Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti Rasulullah SAW akan menjadikan setiap muslim mengenal bahwa nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, sedangkan mereka adalah orang-orang yang bersikap keras terhadap kekufuran dan penuh kasih sayang terhadap orang-orang muslim. Mereka akan terlihat sebagai orang-orang yang rukuk dan sujud mencari fadhilah Allah dan keridhaan-Nya, sedangkan tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dalam rupa jejak-jejak sujud.
﴾۹۲﴿مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Muhammad itu adalah Utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari fadhilah Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Fath : 29)
Muhammad Ibn ‘Abdullah adalah Rasulullah. Allah telah mengutus sekian banyak rasul kepada manusia untuk menyeru umat manusia terutama umat-umat mereka untuk beriman kepada Allah, dan kesempurnaan dari seruan seluruh rasul yang diutus sejak alam diciptakan hingga akhir jaman adalah seruan Rasulullah Muhammad SAW. Setiap orang yang mengikuti seruan para rasul di antara mereka tanpa menyimpang akan mengenal kebenaran yang akan menyelamatkan kehidupan mereka, tetapi kebenaran yang dapat mereka kenali bukanlah kebenaran dalam bentuk yang paling sempurna. Sekalipun tidak sempurna, kebenaran itu akan mengantarkan manusia memperoleh keselamatan selama tidak bercampur dengan kesesatan. Kebenaran yang paling sempurna dalam penciptaan seluruh alam semesta adalah kebenaran yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, tidak ada kebenaran yang ada di luar kebenaran yang diajarkan kepada nabi Muhammad SAW. Karena sifat kesempurnaan seruan itu, maka kedudukan Rasulullah SAW diberikan kepada nabi Muhammad SAW.
Setiap manusia dituntut untuk selalu mengenal kebenaran secara lebih sempurna, dan dituntut untuk tidak menyimpang dalam mengikuti kebenaran karena akan menjadi kecelakaan baginya. Kesempurnaan seluruh kebenaran itu adalah apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, dan segala hal yang menyimpang atau bertentangan dengan tuntunan Rasulullah SAW adalah suatu kekufuran yang akan mendatangkan kecelakaan bagi manusia. Bagi setiap muslim, dua kalimat syahadat merupakan pengingat agar setiap muslim berusaha mengikuti kebenaran yang lebih sempurna yang diajarkan Rasulullah SAW. Sebenarnya setiap manusia juga dituntut untuk berusaha mengenal kebenaran secara lebih sempurna, dan jalan untuk itu adalah dua kalimat syahadat. Setiap penolakan terhadap dua kalimat syahadat merupakan wujud adanya penghalang dalam diri manusia untuk mengenal kebenaran secara lebih sempurna.
Ciri-ciri Pengikut Rasulullah SAW
Menyayangi sesama dan Keras terhadap Kekufuran
Orang-orang yang benar-benar mengikuti Rasulullah SAW akan bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir dan berkasih sayang terhadap orang-orang yang beriman. Landasan dasar dalam mengikuti seruan Rasulullah SAW adalah membina sikap kasih sayang dalam diri terhadap makhluk-makhluk lain berdasarkan suatu pengetahuan tentang kebenaran. Pembinaan itu merupakan sarana untuk dapat mendekat kepada Allah. Tauhid mengikuti Rasulullah SAW dibentuk melalui pembinaan sifat kasih sayang hingga seorang muslim layak didekatkan kepada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karenanya setiap muslim harus membina kasih sayang dalam dirinya. Tanpa pembinaan sifat ini, seseorang tidak dapat dikatakan mengikuti Rasulullah SAW. Hanya saja kasih sayang ini kadang harus tampak dalam bentuk yang tidak disukai karena banyak di antara manusia yang bersikap kufur terhadap kebenaran. Kekufuran manusia menyebabkan umat manusia menjadi celaka, karenanya orang beriman bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir, agar tidak mendatangkan celaka bagi umat manusia.
Orang kafir yang dimaksud adalah orang-orang yang menentang kebenaran, serta menentang orang yang mengikutinya. Manusia hendaknya tidak bermudah-mudah untuk mengkufurkan orang lain hingga mengkufurkan orang yang berusaha mengikuti kebenaran. Pada jaman Rasulullah SAW, orang-orang yang menentang Rasulullah SAW adalah orang-orang kafir. Demikian pula manakala islam sedang berjaya, mudah bagi manusia membedakan orang-orang kafir dan orang beriman. Dalam kehidupan modern, masalah kufur dan iman menjadi tampak menjadi lebih kompleks. Seringkali manusia tidak benar-benar bersikap kufur dan tidak pula mau beriman karena kurang jelasnya kebenaran yang disampaikan. Misalnya ahlul kitab. Para ahlul kitab merupakan orang yang berusaha mengikuti kebenaran tanpa menyadari kesalahan yang mungkin terjadi. Atau dewasa ini bahkan kaum muslim sendiri mungkin tidak mau menggunakan akal untuk memahami kebenaran Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan tepat. Hal-hal demikian akan menimbulkan kompleksitas warna manusia. Kadangkala orang terhinggapi waham telah mengikuti Rasulullah SAW tanpa berusaha memahami seruan beliau SAW dan ia bermudah-mudah mengkafirkan orang lain tanpa berlandaskan pemahaman hakikat yang terjadi, misalnya mengkufurkan orang-orang ahli kitab atau bahkan golongan muslimin yang tidak sepaham dengan diri mereka.
Sangat penting bagi setiap manusia untuk mengenal kedudukan Rasulullah agar dapat melaksanakan ibadah secara tepat kepada Allah. Gambaran pentingnya hal ini dapat diihat pada sikap orang-orang khawarij para pengikut Dzul-Khuwaisirah dan para ahli bid’ah. Khawarij adalah orang-orang yang menyembah Allah dalam waham paganistik karena tidak memahami apa yang diseru oleh Rasulullah SAW. Para ahli bid’ah adalah orang-orang yang mengikuti persepsi batiniah sendiri tanpa memahami tuntunan Rasulullah SAW kemudian melaksanakan perintah-perintah tertentu di luar urusan yang diturunkan melalui Rasulullah SAW. Kedua golongan itu kadang tampak baik dalam pandangan manusia tetapi mereka sebenarnya tidak mengikuti Rasulullah SAW. Landasan dasar dalam mengikuti seruan Rasulullah SAW adalah membina sikap kasih sayang berdasarkan suatu pengetahuan tentang kebenaran sebagai sarana untuk dapat mendekat kepada Allah. Tauhid mengikuti Rasulullah SAW dibentuk melalui pembinaan sifat kasih sayang hingga seorang muslim layak didekatkan kepada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tanpa pembinaan sifat ini, seseorang tidak dapat dikatakan mengikuti Rasulullah SAW.
Rukuk dan Sujud Mencari Fadhilah dan Ridha Allah
Orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW akan tampak melakukan rukuk dan sujud mencari fadhilah dari Allah dan keridhaan-Nya. Mencari fadhilah dan keridhaan Allah dilakukan dengan melaksanakan amal-amal yang menjadi kehendak Allah sesuai dengan cara yang dikehendaki-Nya. Rukuk seorang hamba dalam melaksanakan kehendak Allah adalah usaha memahami kehendak Allah, sedangkan sujudnya adalah usaha untuk tunduk mentaati kehendak-Nya. Amal para pengikut Rasulullah SAW terlaksana di atas usaha memahami dan mentaati, atau pemahaman dan ketaatan terhadap kehendak-Nya, bukan terwujud karena keinginan diri mereka sendiri. Mereka tidak bertindak tanpa berusaha memahami dan mentaati kehendak Allah, walaupun mungkin saja masih terjatuh pada suatu kesalahan. Mereka akan menghindari berbuat tanpa landasan pengetahuan kecuali terpaksa dan mungkin saja sering merasa terpaksa karena banyaknya kebodohan sendiri, dan tidak akan mempertahankan kebenarannya manakala berbenturan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dengan rukuk dan sujud kepada Allah hingga dalam bentuk demikian itulah orang-orang beriman mencari fadhilah Allah dan keridhaan-Nya.
Tentulah sikap demikian tidak dapat dilaksanakan kecuali dengan melaksanakan rukuk dan sujud sebagaimana dalam shalat, tetapi bukan hanya sujud demikian yang mengantarkan seseorang memperoleh fadhilah Allah dan keridhaan-Nya. Orang-orang demikian adalah orang-orang yang pohon thayyibah mereka tumbuh menjulang dan berbuah, yaitu orang-orang yang tumbuh pengetahuan mereka tentang kandungan kalimah thayyibah. Kalimah thayyibah pada diri mereka bukan hanya berbentuk benih kata-kata dalam dua kalimat syahadat, tetapi mengetahui realitas yang terjadi berdasarkan hakikat-hakikat dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Sebagian manusia memperoleh pengetahuan-pengetahuan turunan dari hakikat-hakikat dari sisi Allah, maka hal itu akan sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Manakala pengetahuan-pengetahuan itu mengantarkannya untuk mengenal kebenaran, maka hal itu akan menjadi cahaya dalam kehidupan. Hendaknya pengetahuan-pengetahuan demikian digunakan untuk terus memahami kebenaran hingga mengenal hakikat-hakikat dari sisi Allah sebagaimana termaktub dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW karena itu akan mengantarkannya untuk memperoleh kemuliaan dari sisi Allah. Surga Allah sangat luas hingga menjangkau makhluk yang masih jauh dari kedudukan-Nya, tetapi kemuliaan di sisi Allah sangatlah berharga sedemikian tidak layak bagi manusia hanya menginginkan sekadar memperoleh surga. Allah adalah sumber kemuliaan yang jauh lebih dari mencukupi untuk seluruh keinginan manusia.
Pohon-pohon thayyibah diri manusia akan menimbulkan ketakjuban pada diri penanam-penanam mereka. Kata zara’a (زَرْعٍ) menunjukkan arti perbuatan mengolah atau menanam (to cultivate). Benih itu dari Allah, dan ada manusia-manusia yang turut serta dalam menumbuhkan dan merawat pertumbuhan benih itu, maka mereka itu tergolong sebagai penanam-penanam benih yang mengolah tumbuhnya tanaman. Manakala seseorang tumbuh kalimah thayibah dalam dirinya, orang-orang yang ikut mengolah pertumbuhan pohon itu akan merasakan suatu ketakjuban, yaitu rasa keheranan disertai dengan kesenangan atas pertumbuhan pohon thayyibah itu. Pada sisi lain, pertumbuhan pohon thayibah itu akan menimbulkan kejengkelan terhadap orang-orang kafir karena kekafiran yang mereka inginkan akan tergeser dengan keimanan.
Ketakjuban para penanam terjadi karena munculnya buah-buah berupa pengetahuan yang tidak diajarkan oleh para penanam. Ini adalah fadhilah dari sisi Allah. Sebelum muncul buah-buah dari diri seseorang, mereka hanya mengetahui apa-apa yang diajarkan oleh para penanam, maka hal demikian tidak menimbulkan ketakjuban kepada para penanam. Ketakjuban itu akan muncul manakala pohon itu membuahkan pengetahuan yang tidak diajarkan. Landasan ketakjuban itu berupa firman-firman Allah, tidak dipengaruhi oleh kekurangan atau kelebihan yang ada di antara mereka. Apabila ada suatu kegusaran atau kesedihan dalam diri pengolah atas pertumbuhan pohon seseorang, ada kesalahan dalam pertumbuhan pohon itu. Demikian pula apabila orang-orang kafir semakin bersuka ria dengan tumbuhnya diri seseorang karena membukakan jalan-jalan kekafiran, maka itu bukanlah suatu pohon thayibah.
Ketakjuban para pengolah tanaman dan kejengkelan orang kafir karena tumbuhnya pohon thayibah itu merupakan kesatuan tanda. Tidak ada ketakjuban pengolah tanaman bersamaan dengan kegembiraan orang-orang kafir. Demikian pula tidak ada kegusaran para penanam bersamaan dengan kegusaran orang-orang kafir. Kesamaan sikap demikian tidak bisa dijadikan tanda yang benar terhadap pertumbuhan diri. Kemungkinan besar yang terjadi adalah menyimpangnya langkah seseorang atau tidak benarnya seseorang dalam menilai. Kesatuan tanda ini boleh dijadikan tanda bagi masyarakat umum tentang pohon yang tumbuh itu sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah, yaitu pohon itu menggembirakan para pengolah tanaman dan menjengkelkan orang-orang kafir. Biasanya masyarakat umum hanya dapat menilai kebenaran berdasarkan perkataan orang lain, tidak mengetahui tolok ukur berdasarkan suatu hakikat dari sisi Allah.
Berjamaah
Hubungan di antara orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW menyerupai pertumbuhan pohon dan tunas-tunasnya, di mana setiap orang tumbuh di atas pokok seruan Rasulullah SAW. Sebagian tunas tumbuh di tanaman dan kemudian tunas itu menjadi tanaman di atas pokok, yang tumbuh secara lurus tidak menyimpang. Pokok itu adalah Rasulullah SAW, dan tanaman itu adalah orang-orang yang telah mengikuti Rasulullah SAW secara benar, sedangkan tunas-tunas itu adalah orang berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW melalui orang lain. Orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW terhubung secara bathin dalam sebuah hubungan Al-jamaah yang masing-masing berpegang pada tuntunan kitabullah dengan cara yang sama dengan cara Rasulullah SAW tidak menyimpang. Setiap orang memperoleh urusan dari ayat kitabullah yang mereka pahami dengan cara yang sama dengan Rasulullah SAW memahami, walaupun hanya pada sebagian kecil darinya.
Hubungan Al-jamaah demikian telah ditetapkan Allah, yang akan diketahui seseorang manakala ia mengenal dirinya. Ada hubungan washilah bagi setiap orang dalam Al-jamaah yang harus ditempati secara tepat. Hubungan washilah tidak selalu ditentukan dalam urutan waktu, sebagaimana para rasul yang terdahulu harus mengambil imam dari orang yang datang setelah mereka yaitu Rasulullah SAW. Demikian pula di zaman setelahnya, ada hubungan washilah yang tidak ditentukan oleh urutan waktu. Sebagai contoh, seorang syaikh di tanah jawa menuliskan dalam kitabnya secara tersirat menjelaskan tentang kedudukan dirinya dalam al-jamaah :
Rum aruming Ulah-Jiwa benjing Harum semerbaknya Olah-Jiwa kelak,
lamun Gusti ingkàng Maha Kwasa jika Allah Yang Maha Kuasa
amaringna kàng margane berkenan membukakan jalannya,
agama munggwing ayun agama berada di depan,
Ulah-Jiwa kàng munggwing wuri Olah-Jiwa di belakang
lir priya lan wanodya bagai pria dan wanita
tindak runtung-runtung berjalan beriringan
tàn ana ingkàng suwala tak ada yang berselisih
pra ulama samya pirsa marang isi para ulama mengetahui isi
tàn namung pirsa njaba tak hanya mengetahui kulit.
Dari yang tertulis di atas, beliau mengetahui kedudukan beliau dalam al-jamaah sebagai pembimbing tazkiyatun-nafs dan mengetahui imam yang diikuti, yaitu imam agama yang akan datang setelahnya. Manakala kehendak Allah itu tiba, ia tidak akan bersikap melampaui kedudukannya terhadap pemimpin agamanya. Hal demikian tentulah berlaku pula terhadap orang-orang yang berkedudukan sebagaimana diri beliau manakala tiba waktunya karena ketetapan Allah dalam urusan-Nya demikian.
Dalam bentuk perluasan, ada anak-anak yang seharusnya dibina untuk meninggikan asma Allah mengikuti urusan Allah yang dilimpahkan kepada bapaknya. Seorang ibu tidak boleh mendidik anak-anak hanya untuk menjadi pembantu bagi dirinya sendiri dalam mengerjakan urusan rumah tangga, tetapi harus dibina untuk dapat mengerjakan urusan keumatan. Demikian tunas-tunas itu harus tumbuh di atas pokok yaitu mengerjakan urusan Allah dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam suatu al-jamaah, tidak hanya diajarkan untuk mengerjakan urusan ibunya tanpa mengetahui kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Hal demikian akan merusak amr Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar