya berkeinginan untuk bisa berinfaq di jalan Allah, atau berjihad di jalan Allah. Suatu infaq yang ditunaikan akan menyatukan seseorang dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, maka ia akan memperoleh kemudahan untuk mengenali jalan Allah yang ditentukan bagi dirinya. Hal ini akan terjadi terutama bila infaq itu diberikan kepada orang-orang yang mengenal kehendak Allah bagi ruang dan jamannya sehingga infaq itu benar-benar dibelanjakan untuk program di jalan Allah, bukan sekadar program yang disangka sebagai jalan Allah. Dewasa ini ada banyak jenis orang yang menampakkan jihad di jalan Allah. Ada orang yang mengenal urusan jamannya dan berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka jihadnya benar-benar merupakan jihad di jalan Allah. Ada orang yang berusaha mewujudkan kebaikan dengan berpegang pada tuntunan kitabullah maka ia orang yang berusaha berjihad. Ada yang berusaha berjihad tanpa berpegang pada tuntunan Allah, ada yang tertipu dalam berjihad dengan pikiran yang salah dan ada orang-orang yang berpura-pura berjihad untuk mengumpulkan harta untuk diri sendiri.
Menginfakkan harta harus dilakukan dengan disertai usaha mengenali bentuk jihad yang terbaik. Banyak hal yang bermanfaat bagi seseorang dalam berinfaq selain infaqnya itu sendiri. Keinginan untuk berinfaq harus disertai dengan usaha untuk mengenali kehendak Allah secara tepat. Usaha mengenali jihad yang benar itu akan mengantarkan seseorang untuk mengenal kehendak Allah. Nilai dari infaqnya itu akan lebih ditentukan dari pengetahuannya tentang kehendak Allah, bukan hanya dari jumlah infaqnya saja. Manfaat yang tumbuh dari pemanfaatan harta infaq akan setimbang dengan pengetahuan pengelola infaq terhadap kehendak Allah. Semakin tepat infaq dimanfaatkan dalam menunaikan kehendak Allah, semakin banyak yang tumbuh dari infaq yang diberikan. Bila infaq diberikan secara sembarangan, manfaat yang tumbuh dari infaq itu mungkin tidak akan menunjukkan hasil yang jelas atau hanya dihambur-hamburkan. Boleh saja seseorang mengabaikan harta yang telah diinfaqkan mempercayakan kepada pengelola infaq, tetapi ia harus memperhatikan bahwa infaqnya diberikan untuk jihad yang paling baik. Selain itu hendaknya ia memperhatikan semua kesempatan untuk terlibat maksimal dalam jihad di jalan Allah.
Usaha mengenali bentuk-bentuk jihad itu bisa dilakukan dengan melihat landasan jihad berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Semakin jelas langkah jihad ditinjau dari tuntunan Allah dan korelasinya dengan kauniyah, maka jihad itu mempunyai dasar kuat. Banyaknya pemaksaan pengertian dalam landasan jihad menunjukkan lemahnya landasan jihad. Demikian pula kurangnya pemahaman terhadap ayat Allah merupakan kelemahan landasan jihad. Sunnah Rasulullah SAW dalam hal ini adalah langkah-langkah menempuh tahapan menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah melalui terbentuknya keluarga yang meninggikan asma Allah. Sangat banyak hubungan antara terbentuknya keluarga yang baik dengan semua perjuangan di jalan Allah. Ibarat otak manusia sebagai pusat syaraf di mana sangat banyak jaringan syaraf yang terhubung pada otak, demikian pula suatu rumah tangga terhubung pada pertumbuhan upaya mendekat kepada Allah. Pemakmuran bumi sesuai tuntunan Allah akan sangat ditentukan dengan terbentuknya keluarga yang baik.
Bila suatu jihad dilakukan tanpa memperhatikan usaha membentuk keluarga yang baik atau justru diselewengkan, jihad yang dilakukan sebenarnya tidak menyentuh pengenalan yang benar terhadap kehendak Allah, tidak mengikuti atau justru menyimpang dari millah nabi Ibrahim a.s. Mungkin seseorang atau suatu kaum berjuang dengan usaha yang sangat keras untuk kebaikan tetapi tidak mendatangkan hasil yang memadai manakala usaha itu dilakukan tanpa memperhatikan jalan Allah berupa terbentuknya keluarga yang baik. Barangkali mereka berharap hasil perjuangan mereka akan datang pada jaman yang akan datang tetapi mungkin itu itu hanya angan-angan saja. Bila suatu generasi tidak bisa berbuat terbaik, generasi berikutnya yang tumbuh dari keluarga kurang baik akan lebih buruk dari mereka. Tidak jarang suatu kaum menganggap usahanya merupakan amal shalih tetapi sebenarnya merusak keadaan kaum muslimin karena tidak mengikuti langkah uswatun hasanah.
Mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt harus diperhatikan oleh orang yang ingin menempuh jalan Allah. Kadangkala suatu keluarga harus mengikuti millah hingga langkah membentuk keluarga ta’addud. Ada pengajaran dan manfaat yang sangat besar dalam tuntunan demikian. Pada pokoknya, setiap orang harus berusaha menyatu dengan nafs wahidah karena nafs wahidah itu yang memahami kehendak Allah. Aspek jasmani seorang laki-laki menjadi pelayan bagi nafs wahidah, dan para isteri menolong suaminya untuk melaksanakan perintah Allah. Dengan demikian mereka menjadi orang-orang yang menolong Allah dalam hubungan washilah yang benar. Hanya saja perlu disadari bahwa kesatuan nafs wahidah tidak jarang harus berbentuk keluarga ta’addud sebagai ketentuan dari zaman azali. Bila tidak mentaati petunjuk, tidak akan terbentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.
Bertambahnya keluarga itu merupakan bertambahnya amanah yang harus ditunaikan oleh seorang suami bersama keluarga itu. Bertambahnya keluarga merupakan pertambahan penghubung bagi pasangan manusia terhadap semesta yang lebih luas, dan laki-laki yang berta’addud harus membawa umat yang lebih besar. Hal itu harus diperhatikan laki-laki manakala diperintahkan bertaaddud. Mestinya bertambahnya amanah itu menambah rezeki bagi mereka, tetapi tidak semua orang yang menikah memperoleh rejeki selayaknya karena dirusak oleh syaitan. Manakala seorang laki-laki berta’addud dengan mengikuti keinginan sendiri, ia akan merasakan beratnya berjalan kembali kepada Allah secara adil dengan bertambahnya keluarga.
Dalam kasus
demikian seorang isteri harus menyadari bahwa Allah mengajarkan
kepada mereka tingkatan kasih sayang dari sisi-Nya secara lebih
sempurna. Kasih sayang yang harus terbentuk di keluarga boleh jadi
tidak sebatas hubungan cinta kasih antara suami isteri, tetapi hingga
kasih sayang dalam bentuk harus bisa berbagi dengan orang lain dalam
perkara yang dicintainya. Demikian pula ketaatan kepada suami harus
dibina dengan mengurangi cengkeraman hawa nafsu diri. Tidak pantas
bagi seorang isteri mencaci-maki suaminya manakala mendapatkan
petunjuk untuk berta’addud, sedangkan tidak berkurang rasa kasih
suaminya kepadanya. Omongan orang lain tentang keburukan suaminya
seringkali merupakan fitnah syaitan yang ingin menipunya, maka
hendaknya ia memperhatikan suaminya secara langsung bahwa sangat
mungkin tidak ada niat buruk atau dorongan hawa nafsu buruk dalam
diri suaminya dalam menempuh keluarga ta’addud, tidak menuduh
secara serampangan berdasarkan omongan orang lain. Penolakan terhadap
urusan demikian sebenarnya membawa implikasi yang sangat besar. Ada
perempuan lain yang harus mengalami kesulitan karena penolakannya,
dan ada urusan-urusan serta umat yang terputus washilahnya hingga
membawa dampak yang sangat besar. Dalam kasus tertentu, kesulitan hidup keluarga mereka tidak terangkat manakala suaminya tidak bisa mengikuti petunjuk Allah, dan juga kesulitan umat yang membutuhkan peran serta keluarga mereka untuk mengangkatnya.
Berinfaq akan mendatangkan manfaat yang besar manakala infaq itu dibelanjakan untuk program mewujudkan kehendak Allah secara tepat dengan jalan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Manakala hendak berinfaq, penerima infaq yang mengikuti nabi Ibrahim a.s merupakan orang yang paling tepat menerima infaqnya, sekalipun mereka membentuk keluarga ta’addud. Nabi Ibrahim a.s juga berta’addud. Barangkali tidak semua orang berta’addud benar-benar berlandaskan tujuan mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s, tetapi hendaknya ta’addudnya seseorang tidak digunakan untuk memandang buruk keadaan mereka dalam berjihad mengikuti langkah uswatun hasanah nabi Ibrahim a.s dan Rasulullah SAW. Sebagian orang melakukan ta’addud benar-benar karena perintah untuk melakukan ta’addud sebagai bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar