Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW di antaranya adalah berusaha meningkatkan kualitas dzikir kepada Allah. Dzikir menunjuk pada usaha mengartikulasikan pemahaman terhadap kehendak Allah hingga terlihat pada wujud-wujud dzahir. Manakala seseorang menyebutkan asma Allah, ia telah berdzikir. Manakala ia berusaha memahami kitabullah, ia juga berdzikir. Dzikir mempunyai tingkatan-tingkatan kualitas. Kualitas tertinggi suatu dzikir kepada Allah adalah terbentuknya bayt seseorang untuk mengartikulasikan pemahaman terhadap kehendak Allah, yaitu meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Barangkali ia berusaha mewujudkan tatanan umat manusia untuk mencapai keikhlasan beribadah kepada Allah atau ia mewujudkan hasil-hasil karya bendawi untuk kebutuhan umat manusia, selama amal itu berdasarkan pemahaman terhadap kehendak Allah sedikit atau banyak maka itu termasuk dalam bentuk dzikir.
Dzikir kepada Allah merupakan bentuk hubungan vertikal dari upaya pemakmuran bumi. Hubungan antara dzikir dengan pemakmuran bumi sangat erat. Pemakmuran bumi tidak dapat terjadi tanpa dzikir, dan dzikir yang benar akan selalu mendatangkan pemakmuran bumi. Boleh jadi upaya seseorang dalam hal itu tidak mendatangkan hasil, tetapi sebenarnya dzikirnya itu benar-benar merupakan bahan pemakmuran bumi manakala manusia memahaminya. Kadangkala usaha seseorang dengan dzikirnya sia-sia karena umatnya tidak beriman atau mendustakannya. Orang-orang yang berdzikir kepada Allah sebenarnya akan mendatangkan pemakmuran bumi, dan orang-orang yang berpaling dari dzikir kepada Allah akan memperoleh kehidupan yang sempit dan akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta.
﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Dan barangsiapa berpaling dari dzikir pada-Ku, maka sungguh baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaahaa : 124)
Berpaling dari dzikir adalah tidak memperhatikan terbentuknya dzikir yang terbaik. Perbuatan demikian terjadi karena seseorang tidak memperhatikan ayat-ayat Allah yang sampai kepada mereka. Mungkin mereka kufur terhadap ayat-ayat itu, atau boleh jadi mereka merasa tidak mempunyai kepentingan terhadap ayat-ayat yang dibacakan kepada mereka. Itu menunjukkan akhlak kurang baik terhadap Allah. Ada orang-orang yang sangat ingin menyeru hamba-hamba Allah untuk mengikuti kehendak Allah dengan seruan yang tepat dan jelas tetapi orang-orang tidak mendengarkan seruan itu karena keburukan akhlak mereka kepada Allah, maka mereka itu adalah orang yang melupakan ayat-ayat Allah. Sebagian orang membacakan ayat Allah tidak bertujuan untuk menyeru manusia mengikuti kehendak Allah, maka pembacaan demikian barangkali tidak menjadikan seseorang dalam tingkatan melupakan ayat-ayat Allah, tetapi hanya sekadar tidak cukup menumbuhkan perhatian.
Memperhatikan Ayat Allah
Setiap hamba Allah harus memperhatikan ayat-ayat Allah sebagai media meningkatkan kualitas dzikir diri mereka. Dzikir tidak dapat dilakukan tanpa memperhatikan ayat-ayat Allah. Sebagian hamba Allah berusaha beramal shalih dengan amal-amal yang mereka pandang baik tanpa memperhatikan ayat-ayat Allah atau bahkan meremehkan ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka. Amal-amal demikian tidak akan mendatangkan kemakmuran yang sebenarnya karena tidak terhubung dengan kehendak Allah, sedangkan keshalihan yang mereka sangka mungkin hanyalah persangkaan belaka. Setiap orang harus berusaha melahirkan amal shalih, tetapi manakala tidak berusaha menemukan suatu landasan berupa pemahaman berdasar ayat Allah maka keshalihan itu hanya prasangka. Manakala mereka meremehkan ayat Allah yang sampai kepada mereka, maka boleh jadi mereka termasuk orang-orang yang mendustakan ayat Allah.
﴾۶۲۱﴿قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ
Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS Thaahaa : 126)
Ayat Allah akan tampak dalam berbagai bentuk, berupa ayat kauniyah, ayat kitabullah dan ayat dalam dada orang-orang beriman. Berdzikir kepada Allah harus dilakukan dengan memperhatikan kesatuan dari bentuk-bentuk ayat Allah tersebut. Manakala seseorang hanya mengikuti ayat kitabullah tanpa mengetahui hubungannya dengan ayat kauniyah, maka pembacaannya belum lengkap. Manakala seseorang hanya memperhatikan ayat kauniyah, boleh jadi ia hanya mengikuti indera parsialnya. Setiap hamba Allah harus berusaha berdzikir dengan melihat kesatuan dari ayat-ayat Alah yang dihadirkan bagi dirinya, maka ia akan memperoleh penjelasannya dan dapat berdzikir dengan lebih baik.
Ayat dalam dada menjelaskan kepada seseorang kesatuan ayat-ayat di luar dirinya berupa ayat kitabullah dan ayat kauniyah. Ayat dalam dada itu bisa saja telah ada sebelum seseorang benar-benar membaca kitabullah dan kauniyah, atau muncul setelah membaca salah satu dari ayat yang lain. Seseorang kadangkala mengikuti kata hati dalam usahanya menemukan makna kehidupan, dan kemudian makna kehidupan itu terbuka berupa munculnya pemahaman kesatuan makna kitabullah dan ayat kauniyah. Kemudian ia mengetahui bahwa langkahnya selama ini sebenarnya juga mengikuti kitabullah. Kadangkala seseorang harus mengikuti bacaan kitabullah dan ayat kauniyah terlebih dahulu maka ia dapat membaca ayat Allah dalam hatinya berupa petunjuk-petunjuk.
Sekalipun munculnya ayat dalam dada bisa saja mendahului, ayat kitabullah harus tetap menjadi ayat yang paling utama yang memimpin langkah seseorang. Seandainya ia mengikuti kata hatinya, ia tidak boleh mengikuti kata hati yang menyimpang atau bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Jauh lebih mudah dan aman bagi setiap orang untuk mengikuti tuntunan kitabullah daripada mengikuti kata hati sendiri, terutama bila ada pembimbing yang membacakan tuntunan kitabullah baginya. Akan tetapi kadangkala seseorang harus berhadapan dengan persoalan yang tidak mudah misalnya tidak sepakat dengan penjelasan yang ada atau ketika berhadapan dengan selipan syaitan, maka ia boleh mengikuti kata hati tanpa mengutamakan kata hati dari ayat kitabullah. Ayat kitabullah harus dijadikan imam dalam langkah kehidupan setiap orang, sedangkan petunjuk dalam hati dijadikan penjelasan bagi ayat kitabullah. Orang-orang yang telah mempunyai petunjuk dalam hati akan mudah dalam membaca kitabullah Alquran dan bersikap shidiq terhadap kitabullah.
Suatu petunjuk akan menjadi bahan pemakmuran bumi. Suatu petunjuk akan mendatangkan manfaat manakala terbentuk suatu dzikir dari petunjuk itu, dan dzikir itu hanya terbentuk dari pemahaman terhadap kitabullah. Tidaklah bisa disebut sebagai petunjuk segala penjelasan yang mendatangkan madlarat bagi kehidupan bumi, sebagaimana ayat kitabullah tidaklah mendatangkan madlarat. Ada orang-orang yang menyangka dirinya memperoleh petunjuk sedangkan ia tidak memahami kedudukan petunjuknya dalam kitabullah. Orang-orang demikian kadang bersenang hati mengambil tuntunan kitabullah yang mereka sukai dan tidak mau menerima tuntunan kitabullah berfungsi memperbaiki keadaan mereka. Suatu petunjuk hendaknya diuji dengan kitabullah hingga diketahui manfaat dari petunjuk itu bagi diri mereka dan bagi umat seluruhnya sebelum diterapkan.
Bentuk suatu dzikir yang paling utama bagi setiap manusia sebenarnya berupa pemahaman kedudukan diri mereka dalam kitabullah Alquran. Segala manfaat yang mungkin dilahirkan oleh seseorang akan mengikuti pemahaman terhadap kedudukan diri yang terbentuk. Sekalipun misalnya seseorang berkedudukan buruk dan penuh dosa, manakala ia mengetahui buruknya kedudukan dirinya dalam kitabullah maka ia akan dapat mengarahkan langkahnya menuju kedudukan yang baik dan dapat memberikan manfaat sekalipun dalam ‘buruknya’ kedudukan dirinya. Sebenarnya itu tidaklah buruk tetapi hanya merupakan kekurangan, dan hawa nafsulah yang mengatakan buruk. Manakala seseorang salah dalam memahami kedudukan dirinya dalam kitabullah Alquran, maka ia akan sulit untuk mengarah pada kedudukan yang lebih baik. Mungkin ia justru menimbulkan madlarat yang besar sekalipun beramal dengan amal yang tampak baik. Kasusnya seringkali terjadi dalam bentuk terselipnya makar syaitan dalam amal-amal baik mereka hingga makar itu tumbuh berbahaya bagi umat manusia.
Di dunia modern, hampir semua orang dibina untuk dapat melakukan suatu tugas khusus tertentu terutama terkait dengan kebutuhan kegiatan para pemilik modal dalam mengelola kemakmuran. Terbangun celah yang tidak disambungkan antara ilmu duniawi dengan agama hingga manusia tidak mengetahui hubungan ilmu mereka dengan ayat-ayat kitabullah. Dengan celah tersebut, umat manusia kemudian tidak mengetahui jalan untuk menyatukan ilmu mereka dengan ayat-ayat Allah. Adapun upaya penyatuan seringkali merupakan penyatuan yang dipaksakan, tidak berasal dari penyusunan suatu pemahaman terhadap pemahaman yang lain hingga membentuk pemahaman yang solid.
Manakala suatu penyatuan pemahaman belum terjadi, setiap orang hendaknya tidak menganggap suatu ilmu tidak bermanfaat. Ada sekelompok orang yang menganggap bahwa manusia hanya membutuhkan ilmu agama dan ilmu duniawi tidak dibutuhkan. Sebenarnya ilmu agama tidaklah seperti yang mereka pahami. Agama sebenarnya merupakan pelaksanaan fungsi penciptaan diri (fitrah diri) di dunia, bukan sekadar pengetahuan dan pelaksanaan ketentuan syariat yang telah digariskan Rasulullah SAW. Setiap pengetahuan tentang kauniyah merupakan ayat Allah yang dapat berguna pada saatnya, setidaknya dapat digunakan untuk memberikan manfaat duniawi. Manakala pengetahuan duniawi tidak ada, seseorang mungkin akan kesulitan atau tidak dapat menunaikan fungsi penciptaan dirinya (fitrah diri).
Bagi orang-orang yang belum mengetahui fitrah dirinya, penyatuan pengetahuan duniawi dengan ayat-ayat kitabullah dapat dilakukan dengan mentaati ulul amr, yaitu orang-orang yang telah mengetahui amanah berupa amr Allah yang diturunkan kepada mereka. Ulul amr adalah orang-orang yang memahami ayat Allah secara komprehensif berupa kesatuan pemahaman terhadap ayat kauniyah, ayat kitabullah dan ayat dalam diri mereka, terutama yang diperuntukkan bagi diri mereka sendiri. Pada dasarnya, orang-orang yang hidup pada jaman yang sama akan menghadapi kauniyah yang sama, maka mengikuti para ulul amr akan menempatkan seseorang pada ayat kauniyah yang sama. Urusan bagi masing-masing orang harus dicari dengan memikirkan keadaan diri masing-masing. Tentang kitabullah, setiap orang harus mengutamakan berusaha menemukan makna dari ayat kitabullah berdasar keadaan diri masing-masing daripada sekadar mengikuti ulul amr. Manakala berselisih dengan ulul amr, seseorang harus kembali pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mengekor secara membuta tanpa tuntunan Allah yang benar. Manakala ulul amr berselisih dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, seseorang harus mengikuti tuntunan Allah tidak boleh mengikuti ulul amr.
Penciptaan laki-laki dan perempuan bisa dijadikan contoh bagi manusia menentukan sikap. Sebenarnya setiap manusia diciptakan dengan mengandung aspek laki-laki dan perempuan. Hubungan nafs dan jasmani sangat serupa dengan hubungan laki-laki dan perempuan terutama dalam memahami kehendak Allah. Nafs manusia dapat mengenali rabb-nya sedangkan jasmani mereka mengenali rabb hanya mengikuti pengenalan nafs-nya. Sebenarnya nafs manusia pun mengenali rabb mereka hanya dengan mengikuti pengenalan Rasulullah SAW terhadap Allah, bukan pengenalan yang dapat berdiri sendiri. Pengenalan demikian membentuk silsilah dalam suatu jaringan, satu orang menjadi washilah bagi yang lain untuk terhubung kepada Rasulullah SAW. Bagi perempuan, washilah demikian bersifat tunggal yaitu terhadap suaminya yang terhubung melalui akalnya dalam memahami kehendak Allah.
Kesempitan Kehidupan
Kesempitan kehidupan biasa terjadi pada kaum muslimin yang meninggalkan dzikir kepada Allah, baik karena kelalaian mereka sendiri ataupun karena paksaan orang lain. Manakala seseorang yang memperoleh petunjuk mengetahui hubungannya dengan kitabullah, ia telah memperoleh suatu dzikir. Bila ia tidak mengikuti petunjuk itu, ia telah melalaikan dzikirnya, baik dilakukan karena mengikuti keinginan dirinya ataupun karena mengikuti orang lain yang memerintahkan meninggalkan dzikirnya. Sekalipun yang memerintahkannya seorang ulul amri, seseorang tidak boleh meninggalkan tuntunan Allah dengan mengikuti ulul amr. Secara keumatan, ia tidak boleh membangkang kepada ulul amr karena urusan keumatan menjadi tanggung jawab ulul amr, tetapi untuk urusan dirinya sendiri, ia harus berpegang pada tuntunan Allah. Ia boleh menentang perintah ulul amr untuk urusan dirinya berdasarkan tuntunan Allah dan Rasulullah SAW.
Kesempitan akan menimpa orang-orang yang meninggalkan dzikirnya. Umat secara keseluruhan juga akan mengalami kesempitan karena ditinggalkannya dzikir oleh seseorang atau kesulitan seseorang dalam menunaikannya. Kadang seseorang mengalami kepayahan melaksanakan dzikirnya karena keadaan yang tidak mendukung atau halangan oleh orang-orang yang menghalangi. Hal demikian akan menyempitkan kehidupannya, tetapi tetap ada jalan kecil yang menjadi tempat mengalirnya petunjuk. Kesempitan itu kadangkala timbul bukan karena halangan tetapi prasangka buruk dirinya terhadap orang lain yang tidak dapat dihindari. Barangkali ia tidak ingin berprasangka buruk, akan tetapi mungkin saja ada suatu perlakuan buruk atau ada hal buruk yang sampai kepadanya menjadikannya tidak dapat menghindari prasangka. Kadangkala seseorang meninggalkan dzikirnya karena hawa nafsu dan syahwat dirinya atau karena kebodohannya hingga hanya mengikuti orang lain. Kadangkala kedua sebab itu berjalin atau ia menjalinkan kedua alasan itu hingga seolah-olah mempunyai alasan menghindari dzikirnya karena perintah orang lain. Orang yang meninggalkan dzikir akan menjadikan kehidupannya akan sempit. Dalam beberapa hal, perbuatan demikian akan mendatangkan kebutaan bathin karena keabaiannya pada petunjuk.
Setiap orang harus berusaha memperhatikan ayat-ayat Allah hingga ia dapat berdzikir dengan baik. Nilai manfaat seseorang akan tumbuh seiring dengan kualitas dzikirnya kepada Allah, dan kedekatan kepada Allah akan ditentukan dengan kualitas dzikirnya. Tingkat kekuatan dzikir harus terpandu dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Menyimpangnya pertumbuhan dzikir seseorang dapat mendatangkan madlarat yang sangat besar, karena ada kekuatan dzikirnya yang salah. Puncak dari kekuatan dzikir makhluk adalah terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan bentuk bayt demikian hanya dapat dicapai dengan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membina bayt.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar