Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Menempuh perjalanan kembali kepada Allah membutuhkan keimanan untuk mencahayai langkah menuju arah yang benar. Iman adalah cahaya yang menerangi hati orang-orang beriman sehingga hati mereka mengetahui kebenaran yang menjadi dasar bagi mereka untuk melangkah. Iman merupakan cahaya yang dilimpahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Tanpa keimanan, seseorang tidak akan dapat melangkah kembali kepada Allah dengan benar karena terjebak dalam kegelapan. Manusia akan terseret dalam kehidupan dunia mereka karena waham-waham yang diikuti tanpa mengetahui kebenaran.
Pada satu sisi, manusia tidaklah mengetahui keimanan bahkan keimanan dirinya. Kebenaran pengakuan keimanan seseorang baru akan diketahui oleh dirinya sendiri apabila Allah telah menurunkan fitnah. Banyak orang menyangka dirinya beriman sedangkan Allah belum memperlihatkan tingkat keimanan mereka melalui suatu fitnah, maka sangkaan orang demikian belum mempunyai bukti yang shahih.
﴾۲﴿أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak ditimpa fitnah? (QS Al-’Ankabuut : 2)
Allah akan menurunkan fitnah kepada manusia yang mengatakan dirinya beriman. Fitnah merupakan sesuatu yang menimbulkan persepsi tidak benar dan mendatangkan madlarat. Misalnya perkataan tentang sesuatu yang keliru hingga mendatangkan persepsi yang tidak benar dan menimbulkan madlarat merupakan fitnah. Allah tidak jarang mengijinkan terjadinya suatu peristiwa sedemikian hingga banyak orang mempersepsi peristiwa itu secara keliru dan kemudian mereka bertindak mendatangkan madlarat, maka peristiwa demikian menimbulkan suatu fitnah di antara masyarakat. Fitnah itu berupa terjadinya persepsi keliru yang muncul pada pikiran masyarakat sedemikian mereka terseret pada pikiran yang salah tentang sesuatu yang ada di antara mereka.
Terjadinya suatu fitnah terkait erat dengan tingkat keimanan suatu kaum. Orang-orang yang membina diri dengan benar dalam keimanan akan meredam fitnah yang terjadi sedemikian suatu peristiwa yang terjadi di antara mereka dapat dipersepsi dengan benar oleh masyakat tanpa menimbulkan pikiran-pikiran yang buruk, sedangkan orang-orang yang tidak beriman akan menyukai fitnah-fitnah menyebar di antara masyarakat. Persepsi yang benar bukan menganggap semua peristiwa baik, tetapi menunjuk pada dipahaminya sesuatu yang baik itu sebagai baik dan yang sesuatu yang buruk itu sebagai buruk. Masyarakat yang beriman akan mempunyai pengetahuan yang kokoh tentang dasar-dasar kebenaran dari sesuatu yang terjadi di sekitar mereka, atau setidaknya dapat membangun cara untuk menentukan sesuatu yang benar tidak hanya berdasar hawa nafsu mereka sendiri.
Masyarakat yang buruk tidak mempunyai pengetahuan demikian sehingga sangat mudah dipermainkan oleh pikiran mereka sedangkan pikiran mereka ada pada tingkatan rendah. Kadangkala suatu masyarakat yang kurang baik akhlaknya tidak mampu melihat kebaikan dari diri seseorang di antara jamaah mereka sendiri karena perkataan keliru tentang orang tersebut, sekalipun orang tersebut tidak menunjukkan sama sekali gejala terkait perkataan keliru tersebut. Dalam beberapa kasus orang-orang yang berkeinginan untuk menghindari fitnah dengan berusaha memperoleh pengetahuan yang benar mengalami kesulitan yang besar. Ada pihak-pihak yang berkepentingan untuk mempertahankan fitnah beredar di masyarakat. Para pembohong menjadi penguasa bagi masyarakat, dan dengan mudah mempertahankan kebohongan mereka karena mempunyai kekuasaan. Tidak jarang sedemikian besar pengaruh kekuasaan para pembohong hingga perbaikan penegakan hukum sulit dilakukan.
Hal itu bisa saja terjadi karena longgarnya fitnah menyebar di antara orang-orang yang mengatakan diri mereka beriman, karena akal dan keimanan yang lemah. Seandainya orang-orang beriman benar-benar berusaha memahami tuntunan kitabullah Alquran untuk dijadikan penuntun jalan kehidupan mukminin, kehidupan umat akan membaik dan fitnah-fitnah akan menjadi lemah. Boleh jadi orang-orang beriman hanya ada sedikit di antara manusia, tetapi mereka menjadi sumber warna keumatan manusia, termasuk dalam hal penyebaran fitnah. Orang-orang beriman itu hanya sebagian di antara orang-orang islam, dan orang islam hanya sebagian dari umat manusia. Manakala pada masyarakat besar terjadi masalah, seringkali masalah itu merupakan amplifikasi dari masalah yang ada di antara orang beriman, mengamplifikasi setidaknya keabaian orang beriman terhadap tuntunan Allah. Orang beriman sebenarnya mempunyai peran dan tanggung jawab yang besar dalam dinamika kauniyah mereka dengan memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW terkait dengan kauniah yang terjadi.
Iman, Akhlak Mulia dan Kitabullah Alquran
Keimanan terkait dengan pembinaan akhlak mulia. Akhlak mulia bukanlah sekadar berusaha menampakkan tampilan yang menyenangkan bagi orang lain. Hal tersebut merupakan bagian dari membentuk akhlak mulia. Membina akhlak mulia harus dilakukan secara menyeluruh sebagaimana akhlak Rasulullah SAW adalah akhlak Alquran, dimana segala tindakan dan respons yang ditampilkan oleh Rasulullah SAW terwujud berdasarkan pengetahuan terhadap kandungan kitabullah Alquran. Akhlak mulia yang harus dibina oleh setiap orang beriman adalah berusaha bertindak berdasarkan pengetahuan tentang kitabullah Alquran, dimulai dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diketahui kebaikannya. Selanjutnya setiap orang harus membina akalnya untuk memahami tuntunan kitabullah Alquran dengan benar yaitu berlandaskan pembinaan sifat rahman dan rahim untuk mengenal kehendak Allah dengan benar. Hal demikian itulah akhlak mulia yang harus dibina dengan keimanan. Kaum mukminin tidak akan mencapai pengetahuan terhadap seluruh ilmu dalam kitabullah Alquran sebagaimana Rasululullah SAW, maka menyeluruhnya upaya membentuk akhlak mulia adalah memahami kandungan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang dapat diketahui, dan mampu mengenali dengan benar perkataan yang mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah keburukan. Secara umum, manusia dapat membedakan kebaikan dari keburukan, akan tetapi benar-benar ada keburukan-keburukan yang terbungkus sebagai kebaikan atau dikatakan sebagai kebaikan sehingga sebagian manusia memandang keburukan itu sebagai kebaikan. Demikian pula tidak jarang terjadi suatu kebaikan dikatakan oleh seseorang sebagai keburukan maka sebagian manusia memandang kebaikan itu sebagai keburukan. Hal-hal berkebalikan demikian termasuk dari suatu fitnah, dan orang-orang yang mengatakan dirinya beriman akan diuji dengan fitnah-fitnah terutama dalam bentuk berkebalikan demikian. Keimanan yang benar akan ditunjukkan oleh orang-orang yang mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, sedangkan kedustaan atau ringannya keimanan ditunjukkan oleh orang-orang yang hanya mengikuti perkataan manusia. Orang yang mendustakan tuntunan kitabullah Alquran adalah orang-orang yang perkataan keimanannnya dalam pandangan Allah hanya kedustaan.
Masyarakat yang baik akan terbentuk melalui pembinaan keimanan yang benar, dan tidak akan terbentuk melalui keimanan yang dusta. Kadangkala suatu kaum melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk membentuk peradaban yang baik pada kaumnya tetapi tidak ada kemajuan sesuai usaha mereka karena keimanan mereka hanya dusta. Kedustaan mereka ditunjukkan dengan sikap berusaha hanya dengan mengikuti perkataan manusia, termasuk fitnah yang mereka buat, tidak disertai usaha membentuk akhlak mulia dengan akal yang memahami firman Allah. Mengikuti perkataan manusia saja seringkali merupakan kedustaan perkataan iman yang mungkin akan terlihat hanya pada saat tertentu, sekalipun mereka mungkin mengatakan diri mereka beriman. Masyarakat yang baik akan terbentuk apabila orang-orangnya melakukan pembinaan akhlak mulia dengan mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan akal yang memahami.
Pemahaman yang benar yang terbentuk pada diri seseorang ditentukan dari langkah kedekatan kepada Allah. Pemahaman Alquran bukanlah berbentuk perkataan-perkataan saja, tetapi juga ditandai dengan derajat kedekatan kepada Allah yang diukur dengan langkah yang ditempuh mengikuti langkah uswatun hasanah Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s. Ada orang-orang yang dapat memahami dengan benar tuntunan ayat Allah dan diberi kemampuan untuk meninggikan asma Allah yang dikenalinya dengan membentuk bayt yang diijinkan Allah. Ada orang-orang yang dapat memahami tuntunan kitabullah dengan benar tetapi tidak dapat meninggikan asma Allah. Kebanyakan manusia hanya dapat memahami makna dzahir dari redaksi kitabullah Alquran dan memahami penjelasan dari orang-orang yang memahaminya karena telah menempuh tazkiyatun nafs menjaga dirinya dari dorongan hasrat duniawi. Di antara mereka ada yang dapat membedakan bobot kebenaran dari yang disampaikan dan/atau mengenali kebathilan yang terselip, dan sebagian hanya mengikuti apa yang disampaikan secara membuta. Ada orang-orang yang berusaha mengikuti kitabullah tanpa mengetahui bobot kebenaran yang disampaikan hingga terjebak mengikuti ajaran-ajaran yang dibuat-buat oleh orang-orang musyrik. Ada pula orang-orang yang tidak dapat memahami tuntunan kitabullah baik bentuk dzahir redaksinya ataupun tidak dapat memahami penjelasan-penjelasan terkait tuntunan kitabullah yang disampaikan. Sangat banyak warna orang yang berusaha memahami kitabullah. Hal-hal demikian dapat menjadi indikator tingkat pemahaman karena tingkat pemahaman terkait dengan kedekatan kepada Allah.
Memahami kitabullah dengan benar ditunjukkan dengan pemahaman terhadap hubungan tuntunan kitabullah dengan kauniyah yang terjadi. Ini tidak seperti sebagian orang yang mengarahkan pikirannya untuk dapat menyatu dengan semesta hingga ia memperoleh bagian yang diinginkan. Seseorang yang berusaha memahami kitabullah melakukannya dengan membaca keadaan kauniyah dirinya hingga ia mengetahui fenomena yang terjadi sesuai dengan tuntunan kitabullah, kemudian ia berusaha memahami perintah Allah berdasarkan firman Allah, bukan memfokuskan pikiran untuk memperoleh bagian yang diinginkan.
Memanifestasikan Akhlak Mulia dalam Pemakmuran
Perkembangan nafs dan pemahaman kitabullah menjadi basis tingkat peradaban yang dapat dibentuk suatu umat. Orang-orang yang nafsnya berkembang lebih baik akan mempunyai kemampuan menghargai hal-hal yang bernilai bagi diri mereka hingga nilai-nilai yang baik dapat berkembang pada umat tersebut. Manakala nafs suatu umat bodoh, mereka tidak akan mempunyai kemampuan menghargai nilai-nilai kebaikan di antara mereka. Di masyarakat yang adabnya rendah, suatu bidang yang mendatangkan uang akan menjadi rebutan oleh banyak pihak, sedangkan orang-orang yang berpikir tentang nilai untuk mengangkat kehidupan bersama mungkin tersingkir dari masyarakat tanpa memperoleh bagian yang layak bagi usahanya. Gambarannya suatu pabrikan otomotif yang maju akan menghargai kemampuan setiap orang seperti pengembang produk, pengontrol kualitas dan lainnya untuk digunakan sebaik-baiknya sedemikian produk mereka mempunyai nilai yang tinggi di masyarakat. Sebaliknya suatu bengkel yang tidak dihargai masyarakat, mereka mungkin hanya menghargai orang-orang yang bekerja fisik saja tanpa mempunyai kemampuan untuk menjaga atau meningkatkan kualitas produk. Hal demikian sebenarnya berlaku pula bagi tatanan masyarakat luas, tidak hanya untuk suatu perusahaan saja. Tingkat peradaban yang dapat dibentuk suatu umat akan ditentukan oleh perkembangan nafs dan pemahaman kitabullah pada umat tersebut.
Perkembangan nafs harus terjadi pada umat, bukan hanya individu. Orang yang berkembang nafsnya sendirian tidak akan mampu mewujudkan kemajuan peradaban, dan tidak jarang justru mendatangkan adzab bila terjadi karena umatnya yang kufur. Semua orang yang berkembang nafsnya pada dasarnya menginginkan pula perkembangan pada nafs umatnya, tidak ada yang ingin menjadi shalih sendirian untuk menjadi lebih unggul dari yang lain. Seringkali orang-orang yang menginginkan keunggulan keshalihan sendirian itu sebenarnya bukan berkembang nafsnya tetapi hanya hawa nafsunya. Setiap orang yang nafsnya telah melangkah lebih dekat kepada Allah menginginkan kebersamaan dalam keshalihan. Akan tetapi, sekalipun sifat dasar orang yang berkembang nafsnya menginginkan kebaikan bagi semua, tetapi tidak semua orang shalih berhasil mendatangkan kebaikan bersama umatnya.
Orang beriman hendaknya membina perkembangan nafs dirinya hingga sempurna dengan mengikuti langkah uswatun hasanah Rasulullah SAW dan nabi Ibrahim a.s yaitu membentuk bayt untuk memperoleh ijin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Membina bayt untuk mendzikirkan asma Allah merupakan tujuan akhir langkah kehidupan manusia di dunia, sedangkan sebelum tujuan akhir itu banyak milestone yang dapat mengantarkan manusia pada tujuan itu. Manakala seseorang berkeinginan untuk membina bayt untuk mendzikirkan asma Allah, mereka akan bisa melangkah tanpa keluar dari jalan Allah apabila ia berhati-hati memperhatikan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila seseorang melangkah dengan tujuan antara saja, misalnya hanya mengenal diri, syaitan mempunyai celah yang besar untuk menyimpangkan langkahnya dari jalan Allah. Nilai-nilai yang dibangun bisa tidak benar-benar menyatu dengan al-haqq. Penyimpangan karena hanya menetapkan tujuan pada sasaran antara saja bisa terjadi sedemikian suatu tuntunan kitabullah Alquran diselewengkan maknanya dari yang sesungguhnya.
Bayt demikian itu merupakan kunci keberhasilan untuk membangun peradaban yang baik bersama umat. Tidak hanya kunci membangun kemakmuran, mengikuti langkah uswatun hasanah membina bayt untuk meninggikan asma Allah akan menjaga langkah seseorang tetap lurus kepada Allah tidak tersimpangkan ke arah yang lain. Kunci pemakmuran bumi terletak pada pembinaan para perempuan di jalan Allah melalui pembinaan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Para laki-laki pada bagian besarnya berperan dalam memahami kehendak Allah, sedangkan peran manifestasi ma’rifat itu di alam bumi ditentukan oleh para perempuan sebagai tiang negara. Para perempuan itu berperan melahirkan ma’rifat para suaminya ke alam bumi apabila dibina untuk dapat memahami kehendak Allah yang dikenali oleh suaminya. Manakala para perempuan tidak bisa bersikap setia kepada suaminya tidak menjaga diri dari kekejian, ma’rifat yang dikenali suaminya akan sulit termanifestasi ke alam dunia, dan kehidupan dunia mereka akan sangat sulit. Apabila para perempuan dirusak, dampak kerusakan itu akan sangat luas menyebar di masyarakat. Setiap orang hendaknya dibina melalui pembinaan bayt termasuk dan terutama para perempuan agar terjadi pemakmuran yang baik di bumi.
Pada satu sisi, pembinaan bayt demikian menegaskan perlunya perhatian manusia terhadap suatu hubungan washilah di antara umat manusia, di mana seluruh ma’rifat manusia berasal dari satu sumber yaitu Rasulullah SAW dan setiap orang mempunyai hubungan washilah terhadap sumber ma’rifat tersebut. Ketika seseorang membina diri tanpa terhubung kepada Rasulullah SAW, ia seperti perempuan tanpa suami yang tidak mempunyai sumber ma’rifat untuk dimanifestasikan. Mungkin perempuan itu bukan orang yang keji, tetapi tidak mempunyai sumber makrifat untuk dimanifestasikan. Mungkin pula perempuan itu orang yang keji yang mengikuti sembarang orang tanpa suatu ikatan maka dampak kerusakannya akan besar. Para laki-laki dan perempuan hendaknya membina bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah dengan benar mengikuti tauladan dan ketentuan uswatun hasanah tanpa menyimpang.
Penyimpangan dalam pembinaan Bayt di antara manusia merupakan fitnah yang paling besar bagi umat manusia. Segala sesuatu yang menyimpang dari tuntunan kitabullah Alquran dapat menimbulkan penyimpangan dalam pembentukan bayt seseorang, dan sebaliknya setiap penyimpangan pembinaan bayt dari ketentuan tuntunan dapat menimbulkan penyimpangan yang besar dalam agama. Penyimpangan dalam agama itu harus dihindari oleh setiap orang. Bila suatu kaum bersikap permisif terhadap penyimpangan dalam pembinaan bayt, boleh jadi sebenarnya suatu fitnah yang sangat besar sedang mengintai diri mereka. Mungkin mereka berusaha berbuat yang terbaik tetapi tidak memahami tuntunan Allah maka tidak ada hasil memadai yang bisa diperoleh, sedangkan fitnah itu mengintai mereka untuk menghancurkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar