Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk menjadi hamba yang didekatkan merupakan langkah tauhid. Tidak hanya terhenti pada Rasulullah SAW, tauhid juga terkait dengan keberjamaahan berupa ketaatan terhadap perintah Allah hingga dalam bentuk perintah-perintah secara konkrit dari para ulul amri. Para ulul amr adalah orang-orang yang mengemban amr Allah dengan suatu landasan pengetahuan tentang urusan Allah untuk ruang dan jaman bagi mereka. Manakala seseorang melaksanakan perintah Allah yang disampaikan melalui ulul amri, mereka akan memperoleh penjelasan urusan Allah secara lebih jelas agar terhindar dari waham hingga dapat melaksanakan perintah Allah secara bersih.
﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)
Manakala mentaati perintah ulul amri, hendaknya setiap orang berusaha memperhatikan landasan amalnya dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan memahami perintah ulul amri itu sebagai penjabaran dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bobot amalnya akan ditimbang berdasar pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan penjabaran urusan itu diperoleh melalui perintah ulul amri. Manakala seseorang tidak memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam beramal, ia tidak akan mengetahui dengan pasti nilai amalnya di mata Allah dan Rasulullah SAW dan mungkin pula sebenarnya tidak mendatangkan bobot nilai. Setiap orang harus berusaha mengetahui nilai amalnya di mata Allah walaupun berupa kejahatan agar ia dapat memohon ampunan Allah. Manakala ia berbuat baik, ia dapat berharap agar hatinya dibersihkan dari riya dan ujub hingga dapat diterima Allah. Manakala melakukan usaha, hendaknya ia berusaha melakukannya dalam kedudukan yang jelas dari urusan Allah termasuk manfaatnya terhadap amanah ulul amri, karena ulul amri itu merupakan pengemban urusan Allah bagi ruang dan jamannya.
Para ulul amri akan berusaha mengarahkan manusia agar melakukan usaha dan amal-amal seseuai dengan kehendak Allah. Seseorang yang melaksanakan amal sesuai dengan kehendak Allah akan memperoleh pengetahuan tentang kehendak-Nya dan memperoleh bobot nilai penghambaan yang besar karena pengetahuan itu. Itu adalah manfaat terbesar para ulul amri bagi umat manusia. Dalam satu tempat dan waktu, mungkin saja ada banyak ulul amri yang mengemban amanah-amanah Allah dalam urusan yang berbeda, tetapi terhubung dalam satu jamaah dalam amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman itu. Mungkin ditemukan hubungan hirarkis di antara mereka atau mungkin hubungan sahabat. Setiap orang bisa mengikuti satu ulul amri tertentu sesuai keadaan yang ditakdirkan bagi dirinya atau sesuai dengan pemahaman urusan Allah yang terbentuk pada dirinya agar bisa membentuk pemahaman terhadap urusan Allah yang harus ditunaikan dirinya dalam bentuk amal-amal shalih.
Keinginan para ulul amri adalah menunjukkan umat manusia pada urusan Allah yang harus ditunaikan. Ada kebaikan-kebaikan pada pelaksanaan amal-amal itu oleh setiap manusia, dan para ulul amri juga berharap munculnya kebaikan-kebaikan melalui pelaksanaan urusan-urusan itu, tetapi keinginan itu bukan keinginan yang utama. Keinginan utamanya adalah agar manusia menjadi hamba Allah yang ikhlas beribadah dengan amal-amal yang ditentukan dengan cara yang benar. Prioritas keinginan demikian terbentuk karena tidak mengharapkan umat tertimpa fitnah karena harapan terhadap kebaikan secara keliru. Kadangkala suatu kaum berjuang untuk sesuatu yang dipandang baik sedangkan banyak keburukan yang mungkin terselip padanya. Manakala suatu kaum berharap melaksanakan kehendak Allah dengan benar, proses yang terjadi akan lebih aman dan kebaikan yang terwujud berupa kebaikan yang lebih utuh. Karena itu, para ulul amri lebih mementingkan tercapainya amal dalam tauhid yang bersih, baik dari sisipan syaitan maupun campuran hawa nafsu manusia.
Kaum zionis israel bisa menjadi contoh paling nyata kaum yang mengupayakan apa yang dipandang sebagai kebaikan, sedangkan kebaikan mereka itu hanyalah tipuan syaitan yang dibaca mengikuti konsep kerajaan nabi Sulaiman a.s. Hal demikian ini tidak hanya mungkin terjadi atas bani Israel. Syaitan bisa membengkokkan pandangan setiap manusia terhadap kebaikan dan keburukan hingga mencelakakan manusia. Manakala umat manusia tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam mengupayakan kebaikan bagi diri mereka, mereka dapat dibengkokkan oleh syaitan dengan mudah. Tauhid yang murni akan terwujud manakala setiap orang berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan hal itu akan terbantu dengan memperhatikan arahan para ulul amri.
Umat hendaknya memperhatikan arahan dari para ulul amri untuk mewujudkan tauhid yang murni bersih dari campuran hawa nafsu, syahwat ataupun syaitan. Perhatian itu harus dilakukan tanpa mengabaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan hanya kedua tuntunan itu yang dapat menjamin keselamatan perjalanan mewujudkan tauhid, bukan ketaatan kepada ulul amri. Ulul amri hanya membantu manusia mewujudkan tauhid. Kadangkala suatu kaum mengikuti panutan yang mereka pilih tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka mereka tidak memperoleh hasil yang layak untuk usaha yang mereka lakukan. Mereka tidak memperoleh bobot amal dari kebenaran maka hasil amal mereka ringan. Kadangkala suatu kaum menjadi tersesat karena mengikuti tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Para ulul amri sangat tidak menginginkan sikap yang salah dari umat mereka. Mereka mengharapkan ketaatan terhadap mereka dalam urusan yang menjadi kehendak Allah bagi ruang dan jaman mereka, dan tidak menginginkan ketaatan manusia secara berlebihan yang menghilangkan akal.
Contoh Kearifan Lokal
Para ulul amri sangat menginginkan umat bersikap tepat dalam ketaatan untuk mewujudkan tauhid yang bersih dari campuran baik syaitan, hawa nafsu ataupun syahwat, sehingga terwujud amal-amal melaksanakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka akan kecewa manakala umat tidak dapat membentuk ketaatan yang benar, dan juga kecewa sekalipun umat melakukan ketaatan tetapi salah. Ketaatan yang benar terhadap ulul amri terjadi manakala ketaatan itu mengantarkan mereka membentuk tauhid yang murni. Manakala tauhid menjadi rusak, ketaatan yang terbentuk itu merupakan ketaatan yang keliru.
Tauhid yang benar akan mendatangkan pemakmuran terhadap umat manusia. Manakala setiap orang beramal berdasarkan pengetahuan yang benar terhadap kehendak Allah, amal-amal itu akan mendatangkan hasil yang baik bagi masyarakat karena bobotnya yang besar. Pengetahuan tentang kehendak Allah itu tidak berdiri sendiri. Pengetahuan terhadap kehendak Allah itu sebenarnya juga terkait dengan pengetahuan umat terhadap ulul amri yang ada di antara mereka. Ada sebuah gambaran yang bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat sunda atau Bandung tentang hal demikian dan gambaran sikap tertentu ulul amri dalam uga bandung berikut:
Sunda Nanjung lamun nu pundung ti Bandung ka Cikapundung geus balik deui
Sunda akan makmur apabila yang merajuk dari Bandung ke Cikapundung sudah balik lagi
Kalimat di atas merupakan fragmen uga Bandung, ungkapan yang meluas di masyarakat sunda terkait dengn kemakmuran yang akan terjadi di tanah sunda dengan parameter dinamika kota Bandung dan Cikapundung. Kemakmuran di tanah sunda akan terjadi apabila seseorang dari Bandung yang merajuk pergi ke Cikapundung telah kembali berbalik tidak merajuk lagi.’
Pemakmuran itu ditandai dengan telah meredanya kekecewaan seseorang yang merajuk dari Bandung dan pergi ke Cikapundung dan ia kemudian kembali bersama-sama dengan yang lain. Tanda Datangnya pemakmuran itu bukan seseorang yang mengupayakan sesuatu terkait dengan Cikapundung. Mungkin akan banyak orang terwahami dengan kalimat di atas dan mengupayakan hal-hal terkait Cikapundung untuk menjadi pahlawan yang memakmurkan tanah sunda. Ini merupakan pemahaman yang tidak tepat. Pemakmuran itu ditandai kembalinya orang yang merajuk. Orang yang merajuk itu tidak dalam keinginan mencari wangsit, ilham ataupun ilmu dan lain-lain dari Cikapundung, tetapi ia pergi ke Cikapundung karena merajuk terhadap masyarakatnya. Mungkin ia memperoleh hal-hal yang disebutkan, tetapi sebenarnya ia pergi ke Cikapundung karena merajuk bukan karena yang lain.
Masyarakat sunda atau Bandung dalam uga ini memperoleh peringatan bahwa mungkin saja sikap mereka mengecewakan orang-orang yang berjihad untuk menegakkan agama, mengabaikan seruan mereka atau justru menghalangi upaya membina kesejahteraan berdasarkan langkah tauhid. Mereka mungkin mengecewakan ulul amri hingga pundung sedangkan masyarakat mungkin tidak mengetahui adanya ulul amr tersebut. Sikap yang mengecewakan demikian sebenarnya menghalangi tumbuhnya kemakmuran. Kadangkala masyarakat tidak memahami keadaan atau langkah diri yang mengecewakan, hanya merasakan bahwa upaya yang telah mereka lakukan tidak mendatangkan hasil secara layak. Mungkin kebanyakan orang tidak melihat dengan jelas apa permasalahan yang terjadi. Atau mungkin langkah penghalangan itu hanya dilakukan oleh sedikit orang sehingga kebanyakan orang tidak mengetahui masalahnya, hanya masalah bagi sedikit orang. Keadaan yang terjadi demikian pada dasarnya menunjukkan kurang tepatnya upaya dalam mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan manakala ada di antara mereka yang terhalang dalam menyeru untuk mengikuti kedua tuntunan itu secara tepat, sebenarnya mereka telah menghalangi seruan tauhid.
Pundung menunjukkan pada sikap pergi mengasingkan diri karena kekecewaan. Ulul amri yang mengenal jalan pemakmuran bumi tidak akan kecewa dan pergi karena masalah duniawi, tetapi lebih terkait dengan tauhid yang terbentuk pada masyarakat. Bila tauhid yang terbentuk pada masyarakat tidak benar, mereka akan bersedih dengan keadaan itu. Tentu saja mereka akan berusaha untuk menegakkan tauhid hingga masyarakat mengenali jalan untuk beribadah kepada Allah dengan murni, terbebas dari penyembahan kepada hawa nafsu ataupun syahwat dan syaitan yang menyesatkan. Mereka tidak akan pundung karena kegagalan. Mereka akan pundung manakala masyarakat tidak mau memahami atau justru menghalangi seruannya untuk membina tauhid, dalam hal ini berupa terwujudnya amal-amal yang benar mengikuti perintah-perintah Allah untuk ruang dan jaman mereka. Manakala jelas kekafiran atau kemusyrikan orang atau masyarakat yang menolak, seseorang akan lebih mudah bersikap, tetapi apabila sesama muslim maka boleh jadi ia hanya bisa pundung.
Pemakmuran di tanah sunda akan terjadi apabila orang yang pundung itu mau kembali bersama-sama melangkah. Hal ini tentu membutuhkan beberapa perubahan di masyarakat. Hal utama yang perlu diubah boleh jadi adalah cara mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sedemikian proses pemakmuran dapat berjalan tanpa berbelok karena kesalahan berpikir. Termasuk dalam hal ini adalah kemampuan berpikir dan menggunakan akal untuk memahami fundamen agama tidak boleh mengikuti orang lain secara taklid tanpa disertai pembinaan pikiran dan akal. Boleh jadi ada langkah-langkah personal orang yang pundung itu terhambat karena adanya kesombongan atau kebodohan orang lain hingga merusak kunci-kunci melangkah menuju tauhid atau justru merusak kunci-kunci pemakmuran. Kesombongan atau kebodohan pada dzahirnya bisa tampak sama dan saling berkaitan, tetapi kesombongan lebih mendatangkan rasa pundung daripada kebodohan. Boleh jadi ada banyak hal yang harus dibenahi agar orang yang pundung itu mau kembali.
Pemakmuran masyarakat akan terjadi mengikuti perbaikan keadaan agama pada suatu masyarakat, dalam hal ini berupa terbentuknya tatanan mengikuti tuntunan Allah. Perbaikan itu harus dimulai dari tingkatan individu berupa penataan pikiran dan akal untuk mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Berikutnya tatanan harus dilakukan dalam tingkatan keluarga, di mana setiap individu harus dibina untuk dapat memberikan peran masing-masing melalui keluarga terutama dalam mengikuti tuntunan agama yang dapat dipahami oleh keluarga tersebut. Perbaikan dalam tatanan keluarga itu akan menumbuhkan pemakmuran secara umum di masyarakat. Hal ini merupakan bagian-bagian dari proses membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.
Proses-proses demikian tidak boleh dirusak, pada setiap bagiannya. Bagian paling dasar, setiap orang harus dibina untuk dapat menggunakan pikiran dan akal dengan benar, tidak tergelincir pada pikiran yang keji atau munkar. Manakala cara berpikir atau konstruk pikiran seseorang tidak benar, mereka tidak akan dapat menggunakan pikiran dan akal secara benar untuk memahami kehendak Allah. Konstruk pikiran dan cara berpikir setiap individu harus benar. Kadangkala suatu kaum mempunyai pikiran yang lemah karena kesalahan cara berpikir dalam mengikuti kebenaran, hanya mampu mengikuti kebenaran yang dikatakan kepada mereka sebagai kebenaran. Hal ini akan mempersulit pembinaan agama atau bahkan menihilkannya, dan pemakmuran akan sulit dicapai.
Pada bagian berikutnya, setiap individu harus dibina untuk dapat berperan dalam rumah tangga dengan benar. Seorang kepala keluarga harus membina diri untuk mengetahui amanah Allah untuk dirinya dan mengenali kedudukan dirinya dalam al-jamaah. Para isteri hendaknya dibina untuk mengenali kebenaran yang dikenali suaminya, dan ikut membantu mewujudkan kebenaran itu bagi masyarakat mereka. Isteri hendaknya menghindari kekejian baik secara bathin saja ataupun kekejian hingga bentuk dzahir karena akan merusak pikiran dan akal dalam memahami urusan Allah bagi mereka. Demikian anak-anak dibina untuk dapat memahami keadaan keluarga sebagai bekal untuk membina diri membantu mewujudkan atau meneruskan keberlangsungan pelaksanaan amanah Allah yang melewati keluarga mereka. Rumah tangga demikian merupakan basis bagi seseorang untuk memberikan sumbangsih terbaik untuk masyarakat mereka. Apabila basis itu dirusak, mereka akan kesulitan untuk berpartisipasi memberikan sumbangsih bagi umat.
Pemakmuran akan terjadi mengikuti penataan masyarakat, dan penataan masyarakat terjadi mengikuti terbentuknya rumah tangga untuk menegakkan urusan Allah. Hal ini harus diperhatikan oleh setiap orang, dan proses demikian merupakan proses penegakan agama di masyarakat. Semua upaya masyarakat akan sia-sia apabila proses demikian dirusak atau tidak diperhatikan. Kadangkala suatu kaum berusaha keras untuk mewujudkan pemakmuran tetapi tatanan individu berupa pikiran dan akal diruntuhkan serta rumah tangga dibuat berantakan dengan perbuatan keji dan munkar, maka semua usaha keras itu akan sia-sia. Para individu itu tidak akan dapat menjalankan fungsinya, bahkan manakala seseorang mengenal jati diri penciptaannya akan kehilangan kedudukan manakala rumah tangganya dirusak. Ibarat pengungsi, seseorang tidak akan bisa melakukan tugasnya dalam pengungsian. Setinggi apapun proses berpikir yang dilakukan masyarakat tidak akan mendatangkan hasil pemakmuran manakala umat tidak dibina untuk mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pemakmuran tidak akan terbina tanpa mengikuti millah Ibrahim a.s.
Kearifan lokal dalam uga tersebut di atas bisa menjadi contoh kearifan yang menghubungkan kaum dengan tauhid melalui ulul amri. Kearifan lokal bisa menghubungkan kaum dengan suatu kebenaran hingga kebenaran yang tertinggi dengan cara tertentu sedemikian seseorang memahami langkah yang harus ditempuh secara praktis. Cara memahami yang dilakukan seseorang mungkin tidak selalu tepat tetapi harus benar, maka pemahaman kearifan lokal itu bisa mendatangkan manfaat manakala digunakan untuk terhubung dengan kebenaran misalnya untuk menemukan suatu langkah praktis mengikuti kebenaran. Cerita-cerita kearifan lokal sangat banyak ditemukan, dan orang-orang yang tulus mencari jalan memahami kebenaran seringkali menemukan jalannya melalui kearifan lokal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar