Pencarian

Kamis, 11 September 2025

Mendengarkan Sebagai Tanda Berakal

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan berdisiplin. Setiap orang beriman harus menumbuhkan sikap mau mendengarkan perkataan-perkataan dan mengikuti perkataan yang terbaik.

﴾۸۱﴿الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولٰئِكَ هُمْ أُولُوا الْأَلْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS Az-Zumar : 18)

Mendengarkan perkataan dan mengikuti perkataan yang paling baik akan mendatangkan petunjuk dan menumbuhkan akal. Hal ini berlaku apabila seseorang senang mendengarkan perkataan kebenaran dan ingin memahaminya. Kesenangan seseorang dalam mendengarkan perkataan apabila mencapai derajat menyimak (يَسْتَمِعُونَ) merupakan suatu indikator bahwa orang tersebut adalah orang yang memperoleh petunjuk Allah dan orang yang mempunyai akal ( أُولُوا الْأَلْبَابِ). Mereka merasa membutuhkan mendengar perkataan yang baik dan membutuhkan pemimpin untuk diikuti dalam wujud orang yang menyampaikan perkataan yang paling baik.

Perkataan yang dibutuhkan orang-orang demikian adalah perkataan yang baik, yaitu perkataan yang mendatangkan kebaikan bagi makhluk seluruhnya. Sebenarnya seluruh kebaikan datang dari sisi Allah, dan perkataan yang lebih baik itu adalah perkataan yang dinyatakan oleh orang-orang yang lebih mengenal Allah. Ketika seseorang berusaha menyampaikan suatu perkataan yang baik, orang yang mendapat petunjuk Allah dan berakal akan mendengarkan perkataan itu karena merasa membutuhkan sekalipun mungkin bukan perkataan yang lebih baik. Mereka akan bersikap mengikuti apabila menemukan perkataan yang lebih baik. Orang yang memperoleh petunjuk Allah dan berakal mungkin tidak tahan dengan perkataan-perkataan ghibah atau tidak bermanfaat, dan hal itu tidak menunjukkan hilangnya kebutuhan terhadap perkataan dan mengikuti perkataan yang lebih baik. Berat bagi orang yang berakhlak mulia terjebak dalam perbuatan sia-sia.

Kebanyakan manusia barangkali memandang bahwa orang-orang yang memperoleh petunjuk Allah dan orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang bisa menampilkan pengetahuan petunjuk dan kecerdasan akalnya tanpa membutuhkan pendapat orang lain dan menginginkan orang lain mengikuti perkataannya. Boleh jadi banyak orang memandang dirinya berakal kuat hingga tidak memerlukan pengetahuan orang lain dan memandang orang lain harus mengikuti perkataan dirinya. Orang-orang kebanyakan mungkin mensikapi orang berakal dengan cara demikian yaitu segan memberikan informasi yang benar kepada orang yang dianggap memperoleh petunjuk dan yang berakal kuat. Persepsi umat tentang ulul albab seharusnya disesuaikan dengan pernyataan ayat di atas. Orang-orang yang memperoleh petunjuk Allah dan orang-orang yang berakal (أُولُوا الْأَلْبَابِ) sebenarnya berbentuk orang-orang yang senang menyimak perkataan yang baik dan senang mengikuti perkataan yang terbaik.

Kebutuhan terhadap perkataan yang baik dan kebutuhan mengikuti perkataan terbaik merupakan sifat penanda orang yang memperoleh petunjuk dan berakal (أُولُوا الْأَلْبَابِ). Sifat ini tidak akan terlepas dari mereka. Hanya saja orang-orang demikian seringkali telah mempunyai pengetahuan yang luas dan mendalam sedemikian banyak perkataan orang lain sebnarnya telah diketahuinya. Manakala dirasa perlu, mereka mungkin akan menampilkan pengetahuan-pengetahuannya kepada masyarakat. Boleh jadi mereka tampak ingin diikuti, tetapi sebenarnya mereka menyeru manusia untuk mengenal kebenaran bukan menyeru manusia untuk mengikuti dirinya sendiri. Hal ini tidaklah menghilangkan kebutuhan terhadap perkataan yang baik dan kebutuhan untuk mengikuti perkataan yang terbaik. Sebenarnya sangat banyak pula yang tidak diketahuinya yang perlu diperdengarkan kepadanya bila orang mengenalnya. Mereka tetap mempunyai keinginan untuk mendengarkan perkataan yang baik dan mengikuti perkataan yang terbaik, walaupun sayangnya seringkali tidak terpenuhi dari orang lain. Seandainya ada orang yang bisa menyampaikan perkataan yang lebih baik, niscaya ia berkeinginan mengikuti perkataan orang lain. Seringkali hanya washilahnya yang bisa memberikan perkataan yang lebih baik dan seharusnya diikuti. Manakala kebutuhan-kebutuhan ini tidak ada pada diri seseorang, mereka sebenarnya bukan orang-orang yang memperoleh petunjuk Allah dan berakal (أُولُوا الْأَلْبَابِ).

Keinginan mendengarkan dan mengikuti perkataan yang terbaik terkait dengan pengenalan terhadap imam yang harus diikuti. Pengenalan diri seseorang akan terjadi bukan semata dalam bentuk mengenal fungsi penciptaannya, tetapi juga peran diri dalam al-jamaah untuk melaksanakan amr jami’ Rasulullah SAW. Ia mengenal kebenaran, tetapi mengetahui bahwa kebenaran yang dikenalnya itu hanya sebagian kecil dari kebenaran yang diajarkan Rasulullah SAW. Ia menyeru umat manusia dengan segelintir kebenaran yang dikenalinya agar manusia mengikuti Rasulullah SAW bukan untuk mengikuti dirinya. Manakala ia mengetahui seseorang dengan perkataan yang lebih baik dari dirinya dalam melaksanakan amr jami’ Rasulullah SAW, ia menyeru manusia untuk mengikuti perkataan yang lebih baik itu, sedangkan ia juga ingin membantu seseorang dengan perkataan yang lebih baik tersebut. Orang yang memperoleh petunjuk Allah dan berakal (أُولُوا الْأَلْبَابِ) membutuhkan pemimpin untuk urusannya, setidaknya Rasulullah SAW. Mustahil orang tersebut merasa diri sebagai makhluk yang terbaik yang harus dijadikan panutan orang lain, kecuali sekadar dalam urusan kebenaran yang dikenalinya sebagai bagian dari amr Rasulullah SAW.

Kemauan Mendengar dan Menggunakan Akal

Kebutuhan mendengarkan perkataan yang baik dan mengikuti perkataan terbaik merupakan dua hal yang berbeda tingkatan. Setiap orang yang memperoleh petunjuk dan berakal mempunyai kebutuhan mendengarkan perkataan yang baik. Mereka ingin mendengarkan setiap perkataan yang baik apabila mempunyai kekuatan dan kesempatan untuk mendengarkan. Tetapi belum tentu ia mengikuti. Mereka akan mengikuti perkataan yang lebih baik di antara perkataan-perkataan yang baik. Perkataan yang paling baik itu adalah perkataan orang-orang yang lebih mengenal atau paling mengenal kehendak Allah. Seandainya satu orang mengatakan perkataan yang paling baik dan orang lain mengatakan perkataan-perkataan yang baik, mereka akan mengikuti perkataan yang paling baik.

Sikap demikian merupakan hasil dari suatu proses berupa kemauan mendengarkan dan menggunakan akal. Kemauan mendengarkan merupakan bentuk dasar dari kebutuhan mendengarkan. Mungkin seseorang belum mempunyai kebutuhan untuk mendengarkan, tetapi ia mau mendengarkan perkataan-perkataan yang baik sekalipun hawa nafsunya tidak menyukainya. Hal itu adalah kemauan mendengarkan. Kebutuhan untuk mendengarkan perkataan yang baik akan tumbuh apabila seseorang mau mendengarkan perkataan yang baik dan menggunakan akalnya untuk menimbang nilai-nilai kebaikan yang ada pada suatu perkataan.

﴾۰۱﴿وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ
Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau menggunakan akal niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (QS Al-Mulk : 10)

Akal adalah kekuatan dalam memahami kehendak Allah, bukan kekuatan pikiran melakukan manipulasi hal-hal duniawi. Indikator utama kekuatan akal adalah pemahaman terhadap tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Akal akan terbina dengan baik apabila seseorang berusaha untuk memahami dan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kekuatan seseorang menimbang kebaikan yang ada dalam suatu perkataan ditentukan dengan pembinaan akal yang lurus dalam memahami kehendak Allah yang tertera dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Kemampuan menilai bobot kebaikan suatu perkataan ditentukan dengan kelurusan akal yang terbina sesuai dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak perkataan yang baik di antara manusia, dan masing-masing mempunyai bobot kebaikan yang berbeda. Persepsi setiap manusia terhadap bobot kebaikan dalam suatu perkataan tertentu pun bisa berbeda-beda tergantung pada kekuatan akal masing-masing. Pembobotan kebaikan yang benar adalah pembobotan yang dilakukan berdasarkan penghayatan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sangat banyak orang-orang yang terkelabui dengan perkataan-perkataan yang indah dalam pendengaran mereka dan menganggap perkataan itu sebagai kebenaran, sedangkan mungkin saja perkataan itu adalah perkataan yang mendatangkan kerusakan besar bukan kebaikan. Hal itu bisa terjadi bila orang-orang tidak berusaha membina akhlak Alquran dalam dirinya. Orang yang akalnya terbina dengan benar tidak mungkin akan menganggap baik perkataan yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Orang yang kuat akalnya akan mampu membobot nilai kebaikan dari suatu perkataan dengan benar berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Kebutuhan mendengarkan perkataan yang baik itu tumbuh setelah akal mampu menilai bobot kebaikan dalam suatu perkataan dengan benar. Tanpa tumbuhnya akal, seseorang baru berada pada keadaan mau mendengarkan ( نَسْمَعُ) belum butuh mendengarkan (يَسْتَمِعُونَ). Orang yang butuh mendengarkan perkataan yang baik merupakan hasil dari perkembangan akal dalam tingkatan ulul albab. Sifat ini bersanding dengan kebutuhan untuk mengikuti perkataan yang terbaik. Ulul albab mempunyai pengetahuan tentang siapa orang yang harus diikuti sebagai imamnya, dan pengetahuan ini tidak dibuat tanpa landasan. Ia mengetahui adanya nilai kebaikan yang lebih tinggi dari perkataan orang yang diikutinya, tidak menentukan imam untuk dirinya tanpa suatu pemahaman terhadap nilai kebaikan dalam perkataan-perkataan imamnya. Mereka tidak menjadikan orang yang menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai imam karena tidak mengetahui kebaikan pada penentangan terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan mungkin mengetahui berbagai keburukan yang mungkin akan menimpa dengan perbuatan demikian.

Melatih Keterampilan Mendengar

Kemauan mendengarkan dan menggunakan akal merupakan batas keselamatan. Orang yang tidak mau mendengarkan dan menggunakan akal akan terseret menjadi orang-orang yang menghuni neraka, dan orang-orang yang mau mendengarkan dan menggunakan akal akan tumbuh sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk Allah dan orang-orang yang mempunyai akal kuat. Perkembangan seseorang akan dittentukan dengan kemauan dirinya mendengar. Bila ia mau mendengarkan, ia akan menjadi orang yang memperoleh petunjuk dan berakal. Kadangkala seseorang berusaha mengikuti kebenaran tetapi hanya kebenaran dirinya sendiri saja, maka hal demikian tidak termasuk mau mendengar. Ketika ayat-ayat kitabullah dibacakan, mereka tidak mau memperhatikan ayat-ayat kitabullah yang dibacakan karena mengikuti waham diri mereka sendiri tentang kebenaran. Ketika manusia membaca ayat-ayat kauniyah yang terjadi, mereka membangun pikiran kebenaran kauniyah sendiri tanpa suatu landasan realitas yang benar.

Keterampilan mendengarkan merupakan hal yang tampak sederhana tetapi sebenarnya sulit. Keterampilan ini akan menjadi mudah diasah apabila disertai dengan menggunakan akal. Sangat banyak orang-orang yang berbicara tanpa suatu kandungan yang jelas hingga mendengarkan hal itu akan mendatangkan kejenuhan. Demikian pula pembicaraan tentang kauniyah sekalipun bisa menjebak seseorang dalam persepsi kebenaran yang tidak berdasar. Bila seseorang berniat menggunakan akalnya untuk memahami ayat Allah, mereka akan memperoleh kemudahan untuk memilih mendengarkan apa yang bermanfaat, tanpa terjatuh pada sikap tidak mau mendengarkan. Tetap saja hal ini harus dilakukan dengan berhati-hati. Kadangkala seseorang terjebak pada kesombongan dalam meninggalkan pembicaraan hingga perkataan-perkataan yang baik pun dianggap tidak berguna. Bahkan kadangkala seseorang menghakimi orang lain tanpa mendengarkan penjelasan dari orang yang dihakimi karena merasa kedudukannya tinggi. Ini merupakan bentuk kesombongan. Orang-orang yang berusaha menggunakan akal untuk memahami ayat Allah akan menjadi mudah membina keterampilan mendengarkan.

Sikap tidak mau mendengarkan tidak hanya menjangkiti orang-orang kafir tetapi juga orang-orang beriman. Salah satu jebakan dalam langkah agama yang menjadikan orang tidak mendengarkan adalah sikap tidak menggunakan akal. Mungkin seseorang atau suatu kaum menjadi orang-orang yang mempunyai pendengaran bathin, mata bathin hingga qalb karena keimanannya, tetapi mereka memperturutkan persepsi indera-indera bathin mereka untuk melangkah tanpa menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah. Ini bisa menjadikan mereka orang yang tidak mendengar dan menjadi celaka sebagai orang-orang yang paling tersesat. Mereka mengabaikan tuntunan ayat-ayat Allah karena mengikuti persepsi indera-indera bathin sendiri.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar