Pencarian

Jumat, 28 November 2025

Membina Masyarakat dengan Pengetahuan yang benar

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Menempuh perjalanan kembali kepada Allah membutuhkan keimanan untuk mencahayai langkah menuju arah yang benar. Keimanan akan diketahui oleh diri seseorang apabila Allah telah menurunkan fitnah. Banyak orang menyangka dirinya beriman sedangkan Allah belum memperlihatkan tingkat keimanan mereka melalui suatu fitnah, maka sangkaan orang demikian belum mempunyai bukti yang shahih.

﴾۲﴿أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak ditimpa fitnah? (QS Al-’Ankabuut : 2)

Untuk mengurangi dan menghindari fitnah, setiap orang harus tumbuh sebagai orang yang kokoh dalam memahami persoalan diri mereka sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pengetahuan yang benar demikian itu merupakan bagian dari keimanan yang kokoh, bukan hanya pengakuan keimanan. Pengetahuan yang benar akan mempengaruhi bentuk-bentuk hubungan di masyarakat. Hubungan yang positif di antara masyarakat akan terbentuk di atas pengetahuan yang baik, sedangkan fitnah-fitnah akan merusak hubungan baik di antara masyarakat dan memunculkan perselisihan di antara masyarakat. Persatuan di antara umat akan terbentuk dari pengetahuan yang merupakan bagian dari keimanan.

Sangat penting bagi setiap orang dan masyarakat untuk membina pengetahuan yang tumbuh sebagai cabang dari keimanan, berupa pengetahuan yang dekat dengan diri masing-masing. Membentuk pengetahuan sebagai bagian dari keimanan akan sangat dimudahkan dengan pernikahan yang meningkatkan pengetahuan seseorang terhadap permasalahan yang menjadi bagian diri masing-masing. Pembinaan pernikahan yang baik akan sangat mengurangi fitnah yang bisa beredar di masyarakat dengan meningkatkan kualitas iman di masyarakat dari sekadar pengakuan beriman menjadi iman yang dilandasi pengetahuan terhadap permasalahan yang menjadi bagian setiap diri sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Menemukan Landasan Memahami Diri

Pernikahan merupakan kunci bagi seseorang untuk membuka pengetahuan terhadap bagian dirinya yang terserak di alam dunia. Kunci yang baik itu akan ditemukan pada pernikahan yang bertujuan untuk ibadah kepada Allah sejak sebelum pernikahannya. Apabila seseorang memilih jodoh karena harta, kedudukan atau kecantikan/ketampanan pasangannya, ia tidak memperoleh kunci yang paling baik. Apabila seseorang memilih pasangannya berdasarkan tuntunan agama, ia akan menemukan kunci yang baik untuk membuka pengetahuan terhadap bagian diri yang terserak di alam dunia. Niat pernikahan hendaknya ikhlas untuk menemukan jalan beribadah kepada Allah, dan pasangan yang dipilih adalah pasangan yang sekufu’.

Kafaah (kufu) berarti kecukupan, yaitu kecukupan yang dibutuhkan oleh seseorang untuk membentuk kebersamaan. Kafaah bersifat subjektif bagi setiap orang. Seorang perempuan yang kaya raya bisa saja memilih kafaah tidak menentukan harta minimal, dan memilih kafaah dalam hal agama secara ketat dalam hal keshalihan dan amal shalih. Sebaliknya seorang yang miskin mungkin saja menentukan kafaah harta yang sangat besar tanpa menentukan kafaah pada bidang lainnya. Kafaah yang paling baik akan diperoleh apabila seseorang bisa mencukupkan kafaah dirinya pada keikhlasan dalam beribadah kepada Allah tanpa kafaah yang lain. Bila mampu atau dapat berusaha, seseorang hendaknya mencukupkan kafaah dirinya pada keikhlasan beribadah kepada Allah tanpa mensyaratkan kafaah yang lain. Hendaknya ia berusaha menemukan orang yang menentukan kafaah dengan cara yang sama.

Menentukan kafaah dalam bidang agama saja bukan berarti tidak melihat hal-hal duniawi, karena agama juga mencakup hingga hal-hal duniawi. Suatu pernikahan untuk agama sebenarnya bertujuan mewujudkan kehendak Allah di alam bumi dengan menyatukan kembali makhluk-makhluk yang asalnya satu dan kemudian terserak dalam berbagai tingkatan sehingga kehendak Allah terhubung ke alam bumi. Kaum laki-laki berperan besar dalam upaya memahami kehendak Allah, sedangkan kaum perempuan lebih berperan dalam menghubungkan peran suaminya ke alam bumi. Ada peran-peran yang khusus pada masing-masing, dan ada pula kemampuan yang hampir sama hanya saja dalam komposisi yang berbeda-beda. Pernikahan berfungsi menghubungkan masing-masing peran tersebut dalam sautu shilaturrahmi untuk mewujudkan pemakmuran di bumi. Kafaah yang bersifat duniawi merupakan pendorong untuk mewujudkan pemakmuran di tingkat bumi selama terukur berdasarkan tuntunan agama.

Terkait kafaah, secara umum perempuan akan mempunyai kafaah terhadap masalah duniawi lebih tinggi daripada kaum laki-laki karena peran mereka lebih di alam bumi. Karena itu hendaknya kaum laki-laki dapat menerima permintaan dari calon pasangannya yang bersifat duniawi selama permintaan itu dilakukan dengan wajar. Apabila dilakukan secara tidak wajar, barangkali itu merupakan penolakan dari pihak perempuan. Sebaliknya bagi para perempuan, hendaknya mereka mengendalikan tuntutan duniawi itu dalam bentuk yang lebih sesuai dengan peran laki-laki. Standar perempuan tentang kafaah duniawi hendaknya lebih dipenuhi dari potensi yang ada yang dapat ditumbuhkembangkan bersama apabila menikah, atau amaliah yang ada, tidak semata diukur dari wujud harta benda yang ada pada laki-laki tersebut. Kesiapan dalam mengenal potensi yang dapat berkembang dalam pernikahan lebih penting dipertimbangkan sebagai kafaah daripada harta benda yang dapat dihadirkan pada masa ta’aruf. Seorang laki-laki muda mungkin tidak banyak berpikir tentang harta benda hingga tidak terlihat sebagai orang kaya. Kalaupun kaya, harta mereka mungkin milik orang tuanya bukan laki-laki itu. Demikian apabila yang datang laki-laki dewasa, mungkin saja mereka mengalami beberapa kesulitan tentang harta dunia.

Kafaah dalam pernikahan mengikuti agama yang paling sempurna adalah penyatuan nafs wahidah. Setiap perempuan sebenarnya diciptakan dari nafs wahidah laki-laki tertentu. Dari suatu nafs wahidah tertentu, diciptakan nafs pasangannya berupa nafs perempuan. Nafs wahidah itu kemudian disempurnakan penciptaannya dengan penciptaan jasmani seorang laki-laki, dan dari nafs pasangannya disempurnakan penciptaannya dengan penciptaan bentuk jasmaniah seorang perempuan. Laki-laki dan perempuan yang diciptakan dari nafs wahidah yang sama tersebut kemudian dilahirkan dari orang-orang yang terpisah dan mungkin tidak saling mengenal. Demikian pula pasangan itu kemudian diasuh dan dibesarkan tanpa saling mengenal satu dengan yang lain hingga tiba saatnya mereka bertemu. Kafaah yang paling sempurna adalah keberpasangan seperti demikian, akan tetapi kafaah seperti ini membutuhkan perjalanan yang sangat panjang.

Seseorang boleh saja menginginkan untuk menemukan kesatuan nafs wahidah dirinya melalui pernikahan, tetapi menetapkannya sebagai kafaah akan sangat berat. Bahkan seringkali kesatuan nafs wahidah itu akan dikenali melalui pernikahan, tidak sebaliknya. Yang perlu diingat, Allah akan mengarahkan orang-orang yang ikhlas dalam ibadah kepada Allah untuk menemukan kesatuan nafs wahidah diri mereka. Apabila seseorang menempuh jalan taubat kepada Allah melalui jalan yang dicontohkan Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, Allah akan memudahkan seseorang untuk mengenal kesatuan nafs wahidah diri mereka. Jalan membentuk bayt itu dimulai dengan tazkiyatun-nafs hingga tiba di tanah yang dijanjikan, kemudian membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Dalam proses tazkiyatun-nafs, seseorang boleh jadi akan memperoleh petunjuk tentang kesatuan nafs wahidah diri mereka termasuk pasangan-pasangannya. Petunjuk demikian harus disyukuri, dan itu merupakan kemudahan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Apabila seseorang memperoleh petunjuk kesatuan nafs wahidah, ia tidak boleh kufur terhadap petunjuk tersebut. Apabila seseorang menentukan kafaah berbentuk kesatuan nafs wahidah dalam pernikahan, hendaknya kafaah itu diturunkan dalam bentuk langkah-langkah mengikuti langkah Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah berupa melakukan tazkiyatun-nafs dan seterusnya.

Penataan Masyarakat dari Keluarga

Tatacara pemilihan pasangan sebagaimana dijelaskan di atas mempunyai manfaat yang besar sebagai sarana mengenal amanah diri dan memahami kehendak Allah. Apabila seseorang menemukan pasangan yang paling tepat, ia akan berada di atas garis kehidupan paling dekat dengan shirat al-mustaqim apabila ia berkeinginan untuk kembali kepada Allah. Setengah bagian agamanya telah berada pada garis yang benar. Seandainya seseorang kurang perhatian kepada Allah, ia akan memperoleh pengingat-pengingat kehidupan dalam kebersamaan dengan pasangan agar tidak terjerumus jauh dalam kesesatan. Seandainya hidupnya hanya untuk duniawi saja, ia akan memperoleh kehidupan duniawi yang mudah. Pasangan yang tepat itu akan menjadikan seseorang memperoleh garis kehidupan yang paling baik.

Penataan manusia dalam tatanan bermasyarakat yang baik harus dilakukan dengan melakukan penataan dalam keluarga. Tidak mungkin melakukan penataan masyarakat tanpa melakukan penataan keluarga. Kadangkala suatu kaum berusaha keras mewujudkan suatu cita-cita dalam agama tetapi tidak dilakukan penataan keluarga maka cita-cita itu tidak pernah tercapai. Orang-orang mungkin ingin mengenal penciptaan diri masing-masing tetapi tatanan keluarga justru dirusak, maka cita-cita itu tidak akan pernah terwujud. Demikian pula barangkali orang-orang ingin mengenal Allah tetapi tidak memperbaiki keluarga, maka mereka tidak bisa mengenal Allah. Sebagian orang berusaha mewujudkan tatanan masyarakat yang baik tetapi keluarga mereka tidak diperhatikan maka tatanan demikian tidak terwujud. Keluarga merupakan kunci untuk membuka kebaikan dari sisi Allah yang dijadikan tauladan para uswatun hasanah.

﴾۱﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafs wahidah, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling bertanya satu sama lain, dan hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS An-Nisaa’ : 1)

Salah satu fungsi dari pernikahan adalah mencari jawaban tentang asma Allah, dan juga membina hubungan kasih sayang. Tatanan manusia baik individu maupun masyarakat terletak pada kedua hal tersebut. Kedua hal tersebut merupakan dua keadaan yang saling berhubungan. Kasih sayang yang seharusnya terbentuk di antara insan yang menikah berupa kasih sayang karena pengetahuan terhadap asma Allah, dan pengetahuan yang terbentuk di antara keduanya adalah pengetahuan atas dasar kasih sayang. Hubungan demikian akan terbentuk apabila manusia menempuh jalan ketakwaan dalam membentuk hubungan terhadap pasangannya.

Dalam kehidupan modern, menemukan pasangan dengan jalan mengikuti agama banyak ditinggalkan oleh manusia. Bahkan tidak jarang dijumpai seseorang merusak tatanan keluarga orang lain yang berkeinginan untuk membentuk keluarga yang baik. Kebanyakan anak muda berusaha mencari pasangan lebih mengikuti keinginan hawa nafsu dan syahwat, atau para pemuda yang ingin mengikuti tuntunan agama diarahkan untuk mengikuti syahwat dan hawa nafsu mereka sendiri. Dalam beberapa aspek, barangkali banyak yang menyangka bahwa hawa nafsu dan syahwat mereka adalah kasih sayang, tetapi sebenarnya kurang sempurna. Suatu kasih sayang yang terbentuk di antara laki-laki dan perempuan harus mencakup pengetahuan tentang kehendak Allah yang muncul dalam pergaulan suami dan isteri, dan pengetahuan tentang kehendak Allah akan muncul melalui tatanan mengikuti agama bukan mempertuhankan syahwat dan hawa nafsu. Orang yang merusak tatanan Allah terkait tatanan keluarga untuk melakukan penataan sebenarnya justru akan merusak tatanan masyarakat.

Membentuk keluarga yang baik mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan menjadi sarana efektif melakukan pemakmuran bumi termasuk menghilangkan fitnah yang dapat berkembang di masyarakat agar terbentuk persatuan. Di sisi lain, pernikahan itu sendiri merupakan sasaran fitnah yang besar dari musuh Allah karena merupakan transformator keimanan dari pengakuan iman menuju iman berdasar pemahaman terhadap kehendak Allah. Mengupayakan persatuan mengurangi fitnah yang menjalar di masyarakat harus dilakukan dengan memahami kehendak Allah dalam urusan membentuk keluarga berupa ketakwaan kepada Allah. Tanpa suatu ketakwaan, mengurangi fitnah dengan upaya membentuk keluarga hanya akan menemukan kegagalan. Tatanan keluarga tidak boleh dibentuk menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Suatu masyarakat yang membentuk tatanan keluarga menyimpang dari kedua tuntunan tersebut akan mengalami kerusakan yang besar.

Hal yang paling mendasar dalam membentuk tatanan masyarakat adalah menghindari kekejian dan kemunkaran. Kekejian akan menyimpangkan manusia yang ingin beribadah kepada Allah menyimpang menjadi pelayan syaitan. Kemunkaran pada dasarnya akan terkikis dengan ma’rifat melalui pernikahan di mana seseorang dapat saling bertanya tentang kehendak Allah dengan ketakwaan dalam pernikahan mereka. Fungsi pernikahan utamanya adalah agar seseorang dapat mengenal kehendak Allah hingga mengenal kehendak-Nya terhadap diri masing-masing, mengenal dengan benar bagian diri masing-masing. Kekejian dan kemunkaran yang diturutkan akan mendatangkan kerusakan besar pada tatanan pernikahan yang diikuti masyarakat. Pasangan yang menginginkan membentuk bayt dapat dirusak oleh masyarakat karena diturutinya kekejian dan kemunkaran. Demikian pula tatanan masyarakat yang ingin menginginkan kehidupan yang baik dapat terusakkan oleh kultur masyarakat ynng buruk. Sangat banyak kerusakan yang muncul apabila kekejian dan kemunkaran dituruti.

Minggu, 23 November 2025

Iman dan Menghindari Fitnah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Menempuh perjalanan kembali kepada Allah membutuhkan keimanan untuk mencahayai langkah menuju arah yang benar. Keimanan akan diketahui oleh diri seseorang apabila Allah telah menurunkan fitnah. Banyak orang menyangka dirinya beriman sedangkan Allah belum memperlihatkan tingkat keimanan mereka melalui suatu fitnah, maka sangkaan orang demikian belum mempunyai bukti yang shahih.

﴾۲﴿أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak ditimpa fitnah? (QS Al-’Ankabuut : 2)

Fitnah merupakan sesuatu yang menimbulkan persepsi tidak benar dan mendatangkan madlarat. Misalnya perkataan tentang sesuatu yang keliru hingga mendatangkan persepsi yang tidak benar dan menimbulkan madlarat merupakan fitnah. Allah seringkali mengijinkan suatu peristiwa terjadi sedemikian banyak orang mempersepsi peristiwa itu secara keliru dan kemudian mereka bertindak mendatangkan madlarat, maka peristiwa demikian menimbulkan suatu fitnah di antara masyarakat. Orang-orang beriman harus berusaha memahami segala sesuatu yang terjadi atas diri mereka mengikuti tuntunan agar tidak terjebak pada fitnah.

Tingkat keimanan orang-orang yang mengatakan dirinya beriman ditentukan dengan tingkat pemahamannya terhadap kauniyah selaras dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala suatu fitnah ditimpakan kepada orang-orang yang mengatakan diri mereka beriman, tingkat keimanan masing-masing akan dapat diketahui dari penjelasan kitabullah yang mereka pahami. Orang-orang yang tetap mengikuti fitnah tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah mungkin akan tetap mengatakan diri mereka beriman tetapi sebenarnya telah tampak bahwa keimanan mereka hanya keimanan tanpa kesungguh-sungguhan. Kadangkala seseorang atau suatu kaum menyatakan ikrar keimanan terhadap sesuatu sedangkan tidak ada tuntunan kitabullah yang dipahami dari sesuatu yang diimaninya, maka hal demikian juga iman yang tidak sungguh-sungguh. Orang-orang yang sungguh-sungguh beriman adalah orang-orang yang memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dari peristiwa yang terjadi pada mereka, termasuk memahami fitnah yang menimpa diri mereka.

Kesungguhan keimanan akan menentukan jauhnya langkah mendekat kepada Allah. Keimanan palsu akan menjebak manusia pada waham beriman sedangkan mereka tidak melangkah mendekat kepada Allah. Boleh jadi mereka merasa melangkah kepada Allah sedangkan mereka tidak membentuk pemahaman terhadap urusan Allah. Urusan-urusan di antara mereka tidak dilaksanakan untuk mengikuti perintah Allah, hanya mengikuti waham-waham diri mereka saja. Tidak jarang kaum demikian merasa melaksanakan urusan mengikuti kehendak Allah tetapi tidak mempunyai dasar yang dipahami dari ayat kitabullah. Kadangkala terjadi keruwetan di masyarakat karena langkah-langkah dan keadaan orang yang merasa beriman tetapi mereka tidak menyadari kaitan keruwetan itu dengan diri mereka sedangkan mereka memandang diri lebih baik karena tidak ikut terlibat dalam keruwetan. Hal demikian akan menentukan kemajuan langkah mendekat kepada Allah dan akan menentukan kemajuan kemakmuran yang dapat terjadi pada masyarakat.

Iman dan Pengenalan Bagian Diri

Bobot kesungguhan pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dapat dilihat dari pengetahuan persoalan diri sendiri. Pada pengesahan pemahaman yang benar, seseorang akan mengenal diri, mengenal untuk apa dirinya diciptakan. Akan tetapi pemahaman persoalan diri itu tidak terbatas diri sendiri tetapi juga terkait dengan perpanjangan diri di alam bumi semisal pengetahuan seseorang terhadap tuntunan atas masalah pernikahan mereka. Suatu pernikahan memunculkan masalah dan persoalan yang harus dihadapi seseorang sebagai bagian dirinya dalam bentuk di luar diri, sedangkan yang di luar diri itu benar-benar merupakan bagian dari diri sendiri. Alam bumi merupakan perluasan dari hubungan demikian bagi diri manusia dalam bentuk gabungan yang lebih luas, ada bagian-bagian yang benar-benar merupakan bagian dari diri seorang manusia sebagaimana isteri dan anak-anak merupakan bagian dari diri, tetapi tidak semua perempuan merupakan isteri bagi laki-laki tertentu. Kesungguhan pemahaman seseorang terhadap tuntunan kitabullah harus dibina sedemikian ia mengenal pengetahuan bagian-bagian dari dirinya di alam semesta bumi selaras dengan tuntunan kitabullah. Suatu pengetahuan kitabullah yang bersifat acak seringkali bukan merupakan pengetahuan yang kokoh terhadap tuntunan.

Kesungguhan pemahaman itu berbentuk pengenalan diri seseorang terhadap bagian dirinya di alam bumi selaras dengan kehendak Allah. Layaknya mengenal pasangan, demikian pula pengenalan bagian diri di alam bumi. Seseorang hanya mempunyai pasangan dalam bentuk perempuan tertentu, tidak semua perempuan harus menjadi pasangan dirinya. Demikian pula tidak semua khazanah alam bumi harus dikuasai oleh seorang laki-laki cukup bagian dirinya saja. Pengenalan terhadap bagian-bagian diri harus dilakukan layaknya seorang laki-laki mengenal isterinya dengan semua hal duniawi dan persoalan yang didatangkan bersama pasangannya. Apabila seseorang tidak mengenal pasangannya dan persoalan yang datang bersama mereka selaras tuntunan kitabullah, ia tidak akan bisa mengenal bagian-bagian dirinya selaras dengan tuntunan kitabullah.

Pernikahan merupakan kunci bagi seseorang untuk membuka pengetahuan terhadap bagian dirinya yang terserak di alam dunia. Kunci yang baik itu akan ditemukan pada pernikahan yang bertujuan untuk ibadah kepada Allah sejak sebelum pernikahannya. Apabila seseorang memilih jodoh karena harta, kedudukan atau kecantikan/ketampanan pasangannya, ia tidak memperoleh kunci yang paling baik. Apabila seseorang memilih pasangannya berdasarkan tuntunan agama, ia akan menemukan kunci yang baik untuk membuka pengetahuan terhadap bagian diri yang terserak di alam dunia. Niat pernikahan hendaknya ikhlas untuk menemukan jalan beribadah kepada Allah, dan pasangan yang dipilih adalah pasangan yang sekufu’.

Yang paling utama diperhatikan dalam kufu bukanlah harta, kedudukan ataupun kecantikan, tetapi derajat keinginan untuk mengabdi kepada Allah melalui pernikahan. Seseorang yang masih menginginkan dunia hendaknya memilih pasangan yang menginginkan dunia pula tidak mengharapkan pasangan yang berbeda terlalu jauh dalam keikhlasan beribadah kepada Allah. Demikian pula orang yang ikhlas menginginkan kemurnian ibadah kepada Allah hendaknya memilih pasangan yang siap untuk melaksanakan kehendak Allah semata, tidak memilih pasangan yang terlalu mengharapkan dunia. Setiap orang hendaknya memilih pasangan dalam kufu’ yang setara menghindari langkah tidak perlu dalam pernikahan berupa mengubah nafs pasangannya mengikuti keinginan dirinya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengukur kesetaraan kafaah (kufu) diri mereka dalam ibadah kepada Allah.

Sekiranya ada suatu kafaah tertentu dari satu pihak misalnya kecukupan tertentu terkait harta benda, ada baiknya kafaah disampaikan kepada pasangannya agar pasangannya mengenal kafaah yang dibutuhkan dirinya. Tentunya penyampaian itu harus dilakukan dengan baik hingga pasangannya memahami dengan tepat kafaah yang diminta dan dapat mengukur kesetaraan kufu di antara mereka. Kafaah demikian hendaknya disampaikan tanpa merendahkan pasangannya. Bila disampaikan dengan tujuan merendahkan, sebenarnya proses pernikahan merupakan proses yang mulia di hadapan Allah yang tidak sepantasnya direndahkan. Bila seseorang bisa mencukupkan kafaah dirinya pada keikhlasan dalam beribadah kepada Allah tanpa kafaah yang lain, maka itu merupakan kafaah yang paling baik. Bila mampu atau dapat berusaha, seseorang hendaknya mencukupkan kafaah dirinya pada keikhlasan beribadah kepada Allah tanpa mensyaratkan kafaah yang lain. Hal itu akan menjadikan perjodohan dirinya lebih ringan.

Dalam tingkatan praktis, kriteria demikian seringkali menjadi urusan yang kabur bagi orang yang terbakar keinginan menikah seolah-olah kedua pihak pasangan siap menghadapi semua hambatan hingga kufu itu baru dikenali setelah pernikahan. Setiap orang hendaknya mengukur dengan benar cara pandang kehidupan calon pasangan menikahnya dengan tepat, tidak memaksakan apabila ditemukan cara pandang pasangan yang tidak sanggup atau terlalu berat ia tempuh bersama. Penilaian demikian tidak dapat dilakukan secara serampangan, harus diperhatikan dengan seksama. Setiap orang hendaknya menemukan pasangan yang setara menurut ukuran keikhlasan mereka dalam ibadah kepada Allah. Perbedaan yang jauh dalam ukuran ini akan menimbulkan banyak masalah dalam perjalanan pernikahan.

Kehidupan pernikahan akan menampakkan bagian-bagian yang terserak bagi diri seseorang di alam dunia, baik berupa bagian-bagian berupa harta benda ataupun pengetahuan-pengetahuan yang muncul melalui kebersamaan. Hal ini terutama bagi orang-orang yang melakukan pernikahan dengan landasan keikhlasan. Pasangan-pasangan yang menikah untuk harta, kedudukan dan kecantikan akan menghadapi banyak masalah bersama pasangannya. Sekalipun masalahnya mungkin sama saja dengan orang yang ikhlas, cara pandang menghadapi masalah yang menjadikan masalahnya tampak berat dan tidak muncul pengetahuan dari masalahnya. Boleh jadi mereka memandang masalah pasangannya adalah masalah pasangannya sendiri, atau bahkan mungkin menganggap pasangannya adalah masalah bagi dirinya. Orang yang ikhlas akan memandang masalah yang datang kepada mereka adalah sesuatu yang dihadirkan Allah untuk disyukuri dan disikapi dengan benar bersama-sama.

Mencegah Penyebaran Fitnah dengan Ilmu

Apabila setiap orang dapat mengenali bagian-bagian diri yang terserak di alam bumi bersama dengan pengetahuan-pengetahuan tentang tuntunan Allah terkait bagian-bagian diri tersebut, fitnah dalam kehidupan manusia akan hilang. Setiap orang akan mengetahui apa-apa yang harus diurus dirinya dan bagaimana petunjuk Allah terkait dengan bagian diri mereka. Itu adalah pengetahuan sebagai bagian keimanan. Apabila keimanan mereka sungguh-sungguh, fitnah tidak akan menyebar di antara masyarakat. Apabila pengetahuan yang ada di masyarakat tidak benar-benar terkait dengan bagian-bagian diri masing-masing, pengetahuan demikian bukanlah pengetahuan yang kokoh sebagai keimanan. Tidak jarang di masyarakat demikian terjadi perselisihan antar manusia karena ilmu yang dimiliki masing-masing sedangkan ilmu mereka sama. Fitnah masih mudah menjalar pada masyarakat yang berilmu dengan cara demikian.

Sebagian orang yang mengatakan diri mereka beriman membaca diri mereka dari persoalan diri sendiri saja, tidak belajar mengenali bagian bagi dirinya yang terserak melalui pernikahan. Hal demikian ini tidak hanya terjadi pada orang yang tidak menikah, tetapi juga bisa terjadi pada pasangan menikah di mana satu pihak tidak berusaha memahami pihak lainnya maka pihak yang tidak mau memahami itu sebenarnya tidak belajar mengenali bagian diri yang terserak. Pernikahan demikian itu tidak mendatangkan manfaat yang terbaik dan cenderung menjadi beban bagi pihak-pihak yang menikah. Untuk membina akal sebaik-baiknya mengenali bagian-bagian diri yang terserak di lingkungan, setiap orang harus menikah dan memahami persoalan yang datang bersama dengan pernikahannya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik dalam kesenangan ataupun dalam kesulitan. Apabila orang beriman berbuat demikian, mereka akan memahami persoalan yang merupakan bagian diri mereka.

Cara pandang memahami masalah tanpa memahami persoalan dalam pernikahan sebenarnya merupakan cara pandang yang terlalu sempit dimana pengetahuan yang diperoleh bersifat subjektif sedemikian mungkin pengetahuannya tidak mempunyai penjabaran yang jelas di alam buminya. Misalnya mungkin seseorang menyangka dirinya orang yang terpilih untuk urusan tertentu karena suatu perkataan yang disampaikan, sedangkan ia tidak mempunyai pengetahuan tentang urusan itu dan ia tidak berusaha mencari pengetahuan untuk urusan itu. Sikap itu seringkali merupakan cerminan sikap yang tumbuh karena ia tidak berusaha belajar mengenali bagian bagi dirinya secara tepat yang tergambar dengan jelas melalui pernikahan. Apabila seseorang belajar mengenali bagian diri melalui pernikahan dan apa-apa yang datang dengannya, akan terbentuk sikap yang lebih baik dalam memahami informasi yang sampai kepada diri mereka.

Kekacauan mengukur bagian diri yang terserak demikian bisa terjadi layaknya seorang suami tidak memahami isterinya, atau isteri tidak memahami suaminya. Seorang laki-laki yang tidak berpegang pada tuntunan yang benar dalam membaca diri itu layaknya seorang isteri yang tidak memahami suaminya. Membaca diri cara demikian mendatangkan pengetahuan yang kacau tidak jelas benar atau salahnya dan seringkali merupakan kekejian. Setiap orang harus berusaha memahami persoalan dengan bersandar pada tuntunan terutama tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Di sisi lain apabila seseorang membaca tuntunan tanpa melihat realitas umat yang dipimpin, ia seperti laki-laki yang tidak memahami isterinya. Dalam hal ini bukan tuntunannya yang keliru, tetapi boleh jadi sebenarnya ia mempelajari tuntunan yang tidak terkait dengan umatnya. Ia meninggalkan upaya mengumpulkan pengetahuan yang dibutuhkan umatnya untuk mengumpulkan yang tidak dibutuhkan. Pengetahuan yang dipelajari dengan cara demikian menunjukkan ia belum memahami kedudukan dirinya bagi umatnya, dan pengetahuan demikian bukan pengetahuan yang kokoh.

Untuk mengurangi dan menghindari fitnah, setiap orang harus tumbuh sebagai orang yang kokoh dalam memahami persoalan diri mereka sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini akan sangat dimudahkan dengan pernikahan. Pembinaan pernikahan yang baik akan sangat mengurangi fitnah yang bisa beredar di masyarakat dengan meningkatkan kualitas iman dari sekadar pengakuan beriman menjadi iman yang dilandasi pengetahuan terhadap permasalahan yang menjadi bagian diri masing-masing sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Di sisi lain, pernikahan itu sendiri merupakan sasaran fitnah yang besar dari musuh Allah karena merupakan transformator keimanan dari pengakuan iman menuju iman berdasar pemahaman terhadap kehendak Allah.



Kamis, 20 November 2025

Fitnah, Iman dan Akhlak

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Menempuh perjalanan kembali kepada Allah membutuhkan keimanan untuk mencahayai langkah menuju arah yang benar. Iman adalah cahaya yang menerangi hati orang-orang beriman sehingga hati mereka mengetahui kebenaran yang menjadi dasar bagi mereka untuk melangkah. Iman merupakan cahaya yang dilimpahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Tanpa keimanan, seseorang tidak akan dapat melangkah kembali kepada Allah dengan benar karena terjebak dalam kegelapan. Manusia akan terseret dalam kehidupan dunia mereka karena waham-waham yang diikuti tanpa mengetahui kebenaran.

Pada satu sisi, manusia tidaklah mengetahui keimanan bahkan keimanan dirinya. Kebenaran pengakuan keimanan seseorang baru akan diketahui oleh dirinya sendiri apabila Allah telah menurunkan fitnah. Banyak orang menyangka dirinya beriman sedangkan Allah belum memperlihatkan tingkat keimanan mereka melalui suatu fitnah, maka sangkaan orang demikian belum mempunyai bukti yang shahih.

﴾۲﴿أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak ditimpa fitnah? (QS Al-’Ankabuut : 2)

Allah akan menurunkan fitnah kepada manusia yang mengatakan dirinya beriman. Fitnah merupakan sesuatu yang menimbulkan persepsi tidak benar dan mendatangkan madlarat. Misalnya perkataan tentang sesuatu yang keliru hingga mendatangkan persepsi yang tidak benar dan menimbulkan madlarat merupakan fitnah. Allah tidak jarang mengijinkan terjadinya suatu peristiwa sedemikian hingga banyak orang mempersepsi peristiwa itu secara keliru dan kemudian mereka bertindak mendatangkan madlarat, maka peristiwa demikian menimbulkan suatu fitnah di antara masyarakat. Fitnah itu berupa terjadinya persepsi keliru yang muncul pada pikiran masyarakat sedemikian mereka terseret pada pikiran yang salah tentang sesuatu yang ada di antara mereka.

Terjadinya suatu fitnah terkait erat dengan tingkat keimanan suatu kaum. Orang-orang yang membina diri dengan benar dalam keimanan akan meredam fitnah yang terjadi sedemikian suatu peristiwa yang terjadi di antara mereka dapat dipersepsi dengan benar oleh masyakat tanpa menimbulkan pikiran-pikiran yang buruk, sedangkan orang-orang yang tidak beriman akan menyukai fitnah-fitnah menyebar di antara masyarakat. Persepsi yang benar bukan menganggap semua peristiwa baik, tetapi menunjuk pada dipahaminya sesuatu yang baik itu sebagai baik dan yang sesuatu yang buruk itu sebagai buruk. Masyarakat yang beriman akan mempunyai pengetahuan yang kokoh tentang dasar-dasar kebenaran dari sesuatu yang terjadi di sekitar mereka, atau setidaknya dapat membangun cara untuk menentukan sesuatu yang benar tidak hanya berdasar  hawa nafsu mereka sendiri.

Masyarakat yang buruk tidak mempunyai pengetahuan demikian sehingga sangat mudah dipermainkan oleh pikiran mereka sedangkan pikiran mereka ada pada tingkatan rendah. Kadangkala suatu masyarakat yang kurang baik akhlaknya tidak mampu melihat kebaikan dari diri seseorang di antara jamaah mereka sendiri karena perkataan keliru tentang orang tersebut, sekalipun orang tersebut tidak menunjukkan sama sekali gejala terkait perkataan keliru tersebut. Dalam beberapa kasus orang-orang yang berkeinginan untuk menghindari fitnah dengan berusaha memperoleh pengetahuan yang benar mengalami kesulitan yang besar. Ada pihak-pihak yang berkepentingan untuk mempertahankan fitnah beredar di masyarakat. Para pembohong menjadi penguasa bagi masyarakat, dan dengan mudah mempertahankan kebohongan mereka karena mempunyai kekuasaan. Tidak jarang sedemikian besar pengaruh kekuasaan para pembohong hingga perbaikan penegakan hukum sulit dilakukan.

Hal itu bisa saja terjadi karena longgarnya fitnah menyebar di antara orang-orang yang mengatakan diri mereka beriman, karena akal dan keimanan yang lemah. Seandainya orang-orang beriman benar-benar berusaha memahami tuntunan kitabullah Alquran untuk dijadikan penuntun jalan kehidupan mukminin, kehidupan umat akan membaik dan fitnah-fitnah akan menjadi lemah. Boleh jadi orang-orang beriman hanya ada sedikit di antara manusia, tetapi mereka menjadi sumber warna keumatan manusia, termasuk dalam hal penyebaran fitnah. Orang-orang beriman itu hanya sebagian di antara orang-orang islam, dan orang islam hanya sebagian dari umat manusia. Manakala pada masyarakat besar terjadi masalah, seringkali masalah itu merupakan amplifikasi dari masalah yang ada di antara orang beriman, mengamplifikasi setidaknya keabaian orang beriman terhadap tuntunan Allah. Orang beriman sebenarnya mempunyai peran dan tanggung jawab yang besar dalam dinamika kauniyah mereka dengan memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan kauniah yang terjadi.

Iman, Akhlak Mulia dan Kitabullah Alquran

Keimanan terkait dengan pembinaan akhlak mulia. Akhlak mulia bukanlah sekadar berusaha menampakkan tampilan yang menyenangkan bagi orang lain. Hal tersebut merupakan bagian dari membentuk akhlak mulia. Membina akhlak mulia harus dilakukan secara menyeluruh sebagaimana akhlak Rasulullah SAW adalah akhlak Alquran, dimana segala tindakan dan respons yang ditampilkan oleh Rasulullah SAW terwujud berdasarkan pengetahuan terhadap kandungan kitabullah Alquran. Akhlak mulia yang harus dibina oleh setiap orang beriman adalah berusaha bertindak berdasarkan pengetahuan tentang kitabullah Alquran, dimulai dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diketahui kebaikannya. Selanjutnya setiap orang harus membina akalnya untuk memahami tuntunan kitabullah Alquran dengan benar yaitu berlandaskan pembinaan sifat rahman dan rahim untuk mengenal kehendak Allah dengan benar. Hal demikian itulah akhlak mulia yang harus dibina dengan keimanan. Kaum mukminin tidak akan mencapai pengetahuan terhadap seluruh ilmu dalam kitabullah Alquran sebagaimana Rasululullah SAW, maka menyeluruhnya upaya membentuk akhlak mulia adalah memahami kandungan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang dapat diketahui, dan mampu mengenali dengan benar perkataan yang mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah keburukan. Secara umum, manusia dapat membedakan kebaikan dari keburukan, akan tetapi benar-benar ada keburukan-keburukan yang terbungkus sebagai kebaikan atau dikatakan sebagai kebaikan sehingga sebagian manusia memandang keburukan itu sebagai kebaikan. Demikian pula tidak jarang terjadi suatu kebaikan dikatakan oleh seseorang sebagai keburukan maka sebagian manusia memandang kebaikan itu sebagai keburukan. Hal-hal berkebalikan demikian termasuk dari suatu fitnah, dan orang-orang yang mengatakan dirinya beriman akan diuji dengan fitnah-fitnah terutama dalam bentuk berkebalikan demikian. Keimanan yang benar akan ditunjukkan oleh orang-orang yang mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan kedustaan atau ringannya keimanan ditunjukkan oleh orang-orang yang hanya mengikuti perkataan manusia. Orang yang mendustakan tuntunan kitabullah Alquran adalah orang-orang yang perkataan keimanannnya dalam pandangan Allah hanya kedustaan.

Masyarakat yang baik akan terbentuk melalui pembinaan keimanan yang benar, dan tidak akan terbentuk melalui keimanan yang dusta. Kadangkala suatu kaum melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk membentuk peradaban yang baik pada kaumnya tetapi tidak ada kemajuan sesuai usaha mereka karena keimanan mereka hanya dusta. Kedustaan mereka ditunjukkan dengan sikap berusaha hanya dengan mengikuti perkataan manusia, termasuk fitnah yang mereka buat, tidak disertai usaha membentuk akhlak mulia dengan akal yang memahami firman Allah. Mengikuti perkataan manusia saja seringkali merupakan kedustaan perkataan iman yang mungkin akan terlihat hanya pada saat tertentu, sekalipun mereka mungkin mengatakan diri mereka beriman. Masyarakat yang baik akan terbentuk apabila orang-orangnya melakukan pembinaan akhlak mulia dengan mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan akal yang memahami.

Pemahaman yang benar yang terbentuk pada diri seseorang ditentukan dari langkah kedekatan kepada Allah. Pemahaman Alquran bukanlah berbentuk perkataan-perkataan saja, tetapi juga ditandai dengan derajat kedekatan kepada Allah yang diukur dengan langkah yang ditempuh mengikuti langkah uswatun hasanah Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Ada orang-orang yang dapat memahami dengan benar tuntunan ayat Allah dan diberi kemampuan untuk meninggikan asma Allah yang dikenalinya dengan membentuk bayt yang diijinkan Allah. Ada orang-orang yang dapat memahami tuntunan kitabullah dengan benar tetapi tidak dapat meninggikan asma Allah. Kebanyakan manusia hanya dapat memahami makna dzahir dari redaksi kitabullah Alquran dan memahami penjelasan dari orang-orang yang memahaminya karena telah menempuh tazkiyatun nafs menjaga dirinya dari dorongan hasrat duniawi. Di antara mereka ada yang dapat membedakan bobot kebenaran dari yang disampaikan dan/atau mengenali kebathilan yang terselip, dan sebagian hanya mengikuti apa yang disampaikan secara membuta. Ada orang-orang yang berusaha mengikuti kitabullah tanpa mengetahui bobot kebenaran yang disampaikan hingga terjebak mengikuti ajaran-ajaran yang dibuat-buat oleh orang-orang musyrik. Ada pula orang-orang yang tidak dapat memahami tuntunan kitabullah baik bentuk dzahir redaksinya ataupun tidak dapat memahami penjelasan-penjelasan terkait tuntunan kitabullah yang disampaikan. Sangat banyak warna orang yang berusaha memahami kitabullah. Hal-hal demikian dapat menjadi indikator tingkat pemahaman karena tingkat pemahaman terkait dengan kedekatan kepada Allah.

Memahami kitabullah dengan benar ditunjukkan dengan pemahaman terhadap hubungan tuntunan kitabullah dengan kauniyah yang terjadi. Ini tidak seperti sebagian orang yang mengarahkan pikirannya untuk dapat menyatu dengan semesta hingga ia memperoleh bagian yang diinginkan. Seseorang yang berusaha memahami kitabullah melakukannya dengan membaca keadaan kauniyah dirinya hingga ia mengetahui fenomena yang terjadi sesuai dengan tuntunan kitabullah, kemudian ia berusaha memahami perintah Allah berdasarkan firman Allah, bukan memfokuskan pikiran untuk memperoleh bagian yang diinginkan.

Memanifestasikan Akhlak Mulia dalam Pemakmuran

Perkembangan nafs dan pemahaman kitabullah menjadi basis tingkat peradaban yang dapat dibentuk suatu umat. Orang-orang yang nafsnya berkembang lebih baik akan mempunyai kemampuan menghargai hal-hal yang bernilai bagi diri mereka hingga nilai-nilai yang baik dapat berkembang pada umat tersebut. Manakala nafs suatu umat bodoh, mereka tidak akan mempunyai kemampuan menghargai nilai-nilai kebaikan di antara mereka. Di masyarakat yang adabnya rendah, suatu bidang yang mendatangkan uang akan menjadi rebutan oleh banyak pihak, sedangkan orang-orang yang berpikir tentang nilai untuk mengangkat kehidupan bersama mungkin tersingkir dari masyarakat tanpa memperoleh bagian yang layak bagi usahanya. Gambarannya suatu pabrikan otomotif yang maju akan menghargai kemampuan setiap orang seperti pengembang produk, pengontrol kualitas dan lainnya untuk digunakan sebaik-baiknya sedemikian produk mereka mempunyai nilai yang tinggi di masyarakat. Sebaliknya suatu bengkel yang tidak dihargai masyarakat, mereka mungkin hanya menghargai orang-orang yang bekerja fisik saja tanpa mempunyai kemampuan untuk menjaga atau meningkatkan kualitas produk. Hal demikian sebenarnya berlaku pula bagi tatanan masyarakat luas, tidak hanya untuk suatu perusahaan saja. Tingkat peradaban yang dapat dibentuk suatu umat akan ditentukan oleh perkembangan nafs dan pemahaman kitabullah pada umat tersebut.

Perkembangan nafs harus terjadi pada umat, bukan hanya individu. Orang yang berkembang nafsnya sendirian tidak akan mampu mewujudkan kemajuan peradaban, dan tidak jarang justru mendatangkan adzab bila terjadi karena umatnya yang kufur. Semua orang yang berkembang nafsnya pada dasarnya menginginkan pula perkembangan pada nafs umatnya, tidak ada yang ingin menjadi shalih sendirian untuk menjadi lebih unggul dari yang lain. Seringkali orang-orang yang menginginkan keunggulan keshalihan sendirian itu sebenarnya bukan berkembang nafsnya tetapi hanya hawa nafsunya. Setiap orang yang nafsnya telah melangkah lebih dekat kepada Allah menginginkan kebersamaan dalam keshalihan. Akan tetapi, sekalipun sifat dasar orang yang berkembang nafsnya menginginkan kebaikan bagi semua, tetapi tidak semua orang shalih berhasil mendatangkan kebaikan bersama umatnya.

Orang beriman hendaknya membina perkembangan nafs dirinya hingga sempurna dengan mengikuti langkah uswatun hasanah Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s yaitu membentuk bayt untuk memperoleh ijin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Membina bayt untuk mendzikirkan asma Allah merupakan tujuan akhir langkah kehidupan manusia di dunia, sedangkan sebelum tujuan akhir itu banyak milestone yang dapat mengantarkan manusia pada tujuan itu. Manakala seseorang berkeinginan untuk membina bayt untuk mendzikirkan asma Allah, mereka akan bisa melangkah tanpa keluar dari jalan Allah apabila ia berhati-hati memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila seseorang melangkah dengan tujuan antara saja, misalnya hanya mengenal diri, syaitan mempunyai celah yang besar untuk menyimpangkan langkahnya dari jalan Allah. Nilai-nilai yang dibangun bisa tidak benar-benar menyatu dengan al-haqq. Penyimpangan karena hanya menetapkan tujuan pada sasaran antara saja bisa terjadi sedemikian suatu tuntunan kitabullah Alquran diselewengkan maknanya dari yang sesungguhnya. 

Bayt demikian itu merupakan kunci keberhasilan untuk membangun peradaban yang baik bersama umat. Tidak hanya kunci membangun kemakmuran, mengikuti langkah uswatun hasanah membina bayt untuk meninggikan asma Allah akan menjaga langkah seseorang tetap lurus kepada Allah tidak tersimpangkan ke arah yang lain. Kunci pemakmuran bumi terletak pada pembinaan para perempuan di jalan Allah melalui pembinaan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Para laki-laki pada bagian besarnya berperan dalam memahami kehendak Allah, sedangkan peran manifestasi ma’rifat itu di alam bumi ditentukan oleh para perempuan sebagai tiang negara. Para perempuan itu berperan melahirkan ma’rifat para suaminya ke alam bumi apabila dibina untuk dapat memahami kehendak Allah yang dikenali oleh suaminya. Manakala para perempuan tidak bisa bersikap setia kepada suaminya tidak menjaga diri dari kekejian, ma’rifat yang dikenali suaminya akan sulit termanifestasi ke alam dunia, dan kehidupan dunia mereka akan sangat sulit. Apabila para perempuan dirusak, dampak kerusakan itu akan sangat luas menyebar di masyarakat. Setiap orang hendaknya dibina melalui pembinaan bayt termasuk dan terutama para perempuan agar terjadi pemakmuran yang baik di bumi.

Pada satu sisi, pembinaan bayt demikian menegaskan perlunya perhatian manusia terhadap suatu hubungan washilah di antara umat manusia, di mana seluruh ma’rifat manusia berasal dari satu sumber yaitu Rasulullah SAW dan setiap orang mempunyai hubungan washilah terhadap sumber ma’rifat tersebut. Ketika seseorang membina diri tanpa terhubung kepada Rasulullah SAW, ia seperti perempuan tanpa suami yang tidak mempunyai sumber ma’rifat untuk dimanifestasikan. Mungkin perempuan itu bukan orang yang keji, tetapi tidak mempunyai sumber makrifat untuk dimanifestasikan. Mungkin pula perempuan itu orang yang keji yang mengikuti sembarang orang tanpa suatu ikatan maka dampak kerusakannya akan besar. Para laki-laki dan perempuan hendaknya membina bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah dengan benar mengikuti tauladan dan ketentuan uswatun hasanah tanpa menyimpang.

Penyimpangan dalam pembinaan Bayt di antara manusia merupakan fitnah yang paling besar bagi umat manusia. Segala sesuatu yang menyimpang dari tuntunan kitabullah Alquran dapat menimbulkan penyimpangan dalam pembentukan bayt seseorang, dan sebaliknya setiap penyimpangan pembinaan bayt dari ketentuan tuntunan dapat menimbulkan penyimpangan yang besar dalam agama. Penyimpangan dalam agama itu harus dihindari oleh setiap orang. Bila suatu kaum bersikap permisif terhadap penyimpangan dalam pembinaan bayt, boleh jadi sebenarnya suatu fitnah yang sangat besar sedang mengintai diri mereka. Mungkin mereka berusaha berbuat yang terbaik tetapi tidak memahami tuntunan Allah maka tidak ada hasil memadai yang bisa diperoleh, sedangkan fitnah itu mengintai mereka untuk menghancurkan.

Minggu, 16 November 2025

Jihad untuk Menemukan Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan kembali kepada Allah yang paling utama adalah shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim ditandai dengan suatu gerbang berupa keterbukaan makna suatu ayat kitabullah yang menyingkapkan rahasia dari alam kauniyah terkait dengan diri seorang hamba, sedemikian keterbukaan itu menjadikan seorang hamba memahami untuk apa dirinya diciptakan. Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan suatu ayat Allah demikian, ia telah tiba di gerbang shirat Al-mustaqim.

Untuk menemukan shirat al-mustaqim, umat manusia hendaknya selalu berusaha untuk berjihad menolong Allah. Allah tidak membutuhkan pertolongan manusia, tetapi manusia-lah yang membutuhkan akhlak mulia yang harus dibentuk dengan melakukan usaha menolong Allah. Bentuk akhlak yang seharusnya terbina pada diri setiap manusia adalah menjadi khalifatullah di bumi, dan akhlak demikian dibentuk melalui usaha menolong Allah.

﴾۹۶﴿وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad dalam (jalan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat ihsan. (QS Al-’Ankabuut : 69)

Di jalan Allah (فِي اللَّهِ ) pada ayat di atas menunjuk pada suatu perjuangan yang murni di jalan Allah hingga seseorang bisa dipandang bertindak mewakili Allah. Mereka adalah orang yang tegak melaksanakan apa yang (hanya) diperintahkan Allah melalui kitabullah Alquran, tidak ada pemikiran atau pemahaman pribadi seseorang mencampuri jihad yang dilakukan. Bukan berarti orang yang berjuang dalam derajat demikian tidak berpikir ataupun tidak berusaha memahami, tetapi bentuk pikiran dan pemahamannya benar-benar tumbuh sebagai buah dari petunjuk dan ayat-ayat Allah tanpa menyimpang. Setiap pemahaman yang dijelaskan dan diperjuangkan mempunyai kedudukan sebagai cabang, ranting ataupun buah dari suatu ayat kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Jihad demikian hanya dapat dilakukan oleh orang yang mengenal Allah dengan tanda terbentuknya diri sebagai misykat cahaya dengan pohon api menyala dalam diri. Pohon api itu terbentuk sepenuhnya hanya dari cahaya kitabullah Alquran dan selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW tidak menyimpang. Kadangkala seseorang membina pemahaman layaknya pohon khuldi yang disukai syaitan dan menganggapnya pohon api. Keadaan demikian tidak termasuk sebagai jihad فِي اللَّهِ dan sebenarnya mungkin akan ditemukan banyak sentuhan syaitan pada pohon demikian. Pohon api dalam misykat diri yang benar benar-benar terbentuk hanya dari cahaya kitabullah Alquran dan selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW tidak menyimpang. Apabila suatu jihad dilakukan dengan adanya suatu penyimpangan dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, jihad tersebut tidak termasuk dalam jihad فِي اللَّهِ.

Walaupun hanya bisa dilakukan oleh orang yang mengenal Allah, jihad فِي اللَّهِ dapat diikuti oleh umat manusia umum dengan mengikuti pemahaman dan cara berpegang orang yang mengenal Allah kepada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila seseorang mengikuti hanya bentuk-bentuk lahir yang dilakukan, mereka tidaklah mengikuti jihad فِي اللَّهِ yang dilakukan. Tidak selalu bernilai buruk tetapi hanya tidak dalam derajat فِي اللَّهِ. Mungkin sebagian orang melakukan bentuk lahir jihad sebagai keburukan karena fanatisme kelompok saja. Pemahaman dan cara berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan tampak dalam penggunaan akal dalam memahami kitabullah dan merumuskan langkah-langkah sendiri selaras dengan langkah al-jamaah yang menyatu dengan langkah Rasulullah.

Orang-orang yang mengikuti jihad فِي اللَّهِ akan memperoleh petunjuk tentang jalan-jalan Allah yang harus dilakukan diri mereka terkait dengan kauniyah yang terjadi. Ini adalah janji Allah yang sangat pasti, didahului dengan ‘lam taukid’ dan diakhiri dengan ‘nun taukid’ yang menekankan kepastian diturunkannya petunjuk tentang jalan-jalan Allah bagi orang-orang yang ikut berjihad dalam derajat demikian. Banyak orang yang merasa ikut berjihad فِي اللَّهِ tetapi setelah berjalan sekian lama hingga puluhan tahun tidak juga memperoleh petunjuk Allah atau tidak mengerti tentang jalan-jalan Allah yang harus ditempuh diri masing-masing, maka hal ini tidak menunjukkan bahwa mereka telah mengikuti jihad فِي اللَّهِ. Masalah mereka bisa jadi terdapat pada diri mereka sendiri, atau terdapat pada jihad yang diikuti. Tidak mungkin Allah mengingkari janji yang telah dipastikan.

Para pengikut jihad harus benar-benar memperhatikan bahwa pemahaman mereka terhadap firman Allah yang diperjuangkan telah benar, serta merumuskan dan melakukan amal-amal terkait dengan firman yang diperjuangkan dengan benar. Dalam hal pemahaman, yang penting adalah lurusnya pemahaman dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang mempunyai kapasitas pemahaman yang berbeda terhadap tuntunan kitabullah baik warna atau jumlahnya yang harus dihormati oleh setiap orang, dan setiap orang tidak perlu merasa iri atau dengki dengan pengetahuan yang ada pada pihak lain. Dalam hal amal, setiap orang hendaknya dapat menyatukan langkah diri terhadap langkah Rasulullah SAW hingga termasuk dalam Al-jamaah, dimulai dengan membina akhlak diri dan pemahaman sesuai dengan maksud Rasulullah SAW. Apabila hal-hal demikian tidak terjadi, seseorang mungkin telah keliru dalam mengikuti jihad فِي اللَّهِ.

Kadangkala kesalahan terdapat pada jihadnya, bahwa seseorang mungkin merasa berjihad فِي اللَّهِ tetapi sebenarnya tidak demikian. Bisa saja seseorang berjuang sendiri tanpa bersandar pada tuntunan kitabullah atau Rasulullah SAW. Mereka bisa menjadi kelompok bid’ah yang tidak memahami kedudukan kitabullah dan Rasulullah SAW dalam kebenaran. Langkah-langkah yang mereka rumuskan seringkali tidak terlahir dari suatu keterbukaan terhadap suatu ayat kitabullah tertentu, hanya berdasarkan keterbukaan secara acak dan dianggap sebagai suatu perintah Allah. Dalam banyak kasus, mereka tidak menyadari keadaan kauniyah sebagai ayat yang digelar Allah untuk ruang dan jaman mereka, memandang bahwa jihad mereka adalah suatu jihad yang diperintahkan Allah tanpa memahami keadaan kauniyah selaras dengan ayat Allah.

Hanya orang yang bersungguh-sungguh menggunakan akalnya yang akan bisa mengenali kebenaran suatu jihad فِي اللَّهِ, baik mengenali kebenaran jihadnya atau mengenali kedudukan suatu jihad dalam urusan Rasulullah SAW, atau mengenali penyimpangan suatu jihad. Apabila seseorang meneliti dengan sungguh-sungguh pemahaman yang terbentuk berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan mengetahui nilai suatu jihad tidak dipengaruhi oleh pernyataan orang lain. Nilai yang baik akan terlihat baik sekalipun banyak orang yang melakukan fitnah mengatakannya buruk, dan nilai yang buruk akan terlihat buruk sekalipun dipuji oleh banyak manusia, dan kemudian ia mengikuti yang baik dan menghindari yang buruk. Apabila seseorang terbiasa mengabaikan nilai pemahaman yang benar terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan mudah terkelabui pengakuan pernyataan-pernyataan jihad, menilai suatu jihad hanya berdasarkan perkataan orang lain.

Beberapa Potensi Penyimpangan dalam Jihad

Ada banyak potensi bahaya dari orang yang merasa berjihad di jalan Allah tanpa mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada bahaya tersembunyi dalam kebodohan langkah yang dilakukan, dan kadangkala langkah yang dilakukan adalah menentang perintah Allah yang tertulis dalam firman-firman dalam kitabullah Alquran. Ini mengandung bahaya yang sangat besar.

﴾۸۶﴿وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْكَافِرِينَ
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan tentang Allah atau mendustakan al-haqq tatkala al-haqq itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? (QS Al-’Ankabuut : 68)

Ayat di atas terkait dengan orang-orang yang telah menempuh perjalanan untuk mengenal Allah akan tetapi menjadi kafir setelah mencapai tanah suci bagi diri mereka sebagaimana diceritakan pada ayat sebelumnya. Ada orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta tentang Allah atau mendustakan Al-haqq yang disampaikan kepada mereka. Itu adalah bentuk penyimpangan yang mungkin terjadi atas orang-orang yang berusaha mengenal Allah. Perkataan dusta tentang Allah dan pendustaan terhadap Al-haqq itu merupakan penyimpangan yang dibisikkan oleh hawa nafsu mereka atau dibisikkan oleh syaitan.

Perkataan dusta tentang Allah bisa terjadi karena seseorang tidak mengenali kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW. Mereka mungkin menempatkan diri mereka sebagai pembawa kebenaran sebagaimana Rasulullah SAW, tidak berusaha menempati kedudukan diri yang tepat dalam urusan Rasulullah SAW. Orang demikian akan cenderung meyakini kebenaran pendapat mereka sendiri hingga mendustakan kebenaran yang dijelaskan. Mereka tidak menyadari bahwa ada tingkatan jalan turunnya kebenaran dari sisi Allah hingga ke alam dunia. Kebenaran itu secara mutlak ada di dunia berupa tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan secara relatif bisa ditemukan pada orang-orang yang mengikuti kedua tuntunan itu melalui mekanisme al-jamaah dimana setiap orang mengerti kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW.

Orang yang mengadakan perkataan dusta tentang Allah seringkali tidak menyadari jalan diturunkannya kebenaran dari sisi Allah, dan menganggap diri mereka sebagai pembawa kebenaran utama. Mereka seringkali tidak melihat kebenaran pada orang-orang yang mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar sekalipun orang-orang itu mereka hormati, apalagi orang-orang yang tidak mereka kenali. Pada tingkat tertinggi, boleh jadi mereka tidak melihat kebenaran pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang disampaikan kepada mereka karena mengikuti hawa nafsu sendiri. Mereka meletakkan kebenaran itu hanya pada keyakinan sendiri berdasar perkataan dusta mereka tentang Allah, tanpa mengetahui derajat kebenaran yang diturunkan melalui jalan yang ditentukan Allah.

Orang yang menempati kedudukan diri dalam al-jamaah akan selalu berusaha mengantarkan manusia untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, menjadikan tuntunan itu sebagai landasan untuk melaksanakan amal-amal shalih baik amal dirinya ataupun orang-orang yang mengikutinya. Sekalipun mereka mengenal urusan yang diturunkan Allah bagi dirinya, mereka seringkali tidak sedikitpun menyeru manusia untuk membantu urusannya, kecuali setelah orang-orang bisa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kedudukan Rasulullah SAW. Mereka menyeru manusia kepada Allah melalui tauladan Rasulullah SAW dan orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW termasuk mungkin dirinya, tidak mengantarkkan manusia kepada Allah melalui dirinya saja.

Keadaan orang-orang yang mengadakan perkataan dusta dan yang mengikuti mereka akan berantakan. Seringkali mereka merasa mengenal Allah atau mengenal kebenaran-kebenaran tetapi sebenarnya dalam bentuk yang keliru yang sulit dirasakan kekeliruannya. Ketika seseorang kafir, ia akan mudah mengetahui kekufurannya walaupun barangkali mengalami kesulitan beranjak dari bertindak menentang kebenaran. Demikian pula manakala seseorang dalam kebodohan, ia akan lebih mudah mengetahui kebodohannya manakala disampaikan kebenaran kepadanya. Orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta tentang Allah akan kesulitan mengenali kekeliruan yang terjadi atas diri mereka lebih daripada orang bodoh atau orang kafir. Mereka menyangka membuat perkataan tentang Allah dengan ilmu, dan menyanggah kebenaran yang disampaikan dengan ilmu, sedangkan ilmu mereka keliru. Keadaan mereka akan sangat berantakan dan seringkali mereka tidak menyadarinya. Misalnya boleh jadi mereka melangkah menuju suatu kehancuran dan menyangka bahwa mereka menuju kebaikan.

Kedustaan dalam ayat di atas tidak terbatas pada kedustaan tentang Allah, tetapi juga proses membuat perkataannya. Seseorang mungkin saja telah terjebak mengatakan kedustaan tentang Allah walaupun belum pada tahap membuat perkataan dusta tentang Allah. Misalnya mungkin seseorang menyangka sesuatu yang terbersit dalam diri mereka merupakan suatu perintah Allah dengan penuh keyakinan secara tergesa-gesa tanpa melakukan pemeriksaan terhadap kebenarannya atau kedudukan urusan itu berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala isi bersitan itu bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka itu merupakan perkataan dusta tentang Allah. Sekalipun ia hanya menyangka bersitan dirinya adalah perintah Allah, belum mengatakan bahwa Allah memerintahkan demikian, ia telah berdusta karena keyakinannya.

Dalam perkara bersitan dalam diri, setiap orang harus bersikap benar agar tidak terjebak pada mengadakan perkataan dusta tentang Allah. Apabila suatu bersitan diketahui menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bersitan tersebut hendaknya segera disingkirkan agar tidak menjadi celah pengotor pikiran bagi syaitan. Bila bersitan itu mempunyai hubungan yang benar dengan suatu tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka bersitan itu harus difungsikan untuk lebih memahami kehendak Allah sebagaimana tertera dan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, dimaknai mengikuti dua tuntunan agung tersebut tidak menggunakan dua tuntunan itu mendukung bersitan dalam hatinya. Apabila belum diketahui hubungannya dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bersitan hendaknya disikapi sebagai data yang perlu diingat agar bisa digunakan untuk memahami kehendak Allah. Perkataan tentang Allah harus bisa dibuktikan kebenarannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh disusun tanpa suatu landasan yang benar. Tanpa landasan pengetahuan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, seseorang akan sangat mudah terjebak pada mengadakan perkataan dusta tentang Allah.

Mengada-adakan perkataan dusta tentang Allah akan terjadi bersamaan dengan tindakan mendustakan kebenaran manakala kebenaran itu disampaikan kepada diri mereka. Dalam hal ini tindakan mendustakan kebenaran terjadi karena ilmu yang keliru tentang Allah. Al-haqq merupakan kebenaran dari sisi Allah yang menjelaskan tentang sesuatu. Ada orang-orang yang memperoleh pengetahuan kebenaran dari alam yang tinggi di sisi Allah dan bisa menjelaskan pengetahuan itu kepada manusia. Ada orang yang mendengar kemudian mengenali bahwa penjelasan itu berasal dari sisi Allah dan membenarkan. Ada pendengar yang tidak mengenali nilai kebenaran dari penjelasan itu dan tidak dapat mensikapinya karena jauhnya jati dirinya dari keilmuan yang disampaikan, dan ada orang-orang yang mendustakan kebenaran dari penjelasan itu karena ketidakmampuan memahami. Secara khusus, ada bentuk pendustaan kebenaran yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai pengetahuan keliru. Para pendusta demikian seringkali juga bertindak mengadakan perkataan-perkataan dusta tentang Allah.

Kamis, 13 November 2025

Mensikapi Fitnah Dalam Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Menegakkan diri di shirat al-mustaqim membutuhkan perjuangan, bukan keadaan yang dapat ditempuh dengan mudah. Banyak pihak yang akan menghalanginya dari jalan Allah karena kufur dengan jalan Allah. Tegaknya seseorang di shirat al-mustaqim tidak akan mampu dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai penyakit kemunafikan ataupun orang-orang yang akalnya kurang kuat dalam berpegang pada tuntunan Allah. Hanya orang-orang yang membina diri untuk selaras dengan tuntunan Allah dan memahami firman-Nya dengan benar yang akan mampu tegak di atas shirat al-mustaqim.

﴾۰۱﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ وَلَئِن جَاءَ نَصْرٌ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ الْعَالَمِينَ
Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia ditimpa penderitaan (di jalan) Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: "Sesungguhnya kami adalah besertamu". Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?(QS Al-’Ankabuut : 10)

Ada orang-orang yang berkata bahwa mereka telah beriman kepada Allah tetapi tidak memahami tuntunan Allah. Manakala manusia membuat fitnah-fitnah terhadap diri mereka dalam perjuangan di jalan Allah, mereka mengatakan fitnah itu sebagai adzab Allah. Boleh jadi mereka tidak mempunyai keyakinan bahwa apa yang mereka perjuangkan adalah jalan Allah sedemikian menyangka Allah menurunkan adzab. Bila mereka mempunyai keyakinan bahwa yang mereka perjuangkan adalah kebaikan bagi alam, mereka tidak akan berprasangka bahwa Allah menurunkan adzab. Atau boleh jadi mereka tidak mengetahui nilai buruk dari apa yang diperbuat orang-orang yang membuat fitnah, maka mereka tidak menyadari akibat dari fitnah yang diperbuat sehingga menyangka fitnah tersebut adalah adzab Allah.

Jihad di (Jalan) Allah

Di jalan Allah (فِي اللَّهِ ) pada ayat di atas menunjuk pada suatu perjuangan yang murni di jalan Allah hingga seseorang bisa dipandang bertindak mewakili Allah. Tidak ada pemikiran atau pemahaman pribadi seseorang mencampuri usaha yang dilakukan, apalagi pikiran syaitan. Bukan berarti orang yang berjuang dalam derajat demikian tidak berpikir ataupun tidak berusaha memahami, tetapi bentuk pikiran dan pemahamannya benar-benar tumbuh sebagai buah dari petunjuk dan ayat-ayat Allah tanpa menyimpang. Setiap pemahaman yang dijelaskan dan diperjuangkan mempunyai kedudukan sebagai cabang, ranting ataupun buah dari suatu ayat kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin ada pemikiran atau pemahaman yang tidak merupakan buah dari ayat tertentu Alquran tetapi ia tidak memperjuangkannya, walaupun mungkin menjelaskannya, dan penjelasannya sangat mungkin selaras dengan tuntunan Alquran karena akhlak yang terbentuk mengikuti Alquran. Bisa dikatakan mereka adalah orang yang tegak melaksanakan apa yang (hanya) diperintahkan Allah melalui kitabullah Alquran. Orang-orang yang demikian itulah yang bisa dikatakan sebagai orang yang berjuang di jalan Allah dalam kategori (فِي اللَّهِ ).

Derajat perjuangan (فِي اللَّهِ ) boleh dikatakan bentuk dari perjuangan yang paling tinggi dalam agama. Banyak perjuangan mulia dalam bentuk lebih rendah dari perjuangan (فِي اللَّهِ ) yang tetap saja bisa menjadikan seseorang menjadi berakhlak lebih mulia. Banyak orang berjuang dalam perjuangan fi sabilillah ataupun jihad-jihad menolong orang lain yang seluruhnya mendatangkan kebaikan. Hanya saja ada perbedaan-perbedaann derajat kebaikan dalam bentuk perjuangan demikian. Setiap orang yang beriman hendaknya berusaha mendapatkan jalan untuk perjuangan dalam derajat yang paling tinggi. Orang-orang yang berjuang mengikuti perjuangan فِي اللَّهِ dengan meniru penyerunya dalam berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan diberi Allah petunjuk ke jalan-jalan Allah (sabil). Mereka akan mengetahui kandungan firman Allah terkait dengan kauniyah ruang dan jamannya, dan memperoleh petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan terkait dengan kauniyah tersebut karena Allah benar-benar akan memberikan petunjuk kepada mereka jalan-jalan-Nya. Apabila suatu kaum telah benar mengikuti suatu perjuangan fillah, mereka akan mengenal sabilillah. Bila suatu kaum tidak bisa mengenal sabilillah untuk ruang dan jamannya ketika mengikuti suatu perjuangan di jalan Allah, mereka belum mengikuti perjuangan (فِي اللَّهِ ), baik karena tidak tepat dalam mengikuti atau keliru perjuangannya.

Orang yang berjuang dalam kategori (فِي اللَّهِ ) tidak serta merta terbebas dari terpaan fitnah, sedemikian orang-orang yang mengikutinya mungkin saja akan berkata bahwa ia memperoleh adzab Allah. Orang yang mengatakan demikian adalah orang-orang yang lemah keimanannya. Lemahnya keimanan ini lebih sering terjadi karena tidak mempunyai pemahaman yang baik terhadap apa yang dilakukan dengan pemahaman berdasar kitabullah. Barangkali mereka sedikit lebih baik daripada orang-orang yang membuat fitnah, tetapi keimanan mereka hanya dekat-dekat saja dengan keimanan orang-orang munafiq.

Fitnah Terhadap Jihad

Suatu fitnah adalah kesalahan yang membuat seseorang salah persepsi dalam memahami dan bertindak hingga membahayakan. Pada dasarnya, orang akan terkurung pada kebenarannya sendiri karena fitnah yang sampai kepada dirinya hingga ia berbuat salah dan menimbulkan kerugian besar. Suatu kaum muslimin bisa saja terkurung dalam pikirannya sendiri dalam memahami tuntunan agama terpisah dari visi dan misi nabi Muhammad SAW hingga berbuat merugikan manusia, maka apa yang diikutinya adalah fitnah. Pasangan suami isteri mungkin akan selalu bersitegang karena salah dalam memahami pihak lainnya, sedangkan para pemfitnah selalu berusaha untuk membuat kesalahpahaman di antara keduanya. Sangat banyak contoh fitnah bisa terjadi di antara manusia berupa kesalahan persepsi terhadap kebenaran yang menimbulkan bahaya.

Beberapa fitnah yang berbahaya ditegakkan dengan sungguh-sungguh untuk merusak umat manusia. Misalnya dua orang yang membawa kunci kebaikan mungkin saja dibuat untuk selalu salah paham dan dihalangi untuk membangun kesepahaman. Hal itu akan membawa kerusakan yang besar bagi umat manusia. Para pelaku fitnah itu kadangkala tidak terlihat oleh masyarakat umum dan para korban fitnah saling berseteru dengan pihak lainnya. Tidak jarang para korban fitnah itu terjebak mengikuti fitnah hingga melakukan dosa-dosa. Kadangkala korban fitnah menyadari fitnah yang terjadi tetapi terhalangi untuk meredakan fitnah yang menimpa. Kadangkala iktikad meredakan fitnah baru dapat dilakukan apabila disadari oleh kedua pihak. Kadangkala fitnah itu baru bisa diredakan manakala dilakukan konfrontasi dengan penjaga fitnah. Ada banyak kemungkinan cara menghadapi fitnah hingga seseorang atau suatu kaum selamat dari fitnah.

Fitnah demikian diijinkan Allah untuk terjadi atas orang yang berjihad, dan di sisi Allah peristiwa tersebut sebenarnya lebih berfungsi untuk menampakkan tingkat keimanan orang-orang yang mengatakan dirinya beriman. Manakala mereka mengatakan akibat yang menimpa mereka karena fitnah itu adalah adzab Allah, sebenarnya keimanan mereka hanya dekat-dekat saja dengan keimanan orang-orang munafiq. Tidak sedikit orang mengatakan beriman tetapi mempercayai fitnah-fitnah yang dibuat terhadap orang-orang yang berjuang dalam kategori (فِي اللَّهِ), maka boleh jadi mereka adalah orang-orang yang berdusta dengan perkataan keimanannya. Mereka boleh jadi menentang penjelasan-penjelasan ayat Allah yang disampaikan untuk mengikuti fitnah orang-orang yang membuat fitnah maka akan tampak kedustaan perkataan keimanan mereka.

Ada orang-orang yang membuat fitnah terhadap orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Yang membuat fitnah adalah manusia, bukan perintah Allah. Fitnah terhadap orang yang berjihad (فِي اللَّهِ) mempunyai karakteristik yang unik, dapat menyamarkan fitnah itu sebagai urusan Allah dalam bentuk adzab Allah. Sebenarnya Allah tidaklah memerintahkan fitnah itu dengan berfirman tentang hal itu sebagai fitnah manusia (فِتْنَةَ النَّاسِ ), tetapi mengijinkan itu terjadi. Manusia yang mengatakan dirinya beriman-lah yang diuji Allah untuk menunjukkan tingkat keimanan mereka menjadi lebih jelas. Ada orang yang lebih memilih mengikuti fitnah, ada orang yang mengatakan fitnah itu sebagai adzab Allah, masing-masing mempunyai kedudukan tertentu dalam keimanannya. Orang yang benar imannya akan memandang kebenaran terdapat pada firman Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, kemudian pada orang-orang yang mengikuti keduanya, dan memandang segala sesuatu yang bertentangan dengan keduanya adalah kebathilan tanpa terjebak oleh persepsi inderawi sendiri. Boleh jadi mereka tidak serta-merta memahami perkataan yang mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetapi tidak menentangnya. Mereka itu adalah orang yang benar perkataan keimanannya, walaupun dalam tingkatan yang shadiq.

Fitnah-fitnah terhadap jihad di jalan Allah tidak selalu dibuat dalam dikotomi mukminin-kafirin. Orang-orang yang berusaha menjadi hamba Allah bisa dijadikan media untuk membuat fitnah terhadap hamba Allah yang lain. Hal ini bisa terjadi manakala seseorang atau suatu kelompok melupakan mekanisme al-jamaah, tidak berusaha mengenali kedudukan diri dalam perjuangan Rasulullah SAW. Seseorang mungkin akan merasa benar sendirian, berjuang sendiri tanpa bersandar pada tuntunan kitabullah atau Rasulullah SAW. Mereka akan menjadi kelompok bid’ah yang tidak memahami kedudukan kitabullah dan Rasulullah SAW dalam kebenaran, mungkin memandang tidak ada orang lain yang bisa benar sebagaimana diri mereka. Kedua tuntunan mulia tersebut mungkin mereka gunakan tetapi untuk mendukung paham diri saja, bukan menggunakan untuk mengikuti keduanya. Fitnah bisa muncul dengan cara demikian bukan hanya dari orang kafir saja.

Fitnah di antara orang-orang beriman akan mendatangkan suatu kesulitan hingga sebagian di antara mereka menyangka bahwa kesulitan itu adalah adzab Allah. Ada trik-trik tersembunyi yang menjadikan fitnah demikian tidak dikenali keberadaannya oleh sebagian orang yang beriman, terutama yang tidak berpegang pada kitabullah dengan baik. Cara berkembangnya kesulitan karena fitnah itu kadang tidak dikenali oleh orang banyak. Boleh jadi suatu fitnah menimpa satu atau sedikit orang di antara orang beriman hingga orang tersebut mengalami kesulitan, kemudian ia menyeret pula keluarganya dan/ataupun orang lain dalam kesulitan akan tetapi tidak disadari oleh orang-orang umumnya. Sasaran fitnah demikian umumnya adalah orang yang ingin berjihad. Orang yang ditimpa fitnah itu kehilangan kesempatan untuk memberikan manfaat dirinya kepada orang lain dan orang lain, maka masyarakat menjadi tertimpa kesulitan karena hilangnya manfaat itu. Kehilangan manfaat dari diri seseorang semacam itu seringkali tidak ada yang menyadari kecuali orang tertentu. Gambarannya, ada suatu rezeki yang akan diberikan kepada suatu kaum sedangkan kaum tersebut tidak memperoleh kabarnya, dan kemudian rezeki itu hilang di jalan. Hanya sedikit orang tertentu yang akan menyadari kehilangan tersebut. Rezeki itu tidak jarang berupa sesuatu yang sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan bermasyarakat dan kehilangan rezeki itu menjadikan kehidupan masyarakat menjadi sulit.

Orang yang mengenali kehilangan manfaat demikian seringkali hanya orang yang sangat cerdas. Misalnya seorang syaikh mungkin mengenali sekuens tahap perkembangan yang seharusnya dicapai oleh para muridnya secara urutan waktu dalam keadaan normal. Manakala perkembangan-perkembangan komunal muridnya tidak tercapai pada waktu tertentu, ia mungkin akan mengenali adanya suatu kehilangan pada komunitas murid-muridnya. Ini hanya satu contoh skenario, tidak membatasi kemungkinan skenario lain dalam mengenali kehilangan manfaat. Seorang syaikh mungkin memperkenalkan kepada murid-muridnya tanda-tanda yang harus tercapai oleh para murid pada urutan waktu tertentu agar para murid dapat mengamati perkembangan diri mereka. Misalnya seorang syaikh mungkin memberitahu para murid tanda berupa hal-hal tertentu yang seharusnya terjadi pada masa seseorang anak telah bersekolah kelas sekian. Atau bisa juga syaikh memberitahu suatu tanda pada suatu urutan waktu yang tidak bisa dimengerti penalarannya oleh para murid. Hal itu menjadi penanda perkembangan yang seharusnya dicapai para murid, dan para murid harus melakukan introspeksi perjalanan diri berdasarkan tanda-tanda yang diajarkan sang syaikh. Ini sangat berguna untuk mengenali suatu kehilangan manfaat yang mungkin terjadi.

Manakala introspeksi menunjukkan penyimpangan dari yang seharusnya, sangat mungkin telah terjadi suatu kehilangan rezeki terhadap suatu kaum karena fitnah yang terjadi dan tidak terpikirkan. Barangkali ada orang-orang yang dipandang memperoleh adzab Allah sedangkan mereka menanggung fitnah yang terjadi. Perlu dilakukan koreksi terhadap penyikapan agar dapat keluar dari fitnah. Bila umat terus memandang dengan cara yang sama, mereka tidak akan keluar dari fitnah. Fitnah-fitnah utama yang terjadi harus diperbaiki untuk memulai perbaikan karena fitnah-fitnah yang terjadi lainnya.