Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Jalan kembali kepada Allah yang paling utama adalah shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim ditandai dengan suatu gerbang berupa keterbukaan makna suatu ayat kitabullah yang menyingkapkan rahasia dari alam kauniyah terkait dengan diri seorang hamba, sedemikian keterbukaan itu menjadikan seorang hamba memahami untuk apa dirinya diciptakan. Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan suatu ayat Allah demikian, ia telah tiba di gerbang shirat Al-mustaqim. Pada satu segi, shirat al-mustaqim merupakan jalan terbaik untuk mewujudkan pemakmuran di bumi. Seseorang akan mengetahui keadaan di bumi selaras dengan hakikat keadaan kauniyah dan mengetahui pula amal-amal yang bisa dilakukan untuk membawa keadaan kauniyah menuju lebih baik.
﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)". (QS Huud : 61)
Pemakmuran yang sebenarnya pada dasarnya terbentuk melalui terhubungnya urusan di alam tertinggi hingga mencapai ujung alam ciptaan berupa alam dunia. Ini adalah peran utama yang harus ditunaikan oleh setiap manusia sebagai makhluk bumi. Pada turunannya, setiap terhubungnya alam yang rendah pada suatu kebenaran dari alam yang lebih tinggi akan mewujudkan suatu bentuk pemakmuran tertentu. Setiap orang hendaknya berusaha untuk melakukan pemakmuran. Tetapi hendaknya disadari bahwa tidak jarang bentuk-bentuk pemakmuran itu hanya lemah atau semu, atau justru menyimpang apabila terhubung pada kebathilan pada alam yang tinggi.
Keterhubungan dua kedudukan yang berbeda harus terjadi secara kokoh untuk dapat mewujudkan proses pemakmuran. Setiap manusia hendaknya dapat mengenal dengan baik alam tempat dirinya tinggal dan dapat memahami dengan baik langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mewujudkan pemuliaan terhadap semesta diri mereka. Para pemimpin hendaknya menentukan langkah-langkah bangsa sesuai dengan keadaan bangsanya, tidak berbuat hanya untuk diri sendiri. Dalam hal ini, kebanyakan menusia lebih cenderung mendatangkan kerusakan terhadap alam bumi mereka daripada mengenali dengan baik alam buminya dan melakukan pemakmuran. Bahkan kadangkala seseorang merasa benar-benar melakukan pemakmuran tetapi sebenarnya berbuat sesuatu yang sangat merusak.
Seorang presiden misalnya mungkin saja melakukan pemakmuran dalam tingkatan kulitnya saja hingga mendatangkan penderitaan bagi bangsa karena keputusan bodohnya. Suatu pembangunan infrastruktur dibuat sedemikian megah untuk diperlihatkan kepada dunia sebagai pencitraan, tanpa berdasar kebutuhan yang nyata dan tidak memanfaatkan sumberdaya manusia di dalam negerinya secara layak. Ia membanggakan infrastruktur tersebut walaupun tidak mendatangkan manfaat yang memadai bagi bangsanya, tidak mendatangkan kesejahteraan dan justru mengusir orang-orang yang berkompeten dalam urusan tersebut dari kedudukannya. Yang terjadi selanjutnya, rakyatnya menghujat keputusannya membangun infrastruktur itu dan melihat kebodohan yang dilakukan presiden, sedangkan presiden itu berbangga dengan pembangunannya. Contoh dampak yang berbeda dapat dilihat pada pembangunan yang dilakukan pemimpin yang membangun hubungan yang kokoh dengan masyarakatnya. Seorang gubernur dan masyarakatnya dapat berbesar hati dengan suatu stadion kelas internasional yang dibangun dengan teknologi tinggi hasil karya putera bangsa. Banyak lapis masyarakat yang merasa puas memberikan manfaat dirinya dalam kemajuan daerahnya, bukan merasa risih hanya menonton pameran pencitraan sang pemimpin melalui infrastrukturnya. Hal ini bisa menjadi contoh pentingnya membina hubungan yang kokoh antar lapis kedudukan.
Proses pemakmuran yang paling kokoh dapat terjadi apabila proses pemakmuran dilakukan dengan menghubungkan suatu urusan dari sisi Allah untuk dapat terwujud di bumi. Ini merupakan peran utama yang hanya dapat dilakukan oleh manusia. Setiap manusia diberi kelengkapan dalam dirinya untuk terhubung kepada Allah dan entitas-entitas langit hingga alam bumi, menghubungkan setiap lapis alam untuk dapat melakukan proses pemakmuran sesuai dengan keadaan masing-masing. Ini harus dipahami dengan hati-hati. Terhubungnya seseorang dengan urusan Allah hanya benar apabila terhubung melalui urusan Rasulullah SAW, tidak mencomot secara acak urusan mereka. Kebanyakan manusia tidak perlu berkeinginan membina hubungan yang terlalu erat dengan alam langit tertentu karena urusan utama baginya adalah urusan di bumi, sedangkan urusan dengan alam langit hanya bagian bagi beberapa orang tertentu. Setiap manusia hendaknya memperhatikan keadaan diri untuk menentukan langkah melakukan proses pemakmuran.
Lancarnya proses pemakmuran akan mengikuti kokohnya hubungan yang dibangun bersama. Para pemimpin hendaknya tidak hanya mempercayai pikirannya sendiri, tetapi juga memperhatikan keadaan umatnya, kebutuhan mereka atas langkah yang dilakukan, menampung sumbangsih yang ingin diberikan oleh orang-orang di sekitarnya dan dapat diwadahi hingga dapat diarahkan untuk membantu terwujudnya pikirannya. Ibarat membangun stadion, ide seorang gubernur boleh saja terbatas hanya pada terpenuhinya kebutuhan suatu sarana stadion dengan ide besar tertentu dan budget yang telah ditentukan sedangkan rincian desain dan rekayasa hendaknya muncul dari para desainer dan engineer dari warga yang dilibatkan, sedemikian sebanyak mungkin warga terlibat dalam proses membangun. Sebagian dilibatkan dalam organisasi tertentu yang mendukung terwujudnya stadion, dan sebagian lain dapat berpartisipasi bebas dengan aturan semisal penjual makanan bagi tukang. Bila gubernur tersebut melaksanakan proses hanya setelah menentukan sendiri seluruh rincian, stadion itu tidak akan terbangun. Proses pemakmuran demikian akan bisa terwujud dengan baik apabila seseorang yang mempunyai urusan membangun hubungan yang baik dengan umatnya.
Banyak orang tidak dapat beramal sebagai dampak terputusnya pelaksanaan suatu urusan dengan masyarakatnya. Mungkin pengambil keputusan memutuskan perkara semena-mena tanpa pengetahuan yang mencukupi hingga memutuskan hanya untuk kepentingan sendiri, sedemikian orang-orang yang mempunyai keahlian tidak dapat memberikan keahliannya untuk masyarakat luas, atau terpaksa memberikan bagian yang buruk dari pengetahuannya. Seringkali pengambil keputusan demikian merasa mempunyai pengetahuan yang banyak tetapi sebenarnya ia berbuat dzalim tidak mau mengenal keadaan pengikutnya dengan tepat. Para ahli yang memberikan pandangan berbeda justru dipecat, dan pelaksana teknis diserahkan hampir sepenuhnya kepada pihak asing. Hal demikian seringkali terjadi karena proses pemakmuran tidak dilandaskan pada pengetahuan terhadap keadaan umat. Peristiwa demikian bisa saja terjadi pada orang beriman disebabkan suatu waham mengikuti perintah Allah tanpa memperhatikan dengan benar tuntunan kitabullah dan realitas keadaan umat. Pemegang urusan mungkin saja tidak lagi dapat mengenali orang-orang yang mengenal kehendak Allah. Hal demikian dapat menyebabkan para arifin tidak dapat beramal menunaikan kehendak Allah sedangkan mereka mengenal keadaan kauniyah dan mengenal perintah Allah.
Pemakmuran dan Pembinaan Nafs
Dasar dari proses pemakmuran bumi terletak pada pembinaan nafs dan apa-apa yang bersama dengan nafs tersebut. Pemakmuran yang dilaksanakan hanya pada tingkat fisik saja sebenarnya tidaklah akan mendatangkan pemakmuran. Boleh jadi pemakmuran demikian mendatangkan perselisihan yang banyak di antara masyarakat atau mungkin terjadi hal-hal lain. Banyak hal yang mungkin terjadi manakala pemakmuran hanya dilakukan di tingkatan fisik. Pemakmuran harus dimulai dari pembinaan nafs para manusia di masyarakat untuk dapat mengerti arti kemuliaan dari sisi Allah dan membina mereka untuk berkiprah dengan kemuliaan-kemuliaan dari sisi Allah.
﴾۱۱﴿لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (QS Ar_Ra’du : 11)
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka sendiri. Mengubah apa-apa yang ada pada nafs mereka harus dilakukan dengan melakukan pembinaan nafs hingga nafs menyukai hal-hal yang mulia. Mustahil mengubah apa-apa yang ada pada nafs tanpa melakukan pembinaan nafs. Setiap nafs akan selalu terdorong untuk berdekatan dengan apa yang mereka sukai, hingga tidak mungkin mengubah apa-apa yang ada pada nafs tanpa melakukan pembinaan nafs. Nafs yang menyukai dunia dan kejahatan akan selalu mendekati dunia dan kejahatan yang mereka sukai, nafs yang bodoh akan menyukai waham diri mereka dan nafs yang berakal akan menyukai firman-firman Allah. Mengubah apa-apa yang ada pada nafs suatu kaum hanya akan dapat dilakukan dengan pembinaan nafs sehingga nafs menyukai kemuliaan dari Allah.
Baiknya keadaan suatu kaum akan terjadi manakala orang-orang pada kaum tersebut berkiprah dengan kemuliaan dari sisi Allah. Perubahan nafs dan yang membersamai nafs akan membawa perubahan keadaan kaum. Kadangkala suatu kaum salah bersikap kepada orang-orang yang menyukai kemuliaan di sisi Allah sedemikian kemudian memisahkan nafs mereka dengan apa-apa yang mereka sukai hingga tidak dapat menunaikan urusan-urusan Allah. Hal ini akan mencegah perubahan keadaan suatu kaum menuju kebaikan. Banyak kaum sejak jaman dahulu lebih menyukai waham-waham diri mereka hingga mengabaikan ayat-ayat Allah maka keadaan mereka tidak menuju kebaikan sedangkan mereka memandang baik keadaan diri mereka. Boleh jadi keadaan mereka sebenarnya telah tampak buruknya dalam kekuasaan orang dzalim tetapi mereka tidak menyadari bahwa keadaan itu terjadi karena mereka hanya mengikuti waham sendiri tidak berusaha mengikuti firman Allah. Apabila mereka mengikuti firman Allah, keadaan mereka akan berubah menuju keadaan yang lebih baik. Kebaikan yang ada pada sisi nafs itu akan mendatangkan perubahan keadaan suatu kaum.
Untuk melaksanakan pemakmuran, suatu kaum harus mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka, dimulai dengan mengubah nafs. Setiap anggota masyarakat hendaknya diperkenalkan dan didekatkan pada pengetahuan dan kebaikan sesuai keadaan mereka sedemikian setiap anggota masyarakat dapat berperan serta dalam kebaikan. Adanya kebaikan pada suatu nafs hendaknya difasilitasi untuk memperoleh pengetahuan dan menemukan peran, tidak disia-siakan. Tanpa pengetahuan, orang-orang baik mungkin tidak mampu berperan serta dalam pelaksanaan kebaikan. Pada puncaknya kebaikan itu berupa pelaksanaan firman-firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, dan setiap pengetahuan yang dapat digunakan untuk mewujudkan firman-firman Allah merupakan kebaikan. Proses pengubahan nafs tanpa berlandasakan firman Allah hanya akan mencapai kebaikan di tingkat rendah dan tidak jarang justru terjebak pada kesesatan yang mendatangkan kerusakan bagi umat manusia. Suatu pengetahuan tentang alam bumi bagi seseorang yang menyukai kebaikan akan mendatangkan kebaikan, tetapi bagi orang yang jahat akan mendatangkan kejahatan bagi umat manusia.
Metode pembinaan nafs utamanya dilakukan sebagaimana pembinaan pernikahan, satu nafs dipasangkan dengan pasangan yang tepat dalam kedekatan. Manakala terbentuk pasangan yang tepat, seseorang akan memperoleh media berkembang yang paling baik. Pengenalan atau cercah pengenalan seseorang terhadap pasangannya bisa diperoleh manakala nafs terdidik untuk mengikuti kehendak Allah. Seseorang tidak akan memperoleh jalan pengenalan secara tepat berdasar keinginan hawa nafsu dan syahwat. Sangat banyak pengenalan palsu dan pasangan palsu yang akan ditemukan seseorang manakala kurang dalam keikhlasan di jalan Allah. Apabila seseorang yang mengikuti pembinaan nafs di jalan Allah mulai dapat mengenali pasangannya, mereka hendaknya didekatkan untuk membentuk hubungan yang kokoh karena pasangan demikian akan menjadi bahan pemakmuran bumi. Dalam hal pasangan berupa laki-laki dan perempuan, jalan mendekatkan keduanya yang terbaik adalah dengan jalan pernikahan.
Dua pihak yang menikah harus dibina untuk menyusun hubungan yang kokoh dalam melaksanakan urusan Allah. Setiap laki-laki harus berusaha membina akal dengan sebaik-baiknya agar dapat memahami ayat-ayat Allah baik kitabullah maupun keadaan kauniyah dengan lurus sedemikian ia dapat menentukan langkah-langkah yang tepat dan perlu dilakukan untuk mewujudkan pemakmuran. Para isteri harus dibina untuk mengikuti langkah-langkah yang dipahami oleh suaminya agar suaminya dapat melangkah dengan baik mewujudkan pemakmuran. Pembinaan ketaatan isteri kepada suami setara dengan pembinaan ketaatan para laki-laki mengikuti Rasulullah SAW. Tidak ada laki-laki menjadi shalih dengan jalannya sendiri menempuh jalan di luar jalan Rasulullah SAW. Hubungan yang kokoh harus dibentuk di antara keduanya dengan membina kesepahaman dalam melaksanakan urusan terutama apabila suaminya dapat memahami amanah Allah yang harus ditunaikan. Para isteri yang berusaha mendampingi nafs suaminya akan menjadi faktor utama inspirasi suaminya dalam melakukan perubahan kaum menuju lebih baik. Nafs para isteri adalah sesuatu yang paling utama di sisi nafs suami. Para isteri tidak dapat digantikan oleh apapun di sisi nafs suaminya.
Pengubah keadaan manusia yang paling kuat adalah terbentuknya keberpasangan yang haqq dan kokoh di antara nafs-nafs umat. Pemakmuran tidak akan terjadi manakala pembinaan nafs sebagaimana pembinaan melalui pernikahan dirusak karena menyebabkan rusaknya bentuk-bentuk keberpasangan nafs. Tatanan manusia akan menjadi lemah atau bahkan rusak apabila orang-orang yang memperoleh jalan mengenal pasangan diri mereka baik berupa nafs pasangannya, atau pengetahuan-pengetahuan maupun amal-amal shalih yang diperuntukkan bagi masing-masing diusir dan diganggu hingga tidak dapat membentuk hubungan yang kokoh. Kaum yang dijauhkan dari sains dan teknologi akan sulit menjadi kaum yang maju pada bidang sains dan teknologi. Kaum yang mencari pasangan bagi nafs mereka mengikuti semata-mata syahwat dan hawa nafsu akan menjadi kaum yang hidup mengikuti hawa nafsu dan syahwat dan tidak akan bisa mewujudkan pemakmuran. Kaum muslimin yang tidak lagi mengenal apa yang dihalalkan dan yang diharamkan akan mudah terjebak pada penyembahan kepada selain Allah.
Nafs para isteri itu adalah sesuatu yang paling utama di sisi nafs suami dalam melakukan perubahan keadaan suatu kaum menuju yang lebih baik. Para perempuan itu memimpin ‘akal semesta’, segala sesuatu yang diperuntukkan bagi ia dan suaminya hingga tingkat pikiran jasmaniah manusia umat mereka. Para perempuan itu menjadi pakaian suaminya yang memancarkan citra diri mereka terhadap umatnya. Tegaknya suatu kaum akan dipengaruhi oleh kebaikan para perempuan. Manakala para perempuan dibina secara salah, kaum itu akan mengalami kekacauan. Baik atau rusaknya para laki-laki mempunyai pengaruh yang lebih kecil terhadap keadaan umat dibandingkan para perempuan, dan kadang pengaruh para laki-laki dapat teredam sepenuhnya oleh para perempuan. Perubahan suatu kaum akan terjadi dengan baik manakala para isteri dibina dengan benar menjadi orang yang tepat berada di sisi nafs suaminya. Demikian pula menjadi sesuatu yang paling merusak manakala mereka menjadi sesuatu yang salah di sisi nafs suaminya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar