Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Melangkah mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan menggunakan akal dan mau mendengarkan kebenaran. Mustahil bagi manusia mengikuti langkah Rasulullah SAW hanya dengan mempercayai kebenaran diri sendiri saja tanpa bisa mendengarkan kebenaran dari orang lain atau tanpa menggunakan akal untuk memahami kehendak Allah.
﴾۰۱﴿وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau menggunakan akal niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (QS Al-Mulk : 10-11)
Mendengarkan dan menggunakan akal merupakan salah satu pangkal keselamatan bagi manusia dalam menempuh kehidupan. Sangat banyak orang menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala karena tidak mau mendengarkan dan tidak menggunakan akal. Sangat banyak amal-amal yang harus dikerjakan oleh setiap diri manusia untuk memberikan kemakmuran bagi alam semesta, sedangkan amal-amal itu berjalin antara satu amal dengan amal yang lain, dan antara satu orang dengan orang yang lain. Jalinan-jalinan itu akan bisa menjadi rapi apabila satu orang dengan orang lain saling bisa mendengarkan untuk menguatkan pemahaman pada setiap individu.
Memahami kebenaran perkataan arti mutlaknya adalah mampu menempatkan suatu perkataan dalam kerangka ayat kitabullah, sedangkan ia memahami nilai manfaat dari kebenaran itu. Kemampuan memahami kebenaran harus dibina dalam diri setiap muslim, tidak boleh membiasakan mendustakan kebenaran atau membangun suatu pemahaman tanpa berusaha menyertainya dengan memahami tuntunan ayat kitabullah. Kebenaran yang dipahami tanpa berlandaskan tuntunan kitabullah akan mempunyai bobot pemahaman ringan. Kadangkala memahami tidak terjadi secara penuh. Mungkin seseorang merasakan kebenaran suatu perkataan tanpa mengetahui kedudukannya dalam kitabullah. Atau mungkin seseorang merasakan kebenaran hanya layaknya bayangan (imajinasi) tentang hubungan antara suatu perkataan dengan suatu ayat kitabullah. Hal demikian juga merupakan suatu cahaya pemahaman. Orang-orang yang berada di shirat al-mustaqim mempunyai kemampuan untuk memahami kebenaran dalam bentuk petunjuk-petunjuk, dapat membedakan petunjuk yang benar dan petunjuk yang salah.
Mendengarkan perkataan tidaklah dilakukan dengan secara membuta membenarkan perkataan orang lain, tetapi harus dilakukan dengan menimbang nilai kebaikan dari perkataan. Setiap orang harus berusaha untuk mendengarkan perkataan orang lain, tidak boleh bersikap senang menyanggah perkataan orang lain tanpa mengetahui secara jelas kesalahan yang ada pada perkataan itu. Adapun pertanyaan untuk menggali nilai hendaknya disampaikan dengan baik. Tidak jarang seseorang berbicara dengan perkataan sia-sia, maka menghindari pembicaraan demikian dibolehkan setelah dipastikan sedikitnya manfaat membicarakan perkataan-perkataannya.
Shilaturahmi dan Kesejahteraan
Kesejahteraan pada makhluk akan muncul apabila terjalin shilaturrahmi. Shilaturrahmi merupakan jalinan kasih sayang yang menghubungkan antara satu orang dengan orang lain dalam bentuk tertentu. Bentuk kasih sayang itu akan diketahui dengan pemahaman terhadap kehendak Allah. Shilaturrahmi ini akan terjalin baik apabila setiap orang dapat mendengarkan orang lain dengan tepat serta berusaha memahami kehendak Allah, dan akan rusak apabila orang-orang tidak mau mendengarkan kebenaran dari orang lain atau tidak mau memahami kehendak Allah atas diri mereka. Dalam semua bentuk turunannya, shilaturrahmi akan membentuk suatu jalan kesejahteraan bagi manusia dalam kehidupan di bumi. Tanpa shilaturahmi, sulit ditemukan jalan kesejahteraan. Shilaturahmi yang sesungguhnya terbentuk di atas pemahaman terhadap kehendak Allah.
Jalinan shilaturrahmi akan menjadi dasar-dasar terbentuknya al-jamaah di antara kaum muslimin. Mereka mengetahui bahwa Rasulullah SAW adalah pemimpin tertinggi bagi urusan besar mereka, dan urusan itu diturunkan hingga setiap diri mempunyai bagian urusan dari satu urusan besar Rasulullah SAW melalui suatu jalinan tertentu. Pengetahuan demikian seharusnya terbentuk hingga dalam wujud yang nyata, satu orang mengetahui hubungan urusannya dengan washilah dirinya dan mengetahui hubungan urusannya dengan sahabatnya. Seseorang tidak boleh membuka urusan dirinya dari Allah hanya untuk diri sendiri tanpa terkait dengan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya.
Basis dari pertumbuhan shilaturahmi di antara manusia adalah pembentukan rumah tangga yang baik dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Penurunan urusan dari urusan Rasulullah SAW hingga terbentuknya pengetahuan urusan setiap diri akan terjadi serupa dengan terbentuknya urusan antara seorang suami dengan isterinya dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Seorang isteri harus mencari urusan Allah bagi dirinya melalui suaminya, dan seorang laki-laki akan mempunyai pengetahuan tentang washilahnya serupa dengan isteri yang mencari urusan Allah melalui suaminya. Demikian urusan itu akan terjalin hingga terhubung dengan urusan Rasulullah SAW. Bila manusia mempunyai keinginan kuat untuk ibadah dengan ikhlas kepada Allah, mereka akan menemukan jalan untuk terhubung dengan urusan Rasulullah SAW melalui washilah-washilah dalam suatu al-jamaah.
Mendengarkan dan menggunakan akal menjadi kunci membina jalinan shilaturahmi. Sangat sulit membangun shilaturrahmi apabila orang tidak mau mendengarkan dan menggunakan akal untuk memahami kebenaran pihak lainnya. Misalnya kala seseorang berkeinginan untuk melakukan ishlah, apabila pembicaraannya hanya dihujat dan tidak dipahami dengan benar oleh pihak lainnya maka ia akan sulit untuk menerima hujatan itu hingga shilaturrahmi tidak dapat disambungkan. Kadangkala proses shilaturrahmi memerlukan proses panjang karena sikap buruk yang saling berbalas. Untuk proses yang lebih baik, cara penyampaian pesan satu pihak kepada pihak yang lain hendaknya dilakukan dengan jelas menghindarkan kesalahpahaman. Hal ini tetap akan mentah kembali bila salah satu pihak tidak mau mendengarkan pihak lainnya. Setiap pihak harus berusaha mendengarkan dan menggunakan akal untuk melangkah menuju keadaan yang lebih baik. Buruknya shilaturrahmi di antara masyarakat akan menjadi sumber masalah sosial di antara masyarakat.
Shilaturrahmi hendaknya mengarah pada realisasi kebenaran dari sisi Allah. Pada pokoknya, mendengarkan dan menggunakan akal harus dilakukan terhadap seruan orang-orang yang menyeru kepada Allah. Tidak terbatas pada pokoknya, hal demikian harus pula dilakukan terhadap pihak lain agar terbentuk hubungan shilaturrahmi yang lebih luas. Shilaturahmi kepada orang-orang yang menyeru kepada Allah akan menjadikan seseorang lebih memahami urusan Allah yang harus direalisasikan dalam kehidupan. Orang-orang yang menyeru kepada Allah adalah orang-orang yang mengenal urusan Allah untuk diwujudkan dalam kehidupan. Shilaturahmi kepada masyarakat luas akan menyebarkan (sedikit) kebenaran yang telah dikenalnya kepada masyarakat hingga masyarakat diharapkan juga menolong realisasi kebenaran yang diperkenalkan kepada diri mereka.
Yang dimaksud orang yang menyeru kepada Allah adalah orang-orang yang menyeru umat manusia untuk memahami ayat-ayat Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW serta menyeru manusia untuk memahami ayat kauniyah sesuai dengan kedua tuntunan itu, agar pengetahuan itu diwujudkan dalam langkah amal-amal mengikuti kehendak Allah sesuai ruang dan jamannya. Kadangkala suatu kaum meletakkan kebenaran pada suatu proses atau pada seseorang di antara mereka tanpa dimanfaatkan untuk berusaha memahami tuntunan kitabullah. Hal demikian tidak dapat dikatakan mengikuti seruan kepada Allah. Menyeru kepada Allah adalah menyeru manusia melangkah mengikuti firman Allah yaitu Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang harus berprasangka ada kebenaran pada seruan dari orang lain kepada Allah dan memikirkan kebenaran seruan itu. Seseorang tidak boleh mengikuti langkah orang lain kembali kepada Allah secara membuta tanpa disertai usaha memahami tuntunan kitabullah.
Pada kasus tertentu, ketidakmampuan mendengarkan perkataan orang lain menunjukkan adanya suatu kesesatan dalam mencari kebenaran. Kaum yang meletakkan kebenaran pada orang-orang tertentu di antara mereka tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah akan mengalami kesesatan terjebak dalam fanatisme. Mereka bisa saja menjadi tidak mampu mendengarkan kebenaran dari perkataan orang lain sekalipun orang tersebut menjelaskan kandungan dari ayat-ayat kitabullah yang dapat dipikirkan kebenarannya pada kauniyah mereka. Hal ini sangat mungkin terkait langsung dengan sikap mendustakan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena salah meletakkan kebenaran. Sikap pendustaan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mencari kebenaran merupakan bentuk kesesatan dalam perjalanan kembali kepada Allah.
Sebagian Madlarat Tidak Mendengarkan
Proses pemiskinan akan terjadi mengikuti kesesatan pada suatu kaum yang disebabkan ketidakmampuan mendengarkan dan menggunakan akal. Orang-orang demikian tidak mempunyai pengetahuan yang tepat terhadap sesuatu yang berharga dan yang tidak berharga. Apa yang berharga mungkin tidak dihormati dengan selayaknya sedangkan mereka bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu yang tidak berharga. Apa yang bermanfaat besar ditinggalkan dan sibuk mengerjakan hal yang tidak penting. Hal demikian akan menumbuhkan proses pemiskinan. Orang-orang yang mempunyai pemikiran berharga kemudian mungkin tidak dapat memberikan sumbangsih kepada masyarakatnya, sedangkan masyarakat sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak berkaitan dengan masalah ruang dan jaman mereka. Pola lainnya, kadangkala masyarakat terkumpul pada suatu bidang sempit hingga setiap orang berebut mengerjakan hal yang sama tanpa mengetahui luasnya jalan produktif dalam diri mereka yang harusnya mereka tempuh. Atau boleh jadi satu orang menghancurkan jalan kehidupan orang lain baik disadari atau tidak disadari. Bila dilakukan dengan keinginan, hal itu merupakan kejahatan. Kadangkala menghancurkan yang lain terjadi tanpa disadari karena kebodohan. Hal-hal demikian menyebabkan terjadinya proses pemiskinan.
Bila seseorang benar dalam menghamba kepada Allah, seharusnya terjadi perbaikan dalam kehidupan mereka, setidaknya dalam memahami kauniyah kehidupan dirinya. Pemahaman itu seharusnya merembes dalam bentuk perbaikan kehidupan jasmaniah, tetapi seringkali seseorang dijadikan lebih cerdas dengan ujian-ujian kehidupan yang banyak. Artinya, kebaikan yang diberikan kepadanya lebih berbentuk kecerdasan akal dalam memahami ayat Allah. Kadangkala suatu kaum merasa telah menjadi hamba Allah tetapi tidak ada perbaikan dalam kehidupan mereka dan justru semakin memburuk. Ia tidak bertambah cerdas dalam memahami ayat Allah dan tidak pula kehidupan duniawinya membaik. Hal demikian menjadi indikator bahwa mungkin mereka sebenarnya kurang dalam kemampuan mendengarkan kebenaran dan tidak menggunakan akalnya. Setiap hamba Allah hendaknya memperhatikan keadaan diri mereka dengan seksama, tidak mengaku-aku bahwa Allah suka menimpakan ujian kepada dirinya sedangkan ia tidak bertambah memahami masalah. Hamba Allah yang baik akan mengalami perbaikan kehidupan baik dalam bentuk rezeki bathiniah (dan) akal atau rezeki jasmaniah karena tertatanya kehidupan duniawi sesuai dengan penjelasan (bayyinah) Allah.
Proses pemakmuran akan terjadi mengikuti perbaikan nafs seseorang atau suatu kaum dengan mau mendengarkan dan mau menggunakan akal. Bila tidak ada kemampuan mendengarkan atau menggunakan akal, tidak akan terwujud perbaikan nafs pada suatu kaum, dan tidak akan terwujud pemakmuran pada kaum tersebut. Barangkali proses pemakmuran pada suatu kaum tidak langsung berwujud kemakmuran jasmaniah, tetapi terjadi penataan nafs di antara kaum dalam melaksanakan urusan Allah. Harus diperhatikan bahwa orang-orang pada kaum tersebut mengalami peningkatan akal dalam memahami urusan Allah. Bila tidak terjadi peningkatan pemahaman dalam urusan Allah, tidak akan terwujud sumber-sumber pemakmuran bagi suatu kaum, dan sebenarnya tidak ada proses pemakmuran pada kaum tersebut. Bukan proses pemakmuran yang belum terlihat, tetapi tidak ada proses pemakmuran yang terjadi. Kadangkala tidak adanya proses pemakmuran tampak seperti terjadi suatu proses pemakmuran tetapi kembali runtuh tanpa suatu sebab yang diketahui.
Indikator dari peningkatan pemahaman adalah jumlah ayat-ayat kitabullah yang dipahami selaras dengan kauniyah mereka dan diterapkan dalam kehidupan. Manakala pemahaman itu hanya suatu ajaran yang dijejalkan, ajaran itu bukanlah suatu pemahaman terhadap ayat Allah. Manakala orang-orang mengerti ayat kitabullah terkait kehidupan mereka, itu adalah pemahaman yang tumbuh. Manakala suatu kaum hanya bergantung pada perkataan seseorang, mereka belum mempunyai pemahaman. Mungkin perkataan itu merupakan panduan yang berguna, hanya saja mungkin kaum itu belum memahami. Bila perkataan itu dianggap kebenaran mutlak tanpa usaha memahami kaitan kebenarannya dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, kaum demikian hanya mengikuti bid’ah.
Pemakmuran secara jasmaniah akan terjadi mengikuti terbentuknya jalinan shilaturahmi yang baik dalam rumah tangga dalam melaksanakan amal-amal. Rumah tangga pasangan manusia merupakan bentuk shilaturahmi yang secara khusus berfungsi melahirkan khazanah dalam diri manusia ke alam dunia termasuk pemahaman-pemahaman terhadap kebenaran. Seandainya para laki-laki hanya mengejar kekayaan dan kedudukan duniawi saja, para isteri yang baik akan mendatangkan jalan-jalan kekayaan dan kedudukan bagi mereka sehingga terjadi pemakmuran duniawi. Manakala para laki-laki adalah shalihin yang memahami kehendak Allah, akan terwujud pemakmuran sesuai kehendak Allah bila para isteri mereka mau memperhatikan pemahaman suami mereka. Apabila para isteri meninggalkan suaminya, mereka akan hidup dalam kesulitan terutama bila suami mereka adalah orang-orang yang shalih. Banyak suami dan isteri tidak memperoleh bagian dari dunia karena visi masing-masing berbeda. Sekalipun visi masing-masing tampak indah, tetapi tidak disertai dengan penyatuan arah kehidupan secara benar dengan saling mendengarkan dan menggunakan akal untuk memahami pihak lainnya, kehidupan akan sulit.
Pemakmuran tidak akan tumbuh manakala jalinan shilaturahmi dirusak. Banyak hal dapat merusak shilaturahmi. Bila para perempuan tidak dibina untuk menempati kedudukan sebagai penolong suaminya, shilaturahmi yang terbentuk akan lemah. Bila orang-orang di suatu kaum tidak dibina untuk dapat menempati kedudukan yang tepat, akan terjadi perebutan kedudukan yang akan merusak shilaturahmi. Demikian pula manakala ilmu-ilmu dan kebenaran yang ada di masyarakat tidak dihargai, masyarakat tidak akan dapat membentuk shilaturahmi yang kokoh di antara masyarakat sebagai landasan kesejahteraan. Menempatkan orang pada kedudukan yang tepat harus dilakukan dengan menilai jenis ilmu yang diberikan kepada seseorang serta bobotnya, tidak dilakukan dengan mereka-reka kedudukan baginya. Bila seseorang belum diberi ilmu Allah, ilmu-ilmu kebenaran yang dapat dikumpulkan dapat menjadi pertimbangan menentukan kedudukan yang tepat. Ada ilmu-ilmu tertentu yang bersifat fitnah dapat menggantikan ilmu-ilmu hakikat, hal demikian dapat merusak shilaturahmi di antara masyarakat. Setiap muslimin hendaknya berusaha untuk membina jalinan shilaturahmi yang benar agar terbentuk pondasi untuk pembinaan kesejahteraan.
Kadangkala suatu kaum merasa telah berjuang untuk menegakkan agama tetapi tidak muncul kesejahteraan bagi diri mereka. Bila demikian, hendaknya mereka membina suatu pemahaman yang tepat. Tidak sedikit orang yang merasa berjuang untuk agama sebenarnya telah meruntuhkan nilai-nilai agama. Mereka berjuang memakmurkan syiar-syiar agama tetapi justru meruntuhkan pokok-pokok agama. Salah satu pokok dari agama adalah terbentuknya shilaturahmi dan pernikahan, serta separuh bagian lainnya adalah ketakwaan dalam memahami kehendak Allah sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar