Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Manusia harus hidup di dunia sebelum tinggal di tempat tinggal abadi yang sesungguhnya diperuntukkan bagi mereka di alam akhirat. Kehidupan di alam bumi dunia ditetapkan bagi manusia agar manusia menguasai khazanah-khazanah yang diajarkan Allah bagi mereka sedemikian manusia mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang baik hingga layak menjadi masterpiece ciptaan Allah.
﴾۹۳﴿يَا قَوْمِ إِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah perhiasan dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (QS Al-Mu’min : 39)
Ayat di atas menjelaskan di antaranya tentang makna kehidupan di alam dunia. Kata “perhiasan (مَتَاعٌ)” sebenarnya juga bisa menunjukkan makna berupa perangkat olah dan penyajian yang memudahkan. Allah mengajarkan manusia cara kehidupan yang baik melalui kehidupan dunia kepada orang yang menginginkan kehidupan akhirat. Ada gambaran (simulasi) kehidupan alam akhirat ditemukan dalam kehidupan dunia. Hal itu seharusnya dikenali oleh setiap manusia untuk dijadikan bekal kehidupan yang abadi. Di antara simulasi yang dikenalkan itu adalah pemanfaatan hakikat-hakikat penciptaan. Seseorang dapat memperoleh kehidupan yang sebaik-baiknya apabila mengenal hakikat penciptaan dan bertindak mengikutinya. Pemanfaatan suatu hakikat untuk memperoleh kehidupan yang baik itu adalah alat (مَتَاعٌ) yang seharusnya diperoleh manusia dalam kehidupan di dunia untuk kehidupan akhiratnya.
Kehidupan yang abadi telah diciptakan secara berkelas-kelas memisahkan tempat kehidupan manusia menurut kemuliaan mereka. Kemuliaan itu diperoleh melalui tingkat perhatian mereka terhadap pengajaran Allah. Tingkat ini terlihat dalam bentuk kemuliaan akhlak di hadapan Allah. Seseorang yang mendustakan pengajaran-pengajaran Allah mengikuti dorongan syahwat atau hawa nafsu sendiri akan tinggal dalam jahannam, sedangkan orang yang mengikuti pengajaran Allah untuk memperoleh kemuliaan akan memperoleh kemuliaan yang diinginkan sesuai dengan perhatian mereka terhadap pengajaran Allah. Rasulullah SAW menempati kedudukan makhluk paling mulia karena kesempurnaan pemahaman terhadap Alquran, dan makhluk lain akan memperoleh kemuliaan sesuai dengan apa yang mereka hayati dari kemuliaan Alquran. Sebagian orang yang menginginkan kemuliaan celaka karena pendustaan mereka terhadap pengajaran kitabullah Alquran. Ini adalah orang-orang yang mengikuti kebenaran mereka sendiri tanpa berusaha mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Pengkelasan itu terjadi melalui proses dalam kehidupan di alam dunia.
Kemuliaan yang diperoleh seseorang di alam dunia tidak ditunjukkan dengan keberhasilan dalam wujud duniawi, tetapi ditunjukkan dengan pemahaman terhadap pengajaran-pengajaran hakikat dari sisi Allah. Pemahaman itulah yang merupakan bahan perhiasan (مَتَاعٌ) yang dimaksudkan. Sebenarnya pemahaman yang terbentuk akan memberikan pula pengetahuan tentang tatacara hidup di dunia, akan tetapi ada sebagian orang yang mungkin dikehendaki Allah untuk mengumpulkan pengetahuan tanpa memperoleh wujud keberhasilan dalam kehidupan dunia. Mereka itu mungkin mengalami kesulitan-kesulitan yang banyak dalam kehidupannya. Sebagian manusia diberikan keluasan kehidupan dunia dengan pengetahuan yang diperolehnya. Sebaiknya ada pula orang-orang yang dipandang sukses dalam kehidupan dunia akan tetapi sebenarnya ia tidak memahami sedikitpun pengajaran Allah, maka keberhasilannya akan menjadi tanggung jawab yang besar bagi dirinya di alam akhirat. Pemahaman yang diperoleh melalui kehidupan dunia itu itulah perhiasan atau perangkat (مَتَاعٌ) yang diperuntukkan bagi manusia.
Ini tidak menghilangkan arti tugas pemakmuran di bumi. Setiap ilmu yang diperoleh seseorang hendaknya digunakan untuk mewujudkan pemakmuran di bumi. Pemakmuran itu tidak boleh dimaknai mukminin dengan pemakmuran kehidupan dirinya saja, tetapi harus dalam bentuk pemakmuran bagi setiap elemen dunia secara berjamaah. Terwujudnya kemakmuran pada diri seorang mukmin tidak boleh dilakukan sebagai usaha pemakmuran diri sendiri saja, tetapi harus dilakukan dalam upaya pemakmuran bersama. Orang-orang mukmin hanya berusaha menemukan manfaat untuk dirinya sebagai bagian dari manfaat bersama, tidak melakukan usaha hanya untuk keuntungan bagi diri sendiri saja. Setiap mukmin harus berusaha memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan agar ia memperoleh manfaat yang kembali kepada dirinya. Memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kehidupan dunia akan dapat dilakukan manakala seseorang mempunyai ilmu, dan ilmu yang paling bermanfaat adalah pengetahuan tentang hakikat.
Pemakmuran dalam beberapa urusan bukan suatu yang mudah dilakukan karena banyaknya kebathilan yang menghalangi. Banyak kekuatan yang benar-benar berusaha mempertahankan kebathilan untuk keuntungan diri mereka sendiri. Dalam hal inilah pengetahuan tentang hakikat sangat diperlukan. Amerika Serikat dan Israel melakukan perang dengan Iran tanpa mempunyai alasan yang jelas. Sebenarnya alasan mereka hanya berlatar mempertahankan kekuasaan kebathilan. Bila alasan perang terhadap Iran dilakukan karena pengembangan senjata nuklir, langkah pertama membunuh Ayatullah Ali Khameini sangat bertentangan alasan itu. Beliau merupakan tokoh utama yang menahan pengembangan senjata nuklir di Iran. Eskalasi perang dilakukan kepada negara-negara lain dengan alasan untuk membuka jalur selat Hormuz, sedangkan selat Hormuz dalam posisi terbuka sebelum perang mereka kobarkan. Tidak ada alasan yang jelas yang bisa menjadi latar belakang peperangan. Alasan mereka memerangi Iran hanyalah mempertahankan kebathilan dan membungkam kebenaran. Dalam hal ini, pengetahuan tentang tuntunan agama dan hakikat di kalangan masyarakat Iran merupakan bentuk ancaman terhadap sistem kebathilan yang menjadi landasan kekuasaan mereka. Itu adalah contoh dari kejamnya kebathilan. Pemakmuran yang sebenarnya akan terjadi dengan baik manakala manusia mengenal hakikat dari sisi Allah. Pengetahuan hakikat itulah hal yang dapat mengatasi kebathilan.
Memperbaiki Kehidupan dengan Perhiasan (مَتَاعٌ)
Pemakmuran tidak akan dapat terjadi hanya melalui pengenalan terhadap kebenaran, tetapi hendaknya hakikat itu dapat diwujudkan di alam dunia. Untuk mewujudkan pemakmuran, seseorang harus mengolah alam duniawi mereka. Usaha demikian dapat dilakukan dengan memanfaatkan dunia sebagai perangkat (مَتَاعٌ). Misalnya untuk mendatangkan suatu manfaat tertentu, seseorang mungkin harus berbelanja atau berinvestasi dengan kadar tertentu agar pewujudan manfaat itu dapat terjadi. Mekanisme demikian ini menunjukkan fungsi bahwa dunia adalah perhiasan atau peralatan (مَتَاعٌ) secara jasmaniah. Selain mekanisme jasmaniah, terdapat suatu mekanisme mewujudkan manfaat melalui keberjamaahan, dan ini merupakan mekanisme yang bisa mendatangkan manfaat sangat besar. Bentuk materi mempunyai manfaat dengan batasan-batasan, sedangkan mekanisme keberjamaahan dapat mendatangkan manfaat dalam bentuk yang jauh lebih luas.
Ada hal duniawi yang dapat menghubungkan diri seseorang dengan masyarakat sekitar hingga mereka dapat membentuk mekanisme keberjamaahan. Penghubung demikian berupa perempuan shalihah. Seorang isteri yang shalihah merupakan perhiasan atau perangkat (مَتَاعٌ) yang terbaik bagi seorang suami untuk mewujudkan khazanah dalam dirinya.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr r.a ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.
Dunia adalah perangkat, dan sebaik-baik perangkat dunia adalah wanita yang shalihah. (HR Muslim (no. 1467), an-Nasa-i (VI/69), Ahmad (II/168), Ibnu Hibban (no. 4020) dan al-Baihaqi (VII/80))
Isteri shalihah merupakan perangkat duniawi yang terbaik bagi manusia. Keterampilan seseorang dalam menempatkan diri dan berperan dalam rumah tangga mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW merupakan sumber dari keterampilan dan kemampuan seorang mukmin untuk melangkah berjamaah di antara kaum mukminin. Dengan isteri shalihah, seorang laki-laki dapat membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bayt demikian itu dapat membentuk tatanan masyarakat yang tersusun dalam suatu Al-jamaah dalam usaha menunaikan kehendak Allah. Pada intinya, bayt demikian dibina melalui keluarga yang berjuang untuk menunaikan kehendak Allah, dan dapat meluas hingga bentuk Al-Jamaah yang sangat besar sebagaimana Rasulullah SAW bersama umahaatul mukminin dan umat Islam yang tegak meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Itu merupakan gambaran dari kalimat perempuan sebagai perhiasan atau perangkat (مَتَاعٌ) yang sebaik-baiknya di alam dunia.
Keshalihan perempuan adalah ketenangan seorang isteri dalam mendampingi suaminya dan sikap menjaga hal yang ghaib dalam dirinya sesuai dengan penjagaan Allah. Setiap perempuan pada dasarnya menyimpan suatu hal ghaib tertentu yang harus dijaga untuk diolah bersama suaminya. Hal ghaib itu benar-benar diturunkan gambarannya di tingkat jasmani sebagai telur yang hanya boleh dibuahi oleh suaminya agar terwujud menjadi anak-anak. Demikian pula hal ghaib itu harus dijaga oleh masing-masing perempuan bagi suaminya saja tidak diberikan kepada sembarang orang, dijadikan media untuk mewujudkan kemakmuran dunia melalui pernikahan mereka. Perempuan yang tidak dapat tenang mendampingi perjuangan suaminya di jalan Allah dan/atau tidak dapat menjaga hal yang ghaib dalam dirinya sebagaimana kehendak Allah belum termasuk sebagai perempuan yang shalihah. Pelaksanaan ibadah yang rajin oleh seorang isteri tanpa disertai memperhatikan suami tidak mempunyai nilai keshalihan diri seorang perempuan.
Tegaknya suatu bangsa ditentukan dari keshalihan para perempuan mereka. Seandainya para laki-laki mereka jahat, para perempuan yang shalihah akan menjadikan bangsa itu tetap makmur dalam urusan keduniaan dengan terwujudnya hal-hal duniawi. Seandainya para laki-laki suatu bangsa seluruhnya adalah para nabi, bila para perempuan mereka rusak akan mendatangkan kehancuran bagi bangsa. Keshalihan para perempuan suatu bangsa yang akan menentukan terwujudnya pemakmuran negeri, sedangkan para laki-laki berperan dalam mengenal khazanah kemuliaan dari sisi Allah. Setiap bangsa harus memperhatikan pembinaan para perempuan agar menjadi shalihah, karena para perempuan shalihah adalah tiang bagi tegaknya suatu bangsa. Pengabaian pembinaan perempuan atau pembinaan perempuan yang dilakukan secara salah akan menyebabkan suatu bangsa terpuruk pada berbagai masalah yang tidak perlu.
Kemuliaan martabat suatu bangsa akan diperoleh manakala setiap komponen bangsa bertakwa kepada Allah. Para laki-laki yang memperhatikan tuntunan Allah akan menjadi sumber kemuliaan dalam kehidupan berbangsa, dan para isteri shalihah merupakan perangkat untuk mewujudkan hasil ketakwaan para laki-laki dalam bentuk-bentuk duniawi. Seorang presiden yang bertakwa akan mempunyai pengaruh besar bagi bangsanya apabila didampingi oleh isteri yang shalihah. Para laki-laki akan menghasilkan sesuatu secara produktif manakala ia mensyukuri keadaan diri dengan didampingi isteri yang memperhatikan urusannya dengan baik. Sebaliknya suatu bangsa besar mungkin saja akan menjadi bulan-bulanan bangsa lainnya karena ibu negara yang tidak layak menjadi ibu negara.
Dewasa ini banyak persoalan yang terjadi terkait pembinaan para perempuan bahkan hingga kalangan mukminat. Mungkin mudah ditemukan gadis mukminat yang menginginkan suami yang telah kaya hingga kadangkala merendahkan laki-laki yang hadir kepada mereka secara haq karena kurang memiliki harta. Pikiran demikian hendaknya diluruskan, bahwa harta kekayaan yang baik sebenarnya terwujud melalui kebersamaan dalam pernikahan dengan peran sinergis antara suami dan isteri, bukan kekayaan yang dibawa oleh satu pihak. Potensi kekayaan yang dapat mereka peroleh dapat diperkirakan melalui kesesuaian potensi laki-laki dengan jodohnya dalam mengenali dan mengolah kekayaan melalui kebersamaan. Selama seorang perempuan menjaga diri untuk suaminya dan suaminya mau memahami dan mengolah khazanahnya, akan muncul kekayaan bersama melalui pernikahan. Potensi kekayaan tidak diukur berdasar kekayaan yang telah dibawa. Kekayaan yang dibawa hanya oleh satu pihak itu seringkali justru menjadi beban dalam hubungan pernikahan, sedangkan kekayaan yang merupakan hasil sinergi akan mendatangkan kesejahteraan.
Kadangkala dijumpai seorang isteri tidak dapat tenang mendampingi suaminya. Ketenangan mendampingi usaha suami merupakan hasil dari kebersyukuran seorang isteri terhadap suaminya. Kebersyukuran itu terwujud melalui pengenalan urusan yang harus ditunaikan bersama. Tidak jarang seorang isteri kurang memperhatikan urusan bersama sedemikian ia tidak mengenal urusan yang dipandang amal shalih oleh suaminya, bahkan manakala suaminya mengenal urusan Allah yang harus ditunaikan. Karena kurang memperhatikan urusan bersama, ia tidak mempunyai ketenangan atau keyakinan dalam mendampingi amal-amal suaminya. Dalam kasus yang lebih buruk, seorang perempuan mungkin terpalingkan perhatiannya kepada laki-laki lain yang ia pandang lebih baik. Ini merupakan tipuan syaitan. Bukan tidak mungkin syaitan menipu mukminat dengan memandang laki-laki lain lebih layak diperhatikan karena lebih baik dalam menunaikan agama, atau syaitan menjadikannya menganggap ia akan lebih baik dalam menolong agama dengan memperhatikan laki-laki lain tersebut. Ini benar-benar merupakan tipuan syaitan. Seorang perempuan bisa menolong Allah hanya dengan jalan memperhatikan urusan bersama suaminya, baik suaminya orang shalih ataupun seorang fir’aun. Tipuan syaitan demikian akan menyebabkan suatu bangsa runtuh sekalipun masyarakat memandang diri mereka orang yang baik ataupun shalih.
Pembinaan kaum perempuan harus diarahkan agar mereka menjadi perempuan shalihah yang tenang memperhatikan urusan Allah dengan benar melalui suaminya. Pembinaan perempuan menekankan tentang penempatan diri seorang perempuan dalam urusan Allah secara nyata, yaitu dalam pernikahan bersama suaminya. Sebenarnya pembinaan demikian juga berlaku dalam pembinaan agama bagi laki-laki di mana setiap laki-laki hendaknya menemukan tempatnya dalam susunan Al-Jamaah dengan menangani suatu urusan yang terjadi secara nyata, bukan hanya membina agama dengan teori saja. Hanya saja perjalanan laki-laki untuk menemukan hal demikian harus ditempuh lebih panjang dengan memperkuat akal, sedangkan perjalanan perempuan adalah mensyukuri kebersamaan dengan suaminya.
Tingkat kepentingan perempuan shalihah ini akan semakin tinggi manakala terkait amal-amal yang ditetapkan Allah bagi umat manusia. Seorang laki-laki dapat terputus sama sekali dalam beramal shalih yang ditetapkan Allah karena ditinggalkan oleh isterinya. Mungkin ia bisa berusaha dengan perangkat duniawi untuk kepentingan-kepentingan duniawi, tetapi tidak akan bisa menghasilkan dengan amal-amal yang ditetapkan Allah. Dalam kasus nabi Nuh dan nabi Luth a.s, ketidak shalihan isteri-isteri mereka justru membalikkan hasil dari keshalihan kedua nabi tersebut menjadi suatu adzab bagi kaumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar