Pencarian

Senin, 29 Desember 2025

Membentuk Akhlak Mulia dengan Alquran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang mendapat nikmat Allah. Memperoleh nikmat Allah artinya adalah mereka mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Nikmat Allah dalam bentuk demikian akan diperoleh oleh orang-orang yang memperoleh petunjuk. Petunjuk itu berupa pemahaman sinergis ayat kauniyah dan ayat kitabullah.

Pemahaman demikian hanya dapat dilakukan dengan jalan membina diri sebagai misykat cahaya. Misykat cahaya dapat dilihat gambarannya seperti kamera atau mata yang membentuk bayangan nyata dalam diri berdasarkan cahaya objek di luar. Ia berupa misykat dengan satu lubang kecil untuk melewatkan cahaya hingga zujajah di dalamnya dapat membentuk bayangan nyata. Orang yang memahami ayat Allah dengan cara demikian itu adalah orang yang mendapatkan petunjuk jalan yang lurus.

﴾۵۳﴿ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Allah (adalah) cahaya lelangit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah misykat yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS An-Nuur : 35)

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh misykat agar terbentuk bayangan yang baik di dalam misykat diri seseorang. Misykat diri itu harus rapat tidak boleh bocor cahaya, dibina dengan keikhlasan dalam ibadah kepada Allah semata-mata. Lensa berupa zujajah itu harus jernih dari kotoran-kotoran hingga dapat membentuk bayangan secara jernih, dapat diatur fokusnya dengan tepat, dibina dengan penghayatan sifat rahman dan sifat rahim untuk memahami ayat Allah. Manakala tidak terbentuk sifat rahman dan rahim, fokus lensa itu akan membentuk bayangan yang tidak tepat. Bayangan cahaya yang benar dan tepat itu hanya terbentuk dari zujajah yang terbina dalam sifat rahman dan rahim. Cahaya yang dibentuk bayangannya adalah ayat-ayat Allah berupa ayat kitabullah dan ayat yang digelar di alam kauniyah. Apabila seseorang memalingkan diri dari ayat Allah yang ditunjukkan untuk mengikuti pendapat diri mereka sendiri atau perkataan lain, mereka itu tidak memilih ayat Allah dan gambar yang dibentuk bukanlah ayat Allah.

Orang yang membentuk dirinya sebagai misykat cahaya demikian menjadi mitsal bagi cahaya Allah. Ia bukan mitsal bagi Allah, tetapi mitsal bagi cahaya Allah, menjadi seseorang yang dapat dipercaya dalam menceritakan kehendak Allah secara benar. Dalam kenyataannya, tidak semua cahaya Allah dapat diketahui dan diceritakan oleh seorang misykat cahaya, hanya Rasulullah SAW yang mampu mengetahui dan dapat menceritakan seluruh cahaya Allah yang digelar di alam semesta. Misykat cahaya yang lain dapat membentuk bayangan secara benar hanya dari sebagian cahaya Allah. Walaupun demikian, seorang misykat cahaya mengetahui dan dapat menceritakan cahaya Allah secara tepat pada spektrum misykat cahaya dirinya hingga ia dapat dipercaya dalam menceritakan cahaya Allah bagi makhluk yang lain.

Hanya dalam cara misykat cahaya ini cahaya Allah dapat dijelaskan dengan benar. Tidak ada jalan menjelaskan cahaya Allah secara benar selain dengan membentuk diri sebagai misykat cahaya Allah. Alquran merupakan cahaya Allah yang paling terang yang dihadirkan di bumi, dan Rasulullah SAW adalah misykat cahaya paling sempurna di seluruh alam semesta yang dapat menguraikan seluruh spektrum cahaya Allah secara tepat tanpa kekeliruan. Cahaya-cahaya Allah itu dapat dipahami oleh orang-orang yang membentuk dirinya sebagai misykat cahaya, akan tetapi seluruh misykat cahaya yang mungkin ada di semesta alam hanya bersifat bagian dari Rasulullah SAW. Nabi Ibrahim a.s adalah bagian dari Rasulullah SAW yang paling besar, sedangkan khalifatullah Al-Mahdi a.s adalah misykat cahaya bagi nafakh ruh Allah di bumi. Manakala seseorang tidak membentuk diri sebagai misykat cahaya, mereka tidak dapat mengenal kehendak Allah dengan benar.

Sekalipun mengikuti Alquran, banyak orang yang tersesat jalannya karena tuntunan kitabullah Alquran dipahami dengan hawa nafsu. Demikian pula mengikuti contoh-contoh yang dilakukan kaum salaf saja kadangkala tidak mengantar pada jalan yang benar. Kaum khawarij menjadi contoh kaum yang terlempar dari Islam sejauh-jauhnya dengan mengikuti Alquran karena tidak membentuk diri sebagai misykat cahaya dengan benar. Bahkan sebenarnya apa yang dilakukan oleh kaum khawarij hanyalah mengikuti ajaran kaum musyrikin yang menyusun ajaran tauhid mengikuti ajaran syaitan. Iblis pada dasarnya sangat mengenal tauhid dalam ibadah kepada Allah, akan tetapi ia tidak memahami cahaya Allah sedemikian ketidakpahamannya menjatuhkan dirinya pada kedudukan yang hina. Sangat wajar bagi seorang makhluk berakal tidak memahami suatu hal dari sisi Allah, tetapi suatu sikap yang salah bisa menjadikan ketidakpahaman itu menjatuhkannya pada kedudukan yang hina. Mengikuti Alquran itu adalah dengan membentuk diri sebagai misykat cahaya.

Membentuk diri sebagai misykat cahaya adalah jalan yang benar untuk memahami cahaya Allah. Mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan benar lebih menentukan keselamatan daripada pencapaian tahapan pembinaan. Seseorang yang dapat memahami kebenaran dalam tingkatan rendah akan selamat sedangkan seseorang yang terbiasa dengan pengetahuan yang tinggi tetapi salah akan celaka seperti iblis. Tidak semua orang terbina sebagai misykat cahaya secara sempurna, tetapi mereka bisa saja memperoleh keselamatan dengan mengikuti tuntunan kitabullah dengan benar. Membentuk misykat cahaya merupakan kedudukan yang mulia tetapi hendaknya setiap orang bertakwa dengan berhati-hati dengan penyimpangan yang bisa terjadi pada setiap tingkatan perjalanan. Hal ini harus dilakukan dengan tindakan nyata berupa berpegang teguh kepada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mengandalkan rasa aman dengan bersandar membuta kepada kekuatan-kekuatan bathiniah dirinya atau mengandalkan keutamaan diri di hadapan Allah.

Pembinaan diri sebagai misykat cahaya ini merupakan bagian utama dari pembentukan akhlak al-karimah. Tidak ada akhlak al-karimah manakala tidak ada pemahaman terhadap kehendak Allah yang termaktub dalam Al-quran al-kariim. Kemuliaan akhlak itu hanya imbas dari kemuliaan cahaya Alquran, dan seseorang tidak dapat memuliakan diri dengan kekuatannya sendiri. Tidak jarang seseorang merasa mulia tetapi sebenarnya itu hanya waham dirinya sendiri karena tidak ada ayat kitabullah yang terpahat dalam dirinya. Kadangkala seseorang merasa mulia karena mempelajari kitabullah tetapi sebenarnya pemahamannya tidak benar karena tidak membina diri sebagai misykat cahaya, maka hal demikian juga hanya persangkaan saja. Seseorang yang mulia melihat kemuliaan itu hanya dari firman Allah, dan dirinya sendiri hanya makhluk yang diciptakan dari tanah. Adapun ia menghormati dirinya sendiri karena adanya firman Allah yang membentuk mitsal cahaya-Nya dalam hatinya yang harus diperjuangkan. Ia tidak akan mengalah manakala berjuang untuk firman Allah yang dipahaminya.

Kesungguhan Memahami Alquran

Benarnya pemahaman terhadap tuntunan kitabullah Alquran ditentukan dari terbentuknya diri sebagai misykat cahaya. Rasulullah SAW melarang setiap orang untuk mengatakan sesuatu terkait Alquran dengan pendapat (ru’ya) sendiri. Hal ini terkait dengan pemahaman seseorang terhadap kehendak Allah melalui pembinaan misykat cahaya. Orang-orang yang tidak membina diri sebagai misykat cahaya hendaknya tidak berpendapat yang dikatakan sebagai bagian dari Alquran. Dalam riwayat tertentu, larangan itu berlaku sekalipun seseorang mengatakan pendapat yang benar tetapi pendapat itu tetap bernilai salah. Perkataan yang benar terkait Alquran hanya dapat terbentuk melalui seseorang yang terbina sebagai misykat cahaya.

عن جندب بن عبد الله قال رسول الله من تكلم في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ
Artinya, “Dari Jundub bin Abdullah bahwa Rasulullah bersabda ‘Barang siapa yang berbicara pada al-Qur’an dengan pendapat (ru’ya)-nya, ia telah melakukan kesalahan meskipun pendapatnya benar,’” (HR.Turmudzi).

Hadits di atas bukan melarang seseorang untuk menyampaikan pengajaran kandungan Alquran, tetapi merupakan larangan untuk mengada-adakan perkataan terkait firman Allah dalam Alquran. Orang yang bisa memenuhi kriteria tidak mengada-adakan perkataan hanyalah orang-orang yang membina diri membentuk misykat cahaya, karena mereka sebenarnya lebih ingin memperhatikan kehendak Allah daripada berkata-kata kepada manusia ataupun makhluk lain tentang pengetahuannya. Mereka mengetahui makna dalam kitabullah Alquran karena mereka berharap mengetahui kehendak Allah tanpa mempunyai keinginan untuk dipandang berilmu ataupun berdebat. Adapun perkataan yang disampaikan adalah penyampaian kehendak Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak mengada-adakan perkataan terkait Alquran.

Saat ini barangkali tidak banyak orang yang membina diri sebagai misykat cahaya, tetapi selalu ada orang demikian. Ada banyak tahapan dalam pembinaan diri sebagai misykat cahaya, di antaranya adalah tazkiyatun-nafs. Di antara orang-orang yang menempuh langkah tazkiyatun-nafs, ada orang-orang yang dibersihkan Allah (muthahharun). Mereka bukan orang-orang yang merasa suci tetapi sebenarnya Allah mensucikan diri mereka. Boleh jadi mereka tidak mengetahui bahwa Allah mensucikan diri mereka dan mereka merasa takut dengan dosa-dosa mereka, tetapi Allah membukakan kemudahan dalam memahami tuntunan kitabullah atau memahami persoalan pada keadaan kauniyah mereka berdasarkan tuntunan kitabullah, maka mereka itulah orang-orang yang mungkin disucikan Allah. Orang-orang yang dengan lantang mengatakan diri mereka sebagai orang suci bukanlah orang yang disucikan, dan mungkin sangat banyak kepentingan dibalik pernyataan mereka.

Banyak orang keliru bersikap tentang orang suci. Sebagian kaum menganggap tidak ada orang yang disucikan, dan mereka menganggap tafsiran-tafsiran mereka sendiri terhadap kitabullah sebagai suatu kebenaran mutlak. Mereka tidak mempunyai keinginan untuk menempuh jalan tazkiyatun nafs dalam memahami tuntunan kitabullah dengan benar, dan justru memandang tazkiyatun-nafs sebagai jalan bid’ah karena terkurung dengan waham berdasar hawa nafsu dan mengambil penuntun diri mereka dari kalangan orang-orang yang bodoh yang bersolek.

Sebagian kaum tidak mempunyai kemampuan untuk mengenali perkataan yang terbentuk dari misykat cahaya. Sama saja keadaan mereka terbungkus waham, hanya saja mereka telah melangkah lebih jauh dalam usaha membina misykat diri. Mereka melangkah melakukan tazkiyatun-nafs tetapi tidak melangkah lebih lanjut membina diri sebagai misykat cahaya. Ibaratnya mereka seperti orang-orang yang mencangkul lahan terus menerus tetapi tidak menumbuhkan benih pada lahan yang telah mereka olah. Mereka terjebak pada waham mereka sendiri dan seringkali terseret pada golongan ahli bid’ah. Seringkali jebakan waham itu berupa tidak menggunakan akalnya untuk memahami kebenaran. Manakala disampaikan tuntunan Alquran kepada mereka oleh orang lain, mereka perlu pengesahan dari panutan mereka tidak mampu memahami sendiri kebenaran.

Ada banyak tingkatan misykat cahaya, dan sangat penting bagi setiap orang untuk memperhatikan kebenaran dari perkataan misykat cahaya berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Misykat cahaya dalam tingkatan yang rendah yang membentuk bayangan tepat seperti tuntunan kitabullah lebih baik daripada misykat cahaya tingkat tinggi yang membentuk bayangan menyimpang, dan justru bayangan jenis ini sangat berbahaya. Manakala membina misykat cahaya, seseorang harus jujur dengan keadaan misykat dirinya dalam membentuk bayangan tidak boleh menginginkan untuk dapat menjadi misykat yang membentuk bayangan tingkat tinggi. Orang yang mengikuti pengajaran dari seseorang dengan misykat cahaya harus memperhatikan kebenaran perkataan yang disampaikan orang lain berdasarkan tuntunan kitabullah. Sangat banyak orang yang belajar Alquran terkurung waham sedemikian tidak dapat melihat kebenaran sebagaimana mestinya. Bahkan tidak jarang waham itu disampaikan oleh orang yang mereka sangka pengajar Alquran.

Benarnya pembinaan diri sebagai misykat cahaya dapat diukur berdasarkan proses pembentukan bayt. Membina diri sebagai misykat cahaya merupakan bagian dari langkah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, bukan suatu langkah tunggal yang berdiri sendiri hingga seseorang mudah terjerumus menjadi megaloman wakil Allah. Benar bahwa seseorang yang memahami cahaya Allah adalah wakil Allah, tetapi pemahaman cahaya Allah itu hanya benar apabila terbentuk sikap diri sebagai hamba Allah yang ingin meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bila seseorang meninggikan diri karena pemahamannya, ia telah keliru tidak meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Meninggikan dan mendzikirkan asma Allah itu hanya akan terlaksana apabila seseorang membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bayt demikian pada intinya adalah pernikahan di antara seorang laki-laki dan perempuan, dan inti tersebut dapat berkembang mengumpulkan segala sesuatu yang terserak bagi diri mereka di alam semesta. Proses pembentukan bayt yang menjadi indikator benarnya pembentukan misykat diri tidak selalu berupa terkumpulnya segala sesuatu yang terserak, tetapi ketepatan dalam mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala seseorang tidak berhasil membentuk bayt tetapi dapat membina diri sebagai misykat cahaya karena ketaatan membina bayt mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah hanya dapat dilaksanakan dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW serta millah nabi Ibrahim a.s. Ada hal-hal prinsip yang harus ditaati oleh setiap orang dalam membentuk bayt tanpa boleh melanggarnya baik sebelum masa pernikahan, semasa pernikahan ataupun ketika dalam perjuangan meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Apabila pembentukan bayt dilakukan secara menyimpang dari sunnah Rasulullah SAW, tidak akan terbentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Kadangkala suatu bayt terbentuk tetapi tidak meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tetapi justru meninggikan hal yang lain. Setiap orang harus berusaha mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk membentuk bayt sedemikian bayt mereka menjadi tempat pijakan yang kokoh untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah bukan yang lain.

Bayt demikian akan mendatangkan pemakmuran dan keadilan di alam semesta, dan sumber terbesar bagi alam semesta dalam mengenal asma Allah. Bila suatu bayt tidak mendatangkan pemakmuran dan keadilan, bayt demikian bukanlah bayt yang mendapatkann ijin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Boleh jadi proses pembinaan bayt tersebut belum sempurna atau boleh jadi menyimpang dari ketentuan Allah sedemikian Allah tidak memberikan ijin bagi mereka. Kadangkala suatu bayt terbentuk justru menghilangkan tumbuhnya pemakmuran di bumi. Orang beriman hendaknya menghindarinya dan benar-benar berusaha untuk membentuk bayt mengikuti ketentuan dan tuntunan kitabullah dan Rasulullah SAW. Para penyembah syaitan banyak yang membentuk pernikahan dengan pola tertentu dan mereka membentuk bayt untuk menyengsarakan masyarakat bumi.




Rabu, 24 Desember 2025

Mushibah Karena Perbuatan Manusia

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang mendapat nikmat Allah. Memperoleh nikmat Allah artinya adalah mereka mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Nikmat Allah dalam bentuk demikian akan diperoleh oleh orang-orang yang memperoleh petunjuk, dan sebagian petunjuk demikian diturunkan Allah melalui mushibah atas orang-orang beriman.

Sekalipun demikian, mushibah-mushibah yang terjadi atas umat manusia sebenarnya muncul karena perbuatan-perbuatan manusia sendiri. Allah selalu menghendaki kebaikan bagi seluruh makhluknya, akan tetapi mereka banyak berbuat kerusakan hingga memunculkan mushibah atas diri mereka sendiri. Kebaikan yang dikehendaki Allah itu sedemikian besar hingga tidak semua perbuatan merusak yang dilakukan manusia memunculkan mushibah. Allah memaafkan sebagian besar kesalahan yang diperbuat manusia. Hanya sebagian perbuatan saja yang dibuat memunculkan mushibah bagi manusia.

﴾۰۳﴿وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (QS As-Syuuraa : 30)

Mushibah berbentuk kerusakan yang terjadi karena ulah manusia dan dapat dipersepsi masyarakat umum merugikan, baik terjadi di alam ataupun terjadi pada tatanan bermasyarakat. Banjir dan longsor merupakan suatu contoh bentuk mushibah di alam. Demikian pula diangkatnya seorang penipu sebagai pemimpin merupakan bentuk mushibah karena mereka akan berulah menimbulkan kerusakan. Ada bentuk-bentuk kerusakan yang tidak menimbulkan mushibah karena Allah memaafkannya, dan ada bentuk-bentuk kerusakan yang muncul kerusakannya secara nyata hingga setiap orang mengatakan hal itu adalah mushibah. Orang-orang beriman seharusnya mempunyai persepsi lebih tajam terhadap sebab-sebab kerusakan daripada orang kebanyakan, dapat merasakan kerusakan yang terjadi sebelum orang-orang umum dapat mempersepsi kerusakannya karena pada dasarnya mushibah itu (hanya) media berita petunjuk bagi orang-orang beriman tentang kerusakan.

Mushibah yang terjadi tidak selalu menimpa orang-orang yang berbuat kerusakan. Mushibah itu kadangkala dibebankan kepada orang-orang beriman yang tidak ikut serta melakukan kesalahan agar mereka memperoleh petunjuk tentang kerusakan yang terjadi. Kadangkala mushibah menimpa orang beriman yang berbuat kerusakan agar mereka tidak terus melakukan kerusakan. Bisa saja mushibah terjadi kepada kaum muslimin untuk membersihkan dosa-dosa mereka manakala mereka bersabar dengan mushibah itu. Banyak bentuk kehendak Allah yang digelar atas mushibah yang menimpa setiap kaum, dan masing-masing dapat memperoleh kebaikan dengan kesabaran ataupun menjadi siksa bagi orang-orang yang celaka.

Orang-orang beriman menjadi golongan yang paling memperoleh manfaat dari mushibah karena petunjuk yang terkandung di dalamnya. Allah menyampaikan berita kepada orang-orang beriman secara jelas tentang hal yang harus diperbaiki dengan peristiwa mushibah yang terjadi. Mushibah itu terjadi karena ulah tangan-tangan penduduk negeri, dan Allah memberitakan penyebab kerusakannya kepada orang beriman. Orang-orang beriman seharusnya mendapatkan petunjuk tentang masalah tersebut dan bertanggung jawab untuk memimpin manusia membuat langkah-langkah memperbaiki keadaan. Orang-orang islam hendaknya mengikuti langkah-langkah yang diketahui oleh orang-orang beriman, dan kesertaan dalam langkah-langkah itu akan menjadi kebaikan bagi diri mereka dan menjadi media agar terwujud perbaikan di alam bumi secara meluas. Demikian pula hendaknya orang-orang secara umum mengikuti langkah-langkah perbaikan mengikuti petunjuk sedemikian bumi menjadi makmur secara merata.

Sayangnya kebanyakan manusia tidak memperoleh pelajaran ataupun petunjuk karena hati mereka sebenarnya kurang beriman. Mushibah kadang terjadi di negeri orang-orang yang mengatakan dirinya beriman tetapi terjadi berulang-ulang karena penduduk tidak mengetahui apa yang harus diperbaiki oleh diri mereka. Sebagian mungkin merasa dapat mengambil hikmah dari mushibah, tetapi tidak mengetahui akar masalah dari mushibah yang terjadi. Sebagian orang melihat akar masalah hanya secara umum seperti orang-orang kebanyakan. Hal ini tidak menunjukkan mereka memperoleh petunjuk. Manakala pembacaan orang beriman tentang mushibah berkualitas sama saja dengan pembacaan orang-orang umum atau orang-orang kafir, mereka boleh jadi belum benar-benar mendapatkan petunjuk karena mushibah itu. Secara khusus, petunjuk itu berbentuk suatu pemahaman terhadap ayat kitabullah tertentu yang merupakan inti berita dari mushibah yang terjadi.

Petunjuk itu berupa pemahaman sinergis ayat kauniyah dan ayat kitabullah. Kadangkala orang beriman menyangka bahwa petunjuk itu berupa suatu penglihatan atau pendengaran bathin. Yang menjadi indikator seseorang memperoleh petunjuk adalah pemahamannya terhadap mushibah yang terjadi berdasarkan tuntunan kitabullah, bukan penglihatan atau pendengaran yang diterima. Indera demikian sebenarnya merupakan media untuk memahami petunjuk, bukan petunjuknya sendiri. Tidak jarang seseorang memperoleh suatu penglihatan atau pendengaran bathiniah yang benar tetapi belum dapat memahami kedudukan persepsi indera tersebut dalam bacaannya terhadap ayat Allah kauniyah dan kitabulah, maka persepsi indera tersebut belum benar-benar merupakan petunjuk. Persepsi itu akan menjadi petunjuk manakala seseorang mengetahui kedudukannya dalam ayat Allah. Kadangkala suatu persepsi indera merupakan hasil dari hawa nafsu atau bisa pula berasal dari syaitan yang keduanya dapat mendatangkan madlarat bagi manusia. Persepsi indera yang sebaik-baiknya terdapat pada orang-orang yang memahami ayat-ayat Allah kauniyah dan kitabullah dengan benar kemudian mereka memperoleh penglihatan-penglihatan atau pendengaran sedemikian mereka mengetahui kedudukan persepsi indera mereka dalam urusan Allah. Mereka itulah orang yang mendapatkan petunjuk.

Petunjuk-petunjuk yang terkandung dalam suatu mushibah bisa bersifat sangat luas tidak hanya pada satu dimensi saja. Misalnya suatu banjir bandang di suatu daerah bukan terjadi hanya karena pembalakan hutan saja. Kuasa-kuasa yang terlibat dalam penunjukan pejabat-pejabat pemangku urusan dapat terungkap melalui petunjuk kepada orang-orang beriman yang memperoleh petunjuk. Kadang petunjuk itu tidak terbatas dalam urusan bencana lingkungan tersebut tetapi bisa juga dalam urusan yang lebih luas. Tentulah sangat menyedihkan melihat seorang bayangkara seolah-olah mempunyai kuasa lebih besar daripada pemimpin tertinggi yang dipilih masyarakat luas. Pemimpin itu sekalipun menginginkan kebaikan bagi bangsanya, ia harus bernegosiasi dengan kuasa-kuasa dibalik penunjukan pejabat-pejabat yang memegang urusan negeri.

Orang-orang yang memperoleh petunjuk akan memahami fenomena di atas dan dapat mensikapi dengan cara yang terbaik. Orang-orang yang tidak memperoleh petunjuk mungkin akan bersikap kontraproduktif mencela pemimpin mereka yang berusaha bertindak sebaik-baiknya tanpa mengetahui usaha pemimpinnya. Fenomena di atas mungkin tampak bagi masyarakat umum layaknya paranoia konspirasi segelintir orang. Sebagian orang melihat tampak nyata dan membingungkan apabila memperhatikannya tetapi ia tidak mengetahui hakikat yang terjadi. Orang-orang yang memperoleh petunjuk dapat memahami hakikat yang terjadi pada fenomena demikian berdasarkan petunjuk ke dalam hati, disertai pengamatan secara jujur dirinya terhadap kauniyah yang terjadi dan dari tuntunan kitabullah.

Perbaikan Melalui Pembinaan Nafs

Memperbaiki keadaan seringkali merupakan tugas jamaah, bukan tugas hanya satu atau dua orang yang mengetahui masalah. Mungkin ada orang-orang beriman mengetahui masalah yang terjadi dari suatu mushibah berdasarkan suatu ayat kitabullah tertentu tetapi tidak mampu mengambil langkah untuk memperbaiki keadaan. Hal demikian boleh jadi menunjukkan buruknya keadaan jamaah orang beriman. Orang beriman seharusnya menjadi pelopor bagi kaum mereka dalam melaksanakan kehendak Allah yang harus diwujudkan. Media pemberitahuan tentang kehendak Allah itu yang paling utama di antaranya adalah mushibah yang terjadi. Kadangkala seseorang dapat memperoleh petunjuk tentang mushibah itu tetapi orang lain tidak ada yang mau mendengarkan maka mereka tidak dapat sedikitpun melangkah menuju kebaikan. Apabila suatu jamaah mengatakan diri mereka beriman tetapi tidak bisa memahami ayat Allah, maka perkataan mereka itu mungkin hanya perkataan dusta. Negeri mereka akan selalu dalam keadaan yang buruk karena ulah-ulah manusia dan orang beriman tidak bisa memberikan kontribusi perbaikan bagi masyarakat mereka.

Keadaan masyarakat akan ditentukan pada tingkat kebaikan nafs mereka. Perubahan menuju kebaikan bagi masyarakat akan muncul melalui perubahan baiknya nafs mereka. Standar kebaikan nafs itu tidak ditentukan dengan pendapat sendiri, tetapi bagaimana masyarakat dapat memahami tuntunan kitabullah dengan benar. Pada tingkatan yang terbaik, kebaikan itu ditunjukkan dalam indikasi terbentuknya orang-orang sebagai misykat cahaya. Pada derajat yang lebih rendah, kebaikan ditunjukkan oleh orang-orang yang dapat mengenali pengajaran kitabullah yang benar dari orang lain. Mereka mengetahui kebaikan dan tingkat kebaikan dari perkataan yang disampaikan. Orang-orang di masyarakat setidaknya harus dapat mengenali kebaikan dari suatu kebenaran tidak mengabaikan atau memandangnya hina. Hal ini kadang terjadi di masyarakat karena orang memandang rendah orang yang mengatakannya. Setiap orang harus dapat memandang bahwa kebenaran adalah kebenaran dan suatu kebathilan adalah kebathilan, terlepas dari orang yang mengatakannya. Lebih lanjut masyarakat hendaknya berusaha ikut mewujudkan kebenaran setelah mengenalinya, tidak membiarkan berlalu. Orang atau masyarakat yang tidak dapat mengenali suatu kebenaran dari kitabullah yang disampaikan atau diajarkan orang lain adalah orang-orang yang buruk. Keadaan masyarakat tidak akan menjadi baik manakala masyarakat mereka adalah orang-orang yang buruk, dan keadaan akan cenderung mudah menjadi buruk.

Kadangkala orang-orang yang buruk dalam definisi di atas memandang diri mereka sebagai orang-orang yang baik, seperti orang-orang yang mencari kebenaran melalui Abu Al-Hakam. Mereka tidak mengenal bahwa sebenarnya ia adalah Abu jahal, dan karena taklid mereka menolak kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Demikian pula di jaman ini tidak jarang seseorang terwahami dengan pendapat kaum mereka sendiri dan tidak dapat mengenali kebenaran yang sesungguhnya manakala sampai kepada dirinya. Kadangkala seseorang begitu terpesona dengan suatu pendapat yang dijadikan sangat indah hingga tidak dapat memandang kebenaran yang manakala datang kepada mereka. Mereka hanya mengikuti orang lain tanpa mengenal kebenaran atau tanpa keinginan mengenal kebenaran. Mereka tidak mengenali kebenaran yang disampaikan, atau memandang orang yang menyampaikan kebenaran tidak mengerti kebenaran yang disampaikan sedangkan kebenaran hanya dikenal oleh orang yang diikutinya. Mereka itu seperti pengikut Abu Al-Hakam tidak menggunakan akal. Hal demikian ini termasuk kebodohan karena akal tidak digunakan untuk mengenali kebenaran, hanya melakukan taklid kepada manusia. Mereka sebenarnya hanya membeo tidak mengenal kebenaran, dan mungkin mereka tetap akan mengikuti orang lain sekalipun yang diikuti terjerumus dalam jurang.

Standar kebenaran yang harus diikuti untuk memperbaiki kualitas akal manusia adalah tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bukan perkataan dan pendapat seseorang kecuali Rasulullah SAW. Boleh saja manusia mengikuti orang lain dalam kebaikan selama tidak bertentangan dengan Alquran dan Rasulullah SAW, dan itu hal yang baik. Akan tetapi kadangkala manusia berselisih tentang kebenaran. Manakala terjadi suatu perselisihan antara seseorang dengan yang lain, yang lebih mendekati kebenaran adalah orang yang lebih mengikuti tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala masyarakat manusia menentukan kebenaran dalam suatu pertentangan berdasarkan suatu ketinggian kedudukan tertentu secara membuta. Hal itu seringkali keliru. Ibaratnya Iblis dahulu mempunyai kedudukan yang tinggi tetapi ia berpendapat keliru yang menjadikannya hina. Demikian pula manakala manusia menentukan kebenaran berdasarkan ketinggian kedudukan pihak-pihak tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan terjatuh pada kesalahan. Seseorang tidak harus bertindak menentang pihak tertentu karena kesalahan pendapat misalnya kesalahan pemimpinnya, tetapi setiap orang harus tetap memahami bahwa kebenaran adalah perkataan yang mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila suatu kaum mengabaikan kebenaran berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan menjadi bodoh mensia-siakan akal dan tidak dapat berkembang menjadi masyarakat yang baik.

Landasan dasar perbaikan bagi keadaan masyarakat terletak pada pembinaan akal manusia dalam memahami kebenaran mengikuti ayat-ayat Allah. Dari perspektif sebaliknya, sebenarnya mushibah yang terjadi merupakan pemberitahuan tentang keburukan yang seharusnya diperbaiki. Dua pernyataan ini berlaku timbal balik, perbaikan keadaan harus dilakukan dengan perbaikan manusia dan perbaikan manusia akan memperbaiki keadaan. Melakukan usaha-usaha selain memperbaiki keadaan manusia seringkali akan menjebak masyarakat dalam suatu lingkaran masalah yang tidak berujung. Manakala satu bidang diperbaiki, masalah akan muncul dari bidang yang lain. Manakala keadaan manusia diperbaiki hingga masing-masing manusia mengenal kebenaran dari sisi Allah, maka setiap pihak dapat mengatasi masalah pada bidang yang ditanganinya. Mustahil memperbaiki keadaan masyarakat tanpa melakukan perbaikan akal manusia.

Arah Pembinaan

Arah perbaikan yang harus dilakukan bukan sekadar membina orang-orang mengenal kebenaran saja, tetapi hendaknya setiap orang juga dapat menjalankan fungsi dirinya dalam al-jamaah. Proses mengikuti konsep kebenaran seringkali memunculkan perselisihan di antara manusia apabila pembinaan tidak diarahkan untuk menjalankan fungsi diri dalam al-jamaah. Masing-masing pihak memperjuangkan konsep kebenaran yang diyakini sedangkan konsep itu mungkin berbeda-beda maka terjadi perselisihan. Perselisihan itu dapat dikurangi apabila setiap orang berusaha berjamaah, yaitu mengenal fungsi diri dalam urusan amr jami’ Rasulullah SAW. Berjamaah bukan sekadar menyatu bersama orang lain dalam urusan sembarang, tetapi dalam urusan Rasulullah SAW. Dengan al-jamaah, seseorang yang mengenal suatu keping kebenaran tertentu dapat memahami keping kebenaran yang diperoleh orang lain dan setiap pihak dapat bekerja sama untuk mewujudkan cita-cita dalam urusan amr jami’ Rasulullah SAW. Manakala keping kebenaran yang dikenali seseorang secara haq dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak dikenali oleh pihak lainnya, yang tidak mengenali kebenaran itu bukan termasuk dalam golongan al-jamaah.

Peran dalam Al-jamaah itu tergambar dalam pernikahan yang baik, berupa penyatuan orang-orang beriman dalam pelaksanaan urusan Allah. Seorang mukmin harus mengambil urusan dirinya dari urusan Rasulullah SAW bersama-sama dengan mukminin lainnya untuk masuk dalam golongan aljamaah. Hal itu tergambar sebagaimana para isteri diperintahkan mengambil urusan dirinya dari amr suaminya bersama dengan madu-madunya. Peran seorang isteri menolong urusan suaminya bersama dengan madunya menjadi gambaran bagi umat untuk memahami urusan seorang mukmin di antara mukminin dalam urusan Rasulullah SAW. Ada fase pengenalan diri dalam proses menyatukan diri dalam al-jamaah, dan pengenalan diri itu adalah pengenalan kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW bersama al-jamaah, bukan semata berupa penguasaan keahlian pada urusan tertentu dibandingkan orang lain. Millah puncak dari uswatun hasanah nabi Ibrahim a.s adalah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, karenanya pernikahan merupakan indikator konkret pembinaan menuju Al-jamaah.

Masyarakat harus menghindarkan kerusakan dalam pembinaan pernikahan. Kerusakan demikian akan mendatangkan kerusakan yang banyak di masyarakat. Ada hal-hal bersifat prinsip yang harus ditegakkan dan ada cita-cita yang harus diwujudkan. Hal prinsip itu misalnya kelurusan dalam pernikahan, sedangkan penyatuan langkah merupakan cita-cita yang harus dicapai melalui pernikahan. Penyimpangan dalam pernikahan berupa kekejian (al-fakhsya) akan mendatangkan penyimpangan dalam membina kebaikan. Apa yang buruk bisa dipandang menjadi kebaikan, dan apa yang baik justru dipandang sebagai kebaikan. Bila masyarakat mempunyai akal demikian, apa yang mereka usahakan untuk kebaikan bisa jadi justru mengarah kepada kehancuran. Arah yang benar akan terlihat oleh masyarakat apabila mereka menghindarkan kekejian dari kehidupan mereka.

Kerusakan dalam pernikahan juga mendatangkan kerusakan yang banyak karena besarnya urusan pernikahan dalam agama. Seorang laki-laki shalih akan kehilangan dunia mereka manakala isterinya tidak mau melangkah bersama menunaikan amanah Allah, maka dunia mereka tidak memperoleh manfaat dari keutamaan yang dikenali suaminya. Ini merupakan kerugian yang besar. Setiap orang hendaknya berusaha dapat berjalan bersama pasangan menikah untuk mengenali dan menunaikan urusan Allah. Apabila seseorang belum menikah, hendaknya ia berusaha menemukan pasangan untuk menikah, atau masyarakat mencarikan pasangan untuknya tidak membiarkannya terus sendirian. Pernikahan harus dibina agar setiap pihak dapat menyatukan diri dalam urusan Allah. Upaya pemisahan dalam pernikahan sangat disukai syaitan, dan orang yang memisahkan akan sangat disayangi syaitan.

Rabu, 17 Desember 2025

Orang Beriman Memahami Mushibah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang mendapat nikmat Allah. Memperoleh nikmat Allah artinya adalah mereka mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Nikmat Allah dalam bentuk demikian akan diperoleh oleh orang-orang yang memperoleh petunjuk, dan sebagian petunjuk demikian diturunkan Allah melalui mushibah.

﴾۱۱﴿مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS At-Taghaabun : 11)

Dalam kehidupan, setiap orang akan mengalami suatu mushibah, dan tidaklah ada mushibah yang terjadi atas diri setiap manusia kecuali Allah telah mengijinkan hal itu terjadi. Boleh jadi suatu mushibah terjadi melalui berbagai jalan sebab yang dapat dilihat manusia, akan tetapi setiap peristiwa mushibah dapat terjadi hanya atas ijin Allah. Selain  apa yang diijinkan terjadi, Allah juga memberi mushibah kepada manusia tertentu kemudian Dia menjadikan manusia yang diberi mushibah mempunyai pendengaran dan penglihatan terhadap masalah yang menimpa dirinya. Barangkali tidak semua orang yang diberi mushibah kemudian mempunyai bashirah dan pendengaran tentang hal yang menimpa dirinya. Allah akan memberikan petunjuk ke dalam hati orang-orang yang beriman kepada Allah, maka mereka kemudian mempunyai pengetahuanterkait mushibah yang menimpa. Akal yang berkembang pada diri akan menuntun mereka untuk mengenal petunjuk Allah terkait jalan Allah yang harus ditempuh.

Petunjuk itu diberikan ke dalam hati orang yang beriman. Keimanan merupakan tingkatan kedudukan dalam agama yang lebih tinggi dari keislaman. Orang-orang beriman adalah orang-orang islam yang mempunyai pemahaman terhadap berbagai hal yang terjadi atas diri mereka dan semesta diri mereka berdasarkan petunjuk yang diturunkan Allah. Mereka adalah orang-orang yang menegakkan syariat islam dan kemudian memperoleh petunjuk di dalam hatinya. Orang-orang yang tidak melaksanakan syariat-syariat sebagai muslim tidak akan mempunyai hati yang cukup baik untuk memperoleh cahaya keimanan. Tidak semua orang yang melaksanakan syariat agama islam memperoleh cahaya keimanan, tetapi orang yang bisa memperoleh petunjuk yang benar hanyalah orang yang melaksanakan syariat agama islam. Orang yang melaksanakan syariat dengan cara demikian adalah muslimin, sedangkan mukminin adalah orang-orang islam atau muslimin yang memahami mushibah dengan hatinya karena petunjuk yang diturunkan Allah.

Petunjuk dalam ayat di atas merupakan petunjuk yang bersifat khusus terkait dengan mushibah yang terjadi pada orang-orang beriman. Petunjuk yang dimaksud pada ayat di atas adalah petunjuk berupa penjelasan suatu peristiwa yang terjadi berdasarkan hakikat dari sisi Allah atau penjelasan-penjelasan berupa bayinah dari ayat Allah. Penjelasan suatu peristiwa berupa ayat kitabullah dan makna yang terbuka dari ayat tersebut merupakan bentuk petunjuk yang mempunyai tingkat kebenaran paling tinggi. Sebagian mukminin barangkali bisa melihat adanya suatu pengetahuan atau kemunkaran pada suatu peristiwa musibah atas diri mereka hingga mereka dapat menentukan amal yang harus dilaksanakan untuk memperoleh kebaikan dengan mengikuti tuntunan kitabullah maka itu juga merupakan petunjuk. Sebagian muslimin berbangga bahwa mereka adalah orang-orang yang telah mengikuti petunjuk tetapi petunjuk yang mereka masksud sebenarnya masih bersifat umum berupa kesediaan mengikuti syariat-syariat, maka petunjuk demikian bukanlah petunjuk yang dimaksud ayat di atas. Hal demikian menunjukkan bahwa mereka masih di tingkatan muslimin.

Sebagian orang yang mengatakan dirinya beriman berusaha untuk berlapang dada untuk menerima mushibah yang terjadi atas diri mereka tetapi tidak benar-benar mengerti penjelasan mushibah yang terjadi atas diri mereka. Hal ini menunjukkan tingkat keimanan. Orang beriman adalah orang yang memperoleh petunjuk terkait mushibah dirinya. Sebagian orang berusaha membangkit-bangkitkan makna dari peristiwa yang terjadi hanya mengikuti perkataan-perkataan orang saja tanpa berusaha berpegang pada pengetahuan prinsip dari tuntunan ayat-ayat kitabullah. Keimanan demikian mendekati suatu batas kedustaan. Apabila ia mendustakan suatu tuntunan yang benar dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, ia tergelincir pada keimanan yang dusta. Setiap orang beriman harus membangun prinsip-prinsip pengetahuan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW agar dapat memperoleh petunjuk terkait mushibah yang terjadi. Keadaan demikian itulah yang dikatakan beriman dan Allah akan memberikan petunjuk ke dalam hatinya. Orang beriman dapat memahami hakikat suatu mushibah karena Allah memberikan petunjuk terkait mushibah itu ke dalam hatinya. Secara khusus, keadaan beriman ditunjukkan dengan pembentukan diri sebagai misykat cahaya agar dapat memahami petunjuk Allah dengan benar.

Membina keimanan harus dilakukan dengan jalan membina diri sebagai misykat cahaya. Misykat cahaya dapat dilihat gambarannya seperti kamera yang membentuk bayangan nyata dalam diri berdasarkan cahaya objek di luar. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar terbentuk bayangan yang baik di dalam misykat diri seseorang. Misykat diri itu harus rapat tidak boleh bocor cahaya, dibina dengan keikhlasan dalam ibadah kepada Allah semata-mata. Lensa berupa zujajah itu harus dapat diatur fokusnya dengan tepat, dibina dengan penghayatan sifat rahman dan sifat rahim untuk memahami ayat Allah. Manakala tidak terbentuk sifat rahman dan rahim dalam diri seseorang, fokus lensa itu akan membentuk bayangan yang tidak tepat. Bayangan cahaya yang benar dan tepat itu hanya terbentuk dari zujajah yang terbina dalam sifat rahman dan rahim. Cahaya yang dibentuk bayangannya adalah ayat-ayat Allah berupa ayat kitabullah dan ayat yang digelar di alam kauniyah. Apabila seseorang memalingkan diri dari ayat Allah yang ditunjukkan untuk mengikuti pendapat diri mereka sendiri atau perkataan lain, mereka itu tidak memilih ayat Allah yang tepat dan gambar yang dibentuk bukanlah ayat Allah.

Pembinaan diri sebagai misykat cahaya harus ditempuh melalui jalan tazkiyatun-nafs dan seterusnya sebagai bagian dari langkah taubat kepada Allah. Hati sebagai lokus petunjuk tidak boleh dalam keadaan kotor ataupun bersifat keras tanpa mengenal sifat baik. Setiap orang yang berusaha untuk mempelajari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan jalan yang paling baik hendaknya mereka menempuh langkah tazkiyatun-nafs. Sebaliknya apabila seseorang menempuh langkah tazkiyatun-nafs, hendaknya mereka memahami bahwa tujuan tazkiyatun-nafs adalah untuk memahami ayat Allah sesuai tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan untuk semata suci diri saja. Tazkiyatun-nafs dan pembinaan misykat cahaya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Menghindari Ibadah di Tepian

Membina diri sebagai misykat cahaya dalam upaya memahami firman-firman Allah akan menjadikan manusia sebagai hamba Allah yang mempunyai pijakan kokoh. Apabila tidak membina diri sebagai misykat cahaya, seseorang mungkin menghamba kepada Allah dengan berada di tepian. Apabila memperoleh kebajikan, mereka tetap dalam keadaan ibadahnya. Jika suatu fitnah terjadi atas diri mereka, mereka membalikkan wajah dari ibadah kepada Allah. Keadaan demikian akan menjadikan diri mereka rugi di dunia dan di akhirat dengan kerugian yang nyata.

﴾۱۱﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS Al-Hajj : 11)

Banyak di antara kaum muslimin yang membina diri mereka sebagai hamba Allah tanpa mengetahui jalan untuk menjauh dari tepi zona ibadah. Jalan itu adalah membina diri sebagai misykat cahaya sedemikian seseorang mempunyai pengetahuan tentang cahaya Allah melalui bayangan kehendak Allah yang terbentuk dalam dirinya. Tanpa membentuk misykat cahaya, seseorang pada dasarnya menyembah Allah di tepian. Ada orang-orang yang terseret dari tepian menuju kesesatan, dan ada yang tetap beribadah di tepian saja.

Membentuk misykat cahaya sangat penting dilakukan agar seorang hamba dapat mengenal Allah dengan benar. Ada di antara muslimin yang membuat suatu profil tentang Allah dengan pikiran mereka berdasarkan perkataan manusia dan ketentuan-ketentuan yang mereka susun sendiri sedangkan struktur diri mereka tidak dibina untuk dapat membentuk bayangan cahaya Allah. Mereka menyembah profil yang mereka susun tentang Allah. Mereka menyangka bahwa melayani profil dalam pikiran mereka adalah penghambaan yang sebenarnya kepada Allah. Ini termasuk beribadah kepada Allah di tepian. Hal ini tentulah sangat disayangkan karena tidak menjadikan muslimin memahami kehendak Allah hingga tidak dapat menjadikan mereka sebagai orang yang sungguh-sungguh menghamba kepada Allah menjadi pelayan yang benar bagi kehendak-Nya.

Kaum khawarij merupakan sebagian contoh dari orang-orang yang menyembah Allah di tepian dan terseret menuju kesesatan. Mereka sangat memperhatikan syariat hingga bakal membuat kagum para sahabat apabila sahabat nabi masih hidup, akan tetapi akhlak mereka tidak menjadi baik karena syariat ibadah mereka. Mereka banyak membaca tuntunan kitabullah dan membicarakan perkataan orang-orang shalih terdahulu akan tetapi bacaan itu tidak melampaui kerongkongan menuju dada untuk menjadikan akhlak menjadi mulia. Yang terjadi, mereka justru terlempar jauh dari apa yang menjadi tauladan Rasulullah SAW. Akhlak mereka buruk dengan berbangga-bangga tentang kebenaran syariat yang mereka perjuangkan tanpa memahami tauladan Rasulullah SAW membentuk akhlak mulia untuk menjadi hamba Allah yang melaksanakan amal shalih dengan memahami kehendak Allah. Mereka membanggakan pemahaman terhadap perkataan para pendahulu tanpa membentuk akhlak mulia, dan kebanggaan mereka itu menjadikan mereka membuat keonaran di antara umat Rasulullah SAW. Mereka memperbaiki tatacara bersyariat sesuai dengan contoh-contoh yang Rasulullah SAW ajarkan dan orang-orang terdahulu tetapi sebenarnya ada pihak di antara mereka yang berkepentingan menimbulkan permusuhan di antara umat Rasulullah SAW dengan tuduhan syirik, bid’ah, khurafat dan lain sebagainya, tidak berkeinginan menumbuhkan persaudaraan dengan mengikuti tauladan Rasulullah SAW. Kaum khawarij itu akan selalu ada hingga khalifatullah Al-Mahdi a.s diutus ke dunia, bukan hanya kaum yang dahulu pernah memberontak kepada khalifah di antara khulafa’ ar-rasyidin.

Contoh lain para penyembah Allah di tepian dan terseret pada kesesatan adalah para ahli bid’ah. Para ahli bid’ah adalah para penyembah Allah yang tidak memperhatikan tuntunan Allah hingga mereka mengerjakan suatu urusan bagi kaum mukminin tanpa menimbang urusan yang mereka lakukan dengan tuntunan ayat-ayat kitab Allah. Mereka menginginkan menjadi hamba Allah tetapi manakala suatu bisikan datang, mereka mengikuti bisikan menyangka bahwa ada suatu urusan yang baru diturunkan Allah kepada diri mereka tanpa berusaha mengetahui kedudukan urusan yang harus dikerjakannya dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bisikan itu kadangkala benar, tetapi kesalahan yang terselipkan jauh lebih merusak dibandingkan nilai kebaikan yang dikandung dalam bisikan itu. Bisa saja tidak ada nilai kebaikan dalam bisikan yang diberikan tetapi mereka menganggap bisikan itu baik karena tidak mempunyai bentukan akhlak mulia yang memadai untuk mengenali keburukan yang terkandung di dalamnya. Tidak jarang umat Rasulullah SAW harus menanggung kesulitan karena para ahli bid’ah yang menyebabkan kesulitan-kesulitan tanpa

Bid’ah merupakan wujud dari bayangan urusan yang terbentuk pada misykat diri seseorang yang berasal dari selain cahaya Allah. Hal ini terkait dengan proses pembinaan misykat, yaitu manakala suatu misykat tidak dibuat kedap cahaya, maka bayangan yang dapat terbentuk pada misykat itu tidak murni bayangan dari cahaya Allah. Tidak boleh ada lubang misykat yang dapat dilewati cahaya kecuali hanya pada lubang yang seharusnya diarahkan kepada cahaya ayat-ayat Allah. Lubang tembus cahaya itu harus benar-benar diarahkan menuju ayat-ayat Allah terutama yang sedang digelar, dan kemudian fokus zujajah itu diarahkan untuk membentuk bayangan kehendak Allah. Apabila seseorang atau suatu kaum tidak memperhatikan ayat Allah hanya memperhatikan perkataan manusia saja atau hal lain, mereka tidak akan dapat membentuk bayangan kehendak Allah dan hanya memahami perkataan manusia saja. Suatu kaum bid’ah terbentuk dari orang-orang yang menjunjung urusan yang berasal dari bayangan urusan selain dari cahaya Allah.

Petunjuk Allah akan diturunkan ke dalam hati orang-orang yang beriman melalui mushibah yang terjadi atas diri mereka. Barangkali itu adalah bentuk dasar petunjuk yang menjadikan seseorang yang beriman dapat memahami ayat Allah terkait diri mereka. Petunjuk itu menjadikan orang beriman memahami kauniyah yang terjadi pada semesta mereka. Apabila seseorang tidak bertambah pengetahuannya terhadap kehendak Allah melalui kauniyah manakala suatu mushibah terjadi, mereka sangat mungkin tidak memperoleh petunjuk. Ada orang-orang yang membuat-buat diri mereka seolah paham terhadap hikmah tetapi sebenarnya hanya mengikuti suatu indoktrinasi yang tidak dipahaminya, sedangkan pengetahuannya tentang kehendak Allah tidak bertambah sedikitpun dengan ayat Allah yang terjadi. Ada orang yang bertambah pengetahuannya terhadap mushibah tetapi pengetahuan yang keliru. Ada orang yang berulang-ulang terjebak dalam berbagai kesukaran mushibah karena kesalahan sendiri tetapi tidak pernah memahami hakikat mushibah yang menimpa dirinya Hal itu menunjukkan seseorang belum menerima petunjuk. Orang-orang yang beriman dengan benar akan memperoleh tambahan pengetahuan terhadap kehendak Allah melalui kauniyah berupa mushibah, pengetahuan dengan landasan yang kokoh berupa tuntunan ayat-ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Pengetahuan yang benar terhadap nilai mushibah berlandaskan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ini merupakan contoh dari bayangan cahaya Allah yang harus dibentuk dalam misykat diri seseorang. Pengetahuan demikian akan menggerakkan seseorang dari penyembah Allah di tepian menuju penyembahan yang lebih sungguh-sungguh kepada Allah karena memahami dengan benar kehendak Allah. Kaum khawarij akan menarik orang-orang yang menyembah Allah di tepian untuk mengikuti golongan mereka berbangga-bangga dengan kebenaran pikiran mereka. Sekalipun kebenaran mereka disusun berdasarkan firman Allah, kebanggaan mereka itu bukanlah nilai yang diajarkan Rasulullah SAW. Kebanggaan itu hanya akan melemparkan mereka jauh dari islam. Para ahli bid’ah akan menyimpangkan ibadah kepada Allah menuju suatu urusan yang tidak dapat dipahami kebaikannya oleh umat nabi Muhammad SAW. Tidak jarang urusan yang mereka kerjakan itu menghancurkan umat nabi Muhammad SAW tanpa mereka memahami kerusakan yang terjadi.



Minggu, 14 Desember 2025

Mensyukuri Petunjuk Jalan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang mendapat nikmat Allah. Memperoleh nikmat Allah artinya adalah mereka mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Nikmat Allah bukanlah bentuk-bentuk kekayaan atau perhiasan dunia saja, tetapi utamanya adalah pengetahuan tentang jalan yang ditentukan Allah bagi dirinya. Adapun melimpahnya kekayaan atau perhiasan dunia merupakan oleh-oleh yang mungkin akan diperoleh manakala seseorang menempuh jalan yang ditentukan.

﴾۲﴿إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا
﴾۳﴿إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
(2)Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.(3)Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS Al-Insaan : 2-3)

Setiap orang harus berusaha bersyukur kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari dengan berusaha menjalani bentuk kehidupan yang mendatangkan kebaikan, tidak bertindak selalu mencari keuntungan bagi diri sendiri saja. Setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan kehidupan yang harus ditentukan berdasarkan nilai kebaikan yang dihasilkan, dan Allah memberikan petunjuk kepada setiap orang tentang jalan yang seharusnya dipilih. Orang yang menentukan pilihan berdasarkan nilai kebaikan yang dapat diberikan adalah orang-orang yang bersyukur, sedangkan orang yang bersikap mencari untung sendiri seringkali terjatuh sebagai orang yang kufur. Kemakmuran bagi masyarakat luas akan diperoleh oleh masyarakat yang dapat bersyukur dalam menentukan pilihan-pilihan kehidupan mereka, dan kesulitan akan menimpa masyarakat yang tidak dapat bersyukur. Tidak jarang masyarakat yang tidak bersyukur dipimpin oleh orang-orang yang paling jahat di antara mereka hingga orang-orang jahat itu menikmati kehidupan di atas penderitaan masyarakatnya.

Kebersyukuran seseorang akan mengantarkan diri mereka menuju nikmat Allah berupa shirat al-mustaqim, yaitu suatu jalan yang harus ditempuh seseorang untuk menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Mereka adalah orang yang mempunyai bashirah dan pendengaran untuk memahami ayat-ayat Allah. Bashirah dan pendengaran itu akan menjadikan seseorang dapat mendengar dan melihat petunjuk Allah tentang jalan yang harus ditempuh, dari petunjuk yang bersifat kilasan petunjuk yang apabila disyukuri akan terbentuk petunjuk yang membukakan suatu hakikat dari sisi Allah tentang kauniyah yang terjadi di alam bumi. Semua itu adalah petunjuk menuju jalan Allah. Manakala seseorang memperoleh petunjuk berupa hakikat dari suatu kauniyah di bumi, ia memperoleh petunjuk jalan yang lurus atau shirat al-mustaqim.

Bala’ Membangkitkan Kepedulian

Allah menimpakan bala’ kepada manusia kemudian Dia menjadikan manusia yang diberi bala’ mempunyai pendengaran dan penglihatan terhadap masalah yang menimpa dirinya. Tidak jarang pendengaran dan bashirah diberikan Allah kepada manusia melalui bala’ agar manusia mempunyai keahlian dalam masalah bala’ yang menimpa dirinya. Barangkali tidak semua orang yang diberi bala’ kemudian mempunyai bashirah dan pendengaran tentang hal yang menimpa dirinya apabila dia kufur karena bala’ itu. Apabila ia bersabar dengan bala’ itu, ia akan diberi bashirah dan pendengaran hingga dapat memperoleh pengetahuan tentang bala’ yang menimpa apabila Allah menghendaki. Kadangkala suatu bashirah atau pendengaran tidak bersifat membina keahlian tetapi berbentuk peringatan agar seseorang bersikap benar. Suatu bala’ atas diri seseorang kadangkala datang karena kesalahan yang dilakukan oleh orang tersebut, maka bala’ itu mendatangkan suatu bashirah dan pendengaran akan tetapi berupa peringatan agar seseorang tidak terus berada pada keadaan yang mendatangkan bala’ tersebut.

Kesabaran dalam menanggung bala’ harus dilakukan hingga seseorang mempunyai bashirah dan pendengaran tentang bala’ tersebut. Banyak orang mengatakan bahwa dirinya ridha ketika ia menerima ujian karena semua hal yang menimpa dirinya datangnya dari Allah. Keadaan demikian mungkin saja bukan sikap yang sempurna terhadap ujian dari Allah. Kesempurnaan sikap ridha menerima ujian itu adalah manakala seseorang mempunyai pengetahuan tentang masalah yang menimpa dirinya dari pendengaran dan bashirah yang diberi. Orang yang mengatakan bahwa semua hal atas dirinya datangnya dari Allah belum tentu sebenarnya bersikap ridha dengan ujian itu. Mungkin ada di antara orang demikian hanya membeo terhadap perkataan yang diajarkan orang lain kepada dirinya sedangkan hatinya boleh jadi tidak benar-benar lapang dengan ujian yang diberikan. Sebagian orang mengatakan demikian dan sungguh-sungguh berusaha merasa lapang dan ridha dengan ujian yang diberikan. Bukan hal yang salah untuk bersikap demikian, tetapi hendaknya perkataan itu tidak menjadi hijab yang menahan untuk melangkah lebih memahami masalah. Keahlian dalam bentuk bashirah dan pendengaran dalam masalah ujian yang datang itu lebih tepat menjadi indikator keridhaan seseorang terhadap ujian Allah.

Pernyataan di atas tidak dapat digunakan untuk menghukumi bahwa seseorang yang tidak mempunyai bashirah ataupun pendengaran tentang mushibah yang menimpa adalah orang yang tidak ridha dengan ujian. Sama sekali tidak demikian. Allah-lah yang menjadikan seseorang itu mempunyai bashirah dan pendengaran, bukan usaha manusia itu sendiri. Kadangkala seseorang tersibukkan dengan banyak urusan yang harus dikerjakan hingga ia tidak memperhatikan ujian yang menimpa dirinya, sedangkan ia tidak merasa kecewa karena ujian itu. Karena merasa ringan saja terhadap ujian itu, ia tidak memperoleh bashirah dan pendengaran tentang ujiannya. Ini barangkali bukan sikap yang tepat, tetapi bukan suatu bentuk kekufuran. Apabila seseorang merasa ridha, ia seharusnya bersikap memperhatikan ujian yang ditimpakan kepada dirinya hingga ia memperoleh bashirah dan pendengaran tentang masalah ujiannya. Seharusnya tingkat kesibukannya dikurangi hingga ia dapat memperhatikan masalah ujiannya hingga Allah memberikan bashirah dan pendengaran tentang ujiannya, terutama kesibukan-kesibukan yang mungkin sebenarnya hanya memperturutkan hawa nafsu. Kehidupan modern dewasa ini cenderung menjebak manusia dalam banyak kesibukan hingga manusia tidak memperhatikan ujian yang datang dari sisi Allah.

Keahlian berupa bashirah dan pendengaran yang terbentuk melalui ujian yang diberikan Allah bersifat lebih haq daripada pengetahuan yang dikejar berdasarkan keinginan diri sendiri. Dewasa ini kebanyakan manusia belajar dengan sungguh-sungguh untuk mengejar cita-cita, atau sebagian orang berusaha mengenali diri dengan belajar mengikuti dorongan dalam diri. Sebenarnya cita-cita ataupun pengenalan seseorang terhadap hawa nafsu sendiri itu tidak mendatangkan bashirah ataupun pendengaran sekuat kebersyukuran dalam menerima mushibah. Boleh jadi akan sangat banyak ilusi ataupun tipuan-tipuan yang datang kepada orang-orang yang membina bashirah dengan mengejar cita-cita sendiri ataupun hawa nafsu, karenanya seseorang perlu berhati-hati membangun bashirah dan pendengaran dengan cara demikian. Allah menjelaskan bahwa Dia akan memberikan bashirah dan pendengaran kepada seseorang melalui ujian.

Bentuk ujian itu kadangkala bukan ujian yang menimpa diri sendiri, akan tetapi ujian yang menimpa masyarakat. Ujian demikian juga sangat berguna dalam membangun bashirah dan pendengaran, dan tidak sia-sia apabila seseorang membina bashirah dan pendengaran melalui mushibah yang terjadi pada kaumnya. Menghadapi mushibah bersama dengan kaum merupakan sarana membentuk kasih sayang di antara masyarakat maka membina bashirah dan pendengaran bersama dengan kaum akan menjadi bashirah dan pendengaran yang benar. Ilusi ataupun tipuan yang datang pada pembinaan bashirah dan pendengaran dengan cara demikian akan lebih sedikit hingga dapat menjadi jalan membina bashirah dan pendengaran yang lebih selamat. Walaupun mungkin lebih sedikit, setiap orang tetap harus berhati-hati terhadap ilusi dan tipuan yang mungkin muncul dalam bashirah dan pendengaran. Pendengaran dan bashirah yang benar yang menyertai suatu ujian hendaknya digunakan untuk memahami kehendak Allah dengan akal.

Ada banyak kualitas bashirah yang bisa diterima oleh seseorang yang mempengaruhi petunjuk. Kadangkala seseorang memperoleh bashirah dan pendengaran dengan jalan meniru apa-apa yang sampai kepada orang lain, maka pendengaran dan bashirah demikian seringkali bersifat lemah. Seringkali orang-orang demikian memperolehnya karena obsesi terhadap apa yang diceritakan oleh orang lain, bukan suatu bashirah dan pendengaran yang muncul dari bala’ yang diberikan kepada mereka. Kelemahan pada hal demikian terletak pada nafs, bukan semata benar atau tidaknya bashirah dan pendengaran. Tanda lemahnya adalah seringkali orang demikian lebih suka bercerita kepada orang lain tentang bashirah dan pendengaran mereka daripada memastikan kebenarannya dari sumbernya yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka kurang membutuhkan kebenaran tetapi lebih membutuhkan pengakuan terhadap konsep kebenaran dirinya. Bashirah dan pendengaran demikian bukan dasar yang cukup kuat untuk memahami kehendak Allah. Bashirah dan pendengaran yang paling kuat adalah pendengaran dan bashirah yang diberikan melalui ujian, dan itu dapat mengantarkan seseorang untuk memahami ayat-ayat Allah secara sinergis baik ayat kauniyah ataupun ayat kitabullah.

Bersyukur Terhadap Petunjuk Allah

Bashirah dan pendengaran yang diberikan kepada seseorang akan menjadikan penguat bagi akal mereka. Akal yang berkembang pada diri seseorang akan menuntun mereka untuk mengenal petunjuk Allah terkait jalan Allah yang harus ditempuh. Jalan yang merupakan petunjuk Allah adalah jalan yang menyatukan umat manusia pada urusan Allah untuk membangkitkan kebaikan-kebaikan di antara umat manusia, dan hal itu dapat dimengerti oleh orang-orang yang menggunakan akalnya dengan benar. Tanpa akal, mustahil seorang manusia dapat mengenali petunjuk Allah. Manakala suatu jalan membangkitkan keburukan-keburukan di antara manusia, jalan itu bukanlah dari petunjuk Allah yang diturunkan kepada manusia. Adapun petunjuk-petunjuk yang datang bukanlah petunjuk dari Allah.

Suatu bashirah atau pendengaran kadangkala tampak bertentangan dengan persepsi seseorang terhadap realitas. Bashirah dan pendengaran yang demikian harus disikapi dengan benar, karena ia bisa menyesatkan atau bersifat membongkar waham manusia. Seseorang yang menerima bashirah atau pendengaran demikian harus meneliti apakah itu merupakan petunjuk yang bermanfaat untuk membongkar waham atau merupakan suatu bashirah dan pendengaran yang menyesatkan. Setiap bashirah dan pendengaran yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW adalah bahan petunjuk menyesatkan. Di sisi lain, tidak jarang manusia terkurung dalam suatu waham yang keliru hingga harus diperbaiki dengan suatu bashirah dan pendengaran tertentu. Bashirah dan pendengaran demikian dapat membongkar pemahaman yang keliru mulai dari konsep fundamentalnya hingga masalah terinci, atau memperbaiki informasi tertentu saja.

Misalnya seseorang tidak menyukai sesuatu tetapi kemudian memperoleh suatu bashirah atau pendengaran tertentu yang ia harus berusaha menyukai sesuatu yang tidak disukainya itu. Mengubah cara bersikap demikian kadangkala harus dilakukan dengan mengubah banyak pengetahuan dalam dirinya, tidak bisa dilakukan hanya dengan mengubah rasa suka atau tidak suka. Bahkan pengubahan sikap itu kadangkala tidak cukup dilakukan hanya dengan mengubah susunan pengetahuan dalam diri saja, tetapi harus dilakukan dengan mengubah keadaan masyarakatnya. Suatu masyarakat yang terkungkung dalam waham yang salah kadangkala mempertahankan informasi yang salah dan memaksakannya berlaku secara umum, maka bashirah dan pendengaran seseorang yang benar pada diri seseorang hanya dapat diikuti manakala waham dalam masyarakat diubah mengikuti tuntunan yang benar. Seseorang yang mempunyai bashirah dan pendengaran yang telah menjadi petunjuk tertentu menuju jalan Allah kadangkala tidak dapat mengikuti jalan itu kecuali setelah melakukan pengubahan waham pada masyarakat, dan waham itu mengunci masyarakat pada kegelapan jauh dari petunjuk kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Bashirah dan pendengaran yang bersifat demikian hendaknya benar-benar dipahami kebaikannya bagi masyarakat luas. Seseorang tidak perlu berkeinginan untuk menjadi tokoh pengubah pemahaman masyarakat dengan mengharapkan petunjuk yang bersifat menentang cara pikir orang banyak. Apabila seseorang memperoleh bashirah dan pendengaran yang sifatnya membongkar waham, hendaknya ia benar-benar memahami terlebih dahulu kebaikan dari bashirah dan pemahamannya itu tidak menggunakannya secara sembarangan untuk menentang masyarakat. Ia harus mengerti terlebih dahulu pentingnya makna pengubahan pemahaman itu terhadap dirinya sendiri, dan apabila dipandang bermanfaat bagi masyarakat luas maka ia hendaknya menyampaikan pemahamannya dengan cara yang baik, menghindari keinginan untuk dipandang sebagai pengubah paradigma masyarakat.

Apabila seseorang telah menemukan bashirah itu sebagai petunjuk menuju jalan Allah, hendaknya ia bersyukur dengan mengikuti petunjuk tersebut. Dalam keadaan tertentu bersyukur bukan hal yang mudah dilakukan di mana setiap pihak mungkin saja menghalangi jalan untuk menunaikan petunjuk jalan itu. Tidak semua kebenaran itu bisa serta merta diterima oleh masyarakat umum. Seringkali manusia tidak dapat memahami petunjuk Allah yang diturunkan kepada salah seorang di antara mereka karena mengikuti waham diri sendiri ataupun mengikuti bisikan-bisikan syaitan dan kemudian berusaha menghalangi seseorang untuk mensyukuri petunjuk Allah dengan usaha yang sangat keras. Mereka mungkin saja berusaha menghalangi hingga merusak segala hal yang mendukung terlaksananya rasa syukur itu, terutama apabila syaitan mempunyai jalan untuk menimbulkan kerusakan. Manakala seseorang dalam keadaan demikian, hendaknya ia menghitung potensi-potensi kerusakan yang mungkin ditimbulkan apabila ia berusaha mengikuti petunjuknya, dan mencari jalan bersyukur yang paling kecil kemungkinan kerusakannya. Apabila petunjuk itu bisa dilaksanakan dengan mudah, hendaknya mereka tidak bersikap kufur terhadap petunjuk jalan Allah tersebut dengan mengikuti petunjuk Allah.



Selasa, 09 Desember 2025

Bersyukur Untuk Nikmat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang mendapat nikmat Allah. Memperoleh nikmat Allah artinya adalah mereka mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Nikmat Allah bukanlah bentuk-bentuk kekayaan atau perhiasan dunia saja, tetapi utamanya adalah pengetahuan tentang jalan kehidupan yang ditentukan Allah. Adapun melimpahnya kekayaan atau perhiasan dunia merupakan oleh-oleh yang mungkin akan diperoleh manakala seseorang menempuh jalan yang ditentukan.

Memperoleh oleh-oleh ataupun tidak memperolehnya bukanlah sesuatu yang dipikirkan oleh orang-orang yang mengharapkan nikmat Allah. Mereka hanya mengharapkan untuk memperoleh petunjuk tentang jalan yang ditentukan bagi diri mereka berupa jalan yang lurus, dan dapat melaksanakan petunjuk jalan kehidupan sesuai yang ditentukan Allah. Ini adalah kebersyukuran, dan orang yang mengharapkan nikmat Allah sangat berharap untuk dapat bersyukur. Orang-orang yang dapat bersyukur terhadap nikmat Allah akan memperoleh oleh-oleh dalam berbagai bentuk termasuk harta kekayaan duniawi. Sayangnya syaitan telah bersumpah akan menghalangi manusia dengan sungguh-sungguh hingga sangat sedikit manusia yang dapat bersyukur, sekalipun mungkin mereka mengharapkannya.

﴾۷﴿وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim : 7)

Allah menyiarkan kepada makhluk bahwa apabila seorang makhluk bersyukur niscaya Dia akan menambahkan nikmat kepadanya, dan sebaliknya apabila makhluk kufur terhadap nikmat Allah, mereka akan menghadapi adzab yang sangat pedih. Orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang melaksanakan jalan kehidupan yang ditentukan, sedangkan orang yang kufur adalah orang-orang yang tidak menginginkan jalan kehidupan yang ditentukan Allah sedangkan ia menginginkan yang lain. Tidak semua orang yang tidak bersyukur adalah orang yang kufur. Ada orang-orang yang tidak dapat bersyukur karena syaitan menghalangi langkahnya untuk bersyukur, sedangkan ia tidak ingin kufur. Apabila ia senang ditipu syaitan untuk memilih jalan yang kufur, ia termasuk orang yang kufur.

Ayat di atas terkait dengan diutusnya nabi Musa a.s untuk memimpin kaumnya untuk keluar dari kegelapan negeri mesir yang menghimpit bani Israel menuju tanah yang dijanjikan di tanah Kanaan. Perjalanan itu sebenarnya merupakan tauladan bagi manusia bahwa sebenarnya setiap manusia mempunyai tanah yang dijanjikan berupa jati diri penciptaannya, dan setiap orang hendaknya keluar dari kegelapan kehidupan dunia menuju tanah yang dijanjikan. Di tanah yang dijanjikan itulah terdapat nikmat Allah yang akan menumbuhkan kebersyukuran manusia menjadi bentuk-bentuk kemakmuran hingga kemakmuran duniawi. Perjalanan seperti bani Israel demikian merupakan fragmen bagian dari perjalanan nabi Ibrahim a.s ke tanah suci untuk membentuk bayt. Islam mencontohkan perjalanan demikian dalam bentuk pernjalanan menuju tanah suci untuk berhaji ke bayt sebagaimana millah nabi Ibrahim a.s. Tanah suci atau tanah yang dijanjikan itu adalah tempat nikmat Allah akan diketahui seseorang.

Kebersyukuran terhadap Allah tidak hanya diperintahkan kepada orang-orang yang mengenal nikmat Allah. Setiap orang harus berusaha bersyukur kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari dengan berusaha menjalani bentuk kehidupan yang mendatangkan kebaikan, tidak bertindak pragmatis selalu mencari keuntungan bagi diri sendiri saja. Dewasa ini barangkali sangat sulit menemukan orang yang mengenal nikmat Allah, akan tetapi sebenarnya setiap orang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan kehidupan yang harus ditentukan pilihannya berdasarkan nilai kebaikan yang dihasilkan. Hal itu juga merupakan media bersyukur, bukan hanya berbentuk nikmat berupa shirat al-mustaqim. Kemakmuran bagi masyarakat luas akan diperoleh oleh masyarakat yang dapat bersyukur dalam menentukan pilihan-pilihan kehidupan mereka, dan kesulitan akan menimpa masyarakat yang tidak dapat bersyukur. Tidak jarang masyarakat yang tidak bersyukur dipimpin oleh orang-orang yang paling jahat di antara mereka hingga orang-orang jahat itu menikmati kehidupan di atas penderitaan masyarakatnya.

Kebersyukuran masyarakat umum itu hendaknya diarahkan untuk mengenal nikmat Allah yang sebenarnya. Allah menurunkan gambaran nikmat Allah itu hingga dalam bentuk kehidupan yang paling umum di alam dunia, sedemikian setiap orang mampu belajar mensyukuri nikmat Allah berdasar gambaran nikmat Allah yang dijumpai dalam kehidupan dirinya. Bentuk yang paling menggambarkan nikmat Allah dalam kehidupan umum adalah pemilihan jodoh yang tepat. Perempuan(-perempuan) tertentu merupakan bagian diri seorang laki-laki yang diturunkan (dan dipisahkan) dari dirinya. Setiap orang mempunyai bagian diri yang diturunkan dari dirinya di alam semesta yang dipisahkan dari dirinya, dan bagian pertama yang diturunkan itu berbentuk perempuan yang seharusnya menjadi isterinya. Para perempuan itu membawa pula bagian-bagian bagi diri mereka dari alam dunia layaknya telur yang dapat dilahirkan sebagai anak-anak setelah dibuahi. Manakala seseorang dapat bersyukur dalam memilih jodoh menikahnya, ia akan memperoleh jalan yang lapang untuk mengenal nikmat Allah.

Setiap orang hendaknya bersikap secara tepat terhadap hubungan dirinya dengan semesta yang tumbuh mengikuti pernikahan. Ia harus bersungguh-sungguh dalam pergaulannya dengan semesta dirinya baik isterinya, pekerjaan yang diperoleh dan segala sesuatu yang tumbuh dalam kebersamaan mereka. Kesungguh-sungguhan itu akan mendatangkan pemakmuran bagi alam duniawi mereka. Kebutuhan jasmani akan terpenuhi dengan aspek ragawi yang terkumpul dari penyatuan nafs wahidah, dan kebutuhan pengetahuan akan terpenuhi dengan ketakwaan dalam penyatuan nafs wahidah. Hal demikian tidak boleh dipandang sebagai sikap mempertuhankan pekerjaan ataupun jalan-jalan duniawi yang ditempuh, tetapi sebagai sikap mensyukuri keberpasangan yang ditetapkan Allah bagi dirinya baik dalam bentuk isteri, amal-amal duniawi yang harus ditunaikan ataupun harta benda duniawi yang harus dikelola. Manakala seseorang bersikap tidak menghormati keberpasangan dirinya, kehidupan dunia akan menjadi berantakan. Kesulitan dalam keberpasangan yang baik harus dihadapi dengan baik tidak boleh ditinggalkan karena merupakan bentuk kebersyukuran terhadap bagian diri.

Syukur, Pasangan dan Pemakmuran

Tumbuh berkembangnya alam bumi terjadi di antaranya melalui keberpasangan di antara para makhluk, dan ini merupakan bentuk pertumbuhan yang paling menonjol. Keberpasangan di antara para makhluk di bumi merupakan suatu wadah bagi limpahan kekuatan yang hendak Allah perkenalkan kepada makhluk agar mereka mereka mengenal Allah. Makhluk diberi limpahan kekuatan secara terbatas menumbuhkan milik Allah agar mereka mengetahui kekuatan besar Sang Maha Pemberi. Batasan limpahan kekuatan itu dapat dilihat melalui keberpasangan, bahwa karunia itu hanya berlaku pada urusan-urusan yang tepat bersama pasangannya. Manakala makhluk mengetahui adanya suatu perkembangan karena suatu interaksi keberpasangan, mereka akan mampu mengetahui bahwa seluruh dinamika di alam semesta terjadi karena suatu sebab bukan terjadi dengan sendirinya.

﴾۶۳﴿سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
Maha Suci (Tuhan) yang telah menciptakan berpasang-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS YaaSiin : 36)

Pemakmuran bumi dapat dilakukan manusia melalui keberpasangan yang tepat, terutama dimulai dengan keberpasangan nafs mereka sendiri. Nafs manusia diciptakan dengan membawa khazanah Allah secara parsial dan berpasangan, berupa pengetahuan tentang kehendak Allah pada nafs laki-laki dan khazanah duniawi pada nafs perempuan. Keberpasangan nafs manusia itu berhubungan dengan keberpasangan makhluk yang tumbuh di bumi ataupun keberpasangan dalam hal-hal yang tidak diketahui manusia. Mempertemukan kepingan-kepingan nafs yang mempunyai khazanah yang berpasangan dengan tepat ataupun dengan baik dalam suatu wadah pernikahan akan membuka suatu perkembangan yang besar di bumi, dan hal itu akan mendatangkan pemakmuran yang besar dengan tumbuhnya makhluk bumi dengan keberpasangannya. Manakala nafs-nafs mengejar hawa nafsu saja dalam membentuk pernikahan, bentuk-bentuk pemakmuran yang akan tumbuh banyak berbentuk pemenuhan-pemenuhan hawa nafsu saja bukan pemakmuran yang menyentuh pengenalan kepada Allah.

Orang-orang yang bersyukur dengan keberpasangan mereka akan mendatangkan pemakmuran di alam dunia, dan sebaliknya orang-orang yang kufur akan mendatangkan kerusakan yang besar. Suatu keberpasangan yang tepat akan mendatangkan potensi pemakmuran yang sangat besar bagi alam bumi mereka, akan tetapi potensi demikian dapat mengarah pada berbagai keadaan. Potensi itu dapat terwujud secara nyata di alam dunia apabila kedua pihak berpasangan dapat bersinergi dengan baik untuk urusan yang ditentukan bagi mereka. Manakala salah satu atau kedua pihak bersikap kufur, potensi itu akan sulit terwujud di alam dunia dan tidak jarang justru mendatangkan kerusakan. Kadangkala suatu potensi pemakmuran terlahir ke alam dunia akan tetapi dalam bentuk yang tidak menyenangkan harus dibina dengan baik untuk terwujud sebagai pemakmuran.

Sikap kufur akan mendatangkan kerusakan di antara masyarakat. Konsep yang salah tentang keberpasangan dapat memunculkan sikap-sikap kufur yang dapat merusak tatanan umat manusia dan merusak suatu bangsa. Setiap orang harus membangun pemahaman yang benar dan berusaha bersikap mengikuti pemahaman yang benar tidak bersikap semau sendiri agar tidak terjatuh pada kekufuran. Setiap orang harus membina pemahaman yang benar tentang nafs wahidah dan keberpasangannya serta turunan-turunannya sebagai landasan untuk mewujudkan ketakwaan kepada Allah. Ketakwaan demikian itu akan melahirkan tatanan yang manusia yang benar membentuk masyarakat madani, membangun kebersyukuran dan menghindarkan seseorang bersikap kufur tanpa menyadarinya. Tanpa landasan yang benar tentang pengetahuan diri, tidak akan terbentuk tatanan manusia yang cukup baik untuk membangun masyarakat yang beradab.

Setiap orang harus berusaha untuk bersyukur terkait diri mereka dengan berusaha bertindak sesuai dengan tuntunan Allah tidak mengikuti hanya keinginan syahwat dan hawa nafsu sendiri. Dalam hal pasangan, apabila seseorang memperoleh kemampuan mengenali kesatuan nafs wahidah dirinya pada pasangannya, hendaknya ia berusaha untuk mensyukuri dengan berusaha membangun pernikahan bersama orang tersebut kecuali bila syaitan mempunyai jalan mendatangkan madlarat yang besar dalam upaya mencegahnya. Akan sangat banyak halangan yang terjadi karena syaitan akan berusaha keras untuk mencegah seseorang bersyukur mengikuti tuntunan Allah. Keberpasangan itu akan mendatangkan pemakmuran yang besar bagi semesta alam. Dalam hal lainnya, apabila seseorang diberi beberapa kesempatan bekerja, hendaknya ia bersyukur dengan mengutamakan manfaat yang dapat diberikan bagi masyarakat luas dengan pekerjaan yang dilaksanakan, tidak bersikap pragmatis dengan keuntungan diri yang akan diperoleh. Demikian pula apabila seseorang memperoleh suatu kedudukan di antara masyarakat, hendaknya ia bersyukur terhadap kedudukannya dengan membuat keputusan-keputusan yang paling bermanfaat besar bagi masyarakat. Kesempatan kerja atau kedudukan dan hal duniawi lain dalam banyak hal merupakan bentuk keberpasangan yang mungkin tidak diketahui seseorang.

Berbuat kufur atau merusak hal demikian dapat mendatangkan kerusakan bagi umat manusia. Seorang suami atau isteri yang meninggalkan keluarganya untuk bersama orang lain akan mendatangkan kerusakan yang besar untuk keluarga yang ditinggalkannya, dan juga masyarakat. Dalam hal ini, seorang laki-laki mungkin saja membentuk keluarga yang lain tanpa meninggalkan keluarga terdahulu, tetapi tidak bisa dilakukan perempuan. Sikap kufur itu bisa terjadi tidak hanya pada orang yang berkeluarga. Orang yang memilih pasangan tanpa mempertimbangkan agama (termasuk keberjodohan nafs wahidah) mungkin bersikap kufur. Orang yang memilih pasangan hanya berdasar harta atau kecantikan atau kedudukan saja tanpa mempertimbangkan agamanya akan mendatangkan kerugian bagi dirinya sendiri. Kadang seseorang bertindak kufur dengan meninggalkan kedudukan diri yang paling bermanfaat bagi masyarakat untuk memperoleh keuntungan materi atau karena meninggalkan beratnya tugas. Kerugian diri sendiri itu akan menjadi masalah bagi orang lain, dari orang-orang yang dekat hingga bagi masyarakat secara umum.

Melahirkan potensi pemakmuran harus dilakukan dengan sinergi yang baik oleh kedua pihak yang berpasangan. Seringkali melahirkan potensi pemakmuran itu tidak dapat dilahirkan hanya oleh satu pihak saja. Ibaratnya mendidik seorang anak, barangkali seorang anak bertabiat tidak menyenangkan karena rumah tangga orang tuanya yang kurang baik. Kedua orang bisa saling menyalahkan satu dengan yang lain karena tabiat itu. Barangkali salah satu menyadari bahwa tabiat itu ada pada dirinya, tetapi sebenarnya ia terkendala suatu masalah yang seharusnya diselesaikan oleh dua pihak. Misalnya seorang anak yang tidak tumbuh sikap tanggung jawabnya, kemudian ibunya melihat sumber dari sifat itu pada ayahnya. Ayahnya menyadari adanya sifat demikian pada dirinya, tetapi ia melihatnya hanya pada hal-hal kecil saja, sedangkan ia mempunyai tanggung jawab yang besar pada masalah keumatan yang harus ditunaikan. Bila tidak terbina kesepahaman di antara kedua orang tua itu, masalah itu tidak terpecahkan. Tanggung jawab masalah keumatan tidak tertunaikan ayahnya, tanggung jawab kecil di rumah tetap menjadi beban besar bagi keluarga, dan anak itu tidak belajar tanggung jawab dari orang tuanya dan bisa saja ikut tumbuh suka menyalahkan. Bila kedua pihak dapat bersinergi untuk mewujudkan amanah, anak dan keluarga itu akan tumbuh dengan baik memberikan manfaat bagi umat manusia. Melahirkan potensi kemakmuran harus diusahakan secara sinergis oleh setiap pasangan.