Pencarian

Selasa, 09 Desember 2025

Bersyukur Untuk Nikmat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang mendapat nikmat Allah. Memperoleh nikmat Allah artinya adalah mereka mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Nikmat Allah bukanlah bentuk-bentuk kekayaan atau perhiasan dunia saja, tetapi utamanya adalah pengetahuan tentang jalan kehidupan yang ditentukan Allah. Adapun melimpahnya kekayaan atau perhiasan dunia merupakan oleh-oleh yang mungkin akan diperoleh manakala seseorang menempuh jalan yang ditentukan.

Memperoleh oleh-oleh ataupun tidak memperolehnya bukanlah sesuatu yang dipikirkan oleh orang-orang yang mengharapkan nikmat Allah. Mereka hanya mengharapkan untuk memperoleh petunjuk tentang jalan yang ditentukan bagi diri mereka berupa jalan yang lurus, dan dapat melaksanakan petunjuk jalan kehidupan sesuai yang ditentukan Allah. Ini adalah kebersyukuran, dan orang yang mengharapkan nikmat Allah sangat berharap untuk dapat bersyukur. Orang-orang yang dapat bersyukur terhadap nikmat Allah akan memperoleh oleh-oleh dalam berbagai bentuk termasuk harta kekayaan duniawi. Sayangnya syaitan telah bersumpah akan menghalangi manusia dengan sungguh-sungguh hingga sangat sedikit manusia yang dapat bersyukur, sekalipun mungkin mereka mengharapkannya.

﴾۷﴿وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim : 7)

Allah menyiarkan kepada makhluk bahwa apabila seorang makhluk bersyukur niscaya Dia akan menambahkan nikmat kepadanya, dan sebaliknya apabila makhluk kufur terhadap nikmat Allah, mereka akan menghadapi adzab yang sangat pedih. Orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang melaksanakan jalan kehidupan yang ditentukan, sedangkan orang yang kufur adalah orang-orang yang tidak menginginkan jalan kehidupan yang ditentukan Allah sedangkan ia menginginkan yang lain. Tidak semua orang yang tidak bersyukur adalah orang yang kufur. Ada orang-orang yang tidak dapat bersyukur karena syaitan menghalangi langkahnya untuk bersyukur, sedangkan ia tidak ingin kufur. Apabila ia senang ditipu syaitan untuk memilih jalan yang kufur, ia termasuk orang yang kufur.

Ayat di atas terkait dengan diutusnya nabi Musa a.s untuk memimpin kaumnya untuk keluar dari kegelapan negeri mesir yang menghimpit bani Israel menuju tanah yang dijanjikan di tanah Kanaan. Perjalanan itu sebenarnya merupakan tauladan bagi manusia bahwa sebenarnya setiap manusia mempunyai tanah yang dijanjikan berupa jati diri penciptaannya, dan setiap orang hendaknya keluar dari kegelapan kehidupan dunia menuju tanah yang dijanjikan. Di tanah yang dijanjikan itulah terdapat nikmat Allah yang akan menumbuhkan kebersyukuran manusia menjadi bentuk-bentuk kemakmuran hingga kemakmuran duniawi. Perjalanan seperti bani Israel demikian merupakan fragmen bagian dari perjalanan nabi Ibrahim a.s ke tanah suci untuk membentuk bayt. Islam mencontohkan perjalanan demikian dalam bentuk pernjalanan menuju tanah suci untuk berhaji ke bayt sebagaimana millah nabi Ibrahim a.s. Tanah suci atau tanah yang dijanjikan itu adalah tempat nikmat Allah akan diketahui seseorang.

Kebersyukuran terhadap Allah tidak hanya diperintahkan kepada orang-orang yang mengenal nikmat Allah. Setiap orang harus berusaha bersyukur kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari dengan berusaha menjalani bentuk kehidupan yang mendatangkan kebaikan, tidak bertindak pragmatis selalu mencari keuntungan bagi diri sendiri saja. Dewasa ini barangkali sangat sulit menemukan orang yang mengenal nikmat Allah, akan tetapi sebenarnya setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan kehidupan yang harus ditentukan pilihannya berdasarkan nilai kebaikan yang dihasilkan. Hal itu juga merupakan media bersyukur, bukan hanya berbentuk nikmat berupa shirat al-mustaqim. Kemakmuran bagi masyarakat luas akan diperoleh oleh masyarakat yang dapat bersyukur dalam menentukan pilihan-pilihan kehidupan mereka, dan kesulitan akan menimpa masyarakat yang tidak dapat bersyukur. Tidak jarang masyarakat yang tidak bersyukur dipimpin oleh orang-orang yang paling jahat di antara mereka hingga orang-orang jahat itu menikmati kehidupan di atas penderitaan masyarakatnya.

Kebersyukuran masyarakat umum itu hendaknya diarahkan untuk mengenal nikmat Allah yang sebenarnya. Allah menurunkan gambaran nikmat Allah itu hingga dalam bentuk kehidupan yang paling umum di alam dunia, sedemikian setiap orang mampu belajar mensyukuri nikmat Allah berdasar gambaran nikmat Allah yang dijumpai dalam kehidupan dirinya. Bentuk yang paling menggambarkan nikmat Allah dalam kehidupan umum adalah pemilihan jodoh yang tepat. Perempuan(-perempuan) tertentu merupakan bagian diri seorang laki-laki yang diturunkan (dan dipisahkan) dari dirinya. Setiap orang mempunyai bagian diri yang diturunkan dari dirinya di alam semesta yang dipisahkan dari dirinya, dan bagian pertama yang diturunkan itu berbentuk perempuan yang seharusnya menjadi isterinya. Para perempuan itu membawa pula bagian-bagian bagi diri mereka dari alam dunia layaknya telur yang dapat dilahirkan sebagai anak-anak setelah dibuahi. Manakala seseorang dapat bersyukur dalam memilih jodoh menikahnya, ia akan memperoleh jalan yang lapang untuk mengenal nikmat Allah.

Setiap orang hendaknya bersikap secara tepat terhadap hubungan dirinya dengan semesta yang tumbuh mengikuti pernikahan. Ia harus bersungguh-sungguh dalam pergaulannya dengan semesta dirinya baik isterinya, pekerjaan yang diperoleh dan segala sesuatu yang tumbuh dalam kebersamaan mereka. Kesungguh-sungguhan itu akan mendatangkan pemakmuran bagi alam duniawi mereka. Kebutuhan jasmani akan terpenuhi dengan aspek ragawi yang terkumpul dari penyatuan nafs wahidah, dan kebutuhan pengetahuan akan terpenuhi dengan ketakwaan dalam penyatuan nafs wahidah. Hal demikian tidak boleh dipandang sebagai sikap mempertuhankan pekerjaan ataupun jalan-jalan duniawi yang ditempuh, tetapi sebagai sikap mensyukuri keberpasangan yang ditetapkan Allah bagi dirinya baik dalam bentuk isteri, amal-amal duniawi yang harus ditunaikan ataupun harta benda duniawi yang harus dikelola. Manakala seseorang bersikap tidak menghormati keberpasangan dirinya, kehidupan dunia akan menjadi berantakan. Kesulitan dalam keberpasangan yang baik harus dihadapi dengan baik tidak boleh ditinggalkan karena merupakan bentuk kebersyukuran terhadap bagian diri.

Syukur, Pasangan dan Pemakmuran

Tumbuh berkembangnya alam bumi terjadi di antaranya melalui keberpasangan di antara para makhluk, dan ini merupakan bentuk pertumbuhan yang paling menonjol. Keberpasangan di antara para makhluk di bumi merupakan suatu wadah bagi limpahan kekuatan yang hendak Allah perkenalkan kepada makhluk agar mereka mereka mengenal Allah. Makhluk diberi limpahan kekuatan secara terbatas menumbuhkan milik Allah agar mereka mengetahui kekuatan besar Sang Maha Pemberi. Batasan limpahan kekuatan itu dapat dilihat melalui keberpasangan, bahwa karunia itu hanya berlaku pada urusan-urusan yang tepat bersama pasangannya. Manakala makhluk mengetahui adanya suatu perkembangan karena suatu interaksi keberpasangan, mereka akan mampu mengetahui bahwa seluruh dinamika di alam semesta terjadi karena suatu sebab bukan terjadi dengan sendirinya.

﴾۶۳﴿سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
Maha Suci (Tuhan) yang telah menciptakan berpasang-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS YaaSiin : 36)

Pemakmuran bumi dapat dilakukan manusia melalui keberpasangan yang tepat, terutama dimulai dengan keberpasangan nafs mereka sendiri. Nafs manusia diciptakan dengan membawa khazanah Allah secara parsial dan berpasangan, berupa pengetahuan tentang kehendak Allah pada nafs laki-laki dan khazanah duniawi pada nafs perempuan. Keberpasangan nafs manusia itu berhubungan dengan keberpasangan makhluk yang tumbuh di bumi ataupun keberpasangan dalam hal-hal yang tidak diketahui manusia. Mempertemukan kepingan-kepingan nafs yang mempunyai khazanah yang berpasangan dengan tepat ataupun dengan baik dalam suatu wadah pernikahan akan membuka suatu perkembangan yang besar di bumi, dan hal itu akan mendatangkan pemakmuran yang besar dengan tumbuhnya makhluk bumi dengan keberpasangannya. Manakala nafs-nafs mengejar hawa nafsu saja dalam membentuk pernikahan, bentuk-bentuk pemakmuran yang akan tumbuh banyak berbentuk pemenuhan-pemenuhan hawa nafsu saja bukan pemakmuran yang menyentuh pengenalan kepada Allah.

Orang-orang yang bersyukur dengan keberpasangan mereka akan mendatangkan pemakmuran di alam dunia, dan sebaliknya orang-orang yang kufur akan mendatangkan kerusakan yang besar. Suatu keberpasangan yang tepat akan mendatangkan potensi pemakmuran yang sangat besar bagi alam bumi mereka, akan tetapi potensi demikian dapat mengarah pada berbagai keadaan. Potensi itu dapat terwujud secara nyata di alam dunia apabila kedua pihak berpasangan dapat bersinergi dengan baik untuk urusan yang ditentukan bagi mereka. Manakala salah satu atau kedua pihak bersikap kufur, potensi itu akan sulit terwujud di alam dunia dan tidak jarang justru mendatangkan kerusakan. Kadangkala suatu potensi pemakmuran terlahir ke alam dunia akan tetapi dalam bentuk yang tidak menyenangkan harus dibina dengan baik untuk terwujud sebagai pemakmuran.

Sikap kufur akan mendatangkan kerusakan di antara masyarakat. Konsep yang salah tentang keberpasangan dapat memunculkan sikap-sikap kufur yang dapat merusak tatanan umat manusia dan merusak suatu bangsa. Setiap orang harus membangun pemahaman yang benar dan berusaha bersikap mengikuti pemahaman yang benar tidak bersikap semau sendiri agar tidak terjatuh pada kekufuran. Setiap orang harus membina pemahaman yang benar tentang nafs wahidah dan keberpasangannya serta turunan-turunannya sebagai landasan untuk mewujudkan ketakwaan kepada Allah. Ketakwaan demikian itu akan melahirkan tatanan yang manusia yang benar membentuk masyarakat madani, membangun kebersyukuran dan menghindarkan seseorang bersikap kufur tanpa menyadarinya. Tanpa landasan yang benar tentang pengetahuan diri, tidak akan terbentuk tatanan manusia yang cukup baik untuk membangun masyarakat yang beradab.

Setiap orang harus berusaha untuk bersyukur terkait diri mereka dengan berusaha bertindak sesuai dengan tuntunan Allah tidak mengikuti hanya keinginan syahwat dan hawa nafsu sendiri. Dalam hal pasangan, apabila seseorang memperoleh kemampuan mengenali kesatuan nafs wahidah dirinya pada pasangannya, hendaknya ia berusaha untuk mensyukuri dengan berusaha membangun pernikahan bersama orang tersebut kecuali bila syaitan mempunyai jalan mendatangkan madlarat yang besar dalam upaya mencegahnya. Akan sangat banyak halangan yang terjadi karena syaitan akan berusaha keras untuk mencegah seseorang bersyukur mengikuti tuntunan Allah. Keberpasangan itu akan mendatangkan pemakmuran yang besar bagi semesta alam. Dalam hal lainnya, apabila seseorang diberi beberapa kesempatan bekerja, hendaknya ia bersyukur dengan mengutamakan manfaat yang dapat diberikan bagi masyarakat luas dengan pekerjaan yang dilaksanakan, tidak bersikap pragmatis dengan keuntungan diri yang akan diperoleh. Demikian pula apabila seseorang memperoleh suatu kedudukan di antara masyarakat, hendaknya ia bersyukur terhadap kedudukannya dengan membuat keputusan-keputusan yang paling bermanfaat besar bagi masyarakat. Kesempatan kerja atau kedudukan dan hal duniawi lain dalam banyak hal merupakan bentuk keberpasangan yang mungkin tidak diketahui seseorang.

Berbuat kufur atau merusak hal demikian dapat mendatangkan kerusakan bagi umat manusia. Seorang suami atau isteri yang meninggalkan keluarganya untuk bersama orang lain akan mendatangkan kerusakan yang besar untuk keluarga yang ditinggalkannya, dan juga masyarakat. Dalam hal ini, seorang laki-laki mungkin saja membentuk keluarga yang lain tanpa meninggalkan keluarga terdahulu, tetapi tidak bisa dilakukan perempuan. Sikap kufur itu bisa terjadi tidak hanya pada orang yang berkeluarga. Orang yang memilih pasangan tanpa mempertimbangkan agama (termasuk keberjodohan nafs wahidah) mungkin bersikap kufur. Orang yang memilih pasangan hanya berdasar harta atau kecantikan atau kedudukan saja tanpa mempertimbangkan agamanya akan mendatangkan kerugian bagi dirinya sendiri. Kadang seseorang bertindak kufur dengan meninggalkan kedudukan diri yang paling bermanfaat bagi masyarakat untuk memperoleh keuntungan materi atau karena meninggalkan beratnya tugas. Kerugian diri sendiri itu akan menjadi masalah bagi orang lain, dari orang-orang yang dekat hingga bagi masyarakat secara umum.

Melahirkan potensi pemakmuran harus dilakukan dengan sinergi yang baik oleh kedua pihak yang berpasangan. Seringkali melahirkan potensi pemakmuran itu tidak dapat dilahirkan hanya oleh satu pihak saja. Ibaratnya mendidik seorang anak, barangkali seorang anak bertabiat tidak menyenangkan karena rumah tangga orang tuanya yang kurang baik. Kedua orang bisa saling menyalahkan satu dengan yang lain karena tabiat itu. Barangkali salah satu menyadari bahwa tabiat itu ada pada dirinya, tetapi sebenarnya ia terkendala suatu masalah yang seharusnya diselesaikan oleh dua pihak. Misalnya seorang anak yang tidak tumbuh sikap tanggung jawabnya, kemudian ibunya melihat sumber dari sifat itu pada ayahnya. Ayahnya menyadari adanya sifat demikian pada dirinya, tetapi ia melihatnya hanya pada hal-hal kecil saja, sedangkan ia mempunyai tanggung jawab yang besar pada masalah keumatan yang harus ditunaikan. Bila tidak terbina kesepahaman di antara kedua orang tua itu, masalah itu tidak terpecahkan. Tanggung jawab masalah keumatan tidak tertunaikan ayahnya, tanggung jawab kecil di rumah tetap menjadi beban besar bagi keluarga, dan anak itu tidak belajar tanggung jawab dari orang tuanya dan bisa saja ikut tumbuh suka menyalahkan. Bila kedua pihak dapat bersinergi untuk mewujudkan amanah, anak dan keluarga itu akan tumbuh dengan baik memberikan manfaat bagi umat manusia. Melahirkan potensi kemakmuran harus diusahakan secara sinergis oleh setiap pasangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar