Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Menegakkan diri di shirat al-mustaqim membutuhkan perjuangan, bukan keadaan yang dapat ditempuh dengan mudah. Banyak pihak yang akan menghalanginya dari jalan Allah karena kufur dengan jalan Allah. Tegaknya seseorang di shirat al-mustaqim tidak akan mampu dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai penyakit kemunafikan ataupun orang-orang yang akalnya kurang kuat dalam berpegang pada tuntunan Allah. Hanya orang-orang yang membina diri untuk selaras dengan tuntunan Allah dan memahami firman-Nya dengan benar yang akan mampu tegak di atas shirat al-mustaqim.
﴾۰۱﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِن جَاءَ نَصْرٌ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ
﴾۱۱﴿وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ
(10)Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia ditimpa penderitaan (di jalan) Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?(11)Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik (QS Al-’Ankabuut : 10-11)
Ada orang-orang yang berkata bahwa mereka telah beriman kepada Allah tetapi tidak memahami tuntunan Allah dengan benar. Manakala manusia membuat fitnah-fitnah atas diri mereka dalam perjuangan di jalan Allah, mereka tidak mengerti bahwa apa-apa yang ditimpakan manusia atas diri mereka adalah fitnah-fitnah manusia dan mengira bahwa fitnah itu adalah adzab dari Allah. Itu merupakan bentuk pemahaman yang sangat lemah terhadap tuntunan Allah hingga penderitaan akibat fitnah-fitnah manusia yang seharusnya diluruskan hingga mengikuti tuntunan Allah justru dipandang sebagai adzab dari Allah. Keadaan demikian menjadikan mereka tidak mampu berjuang di jalan Allah.
Fitnah merupakan sesuatu yang menimbulkan persepsi tidak benar dan mendatangkan madlarat. Perkataan yang salah terhadap sesuatu hingga mendatangkan madlarat merupakan fitnah. Perselisihan dalam rumah tangga seringkali menjadi fitnah yang besar bagi masyarakat. Suatu ilmu yang mendatangkan madlarat merupakan fitnah bagi umat manusia walaupun ilmu itu dipandang baik. Manusia yang berpakaian mulia untuk menipu manusia merupakan bentuk fitnah. Sangat banyak fitnah yang bisa terjadi di antara manusia. Menyebarnya fitnah di antara manusia akan menjadi mudah manakala manusia tidak menggunakan akalnya. Orang-orang yang hanya mengikuti hawa nafsu akan sangat mudah terjangkiti fitnah. Fitnah yang menyebar di antara manusia akan mendatangkan suatu penderitaan hingga orang-orang mungkin mengira bahwa fitnah itu merupakan adzab dari Allah.
Kadangkala persangkaan diturunkannya adzab Allah terjadi di antara orang beriman terhadap orang beriman lain. Seorang beriman mungkin ditimpa suatu fitnah dari orang lain hingga ia mengalami suatu penderitaan, dan kemudian menyeret pula sahabat-sahabatnya atau orang lain dalam penderitaan. Karena itu kemudian orang beriman itu dituduh secara sembarangan telah mendatangkan adzab Allah. Kadangkala penderitaan itu tidak terjadi secara beruntun tetapi menjadi bahan penghakiman terhadap seseorang di antara orang beriman. Misalnya bisa saja seseorang mengalami sulit jodoh dianggap memperoleh adzab Allah karena sikap dirinya sedangkan ia sebenarnya mungkin sulit jodoh karena tertimpa fitnah dari orang lain. Tuduhan demikian ini tidak boleh dilakukan. Orang-orang beriman harus benar-benar berusaha memahami peristiwa penderitaan mereka berdasarkan tuntunan kitabullah hingga manakala terjangkit fitnah dapat menentukan sumber fitnah-fitnah yang terjadi dan mengangkat akar penderitaan, tidak secara sembrono menimpakan tuduhan adzab Allah kepada sahabatnya yang berjuang di jalan Allah.
Fitnah itu bisa sedemikian rumit hingga fitnah manusia disangka adzab Allah. Terjadi pengalihan nisbat peran jahat manusia membuat fitnah menjadi dinisbatkan sebagai peran Allah. Demikian pula perbuatan memfitnah itu dibuat menjadi tidak terlihat hingga disangka adzab Allah. Ada mekanisme yang sedemikian rumit untuk menjadikan fitnah dari manusia dipandang sebagai adzab Allah. Walaupun demikian mekanisme itu sebenarnya utamanya hanya bertumpu pada lemahnya keimanan umat dalam memahami kehendak Allah berdasar firman-firman yang tertera dalam kitabullah Alquran dan tuntunan sunnah Rasulullah SAW. Apabila orang beriman benar-benar menggunakan akalnya untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan terhindar dari menganggap fitnah manusia itu sebagai adzab Allah. Mereka akan mengetahui orang-orang yang membuat dan mengikuti fitnah-fitnah, dan tidak menganggap fitnah mereka sebagai adzab Allah. Manakala tidak berusaha memahami tuntunan Allah, mereka akan selalu dibelit dengan fitnah-fitnah hingga tidak dapat memahami jalan keluar yang ditunjukkan Allah.
Adanya suatu fitnah kadangkala membuat satu pihak mukminin menuduh pihak lain menimbulkan fitnah. Hal semacam ini bisa saja menjadikan kaum mukminin terjerat dalam suatu putaran tuduhan yang sulit diurai. Walaupun demikian, kaum muslimin harus berusaha untuk dapat keluar dari jeratan putaran fitnah di antara mereka. Untuk menghindari putaran tuduhan fitnah demikian, kaum mukminin hendaknya menentukan objek perselisihan dengan merujuk suatu ayat tertentu yang terkait dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mengungkapkan objek perselisihan tanpa landasan kitabullah. Fitnah itu merupakan ujian yang akan menunjukkan tingkat keimanan orang-orang yang berselisih. Orang yang lebih baik dalam keimanannya akan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan yang buruk akan mudah menentukan langkah hanya berdasarkan waham mereka sendiri. Tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai jalan keluar dari jerat fitnah ini tidak dapat digantikan dengan kekuatan atau kemampuan manusia. Kekuatan-kekuatan yang diberikan itu seharusnya digunakan untuk mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh digunakan untuk membantah atau berargumen terhadap kedua tuntunan tersebut.
Orang beriman hendaknya tidak beriman hanya dengan cara yang lemah, tetapi harus bisa benar-benar memahami tuntunan Allah hingga dapat membedakan suatu fitnah yang diperbuat oleh manusia dengan adzab yang ditentukan Allah. Keimanan yang dibina hendaknya bisa menjadikan mereka memahami perbedaan antara fitnah-fitnah dari manusia dan adzab Allah yang ditimpakan, tidak tergelincir mengatakan bahwa fitnah-fitnah manusia yang ditimpakan atas diri orang beriman tersebut sebagai adzab Allah. Ini hendaknya tidak dijadikan bahan perdebatan bahwa segala sesuatu Allah yang menentukan. Itu hanya satu aturan dasar, dan setiap orang beriman hendaknya tidak hanya memahami hukum dasar tetapi juga memahami hukum-hukum yang lain yang digelar Allah. Allah mungkin saja menggelar banyak hukum untuk suatu peristiwa dan menurunkan ketentuannya sesuai dengan keadaan makhluk-Nya. Pemahaman orang beriman hendaknya selalu ditingkatkan hingga mempunyai bekal pengetahuan tentang bagaimana Allah menurunkan ketentuan-Nya bagi makhluk.
Pemahaman yang kuat akan dapat diperoleh apabila orang beriman berusaha memahami tuntunan Allah untuk kehidupan diri mereka disertai dengan membina pemahaman terhadap nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam tuntunan-Nya. Mereka akan mengetahui jalan-jalan yang sesuai dengan tuntunan Allah dan dapat merasakan dosa-dosa yang dilakukan manusia manakala manusia menyalahi tuntunan Allah. Selanjutnya, mereka akan mengetahui bahwa ada orang-orang yang melakukan dosa-dosa hingga menimbulkan fitnah bagi orang lain khususnya orang beriman dan secara umum umat manusia lainnya. Fitnah-fitnah itu akan menimbulkan penderitaan bagi umat manusia layaknya adzab Allah. Orang beriman hendaknya mengetahui penderitaan yang disebabkan oleh fitnah manusia dan tidak mengatakan bahwa penderitaan itu adalah adzab Allah. Apabila tidak memahami tuntunan Allah, manusia tidak akan mempunyai kemampuan untuk membedakan fitnah manusia dan adzab Allah.
Manfaat Fitnah
Fitnah demikian itu merupakan bentuk ujian yang akan diturunkan Allah kepada orang-orang yang mengatakan bahwa dirinya beriman.
﴾۲﴿أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak ditimpa fitnah? (QS Al-’Ankabuut : 2)
Setiap orang yang mengatakan dirinya beriman akan diberi ujian untuk menunjukkan tingkat keimanan yang mereka katakan. Ujian itu terutama berguna agar orang yang bersangkutan mengetahui tingkat keimanan dirinya. Salah satu bentuk ujian yang akan ditimpakan kepada orang yang mengatakan dirinya beriman adalah suatu fitnah yang dibuat oleh manusia baik orang kafir ataupun orang-orang di antara mereka sendiri kemudian fitnah itu ditimpakan atas diri mereka. Fitnah itu akan menunjukkan reaksi mereka terhadap fitnah. Hendaknya mereka mengetahui tuntunan Allah tentang fitnah itu. Apabila mereka mengatakan bahwa fitnah yang dibuat manusia itu adalah adzab Allah, hendaknya mereka mengetahui bahwa keimanan mereka hanyalah keimanan yang lemah.
Keimanan yang lemah demikian merupakan keimanan yang mendekati keimanan orang-orang munafiq yang mempunyai keinginan bercabang, menginginkan dunia dengan mengabdi kepada Allah. Orang yang lemah imannya tidak berkeinginan kuat untuk memahami kehendak Allah. Orang yang beriman hendaknya berkeinginan untuk memahami kehendak Allah dan berusaha menunaikan kehendak tersebut. Bukti dari kuatnya keinginan memahami kehendak tersebut adalah keinginan memahami apa yang telah difirmankan dalam kitabullah dan dijelaskan sunnah Rasulullah SAW. Tidak ada bukti lain yang setara apalagi lebih baik daripada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik berupa kekuatan indera bathin ataupun yang lainnya. Kadangkala manusia terjebak pada pendapat dan waham umatnya, maka itu termasuk kelemahan keinginan memahami kehendak Allah, dan itu melemahkan keimanan. Ini bukan berarti seseorang tidak boleh mengikuti pemahaman orang-orang yang mengajarkan, akan tetapi hendaknya setiap orang mendengarkan pengajaran orang lain dengan berpegang pada kitabullah.
Allah akan menurunkan pertolongannya kepada orang-orang benar-benar beriman hingga mereka akan mencapai keberhasilan dalam jihad di jalan Allah. Perjuangan itu termasuk melawan fitnah-fitnah yang dibuat oleh manusia. Apabila orang-orang beriman tidak mengambil pengajaran Allah dari fitnah-fitnah yang terjadi, mereka akan terus terbelit dengan fitnah dan tidak memperoleh jalan untuk keluar dari masalah mereka. Kadangkala orang beriman memandang diri mereka sebagai pelopor dalam berbagai urusan tetapi sebenarnya tidak beranjak dari belitan fitnah karena tidak ada keinginan kuat berpegang pada tuntunan Allah, dan keadaan mereka terus saja terpuruk dalam berbagai masalah tanpa menyadarinya. Orang-orang yang lemah imannya itu pada waktu pertolongan Allah datang akan mengatakan bahwa mereka itu telah bersama sejak dahulu dengan orang yang berjihad, sedangkan sebenarnya mereka menyangka sebelumnya bahwa Allah menurunkan adzab kepada orang yang berjihad di jalan Allah, yaitu yang berjihad dengan mengikuti kitabullah.
Membangun Kebersamaan Di Jalan Allah
Kebersamaan dalam jalan Allah ditunjukkan dengan kebersamaan dalam berjuang di jalan Allah dengan landasan pemahaman terhadap firman Allah, disertai dengan pengetahuan bahwa fitnah yang menimpa dalam perjuangan itu adalah fitnah bukan adzab Allah. Orang-0rang yang berjihad bersama harus memahami firman Allah yang diperjuangkan. Berjihad tanpa memahami landasan firman Allah tidak termasuk yang berjihad di jalan Allah. Selanjutnya manakala terjadi suatu fitnah atas para mujahid, mereka mengetahui bahwa fitnah itu adalah fitnah bukan adzab Allah. Allah sama sekali tidak mempunyai kehendak menurunkan adzab kepada orang yang berjihad di jalan-Nya. Mereka hendaknya juga mengetahui bahwa fitnah itu adalah fitnah buatan manusia, tidak menisbatkan fitnah itu merupakan kehendak Allah. Orang-orang yang bersama di jalan Allah menunjukkan ciri-ciri yang disebutkan di atas.
Kasus fitnah pada ayat 10 Al-ankabut diijinkan Allah terjadi sebagai sarana untuk menunjukkan keadaan iman orang yang mengatakan dirinya beriman. Pada tingkat dasar, sebagian orang mungkin berjuang tanpa suatu usaha untuk memahami firman Allah yang menjadi landasan perjuangan mereka, maka barangkali lebih baik mereka tidak mengatakan bahwa diri mereka beriman. Bukan mengkafirkan diri, tetapi tidak perlu mendaku bahwa keimanan telah ada dalam dirinya. Boleh jadi mereka berjuang hanya mengikuti waham diri mereka saja atau mengikuti perkataan orang lain. Dalam banyak hal, berjihad di jalan Allah tidak dapat dilakukan oleh orang kafir atau ahli kitab karena jihad itu hanya dapat dilakukan dengan mengikuti ayat Allah. Bila suatu amal bisa dilakukan oleh orang kafir atau ahli kitab, amal-amal demikian boleh jadi belum masuk dalam kategori jihad di jalan Allah. Usaha memahami landasan jihad demikian ini adalah dasar dalam pengakuan keimanan.
Pada tingkat berikutnya, manakala terjadi fitnah atas orang yang berjihad di jalan Allah, hendaknya mukminin mengenali fitnah itu sebagai fitnah bukan adzab Allah. Hal ini menunjukkan tumbuhnya rasa persaudaraan di jalan Allah sebagai tanda tumbuhnya keimanan yang benar kepada Allah. Mungkin saja banyak orang yang mengaku beriman tetapi tidak mengenali orang yang berjihad di jalan Allah dan lebih memilih mengikuti orang yang hanya mengaku sebagai mujahid. Ini termasuk tanda rendahnya tingkat keinginan menghamba kepada Allah. Manakala suatu fitnah ditimpakan manusia atas orang yang berjihad, mungkin mereka akan beranggapan bahwa fitnah itu merupakan adzab Allah. Keimanan yang baik akan menunjukkan tumbuhnya persaudaraan di jalan Allah yang tampak pada keyakinan bersikap yang benar terhadap fitnah. Keyakinan membuta tanpa melihat masalah dengan benar tidak termasuk cabang keimanan.
Menganggap fitnah manusia atas orang yang berjihad di jalan Allah sebagai adzab Allah menunjukkan keimanan yang dekat dengan keimanan orang munafiq. Orang yang mengaku telah selalu membersamai orang yang memperoleh pertolongan Allah dalam jihad sedangkan sebelumnya mereka memandang fitnah sebagai adzab, dalam hati mereka terdapat kandungan kemunafikan. Allah mengetahui apa yang terkandung dalam hatinya. Kedekatan secara fisik saja tidak menunjukkan kebersamaan dalam jihad di jalan Allah selama seseorang tidak memahami kebenaran jihadnya di jalan Allah berdasar tuntunan kitabullah. Demikian pula seseorang tidaklah bersama di jalan Allah manakala menganggap fitnah atas sahabatnya di jalan Allah sebagai adzab Allah.
Apabila suatu saat seseorang memperoleh kesadaran merasa butuh untuk berjalan bersama seseorang di jalan Allah, hendaknya ia membangun kebersamaan di jalan Allah. Ia perlu menyampaikan sikap pembenarannya tentang jalan Allah yang ditempuh sahabatnya, dan bersiap untuk ikut bersama menanggung fitnah manusia atas jihadnya di jalan Allah. Pembenaran itu dapat dibina melalui pemahaman berdasar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bahwa perjuangan yang dilakukan benar-benar di jalan Allah, tidak melakukan pembenaran secara membuta hingga mudah tergelincir membenarkan para pemfitnah dan menganggapnya jihad di jalan Allah. Kebersamaan juga harus dibina dengan mengetahui bahwa fitnah yang ditimpakan kepada orang di jalan Allah itu adalah fitnah manusia bukan adzab Allah. Itulah sebagian langkah yang harus ditempuh. Tanpa bersikap demikian, seseorang belum dapat benar-benar bersama dengan sahabatnya di jalan Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar