Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk menjadi hamba yang didekatkan merupakan langkah tauhid. Setiap orang harus membina dalam dirinya tauhid dalam beribadah kepada Allah secara murni tidak ada campuran apapun dalam ibadahnya. Kemurnian ibadah kepada Allah demikian akan dapat dicapai apabila setiap orang berusaha untuk membentuk diri sebagai misykat cahaya yang benar dan membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tanpa langkah demikian, seseorang tidak akan dapat memurnikan ibadah kepada Allah. Mungkin ia hanya mengikuti hawa nafsu dan pikiran saja, atau justru mengikuti langkah syaitan sedangkan ia menyangka beribadah secara murni kepada Allah.
﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nuur : 35)
Pembinaan pemahaman terhadap kehendak Allah dalam diri muslimin itu dapat diibaratkan dengan pembinaan misykat cahaya. Gambaran misykat cahaya dapat ditemukan dalam bentuk kamera atau mata manusia. Misykat cahaya berfungsi untuk membentuk bayangan sesuai dengan objek yang dibidik. Manakala seseorang membidik objek pohon dengan kamera, ia sebenarnya membentuk bayangan di dalam kamera dari cahaya pohon yang dibidik. Manusia sebenarnya dapat diibaratkan layaknya suatu kamera bagi cahaya Allah, di mana seorang beriman dapat membentuk bayangan cahaya Allah dalam qalbnya sebagai gambar dari kehendak Allah bagi dirinya. Manusia dapat membentuk bayangan cahaya Allah atau mitsal cahaya Allah, bukan bayangan Allah. Pembinaan pemahaman terhadap kehendak Allah dalam diri manusia harus dilakukan dengan membentuk diri manusia sebagai misykat cahaya.
Membina diri sebagai misykat cahaya dapat ditempuh dengan tazkiyatun nafs. Tanpa menempuh proses tazkiyatun nafs, hati seseorang tidak akan dapat mempersepsi cahaya Allah apalagi membentuk bayangan dari cahaya yang datang. Proses tazkiyatun nafs harus dilakukan agar seseorang dapat membentuk pemahaman terhadap kehendak Allah. Membentuk pemahaman itu adalah membentuk bayangan cahaya Allah dalam qalb. Untuk membentuknya, setiap orang harus mampu menggunakan penalaran yang benar dan memilih berita yang benar dan berguna. Bila seseorang menggunakan penalaran yang rusak, bayangan cahaya yang terbentuk tidak akan benar. Demikian pula manakala menggunakan sembarang berita tanpa menimbang kebenaran atau nilai manfaatnya, mereka sebenarnya hanya membentuk bayangan yang sia-sia bukan cahaya Allah. Setiap orang harus benar-benar menggunakan penalaran yang benar dan memilih berita yang benar, dan itu yang akan membentuk bayangan cahaya Allah dengan benar. Tanpa menempuh proses tazkiyatun nafs, manusia tidak akan mampu melakukan penalaran yang benar ataupun memilih berita yang benar karena semua proses membentuk mitsal cahaya Allah akan dipengaruhi oleh hawa nafsu dan syahwat diri, maka bayangan yang dibentuk pasti bukan bayangan yang benar.
Terbentuknya diri manusia sebagai misykat cahaya merupakan prasyarat membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Manakala seseorang belum bisa membentuk bayangan cahaya Allah dalam dirinya, sebenarnya ia belum mempunyai materi untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Sekalipun demikian, seseorang yang beriman tidak berarti tidak bertauhid atau tidak dapat beramal shalih. Setiap orang yang mengucapkan dua kalimah syahadat pada dasarnya telah bertauhid, tetapi sebenarnya ada banyak tingkatan tauhid di antara manusia. Sebagian yang telah bertauhid itu bisa saja berhenti pada sekadar ucapan saja, atau boleh jadi kemudian tersesat mengikuti langkah musyrikin, atau mengikuti bisikan-bisikan syaitan, atau ia terus membina tauhid hingga diperoleh pemahaman yang tepat terhadap ayat-ayat Allah. Dalam amal shalih, ia dapat mengikuti amal orang lain yang telah membentuk diri sebagai misykat cahaya dengan memberikan pertolongan dan bantuan untuk beramal, maka ia telah beramal shalih. Amal-amal demikian akan sangat membantu untuk membina diri sebagai misykat cahaya. Ia akan mengetahui cahaya Allah yang memancar kepada dirinya atau setidaknya yang dekat dengan dirinya, maka ia akan memperoleh media belajar membentuk bayangan dari cahaya Allah tersebut.
Menolong dan membantu seorang misykat cahaya membutuhkan suatu pengetahuan dan iktikad untuk menolong Allah. Setiap orang harus berusaha memperhatikan ayat-ayat Allah baik ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah yang digelar di semesta dirinya dengan benar, dan kemudian berusaha beramal sesuai keadaan yang dipahami. Mencari sahabat untuk beramal sesuai keadaan yang digelar akan sangat memudahkan seseorang beramal, dan kadangkala mengantarkan diri mereka untuk bertemu dengan seorang misykat cahaya Allah. Apabila seseorang tidak mempunyai bekal pengetahuan dan iktikad untuk menolong Allah, ia tidak akan mengenali para misykat cahaya. Mungkin ia akan mengabaikan perjuangan seorang misykat cahaya yang ada sekalipun di dekat dirinya. Atau mungkin pula ia akan banyak beramal tanpa bobot yang jelas, mungkin pula hanya dimanfaatkan oleh orang-orang yang menginginkan kekayaan dan kemasyhuran dengan menggunakan agama. Setiap orang harus membaca sungguh-sungguh ayat-ayat Allah untuk menolong Allah.
Suatu bayt berfungsi untuk mewujudkan mitsal cahaya Allah bagi semesta. Gambarannya adalah terlahirnya anak melalui penyatuan khazanah diri seorang laki-laki dengan isterinya. Atau dapat pula digambarkan seperti terbentuknya wujud gambar pada roll film kamera, atau terbentuknya gambar pada layar-layar monitor yang terhubung pada misykat cahaya. Tanpa film atau layar monitor, bayangan yang terbentuk dalam misykat cahaya akan sulit dilihat masyarakat umum. Bisa saja seorang misykat cahaya tidak dikenali oleh umatnya karena tidak terbentuk bayt baginya, sedangkan ia dapat memahami kehendak Allah dengan benar dengan mitsal cahaya Allah yang terbentuk dalam dirinya. Suatu masyarakat madani akan dapat terbentuk manakala terbentuk bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah, bukan sekadar terbinanya seseorang sebagai misykat cahaya Allah.
Mengikuti Tuntunan dengan Benar
Dewasa ini umat islam banyak kehilangan pengetahuan tentang proses tauhid yang sebenarnya harus ditempuh setiap muslim. Sangat banyak muslimin yang baik tetapi peradaban kaum muslimin tidak mampu mengungguli orang-orang kafir. Hal ini terjadi karena kaum muslimin tidak menempuh pemurnian proses tauhid dengan benar yaitu membina diri sebagai misykat cahaya mengikuti langkah Rasulullah SAW. Ada pula orang-orang yang berusaha membina diri sebagai misykat cahaya tetapi tidak taat kepada tuntunan Allah maka ia menjadi tersesat jalannya. Hal ini mendatangkan keburukan yang lebih besar daripada tidak membina diri. Bila setiap muslimin melakukan pembinaan diri menjadi misykat cahaya Allah (dan membentuk bayt), niscaya umat islam akan mampu membentuk peradaban yang tidak akan dikalahkan oleh orang-orang jahat yang tidak mempunyai keinginan baik. Mereka akan memahami cahaya Allah karena terbentuknya akhlak sebagai misykat cahaya.
Keadaan ini diperburuk dengan ulah kaum musyrikin yang mencampurkan ajaran tauhid mereka ke dalam ajaran tauhid Rasulullah SAW. Kaum musyrikin sebenarnya berupaya memasukkan suatu ajaran dalam ajaran islam dengan mengadopsi ajaran-ajaran islam. Nilai-nilai islam disembunyikan dari pandangan umat sedemikian terbentuk orang-orang islam yang memecah-belah agama mereka menjadi beberapa golongan dan tiap-tiap golongan merasa bangga dengan yang ada pada golongan mereka. Manakala seseorang mengikuti ajaran kaum musyrikin demikian, mereka akan tergolong sebagai kaum musyrikin. Manakala terjadi perang di antara muslimin dan musyrikin, mereka akan tampil sebagai pembela musyrikin dengan upaya memecah-belah kaum muslimin agar memusuhi muslimin lainnya.
﴾۱۳﴿ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
﴾۲۳﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
(31)dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu memasuki golongan musyrikin. (32)yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS Ar-Ruum : 31-32)
Susupan ajaran kaum musyrikin menjadikan umat islam berpecah-belah. Susupan itu termasuk dalam urusan tauhid. Tauhid yang mereka ajarkan tidak menjadikan pengikutnya memahami nilai-nilai kebenaran ayat Allah dengan akal, tetapi justru menjadikan pengikutnya memandang muslim lain terjebak kesalahan yang harus dimusuhi, karenanya terjadi perpecah-belahan di antara muslimin. Tanpa suatu pembinaan diri untuk memahami cahaya Allah, banyak tuduhan kesyirikan, bid’ah atau khurafat yang dibuat dan diarahkan kepada pihak lain hingga berselisih, sedangkan kemurnian akidah yang mereka maksudkan hanya seperti akidah Dzulkhuwaisirah. Tentu hal ini bertentangan dengan tuntunan Rasulullah SAW untuk kembali kepada Allah dengan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sebagaimana millah nabi Ibrahim a.s. Proses tazkiyatun-nafs dan pembentukan akal untuk memahami ayat-ayat Allah dinihilkan, sedangkan hal itu merupakan bagian dari rangkaian proses pembinaan tauhid mengikuti Rasulullah SAW.
Di antara kebanggaan mereka berbentuk tuduhan buruk yang tidak pantas kepada golongan lain di antara muslimin yang berbeda pendapat, dan membanggakan pendapat mereka sendiri. Tuduhan buruk satu pihak terhadap pihak lain sebenarnya hanya terjadi antara sesama pengikut ajaran kaum musyrikin, tetapi dikatakan mewakili keseluruhan yang berbeda pendapat. Mungkin ditemukan sifat-sifat buruk yang dituduhkan, tetapi sebenarnya hanya ditemukan pada bagian kaum yang juga dibangkitkan oleh ajaran musyrikin atau yang terpengaruh, bukan muslimin yang mengikuti Rasulullah SAW. Kaum muslimin dibuat terpecah belah hingga tidak dapat memperhatikan tuntunan yang harus diikuti. Sangat banyak sikap yang timbul di antara kaum muslimin. Ada kaum yang mengikuti mereka, banyak yang terpengaruh dengan mereka, dan ada pula yang tetap berpegang pada keinginan menjadi hamba Allah yang memberikan kebaikan sehingga bersikap mendekati keadilan terhadap sesama muslimin dan keseluruhan umat manusia.
Dalam banyak kasus, orang-orang yang mengikuti syaitan akan terbalik akalnya. Seperti zionis yang menuduh orang lain membangun markas militer di bawah rumah sakit dan kemudian meruntuhkan rumah sakit-rumah sakit, padahal sebenarnya dirinya sendiri yang membangun markas militer dengan kedok rumah sakit. Pikiran mereka terbalik karena syaitan. Para zionis itu sebenarnya bani Israel yang mengikuti bacaan syaitan, bukan hamba Allah sama sekali. Demikian pula orang yang mengikuti ajaran musyrikin memecah belah orang islam, mereka mungkin memandang diri mereka sebagai kaum yang berusaha memurnikan akidah dan membersihkan kesyirikan, tetapi mereka tidak mengetahui kesyirikan dalam diri sendiri sedangkan kesyirikan itu telah difirmankan Allah. Petunjuk-petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW mereka gunakan tanpa menggunakan akal, sedangkan mereka memandang itu kebaikan. Mereka tidak memahami nilai kebenaran dari petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Pemurnian ibadah kepada Allah hanya terjadi manakala seseorang memahami dengan tepat ayat-ayat Allah dengan akalnya, dan hal itu hanya terjadi manakala akhlak seseorang membentuk misykat cahaya. Tanpa akhlak itu, seseorang hanya mengikuti hawa nafsu, syahwat atau bisikan syaitan atau bisikan orang lain termasuk bapak-bapak mereka. Tanpa akhlak itu seseorang tidak dapat memahami kehendak Allah dengan tepat. Setiap orang yang mengucapkan dua kalimah syahadat pada dasarnya telah bertauhid, tetapi sebenarnya ada banyak tingkatan tauhid di antara manusia. Sebagian yang telah bertauhid itu bisa saja berhenti pada sekadar ucapan saja, atau boleh jadi kemudian tersesat mengikuti langkah musyrikin, atau mengikuti bisikan-bisikan syaitan, atau ia terus membina tauhid hingga diperoleh pemahaman yang tepat terhadap ayat-ayat Allah. Murninya ibadah kepada Allah akan diperoleh oleh orang yang memahami kehendak Allah dengan tepat, bukan orang yang berucap syahadat kemudian tiba-tiba menjadi hakim bagi tauhid muslimin lain.
Setiap
orang hendaknya membina akhlak diri sebagai misykat cahaya, dan
pembinaan itu harus ditempuh dengan tuntunan yang benar. Kesalahan
dalam membentuk akhlak bisa berakibat sama dengan orang-orang yang
mengikuti syaitan, mengarah pada keburukan akhlak dengan akal
terbalik-balik. Sangat penting bagi setiap manusia untuk membina diri
mengikuti tuntunan yang benar yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah
SAW dengan pemahaman yang tepat. Mungkin saja seseorang berkeinginan
memakmurkan bumi, tetapi
karena pembinaan yang salah justru tatanan akal dan tatanan manusia hingga
rumah tangga justru dirusak atau orang-orang kehilangan pasangannya maka yang umat peroleh bukan masyarakat
madani tetapi masyarakat yang berantakan. Pembinaan yang dilakukan harus mengikuti tuntunan Allah dalam bentuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar