Pencarian

Minggu, 26 Oktober 2025

Teguh di Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan

Jalan kembali kepada Allah yang paling utama adalah shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim ditandai dengan suatu gerbang berupa keterbukaan makna suatu ayat kitabullah yang menyingkapkan rahasia dari alam kauniyah terkait dengan diri seorang hamba, sedemikian keterbukaan itu menjadikan seorang hamba memahami untuk apa dirinya diciptakan. Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan suatu ayat Allah demikian, ia telah tiba di gerbang shirat Al-mustaqim. Ia diperintahkan untuk tegak melaksanakan amanah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

Menegakkan diri di shirat al-mustaqim membutuhkan perjuangan, bukan keadaan yang dapat ditempuh dengan mudah. Banyak pihak yang akan menghalanginya dari jalan Allah karena kufur dengan jalan Allah, menghalanginya untuk memasuki masjid al-haram dan mengusir para ahli masjid al-haram tersebut menjauh dari masjid dengan melancarkan fitnah-fitnah agar orang-orang yang berada di jalan Allah berbalik (murtad) dari agama yang telah jelas berupa keterbukaan ayat Allah yang merupakan amanah bagi dirinya.

﴾۷۱۲﴿يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada-nya, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya darinya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah : 217)

Akan banyak orang berusaha mencegah seseorang untuk tegak di shirat al-mustaqim hingga ia berbalik (murtad) dari agamanya. Murtad dalam hal ini bukan sekadar berbaliknya seseorang menjadi kembali kafir terhadap iman dan islam, tetapi juga berbalik dari keinginan menegakkan perintah-perintah Allah yang dibukakan dari ayat Allah yang merupakan amanah bagi diri mereka. Ini adalah kemurtadan tertentu pada tingkatan shirat al-mustaqim, tidak membatasi adanya kemurtadan yang mungkin terjadi dalam bentuk berpalingnya seseorang dari iman dan islam. Bila diteliti, mungkin saja ditemukan banyak tingkatan keberbalikan (kemurtadan) seseorang dari agamanya pada setiap tingkat langkah.

Banyak orang yang kufur terhadap jalan Allah. Mungkin mereka kufur bahwa ayat Allah yang dibukakan kepada seseorang adalah benar jalan Allah yang harus ditempuh, maka mereka menghalanginya untuk menempuh jalan Allah tersebut. Mungkin mereka kufur terhadap keterbukaan ayat itu, atau mungkin mereka kufur terhadap penerimanya, atau mungkin mereka kufur terhadap ayat Allah, dan pada akhirnya mereka kufur terhadap Allah walaupun boleh jadi mereka merasa beriman kepada Allah. Orang kafir makkah akan mengatakan “Allah” apabila ditanya siapa yang menciptakan langit dan bumi. Keimanan mereka kepada Allah hanya berupa keimanan yang paling ghaib tidak dapat dibuktikan secara objektif, tidak disertai dengan keimanan terhadap firman-Nya dan penurunan firman itu hingga dalam wujud yang bisa dilaksanakan. Hal ini mudah terjadi pada orang-orang yang biasa tidak menggunakan akalnya hanya mengikuti waham dan perkataan-perkataan dari orang tua-orang tua mereka.

Apabila umat mau memikirkan tuntunan Allah, niscaya mereka melihat kebenaran pada keterbukaan shirat al-mustaqim. Sekiranya mereka tidak mempercayai orang yang mengalami keterbukaan, setidaknya mereka akan mengetahui kebenaran pada ayat yang dibacakan tidak kufur kepada ayat Allah. Bila mereka menggunakan akal, mereka akan menemukan manfaat yang banyak dan tidak akan menemukan madlarat manakala ikut serta mewujudkan keterbukaan ayat itu hingga kesertaannya akan memberikan manfaat. Apabila ia mengharapkan Allah, ia akan mempunyai medan berharap yang besar dengan berpegang pada salah satu ayat Allah, tidak hanya berpegang pada waham diri atau waham kelompok. Sebenarnya umat manusia perlu mempercayai orang-orang yang mengajarkan kitabullah sebagaimana bersyahadat tentang Rasulullah SAW, maka penggunaan pikiran dan akal itu akan mendidik mereka untuk mencintai Rasulullah SAW. Sayangnya banyak orang tidak menggunakan pikiran dan akalnya maka mereka kufur terhadap jalan Allah yang sebenarnya merupakan jalan untuk musyahadah yang lebih baik dan sempurna. Setidaknya, orang yang tidak menggunakan pikiran dan akal tidak akan mempunyai keyakinan dalam memahami tuntunan Allah dan keadaan ragu demikian akan sangat mudah dijadikan sasaran penyesatan.

Upaya orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah itu bertujuan apabila mungkin membuat orang beriman berbalik dari jalan Allah. Mereka melakukan upaya itu disertai membuat fitnah-fitnah yang lebih buruk dari pembunuhan. Pembunuhan barangkali merupakan hal yang ringan atau justru suatu jalan syahid bagi orang beriman, tetapi yang ditimpakan orang-orang yang menghalangi berupa fitnah-fitnah yang lebih kejam dari pembunuhan. Fitnah-fitnah itu dapat dibuat terhadap orang-orang yang berjalan di jalan Allah, atau fitnah terhadap jalan Allah. Fitnah terhadap kebenaran jalan Allah dapat mendatangkan bahaya yang besar tidak hanya menimpakan nama buruk bagi orang yang menempuhnya tetapi juga menjadikan orang-orang yang mendengar fitnah berbalik dari jalan Allah. Dengan fitnah yang dilakukan, orang-orang beriman mungkin dipandang hina di antara manusia sedangkan tidaklah ada kehinaan atau fitnah-fitnah yang disebarkan itu pada diri orang beriman tersebut. Mungkin orang beriman tidak mampu berbuat banyak terhadap fitnah itu, tidak dapat memerangi dan tidak bisa memberikan kebaikan diri sedemikian kematian lebih baik daripada fitnah itu. Selain itu, fitnah itu mungkin pula menjadikan manusia menempuh jalan yang salah hingga terjebak pada suatu keadaan yang sangat merugikan.

Tidak hanya menghalangi manusia dari jalan Allah, orang-orang kufur itu juga akan menghalangi manusia untuk mendatangi masjidilharam dan mengusir penduduknya. Masjidil haram adalah bayt Allah dimana asma Allah ditinggikan dan didzikirkan dan penduduknya menunjuk pada ahli masjidil haram. Mereka mencegah orang-orang untuk mendatangi bayt yang digunakan untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah bahkan mengusir para ahlul bayt dari bayt mereka.

Orang-orang beriman yang berbalik dari agamanya karena fitnah-fitnah dan upaya yang dilakukan oleh orang-orang yang kufur kepada jalan Allah akan menjadi golongan penghuni neraka yang kekal di dalamnya, sedangkan amal-amal yang mereka lakukan pada masa keimanan akan tercerabut tanpa bekas di akhirat kelak. Ini terjadi apabila mereka mati dalam keadaan kafir terhadap jalan Allah. Kufur kepada jalan Allah adalah memandang jalan Allah yang terbuka kepada seseorang di antara mereka sebagai jalan yang sia-sia, buruk atau merusak. Jalan Allah tidak mungkin sia-sia atau mendatangkan kerusakan, dan apabila sia-sia atau mendatangkan kerusakan jalan itu bukan jalan Allah. Ini akan diketahui apabila manusia memikirkan dengan benar tidak hanya mengikuti perkataan orang lain. Mungkin seseorang memikirkan dengan sungguh-sungguh kebenaran dan kebaikan yang dapat diperoleh dengan jalan Allah tersebut tetapi belum mengikuti langkahnya, maka hal demikian tidak termasuk kufur terhadap jalan Allah kecuali ia menyebarkan perkataan buruk tentang jalan Allah tersebut. Orang-orang yang berbalik dari agamanya akan menjadi penghuni neraka yang kekal di dalamnya.

Bertahan di Jalan Allah dengan Kitabullah

Upaya yang dilakukan sebagian manusia sebagaimana diceritakan ayat di atas seringkali merupakan upaya yang sangat sistematis dan integral agar manusia tidak memperoleh jalan untuk menunaikan amanah Allah. Fitnah itu kadangkala dibuat berdasarkan pengetahuan yang sangat banyak terkait pelaksanaan amanah Allah sedangkan kebanyakan manusia tidak menyadari taktik dan teknik yang digunakan. Kadangkala metode yang digunakan membuat seseorang berpikir bahwa manusia saja mungkin tidak akan bisa merumuskan langkah yang sedemikian sistematis dan integral, tetapi syaitan akan benar-benar membantu manusia menghalangi orang dari jalan Allah. Bila orang-orang beriman tidak berpegang teguh pada firman Allah, mereka tidak akan bisa melampaui taktik syaitan dan para pengikut mereka. Hanya dengan berpegang teguh pada firman Allah maka manusia akan melihat jalan untuk melampaui cara berpikir mereka.

Kadangkala orang beriman harus beradu argumen dengan orang-orang yang berpegang pada kitab Allah tetapi menghalangi dari jalan Allah. Mereka mungkin tidak benar-benar menggunakan akal dalam berpegang pada kitab Allah. Mungkin mereka hanya mengikut perkataan-perkataan manusia saja tentang kandungan kitabullah atau telah merasa mengetahui semua ilmu tanpa memikirkan kebaikan dari tuntunan kitabullah.

﴾۹۴﴿قُلْ فَأْتُوا بِكِتَابٍ مِّنْ عِندِ اللَّهِ هُوَ أَهْدَىٰ مِنْهُمَا أَتَّبِعْهُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
﴾۰۵﴿فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
(49)Katakanlah: "Datangkanlah olehmu bersama kitab dari sisi Allah yang itu lebih memberi petunjuk daripada keduanya niscaya aku mengikutinya, jika kamu sungguh orang-orang yang benar". (50)Jika  mereka tidak memberikan jawaban kepadamu maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Qashash : 49-50)

Terkait dengan orang yang menghalangi dari jalan Allah, kadangkala timbul suatu perselisihan antara orang beriman dengan orang lain yang menghalangi. Boleh jadi orang yang menghalangi itu bukan sepenuhnya dari kalangan orang kafir tetapi dari kalangan orang yang membaca kitabullah atau ahli kitab yang tidak memahami jalan Allah karena itu kemudian beradu argumentasi menghalangi orang beriman dari jalan Allah. Apabila terjadi peristiwa demikian, hendaknya mereka meminta orang yang menghalangi untuk mendatangkan suatu penjelasan dari kitabullah yang lebih baik daripada jalan Allah yang dipahaminya.

Pada satu sisi, ayat di atas memberikan gambaran etika orang beriman dalam berargumentasi tentang kandungan kitabullah. Hendaknya orang beriman mengatakan kepada orang yang beradu argumentasi dengan sepenuh hati : "Datangkanlah olehmu penjelasan bersama kitab dari sisi Allah yang lebih memberi petunjuk, niscaya aku akan mengikutinya”. Orang beriman hendaknya benar-benar menggunakan pendengarannya untuk mendengar dan matanya untuk melihat. Apabila seseorang memberikan argumentasi yang memberikan petunjuk hendaknya mereka mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan kemudian mengikutinya setelah mengetahui kebenarannya. Ia harus mengakui bila ada kebenarannya, dan kemudian mengikuti setelah mengetahui orang yang menjelaskannya orang yang benar. Kadangkala kebenaran digunakan oleh orang yang jahat, maka seseorang tidak perlu mengikuti. Orang beriman tidak boleh merasa diri yang paling benar manakala berdiskusi dengan orang lain, karena boleh jadi ada kesalahan dalam pemahaman dirinya atau ada keutamaan petunjuk pada orang lain yang tidak diketahui oleh dirinya.

Argumentasi yang harus didengarkan dan diikuti itu adalah argumentasi yang mengikuti tuntunan kitab dari sisi Allah. Berargumentasi tentang petunjuk Allah hanya dapat dilakukan apabila terkait dengan suatu petunjuk dari kitab Allah. Berargumentasi dalam perkara petunjuk tanpa suatu tuntunan dari kitabullah merupakan argumentasi yang sia-sia saja. Kadangkala seseorang memaksa orang lain untuk mengikuti suatu urusan yang dikatakan sebagai petunjuk Allah tanpa suatu dasar dari kitabullah, maka tidak ada kewajiban bagi orang lain mengikuti petunjuk demikian (kecuali dalam hubungan ulul amr). Bila paksaan itu bertentangan dengan pemahaman diri tentang jalan Allah, ia tidak boleh meninggalkan jalan Allah. Orang beriman hendaknya mengetahui kebenaran petunjuk yang diberikan kepada dirinya dengan landasan kitabullah. Demikian pula ia harus mau mendengarkan petunjuk dari orang lain yang disampaikan dengan landasan kitabullah (بِكِتَابٍ مِّنْ عِندِ اللَّهِ) dan mengikutinya setelah mengetahui kebenaran petunjuknya, dan mengetahui bahwa yang menyampaikan adalah orang yang benar.

Mengikuti jalan Allah menunjukkan tingkat perkembangan akal yang cukup baik. Seseorang yang mengikuti jalan Allah tidak mengikuti perkataan-perkataan manusia saja tetapi mengikuti firman Allah yang telah dipahami, baik dibukakan Allah pemahamannya ataupun karena diberi penjelasan orang lain dan ia mengetahui kebenarannya. Manakala seseorang hanya mengikuti perkataan manusia saja, ia sebenarnya belum mengikuti jalan Allah. Dengan tingkat perkembangan demikian, seseorang kadangkala terjebak pada suatu perasaan lebih benar daripada orang lain. Hal demikian harus dihindari. Ia harus meyakini kebenaran yang telah dipahami, tetapi tidak merasa lebih baik daripada orang lain. Hal ini harus dimengerti karena ia tidak boleh mudah terpengaruh buruk, tetapi harus tetap bisa menilai tingkat kebenaran argumentasi orang lain tanpa terhijab waham dan tidak salah dalam mengukur nilai kebenaran atau kebathilan dari orang lain.

Apabila permintaan untuk memberikan penjelasan mengikuti kitabullah tidak dapat diberikan oleh orang yang menghalangi, maka hendaknya diketahui bahwa orang yang menghalanginya dari jalan Allah itu hanya mengikuti hawa nafsunya saja. Sikap membuka diri terhadap kemungkinan benarnya suatu penjelasan kadangkala menjadikan orang beriman tampak lemah dalam berpendapat dan mudah membuka pandangan bahwa ia salah. Apalagi bila ia berhadapan dengan tokoh-tokoh pembaca kitabullah. Bila permintaan penjelasan yang lebih baik itu tidak dijawab oleh seseorang yang menghalanginya dari jalan Allah, maka hendaknya ia memastikan bahwa orang yang menghalangi itu melakukannya hanya berdasarkan hawa nafsu. Mereka adalah orang-orang yang sangat tersesat karena mempertuhankan hawa nafsu. Ia tidak perlu merasa silau dengan kedudukan orang yang menghalanginya ataupun kekayaannya.

Mengikuti hawa nafsu itu bisa tampak dalam tindakan tidak mau tahu kebenaran yang disampaikan, atau sekadar tidak bisa memberi jawaban dengan penjelasan yang lebih baik mengikuti kitabullah. Tidak adanya jawaban berupa penjelasan yang lebih baik telah menjadi tanda yang benar bahwa beradu argumentasi tentang jalan Allah itu dilakukan hanya mengikuti hawa nafsu. Sebenarnya berbantah-bantah tentang kitabullah merupakan perbuatan yang tidak diperbolehkan, tetapi orang yang dicegah dari jalan Allah boleh menyangkal orang yang menghalangi mereka dari jalan Allah manakala mereka mencegah berdasarkan kitabullah. Bila tidak menggunakan kitabullah, orang yang dicegah boleh menarik masalah perbantahannya menggunakan kitabullah karena ia mengikuti kitabullah yang hanya bisa dibatalkan dengan kitabullah dengan penjelasan yang lebih baik. Barangkali orang yang tidak bisa menyediakan jawaban itu lebih memberi harapan dapat memahami jalan Allah daripada orang yang tidak mau tahu kebenaran yang disampaikan karena adanya kesombongan pada orang yang tidak mau memahami. 


Kamis, 23 Oktober 2025

Pemakmuran dan Al-Jamaah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan

Jalan kembali kepada Allah yang paling utama adalah shirat al-mustaqim. Shirat al-mustaqim ditandai dengan suatu gerbang berupa keterbukaan makna suatu ayat kitabullah yang menyingkapkan rahasia dari alam kauniyah terkait dengan diri seorang hamba, sedemikian keterbukaan itu menjadikan seorang hamba memahami untuk apa dirinya diciptakan. Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan suatu ayat Allah demikian, ia telah tiba di gerbang shirat Al-mustaqim. Ia diperintahkan untuk tegak melaksanakan amanah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Manakala seseorang mengalami suatu keterbukaan terhadap suatu makna ayat Allah, hendaknya ia berusaha mengenali kedudukannya dalam al-jamaah, setidaknya menyadari bahwa urusan dirinya merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW. Ia harus menemukan petunjuk-petunjuk amal dirinya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga ia dapat melaksanakan amr yang diketahuinya selaras dengan arahan Rasulullah SAW. Selanjutnya ia berusaha untuk dapat mengenal shahabat-shahabat yang mengalami keterbukaan ayat Allah untuk dapat bersama-sama melaksanakan amr Rasulullah SAW secara sinergis, hingga dalam bentuk suatu pengetahuan hirarki urusan yang jelas sesuai dengan urusan jaman mereka. Mereka adalah shahabat-shahabat yang telah bertaubat bersama-sama dengan dirinya. Selanjutnya, hendaknya mereka juga menyeru orang-orang yang tampak telah menempuh jalan taubat sekalipun apabila mereka belum mengalami keterbukaan pengenalan gerbang shirat al-mustaqim. Seruan itu akan memudahkan umat dalam mengenali gerbang shirat al-mustaqim. Allah memerintahkan untuk menegakkan perintah Allah bersama dengan orang yang bertaubat bersamanya.

Pemakmuran Bumi

Tegaknya seseorang bersama dengan orang yang bertaubat dalam menegakkan perintah Allah akan mewujudkan sumber pemakmuran di bumi. Terwujudnya pemakmuran bisa dijadikan indikator tambahan tentang ketepatan seseorang dalam memahami perintah Allah karena menunjukkan terhubungnya kehendak Allah hingga ujung alam penciptaan melalui manusia. Manakala suatu pelaksanaan perintah Allah justru mendatangkan kekacauan dalam tatanan bermasyarakat, pemahaman terhadap perintah Allah sebenarnya telah menyimpang sedikit ataupun banyak. Indikator ini bisa menunjukkan adanya penyimpangan pelaksanaan urusan dari ketentuan-ketentuan yang dikehendaki Allah.

﴾۱۶﴿ وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلٰهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُّجِيبٌ
Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)". (QS Huud : 61)

Pada satu segi, shirat al-mustaqim merupakan jalan terbaik untuk mewujudkan pemakmuran di bumi. Seseorang akan mengetahui keadaan di bumi selaras dengan hakikat keadaan kauniyah dan mengetahui pula amal-amal yang bisa dilakukan untuk membawa keadaan kauniyah menuju lebih baik. Apabila beramal dengan landasan pengetahuan yang terbuka, seseorang akan membukakan suatu sumber untuk menjadikan keadaan lebih baik. Keterbukaan pengetahuan pada diri seseorang itu merupakan salah satu sumber, dan mungkin ada banyak sumber-sumber lain yang dapat saling terhubung dalam suatu hubungan al-jamaah.

Pemakmuran yang sebenarnya pada dasarnya terbentuk melalui terhubungnya urusan di alam tertinggi hingga mencapai ujung alam ciptaan berupa alam dunia. Ini adalah peran utama yang harus ditunaikan oleh setiap manusia sebagai makhluk bumi. Pada turunannya, setiap terhubungnya alam yang rendah pada suatu kebenaran dari alam yang lebih tinggi akan mewujudkan suatu bentuk pemakmuran tertentu. Setiap orang hendaknya berusaha untuk melakukan pemakmuran walaupun misalnya hanya mampu dalam bentuk turunannya. Tetapi hendaknya disadari bahwa tidak jarang bentuk-bentuk pemakmuran itu hanya lemah atau semu, atau justru menyimpang apabila terhubung pada kebathilan pada alam yang tinggi. Orang musyrik memperoleh keahlian mewujudkan pemakmuran palsu dari para syaitan yang mereka sembah. Mustahil diwujudkan suatu pemakmuran tanpa menghubungkan suatu kebenaran dari alam yang lebih tinggi menuju alam yang lebih rendah. Semakin murni kebenaran yang dihubungkan menuju alam yang lebih rendah, semakin kokoh kemakmuran yang akan terwujud.

Proses pemakmuran secara ideal dapat dilihat dengan baik melalui proses berumah tangga yang baik. Sepasang suami isteri yang mengenal Allah dan isteri yang taat mengikuti langkah suaminya akan diijinkan untuk membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, maka akan terwujud suatu inisiator proses pemakmuran terbaik bagi umat manusia pada urusan yang diamanahkan. Mereka merupakan sumber pemakmuran untuk semesta diri mereka, bukan hanya pemakmuran untuk keluarga mereka saja. Sebenarnya, para isteri itu merupakan pembawa khazanah duniawi yang menghadirkan alam bumi mereka bagi suaminya, dan para suami merupakan representasi akal yang mengenal kehendak Allah. Apabila keduanya bersinergi melaksanakan urusan Allah, akal suami dapat menghadirkan urusan dari alam yang tertinggi untuk bertemu urusan alam dunia yang dihadirkan oleh isterinya. Keterhubungan sepasang dua insan dalam urusan Allah itu akan mewujudkan proses pemakmuran yang terbaik bagi alam dunia mereka.

Dalam prakteknya tidak semua orang dapat berperan sedemikian sempurna tetapi sebenarnya tetap bisa memberikan sumbangsih pemakmuran selama berusaha menghubungkan kebenaran dari yang tinggi ke alam yang lebih rendah. Seorang menteri keuangan yang berpikir dan bertindak dengan logika lurus dapat meberikan iklim pemakmuran yang sangat baik bagi negerinya dibandingkan dengan menteri keuangan yang lain walaupun keduanya mungkin menggunakan teori ekonomi yang serupa. Kelurusan berpikirnya itu merupakan suatu faktor kebenaran dari alam yang lebih tinggi bukan ilmu ekonominya. Peran menteri demikian merupakan satu mata rantai yang harus disambungkan dengan mata rantai yang lain. Bila iklim pemakmuran itu tidak tersambungkan dengan mata rantai yang lain, pemakmuran yang terbentuk hanya akan sedikit. Setiap orang hendaknya berusaha untuk memberikan peran dirinya dengan sebaik-baiknya untuk memberikan sumbangsih bagi kehidupan berbangsa hingga terwujud kemakmuran bersama. Bila masyarakat tidak dapat mensyukuri, akan sulit mewujudkan kemakmuran bersama dalam suatu bangsa.

Pembinaan Rantai Hubungan

Keterhubungan antara dua kedudukan yang berbeda harus terjadi secara kokoh untuk dapat mewujudkan proses pemakmuran. Setiap laki-laki harus berusaha membina akal dengan sebaik-baiknya agar dapat memahami keadaan kauniyah dengan lurus sedemikian ia dapat menentukan langkah-langkah yang tepat dan perlu dilakukan untuk mewujudkan pemakmuran. Para isteri mengikuti langkah-langkah yang dipahami oleh suaminya dengan ketaatan agar suaminya dapat melangkah dengan baik mewujudkan pemakmuran. Hubungan yang kokoh harus dibentuk di antara keduanya dengan membina kesepahaman dalam melaksanakan urusan terutama apabila suaminya dapat memahami amanah Allah yang harus ditunaikan. Apabila tidak terbangun kesepahaman dalam urusan Allah, ketaatan dan pemahaman itu mungkin akan berdiri masing-masing tidak mewujudkan proses pemakmuran di bumi. Seorang suami mungkin akan memahami kauniyah dengan benar tetapi tidak dapat mewujudkan pemahamannya di alam dunia, dan seorang isteri mungkin penuh ketaatan yang baik kepada suaminya tetapi ketaatannya itu dilaksanakan layaknya suatu beban berat.

Kokohnya hubungan demikian hendaknya dibina pada setiap kedekatan hierarki hingga terbentuk hubungan yang kokoh antara manusia dengan benda-benda sehingga manusia menguasai pemuliaan dan penataan bendawi, bukan hanya dalam bentuk hubungan dan urusan antar manusia. Benda-benda rekayasa manusia hendaknya dapat dibuat dengan mutu sebaik-baiknya berdasarkan pengetahuan materi dan penataan terbaik, tidak dibuat secara asal-asalan hingga mudah menjadi sampah. Pengetahuan materi merupakan ilmu yang kedudukannya lebih tinggi yang dapat dialirkan menuju terbentuknya materi yang unggul. Tanpa ilmu, tidak ada ilmu yang dapat dialirkan untuk mewujudkan benda yang unggul. Demikian itu merupakan salah satu aspek pemakmuran yang harus diperhatikan oleh umat manusia.

Kedudukan laki-laki dan perempuan merupakan gambaran adanya struktur hierarki dalam kedudukan manusia. Ada orang yang diberi akal lebih besar dan kuat dari yang lain untuk menjadi pemimpin, dan ada orang yang diberi kemampuan yang lebih dalam urusan duniawi hingga diijinkan untuk berkecimpung lebih intensif dalam memakmurkan dunia. Setiap manusia diberi akal yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya tidak boleh beralibi untuk mengumbar hasrat duniawi bahwa ia lemah. Pemakmuran dunia itu bersifat perempuan yang harus dilaksanakan mengikuti akal yang bersifat laki-laki. Laki-laki paling sempurna adalah Rasulullah SAW, dan khalifatullah Al-Mahdi merupakan pasangan paling memadai dalam urusan pemakmuran bumi bagi akal Rasulullah SAW. Setiap orang yang lain berkedudukan sebagai pemakmur bumi bagi akal beliau SAW, dalam arti bahwa langkah pemakmuran hanya bernilai benar bila seseorang melakukan selaras tuntunan Rasulullah SAW. Ada warna akal yang kuat pada sebagian umat Rasulullah SAW yang bersifat laki-laki, tetapi sebenarnya akal itu hanya sebagian dari akal Rasulullah SAW, dan sebagian umat mempunyai warna lebih kuat dalam melaksanakan pemakmuran. Kedua warna umat itu harus membentuk hubungan yang kokoh untuk dapat mewujudkan pemakmuran.

Kedekatan dalam hubungan hierarkis demikian hendaknya dibina dan dihormati pada tiap tingkatan hierarki layaknya penghormatan terhadap hubungan pernikahan. Misalnya hubungan antara ilmu dengan produk harus dijaga dan ditingkatkan dengan baik agar diperoleh produk-produk bermutu baik. Hubungan pernikahan merupakan perikatan dua tingkat entitas di tingkat yang tinggi di hadirat Allah yang harus dihormati secara mutlak, sedangkan hubungan yang lain hendaknya dihormati sesuai dengan kedudukannya. Pengabaian penghormatan terhadap hubungan demikian akan menyebabkan kemunkaran menguasai pengetahuan. Orang yang diragukan ijazah pendidikannya bisa dengan mudah menjadi presiden atau wakil presiden karena suatu bangsa mudah berbuat lancang di hadapan Allah tidak menghormati kedudukan pernikahan di antara mereka. Demikian itu seringkali diikuti dengan merajalelanya bala kurawa berhura-hura dengan sumber daya negara, dan orang-orang baik terkurung potensi kebaikan mereka. Banyak orang yang menimba ilmu tidak bisa memperoleh kesempatan bekerja dengan ilmunya karena tatanan masyarakat menjadikan ilmu tidak dibutuhkan. Kuatnya kemunkaran itu bisa saja tampak di komunitas kecil pada fenomena tertentu misalnya dukungan komunitas yang besar pada orang yang tidak mempunyai konsep produk yang benar dengan mutu produk sulit ditingkatkan karena rendahnya penguasaan pengetahuan produk, sedangkan orang yang membawa urusan Allah tidak memperoleh dukungan komunitas karena tidak diterima. Hal demikian menunjukkan menguatnya kemunkaran dan terkurungnya pengetahuan karena kurangnya pembinaan dan penghormatan terhadap hubungan hierarkis.

Prinsip-prinsip proses pemakmuran yang baik dapat dipelajari setiap orang dengan bercermin pada proses pernikahan. Dalam pernikahan, aturan proses itu ditegakkan dengan tegas karena telah kokohnya bentuk perikatan di hadirat Allah, sedangkan dalam proses pemakmuran bangsa setiap orang harus berusaha menerapkannya dengan sebaik-baiknya. Misalnya setiap orang hendaknya menjadi orang yang subur terhadap arahan atasannya dengan berusaha memahami fungsi diri dan melaksanakan arahan atasannya dengan sebaik-baiknya, sekaligus bisa memahami keadaan bawahannya dalam proses pelaksanaan urusan. Setiap orang hendaknya menghindari penyimpangan dari ketentuan yang sah sebagaimana orang menikah harus menghindari kekejian dan pengkhianatan. Banyak bentuk-bentuk aturan dalam pernikahan yang harus dijadikan role model dalam proses pemakmuran bumi agar terwujud pemakmuran.

Pemakmuran hanya dapat dilaksanakan dengan benar apabila prinsip-prinsip agama dipatuhi. Akan sulit mewujudkan pemakmuran apabila prinsip-prinsip yang diajarkan pada setengah bagian agama tidak dipatuhi atau tidak diperhatikan. Keberadaan syirik di antara masyarakat muslimin merupakan kekejian layaknya orang yang berbuat keji dalam rumah tangga. Sebaliknya kekejian di antara muslimin merupakan pintu kesyirikan di antara masyarakat. Orang musyrik tidak mungkin mencintai kebenaran yang merupakan kecintaan kaum muslimin karena mereka lebih mencintai keuntungan materi bagi diri mereka sendiri bahkan apabila harus berkhianat terhadap masyarakat dengan menyembah kejahatan. Para syaitan itu berusaha menyediakan jalan keuntungan bagi orang yang menyembahnya melalui kekacauan yang dibuat sehingga musyrikin selalu berusaha berbuat kekacauan. Tidak jarang kekacauan itu dirumuskan dan dilaksanakan dalam bentuk kebijakan-kebijakan oleh kelompok musyrik apabila mereka berkuasa. Kadangkala ada orang yang menyangka bisa berbuat baik setelah mengikuti proses kesyirikan. Itu hanya merupakan halusinasi saja karena syaitan akan menyertakan banyak kejahatan dalam bentuk-bentuk kebaikan yang mereka lakukan, bahkan sebenarnya syaitan dapat menyatukan diri dalam diri orang yang menyembah mereka sedemikian mereka dipandang baik tetapi sebenarnya jahat. Pemakmuran hanya dapat dilaksanakan dengan benar apabila prinsip-prinsip agama dipatuhi.

Bukan sekadar aturan saja, pembinaan individu agar mampu melakukan pemakmuran sebenarnya akan dapat terbina dengan baik melalui pernikahan. Kemampuan untuk dapat memahami pihak lain harus dibentuk melalui pernikahan di mana setiap orang hendaknya dapat menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati dengan sebaik-baiknya untuk memahami pihak lain tidak hanya mengikuti persepsi diri sendiri. Ini akan menumbuhkan kesuburan seseorang dalam memahami kebenaran sedemikian terbentuk hubungan shilaturahmi antara satu orang dengan orang lain dalam melaksanakan proses pemakmuran. Ketangguhan dalam melaksanakan proses harus dibina dengan rasa syukur menghadapi semua rintangan bersama-sama sebagaimana suami isteri mensyukuri keadaan dan rintangan yang menghampiri rumah tangga mereka. Banyak sifat-sifat baik yang mendukung proses pemakmuran dapat ditumbuhkan dengan baik melalui pernikahan.

Kokohnya hubungan yang terbina pada masyarakat akan dipengaruhi pembinaan rumah tangga. Kadangkala masyarakat tampak terhubung erat melalui komunitas yang terbentuk tetapi rumah tangga masing-masing terabaikan, maka hubungan demikian bukan hubungan yang kokoh sebagai pondasi pemakmuran. Rumah tangga merupakan pembentuk pondasi pemakmuran terbaik yang menunjukkan pertumbuhan akhlak secara benar. Seseorang yang buruk dalam rumah tangga sebenarnya tidak baik akhlaknya, dan seseorang yang baik dalam rumah tangga adalah orang yang baik akhlaknya. Ini mungkin tidak berlaku pada rumah tangga baru atau menjelang akad pernikahan. Baik atau buruknya bukanlah yang terdengar oleh orang lain, tetapi bagaimana ia bersikap kepada pasangannya. Tidak jarang masyarakat mendengar keburukan seseorang yang disebar pasangannya, sedangkan mungkin pasangannya itulah yang sebenarnya buruk bersikap dalam rumah tangga. Kebaikan yang dibangun seseorang dalam rumah tangga itu merupakan media terbaik membentuk landasan pemakmuran.

Minggu, 19 Oktober 2025

Menapaki Shirat Al-Mustaqim

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Jalan untuk menjadi hamba yang didekatkan itu adalah shirat al-mustaqim (jalan yang lurus). Shirat al-mustaqim merupakan jalan terpendek yang dapat ditempuh setiap hamba Allah untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Penyeru manusia di gerbang shirat al-mustaqim itu adalah kitabullah Alquran. Ini adalah ayat kitabullah Alquran yang dibukakan kepada seorang hamba Allah, maka ayat itu menjadi penyeru kepada hamba itu untuk memasuki shirat al-mustaqim.

﴾۱﴿إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا
﴾۲﴿لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا
(1)Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu keterbukaan yang menjelaskan, (2) supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memberi kamu petunjuk kepada jalan yang lurus, (QS Al-Fath : 1-2).

Ayat di atas bercerita tentang gerbang shirat al-mustaqim berupa keterbukaan makna suatu ayat tertentu dari kitabullah Alquran yang merupakan amanah bagi yang memperolehnya. Keterbukaan itu berupa pengetahuan hakikat suatu ayat kitabullah, bukan sekadar pengetahuan dalam tingkatan tafsir ayat kitabullah. Dengan keterbukaan yang diberikan kepada dirinya, seseorang menjadi mengetahui perintah Allah bagi dirinya dan mengetahui keadaan-keadaan kauniyah yang terjadi di semesta dirinya sesuai dengan tuntunan kitabullah tersebut. Ia melihat kesatuan antara ayat Allah pada kauniyah dirinya dengan ayat dalam kitabullah, dan mengetahui peran dirinya di antara ayat-ayat Allah yang terbuka.

Seseorang yang mengalami keterbukaan makna hakikat dari suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya berarti telah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim. Hal ini dijelaskan pada ayat kedua surat di atas. Keterbukaan makna ayat-ayat Allah itu menunjukkan kepada seseorang amal-amal yang menjadi jalan penebusan dosa-dosa dirinya baik dosa di masa lalu ataupun dosa pada masa yang akan datang, amal-amal yang merupakan jalan penyempurnaan nikmat Allah bagi dirinya, dan sebagai petunjuk menuju jalan yang lurus. Keadaan ini tidak menunjukkan bahwa seseorang telah diampuni segenap dosanya, disempurnakan nikmat Allah atasnya ataupun telah berada di shirat al-mustaqim, tetapi menunjukkan bahwa ia diberi pengetahuan apa-apa yang dijanjikan tersebut. Ia akan mengetahui amal-amal yang menjadi kehendak Allah sebagaimana tersebut pada ayat yang terbuka dan ia akan memperoleh hal-hal itu apabila ia melaksanakan amal-amal yang terbuka tersebut.

Dalam hal nikmat Allah, ia telah tergolong sebagai orang yang telah memperoleh nikmat Allah manakala memperoleh keterbukaan, akan tetapi penyempurnaan nikmat Allah akan terjadi mengikuti amal-amal shalihnya. Artinya, ia telah mengetahui dengan tepat jalan yang lurus yang harus ditempuh, mengetahui kedudukan suatu kebenaran dengan setimbang tetapi sebenarnya masih banyak nikmat Allah yang dapat ia temukan dalam proses berikut apabila ia menempuh jalan yang lurus. Kesempurnaan nikmat Allah terdapat dalam seluruh kandungan kitabullah Alquran yang telah selesai diturunkan pada waktu haji wada’. Ia dikatakan telah mengenal untuk apa dirinya diciptakan dengan benar. Apabila ia menyimpang dari yang ditunjukkan, ia akan celaka dan apabila ia tidak melaksanakan amal-amal yang ditentukan bagi dirinya ia akan menjadi hamba yang sia-sia saja tidak menjadi dekat kepada Allah.

Pelaksanaan amal tidak selalu ditunjukkan dengan hasil yang diperoleh. Kadang seseorang berusaha keras melaksanakan amal yang ditentukan tetapi tidak mendatangkan hasil yang memadai di alam mulkiyah. Secara nalar, semestinya amal-amal di shirat al-mustaqim akan mendatangkan buah-buah yang sangat menyenangkan tetapi secara realitas upaya demikian tidak selalu berbuah dengan baik. Sekalipun kandungan amal-amal yang dilakukannya sangat baik, mungkin tidak semua orang dapat menerima kebaikannya maka kebaikan yang diusahakan orang tersebut tidak mendatangkan hasil. Ada jalan tertentu yang seharusnya ditempuh untuk memperoleh hasil yang baik di alam mulkiyah yaitu membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tetapi kadangkala syaitan memperoleh jalan untuk menghalangi upaya seseorang membentuknya. Apabila telah berusaha dengan menempuh jalan terbaik, seseorang hendaknya tidak terlalu memikirkan hasil buahnya dan hendaknya ia bertawakkal kepada Allah.

Mengenal diri dengan benar adalah keterbukaan shirat al-mustaqim, ditandai dengan keterbukaan makna hakikat ayat Allah, tidak melalui cara yang lain. Pengenalan diri tanpa disertai keterbukaan hakikat suatu ayat Allah tidak menunjukkan telah tibanya di shirat al-mustaqim. Boleh jadi pengenalan diri yang terjadi tanpa keterbukaan makna ayat tidak meleset dari fitrah yang benar, tetapi tidak menunjukkan telah tibanya di shirat al-mustaqim. Mungkin ia mengetahui untuk apa diciptakan tetapi tidak mengetahui apa dan bagaimana perintah Allah secara tepat. Pengenalan diri di shirat al-mustaqim benar-benar ditandai dengan keterbukaan makna hakiki dari ayat-ayat Allah berupa ayat dalam firman Allah dan ayat kauniyah. Boleh jadi tidak semua ayat Allah terbuka tetapi hanya bagian khusus yang menjadi amanah dirinya, dan bagian-bagian lain akan terbuka mengikuti amal yang dilakukannya sesuai dengan perintah Allah. Yang penting diperhatikan, pengenalan diri yang sesungguhnya selalu ditandai dengan terbukanya suatu makna hakiki dari ayat kitabullah selaras dengan kauniyah yang terjadi.

Mengikuti Langkah di Shirat Al-Mustaqim

Setelah tiba pada gerbang shirat al-mustaqim, hendaknya seseorang tegak melaksanakan amannah shirat al-mustaqim yang dikenalinya.

﴾۲۱۱﴿فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka tegaklah kamu pada jalan yang lurus sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS Huud : 112)

Perintah tegak di atas shirat al-mustaqim itu tidak hanya berlaku kepada dirinya saja, tetapi juga berlaku bagi orang-orang yang telah menempuh jalan taubat bersama dirinya. Orang-orang yang telah menempuh jalan taubat kepada Allah bersama dirinya hendaknya diseru untuk tegak di atas perintah Allah, dan orang-orang yang bertaubat hendaknya menyambut seruan seseorang yang telah mengetahui gerbang shirat al-mustaqim bagi mereka. Orang-orang yang lain bisa mengikuti langkah orang tersebut agar ia lebih mudah mengalami keterbukaan makna hakikat suatu ayat kitabullah yang menjadi amanah dirinya, maka ia akan lebih mudah mengenali gerbang agamanya.

Semestinya umat islam terutama orang-orang yang bertaubat akan mudah mengenali shirat al-mustaqim manakala ada seseorang di antara mereka telah mengenal diri, akan tetapi hal ini hanya terjadi apabila dilakukan proses yang benar. Umat harus membina keikhlasan dalam ibadah kepada Allah. Para Syaikh mempunyai peran sangat besar dalam membentuk umat yang bisa memahami shirat al-mustaqim. Ada hubungan timbal balik yang harus dijaga sang syaikh dan murid, yaitu syaikh harus membina akal para murid agar dapat tumbuh lurus memahami tuntunan Allah, dan murid harus belajar menggunakan akal untuk memahami pengajaran syaikh. Mempersiapkan akal untuk tumbuh dan dapat memahami akan terjadi bila ada keikhlasan pada diri murid.

Mengikuti langkah seseorang di shirat al-mustaqim hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan dan melaksanakan ayat-ayat Allah dalam kitabullah yang diamanahkan, tidak bisa dilakukan hanya dengan mengikuti saja perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang yang mengenal shirat al-mustaqim. Mengikuti langkah di shirat al-mustaqim adalah berbuat melaksanakan kehendak Allah, bukan mengikuti perbuatan makhluk. Penisbatan suatu amal sebagai perintah Allah harus dilakukan dengan menunjuk ayat kitabullah yang ditunaikan. Banyak orang yang mudah ditipu dengan sesuatu yang dikatakan sebagai perintah Allah tanpa memahami hubungan sesuatu itu dengan kitabullah. Tidak jarang sesuatu yang membahayakan umat manusia dianggap sebagai perintah Allah oleh orang yang bodoh. Orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengikuti langkah di shirat al-mustaqim. Karena hubungan demikian seringkali seorang syaikh tidak dapat menyeru para murid untuk segera melangkah di shirat al-mustaqim walaupun ia menginginkannya. Sang syaikh harus membina akal para murid terlebih dahulu sebagai pendahuluan untuk menyeru mereka beramal di shirat al-mustaqim dirinya.

Apabila para murid bisa memahami bimbingan syaikhnya dengan benar, mereka akan mudah mengetahui shirat al-mustaqim. Kenyataannya seringkali para murid tidak dapat memahami langkah yang diserukan sang syaikh. Kadangkala sang syaikh telah mengulang-ulang membaca ayat kitabullah yang merupakan amr kepada sang syaikh tetapi tidak membuat para murid mengerti karena murid tidak menggunakan akalnya. Seringkali tidak ada keberanian pada diri murid untuk mengetahui dengan tepat perintah Allah. Ini menunjukkan kurangnya keikhlasan pada diri murid. Sang syaikh mengharap para murid memahami ayat yang merupakan amanah, tetapi para murid tidak mempunyai keberanian berusaha memahami terkurung dalam waham yang mereka bangun sendiri. Kadangkala murid memperhatikan sang syaikh tetapi tidak memperhatikan perintah Allah. Apabila para murid mempunyai keberanian belajar memahami dengan lurus, sang syaikh akan merawatnya dari pengetahuan atau sikap yang keliru.

Kemudahan mengenal shirat al-mustaqim sebenarnya tidak hanya ditemukan pada hubungan syaikh dan murid. Setiap orang yang mengenal shirat al-mustaqim mempunyai kewajiban mengajak shahabatnya untuk menempuh shirat al-mustaqim, dan itu akan memudahkan sahabatnya untuk mengenal shirat al-mustaqim. Hal ini terutama berlaku pada orang-orang yang urusannya dekat, tetapi setiap orang yang bertaubat bisa mendapatkan manfaat melalui kebersamaan dengan orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim. Orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim sebenarnya terhimpun dan terhubung dalam satu al-jamaah. Dalam hubungan syaikh dan murid, para murid bisa saja mengenal urusan dirinya berada di luar batasan urusan sang syaikh misalnya harus berjuang untuk Rasulullah SAW dalam urusan agama di luar urusan tazkiyatun-nafs. Bisa saja seseorang kemudian harus berjalan beriring dengan syaikh atau mengikuti atasan yang lain, sebagaimana seorang lulusan sekolah tidak harus terus bekerja di sekolah di bawah gurunya. Sebagaimana para Syaikh tidak hanya mengajak penerus urusan tazkiyatun nafs ketika melaksanakan urusannya, setiap orang yang mengenal urusan diri juga demikian dalam pola yang berbeda. Ada orang-orang yang diciptakan untuk memegang urusan terkait dengan orang yang sangat banyak, ada orang-orang yang memegang urusan-urusan hanya tertentu saja, tetapi seluruhnya menyeru pada shirat al-mustaqim.

Manfaat yang benar itu akan diperoleh manakala seseorang berkeinginan untuk mengenal urusan Allah. Sangat banyak orang keliru dalam bersikap terhadap orang-orang yang mengenal shirat al-mustaqim. Di antara sikap yang keliru adalah mengabaikan firman Allah dalam mengikuti seseorang hingga kadangkala bersikap mempertuhankan manusia. Ada kaum yang membaca kitabullah hanya mengikuti apa yang dibacakan panutannya saja dan tidak bisa memahami ayat kitabullah yang dibacakan dengan benar oleh yang lain. Hal ini menunjukkan kurangnya keinginan mengikuti kehendak Allah. Kadangkala suatu kaum mendustakan suatu pemahaman terhadap firman Allah karena mengikuti seseorang, maka hal demikian merupakan sikap mempertuhankan orang lain. Hal ini akan tampak jelas manakala berurusan tentang yang halal dan haram. Manakala suatu kaum menentukan halal dan haram bertentagan dengan ketentuan Allah karena mengikuti orang-orang di antara mereka, mereka itu telah menjadikan orang-orang sebagai tuhan selain Allah.

Sikap ikhlas hendaknya ditunjukkan oleh setiap orang dengan meneliti setiap yang diajarkan kepada dirinya dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak boleh ada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang didustakan untuk mengikuti orang lain. Syaikh yang baik akan menekankan kepada murid untuk membaca ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW daripada mengikuti dirinya, hingga kadang-kadang bersikap layaknya tidak ada perkataan dirinya yang perlu disampaikan karena telah cukupnya firman Allah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal demikian benar-benar mencukupi untuk umat yang akalnya kuat. Setiap pengajar hendaknya menyampaikan pengajaran kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW sesuai dengan akal umatnya, menghadirkan pembacaan ayat-ayat Allah dengan lengkap sesuai kemampuan umatnya memahami kebenaran.

Sikap ikhlas hendaknya ditunjukkan oleh setiap orang dengan meneliti setiap yang diajarkan kepada dirinya dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Anggapan bahwa seseorang telah berada di shirat al-mustaqim hanya bisa bernilai benar bila diketahui ayat Alquran yang dijadikan amanahnya. Menganggap orang lain berada di shirat al-mustaqim tanpa mengetahui ayat kitabullah amanahnya hanya merupakan anggapan prematur tanpa dasar. Pengetahuan shirat al-mustaqim bernilai benar hanya bila ada seruan dari suatu ayat kitabullah. Mungkin amal mereka itu merupakan turunan dari turunan ayat Alquran, tetapi benar-benar ada pengetahuan yang menghubungkan amal itu dengan ayat kitabullah. Yang paling bermanfaat bagi orang umum ketika bersama orang yang mengenal shirat al-mustaqim adalah ayat kitabullah landasannya, sedangkan mengalirnya pengetahuan lain melalui seseorang akan memberikan manfaat penyerta yang bermanfaat besar. Orang bertaubat yang ingin mengikuti berjalan di shirat al-mustaqim hanya dapat melakukannya bila mengetahui amanah dari ayat kitabullah yang harus ditunaikan. Melakukan amal-amal dengan persangkaan saja tanpa mengetahui persis ayat kitabullah yang harus ditunaikan tidak akan menjadikan seseorang bisa ikut melangkah di shirat al-mustaqim.

Umat hendaknya bertanya landasan pengetahuan dan pengajaran yang disampaikan kepada dirinya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Hal ini akan menjadikan pengetahuan seseorang berakar pada perintah Allah bukan hanya mengikuti orang lain. Menanyakan demikian seringkali tidak harus dilakukan secara terbuka kepada pengajarnya kecuali diperlukan karena boleh jadi akan merepotkan. Seseorang seringkali cukup bertanya kepada diri sendiri dengan membuka tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Walaupun demikian selalu ada kemungkinan tumbuh pemahaman keliru maka bila perlu ia harus bertanya dan mendengarkan peringatan-peringatan dari syaikhnya dan mau mendengarkan pula pemahaman dari orang lain. Setiap syaikh akan bertanggungjawab atas kelurusan pemahaman para muridnya terhadap ayat-ayat Allah, maka apabila sang syaikh bertanya kepada muridnya tentang pemahamannya, para murid hendaknya menjelaskan semua yang dipahami kepada sang syaikh tanpa menyembunyikan sesuatupun, termasuk apa-apa yang mungkin dibisikkan oleh syaitan.

Berkomitmen terhadap para hamba Allah harus terbentuk dalam diri manusia dan dimurnikan dengan kebenaran. Menolong Allah harus dilaksanakan dalam al-jamaah. Kesungguh-sungguhan seseorang dalam menolong Allah harus terbentuk hingga dalam bentuk kesungguh-sungguhan membantu orang-orang yang melaksanakan perintah Allah, tidak terjebak hanya dalam hubungan subjektif antara dirinya dengan Allah saja. Apabila seseorang mengenali saudaranya bersungguh-sungguh berjuang untuk perintah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, ia berusaha menolong saudaranya tersebut. Pengenalan demikian ini menunjukkan adanya sikap hanif, bukan ubudiyah hawa nafsu. Apabila dirinya orang yang mengenal shirat al-mustaqim, ia harus bersungguh-sungguh menolong umat manusia untuk mengenal kehendak Allah. Seseorang tidak boleh menolong Allah dalam suatu kebanggaan diri sebagai wakil Allah yang berhak untuk menempati kedudukan Allah di antara para manusia, harus menyeru manusia mengabdi kepada Allah bukan mengabdi kepada dirinya.

Minggu, 12 Oktober 2025

Mensyukuri Pendengaran Bashirah dan Fu’ad

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Allah menjadikan nabi Muhammad SAW sebagai rasulullah yang merupakan makhluk yang dapat memberikan penjelasan terhadap asma Allah dengan cara yang terbaik. Setiap orang hendaknya berusaha memahami kebenaran dalam bentuk citra dari ma’rifat Rasulullah SAW tanpa menyimpang, dan membantu terwujudnya ma’rifat tersebut dengan memahami jati diri dan memahami batas-batas dirinya di antara al-jamaah. Sikap demikian akan mendatangkan kebaikan yang sangat banyak dalam kehidupan di bumi dan seluruh alam semesta. Manakala seseorang tidak mengenal citra dari ma’rifat Rasulullah SAW, mereka tidak akan melahirkan kebaikan dalam kehidupan. Kadangkala seseorang atau suatu kaum berusaha mewujudkan kebaikan di bumi dengan jalan mereka sendiri, maka mereka selalu terkalahkan atau bahkan berbuat kerusakan.

Akal dan Indera Bathin

Kaum ‘Aad bisa menjadi contoh bagaimana kerusakan menimpa umat manusia karena mereka menempuh jalan mereka sendiri tidak berusaha untuk memahami dan mengikuti petunjuk Allah. Allah telah menjadikan mereka kaum yang teguh kedudukannya di bumi lebih baik daripada manusia lainnya. Tidak hanya keteguhan kehidupan di bumi, kaum ‘Aad merupakan kaum yang telah diberi pendengaran, penglihatan dan fu’ad-fu’ad. Di jaman ini, kaum demikian dapat dibayangkan sebagai kaum yang kokoh dan spiritualis. Kenyataannya mereka kemudian ditimpa adzab Allah.

﴾۶۲﴿وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِن مَّكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُم مِّن شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِؤُونَ
Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit-pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka diliputi oleh apa yang mereka memperolok-olokkannya. (QS Al-Ahqaaf : 26)

Spiritualitas yang disebut di atas berbentuk kekuatan bathin berupa kekuatan pendengaran, penglihatan dan fu’ad. Pada umumya kekuatan bathin demikian dibangun dengan mengikuti syariat penggembalaan jasmaniah dan hawa nafsu. Baiknya spiritualitas suatu kaum tidak bisa dijadikan ukuran bahwa kaum tersebut akan selamat. Spiritualitas harus disertai dengan iktikad mengikuti kehendak Allah. Ayat ini menegaskan bahwa spiritualitas yang tampak pada suatu kaum tidak selalu berkorelasi dengan keselarasan terhadap kehendak Allah. Demikian pula kekokohan kedudukan suatu kaum dalam kehidupan di bumi tidak selalu berkorelasi dengan keselarasan terhadap kehendak Allah. Spiritualitas bisa berjalan sendiri tanpa selaras dengan kehendak Allah dan hal demikian bisa menyebabkan suatu kaum menjadi celaka. Demikian pula kekokohan kedudukan di bumi tidak selalu berkorelasi dengan keselarasan terhadap kehendak Allah, dan hal itu bisa menyebabkan suatu kaum celaka. Barangkali spiritualitas itu berkorelasi lebih kuat dengan kokohnya kehidupan di bumi daripada keselarasan dengan kehendak Allah, tetapi Allah tidak menghendaki kekokohan kedudukan di bumi dengan spiritualitas tanpa keinginan mengabdi dengan melaksanakan kehendak Allah.

Membangun kekokohan kehidupan dunia pada dasarnya dapat dilakukan dengan membangun spiritualitas bangsa, tetapi upaya itu harus disertai pula dengan keinginan untuk mentaati kehendak Allah. Manakala suatu kaum membina spiritualitas diri, mereka akan lebih mempunyai kekuatan untuk mencapai kedudukan yang kokoh di bumi. Tanpa spiritualitas, manusia akan lambat bertumbuh atau tumbuh liar layaknya binatang ternak yang tidak bisa membangun suatu sinergi antara satu orang dengan yang lain atau bahkan mendatangkan madlarat antara satu pihak dengan pihak lainnya. Kekokohan kehidupan di bumi dapat dibangun dengan membina spiritualitas bangsa, tetapi hal itu tidak menjadi jamninan bahwa suatu kaum akan selamat. Keselamatan suatu kaum dengan membangun spiritualitas hanya ditemukan pada adanya keinginan untuk mentaati Allah.

Spiritualitas yang benar harus dibangun untuk mentaati kehendak Allah dengan landasan pemahaman yang benar. Di jaman ini, iktikad mengikuti kehendak Allah harus diwujudkan melalui ketaatan pada tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa mengikuti Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, membangun spiritualitas di kalangan umat islam dapat berbalik mendatangkan kebinasaan. Membina spiritualitas harus dilakukan dengan mengikuti langkah Rasulullah SAW dan dimanfaatkan untuk mewujudkan cita-cita Rasulullah SAW bagi umatnya dengan berlandaskan tuntunan kitabullah Alquran. Membina spiritualitas tidak boleh digunakan hanya untuk membangun kekokohan kehidupan duniawi tanpa suatu keinginan menyatukan diri dalam Al-jamaah yang disegel dengan kebenaran ajaran Rasulullah SAW.

Pembinaan spiritualias yang benar secara ideal harus terlihat wujudnya dalam bentuk amal shalih, berupa amal yang terlahir mengikuti pemahaman terhadap tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Barangkali tidak semua orang bisa beramal atau memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara mandiri, tetapi ia bisa memikirkan kebenaran dari ayat yang dibacakan kepadanya, maka langkah demikian termasuk mengikuti kitabullah dan merupakan bayangan pembinaan spiritualitas yang benar. Tentu saja amal demikian akan mendatangkan kekokohan dalam kehidupan dunia, tetapi amal itu lebih bertujuan untuk beribadah kepada Allah bukan untuk kemegahan dunia. Manakala kehidupan dunia justru menjadi rapuh, boleh jadi pemahaman yang diikuti keliru. Rapuh dalam hal ini menunjukkan kehidupan tanpa makna dan kebaikan, termasuk dalam hal ini pemaknaan-pemaknaan kosong tentang kehidupan. Sekalipun kehidupan dunia dijadikan tampak berantakan, seseorang yang beramal shalih dengan pemahaman yang benar tidaklah rapuh karena sebenarnya hidup dengan kokoh dengan pondasi pemahamannya.

Manakala kekuatan bathiniah tidak digunakan untuk memahami dan beramal shalih sesuai dengan kehendak Allah, kekuatan-kekuatan bathiniah itu tidak memberikan manfaat kepada orang-orang yang diberi. Manusia yang memperoleh kekuatan itu akan menyimpang dengan kesesatan yang sangat jauh dari kebenaran karena kekuatannya. Mereka mungkin saja akan menentang ayat-ayat Allah baik ayat-ayat kauniyah ataupun ayat-ayat kitabullah dengan persepsi-persepsi mereka sendiri melalui pendengaran, penglihatan dan akal yang diberikan kepada mereka. Mereka mungkin akan menganggap persepsi bathiniah mereka sebagai yang paling benar dan orang-orang yang lain tidak benar sehingga ayat kauniyah yang telah tampak jelas bagi orang lain kebenarannya tetap dianggap salah. Bahkan bukan tidak mungkin kekuatan bathiniah mereka menjadikan mereka menentang firman-firman Allah dalam kitabullah menyangka indera mereka lebih benar daripada firman Allah.

Hal demikian akan menyebabkan suatu kaum tidak dapat tumbuh dan melangkah maju mengikuti kebenaran. Orang-orang yang diberi kekuatan dan pengetahuan lebih sedikit mungkin harus mengalah dalam pendapat-pendapat orang yang inderawinya kuat sedangkan pengetahuan mereka merupakan kebenaran atau benih-benih kebenaran hingga kebenaran yang mungkin mereka kenali tidak dapat tumbuh menjadi kebaikan bagi kaum tersebut. Demikian pula orang-orang yang mengenali amal-amal shalih yang seharusnya ditunaikan mungkin harus terhalang untuk beramal shalih atau mengupayakan suatu jalan keluar yang bermanfaat bagi kaumnya. Kaum yang bergantung atau mempertuhankan kekuatan indera bathiniah mereka tidak akan memperoleh manfaat sedikitpun dengan sikap menggantungkan diri pada kekuatan bathiniah diri mereka. Setiap orang harus berusaha memahami kehendak Allah dengan kekuatan bathiniah yang diberikan, dan kehendak Allah itu adalah yang tertulis dalam kitabullah Alquran serta selaras dengan kauniyah yang terjadi.

Tetap Lurus dengan Indera Bathin

Kesesatan karena kekuatan bathiniah yang diberikan bisa terjadi karena sebab intrinsik berupa kebodohan hawa nafsu ataupun karena sebab ekstrinsik berupa tipuan syaitan. Manakala memperoleh kekuatan bathiniah, hawa nafsu mungkin menyangka bahwa mereka mempunyai kecerdasan yang lebih dalam memahami kebenaran hingga mereka lupa berpegang pada tuntunan yang diturunkan Allah. Sikap demikian bisa terjadi hingga seseorang justru mempertuhankan hawa nafsu diri mereka, menganggap segala sesuatu yang dipersepsi kekuatan bathiniah mereka merupakan bentuk kesatuan kebenaran diri dengan Allah sedemikian mereka bisa justru menentang firman-firman Allah untuk mengikuti persepsi diri. Syaitan sangat menyukai orang-orang demikian dan akan membantu memberikan petunjuk-petunjuk dengan menyelipkan kesesatan-kesesatan dengan sangat halus sedemikian manusia akan mempersepsi bahwa petunjuk-petunjuk itu benar-benar sebagai petunjuk Allah. Selain cara itu, syaitan selalu ingin dan berusaha memasukkan visi-visi kepada orang-orang yang mempunyai indera bathiniah.

Kesesatan demikian itu bisa terjadi secara meluas tidak hanya terjadi atas perseorangan. Seseorang yang tersesat kemudian diikuti oleh masyrakat. Orang-orang yang mengikuti mereka seringkali meninggalkan ajaran-ajaran yang sebenarnya dapat dipahami dengan mudah sebagai penjabaran yang benar dari firman Allah untuk mengikuti perkataan-perkataan yang dikatakan sebagai perintah Allah sedangkan mereka tidak dapat memahami kebenaran perkataan itu. Mungkin mereka tidak dapat memahami hubungan perkataan itu dengan ayat kitabullah ataupun ayat kauniyah dengan kecerdasan yang dimiliki, tetapi terpaksa meyakini kebenaran perkataan itu karena label kebenaran yang disematkan pada perkataan. Kadangkala mereka membalik-balik logika untuk dapat memahami. Manakala mereka memilih meninggalkan firman Allah dalam Alquran untuk mengikuti perkataan mereka, maka itu tanda yang jelas bahwa mereka itu telah mempertuhankan hawa nafsu atau mempertuhankan manusia. Kadang tanda yang jelas itu tidak tampak, tetapi sebenarnya suatu kaum sebenarnya telah terjebak mempertuhankan hawa nafsu. Hal-hal demikian lebih sering dan mudah terjadi pada kaum yang diberi Allah kekuatan-kekuatan bathin berupa pendengaran, mata dan fuad.

Kaum mukminin harus berhati-hati dengan kekuatan bathiniah yang diberikan kepada mereka dengan selalu memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam melangkah. Perintah Allah yang benar hanyalah apa-apa yang ditemukan landasannya dari kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, tidak boleh diyakini kebenarannya berdasar persepsi kekuatan bathiniah yang diberikan. Hal ini tidak menunjukkan bahwa semua persepsi kekuatan bathiniah selalu menyimpang dari tuntunan Allah, tetapi lebih menjelaskan tingkat kepentingan dalam membina akal memahami kehendak Allah. Apa yang tertera dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW itu akan lebih memperkuat akal dan lebih benar dibandingkan kebenaran apapun, dan kebenaran yang lain itu hanya tangga untuk memahami tuntunan Allah. Memahami kehendak Allah tidak boleh terjadi secara terbalik atau bercampur dengan kehendak syaitan, dan hendaknya dijauhkan dari pengaruh hawa nafsu. Terlalu banyak mengikuti persepsi kekuatan bathiniah boleh jadi akan melemahkan kekuatan akal dalam memahami dengan benar kehendak-Nya. Seluruh persepsi bathiniah yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hendaknya dibuang jauh tidak boleh diikuti, karena hal itu menjadikan manusia mempertuhankan hawa nafsu atau mempertuhankan manusia.

Kehati-hatian ini harus lebih diperhatikan manakala kekuatan bathiniah di antara umat sangat kuat. Boleh jadi Allah menurunkan urusan penjelasan distingsi masalah pembinaan akal dengan masalah kekuatan bathiniah kepada salah seorang di antara mereka. Urusan demikian mungkin saja justru diturunkan kepada orang-orang yang kekuatan bathiniahnya lemah atau justru dilemahkan Allah dan hanya mempunyai iktikad berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Apabila hal ini terjadi, mengikuti tuntunan Allah hanya bisa dilakukan dengan mengikuti berpegang teguh pada tuntunan Allah, dan harus dengan meninggalkan kekuatan bathiniah yang keliru atau lemah dalam memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Masalah kelemahan indera bathiniah itu dan kesalahan-kesalahan manusiawi yang ditimbulkannya tidak akan menjadikan mereka penentang Allah karena sebenarnya Allah sedang menjelaskan pentingnya membina akal dibandingkan membina kekuatan indera bathiniah, agar umat manusia memahami kedudukan keduanya dengan tepat. Kekuatan bathiniah justru bisa menjadi sumber kesesatan yang sangat jauh apabila tidak digunakan dengan tepat oleh orang-orang beriman.

Kehancuran akan terjadi apabila suatu kaum membantah ayat-ayat Allah yang dibacakan kepada mereka karena mengikuti persepsi kekuatan bathiniah mereka, dan memperolok-olokkan pembacaan ayat-ayat Allah. Pada firman Allah di atas, olok-olok itu tidak dibatasi terhadap ayat Allah saja, tetapi juga segenap olok-olok terkait dengan ayat-ayat Allah. Mungkin mereka tidak memperolok-olok ayat Allah secara langsung tetapi memperolok-olok orang yang menyampaikan ayat-ayat Allah maka itu termasuk olok-olok yang dimaksud ayat di atas. Sebenarnya perbuatan demikian akan membuat orang yang memperolok-olok tidak dapat memahami ayat-ayat Allah yang dibacakan. Boleh jadi yang memperolok itu juga merasa sebagai orang yang membaca ayat-ayat Allah tetapi tidak bisa memahami ayat-ayat Allah yang dibacakan karena mereka memperolok-olok pembacanya dengan kekuatan bathiniah pada diri mereka. Karenanya mereka membantah ayat Allah. Dalam banyak hal, olok-olok yang mereka lakukan itu sebenarnya merupakan celaan yang seharusnya diarahkan pada keadaan diri mereka sendiri, sedangkan objek olok-olok itu merupakan cermin yang memantulkan keadaan diri mereka. Ketercelaan itu merupakan suatu satu hal yang akan menjadi siksa atas suatu kaum yang membantah ayat-ayat Allah.

Seringkali ketercelaan suatu kaum tersembunyikan dalam keteguhan kedudukan dalam kehidupan dunia. Karena keteguhan kedudukan, mereka tidak dapat melihat ketercelaan dalam diri mereka dan tidak memperoleh cermin untuk itu. Dalam keadaan itu, olok-olok mereka itu sebenarnya cermin bagi mereka. Hanya saja kadangkala perlu informasi yang cukup untuk memahami bahwa olok-olok yang mereka perbuat itu merupakan cermin bagi diri yang akan diketahui apabila seseorang mau menerima kebenaran dari ayat Allah. Apabila suatu kaum lebih meyakini kekuatan bathiniah mereka sendiri dibandingkan ayat-ayat Allah, mereka tidak akan menyadari keberadaan cermin tersebut.