Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.
Mengikuti langkah Rasulullah SAW adalah membentuk akhlak mulia hingga menjadi makhluk yang dianggap layak untuk didekatkan dan dihadirkan di hadirat Allah. Akhlak mulia ditunjukkan dengan terbentuknya sifat rahman dan rahim dalam diri. Sifat rahmaniah manusia menunjukkan sifat kecintaan terhadap kebenaran berupa pemahaman dan ketaaatan terhadap tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Kecintaan rahmaniah itu tidak hanya berlaku bagi diri sendiri, tetapi juga kesukaan memberikan pemahaman kepada orang lain dan mengajak pada ketaatan. Sifat rahim menunjukkan cinta kasih seseorang terhadap orang lain dan makhluk lain. Sifat rahim ditunjukkan dengan terwujudnya sikap yang baik terhadap makhluk-makhluk lain berupa keinginan memberikan kemudahan dalam kehidupan.
Sifat-sifat tersebut akan terbentuk manakala manusia mengikuti petunjuk Allah. Sifat rahman dan rahim dalam definisi khusus tidak akan terbentuk pada diri seorang manusia tanpa mengenal dan mengikuti petunjuk Allah. Membina sifat baik akan menghindarkan seseorang dari celaka, tetapi ada kekhususan dalam petunjuk Allah. Untuk berjalan mendekat kepada Allah dan membina kemuliaan setiap orang harus memperoleh dan mengikuti petunjuk. Kemuliaan akhlak manusia akan selaras dengan petunjuk yang diikutinya. Allah menurunkan petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki, maka barangsiapa mengikuti petunjuk ia akan didekatkan kepada Allah tanpa tersesat dan tidak celaka.
﴾۳۲۱﴿فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
(123) Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara (124) Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" (QS Thaahaa : 123-124)
Mengikuti petunjuk harus diwujudkan oleh hamba Allah hingga dalam bentuk dzahir melalui upaya dzikir. Dzikir menunjuk pada usaha mengartikulasikan pemahaman terhadap kehendak Allah hingga terlihat pada wujud-wujud dzahir sebagai tindak lanjut dari petunjuk yang telah diterima. Amal yang dilakukan seorang hamba Allah berdasarkan pemahaman terhadap kehendak Allah sedikit atau banyak maka itu termasuk dalam bentuk dzikir. Dzikir dalam bentuk tertinggi adalah terbentuknya bayt seseorang untuk mengartikulasikan pemahaman terhadap kehendak Allah, yaitu meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.
Petunjuk Allah adalah petunjuk yang menjadikan seseorang memahami kehendak Allah. Ada banyak jenis petunjuk yang bisa turun kepada manusia, baik yang benar ataupun yang salah. Allah memberikan petunjuk kepada para hamba Allah dalam berbagai tingkat. Ada petunjuk-petunjuk Allah yang dituliskan di alam bumi. Ada petunjuk-petunjuk yang diberikan kepada hamba melalui suatu perintah kepada langit untuk menurunkan pengetahuan. Ada petunjuk berupa kitabullah yang selalu menjadi petunjuk bagi orang yang mengharapkannya. Petunjuk-petunjuk demikian di Alquran seringkali disebut sebagai ayat. Petunjuk Allah pada ayat di atas adalah bentuk petunjuk yang menjadikan manusia memahami kehendak Allah dengan benar. Seringkali petunjuk Allah terbentuk melalui penyatuan berbagai bentuk petunjuk-petunjuk atau ayat-ayat, tanpa menafikan bahwa ada banyak petunjuk Allah yang tiba-tiba diturunkan. Yang pasti, dengan petunjuk Allah seseorang akan mengetahui kehendak Allah yang harus ditunaikan dan kehendak itu selaras dengan kauniyah yang terjadi dan sesuai dengan petunjuk kitabullah.
Petunjuk Allah tidak hanya berupa petunjuk-petunjuk yang umum, tetapi bisa juga bersifat sangat definitif. Misalnya bisa saja seseorang menerima petunjuk Allah berupa perjodohannya dengan orang tertentu. Sekalipun definitif, manfaat dari petunjuk demikian bersifat luas. Ayat tentang petunjuk di atas terkait dengan keberpasangan Adam dan Hawa dan juga penyatuan hati atau permusuhan antar manusia secara umum. Bila manusia memahami, keberpasangan antara dua manusia sebenarnya terkait dengan persoalan besar umat manusia. Petunjuk Allah yang bersifat definitif tidak boleh disepelekan, karena sebenarnya mempunyai tujuan yang besar bagi umat manusia. Suatu pernikahan berdasarkan petunjuk seringkali menjadi kunci yang mengawali penyelesaian permasalahan umat manusia.
Kadangkala seseorang belum mampu memahami makna suatu petunjuk. Orang-orang yang menerima petunjuk demikian hendaknya berusaha untuk memeriksa kauniyah dirinya dengan seksama untuk memahami petunjuknya, tanpa memaksakan diri untuk segera memahaminya. Upaya demikian terutama terkait dari petunjuk yang kandungannya tidak sesuai dengan keinginan diri sendiri. Petunjuk demikian seringkali bukan berasal dari hawa nafsu atau syahwat, atau dari kesombongan diri sebagai orang yang menerima petunjuk. Sekalipun belum memahami, petunjuk demikian tidak boleh disia-siakan. Petunjuk itu bila benar akan bisa menjelaskan keadaan (kauniyah) diri atau bahkan kauniyah kaumnya yang sebelumnya tidak disadarinya, dan kemudian ia menyadari bahwa petunjuk itu adalah petunjuk yang benar
Ketidaktahuan seseorang terhadap makna petunjuknya seringkali menimbulkan sikap yang tidak tepat. Ketidaktahuan hendaknya tidak membuat seseorang bersikap berlebihan terhadap petunjuknya. Setiap orang harus menjaga sikapnya, baik untuk dirinya, terhadap orang-orang di sekitarnya ataupun adabnya kepada Allah. Misalnya bila petunjuk yang diterima tidak sesuai dengan dirinya, hendaknya ia mencari tahu keadaan dirinya secara tepat tidak menganggap petunjuknya salah hingga menyalahkan Allah. Contoh lain, bila petunjuk jodoh tidak sesuai keinginannya, hendaknya ia tidak menjatuhkan kehormatan pasangan dalam petunjuknya di antara keluarganya atau di antara umatnya. Sebenarnya ketidaksesuaian hawa nafsunya itulah yang seharusnya ditundukkan. Apabila ia belum mampu, maka cukuplah menjaga jarak antara mereka tidak perlu sampai merusak keadaan pihak lain dengan sengaja. Semakin besar kerusakan yang diperbuat, semakin besar hambatan yang muncul untuk kembali kepada petunjuk, sedangkan setiap orang akan dituntut untuk mengikuti petunjuknya manakala telah mulai memahami. Bila seseorang tidak pernah memahami petunjuknya, boleh jadi ia sebenarnya mengabaikan ayat Allah. Menjaga sikap harus diperhatikan manakala seseorang tidak mengetahui makna petunjuknya.
Berdzikir Kepada Allah
Menerima petunjuk Allah dan dzikir merupakan keadaan yang muncul dari sifat rahman dan rahim pada diri seseorang. Pahamnya seorang hamba terhadap kehendak Allah sesuai dengan keadaan kauniyah dan tuntunan kitabullah merupakan manifestasi rahmaniyah yang terbentuk dalam dirinya. Upaya mewujudkan pemahaman terhadap kehendak Allah hingga terlahir ke alam dunia merupakan manifestasi sifat rahimnya. Setiap hamba Allah harus berusaha mewujudkan kedua sifat itu dalam wujud lahir untuk membentuk akhlaknya menuju kemuliaan, tidak meninggalkan salah satu di antara keduanya atau meninggalkan keduanya.
Dzikir yang sesungguhnya terwujud dari petunjuk Allah. Bagi orang-orang yang diberi pengetahuan tentang kehendak Allah, hendaknya mereka sungguh-sungguh memeriksa pengetahuannya dari kitabullah. Bila pengetahuannya benar, kitabullah akan bercerita lebih jelas, tepat dan teliti tentang kehendak Allah daripada pengetahuan yang dipahaminya. Bila pengetahuannya salah, kitabullah akan menunjukkannya pada yang benar. Umatnya yang mungkin mengikuti dzikirnya juga akan memperoleh landasan yang benar dalam mengikuti kehendak Allah, tidak hanya berlandaskan pengetahuan panutannya saja. Hal demikian akan mengurangi potensi kesalahan dan kesesatan yang mungkin menimpa umat. Keberjamaahan seseorang bersama Rasulullah SAW ditentukan dari ketaatannya berpegang pada kitabullah. Bila seseorang beramal dengan suatu dzikir tanpa tuntunan kitabullah, barangkali ia akan menjadi orang asing di antara al-jamaah yang mengikuti Rasulullah SAW, atau dengan kata lain al-jamaah tidak mengenali amal-amal yang dilakukannya sebagai bagian dari amr Rasulullah SAW.
Seseorang yang meninggalkan dzikir kepada Allah setelah menerima petunjuk-Nya akan memperoleh kehidupan yang sempit dan kelak akan dikumpulkan dalam keadaan buta dari cahaya Allah. Setiap hamba Allah tidak boleh semata-mata mengandalkan pencarian kebenaran sebagai jalan mendekat kepada Allah. Pencarian kebenaran setiap hamba Allah harus digunakan untuk mewujudkan rasa sayang terhadap makhluk yang lain melalui upaya dzikir. Hanya dengan menjalani keduanya maka seorang hamba akan membentuk akhlak mulia dan memperoleh jalan untuk mendekat kepada Allah.
﴾۵۲۱﴿قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا
﴾۶۲۱﴿قَالَ كَذٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ
﴾۷۲۱﴿وَكَذٰلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَىٰ
(125) Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (126) Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (127) Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. (QS Thaahaa : 125-126)
Manakala seseorang tidak menunaikan dzikir, petunjuk-petunjuk yang diperoleh sebenarnya tidak memberikan manfaat. Fungsi bashirah bagi orang-orang demikian sebenarnya tidak dibutuhkan, karenanya kelak orang-orang yang tidak berdzikir berdasarkan petunjuknya akan dikumpulkan dalam keadaan buta. Petunjuk Allah yang diterima oleh seseorang harus diusahakan wujudnya. Bukan keberhasilan yang dituntut dari orang yang menerima petunjuk, tetapi usahanya untuk mewujudkan. Keberhasilan mewujudkan petunjuk tidak hanya tergantung diri seseorang tetapi juga banyak pihak. Misalnya bila seseorang harus menikah, harus ada kesepakatan minimal dari kedua pihak dan kadangkala banyak pihak ikut menentukan.
Ayat-Ayat Allah
Bashirah pada setiap orang harus dipergunakan untuk melihat ayat-ayat Allah hingga ia dapat memahami petunjuk Allah dan beramal berdasarkan petunjuk itu. Ayat Allah adalah keping-keping kebenaran yang akan mengantarkan seseorang memahami kehendak Allah. Bagi manusia umumnya, suatu ayat Allah mungkin tidak tampak menyatu dengan ayat yang lain tetapi tetap mempunyai nilai kebenaran. Misalnya mungkin seseorang mengetahui suatu persoalan dalam dirinya yang muncul karena kesalahannya sendiri, tetapi ia tidak mengetahui hubungannya dengan masalah internasional. Pengetahuan yang benar tentang persoalan diri itu termasuk ayat Allah. Manakala ia mengetahui persoalan dirinya terkait dengan masalah umat sebagaimana diterangkan dalam kitabullah Alquran, maka mungkin ia telah mendapatkan petunjuk Allah. Sangat banyak bentuk ayat Allah, tidak terbatas untuk diceritakan. Kadangkala ayat Allah ditemukan dalam bentuk penglihatan yang benar, dan bentuk-bentuk ayat yang lain. Suatu petunjuk terbentuk dari kumpulan ayat-ayat Allah yang dipahami dengan akal.
Ayat Allah dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, berupa ayat kitabullah, ayat kauniyah dan ayat dalam dada orang beriman. Setiap orang hendaknya memperhatikan ayat-ayat Allah agar terbentuk suatu petunjuk Allah bagi dirinya dan kemudian ia bertindak sesuai dengan petunjuk. Bila demikian maka ia akan diberi bashirah. Manakala seseorang tidak peduli dengan ayat-ayat Allah, atau tidak berusaha menemukan petunjuk dengan ayat-ayat itu, atau tidak mendzikirkannya, ia tidak akan diberi bashirah ataupun bila diberi bashirah, bashirah akan dicabut kelak di akhirat karena tidak digunakan dengan benar. Bashirah itu harus digunakan dengan benar yaitu untuk berusaha mewujudkan kehendak Allah di alam dunia.
Kebutaan itu terjadi manakala seseorang tidak mampu melihat ayat-ayat Allah. Dalam bentuk lebih lanjut, kebutaan itu sebenarnya bisa terjadi pada orang-orang yang memperoleh petunjuk, yaitu manakala mereka tidak berdzikir dengan petunjuk yang diperoleh, atau orang-orang yang menganggap remeh ayat Allah yang disampaikan kepada mereka hingga mereka melupakannya. Demikian pula sebenarnya kebutaan itu bisa terjadi pada orang-orang yang telah diberi penglihatan, pendengaran dan hati dalam kehidupan dunia tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah hingga mereka tersesat. Sebagian orang demikian justru menjadi sombong meremehkan kebenaran yang dibacakan oleh orang lain karena memandang remeh mereka yang membaca. Orang-orang yang mempunyai penglihatan, pendengaran dan qalb dalam kehidupan dunia belum tentu akan tetap diberi indera-indera bathin demikian kelak di akhirat manakala tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat Allah.
Orang yang meremehkan kebenaran ayat Allah yang sampai kepada mereka, atau tidak berdzikir ketika petunjuk Allah telah didatangkan kepadanya, mereka termasuk orang-orang yang berlebihan atau melampaui batas. Melampaui batas ( أَسْرَفَ) secara umum diartikan bermewah-mewah atau mensia-siakan. Makna yang dimaksud pada ayat di atas ada di antara makna-makna yang disebutkan. Terminologi berlebihan atau melampaui batas ( أَسْرَفَ) pada ayat di atas bisa dipahami sebagai sikap memandang diri secara kurang tepat melampaui kedudukan diri mereka yang sesungguhnya. Gejala dari sikap berlebihan atau melampaui batas itu boleh jadi akan terlihat dalam tindakan kepada pihak lain dalam bentuk sikap yang tidak semestinya. Mereka mungkin akan mengabaikan ayat Allah yang disampaikan, atau meremehkan orang lain hingga merasa berhak untuk melakukan sesuatu kepada orang lain secara tidak semestinya. Munculnya perbuatan demikian disebabkan mereka memandang diri mereka melampaui kedudukan diri.
Tepatnya kedudukan seseorang akan diketahui manakala mereka mengetahui kedudukan diri dalam amr Rasulullah SAW. Manakala seseorang mengenal urusan diri mereka dalam keadaan tidak diketahui hubungannya dengan urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya, mereka belum mengetahui kedudukan diri mereka dengan tepat. Bila seseorang mengetahui urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya, mereka mengetahui kedudukan dirinya dengan benar. Ketepatan pengetahuan seseorang tentang kedudukan diri akan semakin akurat bila seseorang mengenal hubungan washilah yang harus dibentuk di antara mereka. Orang-orang yang tidak berusaha mengenal urusan Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka akan mudah terjatuh pada sikap berlebihan.