Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Landasan dasar dalam mengikuti seruan Rasulullah SAW adalah membina sikap kasih sayang dalam diri terhadap makhluk-makhluk lain berdasarkan suatu pengetahuan tentang kebenaran. Pembinaan itu merupakan sarana untuk dapat mendekat kepada Allah. Tauhid mengikuti Rasulullah SAW dibentuk melalui pembinaan sifat kasih sayang hingga seorang muslim layak didekatkan kepada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karenanya setiap muslim harus membina kasih sayang dalam dirinya. Tanpa pembinaan sifat ini, seseorang tidak dapat dikatakan mengikuti Rasulullah SAW, layaknya kaum khawarij yang mengikuti Dzul Khuwaisirah yang melakukan ibadah menakjubkan.
Pembinaan sifat kasih sayang di antara orang-orang beriman harus dilakukan hingga menyentuh tingkatan nafs wahidah. Nafs wahidah merupakan jati diri penciptaan manusia berupa makhluk cahaya sebagaimana asal penciptaan para malaikat. Ia adalah makhluk yang mengenal rabb-nya, mengenal kedudukan dirinya dalam kesatuan Al-Jamaah yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. Di tingkat alam dunia, nafs wahidah mengenal amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya sebagai ketetapan yang baru, karena baru diberikan manakala ia terbentuk sebagai janin pada umur 120 hari. Banyak hal terkait nafs wahidah yang tidak dapat diceritakan satu demi satu, dan pembinaan kasih sayang hingga nafs wahidah itu adalah jalan untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW.
﴾۱﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafs wahidah, dan dari-nya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu ( QS An-Nisaa : 1)
Agama terletak pada nafs wahidah. Awal dari agama adalah ma’rifat kepada Allah, sedangkan ma’rifat seseorang kepada Allah terletak pada pengenalannya terhadap nafs dirinya, yaitu nafs wahidah dirinya. Karena hubungan demikian, dapat dikatakan bahwa agama terletak pada nafs wahidah. Umat islam hendaknya bersungguh-sungguh untuk memahami pengajaran-pengajaran terkait dengan nafs wahidah untuk digunakan sebagai bahan untuk mengenal nafs wahidah dirinya sehingga ia dapat menemukan agama yang ditentukan bagi dirinya. Setidaknya, pengajaran-pengajaran itu akan mengantarkan seseorang untuk dapat memperoleh ketakwaan.
Agama pada paragraf di atas menunjuk pada definisi agama yang sesungguhnya, suatu jalan kehidupan yang seharusnya diperoleh orang-orang islam. Definisi demikian tidak boleh digunakan untuk menggolongkan orang yang tidak mengenal nafs wahidah sebagai orang kafir, tetapi sebagai orang yang mengikuti agama islam. Hanya saja orang yang belum mengenal nafs wahidah tidak termasuk orang yang mampu menegakkan agama, tetapi hanya mengikuti. Tidak ada kesimpulan sederhana yang dapat diambil terhadap setiap orang yang telah mengikuti islam. Bisa saja seseorang termasuk ahli surga tanpa diazab atas rahmat Allah sekalipun tidak mengenal nafs dirinya.
Mengenal Nafs Wahidah
Sentralitas nafs wahidah dalam agama pada dasarnya terletak pada fungsinya sebagai lokus pembinaan sifat rahman dan rahim dalam diri manusia. Sangat banyak lokus cinta dalam diri manusia, misalnya hawa nafsu terhadap kedudukan ataupun kecintaan terhadap materi dan kecantikan lawan jenis. Kecintaan yang terdapat pada lokus-lokus selain nafs wahidah tidak menjadi tempat yang layak untuk sifat rahman dan rahim, walaupun dapat mengantarkan kepada nafs wahidah. Sifat rahman dan rahim akan terbangun dengan baik apabila dibina pada nafs wahidah. Seseorang akan mengenal kehendak Allah, mengenal keadaan kauniyah, mengenal kandungan firman Allah, mengenal kedudukan diri dalam jamaah Rasulullah SAW, mengenal hubungan dirinya dengan isteri dan keluarganya, serta mengenal peran dirinya bagi masyarakat seluruhnya.
Allah menyediakan bagi manusia suatu sarana dalam bentuk fisik untuk membina sifat rahman dan rahim pada nafs wahidah dalam wujud pasangan dan pernikahan. Kebanyakan manusia terkurung di alam fisik hingga sulit untuk mengenal nafs wahidah dirinya yang hidup di alam cahaya. Hal itu tidak boleh menjadi penghalang bagi manusia untuk menumbuhkan sifat rahman rahim di tingkatan nafs wahidah, karena Allah menyediakan sarana fisik untuk membina hal itu. Bila seseorang memperhatikan keberpasangan dan pernikahan dirinya dengan sebaik-baiknya, ia akan tergerakkan untuk mengenali nafs wahidah. Misalnya pernikahan akan menuntut munculnya perhatian terhadap pasangan dan anak-anak, maka itu merupakan dorongan menuju nafs wahidah.
Pernikahan merupakan setengah bagian dari agama, dan setengah bagian lainnya adalah ketakwaan. Ketakwaan itu sendiri pada bagian besarnya sebenarnya muncul dari keberpasangan nafs wahidah diri manusia, jadi pernikahan merupakan sarana utama pendahulu dari agama. Perjanjian pernikahan merupakan mitsaqan ghalidza yang serupa namanya dengan jenis perjanjian mitsaqan ghalidza antara Allah dengan rasul-rasul-Nya. Kesamaan nama itu juga merupakan tanda adanya kesamaan fungsi walaupun dalam bentuk berbeda. Suatu pernikahan merupakan media yang disediakan Allah bagi manusia untuk mengenal kehendak-Nya dengan tepat, sama seperti rasul yang diutus Allah untuk menyeru manusia untuk mengenal kehendak-Nya dengan benar. Walaupun keduanya berbeda bentuk, tetapi keduanya merupakan sarana untuk mengenal kehendak Allah dengan benar, dan pernikahan menyentuh diri setiap manusia.
Allah menyediakan bagi manusia jalan untuk memahami kehendak-Nya melalui pernikahan. Pernikahan akan menjadikan akal seseorang tumbuh hingga mengenal nafs wahidah diri mereka. Akal merupakan kemampuan seseorang untuk memahami kehendak Allah, suatu kekuatan yang tersembunyi di balik pikiran manusia. Pertumbuhan akal melalui pernikahan ini tidak sendirian, tetapi disertai pula dengan pertumbuhan dan pertambahan hawa nafsu yang banyak sebagai anak-anak yang tumbuh dari pernikahan nafs mereka. Akal dan hawa nafsu seseorang akan tumbuh secara seimbang melalui pernikahan, dan dengan kedua bekal tersebut seorang manusia akan mempunyai sarana untuk mewujudkan kehendak Allah di alam dunia.
Tetapi kadangkala terjadi gangguan pada salah satu aspek pertumbuhan maka terjadi ketidakseimbangan pertumbuhan kekuatan akal dengan pertumbuhan hawa nafsu. Misalnya kekuatan akal seseorang mungkin menjadikannya mengenal nafs wahidah tetapi hawa nafsu tidak tumbuh seimbang dengan akalnya. Ibarat suatu pasukan, keadaan itu dapat digambarkan layaknya seorang jenderal yang hanya memperoleh anak buah dari kalangan prajurit tidak mempunyai perwira-perwira bawahan yang menghubungkan perintahnya kepada mereka. Manakala jenderal itu memberikan perintah, tidak ada anak buah yang merasa benar-benar berhak untuk melaksanakan perintah itu, maka perintah jenderal itu tidak terlaksana dengan baik. Atau sebaliknya para prajurit itu bertindak tidak disiplin karena merasa tidak diawasi atasan yang lebih dekat dan melekat kepada diri mereka. Di sisi lainnya kadang-kadang hawa nafsu manusia tumbuh melebihi kekuatan akalnya hingga manusia berbuat menyimpang secara berlebihan mengikuti hawa nafsu dan menyangka melaksanakan perintah Allah.
Apabila seseorang dapat tumbuh akalnya untuk memahami keadaan yang terjadi sesuai dengan tuntunan Allah, maka ia akan mempunyai pengetahuan-pengetahuan terhadap kehendak Allah. Boleh jadi pengetahuan yang tersusun pada awalnya bersifat potongan-potongan pengetahuan sehingga seseorang tidak benar-benar mengetahui persis keadaan yang sebenarnya. Apabila seseorang terus berusaha untuk memahami keadaan yang terjadi, potongan-potongan itu akan semakin lengkap hingga mengantarkan seseorang berada pada atau dekat dengan jati dirinya. Sekalipun dekat atau berada pada jati dirinya, seseorang seringkali tidak bisa mengetahui jati dirinya hingga Allah membukakan kepada dirinya tentang nafs wahidah dirinya. Keterbukaan itu merupakan pengenalan diri.
Membina Akal dan Kasih dengan Benar
Kekuatan memahami kehendak Allah dengan tepat pada peristiwa yang terjadi merupakan sifat rahman, dan berbuat yang terbaik untuk orang lain berdasarkan pemahaman itu merupakan sifat rahim. Dua sifat itu harus ditumbuhkan secara seimbang di dalam diri setiap manusia melalui pernikahan. Sifat rahim itu serupa dengan rasa cinta dan kasih di antara laki-laki dan perempuan, tetapi mempunyai landasan yang lebih kokoh dan bersifat lebih abadi. Cinta kasih suami isteri yang berada pada hawa nafsu atau syahwat seringkali berubah atau pupus seiring waktu, sedangkan cinta kasih pada tingkatan nafs wahidah akan bersifat menetap. Intensitas rasa rahim seringkali mendatangkan kekuatan yang besar dalam bentuk ketajaman inderaa dalam membangun kesepahaman di antara makhluk-makhluk sebagaimana seorang ibu memahami komunikasi bayi tanpa kalimat verbal umum. Manakala sifat rahim terhambat, seringkali terjadi gangguan dalam komunikasi. Sifat ini tidak kalah penting untuk ditumbuhkan pada setiap manusia karena perwujudan kehendak Allah di alam dunia akan terjadi dengan baik melalui sifat rahim. Orang yang mengenal kehendak Allah mungkin akan tidak disukai oleh masyarakat manakala tidak tumbuh sifat rahimnya.
Sifat rahim kadangkala tidak tumbuh dengan baik pada diri seseorang sekalipun seseorang mengenal diri. Barangkali ketidakseimbangan itu terkait dengan ketidakseimbangan pertumbuhan hawa nafsu. Pernikahan yang buruk bisa mengganggu keseimbangan pertumbuhan kedua sifat tersebut. Misalnya bila inisiatif atau kebenaran dari satu pihak selalu dibantah atau direndahkan pihak lainnya, orang tersebut tidak akan dapat melangkah sesuai dengan kekuatan akalnya. Akalnya mungkin dapat berkembang dengan baik tetapi hawa nafsunya akan terhambat. Suatu kekejian dapat membuat seseorang selalu memandang buruk pihak lainnya sekalipun ketika berbuat baik, sedangkan ia tidak dapat melihat kesombongan yang ada pada dirinya sendiri. Bahkan kadangkala seseorang tidak mempunyai kesombongan tetapi merendahkan pasangannya karena silau dengan kebenaran dari pihak lain hingga merendahkan kebenaran yang dapat dipahami oleh pasangannya. Suatu keadaan keluarga yang buruk dapat mendatangkan dampak yang buruk pada orang-orang yang berkeinginan untuk menjadi baik. Untuk menumbuhkan sifat rahman dan rahim, suatu pasangan hendaknya dapat membangun kebersamaan dalam memahami kebenaran.
Ketepatan memahami kehendak Allah melalui pernikahan harus diusahakan setiap orang melalui ketaatan terhadap ketentuan-ketentuan dalam pernikahan. Ketepatan dalam memahami kehendak-Nya dan berbuat sesuai pemahaman itu merupakan bentuk ketakwaan. Sangat banyak dorongan hawa nafsu yang menjadikan seseorang keliru dalam memahami kehendak Allah sehingga mungkin saja seseorang merasa memahami kehendak Allah tanpa menyadari pemahamannya keliru, karenanya setiap orang harus berusaha memperhatikan tuntunan-tuntunan dalam pernikahan. Tanpa memperhatikan tuntunan-Nya, pemahaman terhadap kehendak Allah bisa terbalik-balik hingga suatu kebenaran menjadi dosa dan suatu kesalahan dipandang sebagai kebenaran. Bila terjadi demikian, masyarakat akan binasa karena menyalahi mitsaqan ghalidza yang diperjanjikan di hadapan Allah.
Sangat banyak ketentuan yang perlu diperhatikan setiap orang agar dapat memahami kehendak Allah dengan benar. Hampir setiap momen kebersamaan menghadirkan ketentuan yang seharusnya diperhatikan. Ketentuan-ketentuan itu akan menjadikan seseorang memahami kehendak Allah. Ada ketentuan mendasar yang bersifat umum. Bagi setiap orang, tidak boleh ada suatu kekejian dalam pernikahan. Orang yang bermudah-mudah dalam kekejian tidak akan mampu memahami kehendak Allah dengan benar hingga kadangkala menjadikan cara berpikir mereka terbalik. Orang yang mempunyai kesenangan dalam berbuat keji boleh jadi memandang perbuatan keji mereka sebagai suatu kebaikan. Bisa saja seseorang merasa berbuat baik dengan memberikan kebahagiaan kepada isteri atau suami orang lain sedangkan itu sebenarnya sangat merusak keadaan lawannya karrana akan selalu memandang buruk kebaikan-kebaikan pasangannya yang sah. Kerusakan demikian akan membawa kerusakan yang besar pada masyarakat. Pada orang-orang tertentu, ketentuan pernikahan itu bersifat khusus. Beberapa kelompok manusia perlu memperhatikan prinsip nafs wahidah sebagai landasan pernikahan tanpa boleh melanggarnya. Sebenarnya hal demikian seharusnya diperhatikan setiap orang, tetapi tidak semua orang mempunyai kesempatan mengetahui. Orang yang mengetahui harus memperhatikan ketentuan demikian karena akan membuka rahmat yang sangat besar, dan tidak boleh menghindari karena akan menjadi dosa yang menghalangi langkah mereka.
Membangun kebersamaan dalam membina sifat rahman dan rahim seringkali tidak mudah dilakukan. Rasa cinta kasih pada tingkat lebih rendah akan memudahkan kebersamaan, tetapi seringkali surut pada masa yang pendek. Hendaknya setiap pihak berusaha mempertahankan untuk masa yang panjang. Cinta kasih demikian bukan suatu syarat utama untuk membina sifat rahman dan rahim dan seringkali ekspektasi terhadap cinta pasangannya justru menjadi waham yang menghambat seseorang untuk membangun kebersamaan. Keinginan untuk bertaubat dan hidup dalam kehendak Allah lebih memberikan manfaat dalam membangun sifat rahman dan rahim. Keinginan demikian harus diwujudkan dalam bentuk berusaha mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, misalnya bersikap baik kepada pasangan, berusaha memahami langkah yang dilakukan pasangannya, mau meminta maaf dan mencari ridha dan hal-hal lain. Pada tahap awal, sangat banyak hawa nafsu yang harus diruntuhkan agar dapat berproses menuju akhlak yang lebih baik, sedangkan ekspektasi cinta-cintaan pasangan itu seringkali sangat tinggi. Bila tidak keinginan pada salah satu atau keduanya untuk bertaubat dan hidup sesuai kehendak Allah, Badai itu akan memporak-porandakan kebersamaan mereka dengan mudah. Setiap orang harus berkeinginan untuk bertaubat dan hidup dalam kehendak Allah dan merealisasikan kehendak itu dalam perbuatan yang nyata. Dengan langkah-langkah demikian akan terbangun kebersamaan dalam langkah menuju Allah, dan terbina sifat rahman dan rahim pada diri mereka masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar