Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Rasulullah SAW adalah tauladan yang tertinggi bagi semesta alam, sebagai makhluk yang diberi kemampuan mengenal tajalliat Allah di ufuk yang tertinggi. Selain tauladan Rasulullah SAW, Allah juga menurunkan tauladan itu agar umat manusia merasa mudah untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh. Nabi Ibrahim a.s merupakan tauladan yang menjelaskan lebih terinci dan nyata arah langkah yang perlu dilakukan oleh setiap manusia di bumi dalam mengikuti langkah Rasulullah SAW menjadi hamba yang didekatkan. Para nabi yang lain juga memberikan rincian langkah yang perlu dilakukan untuk mengikuti Rasulullah SAW, hanya saja kedudukan nabi Ibrahim a.s lebih khusus, merupakan segel yang mengesahkan keselamatan seseorang yang menempuhnya. Seseorang yang telah mengikuti nabi Ibrahim a.s akan dikatakan telah mengikuti Rasulullah SAW. Sebaliknya bila seseorang mengikuti langkah nabi yang lain dan mengingkari atau melenceng dari millah nabi Ibrahim a.s, maka orang tersebut akan celaka.
Millah yang dijadikan tauladan utama millah nabi Ibrahim a.s adalah membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.
﴾۶۳﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
﴾۷۳﴿رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
(36) di dalam rumah-rumah yang telah diijinkan Allah untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, (37)laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS An-Nuur : 36-37)
Bayt yang telah diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah itu adalah tatanan manusia yang tersusun dalam suatu Al-jamaah dalam usaha menunaikan kehendak Allah atas diri mereka. Pada intinya, bayt demikian berbentuk suatu keluarga yang terdiri dari suami, isteri dan anak-anak mereka yang berjuang untuk menunaikan kehendak Allah atas diri mereka. Bayt itu dapat meluas hingga bentuk Al-Jamaah yang sangat besar sebagaimana Rasulullah SAW bersama umahaatul mukminin dan umat Islam yang tegak meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Keterampilan dalam menempatkan diri dan mengatur rumah tangga mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan sumber dari kemampuan berjamaah di antara kaum mukminin.
Syarat Membina Bayt
Bayt demikian dapat terbentuk oleh setiap orang beriman yang telah mencapai kriteria perjalanan tertentu, yaitu seorang laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah, menegakkan shalat dan menunaikan zakat, serta merasa takut terhadap hari di mana hati dan penglihatan menjadi terguncang. Dengan penyederhanaan tanpa menganggap mencukupi, keadaan demikian merupakan keadaan orang yang mempunyai pengetahuan hakikat dan ma’rifat. Hati dan pandangan seseorang pada dasarnya akan mudah terguncang dan berbolak-balik hingga orang tersebut mempunyai pengetahuan tentang hakikat dan makrifat. Pengetahuan hakikat dan ma’rifat akan menjadikan pengetahuan dan pandangan seseorang kokoh tanpa terbolak-balik, sedangkan pengetahuan yang lain sebenarnya hanya bersifat relatif yang mungkin berlaku sesaat, atau tampak memberi manfaat untuk dengan suatu madlarat dibaliknya dan lain sebagainya sedemikian hati dan pandangan orang yang berpegang padanya dengan mudah terbolak-balik. Dengan penyederhanaan, bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asmaNya hanya dibentuk oleh orang-orang yang mengenal hakikat dari sisi Allah.
Banyak orang musyrik yang menganggap benar fitnah-fitnah yang mereka ikuti, sedangkan fitnah-fitnah itu jelas kesalahannya dalam pandangan masyarakat umum. Kebenaran mereka hanyalah ilusi. Terbolak-baliknya pengetahuan dan pandangan ini tidak hanya terjadi atas orang musyrik atau kafir. Di antara muslim atau mukmin, sangat banyak orang yang tidak membangun pengetahuan dan penglihatan secara tepat sesuai hakikat. Tidak jarang ditemukan seseorang merasa telah mempunyai pengetahuan yang kokoh atau penglihatan yang kokoh dalam kehidupannya sedangkan ia tidak mempunyai pengetahuan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait pengetahuan dan penglihatannya. Hati dan pandangan mereka pada suatu masa yang ditentukan akan terguncang atau bahkan terbang menghilang. Bahkan kadangkala seseorang merasa yakin dengan kebenaran pengetahuan hati dan pandangannya sedangkan ia bertentangan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kosongnya nilai kebenaran demikian seringkali bisa dilihat seseorang yang telah kokoh pengetahuannya berdasar kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak jarang manusia mengikuti orang lain dan merasa yakin dengan kebenaran yang diikuti tanpa berpijak pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pengetahuan demikian mungkin saja sebenarnya hanya fatamorgana yang akan menghilang. Hanya pengetahuan dan pandangan yang benar dan berlandaskan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang akan menjadikan hati dan pandangan menjadi kokoh hingga tidak terlalu berguncang, sedangkan selain pengetahuan demikian itu akan berguncang bergantung pada tingkat kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan dan pandangan.
Orang yang tidak berguncang hatinya barangkali bukan seseorang yang menginginkan ilmu sebanyak-banyaknya, tetapi hanya menginginkan ilmu yang memantapkan penghambaan dirinya di hadapan Allah. Seringkali seseorang yang menginginkan ilmu sebanyak-banyaknya akan terjatuh pada sikap menyombongkan diri di antara manusia dengan ilmunya. Orang-orang demikian tidak jarang kehilangan kemampuan untuk mendengarkan atau melihat kebenaran atau memahaminya karena tertutup dengan kesombongan. Ini berbeda dengan orang yang ingin memperoleh ilmu untuk melakukan tugas dirinya dengan benar di hadapan Allah, maka ia akan bersikap selalu berusaha mendengar, melihat dan memahami kebenaran yang bermanfaat untuk ibadahnya.
Bayt demikian bukan hanya dibentuk oleh Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s saja. Sebenarnya membina bayt merupakan tugas bagi setiap orang beriman mengikuti tauladan meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Kedua uswatun hasanah itu merupakan puncak tauladan bagi umat manusia. Selain kedua junjungan tersebut, ada orang-orang yang berproses membina bayt sedemikian Allah mengijinkannya untuk menjadi sarana meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan ia menjadi bagian dari pelaksana urusan Rasulullah SAW. Tanpa maksud melebih-lebihkan, contoh demikian dapat ditemukan pada kisah Imam Khameini yang melakukan revolusi di Iran. Allah mengijinkan Iran berubah dari pemerintahan tirani menjadi negeri muslim yang tetap berjihad di jalan Allah menentang kedzaliman orang-orang musyrik hingga dapat menandingi atau melampaui kekuatan bersenjata dan tipu daya kaum musyrikin. Keberhasilan penataan umat demikian terwujud melalui penataan keluarga dalam melaksanakan kehendak Allah yang telah dikenali. Tentulah proses perubahan negeri itu bukan hanya peran Imam Khameini karena hanya dapat terjadi melalui banyak peran manusia, yaitu terwujudnya jamaah yang memperhatikan urusan Allah bagi negeri mereka melalui tuntunan kitabullah, sunnah Rasulullah SAW dan urusan-urusan yang disampaikan oleh sang Imam.
Pada dasarnya setiap orang mempunyai suatu bentuk bayt yang harus dibentuk sedemikian Allah memberikan ijin untuk digunakan sebagai sarana meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Membentuk bayt demikian adalah tujuan akhir kehidupan manusia di bumi. Ada banyak tahapan yang harus ditempuh setiap manusia agar mengetahui bentuk bayt yang harus dibentuk. Tahapan terdekat pada bayt adalah terbentuknya akhlak diri sebagai misykat cahaya Allah, layaknya kamera yang mampu membentuk bayangan dari cahaya yang datang. Banyak prasyarat yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang menginginkan membina akhlak sebagai misykat cahaya, seperti pensucian jiwa dari kotoran syahwat dan hawa nafsu serta dosa-dosa yang dibuat oleh syaitan. Setiap tahapan untuk menuju terbentuknya bayt harus ditempuh secara hati-hati oleh setiap orang. Sangat penting untuk memperhatikan kelurusan langkah mengikuti tuntunan Rasulullah SAW tidak menyimpang. Setiap penyimpangan dari langkah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s akan mendatangkan kerusakan, hingga kerusakan yang sangat besar. Tahapan pemula yang lurus lebih baik daripada tahapan lanjut yang menyimpang karena kelurusan tidak membuat kerusakan, sedangkan setiap penyimpangan mendatangkan kerusakan yang semakin besar apabila dilakukan di tingkat lanjut. Yang terbaik adalah orang yang menempuh tahapan lanjut yang lurus mengikuti langkah Rasulullah SAW dan millah nabi Ibrahim a.s.
Memperhatikan Langkah yang Benar
Tanda benarnya langkah seseorang dalam membentuk bayt adalah terhubungnya diri seseorang terhadap Al-Jamaah, yaitu kumpulan orang-orang yang berjihad untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sesuai dengan jati diri masing-masing. Akan lebih mudah bagi seseorang mengikuti seorang Imam dalam langkah membina bayt masing-masing. Sangat banyak orang yang berhasil membina diri dengan mengikuti imam. Tanda keberhasilan pembinaan adalah keselarasan pengenalan jihad mereka terhadap urusan imamnya, bukan jihad yang berdiri sendiri terpisah dari sang Imam. Mungkin jihad seseorang berbeda dengan pendahulunya, akan tetapi ia mengetahui Imam yang harus diikuti atau setidaknya ia mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya, bukan urusan yang berdiri sendiri. Misalnya seorang murid mungkin akan mengenal urusan dirinya sebagai panglima yang mengenal rajanya, atau seorang dengan keahlian tertentu yang berbeda dengan sang syaikh dan ia mengenal pemimpin dalam urusannya itu. Dalam hal urusan yang berbeda demikian, ia harus mengetahui bahwa sebenarnya ada kesatuan urusan di antara mereka. Itu adalah tanda dari keberjamaahan. Manakala seseorang menemukan urusan yang berdiri sendiri tanpa kesatuan terhadap urusan Al-Jamaah, sangat mungkin langkahnya sebenarnya telah menyimpang. Penyimpangan demikian akan menjadikan mereka sebagai orang yang asing dari tuntunan kitabullah dan Rasulullah SAW sekalipun mereka menyangka berbuat kebaikan.
Yang ditinggikan melalui bayt adalah ajaran-ajaran Allah. Ketaatan seseorang kepada ahlul bayt harus dibentuk berdasarkan pemahaman terhadap urusan Allah yang dilaksanakan ahlul bayt. Semakin kuat akal seseorang memahami ajaran Allah, akan semakin baik ketaatan yang dapat dilakukannya. Orang-orang yang kurang berkembang akalnya hendaknya berusaha menempuh jalan untuk memahami urusan Allah agar akalnya menguat, tanpa membantah apa-apa yang disampaikan ahlul bayt yang belum ia pahami nilai kebenarannya. Apabila ia semakin memahami urusan Allah, akan semakin baik nilai ketaatan yang ia lakukan. Hanya manakala seseorang melihat sesuatu yang menyimpang atau bertentangan dengan perintah Allah ia boleh mengingkari urusan, tidak boleh mentaati karena fanatisme. Fanatisme akan menghilangkan akal dari manusia, dan ketaatan demikian merupakan ketaatan yang buruk.
Imam Khameini telah membina bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Beliau berhasil dan hanya bisa berhasil menyeru umat untuk memperhatikan firman Allah dan tuntunan Rasulullah SAW yang harus ditunaikan. Mustahil beliau bisa berhasil menyeru apabila menyeru untuk memperhatikan hanya urusan dirinya saja, tidak menyeru manusia untuk lebih memperhatikan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Di sisi umat, mereka benar-benar mendukung seruan sang imam dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan akal yang lurus memahaminya tanpa terjebak fanatisme. Mustahil membentuk sinergi yang sedemikian baik antara Imam dengan umatnya tanpa menggunakan atau memperkuat akal untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sinergi yang baik di antara kaum mukminin hanya dapat dibentuk dengan menyatukan usaha dalam satu tujuan yang dikehendaki Allah, yaitu apa yang difirmankan dalam kitabullah Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dan diturunkan penjelasannya kepada para ahlul bayt. Keterampilan membentuk sinergi yang baik di antara kaum mukminin ditumbuhkan terutama melalui pembinaan keluarga.
Sangat banyak kebaikan dari sisi Allah yang bisa mengalir melalui para ahlul bayt, dan hanya orang-orang celaka yang membenci kebaikan yang mengalir melalui mereka. Ada kaum muslimin yang merupakan bagian dari musyrikin melontarkan fitnah-fitnah agar orang yang membina bayt terlihat buruk. Ada pula orang-orang yang menghalangi manusia untuk membina bayt mengikuti kehendak Allah, atau merusak rumah tangga yang baik karena mengikuti syahwat, hawa nafsu atau tipuan syaitan. Orang-orang demikian termasuk sebagai orang-orang yang celaka. Untuk memperoleh kebaikan yang mengalir melalui pembinaan rumah tangga, setiap orang hendaknya memahami dengan baik arah pembinaan rumah tangga sesuai dengan tuntunan agama, dan menempatkan diri secara tepat dalam urusan ahlul bayt, yaitu orang yang berhasil membina rumah tangga untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Upaya demikian akan mengantarkan seseorang mengenal urusan Allah yang harus dilaksanakan dirinya sebagai bagian dari Al-Jamaah. Hendaknya upaya demikian dilakukan dengan berhati-hati, memastikan bahwa urusan yang dilakukan benar-benar merupakan bagian dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak menyimpang darinya.
Kaum mukminin tidak akan dikalahkan oleh musyrikin, akan tetapi kekalahan mukminin akan terjadi melalui perselisihan di antara muslimin sendiri. Dalam beberapa sebab, perselisihan itu terjadi di antaranya karena kurangnya kemampuan berjamaah, berakar dari kurangnya kemampuan mengarahkan rumah tangga mengikuti tuntunan Allah. Selain kekurangan demikian, mungkin pula sebenarnya ada upaya untuk merusak rumah tangga tanpa disadari umat. Seseorang yang mengetahui akar masalah atau urusan Allah bagi ruang dan jaman mereka mungkin diputuskan hubungannya dengan isteri-isterinya sedemikian ia kehilangan kemampuan mengatur keluarga hingga umatnya, atau sebaliknya umat kemudian dipisahkan dari pengetahuan terhadap urusan Allah yang harus ditunaikan melalui pemisahan seseorang dengan isterinya. Itu merupakan salah satu kaidah ushul yang digunakan oleh syaitan untuk merusak umat manusia. Untuk membentuk keberjamaahan umat, pembinaan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah harus dilaksanakan terhadap semua muslimin.
Mengalahkan kaum musyrikin harus dilakukan dengan pembinaan keberjamaahan kaum muslimin hingga masing-masing menyadari urusan Allah untuk ruang dan jamannya. Kaum musyrikin di tanah Syam barangkali telah porak-poranda oleh muslimin, akan tetapi barangkali umat islam dapat melihat keretakan kaum muslimin di negeri-negeri arab yang lebih banyak berpihak pada musyrikin. Demikian pula negeri Libanon yang semula bersatu melawan musyrikin Israel terancam terpecah-belah perang sipil karena tipu daya musyrikin. Hal demikian berakar pada kurangnya keberjamaahan di antara umat. Tumbuhnya keberjamaahan umat sebenarnya sangat terkait dengan pembinaan bayt di antara umat. Pembinaan bayt yang baik akan menjadikan kaum muslimin mengenal keberjamaahan secara lebih baik, dan pembinaan yang buruk akan mengakibatkan buruknya keberjamaahan di antara mereka. Manakala pembinaan rumah tangga di antara muslimin dilakukan selaras dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, kaum muslimin akan menjadi lebih memahami jalan untuk berperan dalam Al-Jamaah, sedemikian makar dan tipu daya musyrikin lebih mudah dikenali. Sebaliknya perusakan pembinaan keluarga-keluarga muslimin akan menjadikan fitnah mudah menjalar, sedemikian hingga fitnah yang paling dahsyat mudah terjadi di antara kaum muslimin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar