Pencarian

Minggu, 28 Juli 2024

Dzikir, Ayat Allah dan Petunjuk

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah membentuk akhlak mulia hingga menjadi makhluk yang dianggap layak untuk didekatkan dan dihadirkan di hadirat Allah. Akhlak mulia ditunjukkan dengan terbentuknya sifat rahman dan rahim dalam diri. Sifat rahmaniah manusia menunjukkan sifat kecintaan terhadap kebenaran berupa pemahaman dan ketaaatan terhadap tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kecintaan rahmaniah itu tidak hanya berlaku bagi diri sendiri, tetapi juga kesukaan memberikan pemahaman kepada orang lain dan mengajak pada ketaatan. Sifat rahim menunjukkan cinta kasih seseorang terhadap orang lain dan makhluk lain. Sifat rahim ditunjukkan dengan terwujudnya sikap yang baik terhadap makhluk-makhluk lain berupa keinginan memberikan kemudahan dalam kehidupan.

Sifat-sifat tersebut akan terbentuk manakala manusia mengikuti petunjuk Allah. Sifat rahman dan rahim dalam definisi khusus tidak akan terbentuk pada diri seorang manusia tanpa mengenal dan mengikuti petunjuk Allah. Membina sifat baik akan menghindarkan seseorang dari celaka, tetapi ada kekhususan dalam petunjuk Allah. Untuk berjalan mendekat kepada Allah dan membina kemuliaan setiap orang harus memperoleh dan mengikuti petunjuk. Kemuliaan akhlak manusia akan selaras dengan petunjuk yang diikutinya. Allah menurunkan petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki, maka barangsiapa mengikuti petunjuk ia akan didekatkan kepada Allah tanpa tersesat dan tidak celaka.

﴾۳۲۱﴿فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
(123) Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara (124) Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" (QS Thaahaa : 123-124)

Mengikuti petunjuk harus diwujudkan oleh hamba Allah hingga dalam bentuk dzahir melalui upaya dzikir. Dzikir menunjuk pada usaha mengartikulasikan pemahaman terhadap kehendak Allah hingga terlihat pada wujud-wujud dzahir sebagai tindak lanjut dari petunjuk yang telah diterima. Amal yang dilakukan seorang hamba Allah berdasarkan pemahaman terhadap kehendak Allah sedikit atau banyak maka itu termasuk dalam bentuk dzikir. Dzikir dalam bentuk tertinggi adalah terbentuknya bayt seseorang untuk mengartikulasikan pemahaman terhadap kehendak Allah, yaitu meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Petunjuk Allah adalah petunjuk yang menjadikan seseorang memahami kehendak Allah. Ada banyak jenis petunjuk yang bisa turun kepada manusia, baik yang benar ataupun yang salah. Allah memberikan petunjuk kepada para hamba Allah dalam berbagai tingkat. Ada petunjuk-petunjuk Allah yang dituliskan di alam bumi. Ada petunjuk-petunjuk yang diberikan kepada hamba melalui suatu perintah kepada langit untuk menurunkan pengetahuan. Ada petunjuk berupa kitabullah yang selalu menjadi petunjuk bagi orang yang mengharapkannya. Petunjuk-petunjuk demikian di Alquran seringkali disebut sebagai ayat. Petunjuk Allah pada ayat di atas adalah bentuk petunjuk yang menjadikan manusia memahami kehendak Allah dengan benar. Seringkali petunjuk Allah terbentuk melalui penyatuan berbagai bentuk petunjuk-petunjuk atau ayat-ayat, tanpa menafikan bahwa ada banyak petunjuk Allah yang tiba-tiba diturunkan. Yang pasti, dengan petunjuk Allah seseorang akan mengetahui kehendak Allah yang harus ditunaikan dan kehendak itu selaras dengan kauniyah yang terjadi dan sesuai dengan petunjuk kitabullah.

Petunjuk Allah tidak hanya berupa petunjuk-petunjuk yang umum, tetapi bisa juga bersifat sangat definitif. Misalnya bisa saja seseorang menerima petunjuk Allah berupa perjodohannya dengan orang tertentu. Sekalipun definitif, manfaat dari petunjuk demikian bersifat luas. Ayat tentang petunjuk di atas terkait dengan keberpasangan Adam dan Hawa dan juga penyatuan hati atau permusuhan antar manusia secara umum. Bila manusia memahami, keberpasangan antara dua manusia sebenarnya terkait dengan persoalan besar umat manusia. Petunjuk Allah yang bersifat definitif tidak boleh disepelekan, karena sebenarnya mempunyai tujuan yang besar bagi umat manusia. Suatu pernikahan berdasarkan petunjuk seringkali menjadi kunci yang mengawali penyelesaian permasalahan umat manusia.

Kadangkala seseorang belum mampu memahami makna suatu petunjuk. Orang-orang yang menerima petunjuk demikian hendaknya berusaha untuk memeriksa kauniyah dirinya dengan seksama untuk memahami petunjuknya, tanpa memaksakan diri untuk segera memahaminya. Upaya demikian terutama terkait dari petunjuk yang kandungannya tidak sesuai dengan keinginan diri sendiri. Petunjuk demikian seringkali bukan berasal dari hawa nafsu atau syahwat, atau dari kesombongan diri sebagai orang yang menerima petunjuk. Sekalipun belum memahami, petunjuk demikian tidak boleh disia-siakan. Petunjuk itu bila benar akan bisa menjelaskan keadaan (kauniyah) diri atau bahkan kauniyah kaumnya yang sebelumnya tidak disadarinya, dan kemudian ia menyadari bahwa petunjuk itu adalah petunjuk yang benar

Ketidaktahuan seseorang terhadap makna petunjuknya seringkali menimbulkan sikap yang tidak tepat. Ketidaktahuan hendaknya tidak membuat seseorang bersikap berlebihan terhadap petunjuknya. Setiap orang harus menjaga sikapnya, baik untuk dirinya, terhadap orang-orang di sekitarnya ataupun adabnya kepada Allah. Misalnya bila petunjuk yang diterima tidak sesuai dengan dirinya, hendaknya ia mencari tahu keadaan dirinya secara tepat tidak menganggap petunjuknya salah hingga menyalahkan Allah. Contoh lain, bila petunjuk jodoh tidak sesuai keinginannya, hendaknya ia tidak menjatuhkan kehormatan pasangan dalam petunjuknya di antara keluarganya atau di antara umatnya. Sebenarnya ketidaksesuaian hawa nafsunya itulah yang seharusnya ditundukkan. Apabila ia belum mampu, maka cukuplah menjaga jarak antara mereka tidak perlu sampai merusak keadaan pihak lain dengan sengaja. Semakin besar kerusakan yang diperbuat, semakin besar hambatan yang muncul untuk kembali kepada petunjuk, sedangkan setiap orang akan dituntut untuk mengikuti petunjuknya manakala telah mulai memahami. Bila seseorang tidak pernah memahami petunjuknya, boleh jadi ia sebenarnya mengabaikan ayat Allah. Menjaga sikap harus diperhatikan manakala seseorang tidak mengetahui makna petunjuknya.

Berdzikir Kepada Allah

Menerima petunjuk Allah dan dzikir merupakan keadaan yang muncul dari sifat rahman dan rahim pada diri seseorang. Pahamnya seorang hamba terhadap kehendak Allah sesuai dengan keadaan kauniyah dan tuntunan kitabullah merupakan manifestasi rahmaniyah yang terbentuk dalam dirinya. Upaya mewujudkan pemahaman terhadap kehendak Allah hingga terlahir ke alam dunia merupakan manifestasi sifat rahimnya. Setiap hamba Allah harus berusaha mewujudkan kedua sifat itu dalam wujud lahir untuk membentuk akhlaknya menuju kemuliaan, tidak meninggalkan salah satu di antara keduanya atau meninggalkan keduanya.

Dzikir yang sesungguhnya terwujud dari petunjuk Allah. Bagi orang-orang yang diberi pengetahuan tentang kehendak Allah, hendaknya mereka sungguh-sungguh memeriksa pengetahuannya dari kitabullah. Bila pengetahuannya benar, kitabullah akan bercerita lebih jelas, tepat dan teliti tentang kehendak Allah daripada pengetahuan yang dipahaminya. Bila pengetahuannya salah, kitabullah akan menunjukkannya pada yang benar. Umatnya yang mungkin mengikuti dzikirnya juga akan memperoleh landasan yang benar dalam mengikuti kehendak Allah, tidak hanya berlandaskan pengetahuan panutannya saja. Hal demikian akan mengurangi potensi kesalahan dan kesesatan yang mungkin menimpa umat. Keberjamaahan seseorang bersama Rasulullah SAW ditentukan dari ketaatannya berpegang pada kitabullah. Bila seseorang beramal dengan suatu dzikir tanpa tuntunan kitabullah, barangkali ia akan menjadi orang asing di antara al-jamaah yang mengikuti Rasulullah SAW, atau dengan kata lain al-jamaah tidak mengenali amal-amal yang dilakukannya sebagai bagian dari amr Rasulullah SAW.

Seseorang yang meninggalkan dzikir kepada Allah setelah menerima petunjuk-Nya akan memperoleh kehidupan yang sempit dan kelak akan dikumpulkan dalam keadaan buta dari cahaya Allah. Setiap hamba Allah tidak boleh semata-mata mengandalkan pencarian kebenaran sebagai jalan mendekat kepada Allah. Pencarian kebenaran setiap hamba Allah harus digunakan untuk mewujudkan rasa sayang terhadap makhluk yang lain melalui upaya dzikir. Hanya dengan menjalani keduanya maka seorang hamba akan membentuk akhlak mulia dan memperoleh jalan untuk mendekat kepada Allah.

﴾۵۲۱﴿قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا
﴾۶۲۱﴿قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ
﴾۷۲۱﴿وَكَذٰلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَىٰ
(125) Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (126) Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (127) Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. (QS Thaahaa : 125-126)

Manakala seseorang tidak menunaikan dzikir, petunjuk-petunjuk yang diperoleh sebenarnya tidak memberikan manfaat. Fungsi bashirah bagi orang-orang demikian sebenarnya tidak dibutuhkan, karenanya kelak orang-orang yang tidak berdzikir berdasarkan petunjuknya akan dikumpulkan dalam keadaan buta. Petunjuk Allah yang diterima oleh seseorang harus diusahakan wujudnya. Bukan keberhasilan yang dituntut dari orang yang menerima petunjuk, tetapi usahanya untuk mewujudkan. Keberhasilan mewujudkan petunjuk tidak hanya tergantung diri seseorang tetapi juga banyak pihak. Misalnya bila seseorang harus menikah, harus ada kesepakatan minimal dari kedua pihak dan kadangkala banyak pihak ikut menentukan.

Ayat-Ayat Allah

Bashirah pada setiap orang harus dipergunakan untuk melihat ayat-ayat Allah hingga ia dapat memahami petunjuk Allah dan beramal berdasarkan petunjuk itu. Ayat Allah adalah keping-keping kebenaran yang akan mengantarkan seseorang memahami kehendak Allah. Bagi manusia umumnya, suatu ayat Allah mungkin tidak tampak menyatu dengan ayat yang lain tetapi tetap mempunyai nilai kebenaran. Misalnya mungkin seseorang mengetahui suatu persoalan dalam dirinya yang muncul karena kesalahannya sendiri, tetapi ia tidak mengetahui hubungannya dengan masalah internasional. Pengetahuan yang benar tentang persoalan diri itu termasuk ayat Allah. Manakala ia mengetahui persoalan dirinya terkait dengan masalah umat sebagaimana diterangkan dalam kitabullah Alquran, maka mungkin ia telah mendapatkan petunjuk Allah. Sangat banyak bentuk ayat Allah, tidak terbatas untuk diceritakan. Kadangkala ayat Allah ditemukan dalam bentuk penglihatan yang benar, dan bentuk-bentuk ayat yang lain. Suatu petunjuk terbentuk dari kumpulan ayat-ayat Allah yang dipahami dengan akal.

Ayat Allah dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, berupa ayat kitabullah, ayat kauniyah dan ayat dalam dada orang beriman. Setiap orang hendaknya memperhatikan ayat-ayat Allah agar terbentuk suatu petunjuk Allah bagi dirinya dan kemudian ia bertindak sesuai dengan petunjuk. Bila demikian maka ia akan diberi bashirah. Manakala seseorang tidak peduli dengan ayat-ayat Allah, atau tidak berusaha menemukan petunjuk dengan ayat-ayat itu, atau tidak mendzikirkannya, ia tidak akan diberi bashirah ataupun bila diberi bashirah, bashirah akan dicabut kelak di akhirat karena tidak digunakan dengan benar. Bashirah itu harus digunakan dengan benar yaitu untuk berusaha mewujudkan kehendak Allah di alam dunia.

Kebutaan itu terjadi manakala seseorang tidak mampu melihat ayat-ayat Allah. Dalam bentuk lebih lanjut, kebutaan itu sebenarnya bisa terjadi pada orang-orang yang memperoleh petunjuk, yaitu manakala mereka tidak berdzikir dengan petunjuk yang diperoleh, atau orang-orang yang menganggap remeh ayat Allah yang disampaikan kepada mereka hingga mereka melupakannya. Demikian pula sebenarnya kebutaan itu bisa terjadi pada orang-orang yang telah diberi penglihatan, pendengaran dan hati dalam kehidupan dunia tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah hingga mereka tersesat. Sebagian orang demikian justru menjadi sombong meremehkan kebenaran yang dibacakan oleh orang lain karena memandang remeh mereka yang membaca. Orang-orang yang mempunyai penglihatan, pendengaran dan qalb dalam kehidupan dunia belum tentu akan tetap diberi indera-indera bathin demikian kelak di akhirat manakala tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah.

Orang yang meremehkan kebenaran ayat Allah yang sampai kepada mereka, atau tidak berdzikir ketika petunjuk Allah telah didatangkan kepadanya, mereka termasuk orang-orang yang berlebihan atau melampaui batas. Melampaui batas ( أَسْرَفَ) secara umum diartikan bermewah-mewah atau mensia-siakan. Makna yang dimaksud pada ayat di atas ada di antara makna-makna yang disebutkan. Terminologi berlebihan atau melampaui batas ( أَسْرَفَ) pada ayat di atas bisa dipahami sebagai sikap memandang diri secara kurang tepat melampaui kedudukan diri mereka yang sesungguhnya. Gejala dari sikap berlebihan atau melampaui batas itu boleh jadi akan terlihat dalam tindakan kepada pihak lain dalam bentuk sikap yang tidak semestinya. Mereka mungkin akan mengabaikan ayat Allah yang disampaikan, atau meremehkan orang lain hingga merasa berhak untuk melakukan sesuatu kepada orang lain secara tidak semestinya. Munculnya perbuatan demikian disebabkan mereka memandang diri mereka melampaui kedudukan diri.

Tepatnya kedudukan seseorang akan diketahui manakala mereka mengetahui kedudukan diri dalam amr Rasulullah SAW. Manakala seseorang mengenal urusan diri mereka dalam keadaan tidak diketahui hubungannya dengan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya, mereka belum mengetahui kedudukan diri mereka dengan tepat. Bila seseorang mengetahui urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya, mereka mengetahui kedudukan dirinya dengan benar. Ketepatan pengetahuan seseorang tentang kedudukan diri akan semakin akurat bila seseorang mengenal hubungan washilah yang harus dibentuk di antara mereka. Orang-orang yang tidak berusaha mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka akan mudah terjatuh pada sikap berlebihan.

Kamis, 25 Juli 2024

Dzikir dan Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW di antaranya adalah berusaha meningkatkan kualitas dzikir kepada Allah. Dzikir menunjuk pada usaha mengartikulasikan pemahaman terhadap kehendak Allah hingga terlihat pada wujud-wujud dzahir. Manakala seseorang menyebutkan asma Allah, ia telah berdzikir. Manakala ia berusaha memahami kitabullah, ia juga berdzikir. Dzikir mempunyai tingkatan-tingkatan kualitas. Kualitas tertinggi suatu dzikir kepada Allah adalah terbentuknya bayt seseorang untuk mengartikulasikan pemahaman terhadap kehendak Allah, yaitu meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Barangkali ia berusaha mewujudkan tatanan umat manusia untuk mencapai keikhlasan beribadah kepada Allah atau ia mewujudkan hasil-hasil karya bendawi untuk kebutuhan umat manusia, selama amal itu berdasarkan pemahaman terhadap kehendak Allah sedikit atau banyak maka itu termasuk dalam bentuk dzikir.

Dzikir kepada Allah merupakan bentuk hubungan vertikal dari upaya pemakmuran bumi. Hubungan antara dzikir dengan pemakmuran bumi sangat erat. Pemakmuran bumi tidak dapat terjadi tanpa dzikir, dan dzikir yang benar akan selalu mendatangkan pemakmuran bumi. Boleh jadi upaya seseorang dalam hal itu tidak mendatangkan hasil, tetapi sebenarnya dzikirnya itu benar-benar merupakan bahan pemakmuran bumi manakala manusia memahaminya. Kadangkala usaha seseorang dengan dzikirnya sia-sia karena umatnya tidak beriman atau mendustakannya. Orang-orang yang berdzikir kepada Allah sebenarnya akan mendatangkan pemakmuran bumi, dan orang-orang yang berpaling dari dzikir kepada Allah akan memperoleh kehidupan yang sempit dan akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta.

﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Dan barangsiapa berpaling dari dzikir pada-Ku, maka sungguh baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaahaa : 124)

Berpaling dari dzikir adalah tidak memperhatikan terbentuknya dzikir yang terbaik. Perbuatan demikian terjadi karena seseorang tidak memperhatikan ayat-ayat Allah yang sampai kepada mereka. Mungkin mereka kufur terhadap ayat-ayat itu, atau boleh jadi mereka merasa tidak mempunyai kepentingan terhadap ayat-ayat yang dibacakan kepada mereka. Itu menunjukkan akhlak kurang baik terhadap Allah. Ada orang-orang yang sangat ingin menyeru hamba-hamba Allah untuk mengikuti kehendak Allah dengan seruan yang tepat dan jelas tetapi orang-orang tidak mendengarkan seruan itu karena keburukan akhlak mereka kepada Allah, maka mereka itu adalah orang yang melupakan ayat-ayat Allah. Sebagian orang membacakan ayat Allah tidak bertujuan untuk menyeru manusia mengikuti kehendak Allah, maka pembacaan demikian barangkali tidak menjadikan seseorang dalam tingkatan melupakan ayat-ayat Allah, tetapi hanya sekadar tidak cukup menumbuhkan perhatian.

Memperhatikan Ayat Allah

Setiap hamba Allah harus memperhatikan ayat-ayat Allah sebagai media meningkatkan kualitas dzikir diri mereka. Dzikir tidak dapat dilakukan tanpa memperhatikan ayat-ayat Allah. Sebagian hamba Allah berusaha beramal shalih dengan amal-amal yang mereka pandang baik tanpa memperhatikan ayat-ayat Allah atau bahkan meremehkan ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka. Amal-amal demikian tidak akan mendatangkan kemakmuran yang sebenarnya karena tidak terhubung dengan kehendak Allah, sedangkan keshalihan yang mereka sangka mungkin hanyalah persangkaan belaka. Setiap orang harus berusaha melahirkan amal shalih, tetapi manakala tidak berusaha menemukan suatu landasan berupa pemahaman berdasar ayat Allah maka keshalihan itu hanya prasangka. Manakala mereka meremehkan ayat Allah yang sampai kepada mereka, maka boleh jadi mereka termasuk orang-orang yang mendustakan ayat Allah.

﴾۶۲۱﴿قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ
Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS Thaahaa : 126)

Ayat Allah akan tampak dalam berbagai bentuk, berupa ayat kauniyah, ayat kitabullah dan ayat dalam dada orang-orang beriman. Berdzikir kepada Allah harus dilakukan dengan memperhatikan kesatuan dari bentuk-bentuk ayat Allah tersebut. Manakala seseorang hanya mengikuti ayat kitabullah tanpa mengetahui hubungannya dengan ayat kauniyah, maka pembacaannya belum lengkap. Manakala seseorang hanya memperhatikan ayat kauniyah, boleh jadi ia hanya mengikuti indera parsialnya. Setiap hamba Allah harus berusaha berdzikir dengan melihat kesatuan dari ayat-ayat Alah yang dihadirkan bagi dirinya, maka ia akan memperoleh penjelasannya dan dapat berdzikir dengan lebih baik.

Ayat dalam dada menjelaskan kepada seseorang kesatuan ayat-ayat di luar dirinya berupa ayat kitabullah dan ayat kauniyah. Ayat dalam dada itu bisa saja telah ada sebelum seseorang benar-benar membaca kitabullah dan kauniyah, atau muncul setelah membaca salah satu dari ayat yang lain. Seseorang kadangkala mengikuti kata hati dalam usahanya menemukan makna kehidupan, dan kemudian makna kehidupan itu terbuka berupa munculnya pemahaman kesatuan makna kitabullah dan ayat kauniyah. Kemudian ia mengetahui bahwa langkahnya selama ini sebenarnya juga mengikuti kitabullah. Kadangkala seseorang harus mengikuti bacaan kitabullah dan ayat kauniyah terlebih dahulu maka ia dapat membaca ayat Allah dalam hatinya berupa petunjuk-petunjuk.

Sekalipun munculnya ayat dalam dada bisa saja mendahului, ayat kitabullah harus tetap menjadi ayat yang paling utama yang memimpin langkah seseorang. Seandainya ia mengikuti kata hatinya, ia tidak boleh mengikuti kata hati yang menyimpang atau bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Jauh lebih mudah dan aman bagi setiap orang untuk mengikuti tuntunan kitabullah daripada mengikuti kata hati sendiri, terutama bila ada pembimbing yang membacakan tuntunan kitabullah baginya. Akan tetapi kadangkala seseorang harus berhadapan dengan persoalan yang tidak mudah misalnya tidak sepakat dengan penjelasan yang ada atau ketika berhadapan dengan selipan syaitan, maka ia boleh mengikuti kata hati tanpa mengutamakan kata hati dari ayat kitabullah. Ayat kitabullah harus dijadikan imam dalam langkah kehidupan setiap orang, sedangkan petunjuk dalam hati dijadikan penjelasan bagi ayat kitabullah. Orang-orang yang telah mempunyai petunjuk dalam hati akan mudah dalam membaca kitabullah Alquran dan bersikap shidiq terhadap kitabullah.

Suatu petunjuk akan menjadi bahan pemakmuran bumi. Suatu petunjuk akan mendatangkan manfaat manakala terbentuk suatu dzikir dari petunjuk itu, dan dzikir itu hanya terbentuk dari pemahaman terhadap kitabullah. Tidaklah bisa disebut sebagai petunjuk segala penjelasan yang mendatangkan madlarat bagi kehidupan bumi, sebagaimana ayat kitabullah tidaklah mendatangkan madlarat. Ada orang-orang yang menyangka dirinya memperoleh petunjuk sedangkan ia tidak memahami kedudukan petunjuknya dalam kitabullah. Orang-orang demikian kadang bersenang hati mengambil tuntunan kitabullah yang mereka sukai dan tidak mau menerima tuntunan kitabullah berfungsi memperbaiki keadaan mereka. Suatu petunjuk hendaknya diuji dengan kitabullah hingga diketahui manfaat dari petunjuk itu bagi diri mereka dan bagi umat seluruhnya sebelum diterapkan.

Bentuk suatu dzikir yang paling utama bagi setiap manusia sebenarnya berupa pemahaman kedudukan diri mereka dalam kitabullah Alquran. Segala manfaat yang mungkin dilahirkan oleh seseorang akan mengikuti pemahaman terhadap kedudukan diri yang terbentuk. Sekalipun misalnya seseorang berkedudukan buruk dan penuh dosa, manakala ia mengetahui buruknya kedudukan dirinya dalam kitabullah maka ia akan dapat mengarahkan langkahnya menuju kedudukan yang baik dan dapat memberikan manfaat sekalipun dalam ‘buruknya’ kedudukan dirinya. Sebenarnya itu tidaklah buruk tetapi hanya merupakan kekurangan, dan hawa nafsulah yang mengatakan buruk. Manakala seseorang salah dalam memahami kedudukan dirinya dalam kitabullah Alquran, maka ia akan sulit untuk mengarah pada kedudukan yang lebih baik. Mungkin ia justru menimbulkan madlarat yang besar sekalipun beramal dengan amal yang tampak baik. Kasusnya seringkali terjadi dalam bentuk terselipnya makar syaitan dalam amal-amal baik mereka hingga makar itu tumbuh berbahaya bagi umat manusia.

Di dunia modern, hampir semua orang dibina untuk dapat melakukan suatu tugas khusus tertentu terutama terkait dengan kebutuhan kegiatan para pemilik modal dalam mengelola kemakmuran. Terbangun celah yang tidak disambungkan antara ilmu duniawi dengan agama hingga manusia tidak mengetahui hubungan ilmu mereka dengan ayat-ayat kitabullah. Dengan celah tersebut, umat manusia kemudian tidak mengetahui jalan untuk menyatukan ilmu mereka dengan ayat-ayat Allah. Adapun upaya penyatuan seringkali merupakan penyatuan yang dipaksakan, tidak berasal dari penyusunan suatu pemahaman terhadap pemahaman yang lain hingga membentuk pemahaman yang solid.

Manakala suatu penyatuan pemahaman belum terjadi, setiap orang hendaknya tidak menganggap suatu ilmu tidak bermanfaat. Ada sekelompok orang yang menganggap bahwa manusia hanya membutuhkan ilmu agama dan ilmu duniawi tidak dibutuhkan. Sebenarnya ilmu agama tidaklah seperti yang mereka pahami. Agama sebenarnya merupakan pelaksanaan fungsi penciptaan diri (fitrah diri) di dunia, bukan sekadar pengetahuan dan pelaksanaan ketentuan syariat yang telah digariskan Rasulullah SAW. Setiap pengetahuan tentang kauniyah merupakan ayat Allah yang dapat berguna pada saatnya, setidaknya dapat digunakan untuk memberikan manfaat duniawi. Manakala pengetahuan duniawi tidak ada, seseorang mungkin akan kesulitan atau tidak dapat menunaikan fungsi penciptaan dirinya (fitrah diri).

Bagi orang-orang yang belum mengetahui fitrah dirinya, penyatuan pengetahuan duniawi dengan ayat-ayat kitabullah dapat dilakukan dengan mentaati ulul amr, yaitu orang-orang yang telah mengetahui amanah berupa amr Allah yang diturunkan kepada mereka. Ulul amr adalah orang-orang yang memahami ayat Allah secara komprehensif berupa kesatuan pemahaman terhadap ayat kauniyah, ayat kitabullah dan ayat dalam diri mereka, terutama yang diperuntukkan bagi diri mereka sendiri. Pada dasarnya, orang-orang yang hidup pada jaman yang sama akan menghadapi kauniyah yang sama, maka mengikuti para ulul amr akan menempatkan seseorang pada ayat kauniyah yang sama. Urusan bagi masing-masing orang harus dicari dengan memikirkan keadaan diri masing-masing. Tentang kitabullah, setiap orang harus mengutamakan berusaha menemukan makna dari ayat kitabullah berdasar keadaan diri masing-masing daripada sekadar mengikuti ulul amr. Manakala berselisih dengan ulul amr, seseorang harus kembali pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mengekor secara membuta tanpa tuntunan Allah yang benar. Manakala ulul amr berselisih dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, seseorang harus mengikuti tuntunan Allah tidak boleh mengikuti ulul amr.

Penciptaan laki-laki dan perempuan bisa dijadikan contoh bagi manusia menentukan sikap. Sebenarnya setiap manusia diciptakan dengan mengandung aspek laki-laki dan perempuan. Hubungan nafs dan jasmani sangat serupa dengan hubungan laki-laki dan perempuan terutama dalam memahami kehendak Allah. Nafs manusia dapat mengenali rabb-nya sedangkan jasmani mereka mengenali rabb hanya mengikuti pengenalan nafs-nya. Sebenarnya nafs manusia pun mengenali rabb mereka hanya dengan mengikuti pengenalan Rasulullah SAW terhadap Allah, bukan pengenalan yang dapat berdiri sendiri. Pengenalan demikian membentuk silsilah dalam suatu jaringan, satu orang menjadi washilah bagi yang lain untuk terhubung kepada Rasulullah SAW. Bagi perempuan, washilah demikian bersifat tunggal yaitu terhadap suaminya yang terhubung melalui akalnya dalam memahami kehendak Allah.

Kesempitan Kehidupan

Kesempitan kehidupan biasa terjadi pada kaum muslimin yang meninggalkan dzikir kepada Allah, baik karena kelalaian mereka sendiri ataupun karena paksaan orang lain. Manakala seseorang yang memperoleh petunjuk mengetahui hubungannya dengan kitabullah, ia telah memperoleh suatu dzikir. Bila ia tidak mengikuti petunjuk itu, ia telah melalaikan dzikirnya, baik dilakukan karena mengikuti keinginan dirinya ataupun karena mengikuti orang lain yang memerintahkan meninggalkan dzikirnya. Sekalipun yang memerintahkannya seorang ulul amri, seseorang tidak boleh meninggalkan tuntunan Allah dengan mengikuti ulul amr. Secara keumatan, ia tidak boleh membangkang kepada ulul amr karena urusan keumatan menjadi tanggung jawab ulul amr, tetapi untuk urusan dirinya sendiri, ia harus berpegang pada tuntunan Allah. Ia boleh menentang perintah ulul amr untuk urusan dirinya berdasarkan tuntunan Allah dan Rasulullah SAW.

Kesempitan akan menimpa orang-orang yang meninggalkan dzikirnya. Umat secara keseluruhan juga akan mengalami kesempitan karena ditinggalkannya dzikir oleh seseorang atau kesulitan seseorang dalam menunaikannya. Kadang seseorang mengalami kepayahan melaksanakan dzikirnya karena keadaan yang tidak mendukung atau halangan oleh orang-orang yang menghalangi. Hal demikian akan menyempitkan kehidupannya, tetapi tetap ada jalan kecil yang menjadi tempat mengalirnya petunjuk. Kesempitan itu kadangkala timbul bukan karena halangan tetapi prasangka buruk dirinya terhadap orang lain yang tidak dapat dihindari. Barangkali ia tidak ingin berprasangka buruk, akan tetapi mungkin saja ada suatu perlakuan buruk atau ada hal buruk yang sampai kepadanya menjadikannya tidak dapat menghindari prasangka. Kadangkala seseorang meninggalkan dzikirnya karena hawa nafsu dan syahwat dirinya atau karena kebodohannya hingga hanya mengikuti orang lain. Kadangkala kedua sebab itu berjalin atau ia menjalinkan kedua alasan itu hingga seolah-olah mempunyai alasan menghindari dzikirnya karena perintah orang lain. Orang yang meninggalkan dzikir akan menjadikan kehidupannya akan sempit. Dalam beberapa hal, perbuatan demikian akan mendatangkan kebutaan bathin karena keabaiannya pada petunjuk.

Setiap orang harus berusaha memperhatikan ayat-ayat Allah hingga ia dapat berdzikir dengan baik. Nilai manfaat seseorang akan tumbuh seiring dengan kualitas dzikirnya kepada Allah, dan kedekatan kepada Allah akan ditentukan dengan kualitas dzikirnya. Tingkat kekuatan dzikir harus terpandu dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Menyimpangnya pertumbuhan dzikir seseorang dapat mendatangkan madlarat yang sangat besar, karena ada kekuatan dzikirnya yang salah. Puncak dari kekuatan dzikir makhluk adalah terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, dan bentuk bayt demikian hanya dapat dicapai dengan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membina bayt.

Minggu, 21 Juli 2024

Mengikuti Petunjuk dengan Pengetahuan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara tanda kemuliaan akhlak yang terbentuk adalah penyatuan hati di antara masyarakat. Turunnya manusia ke alam bumi menjadikan mereka bermusuh-musuhan antara satu dengan yang lain. Natur dari penciptaan manusia dan penempatan di bumi akan membuat mereka bermusuh-musuhan. Jasmani manusia akan tumbuh mengikuti tabiat asal penciptaan mereka yang dilengkapi dengan syahwat terhadap alam bumi. Demikian pula interaksi jasmani dengan nafs menumbuhkan hawa nafsu yang jauh lebih cerdas daripada hawa nafsu makhluk-makhluk bumi yang lain. Demikian pula syaitan akan membuat manusia bermusuh-musuhan satu dengan yang lain. Selama manusia terwarnai kental dengan natur bumi mereka, mereka akan selalu bermusuh-musuhan.

Barangkali ada orang-orang tertentu yang kemudian menyadari keadaan demikian dan berusaha untuk memperoleh jalan untuk menjalani kehidupan dengan damai dan rukun bersama orang lain. Allah akan menurunkan petunjuknya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya agar mereka dapat melangkah menuju penyatuan hati di antara umat manusia. Hilangnya permusuhan dari hati manusia terhadap yang lain dan terbentuknya penyatuan hati merupakan salah satu aspek terpenting pemakmuran bumi. Banyak pemakmuran bumi dilakukan manusia akan tetapi hati mereka terpecah-pecah dan bermusuh-musuhan maka pemakmuran jasmaniah itu bisa saja menjadi tidak bermanfaat.

﴾۳۲۱﴿قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS Thaahaa : 123)

Petunjuk pada ayat di atas terkait dengan permusuhan yang terjadi di antara manusia satu dengan yang lainnya dalam kehidupan di bumi. Suatu petunjuk seringkali diturunkan Allah dengan tujuan untuk menghilangkan permusuhan di antara satu orang dengan yang lain, atau mungkin menumbuhkan penyatuan hati di antara masyarakat. Petunjuk itu akan menjadi berkah bagi manusia. Tidak terbatas demikian, suatu petunjuk sebenarnya berkaitan pula dengan upaya berdzikir kepada Allah.

Banyak bentuk-bentuk petunjuk di antara manusia, tetapi tidak semua petunjuk bersifat benar. Ada petunjuk-petunjuk yang terwujud dari dorongan hawa nafsu dan syahwat, ada petunjuk yang datang dari para syaitan, ada petunjuk yang berasal dari alam langit untuk menguji keikhlasan hamba Allah, ada yang diturunkan langit karena Allah memerintahkan kepada mereka untuk menurunkan pengetahuan kepada orang-orang yang dikehendaki, ada petunjuk dari Allah. Sangat banyak bentuk petunjuk yang dapat diperoleh oleh seorang manusia di alam bumi dan tidak semua petunjuk benar, maka hendaknya setiap manusia menguji kebenaran petunjuk-petunjuk yang mereka peroleh.

Salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menguji kebenaran petunjuk adalah tercapainya tujuan mengurangi permusuhan di antara manusia dan penyatuan hati di antara mereka. Suatu petunjuk yang benar tidak akan diturunkan untuk memecah-belah manusia dan menjadikan mereka saling bermusuhan satu dengan yang lain. Sebenarnya suatu petunjuk tidak diturunkan sebagai suatu dikte untuk memerintahkan manusia berbuat seperti robot menjalankan suatu tugas tertentu tanpa suatu pengetahuan hakikat dari sisi Allah. Manakala suatu petunjuk diturunkan, orang-orang yang menerima petunjuk itu harus berusaha memahami kehendak Allah dari petunjuk itu dan menerapkan dengan bijaksana. Manakala suatu petunjuk menimbulkan permusuhan di antara manusia, maka hendaknya penerimanya tidak mengikutinya hingga mengetahui jalan agar petunjuknya tidak menimbulkan permusuhan di antara manusia. Ia boleh membicarakan dengan orang-orang tertentu selama tidak menimbulkan masalah di antara mereka.

Petunjuk-petunjuk yang benar tidak pernah bertujuan untuk memecah-belah manusia atau menjadikan bermusuhan. Ada petunjuk-petunjuk yang benar dan ada pula petunjuk-petunjuk yang tidak benar. Setiap petunjuk itu harus diuji kebenarannya dan diikuti dengan sebaik-baiknya bila benar. Ada orang yang memperoleh petunjuk kadang-kadang justru menjadi saling bermusuhan karena petunjuk. Lebih lanjut, kadangkala perselisihan tersebut bukan karena petunjuk yang salah tetapi karena penerimanya tidak memahami atau tidak mau mengikuti petunjuk yang diberikan. Misalnya manakala dua pihak menerima petunjuk berjodoh tetapi salah satu atau keduanya mangkir dari petunjuk itu kemudian timbul fitnah yang besar di antara keduanya, maka mereka kemudian menjadi bermusuh-musuhan. Bukan tidak mungkin syaitan turut serta menurunkan petunjuk-petunjuk yang salah untuk semakin mengaduk-aduk keadaan untuk menimbulkan fitnah yang semakin besar. Hal demikian tidak jarang terjadi, maka hendaknya setiap petunjuk disikapi dengan sebaik-baiknya.

Manakala terjadi perselisihan di masyarakat antara suatu petunjuk melawan petunjuk yang lain, maka hendaknya setiap pihak merujuk pada tuntunan kitabullah Alquran karena ia merupakan petunjuk yang tidak pernah salah. Perdebatan dan perselisihan seringkali terjadi karena kurangnya pengetahuan terhadap kehendak Allah. Kebenaran bukan terletak pada banyaknya orang-orang yang mendapat petunjuk yang sama, dan tidak terletak pada tingginya kedudukan seseorang di antara masyarakat, tetapi pada orang yang lebih mengikuti tuntunan kitabullah Alquran. Hal ini harus disadari, karena perselisihan dalam masalah petunjuk seringkali mempunyai implikasi-implikasi yang besar melibatkan perintah Allah dan fitnah syaitan. Penyelesaian perselisihan demikian tidak boleh dengan cara penekanan legitimasi otoritas bahwa petunjuk pada satu pihak merupakan petunjuk Allah dan yang lain boleh dituduh petunjuk palsu, tetapi harus diperhitungkan implikasi yang ditimbulkan dari mengikuti masing-masing petunjuk. Implikasi utama yang harus menjadi pertimbangan adalah berkurangnya permusuhan di antara manusia dan terjalinnya persaudaraan berdasarkan petunjuk Allah. Ada orang-orang yang mempunyai kedudukan lebih khusus daripada orang lain, akan tetapi hendaknya tidak menjadikan umat meninggalkan tuntunan kitabullah karna hal demikian.

Orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah akan memperoleh jalan yang benar dan ia tidak akan celaka, sedangkan orang yang tidak mengikutinya tidak memperoleh jalan yang tidak sesat dan mungkin akan celaka. Ketidaksesatan dan keselamatan itu terletak pada giatnya seseorang dalam mengikuti petunjuk Allah, yaitu petunjuk yang mengarahkan manusia untuk menjauhi permusuhan dan membina persatuan. Manakala tidak mengikutinya, Mungkin ia berhenti pada suatu keadaan tertentu hingga perlahan-lahan membusuk, atau ia menempuh jalan yang sesat.

Petunjuk dan Kelapangan

Petunjuk itu akan diberikan kepada hamba-hamba Allah yang bertaubat menempuh jalan kembali kepada Allah. Tanda berjalannya seseorang dalam bertaubat adalah peningkatan kualitas dzikirnya kepada Allah. Dzikir menunjuk pada usaha artikulasi pemahaman seseorang terhadap kehendak Allah hingga terlihat pada wujud-wujud dzahir. Manakala seseorang menyebutkan asma Allah, ia telah berdzikir. Manakala ia berusaha memahami kitabullah, ia juga berdzikir. Dzikir demikian mempunyai tingkatan-tingkatan kualitas. Kualitas tertinggi suatu dzikir kepada Allah adalah terbentuknya bayt seseorang untuk mengartikulasikan pemahamannya terhadap kehendak Allah. Barangkali ia berusaha mewujudkan tatanan umat manusia untuk mencapai keikhlasan beribadah kepada Allah atau ia mewujudkan hasil-hasil karya bendawi untuk kebutuhan umat manusia, selama amal itu berdasarkan pemahaman terhadap kehendak Allah sedikit atau banyak maka itu termasuk dalam bentuk dzikir.

﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaahaa : 124)

Dzikir harus dilaksanakan oleh setiap hamba Allah, dan ia harus mengusahakan untuk memperoleh kualitas dzikir yang terbaik. Petunjuk Allah merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas dzikir setiap hamba Allah. Boleh jadi seseorang berusaha keras untuk mewujudkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia kemudian ia memperoleh petunjuk, maka petunjuk itu merupakan jalan meningkatkan kualitas dzikir dirinya. Bila ia berbangga dengan dirinya terhadap orang lain dalam mewujudkannya, petunjuk itu tidak lagi bermanfaat meningkatkan kualitas dzikirnya. Dalam beberapa bentuk, petunjuk itu boleh jadi merepotkan orang yang menerimanya, tetapi benar-benar menjadi media transformasi membentuk dzikir yang lebih baik.

Orang-orang yang berpaling dari dzikir kepada Allah akan memperoleh kehidupan yang sempit dan akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berpaling dari dzikir adalah tidak memperhatikan terbentuknya dzikir yang terbaik. Perbuatan demikian terjadi karena seseorang tidak memperhatikan ayat-ayat Allah yang sampai kepada mereka. Mungkin mereka kufur terhadap ayat-ayat itu atau mereka merasa tidak mempunyai kepentingan terhadap ayat-ayat yang dibacakan kepada mereka karena keburukan akhlak terhadap Allah. Sebagian dari ayat Allah boleh jadi dibacakan tidak dalam tujuan untuk menyeru manusia mengikuti kehendak Allah, maka pembacaan demikian barangkali tidak menjadikan seseorang dalam tingkatan melupakan ayat-ayat Allah, tetapi hanya sekadar tidak terpancing perhatiannya. Ada orang-orang yang sangat ingin menyeru hamba-hamba Allah untuk mengikuti kehendak Allah, dengan seruan yang tepat dan jelas tetapi orang-orang tidak mendengarkan seruan itu karena keburukan akhlak mereka kepada Allah, maka mereka itu adalah orang yang melupakan ayat-ayat Allah.

Di antara petunjuk yang paling utama adalah petunjuk yang mengarahkan seseorang untuk membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Petunjuk jodoh termasuk bentuk utama dari petunjuk, dan petunjuk itu akan membuka sangat banyak khazanah Allah yang terhampar di bumi bila diikuti. Bila tidak diikuti, petunjuk itu akan sia-sia. Mereka termasuk orang-orang yang melupakan ayat Allah yang sampai kepada mereka. Hal ini tidak hanya berlaku dalam urusan pasangan. Setiap petunjuk benar yang tidak diikuti merupakan sikap melupakan ayat Allah.

Mengikuti petunjuk dalam hal ini adalah menguji kebenaran setiap petunjuk dan mencari pengetahuan makna petunjuk berdasarkan tuntunan kitabullah Alquran, kemudian mengikuti petunjuk yang benar. Petunjuk yang bernilai benar adalah petunjuk yang telah jelas arahnya dan telah diuji kebenarannya. Berpalingnya seseorang dari petunjuk akan menyebabkan mereka mengalami kehidupan yang sulit dan kelak dihimpunkan pada hari kiamat dalam keadaan buta. Mereka termasuk orang-orang yang melupakan ayat-ayat Allah, dan mungkin hanya mengikuti hawa nafsu dan syahwat mereka sendiri. Seandainya mereka tidak menemukan kehidupan yang sulit di dunia, mereka akan menemukan kesulitan itu di akhirat. Satu penolakan terhada[p petunjuk akan menyebabkan suatu kesulitan tertentu hingga bila penolakan itu diteruskan kadangkala seseorang tidak dapat kembali untuk melaksanakan petunjuknya. Selama seseorang bisa memperoleh jalan kembali untuk melaksanakan petunjuknya, hendaknya ia berusaha untuk memperoleh kembali jalan itu.

Kadangkala jalan untuk memperoleh kesempatan melaksanakan petunjuk itu harus dilakukan dengan memperbaiki beberapa keadaan diri. Misalnya kadang halangan melaksanakan petunjuk itu berupa suatu perbedaan pendapat yang fundamental, maka hendaknya setiap orang berusaha untuk memahami masalah yang menghalangi itu dan membicarakan apa yang harus diperbaiki. Memaksakan pendapat yang salah bisa menjadi penghalang yang besar untuk melaksanakan petunjuk. Di antara muslimin, mungkin saja ada perbedaan pendapat yang sangat jauh hingga tampak seperti perbedaan tauhid atau perbedaan keyakinan. Kadangkala perbedaan pendapat terjadi karena pemahaman masing-masing pihak terhadap dampak yang ditimbulkan suatu amal berbeda. Mungkin saja satu pihak menganggap suatu amal akan mendatangkan manfaat yang besar sedangkan pihak lain memandang akan mendatangkan kerusakan yang besar. Perbedaan demikian tidak jarang menyebabkan suatu petunjuk tidak dapat diikuti. Tetap saja tidak terlaksananya petunjuk demikian mendatangkan kesempitan dalam kehidupan dunia, walaupun mungkin tidak dalam kehidupan akhirat bagi yang tidak mengingkari petunjuk.

Halangan demikian kadangkala harus diperbaiki dengan berubahnya satu pihak mengikuti pendapat yang lebih baik, atau halangan itu akan tetap bercokol menghalangi pelaksanaan petunjuk. Ibarat membangun kapal harus dibuat dengan bahan kayu yang baik, maka kayu-kayu lapuk dan busuk tidak boleh disertakan untuk membangun kapal karena akan menjadi titik lemah kapal itu. Memaksakan kayu lapuk akan menghalangi proses pembangunan kapal. Dalam banyak hal, bahtera pernikahan itu baru dapat dibangun manakala setiap pihak memahami pihak lainnya berdasarkan petunjuk Allah hingga tingkatan tertentu.

Suatu petunjuk Allah yang diikuti akan mendatangkan kelapangan bagi kehidupan, dan sebaliknya akan mendatangkan kesempitan dalam kehidupan bila tidak diikuti. Orang yang mengikuti petunjuk akan memberikan kelapangan pula bagi kehidupan masyarakat secara umum, dan yang meninggalkan petunjuk akan mendatangkan kesempitan bagi kehidupan masyarakat umum. Seseorang yang meninggalkan terbentuknya suatu bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah akan menghilangkan suatu manfaat diri dari sisi Allah yang seharusnya bisa disumbangkan kepada masyarakatnya. Selain dari hilangnya manfaat itu, sebenarnya syaitan memperoleh celah yang besar untuk mendatangkan fitnah bagi umat manusia karena seseorang meninggalkan petunjuk.

Hilangnya manfaat dan terbukanya celah fitnah itu akan menjadi tanggung jawab orang-orang yang meninggalkannya, dan pihak-pihak yang menyebabkan mangkirnya seseorang dari petunjuknya. Orang-orang yang meninggalkan petunjuknya dengan keinginannya sendiri akan kehilangan penglihatan bathin mereka di akhirat, karena sebenarnya penglihatan bathin demikian tidaklah mereka butuhkan. Orang yang meninggalkan petunjuk sebenarnya merupakan orang-orang yang tidak membutuhkan mata bathin, walaupun mungkin saja Allah memberikan mata bathin mereka dalam kehidupan di dunia. Dengan demikian, di akhirat mereka akan kehilangan mata bathin mereka dan hidup dalam kegelapan.



Selasa, 16 Juli 2024

Membangun Budaya dan Peradaban

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Di antara sunnah Rasulullah SAW yang paling utama adalah pernikahan, karena pernikahan terkait dengan arah dan tujuan utama perjalanan taubat. Membentuk bayt merupakan sasaran akhir jalan taubat dalam kehidupan dunia. Itu adalah tujuan dari millah nabi Ibrahim a.s. Setelah terbentuknya bayt untuk mendzikirkan dan meninggikan asma Allah, seseorang akan diperjalankan Allah untuk mendekat kepada-Nya. Perjalanan itu adalah sunnah Rasulullah SAW. Manusia tidak dapat mengusahakan perjalanan itu sendiri, dan tidak dapat meminta apakah Allah akan memperjalankan dirinya mi’raj atau tidak, akan tetapi mensyukuri terbentuknya bayt itu telah mencukupi bagi setiap hamba Allah.

﴾۶۳﴿فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَن تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
di dalam rumah-rumah yang telah diijinkan Allah untuk ditinggikan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, (QS An-Nuur : 36)

Keutamaan pernikahan mencakup langkah awal dan tujuan akhir perjalanan taubat termasuk di setiap tahap perjalanan taubat. Suatu pernikahan akan menyuburkan tumbuhnya sifat mulia hingga setiap orang mengenal kehendak Allah dengan benar. Seorang laki-laki akan tumbuh terutama sifat rahmaniahnya dan para isteri mempunyai sifat rahimiah, sedangkan mereka bersama tumbuh saling menyuburkan untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tumbuhnya sifat-sifat itu akan menunjukkan kepada masing-masing jalan taubat mereka. Seorang laki-laki akan tumbuh memahami kehendak Allah bagi diri mereka bila tumbuh sifat rahmaniah, dan seorang perempuan akan menjadi perempuan subur bagi suaminya bila tumbuh dalam dirinya sifat rahimiah.

Bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah terbentuknya rumah tangga sesuai dengan tauladan keluarga nabi Ibrahim a.s mendirikan bayt al-haram, berupa kesatuan antara kepala keluarga, isteri dan anak-anak yang terlahir dari mereka dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Kesatuan demikian merupakan tujuan yang harus dicapai melalui setengah bagian dari agama berupa pernikahan. Setengah bagian agama berupa pernikahan itu merupakan bekal utama bagi manusia untuk mendirikan bayt yang memperoleh ijin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Tanpa suatu pernikahan, tidak akan terbina suatu bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, karena setengah bagian dari agama tidak akan ditemukan pada orang yang tidak menikah. Dengan keadaan demikian akan sulit bagi mereka untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Sebagian orang berpendapat bahwa yang dimaksud bayt-bayt pada ayat di atas adalah diri seorang manusia yang telah menjadi perumpamaan bagi cahaya Allah, bayt berupa jasmani manusia yang telah mengenal Allah. Hal demikian tidak benar-benar tepat, tetapi baru merupakan bagian dari terbentuknya bayt. Suatu bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah hanya dapat dibentuk oleh seorang laki-laki yang tidak terlalaikan dalam dzikir kepada Allah karena perdagangan dan jual beli duniawi, tetapi laki-laki demikian itu belum benar-benar menjadi bayt sebelum pernikahannya tertata sesuai dengan kehendak Allah. Bayt demikian harus terbentuk oleh kesatuan seorang laki-laki bersama dengan isterinya dalam meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bayt pada ayat di atas menjelaskan langkah lebih lanjut yang harus ditempuh seseorang setelah terbentuknya misykat cahaya dirinya dalam memahami kehendak Allah.

Bayt berupa rumah tangga merupakan pondasi sosial setiap manusia. Dengan kedudukan bayt demikian, jelaslah bahwa pembinaan diri hamba Allah dalam taubat harus dilakukan untuk dapat memberikan manfaat terbaik seorang hamba kepada masyarakat sosial melalui rumah tangga. Perjalanan taubat tidak dilakukan hanya dengan memperhatikan hubungan personal kepada rabb, tetapi juga harus dilakukan dalam bentuk memberikan manfaat kebaikan dari sisi Allah kepada lingkungan sosial.

Rumah tangga merupakan bentuk fitrah setiap manusia yang berguna sebagai pondasi sosial. Dalam setiap jenjang langkah pertaubatan, pernikahan menjadi sarana yang paling utama untuk dapat memahami dan melaksanakan kehendak Allah. Seorang laki-laki yang terbina sebagai misykat cahaya yang dapat memahami kehendak Allah dengan benar tidak boleh berdiam diri hanya asyik pada hubungan dengan rabb-nya saja, tetapi harus memberi manfaat sosial dirinya. Tidak terbatas pada kategori demikian, setiap orang yang menempuh jalan taubat harus berusaha memberikan manfaat bagi lingkungan sosialnya melalui pernikahan agar akalnya semakin menguat. Bahkan setiap orang harus berusaha memberikan manfaat sosialnya melalui pembinaan pernikahan, tidak hanya menjadikan pernikahan sebagai sarana untuk melepas hajat badaniah. Secara natural, suatu pernikahan yang baik akan membina insan untuk memberikan manfaat sosial, akan tetapi syaitan selalu berusaha merusak pernikahan. Merusak rumah tangga akan mendatangkan fitnah yang sangat besar bagi umat manusia. Syaitan benar-benar memanfaatkan hal itu untuk membuat fitnah yang terbesar bagi manusia.

Pernikahan menjadi sarana yang paling utama untuk dapat memahami dan melaksanakan kehendak Allah. Usaha seseorang untuk memahami kehendak Allah akan lebih mendekati kebenaran bila ia selalu berusaha untuk berada dalam batas kedudukan diri dan tidak melampauinya. Keadaan itu lebih mudah ditemukan dalam pernikahan. Seorang isteri akan mudah menyadari kedudukan dirinya terhadap suami dalam beramal shalih, dan seorang suami akan memperoleh landasan sikap beramal yang tepat berupa rasa sayang kepada isterinya. Sebenarnya hal itu juga akan mengenalkan seorang laki-laki terhadap kedudukan dirinya melalui washilahnya, apabila laki-laki itu berpikir. Pernikahan juga mengenalkan seseorang terhadap fungsi sosial dirinya. Dari keadaan-keadaan yang dihadirkan suatu pernikahan, manfaat yang paling terasa bagi seseorang adalah manakala mengenal diri melalui pernikahannya, ia akan menemukan bahwa dirinya berada pada suatu al-jamaah, tidak mengenal diri dalam keadaan tidak berjamaah.

Suatu pengenalan diri merupakan pengenalan terhadap kedudukan diri dalam jamaah. Setinggi-tingginya kedudukan manusia, ia akan menemukan dirinya dalam urusan Rasulullah SAW, bukan dalam urusan baru untuk dirinya saja. Bila ia menemukan urusan yang sama sekali baru, mungkin ia sebenarnya tersesat. Kebanyakan manusia akan menemukan dirinya dalam suatu jaringan al-jamaah melalui washilah tertentu kepada Rasulullah SAW, tidak secara langsung kepada Rasulullah SAW. Pengetahuan semacam ini hendaknya diperhatikan karena akan membantu seseorang untuk tidak tersimpangkan, dan hal ini akan lebih mudah dilakukan manakala seseorang berusaha untuk membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Manakala seseorang mengenal diri tanpa mengenal kedudukannya dalam al-jamaah, hendaknya ia tidak langsung menganggap dirinya paling berhak dalam kedudukan itu, tetapi hendaknya ia mencari kedudukan dirinya dalam al-jamaah terlebih dahulu.

Bila seseorang mencari kedudukan amal shalihnya dalam tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, ia akan menemukan kedudukannya dalam al-jamaah, setidaknya menemukan urusannya dari urusan Rasulullah SAW. Perihal washilah mungkin akan ditemukan berikutnya setelah memastikan bentuk amal shalihnya dalam urusan Rasulullah SAW. Tanpa mengetahui tuntunan kitabullah dan Rasulullah SAW dalam urusannya, seseorang seringkali menafsir urusannya melampaui batas yang dikehendaki Allah. Misalnya, bila umat harus memperoleh arahan, ia tidak boleh menganggap dirinya lebih tinggi dari umatnya. Belum tentu umat itu adalah orang-orang yang lebih bodoh dibandingkan dirinya. Mungkin saja ada orang-orang berkedudukan tinggi di sisi Allah akan tetapi bersifat duniawi yang tidak diberi kekuatan indera yang tajam. Khalifatullah Al-Mahdi bisa menjadi contoh orang yang membutuhkan petunjuk dari para pemberi petunjuk (hudat) di sekitarnya. Hal itu tidak boleh menimbulkan anggapan bahwa Al-Mahdi merupakan orang yang tidak memperoleh petunjuk. Hal itu karena Allah menetapkan jalan yang demikian.

Nilai dari pengenalan kedudukan diri dalam al-jamaah dan fungsi keumatan hampir serupa dengan nilai kedudukan washilah di antara suami dan isteri. Dalam hal ini seorang laki-laki bisa bersifat umat dan bisa bersifat imam. Seorang laki-laki kadangkala harus berperan sebagai imam bagi umatnya, dan harus pula mengetahui dirinya sebagai bagian dari washilahnya. Berusaha mengenal imamnya lebih utama daripada menempatkan diri sebagai imam, karena pengenalan terhadap imam akan lebih mengarah pada kesatuan umat untuk melahirkan budaya yang lebih baik. Manakala setiap orang berkeinginan menjadi imam tanpa mengetahui imamnya, umat manusia akan terpecah-belah saling mendzalimi. Apabila pemahaman mereka ternyata salah, peradaban itu akan tumbuh menjadi peradaban yang buruk pula.

Kemajuan peradaban umat yang dapat dibentuk seseorang akan ditentukan oleh kemampuan mengenali washilah. Peradaban suatu umat akan berhenti pada batas diri seseorang apabila ia tidak mengenal washilahnya. Seseorang yang merasa telah mempunyai kedudukan tanpa mengenal atau tanpa merasa perlu mengenal washilah akan membentuk umatnya benar-benar sebagaimana keadaan dirinya, sedangkan orang yang mengenal washilahnya akan dapat menyatu bersama umat-umat lain yang mengenal washilah yang sama. Seseorang yang mengenal kedudukan Rasulullah SAW akan dapat membangun peradaban bersama-sama dengan orang lain yang juga benar-benar mengikuti Rasulullah SAW, tidak terjebak dalam peradaban dalam perspektif cara pandangnya sendiri.

Manakala mengenal kedudukan Rasulullah SAW, seseorang akan mengenal puncak kebenaran dan dapat melakukan amar ma’ruf nahy munkar dengan tepat, tidak hanya berusaha membentuk kemajuan peradaban dalam perspektif diri sendiri. Kadangkala suatu kaum terkekang oleh fanatisme pada seorang washilah tertentu hingga tidak menyambungkannya kepada Rasulullah SAW, atau sebaliknya merasa mengenal Rasulullah SAW tanpa didukung kekuatan akal dalam memahami kebenaran dari ayat kauniyah yang ada sehingga tidak benar-benar bisa melangkah mengikuti Rasulullah SAW. Keadaan demikian akan melahirkan peradaban yang timpang pada salah satu bidang sesuai washilah yang mereka kenal, tidak berkembang secara menyeluruh mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.

Peradaban manusia yang baik terlahir dari terbentuknya bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, sedangkan peradaban yang buruk terlahir dari bayt yang ditopang dengan kekuatan-kekuatan selain Allah. Sebenarnya kekuatan yang buruk demikian juga menggunakan jalan pembentukan bayt tetapi dengan beberapa manipulasi syariat hingga syaitan memperoleh jalan memanfaatkan bayt itu. Misalnya tegaknya kerajaan riba sebenarnya didukung melalui pembentukan keluarga sesuai dengan arahan syaitan. Banyak bentuk-bentuk kekuasaan yang dibentuk mengikuti syaitan dengan membina bayt. Apabila orang-orang beriman hendak menegakkan peradaban yang baik, hendaknya pembinaan bayt yang diijinkan untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah diperhatikan.

Membina Bayt

Membina bayt harus dilakukan dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa mengikuti tuntunan demikian suatu bayt dapat berubah bentuk menjadi sumber fitnah yang sangat besar. Pokok tegaknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah laki-laki yang tidak dilalaikan dari berdzikir kepada Allah karena perdagangan dan jual beli, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka takut pada hari dimana hati dan penglihatan menjadi goncang.

﴾۷۳﴿رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS AN-Nuur : 37)

Mereka adalah laki-laki yang telah terbina sebagai misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan dari cahaya Allah secara tepat tanpa distorsi yang mengganggu. Dasar dari bayt yang benar adalah pemahaman yang benar terhadap tuntunan Allah oleh para laki-laki dengan akalnya, tidak boleh dibuat secara sembarang tanpa mengikuti tuntunan Allah.

Perempuan tidak disebutkan pada ayat di atas, tetapi disebut sebagai rumah bagi laki-laki sebagaimana disebutkan ayat sebelumnya. Shalih ataupun jahat suaminya terhadap masyarakat, setiap perempuan harus berusaha menjadi rumah yang baik bagi suaminya. Masalah membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah hanya dapat diusahakan seorang isteri manakala bersuamikan orang shalih. Bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah tidak terbentuk bila suami seorang yang jahat, akan tetapi perempuan tetap akan memperoleh kebaikannya dengan mengusahakan terbentuknya rumah yang baik. Dalam prakteknya, seorang isteri yang baik hampir selalu dapat mengubah suaminya untuk melahirkan suatu kebaikan hingga kebaikan yang sangat banyak. Seorang Fir’aun mempunyai kebaikan merawat Musa a.s di rumahnya karena kebaikan isterinya.

Rumah yang baik yang harus dibentuk setiap perempuan berupa akhlak mulia terhadap suami. Akhlak mulia membentuk bayt itu sebenarnya sama dengan akhlak mulia umumnya, yaitu sifat rahman dan rahim, tetapi penerapannya bersifat lebih khusus yaitu terhadap suaminya dan anak-anaknya. Rahmaniah seorang perempuan harus diwujudkan dalam bentuk kemauan dan/atau keinginan mendengarkan perkataan suaminya dan mentaatinya. Apa-apa yang dipandang bernilai baik hendaknya dihayati sebagai media kebersamaan dengan suaminya. Sifat rahim seorang perempuan harus diwujudkan dalam bentuk mendukung terwujudnya potensi suami hingga mendatangkan manfaat bagi diri mereka dan masyarakat. Sifat rahim itu tidak akan terwujud tanpa adanya kemauan mendengarkan perkataan suami, dan seringkali adanya dukungan yang diberikan dalam kasus demikian hanya merupakan wujud dari hawa nafsu perempuan itu sendiri. Dengan adanya rahman dan rahim dalam diri seorang perempuan, akan terbentuk rumah yang baik walaupun belum tentu memperoleh ijin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah di dalamnya.

Sifat sombong sebagai lawan dari sifat rahman dan rahim harus dihindari. Sikap tidak mau mendengar, menghakimi atau mencela suami secara sembarangan, dan sikap-sikap yang bertentangan dengan sifat rahmaniah dan rahimiah harus dihindari karena sifat demikian akan menjadikan keadaan rumah menjadi buruk. Seandainya seorang laki-laki bersikap rendah hati, itu tidak menunjukkan bahwa ia bisa menerima sikap merendahkan. Seringkali orang demikian tidak ingin ia berada dekat dengan kesombongan atau kesombongan berada dekat dengannya, walaupun misalnya tidak merasa sakit hati direndahkan. Tidak jarang hal demikian disertai dengan munculnya rasa sakit hati direndahkan. Bila demikian, maka tidak akan terbentuk rumah yang baik, dan pasti tidak akan menjadi rumah yang mendapatkan ijin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Dalam perjalanannya, suatu pasangan menikah akan menghadapi banyak masalah yang akan menguji masing-masing. Bagi perempuan, selama suaminya tidak bertindak buruk kepada dirinya, ia harus berusaha untuk mewujudkan rumah yang baik. Tindakan buruk seorang suami boleh jadi muncul karena perbuatan perempuan itu sendiri, maka hendaknya perempuan mawas diri. Bila ia menemukan suami yang jahat, itu barangkali merupakan tebusan kesalahan pada masa lalu dalam perjodohan. Boleh jadi seorang suami berubah sikap karena orang lain, tetapi bila isteri menyediakan rumah yang baik suami akan kembali ke rumahnya. Kadangkala seorang isteri yang baik dituntut untuk dapat melaksanakan petunjuk Allah dengan suatu pengorbanan yang terasa berat, maka ia hendaknya berusaha untuk melaksanakan petunjuk itu. Petunjuk itu mungkin tidak akan mengubah sikap suami menjadi buruk bila ia tetap menyediakan rumah yang baik. Banyak hal yang harus dipertimbangkan yang dapat menjadikan seorang perempuan kuat akalnya untuk memahami suaminya dalam beramal.



Sabtu, 13 Juli 2024

Mengharap Kecintaan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Kedekatan seorang hamba kepada Allah ditandai dengan kecintaan Allah pada hamba-Nya, yaitu hamba-hamba Allah yang mencintai-Nya dan mengikuti langkah-langkah Rasulullah SAW. Itu adalah langkah-langkah agar seseorang dicintai Allah. Manakala seseorang telah mempunyai pengenalan kepada rabb-nya, ia akan mencintai Allah karena kemuliaan-Nya. Apabila ia telah mencintai Allah dan mengikuti langkah-langkah Rasulullah SAW untuk kembali kepada Allah, maka ia dapat berharap Allah akan mencintainya. Itu adalah jalan yang benar bagi seorang hamba untuk dicintai Allah karena Allah menjanjikan demikian.

﴾۱۳﴿قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu". dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali Imran : 31)

Allah akan mencintai orang-orang yang mencintai-Nya dan mengikuti langkah Rasulullah SAW. Kedua keadaan tersebut harus dipenuhi oleh hamba Allah. Gambaran tentang hal demikian dapat dilihat dalam hubungan cinta seorang perempuan dan laki-laki secara khusus manakala mereka di jalan Allah. Seorang mukminat mungkin akan mencintai seorang laki-laki berdasarkan suatu urusan Allah bagi dirinya yang mulai dikenali dari laki-laki tersebut. Kecintaan demikian hendaknya diikuti dengan langkah mengikuti dan mendukung laki-laki itu dalam melaksanakan urusan Allah. Manakala mukminat itu kemudian bertindak sebaliknya, misalnya menimbulkan kesulitan bagi laki-laki itu dalam melaksanakan urusan Allah, merusak keadaan yang dibutuhkan untuk beramal shalih atau menimbulkan kerusakan lain-lain yang berakibat buruk bagi laki-laki itu, maka laki-laki itu akan sulit menumbuhkan cintanya. Kedua keadaan itu harus ada pada perempuan, maka laki-laki itu akan mencintainya di jalan Allah. Selaras demikian hubungan kecintaan yang seharusnya dibangun antara seorang hamba kepada Allah, yaitu hamba itu mencintai Allah dan mengikuti langkah Rasulullah SAW. Bila seseorang berjalan sendiri menyimpang atau tidak berjamaah di sunnah Rasulullah SAW, Allah tidak akan mencintainya.

Di pihak laki-laki apabila mereka di jalan Allah, kecintaan yang timbul pada mereka merupakan kecintaan karena Allah. Mungkin mereka akan merasakan hawa kecintaan dan harapan seorang perempuan yang ingin bersama dengannya, tetapi tidak akan terseret oleh perasaan itu manakala perempuan itu tidak mendukung dirinya dalam melaksanakan urusan Allah. Kecintaannya hanya akan ditumbuhkan manakala perempuan itu mencintainya dan dapat berjalan searah seirama dengan dirinya di jalan Allah melalui pernikahan mereka. Dalam keadaan tertentu, mungkin ia mencintai isterinya sekalipun tidak mendukungnya karena mengetahui adanya suatu keadaan khusus yang terjadi.

Mengikuti Rasulullah SAW adalah mengikuti langkah beliau SAW untuk menuju kedekatan di sisi Allah. Perjalanan Rasulullah SAW mendekat itu secara nyata dapat dilihat dari puncak kedekatan manakala beliau dimi’rajkan hingga ufuk yang tertinggi bertemu dengan wajah Allah. Mi’raj beliau merupakan langkah terakhir seorang makhluk dalam perjalanan mendekat kepada Allah, dan seorang hamba kemudian menjadi hamba yang didekatkan. Setiap muslim hendaknya memahami hal demikian, tidak mereduksi bahwa mengikuti beliau SAW dapat dilakukan hanya dengan sekadar meniru apa-apa yang beliau kerjakan sebagai syariat. Mungkin perlu waktu panjang bagi seorang muslim untuk mencapai kedekatan kepada Allah, tetapi harus tumbuh suatu keinginan untuk mendekat, dan berusaha menghindari kelalaian dalam mendekat.

Mi’raj beliau SAW merupakan puncak langkah kedekatan kepada Allah. Ada banyak tahapan langkah yang beliau tempuh agar dapat menempuh puncak langkah demikian. Terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah merupakan syarat utama yang harus dicapai sebelum seorang hamba dimi’rajkan. Prasyarat untuk terbentuknnya bayt demikian adalah terbentuknya seorang laki-laki sebagai misykat cahaya yang dapat memproyeksikan dengan tepat bayangan dari cahaya Allah yang dilimpahkan kepadanya. Prasyarat pembentukan diri sebagai misykat cahaya berupa proses tazkiyatun-nafs. Tazkiyatun-nafs hanya dapat dilakukan bila seorang hamba melaksanakan syariat yang ditentukan baginya. Suatu omong kosong manakala seseorang mengatakan bahwa seorang khusus tidak perlu melaksanakan syariat karena semua langkah yang ditempuh seseorang bila ia melangkah akan runtuh manakala ia meninggalkan syariat. Ada banyak langkah-langkah yang harus ditempuh dan dicapai agar seseorang menjadi hamba Allah yang didekatkan. Mengikuti Rasulullah SAW dalam ayat di atas adalah mengikuti langkah-langkah beliau SAW untuk menjadi hamba Allah yang didekatkan sebagaimana dijelaskan di atas.

Pencapaian setiap tahapan di atas pada dasarnya merupakan manifestasi pertumbuhan kemuliaan akhlak, mencerminkan suatu pencapaian seseorang terhadap akhlak tertentu. Kemuliaan akhlak dalam hal ini adalah terbentuknya atau tumbuhnya sifat rahman dan rahim dalam diri seseorang. Tanpa adanya pertumbuhan sifat rahman dan rahim yang mengikuti langkah seseorang, pencapaian tahapan langkah itu seringkali merupakan pertumbuhan semu atau bahkan salah. Seseorang mungkin mencapai tahapan orang yang disucikan tetapi tidak disertai dengan tumbuhnya sifat yang baik, maka ia akan mudah terjatuh kembali pada keadaan dosa-dosa. Kadang suatu tahapan tercapai karena terbantu sesuatu yang bersifat temporer, atau bukan tidak mungkin seseorang menempuh suatu fitnah tertentu yang melejitkan langkahnya. Kesejatian langkah yang telah ditempuh itu harus diukur dengan melihat jejak Rasulullah SAW, tidak sekadar dilihat jarak lagkahnya.

Membina sifat rahman dapat dikatakan secara populer sebagai mencari kebenaran, secara khusus berupa mencari kebenaran agar dapat menunaikan kehendak Allah. Rahmaniah merupakan akhlak seseorang dalam hubungannya kepada Allah. Sifat rahmaniah manusia menunjukkan sifat kecintaan terhadap pemahaman dan ketaaatan terhadap tuntunan Allah berupa kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kecintaan rahmaniah itu tidak hanya berlaku bagi diri sendiri, tetapi juga kesukaan memberikan kepada orang lain pemahaman dan mengajak pada ketaatan kepada Allah berdasarkan pemahaman adanya kemuliaan padanya, bukan sekadar memaksakan pemahaman.

Sifat rahim menunjukkan cinta kasih seseorang terhadap orang lain dan makhluk lain. Sifat rahim merupakan bentuk akhlak seseorang dalam hubungannya terhadap makhluk, terutama dalam urusan-urusan di alam ciptaan. Sifat rahimiah ditunjukkan dengan terwujudnya sikap yang baik terhadap makhluk-makhluk lain berupa keinginan memberikan kepada makhluk lain kemudahan dalam kehidupan. Gambaran sifat rahimiah tergambar pada seorang ibu yang akan berusaha keras penuh rasa sayang untuk memberikan kesejahteraan bagi anak-anaknya. Rahimiah seseorang harus tumbuh mengikuti sifat rahmaniahnya, tidak tumbuh tanpa arah karena dapat kecintaan demikian bisa saja justru mendatangkan madlarat alih-alih mendatangkan manfaat. Demikian pula sebaliknya, pemahaman seseorang terhadap tuntunan Allah harus ditimbang kebenarannya berdasar manfaat yang ditimbulkan.

Setiap kemajuan langkah dalam mengikuti Rasulullah SAW harus diukur dengan pertumbuhan pemahaman terhadap tuntunan Allah dan nilai manfaat diri yang dapat diberikan kepada orang lain. Itu adalah parameter membentuk bayt berdasar sifat rahman dan rahim. Demikian pula tahapan membentuk misykat cahaya harus diukur berdasar pemahaman terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pengenalan diri seseorang ditentukan ketepatan bayangan yang dibentuk seseorang dari cahaya Allah hingga ia mengenal kedudukan dirinya di alam kauniyah yang dipahami berdasar ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pengenalan diri seseorang tidak dapat dibentuk dengan prasangka diri, benar-benar terjadi berdasar bayangan cahaya Allah yang terbentuk dengan tepat, dan cahaya Allah yang paling benar dan jelas adalah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW sedangkan yang lain sangat mungkin tercampur adanya kebathilan.

Mencintai Sebagaimana Mestinya

Cahaya Allah memancar di alam semesta hingga alam bumi melalui berbagai sarana yang diturunkan bagi manusia. Kitabullah Alquran dan Rasulullah SAW merupakan sarana paling utama yang diturunkan bagi manusia untuk mengenal cahaya Allah. Tidak terbatas pada keduanya, sangat banyak sarana yang diturunkan bagi manusia agar mengenal cahaya Allah. Para nabi yang lain merupakan pengantar agar manusia dapat mengenal Rasulullah SAW. Demikian pula orang-orang shalih yang hidup pada setiap masa merupakan sarana-sarana agar manusia mengenal cahaya Allah.

Mengenal cahaya Allah akan menimbulkan kecintaan seseorang kepada sarana yang menyampaikannya. Hal itu merupakan sesuatu yang akan terjadi secara natural. Orang-orang islam yang mengenal kebenaran akan mencintai Rasulullah SAW dengan kecintaan yang lebih daripada kecintaan terhadap orang lain karena besarnya nilai kebenaran yang mengalir melalui Rasulullah SAW. Demikian pula orang-orang yang tidak bertemu Rasulullah SAW akan mencintai orang-orang yang mengajarkan kepada mereka kebenaran dan lebih besar mencintai Rasulullah SAW karena kebenaran yang disampaikan kepadanya.

Tumbuhnya rasa cinta demikian merupakan hal yang seharusnya terjadi, akan tetapi hendaknya benar-benar diperhatikan agar muncul kecintaan dengan proporsi tepat, karena sebagian jenis kecintaan bukan kecintaan yang benar dan bahkan bisa saja merupakan kekejian. Sebagian manusia menjadikan selain Allah sebagai orang-orang yang dicintai sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah. Orang-orang beriman tidak melakukan hal demikian, tetapi mereka mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat besar tidak setara dengan kecintaan mereka terhadap makhluk.

﴾۵۶۱﴿وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai setara; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya.(QS A-Baqarah : 165)

Ayat tersebut menyatakan adanya orang-orang yang mencintai Allah dan mencintai orang lain atau makhluk-Nya dalam porsi yang sama. Kata “setara (أَندَادًا)” menunjukkan suatu perbandingan dalam kualifikasi yang sama, tidak secara berlawanan. Orang-orang demikian mempunyai warna yang juga kuat dalam mencintai Allah selain mencintai manusia. Mereka bukanlah orang-orang yang tampak menjadi musuh Allah, tetapi hanya dalam proporsi kecintaan kepada Allah dan kepada makhluk.

Barangkali ukuran porsi kecintaan seseorang agak sulit dibayangkan. Secara praktis, orang-orang demikian menunjukkan fenomena menjadikan makhluk sebagai representasi sepenuhnya bagi Allah, atau menunjukkan bahwa makhluk yang mereka cintai menjadi indikator yang setara dengan Allah. Segala sesuatu yang muncul dari makhluk tersebut dijadikan sebagai representasi sepenuhnya dari kehendak Allah tanpa menimbang berdasar tuntunan yang haq yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka mencintai segala sesuatu dari makhluk tersebut sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah, tanpa mengetahui kedudukan objek dalam hirarki washilah. Fenomena kasarnya, bahkan mereka mengikuti orang yang dicintai manakala harus bertentangan dengan tuntunan kitabullah sekalipun.

Orang-orang beriman harus menghindari sikap demikian. Kecintaan dalam diri orang beriman hendaknya tumbuh mengikuti kebenaran yang muncul melalui medianya secara proporsional. Menjadikan makhluk setara dengan Allah akan membuat manusia kehilangan akal dalam menimbang kebenaran dan kebathilan hingga mungkin saja suatu kebathilan dipandang sebagai kebenaran dan sebaliknya memandang kebenaran sebagai suatu kebathilan. Mengawali keadaan demikian, kepekaan akal seseorang terhadap kebenaran akan melemah hingga kadang menjadikan kebenaran itu berada hanya pada pihak mereka. Hal demikian merupakan kedzaliman dan orang-orang yang berbuat demikian termasuk dalam golongan orang-orang yang dzalim.

Tidak ada makhluk yang dapat dijadikan setara dengan Allah. Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling dekat dengan Allah dan menjadi cermin yang paling baik bagi cahaya Allah, akan tetapi hendaknya manusia tetap dapat melihat kedudukan beliau SAW sebagai rasul Allah, tidak menjadikan beliau SAW setara dengan Allah. Rasulullah SAW adalah sarana yang paling utama yang diturunkan Allah tanpa suatu kesalahan. Kecintaan yang benar seseorang kepada makhluk seharusnya terjadi karena Allah, yaitu kecintaan secara proporsional sesuai dengan kebenaran yang mengalir kepada dirinya melalui makhluk tersebut. Manakala tidak proporsional, ada yang kurang tepat dengan kecintaannya, misalnya mungkin kecintaan itu hanya berdasar hawa nafsu atau syahwat. Manakala seseorang mencintai makhluk sebagaimana cintanya kepada Allah, orang tersebut telah menjadi dzalim.

Allah akan menurunkan adzab kepada orang yang dzalim dengan cara demikian dengan adzab yang sangat keras. Mereka akan melihat bahwa kekuatan akan berada pada pihak yang menyeru kepada Allah hingga mereka mengetahui bahwa mereka tidak mempunyai kekuatan untuk melawan. Sulitnya, adzab atau penglihatan itu akan mereka peroleh secara tertunda hingga waktu yang ditentukan. Yang dapat mengetahui adzab demikian adalah orang-orang yang menggunakan akalnya untuk berpegang pada tuntunan Allah dengan benar. Mereka akan mengetahui berbagai masalah yang meliputi mereka hingga menyadari atas keadaan apa adzab itu diturunkan. Orang yang terus mengikuti hiasan syaitan atas mereka akan terus memandang bahwa kecintaan mereka selayaknya demikian.

Menjadikan makhluk sebagai tara bagi Allah tidak boleh dilakukan oleh orang beriman. Demikian pula kecintaan seseorang terhadap makhluk tidak boleh sama dengan kecintaan kepada Allah, tetapi hanya dalam tingkatan proporsional dengan kebenaran yang mengalir melalui makhluk tersebut. Kecintaan mahkluk hanyalah kepada Allah, sedangkan Rasulullah SAW adalah penuntun menuju Allah. Karena mengalirnya kebenaran dari sisi Allah melalui beliau SAW, maka manusia boleh dan seharusnya mencintai Rasulullah SAW karena cinta mereka kepada Allah. Tepatnya seseorang dalam mencintai Allah dan proporsi cintanya kepada makhluk ditandai dengan pengenalan terhadap hubungan al-jamaah di antara mereka.