Celah Penyatuan Pendapat
Mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk menjadi hamba yang didekatkan merupakan langkah tauhid. Tauhid bukan hanya urusan seseorang dengan rabb-nya saja, tetapi juga terkait dengan keberjamaahan berupa ketaatan terhadap perintah Allah hingga dalam bentuk perintah-perintah secara konkrit dari para ulul amri. Penyatuan langkah bersama para ulul amri merupakan bentuk nyata penyatuan terhadap perintah Allah. Keberjamaahan akan terjadi melalui ketaatan kepada mereka karena mereka melaksanakan urusan Allah sebagai bagian dari perjuangan Rasulullah SAW.
﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)
Setiap orang islam hendaknya memikirkan dengan sungguh-sungguh perintah ayat di atas, yaitu menemukan imam sebagai ulul amri yang harus ditaati bagi kehidupan dirinya. Manakala ia belum menemukan ulul amri, sebenarnya ia belum benar-benar bertauhid dalam arti belum benar-benar melaksanakan urusan Allah. Ia belum tumbuh secara memadai sebagai hamba Allah yang sebenarnya karena belum mengetahui urusan Allah yang harus dilaksanakan.
Perjalanan tauhid dimulai sejak seseorang mengucapkan dua kalimat syahadat. Itu adalah permulaan, dan masih ada perjalanan panjang yang harus ditempuh seseorang agar benar-benar mengetahui makna dari dua kalimat syahadat tersebut. Pengetahuan tauhid seseorang akan menjadi lengkap manakala seseorang benar-benar mengetahui bahwa pemimpin tertinggi alam semesta adalah Rasulullah SAW. Pengetahuan demikian tidak benar-benar terjadi kecuali ia mengenali kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW terutama dalam urusan ruang dan jamannya. Pengenalan demikian akan diikuti dengan pengenalan dirinya terhadap para ulul amri yang dihadirkan Allah untuk jamannya.
Dalam prakteknya, kebutuhan seseorang terhadap pengenalan terhadap ulul amri tidak hanya tumbuh setelah pengenalan terhadap kedudukan diri. Seseorang yang meningkat kekuatan akalnya seringkali dalam dirinya tumbuh kebutuhan figur pemimpin yang tepat dalam penghambaan kepada Allah. Para awliya Allah dari negeri-negeri yang jauh banyak datang ke nusantara karena petunjuk Rasulullah SAW setelah akal mereka mampu memahami petunjuk tersebut. Mungkin saja seseorang di antara kaum mukminin merasa membutuhkan pemimpin untuk penghambaannya kepada Allah dan kemudian mengenali imam sebagai ulul amri bagi dirinya secara tepat walaupun tidak bertemu. Misalnya seseorang bisa saja mengenali imam al-mahdi a.s secara terinci dengan akalnya dan bersungguh-sungguh berjuang membantu urusan beliau a.s sebelum datangnya, sekalipun ia tidak bertemu dengan beliau a.s. Khalifatullah Al-Mahdi a.s merupakan sosok yang Allah sembunyikan keberadaannya, tetapi bisa saja hamba tertentu mengenalinya karena kebutuhan dirinya tanpa bertemu beliau a.s.
Kebutuhan terhadap ulul amr merupakan kebutuhan yang tumbuh mengikuti perkembangan akal. Kebutuhan itu tumbuh dari sikap mengikuti tuntutan dua kalimah syahadah. Ada orang-orang yang ingin melaksanakan kehendak Allah dengan benar maka ia berusaha memahami urusan Allah untuk ruang dan jamannya dan berusaha menemukan pemimpin bagi dirinya dalam melaksanakan urusan itu, maka mereka itu akan mengenali ulul amri bagi dirinya setelah mengenali kedudukan diri dan mengenali kedudukan Rasulullah SAW dalam urusan Allah. Banyak orang merasa cukup dipimpin oleh syahwat dan hawa nafsu sendiri yang buruk, maka ia hanya berurusan dengan kepentingan dirinya. Sebagian orang ingin berjuang untuk bangsanya. Sebagian orang ingin memberikan kebaikan dengan menemukan amal shalih, tetapi tidak berusaha memahami urusan Allah untuk ruang dan jaman mereka atau merasa menemukan kekuatan pada kebaikan dari dirinya. Mereka adalah orang-orang yang baik tetapi mungkin akan mudah tergelincir atau tidak menemukan jalan untuk benar-benar mengenal kedudukan Rasulullah SAW, dan ulul amri di antara mereka. Hanya orang-orang yang benar-benar ingin melaksanakan perintah dari urusan Allah yang akan benar-benar mengenali kedudukan Rasulullah SAW dan mengenali ulul amri secara tepat.
Banyak orang islam yang berselisih dalam banyak perkara tanpa landasan nyata, hanya mengikuti ayat dan hadits dengan pikiran dan hawa nafsu tanpa berproses menumbuhkan akhlak dalam perkara yang mereka perdebatkan. Ibaratnya seperti anak-anak sekolah dasar yang berdebat dan berkelahi karena pembahasan kalkulus integrasi yang belum dapat mereka pahami, maka mereka berdebat tanpa suatu penyelesaian yang memuaskan. Umat islam dewasa ini tampak terbagi dalam dua golongan besar yang dinamakan ahlus-sunnah dan syi’ah, dan beberapa kelompok bersikap ekstrim terhadap kelompok lain hingga mencederai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Tumbuhnya akhlak mulia terjadi melalui beberapa tahapan yang jelas. Setelah seseorang mengucapkan dua kalimah syahadat, mereka seharusnya berproses menuju akhlak mulia untuk dapat melaksanakan perintah Allah dengan benar. Ucapan kalimat syahadat itu merupakan penanda awal bahwa seseorang akan mengikuti langkah Rasulullah SAW, tidak mengikuti hanya syahwat dan hawa nafsu dirinya. Ucapan dua kalimah syahadat itu telah memisahkan seseorang dari kekufuran, tetapi ia sebenarnya masih perlu membina akhlak mulia. Tahapan membina akhlak mulia berikutnya yang harus ditempuh adalah melakukan tazkiyatun-nafs agar dapat memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar, dan kemudian berhijrah menuju tanah suci berupa pengenalan kedudukan diri dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Setelah mengenal kedudukan diri, ia hendaknya membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.
Itu adalah tahapan proses pembinaan akhlak mulia yang perlu ditempuh oleh setiap hamba Allah yang mengikuti langkah Rasulullah SAW, dan perlu dipahami secara terintegrasi. Ada penanda yang menyertai tumbuhnya akhlak mulia, diantaranya adalah pengenalan seseorang terhadap wasilah dirinya kepada Rasulullah SAW. Dalam proses hijrah ke tanah yang dijanjikan atau pengenalan jati diri, seseorang yang benar-benar ingin menjadi hamba Allah akan menganggap mengenali urusan Allah lebih penting daripada mengenal jati dirinya, dan ia ingin menjadi bagian dari urusan Rasulullah SAW bukan mengenal diri sendiri saja. Sebagai bagian dari urusan Rasulullah SAW, ia menyadari bahwa banyak orang juga merupakan bagian dari urusan beliau yang mungkin ada yang menjadi imam bagi dirinya secara langsung. Manakala tidak tumbuh keinginan mengenal urusan Allah dalam kebersamaan di al-jamaah, pemahaman yang terbentuk pada diri seseorang belum merupakan pemahaman yang terintegrasi dan hal ini bisa menjadi penyebab ketergelinciran.
Perbedaan Di Antara Muslimin
Dewasa ini ditemukan perselisihan dua bagian besar muslimin. Perselisihan itu menjadi rumit karena melibatkan orang-orang yang pengetahuannya kurang terintegrasi seperti anak-anak sekolah dasar yang berdebat dan berkelahi karena pembahasan kalkulus integrasi yang belum dapat mereka pahami. Lebih buruknya, kaum musyrikin memanfaatkan perselisihan ini untuk memasukkan ajaran mereka dalam membentuk akhlak kaum muslimin sedemikian umat islam terpecah-belah menjadi beberapa golongan dan setiap golongan berbangga-bangga dengan kebenaran yang ada pada diri mereka tidak berusaha memahami nilai-nilai kebenaran sesuai dengan kehendak Allah. Pada setiap pihak baik sunni ataupun syi’ah serta golongan lain yang mungkin ada, kaum musyrikin memasukkan ajaran sedemikian suatu kaum menuduh pihak lain dengan keburukan-keburukan yang tidak pantas bagi muslimin dan tidak berdasarkan kenyataan yang ada yang dinilai secara adil.
﴾۱۳﴿ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
﴾۲۳﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
(31)dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu menjadi bagian dari musyrikin. (32)yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS Ar-Ruum : 31-32)
Kaum musyrikin sebenarnya berupaya memasukkan suatu ajaran dalam ajaran islam dengan mengadopsi ajaran-ajaran islam. Nilai-nilai islam disembunyikan dari pandangan umat sedemikian terbentuk orang-orang islam yang memecah-belah agama mereka menjadi beberapa golongan dan tiap-tiap golongan merasa bangga dengan yang ada pada golongan mereka. Orang yang tidak berusaha memahami nilai-nilai islam akan mudah dipengaruhi ajaran demikian. Manakala seseorang mengikuti ajaran kaum musyrikin demikian, mereka akan tergolong sebagai kaum musyrikin. Manakala terjadi perang di antara muslimin dan musyrikin, mereka akan tampil sebagai pembela musyrikin dengan upaya memecah-belah kaum muslimin agar memusuhi muslimin lainnya tanpa memahami perbedaan yang terjadi.
Di antara kebanggaan mereka berbentuk tuduhan buruk yang tidak pantas kepada golongan lain di antara muslimin yang berbeda pendapat, dan membanggakan pendapat mereka sendiri. Tuduhan buruk satu pihak terhadap pihak lain sebenarnya hanya terjadi antara sesama pengikut ajaran kaum musyrikin, tetapi dikatakan mewakili keseluruhan yang berbeda pendapat. Mungkin ditemukan sifat-sifat buruk yang dituduhkan, tetapi sebenarnya hanya ditemukan pada bagian yang juga dibangkitkan oleh ajaran musyrikin atau yang terpengaruh, bukan muslimin yang mengikuti Rasulullah SAW. Kaum muslimin dibuat terpecah belah dengan perselisihan hingga tidak dapat memperhatikan tuntunan yang harus diikuti. Sangat banyak sikap yang timbul di antara kaum muslimin. Ada kaum yang mengikuti mereka, banyak yang terpengaruh dengan mereka, dan ada pula yang tetap berpegang pada keinginan menjadi hamba Allah yang memberikan kebaikan sehingga bersikap mendekati keadilan terhadap sesama muslimin dan keseluruhan umat manusia.
Kadangkala dijumpai berbagai warna berbeda pada aktor-aktor penyebar ajaran musyrikin. Satu orang aktor bersikap keras pada satu pihak sasaran yang ditentukan tetapi mungkin bersikap lunak terhadap pihak lainnya. Masing-masing aktor mempunyai sasaran tertentu sedemikian manakala berkonflik dengan sasarannya, kelompok-kelompok yang tidak dijadikan sasaran mungkin memberikan simpati atau dukungan pada aktor tersebut. Dengan banyaknya aktor, semua pihak muslimin sebenarnya bisa atau berpotensi menjadi sasaran manakala diperlukan agitasi. Bila masyarakat mengikuti langkah-langkah mereka, mereka akan sulit melangkah bersama menuju kemakmuran. Masing-masing pihak akan berkonflik dengan yang lainnya dengan berlandaskan cara berpikir yang rusak tanpa ingin mengenal nilai kebenaran. Sebenarnya mereka tidak mengetahui apa yang ma’ruf dan apa yang munkar kecuali hanya sekadar hafalan. Mereka tidak memahami nilai kebenaran yang terkandung dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Nilai-nilai kebenaran dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan dikenali oleh orang-orang yang membina akhlak mulia berupa sifat rahman dan sifat rahim yang tampak dalam bentuk keinginan untuk mengenal kehendak Allah dan melaksanakannya, dan berkeinginan untuk memberikan kebaikan kepada orang lain. Nilai-nilai kebenaran itu tidak akan dapat dikenali oleh orang-orang yang membanggakan kebenaran pada diri mereka karena sebenarnya itu merupakan sifat yang mengikuti syaitan. Hendaknya seseorang melakukan amar ma’ruf nahy munkar tidak berdasar kebanggaan terhadap kebenaran pada diri mereka, tetapi berdasar keinginan agar semua pihak memperoleh kebaikan. Orang-orang yang mengikuti ajaran musyrikin itu hanya membangga-banggakan kebenaran versi diri mereka tidak mengerti nilai kebaikan yang harus diwujudkan dari tuntunan kitabullah Alquran. Manakala pihak lain menunjukkan keburukan mereka, mereka memandang itu bukan keburukan karena memperjuangkan dalil yang tidak mereka mengerti nilainya.
Dalam banyak kasus, orang-orang yang mengikuti syaitan akan terbalik akalnya. Seperti Zionis yang menuduh orang lain membangun markas militer di bawah rumah sakit dan kemudian meruntuhkan rumah sakit-rumah sakit, padahal sebenarnya dirinya sendiri yang membangun markas militer dengan kedok rumah sakit. Pikiran mereka terbalik karena syaitan. Demikian pula orang yang mengikuti ajaran musyrikin memecah belah orang islam, mereka mungkin memandang diri mereka membersihkan kesyirikan tanpa mengetahui kesyirikan dalam diri sendiri sedangkan kesyirikan itu telah difirmankan Allah. Petunjuk-petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mereka gunakan tanpa ingin menggunakan akal, sedangkan mereka memandang itu kebaikan. Mereka tidak memahami nilai kebenaran dari petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Umat islam hendaknya berusaha mengerti nilai-nilai kebaikan yang terkandung pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan beramal serta menyeru manusia untuk memperoleh kebaikan itu. Ini tidak membatasi untuk beramal sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang belum dimengerti. Sangat banyak pengetahuan yang tidak dapat dicapai oleh seseorang walaupun telah disebutkan dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW maka ia harus mengikuti, tetapi setiap orang harus berusaha untuk memperoleh pemahaman yang benar sebanyak-banyaknya. Setiap ayat dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah kebenaran, dan setiap orang pasti mempunyai bekal untuk memahami bagian dari kebenaran tersebut. Seseorang tidak boleh kosong dari pemahaman terhadap ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Suatu pemahaman yang sesuai dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mungkin merupakan kebenaran, tetapi pasti bukanlah kebenaran yang sempurna. Pemahaman tanpa suatu nilai kebaikan seringkali merupakan pemahaman kosong sekalipun tampak sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Hendaknya kaum muslimin tidak menuduh pihak muslimin lain yang berbeda dengan tuduhan-tuduhan yang tidak baik kecuali Allah dan Rasulullah SAW menunjukkannya. Tuduhan buruk terhadap muslimin lain menunjukkan adanya kebanggaan pada diri atau kelompok sendiri. Manakala Allah tidak menunjukkan keburukan pada suatu kaum muslimin, hendaknya muslimin tidak menuduh keburukan pada mereka dan tidak ikut-ikutan orang lain menuduh sekalipun melihat ada keburukan itu, tetapi harus berusaha menunjukkan kaum itu pada kebaikan manakala melihat ada suatu yang terlihat buruk. Adanya sifat munafiq akan memunculkan suatu keinginan menyebarluaskan keburukan orang lain atau kaum lain, tidak memunculkan keinginan menunjukkan kebaikan. Hal ini harus diwaspadai. Seringkali suatu perbedaan di antara muslimin berfungsi membongkar keburukan-keburukan dalam diri masing-masing, tidak boleh dijadikan bahan memperuncing perselisihan.
Sebaliknya manakala kitabullah dan hadits Rasulullah SAW menunjukkan keburukan suatu kaum, hendaknya muslimin bersikap mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak mengambil sikap sok bijaksana. Keberadaan kaum yang buruk demikian dapat dihitung dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sehingga kaum muslimin tidak berhak menghukumi buruk muslimin lain secara sembarangan. Nama-nama buruk suatu kaum bila disebutkan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tentulah tidak pernah digunakan oleh kaum tersebut manakala muncul, tetapi sifat-sifat kaum itu akan sangat serupa dengan petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sifat-sifat inilah yang harus diperhatikan keberadaannya oleh kaum muslimin agar dihindari sehingga mereka tidak terlibat atau membatasi diri dalam kegiatan dan pendapat kaum tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar