Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan
Jalan kembali kepada Allah yang paling utama adalah shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim ditandai dengan suatu gerbang berupa keterbukaan makna suatu ayat kitabullah yang menyingkapkan rahasia dari alam kauniyah terkait dengan diri seorang hamba, sedemikian keterbukaan itu menjadikan seorang hamba memahami untuk apa dirinya diciptakan. Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan suatu ayat Allah demikian, ia telah tiba di gerbang shirat Al-mustaqim. Ia diperintahkan untuk tegak melaksanakan amanah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.
Menegakkan diri di shirat al-mustaqim membutuhkan perjuangan, bukan keadaan yang dapat ditempuh dengan mudah. Banyak pihak yang akan menghalanginya dari jalan Allah karena kufur dengan jalan Allah, menghalanginya untuk memasuki masjid al-haram dan mengusir para ahli masjid al-haram tersebut menjauh dari masjid dengan melancarkan fitnah-fitnah agar orang-orang yang berada di jalan Allah berbalik (murtad) dari agama yang telah jelas berupa keterbukaan ayat Allah yang merupakan amanah bagi dirinya.
﴾۷۱۲﴿يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada-nya, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya darinya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah : 217)
Akan banyak orang berusaha mencegah seseorang untuk tegak di shirat al-mustaqim hingga ia berbalik (murtad) dari agamanya. Murtad dalam hal ini bukan sekadar berbaliknya seseorang menjadi kembali kafir terhadap iman dan islam, tetapi juga berbalik dari keinginan menegakkan perintah-perintah Allah yang dibukakan dari ayat Allah yang merupakan amanah bagi diri mereka. Ini adalah kemurtadan tertentu pada tingkatan shirat al-mustaqim, tidak membatasi adanya kemurtadan yang mungkin terjadi dalam bentuk berpalingnya seseorang dari iman dan islam. Bila diteliti, mungkin saja ditemukan banyak tingkatan keberbalikan (kemurtadan) seseorang dari agamanya pada setiap tingkat langkah.
Banyak orang yang kufur terhadap jalan Allah. Mungkin mereka kufur bahwa ayat Allah yang dibukakan kepada seseorang adalah benar jalan Allah yang harus ditempuh, maka mereka menghalanginya untuk menempuh jalan Allah tersebut. Mungkin mereka kufur terhadap keterbukaan ayat itu, atau mungkin mereka kufur terhadap penerimanya, atau mungkin mereka kufur terhadap ayat Allah, dan pada akhirnya mereka kufur terhadap Allah walaupun boleh jadi mereka merasa beriman kepada Allah. Orang kafir makkah akan mengatakan “Allah” apabila ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi. Keimanan mereka kepada Allah hanya berupa keimanan yang paling ghaib tidak dapat dibuktikan secara objektif, tidak disertai dengan keimanan terhadap firman-Nya dan penurunan firman itu hingga dalam wujud yang bisa dilaksanakan. Hal ini mudah terjadi pada orang-orang yang biasa tidak menggunakan akalnya hanya mengikuti waham dan perkataan-perkataan dari orang tua-orang tua mereka.
Apabila umat mau memikirkan tuntunan Allah, niscaya mereka melihat kebenaran pada keterbukaan shirat al-mustaqim. Sekiranya mereka tidak mempercayai orang yang mengalami keterbukaan, setidaknya mereka akan mengetahui kebenaran pada ayat yang dibacakan tidak kufur kepada ayat Allah. Bila mereka menggunakan akal, mereka akan menemukan manfaat yang banyak dan tidak akan menemukan madlarat manakala ikut serta mewujudkan keterbukaan ayat itu hingga kesertaannya akan memberikan manfaat. Apabila ia mengharapkan Allah, ia akan mempunyai medan berharap yang besar dengan berpegang pada salah satu ayat Allah, tidak hanya berpegang pada waham diri atau waham kelompok. Sebenarnya umat manusia perlu mempercayai orang-orang yang mengajarkan kitabullah sebagaimana bersyahadat tentang Rasulullah SAW, maka penggunaan pikiran dan akal itu akan mendidik mereka untuk mencintai Rasulullah SAW. Sayangnya banyak orang tidak menggunakan pikiran dan akalnya maka mereka kufur terhadap jalan Allah yang sebenarnya merupakan jalan untuk musyahadah yang lebih baik dan sempurna. Setidaknya, orang yang tidak menggunakan pikiran dan akal tidak akan mempunyai keyakinan dalam memahami tuntunan Allah dan keadaan ragu demikian akan sangat mudah dijadikan sasaran penyesatan.
