Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Kedekatan seorang hamba kepada Allah ditandai dengan kecintaan Allah pada hamba-Nya, yaitu hamba-hamba Allah yang mencintai-Nya dan mengikuti langkah-langkah Rasulullah SAW. Itu adalah langkah-langkah agar seseorang dicintai Allah. Manakala seseorang telah mempunyai pengenalan kepada rabb-nya, ia akan mencintai Allah karena kemuliaan-Nya. Apabila ia telah mencintai Allah dan mengikuti langkah-langkah Rasulullah SAW untuk kembali kepada Allah, maka ia dapat berharap Allah akan mencintainya. Itu adalah jalan yang benar bagi seorang hamba untuk dicintai Allah karena Allah menjanjikan demikian.
﴾۱۳﴿قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu". dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali Imran : 31)
Allah akan mencintai orang-orang yang mencintai-Nya dan mengikuti langkah Rasulullah SAW. Kedua keadaan tersebut harus dipenuhi oleh hamba Allah. Gambaran tentang hal demikian dapat dilihat dalam hubungan cinta seorang perempuan dan laki-laki secara khusus manakala mereka di jalan Allah. Seorang mukminat mungkin akan mencintai seorang laki-laki berdasarkan suatu urusan Allah bagi dirinya yang mulai dikenali dari laki-laki tersebut. Kecintaan demikian hendaknya diikuti dengan langkah mengikuti dan mendukung laki-laki itu dalam melaksanakan urusan Allah. Manakala mukminat itu kemudian bertindak sebaliknya, misalnya menimbulkan kesulitan bagi laki-laki itu dalam melaksanakan urusan Allah, merusak keadaan yang dibutuhkan untuk beramal shalih atau menimbulkan kerusakan lain-lain yang berakibat buruk bagi laki-laki itu, maka laki-laki itu akan sulit menumbuhkan cintanya. Kedua keadaan itu harus ada pada perempuan, maka laki-laki itu akan mencintainya di jalan Allah. Selaras demikian hubungan kecintaan yang seharusnya dibangun antara seorang hamba kepada Allah, yaitu hamba itu mencintai Allah dan mengikuti langkah Rasulullah SAW. Bila seseorang berjalan sendiri menyimpang atau tidak berjamaah di sunnah Rasulullah SAW, Allah tidak akan mencintainya.
Di pihak laki-laki apabila mereka di jalan Allah, kecintaan
yang timbul pada mereka merupakan kecintaan karena Allah. Mungkin
mereka akan merasakan hawa kecintaan dan harapan seorang perempuan yang ingin
bersama dengannya, tetapi tidak akan terseret oleh perasaan itu manakala
perempuan itu tidak mendukung dirinya dalam melaksanakan urusan Allah. Kecintaannya
hanya akan ditumbuhkan manakala perempuan itu mencintainya dan dapat
berjalan searah seirama dengan dirinya di jalan Allah melalui
pernikahan mereka. Dalam keadaan tertentu, mungkin ia mencintai isterinya sekalipun tidak mendukungnya karena mengetahui adanya suatu keadaan khusus yang terjadi.
Mengikuti Rasulullah SAW adalah mengikuti langkah beliau SAW untuk menuju kedekatan di sisi Allah. Perjalanan Rasulullah SAW mendekat itu secara nyata dapat dilihat dari puncak kedekatan manakala beliau dimi’rajkan hingga ufuk yang tertinggi bertemu dengan wajah Allah. Mi’raj beliau merupakan langkah terakhir seorang makhluk dalam perjalanan mendekat kepada Allah, dan seorang hamba kemudian menjadi hamba yang didekatkan. Setiap muslim hendaknya memahami hal demikian, tidak mereduksi bahwa mengikuti beliau SAW dapat dilakukan hanya dengan sekadar meniru apa-apa yang beliau kerjakan sebagai syariat. Mungkin perlu waktu panjang bagi seorang muslim untuk mencapai kedekatan kepada Allah, tetapi harus tumbuh suatu keinginan untuk mendekat, dan berusaha menghindari kelalaian dalam mendekat.
Mi’raj beliau SAW merupakan puncak langkah kedekatan kepada Allah. Ada banyak tahapan langkah yang beliau tempuh agar dapat menempuh puncak langkah demikian. Terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah merupakan syarat utama yang harus dicapai sebelum seorang hamba dimi’rajkan. Prasyarat untuk terbentuknnya bayt demikian adalah terbentuknya seorang laki-laki sebagai misykat cahaya yang dapat memproyeksikan dengan tepat bayangan dari cahaya Allah yang dilimpahkan kepadanya. Prasyarat pembentukan diri sebagai misykat cahaya berupa proses tazkiyatun-nafs. Tazkiyatun-nafs hanya dapat dilakukan bila seorang hamba melaksanakan syariat yang ditentukan baginya. Suatu omong kosong manakala seseorang mengatakan bahwa seorang khusus tidak perlu melaksanakan syariat karena semua langkah yang ditempuh seseorang bila ia melangkah akan runtuh manakala ia meninggalkan syariat. Ada banyak langkah-langkah yang harus ditempuh dan dicapai agar seseorang menjadi hamba Allah yang didekatkan. Mengikuti Rasulullah SAW dalam ayat di atas adalah mengikuti langkah-langkah beliau SAW untuk menjadi hamba Allah yang didekatkan sebagaimana dijelaskan di atas.
Pencapaian setiap tahapan di atas pada dasarnya merupakan manifestasi pertumbuhan kemuliaan akhlak, mencerminkan suatu pencapaian seseorang terhadap akhlak tertentu. Kemuliaan akhlak dalam hal ini adalah terbentuknya atau tumbuhnya sifat rahman dan rahim dalam diri seseorang. Tanpa adanya pertumbuhan sifat rahman dan rahim yang mengikuti langkah seseorang, pencapaian tahapan langkah itu seringkali merupakan pertumbuhan semu atau bahkan salah. Seseorang mungkin mencapai tahapan orang yang disucikan tetapi tidak disertai dengan tumbuhnya sifat yang baik, maka ia akan mudah terjatuh kembali pada keadaan dosa-dosa. Kadang suatu tahapan tercapai karena terbantu sesuatu yang bersifat temporer, atau bukan tidak mungkin seseorang menempuh suatu fitnah tertentu yang melejitkan langkahnya. Kesejatian langkah yang telah ditempuh itu harus diukur dengan melihat jejak Rasulullah SAW, tidak sekadar dilihat jarak lagkahnya.
Membina sifat rahman dapat dikatakan secara populer sebagai mencari kebenaran, secara khusus berupa mencari kebenaran agar dapat menunaikan kehendak Allah. Rahmaniah merupakan akhlak seseorang dalam hubungannya kepada Allah. Sifat rahmaniah manusia menunjukkan sifat kecintaan terhadap pemahaman dan ketaaatan terhadap tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kecintaan rahmaniah itu tidak hanya berlaku bagi diri sendiri, tetapi juga kesukaan memberikan kepada orang lain pemahaman dan mengajak pada ketaatan kepada Allah berdasarkan pemahaman adanya kemuliaan padanya, bukan sekadar memaksakan pemahaman.
Sifat rahim menunjukkan cinta kasih seseorang terhadap orang lain dan makhluk lain. Sifat rahim merupakan bentuk akhlak seseorang dalam hubungannya terhadap makhluk, terutama dalam urusan-urusan di alam ciptaan. Sifat rahimiah ditunjukkan dengan terwujudnya sikap yang baik terhadap makhluk-makhluk lain berupa keinginan memberikan kepada makhluk lain kemudahan dalam kehidupan. Gambaran sifat rahimiah tergambar pada seorang ibu yang akan berusaha keras penuh rasa sayang untuk memberikan kesejahteraan bagi anak-anaknya. Rahimiah seseorang harus tumbuh mengikuti sifat rahmaniahnya, tidak tumbuh tanpa arah karena dapat kecintaan demikian bisa saja justru mendatangkan madlarat alih-alih mendatangkan manfaat. Demikian pula sebaliknya, pemahaman seseorang terhadap tuntunan Allah harus ditimbang kebenarannya berdasar manfaat yang ditimbulkan.
Setiap kemajuan langkah dalam mengikuti Rasulullah SAW harus diukur dengan pertumbuhan pemahaman terhadap tuntunan Allah dan nilai manfaat diri yang dapat diberikan kepada orang lain. Itu adalah parameter membentuk bayt berdasar sifat rahman dan rahim. Demikian pula tahapan membentuk misykat cahaya harus diukur berdasar pemahaman terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pengenalan diri seseorang ditentukan ketepatan bayangan yang dibentuk seseorang dari cahaya Allah hingga ia mengenal kedudukan dirinya di alam kauniyah yang dipahami berdasar ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pengenalan diri seseorang tidak dapat dibentuk dengan prasangka diri, benar-benar terjadi berdasar bayangan cahaya Allah yang terbentuk dengan tepat, dan cahaya Allah yang paling benar dan jelas adalah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW sedangkan yang lain sangat mungkin tercampur adanya kebathilan.
Mencintai Sebagaimana Mestinya
Cahaya Allah memancar di alam semesta hingga alam bumi melalui berbagai sarana yang diturunkan bagi manusia. Kitabullah Alquran dan Rasulullah SAW merupakan sarana paling utama yang diturunkan bagi manusia untuk mengenal cahaya Allah. Tidak terbatas pada keduanya, sangat banyak sarana yang diturunkan bagi manusia agar mengenal cahaya Allah. Para nabi yang lain merupakan pengantar agar manusia dapat mengenal Rasulullah SAW. Demikian pula orang-orang shalih yang hidup pada setiap masa merupakan sarana-sarana agar manusia mengenal cahaya Allah.
Mengenal cahaya Allah akan menimbulkan kecintaan seseorang kepada sarana yang menyampaikannya. Hal itu merupakan sesuatu yang akan terjadi secara natural. Orang-orang islam yang mengenal kebenaran akan mencintai Rasulullah SAW dengan kecintaan yang lebih daripada kecintaan terhadap orang lain karena besarnya nilai kebenaran yang mengalir melalui Rasulullah SAW. Demikian pula orang-orang yang tidak bertemu Rasulullah SAW akan mencintai orang-orang yang mengajarkan kepada mereka kebenaran dan lebih besar mencintai Rasulullah SAW karena kebenaran yang disampaikan kepadanya.
Tumbuhnya rasa cinta demikian merupakan hal yang seharusnya terjadi, akan tetapi hendaknya benar-benar diperhatikan agar muncul kecintaan dengan proporsi tepat, karena sebagian jenis kecintaan bukan kecintaan yang benar dan bahkan bisa saja merupakan kekejian. Sebagian manusia menjadikan selain Allah sebagai orang-orang yang dicintai sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Orang-orang beriman tidak melakukan hal demikian, tetapi mereka mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat besar tidak setara dengan kecintaan mereka terhadap makhluk.
﴾۵۶۱﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai setara; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya.(QS A-Baqarah : 165)
Ayat tersebut menyatakan adanya orang-orang yang mencintai Allah dan mencintai orang lain atau makhluk-Nya dalam porsi yang sama. Kata “setara (أَندَادًا)” menunjukkan suatu perbandingan dalam kualifikasi yang sama, tidak secara berlawanan. Orang-orang demikian mempunyai warna yang juga kuat dalam mencintai Allah selain mencintai manusia. Mereka bukanlah orang-orang yang tampak menjadi musuh Allah, tetapi hanya dalam proporsi kecintaan kepada Allah dan kepada makhluk.
Barangkali ukuran porsi kecintaan seseorang agak sulit dibayangkan. Secara praktis, orang-orang demikian menunjukkan fenomena menjadikan makhluk sebagai representasi sepenuhnya bagi Allah, atau menunjukkan bahwa makhluk yang mereka cintai menjadi indikator yang setara dengan Allah. Segala sesuatu yang muncul dari makhluk tersebut dijadikan sebagai representasi sepenuhnya dari kehendak Allah tanpa menimbang berdasar tuntunan yang haq yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka mencintai segala sesuatu dari makhluk tersebut sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah, tanpa mengetahui kedudukan objek dalam hirarki washilah. Fenomena kasarnya, bahkan mereka mengikuti orang yang dicintai manakala harus bertentangan dengan tuntunan kitabullah sekalipun.
Orang-orang beriman harus menghindari sikap demikian. Kecintaan dalam diri orang beriman hendaknya tumbuh mengikuti kebenaran yang muncul melalui medianya secara proporsional. Menjadikan makhluk setara dengan Allah akan membuat manusia kehilangan akal dalam menimbang kebenaran dan kebathilan hingga mungkin saja suatu kebathilan dipandang sebagai kebenaran dan sebaliknya memandang kebenaran sebagai suatu kebathilan. Mengawali keadaan demikian, kepekaan akal seseorang terhadap kebenaran akan melemah hingga kadang menjadikan kebenaran itu berada hanya pada pihak mereka. Hal demikian merupakan kedzaliman dan orang-orang yang berbuat demikian termasuk dalam golongan orang-orang yang dzalim.
Tidak ada makhluk yang dapat dijadikan setara dengan Allah. Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling dekat dengan Allah dan menjadi cermin yang paling baik bagi cahaya Allah, akan tetapi hendaknya manusia tetap dapat melihat kedudukan beliau SAW sebagai rasul Allah, tidak menjadikan beliau SAW setara dengan Allah. Rasulullah SAW adalah sarana yang paling utama yang diturunkan Allah tanpa suatu kesalahan. Kecintaan yang benar seseorang kepada makhluk seharusnya terjadi karena Allah, yaitu kecintaan secara proporsional sesuai dengan kebenaran yang mengalir kepada dirinya melalui makhluk tersebut. Manakala tidak proporsional, ada yang kurang tepat dengan kecintaannya, misalnya mungkin kecintaan itu hanya berdasar hawa nafsu atau syahwat. Manakala seseorang mencintai makhluk sebagaimana cintanya kepada Allah, orang tersebut telah menjadi dzalim.
Allah akan menurunkan adzab kepada orang yang dzalim dengan cara demikian dengan adzab yang sangat keras. Mereka akan melihat bahwa kekuatan akan berada pada pihak yang menyeru kepada Allah hingga mereka mengetahui bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan untuk melawan. Sulitnya, adzab atau penglihatan itu akan mereka peroleh secara tertunda hingga waktu yang ditentukan. Yang dapat mengetahui adzab demikian adalah orang-orang yang menggunakan akalnya untuk berpegang pada tuntunan Allah dengan benar. Mereka akan mengetahui berbagai masalah yang meliputi mereka hingga menyadari atas keadaan apa adzab itu diturunkan. Orang yang terus mengikuti hiasan syaitan atas mereka akan terus memandang bahwa kecintaan mereka selayaknya demikian.
Menjadikan makhluk sebagai tara bagi Allah tidak boleh dilakukan oleh orang beriman. Demikian pula kecintaan seseorang terhadap makhluk tidak boleh sama dengan kecintaan kepada Allah, tetapi hanya dalam tingkatan proporsional dengan kebenaran yang mengalir melalui makhluk tersebut. Kecintaan mahkluk hanyalah kepada Allah, sedangkan Rasulullah SAW adalah penuntun menuju Allah. Karena mengalirnya kebenaran dari sisi Allah melalui beliau SAW, maka manusia boleh dan seharusnya mencintai Rasulullah SAW karena cinta mereka kepada Allah. Tepatnya seseorang dalam mencintai Allah dan proporsi cintanya kepada makhluk ditandai dengan pengenalan terhadap hubungan al-jamaah di antara mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar