Pencarian

Minggu, 14 Desember 2025

Mensyukuri Petunjuk Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang mendapat nikmat Allah. Memperoleh nikmat Allah artinya adalah mereka mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Nikmat Allah bukanlah bentuk-bentuk kekayaan atau perhiasan dunia saja, tetapi utamanya adalah pengetahuan tentang jalan yang ditentukan Allah bagi dirinya. Adapun melimpahnya kekayaan atau perhiasan dunia merupakan oleh-oleh yang mungkin akan diperoleh manakala seseorang menempuh jalan yang ditentukan.

﴾۲﴿إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
﴾۳﴿إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
(2)Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.(3)Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS Al-Insaan : 2-3)

Setiap orang harus berusaha bersyukur kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari dengan berusaha menjalani bentuk kehidupan yang mendatangkan kebaikan, tidak bertindak selalu mencari keuntungan bagi diri sendiri saja. Setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan kehidupan yang harus ditentukan berdasarkan nilai kebaikan yang dihasilkan, dan Allah memberikan petunjuk kepada setiap orang tentang jalan yang seharusnya dipilih. Orang yang menentukan pilihan berdasarkan nilai kebaikan yang dapat diberikan adalah orang-orang yang bersyukur, sedangkan orang yang bersikap mencari untung sendiri seringkali terjatuh sebagai orang yang kufur. Kemakmuran bagi masyarakat luas akan diperoleh oleh masyarakat yang dapat bersyukur dalam menentukan pilihan-pilihan kehidupan mereka, dan kesulitan akan menimpa masyarakat yang tidak dapat bersyukur. Tidak jarang masyarakat yang tidak bersyukur dipimpin oleh orang-orang yang paling jahat di antara mereka hingga orang-orang jahat itu menikmati kehidupan di atas penderitaan masyarakatnya.

Kebersyukuran seseorang akan mengantarkan diri mereka menuju nikmat Allah berupa shirat al-mustaqim, yaitu suatu jalan yang harus ditempuh seseorang untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Mereka adalah orang yang mempunyai bashirah dan pendengaran untuk memahami ayat-ayat Allah. Bashirah dan pendengaran itu akan menjadikan seseorang dapat mendengar dan melihat petunjuk Allah tentang jalan yang harus ditempuh, dari petunjuk yang bersifat kilasan petunjuk yang apabila disyukuri akan terbentuk petunjuk yang membukakan suatu hakikat dari sisi Allah tentang kauniyah yang terjadi di alam bumi. Semua itu adalah petunjuk menuju jalan Allah. Manakala seseorang memperoleh petunjuk berupa hakikat dari suatu kauniyah di bumi, ia memperoleh petunjuk jalan yang lurus atau shirat al-mustaqim.

Bala’ Membangkitkan Kepedulian

Allah menimpakan bala’ kepada manusia kemudian Dia menjadikan manusia yang diberi bala’ mempunyai pendengaran dan penglihatan terhadap masalah yang menimpa dirinya. Tidak jarang pendengaran dan bashirah diberikan Allah kepada manusia melalui bala’ agar manusia mempunyai keahlian dalam masalah bala’ yang menimpa dirinya. Barangkali tidak semua orang yang diberi bala’ kemudian mempunyai bashirah dan pendengaran tentang hal yang menimpa dirinya apabila dia kufur karena bala’ itu. Apabila ia bersabar dengan bala’ itu, ia akan diberi bashirah dan pendengaran hingga dapat memperoleh pengetahuan tentang bala’ yang menimpa apabila Allah menghendaki. Kadangkala suatu bashirah atau pendengaran tidak bersifat membina keahlian tetapi berbentuk peringatan agar seseorang bersikap benar. Suatu bala’ atas diri seseorang kadangkala datang karena kesalahan yang dilakukan oleh orang tersebut, maka bala’ itu mendatangkan suatu bashirah dan pendengaran akan tetapi berupa peringatan agar seseorang tidak terus berada pada keadaan yang mendatangkan bala’ tersebut.

Kesabaran dalam menanggung bala’ harus dilakukan hingga seseorang mempunyai bashirah dan pendengaran tentang bala’ tersebut. Banyak orang mengatakan bahwa dirinya ridha ketika ia menerima ujian karena semua hal yang menimpa dirinya datangnya dari Allah. Keadaan demikian mungkin saja bukan sikap yang sempurna terhadap ujian dari Allah. Kesempurnaan sikap ridha menerima ujian itu adalah manakala seseorang mempunyai pengetahuan tentang masalah yang menimpa dirinya dari pendengaran dan bashirah yang diberi. Orang yang mengatakan bahwa semua hal atas dirinya datangnya dari Allah belum tentu sebenarnya bersikap ridha dengan ujian itu. Mungkin ada di antara orang demikian hanya membeo terhadap perkataan yang diajarkan orang lain kepada dirinya sedangkan hatinya boleh jadi tidak benar-benar lapang dengan ujian yang diberikan. Sebagian orang mengatakan demikian dan sungguh-sungguh berusaha merasa lapang dan ridha dengan ujian yang diberikan. Bukan hal yang salah untuk bersikap demikian, tetapi hendaknya perkataan itu tidak menjadi hijab yang menahan untuk melangkah lebih memahami masalah. Keahlian dalam bentuk bashirah dan pendengaran dalam masalah ujian yang datang itu lebih tepat menjadi indikator keridhaan seseorang terhadap ujian Allah.

Pernyataan di atas tidak dapat digunakan untuk menghukumi bahwa seseorang yang tidak mempunyai bashirah ataupun pendengaran tentang mushibah yang menimpa adalah orang yang tidak ridha dengan ujian. Sama sekali tidak demikian. Allah-lah yang menjadikan seseorang itu mempunyai bashirah dan pendengaran, bukan usaha manusia itu sendiri. Kadangkala seseorang tersibukkan dengan banyak urusan yang harus dikerjakan hingga ia tidak memperhatikan ujian yang menimpa dirinya, sedangkan ia tidak merasa kecewa karena ujian itu. Karena merasa ringan saja terhadap ujian itu, ia tidak memperoleh bashirah dan pendengaran tentang ujiannya. Ini barangkali bukan sikap yang tepat, tetapi bukan suatu bentuk kekufuran. Apabila seseorang merasa ridha, ia seharusnya bersikap memperhatikan ujian yang ditimpakan kepada dirinya hingga ia memperoleh bashirah dan pendengaran tentang masalah ujiannya. Seharusnya tingkat kesibukannya dikurangi hingga ia dapat memperhatikan masalah ujiannya hingga Allah memberikan bashirah dan pendengaran tentang ujiannya, terutama kesibukan-kesibukan yang mungkin sebenarnya hanya memperturutkan hawa nafsu. Kehidupan modern dewasa ini cenderung menjebak manusia dalam banyak kesibukan hingga manusia tidak memperhatikan ujian yang datang dari sisi Allah.

Keahlian berupa bashirah dan pendengaran yang terbentuk melalui ujian yang diberikan Allah bersifat lebih haq daripada pengetahuan yang dikejar berdasarkan keinginan diri sendiri. Dewasa ini kebanyakan manusia belajar dengan sungguh-sungguh untuk mengejar cita-cita, atau sebagian orang berusaha mengenali diri dengan belajar mengikuti dorongan dalam diri. Sebenarnya cita-cita ataupun pengenalan seseorang terhadap hawa nafsu sendiri itu tidak mendatangkan bashirah ataupun pendengaran sekuat kebersyukuran dalam menerima mushibah. Boleh jadi akan sangat banyak ilusi ataupun tipuan-tipuan yang datang kepada orang-orang yang membina bashirah dengan mengejar cita-cita sendiri ataupun hawa nafsu, karenanya seseorang perlu berhati-hati membangun bashirah dan pendengaran dengan cara demikian. Allah menjelaskan bahwa Dia akan memberikan bashirah dan pendengaran kepada seseorang melalui ujian.

Bentuk ujian itu kadangkala bukan ujian yang menimpa diri sendiri, akan tetapi ujian yang menimpa masyarakat. Ujian demikian juga sangat berguna dalam membangun bashirah dan pendengaran, dan tidak sia-sia apabila seseorang membina bashirah dan pendengaran melalui mushibah yang terjadi pada kaumnya. Menghadapi mushibah bersama dengan kaum merupakan sarana membentuk kasih sayang di antara masyarakat maka membina bashirah dan pendengaran bersama dengan kaum akan menjadi bashirah dan pendengaran yang benar. Ilusi ataupun tipuan yang datang pada pembinaan bashirah dan pendengaran dengan cara demikian akan lebih sedikit hingga dapat menjadi jalan membina bashirah dan pendengaran yang lebih selamat. Walaupun mungkin lebih sedikit, setiap orang tetap harus berhati-hati terhadap ilusi dan tipuan yang mungkin muncul dalam bashirah dan pendengaran. Pendengaran dan bashirah yang benar yang menyertai suatu ujian hendaknya digunakan untuk memahami kehendak Allah dengan akal.

Ada banyak kualitas bashirah yang bisa diterima oleh seseorang yang mempengaruhi petunjuk. Kadangkala seseorang memperoleh bashirah dan pendengaran dengan jalan meniru apa-apa yang sampai kepada orang lain, maka pendengaran dan bashirah demikian seringkali bersifat lemah. Seringkali orang-orang demikian memperolehnya karena obsesi terhadap apa yang diceritakan oleh orang lain, bukan suatu bashirah dan pendengaran yang muncul dari bala’ yang diberikan kepada mereka. Kelemahan pada hal demikian terletak pada nafs, bukan semata benar atau tidaknya bashirah dan pendengaran. Tanda lemahnya adalah seringkali orang demikian lebih suka bercerita kepada orang lain tentang bashirah dan pendengaran mereka daripada memastikan kebenarannya dari sumbernya yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka kurang membutuhkan kebenaran tetapi lebih membutuhkan pengakuan terhadap konsep kebenaran dirinya. Bashirah dan pendengaran demikian bukan dasar yang cukup kuat untuk memahami kehendak Allah. Bashirah dan pendengaran yang paling kuat adalah pendengaran dan bashirah yang diberikan melalui ujian, dan itu dapat mengantarkan seseorang untuk memahami ayat-ayat Allah secara sinergis baik ayat kauniyah ataupun ayat kitabullah.

Bersyukur Terhadap Petunjuk Allah

Bashirah dan pendengaran yang diberikan kepada seseorang akan menjadikan penguat bagi akal mereka. Akal yang berkembang pada diri seseorang akan menuntun mereka untuk mengenal petunjuk Allah terkait jalan Allah yang harus ditempuh. Jalan yang merupakan petunjuk Allah adalah jalan yang menyatukan umat manusia pada urusan Allah untuk membangkitkan kebaikan-kebaikan di antara umat manusia, dan hal itu dapat dimengerti oleh orang-orang yang menggunakan akalnya dengan benar. Tanpa akal, mustahil seorang manusia dapat mengenali petunjuk Allah. Manakala suatu jalan membangkitkan keburukan-keburukan di antara manusia, jalan itu bukanlah dari petunjuk Allah yang diturunkan kepada manusia. Adapun petunjuk-petunjuk yang datang bukanlah petunjuk dari Allah.

Suatu bashirah atau pendengaran kadangkala tampak bertentangan dengan persepsi seseorang terhadap realitas. Bashirah dan pendengaran yang demikian harus disikapi dengan benar, karena ia bisa menyesatkan atau bersifat membongkar waham manusia. Seseorang yang menerima bashirah atau pendengaran demikian harus meneliti apakah itu merupakan petunjuk yang bermanfaat untuk membongkar waham atau merupakan suatu bashirah dan pendengaran yang menyesatkan. Setiap bashirah dan pendengaran yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah bahan petunjuk menyesatkan. Di sisi lain, tidak jarang manusia terkurung dalam suatu waham yang keliru hingga harus diperbaiki dengan suatu bashirah dan pendengaran tertentu. Bashirah dan pendengaran demikian dapat membongkar pemahaman yang keliru mulai dari konsep fundamentalnya hingga masalah terinci, atau memperbaiki informasi tertentu saja.

Misalnya seseorang tidak menyukai sesuatu tetapi kemudian memperoleh suatu bashirah atau pendengaran tertentu yang ia harus berusaha menyukai sesuatu yang tidak disukainya itu. Mengubah cara bersikap demikian kadangkala harus dilakukan dengan mengubah banyak pengetahuan dalam dirinya, tidak bisa dilakukan hanya dengan mengubah rasa suka atau tidak suka. Bahkan pengubahan sikap itu kadangkala tidak cukup dilakukan hanya dengan mengubah susunan pengetahuan dalam diri saja, tetapi harus dilakukan dengan mengubah keadaan masyarakatnya. Suatu masyarakat yang terkungkung dalam waham yang salah kadangkala mempertahankan informasi yang salah dan memaksakannya berlaku secara umum, maka bashirah dan pendengaran seseorang yang benar pada diri seseorang hanya dapat diikuti manakala waham dalam masyarakat diubah mengikuti tuntunan yang benar. Seseorang yang mempunyai bashirah dan pendengaran yang telah menjadi petunjuk tertentu menuju jalan Allah kadangkala tidak dapat mengikuti jalan itu kecuali setelah melakukan pengubahan waham pada masyarakat, dan waham itu mengunci masyarakat pada kegelapan jauh dari petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Bashirah dan pendengaran yang bersifat demikian hendaknya benar-benar dipahami kebaikannya bagi masyarakat luas. Seseorang tidak perlu berkeinginan untuk menjadi tokoh pengubah pemahaman masyarakat dengan mengharapkan petunjuk yang bersifat menentang cara pikir orang banyak. Apabila seseorang memperoleh bashirah dan pendengaran yang sifatnya membongkar waham, hendaknya ia benar-benar memahami terlebih dahulu kebaikan dari bashirah dan pemahamannya itu tidak menggunakannya secara sembarangan untuk menentang masyarakat. Ia harus mengerti terlebih dahulu pentingnya makna pengubahan pemahaman itu terhadap dirinya sendiri, dan apabila dipandang bermanfaat bagi masyarakat luas maka ia hendaknya menyampaikan pemahamannya dengan cara yang baik, menghindari keinginan untuk dipandang sebagai pengubah paradigma masyarakat.

Apabila seseorang telah menemukan bashirah itu sebagai petunjuk menuju jalan Allah, hendaknya ia bersyukur dengan mengikuti petunjuk tersebut. Dalam keadaan tertentu bersyukur bukan hal yang mudah dilakukan di mana setiap pihak mungkin saja menghalangi jalan untuk menunaikan petunjuk jalan itu. Tidak semua kebenaran itu bisa serta merta diterima oleh masyarakat umum. Seringkali manusia tidak dapat memahami petunjuk Allah yang diturunkan kepada salah seorang di antara mereka karena mengikuti waham diri sendiri ataupun mengikuti bisikan-bisikan syaitan dan kemudian berusaha menghalangi seseorang untuk mensyukuri petunjuk Allah dengan usaha yang sangat keras. Mereka mungkin saja berusaha menghalangi hingga merusak segala hal yang mendukung terlaksananya rasa syukur itu, terutama apabila syaitan mempunyai jalan untuk menimbulkan kerusakan. Manakala seseorang dalam keadaan demikian, hendaknya ia menghitung potensi-potensi kerusakan yang mungkin ditimbulkan apabila ia berusaha mengikuti petunjuknya, dan mencari jalan bersyukur yang paling kecil kemungkinan kerusakannya. Apabila petunjuk itu bisa dilaksanakan dengan mudah, hendaknya mereka tidak bersikap kufur terhadap petunjuk jalan Allah tersebut dengan mengikuti petunjuk Allah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar