Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Salah satu tahapan yang menjadi tanda bahwa seseorang mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah pengenalan diri terhadap amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Allah menetapkan bagi setiap manusia amal perbuatan pada leher mereka, dan amal-amal itu merupakan kandungan dari suatu kitab yang akan dijumpai terbuka di akhirat kelak.
﴾۳۱﴿وَكُلَّ إِنسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنشُورًا
Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. (QS Al-Israa : 13)
Amal perbuatan pada ayat di atas disebut sebagai thaair (طَائِرَ) yang menunjuk pada amal-amal untuk mengangkat menuju langit. Allah menetapkan bagi setiap manusia amal-amal tertentu secara khusus yang harus dilaksanakan setiap manusia untuk dapat mendekat kepada Allah, karena amal-amal itu menjadi sarananya untuk dapat menempuh jalan langit. Seseorang tidak akan dapat menempuh jalan langit tanpa mengenal amal-amal yang dikalungkan bagi dirinya meskipun mengerjakan amal-amal yang tampak sangat baik dalam pandangan manusia. Bukan berarti amal yang tampak baik itu tidak mempunyai nilai yang baik, hanya saja amal itu tidak akan menjadikan seseorang menjadi hamba yang mempunyai kedudukan dekat kepada Allah. Mungkin saja beramal baik itu akan mendatangkan pahala yang mengantarkannya ke surga karena rahmat Allah sangat luas, tetapi bukan berupa surga yang dekat kepada Allah. Allah Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya.
Ketetapan amal itu tertulis pada buku yang akan dijumpainya terbuka pada hari kiamat. Buku itu pada dasarnya merupakan bagian dari kitabullah Alquran tidak keluar darinya, yang berbicara lebih khusus tentang masing-masing diri. Pengetahuan seseorang terhadap kitabullah Alquran akan sangat dipengaruhi pengetahuannya tentang kandungan kitab amal-amalnya, dan sebaliknya pengetahuan seseorang terhadap amal-amal yang ditentukan bagi dirinya bergantung pada kebutuhannya terhadap tuntunan kitabullah Alquran. Tidak ada orang yang mengenal amal-amal dirinya tanpa suatu pengetahuan terhadap kandungan suatu ayat dalam kitabullah Alquran. Orang-orang yang mengetahui kandungan dari kitab dirinya akan mengetahui makna yang terkandung dari ayat dalam kitabullah Alquran bukan hanya berupa sangkaan-sangkaan terhadap redaksi ayat-ayat kitabullah. Mereka mengetahui realitas yang terjadi pada alam kauniyah sesuai dengan ayat tertentu dalam kitabullah yang menjadi penuntun dalam melaksanakan amal-amal yang ditentukan bagi dirinya. Pengetahuan tentang amal yang ditentukan tanpa disertai keterbukaan makna ayat kitabullah Alquran dapat bersifat sangat berbahaya karena campur tangan alam yang jahat.
Amal-amal itu digantungkan pada leher setiap manusia, dan manusia tidak dapat menempuh jalan langit itu dengan mencari amal-amal selain amal yang dikalungkan pada lehernya. Seorang anak tidak dapat mengikuti saja amal-amal orang tuanya seandainya orang tuanya telah mengenal amal-amal yang dikalungkan bagi mereka, sekalipun sangat mungkin amal-amal itu sangat berdekatan. Misalnya seorang anak mempunyai tugas yang serupa dengan ayahnya sebagai pewaris, ia harus mengetahui sendiri amal yang dikalungkan bagi dirinya sebagai sarana untuk mendekat kepada Allah. Demikian pula seorang murid tidak dapat menempuh jalan langit dengan amal-amal gurunya sekalipun gurunya adalah seseorang yang mengenal amal-amal yang ditentukan bagi dirinya. Apa yang ditunjukkan oleh gurunya adalah petunjuk yang akan mengantarkannya untuk memahami amal-amal bagi dirinya, tetapi pengenalan terhadap amal-amalnya akan tergantung pada akalnya dalam memahami ayat-ayat Allah. Sangat berbahaya bagi manusia untuk menutup akal untuk memahami ayat Allah untuk sekadar mengikuti petunjuk-petunjuk gurunya.
Tidak semua orang mengenali amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Orang-orang yang beramal tidak selalu mengerjakan amal-amal yang ditetapkan bagi diri mereka, dan kebanyakan manusia sebenarnya beramal hanya dengan amal-amal yang mereka inginkan sendiri. Hanya orang-orang yang ingin mengenal kehendak Allah yang dapat mendekati hingga mengenali amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya. Sekalipun amal-amal ini merupakan bagian dari jati diri manusia, amal-amal ini sulit didekati dengan jalan menginginkan mengenal jati diri. Dalam beberapa kasus, syaitan akan mendorong manusia untuk menikmati pohon khuldi masing-masing hingga mereka dapat celaka. Hanya orang yang ingin memahami dan mengikuti kehendak Allah yang akan mendekati dan mengenali amal-amal yang ditetapkan bagi dirinya.
Sebagian besar manusia akan mengetahui ketetapan amal-amal itu kelak di pada hari kiamat sebagai buku yang dijumpainya terbuka. Boleh jadi sebelum itu mereka tidak mengetahui ketetapan-ketetapan itu, tetapi ada orang-orang yang mengetahui kandungan kitab itu sebelum hari kiamat dan bahkan dalam kehidupan di dunia. Dalam kehidupan dunia, ada orang-orang yang tidak peduli dengan kehendak Allah, ada yang berusaha mengikuti kehendak Allah baik mengetahui ada amal-amal yang ditetapkan atau tidak mengetahuinya. Orang yang berusaha mengikuti kehendak Allah akan berada pada sekitar amal-amalnya walaupun mungkin hidup dalam kesulitan, sedangkan orang-orang tidak peduli akan hidup bebas dan menyimpang jauh dari ketentuan dalam kitab dirinya.
Tidak Meninggalkan Al-Jamaah
Terkait masalah jati diri, manusia dapat diibaratkan tambang logam berharga seperti emas dan perak. Emas dan perak bersifat murni, tetapi ditemukan di alam bercampur-campur dengan banyak material-material lain tanpa bersenyawa dengan material-material itu. Setiap orang hendaknya berusaha menjadikan dirinya murni agar nilai dirinya meningkat seperti emas atau perak. Tanpa kemurnian, mungkin seseorang hanya bersifat serupa dengan remah-remah material yang mengotori. Orang yang melaksanakan amal-amal yang dikalungkan Allah bagi dirinya diibaratkan gumpalan emas murni. Hanya saja kadangkala manusia tidak mengetahui nilai kemurniannya. Mungkin saja ia terlihat oleh manusia tampak seperti orang pada umumnya, akan tetapi di mata Allah sebenarnya ia merupakan sesuatu yang sangat berharga. Demikian pula dalam pandangan orang-orang yang berilmu, apa-apa yang mereka kerjakan akan tampak sebagai amal-amal yang bernilai tinggi. Orang-orang yang tidak mempunyai ilmu mungkin saja tidak memandang berharga amal-amal yang mereka lakukan.
Dari Abu Hurairah r.a , bahwasanya Nabi SAW bersabda :
النَّاسُ مَعَادِنُ كَمَعَادِنِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي اْلإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوا وَالْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
“Manusia ibarat logam berharga seperti emas dan perak. Orang yang bernilai pada masa jahiliyah, akan menjadi orang yang bernilai juga dalam Islam apabila ia faqih. Ruh ibarat pasukan yang dikumpulkan, ia akan bersatu jika saling mengenal dan akan berselisih jika tidak saling mengetahui“. [HR Muslim].
Bernilainya orang demikian terkait dengan terbinanya kemurnian pengetahuan terhadap amal-amal yang dikalungkan bagi dirinya. Ilmu terhadap amal-amal itu dan amalnya merupakan buah yang tumbuh dari kemurnian hati seseorang dari kotoran duniawi. Apabila hati seorang manusia terikat pada duniawi, pengetahuan-pengetahuan yang ada pada hatinya akan tercampur oleh keinginan duniawi. Hal demikian berlaku pada setiap manusia baik ia jahiliah ataupun ia telah menjadi muslim. Ada orang-orang yang mempunyai hati yang bersih di antara manusia baik orang jahiliah ataupun orang islam. Orang yang licik hatinya terkotori oleh kepentingan dirinya atau hawa nafsunya, maka mereka akan melahirkan amal-amal yang kotor mementingkan dirinya sendiri. Orang-orang yang bersih hatinya akan melahirkan amal-amal yang bersih. Orang-orang jahiliah yang terbina kemurnian hatinya bersih dari kepentingan diri akan mempunyai kemurnian pengetahuan berharga yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Pengetahuannya itu merupakan hal yang berharga, dan akan menjadi lebih berharga manakala ia menjadi orang-orang islam.
Nilai berharga dari amal-amal seseorang pada dasarnya dinilai dari kemurnian hati dalam beramal. Orang jahiliah dapat melahirkan amal-amal yang bernilai bagi manusia, dan sebaliknya orang-orang islam dapat melahirkan amal-amal yang terkotori oleh hawa nafsu ataupun kepentingan dunia. Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi, tetapi mungkin saja terjadi. Pada prinsipnya, nilai dari amal yang dilakukan terwujud dari kemurnian hati dan pengetahuan seseorang dalam beramal. Orang yang murni akan jauh lebih mudah untuk menjadi muslim apabila mengenal kebenaran dalam islam, dan ia akan menjadi orang yang sangat berharga dalam islam apabila ia faqih. Sedangkan seorang muslim yang terkotori hatinya dengan harga diri hawa nafsu dan kepentingan dunia akan sulit untuk melahirkan amal-amal yang bernilai karena amalnya terkotori.
Kefaqihan adalah kemampuan memahami keadaan sesuai tuntunan Allah serta melaksanakan tuntunan tersebut. Misalnya bila seseorang memahami kaitan kesenjangan sosial dengan sistem ekonomi riba, dan kemudian ia menempuh langkah mengurangi jeratan riba, maka ia adalah seorang yang faqih dalam urusan riba. Orang islam yang tidak mempunyai pemahaman terhadap keadaan mereka sesuai tuntunan Allah tidak dapat dikatakan faqih. Nilai manfaat seorang muslim bagi masyarakat akan meningkat seiring dengan kefakihan dirinya. Apabila ia adalah seorang yang murni pada jaman jahiliahnya, ia telah memberikan manfaat bagi masyarakatnya dan nilai manfaat itu akan meningkat dengan keislaman seiring dengan kefaqihannya. Bila amal seseorang bercampur-campur keadaannya, ia harus memurnikan amalnya untuk meningkatkan nilai diri, dan berusaha memahami keadaan sekitarnya sesuai tuntunan Allah untuk meningkatkan kefaqihannya.
Nilai kemurnian amal seseorang akan bertambah karena keislaman dan keimanan. Puncak dari nilai amal yang terlahir akan terwujud manakala seseorang mengenal ruh qudus bagi dirinya. Nafs seseorang akan berubah secara bertahap dengan bertambahnya kekuatan akal dalam hatinya melalui proses pemurnian hati. Pada tahap tertentu, seseorang akan mengenal untuk apa dirinya diciptakan. Mengenal diri demikian disertai tanda mengenal amal perbuatan yang ditetapkan bagi dirinya, dan mengenal ruh qudusnya. Ruh itu akan membacakan kepada seseorang makna dari tuntunan-tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka ia mengetahui kehendak Allah atas dirinya secara kokoh.
Orang-orang jahiliah tidak mungkin memperoleh pengetahuan dari ruhnya. Orang-orang islam mungkin akan mengetahui tuntunan itu dengan benar bila berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ruh qudus itu hanya akan membacakan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tanpa melakukan intervensi terhadap kehidupan diri seseorang tanpa kehendak Allah. Ia tidak melakukan sesuatu atas permintaan manusia kecuali atas ijin Allah. Kadangkala syaitan menyaru kepada manusia sebagai ruh memberikan tuntunan tanpa dasar dari ayat-ayat kitabullah hingga ia menjadi qarin bagi manusia itu dan seringkali bermudah-mudah melakukan intervensi kehidupan menuruti keinginan manusia seolah-olah kejadian itu atas kehendak Allah. Hal demikian mudah terjadi apabila seseorang tidak berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnahh Rasulullah SAW.
Sekalipun berasal dari alam yang tinggi, ruh qudus seorang manusia mempunyai batasan-batasan pengetahuan. Mereka akan mengenali dengan baik ruh-ruh yang dekat dengan dirinya saja. Hal ini berlaku pada kebanyakan manusia, tidak berlaku atas ruh Rasulullah SAW dan mungkin ruh para nabi yang mengenali seluruh ruh umatnya. Bagi kebanyakan manusia, ruh-nya akan mengenali ruh yang berdekatan dengan dirinya saja. Mereka akan saling menyatu dengan ruh yang dikenalinya, dan akan mungkin akan saling berselisih manakala tidak saling mengenali. Walaupun dua orang beriman masing-masing memperoleh ruh qudus, mungkin saja terjadi perselisihan di antara keduanya dalam suatu perkara karena pengetahuan yang berbeda. Untuk menghindari hal demikian, setiap orang harus kembali pada shaff dirinya dalam al-jamaah. Orang yang berjamaah mengenal garis washilahnya hingga kepada Rasulullah SAW, sekalipun mungkin tidak mengenal orang lain yang juga mengenal ruh qudusnya manakala berjauhan.
Sebenarnya lingkup pengetahuan dari ruh qudus itu terbatas, tidak benar-benar menjadi utusan Allah di muka bumi, hanya menjadi utusan Allah bagi orang yang bersangkutan dan orang tersebut menjadi khalifatullah untuk urusan dirinya bukan seluruh urusan. Umat manusia tidak boleh bersikap berlebihan dalam hubungan dirinya dengan ruh qudus. Kaum nasrani menjadi orang-orang yang sesat karena menjadikan nabi Isa a.s yang memperoleh ruh qudus sebagai anak Allah. Kaum muslimin dapat terjebak pada sikap yang sama dengan kaum nasrani dalam berurusan dengan ruh qudus dengan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Mungkin mereka menjadikan Allah sebagai tuhan, tetapi menjadikan pula orang-orang dengan ruh qudus sebagai tuhan selain Allah. Hal demikian sama sekali tidak boleh dilakukan. Demikian pula seseorang dengan ruh qudus tidak boleh menjadikan dirinya sepenuhnya wakil Allah untuk seluruh urusan, karena ruh qudus itu sebenarnya hanya membawakan sebagian kecil dari urusan Allah. Ada batasan diri yang harus dikenali setiap orang, dan batasan diri itu akan dikenali manakala seseorang tidak keluar dari al-jamaah, yaitu mengenali kedudukan dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW.
Pada tingkatan umum, kaidah batasan ruh demikian bisa dijadikan landasan dalam menata manusia. Untuk membina masyarakat, manusia hendaknya dikelompokkan sesuai urusan yang berdekatan agar saling mendorong pengenalan diri mereka. Hal ini dapat dilakukan setelah melakukan tazkiyatun-nafs. Bersihnya hati dalam beramal menjadi pondasi munculnya nilai amal yang dikerjakan. Berikutnya, kekuatan akal seseorang dalam memahami kehendak Allah akan meningkatkan nilai yang dihasilkan melalui amal-amal. Seorang muslim yang faqih akan mempunyai amal dengan nilai yang lebih baik daripada seorang jahiliah, tanpa menghilangkan adanya nilai pada amal yang bersih dari orang-orang jahiliah. Tanpa hati yang murni dari kotoran hawa nafsu dan kepentingan diri, seseorang tidak perlu ditunjukkan arah amal-amal yang ditentukan baginya karena amal-amal mereka akan kotor sekalipun jika mereka mengerjakan amal yang ditentukan Allah. Orang yang akalnya berkembang-lah yang disatukan dengan orang yang serupa tanpa dipaksakan untuk serupa.
Orang yang lebih murni pengetahuannya menjadi pengarah bagi yang lain, tidak terbalik hanya karena keterampilan di antara jamaah. Orang yang mempunyai kepedulian lebih baik terhadap kehendak Allah memimpin yang lain. Hal ini seringkali sulit diukur. Hendaknya orang yang berkomitmen lebih baik terhadap kehendak Allah dan al-jamaah lebih didahulukan daripada orang yang sekadar terampil. Boleh jadi orang yang berkomitmen tulus terhadap kehendak Allah mempunyai pengetahuan lebih baik atau lebih tepat memahami tetapi kurang mampu mengungkapkan pengetahuannya. Orang yang tidak murni boleh diarahkan untuk mengerjakan amal terbaik yang mereka ketahui atau mengikuti yang ingin mereka ikuti. Ada orang-orang yang bersifat soliter untuk masanya walau sangat jarang ada, tetapi ia bisa tetap dalam al-jamaah karena mengetahui kedudukannya. Sebaliknya ada orang yang bergerombol dalam beramal tetapi tidak berada dalam al-jamaah karena tidak mengetahui batasan dirinya. Hal-hal demikian hendaknya dilakukan untuk melakukan penataan di antara manusia.