Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Orang-orang yang mengikuti langkah Rasulullah SAW akan menjadi golongan orang yang mendapat nikmat Allah. Memperoleh nikmat Allah artinya adalah mereka mengetahui jalan kehidupan yang harus ditunaikan dalam kehidupan mereka dan mengetahui jalan kembali kepada Allah. Nikmat Allah dalam bentuk demikian akan diperoleh oleh orang-orang yang memperoleh petunjuk, dan sebagian petunjuk demikian diturunkan Allah melalui mushibah atas orang-orang beriman.
Sekalipun demikian, mushibah-mushibah yang terjadi atas umat manusia sebenarnya muncul karena perbuatan-perbuatan manusia sendiri. Allah selalu menghendaki kebaikan bagi seluruh makhluknya, akan tetapi mereka banyak berbuat kerusakan hingga memunculkan mushibah atas diri mereka sendiri. Kebaikan yang dikehendaki Allah itu sedemikian besar hingga tidak semua perbuatan merusak yang dilakukan manusia memunculkan mushibah. Allah memaafkan sebagian besar kesalahan yang diperbuat manusia. Hanya sebagian perbuatan saja yang dibuat memunculkan mushibah bagi manusia.
﴾۰۳﴿وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (QS As-Syuuraa : 30)
Mushibah berbentuk kerusakan yang terjadi karena ulah manusia dan dapat dipersepsi masyarakat umum merugikan, baik terjadi di alam ataupun terjadi pada tatanan bermasyarakat. Banjir dan longsor merupakan suatu contoh bentuk mushibah di alam. Demikian pula diangkatnya seorang penipu sebagai pemimpin merupakan bentuk mushibah karena mereka akan berulah menimbulkan kerusakan. Ada bentuk-bentuk kerusakan yang tidak menimbulkan mushibah karena Allah memaafkannya, dan ada bentuk-bentuk kerusakan yang muncul kerusakannya secara nyata hingga setiap orang mengatakan hal itu adalah mushibah. Orang-orang beriman seharusnya mempunyai persepsi lebih tajam terhadap sebab-sebab kerusakan daripada orang kebanyakan, dapat merasakan kerusakan yang terjadi sebelum orang-orang umum dapat mempersepsi kerusakannya karena pada dasarnya mushibah itu (hanya) media berita petunjuk bagi orang-orang beriman tentang kerusakan.
Mushibah yang terjadi tidak selalu menimpa orang-orang yang berbuat kerusakan. Mushibah itu kadangkala dibebankan kepada orang-orang beriman yang tidak ikut serta melakukan kesalahan agar mereka memperoleh petunjuk tentang kerusakan yang terjadi. Kadangkala mushibah menimpa orang beriman yang berbuat kerusakan agar mereka tidak terus melakukan kerusakan. Bisa saja mushibah terjadi kepada kaum muslimin untuk membersihkan dosa-dosa mereka manakala mereka bersabar dengan mushibah itu. Banyak bentuk kehendak Allah yang digelar atas mushibah yang menimpa setiap kaum, dan masing-masing dapat memperoleh kebaikan dengan kesabaran ataupun menjadi siksa bagi orang-orang yang celaka.
Orang-orang beriman menjadi golongan yang paling memperoleh manfaat dari mushibah karena petunjuk yang terkandung di dalamnya. Allah menyampaikan berita kepada orang-orang beriman secara jelas tentang hal yang harus diperbaiki dengan peristiwa mushibah yang terjadi. Mushibah itu terjadi karena ulah tangan-tangan penduduk negeri, dan Allah memberitakan penyebab kerusakannya kepada orang beriman. Orang-orang beriman seharusnya mendapatkan petunjuk tentang masalah tersebut dan bertanggung jawab untuk memimpin manusia membuat langkah-langkah memperbaiki keadaan. Orang-orang islam hendaknya mengikuti langkah-langkah yang diketahui oleh orang-orang beriman, dan kesertaan dalam langkah-langkah itu akan menjadi kebaikan bagi diri mereka dan menjadi media agar terwujud perbaikan di alam bumi secara meluas. Demikian pula hendaknya orang-orang secara umum mengikuti langkah-langkah perbaikan mengikuti petunjuk sedemikian bumi menjadi makmur secara merata.
Sayangnya kebanyakan manusia tidak memperoleh pelajaran ataupun petunjuk karena hati mereka sebenarnya kurang beriman. Mushibah kadang terjadi di negeri orang-orang yang mengatakan dirinya beriman tetapi terjadi berulang-ulang karena penduduk tidak mengetahui apa yang harus diperbaiki oleh diri mereka. Sebagian mungkin merasa dapat mengambil hikmah dari mushibah, tetapi tidak mengetahui akar masalah dari mushibah yang terjadi. Sebagian orang melihat akar masalah hanya secara umum seperti orang-orang kebanyakan. Hal ini tidak menunjukkan mereka memperoleh petunjuk. Manakala pembacaan orang beriman tentang mushibah berkualitas sama saja dengan pembacaan orang-orang umum atau orang-orang kafir, mereka boleh jadi belum benar-benar mendapatkan petunjuk karena mushibah itu. Secara khusus, petunjuk itu berbentuk suatu pemahaman terhadap ayat kitabullah tertentu yang merupakan inti berita dari mushibah yang terjadi.
Petunjuk itu berupa pemahaman sinergis ayat kauniyah dan ayat kitabullah. Kadangkala orang beriman menyangka bahwa petunjuk itu berupa suatu penglihatan atau pendengaran bathin. Yang menjadi indikator seseorang memperoleh petunjuk adalah pemahamannya terhadap mushibah yang terjadi berdasarkan tuntunan kitabullah, bukan penglihatan atau pendengaran yang diterima. Indera demikian sebenarnya merupakan media untuk memahami petunjuk, bukan petunjuknya sendiri. Tidak jarang seseorang memperoleh suatu penglihatan atau pendengaran bathiniah yang benar tetapi belum dapat memahami kedudukan persepsi indera tersebut dalam bacaannya terhadap ayat Allah kauniyah dan kitabulah, maka persepsi indera tersebut belum benar-benar merupakan petunjuk. Persepsi itu akan menjadi petunjuk manakala seseorang mengetahui kedudukannya dalam ayat Allah. Kadangkala suatu persepsi indera merupakan hasil dari hawa nafsu atau bisa pula berasal dari syaitan yang keduanya dapat mendatangkan madlarat bagi manusia. Persepsi indera yang sebaik-baiknya terdapat pada orang-orang yang memahami ayat-ayat Allah kauniyah dan kitabullah dengan benar kemudian mereka memperoleh penglihatan-penglihatan atau pendengaran sedemikian mereka mengetahui kedudukan persepsi indera mereka dalam urusan Allah. Mereka itulah orang yang mendapatkan petunjuk.
Petunjuk-petunjuk yang terkandung dalam suatu mushibah bisa bersifat sangat luas tidak hanya pada satu dimensi saja. Misalnya suatu banjir bandang di suatu daerah bukan terjadi hanya karena pembalakan hutan saja. Kuasa-kuasa yang terlibat dalam penunjukan pejabat-pejabat pemangku urusan dapat terungkap melalui petunjuk kepada orang-orang beriman yang memperoleh petunjuk. Kadang petunjuk itu tidak terbatas dalam urusan bencana lingkungan tersebut tetapi bisa juga dalam urusan yang lebih luas. Tentulah sangat menyedihkan melihat seorang bayangkara seolah-olah mempunyai kuasa lebih besar daripada pemimpin tertinggi yang dipilih masyarakat luas. Pemimpin itu sekalipun menginginkan kebaikan bagi bangsanya, ia harus bernegosiasi dengan kuasa-kuasa dibalik penunjukan pejabat-pejabat yang memegang urusan negeri.
Orang-orang yang memperoleh petunjuk akan memahami fenomena di atas dan dapat mensikapi dengan cara yang terbaik. Orang-orang yang tidak memperoleh petunjuk mungkin akan bersikap kontraproduktif mencela pemimpin mereka yang berusaha bertindak sebaik-baiknya tanpa mengetahui usaha pemimpinnya. Fenomena di atas mungkin tampak bagi masyarakat umum layaknya paranoia konspirasi segelintir orang. Sebagian orang melihat tampak nyata dan membingungkan apabila memperhatikannya tetapi ia tidak mengetahui hakikat yang terjadi. Orang-orang yang memperoleh petunjuk dapat memahami hakikat yang terjadi pada fenomena demikian berdasarkan petunjuk ke dalam hati, disertai pengamatan secara jujur dirinya terhadap kauniyah yang terjadi dan dari tuntunan kitabullah.
Perbaikan Melalui Pembinaan Nafs
Memperbaiki keadaan seringkali merupakan tugas jamaah, bukan tugas hanya satu atau dua orang yang mengetahui masalah. Mungkin ada orang-orang beriman mengetahui masalah yang terjadi dari suatu mushibah berdasarkan suatu ayat kitabullah tertentu tetapi tidak mampu mengambil langkah untuk memperbaiki keadaan. Hal demikian boleh jadi menunjukkan buruknya keadaan jamaah orang beriman. Orang beriman seharusnya menjadi pelopor bagi kaum mereka dalam melaksanakan kehendak Allah yang harus diwujudkan. Media pemberitahuan tentang kehendak Allah itu yang paling utama di antaranya adalah mushibah yang terjadi. Kadangkala seseorang dapat memperoleh petunjuk tentang mushibah itu tetapi orang lain tidak ada yang mau mendengarkan maka mereka tidak dapat sedikitpun melangkah menuju kebaikan. Apabila suatu jamaah mengatakan diri mereka beriman tetapi tidak bisa memahami ayat Allah, maka perkataan mereka itu mungkin hanya perkataan dusta. Negeri mereka akan selalu dalam keadaan yang buruk karena ulah-ulah manusia dan orang beriman tidak bisa memberikan kontribusi perbaikan bagi masyarakat mereka.
Keadaan masyarakat akan ditentukan pada tingkat kebaikan nafs mereka. Perubahan menuju kebaikan bagi masyarakat akan muncul melalui perubahan baiknya nafs mereka. Standar kebaikan nafs itu tidak ditentukan dengan pendapat sendiri, tetapi bagaimana masyarakat dapat memahami tuntunan kitabullah dengan benar. Pada tingkatan yang terbaik, kebaikan itu ditunjukkan dalam indikasi terbentuknya orang-orang sebagai misykat cahaya. Pada derajat yang lebih rendah, kebaikan ditunjukkan oleh orang-orang yang dapat mengenali pengajaran kitabullah yang benar dari orang lain. Mereka mengetahui kebaikan dan tingkat kebaikan dari perkataan yang disampaikan. Orang-orang di masyarakat setidaknya harus dapat mengenali kebaikan dari suatu kebenaran tidak mengabaikan atau memandangnya hina. Hal ini kadang terjadi di masyarakat karena orang memandang rendah orang yang mengatakannya. Setiap orang harus dapat memandang bahwa kebenaran adalah kebenaran dan suatu kebathilan adalah kebathilan, terlepas dari orang yang mengatakannya. Lebih lanjut masyarakat hendaknya berusaha ikut mewujudkan kebenaran setelah mengenalinya, tidak membiarkan berlalu. Orang atau masyarakat yang tidak dapat mengenali suatu kebenaran dari kitabullah yang disampaikan atau diajarkan orang lain adalah orang-orang yang buruk. Keadaan masyarakat tidak akan menjadi baik manakala masyarakat mereka adalah orang-orang yang buruk, dan keadaan akan cenderung mudah menjadi buruk.
Kadangkala orang-orang yang buruk dalam definisi di atas memandang diri mereka sebagai orang-orang yang baik, seperti orang-orang yang mencari kebenaran melalui Abu Al-Hakam. Mereka tidak mengenal bahwa sebenarnya ia adalah Abu jahal, dan karena taklid mereka menolak kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Demikian pula di jaman ini tidak jarang seseorang terwahami dengan pendapat kaum mereka sendiri dan tidak dapat mengenali kebenaran yang sesungguhnya manakala sampai kepada dirinya. Kadangkala seseorang begitu terpesona dengan suatu pendapat yang dijadikan sangat indah hingga tidak dapat memandang kebenaran yang manakala datang kepada mereka. Mereka hanya mengikuti orang lain tanpa mengenal kebenaran atau tanpa keinginan mengenal kebenaran. Mereka tidak mengenali kebenaran yang disampaikan, atau memandang orang yang menyampaikan kebenaran tidak mengerti kebenaran yang disampaikan sedangkan kebenaran hanya dikenal oleh orang yang diikutinya. Mereka itu seperti pengikut Abu Al-Hakam tidak menggunakan akal. Hal demikian ini termasuk kebodohan karena akal tidak digunakan untuk mengenali kebenaran, hanya melakukan taklid kepada manusia. Mereka sebenarnya hanya membeo tidak mengenal kebenaran, dan mungkin mereka tetap akan mengikuti orang lain sekalipun yang diikuti terjerumus dalam jurang.
Standar kebenaran yang harus diikuti untuk memperbaiki kualitas akal manusia adalah tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bukan perkataan dan pendapat seseorang kecuali Rasulullah SAW. Boleh saja manusia mengikuti orang lain dalam kebaikan selama tidak bertentangan dengan Alquran dan Rasulullah SAW, dan itu hal yang baik. Akan tetapi kadangkala manusia berselisih tentang kebenaran. Manakala terjadi suatu perselisihan antara seseorang dengan yang lain, yang lebih mendekati kebenaran adalah orang yang lebih mengikuti tuntunan Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala masyarakat manusia menentukan kebenaran dalam suatu pertentangan berdasarkan suatu ketinggian kedudukan tertentu secara membuta. Hal itu seringkali keliru. Ibaratnya Iblis dahulu mempunyai kedudukan yang tinggi tetapi ia berpendapat keliru yang menjadikannya hina. Demikian pula manakala manusia menentukan kebenaran berdasarkan ketinggian kedudukan pihak-pihak tanpa berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan terjatuh pada kesalahan. Seseorang tidak harus bertindak menentang pihak tertentu karena kesalahan pendapat misalnya kesalahan pemimpinnya, tetapi setiap orang harus tetap memahami bahwa kebenaran adalah perkataan yang mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila suatu kaum mengabaikan kebenaran berdasarkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka akan menjadi bodoh mensia-siakan akal dan tidak dapat berkembang menjadi masyarakat yang baik.
Landasan dasar perbaikan bagi keadaan masyarakat terletak pada pembinaan akal manusia dalam memahami kebenaran mengikuti ayat-ayat Allah. Dari perspektif sebaliknya, sebenarnya mushibah yang terjadi merupakan pemberitahuan tentang keburukan yang seharusnya diperbaiki. Dua pernyataan ini berlaku timbal balik, perbaikan keadaan harus dilakukan dengan perbaikan manusia dan perbaikan manusia akan memperbaiki keadaan. Melakukan usaha-usaha selain memperbaiki keadaan manusia seringkali akan menjebak masyarakat dalam suatu lingkaran masalah yang tidak berujung. Manakala satu bidang diperbaiki, masalah akan muncul dari bidang yang lain. Manakala keadaan manusia diperbaiki hingga masing-masing manusia mengenal kebenaran dari sisi Allah, maka setiap pihak dapat mengatasi masalah pada bidang yang ditanganinya. Mustahil memperbaiki keadaan masyarakat tanpa melakukan perbaikan akal manusia.
Arah Pembinaan
Arah perbaikan yang harus dilakukan bukan sekadar membina orang-orang mengenal kebenaran saja, tetapi hendaknya setiap orang juga dapat menjalankan fungsi dirinya dalam al-jamaah. Proses mengikuti konsep kebenaran seringkali memunculkan perselisihan di antara manusia apabila pembinaan tidak diarahkan untuk menjalankan fungsi diri dalam al-jamaah. Masing-masing pihak memperjuangkan konsep kebenaran yang diyakini sedangkan konsep itu mungkin berbeda-beda maka terjadi perselisihan. Perselisihan itu dapat dikurangi apabila setiap orang berusaha berjamaah, yaitu mengenal fungsi diri dalam urusan amr jami’ Rasulullah SAW. Berjamaah bukan sekadar menyatu bersama orang lain dalam urusan sembarang, tetapi dalam urusan Rasulullah SAW. Dengan al-jamaah, seseorang yang mengenal suatu keping kebenaran tertentu dapat memahami keping kebenaran yang diperoleh orang lain dan setiap pihak dapat bekerja sama untuk mewujudkan cita-cita dalam urusan amr jami’ Rasulullah SAW. Manakala keping kebenaran yang dikenali seseorang secara haq dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak dikenali oleh pihak lainnya, yang tidak mengenali kebenaran itu bukan termasuk dalam golongan al-jamaah.
Peran dalam Al-jamaah itu tergambar dalam pernikahan yang baik, berupa penyatuan orang-orang beriman dalam pelaksanaan urusan Allah. Seorang mukmin harus mengambil urusan dirinya dari urusan Rasulullah SAW bersama-sama dengan mukminin lainnya untuk masuk dalam golongan aljamaah. Hal itu tergambar sebagaimana para isteri diperintahkan mengambil urusan dirinya dari amr suaminya bersama dengan madu-madunya. Peran seorang isteri menolong urusan suaminya bersama dengan madunya menjadi gambaran bagi umat untuk memahami urusan seorang mukmin di antara mukminin dalam urusan Rasulullah SAW. Ada fase pengenalan diri dalam proses menyatukan diri dalam al-jamaah, dan pengenalan diri itu adalah pengenalan kedudukan diri dalam urusan Rasulullah SAW bersama al-jamaah, bukan semata berupa penguasaan keahlian pada urusan tertentu dibandingkan orang lain. Millah puncak dari uswatun hasanah nabi Ibrahim a.s adalah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, karenanya pernikahan merupakan indikator konkret pembinaan menuju Al-jamaah.
Masyarakat harus menghindarkan kerusakan dalam pembinaan pernikahan. Kerusakan demikian akan mendatangkan kerusakan yang banyak di masyarakat. Ada hal-hal bersifat prinsip yang harus ditegakkan dan ada cita-cita yang harus diwujudkan. Hal prinsip itu misalnya kelurusan dalam pernikahan, sedangkan penyatuan langkah merupakan cita-cita yang harus dicapai melalui pernikahan. Penyimpangan dalam pernikahan berupa kekejian (al-fakhsya) akan mendatangkan penyimpangan dalam membina kebaikan. Apa yang buruk bisa dipandang menjadi kebaikan, dan apa yang baik justru dipandang sebagai kebaikan. Bila masyarakat mempunyai akal demikian, apa yang mereka usahakan untuk kebaikan bisa jadi justru mengarah kepada kehancuran. Arah yang benar akan terlihat oleh masyarakat apabila mereka menghindarkan kekejian dari kehidupan mereka.
Kerusakan dalam pernikahan juga mendatangkan kerusakan yang banyak karena besarnya urusan pernikahan dalam agama. Seorang laki-laki shalih akan kehilangan dunia mereka manakala isterinya tidak mau melangkah bersama menunaikan amanah Allah, maka dunia mereka tidak memperoleh manfaat dari keutamaan yang dikenali suaminya. Ini merupakan kerugian yang besar. Setiap orang hendaknya berusaha dapat berjalan bersama pasangan menikah untuk mengenali dan menunaikan urusan Allah. Apabila seseorang belum menikah, hendaknya ia berusaha menemukan pasangan untuk menikah, atau masyarakat mencarikan pasangan untuknya tidak membiarkannya terus sendirian. Pernikahan harus dibina agar setiap pihak dapat menyatukan diri dalam urusan Allah. Upaya pemisahan dalam pernikahan sangat disukai syaitan, dan orang yang memisahkan akan sangat disayangi syaitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar