Pencarian

Rabu, 09 Juli 2025

Fundamen Membina Masyarakat Madani

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW akan mendatangkan pemakmuran bumi. Pemakmuran masyarakat akan terjadi mengikuti perbaikan keadaan agama pada suatu masyarakat, dalam hal ini berupa terbentuknya tatanan mengikuti tuntunan Allah. Perbaikan itu harus dimulai dari tingkatan individu berupa penataan pikiran dan akal untuk mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Berikutnya tatanan harus dilakukan dalam tingkatan keluarga, di mana setiap individu harus dibina untuk dapat memberikan peran masing-masing melalui keluarga terutama dalam mengikuti tuntunan agama yang dapat dipahami oleh keluarga tersebut. Perbaikan dalam tatanan keluarga itu akan menumbuhkan pemakmuran secara umum di masyarakat. Setinggi apapun proses berpikir yang dilakukan masyarakat, tidak akan mendatangkan kemakmuran manakala umat tidak dibina untuk mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pemakmuran tidak akan terbina tanpa mengikuti millah Ibrahim a.s.

Pembinaan Individu

Setiap orang harus dibina untuk dapat menggunakan pikiran dan akal dengan benar, tidak tergelincir pada pikiran yang keji atau munkar. Manakala cara berpikir atau konstruk pikiran seseorang tidak benar, mereka tidak akan dapat menggunakan pikiran dan akal secara benar untuk memahami kehendak Allah. Konstruk pikiran dan cara berpikir setiap individu harus benar. Kadangkala suatu kaum mempunyai pikiran yang lemah karena kesalahan cara berpikir dalam mengikuti kebenaran, hanya mampu mengikuti kebenaran yang dikatakan kepada mereka sebagai kebenaran. Kadangkala suatu masyarakat membentuk konstruk pikiran yang salah maka terjadi kekacauan dalam tatanan masyarakat mereka.

Untuk membina pikiran dan akal dengan benar, setiap muslim harus berusaha untuk melakukan tazkiyatun-nafs. Tazkiyatun-nafs berfungsi memperkuat akal memahami kehendak Allah dengan tepat. Tazkiyatun nafs dilakukan dengan berbagai proses meliputi pembinaan jasmaniah untuk dapat mengarahkan wajah seluruh aspek jasmani kepada Allah, pensucian nafs agar cahaya Allah dapat sampai ke dalam qalb tanpa terhalang noda-noda yang mengotori pemahaman, dan membina nafs agar dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah hingga terbentuk bayangan kehendak Allah secara tepat.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nuur : 35)

Pembinaan pemahaman terhadap kehendak Allah dalam diri muslimin itu dapat diibaratkan dengan pembinaan misykat cahaya. Gambaran misykat cahaya dapat ditemukan dalam bentuk kamera atau mata manusia. Misykat cahaya berfungsi untuk membentuk bayangan sesuai dengan objek yang dibidik. Manakala seseorang membidik objek pohon dengan kamera, ia sebenarnya membentuk bayangan di dalam kamera dari cahaya pohon yang dibidik. Manusia sebenarnya dapat diibaratkan layaknya suatu kamera bagi cahaya Allah, di mana seorang beriman dapat membentuk bayangan dalam qalbnya sebagai gambar dari kehendak Allah bagi dirinya. Pembinaan pemahaman terhadap kehendak Allah dalam diri manusia harus dilakukan dengan membentuk diri manusia sebagai misykat cahaya terhadap cahaya Allah.

Dalam proses pembinaan misykat cahaya, ada hal-hal yang dapat merusak pembentukannya. Kekejian dan kemunkaran akan menyebabkan misykat cahaya membentuk bayangan cahaya yang menyimpang dari cahaya Allah. Syaitan benar-benar akan berusaha menjadikan manusia berbuat keji dan munkar sekalipun terhadap orang-orang beriman.

Kekejian berbentuk menyimpangnya manusia dari jalan kebenaran. Kekejian itu bisa berbentuk amal yang jahat ataupun amal yang tampak baik tetapi sebenarnya menyimpang. Gambaran yang jelas tentang kekejian di antaranya menyimpangnya manusia dalam pernikahan. Perempuan bersuami yang menjalin kasih atau mencari urusan Allah melalui laki-laki selain suaminya merupakan perempuan yang keji karena ia telah menyimpang dari jalan yang ditetapkan Allah baginya yaitu pernikahannya. Dalam aspek tertentu, mungkin perempuan demikian dipandang baik oleh manusia karena mencari urusan Allah, tetapi sebenarnya hal itu buruk. Para laki-laki pun dapat berbuat keji dalam amal yang tampak sebagai kebaikan. Misalnya manakala ia meninggalkan tuntunan Alquran untuk mengikuti tuntunan buruk yang bertentangan dengan kitabullah, ia telah berbuat keji sekalipun amal itu dipandang baik. Dalam hal ini, syaitan akan berusaha sungguh-sungguh membalikkan pandangan manusia sedemikian keburukan dipandang sebagai kebaikan oleh manusia.

Kemunkaran merupakan amal-amal yang dilakukan tanpa landasan pengetahuan tentang kebenaran. Bila seseorang melakukan suatu tindakan semata-mata untuk keuntungan diri sendiri atau kelompok tanpa mempertimbangkan kebenaran yang telah diketahui dalam perkara itu maka ia berbuat kemungkaran. Sikap kaum musyrikin dapat menjadi contoh kemunkaran manakala mereka menyampaikan kata-kata yang indah untuk mendukung kekejaman perbuatan mereka. Setiap muslim hendaknya berusaha bertindak dengan berlandaskan pada pengetahuan kebenaran dalam setiap keadaan, tidak boleh mengabaikan kebenaran yang sampai kepada dirinya. Mungkin ia tidak benar-benar mengetahui kebenaran pada suatu perkara, tetapi ia harus berusaha memperoleh landasan kebenaran yang paling kokoh untuk landasan tindakan yang perlu dilakukannya. Sangat banyak kerusakan yang dapat terjadi manakala seseorang berbuat kemunkaran. Kerusakan yang pasti terjadi adalah kerusakan pada pikiran dan akal diri seseorang yang melakukannya. Ia tidak akan bisa menimbang kebenaran manakala berbuat hanya berdasarkan kepentingan diri sendiri atau kelompoknya.

Setiap muslim harus berusaha membina diri sebagai misykat cahaya yang benar, di mana ia dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah secara tepat dan tajam. Manakala terdapat kekejian dan kemunkaran dalam dirinya, kedua hal itu akan merusak bayangan dari cahaya Allah yang terbentuk. Suatu kekejian akan memberikan berkas bayangan syaitan pada bayangan (mitsal cahaya) yang terbentuk, dan suatu kemunkaran akan merusak misykat seseorang dalam membentuk bayangan (mitsal) dari cahaya Allah. Kedua hal itu tidak boleh terjadi pada diri manusia. Setiap orang harus benar-benar berusaha untuk taat pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah secara tepat dalam dirinya.

Media pembentukan misykat cahaya itu adalah cahaya Allah. Seseorang tidak akan bisa membina diri sebagai misykat cahaya tanpa menghadap kepada cahaya Allah. Cahaya Allah yang paling utama hadir di alam dunia adalah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Sebenarnya cahaya itu tidak berhenti pada kedua tuntunan tersebut. Sangat banyak perpanjangan dari cahaya Allah hadir di alam dunia ini dan seluruhnya terhubung pada kedua tuntunan tersebut, akan tetapi tidak ada jaminan bahwa tidak terkandung kebathilan pada perpanjangan-perpanjangan cahaya tersebut. Hanya kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang tidak ada kebathilan di dalamnya. Manakala seorang muslim menemukan perpanjangan cahaya itu dan terhubung pada kedua tuntunan itu, maka ia menemukan cahaya Allah. Manakala seseorang merasa menemukan perpanjangan cahaya itu tetapi bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, hendaknya ia meyakini bahwa yang dianggap perpanjangan cahaya itu merupakan kebathilan.

Manakala seseorang tidak menghadapkan wajahnya kepada cahaya Allah, mereka tidak dapat membina diri sebagai misykat cahaya. Sikap penghadapan itu harus tepat, yaitu menghadap kepada cahaya Allah melalui perpanjangan-perpanjangan cahaya secara tepat. Kadangkala seseorang mengira sesuatu sebagai perpanjangan cahaya maka ia menghadap kepadanya sedangkan ia berada pada sisi kebathilan dari sesuatu yang ia menghadapnya. Sikap demikian mengganggu pembinaan diri sebagai misykat cahaya. Setiap orang harus memastikan bahwa ia berada pada sisi perpanjangan cahaya yang benar, maka ia bisa berlatih untuk membina misykat cahaya dirinya membentuk bayangan cahaya yang benar. Hal itu bisa dilakukan dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Di sisi lain seseorang kadangkala merasa tidak membutuhkan perpanjangan-perpanjangan cahaya, maka ia memilih cahaya yang terlalu kuat bagi misykat dirinya. Kadangkala seseorang mengira telah membentuk mitsal cahaya tetapi sebenarnya hanya hawa nafsu. Kadangkala seseorang mengabaikan suatu perpanjangan cahaya yang tepat karena waham maka ia kehilangan kesempatan membina misykat dirinya. Setiap orang hendaknya berusaha menempatkan diri pada perpanjangan cahaya yang tepat bagi dirinya. Sikap ini juga terkait dengan pengenalan terhadap kedudukan diri dalam al-jamaah.

Keadaan masyarakat akan sangat dipengaruhi kekuatan akal masyarakat dalam memahami tuntunan Allah. Ada banyak macam keadaan negeri kaum muslimin yang terbentuk sesuai dengan kekuatan akal mereka. Ada suatu negeri muslim yang mampu menegakkan kedaulatan negerinya dari rongrongan kaum musyrikin yang ingin menjatuhkan kedaulatan mereka karena akal yang memahami kehendak Allah. Manakala musyrikin merongrong, masyarakat negeri bersatu melawan rongrongan itu secara terpimpin tanpa rasa takut kematian karena jelasnya kedudukan mereka di jalan Allah. Sebagian negeri muslim dijatuhkan kedaulatan mereka oleh kaum musyrikin dengan infiltrasi-infiltrasi melalui kurangnya akal di antara masyarakat yang tidak sekuat negeri muslim yang berdaulat. Kaum musyrikin kemudian memasang boneka-boneka pimpinan bagi negeri tersebut untuk menekan akal masyarakat negeri. Di suatu negeri muslim yang lain, ada banyak orang-orang beriman tetapi tidak berusaha memahami tuntunan Allah dan tidak membangkitkan pemahaman masyarakat terhadap tuntunan Allah. Manakala diberitakan Dajjal kepada mereka, mereka berbuat sesuatu sesuai pikiran sendiri tanpa bersiap menghadapi Dajjal sesuai tuntunan Allah. Bahkan mereka mungkin tidak mempersiapkan jihad untuk menghadapi kaum musyrikin karena tidak mengetahui mereka hidup dalam tipu daya musyrikin. Pasukan langit yang akan diperbantukan kepada mereka mungkin bertanya-tanya apa yang dapat mereka lakukan bagi manusia yang mengerjakan urusan mereka sendiri, sedangkan para malaikat itu diperintahkan untuk membantu manusia-manusia itu dalam urusan Allah. Mungkin banyak warna-warna lain suatu negeri yang mencerminkan bagaimana akal mereka digunakan.

Pembinaan Peran Sosial

Dalam pemakmuran bumi, pembinaan misykat cahaya merupakan salah satu rantai pemakmuran. Misykat cahaya itu lebih terkait dengan pembinaan kaum laki-laki. Pemakmuran bumi hanya akan terwujud manakala laki-laki dan perempuan bersama-sama meninggikan asma Allah dan mendzikirkannya dalam suatu bayt yang diijinkan Allah.

﴾۶۳﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
Di dalam rumah-rumah yang diizinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan waktu petang,(QS An-Nuur : 36)

Pemakmuran akan terjadi mengikuti penataan masyarakat, dan penataan masyarakat terjadi mengikuti terbentuknya rumah tangga untuk menegakkan urusan Allah. Semua upaya masyarakat akan sia-sia apabila proses demikian dirusak atau tidak diperhatikan. Kadangkala suatu kaum berusaha keras untuk mewujudkan pemakmuran tetapi tatanan individu berupa pikiran dan akal diruntuhkan serta rumah tangga dibuat berantakan dengan perbuatan keji dan munkar, maka semua usaha keras itu akan sia-sia. Para individu itu tidak akan dapat menjalankan fungsinya. Bahkan manakala seseorang mengenal jati diri penciptaannya, ia akan kehilangan kedudukan manakala rumah tangganya dirusak. Setinggi apapun proses berpikir yang dilakukan masyarakat tidak akan mendatangkan hasil pemakmuran manakala umat tidak dibina untuk mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Gambaran pentingnya pembinaan keluarga dalam pemakmuran bumi dapat ditemukan layaknya hubungan antara kamera dengan roll filmnya. Suatu kamera yang baik harus dilengkapi dengan roll film agar manusia dapat melihat hasil yang baik dari kamera tersebut. Para isteri dapat diibaratkan roll film yang mencetak bayangan (mitsal cahaya) yang terbentuk pada misykat cahaya. Tanpa ada roll film, akan sulit bagi alam dunia untuk melihat keberadaan mitsal cahaya yang terbentuk pada diri seorang laki-laki.

Sebagaimana pembinaan para laki-laki, para perempuan hendaknya dibina agar bersikap lurus tidak keji ataupun munkar. Setiap perempuan harus berusaha memperhatikan urusan Allah bagi dirinya melalui suaminya, tidak mencarinya melalui orang lain. Apabila seorang isteri tidak memperhatikan suaminya untuk menemukan urusan Allah, atau justru mencari urusan Allah dari orang lain, maka urusan yang akan dikerjakannya akan menyimpang dari perintah Allah. Itu merupakan kekejian. Seandainya suami adalah seorang Firaun, seorang isteri harus belajar untuk bertindak seperti Asiyah binti Muzahim r.a menemukan urusan Allah bersama firaun dalam bentuk mengasuh Musa sebagai Qurrata ‘ain bagi Fir’aun. Syaitan akan berusaha menyimpangkan langkah manusia dengan menjadikan indah perbuatan keji dalam amal yang bisa diperbuat.

Kemunkaran harus dihindari oleh para perempuan dengan berusaha memahami suaminya sebaik-baiknya dalam rangka memahami kehendak Allah. Kecintaan terhadap suami hendaknya dibangkitkan pada diri isteri. Kecintaan itu merupakan sarana yang memudahkan para perempuan terhindar dari kemunkaran. Ada banyak hal yang dapat membangkitkan rasa kecintaan pada diri perempuan, misalnya kebaikan suami dalam urusan harta ataupun pemahaman dalam urusan Allah. Landasan utama membangun kecintaan itu hendaknya pemahaman terhadap amr Allah. Landasan demikian akan memudahkan para perempuan untuk memahami urusan Allah melalui suaminya. Boleh saja dan seharusnya para perempuan mencintai suaminya karena kebaikan dalam urusan harta yang diberikan kepada dirinya, tetapi tidak semua laki-laki bisa memberikan harta yang banyak kepada isterinya. Bila demikian maka hendaknya ia tetap bisa mencintai suaminya karena urusan Allah. Setiap kecintaan yang tumbuh pada diri isteri terhadap suaminya akan mendatangkan kemudahan bagi mereka dalam urusan dunia. Secara khusus, kecintaan para isteri di atas landasan pemahaman terhadap urusan Allah akan membangkitkan masyarakat madani yang memahami urusan Allah bagi mereka.

Pembinaan perempuan hendaknya dilakukan sejak sebelum pernikahan. Para perempuan harus dibina untuk mencintai kebenaran dan tidak boleh tumbuh hanya menjadi penuntut terhadap orang lain. Para perempuan yang dibiarkan liar akan tumbuh mengikuti syahwat dan hawa nafsu sendiri mencintai hasrat-hasrat duniawi. Mereka akan mencari pasangan yang dapat menyenangkan syahwat dan hawa nafsu saja tidak menginginkan berjuang untuk menjadi hamba Allah menunaikan kebenaran terhadap semesta diri mereka. Manakala syahwat dan hawa nafsu tidak terpuaskan, mereka hanya dapat menuntut kepada suami atau justru menyimpang kepada orang lain. Mereka mungkin tidak bisa merasakan kebutuhan terhadap suami yang tepat sebagai pemimpin dirinya dan tidak bisa memahami kebenaran yang harus diperjuangkan bersama suaminya. Pada batas keimanan, manakala Allah menunjukkan jodoh yang tepat, mereka mungkin akan memberontak terhadap petunjuk Allah. Hal-hal demikian akan menjadikan dunia semakin buruk. Setiap perempuan harus dibina untuk mengikuti kebenaran.



Minggu, 06 Juli 2025

Contoh Kearifan Lokal dalam Pembinaan Tauhid

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk menjadi hamba yang didekatkan merupakan langkah tauhid. Tidak hanya terhenti pada Rasulullah SAW, tauhid juga terkait dengan keberjamaahan berupa ketaatan terhadap perintah Allah hingga dalam bentuk perintah-perintah secara konkrit dari para ulul amri. Para ulul amr adalah orang-orang yang mengemban amr Allah dengan suatu landasan pengetahuan tentang urusan Allah untuk ruang dan jaman bagi mereka. Manakala seseorang melaksanakan perintah Allah yang disampaikan melalui ulul amri, mereka akan memperoleh penjelasan urusan Allah secara lebih jelas agar terhindar dari waham hingga dapat melaksanakan perintah Allah secara bersih.

﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)

Manakala mentaati perintah ulul amri, hendaknya setiap orang berusaha memperhatikan landasan amalnya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan memahami perintah ulul amri itu sebagai penjabaran dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bobot amalnya akan ditimbang berdasar pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan penjabaran urusan itu diperoleh melalui perintah ulul amri. Manakala seseorang tidak memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam beramal, ia tidak akan mengetahui dengan pasti nilai amalnya di mata Allah dan Rasulullah SAW dan mungkin pula sebenarnya tidak mendatangkan bobot nilai. Setiap orang harus berusaha mengetahui nilai amalnya di mata Allah walaupun berupa kejahatan agar ia dapat memohon ampunan Allah. Manakala ia berbuat baik, ia dapat berharap agar hatinya dibersihkan dari riya dan ujub hingga dapat diterima Allah. Manakala melakukan usaha, hendaknya ia berusaha melakukannya dalam kedudukan yang jelas dari urusan Allah termasuk manfaatnya terhadap amanah ulul amri, karena ulul amri itu merupakan pengemban urusan Allah bagi ruang dan jamannya.

Para ulul amri akan berusaha mengarahkan manusia agar melakukan usaha dan amal-amal seseuai dengan kehendak Allah. Seseorang yang melaksanakan amal sesuai dengan kehendak Allah akan memperoleh pengetahuan tentang kehendak-Nya dan memperoleh bobot nilai penghambaan yang besar karena pengetahuan itu. Itu adalah manfaat terbesar para ulul amri bagi umat manusia. Dalam satu tempat dan waktu, mungkin saja ada banyak ulul amri yang mengemban amanah-amanah Allah dalam urusan yang berbeda, tetapi terhubung dalam satu jamaah dalam amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman itu. Mungkin ditemukan hubungan hirarkis di antara mereka atau mungkin hubungan sahabat. Setiap orang bisa mengikuti satu ulul amri tertentu sesuai keadaan yang ditakdirkan bagi dirinya atau sesuai dengan pemahaman urusan Allah yang terbentuk pada dirinya agar bisa membentuk pemahaman terhadap urusan Allah yang harus ditunaikan dirinya dalam bentuk amal-amal shalih.

Keinginan para ulul amri adalah menunjukkan umat manusia pada urusan Allah yang harus ditunaikan. Ada kebaikan-kebaikan pada pelaksanaan amal-amal itu oleh setiap manusia, dan para ulul amri juga berharap munculnya kebaikan-kebaikan melalui pelaksanaan urusan-urusan itu, tetapi keinginan itu bukan keinginan yang utama. Keinginan utamanya adalah agar manusia menjadi hamba Allah yang ikhlas beribadah dengan amal-amal yang ditentukan dengan cara yang benar. Prioritas keinginan demikian terbentuk karena tidak mengharapkan umat tertimpa fitnah karena harapan terhadap kebaikan secara keliru. Kadangkala suatu kaum berjuang untuk sesuatu yang dipandang baik sedangkan banyak keburukan yang mungkin terselip padanya. Manakala suatu kaum berharap melaksanakan kehendak Allah dengan benar, proses yang terjadi akan lebih aman dan kebaikan yang terwujud berupa kebaikan yang lebih utuh. Karena itu, para ulul amri lebih mementingkan tercapainya amal dalam tauhid yang bersih, baik dari sisipan syaitan maupun campuran hawa nafsu manusia.

Kaum zionis israel bisa menjadi contoh paling nyata kaum yang mengupayakan apa yang dipandang sebagai kebaikan, sedangkan kebaikan mereka itu hanyalah tipuan syaitan yang dibaca mengikuti konsep kerajaan nabi Sulaiman a.s. Hal demikian ini tidak hanya mungkin terjadi atas bani Israel. Syaitan bisa membengkokkan pandangan setiap manusia terhadap kebaikan dan keburukan hingga mencelakakan manusia. Manakala umat manusia tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mengupayakan kebaikan bagi diri mereka, mereka dapat dibengkokkan oleh syaitan dengan mudah. Tauhid yang murni akan terwujud manakala setiap orang berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan hal itu akan terbantu dengan memperhatikan arahan para ulul amri.

Umat hendaknya memperhatikan arahan dari para ulul amri untuk mewujudkan tauhid yang murni bersih dari campuran hawa nafsu, syahwat ataupun syaitan. Perhatian itu harus dilakukan tanpa mengabaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan hanya kedua tuntunan itu yang dapat menjamin keselamatan perjalanan mewujudkan tauhid, bukan ketaatan kepada ulul amri. Ulul amri hanya membantu manusia mewujudkan tauhid. Kadangkala suatu kaum mengikuti panutan yang mereka pilih tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka mereka tidak memperoleh hasil yang layak untuk usaha yang mereka lakukan. Mereka tidak memperoleh bobot amal dari kebenaran maka hasil amal mereka ringan. Kadangkala suatu kaum menjadi tersesat karena mengikuti tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Para ulul amri sangat tidak menginginkan sikap yang salah dari umat mereka. Mereka mengharapkan ketaatan terhadap mereka dalam urusan yang menjadi kehendak Allah bagi ruang dan jaman mereka, dan tidak menginginkan ketaatan manusia secara berlebihan yang menghilangkan akal.

Contoh Kearifan Lokal

Para ulul amri sangat menginginkan umat bersikap tepat dalam ketaatan untuk mewujudkan tauhid yang bersih dari campuran baik syaitan, hawa nafsu ataupun syahwat, sehingga terwujud amal-amal melaksanakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka akan kecewa manakala umat tidak dapat membentuk ketaatan yang benar, dan juga kecewa sekalipun umat melakukan ketaatan tetapi salah. Ketaatan yang benar terhadap ulul amri terjadi manakala ketaatan itu mengantarkan mereka membentuk tauhid yang murni. Manakala tauhid menjadi rusak, ketaatan yang terbentuk itu merupakan ketaatan yang keliru.

Tauhid yang benar akan mendatangkan pemakmuran terhadap umat manusia. Manakala setiap orang beramal berdasarkan pengetahuan yang benar terhadap kehendak Allah, amal-amal itu akan mendatangkan hasil yang baik bagi masyarakat karena bobotnya yang besar. Pengetahuan tentang kehendak Allah itu tidak berdiri sendiri. Pengetahuan terhadap kehendak Allah itu sebenarnya juga terkait dengan pengetahuan umat terhadap ulul amri yang ada di antara mereka. Ada sebuah gambaran yang bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat sunda atau Bandung tentang hal demikian dan gambaran sikap tertentu ulul amri dalam uga bandung berikut:

Sunda Nanjung lamun nu pundung ti Bandung ka Cikapundung geus balik deui

Sunda akan makmur apabila yang merajuk dari Bandung ke Cikapundung sudah balik lagi

Kalimat di atas merupakan fragmen uga Bandung, ungkapan yang meluas di masyarakat sunda terkait dengn kemakmuran yang akan terjadi di tanah sunda dengan parameter dinamika kota Bandung dan Cikapundung. Kemakmuran di tanah sunda akan terjadi apabila seseorang dari Bandung yang merajuk pergi ke Cikapundung telah kembali berbalik tidak merajuk lagi.’

Pemakmuran itu ditandai dengan telah meredanya kekecewaan seseorang yang merajuk dari Bandung dan pergi ke Cikapundung dan ia kemudian kembali bersama-sama dengan yang lain. Tanda Datangnya pemakmuran itu bukan seseorang yang mengupayakan sesuatu terkait dengan Cikapundung. Mungkin akan banyak orang terwahami dengan kalimat di atas dan mengupayakan hal-hal terkait Cikapundung untuk menjadi pahlawan yang memakmurkan tanah sunda. Ini merupakan pemahaman yang tidak tepat. Pemakmuran itu ditandai kembalinya orang yang merajuk. Orang yang merajuk itu tidak dalam keinginan mencari wangsit, ilham ataupun ilmu dan lain-lain dari Cikapundung, tetapi ia pergi ke Cikapundung karena merajuk terhadap masyarakatnya. Mungkin ia memperoleh hal-hal yang disebutkan, tetapi sebenarnya ia pergi ke Cikapundung karena merajuk bukan karena yang lain.

Masyarakat sunda atau Bandung dalam uga ini memperoleh peringatan bahwa mungkin saja sikap mereka mengecewakan orang-orang yang berjihad untuk menegakkan agama, mengabaikan seruan mereka atau justru menghalangi upaya membina kesejahteraan berdasarkan langkah tauhid. Mereka mungkin mengecewakan ulul amri hingga pundung sedangkan masyarakat mungkin tidak mengetahui adanya ulul amr tersebut. Sikap yang mengecewakan demikian sebenarnya menghalangi tumbuhnya kemakmuran. Kadangkala masyarakat tidak memahami keadaan atau langkah diri yang mengecewakan, hanya merasakan bahwa upaya yang telah mereka lakukan tidak mendatangkan hasil secara layak. Mungkin kebanyakan orang tidak melihat dengan jelas apa permasalahan yang terjadi. Atau mungkin langkah penghalangan itu hanya dilakukan oleh sedikit orang sehingga kebanyakan orang tidak mengetahui masalahnya, hanya masalah bagi sedikit orang. Keadaan yang terjadi demikian pada dasarnya menunjukkan kurang tepatnya upaya dalam mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan manakala ada di antara mereka yang terhalang dalam menyeru untuk mengikuti kedua tuntunan itu secara tepat, sebenarnya mereka telah menghalangi seruan tauhid.

Pundung menunjukkan pada sikap pergi mengasingkan diri karena kekecewaan. Ulul amri yang mengenal jalan pemakmuran bumi tidak akan kecewa dan pergi karena masalah duniawi, tetapi lebih terkait dengan tauhid yang terbentuk pada masyarakat. Bila tauhid yang terbentuk pada masyarakat tidak benar, mereka akan bersedih dengan keadaan itu. Tentu saja mereka akan berusaha untuk menegakkan tauhid hingga masyarakat mengenali jalan untuk beribadah kepada Allah dengan murni, terbebas dari penyembahan kepada hawa nafsu ataupun syahwat dan syaitan yang menyesatkan. Mereka tidak akan pundung karena kegagalan. Mereka akan pundung manakala masyarakat tidak mau memahami atau justru menghalangi seruannya untuk membina tauhid, dalam hal ini berupa terwujudnya amal-amal yang benar mengikuti perintah-perintah Allah untuk ruang dan jaman mereka. Manakala jelas kekafiran atau kemusyrikan orang atau masyarakat yang menolak, seseorang akan lebih mudah bersikap, tetapi apabila sesama muslim maka boleh jadi ia hanya bisa pundung.

Pemakmuran di tanah sunda akan terjadi apabila orang yang pundung itu mau kembali bersama-sama melangkah. Hal ini tentu membutuhkan beberapa perubahan di masyarakat. Hal utama yang perlu diubah boleh jadi adalah cara mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sedemikian proses pemakmuran dapat berjalan tanpa berbelok karena kesalahan berpikir. Termasuk dalam hal ini adalah kemampuan berpikir dan menggunakan akal untuk memahami fundamen agama tidak boleh mengikuti orang lain secara taklid tanpa disertai pembinaan pikiran dan akal. Boleh jadi ada langkah-langkah personal orang yang pundung itu terhambat karena adanya kesombongan atau kebodohan orang lain hingga merusak kunci-kunci melangkah menuju tauhid atau justru merusak kunci-kunci pemakmuran. Kesombongan atau kebodohan pada dzahirnya bisa tampak sama dan saling berkaitan, tetapi kesombongan lebih mendatangkan rasa pundung daripada kebodohan. Boleh jadi ada banyak hal yang harus dibenahi agar orang yang pundung itu mau kembali.

Pemakmuran masyarakat akan terjadi mengikuti perbaikan keadaan agama pada suatu masyarakat, dalam hal ini berupa terbentuknya tatanan mengikuti tuntunan Allah. Perbaikan itu harus dimulai dari tingkatan individu berupa penataan pikiran dan akal untuk mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Berikutnya tatanan harus dilakukan dalam tingkatan keluarga, di mana setiap individu harus dibina untuk dapat memberikan peran masing-masing melalui keluarga terutama dalam mengikuti tuntunan agama yang dapat dipahami oleh keluarga tersebut. Perbaikan dalam tatanan keluarga itu akan menumbuhkan pemakmuran secara umum di masyarakat. Hal ini merupakan bagian-bagian dari proses membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Proses-proses demikian tidak boleh dirusak, pada setiap bagiannya. Bagian paling dasar, setiap orang harus dibina untuk dapat menggunakan pikiran dan akal dengan benar, tidak tergelincir pada pikiran yang keji atau munkar. Manakala cara berpikir atau konstruk pikiran seseorang tidak benar, mereka tidak akan dapat menggunakan pikiran dan akal secara benar untuk memahami kehendak Allah. Konstruk pikiran dan cara berpikir setiap individu harus benar. Kadangkala suatu kaum mempunyai pikiran yang lemah karena kesalahan cara berpikir dalam mengikuti kebenaran, hanya mampu mengikuti kebenaran yang dikatakan kepada mereka sebagai kebenaran. Hal ini akan mempersulit pembinaan agama atau bahkan menihilkannya, dan pemakmuran akan sulit dicapai.

Pada bagian berikutnya, setiap individu harus dibina untuk dapat berperan dalam rumah tangga dengan benar. Seorang kepala keluarga harus membina diri untuk mengetahui amanah Allah untuk dirinya dan mengenali kedudukan dirinya dalam al-jamaah. Para isteri hendaknya dibina untuk mengenali kebenaran yang dikenali suaminya, dan ikut membantu mewujudkan kebenaran itu bagi masyarakat mereka. Isteri hendaknya menghindari kekejian baik secara bathin saja ataupun kekejian hingga bentuk dzahir karena akan merusak pikiran dan akal dalam memahami urusan Allah bagi mereka. Demikian anak-anak dibina untuk dapat memahami keadaan keluarga sebagai bekal untuk membina diri membantu mewujudkan atau meneruskan keberlangsungan pelaksanaan amanah Allah yang melewati keluarga mereka. Rumah tangga demikian merupakan basis bagi seseorang untuk memberikan sumbangsih terbaik untuk masyarakat mereka. Apabila basis itu dirusak, mereka akan kesulitan untuk berpartisipasi memberikan sumbangsih bagi umat.

Pemakmuran akan terjadi mengikuti penataan masyarakat, dan penataan masyarakat terjadi mengikuti terbentuknya rumah tangga untuk menegakkan urusan Allah. Hal ini harus diperhatikan oleh setiap orang, dan proses demikian merupakan proses penegakan agama di masyarakat. Semua upaya masyarakat akan sia-sia apabila proses demikian dirusak atau tidak diperhatikan. Kadangkala suatu kaum berusaha keras untuk mewujudkan pemakmuran tetapi tatanan individu berupa pikiran dan akal diruntuhkan serta rumah tangga dibuat berantakan dengan perbuatan keji dan munkar, maka semua usaha keras itu akan sia-sia. Para individu itu tidak akan dapat menjalankan fungsinya, bahkan manakala seseorang mengenal jati diri penciptaannya akan kehilangan kedudukan manakala rumah tangganya dirusak. Ibarat pengungsi, seseorang tidak akan bisa melakukan tugasnya dalam pengungsian. Setinggi apapun proses berpikir yang dilakukan masyarakat tidak akan mendatangkan hasil pemakmuran manakala umat tidak dibina untuk mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pemakmuran tidak akan terbina tanpa mengikuti millah Ibrahim a.s.

Kearifan lokal dalam uga tersebut di atas bisa menjadi contoh kearifan yang menghubungkan kaum dengan tauhid melalui ulul amri. Kearifan lokal bisa menghubungkan kaum dengan suatu kebenaran hingga kebenaran yang tertinggi dengan cara tertentu sedemikian seseorang memahami langkah yang harus ditempuh secara praktis. Cara memahami yang dilakukan seseorang mungkin tidak selalu tepat tetapi harus benar, maka pemahaman kearifan lokal itu bisa mendatangkan manfaat manakala digunakan untuk terhubung dengan kebenaran misalnya untuk menemukan suatu langkah praktis mengikuti kebenaran. Cerita-cerita kearifan lokal sangat banyak ditemukan, dan orang-orang yang tulus mencari jalan memahami kebenaran seringkali menemukan jalannya melalui kearifan lokal.

Kamis, 03 Juli 2025

Tauhid dan Masalah Pembinaan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk menjadi hamba yang didekatkan merupakan langkah tauhid. Setiap orang harus membina dalam dirinya tauhid dalam beribadah kepada Allah secara murni tidak ada campuran apapun dalam ibadahnya. Kemurnian ibadah kepada Allah demikian akan dapat dicapai apabila setiap orang berusaha untuk membentuk diri sebagai misykat cahaya yang benar dan membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tanpa langkah demikian, seseorang tidak akan dapat memurnikan ibadah kepada Allah. Mungkin ia hanya mengikuti hawa nafsu dan pikiran saja, atau justru mengikuti langkah syaitan sedangkan ia menyangka beribadah secara murni kepada Allah.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nuur : 35)

Pembinaan pemahaman terhadap kehendak Allah dalam diri muslimin itu dapat diibaratkan dengan pembinaan misykat cahaya. Gambaran misykat cahaya dapat ditemukan dalam bentuk kamera atau mata manusia. Misykat cahaya berfungsi untuk membentuk bayangan sesuai dengan objek yang dibidik. Manakala seseorang membidik objek pohon dengan kamera, ia sebenarnya membentuk bayangan di dalam kamera dari cahaya pohon yang dibidik. Manusia sebenarnya dapat diibaratkan layaknya suatu kamera bagi cahaya Allah, di mana seorang beriman dapat membentuk bayangan cahaya Allah dalam qalbnya sebagai gambar dari kehendak Allah bagi dirinya. Manusia dapat membentuk bayangan cahaya Allah atau mitsal cahaya Allah, bukan bayangan Allah. Pembinaan pemahaman terhadap kehendak Allah dalam diri manusia harus dilakukan dengan membentuk diri manusia sebagai misykat cahaya.

Membina diri sebagai misykat cahaya dapat ditempuh dengan tazkiyatun nafs. Tanpa menempuh proses tazkiyatun nafs, hati seseorang tidak akan dapat mempersepsi cahaya Allah apalagi membentuk bayangan dari cahaya yang datang. Proses tazkiyatun nafs harus dilakukan agar seseorang dapat membentuk pemahaman terhadap kehendak Allah. Membentuk pemahaman itu adalah membentuk bayangan cahaya Allah dalam qalb. Untuk membentuknya, setiap orang harus mampu menggunakan penalaran yang benar dan memilih berita yang benar dan berguna. Bila seseorang menggunakan penalaran yang rusak, bayangan cahaya yang terbentuk tidak akan benar. Demikian pula manakala menggunakan sembarang berita tanpa menimbang kebenaran atau nilai manfaatnya, mereka sebenarnya hanya membentuk bayangan yang sia-sia bukan cahaya Allah. Setiap orang harus benar-benar menggunakan penalaran yang benar dan memilih berita yang benar, dan itu yang akan membentuk bayangan cahaya Allah dengan benar. Tanpa menempuh proses tazkiyatun nafs, manusia tidak akan mampu melakukan penalaran yang benar ataupun memilih berita yang benar karena semua proses membentuk mitsal cahaya Allah akan dipengaruhi oleh hawa nafsu dan syahwat diri, maka bayangan yang dibentuk pasti bukan bayangan yang benar.

Terbentuknya diri manusia sebagai misykat cahaya merupakan prasyarat membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Manakala seseorang belum bisa membentuk bayangan cahaya Allah dalam dirinya, sebenarnya ia belum mempunyai materi untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Sekalipun demikian, seseorang yang beriman tidak berarti tidak bertauhid atau tidak dapat beramal shalih.  Setiap orang yang mengucapkan dua kalimah syahadat pada dasarnya telah bertauhid, tetapi sebenarnya ada banyak tingkatan tauhid di antara manusia. Sebagian yang telah bertauhid itu bisa saja berhenti pada sekadar ucapan saja, atau boleh jadi kemudian tersesat mengikuti langkah musyrikin, atau mengikuti bisikan-bisikan syaitan, atau ia terus membina tauhid hingga diperoleh pemahaman yang tepat terhadap ayat-ayat Allah. Dalam amal shalih, ia dapat mengikuti amal orang lain yang telah membentuk diri sebagai misykat cahaya dengan memberikan pertolongan dan bantuan untuk beramal, maka ia telah beramal shalih. Amal-amal demikian akan sangat membantu untuk membina diri sebagai misykat cahaya. Ia akan mengetahui cahaya Allah yang memancar kepada dirinya atau setidaknya yang dekat dengan dirinya, maka ia akan memperoleh media belajar membentuk bayangan dari cahaya Allah tersebut.

Menolong dan membantu seorang misykat cahaya membutuhkan suatu pengetahuan dan iktikad untuk menolong Allah. Setiap orang harus berusaha memperhatikan ayat-ayat Allah baik ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah yang digelar di semesta dirinya dengan benar, dan kemudian berusaha beramal sesuai keadaan yang dipahami. Mencari sahabat untuk beramal sesuai keadaan yang digelar akan sangat memudahkan seseorang beramal, dan kadangkala mengantarkan diri mereka untuk bertemu dengan seorang misykat cahaya Allah. Apabila seseorang tidak mempunyai bekal pengetahuan dan iktikad untuk menolong Allah, ia tidak akan mengenali para misykat cahaya. Mungkin ia akan mengabaikan perjuangan seorang misykat cahaya yang ada sekalipun di dekat dirinya. Atau mungkin pula ia akan banyak beramal tanpa bobot yang jelas, mungkin pula hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang menginginkan kekayaan dan kemasyhuran dengan menggunakan agama. Setiap orang harus membaca sungguh-sungguh ayat-ayat Allah untuk menolong Allah.

Suatu bayt berfungsi untuk mewujudkan mitsal cahaya Allah bagi semesta. Gambarannya adalah terlahirnya anak melalui penyatuan khazanah diri seorang laki-laki dengan isterinya. Atau dapat pula digambarkan seperti terbentuknya wujud gambar pada roll film kamera, atau terbentuknya gambar pada layar-layar monitor yang terhubung pada misykat cahaya. Tanpa film atau layar monitor, bayangan yang terbentuk dalam misykat cahaya akan sulit dilihat masyarakat umum. Bisa saja seorang misykat cahaya tidak dikenali oleh umatnya karena tidak terbentuk bayt baginya, sedangkan ia dapat memahami kehendak Allah dengan benar dengan mitsal cahaya Allah yang terbentuk dalam dirinya. Suatu masyarakat madani akan dapat terbentuk manakala terbentuk bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah, bukan sekadar terbinanya seseorang sebagai misykat cahaya Allah.

Mengikuti Tuntunan dengan Benar

Dewasa ini umat islam banyak kehilangan pengetahuan tentang proses tauhid yang sebenarnya harus ditempuh setiap muslim. Sangat banyak muslimin yang baik tetapi peradaban kaum muslimin tidak mampu mengungguli orang-orang kafir. Hal ini terjadi karena kaum muslimin tidak menempuh pemurnian proses tauhid dengan benar yaitu membina diri sebagai misykat cahaya mengikuti langkah Rasulullah SAW. Ada pula orang-orang yang berusaha membina diri sebagai misykat cahaya tetapi tidak taat kepada tuntunan Allah maka ia menjadi tersesat jalannya. Hal ini mendatangkan keburukan yang lebih besar daripada tidak membina diri. Bila setiap muslimin melakukan pembinaan diri menjadi misykat cahaya Allah (dan membentuk bayt), niscaya umat islam akan mampu membentuk peradaban yang tidak akan dikalahkan oleh orang-orang jahat yang tidak mempunyai keinginan baik. Mereka akan memahami cahaya Allah karena terbentuknya akhlak sebagai misykat cahaya.

Keadaan ini diperburuk dengan ulah kaum musyrikin yang mencampurkan ajaran tauhid mereka ke dalam ajaran tauhid Rasulullah SAW. Kaum musyrikin sebenarnya berupaya memasukkan suatu ajaran dalam ajaran islam dengan mengadopsi ajaran-ajaran islam. Nilai-nilai islam disembunyikan dari pandangan umat sedemikian terbentuk orang-orang islam yang memecah-belah agama mereka menjadi beberapa golongan dan tiap-tiap golongan merasa bangga dengan yang ada pada golongan mereka. Manakala seseorang mengikuti ajaran kaum musyrikin demikian, mereka akan tergolong sebagai kaum musyrikin. Manakala terjadi perang di antara muslimin dan musyrikin, mereka akan tampil sebagai pembela musyrikin dengan upaya memecah-belah kaum muslimin agar memusuhi muslimin lainnya.

﴾۱۳﴿ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
﴾۲۳﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
(31)dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu memasuki golongan musyrikin. (32)yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS Ar-Ruum : 31-32)

Susupan ajaran kaum musyrikin menjadikan umat islam berpecah-belah. Susupan itu termasuk dalam urusan tauhid. Tauhid yang mereka ajarkan tidak menjadikan pengikutnya memahami nilai-nilai kebenaran ayat Allah dengan akal, tetapi justru menjadikan pengikutnya memandang muslim lain terjebak kesalahan yang harus dimusuhi, karenanya terjadi perpecah-belahan di antara muslimin. Tanpa suatu pembinaan diri untuk memahami cahaya Allah, banyak tuduhan kesyirikan, bid’ah atau khurafat yang dibuat dan diarahkan kepada pihak lain hingga berselisih, sedangkan kemurnian akidah yang mereka maksudkan hanya seperti akidah Dzulkhuwaisirah. Tentu hal ini bertentangan dengan tuntunan Rasulullah SAW untuk kembali kepada Allah dengan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sebagaimana millah nabi Ibrahim a.s. Proses tazkiyatun-nafs dan pembentukan akal untuk memahami ayat-ayat Allah dinihilkan, sedangkan hal itu merupakan bagian dari rangkaian proses pembinaan tauhid mengikuti Rasulullah SAW.

Di antara kebanggaan mereka berbentuk tuduhan buruk yang tidak pantas kepada golongan lain di antara muslimin yang berbeda pendapat, dan membanggakan pendapat mereka sendiri. Tuduhan buruk satu pihak terhadap pihak lain sebenarnya hanya terjadi antara sesama pengikut ajaran kaum musyrikin, tetapi dikatakan mewakili keseluruhan yang berbeda pendapat. Mungkin ditemukan sifat-sifat buruk yang dituduhkan, tetapi sebenarnya hanya ditemukan pada bagian kaum yang juga dibangkitkan oleh ajaran musyrikin atau yang terpengaruh, bukan muslimin yang mengikuti Rasulullah SAW. Kaum muslimin dibuat terpecah belah hingga tidak dapat memperhatikan tuntunan yang harus diikuti. Sangat banyak sikap yang timbul di antara kaum muslimin. Ada kaum yang mengikuti mereka, banyak yang terpengaruh dengan mereka, dan ada pula yang tetap berpegang pada keinginan menjadi hamba Allah yang memberikan kebaikan sehingga bersikap mendekati keadilan terhadap sesama muslimin dan keseluruhan umat manusia.

Dalam banyak kasus, orang-orang yang mengikuti syaitan akan terbalik akalnya. Seperti zionis yang menuduh orang lain membangun markas militer di bawah rumah sakit dan kemudian meruntuhkan rumah sakit-rumah sakit, padahal sebenarnya dirinya sendiri yang membangun markas militer dengan kedok rumah sakit. Pikiran mereka terbalik karena syaitan. Para zionis itu sebenarnya bani Israel yang mengikuti bacaan syaitan, bukan hamba Allah sama sekali. Demikian pula orang yang mengikuti ajaran musyrikin memecah belah orang islam, mereka mungkin memandang diri mereka sebagai kaum yang berusaha memurnikan akidah dan membersihkan kesyirikan, tetapi mereka tidak mengetahui kesyirikan dalam diri sendiri sedangkan kesyirikan itu telah difirmankan Allah. Petunjuk-petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mereka gunakan tanpa menggunakan akal, sedangkan mereka memandang itu kebaikan. Mereka tidak memahami nilai kebenaran dari petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Pemurnian ibadah kepada Allah hanya terjadi manakala seseorang memahami dengan tepat ayat-ayat Allah dengan akalnya, dan hal itu hanya terjadi manakala akhlak seseorang membentuk misykat cahaya. Tanpa akhlak itu, seseorang hanya mengikuti hawa nafsu, syahwat atau bisikan syaitan atau bisikan orang lain termasuk bapak-bapak mereka. Tanpa akhlak itu seseorang tidak dapat memahami kehendak Allah dengan tepat. Setiap orang yang mengucapkan dua kalimah syahadat pada dasarnya telah bertauhid, tetapi sebenarnya ada banyak tingkatan tauhid di antara manusia. Sebagian yang telah bertauhid itu bisa saja berhenti pada sekadar ucapan saja, atau boleh jadi kemudian tersesat mengikuti langkah musyrikin, atau mengikuti bisikan-bisikan syaitan, atau ia terus membina tauhid hingga diperoleh pemahaman yang tepat terhadap ayat-ayat Allah. Murninya ibadah kepada Allah akan diperoleh oleh orang yang memahami kehendak Allah dengan tepat, bukan orang yang berucap syahadat kemudian tiba-tiba menjadi hakim bagi tauhid muslimin lain.

Setiap orang hendaknya membina akhlak diri sebagai misykat cahaya, dan pembinaan itu harus ditempuh dengan tuntunan yang benar. Kesalahan dalam membentuk akhlak bisa berakibat sama dengan orang-orang yang mengikuti syaitan, mengarah pada keburukan akhlak dengan akal terbalik-balik. Sangat penting bagi setiap manusia untuk membina diri mengikuti tuntunan yang benar yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan pemahaman yang tepat. Mungkin saja seseorang berkeinginan memakmurkan bumi, tetapi karena pembinaan yang salah justru tatanan akal dan tatanan manusia hingga rumah tangga justru dirusak atau orang-orang kehilangan pasangannya maka yang umat peroleh bukan masyarakat madani tetapi masyarakat yang berantakan. Pembinaan yang dilakukan harus mengikuti tuntunan Allah dalam bentuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Rabu, 02 Juli 2025

Mensikapi Perbedaan di Antara Muslimin

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Celah Penyatuan Pendapat

Mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk menjadi hamba yang didekatkan merupakan langkah tauhid. Tauhid bukan hanya urusan seseorang dengan rabb-nya saja, tetapi juga terkait dengan keberjamaahan berupa ketaatan terhadap perintah Allah hingga dalam bentuk perintah-perintah secara konkrit dari para ulul amri. Penyatuan langkah bersama para ulul amri merupakan bentuk nyata penyatuan terhadap perintah Allah. Keberjamaahan akan terjadi melalui ketaatan kepada mereka karena mereka melaksanakan urusan Allah sebagai bagian dari perjuangan Rasulullah SAW.

﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)

Setiap orang islam hendaknya memikirkan dengan sungguh-sungguh perintah ayat di atas, yaitu menemukan imam sebagai ulul amri yang harus ditaati bagi kehidupan dirinya. Manakala ia belum menemukan ulul amri, sebenarnya ia belum benar-benar bertauhid dalam arti belum benar-benar melaksanakan urusan Allah. Ia belum tumbuh secara memadai sebagai hamba Allah yang sebenarnya karena belum mengetahui urusan Allah yang harus dilaksanakan.

Perjalanan tauhid dimulai sejak seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat. Itu adalah permulaan, dan masih ada perjalanan panjang yang harus ditempuh seseorang agar benar-benar mengetahui makna dari dua kalimat syahadat tersebut. Pengetahuan tauhid seseorang akan menjadi lengkap manakala seseorang benar-benar mengetahui bahwa pemimpin tertinggi alam semesta adalah Rasulullah SAW. Pengetahuan demikian tidak benar-benar terjadi kecuali ia mengenali kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW terutama dalam urusan ruang dan jamannya. Pengenalan demikian akan diikuti dengan pengenalan dirinya terhadap para ulul amri yang dihadirkan Allah untuk jamannya.

Dalam prakteknya, kebutuhan seseorang terhadap pengenalan terhadap ulul amri tidak hanya tumbuh setelah pengenalan terhadap kedudukan diri. Seseorang yang meningkat kekuatan akalnya seringkali dalam dirinya tumbuh kebutuhan figur pemimpin yang tepat dalam penghambaan kepada Allah. Para awliya Allah dari negeri-negeri yang jauh banyak datang ke nusantara karena petunjuk Rasulullah SAW setelah akal mereka mampu memahami petunjuk tersebut. Mungkin saja seseorang di antara kaum mukminin merasa membutuhkan pemimpin untuk penghambaannya kepada Allah dan kemudian mengenali imam sebagai ulul amri bagi dirinya secara tepat walaupun tidak bertemu. Misalnya seseorang bisa saja mengenali imam al-mahdi a.s secara terinci dengan akalnya dan bersungguh-sungguh berjuang membantu urusan beliau a.s sebelum datangnya, sekalipun ia tidak bertemu dengan beliau a.s. Khalifatullah Al-Mahdi a.s merupakan sosok yang Allah sembunyikan keberadaannya, tetapi bisa saja hamba tertentu mengenalinya karena kebutuhan dirinya tanpa bertemu beliau a.s.

Kebutuhan terhadap ulul amr merupakan kebutuhan yang tumbuh mengikuti perkembangan akal. Kebutuhan itu tumbuh dari sikap mengikuti tuntutan dua kalimah syahadah. Ada orang-orang yang ingin melaksanakan kehendak Allah dengan benar maka ia berusaha memahami urusan Allah untuk ruang dan jamannya dan berusaha menemukan pemimpin bagi dirinya dalam melaksanakan urusan itu, maka mereka itu akan mengenali ulul amri bagi dirinya setelah mengenali kedudukan diri dan mengenali kedudukan Rasulullah SAW dalam urusan Allah. Banyak orang merasa cukup dipimpin oleh syahwat dan hawa nafsu sendiri yang buruk, maka ia hanya berurusan dengan kepentingan dirinya. Sebagian orang ingin berjuang untuk bangsanya. Sebagian orang ingin memberikan kebaikan dengan menemukan amal shalih, tetapi tidak berusaha memahami urusan Allah untuk ruang dan jaman mereka atau merasa menemukan kekuatan pada kebaikan dari dirinya. Mereka adalah orang-orang yang baik tetapi mungkin akan mudah tergelincir atau tidak menemukan jalan untuk benar-benar mengenal kedudukan Rasulullah SAW, dan ulul amri di antara mereka. Hanya orang-orang yang benar-benar ingin melaksanakan perintah dari urusan Allah yang akan benar-benar mengenali kedudukan Rasulullah SAW dan mengenali ulul amri secara tepat.

Banyak orang islam yang berselisih dalam banyak perkara tanpa landasan nyata, hanya mengikuti ayat dan hadits dengan pikiran dan hawa nafsu tanpa berproses menumbuhkan akhlak dalam perkara yang mereka perdebatkan. Ibaratnya seperti anak-anak sekolah dasar yang berdebat dan berkelahi karena pembahasan kalkulus integrasi yang belum dapat mereka pahami, maka mereka berdebat tanpa suatu penyelesaian yang memuaskan. Umat islam dewasa ini tampak terbagi dalam dua golongan besar yang dinamakan ahlus-sunnah dan syi’ah, dan beberapa kelompok bersikap ekstrim terhadap kelompok lain hingga mencederai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Tumbuhnya akhlak mulia terjadi melalui beberapa tahapan yang jelas. Setelah seseorang mengucapkan dua kalimah syahadat, mereka seharusnya berproses menuju akhlak mulia untuk dapat melaksanakan perintah Allah dengan benar. Ucapan kalimat syahadat itu merupakan penanda awal bahwa seseorang akan mengikuti langkah Rasulullah SAW, tidak mengikuti hanya syahwat dan hawa nafsu dirinya. Ucapan dua kalimah syahadat itu telah memisahkan seseorang dari kekufuran, tetapi ia sebenarnya masih perlu membina akhlak mulia. Tahapan membina akhlak mulia berikutnya yang harus ditempuh adalah melakukan tazkiyatun-nafs agar dapat memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar, dan kemudian berhijrah menuju tanah suci berupa pengenalan kedudukan diri dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Setelah mengenal kedudukan diri, ia hendaknya membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Itu adalah tahapan proses pembinaan akhlak mulia yang perlu ditempuh oleh setiap hamba Allah yang mengikuti langkah Rasulullah SAW, dan perlu dipahami secara terintegrasi. Ada penanda yang menyertai tumbuhnya akhlak mulia, diantaranya adalah pengenalan seseorang terhadap wasilah dirinya kepada Rasulullah SAW. Dalam proses hijrah ke tanah yang dijanjikan atau pengenalan jati diri, seseorang yang benar-benar ingin menjadi hamba Allah akan menganggap mengenali urusan Allah lebih penting daripada mengenal jati dirinya, dan ia ingin menjadi bagian dari urusan Rasulullah SAW bukan mengenal diri sendiri saja. Sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW, ia menyadari bahwa banyak orang juga merupakan bagian dari urusan beliau yang mungkin ada yang menjadi imam bagi dirinya secara langsung. Manakala tidak tumbuh keinginan mengenal urusan Allah dalam kebersamaan di al-jamaah, pemahaman yang terbentuk pada diri seseorang belum merupakan pemahaman yang terintegrasi dan hal ini bisa menjadi penyebab ketergelinciran.

Perbedaan Di Antara Muslimin

Dewasa ini ditemukan perselisihan dua bagian besar muslimin. Perselisihan itu menjadi rumit karena melibatkan orang-orang yang pengetahuannya kurang terintegrasi seperti anak-anak sekolah dasar yang berdebat dan berkelahi karena pembahasan kalkulus integrasi yang belum dapat mereka pahami. Lebih buruknya, kaum musyrikin memanfaatkan perselisihan ini untuk memasukkan ajaran mereka dalam membentuk akhlak kaum muslimin sedemikian umat islam terpecah-belah menjadi beberapa golongan dan setiap golongan berbangga-bangga dengan kebenaran yang ada pada diri mereka tidak berusaha memahami nilai-nilai kebenaran sesuai dengan kehendak Allah. Pada setiap pihak baik sunni ataupun syi’ah serta golongan lain yang mungkin ada, kaum musyrikin memasukkan ajaran sedemikian suatu kaum menuduh pihak lain dengan keburukan-keburukan yang tidak pantas bagi muslimin dan tidak berdasarkan kenyataan yang ada yang dinilai secara adil.

﴾۱۳﴿ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
﴾۲۳﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
(31)dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu menjadi bagian dari musyrikin. (32)yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS Ar-Ruum : 31-32)

Kaum musyrikin sebenarnya berupaya memasukkan suatu ajaran dalam ajaran islam dengan mengadopsi ajaran-ajaran islam. Nilai-nilai islam disembunyikan dari pandangan umat sedemikian terbentuk orang-orang islam yang memecah-belah agama mereka menjadi beberapa golongan dan tiap-tiap golongan merasa bangga dengan yang ada pada golongan mereka. Orang yang tidak berusaha memahami nilai-nilai islam akan mudah dipengaruhi ajaran demikian. Manakala seseorang mengikuti ajaran kaum musyrikin demikian, mereka akan tergolong sebagai kaum musyrikin. Manakala terjadi perang di antara muslimin dan musyrikin, mereka akan tampil sebagai pembela musyrikin dengan upaya memecah-belah kaum muslimin agar memusuhi muslimin lainnya tanpa memahami perbedaan yang terjadi.

Di antara kebanggaan mereka berbentuk tuduhan buruk yang tidak pantas kepada golongan lain di antara muslimin yang berbeda pendapat, dan membanggakan pendapat mereka sendiri. Tuduhan buruk satu pihak terhadap pihak lain sebenarnya hanya terjadi antara sesama pengikut ajaran kaum musyrikin, tetapi dikatakan mewakili keseluruhan yang berbeda pendapat. Mungkin ditemukan sifat-sifat buruk yang dituduhkan, tetapi sebenarnya hanya ditemukan pada bagian yang juga dibangkitkan oleh ajaran musyrikin atau yang terpengaruh, bukan muslimin yang mengikuti Rasulullah SAW. Kaum muslimin dibuat terpecah belah dengan perselisihan hingga tidak dapat memperhatikan tuntunan yang harus diikuti. Sangat banyak sikap yang timbul di antara kaum muslimin. Ada kaum yang mengikuti mereka, banyak yang terpengaruh dengan mereka, dan ada pula yang tetap berpegang pada keinginan menjadi hamba Allah yang memberikan kebaikan sehingga bersikap mendekati keadilan terhadap sesama muslimin dan keseluruhan umat manusia.

Kadangkala dijumpai berbagai warna berbeda pada aktor-aktor penyebar ajaran musyrikin. Satu orang aktor bersikap keras pada satu pihak sasaran yang ditentukan tetapi mungkin bersikap lunak terhadap pihak lainnya. Masing-masing aktor mempunyai sasaran tertentu sedemikian manakala berkonflik dengan sasarannya, kelompok-kelompok yang tidak dijadikan sasaran mungkin memberikan simpati atau dukungan pada aktor tersebut. Dengan banyaknya aktor, semua pihak muslimin sebenarnya bisa atau berpotensi menjadi sasaran manakala diperlukan agitasi. Bila masyarakat mengikuti langkah-langkah mereka, mereka akan sulit melangkah bersama menuju kemakmuran. Masing-masing pihak akan berkonflik dengan yang lainnya dengan berlandaskan cara berpikir yang rusak tanpa ingin mengenal nilai kebenaran. Sebenarnya mereka tidak mengetahui apa yang ma’ruf dan apa yang munkar kecuali hanya sekadar hafalan. Mereka tidak memahami nilai kebenaran yang terkandung dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Nilai-nilai kebenaran dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan dikenali oleh orang-orang yang membina akhlak mulia berupa sifat rahman dan sifat rahim yang tampak dalam bentuk keinginan untuk mengenal kehendak Allah dan melaksanakannya, dan berkeinginan untuk memberikan kebaikan kepada orang lain. Nilai-nilai kebenaran itu tidak akan dapat dikenali oleh orang-orang yang membanggakan kebenaran pada diri mereka karena sebenarnya itu merupakan sifat yang mengikuti syaitan. Hendaknya seseorang melakukan amar ma’ruf nahy munkar tidak berdasar kebanggaan terhadap kebenaran pada diri mereka, tetapi berdasar keinginan agar semua pihak memperoleh kebaikan. Orang-orang yang mengikuti ajaran musyrikin itu hanya membangga-banggakan kebenaran versi diri mereka tidak mengerti nilai kebaikan yang harus diwujudkan dari tuntunan kitabullah Alquran. Manakala pihak lain menunjukkan keburukan mereka, mereka memandang itu bukan keburukan karena memperjuangkan dalil yang tidak mereka mengerti nilainya.

Dalam banyak kasus, orang-orang yang mengikuti syaitan akan terbalik akalnya. Seperti Zionis yang menuduh orang lain membangun markas militer di bawah rumah sakit dan kemudian meruntuhkan rumah sakit-rumah sakit, padahal sebenarnya dirinya sendiri yang membangun markas militer dengan kedok rumah sakit. Pikiran mereka terbalik karena syaitan. Demikian pula orang yang mengikuti ajaran musyrikin memecah belah orang islam, mereka mungkin memandang diri mereka membersihkan kesyirikan tanpa mengetahui kesyirikan dalam diri sendiri sedangkan kesyirikan itu telah difirmankan Allah. Petunjuk-petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mereka gunakan tanpa ingin menggunakan akal, sedangkan mereka memandang itu kebaikan. Mereka tidak memahami nilai kebenaran dari petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Umat islam hendaknya berusaha mengerti nilai-nilai kebaikan yang terkandung pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan beramal serta menyeru manusia untuk memperoleh kebaikan itu. Ini tidak membatasi untuk beramal sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang belum dimengerti. Sangat banyak pengetahuan yang tidak dapat dicapai oleh seseorang walaupun telah disebutkan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW maka ia harus mengikuti, tetapi setiap orang harus berusaha untuk memperoleh pemahaman yang benar sebanyak-banyaknya. Setiap ayat dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah kebenaran, dan setiap orang pasti mempunyai bekal untuk memahami bagian dari kebenaran tersebut. Seseorang tidak boleh kosong dari pemahaman terhadap ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Suatu pemahaman yang sesuai dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mungkin merupakan kebenaran, tetapi pasti bukanlah kebenaran yang sempurna. Pemahaman tanpa suatu nilai kebaikan seringkali merupakan pemahaman kosong sekalipun tampak sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Hendaknya kaum muslimin tidak menuduh pihak muslimin lain yang berbeda dengan tuduhan-tuduhan yang tidak baik kecuali Allah dan Rasulullah SAW menunjukkannya. Tuduhan buruk terhadap muslimin lain menunjukkan adanya kebanggaan pada diri atau kelompok sendiri. Manakala Allah tidak menunjukkan keburukan pada suatu kaum muslimin, hendaknya muslimin tidak menuduh keburukan pada mereka dan tidak ikut-ikutan orang lain menuduh sekalipun melihat ada keburukan itu, tetapi harus berusaha menunjukkan kaum itu pada kebaikan manakala melihat ada suatu yang terlihat buruk. Adanya sifat munafiq akan memunculkan suatu keinginan menyebarluaskan keburukan orang lain atau kaum lain, tidak memunculkan keinginan menunjukkan kebaikan. Hal ini harus diwaspadai. Seringkali suatu perbedaan di antara muslimin berfungsi membongkar keburukan-keburukan dalam diri masing-masing, tidak boleh dijadikan bahan memperuncing perselisihan.

Sebaliknya manakala kitabullah dan hadits Rasulullah SAW menunjukkan keburukan suatu kaum, hendaknya muslimin bersikap mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengambil sikap sok bijaksana. Keberadaan kaum yang buruk demikian dapat dihitung dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sehingga kaum muslimin tidak berhak menghukumi buruk muslimin lain secara sembarangan. Nama-nama buruk suatu kaum bila disebutkan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentulah tidak pernah digunakan oleh kaum tersebut manakala muncul, tetapi sifat-sifat kaum itu akan sangat serupa dengan petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sifat-sifat inilah yang harus diperhatikan keberadaannya oleh kaum muslimin agar dihindari sehingga mereka tidak terlibat atau membatasi diri dalam kegiatan dan pendapat kaum tersebut.

Minggu, 29 Juni 2025

Mentaati Ulul Amri

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk menjadi hamba yang didekatkan merupakan langkah tauhid. Tauhid bukan hanya urusan seseorang dengan rabb-nya saja, tetapi juga terkait dengan keberjamaahan berupa ketaatan terhadap perintah Allah hingga dalam bentuk perintah-perintah secara konkrit dari para ulul amri. Para ulul amr adalah orang-orang yang mengemban amr Allah dengan suatu landasan pengetahuan tentang urusan Allah untuk ruang dan jaman bagi mereka. Keberjamaahan itu akan terjadi melalui ketaatan kepada mereka karena mereka melaksanakan urusan Allah sebagai bagian dari perjuangan Rasulullah SAW.

﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)

Ulul amr mempunyai pengetahuan tentang urusan yang menjadi amanah mereka dalam tingkatan hakikat sedemikian langkah mereka dapat menghindarkan manusia dari bahaya dan keburukan atau memberikan manfaat terbaik bagi umat manusia. Mereka bukan mencomot ayat untuk pembenaran langkah atau kepentingan diri mereka, tetapi mengikuti tuntunan kitabullah untuk merumuskan langkah yang terbaik. Mereka bukan sekadar orang-orang yang mengurus kepentingan diri sendiri, tetapi memberikan kebaikan bagi umat melalui amanah yang diemban. Orang-orang yang mengurus kepentingan umat demi kepentingan diri mereka sendiri tidak termasuk sebagai ulul amr, tetapi mungkin hanya pemimpin-pemimpin yang diangkat untuk mereka.

Diangkatnya pemimpin suatu kaum tergantung pada keadaan diri. Suatu kaum yang baik akan diberikan kepada mereka pemimpin yang baik. Kaum yang bodoh akan mengambil pemimpin daru orang-orang yang mensiasati diri mereka untuk kepentingan sendiri dan kelompoknya, dan kaumnya ditipu dengan pencitraan-pencitraan kosong. Kadangkala pemimpin kaum yang bodoh mengurus kaum mereka dengan bersekutu dengan syaitan, melakukan kejahatan-kejahatan dan melancarkan tuduhan-tuduhan kejahatan kepada kaumnya dengan kejahatan-kejahatan yang dilakukan sendiri. Kadangkala banyak orang baik pada suatu kaum tetapi tidak bisa mengangkat orang baik sebagai pemimpin karena mereka mengabaikan ulul amr yang ada di antara mereka. Diangkatnya orang jahat sebagai pemimpin di antara orang-orang baik pada satu sisi menunjukkan bahwa diri mereka sebenarnya tidaklah benar-benar baik karena mengabaikan urusan Allah yang diturunkan melalui ulul amr di antara mereka.

Mengikuti Ulul Amri

Para ulul amri mempunyai kedudukan yang tertentu dalam urusan Rasulullah SAW. Masing-masing mempunyai kedudukan yang berbeda baik tetapi terdapat hubungan antara satu ulul amri dengan ulul amri yang lain karena masing-masing melaksanakan suatu bagian dari urusan Rasulullah SAW. Hubungan itu bisa berbentuk hubungan sejawat ataupun hubungan dalam bentuk atasan-bawahan. Masing-masing ulul amri mungkin mempunyai irisan dalam urusan mereka. Mungkin seorang ulul amri tidak mengenal ulul amri yang lain karena baru mengenal amr-Nya atau jauhnya urusan di antara mereka, tetapi setiap ulul amri selalu mengenal kedudukan Rasulullah SAW dan kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Dengan semua bentuk usaha mereka, tidak ada ulul amri yang melakukan sesuatu bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka bukanlah pemikul amanah dalam derajat ulul amri.

Para ulul amri mempunyai pengetahuan keadaan kauniyah berdasarkan suatu hakikat dari sisi Allah. Banyak hal bisa tampak dari seorang ulul amri, maka bagian terpenting yang harus diperhatikan adalah pengetahuan mereka tentang hakikat dari sisi Allah. Seorang ulul amri mungkin saja tidak mengetahui persis hal-hal yang terjadi di alam dunia, tetapi mengetahui hakikat yang menjadi landasan fenomena kauniyah mereka. Hendaknya umat memperhatikan sisi hakikat yang dijelaskan oleh para ulul amri, tidak memperdebatkan kesahihan para rincian peristiwa yang terjadi. Mungkin ulul amri tertentu diberi kemampuan mengetahui rincian peristiwa, maka umat hendaknya memperhatikan hakikat yang dijelaskannya, tidak berlebihan membesar-besarkan kehebatan ulul amri tersebut. Sikap demikian ini hendaknya dilakukan tanpa memandang rendah perkataan para ulul amri karena perkataan itu disampaikan mengikuti pengetahuan hakikat. Hanya manakala seseorang melihat kesalahan yang nyata dari para ulul amri, maka ia dapat mengambil sikap yang berbeda dengan ulul amri. Perbedaan sikap itu hendaknya dilakukan sewajarnya, tidak berlebihan membesar-besarkan perbedaan pendapat dirinya dengan ulul amri. Manakala perbedaan itu terkait firman Allah, ia boleh atau hendaknya bertanya hingga ia mengerti dengan jelas maksud perbedaan itu karena tidak ada firman Allah yang tidak penting.

Hal terpenting yang disampaikan para ulul amri adalah firman Allah. Mungkin saja beberapa ulul amri bersikap tidak memperhatikan hasil duniawi yang harus mereka capai. Sikap demikian menjadikan beberapa ulul amri tidak dikenali oleh kaumnya, karena keadaan kaumnya. Tentu saja setiap ulul amri berkeinginan untuk berbuat yang terbaik bagi umat mereka hingga wujud duniawi, tetapi manakala suatu umat tetap dalam keadaan bodoh mereka mungkin saja akan membiarkan sesuatu terjadi atas umatnya agar umatnya memahami firman Allah. Mereka menginginkan terwujudnya kemakmuran atas umat mereka, tetapi mungkin tidak benar-benar akan berusaha mencapainya manakala umatnya tidak berusaha memahami firman Allah yang disampaikannya. Lebih penting bagi mereka menyampaikan firman Allah kepada umat mereka dengan harapan agar umat memperoleh bersama-sama jalan untuk memberikan kebaikan kepada sesama. Manakala umat tidak mau memahami firman Allah, mereka mungkin saja akan membiarkan akibat yang bisa terjadi dari sikap umatnya. Manakala suatu kaum tidak mau memperhatikan firman Allah, seringkali tidak ada cara lain yang perlu diusahakan untuk memperoleh kebaikan.

Sumber kebaikan bagi para ulul amri adalah firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan diri mereka hanya mengalirkan khazanah yang dapat mengalir melalui mereka. Khazanah yang dapat mengalir melalui ulul amri adalah khazanah yang bersifat uraian, dan seringkali terkait dengan ruang dan jamannya selain khazanah yang bersifat pokok dan abadi. Sebagai pengurai, tidak semua penjelasan yang keluar melalu ulul amri bisa dikatakan dalam bentuk yang sama persis dengan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, tetapi uraian itu tidak pernah menyimpang dari keduanya. Kadangkala para ulul amri harus berbicara banyak hal tentang satu firman Allah atau sunnah Rasulullah SAW, tetapi perkataan mereka sebenarnya berhubungan dengan hanya satu ayat yang dijelaskan tidak terlepas darinya.

Umat manusia hendaknya memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ketika mentaati para ulul amri agar bisa memperoleh kebaikan dari khazanah yang dialirkan. Bisa saja ada pengotor yang mengotori perkataan dari mereka karena kebutuhan berbicara lebih banyak untuk menguraikan, hingga mungkin ada yang kuran bermanfaat atau justru meracuni ketika dipahami dalam bentuk potongannya. Potongan perkataan sekalipun benar seringkali tidak dipahami dengan kedudukan yang tepat oleh orang-orang yang tidak memperhatikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Pengotor-pengotor demikian akan dapat dikenali setiap orang dengan memperhatikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Bukan tidak mungkin suatu kaum tersesat dari jalan kepada Allah karena mengikuti orang lain tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bahkan apabila khazanah yang mengalir kepada mereka sepenuhnya benar. Hal itu bisa terjadi karena kurangnya berharap kepada Allah dalam sikap yang nyata. Mengikuti kebenaran tanpa memperhatikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW menjadikan kebenaran yang mereka peroleh tidak tersambung kepada Rasulullah SAW, maka mungkin mereka akan menjadi kaum yang terpisah dari jamaah Rasulullah SAW. Keadaan buruknya, seringkali kaum demikian menjadi kaum yang merasa paling benar sedangkan mereka terjebak pada suatu kedzaliman.

Berbagai masalah dalam Ketaatan

Memperhatikan sungguh-sungguh urusan Allah dapat dilakukan dengan memperhatikan arahan dari ulul amr yang ada di antara mereka. Para ulul amri itu adalah orang-orang yang mengenal urusan Allah dalam tingkatan hakikat. Hakikat itu merupakan mitsal dari cahaya Allah yang terbentuk dalam diri manusia yang telah terbina sebagai misykat cahaya. Manakala suatu perjuangan dilakukan dengan hanya berdasarkan tafsiran-tafsiran sendiri tanpa suatu kesatuan dengan hakikat di sisi Allah, akan banyak perselisihan terjadi di antara umat walaupun masing-masing berusaha melakukan hal-hal yang baik. Perselisihan itu dimunculkan oleh para syaitan di antara manusia, sedangkan pengetahuan para syaitan itu lebih baik daripada orang-orang yang berusaha mengikuti tafsiran sendiri terhadap kitabullah. Para ulul amri itulah yang mengetahui hakikat-hakikat dari sisi Allah yang tidak dikalahkan oleh syaitan. Sangat banyak kaum yang berusaha bersungguh-sungguh untuk memberikan manfaat tetapi tidak mendatangkan hasil yang memadai karena tidak memperhatikan arahan dari ulul amri. Mereka memboroskan biaya dan tenaga untuk sesuatu yang tidak tepat sasaran.

Ada banyak macam usaha manusia mengikuti tuntunan Allah. Ada suatu kaum yang menganggap bahwa mengikuti tuntunan kitabullah untuk mengurus kepentingan mereka merupakan tindakan politisasi agama. Dalam beberapa kasus, hal itu mungkin ada benarnya tetapi keburukan dari tindakan demikian akan terbatasi dengan ketentuan agama. Kebanyakan orang berusaha mengikuti ketentuan-ketentuan agama untuk kepentingan mereka tetapi tidak disertai dengan suatu pemahaman yang kokoh terhadap tuntunan itu. Hasil dari usaha demikian tidak benar-benar mendatangkan kebaikan, dan kebanyakan mereka akan terkalahkan oleh orang-orang kafir atau munafik yang berusaha menegakkan urusan untuk kepentingan kelompok sendiri. Ada juga orang-orang yang menjadikan diri mereka sebagai penuntun umat tetapi sebenarnya mereka termasuk golongan orang-orang musyrik tidak mengikuti tuntunan Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila mengikuti mereka, manusia akan termasuk dalam golongan orang-orang musyrik. Bila suatu kaum benar-benar memperhatikan urusan Allah dengan mentaati ulul amri, mereka akan bisa menegakkan urusan Allah sesuai dengan kehendak Allah.

Perintah mengikuti ulul amri tidak berarti kaum muslimin tidak boleh berusaha memahami tuntunan. Langkah manusia tidak cukup dengan mengikuti saja tanpa memahami. Setiap orang diberi kemampuan untuk memahami tuntunan Allah, tetapi nilai kebenarannya bersyarat yaitu manakala bertujuan untuk mengikuti tuntunan Allah. Tanpa keinginan mengikuti tuntunan Allah, orang tidak bisa memahami tuntunan Allah dengan benar. Banyak manusia belajar agama untuk tujuan selain mengikuti tuntunan Allah, maka tujuan mereka tidak benar dan pemahamannya sangat mungkin keliru setidaknya tidak memahami nilai kebenaran. Tujuan dapat dikatakan benar manakala secara praktis seseorang membina diri untuk menjadi misykat cahaya sebagai mitsal bagi cahaya Allah. Ia melakukan tazkiyatun nafs, berhijrah menuju tanah suci yang dijanjikan berupa pengenalan terhadap jati diri, dan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Semua pemahaman yang benar yang terbentuk dalam upaya pembinaan diri dengan proses demikian bukan merupakan tafsiran sendiri. Pemahaman yag benar demikian akan menjadi mudah terbina manakala umat manusia mengenali dan mentaati ulul amri yang ada di antara mereka.

Ketaatan terhadap ulul amri sangat berpengaruh dalam pembinaan akal. Suatu keinginan mengikuti tuntunan pastilah akan menuntun manusia menemukan dan mentaati ulul amri. Manakala seseorang tidak mengarah pada menemukan ulul amr, mereka tidak dalam ikatan ketaatan. Kadang seseorang mengikuti ulul amri tetapi kemudian tidak mentaatinya tanpa suatu alasan yang jelas, maka ia akan berpotensi tersesat. Dalam banyak kasus, seringkali hanya orang-orang yang telah menempuh jalan lebih jauh yang mengetahui kesesatan seseorang. Manakala seseorang yang telah menempuh sekian jarak perjalanan taubat, ia mungkin akan terlihat baik dalam pandangan kebanyakan manusia walaupun sesat, sedangkan hanya ulul amri dan orang-orang tertentu yang mengetahui kesesatannya. Manakala seseorang menentang ulul amri, ia akan sangat berpotensi tersesat tanpa mengetahui dirinya tersesat. Perbedaan sikap atau membantah ulul amri hanya boleh dilakukan ketika melihat ulul amri bertentangan atau berbeda dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Perbedaan sikap itu dilakukan untuk mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bukan mengikuti sikap sendiri. Kadangkala seseorang tersesat karena tidak mentaati ulul amri hingga ia menentang tuntunan Rasulullah SAW dan menentang tuntunan kitabullahi. Umat mungkin menghormati mereka sedangkan para ulul amri dan orang-orang yang benar bersedih karena tenggelamnya kebenaran dari pandangan manusia.

Mengikuti tafsiran sendiri banyak menyebabkan perselisihan. Tidak sedikit perselisihan di antara muslimin sedangkan masing-masing mempunyai landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena mereka mengikuti tafsiran sendiri, tidak mengerti nilai kebaikan yang terkandung pada landasan yang mereka ikuti. Syaitan memanfaatkan jalan mengikuti tafsiran sendiri untuk menimbulkan perselisihan di antara orang beriman. Para syaitan itu membuat ajaran dari tuntunan kitabullah dan memberikan ajaran yang mereka inginkan kepada orang-orang munafiq dan orang-orang islam yang mudah ditipu agar mereka mengikuti langkah-langkah kaum musyrikin. Orang-orang islam yang memecah belah agama menjadi bergolongan dan setiap golongan berbangga dengan kelompoknya merupakan pengikut orang-orang musyrik, dan mereka termasuk sebagai golongan musyrikin.

Ketika sebagian muslimin bertempur dengan musyrikin, tidak sedikit orang Islam yang memunculkan tuduhan keji kepada para mujahidin. Israel zionis jaman ini sebenarnya pengikut syaitan bukan penyembah Allah, bani Israel bangsa samaria yang dahulu telah membunuh para nabi, yang diperangi oleh bangsa Yahudi hamba Allah. Seberapapun dahsyatnya pertempuran yang dilakukan mujahidin terhadap musyrikin, pemihak musyrikin menuduh bahwa itu sandiwara, sedangkan mereka memberi bantuan kepada kaum musyrikin. Mereka tidak mampu melihat dengan benar bahwa panutan mereka bermesraan dengan musyrikin memusuhi muslimin. Mereka tidak menyadari bahwa Allah menggolongkan mereka sebagai orang musyrik, yaitu sejak mereka memecah belah agama menjadi beberapa golongan dan berbangga-bangga dengan golongan sendiri tidak mau memahami perintah Allah. Ajaran demikian itu sebenarnya merupakan ajaran kaum musyrikin bagi umat islam, bukan ajaran dari Rasulullah SAW. Kaum musyrikin berkepentingan agar kaum muslimin menjadi bagian dari pasukan musyrikin. Kemusyrikan pada kaum muslimin demikian akan nyata terlihat manakala mujahidin bertempur dengan musyrikin dan mereka akan menjadi agen musyrikin melakukan agitasi kepada muslimin.