Pencarian

Senin, 12 Mei 2025

Pentingnya Pondasi Pembinaan yang Kokoh

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW dilakukan dengan membina diri dalam akhlak mulia sedemikian seseorang dapat memberikan manfaat dirinya dengan sebaik-baiknya. Pembinaan demikian harus dilakukan dengan berlandaskan ketakwaan dan harapan terhadap keridlaan Allah. Tanpa berlandaskan ketakwaan dan harapan akan ridha Allah, seseorang akan membina diri seperti membangun bangunan di tepi jurang yang mudah jatuh.

﴾۹۰۱﴿أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS At-Taubah : 109)

Ayat di atas secara dzahir terkait dengan masjid dhirar dan larangan untuk menegakkan shalat di masjid dhirar. Masjid dhirar adalah masjid yang didirikan oleh orang-orang munafiq untuk menimbulkan madharat kepada kaum mukminin, menyebarkan kekufuran dan memecah belah kaum muslimin serta melakukan pengintaian terhadap gerakan-gerakan umat islam bekerja sama dengan orang-orang yang ingin memerangi umat islam. Umat islam dan kaum mukminin harus menyadari bahwa ada masjid-masjid yang didirikan dengan tujuan yang tidak baik terhadap kaum mukminin. Masjid demikian ini benar-benar ada, tidak hanya ada pada jaman Rasulullah SAW, tetapi akan selalu ada sepanjang jaman selama ada musuh-musuh yang memerangi kaum mukminin.

Secara bathin, ayat tersebut terkait dengan pembinaan diri dalam bersujud kepada Allah. Ada orang-orang yang membina dirinya untuk bersujud kepada Allah dengan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah bagi dirinya, maka pembinaan tersebut merupakan pembinaan yang baik. Sebagian orang lainnya melakukan pembinaan dirinya di tepian jurang yang mudah runtuh, tidak berdasarkan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah. Manakala seseorang membina dirinya dengan cara demikian, pondasi pembinaan mereka akan tergerus oleh keadaan hingga meruntuhkan binaan diri mereka dan menghanyutkan mereka menuju neraka.

Kata (فَانْهَارَ) menunjuk pada suatu konsekuensi terhanyutnya sesuatu hingga terbawa menuju suatu tempat. Pada dasarnya alam ciptaan Allah mengandung suatu kejahatan bagi manusia dalam kandungan yang berbeda-beda tergantung pada sikap manusia. Manakala seseorang tidak bertakwa, semesta seseorang membawa kecenderungan menyeret orang tersebut hingga mereka dapat terhanyut di dalamnya seperti sungai yang dapat menggerus bangunan-bangunan yang didirikan di bantarannya. Demikian orang-orang yang membina diri mereka tanpa suatu landasan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah bagi dirinya akan terhanyut oleh alam ciptaan hingga menyeret mereka menuju neraka jahannam.

Pembinaan di tepi jurang demikian sering ditemukan di antara masyarakat. Misalanya boleh jadi ketika masa pendidikan, seseorang membangun idealisme tentang suatu ajaran agama atau suatu perjuangan yang tampak memberikan manfaat bagi umat manusia. Akan tetapi manakala terjun di pergaulan masyarakat, mereka berubah turut serta dalam arus pragmatis mencari keuntungan duniawi bagi diri mereka sendiri dan kelompoknya tanpa merasa malu merugikan orang-orang lain. Hal itu menunjukkan suatu pembinaan yang dilakukan di tepi jurang. Hal demikian tidak seharusnya terjadi. Setiap orang hendaknya membina dirinya secara kokoh tanpa terseret arus pragmatis kehidupan manusia.

Runtuhnya pembinaan di tepi jurang terjadi karena runtuhnya bangunan yang akan menyeret orang-orangnya menuju jahannam. Kadang suatu jamaah orang islam bergerak dalam bidang tertentu kemudian sebagian di antara pemimpin mereka berkhianat terhadap islam dan berbuat sesuatu yang mendatangkan madlarat, maka jamaah itu kemudian terseret untuk mengikuti perbuatan yang menyeret mereka menuju neraka. Ini merupakan contoh bangunan yang terhanyut dan menyeret manusia menuju jurang. Hal demikian tidak seharusnya terjadi. Setiap orang hendaknya membina dirinya dan mengikuti suatu jamaah yang mempunyai tujuan yang berdiri secara kokoh tanpa terseret arus pragmatis kehidupan manusia, dimulai dengan pembinaan diri dalam akhlak mulia. Semua bangunan yang kokoh tidak ditepi jurang mempunyai inti berupa pembinaan akhlak mulia.

Sebagaimana masjid-masjid dhirar, pembinaan-pembinaan demikian seringkali dilakukan oleh kaum munafiq untuk melemahkan orang-orang islam dalam mengikuti perintah Allah. Mereka membuat rumusan-rumusan yang tampak benar dari tuntunan islam dengan menghilangkan nilai kebaikan yang ada di dalamnya. Mereka tidak membuat rumusan-rumusan itu dari sesuatu yang sesat, hanya rumusan itu akan mudah terhanyut oleh kesesatan karena dibangun di tepian jurang tidak dibangun di dalam jurang. Seandainya membuat rumusan tauhid, mereka membuat rumusan tauhid dengan menghilangkan nilai kebaikan yang ada pada tauhid, sebagaimana kaum pagan bersembah sepertti Dzulkhuwaisirah bersembah. Ibadah-ibadah dan amal-amal yang dilakukan tidak menjadikan orang yang mengikuti mereka berakhlak mulia, hanya membangun waham sebagai hamba Allah yang paling baik.

Setiap orang hendaknya berusaha membina dirinya di atas landasan ketakwaan dan harapan terhadap keridhaan Allah. Ketakwaan menunjuk pada keinginan yang kuat pada diri seseorang untuk dapat mengenal dan beramal selaras dengan kehendak Allah. Seseorang yang berusaha untuk mengenal kehendak Allah dengan benar dan beramal berdasarkan pengenalan itu, maka ia adalah orang yang bertakwa, sekalipun ketakwaan itu mungkin hanya berupa titik-titik kecil. Semakin besar usahanya tersebut, semakin besar pula nilai ketakwaan yang ada pada dirinya. Ada orang yang tidak mempunyai keinginan untuk mengenal kehendak Allah, maka ia bukan orang yang bertakwa. Ada pula orang yang berusaha mengenal kehendak Allah dengan cara yang keliru, maka ia tidak bertakwa. Misalnya seseorang yang beramal berdasarkan perkataan manusia yang dikatakan sebagai kehendak Allah tanpa menimbang nilai kebaikan dari perkataan itu atau tanpa mencari landasannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka orang tersebut keliru dalam mencari pengenalan terhadap kehendak Allah. Sekalipun tampak berusaha mengenal kehendak Allah, tetapi usaha yang dilakukan keliru maka ia tidak termasuk sebagai orang yang bertakwa. 

Mewujudkan Amal yang Tepat

Dengan suatu ketakwaan, seseorang dapat berharap memperoleh keridhaan Allah. Manakala seseorang telah mengetahui kehendak Allah maka ia dapat melakukan amal-amal berdasarkan pengetahuan itu. Turunnya keridhaan Allah akan tampak bagi seorang hamba manakala ia mengetahui kehendak Allah dan amal-amal yang harus dilakukan. Tetapi ridha Allah tidak hanya karena pengetahuan demikian. Setiap hamba Allah perlu beramal agar Allah memberikan ridha-Nya. Diperlukan sikap sungguh-sungguh dalam beramal agar Allah memberikan ridha kepada hamba-Nya. Kesungguhan dalam beramal tidak dapat muncul tanpa suatu landasan pengetahuan yang benar dan perkataan yang benar. 

Untuk memperoleh kekuatan beramal, hendaknya seseorang berusaha mengartikulasikan pengetahuan yang benar. Pengetahuan yang benar itu adalah pengetahuan tentang kehendak Allah sebagai bagian ketakwaan, dan seseorang harus berusaha untuk mengartikulasikan pengetahuan itu terhadap semesta diri mereka. Itu adalah perkataan yang benar. Dengan ketakwaan dan perkataan yang benar, Allah akan memperbaiki amal-amal seseorang dan mengampuni dosa-dosa yang diperbuatnya. Pengetahuan tanpa suatu ketakwaan tidak melahirkan perkataan yang tepat.

﴾۰۷﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
﴾۱۷﴿يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
(70)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, (71)niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS Al-Ahzaab : 70-71)

Perkataan yang benar pada ayat di atas menunjuk pada perkataan yang akurat dalam mengungkap pengetahuan yang ada pada diri. Hal itu akan menjadikan seseorang memahami amal dirinya secara tepat sesuai dengan kehendak Allah, dan membuat orang lain dapat mengenali pula amal-amal yang seharusnya dilakukan. Perkataan demikian itu boleh bersifat menjelaskan secara lebih lebar tanpa memanjangkan perkataan. Alquran pada dasarnya telah menjelaskan seluruh hakikat secara tepat, tetapi tidak semua orang dapat mengenali hakikat-hakikat yang terkandung di dalamnya. Seseorang yang disucikan mungkin akan memperoleh suatu bentuk penjelasan (al-bayaan) tentang suatu ayat Alquran terkait dengan kauniyan diri seseorang, maka ia boleh menjelaskan kepada orang lain tentang al-bayaan itu kepada orang lain agar orang lain memperoleh manfaat dari al-bayaan itu. Akan tetapi hendaknya ia tidak berpanjang-panjang menjelaskannya kepada orang lain.

Perkataan yang benar merupakan implikasi langsung pengetahuan tentang kebenaran. Kadangkala suatu pengetahuan yang benar belum dapat diamalkan tetapi hampir selalu dapat dikatakan. Terkait ketakwaan dan ridha Allah, seseorang hendaknya tidak bermudah-mudah menolak atau menentang para pemimpin mereka karena alasan ketakwaan. Demikian pula setiap orang harus taat dalam mengikuti syariat tidak harus mengerti terlebih dahulu tujuan dari suatu atau setiap syariat. Kadangkala para pemimpin manusia memerlukan amal-amal dari kaum mereka sedangkan kaumnya tidak mengetahui nilai dari amal yang harus mereka laksanakan. Selama kaum tersebut tidak mengetahui madlarat dari amal yang diperintahkan, hendaknya mereka melaksanakan amal tersebut walaupun tidak mengetahui nilai dari amalnya atau landasannya, seraya ia memikirkan nilai dari amalnya. Apabila ia mengetahui madlarat dari perintahnya, hendaknya ia menyampaikan madlarat itu kepada yang memerintahkannya dan apabila diperlukan ia boleh menolak perintahnya. Nilai dari suatu amal seorang hamba kadangkala tidak semata-mata ditentukan dari nilai amalnya saja tetapi juga ketentuan-ketentuan lain yang terkait amalnya. Adapun perkataan yang benar, maka setiap orang hendaknya berusaha untuk mengatakan kebenaran tanpa meningggalkan empati terhadap pendengarnya.

Usaha demikian kadangkala tidak mudah dilakukan. Bukan tidak mungkin seseorang sama sekali tidak mendapat pintu masuk menyampaikan perkataan yang benar bahkan untuk keluarga atau isterinya sekalipun. Orang yang menentang tidak selalu dari kalangan orang-orang yang bersifat jahat. Sangat banyak orang yang berfikir pragmatis mengikuti arus kehidupan orang kebanyakan yang mungkin memandang perkataan yang tepat sebagai perkataan aneh. Demikian pula orang-orang yang mempunyai pengetahuan keliru akan menentang perkataan-perkataan yang tepat. Menyampaikan perkataan yang tepat kadangkala menjadikan seseorang dipandang masyarakat sebagai orang yang tidak mau bermusyawarah karena kultur mayoritas masyarakat yang mungkin saja bersifat gemar menghukumi tanpa memahami. Tentu bukan masalah orang yang bertakwa tidak mau bermusyawarah, tetapi bahwa perkataan benar yang disampaikan mungkin tidak memperoleh pintu atau tidak mendapatkan tempat di antara masyarakat karena jauhnya pengetahuan umum masyarakat terhadap kebenaran. Bila kebenaran yang disampaikan sekira telah bisa mendapat tempat atau pintu masuk pada masyarakat, orang bertakwa tentu berkeinginan bermusyawarah.

Ketakwaan dan perkataan yang benar ini akan menjadikan seseorang mengerti amal-amal yang tepat untuk dilakukan. Mungkin seseorang yang bertakwa mengalami kesulitan untuk melahirkan amal sesuai dengan pengetahuannya dan harus mengikuti amal yang lain sebelum dapat beramal maka amal mereka bukan amal-amal yang terbaik. Dengan perkataan yang tepat, Allah akan mengishlahkan amal-amal seseorang mengikuti ketakwaan dan perkataan tepat yang disampaikannya. Seringkali amal perbuatan yang baik harus dilakukan dengan usaha yang keras. Apabila seseorang tidak mengatakan pengetahuannya dengan tepat, jalan untuk mewujudkan amal-amal itu akan tampak berat, tidak terbuka atau akan menjadi semakin berat. Manakala seseorang mengatakan pengetahuannya secara menyimpang dari kebenaran yang diketahuinya, ia akan kesulitan untuk menemukan amal terbaik yang harus dilakukan. Apabila ia mengatakan yang tepat dan benar, amalnya akan terbuka mengikuti perkataannya. Sedikit banyak akan ada orang yang memahami perkataan yang benar dan mungkin masyarakat akan mulai menyingkap waham yang menutup diri mereka untuk mengikuti perkataan yang tepat.

Dalam urusan waham, syaitan sangat berkepentingan untuk tetap menutupkan waham kepada umat manusia. Mereka berkepentingan untuk menutup pikiran sedemikian seluruh manusia tertutup pikirannya dengan waham agar tidak dapat memahami perkataan yang benar. Menutupkan waham demikian kadangkala tidak bertujuan untuk munculnya kejahatan dari diri manusia secara langsung, tetapi hanya bertujuan agar menutup mereka dari memahami atau mengikuti perkataan yang benar. Seseorang yang baik mungkin saja ditutupi dengan waham bukan untuk kejahatan. Seseorang atau suatu kaum tidak boleh menghakimi bahwa seseorang yang mengatakan perkataan yang tepat sebagai kepala batu selama masyarakat tidak mengetahui atau menunjukkan kesalahan perkataannya tersebut. Mungkin saja terjadi seseorang yang mengatakan perkataan yang tepat benar-benar kesulitan menghadapi waham masyarakat bukan karena kejahatan masyarakatnya. Apalagi bila syaitan memperoleh sekutu dari kalangan manusia untuk menahan waham terhadap masyarakat, maka waham itu akan bertahan sangat kuat.









Minggu, 04 Mei 2025

Membina Persatuan dengan Tali Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW dengan benar akan menjadi orang-orang yang bersaudara dengan hati yang tersusun antara satu orang dengan orang yang lain. Persaudaraan demikian itu sangatlah menakjubkan bagi para makhluk, di mana hati satu orang tersusun dengan hati orang lain. Itu adalah keadaan al-jamaah. Barangkali tidak semua muslim atau semua orang beriman dalam keadaan demikian. Ada jalan panjang yang harus ditempuh oleh orang beriman agar mereka dapat membentuk persaudaraan dengan hati yang tersusun antara satu dengan yang lain.

﴾۳۰۱﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS Ali Imran : 103)

Orang-orang beriman yang bersaudara demikian adalah orang-orang yang telah memanjat tali Allah menempuh jalan kembali bertaubat kepada Allah. Allah yang menyusun hati mereka. Mereka memanjat tali Allah dengan meringankan diri dari beban-beban yang memberatkan berupa beban syahwat, hawa nafsu ataupun sifat-sifat syaitaniah yang mewarnai diri mereka yang menyebabkan permusuhan, dan mereka juga membangun visi tentang nikmat Allah agar dapat terlepas dari permusuhan-permusuhan. Dengan mengingat nikmat Allah, maka mereka dapat berpegang teguh dengan tali Allah secara benar dan kemudian hati mereka menjadi tersusun bersama orang-orang beriman lain yang menjalani proses yang sama.

Kehidupan manusia di bumi sebenarnya membawa beban-beban yang sangat banyak dan setiap orang harus berusaha menata diri mereka agar dapat berjalan mendekat kepada Allah dengan beban yang sanggup dibawa. Syahwat dan hawa nafsu yang tertata merupakan beban yang dapat dibawa manusia kembali kepada Allah, sedangkan sifat-sifat syaitaniah dan urusan-urusan syaitan atas diri manusia tidak akan sanggup ditanggung manusia untuk kembali kepada Allah. Setiap manusia harus membersihkan diri mereka dari sifat-sifat syaitaniah agar dapat berpegang pada tali Allah, dan kemudian menata syahwat dan hawa nafsu diri agar dapat memanjat tali Allah untuk mencari nikmat Allah. Manakala seseorang tidak menjauhkan diri dari sifat-sifat syaitaniah ataupun bisikan syaitan, mereka tidak akan dapat berpegang pada tali Allah dengan benar. Manakala seseorang tidak berusaha menata dan mengendalikan syahwat dan hawa nafsu, sebenarnya syahwat dan hawa nafsu mereka yang menarik mereka berjalan menuju yang mereka sukai menjauh dari jalan taubat kepada Allah.

Ciri-ciri utama kekuasaan syaitan, syahwat dan hawa nafsu atas diri manusia adalah timbulnya permusuhan-permusuhan di antara manusia. Syahwat dan hawa nafsu yang tidak terkendali akan membuat manusia berbuat apa yang mereka sukai tanpa memahami hak-hak dan batas-batas terhadap orang lain. Hal itu akan menimbulkan perselisihan dan permusuhan dengan orang lain. Demikian pula sifat-sifat manusia seperti amarah atau kerakusan dan sifat-sifat badaniah dan hawa nafsu lainnya yang tidak terdidik sering mendatangkan permusuhan. Tanpa suatu bisikan syaitan, orang yang mengikuti syahwat dan hawa nafsu liar akan menjadi bermusuh-musuhan dengan orang lain. Sifat-sifat syaitaniah pada diri manusia mempunyai dampak intensitas permusuhan yang lebih tinggi. Kesombongan, hasad (iri dan dengki) sangat mudah mendatangkan permusuhan di antara manusia.

Syaitan akan memperkuat permusuhan manusia, dan syaitan itu benar-benar berkeinginan untuk menjadikan manusia bermusuh-musuhan. Tidak hanya terhadap orang yang mengikuti syahwat dan hawa nafsu mereka, syaitan akan berusaha menimbulkan permusuhan-permusuhan di antara orang-orang yang berusaha berpegang pada tali Allah. Setiap orang harus berusaha memperhatikan dampak dari usaha-usaha yang mereka lakukan. Bila usaha mereka menimbulkan permusuhan-permusuhan di antara manusia, maka boleh jadi usaha mereka diwarnai dengan hawa nafsu, syahwat ataupun bisikan-bisikan syaitan. Boleh jadi permusuhan yang timbul itu bukan pada diri mereka sendiri, tetapi bisikan syaitan itu bisa saja menimbulkan permusuhan di antara pihak-pihak lain sedemikian orang yang mengikuti bisikan itu tampak mengadu-domba pihak-pihak yang kemudian menjadi bermusuhan.

Berpegang pada Kitabullah dan Persaudaraan

Untuk menghindari permusuhan, setiap orang hendaknya mengusahakan memperoleh nikmat Allah. Muslimin hendaknya mencari pelajaran tentang keadaan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah dan berusaha untuk mengikuti mereka dengan berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah-belah. Tali Allah itu adalah Alquran, kitabullah yang diwujudkan di alam dunia sebagai turunan dari hakikat-hakikat yang ada di tangan Allah. Segala yang ditentukan dalam kitabullah hendaknya diikuti, tidak melanggar apa-apa yang dilarang di dalamnya Manakala seseorang menentang sesuatu yang dituliskan dalam kitabullah, ia akan celaka sekalipun bila ia meyakini kebenaran perbuatan yang dilakukannya.

Orang-orang yang diberi nikmat Allah pada dasarnya mengambil urusan mereka masing-masing dari kitabullah Alquran, maka hendaknya kaum muslimin berusaha mengikuti langkah mereka dan mengambil langkahnya dari Alquran. Mengikuti langkah orang-orang yang telah memanjat tali Allah akan menjadikan seseorang dapat berpegang dengan tali Allah, dan mereka akan memperoleh nikmat Allah manakala telah berpegang tali Allah dengan benar. Ini keniscayaan. Apabila suatu kaum tidak memperoleh kejelasan dalam mengikuti langkah orang lain yang berpegang pada tali Allah, hendaknya mereka berusaha memperhatikan tali Allah yang mereka pegang, tidak sekadar mengikuti langkah orang lain. Tanpa berpegang pada tali Allah, seseorang tidak akan memperoleh nikmat Allah.

Berpegang pada tali Allah secara benar akan menghilangkan potensi berpecah-belah. Orang yang berpegangteguh pada tali Allah akan dapat memberikan penjelasan yang tepat tentang kebaikan dalam mengikuti tali Allah. Banyak pihak menggunakan ayat-ayat kitabullah untuk membuat perselisihan di antara manusia, atau menggunakannya untuk mencari kedudukan dan harta benda di antara manusia, maka mereka tidak benar-benar bisa menunjukkan kebaikan dalam berpegang pada tali Allah. Ada pula orang-orang yang keliru atau kurang jelas dalam memahami maksud dari ayat-ayat kitabullah, maka mereka mungkin akan memberikan penjelasan yang salah kepada orang lain. Orang yang berpegang pada tali Allah dengan benar akan memperoleh suatu kejelasan tentang kebaikan dalam mengikuti tuntunan kitabullah, sedemikian bahwa mengikuti mereka akan menghindarkan dari berpecah-belah dengan orang lain.

Berpecah-belah menunjukkan perselisihan di antara orang-orang yang ingin menjadi baik. Pertentangan mungkin saja dilakukan orang yang mengikuti kitabullah tetapi hanya terhadap orang-orang yang berkeinginan tidak baik atau terhadap orang yang menempuh jalan keliru, tidak terhadap orang-orang yang berkeinginan baik walaupun mungkin lemah atau salah bertindak. Kadangkala orang berkeinginan baik tetapi sebenarnya ia berbuat kerusakan dan kejahatan karena ia menentang tuntunan Allah atau mengikuti syaitan, maka hal demikian merupakan jalan yang keliru yang perlu ditentang. Biasanya orang di jalan yang keliru sulit untuk menyadari kerusakan dan kejahatan yang mereka lakukan karena telinga, mata dan qalb mereka tidak digunakan untuk memahami kebenaran tetapi untuk membangun kebenaran sendiri. Kadangkala seseorang ingin menjadi baik tetapi ia lalai dalam melakukan amalnya, maka hal demikian merupakan kesalahan yang tidak perlu ditentang. Mereka seringkali mudah untuk diingatkan atau bahkan dapat merasakan sendiri kesalahan yang mereka perbuat. Menentang orang-orang yang jahat atau menempuh jalan yang keliru tidak termasuk dalam berpecah-belah tetapi merupakan usaha amar ma’ruf nahy munkar. Menunjukkan kebaikan kepada orang yang salah dilakukan dengan seruan kepada kebaikan.

Sebaliknya memusuhi orang-orang yang berkeinginan baik merupakan perbuatan berpecah-belah. Apabila suatu kelompok di antara umat memisahkan diri dari urusan umat sedangkan umat itu mengupayakan kebaikan, kelompok itu berpecah-belah. Demikian pula sebaliknya apabila orang-orang yang mengusahakan kebaikan ditindas atas nama agama, maka penindasan demikian merupakan tindakan berpecah-belah sekalipun yang melakukannya orang yang lebih banyak. Penindasan oleh orang kafir bukan berpecah belah. Mendukung seseorang untuk berbuat buruk terhadap orang lain termasuk berpecah-belah. Tidak berpecah-belah harus dilakukan dengan perbuatan baik mengikuti tuntunan kitabullah tidak menganiaya atau mempersulit orang-orang yang mengusahakan kebaikan dengan jalan yang baik. Mengikuti kitabullah dikatakan benar apabila dilakukan di atas pemahaman terhadap firman Allah dengan landasan sikap rahman dan rahim. Mengadu kebenaran antar kelompok dengan menggunakan materi kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak termasuk dalam tindakan mengikuti kitabullah, dan sikap demikian termasuk kesyirikan berupa kebanggaan dengan menganggap kebenaran hanya ada pada diri mereka sendiri.

Tidak dikatakan berpegang teguh dengan kitabullah orang-orang yang masih gemar dengan berpecah-belah. Kegemaran itu boleh jadi tampak dalam bentuk samar, misalnya sikap suka menyalahkan tanpa menunjukkan yang lebih baik. Seseorang yang melihat tuntunan dari tali Allah niscaya ingin berbagi tuntunan itu kepada orang lain agar dapat menjalani bersama-sama. Landasan sikap berbagi kebenaran di antara orang yang mengikuti tuntunan itu adalah rahmaniah dan rahimiah, bukan keinginan menonjolkan kebenaran sendiri atau menyalahkan kebenaran orang lain. Apabila melihat kesalahan orang lain, mereka berkeinginan mencegah sahabatnya agar tidak terus berbuat kesalahan dan ingin menunjukkan yang lebih baik, bukan ingin mengungkap kesalahan. Kadangkala seseorang yang mempunyai sedikit ilmu tanpa memahami mempersalahkan sahabatnya tanpa mau menunjukkan kesalahan yang terjadi ataupun amal yang lebih baik. Hal itu tidak dapat dibenarkan, baik sahabatnya memang bersalah ataupun bila sahabatnya di atas kebenaran karena akan membuat manusia berpecah-belah. Orang yang melakukan kesalahan hendaknya ditunjukkan ke arah yang benar, dan orang yang berbuat kebenaran didukung untuk beramal yang mendatangkan manfaat.

Apabila seseorang telah berpegang pada kitabullah dengan benar, ia akan terangkat sebagai golongan orang-orang yang Allah susun hatinya bersama mukminin yang lain yang berpegang teguh dengan kitabullah. Mereka akan memperoleh nikmat Allah hingga menjadi golongan yang bersaudara. Pada dasarnya urusan/perintah Allah di antara orang-orang beriman berhubungan satu dengan yang lain sedemikian satu orang dapat melihat urusannya pada orang lain, sedangkan perintah Allah itu terdapat pada tali Allah. Pelaksanaan urusan secara berjamaah itu akan menumbuhkan hubungan di antara hati-hati kaum mukminin hingga mereka menjadi bersaudara. Persaudaraan itu tumbuh di atas tali Allah. Apabila suatu umat tidak dapat menemukan urusan Allah bagi dirinya dari sahabatnya, boleh jadi mereka tidak sungguh-sungguh memperhatikan tuntunan kitabullah yang mereka tunaikan, atau dikatakan tidak berpegang pada tali Allah. Kadangkala dua orang yang berjuang bersama tidak dapat bersatu karena tidak memahami dasar perjuangan sahabatnya bukan karena berselisih. Bila mereka mempunyai landasan perintah Allah dari kitabullah Alquran dan mereka memperhatikan sungguh-sungguh landasan itu, mereka akan memperoleh cahaya untuk menuju nikmat Allah untuk menuju persaudaraan. Bila memperoleh cahaya dari tali Allah, suatu kaum tidak terus-menerus hanya meraba-raba dalam kegelapan urusan Allah bagi mereka.

Nafs Wahidah dan Persatuan

Umat harus berusaha sekuat tenaga agar tidak berpecah-belah sekalipun hawa nafsu mereka ingin berselisih dengan yang lain. Usaha untuk tidak berpecah-belah itu akan menjadi semakin mudah apabila nafs mereka tersucikan dan tumbuh padanya persaudaraan dengan orang-orang beriman lainnya karena pemahaman mereka yang selaras terhadap kitabullah. Bila tidak melakukan tazkiyatun nafs, orang-orang beriman akan selalu merasa berat menanggung beban untuk mengendalikan hawa nafsu berselisih dengan mukmin lainnya. Keadaan memperoleh nikmat Allah merupakan hasil dari penyatuan nafs wahidah. Mereka orang-orang yang menempuh jalan tazkiyatun-nafs, karena yang dapat tumbuh menyatu dengan kebenaran hanya orang-orang yang disucikan jiwanya. Manakala seseorang masih dikuasai hawa nafsu dan syahwat atau bahkan syaitan, mereka tidak dapat menyatu dalam al-jamaah dalam persaudaraan dari hati. 

Perkembangan nafs wahidah terkait pula dengan pernikahan, sedemikian suatu persatuan umat akan sulit terbentuk manakala para perempuan tidak dibina dengan baik atau justru dirusak dengan pembinaan yang salah. Pernikahan merupakan setengah bagian dari agama yang sangat terkait dengan perkembangan nafs wahidah seseorang. Tentang umul mukminin Siti Khadijah r.a, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tanpa Khadijah r.a, beliau SAW tidak akan menjadi nabi. Hal itu terkait dengan perkembangan yang seharusnya terjadi pada nafs wahidah. Boleh jadi tanpa pernikahan yang baik seseorang bisa menjadi suci dan diberi pengetahuan kebenaran yang banyak tetapi tidak mempunyai kemampuan atau kesempatan untuk memberitakannya kepada umatnya karena tidak berkembangnya nafs wahidah secara semestinya. Secara keumatan, tidak terbentuk susunan yang membina hubungan dirinya dengan umatnya, karenanya ia tidak mempunyai kemampuan untuk menyeru umatnya untuk mengikuti kebenaran yang dikenalinya.

Persaudaraan di antara orang-orang beriman yang terbina di atas nafs wahidah memiliki keserupaan dengan hubungan yang tumbuh dalam pernikahan. Seseorang di antara orang beriman boleh jadi merupakan sumber urusan bagi yang lain sebagaimana seorang suami merupakan sumber urusan bagi perempuan dalam ibadahnya kepada Allah. Ada pula hubungan urusan di antara orang beriman dalam bentuk horisontal layaknya seorang isteri dengan madunya. Sebenarnya baiknya pernikahan seseorang merupakan media yang menumbuhkan pula hubungan seseorang dengan orang-orang beriman lainnya dalam urusan penyatuan nafs wahidah umat. Baiknya pembinaan pernikahan suatu umat akan menumbuhkan penyatuan umat dan tidak bercerai berai, sedangkan rusaknya pembinaan pernikahan umat akan memunculkan fenomena perselisihan yang cenderung marak dan menguat. Untuk memecah belah, syaitan menggunakan cara pemisahan suami dan isteri sebagai jalan utama membuat fitnah yang besar di antara manusia. Ini terkait dengan pencegahan penyatuan nafs wahidah di antara orang-orang beriman.

Pembinaan yang benar harus dilakukan baik terhadap kaum laki-laki ataupun kaum perempuan. Kaum laki-laki harus dibina untuk dapat menemukan amal shalih melalui Rasulullah SAW dan orang-orang shalih yang bersama dengan beliau SAW, tidak menyimpang mengikuti urusan yang tidak jelas asal-usulnya. Urusan para laki-laki diturunkan Allah melalui Rasulullah SAW dan dibagi dengan orang-orang yang bersama dengan beliau SAW. Dengan pengetahuan tentang amal shalihnya, mereka hendaknya menyayangi keluarganya dan orang-orang lain. Kaum perempuan harus dibina untuk dapat menghormati suaminya dan mentaati, tidak bersikap hanya mengikuti hawa nafsu diri mereka. Urusan Allah bagi kaum perempuan diturunkan melalui suaminya, tidak melalui laki-laki lain maka hendaknya mereka memperhatikan suaminya untuk memperhatikan urusan Allah.

Apabila seorang perempuan meninggalkan suaminya untuk mengikuti laki-laki lain, ia akan menjadi perempuan keji. Umat akan menjadi rusak apabila para perempuan mereka keji. Demikian pula apabila para perempuan dibiarkan tanpa ketaatan kepada suaminya, maka umat akan menjadi kaum yang liar tanpa ketaatan kepada para ulul amri dan pemimpin mereka. Ini merupakan kerusakan besar. Merusak para perempuan bangsa akan menjadikan bangsa itu runtuh sekalipun seandainya para laki-laki mereka adalah orang-orang yang shalih karena keshalihan mereka tidak akan terwujud di alam dunia. Kaum perempuan demikian ini semisal dengan para laki-laki yang meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam membina peradaban, maka mereka hanya akan menemukan hasil yang buruk bagi usaha-usaha yang mereka lakukan. Manakala ada orang yang menyeru untuk mewujudkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, hendaknya mereka memperhatikan seruan itu, dan mengikutinya manakala telah memahami kebenarannya. Bila umat meninggalkan seruan orang demikian, mereka sangat mungkin telah meninggalkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti waham sendiri. Manakala seruan seseorang yang telah melangkah dengan benar bersama Rasulullah SAW diabaikan, suatu kaum pada dasarnya mengabaikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Minggu, 27 April 2025

Mengikuti Bashirah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Rasulullah SAW bersama orang-orang yang mengikuti menyeru umat manusia untuk kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah merupakan usaha yang harus dilakukan sepanjang kehidupan sejak di bumi hingga kelak di akhirat, menempuh perjalanan yang sangat jauh. Ada orang-orang yang menempuh jalan yang paling pendek berupa shirat al mustaqim untuk kembali kepada Allah, dan sebagian besar manusia menempuh perjalanan berliku-liku yang sangat jauh hingga mungkin banyak orang tidak mengetahui lagi apa makna kehidupan diri mereka atau tidak mengetahui jalan untuk kembali kepada Allah. Rasulullah SAW menyeru umat manusia untuk dapat menemukan jalan kembali tersebut dan menyeru untuk menempuh jalan kembali. Demikian pula orang-orang beriman yang bersama beliau SAW menyeru manusia kepada Allah.

﴾۸۰۱﴿قُلْ هٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Inilah jalan-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas bashirah, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS Yusuf : 108)

Seruan tersebut dilakukan di atas bashirah yang jelas. Bashirah menunjukkan suatu pengetahuan terhadap kebenaran yang harus dijadikan arah melangkah. Orang-orang yang bersama Rasulullah SAW mempunyai pengetahuan tentang arah langkah yang perlu ditempuh umat manusia sebagai jalan kembali kepada Allah. Bashirah bukan berbentuk kilasan penglihatan-penglihatan mata bathin, tetapi suatu pengetahuan yang integral tentang kehendak Allah.

Rasulullah SAW menyeru umat manusia kembali kepada Allah berdasarkan bashirah yang jelas tentang kemuliaan yang dihamparkan Allah hingga di alam dunia. Seruan itu akan menjadikan manusia menjadi lebih mulia karena kedekatan kepada Allah, dan terwujud kehidupan yang lebih baik bagi seluruh makhluk. Demikian pula orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW menyeru dengan bashirah. Ada banyak kelompok-kelompok manusia atau muslimin yang mengatakan bahwa mereka menyeru kepada Allah tetapi sebenarnya mereka tidak mempunyai bashirah yang mampu menunjukkan jalan menuju kemuliaan. Sebagian seruan mereka menjadikan manusia bodoh dalam memahami tuntunan kitabullah, kehilangan kemampuan menggunakan akal untuk memahami tuntunan. Hal demikian bukanlah seruan kepada Allah. Seruan kepada Allah akan menjadikan manusia mengenal nilai-nilai kemuliaan yang akan mengantarkan manusia untuk dekat kepada Allah.

Contoh yang jelas tentang bashirah dapat dilihat pada pengetahuan urusan keberpasangan, di mana seseorang memperoleh suatu pengetahuan tentang suatu hakikat langit terkait jodoh diikuti pula dengan pengetahuan di bumi berupa pasangan jodohnya dari kalangan makhluk bumi. Di tingkat hakikat, diketahui bahwa setiap laki-laki diciptakan dari suatu nafs wahidah tertentu, dan setiap perempuan diciptakan dari nafs wahidah laki-laki tertentu. Suatu keberpasangan yang baik akan menumbuhkan kesuburan pada manusia hingga manusia dapat berkembang dengan baik. Itu adalah hakikat dari penciptaan manusia di alam yang tinggi yang dekat dengan Allah. Dalam kehidupan dunia, seseorang yang mempunyai bashirah mungkin mengetahui jodohnya yang demikian. Tidak banyak orang yang mengenal pasangan yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama. Kebanyakan manusia melakukan pernikahan bukan berdasarkan hakikat penciptaan dirinya, dan hanya sedikit orang yang memperhatikan hakikat keberpasangan dirinya tersebut. Kebanyakan manusia memilih jodoh karena kecantikan/ketampanan, karena harta atau kedudukan dan hal-hal lain. Dari sedikit orang yang memperhatikan hakikat perjodohannya, tidak banyak orang yang benar-benar mengenal pasangannya. Di antara orang yang memperoleh petunjuk tentang jodohnya, tidak sedikit orang yang tidak mau menerima jodoh yang ada dalam petunjuknya. Bashirah mencakup pengetahuan yang benar secara integral tentang ketentuan Allah dari alam hakikat hingga alam praktis duniawi.

Bashirah membentuk pengetahuan yang integral tentang suatu urusan sesuai dengan kehendak Allah, sedemikian seseorang dapat bertindak secara praktis di bumi sesuai dengan kehendak Allah. Bashirah dalam urusan nafs wahidah di atas dapat ditemukan dalam bentuk integralitas pengetahuan dari pengetahuan tentang konsep perjodohan, pengenalan terhadap jodoh di alam dunia hingga amal-amal praktis dalam menempuh biduk rumah tangga dan segala hal yang terkait dengan pernikahan yang ditentukan Allah bagi dirinya. Sangat banyak ketentuan Allah bagi seseorang dalam menempuh pelaksanaan suatu urusan, dan setiap hamba harus berusaha untuk sebanyak mungkin memahami dan bertindak sesuai dengan ketentuan yang digariskan. Dalam setiap pilihan perbuatan, ada potensi hakikat yang bisa dicapai oleh seorang dengan amalnya dan ada pula potensi keharaman yang tidak boleh dilakukan hamba Allah. Hakikat itu akan menjadi bobot kebaikan, dan yang diharamkan itu akan menjadi dosa yang bisa menjadi benih tumbuhnya pemahaman yang salah. Seseorang bisa memilih salah satu dari semua kemungkinan perbuatan yang tersedia sehingga ia bisa memperoleh hakikat dalam bobot besar, bobot sedang, bobot kecil atau justru harus menanggung dosa karena pilihan amalnya.

Ada banyak hakikat digelar Allah, dan hakikat-hakikat itu membentuk suatu hubungan yang mengantarkan manusia mengenal Allah. Misalnya al-jamaah dan pernikahan. Al-jamaah merupakan bagian inti dari perjalanan kembali kepada Allah yang harus ditempuh dengan langkah berupa penyatuan nafs wahidah terhadap seruan Rasulullah SAW. Pernikahan merupakan turunan pertama dari penyatuan nafs wahidah yang seharusnya terwujud pada setiap hamba Allah yang mengikuti seruan itu sejak alam dunia. Pernikahan dapat digambarkan sebagai gerbang menuju al-jamaah, dan gerbang itu dihadirkan kepada setiap hamba Allah untuk mengarahkan langkahnya menuju al-jamaah. Penyatuan terhadap langkah Rasulullah SAW terjadi manakala seseorang menjalani pernikahannya sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak hakikat-hakikat yang diperkenalkan Allah kepada makhluk dan seluruhnya terhubung dalam kesatuan pengetahuan hakikat yang menggelar ilmu Allah.

Yang dikatakan sebagai orang yang menyeru kepada Allah dengan bashirah yang nyata hanyalah orang yang mengerti arah seruan itu, juga implikasi arah itu pada amal-amal pada tingkatan praktis. Orang tidak sah mengaku menyeru kepada Allah sedangkan amalnya justru menimbulkan perpecahan umat di jalan Allah. Seandainya seseorang tidak mengetahui amal pada tingkatan praktisnya, setidaknya ia tetap menimbang amalnya untuk menyatu dengan Rasulullah SAW tidak menimbulkan perselisihan di jalan Allah. Setiap pelanggaran terhadap penyatuan al-jamaah merupakan penyelisihan atau penentangan terhadap seruan kepada Allah. Kadangkala dijumpai suatu kaum yang menyangka diri mereka menyeru kepada Allah tetapi dengan mudahnya melanggar aturan dengan alasan yang tidak jelas tetapi dipandang baik. Manakala terkait pernikahan, perbuatan semacam itu semisal dengan memindahkan gerbang al-jamaah menuju sesuatu selain al-jamaah. Atau suatu kaum kadangkala memperjuangkan syariat tetapi justru menimbulkan kekisruhan di antara umat islam tanpa mengerti arah penyatuan nafs wahidah. Mereka mengacaukan proses kembali kepada Allah. Hal-hal demikian menunjukkan mereka tidak mengerti makna menyeru kepada Allah dengan bashirah.

Orang-orang yang menyeru di atas bashirah mempunyai pengetahuan terkait urusan yang mereka kerjakan, sedemikian seruan mereka akan menjadikan orang yang diseru menjadi semakin dekat kepada Allah dengan bertambahnya akhlak mulia ataupun unsur-unsur akhlak mulia. Boleh jadi pengetahuan seseorang itu sedikit tetapi dapat mengantarkan orang yang mengikutinya semakin dekat kepada Allah, maka sedikitnya itu termasuk dalam bashirah. Bila suatu seruan menjadikan orang yang diseru semakin buruk, orang tersebut sebenarnya berdosa merusak tatanan Allah, dan ia tidak di atas bashirah. Pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentuan yang diberikan Allah bagi hamba-Nya merupakan dosa yang akan mendatangkan kesengsaraan di bumi. Pemutusan shilaturrahmi, mencegah ishlahnya orang beriman, perusakan keberpasangan manusia, perusakan rumah tangga dan hal-hal yang merusak ketentuan-ketentuan Allah bagi manusia merupakan dosa yang merusak ketentuan tatanan dari sisi Allah.

Bersungguh-sungguh Mengikuti Bashirah

Bobot seorang mukmin dalam pandangan Allah terletak pada pengetahuannya terhadap hakikat. Mengumpulkan pengetahuan hakikat paling efektif dilakukan dengan berjihad melaksanakan bashirah tentang ketentuan Allah. Seseorang yang mengenal suatu hakikat tertentu di sisi Allah kemudian harus berjihad menata kehidupannya di bumi sesuai dengan hakikat yang dikenalnya. Sebagai gambaran, mungkin seseorang mengenal jodoh dirinya di bumi yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama. Petunjuk itu merupakan suatu bashirah apabila ia memahami manfaat yang dapat diperoleh dengan mengikuti petunjuk sesuai ketentuan-ketentuan Allah dan sesuai dengan kauniyah yang terjadi. Dengan petunjuk itu ia harus berjuang keras untuk mewujudkan penyatuan nafs wahidah tersebut.

Suatu bashirah merupakan pengetahuan dalam mengikuti perintah Allah, dan hal itu seringkali bertentangan dengan keinginan hawa nafsu dan syahwat. Misalnya bisa saja keadaan bumi orang yang berjodoh menurut bashirah sama sekali tidak ideal, tidak bisa dibayangkan sama sekali romantisme keberpasangan. Boleh jadi mereka adalah pihak-pihak yang berseteru sebelum memperoleh petunjuk jodoh, maka mereka harus berjuang untuk melakukan ishlah terlebih dahulu, kemudian menjalin shilaturrahmi, baru dapat mengenal sifat dan sikap yang asli dari masing-masing pihak tanpa tertutup oleh prasangka buruk. Usaha itu kadang harus dilakukan hingga masing-masing meyakini bahwa memang benar mereka berjodoh. Sangat banyak kemungkinan salah paham, salah informasi dan perbedaan pendapat yang bisa terjadi dalam hubungan demikian. Setiap pihak boleh jadi perlu membangun kesepahaman bersama, meluruskan kesalahan-kesalahan informasi dan persepsi dan menselaraskan langkah untuk menerima perbedaan yang mungkin akan tetap ada di antara mereka. Mungkin akan terbantu apabila setiap pihak berkeinginan untuk mengikuti bashirah mereka, tetapi resiko kesalahpahaman itu tetap membayangi.

Upaya mewujudkan bashirah ini sangat menentang tipu daya syaitan hingga para syaitan berusaha keras menghambatnya. Sekadar untuk ishlah saja, kedua pihak itu bisa dibenturkan sangat keras dengan mengobarkan perselisihan yang pernah ada atau dikobarkan perselisihan baru. Shilaturrahmi kadangkala tampak bagaikan hal yang mustahil ditempuh. Syaitan membangkitkan halangan-halangan. Halangan itu bisa dimunculkan syaitan di dalam diri masing-masing pihak ataupun orang-orang lain di masyarakatnya. Kadangkala di tingkat bashirah perjodohan-pun mereka dipermasalahkan oleh orang lain. Boleh jadi ada orang yang merasa lebih mengetahui hakikat urusan mereka dan mempermasalahkannya, sekalipun orang tersebut mungkin tidak mengetahui ketentuan dalam urusan itu. Masyarakat yang tidak berpegang pada tuntunan yang benar atau justru mengikuti takhayyul rentan berbuat demikian, bahkan kadang berbuat tanpa memperhatikan ketentuan halal atau haram. Seringkali jerih payah masing-masing pihak yang berjodoh untuk mewujudkan perjodohan mereka tidak dipertimbangkan dalam bobot kebenaran visinya. Sangat banyak halangan yang bisa dibuat oleh syaitan untuk orang yang berusaha mewujudkan langkah berdasarkan bashirah.

Ada potensi masalah internal pada pasangan demikian berupa kegamangan melaksanakan petunjuk Allah karena perselisihan masa lalu. Masalah mereka sebagai orang beriman boleh jadi bukan berupa dendam perselisihan, tetapi rasa gamang menghadapi akhlak pasangannya yang diketahui berdasar masa lalu. Syaitan banyak berperan dalam perselisihan antara individu-individu berpasangan hingga boleh jadi masing-masing individu dijadikan merasa heran dan tidak percayabahwa partnernya bisa berperilaku sedemikian buruk terhdap dirinya. Banyak prasangka yang bisa timbul dalam diri seseorang karena perlakuan buruk orang lain baik prasangka yang timbul sendiri dalam pikiran manusia ataupun prasangka yang dihembuskan syaitan, dan syaitan sangat berkepentingan dengan prasangka-prasangka manusia untuk siasat mereka. Kegamangan demikian dapat diredam dengan suatu shilaturahmi yang baik atau ta'aruf agar pasangan bisa lebih mengenal akhlak yang sebenarnya tidak berdasar persepsi yang salah atau kesalahan informasi. Tetapi upaya demikian ini juga akan dihalangi atau dibiaskan syaitan baik melalui diri masing-masing ataupun masyarakat yang buruk.

Demikian itu gambaran yang jelas tentang suatu bashirah khususnya tentang perjodohan. Bashirah itu berupa suatu visi tentang perintah Allah yang memberikan manfaat untuk menuju kemuliaan baik diri sendiri ataupun umat manusia secara keseluruhan. Banyak hal yang akan diketahui oleh orang-orang yang diberi bashirah terkait proses menuju kemuliaan berdasarkan bashirah. Bashirah perjodohan itu bukan suatu luapan keinginan syahwat atau hawa nafsu yang muncul melalui penglihatan bathin, tetapi suatu urusan yang haq dari sisi Allah untuk mewujudkan kemuliaan. Banyak orang yang memperoleh suatu penglihatan jodoh tetapi tidak mempunyai pengetahuan tentang manfaat sesuai ketentuan Allah atau bahkan tidak mengukur kehalalannya berdasarkan syariat, maka hal demikian bukanlah suatu bashirah. Manakala seseorang memperoleh bashirah, hendaknya umat tidak menganggap remeh. Tidak jarang umat menimbulkan gangguan terhadap orang yang mempunyai bashirah hingga menambah kesulitan dalam menempuh langkah mengikuti bashirah.

Dalam situasi perselisihan atau perbantahan, setiap orang harus berusaha melangkah yang terbaik. Pada dasarnya perbantahan tidak diperbolehkan terjadi di antara orang beriman. Manakala seseorang mempunyai visi perjodohan dirinya, ia boleh mengusahakan terwujudnya perjodohan itu dengan dialog manakala terjebak pada situasi yang mengarah perbantahan. Boleh jadi pihak jodohnya perlu diperjuangkan pula haknya untuk menempuh setengah bagian agamanya. Bila pihak jodohnya tidak sepakat dengan dengan visi perjodohan itu, berdialog memperjuangkan visi dalam situasi perbantahan itu tidak berguna dan tidak perlu dilakukan. Boleh jadi visi itu hanya berasal dari syahwat diri, hawa nafsu atau syaitan. Dalam kasus lainnya, usaha dialog sekalipun tampak diperlukan kadang justru meluaskan terbakarnya persoalan lain. Misalnya manakala umat seseorang dihasut untuk durhaka padanya karena persoalan visi yang diperoleh, ia berhak berjuang untuk mencegah meluasnya hasutan durhaka itu dengan dialog atau berbantah kepada penghasutnya agar tidak menambah persoalan dalam upaya mengikuti bashirahnya. Pihak-pihak yang memperoleh visi perjodohan yang sama tidak boleh menempuh langkah yang menimbulkan masalah meluasnya persoalan bagi pihak lainnya, karena itu akan merusak hubungan mereka sendiri.

Setiap orang harus berusaha mengikuti bashirahnya. Bashirah itu merupakan jalan kembali bagi dirinya kepada Allah yang layak untuk diperjuangkan. Bila seseorang berjalan untuk mewujudkan bashirahnya, akan banyak hakikat terkait urusan bashirahnya yang terbuka sekalipun jika bashirahnya itu belum atau tidak terwujud. Kadangkala jalan untuk mewujudkan bashirah terbuka setelah semua kesulitan yang ditempuh. Apabila ia telah berusaha melaksanakan bashirah dirinya, ia dapat menyeru orang lain kepada Allah dengan benar berdasarkan bashirahnya. Bila ia mengingkari bashirah jalan kehidupan dirinya, ia tidak berada di atas bashirah dan seruan itu tidak dihitung sebagai bashirah yang benar. Manakala seseorang tidak mempunyai bashirah yang benar baik karena bashirah yang keliru ataupun mengingkari bashirah yang benar, ia tidak berada di atas bashirah. Orang yang bersama Rasulullah SAW menyeru manusia kepada Allah hanyalah orang-orang yang menyeru dengan bashirah yang nyata. Bashirah yang benar itulah yang akan mengantarkan manusia untuk dekat kepada Allah.