Pencarian

Rabu, 05 November 2025

Bersikap Teguh di Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Menegakkan diri di shirat al-mustaqim membutuhkan perjuangan, bukan keadaan yang dapat ditempuh dengan mudah. Banyak pihak yang akan menghalanginya dari jalan Allah karena kufur dengan jalan Allah. Tegaknya seseorang di shirat al-mustaqim tidak akan mampu dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai penyakit kemunafikan ataupun orang-orang yang akalnya kurang kuat dalam berpegang pada tuntunan Allah. Hanya orang-orang yang membina diri untuk selaras dengan tuntunan Allah dan memahami firman-Nya dengan benar yang akan mampu tegak di atas shirat al-mustaqim.

﴾۰۱﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِن جَاءَ نَصْرٌ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ
﴾۱۱﴿وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ
(10)Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia ditimpa penderitaan (di jalan) Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?(11)Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik (QS Al-’Ankabuut : 10-11)

Ada orang-orang yang berkata bahwa mereka telah beriman kepada Allah tetapi tidak memahami tuntunan Allah dengan benar. Manakala manusia membuat fitnah-fitnah atas diri mereka dalam perjuangan di jalan Allah, mereka tidak mengerti bahwa apa-apa yang ditimpakan manusia atas diri mereka adalah fitnah-fitnah manusia dan mengira bahwa fitnah itu adalah adzab dari Allah. Itu merupakan bentuk pemahaman yang sangat lemah terhadap tuntunan Allah hingga penderitaan akibat fitnah-fitnah manusia yang seharusnya diluruskan hingga mengikuti tuntunan Allah justru dipandang sebagai adzab dari Allah. Keadaan demikian menjadikan mereka tidak mampu berjuang di jalan Allah.

Fitnah merupakan sesuatu yang menimbulkan persepsi tidak benar dan mendatangkan madlarat. Perkataan yang salah terhadap sesuatu hingga mendatangkan madlarat merupakan fitnah. Perselisihan dalam rumah tangga seringkali menjadi fitnah yang besar bagi masyarakat. Suatu ilmu yang mendatangkan madlarat merupakan fitnah bagi umat manusia walaupun ilmu itu dipandang baik. Manusia yang berpakaian mulia untuk menipu manusia merupakan bentuk fitnah. Sangat banyak fitnah yang bisa terjadi di antara manusia. Menyebarnya fitnah di antara manusia akan menjadi mudah manakala manusia tidak menggunakan akalnya. Orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsu akan sangat mudah terjangkiti fitnah. Fitnah yang menyebar di antara manusia akan mendatangkan suatu penderitaan hingga orang-orang mungkin mengira bahwa fitnah itu merupakan adzab dari Allah.

Kadangkala persangkaan diturunkannya adzab Allah terjadi di antara orang beriman terhadap orang beriman lain. Seorang beriman mungkin ditimpa suatu fitnah dari orang lain hingga ia mengalami suatu penderitaan, dan kemudian menyeret pula sahabat-sahabatnya atau orang lain dalam penderitaan. Karena itu kemudian orang beriman itu dituduh secara sembarangan telah mendatangkan adzab Allah. Kadangkala penderitaan itu tidak terjadi secara beruntun tetapi menjadi bahan penghakiman terhadap seseorang di antara orang beriman. Misalnya bisa saja seseorang mengalami sulit jodoh dianggap memperoleh adzab Allah karena sikap dirinya sedangkan ia sebenarnya mungkin sulit jodoh karena tertimpa fitnah dari orang lain. Tuduhan demikian ini tidak boleh dilakukan. Orang-orang beriman harus benar-benar berusaha memahami peristiwa penderitaan mereka berdasarkan tuntunan kitabullah hingga manakala terjangkit fitnah dapat menentukan sumber fitnah-fitnah yang terjadi dan mengangkat akar penderitaan, tidak secara sembrono menimpakan tuduhan adzab Allah kepada sahabatnya yang berjuang di jalan Allah.

Fitnah itu bisa sedemikian rumit hingga fitnah manusia disangka adzab Allah. Terjadi pengalihan nisbat peran jahat manusia membuat fitnah menjadi dinisbatkan sebagai peran Allah. Demikian pula perbuatan memfitnah itu dibuat menjadi tidak terlihat hingga disangka adzab Allah. Ada mekanisme yang sedemikian rumit untuk menjadikan fitnah dari manusia dipandang sebagai adzab Allah. Walaupun demikian mekanisme itu sebenarnya utamanya hanya bertumpu pada lemahnya keimanan umat dalam memahami kehendak Allah berdasar firman-firman yang tertera dalam kitabullah Alquran dan tuntunan sunnah Rasulullah SAW. Apabila orang beriman benar-benar menggunakan akalnya untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan terhindar dari menganggap fitnah manusia itu sebagai adzab Allah. Mereka akan mengetahui orang-orang yang membuat dan mengikuti fitnah-fitnah, dan tidak menganggap fitnah mereka sebagai adzab Allah. Manakala tidak berusaha memahami tuntunan Allah, mereka akan selalu dibelit dengan fitnah-fitnah hingga tidak dapat memahami jalan keluar yang ditunjukkan Allah.

Adanya suatu fitnah kadangkala membuat satu pihak mukminin menuduh pihak lain menimbulkan fitnah. Hal semacam ini bisa saja menjadikan kaum mukminin terjerat dalam suatu putaran tuduhan yang sulit diurai. Walaupun demikian, kaum muslimin harus berusaha untuk dapat keluar dari jeratan putaran fitnah di antara mereka. Untuk menghindari putaran tuduhan fitnah demikian, kaum mukminin hendaknya menentukan objek perselisihan dengan merujuk suatu ayat tertentu yang terkait dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mengungkapkan objek perselisihan tanpa landasan kitabullah. Fitnah itu merupakan ujian yang akan menunjukkan tingkat keimanan orang-orang yang berselisih. Orang yang lebih baik dalam keimanannya akan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan yang buruk akan mudah menentukan langkah hanya berdasarkan waham mereka sendiri. Tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai jalan keluar dari jerat fitnah ini tidak dapat digantikan dengan kekuatan atau kemampuan manusia. Kekuatan-kekuatan yang diberikan itu seharusnya digunakan untuk mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh digunakan untuk membantah atau berargumen terhadap kedua tuntunan tersebut.

Orang beriman hendaknya tidak beriman hanya dengan cara yang lemah, tetapi harus bisa benar-benar memahami tuntunan Allah hingga dapat membedakan suatu fitnah yang diperbuat oleh manusia dengan adzab yang ditentukan Allah. Keimanan yang dibina hendaknya bisa menjadikan mereka memahami perbedaan antara fitnah-fitnah dari manusia dan adzab Allah yang ditimpakan, tidak tergelincir mengatakan bahwa fitnah-fitnah manusia yang ditimpakan atas diri orang beriman tersebut sebagai adzab Allah. Ini hendaknya tidak dijadikan bahan perdebatan bahwa segala sesuatu Allah yang menentukan. Itu hanya satu aturan dasar, dan setiap orang beriman hendaknya tidak hanya memahami hukum dasar tetapi juga memahami hukum-hukum yang lain yang digelar Allah. Allah mungkin saja menggelar banyak hukum untuk suatu peristiwa dan menurunkan ketentuannya sesuai dengan keadaan makhluk-Nya. Pemahaman orang beriman hendaknya selalu ditingkatkan hingga mempunyai bekal pengetahuan tentang bagaimana Allah menurunkan ketentuan-Nya bagi makhluk.

Pemahaman yang kuat akan dapat diperoleh apabila orang beriman berusaha memahami tuntunan Allah untuk kehidupan diri mereka disertai dengan membina pemahaman terhadap nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam tuntunan-Nya. Mereka akan mengetahui jalan-jalan yang sesuai dengan tuntunan Allah dan dapat merasakan dosa-dosa yang dilakukan manusia manakala manusia menyalahi tuntunan Allah. Selanjutnya, mereka akan mengetahui bahwa ada orang-orang yang melakukan dosa-dosa hingga menimbulkan fitnah bagi orang lain khususnya orang beriman dan secara umum umat manusia lainnya. Fitnah-fitnah itu akan menimbulkan penderitaan bagi umat manusia layaknya adzab Allah. Orang beriman hendaknya mengetahui penderitaan yang disebabkan oleh fitnah manusia dan tidak mengatakan bahwa penderitaan itu adalah adzab Allah. Apabila tidak memahami tuntunan Allah, manusia tidak akan mempunyai kemampuan untuk membedakan fitnah manusia dan adzab Allah.

Manfaat Fitnah

Fitnah demikian itu merupakan bentuk ujian yang akan diturunkan Allah kepada orang-orang yang mengatakan bahwa dirinya beriman.

﴾۲﴿أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak ditimpa fitnah? (QS Al-’Ankabuut : 2)

Setiap orang yang mengatakan dirinya beriman akan diberi ujian untuk menunjukkan tingkat keimanan yang mereka katakan. Ujian itu terutama berguna agar orang yang bersangkutan mengetahui tingkat keimanan dirinya. Salah satu bentuk ujian yang akan ditimpakan kepada orang yang mengatakan dirinya beriman adalah suatu fitnah yang dibuat oleh manusia baik orang kafir ataupun orang-orang di antara mereka sendiri kemudian fitnah itu ditimpakan atas diri mereka. Fitnah itu akan menunjukkan reaksi mereka terhadap fitnah. Hendaknya mereka mengetahui tuntunan Allah tentang fitnah itu. Apabila mereka mengatakan bahwa fitnah yang dibuat manusia itu adalah adzab Allah, hendaknya mereka mengetahui bahwa keimanan mereka hanyalah keimanan yang lemah.

Keimanan yang lemah demikian merupakan keimanan yang mendekati keimanan orang-orang munafiq yang mempunyai keinginan bercabang, menginginkan dunia dengan mengabdi kepada Allah. Orang yang lemah imannya tidak berkeinginan kuat untuk memahami kehendak Allah. Orang yang beriman hendaknya berkeinginan untuk memahami kehendak Allah dan berusaha menunaikan kehendak tersebut. Bukti dari kuatnya keinginan memahami kehendak tersebut adalah keinginan memahami apa yang telah difirmankan dalam kitabullah dan dijelaskan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada bukti lain yang setara apalagi lebih baik daripada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik berupa kekuatan indera bathin ataupun yang lainnya. Kadangkala manusia terjebak pada pendapat dan waham umatnya, maka itu termasuk kelemahan keinginan memahami kehendak Allah, dan itu melemahkan keimanan. Ini bukan berarti seseorang tidak boleh mengikuti pemahaman orang-orang yang mengajarkan, akan tetapi hendaknya setiap orang mendengarkan pengajaran orang lain dengan berpegang pada kitabullah.

Allah akan menurunkan pertolongannya kepada orang-orang benar-benar beriman hingga mereka akan mencapai keberhasilan dalam jihad di jalan Allah. Perjuangan itu termasuk melawan fitnah-fitnah yang dibuat oleh manusia. Apabila orang-orang beriman tidak mengambil pengajaran Allah dari fitnah-fitnah yang terjadi, mereka akan terus terbelit dengan fitnah dan tidak memperoleh jalan untuk keluar dari masalah mereka. Kadangkala orang beriman memandang diri mereka sebagai pelopor dalam berbagai urusan tetapi sebenarnya tidak beranjak dari belitan fitnah karena tidak ada keinginan kuat berpegang pada tuntunan Allah, dan keadaan mereka terus saja terpuruk dalam berbagai masalah tanpa menyadarinya. Orang-orang yang lemah imannya itu pada waktu pertolongan Allah datang akan mengatakan bahwa mereka itu telah bersama sejak dahulu dengan orang yang berjihad, sedangkan sebenarnya mereka menyangka sebelumnya bahwa Allah menurunkan adzab kepada orang yang berjihad di jalan Allah, yaitu yang berjihad dengan mengikuti kitabullah.

Membangun Kebersamaan Di Jalan Allah

Kebersamaan dalam jalan Allah ditunjukkan dengan kebersamaan dalam berjuang di jalan Allah dengan landasan pemahaman terhadap firman Allah, disertai dengan pengetahuan bahwa fitnah yang menimpa dalam perjuangan itu adalah fitnah bukan adzab Allah. Orang-0rang yang berjihad bersama harus memahami firman Allah yang diperjuangkan. Berjihad tanpa memahami landasan firman Allah tidak termasuk yang berjihad di jalan Allah. Selanjutnya manakala terjadi suatu fitnah atas para mujahid, mereka mengetahui bahwa fitnah itu adalah fitnah bukan adzab Allah. Allah sama sekali tidak mempunyai kehendak menurunkan adzab kepada orang yang berjihad di jalan-Nya. Mereka hendaknya juga mengetahui bahwa fitnah itu adalah fitnah buatan manusia, tidak menisbatkan fitnah itu merupakan kehendak Allah. Orang-orang yang bersama di jalan Allah menunjukkan ciri-ciri yang disebutkan di atas.

Kasus fitnah pada ayat 10 Al-ankabut diijinkan Allah terjadi sebagai sarana untuk menunjukkan keadaan iman orang yang mengatakan dirinya beriman. Pada tingkat dasar, sebagian orang mungkin berjuang tanpa suatu usaha untuk memahami firman Allah yang menjadi landasan perjuangan mereka, maka barangkali lebih baik mereka tidak mengatakan bahwa diri mereka beriman. Bukan mengkafirkan diri, tetapi tidak perlu mendaku bahwa keimanan telah ada dalam dirinya. Boleh jadi mereka berjuang hanya mengikuti waham diri mereka saja atau mengikuti perkataan orang lain. Dalam banyak hal, berjihad di jalan Allah tidak dapat dilakukan oleh orang kafir atau ahli kitab karena jihad itu hanya dapat dilakukan dengan mengikuti ayat Allah. Bila suatu amal bisa dilakukan oleh orang kafir atau ahli kitab, amal-amal demikian boleh jadi belum masuk dalam kategori jihad di jalan Allah. Usaha memahami landasan jihad demikian ini adalah dasar dalam pengakuan keimanan.

Pada tingkat berikutnya, manakala terjadi fitnah atas orang yang berjihad di jalan Allah, hendaknya mukminin mengenali fitnah itu sebagai fitnah bukan adzab Allah. Hal ini menunjukkan tumbuhnya rasa persaudaraan di jalan Allah sebagai tanda tumbuhnya keimanan yang benar kepada Allah. Mungkin saja banyak orang yang mengaku beriman tetapi tidak mengenali orang yang berjihad di jalan Allah dan lebih memilih mengikuti orang yang hanya mengaku sebagai mujahid. Ini termasuk tanda rendahnya tingkat keinginan menghamba kepada Allah. Manakala suatu fitnah ditimpakan manusia atas orang yang berjihad, mungkin mereka akan beranggapan bahwa fitnah itu merupakan adzab Allah. Keimanan yang baik akan menunjukkan tumbuhnya persaudaraan di jalan Allah yang tampak pada keyakinan bersikap yang benar terhadap fitnah. Keyakinan membuta tanpa melihat masalah dengan benar tidak termasuk cabang keimanan.

Menganggap fitnah manusia atas orang yang berjihad di jalan Allah sebagai adzab Allah menunjukkan keimanan yang dekat dengan keimanan orang munafiq. Orang yang mengaku telah selalu membersamai orang yang memperoleh pertolongan Allah dalam jihad sedangkan sebelumnya mereka memandang fitnah sebagai adzab, dalam hati mereka terdapat kandungan kemunafikan. Allah mengetahui apa yang terkandung dalam hatinya. Kedekatan secara fisik saja tidak menunjukkan kebersamaan dalam jihad di jalan Allah selama seseorang tidak memahami kebenaran jihadnya di jalan Allah berdasar tuntunan kitabullah. Demikian pula seseorang tidaklah bersama di jalan Allah manakala menganggap fitnah atas sahabatnya di jalan Allah sebagai adzab Allah.

Apabila suatu saat seseorang memperoleh kesadaran merasa butuh untuk berjalan bersama seseorang di jalan Allah, hendaknya ia membangun kebersamaan di jalan Allah. Ia perlu menyampaikan sikap pembenarannya tentang jalan Allah yang ditempuh sahabatnya, dan bersiap untuk ikut bersama menanggung fitnah manusia atas jihadnya di jalan Allah. Pembenaran itu dapat dibina melalui pemahaman berdasar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bahwa perjuangan yang dilakukan benar-benar di jalan Allah, tidak melakukan pembenaran secara membuta hingga mudah tergelincir membenarkan para pemfitnah dan menganggapnya jihad di jalan Allah. Kebersamaan juga harus dibina dengan mengetahui bahwa fitnah yang ditimpakan kepada orang di jalan Allah itu adalah fitnah manusia bukan adzab Allah. Itulah sebagian langkah yang harus ditempuh. Tanpa bersikap demikian, seseorang belum dapat benar-benar bersama dengan sahabatnya di jalan Allah.

Minggu, 02 November 2025

Pembinaan Nafs untuk Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan kembali kepada Allah yang paling utama adalah shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim ditandai dengan suatu gerbang berupa keterbukaan makna suatu ayat kitabullah yang menyingkapkan rahasia dari alam kauniyah terkait dengan diri seorang hamba, sedemikian keterbukaan itu menjadikan seorang hamba memahami untuk apa dirinya diciptakan. Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan suatu ayat Allah demikian, ia telah tiba di gerbang shirat Al-mustaqim. Pada satu segi, shirat al-mustaqim merupakan jalan terbaik untuk mewujudkan pemakmuran di bumi. Seseorang akan mengetahui keadaan di bumi selaras dengan hakikat keadaan kauniyah dan mengetahui pula amal-amal yang bisa dilakukan untuk membawa keadaan kauniyah menuju lebih baik.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)". (QS Huud : 61)

Pemakmuran yang sebenarnya pada dasarnya terbentuk melalui terhubungnya urusan di alam tertinggi hingga mencapai ujung alam ciptaan berupa alam dunia. Ini adalah peran utama yang harus ditunaikan oleh setiap manusia sebagai makhluk bumi. Pada turunannya, setiap terhubungnya alam yang rendah pada suatu kebenaran dari alam yang lebih tinggi akan mewujudkan suatu bentuk pemakmuran tertentu. Setiap orang hendaknya berusaha untuk melakukan pemakmuran. Tetapi hendaknya disadari bahwa tidak jarang bentuk-bentuk pemakmuran itu hanya lemah atau semu, atau justru menyimpang apabila terhubung pada kebathilan pada alam yang tinggi.

Keterhubungan dua kedudukan yang berbeda harus terjadi secara kokoh untuk dapat mewujudkan proses pemakmuran. Setiap manusia hendaknya dapat mengenal dengan baik alam tempat dirinya tinggal dan dapat memahami dengan baik langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mewujudkan pemuliaan terhadap semesta diri mereka. Para pemimpin hendaknya menentukan langkah-langkah bangsa sesuai dengan keadaan bangsanya, tidak berbuat hanya untuk diri sendiri. Dalam hal ini, kebanyakan menusia lebih cenderung mendatangkan kerusakan terhadap alam bumi mereka daripada mengenali dengan baik alam buminya dan melakukan pemakmuran. Bahkan kadangkala seseorang merasa benar-benar melakukan pemakmuran tetapi sebenarnya berbuat sesuatu yang sangat merusak.

Seorang presiden misalnya mungkin saja melakukan pemakmuran dalam tingkatan kulitnya saja hingga mendatangkan penderitaan bagi bangsa karena keputusan bodohnya. Suatu pembangunan infrastruktur dibuat sedemikian megah untuk diperlihatkan kepada dunia sebagai pencitraan, tanpa berdasar kebutuhan yang nyata dan tidak memanfaatkan sumberdaya manusia di dalam negerinya secara layak. Ia membanggakan infrastruktur tersebut walaupun tidak mendatangkan manfaat yang memadai bagi bangsanya, tidak mendatangkan kesejahteraan dan justru mengusir orang-orang yang berkompeten dalam urusan tersebut dari kedudukannya. Yang terjadi selanjutnya, rakyatnya menghujat keputusannya membangun infrastruktur itu dan melihat kebodohan yang dilakukan presiden, sedangkan presiden itu berbangga dengan pembangunannya. Contoh dampak yang berbeda dapat dilihat pada pembangunan yang dilakukan pemimpin yang membangun hubungan yang kokoh dengan masyarakatnya. Seorang gubernur dan masyarakatnya dapat berbesar hati dengan suatu stadion kelas internasional yang dibangun dengan teknologi tinggi hasil karya putera bangsa. Banyak lapis masyarakat yang merasa puas memberikan manfaat dirinya dalam kemajuan daerahnya, bukan merasa risih hanya menonton pameran pencitraan sang pemimpin melalui infrastrukturnya. Hal ini bisa menjadi contoh pentingnya membina hubungan yang kokoh antar lapis kedudukan.

Proses pemakmuran yang paling kokoh dapat terjadi apabila proses pemakmuran dilakukan dengan menghubungkan suatu urusan dari sisi Allah untuk dapat terwujud di bumi. Ini merupakan peran utama yang hanya dapat dilakukan oleh manusia. Setiap manusia diberi kelengkapan dalam dirinya untuk terhubung kepada Allah dan entitas-entitas langit hingga alam bumi, menghubungkan setiap lapis alam untuk dapat melakukan proses pemakmuran sesuai dengan keadaan masing-masing. Ini harus dipahami dengan hati-hati. Terhubungnya seseorang dengan urusan Allah hanya benar apabila terhubung melalui urusan Rasulullah SAW, tidak mencomot secara acak urusan mereka. Kebanyakan manusia tidak perlu berkeinginan membina hubungan yang terlalu erat dengan alam langit tertentu karena urusan utama baginya adalah urusan di bumi, sedangkan urusan dengan alam langit hanya bagian bagi beberapa orang tertentu. Setiap manusia hendaknya memperhatikan keadaan diri untuk menentukan langkah melakukan proses pemakmuran.

Lancarnya proses pemakmuran akan mengikuti kokohnya hubungan yang dibangun bersama. Para pemimpin hendaknya tidak hanya mempercayai pikirannya sendiri, tetapi juga memperhatikan keadaan umatnya, kebutuhan mereka atas langkah yang dilakukan, menampung sumbangsih yang ingin diberikan oleh orang-orang di sekitarnya dan dapat diwadahi hingga dapat diarahkan untuk membantu terwujudnya pikirannya. Ibarat membangun stadion, ide seorang gubernur boleh saja terbatas hanya pada terpenuhinya kebutuhan suatu sarana stadion dengan ide besar tertentu dan budget yang telah ditentukan sedangkan rincian desain dan rekayasa hendaknya muncul dari para desainer dan engineer dari warga yang dilibatkan, sedemikian sebanyak mungkin warga terlibat dalam proses membangun. Sebagian dilibatkan dalam organisasi tertentu yang mendukung terwujudnya stadion, dan sebagian lain dapat berpartisipasi bebas dengan aturan semisal penjual makanan bagi tukang. Bila gubernur tersebut melaksanakan proses hanya setelah menentukan sendiri seluruh rincian, stadion itu tidak akan terbangun. Proses pemakmuran demikian akan bisa terwujud dengan baik apabila seseorang yang mempunyai urusan membangun hubungan yang baik dengan umatnya.

Banyak orang tidak dapat beramal sebagai dampak terputusnya pelaksanaan suatu urusan dengan masyarakatnya. Mungkin pengambil keputusan memutuskan perkara semena-mena tanpa pengetahuan yang mencukupi hingga memutuskan hanya untuk kepentingan sendiri, sedemikian orang-orang yang mempunyai keahlian tidak dapat memberikan keahliannya untuk masyarakat luas, atau terpaksa memberikan bagian yang buruk dari pengetahuannya. Seringkali pengambil keputusan demikian merasa mempunyai pengetahuan yang banyak tetapi sebenarnya ia berbuat dzalim tidak mau mengenal keadaan pengikutnya dengan tepat. Para ahli yang memberikan pandangan berbeda justru dipecat, dan pelaksana teknis diserahkan hampir sepenuhnya kepada pihak asing. Hal demikian seringkali terjadi karena proses pemakmuran tidak dilandaskan pada pengetahuan terhadap keadaan umat. Peristiwa demikian bisa saja terjadi pada orang beriman disebabkan suatu waham mengikuti perintah Allah tanpa memperhatikan dengan benar tuntunan kitabullah dan realitas keadaan umat. Pemegang urusan mungkin saja tidak lagi dapat mengenali orang-orang yang mengenal kehendak Allah. Hal demikian dapat menyebabkan para arifin tidak dapat beramal menunaikan kehendak Allah sedangkan mereka mengenal keadaan kauniyah dan mengenal perintah Allah.

Pemakmuran dan Pembinaan Nafs

Dasar dari proses pemakmuran bumi terletak pada pembinaan nafs dan apa-apa yang bersama dengan nafs tersebut. Pemakmuran yang dilaksanakan hanya pada tingkat fisik saja sebenarnya tidaklah akan mendatangkan pemakmuran. Boleh jadi pemakmuran demikian mendatangkan perselisihan yang banyak di antara masyarakat atau mungkin terjadi hal-hal lain. Banyak hal yang mungkin terjadi manakala pemakmuran hanya dilakukan di tingkatan fisik. Pemakmuran harus dimulai dari pembinaan nafs para manusia di masyarakat untuk dapat mengerti arti kemuliaan dari sisi Allah dan membina mereka untuk berkiprah dengan kemuliaan-kemuliaan dari sisi Allah.

﴾۱۱﴿لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (QS Ar_Ra’du : 11)

Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka sendiri. Mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka harus dilakukan dengan melakukan pembinaan nafs hingga nafs menyukai hal-hal yang mulia. Mustahil mengubah apa-apa yang ada pada nafs tanpa melakukan pembinaan nafs. Setiap nafs akan selalu terdorong untuk berdekatan dengan apa yang mereka sukai, hingga tidak mungkin mengubah apa-apa yang ada pada nafs tanpa melakukan pembinaan nafs. Nafs yang menyukai dunia dan kejahatan akan selalu mendekati dunia dan kejahatan yang mereka sukai, nafs yang bodoh akan menyukai waham diri mereka dan nafs yang berakal akan menyukai firman-firman Allah. Mengubah apa-apa yang ada pada nafs suatu kaum hanya akan dapat dilakukan dengan pembinaan nafs sehingga nafs menyukai kemuliaan dari Allah.

Baiknya keadaan suatu kaum akan terjadi manakala orang-orang pada kaum tersebut berkiprah dengan kemuliaan dari sisi Allah. Perubahan nafs dan yang membersamai nafs akan membawa perubahan keadaan kaum. Kadangkala suatu kaum salah bersikap kepada orang-orang yang menyukai kemuliaan di sisi Allah sedemikian kemudian memisahkan nafs mereka dengan apa-apa yang mereka sukai hingga tidak dapat menunaikan urusan-urusan Allah. Hal ini akan mencegah perubahan keadaan suatu kaum menuju kebaikan. Banyak kaum sejak jaman dahulu lebih menyukai waham-waham diri mereka hingga mengabaikan ayat-ayat Allah maka keadaan mereka tidak menuju kebaikan sedangkan mereka memandang baik keadaan diri mereka. Boleh jadi keadaan mereka sebenarnya telah tampak buruknya dalam kekuasaan orang dzalim tetapi mereka tidak menyadari bahwa keadaan itu terjadi karena mereka hanya mengikuti waham sendiri tidak berusaha mengikuti firman Allah. Apabila mereka mengikuti firman Allah, keadaan mereka akan berubah menuju keadaan yang lebih baik. Kebaikan yang ada pada sisi nafs itu akan mendatangkan perubahan keadaan suatu kaum.

Untuk melaksanakan pemakmuran, suatu kaum harus mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka, dimulai dengan mengubah nafs. Setiap anggota masyarakat hendaknya diperkenalkan dan didekatkan pada pengetahuan dan kebaikan sesuai keadaan mereka sedemikian setiap anggota masyarakat dapat berperan serta dalam kebaikan. Adanya kebaikan pada suatu nafs hendaknya difasilitasi untuk memperoleh pengetahuan dan menemukan peran, tidak disia-siakan. Tanpa pengetahuan, orang-orang baik mungkin tidak mampu berperan serta dalam pelaksanaan kebaikan. Pada puncaknya kebaikan itu berupa pelaksanaan firman-firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, dan setiap pengetahuan yang dapat digunakan untuk mewujudkan firman-firman Allah merupakan kebaikan. Proses pengubahan nafs tanpa berlandasakan firman Allah hanya akan mencapai kebaikan di tingkat rendah dan tidak jarang justru terjebak pada kesesatan yang mendatangkan kerusakan bagi umat manusia. Suatu pengetahuan tentang alam bumi bagi seseorang yang menyukai kebaikan akan mendatangkan kebaikan, tetapi bagi orang yang jahat akan mendatangkan kejahatan bagi umat manusia.

Metode pembinaan nafs utamanya dilakukan sebagaimana pembinaan pernikahan, satu nafs dipasangkan dengan pasangan yang tepat dalam kedekatan. Manakala terbentuk pasangan yang tepat, seseorang akan memperoleh media berkembang yang paling baik. Pengenalan atau cercah pengenalan seseorang terhadap pasangannya bisa diperoleh manakala nafs terdidik untuk mengikuti kehendak Allah. Seseorang tidak akan memperoleh jalan pengenalan secara tepat berdasar keinginan hawa nafsu dan syahwat. Sangat banyak pengenalan palsu dan pasangan palsu yang akan ditemukan seseorang manakala kurang dalam keikhlasan di jalan Allah. Apabila seseorang yang mengikuti pembinaan nafs di jalan Allah mulai dapat mengenali pasangannya, mereka hendaknya didekatkan untuk membentuk hubungan yang kokoh karena pasangan demikian akan menjadi bahan pemakmuran bumi. Dalam hal pasangan berupa laki-laki dan perempuan, jalan mendekatkan keduanya yang terbaik adalah dengan jalan pernikahan.

Dua pihak yang menikah harus dibina untuk menyusun hubungan yang kokoh dalam melaksanakan urusan Allah. Setiap laki-laki harus berusaha membina akal dengan sebaik-baiknya agar dapat memahami ayat-ayat Allah baik kitabullah maupun keadaan kauniyah dengan lurus sedemikian ia dapat menentukan langkah-langkah yang tepat dan perlu dilakukan untuk mewujudkan pemakmuran. Para isteri harus dibina untuk mengikuti langkah-langkah yang dipahami oleh suaminya agar suaminya dapat melangkah dengan baik mewujudkan pemakmuran. Pembinaan ketaatan isteri kepada suami setara dengan pembinaan ketaatan para laki-laki mengikuti Rasulullah SAW. Tidak ada laki-laki menjadi shalih dengan jalannya sendiri menempuh jalan di luar jalan Rasulullah SAW. Hubungan yang kokoh harus dibentuk di antara keduanya dengan membina kesepahaman dalam melaksanakan urusan terutama apabila suaminya dapat memahami amanah Allah yang harus ditunaikan. Para isteri yang berusaha mendampingi nafs suaminya akan menjadi faktor utama inspirasi suaminya dalam melakukan perubahan kaum menuju lebih baik. Nafs para isteri adalah sesuatu yang paling utama di sisi nafs suami. Para isteri tidak dapat digantikan oleh apapun di sisi nafs suaminya.

Pengubah keadaan manusia yang paling kuat adalah terbentuknya keberpasangan yang haqq dan kokoh di antara nafs-nafs umat. Pemakmuran tidak akan terjadi manakala pembinaan nafs sebagaimana pembinaan melalui pernikahan dirusak karena menyebabkan rusaknya bentuk-bentuk keberpasangan nafs. Tatanan manusia akan menjadi lemah atau bahkan rusak apabila orang-orang yang memperoleh jalan mengenal pasangan diri mereka baik berupa nafs pasangannya, atau pengetahuan-pengetahuan maupun amal-amal shalih yang diperuntukkan bagi masing-masing diusir dan diganggu hingga tidak dapat membentuk hubungan yang kokoh. Kaum yang dijauhkan dari sains dan teknologi akan sulit menjadi kaum yang maju pada bidang sains dan teknologi. Kaum yang mencari pasangan bagi nafs mereka mengikuti semata-mata syahwat dan hawa nafsu akan menjadi kaum yang hidup mengikuti hawa nafsu dan syahwat dan tidak akan bisa mewujudkan pemakmuran. Kaum muslimin yang tidak lagi mengenal apa yang dihalalkan dan yang diharamkan akan mudah terjebak pada penyembahan kepada selain Allah.

Nafs para isteri itu adalah sesuatu yang paling utama di sisi nafs suami dalam melakukan perubahan keadaan suatu kaum menuju yang lebih baik. Para perempuan itu memimpin ‘akal semesta’, segala sesuatu yang diperuntukkan bagi ia dan suaminya hingga tingkat pikiran jasmaniah manusia umat mereka. Para perempuan itu menjadi pakaian suaminya yang memancarkan citra diri mereka terhadap umatnya. Tegaknya suatu kaum akan dipengaruhi oleh kebaikan para perempuan. Manakala para perempuan dibina secara salah, kaum itu akan mengalami kekacauan. Baik atau rusaknya para laki-laki mempunyai pengaruh yang lebih kecil terhadap keadaan umat dibandingkan para perempuan, dan kadang pengaruh para laki-laki dapat teredam sepenuhnya oleh para perempuan. Perubahan suatu kaum akan terjadi dengan baik manakala para isteri dibina dengan benar menjadi orang yang tepat berada di sisi nafs suaminya. Demikian pula menjadi sesuatu yang paling merusak manakala mereka menjadi sesuatu yang salah di sisi nafs suaminya.


Minggu, 26 Oktober 2025

Teguh di Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan

Jalan kembali kepada Allah yang paling utama adalah shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim ditandai dengan suatu gerbang berupa keterbukaan makna suatu ayat kitabullah yang menyingkapkan rahasia dari alam kauniyah terkait dengan diri seorang hamba, sedemikian keterbukaan itu menjadikan seorang hamba memahami untuk apa dirinya diciptakan. Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan suatu ayat Allah demikian, ia telah tiba di gerbang shirat Al-mustaqim. Ia diperintahkan untuk tegak melaksanakan amanah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

Menegakkan diri di shirat al-mustaqim membutuhkan perjuangan, bukan keadaan yang dapat ditempuh dengan mudah. Banyak pihak yang akan menghalanginya dari jalan Allah karena kufur dengan jalan Allah, menghalanginya untuk memasuki masjid al-haram dan mengusir para ahli masjid al-haram tersebut menjauh dari masjid dengan melancarkan fitnah-fitnah agar orang-orang yang berada di jalan Allah berbalik (murtad) dari agama yang telah jelas berupa keterbukaan ayat Allah yang merupakan amanah bagi dirinya.

﴾۷۱۲﴿يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada-nya, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya darinya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah : 217)

Akan banyak orang berusaha mencegah seseorang untuk tegak di shirat al-mustaqim hingga ia berbalik (murtad) dari agamanya. Murtad dalam hal ini bukan sekadar berbaliknya seseorang menjadi kembali kafir terhadap iman dan islam, tetapi juga berbalik dari keinginan menegakkan perintah-perintah Allah yang dibukakan dari ayat Allah yang merupakan amanah bagi diri mereka. Ini adalah kemurtadan tertentu pada tingkatan shirat al-mustaqim, tidak membatasi adanya kemurtadan yang mungkin terjadi dalam bentuk berpalingnya seseorang dari iman dan islam. Bila diteliti, mungkin saja ditemukan banyak tingkatan keberbalikan (kemurtadan) seseorang dari agamanya pada setiap tingkat langkah.

Banyak orang yang kufur terhadap jalan Allah. Mungkin mereka kufur bahwa ayat Allah yang dibukakan kepada seseorang adalah benar jalan Allah yang harus ditempuh, maka mereka menghalanginya untuk menempuh jalan Allah tersebut. Mungkin mereka kufur terhadap keterbukaan ayat itu, atau mungkin mereka kufur terhadap penerimanya, atau mungkin mereka kufur terhadap ayat Allah, dan pada akhirnya mereka kufur terhadap Allah walaupun boleh jadi mereka merasa beriman kepada Allah. Orang kafir makkah akan mengatakan “Allah” apabila ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi. Keimanan mereka kepada Allah hanya berupa keimanan yang paling ghaib tidak dapat dibuktikan secara objektif, tidak disertai dengan keimanan terhadap firman-Nya dan penurunan firman itu hingga dalam wujud yang bisa dilaksanakan. Hal ini mudah terjadi pada orang-orang yang biasa tidak menggunakan akalnya hanya mengikuti waham dan perkataan-perkataan dari orang tua-orang tua mereka.

Apabila umat mau memikirkan tuntunan Allah, niscaya mereka melihat kebenaran pada keterbukaan shirat al-mustaqim. Sekiranya mereka tidak mempercayai orang yang mengalami keterbukaan, setidaknya mereka akan mengetahui kebenaran pada ayat yang dibacakan tidak kufur kepada ayat Allah. Bila mereka menggunakan akal, mereka akan menemukan manfaat yang banyak dan tidak akan menemukan madlarat manakala ikut serta mewujudkan keterbukaan ayat itu hingga kesertaannya akan memberikan manfaat. Apabila ia mengharapkan Allah, ia akan mempunyai medan berharap yang besar dengan berpegang pada salah satu ayat Allah, tidak hanya berpegang pada waham diri atau waham kelompok. Sebenarnya umat manusia perlu mempercayai orang-orang yang mengajarkan kitabullah sebagaimana bersyahadat tentang Rasulullah SAW, maka penggunaan pikiran dan akal itu akan mendidik mereka untuk mencintai Rasulullah SAW. Sayangnya banyak orang tidak menggunakan pikiran dan akalnya maka mereka kufur terhadap jalan Allah yang sebenarnya merupakan jalan untuk musyahadah yang lebih baik dan sempurna. Setidaknya, orang yang tidak menggunakan pikiran dan akal tidak akan mempunyai keyakinan dalam memahami tuntunan Allah dan keadaan ragu demikian akan sangat mudah dijadikan sasaran penyesatan.

Upaya orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah itu bertujuan apabila mungkin membuat orang beriman berbalik dari jalan Allah. Mereka melakukan upaya itu disertai membuat fitnah-fitnah yang lebih buruk dari pembunuhan. Pembunuhan barangkali merupakan hal yang ringan atau justru suatu jalan syahid bagi orang beriman, tetapi yang ditimpakan orang-orang yang menghalangi berupa fitnah-fitnah yang lebih kejam dari pembunuhan. Fitnah-fitnah itu dapat dibuat terhadap orang-orang yang berjalan di jalan Allah, atau fitnah terhadap jalan Allah. Fitnah terhadap kebenaran jalan Allah dapat mendatangkan bahaya yang besar tidak hanya menimpakan nama buruk bagi orang yang menempuhnya tetapi juga menjadikan orang-orang yang mendengar fitnah berbalik dari jalan Allah. Dengan fitnah yang dilakukan, orang-orang beriman mungkin dipandang hina di antara manusia sedangkan tidaklah ada kehinaan atau fitnah-fitnah yang disebarkan itu pada diri orang beriman tersebut. Mungkin orang beriman tidak mampu berbuat banyak terhadap fitnah itu, tidak dapat memerangi dan tidak bisa memberikan kebaikan diri sedemikian kematian lebih baik daripada fitnah itu. Selain itu, fitnah itu mungkin pula menjadikan manusia menempuh jalan yang salah hingga terjebak pada suatu keadaan yang sangat merugikan.

Tidak hanya menghalangi manusia dari jalan Allah, orang-orang kufur itu juga akan menghalangi manusia untuk mendatangi masjidilharam dan mengusir penduduknya. Masjidil haram adalah bayt Allah dimana asma Allah ditinggikan dan didzikirkan dan penduduknya menunjuk pada ahli masjidil haram. Mereka mencegah orang-orang untuk mendatangi bayt yang digunakan untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah bahkan mengusir para ahlul bayt dari bayt mereka.

Orang-orang beriman yang berbalik dari agamanya karena fitnah-fitnah dan upaya yang dilakukan oleh orang-orang yang kufur kepada jalan Allah akan menjadi golongan penghuni neraka yang kekal di dalamnya, sedangkan amal-amal yang mereka lakukan pada masa keimanan akan tercerabut tanpa bekas di akhirat kelak. Ini terjadi apabila mereka mati dalam keadaan kafir terhadap jalan Allah. Kufur kepada jalan Allah adalah memandang jalan Allah yang terbuka kepada seseorang di antara mereka sebagai jalan yang sia-sia, buruk atau merusak. Jalan Allah tidak mungkin sia-sia atau mendatangkan kerusakan, dan apabila sia-sia atau mendatangkan kerusakan jalan itu bukan jalan Allah. Ini akan diketahui apabila manusia memikirkan dengan benar tidak hanya mengikuti perkataan orang lain. Mungkin seseorang memikirkan dengan sungguh-sungguh kebenaran dan kebaikan yang dapat diperoleh dengan jalan Allah tersebut tetapi belum mengikuti langkahnya, maka hal demikian tidak termasuk kufur terhadap jalan Allah kecuali ia menyebarkan perkataan buruk tentang jalan Allah tersebut. Orang-orang yang berbalik dari agamanya akan menjadi penghuni neraka yang kekal di dalamnya.

Bertahan di Jalan Allah dengan Kitabullah

Upaya yang dilakukan sebagian manusia sebagaimana diceritakan ayat di atas seringkali merupakan upaya yang sangat sistematis dan integral agar manusia tidak memperoleh jalan untuk menunaikan amanah Allah. Fitnah itu kadangkala dibuat berdasarkan pengetahuan yang sangat banyak terkait pelaksanaan amanah Allah sedangkan kebanyakan manusia tidak menyadari taktik dan teknik yang digunakan. Kadangkala metode yang digunakan membuat seseorang berpikir bahwa manusia saja mungkin tidak akan bisa merumuskan langkah yang sedemikian sistematis dan integral, tetapi syaitan akan benar-benar membantu manusia menghalangi orang dari jalan Allah. Bila orang-orang beriman tidak berpegang teguh pada firman Allah, mereka tidak akan bisa melampaui taktik syaitan dan para pengikut mereka. Hanya dengan berpegang teguh pada firman Allah maka manusia akan melihat jalan untuk melampaui cara berpikir mereka.

Kadangkala orang beriman harus beradu argumen dengan orang-orang yang berpegang pada kitab Allah tetapi menghalangi dari jalan Allah. Mereka mungkin tidak benar-benar menggunakan akal dalam berpegang pada kitab Allah. Mungkin mereka hanya mengikut perkataan-perkataan manusia saja tentang kandungan kitabullah atau telah merasa mengetahui semua ilmu tanpa memikirkan kebaikan dari tuntunan kitabullah.

﴾۹۴﴿قُلْ فَأْتُوا بِكِتَابٍ مِّنْ عِندِ اللَّهِ هُوَ أَهْدَىٰ مِنْهُمَا أَتَّبِعْهُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
﴾۰۵﴿فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
(49)Katakanlah: "Datangkanlah olehmu bersama kitab dari sisi Allah yang itu lebih memberi petunjuk daripada keduanya niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang benar". (50)Jika  mereka tidak memberikan jawaban kepadamu maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Qashash : 49-50)

Terkait dengan orang yang menghalangi dari jalan Allah, kadangkala timbul suatu perselisihan antara orang beriman dengan orang lain yang menghalangi. Boleh jadi orang yang menghalangi itu bukan sepenuhnya dari kalangan orang kafir tetapi dari kalangan orang yang membaca kitabullah atau ahli kitab yang tidak memahami jalan Allah karena itu kemudian beradu argumentasi menghalangi orang beriman dari jalan Allah. Apabila terjadi peristiwa demikian, hendaknya mereka meminta orang yang menghalangi untuk mendatangkan suatu penjelasan dari kitabullah yang lebih baik daripada jalan Allah yang dipahaminya.

Pada satu sisi, ayat di atas memberikan gambaran etika orang beriman dalam berargumentasi tentang kandungan kitabullah. Hendaknya orang beriman mengatakan kepada orang yang beradu argumentasi dengan sepenuh hati : "Datangkanlah olehmu penjelasan bersama kitab dari sisi Allah yang lebih memberi petunjuk, niscaya aku akan mengikutinya”. Orang beriman hendaknya benar-benar menggunakan pendengarannya untuk mendengar dan matanya untuk melihat. Apabila seseorang memberikan argumentasi yang memberikan petunjuk hendaknya mereka mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan kemudian mengikutinya setelah mengetahui kebenarannya. Ia harus mengakui bila ada kebenarannya, dan kemudian mengikuti setelah mengetahui orang yang menjelaskannya orang yang benar. Kadangkala kebenaran digunakan oleh orang yang jahat, maka seseorang tidak perlu mengikuti. Orang beriman tidak boleh merasa diri yang paling benar manakala berdiskusi dengan orang lain, karena boleh jadi ada kesalahan dalam pemahaman dirinya atau ada keutamaan petunjuk pada orang lain yang tidak diketahui oleh dirinya.

Argumentasi yang harus didengarkan dan diikuti itu adalah argumentasi yang mengikuti tuntunan kitab dari sisi Allah. Berargumentasi tentang petunjuk Allah hanya dapat dilakukan apabila terkait dengan suatu petunjuk dari kitab Allah. Berargumentasi dalam perkara petunjuk tanpa suatu tuntunan dari kitabullah merupakan argumentasi yang sia-sia saja. Kadangkala seseorang memaksa orang lain untuk mengikuti suatu urusan yang dikatakan sebagai petunjuk Allah tanpa suatu dasar dari kitabullah, maka tidak ada kewajiban bagi orang lain mengikuti petunjuk demikian (kecuali dalam hubungan ulul amr). Bila paksaan itu bertentangan dengan pemahaman diri tentang jalan Allah, ia tidak boleh meninggalkan jalan Allah. Orang beriman hendaknya mengetahui kebenaran petunjuk yang diberikan kepada dirinya dengan landasan kitabullah. Demikian pula ia harus mau mendengarkan petunjuk dari orang lain yang disampaikan dengan landasan kitabullah (بِكِتَابٍ مِّنْ عِندِ اللَّهِ) dan mengikutinya setelah mengetahui kebenaran petunjuknya, dan mengetahui bahwa yang menyampaikan adalah orang yang benar.

Mengikuti jalan Allah menunjukkan tingkat perkembangan akal yang cukup baik. Seseorang yang mengikuti jalan Allah tidak mengikuti perkataan-perkataan manusia saja tetapi mengikuti firman Allah yang telah dipahami, baik dibukakan Allah pemahamannya ataupun karena diberi penjelasan orang lain dan ia mengetahui kebenarannya. Manakala seseorang hanya mengikuti perkataan manusia saja, ia sebenarnya belum mengikuti jalan Allah. Dengan tingkat perkembangan demikian, seseorang kadangkala terjebak pada suatu perasaan lebih benar daripada orang lain. Hal demikian harus dihindari. Ia harus meyakini kebenaran yang telah dipahami, tetapi tidak merasa lebih baik daripada orang lain. Hal ini harus dimengerti karena ia tidak boleh mudah terpengaruh buruk, tetapi harus tetap bisa menilai tingkat kebenaran argumentasi orang lain tanpa terhijab waham dan tidak salah dalam mengukur nilai kebenaran atau kebathilan dari orang lain.

Apabila permintaan untuk memberikan penjelasan mengikuti kitabullah tidak dapat diberikan oleh orang yang menghalangi, maka hendaknya diketahui bahwa orang yang menghalanginya dari jalan Allah itu hanya mengikuti hawa nafsunya saja. Sikap membuka diri terhadap kemungkinan benarnya suatu penjelasan kadangkala menjadikan orang beriman tampak lemah dalam berpendapat dan mudah membuka pandangan bahwa ia salah. Apalagi bila ia berhadapan dengan tokoh-tokoh pembaca kitabullah. Bila permintaan penjelasan yang lebih baik itu tidak dijawab oleh seseorang yang menghalanginya dari jalan Allah, maka hendaknya ia memastikan bahwa orang yang menghalangi itu melakukannya hanya berdasarkan hawa nafsu. Mereka adalah orang-orang yang sangat tersesat karena mempertuhankan hawa nafsu. Ia tidak perlu merasa silau dengan kedudukan orang yang menghalanginya ataupun kekayaannya.

Mengikuti hawa nafsu itu bisa tampak dalam tindakan tidak mau tahu kebenaran yang disampaikan, atau sekadar tidak bisa memberi jawaban dengan penjelasan yang lebih baik mengikuti kitabullah. Tidak adanya jawaban berupa penjelasan yang lebih baik telah menjadi tanda yang benar bahwa beradu argumentasi tentang jalan Allah itu dilakukan hanya mengikuti hawa nafsu. Sebenarnya berbantah-bantah tentang kitabullah merupakan perbuatan yang tidak diperbolehkan, tetapi orang yang dicegah dari jalan Allah boleh menyangkal orang yang menghalangi mereka dari jalan Allah manakala mereka mencegah berdasarkan kitabullah. Bila tidak menggunakan kitabullah, orang yang dicegah boleh menarik masalah perbantahannya menggunakan kitabullah karena ia mengikuti kitabullah yang hanya bisa dibatalkan dengan kitabullah dengan penjelasan yang lebih baik. Barangkali orang yang tidak bisa menyediakan jawaban itu lebih memberi harapan dapat memahami jalan Allah daripada orang yang tidak mau tahu kebenaran yang disampaikan karena adanya kesombongan pada orang yang tidak mau memahami. 


Kamis, 23 Oktober 2025

Pemakmuran dan Al-Jamaah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan

Jalan kembali kepada Allah yang paling utama adalah shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim ditandai dengan suatu gerbang berupa keterbukaan makna suatu ayat kitabullah yang menyingkapkan rahasia dari alam kauniyah terkait dengan diri seorang hamba, sedemikian keterbukaan itu menjadikan seorang hamba memahami untuk apa dirinya diciptakan. Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan suatu ayat Allah demikian, ia telah tiba di gerbang shirat Al-mustaqim. Ia diperintahkan untuk tegak melaksanakan amanah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan terhadap suatu makna ayat Allah, hendaknya ia berusaha mengenali kedudukannya dalam al-jamaah, setidaknya menyadari bahwa urusan dirinya merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW. Ia harus menemukan petunjuk-petunjuk amal dirinya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga ia dapat melaksanakan amr yang diketahuinya selaras dengan arahan Rasulullah SAW. Selanjutnya ia berusaha untuk dapat mengenal shahabat-shahabat yang mengalami keterbukaan ayat Allah untuk dapat bersama-sama melaksanakan amr Rasulullah SAW secara sinergis, hingga dalam bentuk suatu pengetahuan hirarki urusan yang jelas sesuai dengan urusan jaman mereka. Mereka adalah shahabat-shahabat yang telah bertaubat bersama-sama dengan dirinya. Selanjutnya, hendaknya mereka juga menyeru orang-orang yang tampak telah menempuh jalan taubat sekalipun apabila mereka belum mengalami keterbukaan pengenalan gerbang shirat al-mustaqim. Seruan itu akan memudahkan umat dalam mengenali gerbang shirat al-mustaqim. Allah memerintahkan untuk menegakkan perintah Allah bersama dengan orang yang bertaubat bersamanya.

Pemakmuran Bumi

Tegaknya seseorang bersama dengan orang yang bertaubat dalam menegakkan perintah Allah akan mewujudkan sumber pemakmuran di bumi. Terwujudnya pemakmuran bisa dijadikan indikator tambahan tentang ketepatan seseorang dalam memahami perintah Allah karena menunjukkan terhubungnya kehendak Allah hingga ujung alam penciptaan melalui manusia. Manakala suatu pelaksanaan perintah Allah justru mendatangkan kekacauan dalam tatanan bermasyarakat, pemahaman terhadap perintah Allah sebenarnya telah menyimpang sedikit ataupun banyak. Indikator ini bisa menunjukkan adanya penyimpangan pelaksanaan urusan dari ketentuan-ketentuan yang dikehendaki Allah.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)". (QS Huud : 61)

Pada satu segi, shirat al-mustaqim merupakan jalan terbaik untuk mewujudkan pemakmuran di bumi. Seseorang akan mengetahui keadaan di bumi selaras dengan hakikat keadaan kauniyah dan mengetahui pula amal-amal yang bisa dilakukan untuk membawa keadaan kauniyah menuju lebih baik. Apabila beramal dengan landasan pengetahuan yang terbuka, seseorang akan membukakan suatu sumber untuk menjadikan keadaan lebih baik. Keterbukaan pengetahuan pada diri seseorang itu merupakan salah satu sumber, dan mungkin ada banyak sumber-sumber lain yang dapat saling terhubung dalam suatu hubungan al-jamaah.

Pemakmuran yang sebenarnya pada dasarnya terbentuk melalui terhubungnya urusan di alam tertinggi hingga mencapai ujung alam ciptaan berupa alam dunia. Ini adalah peran utama yang harus ditunaikan oleh setiap manusia sebagai makhluk bumi. Pada turunannya, setiap terhubungnya alam yang rendah pada suatu kebenaran dari alam yang lebih tinggi akan mewujudkan suatu bentuk pemakmuran tertentu. Setiap orang hendaknya berusaha untuk melakukan pemakmuran walaupun misalnya hanya mampu dalam bentuk turunannya. Tetapi hendaknya disadari bahwa tidak jarang bentuk-bentuk pemakmuran itu hanya lemah atau semu, atau justru menyimpang apabila terhubung pada kebathilan pada alam yang tinggi. Orang musyrik memperoleh keahlian mewujudkan pemakmuran palsu dari para syaitan yang mereka sembah. Mustahil diwujudkan suatu pemakmuran tanpa menghubungkan suatu kebenaran dari alam yang lebih tinggi menuju alam yang lebih rendah. Semakin murni kebenaran yang dihubungkan menuju alam yang lebih rendah, semakin kokoh kemakmuran yang akan terwujud.

Proses pemakmuran secara ideal dapat dilihat dengan baik melalui proses berumah tangga yang baik. Sepasang suami isteri yang mengenal Allah dan isteri yang taat mengikuti langkah suaminya akan diijinkan untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, maka akan terwujud suatu inisiator proses pemakmuran terbaik bagi umat manusia pada urusan yang diamanahkan. Mereka merupakan sumber pemakmuran untuk semesta diri mereka, bukan hanya pemakmuran untuk keluarga mereka saja. Sebenarnya, para isteri itu merupakan pembawa khazanah duniawi yang menghadirkan alam bumi mereka bagi suaminya, dan para suami merupakan representasi akal yang mengenal kehendak Allah. Apabila keduanya bersinergi melaksanakan urusan Allah, akal suami dapat menghadirkan urusan dari alam yang tertinggi untuk bertemu urusan alam dunia yang dihadirkan oleh isterinya. Keterhubungan sepasang dua insan dalam urusan Allah itu akan mewujudkan proses pemakmuran yang terbaik bagi alam dunia mereka.

Dalam prakteknya tidak semua orang dapat berperan sedemikian sempurna tetapi sebenarnya tetap bisa memberikan sumbangsih pemakmuran selama berusaha menghubungkan kebenaran dari yang tinggi ke alam yang lebih rendah. Seorang menteri keuangan yang berpikir dan bertindak dengan logika lurus dapat meberikan iklim pemakmuran yang sangat baik bagi negerinya dibandingkan dengan menteri keuangan yang lain walaupun keduanya mungkin menggunakan teori ekonomi yang serupa. Kelurusan berpikirnya itu merupakan suatu faktor kebenaran dari alam yang lebih tinggi bukan ilmu ekonominya. Peran menteri demikian merupakan satu mata rantai yang harus disambungkan dengan mata rantai yang lain. Bila iklim pemakmuran itu tidak tersambungkan dengan mata rantai yang lain, pemakmuran yang terbentuk hanya akan sedikit. Setiap orang hendaknya berusaha untuk memberikan peran dirinya dengan sebaik-baiknya untuk memberikan sumbangsih bagi kehidupan berbangsa hingga terwujud kemakmuran bersama. Bila masyarakat tidak dapat mensyukuri, akan sulit mewujudkan kemakmuran bersama dalam suatu bangsa.

Pembinaan Rantai Hubungan

Keterhubungan antara dua kedudukan yang berbeda harus terjadi secara kokoh untuk dapat mewujudkan proses pemakmuran. Setiap laki-laki harus berusaha membina akal dengan sebaik-baiknya agar dapat memahami keadaan kauniyah dengan lurus sedemikian ia dapat menentukan langkah-langkah yang tepat dan perlu dilakukan untuk mewujudkan pemakmuran. Para isteri mengikuti langkah-langkah yang dipahami oleh suaminya dengan ketaatan agar suaminya dapat melangkah dengan baik mewujudkan pemakmuran. Hubungan yang kokoh harus dibentuk di antara keduanya dengan membina kesepahaman dalam melaksanakan urusan terutama apabila suaminya dapat memahami amanah Allah yang harus ditunaikan. Apabila tidak terbangun kesepahaman dalam urusan Allah, ketaatan dan pemahaman itu mungkin akan berdiri masing-masing tidak mewujudkan proses pemakmuran di bumi. Seorang suami mungkin akan memahami kauniyah dengan benar tetapi tidak dapat mewujudkan pemahamannya di alam dunia, dan seorang isteri mungkin penuh ketaatan yang baik kepada suaminya tetapi ketaatannya itu dilaksanakan layaknya suatu beban berat.

Kokohnya hubungan demikian hendaknya dibina pada setiap kedekatan hierarki hingga terbentuk hubungan yang kokoh antara manusia dengan benda-benda sehingga manusia menguasai pemuliaan dan penataan bendawi, bukan hanya dalam bentuk hubungan dan urusan antar manusia. Benda-benda rekayasa manusia hendaknya dapat dibuat dengan mutu sebaik-baiknya berdasarkan pengetahuan materi dan penataan terbaik, tidak dibuat secara asal-asalan hingga mudah menjadi sampah. Pengetahuan materi merupakan ilmu yang kedudukannya lebih tinggi yang dapat dialirkan menuju terbentuknya materi yang unggul. Tanpa ilmu, tidak ada ilmu yang dapat dialirkan untuk mewujudkan benda yang unggul. Demikian itu merupakan salah satu aspek pemakmuran yang harus diperhatikan oleh umat manusia.

Kedudukan laki-laki dan perempuan merupakan gambaran adanya struktur hierarki dalam kedudukan manusia. Ada orang yang diberi akal lebih besar dan kuat dari yang lain untuk menjadi pemimpin, dan ada orang yang diberi kemampuan yang lebih dalam urusan duniawi hingga diijinkan untuk berkecimpung lebih intensif dalam memakmurkan dunia. Setiap manusia diberi akal yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya tidak boleh beralibi untuk mengumbar hasrat duniawi bahwa ia lemah. Pemakmuran dunia itu bersifat perempuan yang harus dilaksanakan mengikuti akal yang bersifat laki-laki. Laki-laki paling sempurna adalah Rasulullah SAW, dan khalifatullah Al-Mahdi merupakan pasangan paling memadai dalam urusan pemakmuran bumi bagi akal Rasulullah SAW. Setiap orang yang lain berkedudukan sebagai pemakmur bumi bagi akal beliau SAW, dalam arti bahwa langkah pemakmuran hanya bernilai benar bila seseorang melakukan selaras tuntunan Rasulullah SAW. Ada warna akal yang kuat pada sebagian umat Rasulullah SAW yang bersifat laki-laki, tetapi sebenarnya akal itu hanya sebagian dari akal Rasulullah SAW, dan sebagian umat mempunyai warna lebih kuat dalam melaksanakan pemakmuran. Kedua warna umat itu harus membentuk hubungan yang kokoh untuk dapat mewujudkan pemakmuran.

Kedekatan dalam hubungan hierarkis demikian hendaknya dibina dan dihormati pada tiap tingkatan hierarki layaknya penghormatan terhadap hubungan pernikahan. Misalnya hubungan antara ilmu dengan produk harus dijaga dan ditingkatkan dengan baik agar diperoleh produk-produk bermutu baik. Hubungan pernikahan merupakan perikatan dua tingkat entitas di tingkat yang tinggi di hadirat Allah yang harus dihormati secara mutlak, sedangkan hubungan yang lain hendaknya dihormati sesuai dengan kedudukannya. Pengabaian penghormatan terhadap hubungan demikian akan menyebabkan kemunkaran menguasai pengetahuan. Orang yang diragukan ijazah pendidikannya bisa dengan mudah menjadi presiden atau wakil presiden karena suatu bangsa mudah berbuat lancang di hadapan Allah tidak menghormati kedudukan pernikahan di antara mereka. Demikian itu seringkali diikuti dengan merajalelanya bala kurawa berhura-hura dengan sumber daya negara, dan orang-orang baik terkurung potensi kebaikan mereka. Banyak orang yang menimba ilmu tidak bisa memperoleh kesempatan bekerja dengan ilmunya karena tatanan masyarakat menjadikan ilmu tidak dibutuhkan. Kuatnya kemunkaran itu bisa saja tampak di komunitas kecil pada fenomena tertentu misalnya dukungan komunitas yang besar pada orang yang tidak mempunyai konsep produk yang benar dengan mutu produk sulit ditingkatkan karena rendahnya penguasaan pengetahuan produk, sedangkan orang yang membawa urusan Allah tidak memperoleh dukungan komunitas karena tidak diterima. Hal demikian menunjukkan menguatnya kemunkaran dan terkurungnya pengetahuan karena kurangnya pembinaan dan penghormatan terhadap hubungan hierarkis.

Prinsip-prinsip proses pemakmuran yang baik dapat dipelajari setiap orang dengan bercermin pada proses pernikahan. Dalam pernikahan, aturan proses itu ditegakkan dengan tegas karena telah kokohnya bentuk perikatan di hadirat Allah, sedangkan dalam proses pemakmuran bangsa setiap orang harus berusaha menerapkannya dengan sebaik-baiknya. Misalnya setiap orang hendaknya menjadi orang yang subur terhadap arahan atasannya dengan berusaha memahami fungsi diri dan melaksanakan arahan atasannya dengan sebaik-baiknya, sekaligus bisa memahami keadaan bawahannya dalam proses pelaksanaan urusan. Setiap orang hendaknya menghindari penyimpangan dari ketentuan yang sah sebagaimana orang menikah harus menghindari kekejian dan pengkhianatan. Banyak bentuk-bentuk aturan dalam pernikahan yang harus dijadikan role model dalam proses pemakmuran bumi agar terwujud pemakmuran.

Pemakmuran hanya dapat dilaksanakan dengan benar apabila prinsip-prinsip agama dipatuhi. Akan sulit mewujudkan pemakmuran apabila prinsip-prinsip yang diajarkan pada setengah bagian agama tidak dipatuhi atau tidak diperhatikan. Keberadaan syirik di antara masyarakat muslimin merupakan kekejian layaknya orang yang berbuat keji dalam rumah tangga. Sebaliknya kekejian di antara muslimin merupakan pintu kesyirikan di antara masyarakat. Orang musyrik tidak mungkin mencintai kebenaran yang merupakan kecintaan kaum muslimin karena mereka lebih mencintai keuntungan materi bagi diri mereka sendiri bahkan apabila harus berkhianat terhadap masyarakat dengan menyembah kejahatan. Para syaitan itu berusaha menyediakan jalan keuntungan bagi orang yang menyembahnya melalui kekacauan yang dibuat sehingga musyrikin selalu berusaha berbuat kekacauan. Tidak jarang kekacauan itu dirumuskan dan dilaksanakan dalam bentuk kebijakan-kebijakan oleh kelompok musyrik apabila mereka berkuasa. Kadangkala ada orang yang menyangka bisa berbuat baik setelah mengikuti proses kesyirikan. Itu hanya merupakan halusinasi saja karena syaitan akan menyertakan banyak kejahatan dalam bentuk-bentuk kebaikan yang mereka lakukan, bahkan sebenarnya syaitan dapat menyatukan diri dalam diri orang yang menyembah mereka sedemikian mereka dipandang baik tetapi sebenarnya jahat. Pemakmuran hanya dapat dilaksanakan dengan benar apabila prinsip-prinsip agama dipatuhi.

Bukan sekadar aturan saja, pembinaan individu agar mampu melakukan pemakmuran sebenarnya akan dapat terbina dengan baik melalui pernikahan. Kemampuan untuk dapat memahami pihak lain harus dibentuk melalui pernikahan di mana setiap orang hendaknya dapat menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati dengan sebaik-baiknya untuk memahami pihak lain tidak hanya mengikuti persepsi diri sendiri. Ini akan menumbuhkan kesuburan seseorang dalam memahami kebenaran sedemikian terbentuk hubungan shilaturahmi antara satu orang dengan orang lain dalam melaksanakan proses pemakmuran. Ketangguhan dalam melaksanakan proses harus dibina dengan rasa syukur menghadapi semua rintangan bersama-sama sebagaimana suami isteri mensyukuri keadaan dan rintangan yang menghampiri rumah tangga mereka. Banyak sifat-sifat baik yang mendukung proses pemakmuran dapat ditumbuhkan dengan baik melalui pernikahan.

Kokohnya hubungan yang terbina pada masyarakat akan dipengaruhi pembinaan rumah tangga. Kadangkala masyarakat tampak terhubung erat melalui komunitas yang terbentuk tetapi rumah tangga masing-masing terabaikan, maka hubungan demikian bukan hubungan yang kokoh sebagai pondasi pemakmuran. Rumah tangga merupakan pembentuk pondasi pemakmuran terbaik yang menunjukkan pertumbuhan akhlak secara benar. Seseorang yang buruk dalam rumah tangga sebenarnya tidak baik akhlaknya, dan seseorang yang baik dalam rumah tangga adalah orang yang baik akhlaknya. Ini mungkin tidak berlaku pada rumah tangga baru atau menjelang akad pernikahan. Baik atau buruknya bukanlah yang terdengar oleh orang lain, tetapi bagaimana ia bersikap kepada pasangannya. Tidak jarang masyarakat mendengar keburukan seseorang yang disebar pasangannya, sedangkan mungkin pasangannya itulah yang sebenarnya buruk bersikap dalam rumah tangga. Kebaikan yang dibangun seseorang dalam rumah tangga itu merupakan media terbaik membentuk landasan pemakmuran.