Pencarian

Minggu, 21 Juli 2024

Mengikuti Petunjuk dengan Pengetahuan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara tanda kemuliaan akhlak yang terbentuk adalah penyatuan hati di antara masyarakat. Turunnya manusia ke alam bumi menjadikan mereka bermusuh-musuhan antara satu dengan yang lain. Natur dari penciptaan manusia dan penempatan di bumi akan membuat mereka bermusuh-musuhan. Jasmani manusia akan tumbuh mengikuti tabiat asal penciptaan mereka yang dilengkapi dengan syahwat terhadap alam bumi. Demikian pula interaksi jasmani dengan nafs menumbuhkan hawa nafsu yang jauh lebih cerdas daripada hawa nafsu makhluk-makhluk bumi yang lain. Demikian pula syaitan akan membuat manusia bermusuh-musuhan satu dengan yang lain. Selama manusia terwarnai kental dengan natur bumi mereka, mereka akan selalu bermusuh-musuhan.

Barangkali ada orang-orang tertentu yang kemudian menyadari keadaan demikian dan berusaha untuk memperoleh jalan untuk menjalani kehidupan dengan damai dan rukun bersama orang lain. Allah akan menurunkan petunjuknya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya agar mereka dapat melangkah menuju penyatuan hati di antara umat manusia. Hilangnya permusuhan dari hati manusia terhadap yang lain dan terbentuknya penyatuan hati merupakan salah satu aspek terpenting pemakmuran bumi. Banyak pemakmuran bumi dilakukan manusia akan tetapi hati mereka terpecah-pecah dan bermusuh-musuhan maka pemakmuran jasmaniah itu bisa saja menjadi tidak bermanfaat.

﴾۳۲۱﴿قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS Thaahaa : 123)

Petunjuk pada ayat di atas terkait dengan permusuhan yang terjadi di antara manusia satu dengan yang lainnya dalam kehidupan di bumi. Suatu petunjuk seringkali diturunkan Allah dengan tujuan untuk menghilangkan permusuhan di antara satu orang dengan yang lain, atau mungkin menumbuhkan penyatuan hati di antara masyarakat. Petunjuk itu akan menjadi berkah bagi manusia. Tidak terbatas demikian, suatu petunjuk sebenarnya berkaitan pula dengan upaya berdzikir kepada Allah.

Banyak bentuk-bentuk petunjuk di antara manusia, tetapi tidak semua petunjuk bersifat benar. Ada petunjuk-petunjuk yang terwujud dari dorongan hawa nafsu dan syahwat, ada petunjuk yang datang dari para syaitan, ada petunjuk yang berasal dari alam langit untuk menguji keikhlasan hamba Allah, ada yang diturunkan langit karena Allah memerintahkan kepada mereka untuk menurunkan pengetahuan kepada orang-orang yang dikehendaki, ada petunjuk dari Allah. Sangat banyak bentuk petunjuk yang dapat diperoleh oleh seorang manusia di alam bumi dan tidak semua petunjuk benar, maka hendaknya setiap manusia menguji kebenaran petunjuk-petunjuk yang mereka peroleh.

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menguji kebenaran petunjuk adalah tercapainya tujuan mengurangi permusuhan di antara manusia dan penyatuan hati di antara mereka. Suatu petunjuk yang benar tidak akan diturunkan untuk memecah-belah manusia dan menjadikan mereka saling bermusuhan satu dengan yang lain. Sebenarnya suatu petunjuk tidak diturunkan sebagai suatu dikte untuk memerintahkan manusia berbuat seperti robot menjalankan suatu tugas tertentu tanpa suatu pengetahuan hakikat dari sisi Allah. Manakala suatu petunjuk diturunkan, orang-orang yang menerima petunjuk itu harus berusaha memahami kehendak Allah dari petunjuk itu dan menerapkan dengan bijaksana. Manakala suatu petunjuk menimbulkan permusuhan di antara manusia, maka hendaknya penerimanya tidak mengikutinya hingga mengetahui jalan agar petunjuknya tidak menimbulkan permusuhan di antara manusia. Ia boleh membicarakan dengan orang-orang tertentu selama tidak menimbulkan masalah di antara mereka.

Petunjuk-petunjuk yang benar tidak pernah bertujuan untuk memecah-belah manusia atau menjadikan bermusuhan. Ada petunjuk-petunjuk yang benar dan ada pula petunjuk-petunjuk yang tidak benar. Setiap petunjuk itu harus diuji kebenarannya dan diikuti dengan sebaik-baiknya bila benar. Ada orang yang memperoleh petunjuk kadang-kadang justru menjadi saling bermusuhan karena petunjuk. Lebih lanjut, kadangkala perselisihan tersebut bukan karena petunjuk yang salah tetapi karena penerimanya tidak memahami atau tidak mau mengikuti petunjuk yang diberikan. Misalnya manakala dua pihak menerima petunjuk berjodoh tetapi salah satu atau keduanya mangkir dari petunjuk itu kemudian timbul fitnah yang besar di antara keduanya, maka mereka kemudian menjadi bermusuh-musuhan. Bukan tidak mungkin syaitan turut serta menurunkan petunjuk-petunjuk yang salah untuk semakin mengaduk-aduk keadaan untuk menimbulkan fitnah yang semakin besar. Hal demikian tidak jarang terjadi, maka hendaknya setiap petunjuk disikapi dengan sebaik-baiknya.

Manakala terjadi perselisihan di masyarakat antara suatu petunjuk melawan petunjuk yang lain, maka hendaknya setiap pihak merujuk pada tuntunan kitabullah Alquran karena ia merupakan petunjuk yang tidak pernah salah. Perdebatan dan perselisihan seringkali terjadi karena kurangnya pengetahuan terhadap kehendak Allah. Kebenaran bukan terletak pada banyaknya orang-orang yang mendapat petunjuk yang sama, dan tidak terletak pada tingginya kedudukan seseorang di antara masyarakat, tetapi pada orang yang lebih mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Hal ini harus disadari, karena perselisihan dalam masalah petunjuk seringkali mempunyai implikasi-implikasi yang besar melibatkan perintah Allah dan fitnah syaitan. Penyelesaian perselisihan demikian tidak boleh dengan cara penekanan legitimasi otoritas bahwa petunjuk pada satu pihak merupakan petunjuk Allah dan yang lain boleh dituduh petunjuk palsu, tetapi harus diperhitungkan implikasi yang ditimbulkan dari mengikuti masing-masing petunjuk. Implikasi utama yang harus menjadi pertimbangan adalah berkurangnya permusuhan di antara manusia dan terjalinnya persaudaraan berdasarkan petunjuk Allah. Ada orang-orang yang mempunyai kedudukan lebih khusus daripada orang lain, akan tetapi hendaknya tidak menjadikan umat meninggalkan tuntunan kitabullah karna hal demikian.

Orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah akan memperoleh jalan yang benar dan ia tidak akan celaka, sedangkan orang yang tidak mengikutinya tidak memperoleh jalan yang tidak sesat dan mungkin akan celaka. Ketidaksesatan dan keselamatan itu terletak pada giatnya seseorang dalam mengikuti petunjuk Allah, yaitu petunjuk yang mengarahkan manusia untuk menjauhi permusuhan dan membina persatuan. Manakala tidak mengikutinya, Mungkin ia berhenti pada suatu keadaan tertentu hingga perlahan-lahan membusuk, atau ia menempuh jalan yang sesat.

Petunjuk dan Kelapangan

Petunjuk itu akan diberikan kepada hamba-hamba Allah yang bertaubat menempuh jalan kembali kepada Allah. Tanda berjalannya seseorang dalam bertaubat adalah peningkatan kualitas dzikirnya kepada Allah. Dzikir menunjuk pada usaha artikulasi pemahaman seseorang terhadap kehendak Allah hingga terlihat pada wujud-wujud dzahir. Manakala seseorang menyebutkan asma Allah, ia telah berdzikir. Manakala ia berusaha memahami kitabullah, ia juga berdzikir. Dzikir demikian mempunyai tingkatan-tingkatan kualitas. Kualitas tertinggi suatu dzikir kepada Allah adalah terbentuknya bayt seseorang untuk mengartikulasikan pemahamannya terhadap kehendak Allah. Barangkali ia berusaha mewujudkan tatanan umat manusia untuk mencapai keikhlasan beribadah kepada Allah atau ia mewujudkan hasil-hasil karya bendawi untuk kebutuhan umat manusia, selama amal itu berdasarkan pemahaman terhadap kehendak Allah sedikit atau banyak maka itu termasuk dalam bentuk dzikir.

﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaahaa : 124)

Dzikir harus dilaksanakan oleh setiap hamba Allah, dan ia harus mengusahakan untuk memperoleh kualitas dzikir yang terbaik. Petunjuk Allah merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas dzikir setiap hamba Allah. Boleh jadi seseorang berusaha keras untuk mewujudkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia kemudian ia memperoleh petunjuk, maka petunjuk itu merupakan jalan meningkatkan kualitas dzikir dirinya. Bila ia berbangga dengan dirinya terhadap orang lain dalam mewujudkannya, petunjuk itu tidak lagi bermanfaat meningkatkan kualitas dzikirnya. Dalam beberapa bentuk, petunjuk itu boleh jadi merepotkan orang yang menerimanya, tetapi benar-benar menjadi media transformasi membentuk dzikir yang lebih baik.

Orang-orang yang berpaling dari dzikir kepada Allah akan memperoleh kehidupan yang sempit dan akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berpaling dari dzikir adalah tidak memperhatikan terbentuknya dzikir yang terbaik. Perbuatan demikian terjadi karena seseorang tidak memperhatikan ayat-ayat Allah yang sampai kepada mereka. Mungkin mereka kufur terhadap ayat-ayat itu atau mereka merasa tidak mempunyai kepentingan terhadap ayat-ayat yang dibacakan kepada mereka karena keburukan akhlak terhadap Allah. Sebagian dari ayat Allah boleh jadi dibacakan tidak dalam tujuan untuk menyeru manusia mengikuti kehendak Allah, maka pembacaan demikian barangkali tidak menjadikan seseorang dalam tingkatan melupakan ayat-ayat Allah, tetapi hanya sekadar tidak terpancing perhatiannya. Ada orang-orang yang sangat ingin menyeru hamba-hamba Allah untuk mengikuti kehendak Allah, dengan seruan yang tepat dan jelas tetapi orang-orang tidak mendengarkan seruan itu karena keburukan akhlak mereka kepada Allah, maka mereka itu adalah orang yang melupakan ayat-ayat Allah.

Di antara petunjuk yang paling utama adalah petunjuk yang mengarahkan seseorang untuk membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Petunjuk jodoh termasuk bentuk utama dari petunjuk, dan petunjuk itu akan membuka sangat banyak khazanah Allah yang terhampar di bumi bila diikuti. Bila tidak diikuti, petunjuk itu akan sia-sia. Mereka termasuk orang-orang yang melupakan ayat Allah yang sampai kepada mereka. Hal ini tidak hanya berlaku dalam urusan pasangan. Setiap petunjuk benar yang tidak diikuti merupakan sikap melupakan ayat Allah.

Mengikuti petunjuk dalam hal ini adalah menguji kebenaran setiap petunjuk dan mencari pengetahuan makna petunjuk berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran, kemudian mengikuti petunjuk yang benar. Petunjuk yang bernilai benar adalah petunjuk yang telah jelas arahnya dan telah diuji kebenarannya. Berpalingnya seseorang dari petunjuk akan menyebabkan mereka mengalami kehidupan yang sulit dan kelak dihimpunkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Mereka termasuk orang-orang yang melupakan ayat-ayat Allah, dan mungkin hanya mengikuti hawa nafsu dan syahwat mereka sendiri. Seandainya mereka tidak menemukan kehidupan yang sulit di dunia, mereka akan menemukan kesulitan itu di akhirat. Satu penolakan terhada[p petunjuk akan menyebabkan suatu kesulitan tertentu hingga bila penolakan itu diteruskan kadangkala seseorang tidak dapat kembali untuk melaksanakan petunjuknya. Selama seseorang bisa memperoleh jalan kembali untuk melaksanakan petunjuknya, hendaknya ia berusaha untuk memperoleh kembali jalan itu.

Kadangkala jalan untuk memperoleh kesempatan melaksanakan petunjuk itu harus dilakukan dengan memperbaiki beberapa keadaan diri. Misalnya kadang halangan melaksanakan petunjuk itu berupa suatu perbedaan pendapat yang fundamental, maka hendaknya setiap orang berusaha untuk memahami masalah yang menghalangi itu dan membicarakan apa yang harus diperbaiki. Memaksakan pendapat yang salah bisa menjadi penghalang yang besar untuk melaksanakan petunjuk. Di antara muslimin, mungkin saja ada perbedaan pendapat yang sangat jauh hingga tampak seperti perbedaan tauhid atau perbedaan keyakinan. Kadangkala perbedaan pendapat terjadi karena pemahaman masing-masing pihak terhadap dampak yang ditimbulkan suatu amal berbeda. Mungkin saja satu pihak menganggap suatu amal akan mendatangkan manfaat yang besar sedangkan pihak lain memandang akan mendatangkan kerusakan yang besar. Perbedaan demikian tidak jarang menyebabkan suatu petunjuk tidak dapat diikuti. Tetap saja tidak terlaksananya petunjuk demikian mendatangkan kesempitan dalam kehidupan dunia, walaupun mungkin tidak dalam kehidupan akhirat bagi yang tidak mengingkari petunjuk.

Halangan demikian kadangkala harus diperbaiki dengan berubahnya satu pihak mengikuti pendapat yang lebih baik, atau halangan itu akan tetap bercokol menghalangi pelaksanaan petunjuk. Ibarat membangun kapal harus dibuat dengan bahan kayu yang baik, maka kayu-kayu lapuk dan busuk tidak boleh disertakan untuk membangun kapal karena akan menjadi titik lemah kapal itu. Memaksakan kayu lapuk akan menghalangi proses pembangunan kapal. Dalam banyak hal, bahtera pernikahan itu baru dapat dibangun manakala setiap pihak memahami pihak lainnya berdasarkan petunjuk Allah hingga tingkatan tertentu.

Suatu petunjuk Allah yang diikuti akan mendatangkan kelapangan bagi kehidupan, dan sebaliknya akan mendatangkan kesempitan dalam kehidupan bila tidak diikuti. Orang yang mengikuti petunjuk akan memberikan kelapangan pula bagi kehidupan masyarakat secara umum, dan yang meninggalkan petunjuk akan mendatangkan kesempitan bagi kehidupan masyarakat umum. Seseorang yang meninggalkan terbentuknya suatu bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah akan menghilangkan suatu manfaat diri dari sisi Allah yang seharusnya bisa disumbangkan kepada masyarakatnya. Selain dari hilangnya manfaat itu, sebenarnya syaitan memperoleh celah yang besar untuk mendatangkan fitnah bagi umat manusia karena seseorang meninggalkan petunjuk.

Hilangnya manfaat dan terbukanya celah fitnah itu akan menjadi tanggung jawab orang-orang yang meninggalkannya, dan pihak-pihak yang menyebabkan mangkirnya seseorang dari petunjuknya. Orang-orang yang meninggalkan petunjuknya dengan keinginannya sendiri akan kehilangan penglihatan bathin mereka di akhirat, karena sebenarnya penglihatan bathin demikian tidaklah mereka butuhkan. Orang yang meninggalkan petunjuk sebenarnya merupakan orang-orang yang tidak membutuhkan mata bathin, walaupun mungkin saja Allah memberikan mata bathin mereka dalam kehidupan di dunia. Dengan demikian, di akhirat mereka akan kehilangan mata bathin mereka dan hidup dalam kegelapan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar