Pencarian

Rabu, 17 Desember 2025

Orang Beriman Memahami Mushibah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang mendapat nikmat Allah. Memperoleh nikmat Allah artinya adalah mereka mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Nikmat Allah dalam bentuk demikian akan diperoleh oleh orang-orang yang memperoleh petunjuk, dan sebagian petunjuk demikian diturunkan Allah melalui mushibah.

﴾۱۱﴿مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS At-Taghaabun : 11)

Dalam kehidupan, setiap orang akan mengalami suatu mushibah, dan tidaklah ada mushibah yang terjadi atas diri setiap manusia kecuali Allah telah mengijinkan hal itu terjadi. Boleh jadi suatu mushibah terjadi melalui berbagai jalan sebab yang dapat dilihat manusia, akan tetapi setiap peristiwa mushibah dapat terjadi hanya atas ijin Allah. Selain  apa yang diijinkan terjadi, Allah juga memberi mushibah kepada manusia tertentu kemudian Dia menjadikan manusia yang diberi mushibah mempunyai pendengaran dan penglihatan terhadap masalah yang menimpa dirinya. Barangkali tidak semua orang yang diberi mushibah kemudian mempunyai bashirah dan pendengaran tentang hal yang menimpa dirinya. Allah akan memberikan petunjuk ke dalam hati orang-orang yang beriman kepada Allah, maka mereka kemudian mempunyai pengetahuanterkait mushibah yang menimpa. Akal yang berkembang pada diri akan menuntun mereka untuk mengenal petunjuk Allah terkait jalan Allah yang harus ditempuh.

Petunjuk itu diberikan ke dalam hati orang yang beriman. Keimanan merupakan tingkatan kedudukan dalam agama yang lebih tinggi dari keislaman. Orang-orang beriman adalah orang-orang islam yang mempunyai pemahaman terhadap berbagai hal yang terjadi atas diri mereka dan semesta diri mereka berdasarkan petunjuk yang diturunkan Allah. Mereka adalah orang-orang yang menegakkan syariat islam dan kemudian memperoleh petunjuk di dalam hatinya. Orang-orang yang tidak melaksanakan syariat-syariat sebagai muslim tidak akan mempunyai hati yang cukup baik untuk memperoleh cahaya keimanan. Tidak semua orang yang melaksanakan syariat agama islam memperoleh cahaya keimanan, tetapi orang yang bisa memperoleh petunjuk yang benar hanyalah orang yang melaksanakan syariat agama islam. Orang yang melaksanakan syariat dengan cara demikian adalah muslimin, sedangkan mukminin adalah orang-orang islam atau muslimin yang memahami mushibah dengan hatinya karena petunjuk yang diturunkan Allah.

Petunjuk dalam ayat di atas merupakan petunjuk yang bersifat khusus terkait dengan mushibah yang terjadi pada orang-orang beriman. Petunjuk yang dimaksud pada ayat di atas adalah petunjuk berupa penjelasan suatu peristiwa yang terjadi berdasarkan hakikat dari sisi Allah atau penjelasan-penjelasan berupa bayinah dari ayat Allah. Penjelasan suatu peristiwa berupa ayat kitabullah dan makna yang terbuka dari ayat tersebut merupakan bentuk petunjuk yang mempunyai tingkat kebenaran paling tinggi. Sebagian mukminin barangkali bisa melihat adanya suatu pengetahuan atau kemunkaran pada suatu peristiwa musibah atas diri mereka hingga mereka dapat menentukan amal yang harus dilaksanakan untuk memperoleh kebaikan dengan mengikuti tuntunan kitabullah maka itu juga merupakan petunjuk. Sebagian muslimin berbangga bahwa mereka adalah orang-orang yang telah mengikuti petunjuk tetapi petunjuk yang mereka masksud sebenarnya masih bersifat umum berupa kesediaan mengikuti syariat-syariat, maka petunjuk demikian bukanlah petunjuk yang dimaksud ayat di atas. Hal demikian menunjukkan bahwa mereka masih di tingkatan muslimin.

Sebagian orang yang mengatakan dirinya beriman berusaha untuk berlapang dada untuk menerima mushibah yang terjadi atas diri mereka tetapi tidak benar-benar mengerti penjelasan mushibah yang terjadi atas diri mereka. Hal ini menunjukkan tingkat keimanan. Orang beriman adalah orang yang memperoleh petunjuk terkait mushibah dirinya. Sebagian orang berusaha membangkit-bangkitkan makna dari peristiwa yang terjadi hanya mengikuti perkataan-perkataan orang saja tanpa berusaha berpegang pada pengetahuan prinsip dari tuntunan ayat-ayat kitabullah. Keimanan demikian mendekati suatu batas kedustaan. Apabila ia mendustakan suatu tuntunan yang benar dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, ia tergelincir pada keimanan yang dusta. Setiap orang beriman harus membangun prinsip-prinsip pengetahuan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar dapat memperoleh petunjuk terkait mushibah yang terjadi. Keadaan demikian itulah yang dikatakan beriman dan Allah akan memberikan petunjuk ke dalam hatinya. Orang beriman dapat memahami hakikat suatu mushibah karena Allah memberikan petunjuk terkait mushibah itu ke dalam hatinya. Secara khusus, keadaan beriman ditunjukkan dengan pembentukan diri sebagai misykat cahaya agar dapat memahami petunjuk Allah dengan benar.

Membina keimanan harus dilakukan dengan jalan membina diri sebagai misykat cahaya. Misykat cahaya dapat dilihat gambarannya seperti kamera yang membentuk bayangan nyata dalam diri berdasarkan cahaya objek di luar. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar terbentuk bayangan yang baik di dalam misykat diri seseorang. Misykat diri itu harus rapat tidak boleh bocor cahaya, dibina dengan keikhlasan dalam ibadah kepada Allah semata-mata. Lensa berupa zujajah itu harus dapat diatur fokusnya dengan tepat, dibina dengan penghayatan sifat rahman dan sifat rahim untuk memahami ayat Allah. Manakala tidak terbentuk sifat rahman dan rahim dalam diri seseorang, fokus lensa itu akan membentuk bayangan yang tidak tepat. Bayangan cahaya yang benar dan tepat itu hanya terbentuk dari zujajah yang terbina dalam sifat rahman dan rahim. Cahaya yang dibentuk bayangannya adalah ayat-ayat Allah berupa ayat kitabullah dan ayat yang digelar di alam kauniyah. Apabila seseorang memalingkan diri dari ayat Allah yang ditunjukkan untuk mengikuti pendapat diri mereka sendiri atau perkataan lain, mereka itu tidak memilih ayat Allah yang tepat dan gambar yang dibentuk bukanlah ayat Allah.

Pembinaan diri sebagai misykat cahaya harus ditempuh melalui jalan tazkiyatun-nafs dan seterusnya sebagai bagian dari langkah taubat kepada Allah. Hati sebagai lokus petunjuk tidak boleh dalam keadaan kotor ataupun bersifat keras tanpa mengenal sifat baik. Setiap orang yang berusaha untuk mempelajari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan jalan yang paling baik hendaknya mereka menempuh langkah tazkiyatun-nafs. Sebaliknya apabila seseorang menempuh langkah tazkiyatun-nafs, hendaknya mereka memahami bahwa tujuan tazkiyatun-nafs adalah untuk memahami ayat Allah sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan untuk semata suci diri saja. Tazkiyatun-nafs dan pembinaan misykat cahaya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Menghindari Ibadah di Tepian

Membina diri sebagai misykat cahaya dalam upaya memahami firman-firman Allah akan menjadikan manusia sebagai hamba Allah yang mempunyai pijakan kokoh. Apabila tidak membina diri sebagai misykat cahaya, seseorang mungkin menghamba kepada Allah dengan berada di tepian. Apabila memperoleh kebajikan, mereka tetap dalam keadaan ibadahnya. Jika suatu fitnah terjadi atas diri mereka, mereka membalikkan wajah dari ibadah kepada Allah. Keadaan demikian akan menjadikan diri mereka rugi di dunia dan di akhirat dengan kerugian yang nyata.

﴾۱۱﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS Al-Hajj : 11)

Banyak di antara kaum muslimin yang membina diri mereka sebagai hamba Allah tanpa mengetahui jalan untuk menjauh dari tepi zona ibadah. Jalan itu adalah membina diri sebagai misykat cahaya sedemikian seseorang mempunyai pengetahuan tentang cahaya Allah melalui bayangan kehendak Allah yang terbentuk dalam dirinya. Tanpa membentuk misykat cahaya, seseorang pada dasarnya menyembah Allah di tepian. Ada orang-orang yang terseret dari tepian menuju kesesatan, dan ada yang tetap beribadah di tepian saja.

Membentuk misykat cahaya sangat penting dilakukan agar seorang hamba dapat mengenal Allah dengan benar. Ada di antara muslimin yang membuat suatu profil tentang Allah dengan pikiran mereka berdasarkan perkataan manusia dan ketentuan-ketentuan yang mereka susun sendiri sedangkan struktur diri mereka tidak dibina untuk dapat membentuk bayangan cahaya Allah. Mereka menyembah profil yang mereka susun tentang Allah. Mereka menyangka bahwa melayani profil dalam pikiran mereka adalah penghambaan yang sebenarnya kepada Allah. Ini termasuk beribadah kepada Allah di tepian. Hal ini tentulah sangat disayangkan karena tidak menjadikan muslimin memahami kehendak Allah hingga tidak dapat menjadikan mereka sebagai orang yang sungguh-sungguh menghamba kepada Allah menjadi pelayan yang benar bagi kehendak-Nya.

Kaum khawarij merupakan sebagian contoh dari orang-orang yang menyembah Allah di tepian dan terseret menuju kesesatan. Mereka sangat memperhatikan syariat hingga bakal membuat kagum para sahabat apabila sahabat nabi masih hidup, akan tetapi akhlak mereka tidak menjadi baik karena syariat ibadah mereka. Mereka banyak membaca tuntunan kitabullah dan membicarakan perkataan orang-orang shalih terdahulu akan tetapi bacaan itu tidak melampaui kerongkongan menuju dada untuk menjadikan akhlak menjadi mulia. Yang terjadi, mereka justru terlempar jauh dari apa yang menjadi tauladan Rasulullah SAW. Akhlak mereka buruk dengan berbangga-bangga tentang kebenaran syariat yang mereka perjuangkan tanpa memahami tauladan Rasulullah SAW membentuk akhlak mulia untuk menjadi hamba Allah yang melaksanakan amal shalih dengan memahami kehendak Allah. Mereka membanggakan pemahaman terhadap perkataan para pendahulu tanpa membentuk akhlak mulia, dan kebanggaan mereka itu menjadikan mereka membuat keonaran di antara umat Rasulullah SAW. Mereka memperbaiki tatacara bersyariat sesuai dengan contoh-contoh yang Rasulullah SAW ajarkan dan orang-orang terdahulu tetapi sebenarnya ada pihak di antara mereka yang berkepentingan menimbulkan permusuhan di antara umat Rasulullah SAW dengan tuduhan syirik, bid’ah, khurafat dan lain sebagainya, tidak berkeinginan menumbuhkan persaudaraan dengan mengikuti tauladan Rasulullah SAW. Kaum khawarij itu akan selalu ada hingga khalifatullah Al-Mahdi a.s diutus ke dunia, bukan hanya kaum yang dahulu pernah memberontak kepada khalifah di antara khulafa’ ar-rasyidin.

Contoh lain para penyembah Allah di tepian dan terseret pada kesesatan adalah para ahli bid’ah. Para ahli bid’ah adalah para penyembah Allah yang tidak memperhatikan tuntunan Allah hingga mereka mengerjakan suatu urusan bagi kaum mukminin tanpa menimbang urusan yang mereka lakukan dengan tuntunan ayat-ayat kitab Allah. Mereka menginginkan menjadi hamba Allah tetapi manakala suatu bisikan datang, mereka mengikuti bisikan menyangka bahwa ada suatu urusan yang baru diturunkan Allah kepada diri mereka tanpa berusaha mengetahui kedudukan urusan yang harus dikerjakannya dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bisikan itu kadangkala benar, tetapi kesalahan yang terselipkan jauh lebih merusak dibandingkan nilai kebaikan yang dikandung dalam bisikan itu. Bisa saja tidak ada nilai kebaikan dalam bisikan yang diberikan tetapi mereka menganggap bisikan itu baik karena tidak mempunyai bentukan akhlak mulia yang memadai untuk mengenali keburukan yang terkandung di dalamnya. Tidak jarang umat Rasulullah SAW harus menanggung kesulitan karena para ahli bid’ah yang menyebabkan kesulitan-kesulitan tanpa

Bid’ah merupakan wujud dari bayangan urusan yang terbentuk pada misykat diri seseorang yang berasal dari selain cahaya Allah. Hal ini terkait dengan proses pembinaan misykat, yaitu manakala suatu misykat tidak dibuat kedap cahaya, maka bayangan yang dapat terbentuk pada misykat itu tidak murni bayangan dari cahaya Allah. Tidak boleh ada lubang misykat yang dapat dilewati cahaya kecuali hanya pada lubang yang seharusnya diarahkan kepada cahaya ayat-ayat Allah. Lubang tembus cahaya itu harus benar-benar diarahkan menuju ayat-ayat Allah terutama yang sedang digelar, dan kemudian fokus zujajah itu diarahkan untuk membentuk bayangan kehendak Allah. Apabila seseorang atau suatu kaum tidak memperhatikan ayat Allah hanya memperhatikan perkataan manusia saja atau hal lain, mereka tidak akan dapat membentuk bayangan kehendak Allah dan hanya memahami perkataan manusia saja. Suatu kaum bid’ah terbentuk dari orang-orang yang menjunjung urusan yang berasal dari bayangan urusan selain dari cahaya Allah.

Petunjuk Allah akan diturunkan ke dalam hati orang-orang yang beriman melalui mushibah yang terjadi atas diri mereka. Barangkali itu adalah bentuk dasar petunjuk yang menjadikan seseorang yang beriman dapat memahami ayat Allah terkait diri mereka. Petunjuk itu menjadikan orang beriman memahami kauniyah yang terjadi pada semesta mereka. Apabila seseorang tidak bertambah pengetahuannya terhadap kehendak Allah melalui kauniyah manakala suatu mushibah terjadi, mereka sangat mungkin tidak memperoleh petunjuk. Ada orang-orang yang membuat-buat diri mereka seolah paham terhadap hikmah tetapi sebenarnya hanya mengikuti suatu indoktrinasi yang tidak dipahaminya, sedangkan pengetahuannya tentang kehendak Allah tidak bertambah sedikitpun dengan ayat Allah yang terjadi. Ada orang yang bertambah pengetahuannya terhadap mushibah tetapi pengetahuan yang keliru. Ada orang yang berulang-ulang terjebak dalam berbagai kesukaran mushibah karena kesalahan sendiri tetapi tidak pernah memahami hakikat mushibah yang menimpa dirinya Hal itu menunjukkan seseorang belum menerima petunjuk. Orang-orang yang beriman dengan benar akan memperoleh tambahan pengetahuan terhadap kehendak Allah melalui kauniyah berupa mushibah, pengetahuan dengan landasan yang kokoh berupa tuntunan ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Pengetahuan yang benar terhadap nilai mushibah berlandaskan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ini merupakan contoh dari bayangan cahaya Allah yang harus dibentuk dalam misykat diri seseorang. Pengetahuan demikian akan menggerakkan seseorang dari penyembah Allah di tepian menuju penyembahan yang lebih sungguh-sungguh kepada Allah karena memahami dengan benar kehendak Allah. Kaum khawarij akan menarik orang-orang yang menyembah Allah di tepian untuk mengikuti golongan mereka berbangga-bangga dengan kebenaran pikiran mereka. Sekalipun kebenaran mereka disusun berdasarkan firman Allah, kebanggaan mereka itu bukanlah nilai yang diajarkan Rasulullah SAW. Kebanggaan itu hanya akan melemparkan mereka jauh dari islam. Para ahli bid’ah akan menyimpangkan ibadah kepada Allah menuju suatu urusan yang tidak dapat dipahami kebaikannya oleh umat nabi Muhammad SAW. Tidak jarang urusan yang mereka kerjakan itu menghancurkan umat nabi Muhammad SAW tanpa mereka memahami kerusakan yang terjadi.



Minggu, 14 Desember 2025

Mensyukuri Petunjuk Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang mendapat nikmat Allah. Memperoleh nikmat Allah artinya adalah mereka mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Nikmat Allah bukanlah bentuk-bentuk kekayaan atau perhiasan dunia saja, tetapi utamanya adalah pengetahuan tentang jalan yang ditentukan Allah bagi dirinya. Adapun melimpahnya kekayaan atau perhiasan dunia merupakan oleh-oleh yang mungkin akan diperoleh manakala seseorang menempuh jalan yang ditentukan.

﴾۲﴿إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
﴾۳﴿إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
(2)Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.(3)Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS Al-Insaan : 2-3)

Setiap orang harus berusaha bersyukur kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari dengan berusaha menjalani bentuk kehidupan yang mendatangkan kebaikan, tidak bertindak selalu mencari keuntungan bagi diri sendiri saja. Setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan kehidupan yang harus ditentukan berdasarkan nilai kebaikan yang dihasilkan, dan Allah memberikan petunjuk kepada setiap orang tentang jalan yang seharusnya dipilih. Orang yang menentukan pilihan berdasarkan nilai kebaikan yang dapat diberikan adalah orang-orang yang bersyukur, sedangkan orang yang bersikap mencari untung sendiri seringkali terjatuh sebagai orang yang kufur. Kemakmuran bagi masyarakat luas akan diperoleh oleh masyarakat yang dapat bersyukur dalam menentukan pilihan-pilihan kehidupan mereka, dan kesulitan akan menimpa masyarakat yang tidak dapat bersyukur. Tidak jarang masyarakat yang tidak bersyukur dipimpin oleh orang-orang yang paling jahat di antara mereka hingga orang-orang jahat itu menikmati kehidupan di atas penderitaan masyarakatnya.

Kebersyukuran seseorang akan mengantarkan diri mereka menuju nikmat Allah berupa shirat al-mustaqim, yaitu suatu jalan yang harus ditempuh seseorang untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Mereka adalah orang yang mempunyai bashirah dan pendengaran untuk memahami ayat-ayat Allah. Bashirah dan pendengaran itu akan menjadikan seseorang dapat mendengar dan melihat petunjuk Allah tentang jalan yang harus ditempuh, dari petunjuk yang bersifat kilasan petunjuk yang apabila disyukuri akan terbentuk petunjuk yang membukakan suatu hakikat dari sisi Allah tentang kauniyah yang terjadi di alam bumi. Semua itu adalah petunjuk menuju jalan Allah. Manakala seseorang memperoleh petunjuk berupa hakikat dari suatu kauniyah di bumi, ia memperoleh petunjuk jalan yang lurus atau shirat al-mustaqim.

Bala’ Membangkitkan Kepedulian

Allah menimpakan bala’ kepada manusia kemudian Dia menjadikan manusia yang diberi bala’ mempunyai pendengaran dan penglihatan terhadap masalah yang menimpa dirinya. Tidak jarang pendengaran dan bashirah diberikan Allah kepada manusia melalui bala’ agar manusia mempunyai keahlian dalam masalah bala’ yang menimpa dirinya. Barangkali tidak semua orang yang diberi bala’ kemudian mempunyai bashirah dan pendengaran tentang hal yang menimpa dirinya apabila dia kufur karena bala’ itu. Apabila ia bersabar dengan bala’ itu, ia akan diberi bashirah dan pendengaran hingga dapat memperoleh pengetahuan tentang bala’ yang menimpa apabila Allah menghendaki. Kadangkala suatu bashirah atau pendengaran tidak bersifat membina keahlian tetapi berbentuk peringatan agar seseorang bersikap benar. Suatu bala’ atas diri seseorang kadangkala datang karena kesalahan yang dilakukan oleh orang tersebut, maka bala’ itu mendatangkan suatu bashirah dan pendengaran akan tetapi berupa peringatan agar seseorang tidak terus berada pada keadaan yang mendatangkan bala’ tersebut.

Kesabaran dalam menanggung bala’ harus dilakukan hingga seseorang mempunyai bashirah dan pendengaran tentang bala’ tersebut. Banyak orang mengatakan bahwa dirinya ridha ketika ia menerima ujian karena semua hal yang menimpa dirinya datangnya dari Allah. Keadaan demikian mungkin saja bukan sikap yang sempurna terhadap ujian dari Allah. Kesempurnaan sikap ridha menerima ujian itu adalah manakala seseorang mempunyai pengetahuan tentang masalah yang menimpa dirinya dari pendengaran dan bashirah yang diberi. Orang yang mengatakan bahwa semua hal atas dirinya datangnya dari Allah belum tentu sebenarnya bersikap ridha dengan ujian itu. Mungkin ada di antara orang demikian hanya membeo terhadap perkataan yang diajarkan orang lain kepada dirinya sedangkan hatinya boleh jadi tidak benar-benar lapang dengan ujian yang diberikan. Sebagian orang mengatakan demikian dan sungguh-sungguh berusaha merasa lapang dan ridha dengan ujian yang diberikan. Bukan hal yang salah untuk bersikap demikian, tetapi hendaknya perkataan itu tidak menjadi hijab yang menahan untuk melangkah lebih memahami masalah. Keahlian dalam bentuk bashirah dan pendengaran dalam masalah ujian yang datang itu lebih tepat menjadi indikator keridhaan seseorang terhadap ujian Allah.

Pernyataan di atas tidak dapat digunakan untuk menghukumi bahwa seseorang yang tidak mempunyai bashirah ataupun pendengaran tentang mushibah yang menimpa adalah orang yang tidak ridha dengan ujian. Sama sekali tidak demikian. Allah-lah yang menjadikan seseorang itu mempunyai bashirah dan pendengaran, bukan usaha manusia itu sendiri. Kadangkala seseorang tersibukkan dengan banyak urusan yang harus dikerjakan hingga ia tidak memperhatikan ujian yang menimpa dirinya, sedangkan ia tidak merasa kecewa karena ujian itu. Karena merasa ringan saja terhadap ujian itu, ia tidak memperoleh bashirah dan pendengaran tentang ujiannya. Ini barangkali bukan sikap yang tepat, tetapi bukan suatu bentuk kekufuran. Apabila seseorang merasa ridha, ia seharusnya bersikap memperhatikan ujian yang ditimpakan kepada dirinya hingga ia memperoleh bashirah dan pendengaran tentang masalah ujiannya. Seharusnya tingkat kesibukannya dikurangi hingga ia dapat memperhatikan masalah ujiannya hingga Allah memberikan bashirah dan pendengaran tentang ujiannya, terutama kesibukan-kesibukan yang mungkin sebenarnya hanya memperturutkan hawa nafsu. Kehidupan modern dewasa ini cenderung menjebak manusia dalam banyak kesibukan hingga manusia tidak memperhatikan ujian yang datang dari sisi Allah.

Keahlian berupa bashirah dan pendengaran yang terbentuk melalui ujian yang diberikan Allah bersifat lebih haq daripada pengetahuan yang dikejar berdasarkan keinginan diri sendiri. Dewasa ini kebanyakan manusia belajar dengan sungguh-sungguh untuk mengejar cita-cita, atau sebagian orang berusaha mengenali diri dengan belajar mengikuti dorongan dalam diri. Sebenarnya cita-cita ataupun pengenalan seseorang terhadap hawa nafsu sendiri itu tidak mendatangkan bashirah ataupun pendengaran sekuat kebersyukuran dalam menerima mushibah. Boleh jadi akan sangat banyak ilusi ataupun tipuan-tipuan yang datang kepada orang-orang yang membina bashirah dengan mengejar cita-cita sendiri ataupun hawa nafsu, karenanya seseorang perlu berhati-hati membangun bashirah dan pendengaran dengan cara demikian. Allah menjelaskan bahwa Dia akan memberikan bashirah dan pendengaran kepada seseorang melalui ujian.

Bentuk ujian itu kadangkala bukan ujian yang menimpa diri sendiri, akan tetapi ujian yang menimpa masyarakat. Ujian demikian juga sangat berguna dalam membangun bashirah dan pendengaran, dan tidak sia-sia apabila seseorang membina bashirah dan pendengaran melalui mushibah yang terjadi pada kaumnya. Menghadapi mushibah bersama dengan kaum merupakan sarana membentuk kasih sayang di antara masyarakat maka membina bashirah dan pendengaran bersama dengan kaum akan menjadi bashirah dan pendengaran yang benar. Ilusi ataupun tipuan yang datang pada pembinaan bashirah dan pendengaran dengan cara demikian akan lebih sedikit hingga dapat menjadi jalan membina bashirah dan pendengaran yang lebih selamat. Walaupun mungkin lebih sedikit, setiap orang tetap harus berhati-hati terhadap ilusi dan tipuan yang mungkin muncul dalam bashirah dan pendengaran. Pendengaran dan bashirah yang benar yang menyertai suatu ujian hendaknya digunakan untuk memahami kehendak Allah dengan akal.

Ada banyak kualitas bashirah yang bisa diterima oleh seseorang yang mempengaruhi petunjuk. Kadangkala seseorang memperoleh bashirah dan pendengaran dengan jalan meniru apa-apa yang sampai kepada orang lain, maka pendengaran dan bashirah demikian seringkali bersifat lemah. Seringkali orang-orang demikian memperolehnya karena obsesi terhadap apa yang diceritakan oleh orang lain, bukan suatu bashirah dan pendengaran yang muncul dari bala’ yang diberikan kepada mereka. Kelemahan pada hal demikian terletak pada nafs, bukan semata benar atau tidaknya bashirah dan pendengaran. Tanda lemahnya adalah seringkali orang demikian lebih suka bercerita kepada orang lain tentang bashirah dan pendengaran mereka daripada memastikan kebenarannya dari sumbernya yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka kurang membutuhkan kebenaran tetapi lebih membutuhkan pengakuan terhadap konsep kebenaran dirinya. Bashirah dan pendengaran demikian bukan dasar yang cukup kuat untuk memahami kehendak Allah. Bashirah dan pendengaran yang paling kuat adalah pendengaran dan bashirah yang diberikan melalui ujian, dan itu dapat mengantarkan seseorang untuk memahami ayat-ayat Allah secara sinergis baik ayat kauniyah ataupun ayat kitabullah.

Bersyukur Terhadap Petunjuk Allah

Bashirah dan pendengaran yang diberikan kepada seseorang akan menjadikan penguat bagi akal mereka. Akal yang berkembang pada diri seseorang akan menuntun mereka untuk mengenal petunjuk Allah terkait jalan Allah yang harus ditempuh. Jalan yang merupakan petunjuk Allah adalah jalan yang menyatukan umat manusia pada urusan Allah untuk membangkitkan kebaikan-kebaikan di antara umat manusia, dan hal itu dapat dimengerti oleh orang-orang yang menggunakan akalnya dengan benar. Tanpa akal, mustahil seorang manusia dapat mengenali petunjuk Allah. Manakala suatu jalan membangkitkan keburukan-keburukan di antara manusia, jalan itu bukanlah dari petunjuk Allah yang diturunkan kepada manusia. Adapun petunjuk-petunjuk yang datang bukanlah petunjuk dari Allah.

Suatu bashirah atau pendengaran kadangkala tampak bertentangan dengan persepsi seseorang terhadap realitas. Bashirah dan pendengaran yang demikian harus disikapi dengan benar, karena ia bisa menyesatkan atau bersifat membongkar waham manusia. Seseorang yang menerima bashirah atau pendengaran demikian harus meneliti apakah itu merupakan petunjuk yang bermanfaat untuk membongkar waham atau merupakan suatu bashirah dan pendengaran yang menyesatkan. Setiap bashirah dan pendengaran yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah bahan petunjuk menyesatkan. Di sisi lain, tidak jarang manusia terkurung dalam suatu waham yang keliru hingga harus diperbaiki dengan suatu bashirah dan pendengaran tertentu. Bashirah dan pendengaran demikian dapat membongkar pemahaman yang keliru mulai dari konsep fundamentalnya hingga masalah terinci, atau memperbaiki informasi tertentu saja.

Misalnya seseorang tidak menyukai sesuatu tetapi kemudian memperoleh suatu bashirah atau pendengaran tertentu yang ia harus berusaha menyukai sesuatu yang tidak disukainya itu. Mengubah cara bersikap demikian kadangkala harus dilakukan dengan mengubah banyak pengetahuan dalam dirinya, tidak bisa dilakukan hanya dengan mengubah rasa suka atau tidak suka. Bahkan pengubahan sikap itu kadangkala tidak cukup dilakukan hanya dengan mengubah susunan pengetahuan dalam diri saja, tetapi harus dilakukan dengan mengubah keadaan masyarakatnya. Suatu masyarakat yang terkungkung dalam waham yang salah kadangkala mempertahankan informasi yang salah dan memaksakannya berlaku secara umum, maka bashirah dan pendengaran seseorang yang benar pada diri seseorang hanya dapat diikuti manakala waham dalam masyarakat diubah mengikuti tuntunan yang benar. Seseorang yang mempunyai bashirah dan pendengaran yang telah menjadi petunjuk tertentu menuju jalan Allah kadangkala tidak dapat mengikuti jalan itu kecuali setelah melakukan pengubahan waham pada masyarakat, dan waham itu mengunci masyarakat pada kegelapan jauh dari petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Bashirah dan pendengaran yang bersifat demikian hendaknya benar-benar dipahami kebaikannya bagi masyarakat luas. Seseorang tidak perlu berkeinginan untuk menjadi tokoh pengubah pemahaman masyarakat dengan mengharapkan petunjuk yang bersifat menentang cara pikir orang banyak. Apabila seseorang memperoleh bashirah dan pendengaran yang sifatnya membongkar waham, hendaknya ia benar-benar memahami terlebih dahulu kebaikan dari bashirah dan pemahamannya itu tidak menggunakannya secara sembarangan untuk menentang masyarakat. Ia harus mengerti terlebih dahulu pentingnya makna pengubahan pemahaman itu terhadap dirinya sendiri, dan apabila dipandang bermanfaat bagi masyarakat luas maka ia hendaknya menyampaikan pemahamannya dengan cara yang baik, menghindari keinginan untuk dipandang sebagai pengubah paradigma masyarakat.

Apabila seseorang telah menemukan bashirah itu sebagai petunjuk menuju jalan Allah, hendaknya ia bersyukur dengan mengikuti petunjuk tersebut. Dalam keadaan tertentu bersyukur bukan hal yang mudah dilakukan di mana setiap pihak mungkin saja menghalangi jalan untuk menunaikan petunjuk jalan itu. Tidak semua kebenaran itu bisa serta merta diterima oleh masyarakat umum. Seringkali manusia tidak dapat memahami petunjuk Allah yang diturunkan kepada salah seorang di antara mereka karena mengikuti waham diri sendiri ataupun mengikuti bisikan-bisikan syaitan dan kemudian berusaha menghalangi seseorang untuk mensyukuri petunjuk Allah dengan usaha yang sangat keras. Mereka mungkin saja berusaha menghalangi hingga merusak segala hal yang mendukung terlaksananya rasa syukur itu, terutama apabila syaitan mempunyai jalan untuk menimbulkan kerusakan. Manakala seseorang dalam keadaan demikian, hendaknya ia menghitung potensi-potensi kerusakan yang mungkin ditimbulkan apabila ia berusaha mengikuti petunjuknya, dan mencari jalan bersyukur yang paling kecil kemungkinan kerusakannya. Apabila petunjuk itu bisa dilaksanakan dengan mudah, hendaknya mereka tidak bersikap kufur terhadap petunjuk jalan Allah tersebut dengan mengikuti petunjuk Allah.



Selasa, 09 Desember 2025

Bersyukur Untuk Nikmat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang mendapat nikmat Allah. Memperoleh nikmat Allah artinya adalah mereka mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Nikmat Allah bukanlah bentuk-bentuk kekayaan atau perhiasan dunia saja, tetapi utamanya adalah pengetahuan tentang jalan kehidupan yang ditentukan Allah. Adapun melimpahnya kekayaan atau perhiasan dunia merupakan oleh-oleh yang mungkin akan diperoleh manakala seseorang menempuh jalan yang ditentukan.

Memperoleh oleh-oleh ataupun tidak memperolehnya bukanlah sesuatu yang dipikirkan oleh orang-orang yang mengharapkan nikmat Allah. Mereka hanya mengharapkan untuk memperoleh petunjuk tentang jalan yang ditentukan bagi diri mereka berupa jalan yang lurus, dan dapat melaksanakan petunjuk jalan kehidupan sesuai yang ditentukan Allah. Ini adalah kebersyukuran, dan orang yang mengharapkan nikmat Allah sangat berharap untuk dapat bersyukur. Orang-orang yang dapat bersyukur terhadap nikmat Allah akan memperoleh oleh-oleh dalam berbagai bentuk termasuk harta kekayaan duniawi. Sayangnya syaitan telah bersumpah akan menghalangi manusia dengan sungguh-sungguh hingga sangat sedikit manusia yang dapat bersyukur, sekalipun mungkin mereka mengharapkannya.

﴾۷﴿وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim : 7)

Allah menyiarkan kepada makhluk bahwa apabila seorang makhluk bersyukur niscaya Dia akan menambahkan nikmat kepadanya, dan sebaliknya apabila makhluk kufur terhadap nikmat Allah, mereka akan menghadapi adzab yang sangat pedih. Orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang melaksanakan jalan kehidupan yang ditentukan, sedangkan orang yang kufur adalah orang-orang yang tidak menginginkan jalan kehidupan yang ditentukan Allah sedangkan ia menginginkan yang lain. Tidak semua orang yang tidak bersyukur adalah orang yang kufur. Ada orang-orang yang tidak dapat bersyukur karena syaitan menghalangi langkahnya untuk bersyukur, sedangkan ia tidak ingin kufur. Apabila ia senang ditipu syaitan untuk memilih jalan yang kufur, ia termasuk orang yang kufur.

Ayat di atas terkait dengan diutusnya nabi Musa a.s untuk memimpin kaumnya untuk keluar dari kegelapan negeri mesir yang menghimpit bani Israel menuju tanah yang dijanjikan di tanah Kanaan. Perjalanan itu sebenarnya merupakan tauladan bagi manusia bahwa sebenarnya setiap manusia mempunyai tanah yang dijanjikan berupa jati diri penciptaannya, dan setiap orang hendaknya keluar dari kegelapan kehidupan dunia menuju tanah yang dijanjikan. Di tanah yang dijanjikan itulah terdapat nikmat Allah yang akan menumbuhkan kebersyukuran manusia menjadi bentuk-bentuk kemakmuran hingga kemakmuran duniawi. Perjalanan seperti bani Israel demikian merupakan fragmen bagian dari perjalanan nabi Ibrahim a.s ke tanah suci untuk membentuk bayt. Islam mencontohkan perjalanan demikian dalam bentuk pernjalanan menuju tanah suci untuk berhaji ke bayt sebagaimana millah nabi Ibrahim a.s. Tanah suci atau tanah yang dijanjikan itu adalah tempat nikmat Allah akan diketahui seseorang.

Kebersyukuran terhadap Allah tidak hanya diperintahkan kepada orang-orang yang mengenal nikmat Allah. Setiap orang harus berusaha bersyukur kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari dengan berusaha menjalani bentuk kehidupan yang mendatangkan kebaikan, tidak bertindak pragmatis selalu mencari keuntungan bagi diri sendiri saja. Dewasa ini barangkali sangat sulit menemukan orang yang mengenal nikmat Allah, akan tetapi sebenarnya setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan kehidupan yang harus ditentukan pilihannya berdasarkan nilai kebaikan yang dihasilkan. Hal itu juga merupakan media bersyukur, bukan hanya berbentuk nikmat berupa shirat al-mustaqim. Kemakmuran bagi masyarakat luas akan diperoleh oleh masyarakat yang dapat bersyukur dalam menentukan pilihan-pilihan kehidupan mereka, dan kesulitan akan menimpa masyarakat yang tidak dapat bersyukur. Tidak jarang masyarakat yang tidak bersyukur dipimpin oleh orang-orang yang paling jahat di antara mereka hingga orang-orang jahat itu menikmati kehidupan di atas penderitaan masyarakatnya.

Kebersyukuran masyarakat umum itu hendaknya diarahkan untuk mengenal nikmat Allah yang sebenarnya. Allah menurunkan gambaran nikmat Allah itu hingga dalam bentuk kehidupan yang paling umum di alam dunia, sedemikian setiap orang mampu belajar mensyukuri nikmat Allah berdasar gambaran nikmat Allah yang dijumpai dalam kehidupan dirinya. Bentuk yang paling menggambarkan nikmat Allah dalam kehidupan umum adalah pemilihan jodoh yang tepat. Perempuan(-perempuan) tertentu merupakan bagian diri seorang laki-laki yang diturunkan (dan dipisahkan) dari dirinya. Setiap orang mempunyai bagian diri yang diturunkan dari dirinya di alam semesta yang dipisahkan dari dirinya, dan bagian pertama yang diturunkan itu berbentuk perempuan yang seharusnya menjadi isterinya. Para perempuan itu membawa pula bagian-bagian bagi diri mereka dari alam dunia layaknya telur yang dapat dilahirkan sebagai anak-anak setelah dibuahi. Manakala seseorang dapat bersyukur dalam memilih jodoh menikahnya, ia akan memperoleh jalan yang lapang untuk mengenal nikmat Allah.

Setiap orang hendaknya bersikap secara tepat terhadap hubungan dirinya dengan semesta yang tumbuh mengikuti pernikahan. Ia harus bersungguh-sungguh dalam pergaulannya dengan semesta dirinya baik isterinya, pekerjaan yang diperoleh dan segala sesuatu yang tumbuh dalam kebersamaan mereka. Kesungguh-sungguhan itu akan mendatangkan pemakmuran bagi alam duniawi mereka. Kebutuhan jasmani akan terpenuhi dengan aspek ragawi yang terkumpul dari penyatuan nafs wahidah, dan kebutuhan pengetahuan akan terpenuhi dengan ketakwaan dalam penyatuan nafs wahidah. Hal demikian tidak boleh dipandang sebagai sikap mempertuhankan pekerjaan ataupun jalan-jalan duniawi yang ditempuh, tetapi sebagai sikap mensyukuri keberpasangan yang ditetapkan Allah bagi dirinya baik dalam bentuk isteri, amal-amal duniawi yang harus ditunaikan ataupun harta benda duniawi yang harus dikelola. Manakala seseorang bersikap tidak menghormati keberpasangan dirinya, kehidupan dunia akan menjadi berantakan. Kesulitan dalam keberpasangan yang baik harus dihadapi dengan baik tidak boleh ditinggalkan karena merupakan bentuk kebersyukuran terhadap bagian diri.

Syukur, Pasangan dan Pemakmuran

Tumbuh berkembangnya alam bumi terjadi di antaranya melalui keberpasangan di antara para makhluk, dan ini merupakan bentuk pertumbuhan yang paling menonjol. Keberpasangan di antara para makhluk di bumi merupakan suatu wadah bagi limpahan kekuatan yang hendak Allah perkenalkan kepada makhluk agar mereka mereka mengenal Allah. Makhluk diberi limpahan kekuatan secara terbatas menumbuhkan milik Allah agar mereka mengetahui kekuatan besar Sang Maha Pemberi. Batasan limpahan kekuatan itu dapat dilihat melalui keberpasangan, bahwa karunia itu hanya berlaku pada urusan-urusan yang tepat bersama pasangannya. Manakala makhluk mengetahui adanya suatu perkembangan karena suatu interaksi keberpasangan, mereka akan mampu mengetahui bahwa seluruh dinamika di alam semesta terjadi karena suatu sebab bukan terjadi dengan sendirinya.

﴾۶۳﴿سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
Maha Suci (Tuhan) yang telah menciptakan berpasang-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS YaaSiin : 36)

Pemakmuran bumi dapat dilakukan manusia melalui keberpasangan yang tepat, terutama dimulai dengan keberpasangan nafs mereka sendiri. Nafs manusia diciptakan dengan membawa khazanah Allah secara parsial dan berpasangan, berupa pengetahuan tentang kehendak Allah pada nafs laki-laki dan khazanah duniawi pada nafs perempuan. Keberpasangan nafs manusia itu berhubungan dengan keberpasangan makhluk yang tumbuh di bumi ataupun keberpasangan dalam hal-hal yang tidak diketahui manusia. Mempertemukan kepingan-kepingan nafs yang mempunyai khazanah yang berpasangan dengan tepat ataupun dengan baik dalam suatu wadah pernikahan akan membuka suatu perkembangan yang besar di bumi, dan hal itu akan mendatangkan pemakmuran yang besar dengan tumbuhnya makhluk bumi dengan keberpasangannya. Manakala nafs-nafs mengejar hawa nafsu saja dalam membentuk pernikahan, bentuk-bentuk pemakmuran yang akan tumbuh banyak berbentuk pemenuhan-pemenuhan hawa nafsu saja bukan pemakmuran yang menyentuh pengenalan kepada Allah.

Orang-orang yang bersyukur dengan keberpasangan mereka akan mendatangkan pemakmuran di alam dunia, dan sebaliknya orang-orang yang kufur akan mendatangkan kerusakan yang besar. Suatu keberpasangan yang tepat akan mendatangkan potensi pemakmuran yang sangat besar bagi alam bumi mereka, akan tetapi potensi demikian dapat mengarah pada berbagai keadaan. Potensi itu dapat terwujud secara nyata di alam dunia apabila kedua pihak berpasangan dapat bersinergi dengan baik untuk urusan yang ditentukan bagi mereka. Manakala salah satu atau kedua pihak bersikap kufur, potensi itu akan sulit terwujud di alam dunia dan tidak jarang justru mendatangkan kerusakan. Kadangkala suatu potensi pemakmuran terlahir ke alam dunia akan tetapi dalam bentuk yang tidak menyenangkan harus dibina dengan baik untuk terwujud sebagai pemakmuran.

Sikap kufur akan mendatangkan kerusakan di antara masyarakat. Konsep yang salah tentang keberpasangan dapat memunculkan sikap-sikap kufur yang dapat merusak tatanan umat manusia dan merusak suatu bangsa. Setiap orang harus membangun pemahaman yang benar dan berusaha bersikap mengikuti pemahaman yang benar tidak bersikap semau sendiri agar tidak terjatuh pada kekufuran. Setiap orang harus membina pemahaman yang benar tentang nafs wahidah dan keberpasangannya serta turunan-turunannya sebagai landasan untuk mewujudkan ketakwaan kepada Allah. Ketakwaan demikian itu akan melahirkan tatanan yang manusia yang benar membentuk masyarakat madani, membangun kebersyukuran dan menghindarkan seseorang bersikap kufur tanpa menyadarinya. Tanpa landasan yang benar tentang pengetahuan diri, tidak akan terbentuk tatanan manusia yang cukup baik untuk membangun masyarakat yang beradab.

Setiap orang harus berusaha untuk bersyukur terkait diri mereka dengan berusaha bertindak sesuai dengan tuntunan Allah tidak mengikuti hanya keinginan syahwat dan hawa nafsu sendiri. Dalam hal pasangan, apabila seseorang memperoleh kemampuan mengenali kesatuan nafs wahidah dirinya pada pasangannya, hendaknya ia berusaha untuk mensyukuri dengan berusaha membangun pernikahan bersama orang tersebut kecuali bila syaitan mempunyai jalan mendatangkan madlarat yang besar dalam upaya mencegahnya. Akan sangat banyak halangan yang terjadi karena syaitan akan berusaha keras untuk mencegah seseorang bersyukur mengikuti tuntunan Allah. Keberpasangan itu akan mendatangkan pemakmuran yang besar bagi semesta alam. Dalam hal lainnya, apabila seseorang diberi beberapa kesempatan bekerja, hendaknya ia bersyukur dengan mengutamakan manfaat yang dapat diberikan bagi masyarakat luas dengan pekerjaan yang dilaksanakan, tidak bersikap pragmatis dengan keuntungan diri yang akan diperoleh. Demikian pula apabila seseorang memperoleh suatu kedudukan di antara masyarakat, hendaknya ia bersyukur terhadap kedudukannya dengan membuat keputusan-keputusan yang paling bermanfaat besar bagi masyarakat. Kesempatan kerja atau kedudukan dan hal duniawi lain dalam banyak hal merupakan bentuk keberpasangan yang mungkin tidak diketahui seseorang.

Berbuat kufur atau merusak hal demikian dapat mendatangkan kerusakan bagi umat manusia. Seorang suami atau isteri yang meninggalkan keluarganya untuk bersama orang lain akan mendatangkan kerusakan yang besar untuk keluarga yang ditinggalkannya, dan juga masyarakat. Dalam hal ini, seorang laki-laki mungkin saja membentuk keluarga yang lain tanpa meninggalkan keluarga terdahulu, tetapi tidak bisa dilakukan perempuan. Sikap kufur itu bisa terjadi tidak hanya pada orang yang berkeluarga. Orang yang memilih pasangan tanpa mempertimbangkan agama (termasuk keberjodohan nafs wahidah) mungkin bersikap kufur. Orang yang memilih pasangan hanya berdasar harta atau kecantikan atau kedudukan saja tanpa mempertimbangkan agamanya akan mendatangkan kerugian bagi dirinya sendiri. Kadang seseorang bertindak kufur dengan meninggalkan kedudukan diri yang paling bermanfaat bagi masyarakat untuk memperoleh keuntungan materi atau karena meninggalkan beratnya tugas. Kerugian diri sendiri itu akan menjadi masalah bagi orang lain, dari orang-orang yang dekat hingga bagi masyarakat secara umum.

Melahirkan potensi pemakmuran harus dilakukan dengan sinergi yang baik oleh kedua pihak yang berpasangan. Seringkali melahirkan potensi pemakmuran itu tidak dapat dilahirkan hanya oleh satu pihak saja. Ibaratnya mendidik seorang anak, barangkali seorang anak bertabiat tidak menyenangkan karena rumah tangga orang tuanya yang kurang baik. Kedua orang bisa saling menyalahkan satu dengan yang lain karena tabiat itu. Barangkali salah satu menyadari bahwa tabiat itu ada pada dirinya, tetapi sebenarnya ia terkendala suatu masalah yang seharusnya diselesaikan oleh dua pihak. Misalnya seorang anak yang tidak tumbuh sikap tanggung jawabnya, kemudian ibunya melihat sumber dari sifat itu pada ayahnya. Ayahnya menyadari adanya sifat demikian pada dirinya, tetapi ia melihatnya hanya pada hal-hal kecil saja, sedangkan ia mempunyai tanggung jawab yang besar pada masalah keumatan yang harus ditunaikan. Bila tidak terbina kesepahaman di antara kedua orang tua itu, masalah itu tidak terpecahkan. Tanggung jawab masalah keumatan tidak tertunaikan ayahnya, tanggung jawab kecil di rumah tetap menjadi beban besar bagi keluarga, dan anak itu tidak belajar tanggung jawab dari orang tuanya dan bisa saja ikut tumbuh suka menyalahkan. Bila kedua pihak dapat bersinergi untuk mewujudkan amanah, anak dan keluarga itu akan tumbuh dengan baik memberikan manfaat bagi umat manusia. Melahirkan potensi kemakmuran harus diusahakan secara sinergis oleh setiap pasangan.

Minggu, 07 Desember 2025

Membina Diri Mengenal Al-Jamaah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mendekat kepada Allah harus dilakukan dengan jalan yang benar yaitu mengikuti Rasulullah SAW, tidak bisa dilakukan dengan menempuh jalan sendiri. Ada beberapa langkah turunan yang merupakan tanda benarnya seseorang dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW dalam bentuk yang berada dalam diri sendiri berupa pengenalan terhadap nafs wahidah.

﴾۱﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafs wahidah, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (nama)-Nya kamu saling bertanya satu sama lain, dan hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa’ : 1)

Nafs wahidah merupakan jati diri penciptaan manusia yang mengenal kedudukan diri dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Ia disebut nafs wahidah karena mengetahui kesatuan urusan dengan nafs wahidah yang lain dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Ia mengenal bahwa nafs-nafs wahidah yang lain merupakan nafs yang sama-sama merupakan bagian dari satu amr Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Dari sudut pandang alam bawah, nafs wahidah merupakan entitas yang mengenal kedudukan Rasulullah SAW di semesta alam hingga dapat bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah SAW, dan kemudian mengenal bahwa Tiada Ilah selain Allah. Dalam sudut pandang amr, nafs wahidah itu dapat bersaksi bahwa Tiada Ilah selain Allah dan bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah SAW.

Di sisi bawah, nafs wahidah juga mempunyai bagian-bagian diri yang diturunkan ke alam dunia sebagaimana dirinya juga merupakan bagian dari Rasulullah SAW. Ayat di atas menjelaskan peran nafs wahidah ke alam bawah, tetapi tetap mencantumkan fungsinya sebagai bagian dari Rasulullah SAW dengan memberi atribusi perempuan pada nafs wahidah. Atribusi perempuan pada nafs wahidah menunjuk pada hubungan vertikal dirinya dengan (setidaknya) Rasulullah SAW. Mungkin seseeorang akan mengenal pula washilah-washilahnya kepada Rasulullah SAW apabila bertambah ilmunya. Seseorang mungkin saja mengenal imam Mahdi dan memberikan dedikasi kepada beliau a.s sebagai dedikasi kepada Rasulullah SAW. Seseorang di nusantara mungkin mengenal sang merah putih sebagai jalan dedikasinya kepada Rasulullah SAW. Itu merupakan sifat nafs wahidah. Seseorang yang mengenal nafs wahidah tidak menjadikan dirinya merasa sebagai puncak alam ciptaan, karena ia harus mengenal dirinya sebagai bagian dari Rasulullah SAW. Manakala seseorang mengenal nafs wahidah sebagai masterpiece alam ciptaan sendirian saja tanpa menjadi bagian dari Rasulullah SAW, seseorang sebenarnya tersesat dalam mengenal diri.

Kebanyakan orang menyangka bahwa ayat di atas menjelaskan tentang penciptaan manusia dari Adam dan Hawa sebagai manusia pertama. Sebenarnya ayat tersebut lebih tepat merupakan penjelasan tentang asal penciptaan manusia dari sisi bathiniah berupa nafs wahidah. Perkembangan manusia yang diceritakan pada ayat di atas disebut berawal dari gender perempuan yang merujuk pada nafs wahidah yang disebut dengan kalimat وَخَلَقَ مِنْهَا. Bila asal-usul yang dijelaskan merujuk kepada Adam, kalimat yang akan disebut seharusnya dalam gender laki-laki tidak disebut sebagai وَخَلَقَ مِنْهَا.

Mengenal nafs wahidah adalah mengenal diri sebagai bagian dari pembawa kebenaran. Ia juga berfungsi sebagai pemimpin terhadap bagian dirinya di sisi bawah. Isteri merupakan bagian diri paling nyata yang diturunkan dari nafs wahidah seseorang. Sebenarnya jasmaniah diri juga merupakan bagian yang diturunkan dari nafs wahidah, tetapi jasmani itu dihitung sebagai diri sendiri, bukan bagian diri yang dipisahkan. Perempuan(-perempuan) tertentu merupakan bagian diri yang diturunkan (dan dipisahkan) dari diri seorang laki-laki sebagaimana jasmani diri itu diturunkan bagi nafs wahidah. Setiap orang mempunyai bagian diri yang diturunkan dari dirinya di alam semesta yang dipisahkan dari dirinya, dan bagian pertama yang diturunkan itu berbentuk perempuan yang seharusnya menjadi isterinya. Para perempuan itu membawa pula bagian-bagian bagi diri mereka dari alam dunia layaknya telur yang dapat dilahirkan sebagai anak-anak setelah dibuahi.

Seorang laki-laki atau perempuan dapat menemukan nafs wahidah asal penciptaan diri mereka melalui pernikahan. Walaupun tidak semua pernikahan berbentuk hubungan nafs wahidah dengan pasangan yang diciptakan dari dirinya, setiap pernikahan yang baik akan menjadi media pengantar untuk mengenal nafs wahidah. Setiap manusia harus mengikuti syariat tentang pernikahan tidak mengubah ketentuan karena konsep nafs wahidah. Mengenal nafs wahidah merupakan pembuka pintu bagi seseorang untuk menjadi bagian al-jamaah. Ia mengenal penciptaan dirinya dan mengenal kedudukan Rasulullah SAW serta orang-orang yang bersama dengannya di jalan Allah.

Menurunkan Kehendak Allah Ke Alam Bumi

Bentuk perjuangan yang paling utama akan ditemukan oleh seseorang manakala ia dapat mengenali nafs wahidah dirinya. Ia mengenali kedudukan dirinya dalam jihad amr jami’ rasulullah SAW dan dapat mengenali kandungan dalam tuntunan kitabullah Alquran yang diperuntuhkkan bagi dirinya. Ia tidak mengenal seluruh kandungan tuntunan kitabullah Alquran sebagaimana Rasulullah SAW, tetapi pengetahuannya tidak keluar dari pengetahuan Rasulullah SAW. Ia mengenal kedudukan dirinya dalam Al-jamaah, dan dapat memahami kebenaran yang dikenali oleh sahabatnya sekalipun bisa saja sebenarnya ia tidak memperoleh pengetahuan yang sama di dalam dirinya tetapi sekadar karena mereka bersama-sama mengikuti amr jami’ Rasulullah SAW dengan berpegang pada tuntunan kitabullah. Kadangkala seseorang merasa asing terhadap urusan yang diperjuangkan sahabatnya karena mengikuti hawa nafsu, baik merasa asing dalam bentuk kurang mengenal atau merasa asing dengan kecurigaan atau penyangkalan. Seseorang akan kurang mengenal nilai amal sahabatnya apabila berasal dari hawa nafsu yang kadangkala terlihat baik, dan merasa curiga atau menyangkal apabila berasal dari tipuan syaitan. Berjuang untuk Allah harus dilakukan dengan memperhatikan perintah Allah dari kitabullah yang perlu diperjuangkan, tidak mengikuti perintah yang hanya berasal dari hawa nafsu.

Setiap orang beriman hendaknya berusaha memahami realitas kauniyah dan ayat-ayat Allah tidak mengabaikan perintah Allah dalam Alquran yang telah digelar ayat-ayat kauniyahnya di hadapan mereka. Perhatian orang beriman terhadap ayat-ayat itu akan membentuk suatu citra dalam dirinya tentang kehendak Allah. Usaha memahami ayat-ayat Allah demikian hendaknya dilakukan dalam suatu kaidah membentuk misykat cahaya diri. Misykat cahaya dapat dilihat gambarannya seperti kamera yang membentuk bayangan nyata dalam diri berdasarkan cahaya objek di luar. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar terbentuk bayangan yang baik di dalam misykat diri seseorang. Misykat diri itu harus rapat tidak boleh bocor cahaya, dibina dengan keikhlasan dalam ibadah kepada Allah semata-mata. Lensa berupa zujajah itu harus dapat diatur fokusnya dengan tepat, dibina dengan penghayatan sifat rahman dan sifat rahim untuk memahami ayat Allah. Manakala tidak terbentuk sifat rahman dan rahim dalam diri seseorang, fokus lensa itu akan membentuk bayangan yang tidak tepat. Bayangan cahaya yang tepat itu hanya terbentuk dari zujajah yang terbina dalam sifat rahman dan rahim. Objek yang harus dibidik orang beriman adalah cahaya dari ayat-ayat Allah berupa ayat kitabullah dan ayat yang digelar di alam kauniyah. Pembinaan diri sebagai misykat cahaya harus ditempuh melalui jalan tazkiyatun-nafs dan seterusnya sebagai bagian dari langkah taubat kepada Allah.

Sebagian manusia berusaha memahami kehendak Allah tetapi tidak memperhatikan ayat Allah dari kitabullah dan ayat kauniyah yang terjadi. Perjuangan demikian hanya merupakan perjuangan yang hanya mengikuti waham, tidak akan mendatangkan hasil yang baik dan kokoh. Kadangkala mereka melihat kauniyah yang terjadi tetapi tidak memperhatikan ayat kitabullah terkait dengan peristiwa tersebut, maka ia tidak memperoleh citra dari firman Allah. Kadangkala seseorang mempelajari ayat-ayat kitabullah tetapi hanya memperbesar kesombongan diri kemudian memperjuangkan kesombongan dirinya. Seringkali mereka memperjuangkan sesuatu yang tidak dipahami manfaatnya dan menyangka wahamnya bermanfaat sebagaimana kaum khawarij. Ada banyak keadaan yang bersifat lebih halus daripada kesombongan atau tidak memperhatikan ayat Allah, dan hal itu dapat menyuburkan waham. Misalnya suatu kaum berusaha memahami kehendak Allah tetapi lebih mempercayai perkataan manusia daripada ayat kitabullah, kadang hingga mendustakan kitabullah. Hal-hal demikian mudah terjadi apabila memahami ayat tidak dilakukan dengan membina misykat cahaya diri dengan benar.

Bila seseorang membina misykat cahaya diri, citra kehendak Allah akan terbentuk dalam dirinya. Terbentuknya citra itu harus diikuti dengan proses penataan untuk menghubungkan kehendak Allah ke alam bumi. Penataan kauniyah itu dimulai dengan penataan keluarga, diikuti dengan penataan masyarakat hingga masyarakat melakukan penataan terhadap lingkungan masing-masing. Penataan manusia dalam tatanan bermasyarakat yang baik harus dilakukan dengan melakukan penataan dalam keluarga. Tidak mungkin melakukan penataan masyarakat tanpa melakukan penataan keluarga. Kadangkala suatu kaum berusaha keras mewujudkan suatu cita-cita dalam agama tetapi tidak dilakukan penataan keluarga maka cita-cita itu tidak pernah tercapai. Orang-orang mungkin ingin mengenal penciptaan diri masing-masing tetapi tatanan keluarga justru dirusak, maka cita-cita itu tidak akan pernah terwujud. Demikian pula barangkali orang-orang ingin mengenal Allah tetapi tidak memperbaiki keluarga, maka mereka tidak bisa mengenal Allah. Sebagian orang berusaha mewujudkan tatanan masyarakat yang baik tetapi keluarga mereka tidak diperhatikan maka tatanan demikian tidak terwujud. Keluarga merupakan kunci untuk membuka kebaikan dari sisi Allah yang dijadikan tauladan para uswatun hasanah.

Mensyukuri Keberpasangan

Di antara fungsi dari pernikahan adalah mencari pengetahuan tentang kehendak Allah, dan juga membina hubungan kasih sayang. Tatanan manusia baik individu maupun masyarakat terletak pada kedua hal tersebut. Kedua hal tersebut merupakan dua keadaan yang saling berhubungan. Kasih sayang yang seharusnya terbentuk di antara insan yang menikah berupa kasih sayang karena pengetahuan terhadap asma Allah, dan pengetahuan yang terbentuk di antara keduanya adalah pengetahuan atas dasar kasih sayang. Hubungan demikian akan terbentuk apabila manusia menempuh jalan ketakwaan dalam membentuk hubungan terhadap pasangannya. Pengetahuan tentang Allah dan kasih sayang itu akan menjadi bahan dalam melakukan penataan terhadap masyarakat luas dan lingkungan mereka.

Pengetahuan tentang kehendak Allah yang seharusnya dibina setiap orang dengan sebaik-baiknya adalah pengetahuan yang melekat dengan nafs wahidah dirinya. Pengetahuan demikian lebih mudah dipahami dalam bentuk turunannya sebagaimana pengetahuan yang diperoleh dari dekatnya seseorang dengan isterinya. Pengetahuan yang dibangkitkan pada diri seseorang melalui pernikahan mereka merupakan pengetahuan yang paling melekat dengan nafs wahidah. Tidak terbatas pada isteri, seseorang seharusnya membina pengetahuan sebaik-baiknya terkait dengan segala sesuatu yang terkumpul bagi mereka melalui pernikahan. Hal itu merupakan pengetahuan yang sebenarnya terkait kehendak Allah, dan merupakan hak bagi nafs wahidah. Penyatuan nafs wahidah dan apa-apa yang merupakan bagian bagi diri mereka merupakan jalan untuk memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah. Kadangkala seseorang banyak berbicara tentang hal-hal yang sebenarnya tanggung jawab tentang hal-hal itu tidak dapat dan tidak akan datang kepada dirinya, maka hal demikian bukan merupakan pengetahuan yang berguna. 

Setiap orang hendaknya bersikap secara tepat terhadap hubungan dirinya dengan semesta yang tumbuh mengikuti pernikahan. Ia harus bersungguh-sungguh dalam pergaulannya dengan semesta dirinya baik isterinya, pekerjaan yang diperoleh dan segala sesuatu yang tumbuh dalam kebersamaan mereka. Kesungguh-sungguhan itu akan mendatangkan pemakmuran bagi alam duniawi mereka. Kebutuhan jasmani kan terpenuhi dengan aspek ragawi yang terkumpul dari penyatuan nafs wahidah, dan kebutuhan pengetahuan akan terpenuhi dengan ketakwaan dalam penyatuan nafs wahidah. Hal demikian tidak boleh dipandang sebagai sikap mempertuhankan pekerjaan ataupun jalan-jalan duniawi yang ditempuh, tetapi sebagai sikap mensyukuri keberpasangan yang ditetapkan Allah bagi dirinya baik dalam bentuk isteri, amal-amal duniawi yang harus ditunaikan ataupun harta benda duniawi yang harus dikelola. Manakala seseorang bersikap tidak menghormati keberpasangan dirinya, kehidupan dunia akan menjadi berantakan. Kesulitan dalam keberpasangan yang baik harus dihadapi dengan baik tidak boleh ditinggalkan karena merupakan bentuk kebersyukuran terhadap bagian diri.

Barangkali seseorang akan menemukan berbagai tingkat hakikat dari segala sesuatu yang melekat pada diri mereka. Seseorang mungkin menemukan beberapa hal dalam diri isterinya yang mengantarkan dirinya mengenal kehendak Allah, dan sebagian permintaan lain dinilai sebagai anak-anak hawa nafsu. Gambaran lainnya, mungkin seseorang merasa lebih berguna ketika mengajar di sekolah tetapi tidak dapat meninggalkan pekerjaan sebagai pengemudi ojek sebagai sumber penghasilannya. Pada puncaknya, seseorang mungkin mengenal amal-amal yang dilakukan merupakan amal ditetapkan Allah bagi dirinya, dan sebagian pekerjaan lain yang harus dilakukannya adalah pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal-hal demikian akan ditemukan dalam kehidupan dan harus disikapi dengan sebaik-baiknya, tetapi hendaknya ia selalu berusaha untuk mengarahkan kehidupan untuk berjalan di atas shirat al-mustaqim. Kunci untuk dapat berjalan di shirat al-mustaqim adalah kebersamaan dengan isterinya membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, setelah melalui pengenalan terhadap nafs wahidah.

Setiap orang harus membina ketakwaan dirinya terkait nafs  sesuai dengan kemampuannya dengan memperhatikan kaidah-kaidah terkait nafs wahidah yang ditetapkan Allah. Apabila seseorang mampu menempuh jalan untuk mengenal kesatuan nafs wahidah dengan mengenal isteri-isteri yang diciptakan dari nafs wahidah dirinya, hendaknya ia berusaha mengenal isteri yang diciptakan dari dirinya. Kemampuan ini akan diberikan manakala seseorang menempuh jalan taubat dengan membina misykat cahaya. Apabila seseorang telah menikah tanpa mengenal nafs isterinya, ia harus memperhatikan isterinya dengan sebaik-baiknya. Mencari pasangan menikah tidak boleh dilakukan dengan melanggar syariat yang ditentukan Allah sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Tidak jarang syaitan menggunakan waham pengetahuan yang tinggi untuk merusak hubungan di antara manusia. Melakukan sesuatu berdasarkan pengetahuan yang tinggi dengan melanggar syariat merupakan jebakan syaitan untuk merusak manusia.

Ketakwaan terkait nafs wahidah hendaknya dibina agar seseorang dapat melaksanakan ibadah dalam bentuk amal-amal mengikuti nafs wahidah. Hal itu berarti seseorang melaksanakan amal sebagai bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW berdasarkan kitabullah, bukan amal yang ditunnaikan mengikuti waham. Bentuk paling baik ketakwaan demikian itu berupa terwujudnya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bisa saja seseorang merasa menunaikan amal berdasar nafs wahidah tetapi tidak ada bukti landasan dari kitabullah. Kadangkala ada landasan amalnya dari kitabullah tetapi sekadar kutipan tanpa memahami, dan pelaksanaannya menyimpang dari firman Allah. Kadangkala urusan yang dikerjakan bertentangan dengan tujuan dari tuntunan Allah, atau bahkan amalnya bertentangan dengan tuntunan kitabullah. Hal demikian tidak menunjukkan ketakwaan terkait nafs wahidah. Ketakwaan terkait nafs wahidah adalah keinginan mewujudkan pelaksanaan amal sebagai bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW berdasarkan kitabullah,

Selasa, 02 Desember 2025

Fitnah Sebagai Penguji Keimanan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Menempuh perjalanan kembali kepada Allah membutuhkan keimanan untuk mencahayai langkah menuju arah yang benar. Keimanan akan diketahui oleh diri seseorang apabila Allah telah menurunkan fitnah. Banyak orang menyangka dirinya beriman sedangkan Allah belum memperlihatkan tingkat keimanan mereka melalui suatu fitnah, maka sangkaan orang demikian belum mempunyai bukti yang shahih.

﴾۲﴿أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak ditimpa fitnah? (QS Al-’Ankabuut : 2)

Keimanan berkaitan erat dengan penggunaan akal dalam memahami kehendak Allah, yang akan ditunjukkan Allah kepada orang yang mengatakan dirinya beriman melalui fenomena fitnah yang terjadi. Tingkat keimanan dan fitnah keduanya saling berhubungan dengan penghubung berupa penggunaan pikiran dan akal dalam memahami kehendak Allah. Orang-orang yang mengatakan dirinya beriman pastilah akan ditunjukkan tingkat keimanannya dengan fitnah-fitnah yang menjalar di antara mereka. Orang-orang yang benar-benar beriman adalah orang-orang yang mengikuti tuntunan Allah, dan orang-orang yang dusta keimanannya ditunjukkan dengan pendustaan mereka terhadap ayat kitabullah. Di antara yang benar dan dusta keimanannya, terdapat orang-orang yang berusaha menggunakan akalnya untuk memahami tuntunan kitabullah. Ada orang yang lebih banyak mengikuti fitnah dan ada yang lebih mengikuti tuntunan kitabullah dalam urusan fitnah.

Penunjuk keimanan setiap orang secara khusus terdapat pada kasus fitnah yang terjadi. Secara umum orang yang mengatakan dirinya beriman akan merasa berpegang pada tuntunan kitabullah, tetapi mungkin sebenarnya tidak ada bukti bahwa mereka benar-benar berpegang pada tuntunan kitabullah. Penguji keimanan bagi orang yang mengatakan dirinya beriman adalah fitnah, sedangkan indikator keimanan ditunjukkan oleh sikap mereka dalam kasus fitnah. Orang yang mensikapi fitnah dengan pikiran mereka sendiri tidaklah mempunyai keimanan yang benar, dan orang yang mengikuti tuntunan kitabullah menunjukkan keimanan yang benar. Keimanan yang benar itu ditunjukkan dengan pahamnya seseorang terhadap persoalan sesuai dengan tuntunan Allah, bukan suatu keyakinan buta terhadap perkataan. Orang-orang yang taat secara membuta terhadap tuntunan Allah tidaklah menunjukkan baiknya keimanan, baru menunjukkan keislaman dan hal itu baik. Baiknya keimanan ada pada orang yang taat dan memahami kebaikan pada ketaatannya. Orang yang taat pada keburukan adalah orang yang buruk akhlaknya. Orang-orang yang taat pada tuntunan akan memperoleh kebaikan pada ketaatannya sesuai dengan pemahamannya terhadap tuntunan itu.

Fitnah akan menjalar di antara manusia melalui orang-orang yang tidak menggunakan dengan baik pikiran dan akalnya untuk memahami tuntunan Allah, terutama di antara orang-orang yang mengatakan dirinya beriman. Setiap orang beriman harus berusaha menggunakan pikiran dan akalnya untuk memahami tuntunan Allah agar dapat mensikapi kauniyah dirinya dengan benar terhindar mengikuti fitnah-fitnah yang terjadi. Apabila fitnah dapat menjalar dengan bebas di antara manusia, hal itu menunjukkan rendahnya tingkat penggunaan pikiran dan akal manusia di antara masyarakat tersebut.

Berbagai Keburukan Terkait Fitnah

Rendahnya tingkat penggunaan pikiran dan akal di antara masyarakat tidak hanya ditunjukkan dengan bebasnya penjalaran fitnah-fitnah di antara masyarakat. Mungkin saja suatu bencana terjadi karena rendahnya penggunaan pikiran dan akal. Seorang menteri yang tidak menggunakan pikiran dan akal dapat menimbulkan bencana bagi masyarakat luas apabila ia tidak menimbang kebijakan yang dibuat dengan benar berdasarkan pertimbangan yang terbaik. Boleh jadi kebijakan yang dibuat dipandangnya baik karena mendatangkan kekayaan yang banyak bagi dirinya dan orang-orang yang dekat dengan dirinya, atau bahkan bagi bangsa tetapi ia terlupa tidak mempertimbangkan dampak buruknya bagi masyarakat luas. Bila ia mengikuti hasrat sendiri, kerusakan itu akan sangat besar. Mungkin masukan-masukan dari orang-orang yang ahli dikesampingkan karena menghalangi kepentingan sendiri atau kelompoknya yang dipandangnya baik. Hal itu bisa menjadi indikator rendahnya tingkat penggunaan pikiran dan akal untuk menghasilkan rumusan pembangunan yang baik.

Indikator bagi orang-orang beriman dan komunitas orang beriman tentang rendahnya penggunaan akal dan pikiran adalah mudahnya penjalaran fitnah-fitnah di antara mereka. Kadangkala dua orang beriman menjadi bermusuhan dalam masalah-masalah tertentu karena fitnah yang menjalar. Mereka bermusuhan karena ada yang menjadikan mereka bermusuhan dengan memaksakan informasi yang salah. Seseorang mungkin tidak yakin bahwa kerusakan yang terjadi diperbuat sahabatnya, tetapi kerusakan itu nyata menimpa dirinya. Mungkin bukan kedua orang yang bermusuhan itu yang membuat fitnah, boleh jadi mereka hanya menjadi korban fitnah. Mereka bisa saja merasa bahwa kerusakan yang menimpa diri mereka mungkin tidak benar-benar disebabkan oleh sahabatnya, tetapi kerusakan yang ditimbulkan itu juga tidak bisa diterima. Mereka mungkin menyadari bahwa peristiwa itu adalah fitnah, tetapi tidak mampu bertindak untuk memastikan bahwa hal itu fitnah, karena kerusakan yang dapat ditimbulkan mungkin saja lebih parah. Seringkali memastikan kedudukan suatu peristiwa merupakan fitnah membutuhkan dua pihak yang bisa menggunakan akal dan pikiran dengan benar, tidak bisa ditempuh satu pihak saja. Kerusakan yang ditimbulkan ibarat mengatakan kebenaran pada pemimpin yang dzalim, masyarakat mungkin tidak mengetahui tipu daya yang mungkin diperbuat oleh pemimpin tersebut apabila dinasehati. Masyarakat mungkin tidak mampu berperan melaksanakan perintah Allah untuk mendamaikan orang beriman yang bermusuhan dan mungkin justru bertindak mengobarkan dan menjaga terjadinya permusuhan karena terbiasa tidak menggunakan akalnya untuk berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Itu adalah contoh fenomena yang dapat terjadi karena fitnah. Keadaan demikian mungkin terlalu rumit untuk dipahami tetapi sebenarnya mungkin saja terjadi pada kaum yang mengatakan diri beriman tetapi tidak menggunakan akalnya untuk memahami kehendak Allah. Rumitnya masalah terjadi karena setiap pihak pada kasus di atas seringkali merasa benar tidak berusaha melihat akar masalah terutama pada dirinya. Kerumitan itu bisa diurai apabila setiap pihak berpegang pada tuntunan kitabullah dan menyeru pada kebaikan, serta melakukan perbaikan pada diri sendiri sebelum mencegah kemunkaran orang lain. Persoalan demikian akan terus menjadi persoalan bila setiap pihak berpegang pada kebenarannya masing-masing, tidak berusaha memahami tuntunan Allah tentang urusan mereka.

Fitnah demikian itu dapat lebih mudah dilihat pada indikator yang lebih sederhana dalam bentuk rendahnya penggunaan akal pada orang-orang yang berpegang pada waham dalam berjuang di jalan Allah. Mereka berjuang untuk Allah, tetapi manakala seseorang menyampaikan perintah Allah dari kitabullah yang perlu diperjuangkan, mereka justru menganggap perintah itu hanya berasal dari hawa nafsu penyampainya, tidak berusaha memahami realitas kauniyah dan perkataan yang disampaikan. Mereka tidak menyadari bahwa perjuangan mereka mungkin hanya mengikuti waham tidak mempunyai dasar yang kokoh dari kitabullah. Mereka mungkin berbuat kebaikan tetapi hanya bersaing dalam kebaikan dengan orang-orang kebanyakan atau bahkan kafir tanpa memperhatikan perintah Allah. Karena lebih mengikuti waham, mereka mengabaikan perintah Allah dalam Alquran yang telah digelar ayat-ayat kauniyahnya di hadapan mereka. Ini adalah indikator rendahnya penggunaan akal di antara orang beriman.

Rendahnya penggunaan akal di antara orang beriman akan mendatangkan keadaan sangat buruk berupa menjalarnya fitnah. Tidak jarang orang beriman memandang diri mereka baik sedangkan sangat banyak masalah yang terjadi berupa fitnah-fitnah. Seseorang atau suatu kaum mungkin merasa baik-baik saja menghakimi orang lain bersalah tanpa perlu menunjukkan kesalahannya, dan mereka memandang baik penghakimannya tanpa berpegang pada realitas dan tuntunan Allah. Orang yang dihakimi mungkin berharap ditunjukkan kesalahannya untuk bisa memperbaiki diri, tetapi masyarakat memandang tidak perlu memperbaiki kesalahan, cukuplah baginya untuk merasa bersalah tanpa mengetahui kesalahannya. Kebaikan yang ditunjukkan oleh orang yang dianggap bersalah tidak dapat dilihat oleh masyarakat karena status bersalahnya. Sekalipun kebaikan-kebaikan yang ditunjukkan bersumber dari kitabullah Alquran, kaum tersebut bisa saja memandang kebaikan itu hanya berasal dari hawa nafsu saja. Mereka tidak bisa membedakan dorongan hawa nafsu, bujukan syaitan dan tuntunan kitabullah Alquran, tercampur baur dalam memandang ketiganya tanpa kekuatan berpegang pada tuntunan kitabullah.

Akal dan Keimanan

Keimanan harus dibuktikan setiap orang yang mengatakan dirinya beriman dengan membina pemahaman terhadap tuntunan Allah dalam setiap aspek kehidupan yang dapat mereka persepsi. Tanpa berusaha memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah, tidak perlu seseorang mengklaim dirinya beriman. Masalah sikap terhadap fitnah merupakan indikator utama benarnya seseorang dalam memahami tuntunan Allah. Allah mengijinkan fitnah terjadi untuk menunjukkan keimanan seseorang. Masalah fitnah itu merupakan masalah utama yang harus diperbaiki masyarakat dan harus dijadikan pijakan untuk memahami kehendak Allah terkait ruang dan waktu suatu kaum. Boleh jadi ada banyak aspek yang harus diperhatikan oleh orang beriman di luar fitnah-fitnah yang terjadi. Benarnya pemahaman harus dibina sedemikian seseorang memahami fitnah sesuai dengan tuntunan Allah, tidak membiarkan umat membangun pemahaman mengikuti hawa nafsu yang ditunjukkan dengan sikap yang salah mengikuti fitnah. Sebenarnya dalam setiap pemahaman yang dibina terdapat potensi fitnah yang merusak.

Membina keimanan harus dilakukan dengan jalan membina diri sebagai misykat cahaya. Misykat cahaya dapat dilihat gambarannya seperti kamera yang membentuk bayangan nyata dalam diri berdasarkan cahaya objek di luar. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar terbentuk bayangan yang baik di dalam misykat diri seseorang. Misykat diri itu harus rapat tidak boleh bocor cahaya, dibina dengan keikhlasan dalam ibadah kepada Allah semata-mata. Lensa berupa zujajah itu harus jernih dan dapat diatur fokusnya dengan tepat, dibina dengan penghayatan sifat rahman dan sifat rahim untuk memahami ayat Allah. Manakala tidak terbentuk sifat rahman dan rahim dalam diri seseorang, fokus lensa itu akan membentuk bayangan yang tidak tepat. Bayangan cahaya yang tepat itu hanya terbentuk dari zujajah yang terbina dalam sifat rahman dan rahim. Cahaya yang dibentuk bayangannya adalah ayat-ayat Allah berupa ayat kitabullah dan ayat yang digelar di alam kauniyah. Pada dasarnya dalam diri setiap manusia juga terdapat ayat Allah dan boleh dijadikan sebagai cahaya yang dibaca, tetapi sangat banyak hal palsu yang bisa muncul dalam diri manusia menyamar sebagai cahaya Allah. Pembinaan diri sebagai misykat cahaya harus ditempuh melalui jalan tazkiyatun-nafs dan seterusnya sebagai bagian dari langkah taubat kepada Allah. 

Seorang syaikh akan sangat memperhatikan fokusnya bayangan yang terbentuk pada murid-muridnya. Syaikh akan berusaha membersihkan cahaya-cahaya selain ayat Allah yang tembus melalui badan misykat para muridnya, membersihkan zujajah dari kotoran-kotoran pengganggu dan membina sifat rahman dan rahim dengan tepat agar masing-masing murid dapat membentuk bayangan yang tepat  dari cahaya Allah yang datang. Para murid yang tidak memperhatikan ayat-ayat Allah baik ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah sebenarnya tidaklah mengarahkan lubang cahaya kepada objek yang tepat. Demikian pula apabila tidak terbina sifat rahman dan rahim, bayangan yang terbentuk tidak akan mempunyai ketajaman atau tidak fokus. Keikhlasan, kejernihan jiwa dan terbentuknya sifat rahman dan rahim akan mempengaruhi fokusnya citra yang terbentuk pada diri para murid. Citra yang benar dan tajam fokusnya itu akan mengantarkan seseorang mengenal pohon thayibah dirinya, dan ia memahami ayat Allah dengan benar. 

Pemahaman terhadap tuntunan kitabullah tidak dapat dilakukan dengan kokoh hanya dengan membina kemampuan pikiran saja tanpa melakukan proses pembinaan misykat cahaya. Nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam kitabullah Alquran tidak akan dapat dipahami oleh orang-orang yang tidak membina misykat cahaya dirinya. Seandainya terbentuk suatu pemahaman yang benar melalui olah pikiran saja, pemahaman yang terbentuk itu sebenarnya hanya merupakan pengantar untuk memahami nilai-nilai hakikat yang terkandung dalam kitabullah Alquran, bukan nilai kebenaran yang sesungguhnya. Nilai-nilai hakikat hanya akan terbentuk bayangannya pada diri seorang manusia manakala terjadi pembinaan diri sebagai misykat cahaya. Seseorang yang membina misykat cahaya diri akan mengetahui kandungan hakikat dalam kitabullah Alquran, dan tanda dari pemahaman demikian berupa pengetahuan terhadap kedudukan diri dalam amr jami’ Rasulullah SAW, mengenal diri sebagai bagian dari Al-jamaah.

Tidak jarang pemahaman yang terbentuk melalui pemikiran saja tanpa membina misykat cahaya menjadikan seseorang atau suatu kaum menyimpang dari kehendak Allah. Kaum khawarij sangat rajin mempelajari ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan ibadah mereka sangat mengagumkan para shahabat apabila melihatnya, akan tetapi nilai-nilai yang diikuti kaum khawarij benar-benar terlempar jauh dari yang dikehendaki Allah. Akhlak mulia tidak terbentuk pada diri mereka karena cara mereka mempelajari kitabullah tidak menempuh jalan yang ditempuh Rasulullah SAW. Mereka mencontoh dengan baik cara-cara peribadatan yang dilakukan Rasulullah SAW akan tetapi tidak menempuh jalan Rasulullah SAW membina diri sebagai misykat cahaya.

Pembinaan diri sebagai misykat cahaya sangat dipengaruhi oleh pembinaan rumah tangga sebagai bayt. Keikhlasan dan pembinaan sifat rahman dan rahim akan terasah dengan baik apabila dilakukan dengan pembinaan rumah tangga. Dalam suatu pernikahan, setiap pihak dapat menemukan jawaban tentang kehendak Allah atas diri mereka apabila mereka bertanya tentang hal itu, menemukannya melalui ketakwaan dalam keberpasangan diri mereka. Demikian pula sifat rahman dan rahim akan tumbuh dengan subur manakala pernikahan mereka baik. Ketajaman seseorang dalam memperhatikan ayat-ayat Allah akan dipengaruhi pertumbuhan diri mereka, dan pertumbuhan itu dipengaruhi dengan baiknya pernikahan. Apabila pernikahan yang ditempuh buruk, kadangkala seseorang dapat membentuk citra kehendak Allah dengan benar akan tetapi tidak peka terhadap persoalan yang terjadi di sekitar diri mereka. Seringkali pembinaan diri mengalami kegagalan karena pernikahan yang buruk.

Pemakmuran bumi akan terjadi dengan baik apabila terbina bayt-bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Pembentukan misykat cahaya akan menjadikan ayat-ayat Allah akan terpahami dengan baik oleh manusia, akan tetapi pemakmuran yang mengikutinya akan terjadi dengan ijin Allah, bukan peristiwa yang dapat diusahakan dengan baik oleh seorang manusia. Mungkin seorang manusia dapat membentuk misykat cahaya dan berusaha melakukan pemakmuran bumi, tetapi hasil yang diperoleh akan sangat sedikit bahkan bisa saja untuk hidup saja mengalami kesulitan. Ijin Allah akan diberikan apabila terbentuk suatu bayt dengan kriteria tertentu yang difungsikan untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.