Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Jalan kembali kepada Allah yang paling utama adalah shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim ditandai dengan suatu gerbang berupa keterbukaan makna suatu ayat kitabullah yang menyingkapkan rahasia dari alam kauniyah terkait dengan diri seorang hamba, sedemikian keterbukaan itu menjadikan seorang hamba memahami untuk apa dirinya diciptakan. Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan suatu ayat Allah demikian, ia telah tiba di gerbang shirat Al-mustaqim.
Untuk menemukan shirat al-mustaqim, umat manusia hendaknya selalu berusaha untuk berjihad menolong Allah. Allah tidak membutuhkan pertolongan manusia, tetapi manusia-lah yang membutuhkan akhlak mulia yang harus dibentuk dengan melakukan usaha menolong Allah. Bentuk akhlak yang seharusnya terbina pada diri setiap manusia adalah menjadi khalifatullah di bumi, dan akhlak demikian dibentuk melalui usaha menolong Allah.
﴾۹۶﴿وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad dalam (jalan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat ihsan. (QS Al-’Ankabuut : 69)
Di jalan Allah (فِي اللَّهِ ) pada ayat di atas menunjuk pada suatu perjuangan yang murni di jalan Allah hingga seseorang bisa dipandang bertindak mewakili Allah. Mereka adalah orang yang tegak melaksanakan apa yang (hanya) diperintahkan Allah melalui kitabullah Alquran, tidak ada pemikiran atau pemahaman pribadi seseorang mencampuri jihad yang dilakukan. Bukan berarti orang yang berjuang dalam derajat demikian tidak berpikir ataupun tidak berusaha memahami, tetapi bentuk pikiran dan pemahamannya benar-benar tumbuh sebagai buah dari petunjuk dan ayat-ayat Allah tanpa menyimpang. Setiap pemahaman yang dijelaskan dan diperjuangkan mempunyai kedudukan sebagai cabang, ranting ataupun buah dari suatu ayat kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.
Jihad demikian hanya dapat dilakukan oleh orang yang mengenal Allah dengan tanda terbentuknya diri sebagai misykat cahaya dengan pohon api menyala dalam diri. Pohon api itu terbentuk sepenuhnya hanya dari cahaya kitabullah Alquran dan selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW tidak menyimpang. Kadangkala seseorang membina pemahaman layaknya pohon khuldi yang disukai syaitan dan menganggapnya pohon api. Keadaan demikian tidak termasuk sebagai jihad فِي اللَّهِ dan sebenarnya mungkin akan ditemukan banyak sentuhan syaitan pada pohon demikian. Pohon api dalam misykat diri yang benar benar-benar terbentuk hanya dari cahaya kitabullah Alquran dan selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW tidak menyimpang. Apabila suatu jihad dilakukan dengan adanya suatu penyimpangan dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, jihad tersebut tidak termasuk dalam jihad فِي اللَّهِ.
Walaupun hanya bisa dilakukan oleh orang yang mengenal Allah, jihad فِي اللَّهِ dapat diikuti oleh umat manusia umum dengan mengikuti pemahaman dan cara berpegang orang yang mengenal Allah kepada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila seseorang mengikuti hanya bentuk-bentuk lahir yang dilakukan, mereka tidaklah mengikuti jihad فِي اللَّهِ yang dilakukan. Tidak selalu bernilai buruk tetapi hanya tidak dalam derajat فِي اللَّهِ. Mungkin sebagian orang melakukan bentuk lahir jihad sebagai keburukan karena fanatisme kelompok saja. Pemahaman dan cara berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW akan tampak dalam penggunaan akal dalam memahami kitabullah dan merumuskan langkah-langkah sendiri selaras dengan langkah al-jamaah yang menyatu dengan langkah Rasulullah.
Orang-orang yang mengikuti jihad فِي اللَّهِ akan memperoleh petunjuk tentang jalan-jalan Allah yang harus dilakukan diri mereka terkait dengan kauniyah yang terjadi. Ini adalah janji Allah yang sangat pasti, didahului dengan ‘lam taukid’ dan diakhiri dengan ‘nun taukid’ yang menekankan kepastian diturunkannya petunjuk tentang jalan-jalan Allah bagi orang-orang yang ikut berjihad dalam derajat demikian. Banyak orang yang merasa ikut berjihad فِي اللَّهِ tetapi setelah berjalan sekian lama hingga puluhan tahun tidak juga memperoleh petunjuk Allah atau tidak mengerti tentang jalan-jalan Allah yang harus ditempuh diri masing-masing, maka hal ini tidak menunjukkan bahwa mereka telah mengikuti jihad فِي اللَّهِ. Masalah mereka bisa jadi terdapat pada diri mereka sendiri, atau terdapat pada jihad yang diikuti. Tidak mungkin Allah mengingkari janji yang telah dipastikan.
Para pengikut jihad harus benar-benar memperhatikan bahwa pemahaman mereka terhadap firman Allah yang diperjuangkan telah benar, serta merumuskan dan melakukan amal-amal terkait dengan firman yang diperjuangkan dengan benar. Dalam hal pemahaman, yang penting adalah lurusnya pemahaman dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang mempunyai kapasitas pemahaman yang berbeda terhadap tuntunan kitabullah baik warna atau jumlahnya yang harus dihormati oleh setiap orang, dan setiap orang tidak perlu merasa iri atau dengki dengan pengetahuan yang ada pada pihak lain. Dalam hal amal, setiap orang hendaknya dapat menyatukan langkah diri terhadap langkah Rasulullah SAW hingga termasuk dalam Al-jamaah, dimulai dengan membina akhlak diri dan pemahaman sesuai dengan maksud Rasulullah SAW. Apabila hal-hal demikian tidak terjadi, seseorang mungkin telah keliru dalam mengikuti jihad فِي اللَّهِ.
Kadangkala kesalahan terdapat pada jihadnya, bahwa seseorang mungkin merasa berjihad فِي اللَّهِ tetapi sebenarnya tidak demikian. Bisa saja seseorang berjuang sendiri tanpa bersandar pada tuntunan kitabullah atau Rasulullah SAW. Mereka bisa menjadi kelompok bid’ah yang tidak memahami kedudukan kitabullah dan Rasulullah SAW dalam kebenaran. Langkah-langkah yang mereka rumuskan seringkali tidak terlahir dari suatu keterbukaan terhadap suatu ayat kitabullah tertentu, hanya berdasarkan keterbukaan secara acak dan dianggap sebagai suatu perintah Allah. Dalam banyak kasus, mereka tidak menyadari keadaan kauniyah sebagai ayat yang digelar Allah untuk ruang dan jaman mereka, memandang bahwa jihad mereka adalah suatu jihad yang diperintahkan Allah tanpa memahami keadaan kauniyah selaras dengan ayat Allah.
Hanya orang yang bersungguh-sungguh menggunakan akalnya yang akan bisa mengenali kebenaran suatu jihad فِي اللَّهِ, baik mengenali kebenaran jihadnya atau mengenali kedudukan suatu jihad dalam urusan Rasulullah SAW, atau mengenali penyimpangan suatu jihad. Apabila seseorang meneliti dengan sungguh-sungguh pemahaman yang terbentuk berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan mengetahui nilai suatu jihad tidak dipengaruhi oleh pernyataan orang lain. Nilai yang baik akan terlihat baik sekalipun banyak orang yang melakukan fitnah mengatakannya buruk, dan nilai yang buruk akan terlihat buruk sekalipun dipuji oleh banyak manusia, dan kemudian ia mengikuti yang baik dan menghindari yang buruk. Apabila seseorang terbiasa mengabaikan nilai pemahaman yang benar terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan mudah terkelabui pengakuan pernyataan-pernyataan jihad, menilai suatu jihad hanya berdasarkan perkataan orang lain.
Beberapa Potensi Penyimpangan dalam Jihad
Ada banyak potensi bahaya dari orang yang merasa berjihad di jalan Allah tanpa mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada bahaya tersembunyi dalam kebodohan langkah yang dilakukan, dan kadangkala langkah yang dilakukan adalah menentang perintah Allah yang tertulis dalam firman-firman dalam kitabullah Alquran. Ini mengandung bahaya yang sangat besar.
﴾۸۶﴿وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِّلْكَافِرِينَ
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan tentang Allah atau mendustakan al-haqq tatkala al-haqq itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? (QS Al-’Ankabuut : 68)
Ayat di atas terkait dengan orang-orang yang telah menempuh perjalanan untuk mengenal Allah akan tetapi menjadi kafir setelah mencapai tanah suci bagi diri mereka sebagaimana diceritakan pada ayat sebelumnya. Ada orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta tentang Allah atau mendustakan Al-haqq yang disampaikan kepada mereka. Itu adalah bentuk penyimpangan yang mungkin terjadi atas orang-orang yang berusaha mengenal Allah. Perkataan dusta tentang Allah dan pendustaan terhadap Al-haqq itu merupakan penyimpangan yang dibisikkan oleh hawa nafsu mereka atau dibisikkan oleh syaitan.
Perkataan dusta tentang Allah bisa terjadi karena seseorang tidak mengenali kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW. Mereka mungkin menempatkan diri mereka sebagai pembawa kebenaran sebagaimana Rasulullah SAW, tidak berusaha menempati kedudukan diri yang tepat dalam urusan Rasulullah SAW. Orang demikian akan cenderung meyakini kebenaran pendapat mereka sendiri hingga mendustakan kebenaran yang dijelaskan. Mereka tidak menyadari bahwa ada tingkatan jalan turunnya kebenaran dari sisi Allah hingga ke alam dunia. Kebenaran itu secara mutlak ada di dunia berupa tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan secara relatif bisa ditemukan pada orang-orang yang mengikuti kedua tuntunan itu melalui mekanisme al-jamaah dimana setiap orang mengerti kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW.
Orang yang mengadakan perkataan dusta tentang Allah seringkali tidak menyadari jalan diturunkannya kebenaran dari sisi Allah, dan menganggap diri mereka sebagai pembawa kebenaran utama. Mereka seringkali tidak melihat kebenaran pada orang-orang yang mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar sekalipun orang-orang itu mereka hormati, apalagi orang-orang yang tidak mereka kenali. Pada tingkat tertinggi, boleh jadi mereka tidak melihat kebenaran pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang disampaikan kepada mereka karena mengikuti hawa nafsu sendiri. Mereka meletakkan kebenaran itu hanya pada keyakinan sendiri berdasar perkataan dusta mereka tentang Allah, tanpa mengetahui derajat kebenaran yang diturunkan melalui jalan yang ditentukan Allah.
Orang yang menempati kedudukan diri dalam al-jamaah akan selalu berusaha mengantarkan manusia untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, menjadikan tuntunan itu sebagai landasan untuk melaksanakan amal-amal shalih baik amal dirinya ataupun orang-orang yang mengikutinya. Sekalipun mereka mengenal urusan yang diturunkan Allah bagi dirinya, mereka seringkali tidak sedikitpun menyeru manusia untuk membantu urusannya, kecuali setelah orang-orang bisa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap kedudukan Rasulullah SAW. Mereka menyeru manusia kepada Allah melalui tauladan Rasulullah SAW dan orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW termasuk mungkin dirinya, tidak mengantarkkan manusia kepada Allah melalui dirinya saja.
Keadaan orang-orang yang mengadakan perkataan dusta dan yang mengikuti mereka akan berantakan. Seringkali mereka merasa mengenal Allah atau mengenal kebenaran-kebenaran tetapi sebenarnya dalam bentuk yang keliru yang sulit dirasakan kekeliruannya. Ketika seseorang kafir, ia akan mudah mengetahui kekufurannya walaupun barangkali mengalami kesulitan beranjak dari bertindak menentang kebenaran. Demikian pula manakala seseorang dalam kebodohan, ia akan lebih mudah mengetahui kebodohannya manakala disampaikan kebenaran kepadanya. Orang-orang yang mengada-adakan perkataan dusta tentang Allah akan kesulitan mengenali kekeliruan yang terjadi atas diri mereka lebih daripada orang bodoh atau orang kafir. Mereka menyangka membuat perkataan tentang Allah dengan ilmu, dan menyanggah kebenaran yang disampaikan dengan ilmu, sedangkan ilmu mereka keliru. Keadaan mereka akan sangat berantakan dan seringkali mereka tidak menyadarinya. Misalnya boleh jadi mereka melangkah menuju suatu kehancuran dan menyangka bahwa mereka menuju kebaikan.
Kedustaan dalam ayat di atas tidak terbatas pada kedustaan tentang Allah, tetapi juga proses membuat perkataannya. Seseorang mungkin saja telah terjebak mengatakan kedustaan tentang Allah walaupun belum pada tahap membuat perkataan dusta tentang Allah. Misalnya mungkin seseorang menyangka sesuatu yang terbersit dalam diri mereka merupakan suatu perintah Allah dengan penuh keyakinan secara tergesa-gesa tanpa melakukan pemeriksaan terhadap kebenarannya atau kedudukan urusan itu berdasar tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala isi bersitan itu bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka itu merupakan perkataan dusta tentang Allah. Sekalipun ia hanya menyangka bersitan dirinya adalah perintah Allah, belum mengatakan bahwa Allah memerintahkan demikian, ia telah berdusta karena keyakinannya.
Dalam perkara bersitan dalam diri, setiap orang harus bersikap benar agar tidak terjebak pada mengadakan perkataan dusta tentang Allah. Apabila suatu bersitan diketahui menyimpang dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bersitan tersebut hendaknya segera disingkirkan agar tidak menjadi celah pengotor pikiran bagi syaitan. Bila bersitan itu mempunyai hubungan yang benar dengan suatu tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka bersitan itu harus difungsikan untuk lebih memahami kehendak Allah sebagaimana tertera dan firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW, dimaknai mengikuti dua tuntunan agung tersebut tidak menggunakan dua tuntunan itu mendukung bersitan dalam hatinya. Apabila belum diketahui hubungannya dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bersitan hendaknya disikapi sebagai data yang perlu diingat agar bisa digunakan untuk memahami kehendak Allah. Perkataan tentang Allah harus bisa dibuktikan kebenarannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh disusun tanpa suatu landasan yang benar. Tanpa landasan pengetahuan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, seseorang akan sangat mudah terjebak pada mengadakan perkataan dusta tentang Allah.
Mengada-adakan perkataan dusta tentang Allah akan terjadi bersamaan dengan tindakan mendustakan kebenaran manakala kebenaran itu disampaikan kepada diri mereka. Dalam hal ini tindakan mendustakan kebenaran terjadi karena ilmu yang keliru tentang Allah. Al-haqq merupakan kebenaran dari sisi Allah yang menjelaskan tentang sesuatu. Ada orang-orang yang memperoleh pengetahuan kebenaran dari alam yang tinggi di sisi Allah dan bisa menjelaskan pengetahuan itu kepada manusia. Ada orang yang mendengar kemudian mengenali bahwa penjelasan itu berasal dari sisi Allah dan membenarkan. Ada pendengar yang tidak mengenali nilai kebenaran dari penjelasan itu dan tidak dapat mensikapinya karena jauhnya jati dirinya dari keilmuan yang disampaikan, dan ada orang-orang yang mendustakan kebenaran dari penjelasan itu karena ketidakmampuan memahami. Secara khusus, ada bentuk pendustaan kebenaran yang dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai pengetahuan keliru. Para pendusta demikian seringkali juga bertindak mengadakan perkataan-perkataan dusta tentang Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar