Pencarian

Rabu, 17 Desember 2025

Orang Beriman Memahami Mushibah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang mendapat nikmat Allah. Memperoleh nikmat Allah artinya adalah mereka mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Nikmat Allah dalam bentuk demikian akan diperoleh oleh orang-orang yang memperoleh petunjuk, dan sebagian petunjuk demikian diturunkan Allah melalui mushibah.

﴾۱۱﴿مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS At-Taghaabun : 11)

Dalam kehidupan, setiap orang akan mengalami suatu mushibah, dan tidaklah ada mushibah yang terjadi atas diri setiap manusia kecuali Allah telah mengijinkan hal itu terjadi. Boleh jadi suatu mushibah terjadi melalui berbagai jalan sebab yang dapat dilihat manusia, akan tetapi setiap peristiwa mushibah dapat terjadi hanya atas ijin Allah. Selain  apa yang diijinkan terjadi, Allah juga memberi mushibah kepada manusia tertentu kemudian Dia menjadikan manusia yang diberi mushibah mempunyai pendengaran dan penglihatan terhadap masalah yang menimpa dirinya. Barangkali tidak semua orang yang diberi mushibah kemudian mempunyai bashirah dan pendengaran tentang hal yang menimpa dirinya. Allah akan memberikan petunjuk ke dalam hati orang-orang yang beriman kepada Allah, maka mereka kemudian mempunyai pengetahuanterkait mushibah yang menimpa. Akal yang berkembang pada diri akan menuntun mereka untuk mengenal petunjuk Allah terkait jalan Allah yang harus ditempuh.

Petunjuk itu diberikan ke dalam hati orang yang beriman. Keimanan merupakan tingkatan kedudukan dalam agama yang lebih tinggi dari keislaman. Orang-orang beriman adalah orang-orang islam yang mempunyai pemahaman terhadap berbagai hal yang terjadi atas diri mereka dan semesta diri mereka berdasarkan petunjuk yang diturunkan Allah. Mereka adalah orang-orang yang menegakkan syariat islam dan kemudian memperoleh petunjuk di dalam hatinya. Orang-orang yang tidak melaksanakan syariat-syariat sebagai muslim tidak akan mempunyai hati yang cukup baik untuk memperoleh cahaya keimanan. Tidak semua orang yang melaksanakan syariat agama islam memperoleh cahaya keimanan, tetapi orang yang bisa memperoleh petunjuk yang benar hanyalah orang yang melaksanakan syariat agama islam. Orang yang melaksanakan syariat dengan cara demikian adalah muslimin, sedangkan mukminin adalah orang-orang islam atau muslimin yang memahami mushibah dengan hatinya karena petunjuk yang diturunkan Allah.

Petunjuk dalam ayat di atas merupakan petunjuk yang bersifat khusus terkait dengan mushibah yang terjadi pada orang-orang beriman. Petunjuk yang dimaksud pada ayat di atas adalah petunjuk berupa penjelasan suatu peristiwa yang terjadi berdasarkan hakikat dari sisi Allah atau penjelasan-penjelasan berupa bayinah dari ayat Allah. Penjelasan suatu peristiwa berupa ayat kitabullah dan makna yang terbuka dari ayat tersebut merupakan bentuk petunjuk yang mempunyai tingkat kebenaran paling tinggi. Sebagian mukminin barangkali bisa melihat adanya suatu pengetahuan atau kemunkaran pada suatu peristiwa musibah atas diri mereka hingga mereka dapat menentukan amal yang harus dilaksanakan untuk memperoleh kebaikan dengan mengikuti tuntunan kitabullah maka itu juga merupakan petunjuk. Sebagian muslimin berbangga bahwa mereka adalah orang-orang yang telah mengikuti petunjuk tetapi petunjuk yang mereka masksud sebenarnya masih bersifat umum berupa kesediaan mengikuti syariat-syariat, maka petunjuk demikian bukanlah petunjuk yang dimaksud ayat di atas. Hal demikian menunjukkan bahwa mereka masih di tingkatan muslimin.

Sebagian orang yang mengatakan dirinya beriman berusaha untuk berlapang dada untuk menerima mushibah yang terjadi atas diri mereka tetapi tidak benar-benar mengerti penjelasan mushibah yang terjadi atas diri mereka. Hal ini menunjukkan tingkat keimanan. Orang beriman adalah orang yang memperoleh petunjuk terkait mushibah dirinya. Sebagian orang berusaha membangkit-bangkitkan makna dari peristiwa yang terjadi hanya mengikuti perkataan-perkataan orang saja tanpa berusaha berpegang pada pengetahuan prinsip dari tuntunan ayat-ayat kitabullah. Keimanan demikian mendekati suatu batas kedustaan. Apabila ia mendustakan suatu tuntunan yang benar dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, ia tergelincir pada keimanan yang dusta. Setiap orang beriman harus membangun prinsip-prinsip pengetahuan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar dapat memperoleh petunjuk terkait mushibah yang terjadi. Keadaan demikian itulah yang dikatakan beriman dan Allah akan memberikan petunjuk ke dalam hatinya. Orang beriman dapat memahami hakikat suatu mushibah karena Allah memberikan petunjuk terkait mushibah itu ke dalam hatinya. Secara khusus, keadaan beriman ditunjukkan dengan pembentukan diri sebagai misykat cahaya agar dapat memahami petunjuk Allah dengan benar.

Membina keimanan harus dilakukan dengan jalan membina diri sebagai misykat cahaya. Misykat cahaya dapat dilihat gambarannya seperti kamera yang membentuk bayangan nyata dalam diri berdasarkan cahaya objek di luar. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar terbentuk bayangan yang baik di dalam misykat diri seseorang. Misykat diri itu harus rapat tidak boleh bocor cahaya, dibina dengan keikhlasan dalam ibadah kepada Allah semata-mata. Lensa berupa zujajah itu harus dapat diatur fokusnya dengan tepat, dibina dengan penghayatan sifat rahman dan sifat rahim untuk memahami ayat Allah. Manakala tidak terbentuk sifat rahman dan rahim dalam diri seseorang, fokus lensa itu akan membentuk bayangan yang tidak tepat. Bayangan cahaya yang benar dan tepat itu hanya terbentuk dari zujajah yang terbina dalam sifat rahman dan rahim. Cahaya yang dibentuk bayangannya adalah ayat-ayat Allah berupa ayat kitabullah dan ayat yang digelar di alam kauniyah. Apabila seseorang memalingkan diri dari ayat Allah yang ditunjukkan untuk mengikuti pendapat diri mereka sendiri atau perkataan lain, mereka itu tidak memilih ayat Allah yang tepat dan gambar yang dibentuk bukanlah ayat Allah.

Pembinaan diri sebagai misykat cahaya harus ditempuh melalui jalan tazkiyatun-nafs dan seterusnya sebagai bagian dari langkah taubat kepada Allah. Hati sebagai lokus petunjuk tidak boleh dalam keadaan kotor ataupun bersifat keras tanpa mengenal sifat baik. Setiap orang yang berusaha untuk mempelajari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan jalan yang paling baik hendaknya mereka menempuh langkah tazkiyatun-nafs. Sebaliknya apabila seseorang menempuh langkah tazkiyatun-nafs, hendaknya mereka memahami bahwa tujuan tazkiyatun-nafs adalah untuk memahami ayat Allah sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan untuk semata suci diri saja. Tazkiyatun-nafs dan pembinaan misykat cahaya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Menghindari Ibadah di Tepian

Membina diri sebagai misykat cahaya dalam upaya memahami firman-firman Allah akan menjadikan manusia sebagai hamba Allah yang mempunyai pijakan kokoh. Apabila tidak membina diri sebagai misykat cahaya, seseorang mungkin menghamba kepada Allah dengan berada di tepian. Apabila memperoleh kebajikan, mereka tetap dalam keadaan ibadahnya. Jika suatu fitnah terjadi atas diri mereka, mereka membalikkan wajah dari ibadah kepada Allah. Keadaan demikian akan menjadikan diri mereka rugi di dunia dan di akhirat dengan kerugian yang nyata.

﴾۱۱﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS Al-Hajj : 11)

Banyak di antara kaum muslimin yang membina diri mereka sebagai hamba Allah tanpa mengetahui jalan untuk menjauh dari tepi zona ibadah. Jalan itu adalah membina diri sebagai misykat cahaya sedemikian seseorang mempunyai pengetahuan tentang cahaya Allah melalui bayangan kehendak Allah yang terbentuk dalam dirinya. Tanpa membentuk misykat cahaya, seseorang pada dasarnya menyembah Allah di tepian. Ada orang-orang yang terseret dari tepian menuju kesesatan, dan ada yang tetap beribadah di tepian saja.

Membentuk misykat cahaya sangat penting dilakukan agar seorang hamba dapat mengenal Allah dengan benar. Ada di antara muslimin yang membuat suatu profil tentang Allah dengan pikiran mereka berdasarkan perkataan manusia dan ketentuan-ketentuan yang mereka susun sendiri sedangkan struktur diri mereka tidak dibina untuk dapat membentuk bayangan cahaya Allah. Mereka menyembah profil yang mereka susun tentang Allah. Mereka menyangka bahwa melayani profil dalam pikiran mereka adalah penghambaan yang sebenarnya kepada Allah. Ini termasuk beribadah kepada Allah di tepian. Hal ini tentulah sangat disayangkan karena tidak menjadikan muslimin memahami kehendak Allah hingga tidak dapat menjadikan mereka sebagai orang yang sungguh-sungguh menghamba kepada Allah menjadi pelayan yang benar bagi kehendak-Nya.

Kaum khawarij merupakan sebagian contoh dari orang-orang yang menyembah Allah di tepian dan terseret menuju kesesatan. Mereka sangat memperhatikan syariat hingga bakal membuat kagum para sahabat apabila sahabat nabi masih hidup, akan tetapi akhlak mereka tidak menjadi baik karena syariat ibadah mereka. Mereka banyak membaca tuntunan kitabullah dan membicarakan perkataan orang-orang shalih terdahulu akan tetapi bacaan itu tidak melampaui kerongkongan menuju dada untuk menjadikan akhlak menjadi mulia. Yang terjadi, mereka justru terlempar jauh dari apa yang menjadi tauladan Rasulullah SAW. Akhlak mereka buruk dengan berbangga-bangga tentang kebenaran syariat yang mereka perjuangkan tanpa memahami tauladan Rasulullah SAW membentuk akhlak mulia untuk menjadi hamba Allah yang melaksanakan amal shalih dengan memahami kehendak Allah. Mereka membanggakan pemahaman terhadap perkataan para pendahulu tanpa membentuk akhlak mulia, dan kebanggaan mereka itu menjadikan mereka membuat keonaran di antara umat Rasulullah SAW. Mereka memperbaiki tatacara bersyariat sesuai dengan contoh-contoh yang Rasulullah SAW ajarkan dan orang-orang terdahulu tetapi sebenarnya ada pihak di antara mereka yang berkepentingan menimbulkan permusuhan di antara umat Rasulullah SAW dengan tuduhan syirik, bid’ah, khurafat dan lain sebagainya, tidak berkeinginan menumbuhkan persaudaraan dengan mengikuti tauladan Rasulullah SAW. Kaum khawarij itu akan selalu ada hingga khalifatullah Al-Mahdi a.s diutus ke dunia, bukan hanya kaum yang dahulu pernah memberontak kepada khalifah di antara khulafa’ ar-rasyidin.

Contoh lain para penyembah Allah di tepian dan terseret pada kesesatan adalah para ahli bid’ah. Para ahli bid’ah adalah para penyembah Allah yang tidak memperhatikan tuntunan Allah hingga mereka mengerjakan suatu urusan bagi kaum mukminin tanpa menimbang urusan yang mereka lakukan dengan tuntunan ayat-ayat kitab Allah. Mereka menginginkan menjadi hamba Allah tetapi manakala suatu bisikan datang, mereka mengikuti bisikan menyangka bahwa ada suatu urusan yang baru diturunkan Allah kepada diri mereka tanpa berusaha mengetahui kedudukan urusan yang harus dikerjakannya dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bisikan itu kadangkala benar, tetapi kesalahan yang terselipkan jauh lebih merusak dibandingkan nilai kebaikan yang dikandung dalam bisikan itu. Bisa saja tidak ada nilai kebaikan dalam bisikan yang diberikan tetapi mereka menganggap bisikan itu baik karena tidak mempunyai bentukan akhlak mulia yang memadai untuk mengenali keburukan yang terkandung di dalamnya. Tidak jarang umat Rasulullah SAW harus menanggung kesulitan karena para ahli bid’ah yang menyebabkan kesulitan-kesulitan tanpa

Bid’ah merupakan wujud dari bayangan urusan yang terbentuk pada misykat diri seseorang yang berasal dari selain cahaya Allah. Hal ini terkait dengan proses pembinaan misykat, yaitu manakala suatu misykat tidak dibuat kedap cahaya, maka bayangan yang dapat terbentuk pada misykat itu tidak murni bayangan dari cahaya Allah. Tidak boleh ada lubang misykat yang dapat dilewati cahaya kecuali hanya pada lubang yang seharusnya diarahkan kepada cahaya ayat-ayat Allah. Lubang tembus cahaya itu harus benar-benar diarahkan menuju ayat-ayat Allah terutama yang sedang digelar, dan kemudian fokus zujajah itu diarahkan untuk membentuk bayangan kehendak Allah. Apabila seseorang atau suatu kaum tidak memperhatikan ayat Allah hanya memperhatikan perkataan manusia saja atau hal lain, mereka tidak akan dapat membentuk bayangan kehendak Allah dan hanya memahami perkataan manusia saja. Suatu kaum bid’ah terbentuk dari orang-orang yang menjunjung urusan yang berasal dari bayangan urusan selain dari cahaya Allah.

Petunjuk Allah akan diturunkan ke dalam hati orang-orang yang beriman melalui mushibah yang terjadi atas diri mereka. Barangkali itu adalah bentuk dasar petunjuk yang menjadikan seseorang yang beriman dapat memahami ayat Allah terkait diri mereka. Petunjuk itu menjadikan orang beriman memahami kauniyah yang terjadi pada semesta mereka. Apabila seseorang tidak bertambah pengetahuannya terhadap kehendak Allah melalui kauniyah manakala suatu mushibah terjadi, mereka sangat mungkin tidak memperoleh petunjuk. Ada orang-orang yang membuat-buat diri mereka seolah paham terhadap hikmah tetapi sebenarnya hanya mengikuti suatu indoktrinasi yang tidak dipahaminya, sedangkan pengetahuannya tentang kehendak Allah tidak bertambah sedikitpun dengan ayat Allah yang terjadi. Ada orang yang bertambah pengetahuannya terhadap mushibah tetapi pengetahuan yang keliru. Ada orang yang berulang-ulang terjebak dalam berbagai kesukaran mushibah karena kesalahan sendiri tetapi tidak pernah memahami hakikat mushibah yang menimpa dirinya Hal itu menunjukkan seseorang belum menerima petunjuk. Orang-orang yang beriman dengan benar akan memperoleh tambahan pengetahuan terhadap kehendak Allah melalui kauniyah berupa mushibah, pengetahuan dengan landasan yang kokoh berupa tuntunan ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Pengetahuan yang benar terhadap nilai mushibah berlandaskan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ini merupakan contoh dari bayangan cahaya Allah yang harus dibentuk dalam misykat diri seseorang. Pengetahuan demikian akan menggerakkan seseorang dari penyembah Allah di tepian menuju penyembahan yang lebih sungguh-sungguh kepada Allah karena memahami dengan benar kehendak Allah. Kaum khawarij akan menarik orang-orang yang menyembah Allah di tepian untuk mengikuti golongan mereka berbangga-bangga dengan kebenaran pikiran mereka. Sekalipun kebenaran mereka disusun berdasarkan firman Allah, kebanggaan mereka itu bukanlah nilai yang diajarkan Rasulullah SAW. Kebanggaan itu hanya akan melemparkan mereka jauh dari islam. Para ahli bid’ah akan menyimpangkan ibadah kepada Allah menuju suatu urusan yang tidak dapat dipahami kebaikannya oleh umat nabi Muhammad SAW. Tidak jarang urusan yang mereka kerjakan itu menghancurkan umat nabi Muhammad SAW tanpa mereka memahami kerusakan yang terjadi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar