Pencarian

Kamis, 28 November 2024

Kaidah Menemukan Amal Shalih

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Salah satu tahapan yang menjadi tanda bahwa seseorang mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah pengenalan diri terhadap amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Allah menetapkan bagi setiap manusia amal perbuatan pada leher mereka, dan amal-amal itu merupakan kandungan dari suatu kitab yang akan dijumpai terbuka di akhirat kelak.

﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS Al-Israa : 13)

Amal perbuatan pada ayat di atas disebut sebagai thaair (طَائِرَ) yang menunjuk pada amal-amal untuk mengangkat menuju langit. Allah menetapkan bagi setiap manusia amal-amal tertentu secara khusus yang harus dilaksanakan setiap manusia untuk dapat mendekat kepada Allah, karena amal-amal itu menjadi sarananya untuk dapat menempuh jalan langit. Seseorang tidak akan dapat menempuh jalan langit tanpa mengenal amal-amal yang dikalungkan bagi dirinya meskipun mengerjakan amal-amal yang tampak sangat baik dalam pandangan manusia. Bukan berarti amal yang tampak baik itu tidak mempunyai nilai yang baik, hanya saja amal itu tidak akan menjadikan seseorang menjadi hamba yang mempunyai kedudukan dekat kepada Allah. Mungkin saja beramal baik itu akan mendatangkan pahala yang mengantarkannya ke surga karena rahmat Allah sangat luas, tetapi bukan berupa surga yang dekat kepada Allah. Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya.

Ketetapan amal itu tertulis pada buku yang akan dijumpainya terbuka pada hari kiamat. Buku itu pada dasarnya merupakan bagian dari kitabullah Alquran tidak keluar darinya, yang berbicara lebih khusus tentang masing-masing diri. Pengetahuan seseorang terhadap kitabullah Alquran akan sangat dipengaruhi pengetahuannya tentang kandungan kitab amal-amalnya, dan sebaliknya pengetahuan seseorang terhadap amal-amal yang ditentukan bagi dirinya bergantung pada kebutuhannya terhadap tuntunan kitabullah Alquran. Tidak ada orang yang mengenal amal-amal dirinya tanpa suatu pengetahuan terhadap kandungan suatu ayat dalam kitabullah Alquran. Orang-orang yang mengetahui kandungan dari kitab dirinya akan mengetahui makna yang terkandung dari ayat dalam kitabullah Alquran bukan hanya berupa sangkaan-sangkaan terhadap redaksi ayat-ayat kitabullah. Mereka mengetahui realitas yang terjadi pada alam kauniyah sesuai dengan ayat tertentu dalam kitabullah yang menjadi penuntun dalam melaksanakan amal-amal yang ditentukan bagi dirinya. Pengetahuan tentang amal yang ditentukan tanpa disertai keterbukaan makna ayat kitabullah Alquran dapat bersifat sangat berbahaya karena campur tangan alam yang jahat.

Amal-amal itu digantungkan pada leher setiap manusia, dan manusia tidak dapat menempuh jalan langit itu dengan mencari amal-amal selain amal yang dikalungkan pada lehernya. Seorang anak tidak dapat mengikuti saja amal-amal orang tuanya seandainya orang tuanya telah mengenal amal-amal yang dikalungkan bagi mereka, sekalipun sangat mungkin amal-amal itu sangat berdekatan. Misalnya seorang anak mempunyai tugas yang serupa dengan ayahnya sebagai pewaris, ia harus mengetahui sendiri amal yang dikalungkan bagi dirinya sebagai sarana untuk mendekat kepada Allah. Demikian pula seorang murid tidak dapat menempuh jalan langit dengan amal-amal gurunya sekalipun gurunya adalah seseorang yang mengenal amal-amal yang ditentukan bagi dirinya. Apa yang ditunjukkan oleh gurunya adalah petunjuk yang akan mengantarkannya untuk memahami amal-amal bagi dirinya, tetapi pengenalan terhadap amal-amalnya akan tergantung pada akalnya dalam memahami ayat-ayat Allah. Sangat berbahaya bagi manusia untuk menutup akal untuk memahami ayat Allah untuk sekadar mengikuti petunjuk-petunjuk gurunya.

Tidak semua orang mengenali amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Orang-orang yang beramal tidak selalu mengerjakan amal-amal yang ditetapkan bagi diri mereka, dan kebanyakan manusia sebenarnya beramal hanya dengan amal-amal yang mereka inginkan sendiri. Hanya orang-orang yang ingin mengenal kehendak Allah yang dapat mendekati hingga mengenali amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Sekalipun amal-amal ini merupakan bagian dari jati diri manusia, amal-amal ini sulit didekati dengan jalan menginginkan mengenal jati diri. Dalam beberapa kasus, syaitan akan mendorong manusia untuk menikmati pohon khuldi masing-masing hingga mereka dapat celaka. Hanya orang yang ingin memahami dan mengikuti kehendak Allah yang akan mendekati dan mengenali amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya.

Sebagian besar manusia akan mengetahui ketetapan amal-amal itu kelak di pada hari kiamat sebagai buku yang dijumpainya terbuka. Boleh jadi sebelum itu mereka tidak mengetahui ketetapan-ketetapan itu, tetapi ada orang-orang yang mengetahui kandungan kitab itu sebelum hari kiamat dan bahkan dalam kehidupan di dunia. Dalam kehidupan dunia, ada orang-orang yang tidak peduli dengan kehendak Allah, ada yang berusaha mengikuti kehendak Allah baik mengetahui ada amal-amal yang ditetapkan atau tidak mengetahuinya. Orang yang berusaha mengikuti kehendak Allah akan berada pada sekitar amal-amalnya walaupun mungkin hidup dalam kesulitan, sedangkan orang-orang tidak peduli akan hidup bebas dan menyimpang jauh dari ketentuan dalam kitab dirinya.

Tidak Meninggalkan Al-Jamaah

Terkait masalah jati diri, manusia dapat diibaratkan tambang logam berharga seperti emas dan perak. Emas dan perak bersifat murni, tetapi ditemukan di alam bercampur-campur dengan banyak material-material lain tanpa bersenyawa dengan material-material itu. Setiap orang hendaknya berusaha menjadikan dirinya murni agar nilai dirinya meningkat seperti emas atau perak. Tanpa kemurnian, mungkin seseorang hanya bersifat serupa dengan remah-remah material yang mengotori. Orang yang melaksanakan amal-amal yang dikalungkan Allah bagi dirinya diibaratkan gumpalan emas murni. Hanya saja kadangkala manusia tidak mengetahui nilai kemurniannya. Mungkin saja ia terlihat oleh manusia tampak seperti orang pada umumnya, akan tetapi di mata Allah sebenarnya ia merupakan sesuatu yang sangat berharga. Demikian pula dalam pandangan orang-orang yang berilmu, apa-apa yang mereka kerjakan akan tampak sebagai amal-amal yang bernilai tinggi. Orang-orang yang tidak mempunyai ilmu mungkin saja tidak memandang berharga amal-amal yang mereka lakukan.

Dari Abu Hurairah r.a , bahwasanya Nabi SAW bersabda :

النَّاسُ مَعَادِنُ كَمَعَادِنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي اْلإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوا وَالْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
Manusia ibarat logam berharga seperti emas dan perak. Orang yang bernilai pada masa jahiliyah, akan menjadi orang yang bernilai juga dalam Islam apabila ia faqih. Ruh ibarat pasukan yang dikumpulkan, ia akan bersatu jika saling mengenal dan akan berselisih jika tidak saling mengetahui“. [HR Muslim].

Bernilainya orang demikian terkait dengan terbinanya kemurnian pengetahuan terhadap amal-amal yang dikalungkan bagi dirinya. Ilmu terhadap amal-amal itu dan amalnya merupakan buah yang tumbuh dari kemurnian hati seseorang dari kotoran duniawi. Apabila hati seorang manusia terikat pada duniawi, pengetahuan-pengetahuan yang ada pada hatinya akan tercampur oleh keinginan duniawi. Hal demikian berlaku pada setiap manusia baik ia jahiliah ataupun ia telah menjadi muslim. Ada orang-orang yang mempunyai hati yang bersih di antara manusia baik orang jahiliah ataupun orang islam. Orang yang licik hatinya terkotori oleh kepentingan dirinya atau hawa nafsunya, maka mereka akan melahirkan amal-amal yang kotor mementingkan dirinya sendiri. Orang-orang yang bersih hatinya akan melahirkan amal-amal yang bersih. Orang-orang jahiliah yang terbina kemurnian hatinya bersih dari kepentingan diri akan mempunyai kemurnian pengetahuan berharga yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Pengetahuannya itu merupakan hal yang berharga, dan akan menjadi lebih berharga manakala ia menjadi orang-orang islam.

Nilai berharga dari amal-amal seseorang pada dasarnya dinilai dari kemurnian hati dalam beramal. Orang jahiliah dapat melahirkan amal-amal yang bernilai bagi manusia, dan sebaliknya orang-orang islam dapat melahirkan amal-amal yang terkotori oleh hawa nafsu ataupun kepentingan dunia. Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi, tetapi mungkin saja terjadi. Pada prinsipnya, nilai dari amal yang dilakukan terwujud dari kemurnian hati dan pengetahuan seseorang dalam beramal. Orang yang murni akan jauh lebih mudah untuk menjadi muslim apabila mengenal kebenaran dalam islam, dan ia akan menjadi orang yang sangat berharga dalam islam apabila ia faqih. Sedangkan seorang muslim yang terkotori hatinya dengan harga diri hawa nafsu dan kepentingan dunia akan sulit untuk melahirkan amal-amal yang bernilai karena amalnya terkotori.

Kefaqihan adalah kemampuan memahami keadaan sesuai tuntunan Allah serta melaksanakan tuntunan tersebut. Misalnya bila seseorang memahami kaitan kesenjangan sosial dengan sistem ekonomi riba, dan kemudian ia menempuh langkah mengurangi jeratan riba, maka ia adalah seorang yang faqih dalam urusan riba. Orang islam yang tidak mempunyai pemahaman terhadap keadaan mereka sesuai tuntunan Allah tidak dapat dikatakan faqih. Nilai manfaat seorang muslim bagi masyarakat akan meningkat seiring dengan kefakihan dirinya. Apabila ia adalah seorang yang murni pada jaman jahiliahnya, ia telah memberikan manfaat bagi masyarakatnya dan nilai manfaat itu akan meningkat dengan keislaman seiring dengan kefaqihannya. Bila amal seseorang bercampur-campur keadaannya, ia harus memurnikan amalnya untuk meningkatkan nilai diri, dan berusaha memahami keadaan sekitarnya sesuai tuntunan Allah untuk meningkatkan kefaqihannya.

Nilai kemurnian amal seseorang akan bertambah karena keislaman dan keimanan. Puncak dari nilai amal yang terlahir akan terwujud manakala seseorang mengenal ruh qudus bagi dirinya. Nafs seseorang akan berubah secara bertahap dengan bertambahnya kekuatan akal dalam hatinya melalui proses pemurnian hati. Pada tahap tertentu, seseorang akan mengenal untuk apa dirinya diciptakan. Mengenal diri demikian disertai tanda mengenal amal perbuatan yang ditetapkan bagi dirinya, dan mengenal ruh qudusnya. Ruh itu akan membacakan kepada seseorang makna dari tuntunan-tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka ia mengetahui kehendak Allah atas dirinya secara kokoh.

Orang-orang jahiliah tidak mungkin memperoleh pengetahuan dari ruhnya. Orang-orang islam mungkin akan mengetahui tuntunan itu dengan benar bila berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ruh qudus itu hanya akan membacakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa melakukan intervensi terhadap kehidupan diri seseorang tanpa kehendak Allah. Ia tidak melakukan sesuatu atas permintaan manusia kecuali atas ijin Allah. Kadangkala syaitan menyaru kepada manusia sebagai ruh memberikan tuntunan tanpa dasar dari ayat-ayat kitabullah hingga ia menjadi qarin bagi manusia itu dan seringkali bermudah-mudah melakukan intervensi kehidupan menuruti keinginan manusia seolah-olah kejadian itu atas kehendak Allah. Hal demikian mudah terjadi apabila seseorang tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnahh Rasulullah SAW.

Sekalipun berasal dari alam yang tinggi, ruh qudus seorang manusia mempunyai batasan-batasan pengetahuan. Mereka akan mengenali dengan baik ruh-ruh yang dekat dengan dirinya saja. Hal ini berlaku pada kebanyakan manusia, tidak berlaku atas ruh Rasulullah SAW dan mungkin ruh para nabi yang mengenali seluruh ruh umatnya. Bagi kebanyakan manusia, ruh-nya akan mengenali ruh yang berdekatan dengan dirinya saja. Mereka akan saling menyatu dengan ruh yang dikenalinya, dan akan mungkin akan saling berselisih manakala tidak saling mengenali. Walaupun dua orang beriman masing-masing memperoleh ruh qudus, mungkin saja terjadi perselisihan di antara keduanya dalam suatu perkara karena pengetahuan yang berbeda. Untuk menghindari hal demikian, setiap orang harus kembali pada shaff dirinya dalam al-jamaah. Orang yang berjamaah mengenal garis washilahnya hingga kepada Rasulullah SAW, sekalipun mungkin tidak mengenal orang lain yang juga mengenal ruh qudusnya manakala berjauhan.

Sebenarnya lingkup pengetahuan dari ruh qudus itu terbatas, tidak benar-benar menjadi utusan Allah di muka bumi, hanya menjadi utusan Allah bagi orang yang bersangkutan dan orang tersebut menjadi khalifatullah untuk urusan dirinya bukan seluruh urusan. Umat manusia tidak boleh bersikap berlebihan dalam hubungan dirinya dengan ruh qudus. Kaum nasrani menjadi orang-orang yang sesat karena menjadikan nabi Isa a.s yang memperoleh ruh qudus sebagai anak Allah. Kaum muslimin dapat terjebak pada sikap yang sama dengan kaum nasrani dalam berurusan dengan ruh qudus dengan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Mungkin mereka menjadikan Allah sebagai tuhan, tetapi menjadikan pula orang-orang dengan ruh qudus sebagai tuhan selain Allah. Hal demikian sama sekali tidak boleh dilakukan. Demikian pula seseorang dengan ruh qudus tidak boleh menjadikan dirinya sepenuhnya wakil Allah untuk seluruh urusan, karena ruh qudus itu sebenarnya hanya membawakan sebagian kecil dari urusan Allah. Ada batasan diri yang harus dikenali setiap orang, dan batasan diri itu akan dikenali manakala seseorang tidak keluar dari al-jamaah, yaitu mengenali kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW.

Pada tingkatan umum, kaidah batasan ruh demikian bisa dijadikan landasan dalam menata manusia. Untuk membina masyarakat, manusia hendaknya dikelompokkan sesuai urusan yang berdekatan agar saling mendorong pengenalan diri mereka. Hal ini dapat dilakukan setelah melakukan tazkiyatun-nafs. Bersihnya hati dalam beramal menjadi pondasi munculnya nilai amal yang dikerjakan. Berikutnya, kekuatan akal seseorang dalam memahami kehendak Allah akan meningkatkan nilai yang dihasilkan melalui amal-amal. Seorang muslim yang faqih akan mempunyai amal dengan nilai yang lebih baik daripada seorang jahiliah, tanpa menghilangkan adanya nilai pada amal yang bersih dari orang-orang jahiliah. Tanpa hati yang murni dari kotoran hawa nafsu dan kepentingan diri, seseorang tidak perlu ditunjukkan arah amal-amal yang ditentukan baginya karena amal-amal mereka akan kotor sekalipun jika mereka mengerjakan amal yang ditentukan Allah. Orang yang akalnya berkembang-lah yang disatukan dengan orang yang serupa tanpa dipaksakan untuk serupa.

Orang yang lebih murni pengetahuannya menjadi pengarah bagi yang lain, tidak terbalik hanya karena keterampilan di antara jamaah. Orang yang mempunyai kepedulian lebih baik terhadap kehendak Allah memimpin yang lain. Hal ini seringkali sulit diukur. Hendaknya orang yang berkomitmen lebih baik terhadap kehendak Allah dan al-jamaah lebih didahulukan daripada orang yang sekadar terampil. Boleh jadi orang yang berkomitmen tulus terhadap kehendak Allah mempunyai pengetahuan lebih baik atau lebih tepat memahami tetapi kurang mampu mengungkapkan pengetahuannya. Orang yang tidak murni boleh diarahkan untuk mengerjakan amal terbaik yang mereka ketahui atau mengikuti yang ingin mereka ikuti. Ada orang-orang yang bersifat soliter untuk masanya walau sangat jarang ada, tetapi ia bisa tetap dalam al-jamaah karena mengetahui kedudukannya. Sebaliknya ada orang yang bergerombol dalam beramal tetapi tidak berada dalam al-jamaah karena tidak mengetahui batasan dirinya. Hal-hal demikian hendaknya dilakukan untuk melakukan penataan di antara manusia.

Minggu, 24 November 2024

Mengikuti Kehendak Allah dengan Hasanah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW kembali kepada Allah harus disertai dengan suatu sikap istiqamah.

﴾۰۳﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka beristiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fusshilat : 30)

Pada langkah awal, seseorang harus membina iktikad dalam dirinya bahwa ia berkeinginan untuk mengikuti ketentuan-ketentuan Allah dan berusaha menghindari hal-hal yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan-Nya. Mereka masuk dalam golongan manusia yang menjadikan Allah sebagai rabb bagi mereka, tidak ingin diatur oleh sesuatu selain rabb-nya. Dengan keadaan demikian itu mereka mengatakan bahwa rabb mereka adalah Allah. Secara bertahap mereka membina diri sebagai orang-orang yang bersesuaian dengan kehendak Allah dan terus memperbaiki diri mereka untuk benar-benar dapat memahami kehendak Allah terhadap diri mereka masing-masing.

Malaikat akan turun kepada orang-orang yang menjadikan Allah sebagai rabb mereka dan mereka dalam keadaan istiqamah. Orang-orang yang terus menjaga diri untuk menjadi hamba Allah akan mencapai keadaan istiqamah. Istiqamah menunjukkan pada usaha seseorang untuk dapat tegak di atas kehendak Allah. Istiqamah dalam urusan itu dilakukan dengan amal-amal yang nyata dalam beribadah kepada Allah di atas landasan kasih sayang kepada sesama untuk mendatangkan kebaikan bagi masyarakat. Istiqamah bukan hanya dilakukan dengan terus-menerus mengatakan bahwa tuhan mereka adalah Allah. Perkataan bahwa mereka bertuhan kepada Allah tidak boleh dimaknai secara keliru tanpa mengenal rasa kasih sayang.

Turunnya malaikat kepada seseorang yang menjadikan Allah sebagai rabb-nya dan beristiqamah bertujuan untuk menyampaikan kalimat agar orang tersebut tidak merasa takut dan tidak bersedih. Kedua sifat itu merupakan sifat para wali Allah. Sekalipun bukan atau belum menjadi wali Allah, orang-orang demikian akan mulai mempunyai perasaan tidak takut dan tidak bersedih dengan hal-hal yang terjadi. Mereka akan mengenal perasaan tidak takut dengan kehidupan duniawi dengan segala peristiwa yang mungkin terjadi karena mempunyai keyakinan bahwa Allah-lah rabb yang mengatur dirinya. Hal itu akan muncul manakala seseorang beristiqamah dalam amal-amal sesuai tuntunan Allah.

Manakala seseorang tidak beristiqamah sedangkan ia mengatakan bahwa rabb-nya adalah Allah, keyakinan bahwa rabb-nya adalah Allah itu belum mempunyai akar dalam dirinya maka keyakinan itu hanya merupakan keyakinan yang lemah. Keyakinan demikian tidak akan tumbuh manakala seseorang mengatakan rabb-nya adalah Allah tetapi ia terus melayani keinginan diri sendiri untuk memenuhi keinginan syahwat dan hawa nafsunya sendiri. Perbuatan demikian menunjukkan bahwa dirinya tidak benar-benar menjadikan Allah sebagai rabb karena mengambil diri sendiri sebagai pengatur, sedangkan Allah adalah Zat yang tidak menghendaki demikian. Keyakinan bahwa rabb-nya adalah Allah akan tumbuh menguat manakala seseorang selalu berusaha untuk mengenal dan melaksanakan kehendak-Nya karena perbuatan demikian adalah manifestasi dari perkataan bahwa rabb-nya adalah Allah.

Di antara amal-amal terbaik dalam memberikan kebaikan kepada umat manusia adalah menyeru manusia untuk kembali kepada Allah disertai dengan melakukan amal-amal shalih dan mewujudkan keberserah-dirian kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang berkata dengan perkataan-perkataan yang paling baik. Perkataan yang terbaik itu keluar dari manusia tidak hanya dalam bentuk perkataan-perkataan lisan, tetapi juga dalam bentuk amal-amal shalih dan tindakan-tindakan yang dilakukan dalam rangka berserah diri terhadap kehendak Allah. Perkataan terbaik itu mungkin tidak diikuti dengan amal-amal atau keberserahdirian yang nyata karena tidak ada kesempatan untuk mewujudkan, tetapi seandainya ada kemampuan dan kesempatan untuk mewujudkan niscaya ia akan mewujudkan, bukan hanya perkataan yang tidak ada iktikad di dalamnya. Manakala seseorang hanya mengatakan perkataan yang terbaik tanpa suatu keinginan untuk mewujudkan amal, maka hal itu tidak termasuk dalam perkataan yang terbaik.

Hasanah Menghilangkan Permusuhan

Perkataan terbaik itu merupakan suatu hasanah yaitu pengetahuan tentang Allah. Boleh jadi pengetahuan itu tentang ayat-ayat Allah atau pengetahuan tentang kehendak Allah. Perkataan yang tidak berdasarkan pengetahuan tentang Allah tidak termasuk dalam suatu hasanah. Manusia yang tidak menginginkan pertemuan dengan Allah atau tidak bertaubat kepada Allah mungkin bisa berkata-kata tentang pengetahuan yang telah dikumpulkan selama kehidupan dirinya, maka pengetahuan demikian tidak termasuk dalam suatu hasanah. Orang-orang yang berkeinginan untuk kembali kepada Allah akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan yang bersifat hasanah. Semakin kuat keinginan seseorang untuk mengenal sumber kebaikan, semakin besar hasanah yang bisa diperolehnya. Kadangkala pengetahuan demikian diperoleh selaras dengan ujian yang menimpa dirinya, atau kadangkala berjalan sesuai waktu.

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ ٣٤ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا الَّذِيْنَ صَبَرُوْاۚ وَمَا يُلَقّٰىهَآ اِلَّا ذُوْ حَظٍّ عَظِيْمٍ
Dan tidaklah sama antara hasanah dan sayyiah. Tukarkanlah (sayiah) dengan yang lebih ihsan, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang dekat. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan, melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan, melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar” [Fushilat/41 : 34-35].

Hasanah mempunyai sifat berbeda dengan pengetahuan yang diketahui dari hawa nafsu. Suatu hasanah akan bermanfaat menyeru manusia untuk kembali kepada Allah hingga terbentuk persatuan di antara manusia. Pengetahuan hawa nafsu seringkali justru memunculkan perselisihan karena kurangnya kebaikan yang terkandung dalam perkataan tersebut baik karena perkataannya ataupun orang yang mengatakannya. Seseorang yang menyampaikan perkataan hasanah tanpa suatu keinginan yang baik akan memunculkan distraksi terhadap kebenaran yang ada pada perkataannya. Mungkin suatu hasanah tidak disambut baik oleh pendengarnya karena hawa nafsu mereka, tetapi ada kebaikan dalam perkataan hasanah. Bila para pendengar adalah orang-orang yang baik, mereka dapat mengenali kebaikan dalam perkataan dalam kategori hasanah.

Di antara manusia, banyak pengetahuan yang tampak baik tetapi tidak benar-benar bersumber dari pengetahuan kebenaran. Bukan berarti semua pengetahuan demikian buruk, tetapi ada banyak celah yang mungkin menjebak manusia bila tidak ditelaah dengan benar. Sikap orang yang mendengarnya akan menentukan baik atau buruknya akibat yang ditimbulkan dari perkataan demikian. Kadangkala pengetahuan dari hawa nafsu tampak benar tetapi seseorang tidak dapat mengkoreksi manakala terjadi kebengkokan. Suatu hasanah akan memberikan pengetahuan yang benar, dan sekalipun bersifat parsial tetapi akan terlihat atau diketahui benih-benih kebengkokan manakala seseorang memahami dengan salah. Perkataan-perkataan yang terbaik dari seseorang berupa hasanah demikian inilah yang merupakan perkataan terbaik.

Penyatuan langkah mengikuti hasanah yang terbaik bukan suatu hal yang mudah dilakukan. Hanya orang-orang yang sabar dan orang-orang yang memperoleh keberuntungan yang besar yang dapat menyatukan diri mengikuti hasanah yang terbaik. Ada orang-orang yang memperoleh hasanah-hasanah tetapi ada campuran sayyiah pada hasanah mereka. Ada orang-orang yang memperoleh hasanah sedangkan masing-masing mempunyai hasanah yang berbeda. Tidak jarang orang-orang yang memperoleh hasanah tidak mau menyatukan diri dengan orang lain yang juga memperoleh hasanah karena merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang memperoleh hasanah. Keadaan demikian menunjukkan bahwa mereka belum menjadi orang-orang yang bersabar dan belum memperoleh keberuntungan yang besar. Hanya orang-orang yang bersabar dan memperoleh keberuntungan yang besar yang dapat menyatukan diri untuk mengikuti hasanah yang terbaik.

Tidak jarang terjadi perselisihan di antara manusia dalam merumuskan langkah terbaik yang perlu ditempuh, sedangkan setiap pihak mengajukan rumusan-rumusan terbaik menurut diri masing-masing. Bahkan manakala setiap pihak mendasarkan diri pada kebenaran, mereka dapat berselisih. Perselisihan demikian terjadi karena adanya kandungan-kandungan sayyiah dalam rumusan masing-masing hingga menimbulkan perselisihan. Untuk memperoleh langkah terbaik, setiap pihak tidak boleh mengandalkan hawa nafsu. Perselisihan demikian harus diselesaikan dengan setiap pihak mengikuti rumusan yang lebih mendekati hasanah. Apabila setiap pihak berusaha mengikuti hasanah, maka akan hilang permusuhan dan perselisihan di antara yang berselisih. Mereka akan menjadi orang-orang yang bersahabat dekat.

Semua pihak yang berusaha untuk menjadikan Allah sebagai rabb dengan mengikuti hasanah yang terbaik di antara mereka akan menjadi orang-orang yang bersahabat dekat sekalipun mungkin saja mengalami perbedaan-perbedaan. Dalam beberapa hal, perselisihan di antara orang yang kembali kepada Allah bisa berjalan panjang karena panjangnya perbedaan di antara mereka. Kadangkala satu pihak atau dua pihak berselisih harus membongkar kembali banyak pengetahuan mereka tentang Allah hingga memerlukan waktu panjang untuk menyatukan diri dalam persahabatan dekat, tetapi keduanya tidak bercerai-berai karena perbedaan yang ada. Penyatuan kembali sebagai sahabat itu akan terjadi manakala kedua pihak berusaha untuk mengikuti hasanah yang lebih baik di antara mereka. Semakin lambat seseorang dalam mengikuti hasanah yang terbaik, semakin lama perselisihan itu akan terjadi.

Penyatuan sebagai sahabat itu akan terjadi manakala setiap pihak bersepakat untuk mengikuti hasanah yang terbaik yang mereka ketahui bersama. Kadangkala satu pihak menyatakan banyak hasanah dan pihak lain tidak mau mengetahui hasanah yang diikuti pihak lainnya maka tidak terbentuk penyatuan di antara mereka. Kadangkala satu pihak tidak memberikan pernyataan apapun terkait perselisihan di antara mereka maka pihak lain tidak mengetahui keadaan perselisihan di antara mereka, maka tidak terjadi penyatuan pendapat di antara mereka. Penyatuan sebagai orang-orang yang bersahabat dekat di antara orang-orang yang kembali kepada Allah hendaknya diwujudkan dalam suatu kesepakatan bahwa mereka mengikuti hasanah yang terbaik di antara mereka, atau setidaknya terlihat dalam langkah bahwa mereka mengikuti hasanah terbaik itu. Manakala penyatuan itu hanya terlihat dalam langkah, barangkali salah satu pihak masih memandang ada banyak perbedaan di antara keduanya sedangkan perbedaan itu mungkin saja bersifat fundamental dan menghalangi kedekatan yang seharusnya dibina di antara mereka. Semakin akrab hubungan yang seharusnya terbina, semakin tinggi syarat kejelasan yang dibutuhkan oleh setiap pihak dan lingkup kejelasan yang semakin luas. Potensi perselisihan demikian hendaknya dikurangi dengan komunikasi yang baik untuk mengetahui masalah secara jelas.

Hasanah Menggantikan Sayyiah

Penyatuan langkah mengikuti hasanah yang terbaik bukan suatu hal yang mudah dilakukan. Hanya orang-orang yang sabar dan orang-orang yang memperoleh keberuntungan yang besar yang dapat menyatukan diri mengikuti hasanah yang terbaik. Mereka adalah orang-orang yang bertakwa dan menggantikan sayiah yang ada pada mereka dengan hasanah agar hasanah itu menghapuskan sayyiah mereka. Selain menggantikan sayyiah dengan hasanah, mereka bergaul dengan manusia dengan akhlak sesuai dengan kehendak Allah.

dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah SAW berkata :
اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
Bertaqwalah dimanapun engkau berada, dan iringilah sayyiah dengan hasanah, niscaya akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” [HR at Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi, no. 2516]

Akhlak yang baik pada hadits di atas disabdakan rasulullah SAW dengan redaksi خُلُقٍ حَسَن. , menunjukkan akhlak yang baik berupa adab yang sesuai dengan kehendak Allah. Akhlak demikian terbentuk manakala seseorang merendahkan hatinya terhadap orang lain. Ia tidak berbicara hal-hal yang tidak berguna atau berbicara dengan cara yang buruk untuk meninggikan dirinya di antara manusia.

dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا. وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ: قَالَ: الْمُتَكَبِّرُونَ
Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat kelak, yaitu orang yang terbaik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat kelak, yaitu tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun”. Sahabat bertanya : “Ya, Rasulullah. Kami sudah mengetahui arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiqun?” Beliau menjawab,”Orang yang sombong.” [HR at Tirmidzi, dalam kitab Shahih Sunan at Tirmidzi, no. 2018]

Orang yang baik akhlaknya tidaklah bersifat tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun. الثَّرْثَارُونَ (tsartsarun) menunjukkan banyak omong dengan pembicaraan yang menyimpang dari kebenaran. الْمُتَشَدِّقُونَ (mutasyaddiqun), kata-kata yang meremehkan orang lain dan berbicara dengan suara lagak untuk menunjukkan kefasihannya dan bangga dengan perkataannya sendiri. الْمُتَفَيْهِقُونَ (mutafaihiqun), berasal dari kata al fahq, yang berarti penuh. Maksudnya, seseorang yang berbicara untuk menunjukkan dirinya lebih hebat dari yang lainnya.

Minggu, 17 November 2024

Tauhid Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Landasan dasar dalam mengikuti seruan Rasulullah SAW adalah membina sikap kasih sayang dalam diri terhadap makhluk-makhluk lain berdasarkan suatu pengetahuan tentang kebenaran. Pembinaan itu merupakan sarana untuk dapat mendekat kepada Allah. Tauhid mengikuti Rasulullah SAW dibentuk melalui pembinaan sifat kasih sayang hingga seorang muslim layak didekatkan kepada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karenanya setiap muslim harus membina kasih sayang dalam dirinya. Tanpa pembinaan sifat ini, seseorang tidak dapat dikatakan mengikuti Rasulullah SAW, layaknya kaum khawarij yang mengikuti Dzul Khuwaisirah yang melakukan ibadah menakjubkan.

Pembinaan sifat kasih sayang di antara orang-orang beriman harus dilakukan hingga menyentuh tingkatan nafs wahidah. Nafs wahidah merupakan jati diri penciptaan manusia berupa makhluk cahaya sebagaimana asal penciptaan para malaikat. Ia adalah makhluk yang mengenal rabb-nya, mengenal kedudukan dirinya dalam kesatuan Al-Jamaah yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. Di tingkat alam dunia, nafs wahidah mengenal amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya sebagai ketetapan yang baru, karena baru diberikan manakala ia terbentuk sebagai janin pada umur 120 hari. Banyak hal terkait nafs wahidah yang tidak dapat diceritakan satu demi satu, dan pembinaan kasih sayang hingga nafs wahidah itu adalah jalan untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW.

﴾۱﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafs wahidah, dan dari-nya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu ( QS An-Nisaa : 1)

Agama terletak pada nafs wahidah. Awal dari agama adalah ma’rifat kepada Allah, sedangkan ma’rifat seseorang kepada Allah terletak pada pengenalannya terhadap nafs dirinya, yaitu nafs wahidah dirinya. Karena hubungan demikian, dapat dikatakan bahwa agama terletak pada nafs wahidah. Umat islam hendaknya bersungguh-sungguh untuk memahami pengajaran-pengajaran terkait dengan nafs wahidah untuk digunakan sebagai bahan untuk mengenal nafs wahidah dirinya sehingga ia dapat menemukan agama yang ditentukan bagi dirinya. Setidaknya, pengajaran-pengajaran itu akan mengantarkan seseorang untuk dapat memperoleh ketakwaan.

Agama pada paragraf di atas menunjuk pada definisi agama yang sesungguhnya, suatu jalan kehidupan yang seharusnya diperoleh orang-orang islam. Definisi demikian tidak boleh digunakan untuk menggolongkan orang yang tidak mengenal nafs wahidah sebagai orang kafir, tetapi sebagai orang yang mengikuti agama islam. Hanya saja orang yang belum mengenal nafs wahidah tidak termasuk orang yang mampu menegakkan agama, tetapi hanya mengikuti. Tidak ada kesimpulan sederhana yang dapat diambil terhadap setiap orang yang telah mengikuti islam. Bisa saja seseorang termasuk ahli surga tanpa diazab atas rahmat Allah sekalipun tidak mengenal nafs dirinya.

Mengenal Nafs Wahidah

Sentralitas nafs wahidah dalam agama pada dasarnya terletak pada fungsinya sebagai lokus pembinaan sifat rahman dan rahim dalam diri manusia. Sangat banyak lokus cinta dalam diri manusia, misalnya hawa nafsu terhadap kedudukan ataupun kecintaan terhadap materi dan kecantikan lawan jenis. Kecintaan yang terdapat pada lokus-lokus selain nafs wahidah tidak menjadi tempat yang layak untuk sifat rahman dan rahim, walaupun dapat mengantarkan kepada nafs wahidah. Sifat rahman dan rahim akan terbangun dengan baik apabila dibina pada nafs wahidah. Seseorang akan mengenal kehendak Allah, mengenal keadaan kauniyah, mengenal kandungan firman Allah, mengenal kedudukan diri dalam jamaah Rasulullah SAW, mengenal hubungan dirinya dengan isteri dan keluarganya, serta mengenal peran dirinya bagi masyarakat seluruhnya.

Allah menyediakan bagi manusia suatu sarana dalam bentuk fisik untuk membina sifat rahman dan rahim pada nafs wahidah dalam wujud pasangan dan pernikahan. Kebanyakan manusia terkurung di alam fisik hingga sulit untuk mengenal nafs wahidah dirinya yang hidup di alam cahaya. Hal itu tidak boleh menjadi penghalang bagi manusia untuk menumbuhkan sifat rahman rahim di tingkatan nafs wahidah, karena Allah menyediakan sarana fisik untuk membina hal itu. Bila seseorang memperhatikan keberpasangan dan pernikahan dirinya dengan sebaik-baiknya, ia akan tergerakkan untuk mengenali nafs wahidah. Misalnya pernikahan akan menuntut munculnya perhatian terhadap pasangan dan anak-anak, maka itu merupakan dorongan menuju nafs wahidah.

Pernikahan merupakan setengah bagian dari agama, dan setengah bagian lainnya adalah ketakwaan. Ketakwaan itu sendiri pada bagian besarnya sebenarnya muncul dari keberpasangan nafs wahidah diri manusia, jadi pernikahan merupakan sarana utama pendahulu dari agama. Perjanjian pernikahan merupakan mitsaqan ghalidza yang serupa namanya dengan jenis perjanjian mitsaqan ghalidza antara Allah dengan rasul-rasul-Nya. Kesamaan nama itu juga merupakan tanda adanya kesamaan fungsi walaupun dalam bentuk berbeda. Suatu pernikahan merupakan media yang disediakan Allah bagi manusia untuk mengenal kehendak-Nya dengan tepat, sama seperti rasul yang diutus Allah untuk menyeru manusia untuk mengenal kehendak-Nya dengan benar. Walaupun keduanya berbeda bentuk, tetapi keduanya merupakan sarana untuk mengenal kehendak Allah dengan benar, dan pernikahan menyentuh diri setiap manusia.

Allah menyediakan bagi manusia jalan untuk memahami kehendak-Nya melalui pernikahan. Pernikahan akan menjadikan akal seseorang tumbuh hingga mengenal nafs wahidah diri mereka. Akal merupakan kemampuan seseorang untuk memahami kehendak Allah, suatu kekuatan yang tersembunyi di balik pikiran manusia. Pertumbuhan akal melalui pernikahan ini tidak sendirian, tetapi disertai pula dengan pertumbuhan dan pertambahan hawa nafsu yang banyak sebagai anak-anak yang tumbuh dari pernikahan nafs mereka. Akal dan hawa nafsu seseorang akan tumbuh secara seimbang melalui pernikahan, dan dengan kedua bekal tersebut seorang manusia akan mempunyai sarana untuk mewujudkan kehendak Allah di alam dunia.

Tetapi kadangkala terjadi gangguan pada salah satu aspek pertumbuhan maka terjadi ketidakseimbangan pertumbuhan kekuatan akal dengan pertumbuhan hawa nafsu. Misalnya kekuatan akal seseorang mungkin menjadikannya mengenal nafs wahidah tetapi hawa nafsu tidak tumbuh seimbang dengan akalnya. Ibarat suatu pasukan, keadaan itu dapat digambarkan layaknya seorang jenderal yang hanya memperoleh anak buah dari kalangan prajurit tidak mempunyai perwira-perwira bawahan yang menghubungkan perintahnya kepada mereka. Manakala jenderal itu memberikan perintah, tidak ada anak buah yang merasa benar-benar berhak untuk melaksanakan perintah itu, maka perintah jenderal itu tidak terlaksana dengan baik. Atau sebaliknya para prajurit itu bertindak tidak disiplin karena merasa tidak diawasi atasan yang lebih dekat dan melekat kepada diri mereka. Di sisi lainnya kadang-kadang hawa nafsu manusia tumbuh melebihi kekuatan akalnya hingga manusia berbuat menyimpang secara berlebihan mengikuti hawa nafsu dan menyangka melaksanakan perintah Allah.

Apabila seseorang dapat tumbuh akalnya untuk memahami keadaan yang terjadi sesuai dengan tuntunan Allah, maka ia akan mempunyai pengetahuan-pengetahuan terhadap kehendak Allah. Boleh jadi pengetahuan yang tersusun pada awalnya bersifat potongan-potongan pengetahuan sehingga seseorang tidak benar-benar mengetahui persis keadaan yang sebenarnya. Apabila seseorang terus berusaha untuk memahami keadaan yang terjadi, potongan-potongan itu akan semakin lengkap hingga mengantarkan seseorang berada pada atau dekat dengan jati dirinya. Sekalipun dekat atau berada pada jati dirinya, seseorang seringkali tidak bisa mengetahui jati dirinya hingga Allah membukakan kepada dirinya tentang nafs wahidah dirinya. Keterbukaan itu merupakan pengenalan diri.

Membina Akal dan Kasih dengan Benar

Kekuatan memahami kehendak Allah dengan tepat pada peristiwa yang terjadi merupakan sifat rahman, dan berbuat yang terbaik untuk orang lain berdasarkan pemahaman itu merupakan sifat rahim. Dua sifat itu harus ditumbuhkan secara seimbang di dalam diri setiap manusia melalui pernikahan. Sifat rahim itu serupa dengan rasa cinta dan kasih di antara laki-laki dan perempuan, tetapi mempunyai landasan yang lebih kokoh dan bersifat lebih abadi. Cinta kasih suami isteri yang berada pada hawa nafsu atau syahwat seringkali berubah atau pupus seiring waktu, sedangkan cinta kasih pada tingkatan nafs wahidah akan bersifat menetap. Intensitas rasa rahim seringkali mendatangkan kekuatan yang besar dalam bentuk ketajaman inderaa dalam membangun kesepahaman di antara makhluk-makhluk sebagaimana seorang ibu memahami komunikasi bayi tanpa kalimat verbal umum. Manakala sifat rahim terhambat, seringkali terjadi gangguan dalam komunikasi. Sifat ini tidak kalah penting untuk ditumbuhkan pada setiap manusia karena perwujudan kehendak Allah di alam dunia akan terjadi dengan baik melalui sifat rahim. Orang yang mengenal kehendak Allah mungkin akan tidak disukai oleh masyarakat manakala tidak tumbuh sifat rahimnya.

Sifat rahim kadangkala tidak tumbuh dengan baik pada diri seseorang sekalipun seseorang mengenal diri. Barangkali ketidakseimbangan itu terkait dengan ketidakseimbangan pertumbuhan hawa nafsu. Pernikahan yang buruk bisa mengganggu keseimbangan pertumbuhan kedua sifat tersebut. Misalnya bila inisiatif atau kebenaran dari satu pihak selalu dibantah atau direndahkan pihak lainnya, orang tersebut tidak akan dapat melangkah sesuai dengan kekuatan akalnya. Akalnya mungkin dapat berkembang dengan baik tetapi hawa nafsunya akan terhambat. Suatu kekejian dapat membuat seseorang selalu memandang buruk pihak lainnya sekalipun ketika berbuat baik, sedangkan ia tidak dapat melihat kesombongan yang ada pada dirinya sendiri. Bahkan kadangkala seseorang tidak mempunyai kesombongan tetapi merendahkan pasangannya karena silau dengan kebenaran dari pihak lain hingga merendahkan kebenaran yang dapat dipahami oleh pasangannya. Suatu keadaan keluarga yang buruk dapat mendatangkan dampak yang buruk pada orang-orang yang berkeinginan untuk menjadi baik. Untuk menumbuhkan sifat rahman dan rahim, suatu pasangan hendaknya dapat membangun kebersamaan dalam memahami kebenaran.

Ketepatan memahami kehendak Allah melalui pernikahan harus diusahakan setiap orang melalui ketaatan terhadap ketentuan-ketentuan dalam pernikahan. Ketepatan dalam memahami kehendak-Nya dan berbuat sesuai pemahaman itu merupakan bentuk ketakwaan. Sangat banyak dorongan hawa nafsu yang menjadikan seseorang keliru dalam memahami kehendak Allah sehingga mungkin saja seseorang merasa memahami kehendak Allah tanpa menyadari pemahamannya keliru, karenanya setiap orang harus berusaha memperhatikan tuntunan-tuntunan dalam pernikahan. Tanpa memperhatikan tuntunan-Nya, pemahaman terhadap kehendak Allah bisa terbalik-balik hingga suatu kebenaran menjadi dosa dan suatu kesalahan dipandang sebagai kebenaran. Bila terjadi demikian, masyarakat akan binasa karena menyalahi mitsaqan ghalidza yang diperjanjikan di hadapan Allah.

Sangat banyak ketentuan yang perlu diperhatikan setiap orang agar dapat memahami kehendak Allah dengan benar. Hampir setiap momen kebersamaan menghadirkan ketentuan yang seharusnya diperhatikan. Ketentuan-ketentuan itu akan menjadikan seseorang memahami kehendak Allah. Ada ketentuan mendasar yang bersifat umum. Bagi setiap orang, tidak boleh ada suatu kekejian dalam pernikahan. Orang yang bermudah-mudah dalam kekejian tidak akan mampu memahami kehendak Allah dengan benar hingga kadangkala menjadikan cara berpikir mereka terbalik. Orang yang mempunyai kesenangan dalam berbuat keji boleh jadi memandang perbuatan keji mereka sebagai suatu kebaikan. Bisa saja seseorang merasa berbuat baik dengan memberikan kebahagiaan kepada isteri atau suami orang lain sedangkan itu sebenarnya sangat merusak keadaan lawannya karrana akan selalu memandang buruk kebaikan-kebaikan pasangannya yang sah. Kerusakan demikian akan membawa kerusakan yang besar pada masyarakat. Pada orang-orang tertentu, ketentuan pernikahan itu bersifat khusus. Beberapa kelompok manusia perlu memperhatikan prinsip nafs wahidah sebagai landasan pernikahan tanpa boleh melanggarnya. Sebenarnya hal demikian seharusnya diperhatikan setiap orang, tetapi tidak semua orang mempunyai kesempatan mengetahui. Orang yang mengetahui harus memperhatikan ketentuan demikian karena akan membuka rahmat yang sangat besar, dan tidak boleh menghindari karena akan menjadi dosa yang menghalangi langkah mereka.

Membangun kebersamaan dalam membina sifat rahman dan rahim seringkali tidak mudah dilakukan. Rasa cinta kasih pada tingkat lebih rendah akan memudahkan kebersamaan, tetapi seringkali surut pada masa yang pendek. Hendaknya setiap pihak berusaha mempertahankan untuk masa yang panjang. Cinta kasih demikian bukan suatu syarat utama untuk membina sifat rahman dan rahim dan seringkali ekspektasi terhadap cinta pasangannya justru menjadi waham yang menghambat seseorang untuk membangun kebersamaan. Keinginan untuk bertaubat dan hidup dalam kehendak Allah lebih memberikan manfaat dalam membangun sifat rahman dan rahim. Keinginan demikian harus diwujudkan dalam bentuk berusaha mengikuti tuntunan Rasulullah SAW, misalnya bersikap baik kepada pasangan, berusaha memahami langkah yang dilakukan pasangannya, mau meminta maaf dan mencari ridha dan hal-hal lain. Pada tahap awal, sangat banyak hawa nafsu yang harus diruntuhkan agar dapat berproses menuju akhlak yang lebih baik, sedangkan ekspektasi cinta-cintaan pasangan itu seringkali sangat tinggi. Bila tidak keinginan pada salah satu atau keduanya untuk bertaubat dan hidup sesuai kehendak Allah, Badai itu akan memporak-porandakan kebersamaan mereka dengan mudah. Setiap orang harus berkeinginan untuk bertaubat dan hidup dalam kehendak Allah dan merealisasikan kehendak itu dalam perbuatan yang nyata. Dengan langkah-langkah demikian akan terbangun kebersamaan dalam langkah menuju Allah, dan terbina sifat rahman dan rahim pada diri mereka masing-masing.

Kamis, 14 November 2024

Mengikuti Rasulullah SAW

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti Rasulullah SAW akan menjadikan setiap muslim mengenal bahwa nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, sedangkan mereka adalah orang-orang yang bersikap keras terhadap kekufuran dan penuh kasih sayang terhadap orang-orang muslim. Mereka akan terlihat sebagai orang-orang yang rukuk dan sujud mencari fadhilah Allah dan keridhaan-Nya, sedangkan tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dalam rupa jejak-jejak sujud.

﴾۹۲﴿مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Muhammad itu adalah Utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari fadhilah Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS Al-Fath : 29)

Muhammad Ibn ‘Abdullah adalah Rasulullah. Allah telah mengutus sekian banyak rasul kepada manusia untuk menyeru umat manusia terutama umat-umat mereka untuk beriman kepada Allah, dan kesempurnaan dari seruan seluruh rasul yang diutus sejak alam diciptakan hingga akhir jaman adalah seruan Rasulullah Muhammad SAW. Setiap orang yang mengikuti seruan para rasul di antara mereka tanpa menyimpang akan mengenal kebenaran yang akan menyelamatkan kehidupan mereka, tetapi kebenaran yang dapat mereka kenali bukanlah kebenaran dalam bentuk yang paling sempurna. Sekalipun tidak sempurna, kebenaran itu akan mengantarkan manusia memperoleh keselamatan selama tidak bercampur dengan kesesatan. Kebenaran yang paling sempurna dalam penciptaan seluruh alam semesta adalah kebenaran yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, tidak ada kebenaran yang ada di luar kebenaran yang diajarkan kepada nabi Muhammad SAW. Karena sifat kesempurnaan seruan itu, maka kedudukan Rasulullah SAW diberikan kepada nabi Muhammad SAW.

Setiap manusia dituntut untuk selalu mengenal kebenaran secara lebih sempurna, dan dituntut untuk tidak menyimpang dalam mengikuti kebenaran karena akan menjadi kecelakaan baginya. Kesempurnaan seluruh kebenaran itu adalah apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, dan segala hal yang menyimpang atau bertentangan dengan tuntunan Rasulullah SAW adalah suatu kekufuran yang akan mendatangkan kecelakaan bagi manusia. Bagi setiap muslim, dua kalimat syahadat merupakan pengingat agar setiap muslim berusaha mengikuti kebenaran yang lebih sempurna yang diajarkan Rasulullah SAW. Sebenarnya setiap manusia juga dituntut untuk berusaha mengenal kebenaran secara lebih sempurna, dan jalan untuk itu adalah dua kalimat syahadat. Setiap penolakan terhadap dua kalimat syahadat merupakan wujud adanya penghalang dalam diri manusia untuk mengenal kebenaran secara lebih sempurna.

Ciri-ciri Pengikut Rasulullah SAW

Menyayangi sesama dan Keras terhadap Kekufuran

Orang-orang yang benar-benar mengikuti Rasulullah SAW akan bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir dan berkasih sayang terhadap orang-orang yang beriman. Landasan dasar dalam mengikuti seruan Rasulullah SAW adalah membina sikap kasih sayang dalam diri terhadap makhluk-makhluk lain berdasarkan suatu pengetahuan tentang kebenaran. Pembinaan itu merupakan sarana untuk dapat mendekat kepada Allah. Tauhid mengikuti Rasulullah SAW dibentuk melalui pembinaan sifat kasih sayang hingga seorang muslim layak didekatkan kepada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karenanya setiap muslim harus membina kasih sayang dalam dirinya. Tanpa pembinaan sifat ini, seseorang tidak dapat dikatakan mengikuti Rasulullah SAW. Hanya saja kasih sayang ini kadang harus tampak dalam bentuk yang tidak disukai karena banyak di antara manusia yang bersikap kufur terhadap kebenaran. Kekufuran manusia menyebabkan umat manusia menjadi celaka, karenanya orang beriman bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir, agar tidak mendatangkan celaka bagi umat manusia.

Orang kafir yang dimaksud adalah orang-orang yang menentang kebenaran, serta menentang orang yang mengikutinya. Manusia hendaknya tidak bermudah-mudah untuk mengkufurkan orang lain hingga mengkufurkan orang yang berusaha mengikuti kebenaran. Pada jaman Rasulullah SAW, orang-orang yang menentang Rasulullah SAW adalah orang-orang kafir. Demikian pula manakala islam sedang berjaya, mudah bagi manusia membedakan orang-orang kafir dan orang beriman. Dalam kehidupan modern, masalah kufur dan iman menjadi tampak menjadi lebih kompleks. Seringkali manusia tidak benar-benar bersikap kufur dan tidak pula mau beriman karena kurang jelasnya kebenaran yang disampaikan. Misalnya ahlul kitab. Para ahlul kitab merupakan orang yang berusaha mengikuti kebenaran tanpa menyadari kesalahan yang mungkin terjadi. Atau dewasa ini bahkan kaum muslim sendiri mungkin tidak mau menggunakan akal untuk memahami kebenaran Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan tepat. Hal-hal demikian akan menimbulkan kompleksitas warna manusia. Kadangkala orang terhinggapi waham telah mengikuti Rasulullah SAW tanpa berusaha memahami seruan beliau SAW dan ia bermudah-mudah mengkafirkan orang lain tanpa berlandaskan pemahaman hakikat yang terjadi, misalnya mengkufurkan orang-orang ahli kitab atau bahkan golongan muslimin yang tidak sepaham dengan diri mereka.

Sangat penting bagi setiap manusia untuk mengenal kedudukan Rasulullah agar dapat melaksanakan ibadah secara tepat kepada Allah. Gambaran pentingnya hal ini dapat diihat pada sikap orang-orang khawarij para pengikut Dzul-Khuwaisirah dan para ahli bid’ah. Khawarij adalah orang-orang yang menyembah Allah dalam waham paganistik karena tidak memahami apa yang diseru oleh Rasulullah SAW. Para ahli bid’ah adalah orang-orang yang mengikuti persepsi batiniah sendiri tanpa memahami tuntunan Rasulullah SAW kemudian melaksanakan perintah-perintah tertentu di luar urusan yang diturunkan melalui Rasulullah SAW. Kedua golongan itu kadang tampak baik dalam pandangan manusia tetapi mereka sebenarnya tidak mengikuti Rasulullah SAW. Landasan dasar dalam mengikuti seruan Rasulullah SAW adalah membina sikap kasih sayang berdasarkan suatu pengetahuan tentang kebenaran sebagai sarana untuk dapat mendekat kepada Allah. Tauhid mengikuti Rasulullah SAW dibentuk melalui pembinaan sifat kasih sayang hingga seorang muslim layak didekatkan kepada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tanpa pembinaan sifat ini, seseorang tidak dapat dikatakan mengikuti Rasulullah SAW.

Rukuk dan Sujud Mencari Fadhilah dan Ridha Allah

Orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW akan tampak melakukan rukuk dan sujud mencari fadhilah dari Allah dan keridhaan-Nya. Mencari fadhilah dan keridhaan Allah dilakukan dengan melaksanakan amal-amal yang menjadi kehendak Allah sesuai dengan cara yang dikehendaki-Nya. Rukuk seorang hamba dalam melaksanakan kehendak Allah adalah usaha memahami kehendak Allah, sedangkan sujudnya adalah usaha untuk tunduk mentaati kehendak-Nya. Amal para pengikut Rasulullah SAW terlaksana di atas usaha memahami dan mentaati, atau pemahaman dan ketaatan terhadap kehendak-Nya, bukan terwujud karena keinginan diri mereka sendiri. Mereka tidak bertindak tanpa berusaha memahami dan mentaati kehendak Allah, walaupun mungkin saja masih terjatuh pada suatu kesalahan. Mereka akan menghindari berbuat tanpa landasan pengetahuan kecuali terpaksa dan mungkin saja sering merasa terpaksa karena banyaknya kebodohan sendiri, dan tidak akan mempertahankan kebenarannya manakala berbenturan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dengan rukuk dan sujud kepada Allah hingga dalam bentuk demikian itulah orang-orang beriman mencari fadhilah Allah dan keridhaan-Nya.

Tentulah sikap demikian tidak dapat dilaksanakan kecuali dengan melaksanakan rukuk dan sujud sebagaimana dalam shalat, tetapi bukan hanya sujud demikian yang mengantarkan seseorang memperoleh fadhilah Allah dan keridhaan-Nya. Orang-orang demikian adalah orang-orang yang pohon thayyibah mereka tumbuh menjulang dan berbuah, yaitu orang-orang yang tumbuh pengetahuan mereka tentang kandungan kalimah thayyibah. Kalimah thayyibah pada diri mereka bukan hanya berbentuk benih kata-kata dalam dua kalimat syahadat, tetapi mengetahui realitas yang terjadi berdasarkan hakikat-hakikat dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Sebagian manusia memperoleh pengetahuan-pengetahuan turunan dari hakikat-hakikat dari sisi Allah, maka hal itu akan sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Manakala pengetahuan-pengetahuan itu mengantarkannya untuk mengenal kebenaran, maka hal itu akan menjadi cahaya dalam kehidupan. Hendaknya pengetahuan-pengetahuan demikian digunakan untuk terus memahami kebenaran hingga mengenal hakikat-hakikat dari sisi Allah sebagaimana termaktub dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW karena itu akan mengantarkannya untuk memperoleh kemuliaan dari sisi Allah. Surga Allah sangat luas hingga menjangkau makhluk yang masih jauh dari kedudukan-Nya, tetapi kemuliaan di sisi Allah sangatlah berharga sedemikian tidak layak bagi manusia hanya menginginkan sekadar memperoleh surga. Allah adalah sumber kemuliaan yang jauh lebih dari mencukupi untuk seluruh keinginan manusia.

Pohon-pohon thayyibah diri manusia akan menimbulkan ketakjuban pada diri penanam-penanam mereka. Kata zara’a (زَرْعٍ) menunjukkan arti perbuatan mengolah atau menanam (to cultivate). Benih itu dari Allah, dan ada manusia-manusia yang turut serta dalam menumbuhkan dan merawat pertumbuhan benih itu, maka mereka itu tergolong sebagai penanam-penanam benih yang mengolah tumbuhnya tanaman. Manakala seseorang tumbuh kalimah thayibah dalam dirinya, orang-orang yang ikut mengolah pertumbuhan pohon itu akan merasakan suatu ketakjuban, yaitu rasa keheranan disertai dengan kesenangan atas pertumbuhan pohon thayyibah itu. Pada sisi lain, pertumbuhan pohon thayibah itu akan menimbulkan kejengkelan terhadap orang-orang kafir karena kekafiran yang mereka inginkan akan tergeser dengan keimanan.

Ketakjuban para penanam terjadi karena munculnya buah-buah berupa pengetahuan yang tidak diajarkan oleh para penanam. Ini adalah fadhilah dari sisi Allah. Sebelum muncul buah-buah dari diri seseorang, mereka hanya mengetahui apa-apa yang diajarkan oleh para penanam, maka hal demikian tidak menimbulkan ketakjuban kepada para penanam. Ketakjuban itu akan muncul manakala pohon itu membuahkan pengetahuan yang tidak diajarkan. Landasan ketakjuban itu berupa firman-firman Allah, tidak dipengaruhi oleh kekurangan atau kelebihan yang ada di antara mereka. Apabila ada suatu kegusaran atau kesedihan dalam diri pengolah atas pertumbuhan pohon seseorang, ada kesalahan dalam pertumbuhan pohon itu. Demikian pula apabila orang-orang kafir semakin bersuka ria dengan tumbuhnya diri seseorang karena membukakan jalan-jalan kekafiran, maka itu bukanlah suatu pohon thayibah.

Ketakjuban para pengolah tanaman dan kejengkelan orang kafir karena tumbuhnya pohon thayibah itu merupakan kesatuan tanda. Tidak ada ketakjuban pengolah tanaman bersamaan dengan kegembiraan orang-orang kafir. Demikian pula tidak ada kegusaran para penanam bersamaan dengan kegusaran orang-orang kafir. Kesamaan sikap demikian tidak bisa dijadikan tanda yang benar terhadap pertumbuhan diri. Kemungkinan besar yang terjadi adalah menyimpangnya langkah seseorang atau tidak benarnya seseorang dalam menilai. Kesatuan tanda ini boleh dijadikan tanda bagi masyarakat umum tentang pohon yang tumbuh itu sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah, yaitu pohon itu menggembirakan para pengolah tanaman dan menjengkelkan orang-orang kafir. Biasanya masyarakat umum hanya dapat menilai kebenaran berdasarkan perkataan orang lain, tidak mengetahui tolok ukur berdasarkan suatu hakikat dari sisi Allah.

Berjamaah

Hubungan di antara orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW menyerupai pertumbuhan pohon dan tunas-tunasnya, di mana setiap orang tumbuh di atas pokok seruan Rasulullah SAW. Sebagian tunas tumbuh di tanaman dan kemudian tunas itu menjadi tanaman di atas pokok, yang tumbuh secara lurus tidak menyimpang. Pokok itu adalah Rasulullah SAW, dan tanaman itu adalah orang-orang yang telah mengikuti Rasulullah SAW secara benar, sedangkan tunas-tunas itu adalah orang berusaha mengikuti langkah Rasulullah SAW melalui orang lain. Orang-orang yang mengikuti Rasulullah SAW terhubung secara bathin dalam sebuah hubungan Al-jamaah yang masing-masing berpegang pada tuntunan kitabullah dengan cara yang sama dengan cara Rasulullah SAW tidak menyimpang. Setiap orang memperoleh urusan dari ayat kitabullah yang mereka pahami dengan cara yang sama dengan Rasulullah SAW memahami, walaupun hanya pada sebagian kecil darinya.

Hubungan Al-jamaah demikian telah ditetapkan Allah, yang akan diketahui seseorang manakala ia mengenal dirinya. Ada hubungan washilah bagi setiap orang dalam Al-jamaah yang harus ditempati secara tepat. Hubungan washilah tidak selalu ditentukan dalam urutan waktu, sebagaimana para rasul yang terdahulu harus mengambil imam dari orang yang datang setelah mereka yaitu Rasulullah SAW. Demikian pula di zaman setelahnya, ada hubungan washilah yang tidak ditentukan oleh urutan waktu. Sebagai contoh, seorang syaikh di tanah jawa menuliskan dalam kitabnya secara tersirat menjelaskan tentang kedudukan dirinya dalam al-jamaah :

Rum aruming Ulah-Jiwa benjing       Harum semerbaknya Olah-Jiwa kelak,
lamun Gusti ingkàng Maha Kwasa     jika Allah Yang Maha Kuasa
amaringna kàng margane             berkenan membukakan jalannya,
agama munggwing ayun              agama berada di depan,
Ulah-Jiwa kàng munggwing wuri      Olah-Jiwa di belakang
lir priya lan wanodya                bagai pria dan wanita
tindak runtung-runtung                berjalan beriringan
tàn ana ingkàng suwala              tak ada yang berselisih
pra ulama samya pirsa marang isi      para ulama mengetahui isi
tàn namung pirsa njaba               tak hanya mengetahui kulit.

Dari yang tertulis di atas, beliau mengetahui kedudukan beliau dalam al-jamaah sebagai pembimbing tazkiyatun-nafs dan mengetahui imam yang diikuti, yaitu imam agama yang akan datang setelahnya. Manakala kehendak Allah itu tiba, ia tidak akan bersikap melampaui kedudukannya terhadap pemimpin agamanya. Hal demikian tentulah berlaku pula terhadap orang-orang yang berkedudukan sebagaimana diri beliau manakala tiba waktunya karena ketetapan Allah dalam urusan-Nya demikian.

Dalam bentuk perluasan, ada anak-anak yang seharusnya dibina untuk meninggikan asma Allah mengikuti urusan Allah yang dilimpahkan kepada bapaknya. Seorang ibu tidak boleh mendidik anak-anak hanya untuk menjadi pembantu bagi dirinya sendiri dalam mengerjakan urusan rumah tangga, tetapi harus dibina untuk dapat mengerjakan urusan keumatan. Demikian tunas-tunas itu harus tumbuh di atas pokok yaitu mengerjakan urusan Allah dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dalam suatu al-jamaah, tidak hanya diajarkan untuk mengerjakan urusan ibunya tanpa mengetahui kedudukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Hal demikian akan merusak amr Allah.


Kamis, 07 November 2024

Mengelola Harta Kekayaan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Membina Akhlak dan Hambatannya

Kaum muslimin tidak boleh terus berdiam di alam dunia, harus melangkah mendekat kepada Allah. Setiap manusia harus melangkah pada suatu tujuan yang paling berharga, dan tujuan terbaik bagi setiap muslimin adalah menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah. Allah adalah sumber segala kebaikan dan tidak ada sumber kebaikan selain dari-Nya. Manakala seseorang menemukan suatu kebaikan dari sesuatu yang bersumber dari selain Dia, sebenarnya kebaikan itu berasal dari-Nya yang mengalir melalui makhluk yang tampak bagi seorang hamba. Ia harus berterima kasih kepada makhluk yang mengalirkannya dan bersyukur kepada Allah untuk kebaikan yang diberikan kepadanya, dan berusaha mengalirkan kebaikan dari sisi Allah kepada semesta dirinya.

Allah mencela orang-orang yang mengikatkan dirinya kepada alam dunia. Sebenarnya pengikatan itu akan menjadi sumber kecelakaan bagi setiap orang, sedangkan orang yang mengikatkan dirinya kepada dunia memandang baik apa yang dilakukannya. Sebenarnya sama sekali tidak demikian. Barangkali aspek duniawinya akan memperoleh fasilitas untuk memenuhi kebutuhannya secara berlebih, tetapi tidak akan dapat menyediakan kebutuhan secara sempurna. Pengikatan diri terhadap aspek duniawi akan menjadikan seseorang celaka, karena aspek kehidupan yang lebih eternal daripada aspek jasmaninya akan terdzalimi. Sebenarnya aspek jasmani seseorang akan tercukupi manakala ia mengikuti nafs yang bersifat lebih eternal.

﴾۱﴿وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

﴾۲﴿الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ

﴾۳﴿يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

(1)Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,(2)yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, (3) dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, (QS Al-Humazah : 2-3)

Setiap manusia harus memperhatikan kehidupan dirinya secara seimbang, menyadari bahwa di dalam dirinya terdapat entitas cahaya yang benar-benar merupakan dirinya. Selain jasmani, setiap orang mempunyai nafs yang merupakan makhluk cahaya yang berkebutuhan terhadap kebenaran, dan nafs itu bukan makhluk lain tetapi dirinya sendiri. Selain nafs, ada ruh yang merupakan entitas pembawa ketetapan Allah bagi seseorang, dan ruh bukanlah bagian diri manusia yang terdampak tanggungjawab. Ruh menghadirkan kauniyah bagi setiap orang sesuai kehendak Allah yang harus dihadapi masing-masing. Manakala ruh dipanggil Allah, jasmani manusia akan mati dan nafs mereka harus melanjutkan kehidupan di alam barzakh. Entitas nafs inilah yang harus diperhatikan oleh setiap orang karena ia akan bertanggung jawab atas semua hal yang dilakukan.

Rejeki manusia mencakup rezeki bagi alam jasmani dan nafs, mencakup tetapi tidak terbatas pada harta benda duniawi dan pengetahuan tentang kebenaran. Seringkali kedua rezeki tersebut tampak kepada kebanyakan manusia layaknya dua hal berlawanan. Manakala mengikuti kebenaran ia kehilangan harta benda dan sebaliknya manakala mencari harta benda ia mungkin harus melepaskan kebenaran. Sebenarnya tidak sepenuhnya demikian. Ada jalan rezeki yang diberikan kepada setiap manusia dalam bentuk rezeki yang mengalir melalui iman dan amal shalih. Iman dan amal shalih itu terletak pada pengenalan seseorang terhadap nafs dirinya sendiri. Apabila seseorang berusaha beribadah kepada Allah dengan jalan kehidupan yang ditentukan bagi dirinya, ia akan diberi iman dan menemukan amal shalih sebagai jalan rezeki terbaik yang ditentukan bagi dirinya, jalan rezeki yang menyatukan rezeki bagi jasmaniah dan bagi nafsnya. Hal itu akan dapat dikenali manakala seseorang menempuh jalan kembali kepada Allah melepaskan keterikatan kepada dunia.

Jalan rezeki terbaik itu tidak akan dikenali manakala seseorang berkeinginan mengumpulkan harta benda dan menghitung-hitungnya. Orang demikian berarti mengikatkan diri pada dunia, menyangka bahwa harta benda itu akan menjadikan dirinya kekal dalam kemakmuran. Keadaan demikian akan menjadi penghalang seseorang untuk menempuh jalan kembali kepada Allah, dan ia akan kesulitan memahami bahwa Allah menyediakan suatu jalan kehidupan yang baik melalui integritas yang terbangun pada diri manusia. Yang dapat dipahami hanya berupa kaidah-kaidah duniawi sehingga ia harus sepenuhnya mengikuti kaidah duniawi, di antaranya bahwa kesejahteraan akan diperoleh dengan mengumpulkan harta benda duniawi, maka ia selalu menghitung-hitung harta benda yang ada pada dirinya. Hal demikian akan menjadikan seseorang mempunyai akhlak yang buruk setidaknya ia akan menjadi pencela dan memburuk-burukkan orang lain.

Menempuh jalan kembali kepada Allah adalah berupaya menjadi hamba Allah yang didekatkan. Rasulullah SAW menjadi uswatun hasanah sebagai hamba yang didekatkan sebagaimana ketika beliau mi’raj di hadirat asma Allah di ufuk yang tertinggi. Jalan kembali itu terbagi dalam berbagai tahapan yang menunjukkan tahap kekuatan akal dalam memahami kehendak Allah, maka seseorang dapat menempuh setiap tahapan yang dekat dan dapat dilakukan dirinya. Membentuk bayt, memperoleh pengenalan diri dan tazkiyatun-nafs merupakan tahapan pendahuluan yang dapat dilakukan oleh setiap manusia. Nabi Ibrahim a.s dihadirkan sebagai uswatun hasanah yang dapat ditiru langkahnya oleh setiap manusia dengan membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sebagai tahap akhir sebelum dimi’rajkan. Manakala seseorang telah mengikuti nabi Ibrahim a.s membentuk bayt, maka ia telah tersambung kepada Rasulullah SAW dan manakala menentang atau menyimpang maka ia terputus dari Rasulullah SAW. Tahapan itu diturunkan lagi hingga menyentuh setiap diri manusia berupa pengenalan jati diri yang digambarkan dalam langkah nabi Musa a.s berhijrah ke tanah yang dijanjikan. Tanah yang dijanjikan itu adalah gambaran jati diri manusia. Untuk menempuh hijrah, setiap orang harus melakukan tazkiyatun-nafs yang menjadi syarat menempuh perjalanan. Tazkiyatun-nafs harus dilakukan dengan landasan berupa suatu iktikad yang benar dan kuat, hingga ia dapat menempuh jalan taubat tanpa menyimpang atau gugur karena ujian pembersihan dalam proses tazkiyatun-nafs.

Setengah bagian dari proses taubat itu berbentuk pernikahan. Hal ini menunjukkan bahwa proses taubat harus ditempuh dengan proses melahirkan kebaikan bagi orang lain, bukan semata membina hubungan personal dengan Allah. Sasaran akhir taubat yang dapat diusahakan manusia adalah terbentuknya bayt berupa pernikahan untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan langkah awal untuk menempuh langkah tazkiyatun-nafs adalah pernikahan. Pada bagian pertengahan (pengenalan diri), pengenalan nafs wahidah sebenarnya sangat terkait dengan pernikahan. Setiap tahap dari proses taubat itu dapat ditempuh dengan baik memperhatikan pernikahan. Bila suatu pernikahan dilakukan dengan baik, maka akan baik pula agama yang terbentuk pada diri seseorang, dan apabila buruk maka buruk pula agama seseorang. Rumah tangga yang baik merupakan tanda paling utama kebaikan yang terbentuk di antara masyarakat, dan rumah tangga yang buruk merupakan tanda paling utama keburukan yang terjadi di antara masyarakat.

Orang-orang yang hidup dengan mengumpulkan harta dan menghitung-hitung harta mereka melekat pada alam bumi yang rendah dan sulit untuk melangkah menuju kemuliaan dengan kedekatan kepada Allah. Seandainya mereka adalah orang-orang yang rajin shalat dan berpuasa, dan tidak mempunyai banyak harta, tetap saja tidak akan dapat membentuk masyarakat yang baik. Seandainya dibukakan kepada mereka pintu-pintu duniawi, mereka akan berlompatan berebut untuk menguasai dunia. Mereka mungkin akan sulit membentuk keluarga yang baik dan pada akhirnya membentuk masyarakat yang buruk. Langkah membentuk kebaikan di antara manusia harus dilakukan dengan mengikuti arah langkah uswatun hasanah, membentuk diri dalam kebaikan dan perluasannya di tingkat sosial melalui terbentuknya keluarga yang baik.

Infaq untuk Pemakmuran

Orang beriman pada dasarnya tidak dilarang untuk bekerja keras dalam mencari harta, tetapi harus didasarkan pada suatu tujuan yang jelas. Di antara tujuan yang harus dicapai orang beriman dalam melakukan kerja keras mencari harta adalah agar dapat melakukan infaq. Infaq merupakan usaha seseorang untuk turut serta dalam pembiayaan terhadap proses jihad di jalan Allah mewujudkan kemakmuran di bumi.

﴾۷۶۲﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS Al-Baqarah : 267)

Setiap orang beriman hendaknya berkeinginan untuk bisa berinfaq di jalan Allah, atau berjihad di jalan Allah. Suatu infaq yang ditunaikan akan menyatukan seseorang dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, maka ia akan memperoleh kemudahan untuk mengenali jalan Allah yang ditentukan bagi dirinya. Hal ini akan terjadi terutama bila infaq itu diberikan kepada orang-orang yang mengenal kehendak Allah bagi ruang dan jamannya sehingga infaq itu benar-benar dibelanjakan untuk program di jalan Allah, bukan sekadar program yang disangka sebagai jalan Allah. Dewasa ini ada banyak jenis orang yang menampakkan jihad di jalan Allah. Ada orang yang mengenal urusan jamannya dan berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka jihadnya benar-benar merupakan jihad di jalan Allah. Ada orang yang berusaha mewujudkan kebaikan dengan berpegang pada tuntunan kitabullah maka ia orang yang berusaha berjihad. Ada yang berusaha berjihad tanpa berpegang pada tuntunan Allah, ada yang tertipu dalam berjihad dengan pikiran yang salah dan ada orang-orang yang berpura-pura berjihad untuk mengumpulkan harta untuk diri sendiri.

Menginfakkan harta harus dilakukan dengan disertai usaha mengenali bentuk jihad yang terbaik. Banyak hal yang bermanfaat bagi seseorang dalam berinfaq selain infaqnya itu sendiri. Keinginan untuk berinfaq harus disertai dengan usaha untuk mengenali kehendak Allah secara tepat. Usaha mengenali jihad yang benar itu akan mengantarkan seseorang untuk mengenal kehendak Allah. Nilai dari infaqnya itu akan lebih ditentukan dari pengetahuannya tentang kehendak Allah, bukan hanya dari jumlah infaqnya saja. Manfaat yang tumbuh dari pemanfaatan harta infaq akan setimbang dengan pengetahuan pengelola infaq terhadap kehendak Allah. Semakin tepat infaq dimanfaatkan dalam menunaikan kehendak Allah, semakin banyak yang tumbuh dari infaq yang diberikan. Bila infaq diberikan secara sembarangan, manfaat yang tumbuh dari infaq itu mungkin tidak akan menunjukkan hasil yang jelas atau hanya dihambur-hamburkan. Boleh saja seseorang mengabaikan harta yang telah diinfaqkan mempercayakan kepada pengelola infaq, tetapi ia harus memperhatikan bahwa infaqnya diberikan untuk jihad yang paling baik. Selain itu hendaknya ia memperhatikan semua kesempatan untuk terlibat maksimal dalam jihad di jalan Allah.

Usaha mengenali bentuk-bentuk jihad itu bisa dilakukan dengan melihat landasan jihad berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Semakin jelas langkah jihad ditinjau dari tuntunan Allah dan korelasinya dengan kauniyah, maka jihad itu mempunyai dasar kuat. Banyaknya pemaksaan pengertian dalam landasan jihad menunjukkan lemahnya landasan jihad. Demikian pula kurangnya pemahaman terhadap ayat Allah merupakan kelemahan landasan jihad. Sunnah Rasulullah SAW dalam hal ini adalah langkah-langkah menempuh tahapan menjadi hamba yang didekatkan kepada Allah melalui terbentuknya keluarga yang meninggikan asma Allah. Sangat banyak hubungan antara terbentuknya keluarga yang baik dengan semua perjuangan di jalan Allah. Ibarat otak manusia sebagai pusat syaraf di mana sangat banyak jaringan syaraf yang terhubung pada otak, demikian pula suatu rumah tangga terhubung pada pertumbuhan upaya mendekat kepada Allah. Pemakmuran bumi sesuai tuntunan Allah akan sangat ditentukan dengan terbentuknya keluarga yang baik.

Bila suatu jihad dilakukan tanpa memperhatikan usaha membentuk keluarga yang baik atau justru diselewengkan, jihad yang dilakukan sebenarnya tidak menyentuh pengenalan yang benar terhadap kehendak Allah, tidak mengikuti atau justru menyimpang dari millah nabi Ibrahim a.s. Mungkin seseorang atau suatu kaum berjuang dengan usaha yang sangat keras untuk kebaikan tetapi tidak mendatangkan hasil yang memadai manakala usaha itu dilakukan tanpa memperhatikan jalan Allah berupa terbentuknya keluarga yang baik. Barangkali mereka berharap hasil perjuangan mereka akan datang pada jaman yang akan datang tetapi mungkin itu itu hanya angan-angan saja. Bila suatu generasi tidak bisa berbuat terbaik, generasi berikutnya yang tumbuh dari keluarga kurang baik akan lebih buruk dari mereka. Tidak jarang suatu kaum menganggap usahanya merupakan amal shalih tetapi sebenarnya merusak keadaan kaum muslimin karena tidak mengikuti langkah uswatun hasanah.

Mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt harus diperhatikan oleh orang yang ingin menempuh jalan Allah. Kadangkala suatu keluarga harus mengikuti millah hingga langkah membentuk keluarga ta’addud. Ada pengajaran dan manfaat yang sangat besar dalam tuntunan demikian. Pada pokoknya, setiap orang harus berusaha menyatu dengan nafs wahidah karena nafs wahidah itu yang memahami kehendak Allah. Aspek jasmani seorang laki-laki menjadi pelayan bagi nafs wahidah, dan para isteri menolong suaminya untuk melaksanakan perintah Allah. Dengan demikian mereka menjadi orang-orang yang menolong Allah dalam hubungan washilah yang benar. Hanya saja perlu disadari bahwa kesatuan nafs wahidah tidak jarang harus berbentuk keluarga ta’addud sebagai ketentuan dari zaman azali. Bila tidak mentaati petunjuk, tidak akan terbentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Bertambahnya keluarga itu merupakan bertambahnya amanah yang harus ditunaikan oleh seorang suami bersama keluarga itu. Bertambahnya keluarga merupakan pertambahan penghubung bagi pasangan manusia terhadap semesta yang lebih luas, dan laki-laki yang berta’addud harus membawa umat yang lebih besar. Hal itu harus diperhatikan laki-laki manakala diperintahkan bertaaddud. Mestinya bertambahnya amanah itu menambah rezeki bagi mereka, tetapi tidak semua orang yang menikah memperoleh rejeki selayaknya karena dirusak oleh syaitan. Manakala seorang laki-laki berta’addud dengan mengikuti keinginan sendiri, ia akan merasakan beratnya berjalan kembali kepada Allah secara adil dengan bertambahnya keluarga.

Dalam kasus demikian seorang isteri harus menyadari bahwa Allah mengajarkan kepada mereka tingkatan kasih sayang dari sisi-Nya secara lebih sempurna. Kasih sayang yang harus terbentuk di keluarga boleh jadi tidak sebatas hubungan cinta kasih antara suami isteri, tetapi hingga kasih sayang dalam bentuk harus bisa berbagi dengan orang lain dalam perkara yang dicintainya. Demikian pula ketaatan kepada suami harus dibina dengan mengurangi cengkeraman hawa nafsu diri. Tidak pantas bagi seorang isteri mencaci-maki suaminya manakala mendapatkan petunjuk untuk berta’addud, sedangkan tidak berkurang rasa kasih suaminya kepadanya. Omongan orang lain tentang keburukan suaminya seringkali merupakan fitnah syaitan yang ingin menipunya, maka hendaknya ia memperhatikan suaminya secara langsung bahwa sangat mungkin tidak ada niat buruk atau dorongan hawa nafsu buruk dalam diri suaminya dalam menempuh keluarga ta’addud, tidak menuduh secara serampangan berdasarkan omongan orang lain. Penolakan terhadap urusan demikian sebenarnya membawa implikasi yang sangat besar. Ada perempuan lain yang harus mengalami kesulitan karena penolakannya, dan ada urusan-urusan serta umat yang terputus washilahnya hingga membawa dampak yang sangat besar. Dalam kasus tertentu, kesulitan hidup keluarga mereka tidak terangkat manakala suaminya tidak bisa mengikuti petunjuk Allah, dan juga kesulitan umat yang membutuhkan peran serta keluarga mereka untuk mengangkatnya.

Berinfaq akan mendatangkan manfaat yang besar manakala infaq itu dibelanjakan untuk program mewujudkan kehendak Allah secara tepat dengan jalan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s. Manakala hendak berinfaq, penerima infaq yang mengikuti nabi Ibrahim a.s merupakan orang yang paling tepat menerima infaqnya, sekalipun mereka membentuk keluarga ta’addud. Nabi Ibrahim a.s juga berta’addud. Barangkali tidak semua orang berta’addud benar-benar berlandaskan tujuan mengikuti langkah nabi Ibrahim a.s, tetapi hendaknya ta’addudnya seseorang tidak digunakan untuk memandang buruk keadaan mereka dalam berjihad mengikuti langkah uswatun hasanah nabi Ibrahim a.s dan Rasulullah SAW. Sebagian orang melakukan ta’addud benar-benar karena perintah untuk melakukan ta’addud sebagai bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.