Upaya orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah itu bertujuan apabila mungkin membuat orang beriman berbalik dari jalan Allah. Mereka melakukan upaya itu disertai membuat fitnah-fitnah yang lebih buruk dari pembunuhan. Pembunuhan barangkali merupakan hal yang ringan atau justru suatu jalan syahid bagi orang beriman, tetapi yang ditimpakan orang-orang yang menghalangi berupa fitnah-fitnah yang lebih kejam dari pembunuhan. Fitnah-fitnah itu dapat dibuat terhadap orang-orang yang berjalan di jalan Allah, atau fitnah terhadap jalan Allah. Fitnah terhadap kebenaran jalan Allah dapat mendatangkan bahaya yang besar tidak hanya menimpakan nama buruk bagi orang yang menempuhnya tetapi juga menjadikan orang-orang yang mendengar fitnah berbalik dari jalan Allah. Dengan fitnah yang dilakukan, orang-orang beriman mungkin dipandang hina di antara manusia sedangkan tidaklah ada kehinaan atau fitnah-fitnah yang disebarkan itu pada diri orang beriman tersebut. Mungkin orang beriman tidak mampu berbuat banyak terhadap fitnah itu, tidak dapat memerangi dan tidak bisa memberikan kebaikan diri sedemikian kematian lebih baik daripada fitnah itu. Selain itu, fitnah itu mungkin pula menjadikan manusia menempuh jalan yang salah hingga terjebak pada suatu keadaan yang sangat merugikan.
Tidak hanya menghalangi manusia dari jalan Allah, orang-orang kufur itu juga akan menghalangi manusia untuk mendatangi masjidilharam dan mengusir penduduknya. Masjidil haram adalah bayt Allah dimana asma Allah ditinggikan dan didzikirkan dan penduduknya menunjuk pada ahli masjidil haram. Mereka mencegah orang-orang untuk mendatangi bayt yang digunakan untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah bahkan mengusir para ahlul bayt dari bayt mereka.
Orang-orang beriman yang berbalik dari agamanya karena fitnah-fitnah dan upaya yang dilakukan oleh orang-orang yang kufur kepada jalan Allah akan menjadi golongan penghuni neraka yang kekal di dalamnya, sedangkan amal-amal yang mereka lakukan pada masa keimanan akan tercerabut tanpa bekas di akhirat kelak. Ini terjadi apabila mereka mati dalam keadaan kafir terhadap jalan Allah. Kufur kepada jalan Allah adalah memandang jalan Allah yang terbuka kepada seseorang di antara mereka sebagai jalan yang sia-sia, buruk atau merusak. Jalan Allah tidak mungkin sia-sia atau mendatangkan kerusakan, dan apabila sia-sia atau mendatangkan kerusakan jalan itu bukan jalan Allah. Ini akan diketahui apabila manusia memikirkan dengan benar tidak hanya mengikuti perkataan orang lain. Mungkin seseorang memikirkan dengan sungguh-sungguh kebenaran dan kebaikan yang dapat diperoleh dengan jalan Allah tersebut tetapi belum mengikuti langkahnya, maka hal demikian tidak termasuk kufur terhadap jalan Allah kecuali ia menyebarkan perkataan buruk tentang jalan Allah tersebut. Orang-orang yang berbalik dari agamanya akan menjadi penghuni neraka yang kekal di dalamnya.
Bertahan di Jalan Allah dengan Kitabullah
Upaya yang dilakukan sebagian manusia sebagaimana diceritakan ayat di atas seringkali merupakan upaya yang sangat sistematis dan integral agar manusia tidak memperoleh jalan untuk menunaikan amanah Allah. Fitnah itu kadangkala dibuat berdasarkan pengetahuan yang sangat banyak terkait pelaksanaan amanah Allah sedangkan kebanyakan manusia tidak menyadari taktik dan teknik yang digunakan. Kadangkala metode yang digunakan membuat seseorang berpikir bahwa manusia saja mungkin tidak akan bisa merumuskan langkah yang sedemikian sistematis dan integral, tetapi syaitan akan benar-benar membantu manusia menghalangi orang dari jalan Allah. Bila orang-orang beriman tidak berpegang teguh pada firman Allah, mereka tidak akan bisa melampaui taktik syaitan dan para pengikut mereka. Hanya dengan berpegang teguh pada firman Allah maka manusia akan melihat jalan untuk melampaui cara berpikir mereka.
Kadangkala orang beriman harus beradu argumen dengan orang-orang yang berpegang pada kitab Allah tetapi menghalangi dari jalan Allah. Mereka mungkin tidak benar-benar menggunakan akal dalam berpegang pada kitab Allah. Mungkin mereka hanya mengikut perkataan-perkataan manusia saja tentang kandungan kitabullah atau telah merasa mengetahui semua ilmu tanpa memikirkan kebaikan dari tuntunan kitabullah.
﴾۹۴﴿قُلْ فَأْتُوا بِكِتَابٍ مِّنْ عِندِ اللَّهِ هُوَ أَهْدَىٰ مِنْهُمَا أَتَّبِعْهُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
﴾۰۵﴿فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
(49)Katakanlah: "Datangkanlah olehmu bersama kitab dari sisi Allah yang itu lebih memberi petunjuk daripada keduanya niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang benar". (50)Jika mereka tidak memberikan jawaban kepadamu maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Qashash : 49-50)
Terkait dengan orang yang menghalangi dari jalan Allah, kadangkala timbul suatu perselisihan antara orang beriman dengan orang lain yang menghalangi. Boleh jadi orang yang menghalangi itu bukan sepenuhnya dari kalangan orang kafir tetapi dari kalangan orang yang membaca kitabullah atau ahli kitab yang tidak memahami jalan Allah karena itu kemudian beradu argumentasi menghalangi orang beriman dari jalan Allah. Apabila terjadi peristiwa demikian, hendaknya mereka meminta orang yang menghalangi untuk mendatangkan suatu penjelasan dari kitabullah yang lebih baik daripada jalan Allah yang dipahaminya.
Pada satu sisi, ayat di atas memberikan gambaran etika orang beriman dalam berargumentasi tentang kandungan kitabullah. Hendaknya orang beriman mengatakan kepada orang yang beradu argumentasi dengan sepenuh hati : "Datangkanlah olehmu penjelasan bersama kitab dari sisi Allah yang lebih memberi petunjuk, niscaya aku akan mengikutinya”. Orang beriman hendaknya benar-benar menggunakan pendengarannya untuk mendengar dan matanya untuk melihat. Apabila seseorang memberikan argumentasi yang memberikan petunjuk hendaknya mereka mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan kemudian mengikutinya setelah mengetahui kebenarannya. Ia harus mengakui bila ada kebenarannya, dan kemudian mengikuti setelah mengetahui orang yang menjelaskannya orang yang benar. Kadangkala kebenaran digunakan oleh orang yang jahat, maka seseorang tidak perlu mengikuti. Orang beriman tidak boleh merasa diri yang paling benar manakala berdiskusi dengan orang lain, karena boleh jadi ada kesalahan dalam pemahaman dirinya atau ada keutamaan petunjuk pada orang lain yang tidak diketahui oleh dirinya.
Argumentasi yang harus didengarkan dan diikuti itu adalah argumentasi yang mengikuti tuntunan kitab dari sisi Allah. Berargumentasi tentang petunjuk Allah hanya dapat dilakukan apabila terkait dengan suatu petunjuk dari kitab Allah. Berargumentasi dalam perkara petunjuk tanpa suatu tuntunan dari kitabullah merupakan argumentasi yang sia-sia saja. Kadangkala seseorang memaksa orang lain untuk mengikuti suatu urusan yang dikatakan sebagai petunjuk Allah tanpa suatu dasar dari kitabullah, maka tidak ada kewajiban bagi orang lain mengikuti petunjuk demikian (kecuali dalam hubungan ulul amr). Bila paksaan itu bertentangan dengan pemahaman diri tentang jalan Allah, ia tidak boleh meninggalkan jalan Allah. Orang beriman hendaknya mengetahui kebenaran petunjuk yang diberikan kepada dirinya dengan landasan kitabullah. Demikian pula ia harus mau mendengarkan petunjuk dari orang lain yang disampaikan dengan landasan kitabullah (بِكِتَابٍ مِّنْ عِندِ اللَّهِ) dan mengikutinya setelah mengetahui kebenaran petunjuknya, dan mengetahui bahwa yang menyampaikan adalah orang yang benar.
Mengikuti jalan Allah menunjukkan tingkat perkembangan akal yang cukup baik. Seseorang yang mengikuti jalan Allah tidak mengikuti perkataan-perkataan manusia saja tetapi mengikuti firman Allah yang telah dipahami, baik dibukakan Allah pemahamannya ataupun karena diberi penjelasan orang lain dan ia mengetahui kebenarannya. Manakala seseorang hanya mengikuti perkataan manusia saja, ia sebenarnya belum mengikuti jalan Allah. Dengan tingkat perkembangan demikian, seseorang kadangkala terjebak pada suatu perasaan lebih benar daripada orang lain. Hal demikian harus dihindari. Ia harus meyakini kebenaran yang telah dipahami, tetapi tidak merasa lebih baik daripada orang lain. Hal ini harus dimengerti karena ia tidak boleh mudah terpengaruh buruk, tetapi harus tetap bisa menilai tingkat kebenaran argumentasi orang lain tanpa terhijab waham dan tidak salah dalam mengukur nilai kebenaran atau kebathilan dari orang lain.
Apabila permintaan untuk memberikan penjelasan mengikuti kitabullah tidak dapat diberikan oleh orang yang menghalangi, maka hendaknya diketahui bahwa orang yang menghalanginya dari jalan Allah itu hanya mengikuti hawa nafsunya saja. Sikap membuka diri terhadap kemungkinan benarnya suatu penjelasan kadangkala menjadikan orang beriman tampak lemah dalam berpendapat dan mudah membuka pandangan bahwa ia salah. Apalagi bila ia berhadapan dengan tokoh-tokoh pembaca kitabullah. Bila permintaan penjelasan yang lebih baik itu tidak dijawab oleh seseorang yang menghalanginya dari jalan Allah, maka hendaknya ia memastikan bahwa orang yang menghalangi itu melakukannya hanya berdasarkan hawa nafsu. Mereka adalah orang-orang yang sangat tersesat karena mempertuhankan hawa nafsu. Ia tidak perlu merasa silau dengan kedudukan orang yang menghalanginya ataupun kekayaannya.
Mengikuti
hawa nafsu itu bisa tampak dalam tindakan tidak mau tahu kebenaran
yang disampaikan, atau sekadar tidak bisa memberi jawaban dengan penjelasan
yang lebih baik mengikuti kitabullah. Tidak adanya jawaban berupa
penjelasan yang lebih baik telah menjadi tanda
yang benar bahwa beradu argumentasi tentang jalan Allah itu dilakukan
hanya mengikuti hawa nafsu. Sebenarnya berbantah-bantah tentang
kitabullah merupakan perbuatan yang tidak diperbolehkan, tetapi orang
yang dicegah dari jalan Allah boleh menyangkal orang yang menghalangi
mereka dari jalan Allah manakala mereka mencegah berdasarkan
kitabullah. Bila tidak menggunakan kitabullah, orang yang dicegah
boleh menarik masalah perbantahannya menggunakan kitabullah karena ia mengikuti
kitabullah yang hanya bisa dibatalkan dengan kitabullah dengan
penjelasan yang lebih baik. Barangkali orang yang tidak bisa menyediakan jawaban itu lebih memberi harapan dapat memahami jalan Allah daripada orang yang tidak mau tahu kebenaran yang disampaikan karena adanya kesombongan pada orang yang tidak mau memahami.