Pencarian

Minggu, 03 November 2024

Petunjuk yang Benar dan Ilmu

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti Rasulullah SAW harus dilakukan dengan mengikuti petunjuk yang diturunkan Allah berupa ayat-ayat kitabullah Alquran dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Mengikuti dua tuntunan itu berarti menjadikan keduanya tuntunan dalam memahami semua peristiwa yang terjadi, tidak meninggalkan pemahaman. Sebagian besar manusia belum mempunyai akal yang cukup kuat untuk memahami semua tuntunan selaras dengan semua kauniyah yang ada maka ia harus mengikuti tuntunan Allah tidak hanya mengikuti pemahamannya sendiri yang mungkin salah. Ada sebagian manusia yang dapat memahami tuntunan Allah selaras dengan ayat kauniyahnya, maka mereka itulah yang telah mampu mengikuti Rasulullah SAW dengan benar. Setiap orang harus berusaha memahami kandungan-kandungan dalam ayat-ayat kitabullah untuk menentukan langkah kehidupannya.

﴾۰۲۱﴿وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah sebagian dari al-ilmu datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS Al-Baqarah : 120)

Orang yang memahami kauniyah selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu adalah orang-orang yang telah memperoleh bagian dari al-ilmu. Mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk yang sebenarnya. Mereka dapat mengatakan : "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)" sebagaimana Rasulullah SAW mengatakannya. Hal ini tidak menunjukkan kesetaraan ilmu yang mereka peroleh dengan ilmu Rasulullah SAW, tetapi menunjukkan keserupaan ilmu mereka dengan sebagian ilmu Rasulullah SAW. Tidak ada makhluk yang mempunyai ilmu setara dengan Rasulullah SAW.

Yang dikatakan al-huda (petunjuk yang sebenarnya) adalah petunjuk dari Allah yang telah dikenali kandungan pengetahuannya berdasarkan ayat-ayat kitabullah. Ada orang yang mengetahui hakikat dari suatu peristiwa selaras dengan ayat kitabullah, maka ia orang yang memperoleh al-huda. Banyak orang yang mentaati ayat-ayat kitabullah hingga mereka memperoleh pemahaman maka ia memperoleh al-huda. Orang-orang yang saling berselisih dengan ayat-ayat kitabullah pada dasarnya bukan termasuk orang-orang yang memperoleh al-huda, dan mereka kebanyakan merupakan orang-orang munafiq. Sebenarnya mereka belum memperoleh pengetahuan tentang kandungan dalam ayat-ayat kitabullah. Demikian pula orang-orang yang mendapat petunjuk dari langit tetapi belum terhubung dengan penjelasan kitabullah belum termasuk pada orang yang memperoleh al-huda. Boleh jadi petunjuk itu benar tetapi tidak mempunyai kedudukan yang kokoh dalam langkah taubat kepada Allah, atau boleh jadi petunjuk itu salah. Sebagian orang menggunakan kemampuan mencari petunjuk dari langit untuk memudahkan langkah di dunia dan kemudian terlalai untuk menggunakan petunjuk dan kemampuan itu dengan semestinya. Hendaknya petunjuk-petunjuk langit digunakan untuk memahami kandungan ayat-ayat dalam kitabullah agar petunjuk-petunjuk itu menjadi al-huda.

Rasulullah SAW adalah satu-satunya makhluk yang memahami seluruh kandungan dalam kitabullah di seluruh tingkatan maknanya dengan benar. Ada makhluk-makhluk lain yang memahami kandungan ayat kitabullah dalam zona-zona yang terbatas, dan luasan masing-masing makhluk itu berbeda-beda tetapi tidak pernah keluar dari kebenaran yang diketahui oleh Rasulullah SAW. Satu makhluk mungkin berada pada zona dan luasan pengetahuan yang berbeda dan mungkin saja terpisah sama sekali dengan zona makhluk lain. Atau boleh jadi satu makhluk dengan makhluk lain berada pada zona dan luasan yang sama tetapi berada pada tingkatan yang berbeda. Sangat banyak macam pengetahuan tentang ayat kitabullah yang dapat diperoleh oleh masing-masing makhluk, akan tetapi tidak ada kebenaran hakiki yang ada di luar tuntunan ayat-ayat dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha terhadap orang-orang yang beriman yang memahami ayat-ayat Allah dengan benar. Mereka adalah umat yang mengikuti kitab yang diturunkan Allah, akan tetapi tidak benar-benar berusaha mengikuti tuntunan kitab dengan benar. Mereka mengikuti apa yang sesuai dengan diri mereka dan mengingkari apa-apa yang tidak sesuai dengan pendapat mereka. Langkah-langkah kehidupan yang mereka tempuh banyak diwarnai dengan hawa nafsu, tidak berdasarkan keinginan memahami kehendak Allah. Seringkali langkah demikian tampak baik bagi orang kebanyakan, akan tetapi tidak tampak demikian bagi orang-orang yang benar-benar mengikuti langkah Rasulullah SAW bertaubat kepada Allah. Orang beriman memandang bahwa seharusnya setiap orang melangkah berdasarkan petunjuk Allah dengan suatu ilmu yang kokoh, dan ilmu itu ada dalam kitabullah Alquran, tidak hanya baik menurut pikiran sendiri.

Kaum ahlul kitab yang melangkah dengan cara demikian tidak akan ridha dengan orang-orang yang melangkah dengan berdasarkan pemahaman terhadap petunjuk Allah hingga orang-orang beriman itu melangkah mengikuti millah yang mereka pahami. Orang beriman yang mengikuti Rasulullah SAW akan memandang kaum ahlul kitab hanya melangkah berdasarkan apa-apa yang mereka pandang baik tidak berdasar suatu pengetahuan terhadap kehendak Allah, sedangkan orang beriman melangkah berdasarkan suatu pengetahuan yang hakiki terhadap kehendak Allah dengan landasan yang jelas berupa ayat dalam kitabullah Alquran. Tidak hanya mengikuti bunyi ayatnya, mereka memahami kandungan ayat kitabullah itu sesuai dengan kauniyah yang terjadi karenanya meraka akan mengatakan : “sesungguhnya petunjuk Allah itu adalah petunjuk yang sebenarnya”.

Barangkali akan muncul perselisihan antara kaum ahlul kitab dengan orang beriman yang telah memperoleh ilmu. Orang beriman demikian akan tampak bersikap teguh dalam mengikuti al-huda. Jika seorang beriman telah memperoleh bagian dari al-ilmu, mereka tidak boleh bersikap lemah terhadap seruan langkah dari kaum ahlul kitab. Jika mereka mengikuti kemauan ahlul kitab setelah memperoleh sebagian dari al-ilmu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagi mereka. Tidak hanya ancaman demikian, orang yang memperoleh bagian dari al-ilmu mengetahui bahwa ada suatu hal yang sangat bernilai dalam ilmu yang mereka peroleh, dan nilai itu tidak mungkin mereka lepaskan. Hanya orang-orang bodoh yang mau meninggalkan ilmu yang mereka peroleh untuk mengikuti ahlul kitab, maka pada dasarnya mereka layak untuk ditinggalkan Allah karena kebodohan mereka. Dari sisi ini, ayat di atas dapat dipahamai bukan suatu ancaman, tetapi suatu konsekuensi logis dari keadaan orang yang mengikuti langkah ahlul kitab yang layak ditinggalkan Allah.

Orang yang mengikuti hawa nafsu para ahlul kitab setelah memperoleh ilmunya akan terlepas dari perwalian dan pertolongan Allah. Allah menjadi wali bagi orang-orang yang beriman yang akan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Di antara cahaya yang diberikan Allah adalah ilmu terkait dengan bacaan kitabullah yang hakiki. Ilmu demikian benar-benar menjadi cahaya bagi orang beriman dalam menapaki kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Manakala telah memperoleh ilmu demikian, seorang mukmin tidak boleh memperturutkan hawa nafsu para ahli kitab, karena mereka akan kehilangan perwalian Allah dan pertolongan-pertolongan-Nya.

Orang beriman hendaknya memperhatikan ilmu berlandaskan Alquran. Manakala mereka tidak memperhatikan ilmu demikian, mereka bisa mudah terlepas dari perwalian dan pertolongan Allah karena mengikuti ahlul kitab. Kaum muslimin akan mengikuti tingkah laku para ahlul kitab memasuki lubang-lubang biawak apabila tidak memperhatikan ilmu berlandaskan kitabullah Alquran. Untuk menghindari perilaku demikian, hendaknya setiap orang memperhatikan kandungan kitabullah dengan sungguh-sungguh. Setiap penjelasan yang datang terkait agamanya hendaknya ditimbang berdasarkan kitabullah Alquran. Apa-apa yang bernilai menurut kitabullah Alquran harus diberi nilai yang sesuai, dan apa-apa yang menyimpang harus dinilai menyimpang.

Pada satu sisi, disayangkan adanya banyak perbuatan kaum muslimin dilakukan berdasar prasangka tentang kebaikan tanpa dihubungkan dengan petunjuk dalam kitabullah Alquran. Demikian pula banyak prasangka buruk terhadap kebaikan yang ditentukan tanpa berpegang pada kitabullah Alquran. Ada pula hukum halal dan haram ditentukan dengan prasangka, dan banyak masalah lain. Karena keadaan itu banyak kebaikan-kebaikan yang dilakukan menjadi tidak mempunyai bobot nilai yang layak karena pengetahuan yang kurang. Masalah semacam ini sangat serupa dengan ahlul kitab yang mengikuti hawa nafsu dalam berbuat kebaikan. Para ahlul kitab kehilangan kemampuan untuk membaca atau mengikuti bacaan kitabullah dengan benar, terseret untuk mengikuti pemahaman mereka sendiri tanpa berpegang dengan kitabullah. Umat islam hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh landasan yang tepat dari kitabullah Alquran bagi amal-amal yang mereka kerjakan.

Bacaan Ayat Yang Benar

Dewasa ini banyak kaum muslimin mempunyai keserupaan dengan kaum ahlul kitab mengikuti hawa nafsu dalam usaha memahami kitabullah. Mereka membangun pengetahuan dengan mengikuti hawa nafsu hingga kadang melampaui batas menganggap makhluk sebagai tuhan, menganggap orang-orang tertentu sebagai anak Allah, menjadikan rahib-rahib di antara mereka sebagai tuhan selain Allah dan sikap-sikap lain mengikuti hawa nafsu yang melampaui batas. Sebagian muslimin mengikuti pemahaman mereka sendiri tidak berusaha memahami tuntunan kitabullah dengan tepat. Mereka membangun pemahaman mengikuti manusia tanpa menjadikan tuntunan kitabullah sebagai tolok ukur kebenaran hingga tanpa disadari mengangkat manusia di antara mereka lebih dari seharusnya menyerupai ahlul kitab.

Orang-orang beriman dan orang-orang ahlul kitab adalah orang-orang yang telah diberi Allah kitab yang menuntun langkah. Orang-orang beriman adalah orang-orang yang membaca kitabullah dengan bacaan yang sebenar-benarnya, sedangkan orang-orang yang kufur terhadap kitab adalah orang-orang yang merugi.

﴾۱۲۱﴿الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَن يَكْفُرْ بِهِ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepada mereka, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu orang-orang yang beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS Al-Baqarah : 121)

Allah menurunkan penjelasan kitab-Nya kepada manusia pada setiap generasi. Orang-orang yang beriman berasal dari kalangan orang-orang yang berusaha membaca kitabullah dengan bacaan yang sebenar-benarnya. Ada banyak jenis kalangan manusia yang berusaha membaca kitabullah. Orang yang membaca kitabullah dengan sebenarnya adalah orang-orang yang berusaha untuk mengenal kehendak Allah melalui kitabullah yang dibaca. Mereka mengarahkan pemahaman yang terbentuk pada diri mereka untuk selaras dengan firman Allah sejauh yang mampu mereka pahami, tidak menjadikan kitabullah sebagai pembenaran bagi pemahaman yang mereka bentuk sendiri atau pemahaman bapak-bapak mereka saja. Sebagian orang membaca kitabullah mengikuti bacaan di antara kaum mereka tanpa berpegang pada kitabullah dan/atau tidak berusaha memahami firman Allah dengan sebaik-baiknya, hanya mengikuti pembacaan-pembacaan oleh orang-orang yang mereka ikuti. Sebagian kaum berusaha membuat pemahaman secara mandiri berdasarkan bacaan kitabullah agar dipandang sebagai orang-orang yang pandai di antara manusia. Banyak macam lain orang yang membaca kitabullah, dan orang yang beriman adalah orang yang membaca kitabullah untuk memahami kehendak Allah bagi diri mereka sesuai dengan tuntunan kitabullah.

Sebenarnya ada orang-orang di antara kaum muslimin yang mengetahui urusan ruang dan jaman mereka sesuai dengan penjelasan kitabullah. Dalam beberapa segi, bacaan orang-orang yang mengetahui urusan jamannya adalah bacaan kitabullah yang sebenarnya. Mereka itu dapat menunjukkan ayat Allah yang menjelaskan keadaan kauniyah mereka saat itu. Kaum muslimin dapat menggunakan penjelasan ayat itu sebagai basis memahami kehendak Allah. Allah mempunyai kehendak dalam menciptakan dan menghadirkan segala sesuatu kepada makhluk-Nya, dan orang-orang yang mengetahui urusan jamannya bisa mengantarkan orang lain untuk mengenal kehendak Allah bagi diri orang-orang yang terkait. Tetapi hendaknya diperhatikan, manusia tidak akan mengenal kehendak Allah tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran terkait dengan dirinya. Seringkali manusia terjebak untuk mengikuti orang lain tanpa bersungguh-sungguh memperhatikan kitabullah.

Tinggi rendahnya kedudukan seseorang di mata Allah bergantung pada keimanan dan ilmu yang mereka peroleh, karena Allah mengangkat kedudukan orang beriman dan berilmu di antara manusia beberapa derajat. Dalam banyak hal, ilmu berkaitan erat dengan ketakwaan, tetapi bisa saja suatu ketakwaan berdiri sendiri tanpa ilmu yang meluas. Orang-orang tertentu diciptakan untuk urusan yang lebih luas atau tinggi daripada yang lain maka ilmu yang diperuntukkan bagi mereka mempunyai lingkup yang lebih luas atau tinggi. Manakala ia bertakwa, ia memperoleh ilmu yang lebih luas. Pada orang lain, suatu ketakwaan akan mempertajam ilmu mereka, bukan menambah luas atau tinggi. Bila demikian, kemuliaan tidak selalu seiring dengan kedudukan seseorang. Semakin luas dan mendalam ilmu seseorang, ia berkedudukan lebih tinggi di mata Allah, tetapi kemuliaan seseorang tidak selalu bergantung pada kedudukannya.

Seharusnya manusia juga bertindak demikian, menjadikan orang-orang yang berilmu mempunyai kedudukan yang layak di antara mereka. Bila tidak demikian, mereka akan menjadi kaum yang direndahkan Allah karena kebodohan. Allah akan mengangkat suatu kaum dengan kitabullah Alquran yang diikuti kaum tersebut, dan merendahkan suatu kaum dengan Alquran yang mereka abaikan. Manakala mereka memandang rendah orang yang berilmu di antara mereka, mereka mungkin telah memandang rendah ilmu dari sisi Allah. Sebenarnya ilmu dan orangnya saling melekat. Cara pandang merendahkan orang berilmu pada kaum demikian terjadi karena mereka berada pada kedudukan yang rendah dalam pandangan Allah sehingga tidak mampu memandang nilai ilmu dari sisi Allah dengan selayaknya. Kadangkala syaitan menyeret suatu kaum untuk menuju kedudukan yang rendah maka kaum itu kemudian sulit untuk memandang ilmu dari sisi Allah dengan cara pandang yang tepat. Tinggi atau rendahnya kedudukan suatu kaum akan tergantung pada sikap mereka terhadap kandungan dalam kitabullah Alquran.

Orang-orang yang membaca kitabullah dengan bacaan yang hak itu adalah orang-orang yang beriman, dan orang yang mengingkari bacaan yang hak itu adalah orang-orang yang merugi. Orang yang mengikuti bacaan yang hak akan memperoleh keimanan yang mengangkat derajat diri mereka dalam pandangan Allah. Orang-orang yang merugi itu memandang bahwa diri mereka adalah orang-orang yang mengikuti kitabullah tetapi tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya mengingkari bacaan yang hak hanya mengikuti pendapat diri mereka sendiri. Barangkali mereka menyangka beriman sedangkan mereka mendustakan bacaan yang hak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar