Pencarian

Minggu, 07 Desember 2025

Membina Diri Mengenal Al-Jamaah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mendekat kepada Allah harus dilakukan dengan jalan yang benar yaitu mengikuti Rasulullah SAW, tidak bisa dilakukan dengan menempuh jalan sendiri. Ada beberapa langkah turunan yang merupakan tanda benarnya seseorang dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW dalam bentuk yang berada dalam diri sendiri berupa pengenalan terhadap nafs wahidah.

﴾۱﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafs wahidah, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (nama)-Nya kamu saling bertanya satu sama lain, dan hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa’ : 1)

Nafs wahidah merupakan jati diri penciptaan manusia yang mengenal kedudukan diri dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Ia disebut nafs wahidah karena mengetahui kesatuan urusan dengan nafs wahidah yang lain dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Ia mengenal bahwa nafs-nafs wahidah yang lain merupakan nafs yang sama-sama merupakan bagian dari satu amr Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Dari sudut pandang alam bawah, nafs wahidah merupakan entitas yang mengenal kedudukan Rasulullah SAW di semesta alam hingga dapat bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah SAW, dan kemudian mengenal bahwa Tiada Ilah selain Allah. Dalam sudut pandang amr, nafs wahidah itu dapat bersaksi bahwa Tiada Ilah selain Allah dan bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah SAW.

Di sisi bawah, nafs wahidah juga mempunyai bagian-bagian diri yang diturunkan ke alam dunia sebagaimana dirinya juga merupakan bagian dari Rasulullah SAW. Ayat di atas menjelaskan peran nafs wahidah ke alam bawah, tetapi tetap mencantumkan fungsinya sebagai bagian dari Rasulullah SAW dengan memberi atribusi perempuan pada nafs wahidah. Atribusi perempuan pada nafs wahidah menunjuk pada hubungan vertikal dirinya dengan (setidaknya) Rasulullah SAW. Mungkin seseeorang akan mengenal pula washilah-washilahnya kepada Rasulullah SAW apabila bertambah ilmunya. Seseorang mungkin saja mengenal imam Mahdi dan memberikan dedikasi kepada beliau a.s sebagai dedikasi kepada Rasulullah SAW. Seseorang di nusantara mungkin mengenal sang merah putih sebagai jalan dedikasinya kepada Rasulullah SAW. Itu merupakan sifat nafs wahidah. Seseorang yang mengenal nafs wahidah tidak menjadikan dirinya merasa sebagai puncak alam ciptaan, karena ia harus mengenal dirinya sebagai bagian dari Rasulullah SAW. Manakala seseorang mengenal nafs wahidah sebagai masterpiece alam ciptaan sendirian saja tanpa menjadi bagian dari Rasulullah SAW, seseorang sebenarnya tersesat dalam mengenal diri.

Kebanyakan orang menyangka bahwa ayat di atas menjelaskan tentang penciptaan manusia dari Adam dan Hawa sebagai manusia pertama. Sebenarnya ayat tersebut lebih tepat merupakan penjelasan tentang asal penciptaan manusia dari sisi bathiniah berupa nafs wahidah. Perkembangan manusia yang diceritakan pada ayat di atas disebut berawal dari gender perempuan yang merujuk pada nafs wahidah yang disebut dengan kalimat وَخَلَقَ مِنْهَا. Bila asal-usul yang dijelaskan merujuk kepada Adam, kalimat yang akan disebut seharusnya dalam gender laki-laki tidak disebut sebagai وَخَلَقَ مِنْهَا.

Mengenal nafs wahidah adalah mengenal diri sebagai bagian dari pembawa kebenaran. Ia juga berfungsi sebagai pemimpin terhadap bagian dirinya di sisi bawah. Isteri merupakan bagian diri paling nyata yang diturunkan dari nafs wahidah seseorang. Sebenarnya jasmaniah diri juga merupakan bagian yang diturunkan dari nafs wahidah, tetapi jasmani itu dihitung sebagai diri sendiri, bukan bagian diri yang dipisahkan. Perempuan(-perempuan) tertentu merupakan bagian diri yang diturunkan (dan dipisahkan) dari diri seorang laki-laki sebagaimana jasmani diri itu diturunkan bagi nafs wahidah. Setiap orang mempunyai bagian diri yang diturunkan dari dirinya di alam semesta yang dipisahkan dari dirinya, dan bagian pertama yang diturunkan itu berbentuk perempuan yang seharusnya menjadi isterinya. Para perempuan itu membawa pula bagian-bagian bagi diri mereka dari alam dunia layaknya telur yang dapat dilahirkan sebagai anak-anak setelah dibuahi.

Seorang laki-laki atau perempuan dapat menemukan nafs wahidah asal penciptaan diri mereka melalui pernikahan. Walaupun tidak semua pernikahan berbentuk hubungan nafs wahidah dengan pasangan yang diciptakan dari dirinya, setiap pernikahan yang baik akan menjadi media pengantar untuk mengenal nafs wahidah. Setiap manusia harus mengikuti syariat tentang pernikahan tidak mengubah ketentuan karena konsep nafs wahidah. Mengenal nafs wahidah merupakan pembuka pintu bagi seseorang untuk menjadi bagian al-jamaah. Ia mengenal penciptaan dirinya dan mengenal kedudukan Rasulullah SAW serta orang-orang yang bersama dengannya di jalan Allah.

Menurunkan Kehendak Allah Ke Alam Bumi

Bentuk perjuangan yang paling utama akan ditemukan oleh seseorang manakala ia dapat mengenali nafs wahidah dirinya. Ia mengenali kedudukan dirinya dalam jihad amr jami’ rasulullah SAW dan dapat mengenali kandungan dalam tuntunan kitabullah Alquran yang diperuntuhkkan bagi dirinya. Ia tidak mengenal seluruh kandungan tuntunan kitabullah Alquran sebagaimana Rasulullah SAW, tetapi pengetahuannya tidak keluar dari pengetahuan Rasulullah SAW. Ia mengenal kedudukan dirinya dalam Al-jamaah, dan dapat memahami kebenaran yang dikenali oleh sahabatnya sekalipun bisa saja sebenarnya ia tidak memperoleh pengetahuan yang sama di dalam dirinya tetapi sekadar karena mereka bersama-sama mengikuti amr jami’ Rasulullah SAW dengan berpegang pada tuntunan kitabullah. Kadangkala seseorang merasa asing terhadap urusan yang diperjuangkan sahabatnya karena mengikuti hawa nafsu, baik merasa asing dalam bentuk kurang mengenal atau merasa asing dengan kecurigaan atau penyangkalan. Seseorang akan kurang mengenal nilai amal sahabatnya apabila berasal dari hawa nafsu yang kadangkala terlihat baik, dan merasa curiga atau menyangkal apabila berasal dari tipuan syaitan. Berjuang untuk Allah harus dilakukan dengan memperhatikan perintah Allah dari kitabullah yang perlu diperjuangkan, tidak mengikuti perintah yang hanya berasal dari hawa nafsu.

Setiap orang beriman hendaknya berusaha memahami realitas kauniyah dan ayat-ayat Allah tidak mengabaikan perintah Allah dalam Alquran yang telah digelar ayat-ayat kauniyahnya di hadapan mereka. Perhatian orang beriman terhadap ayat-ayat itu akan membentuk suatu citra dalam dirinya tentang kehendak Allah. Usaha memahami ayat-ayat Allah demikian hendaknya dilakukan dalam suatu kaidah membentuk misykat cahaya diri. Misykat cahaya dapat dilihat gambarannya seperti kamera yang membentuk bayangan nyata dalam diri berdasarkan cahaya objek di luar. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar terbentuk bayangan yang baik di dalam misykat diri seseorang. Misykat diri itu harus rapat tidak boleh bocor cahaya, dibina dengan keikhlasan dalam ibadah kepada Allah semata-mata. Lensa berupa zujajah itu harus dapat diatur fokusnya dengan tepat, dibina dengan penghayatan sifat rahman dan sifat rahim untuk memahami ayat Allah. Manakala tidak terbentuk sifat rahman dan rahim dalam diri seseorang, fokus lensa itu akan membentuk bayangan yang tidak tepat. Bayangan cahaya yang tepat itu hanya terbentuk dari zujajah yang terbina dalam sifat rahman dan rahim. Objek yang harus dibidik orang beriman adalah cahaya dari ayat-ayat Allah berupa ayat kitabullah dan ayat yang digelar di alam kauniyah. Pembinaan diri sebagai misykat cahaya harus ditempuh melalui jalan tazkiyatun-nafs dan seterusnya sebagai bagian dari langkah taubat kepada Allah.

Sebagian manusia berusaha memahami kehendak Allah tetapi tidak memperhatikan ayat Allah dari kitabullah dan ayat kauniyah yang terjadi. Perjuangan demikian hanya merupakan perjuangan yang hanya mengikuti waham, tidak akan mendatangkan hasil yang baik dan kokoh. Kadangkala mereka melihat kauniyah yang terjadi tetapi tidak memperhatikan ayat kitabullah terkait dengan peristiwa tersebut, maka ia tidak memperoleh citra dari firman Allah. Kadangkala seseorang mempelajari ayat-ayat kitabullah tetapi hanya memperbesar kesombongan diri kemudian memperjuangkan kesombongan dirinya. Seringkali mereka memperjuangkan sesuatu yang tidak dipahami manfaatnya dan menyangka wahamnya bermanfaat sebagaimana kaum khawarij. Ada banyak keadaan yang bersifat lebih halus daripada kesombongan atau tidak memperhatikan ayat Allah, dan hal itu dapat menyuburkan waham. Misalnya suatu kaum berusaha memahami kehendak Allah tetapi lebih mempercayai perkataan manusia daripada ayat kitabullah, kadang hingga mendustakan kitabullah. Hal-hal demikian mudah terjadi apabila memahami ayat tidak dilakukan dengan membina misykat cahaya diri dengan benar.

Bila seseorang membina misykat cahaya diri, citra kehendak Allah akan terbentuk dalam dirinya. Terbentuknya citra itu harus diikuti dengan proses penataan untuk menghubungkan kehendak Allah ke alam bumi. Penataan kauniyah itu dimulai dengan penataan keluarga, diikuti dengan penataan masyarakat hingga masyarakat melakukan penataan terhadap lingkungan masing-masing. Penataan manusia dalam tatanan bermasyarakat yang baik harus dilakukan dengan melakukan penataan dalam keluarga. Tidak mungkin melakukan penataan masyarakat tanpa melakukan penataan keluarga. Kadangkala suatu kaum berusaha keras mewujudkan suatu cita-cita dalam agama tetapi tidak dilakukan penataan keluarga maka cita-cita itu tidak pernah tercapai. Orang-orang mungkin ingin mengenal penciptaan diri masing-masing tetapi tatanan keluarga justru dirusak, maka cita-cita itu tidak akan pernah terwujud. Demikian pula barangkali orang-orang ingin mengenal Allah tetapi tidak memperbaiki keluarga, maka mereka tidak bisa mengenal Allah. Sebagian orang berusaha mewujudkan tatanan masyarakat yang baik tetapi keluarga mereka tidak diperhatikan maka tatanan demikian tidak terwujud. Keluarga merupakan kunci untuk membuka kebaikan dari sisi Allah yang dijadikan tauladan para uswatun hasanah.

Mensyukuri Keberpasangan

Di antara fungsi dari pernikahan adalah mencari pengetahuan tentang kehendak Allah, dan juga membina hubungan kasih sayang. Tatanan manusia baik individu maupun masyarakat terletak pada kedua hal tersebut. Kedua hal tersebut merupakan dua keadaan yang saling berhubungan. Kasih sayang yang seharusnya terbentuk di antara insan yang menikah berupa kasih sayang karena pengetahuan terhadap asma Allah, dan pengetahuan yang terbentuk di antara keduanya adalah pengetahuan atas dasar kasih sayang. Hubungan demikian akan terbentuk apabila manusia menempuh jalan ketakwaan dalam membentuk hubungan terhadap pasangannya. Pengetahuan tentang Allah dan kasih sayang itu akan menjadi bahan dalam melakukan penataan terhadap masyarakat luas dan lingkungan mereka.

Pengetahuan tentang kehendak Allah yang seharusnya dibina setiap orang dengan sebaik-baiknya adalah pengetahuan yang melekat dengan nafs wahidah dirinya. Pengetahuan demikian lebih mudah dipahami dalam bentuk turunannya sebagaimana pengetahuan yang diperoleh dari dekatnya seseorang dengan isterinya. Pengetahuan yang dibangkitkan pada diri seseorang melalui pernikahan mereka merupakan pengetahuan yang paling melekat dengan nafs wahidah. Tidak terbatas pada isteri, seseorang seharusnya membina pengetahuan sebaik-baiknya terkait dengan segala sesuatu yang terkumpul bagi mereka melalui pernikahan. Hal itu merupakan pengetahuan yang sebenarnya terkait kehendak Allah, dan merupakan hak bagi nafs wahidah. Penyatuan nafs wahidah dan apa-apa yang merupakan bagian bagi diri mereka merupakan jalan untuk memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah. Kadangkala seseorang banyak berbicara tentang hal-hal yang sebenarnya tanggung jawab tentang hal-hal itu tidak dapat dan tidak akan datang kepada dirinya, maka hal demikian bukan merupakan pengetahuan yang berguna. 

Setiap orang hendaknya bersikap secara tepat terhadap hubungan dirinya dengan semesta yang tumbuh mengikuti pernikahan. Ia harus bersungguh-sungguh dalam pergaulannya dengan semesta dirinya baik isterinya, pekerjaan yang diperoleh dan segala sesuatu yang tumbuh dalam kebersamaan mereka. Kesungguh-sungguhan itu akan mendatangkan pemakmuran bagi alam duniawi mereka. Kebutuhan jasmani kan terpenuhi dengan aspek ragawi yang terkumpul dari penyatuan nafs wahidah, dan kebutuhan pengetahuan akan terpenuhi dengan ketakwaan dalam penyatuan nafs wahidah. Hal demikian tidak boleh dipandang sebagai sikap mempertuhankan pekerjaan ataupun jalan-jalan duniawi yang ditempuh, tetapi sebagai sikap mensyukuri keberpasangan yang ditetapkan Allah bagi dirinya baik dalam bentuk isteri, amal-amal duniawi yang harus ditunaikan ataupun harta benda duniawi yang harus dikelola. Manakala seseorang bersikap tidak menghormati keberpasangan dirinya, kehidupan dunia akan menjadi berantakan. Kesulitan dalam keberpasangan yang baik harus dihadapi dengan baik tidak boleh ditinggalkan karena merupakan bentuk kebersyukuran terhadap bagian diri.

Barangkali seseorang akan menemukan berbagai tingkat hakikat dari segala sesuatu yang melekat pada diri mereka. Seseorang mungkin menemukan beberapa hal dalam diri isterinya yang mengantarkan dirinya mengenal kehendak Allah, dan sebagian permintaan lain dinilai sebagai anak-anak hawa nafsu. Gambaran lainnya, mungkin seseorang merasa lebih berguna ketika mengajar di sekolah tetapi tidak dapat meninggalkan pekerjaan sebagai pengemudi ojek sebagai sumber penghasilannya. Pada puncaknya, seseorang mungkin mengenal amal-amal yang dilakukan merupakan amal ditetapkan Allah bagi dirinya, dan sebagian pekerjaan lain yang harus dilakukannya adalah pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal-hal demikian akan ditemukan dalam kehidupan dan harus disikapi dengan sebaik-baiknya, tetapi hendaknya ia selalu berusaha untuk mengarahkan kehidupan untuk berjalan di atas shirat al-mustaqim. Kunci untuk dapat berjalan di shirat al-mustaqim adalah kebersamaan dengan isterinya membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, setelah melalui pengenalan terhadap nafs wahidah.

Setiap orang harus membina ketakwaan dirinya terkait nafs  sesuai dengan kemampuannya dengan memperhatikan kaidah-kaidah terkait nafs wahidah yang ditetapkan Allah. Apabila seseorang mampu menempuh jalan untuk mengenal kesatuan nafs wahidah dengan mengenal isteri-isteri yang diciptakan dari nafs wahidah dirinya, hendaknya ia berusaha mengenal isteri yang diciptakan dari dirinya. Kemampuan ini akan diberikan manakala seseorang menempuh jalan taubat dengan membina misykat cahaya. Apabila seseorang telah menikah tanpa mengenal nafs isterinya, ia harus memperhatikan isterinya dengan sebaik-baiknya. Mencari pasangan menikah tidak boleh dilakukan dengan melanggar syariat yang ditentukan Allah sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Tidak jarang syaitan menggunakan waham pengetahuan yang tinggi untuk merusak hubungan di antara manusia. Melakukan sesuatu berdasarkan pengetahuan yang tinggi dengan melanggar syariat merupakan jebakan syaitan untuk merusak manusia.

Ketakwaan terkait nafs wahidah hendaknya dibina agar seseorang dapat melaksanakan ibadah dalam bentuk amal-amal mengikuti nafs wahidah. Hal itu berarti seseorang melaksanakan amal sebagai bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW berdasarkan kitabullah, bukan amal yang ditunnaikan mengikuti waham. Bentuk paling baik ketakwaan demikian itu berupa terwujudnya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bisa saja seseorang merasa menunaikan amal berdasar nafs wahidah tetapi tidak ada bukti landasan dari kitabullah. Kadangkala ada landasan amalnya dari kitabullah tetapi sekadar kutipan tanpa memahami, dan pelaksanaannya menyimpang dari firman Allah. Kadangkala urusan yang dikerjakan bertentangan dengan tujuan dari tuntunan Allah, atau bahkan amalnya bertentangan dengan tuntunan kitabullah. Hal demikian tidak menunjukkan ketakwaan terkait nafs wahidah. Ketakwaan terkait nafs wahidah adalah keinginan mewujudkan pelaksanaan amal sebagai bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW berdasarkan kitabullah,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar