Pencarian

Rabu, 09 Juli 2025

Fundamen Membina Masyarakat Madani

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW akan mendatangkan pemakmuran bumi. Pemakmuran masyarakat akan terjadi mengikuti perbaikan keadaan agama pada suatu masyarakat, dalam hal ini berupa terbentuknya tatanan mengikuti tuntunan Allah. Perbaikan itu harus dimulai dari tingkatan individu berupa penataan pikiran dan akal untuk mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Berikutnya tatanan harus dilakukan dalam tingkatan keluarga, di mana setiap individu harus dibina untuk dapat memberikan peran masing-masing melalui keluarga terutama dalam mengikuti tuntunan agama yang dapat dipahami oleh keluarga tersebut. Perbaikan dalam tatanan keluarga itu akan menumbuhkan pemakmuran secara umum di masyarakat. Setinggi apapun proses berpikir yang dilakukan masyarakat, tidak akan mendatangkan kemakmuran manakala umat tidak dibina untuk mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Pemakmuran tidak akan terbina tanpa mengikuti millah Ibrahim a.s.

Pembinaan Individu

Setiap orang harus dibina untuk dapat menggunakan pikiran dan akal dengan benar, tidak tergelincir pada pikiran yang keji atau munkar. Manakala cara berpikir atau konstruk pikiran seseorang tidak benar, mereka tidak akan dapat menggunakan pikiran dan akal secara benar untuk memahami kehendak Allah. Konstruk pikiran dan cara berpikir setiap individu harus benar. Kadangkala suatu kaum mempunyai pikiran yang lemah karena kesalahan cara berpikir dalam mengikuti kebenaran, hanya mampu mengikuti kebenaran yang dikatakan kepada mereka sebagai kebenaran. Kadangkala suatu masyarakat membentuk konstruk pikiran yang salah maka terjadi kekacauan dalam tatanan masyarakat mereka.

Untuk membina pikiran dan akal dengan benar, setiap muslim harus berusaha untuk melakukan tazkiyatun-nafs. Tazkiyatun-nafs berfungsi memperkuat akal memahami kehendak Allah dengan tepat. Tazkiyatun nafs dilakukan dengan berbagai proses meliputi pembinaan jasmaniah untuk dapat mengarahkan wajah seluruh aspek jasmani kepada Allah, pensucian nafs agar cahaya Allah dapat sampai ke dalam qalb tanpa terhalang noda-noda yang mengotori pemahaman, dan membina nafs agar dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah hingga terbentuk bayangan kehendak Allah secara tepat.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS An-Nuur : 35)

Pembinaan pemahaman terhadap kehendak Allah dalam diri muslimin itu dapat diibaratkan dengan pembinaan misykat cahaya. Gambaran misykat cahaya dapat ditemukan dalam bentuk kamera atau mata manusia. Misykat cahaya berfungsi untuk membentuk bayangan sesuai dengan objek yang dibidik. Manakala seseorang membidik objek pohon dengan kamera, ia sebenarnya membentuk bayangan di dalam kamera dari cahaya pohon yang dibidik. Manusia sebenarnya dapat diibaratkan layaknya suatu kamera bagi cahaya Allah, di mana seorang beriman dapat membentuk bayangan dalam qalbnya sebagai gambar dari kehendak Allah bagi dirinya. Pembinaan pemahaman terhadap kehendak Allah dalam diri manusia harus dilakukan dengan membentuk diri manusia sebagai misykat cahaya terhadap cahaya Allah.

Dalam proses pembinaan misykat cahaya, ada hal-hal yang dapat merusak pembentukannya. Kekejian dan kemunkaran akan menyebabkan misykat cahaya membentuk bayangan cahaya yang menyimpang dari cahaya Allah. Syaitan benar-benar akan berusaha menjadikan manusia berbuat keji dan munkar sekalipun terhadap orang-orang beriman.

Kekejian berbentuk menyimpangnya manusia dari jalan kebenaran. Kekejian itu bisa berbentuk amal yang jahat ataupun amal yang tampak baik tetapi sebenarnya menyimpang. Gambaran yang jelas tentang kekejian di antaranya menyimpangnya manusia dalam pernikahan. Perempuan bersuami yang menjalin kasih atau mencari urusan Allah melalui laki-laki selain suaminya merupakan perempuan yang keji karena ia telah menyimpang dari jalan yang ditetapkan Allah baginya yaitu pernikahannya. Dalam aspek tertentu, mungkin perempuan demikian dipandang baik oleh manusia karena mencari urusan Allah, tetapi sebenarnya hal itu buruk. Para laki-laki pun dapat berbuat keji dalam amal yang tampak sebagai kebaikan. Misalnya manakala ia meninggalkan tuntunan Alquran untuk mengikuti tuntunan buruk yang bertentangan dengan kitabullah, ia telah berbuat keji sekalipun amal itu dipandang baik. Dalam hal ini, syaitan akan berusaha sungguh-sungguh membalikkan pandangan manusia sedemikian keburukan dipandang sebagai kebaikan oleh manusia.

Kemunkaran merupakan amal-amal yang dilakukan tanpa landasan pengetahuan tentang kebenaran. Bila seseorang melakukan suatu tindakan semata-mata untuk keuntungan diri sendiri atau kelompok tanpa mempertimbangkan kebenaran yang telah diketahui dalam perkara itu maka ia berbuat kemungkaran. Sikap kaum musyrikin dapat menjadi contoh kemunkaran manakala mereka menyampaikan kata-kata yang indah untuk mendukung kekejaman perbuatan mereka. Setiap muslim hendaknya berusaha bertindak dengan berlandaskan pada pengetahuan kebenaran dalam setiap keadaan, tidak boleh mengabaikan kebenaran yang sampai kepada dirinya. Mungkin ia tidak benar-benar mengetahui kebenaran pada suatu perkara, tetapi ia harus berusaha memperoleh landasan kebenaran yang paling kokoh untuk landasan tindakan yang perlu dilakukannya. Sangat banyak kerusakan yang dapat terjadi manakala seseorang berbuat kemunkaran. Kerusakan yang pasti terjadi adalah kerusakan pada pikiran dan akal diri seseorang yang melakukannya. Ia tidak akan bisa menimbang kebenaran manakala berbuat hanya berdasarkan kepentingan diri sendiri atau kelompoknya.

Setiap muslim harus berusaha membina diri sebagai misykat cahaya yang benar, di mana ia dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah secara tepat dan tajam. Manakala terdapat kekejian dan kemunkaran dalam dirinya, kedua hal itu akan merusak bayangan dari cahaya Allah yang terbentuk. Suatu kekejian akan memberikan berkas bayangan syaitan pada bayangan (mitsal cahaya) yang terbentuk, dan suatu kemunkaran akan merusak misykat seseorang dalam membentuk bayangan (mitsal) dari cahaya Allah. Kedua hal itu tidak boleh terjadi pada diri manusia. Setiap orang harus benar-benar berusaha untuk taat pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah secara tepat dalam dirinya.

Media pembentukan misykat cahaya itu adalah cahaya Allah. Seseorang tidak akan bisa membina diri sebagai misykat cahaya tanpa menghadap kepada cahaya Allah. Cahaya Allah yang paling utama hadir di alam dunia adalah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Sebenarnya cahaya itu tidak berhenti pada kedua tuntunan tersebut. Sangat banyak perpanjangan dari cahaya Allah hadir di alam dunia ini dan seluruhnya terhubung pada kedua tuntunan tersebut, akan tetapi tidak ada jaminan bahwa tidak terkandung kebathilan pada perpanjangan-perpanjangan cahaya tersebut. Hanya kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang tidak ada kebathilan di dalamnya. Manakala seorang muslim menemukan perpanjangan cahaya itu dan terhubung pada kedua tuntunan itu, maka ia menemukan cahaya Allah. Manakala seseorang merasa menemukan perpanjangan cahaya itu tetapi bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, hendaknya ia meyakini bahwa yang dianggap perpanjangan cahaya itu merupakan kebathilan.

Manakala seseorang tidak menghadapkan wajahnya kepada cahaya Allah, mereka tidak dapat membina diri sebagai misykat cahaya. Sikap penghadapan itu harus tepat, yaitu menghadap kepada cahaya Allah melalui perpanjangan-perpanjangan cahaya secara tepat. Kadangkala seseorang mengira sesuatu sebagai perpanjangan cahaya maka ia menghadap kepadanya sedangkan ia berada pada sisi kebathilan dari sesuatu yang ia menghadapnya. Sikap demikian mengganggu pembinaan diri sebagai misykat cahaya. Setiap orang harus memastikan bahwa ia berada pada sisi perpanjangan cahaya yang benar, maka ia bisa berlatih untuk membina misykat cahaya dirinya membentuk bayangan cahaya yang benar. Hal itu bisa dilakukan dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Di sisi lain seseorang kadangkala merasa tidak membutuhkan perpanjangan-perpanjangan cahaya, maka ia memilih cahaya yang terlalu kuat bagi misykat dirinya. Kadangkala seseorang mengira telah membentuk mitsal cahaya tetapi sebenarnya hanya hawa nafsu. Kadangkala seseorang mengabaikan suatu perpanjangan cahaya yang tepat karena waham maka ia kehilangan kesempatan membina misykat dirinya. Setiap orang hendaknya berusaha menempatkan diri pada perpanjangan cahaya yang tepat bagi dirinya. Sikap ini juga terkait dengan pengenalan terhadap kedudukan diri dalam al-jamaah.

Keadaan masyarakat akan sangat dipengaruhi kekuatan akal masyarakat dalam memahami tuntunan Allah. Ada banyak macam keadaan negeri kaum muslimin yang terbentuk sesuai dengan kekuatan akal mereka. Ada suatu negeri muslim yang mampu menegakkan kedaulatan negerinya dari rongrongan kaum musyrikin yang ingin menjatuhkan kedaulatan mereka karena akal yang memahami kehendak Allah. Manakala musyrikin merongrong, masyarakat negeri bersatu melawan rongrongan itu secara terpimpin tanpa rasa takut kematian karena jelasnya kedudukan mereka di jalan Allah. Sebagian negeri muslim dijatuhkan kedaulatan mereka oleh kaum musyrikin dengan infiltrasi-infiltrasi melalui kurangnya akal di antara masyarakat yang tidak sekuat negeri muslim yang berdaulat. Kaum musyrikin kemudian memasang boneka-boneka pimpinan bagi negeri tersebut untuk menekan akal masyarakat negeri. Di suatu negeri muslim yang lain, ada banyak orang-orang beriman tetapi tidak berusaha memahami tuntunan Allah dan tidak membangkitkan pemahaman masyarakat terhadap tuntunan Allah. Manakala diberitakan Dajjal kepada mereka, mereka berbuat sesuatu sesuai pikiran sendiri tanpa bersiap menghadapi Dajjal sesuai tuntunan Allah. Bahkan mereka mungkin tidak mempersiapkan jihad untuk menghadapi kaum musyrikin karena tidak mengetahui mereka hidup dalam tipu daya musyrikin. Pasukan langit yang akan diperbantukan kepada mereka mungkin bertanya-tanya apa yang dapat mereka lakukan bagi manusia yang mengerjakan urusan mereka sendiri, sedangkan para malaikat itu diperintahkan untuk membantu manusia-manusia itu dalam urusan Allah. Mungkin banyak warna-warna lain suatu negeri yang mencerminkan bagaimana akal mereka digunakan.

Pembinaan Peran Sosial

Dalam pemakmuran bumi, pembinaan misykat cahaya merupakan salah satu rantai pemakmuran. Misykat cahaya itu lebih terkait dengan pembinaan kaum laki-laki. Pemakmuran bumi hanya akan terwujud manakala laki-laki dan perempuan bersama-sama meninggikan asma Allah dan mendzikirkannya dalam suatu bayt yang diijinkan Allah.

﴾۶۳﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
Di dalam rumah-rumah yang diizinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan waktu petang,(QS An-Nuur : 36)

Pemakmuran akan terjadi mengikuti penataan masyarakat, dan penataan masyarakat terjadi mengikuti terbentuknya rumah tangga untuk menegakkan urusan Allah. Semua upaya masyarakat akan sia-sia apabila proses demikian dirusak atau tidak diperhatikan. Kadangkala suatu kaum berusaha keras untuk mewujudkan pemakmuran tetapi tatanan individu berupa pikiran dan akal diruntuhkan serta rumah tangga dibuat berantakan dengan perbuatan keji dan munkar, maka semua usaha keras itu akan sia-sia. Para individu itu tidak akan dapat menjalankan fungsinya. Bahkan manakala seseorang mengenal jati diri penciptaannya, ia akan kehilangan kedudukan manakala rumah tangganya dirusak. Setinggi apapun proses berpikir yang dilakukan masyarakat tidak akan mendatangkan hasil pemakmuran manakala umat tidak dibina untuk mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Gambaran pentingnya pembinaan keluarga dalam pemakmuran bumi dapat ditemukan layaknya hubungan antara kamera dengan roll filmnya. Suatu kamera yang baik harus dilengkapi dengan roll film agar manusia dapat melihat hasil yang baik dari kamera tersebut. Para isteri dapat diibaratkan roll film yang mencetak bayangan (mitsal cahaya) yang terbentuk pada misykat cahaya. Tanpa ada roll film, akan sulit bagi alam dunia untuk melihat keberadaan mitsal cahaya yang terbentuk pada diri seorang laki-laki.

Sebagaimana pembinaan para laki-laki, para perempuan hendaknya dibina agar bersikap lurus tidak keji ataupun munkar. Setiap perempuan harus berusaha memperhatikan urusan Allah bagi dirinya melalui suaminya, tidak mencarinya melalui orang lain. Apabila seorang isteri tidak memperhatikan suaminya untuk menemukan urusan Allah, atau justru mencari urusan Allah dari orang lain, maka urusan yang akan dikerjakannya akan menyimpang dari perintah Allah. Itu merupakan kekejian. Seandainya suami adalah seorang Firaun, seorang isteri harus belajar untuk bertindak seperti Asiyah binti Muzahim r.a menemukan urusan Allah bersama firaun dalam bentuk mengasuh Musa sebagai Qurrata ‘ain bagi Fir’aun. Syaitan akan berusaha menyimpangkan langkah manusia dengan menjadikan indah perbuatan keji dalam amal yang bisa diperbuat.

Kemunkaran harus dihindari oleh para perempuan dengan berusaha memahami suaminya sebaik-baiknya dalam rangka memahami kehendak Allah. Kecintaan terhadap suami hendaknya dibangkitkan pada diri isteri. Kecintaan itu merupakan sarana yang memudahkan para perempuan terhindar dari kemunkaran. Ada banyak hal yang dapat membangkitkan rasa kecintaan pada diri perempuan, misalnya kebaikan suami dalam urusan harta ataupun pemahaman dalam urusan Allah. Landasan utama membangun kecintaan itu hendaknya pemahaman terhadap amr Allah. Landasan demikian akan memudahkan para perempuan untuk memahami urusan Allah melalui suaminya. Boleh saja dan seharusnya para perempuan mencintai suaminya karena kebaikan dalam urusan harta yang diberikan kepada dirinya, tetapi tidak semua laki-laki bisa memberikan harta yang banyak kepada isterinya. Bila demikian maka hendaknya ia tetap bisa mencintai suaminya karena urusan Allah. Setiap kecintaan yang tumbuh pada diri isteri terhadap suaminya akan mendatangkan kemudahan bagi mereka dalam urusan dunia. Secara khusus, kecintaan para isteri di atas landasan pemahaman terhadap urusan Allah akan membangkitkan masyarakat madani yang memahami urusan Allah bagi mereka.

Pembinaan perempuan hendaknya dilakukan sejak sebelum pernikahan. Para perempuan harus dibina untuk mencintai kebenaran dan tidak boleh tumbuh hanya menjadi penuntut terhadap orang lain. Para perempuan yang dibiarkan liar akan tumbuh mengikuti syahwat dan hawa nafsu sendiri mencintai hasrat-hasrat duniawi. Mereka akan mencari pasangan yang dapat menyenangkan syahwat dan hawa nafsu saja tidak menginginkan berjuang untuk menjadi hamba Allah menunaikan kebenaran terhadap semesta diri mereka. Manakala syahwat dan hawa nafsu tidak terpuaskan, mereka hanya dapat menuntut kepada suami atau justru menyimpang kepada orang lain. Mereka mungkin tidak bisa merasakan kebutuhan terhadap suami yang tepat sebagai pemimpin dirinya dan tidak bisa memahami kebenaran yang harus diperjuangkan bersama suaminya. Pada batas keimanan, manakala Allah menunjukkan jodoh yang tepat, mereka mungkin akan memberontak terhadap petunjuk Allah. Hal-hal demikian akan menjadikan dunia semakin buruk. Setiap perempuan harus dibina untuk mengikuti kebenaran.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar