Pencarian

Jumat, 31 Mei 2024

Perhiasan Dunia Yang Baik

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Setiap rasul akan menyeru umatnya untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ibadahnya. Kemurnian ibadah seorang hamba seringkali disebut sebagai keikhlasan. Sebenarnya keikhlasan tidak hanya merupakan kuatnya iktikad melayani, tetapi juga pengetahuan terhadap kehendak Allah. Seseorang yang mengenal Allah dengan lebih baik mempunyai tingkat keikhlasan yang lebih baik dibandingkan orang biasa. Seseorang tidak dapat dikatakan ikhlas manakala ia salah atau tidak mampu memahami kehendak Allah. Orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi karena merasa menjadi hamba-hamba Allah tidaklah menunjukkan tauhid yang benar. Orang demikian hanya menyangka ikhlas dengan hawa nafsunya.

Pengetahuan seseorang tentang jalan kehidupan duniawi dirinya termasuk sebagai tanda keikhlasan ibadah kepada Allah. Orang yang kembali kepada Allah akan memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah termasuk amal-amal yang perlu dilakukan, dan amal-amal itu akan mendatangkan kepadanya rezeki-rezeki duniawi yang baik bagi mereka. Orang-orang yang memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosanya dan menempuh jalan kembali kepada Allah akan memperoleh perhiasan duniawi dan memperoleh keutamaan.

﴾۳﴿وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. (QS Huud : 3)

Allah akan memberikan kenikmatan kepada hamba yang memohon ampunan dan bertaubat. Ayat di atas menyebutkan kenikmatan sebagai mata' (متاع) yang menunjukkan perhiasan-perhiasan kehidupan, dan secara khusus menyebutnya sebagai perhiasan yang dibutuhkan dalam kehidupan yang terbatas. Keterbatasan kehidupan itu menunjukkan kehidupan duniawi. Artinya, Allah akan memberikan kepada hamba-Nya pahala hingga dalam bentuk perhiasan kehidupan duniawi mereka, tidak hanya untuk kehidupan akhirat saja. Harta benda, kedudukan dan pangkat dalam kehidupan dunia akan diberikan Allah kepada hamba-Nya yang memohon ampunan dan bertaubat.

Makna sekunder ayat di atas selain seruan memohon ampun dan taubat adalah memberikan penjelasan kepada hamba Allah jalan untuk memperoleh perhiasan dunia. Seseorang yang ikhlas akan menjadikan ayat tersebut sebagai tanda perjalanan taubat yang sudah ditempuh, tidak mengutamakan menuntut balasan-balasan duniawi. Penjelasan itu harus dipahami secara lebih terperinci dan setiap orang harus menempuh jalan yang terperinci tersebut, tidak hanya berprasangka buruk bahwa ia telah melakukan istighfar dan taubat tetapi tidak muncul perhiasan yang difirmankan. Bila seseorang berprasangka buruk terhadap ketentuan Allah, mungkin ia sebenarnya ia hanya berharap terhadap perhiasan kehidupan dunia dan lalai belum melakukan istighfar dan taubat itu dengan benar, maka ia menganggap ayat tersebut salah.

Pengetahuan Melalui Taubat

Hal utama yang akan tumbuh terlebih dahulu dari proses istighfar dan taubat adalah munculnya pengetahuan tentang kehendak Allah yang tercermin pada kauniyah mereka. Balasan berupa perhiasan duniawi merupakan wujud dari pengetahuan yang tumbuh di dalam diri seorang hamba manakala ia dapat hidup selaras dengan tuntunan yang dipahaminya. Tanpa pengetahuan yang diturunkan, tidak muncul perhiasan duniawi dari Allah. Pengetahuan ini bagi seorang hamba kadangkala mencapai tingkatan hakikat berupa pengetahuan urusan dari sisi Allah. Tumbuhnya perhiasan duniawi akan menyertai tumbuhnya pengetahuan dari Allah yang diturunkan dari langit, akan tetapi kadangkala baru tercapai setelah seseorang memahami hakikat atau setelahnya. Sebenarnya bila seseorang bisa mengikuti pengetahuan yang diturunkan Allah, dunia mereka juga akan tumbuh, tetapi kadangkala seseorang terhalang untuk mengikutinya.

Nabi Nuh a.s menggambarkan dalam Alquran pertumbuhan duniawi bagi umatnya layaknya hujan deras yang menumbuhkan kemakmuran-kemakmuran duniawi. Suatu pengetahuan dari langit akan turun layaknya hujan deras bagi orang-orang yang memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah terjadi. Hujan deras berupa pengetahuan dari langit itu akan menumbuhkan harta dan anak-anak, dan menumbuhkan kebun-kebun dan sungai-sungai.

﴾۰۱﴿فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
﴾۱۱﴿يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
﴾۲۱﴿وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
(10)maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun- (11)niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,(12) dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS Nuh : 10-12)

ayat-ayat di atas menceritakan tumbuhnya kemakmuran seseorang karena permohonan ampunan yang dilakukan. Allah akan menurunkan pengetahuan dari langit layaknya hujan deras yang turun ke bumi yang menumbuhkan kebun-kebun dan sungai. Pengetahuan yang turun dari langit itu akan memanjangkan harta dan hal-hal yang dapat dilahirkan dari diri seorang hamba.

Keseluruhan proses pemakmuran tersebut hendaknya diperhatikan orang beriman. Kadangkala seorang hamba yang benar-benar meminta ampunan kepada Allah hanya memperoleh pahala berupa hujan yang deras dari langit hingga ia memperoleh pengetahuan yang banyak, tetapi tidak memperoleh banyaknya harta dan tidak mampu melahirkan hal-hal yang tersimpan dalam dirinya. Terwujudnya harta yang banyak dan hal-hal yang tersimpan dalam diri membutuhkan keterpaduan antara aspek langit dan bumi. Manakala aspek bumi diri seorang hamba belum menyatu dengan aspek langitnya, maka hal-hal demikian tidak terwujud. Dalam beberapa hal penyatuan itu harus berupa penyatuan seseorang dengan isterinya, maka hal-hal duniawi itu baru dapat terwujud.

Penyatuan aspek-aspek itu merupakan wujud kebersyukuran. Setiap orang harus bersyukur atas keadaan dirinya, tidak lebih memperhatikan sesuatu selain Allah. Bila seseorang lebih memperhatikan keinginan duniawinya daripada taubatnya, hujan deras itu mungkin tidak tersimpan ke jasmaniahnya hingga ia tidak merasakan adanya hujan. Kadangkala seseorang tidak memperhatikan keadaan duniawinya berupa tumbuhnya semak belukar dan rumput-rumput yang menghalangi pertumbuhan kebunnya, maka hal-hal duniawi itu tidak tumbuh bagi mereka. Adapun hal-hal duniawi yang mungkin tumbuh barangkali lebih merupakan rumput atau semak belukar.

Kotor dan menyimpangnya nafs seseorang dari keikhlasan akan menjadikan akalnya lemah, dan bersihnya nafs akan meningkatkan kekuatan akal untuk memahami kehendak Allah. Kotornya dan menyimpangnya nafs disebabkan oleh adanya hawa nafsu dan syaitan. Keduanya akan mengganggu pertumbuhan akal dan menyimpangkannya. Manakala hujan pengetahuan turun, pengetahuan-pengetahuan itu bisa menyuburkan hawa nafsu atau pengetahuan yang salah. Di sisi lain, pengetahuan tidak sampai kepada akal mereka. Kasus lainnya, air yang terserap pohon kebun itu tercampur dengan esensi dari semak dan rumput yang tidak dibersihkan, maka buah dari pohon itu menjadi berubah. Manfaat dari buah yang seharusnya diperoleh mungkin saja berbalik menjadi madlarat karena pengaruh rumput dan semak belukar itu.

Hambatan dalam Bersyukur

Setiap hamba harus mensyukuri setiap keadaan dirinya secara menyeluruh, baik nafs maupun rasa jasmaniahnya. Kebersyukuran seorang hamba dapat diibaratkan selarasnya langkah antara suami dan isteri. Hubungan suami dan isteri merupakan bentuk perluasan dari nafs dan jasmani setiap manusia. Terbentuknya perhiasan duniawi yang baik terkait dengan kebersyukuran dalam berpasangan. Pada tingkat perorangan manakala seseorang tidak mau menerima keadaan dirinya dan berharap keadaan lain setelah berusaha sebaik-baiknya, maka ia tidak akan mengetahui kelebihan dari Allah yang ada dalam dirinya. Ketidaksungguh-sungguhan berusaha akan mengganggu ketenangan seseorang dalam menerima keadaan, tetapi ia harus berusaha berlapang menerima agar dapat mengetahui kelebihan dari Allah dalam dirinya, bagaimanapun usaha yang telah dilakukan. 

Demikian pula setiap pasangan harus selaras dapat memandang keadaan mereka sesuai dengan kehendak Allah, tidak tercampuri waham keliru. Bila demikian maka mereka akan melihat keutamaan yang ada pada keberpasangannya. Bila tercampuri suatu waham, seseorang akan sulit melihat keutamaan yang ada mereka untuk disyukuri secara keberpasangan. Misalkan seorang suami telah mempunyai pengetahuan, tetapi isterinya tidak mau memahami dan tidak mau melangkah selaras untuk mewujudkan bentuk duniawi pengetahuan itu, maka mereka tidak dapat bersyukur dan tidak akan menemukan perhiasan duniawi yang tersedia bagi mereka. Perhiasan duniawi yang baik tidak akan diperoleh manakala pasangan itu tidak bersyukur.

Sebagian dari waham yang merusak kebersyukuran terbentuk karena pengajaran atau informasi yang salah, dan sebagian waham terbentuk karena adanya perbuatan keji. Keduanya merusak kebersyukuran dalam intensitas yang berbeda. Pengajaran atau masukan yang salah akan lebih mudah diperbaiki manakala para pihak bisa menyadari kesalahannya dan berkeinginan untuk mengikuti kebenaran. Bila disebabkan oleh suatu kekejian, seringkali akan sangat sulit bagi seseorang menyadari kekejian yang terjadi. Sekalipun keji, mereka bisa saja memandang baik perbuatan keji itu atau bahkan mungkin saja mengira kekejian mereka itu adalah perintah Allah.

Informasi yang salah, sekalipun lebih ringan pengaruhnya, tetapi mungkin akan berkelindan dengan hawa nafsu dan waham lainnya yang kadangkala menjadi masalah baru yang rumit. Setiap pihak harus berusaha memilih informasi yang benar agar dapat bersyukur bersama pasangan, baik informasi yang besar layaknya menerima pengajaran landasan hidup ataupun sekadar informasi ringan layaknya ghibah orang lain. Manakala salah satu atau kedua pihak menjalani hidup dengan landasan ajaran yang keliru, akan sulit bagi mereka untuk bersyukur di atas kebenaran. Manakala mengetahui ajaran yang benar sebagai landasan untuk melangkah, hendaknya setiap pihak mau mengubah landasannya di atas landasan bersama. Komunikasi yang baik akan membantu setiap pihak untuk memahami pihak lainnya. Manakala salah satu pihak bersikeras untuk mengikuti wahamnya meninggalkan kebenaran, sikap itu itu akan menjadi masalah yang akan mengganggu terbentuknya kebersyukuran dalam pernikahan.

Dalam interaksi antara suami isteri, setiap pihak harus membangun kesepahaman dengan pihak lainnya secara langsung tanpa ada pihak lain yang mempengaruhi persepsi satu terhadap yang lain secara buruk. Hanya Allah yang lebih menentukan bentuk persepsi antara suami dan isteri, tidak boleh ada orang lain yang menentukan pembentukan persepsi kecuali hanya bersifat masukan. Bahkan untuk jihad bersama Rasulullah SAW para perempuan mukminin diperintahkan untuk memperhatikan suaminya. Manakala seseorang mempunyai waham salah, interaksi antara suami dan isteri tersebut akan mudah terganggu. Ketika suatu kekejian terjadi walaupun hanya secara bathin, persepsi antara suami dan isteri akan terganggu karena kekejian itu. Seorang suami mungkin akan memandang buruk isterinya, dan seorang isteri mungkin memandang buruk suaminya atau justru menghukumi pasangannya menurut perkataan orang lain. Kadangkala suatu langkah ditentukan oleh satu pihak karena mengikuti orang lain secara keji, maka pihak lainnya menjadi terdzalimi. Hal demikian harus dihindari karena mereka tidak dapat bersyukur dengan keadaan demikian.

Tetap Memohon Ampunan dan Taubat

Terlahirnya banyak harta dan potensi-potensi dalam diri seorang mukmin ke alam mulkiyah, terwujudnya kebun-kebun dan sungai-sungai akan dapat terjadi manakala terwujud kebersyukuran pada setiap hamba Allah. Itu adalah perhiasan duniawi yang baik ( مَّتَاعًا حَسَنًا ) yang disematkan Allah bagi orang yang bersyukur. Sifat perhiasan duniawi demikian adalah baik/hasan, tidak menjadikan seseorang lalai dari berdzikir kepada Allah. Banyak harta benda duniawi yang menjadikan seseorang lalai dari berdzikir kepada Allah karena kesibukan mencari harta benda duniawi maka harta benda demikian tidak bersifat hasan. Perhiasan yang bersifat hasan justru akan mendukung mereka untuk dapat berdzikir kepada Allah dengan sebaik-baiknya, tidak sulit mencari dan tidak sulit menggunakan pada tempatnya, baik harta benda itu sedikit ataupun banyak. Terbentuknya komunitas yang bersyukur akan mendukung terbentuknya perhiasan-perhiasan dunia dari setiap orang dalam komunitas, dan sebaliknya komunitas yang kufur nikmat Allah akan mempersulit terwujudnya perhiasan-perhiasan dunia yang baik.

Ada fadhilah Allah yang akan diberikan setelah perhiasan dunia tersebut apabila seseeorang tetap memohon ampunan dan bertaubat. Apabila seseorang tidak lagi memohon ampunan dan melangkah kembali kepada Allah setelah penyematan perhiasan-perhiasan bagi dirinya, maka ia akan mengarah pada keadaan yang menakutkan. Ada suatu adzab yang mungkin akan menimpa seseorang manakala ia menyimpang atau berbalik langkah dari memohon ampun dan taubat kepada Allah. Setiap orang harus tetap berhati-hati dalam setiap langkah kehidupannya dengan selalu berharap ampunan dan rahmat Allah. Sikap hati-hati demikian harus tertanam di dalam kalbu, tidak hanya pikiran.

Merasa diri telah menjadi orang suci akan memutuskan langkah seseorang dari memohon ampunan Allah. Sifat ini kadangkala dimulai dengan penekanan martabat diri kepada umatnya lebih dari semestinya, baik dengan perhiasan-perhiasan dunia yang disematkan Allah ataupun dengan fadhilah-fadhilah yang diberikan, kemudian diikuti sikap berkuasa pada suatu urusan atas umatnya tanpa melihat hakikat yang terjadi. Mereka tidak lagi mengikuti kebenaran. Bukan tidak mungkin orang-orang demikian kemudian melakukan pembangkangan terhadap washilahnya, menentang arahan dalam melaksanakan amanah Allah tanpa alasan yang benar. Suatu bentuk adzab akan tiba bagi dirinya manakala ia tidak kembali memohon ampunan kepada Allah.

Menyimpang dari jalan taubat kepada Allah terjadi manakala langkah seseorang tidak lagi mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk kembali kepada Allah. Mungkin ia menempuh jalannya sendiri untuk kembali kepada Allah. Langkah taubat Rasulullah SAW adalah mi’raj melalui bayt yang memperoleh ijin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Setiap orang yang memperoleh fadhilah Allah hendaknya berusaha mendzikirkan dan meninggikan asma Allah, dan hal itu dapat dilakukan dengan membentuk bayt sesuai dengan millah nabi Ibrahim a.s. Bayt tersebut berupa tatanan sosial yang paling dekat yaitu rumah tangga dirinya. Manakala langkah seseorang menyimpang dari tujuan mendzikirkan dan meninggikan asma Allah, atau membentuk bayt yang menyimpang dari tuntunan Allah, mungkin saja suatu adzab ditetapkan baginya yang akan diturunkan pada hari yang besar.

Keselamatan seseorang dalam hal ini akan tergantung pada keteguhan memohon ampunan dan ketaatan mengikuti langkah Rasulullah SAW dalam bertaubat. Bila seseorang mengandalkan perhiasan kehidupan yang disematkan Allah atau mengandalkan fadhilah Allah maka ia akan mudah tersesat. Perhiasan yang disematkan dan fadhilah dari Allah seringkali menjadikan seseorang silau dalam memandang tujuan yang hakiki, menyangka bahwa perhiasan dan fadhilah itu merupakan tujuan yang harus dicapai. Sebenarnya tidaklah demikian. Seseorang yang tidak disemati perhiasan dunia dan tidak mencapai fadhilah dari Allah tetapi tetap memohon ampunan dan tetap pada jalan taubat yang benar lebih baik daripada orang yang memperoleh perhiasan dunia dan fadhilah tetapi berbalik dari memohon ampun dan bertaubat. Sekalipun ia mungkin baru memperoleh sedikit tetapi ia tetap selamat daripada yang memperoleh banyak tetapi berbalik. Yang paling baik keadaannya adalah orang yang tetap memohon ampunan dan bertaubat setelah memperoleh perhiasan dunia dan fadhillah dari Allah.

Senin, 27 Mei 2024

Timbangan Hakikat di Hadapan Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Akhlak al-karimah pada diri Rasulullah SAW adalah Alquran. Beliau SAW merupakan makhluk yang terbentuk akhlaknya serupa dengan seluruh tuntunan Allah dalam kitabullah Alquran, mengetahui dengan akhlak diri beliau timbangan seluruh perkara di alam semesta sesuai dengan tuntunan kitabullah Alquran. Setiap kejadian dapat beliau ketahui timbangan kebenarannya secara tepat sesuai tuntunan firman Allah karena akhlak al-karimah yang terbentuk dalam diri beliau SAW mencapai derajat sempurna.

Orang-orang yang berkeinginan untuk mengikuti langkah beliau SAW hendaknya membentuk akhlak mengikuti akhlak Rasulullah SAW, maka ia akan mengetahui kandungan kebenaran yang disebut di dalam kitabullah Alquran dan terpancar pada kauniyah dirinya. Akhlak qur’ani, ayat kitabullah Alquran dan ayat kauniyah merupakan satu kesatuan ayat Allah yang menjelaskan di dalam orang-orang yang diberi ilmu. Ilmu yang diterima oleh seorang hamba dalam bentuk demikian merupakan pengetahuan kebenaran (ilmu hakikat/al-haq) yang diperoleh karena akhlak al-karimah, turunan dari ilmu Rasulullah SAW yang diperoleh karena akhlak al-karimah yang sempurna.

Pengetahuan hakikat (al-haq) demikian itulah yang kelak akan menjadi bobot timbangan setiap hamba di hadapan Allah. Suatu amal akan menjadi berat timbangannya bila disertai pengetahuan hakikat (al-haqq) yang banyak, dan menjadi ringan timbangannya bila tidak disertai dengan pengetahuan hakikat. Amal kebaikan sebesar gunung yang dilakukan oleh orang yang musyrik dalam melakukan amalnya tidak akan mendatangkan bobot sedikitpun, sebaliknya suatu amal yang tampak ringan di mata manusia bisa menjadi amal yang sangat berat bobot timbangannya karena pengetahuan tentang hakikat yang besar. Berat ringannya timbangan seorang hamba tergantung pada pengetahuannya terhadap kebenaran, tidak dapat dinilai dari besar kecil amalnya.

﴾۸﴿وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (al-haq), maka barangsiapa berat timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Al-A’raaf : 8)

Bobot kebenaran yang dilakukan oleh setiap orang dan suatu kaum akan dikisahkan kembali kelak ketika manusia telah berada di hadapan Allah. Bagi sebagian orang atau kaum yang dzalim dalam tingkatan tertentu, suatu bobot kebenaran yang mereka ingkari dapat mereka lihat manakala mereka tertimpa oleh adzab Allah karena kedzaliman mereka. Orang yang lebih ringan kedzalimannya akan melihat kesalahan mereka lebih awal dalam mengingkari kebenaran sehingga adzab yang menimpa menjadi ringan atau adzab terhindar dari mereka, dan orang yang lebih bodoh akan tetap bertahan pada kedzaliman mereka hingga masa yang lebih lama, bahkan mungkin hingga ketika kebenaran yang sampai kepada mereka dikisahkan di hadapan Allah.

Hakikat Sebagai Kebenaran dari Sisi Allah

Haqiqat itu adalah kebenaran yang diturunkan Allah kepada manusia. Alquran adalah kebenaran mutlak yang tidak ada kesalahan di dalamnya, dan Rasulullah SAW merupakan insan yang mewujudkan kebenaran hingga alam dunia tanpa kesalahan. Orang-orang yang mengikuti tuntunan Alquran dan langkah beliau SAW akan memperoleh bagian dari hakikat yang menjadi bobot bagi timbangan kebenaran di hadapan Allah kelak. Banyak kebenaran yang diturunkan kepada makhluk lain sebagai turunan dari kebenaran Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, akan tetapi tidak semua yang ada pada makhluk lain tersebut merupakan kebenaran. Umat manusia dapat mengambil pengajaran kebenaran dari orang-orang lainnya selama selaras dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

﴾۳﴿اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti wali-wali selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya) (QS Al-A’raaf : 3)

Allah memerintahkan orang beriman untuk mengikuti apa yang diturunkan Allah kepada mereka, dan melarang orang beriman untuk mengikuti wali-wali selain Allah. Perintah itu juga berlaku di alam dunia di mana kebenaran dan kebathilan bercampur-campur, bahkan di mana kitab suci pun kemudian diberi campuran oleh makhluk-makhluk yang durhaka dan tidak bertakwa. Perintah demikian akan menjadikan orang memperoleh pelajaran, akan tetapi hanya sedikit orang yang memperoleh pelajaran. Orang yang memperoleh pelajaran adalah orang-orang yang dapat memahami kebenaran yang diturunkan Allah di antara kebenaran dan kebathilan yang bercampur-campur di alam dunia. Maha Suci Allah telah menurunkan kitabullah Alquran dan mengutus Rasulullah SAW sebagai pemberi penjelasan terhadap kitabullah Alquran, yang tidak ada kesalahan atau campuran kesalahan sedikitpun di dalamnya, maka manusia memperoleh landasan untuk menilai kebenaran segala hal yang diturunkan Allah.

Larangan mengikuti wali selain Allah adalah menjadikan suatu makhluk sebagai wali secara keliru tanpa mempunyai landasan kebenaran dari Allah. Larangan itu tidak melarang manusia untuk mengambil wali yang benar. Menjadikan Rasulullah SAW sebagai wali tidak membuat seseorang tergolong orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali. Demikian pula menjadikan para wali Allah dan orang-orang beriman sebagai wali tidak menjadikan seseorang termasuk golongan yang mengikuti wali selain Allah, selama kewalian itu dilakukan dalam landasan kebenaran yang jelas dari Allah. Bahkan seseorang tidak bisa menjadikan Allah sebagai wali tanpa menjadikan Rasulullah SAW sebagai wali. Seseorang tergolong orang kafir manakala mendustakan Rasulullah SAW. Demikian pula dalam beberapa kasus pendustaan terhadap kebenaran yang disampaikan oleh manusia termasuk dalam sikap kafir. Setiap orang harus mempunyai landasan yang tepat dalam mengambil kewalian.

Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah landasan yang benar terhadap kewalian seseorang kepada Allah. Manakala mengambil kewalian dari selain keduanya, hendaknya setiap orang memperhatikan kesesuaian kewaliannya dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. bahkan ketika mengikuti kewalian terhadap wali Allah, setiap orang memperhatikan kewaliannya berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seorang wali Allah akan berada pada kewalian Allah ketika mengajarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka pengikutnya harus memperhatikan pengajaran itu. Mungkin suatu saat seorang wali Allah mengajarkan suatu kebenaran tanpa mengkaitkan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah secara langsung, maka hendaknya para murid mencari landasannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara mandiri.

Kewalian yang utama dari seorang wali Allah adalah pengajarannya terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan pada dasarnya mereka tidak ingin dilihat kewaliannya pada masalah selain itu. Wali Allah benar-benar hanya akan berusaha menunjukkan manusia kepada hakikat yang ada, baik ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun ayat yang terhampar di alam kauniyah mereka. Kadangkala manusia terlalu takjub dengan karunia yang diturunkan kepada wali Allah sedangkan sang wali tidak ingin menunjukkan karunia itu karena bisa menjadikan manusia mengambil kewalian kepada selain Allah. Orang yang suka memperlihatkan karunia Allah kepada manusia akan cenderung mudah tergelincir. Wali Allah hanya akan menunjukkan keajaiban kepada manusia yang lemah akalnya, dan ia harus berjuang keras ketika itu dengan melawan syaitan yang sangat kuat karena syaitan merupakan pemuja keajaiban Allah.

Ketika manusia memandang makhluk sebagai wali tanpa suatu landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka mereka mengambil wali selain Allah. Kewalian seseorang terhadap wali Allah hanya berada pada wilayah pengetahuan orang itu terhadap urusan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kewalian yang lebih dari itu hanya merupakan kewalian semu tanpa landasan, bukan kewalian yang sebenarnya. Sebagian kewalian semu merupakan kewalian kepada selain Allah. Bila kewalian seseorang terhadap wali Allah masih berada pada wilayah abu-abu, ia harus berusaha memperjelas dengan berusaha memahami pengajaran walinya berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila tidak, ia akan terjatuh mengambil kewalian kepada selain Allah atau justru menjadikan wali mereka sebagai tuhan selain Allah.

Manakala manusia menganggap segala sesuatu yang muncul dari seseorang tertentu sebagai perwujudan suatu kebenaran tanpa (atau tanpa merasa perlu) mengetahui landasan hakikat itu dari tuntunan kitabullah, mereka telah mengambil orang tersebut sebagai wali selain Allah. Hal demikian tidak dibolehkan bagi umat islam. Sikap demikian tidak jarang (biasanya) diikuti dengan sikap tidak mengenal (atau tidak mau mendengar) pembacaan yang benar atas hakikat sesuatu yang terjadi di alam kauniyah di sekitar mereka, menyingkirkan akal mereka untuk memahami kehendak Allah. Karena sikap demikian maka mereka kehilangan bagian dari akal-akal yang seharusnya diperoleh. Bila sikap demikian dilakukan hingga menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah karena mengikuti wali mereka, maka mereka telah menjadikan wali mereka sebagai tuhan selain Allah.

Suatu pemahaman hakikat akan diperoleh manakala seseorang mempunyai pengetahuan terhadap ayat Allah yang terhampar pada kauniyah mereka sesuai dengan ayat Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka akan memuji Allah karena hakikat yang tersingkap, dan bersujud kepada Allah untuk mengikuti kehendak Allah yang tersingkap kepada mereka melalui ayat Allah. Kadangkala orang menghadirkan ayat Allah tetapi tidak mengandung hakikat di dalamnya atau justru hanya sebagai alat untuk memanipulasi manusia sehingga manusia yang mendengar tidak bertasbih dan bersujud dan justru melampiaskan hawa nafsu saja. Kadangkala manusia yang diseru tidak memahami hakikat yang disampaikan orang lain sehingga mereka tidak bertasbih dan bersujud terhadap ayat Allah. Suatu hakikat akan terbuka hingga seseorang memahami makna ayat Allah bagi nafs mereka.

Contoh Kasus

Suatu hakikat akan membuat seseorang mengetahui akar masalah dari suatu fenomena yang terjadi pada kauniyah mereka, dan mengetahui jalan keluar paling baik berdasar petunjuk Allah. Setiap orang mungkin memahami suatu hakikat dalam bentuk yang berbeda-beda akan tetapi seluruhnya terhubung pada kehendak Allah Yang Maha Esa. Seorang hamba mungkin memahami suatu hakikat dalam ayat tertentu, dan hamba yang lain memahami suatu hakikat dari ayat yang lain. Atau boleh jadi beberapa orang memahami suatu hakikat berdasarkan ayat kitabullah yang sama tetapi pemahaman keduanya berbeda dan saling melengkapi.

Suatu hakikat tidak hanya berupa sesuatu yang bersifat ruhani. Sangat banyak hakikat yang merupakan penjelasan operasional di tingkat jasmaniah duniawi, dan lingkup hakikat itu mencakup hal yang komprehensif yang tidak dapat dilihat dengan logika biasa manusia. Sekalipun bersifat operasional duniawi, suatu hakikat akan menjadikan orang memahami hingga tingkat ruhani. Berikut ini contoh ayat yang terkait operasional di tingkat duniawi :

﴾۲۰۱﴿وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan atas kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi syaitan-syaitan lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan (mengajarkan) apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka (syaitan) mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (syaitan) tidak memberi mudharat dengan kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka (manusia) mempelajari sesuatu yang mendatangkan mudharat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang membeli ilmu itu, tiadalah baginya akhlak demikian di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan ilmu itu, kalau mereka mengetahui. (QS Al-Baqarah : 102)

Ayat di atas merupakan penjelasan atas kauniyah yang dapat dilihat pada jaman sekarang terkait dengan bangsa Israel yang mengikuti bacaan syaitan tentang suatu kerajaan yang harus mereka bentuk. Dewasa ini terlihat dengan jelas bahwa bangsa Israel bertindak mengikuti petunjuk syaitan menghancurkan umat manusia untuk kerajaan yang akan mereka bentuk. Sepak terjang bangsa Israel itu sebenarnya terkait dengan gerakan-gerakan lain yang bersifat syaitaniah yang terjadi di dunia.

Sihir, ilmu Harut dan Marut dan rusaknya pernikahan merupakan sebagian kunci gerakan syaitan bersama bangsa Israel membentuk negara Babilon yang dirumuskan oleh syaitan. Allah telah menunjukkan kepada umat islam kunci-kunci gerakan syaitan bersama bangsa Israel terhadap umat manusia, maka seharusnya umat islam melakukan langkah-langkah sesuai yang difirmankan Allah. Kunci-kunci itu menunjukkan daya dan upaya syaitan merusak umat manusia dari inti manusia hingga tingkatan persepsi-persepsi duniawi, dari perusakan nafs wahidah sebagai inti, pembentukan akhlak mulia semu hingga tipuan terhadap persepsi manusia. Upaya syaitan beserta pengikutnya demikian harus diimbangi insan dengan upaya pembinaan manusia secara fundamental, berupa pembinaan nafs wahidah hingga akal yang mampu mempersepsi fenomena kauniyah selaras hakikatnya secara tepat.

Orang yang memperhatikan petunjuk Allah tersebut dan memahami hakikatnya akan memperoleh pengetahuan hakikat yang sangat banyak dan akan menjadi insan yang berakal kuat. Mereka akan memberi manfaat yang sangat besar bagi umat manusia. Akan tetapi bagi orang kebanyakan, mereka bisa saja tampak bagaikan orang-orang yang keblinger berpikir tidak semestinya, karena manusia kebanyakan tidak mengetahui hubungan amalnya dengan masalah yang terjadi. Berurusan dengan sihir dan ilmu Harut Marut akan membuat seseorang tampak bagaikan orang yang tidak mempunyai pikiran dan mengada-ada. Tidak terbatas demikian, manakala orang yang mengenal hakikat berusaha menegakkan sendi-sendi rumah tangga sebagai sendi bangsa, bisa saja rumah tangganya sendiri dibuat buntung oleh syaitan dan ia kehilangan hak di masyarakat untuk membina rumah tangga yang baik sesuai petunjuk Allah. Maka ia harus berusaha bagi bangsanya dari keadaan minus. Hal-hal demikian bisa menjadi gambaran warna kehidupan dan tantangan orang yang ingin berjuang untuk merealisasikan wujud dari hakikat yang dikenalnya.

Seluruh perbuatan yang membantu atau melancarkan upaya mendirikan negara kufur itu termasuk membantu syaitan, baik sengaja ataupun karena terjebak tipuan syaitan. Ekstrimnya, bukan tidak mungkin seseorang membantu syaitan berdasarkan sesuatu yang dianggap sebagai petunjuk, sedangkan petunjuk itu sangat merusak kehidupan umat manusia. Untuk mengurangi kasus demikian, setiap orang harus berkeinginan untuk mengenal Allah Ar-Rahman Ar-rahim dalam kehidupannya. Turunan pertama dari Ar-Rahman di alam semesta ini adalah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Petunjuk dan amal shalih yang harus diwujudkan seseorang hendaknya merupakan realisasi turunan dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap petunjuk yang diterima seseorang hendaknya ditimbang kesesuaiannya dengan tuntunan kitabullah Alquran. Bila suatu petunjuk diyakini kebenarannya tanpa timbangan kebenaran, petunjuk itu bisa saja bersifat merusak dengan kerusakan yang sangat besar. Orang-orang yang berusaha berdasar pengenalan suatu hakikat dari ayat Allah tidak boleh disingkirkan dengan petunjuk tanpa menimbangnya dengan hakikat yang menyertai petunjuk itu.

Hakikat merupakan bobot yang menentukan nilai manusia di hadapan Allah, bersifat mutlak sampai ke hadapan Allah karena terhubung langsung dengan firman Allah. Sebenarnya bobot manfaat amal bagi umat manusia dan alam semesta juga ditentukan oleh hakikat, akan tetapi manfaat itu bisa tereliminir oleh sikap manusia terhadap hakikat itu. Suatu petunjuk tidak bersifat mutlak di hadapan Allah, karena suatu petunjuk bisa bernilai salah, temporer, atau benar, berbeda dengan hakikat yang terhubung langsung dengan firman Allah. Alih-alih menjadi bobot di hadapan Allah, bisa saja suatu petunjuk kepada seseorang justru akan menjadi beban yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Orang yang memperoleh pengetahuan tentang suatu hakikat akan meyakini bahwa Allah telah menjelaskan alhaqq. Orang yang menerima petunjuk hendaknya memanfaatkan petunjuk itu untuk memperoleh pengetahuan hakikat, tidak disalahgunakan untuk yang lain, karena bobot manusia di hadapan Allah adalah hakikat yang diketahuinya. Atau bentuk lainnya, suatu petunjuk hendaknya muncul di atas suatu pemahaman terhadap hakikat.

Kamis, 23 Mei 2024

Musyawarah Menuju Al-Jamaah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Orang-orang yang mengikuti langkah beliau SAW kembali kepada Allah kelak akan mengetahui bahwa beliau SAW berkedudukan di sisi Allah sebagai pemimpin semesta alam dalam beribadah kepada Allah. Sangat banyak makhluk berakal akan diberi kemampuan hadir di hadapan Allah dalam barisan-barisan yang ditentukan, dan pemimpin seluruh makhluk dalam barisan itu adalah Rasulullah SAW. Mereka adalah makhluk-makhluk yang akan memperoleh kenikmatan perhiasan di sisi Allah.

Di antara orang-orang yang akan hadir di hadirat Allah demikian adalah orang-orang yang bermusyawarah, yaitu musyawarah dalam kategori khusus. Penciptaan semesta raya pada dasarnya dilakukan untuk suatu amr dari Allah bagi setiap makhluk. Segala sesuatu yang terwujud di alam semesta ini hanya hadir bersama dengan suatu amr yang seharusnya dipahami oleh makhluk sebagai sarana ibadah kepada Allah, dan setiap makhluk hendaknya memahami suatu amr tertentu yang diperuntukkan bagi dirinya. Seluruh amr penciptaan semesta raya itu diberikan kepada makhluk melalui Rasulullah SAW. Orang yang memperoleh urusan diri melalui Rasulullah SAW demikian termasuk dalam kelompok bermusyawarah.

﴾۸۳﴿وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
Dan (bagi) orang-orang yang menjawab seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka dimusyawarahkan antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (QS As-Syuura : 38)

Syura (شُورَىٰ) bermakna mencari nasihat, yaitu berusaha mengetahui cara pandang orang lain atau komunitas terhadap suatu masalah untuk menjadi pemikiran bersama dalam masalah itu. Seseorang yang bermusyawarah dengan sahabatnya berarti ia menyampaikan suatu masalah dan ingin mengetahui cara pandang sahabatnya terhadap masalah yang dibicarakannya, dan mengambil manfaatnya untuk digunakan dalam cara pandang mereka bersama. Nabi Muhammad SAW melakukan syura agar setiap pihak mempunyai pemahaman yang sama dalam suatu masalah dan melakukan sesuai dengan keadaan bersama. Umat Rasulullah SAW melakukan syura untuk lebih mengisi cara pandang masing-masing terhadap suatu masalah agar lebih sempurna pemahamannya, dan dapat bekerja sama dalam pikiran bersama masyarakat.

Musyawarah dalam ayat di atas adalah musyawarah dalam urusan yang diperoleh manusia melalui nabi Muhammad SAW. Ini adalah musyawarah dalam derajat yang paling utama, dan hendaknya setiap bentuk musyawarah mengarah pada musyawarah dalam bentuk khusus demikian. Dengan musyawarah demikian, pembicaraan di antara masyarakat berupa amr Allah yang harus mereka kerjakan, maka masyarakat akan menjadi cerdas dalam mensikapi setiap masalah. Hal ini membutuhkan keberadaan orang-orang yang memperoleh amr mereka melalui Rasulullah SAW. Manakala tidak ada orang demikian, mengarahkan pembicaraan untuk mengikuti kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW merupakan usaha yang baik untuk mengarahkan musyawarah. Bila tidak demikian, pembicaraan di antara masyarakat hanya akan berupa perdebatan dan pertikaian yang membosankan layaknya debat kusir, dan masyarakat akan menjadi terbelakang akalnya.

Orang yang memperoleh amr Allah melalui Rasulullah SAW hendaknya mengarahkan musyawarah untuk membangun cara berpikir masyarakat mengikuti amr Rasulullah SAW. Manakala tidak dilakukan, umat akan membicarakan hal-hal yang terjadi secara liar tanpa arah yang jelas. Tidak jarang umat membicarakan hal-hal yang tidak berguna dan justru mengabaikan apa-apa yang penting untuk diperhatikan. Pembicaraan tanpa arah akan membangkitkan suatu kaum yang bodoh, satu orang menularkan kegemarannya kepada orang lain hingga masyarakat menjadi bodoh berdebat satu dengan yang lain tanpa mendatangkan kebaikan kepada umatnya. Umat hendaknya memperhatikan amr yang disampaikan oleh ulil amr dengan berdasarkan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Amr bagi dirinya akan ditemukan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan mendengarkan apa yang disampaikan ulil amr. Mungkin amr dirinya tidak terhubung secara langsung kepada ulil amr tertentu tersebut, akan tetapi ia bisa mencarinya berdasarkan informasi dari ulil amr tersebut.

Suatu amal yang didasari pengetahuan terhadap hakikat akan mendatangkan manfaat yang banyak. Hakikat tidak hanya berlaku atas orang-orang yang menerimanya saja, akan teapi orang-orang yang mengikuti juga akan memperoleh manfaat yang sangat banyak apabila ia memahami hakikat tersebut. Amal yang dilakukan di atas landasan pemahaman atas suatu hakikat tertentu akan mempunyai bobot yang sangat besar, baik di akhirat kelak ataupun manfaatnya secara duniawi. Manakala suatu ayat kitabullah dibacakan ulil amr, setiap orang hendaknya berusaha memahami tidak hanya berbuat mengikuti tanpa suatu pemahaman. Hakikat yang diperoleh bergantung pada pemahaman terhadap kitabullah, bukan kesertaan terhadap ulil amri tersebut. Bobot hakikat dan manfaat yang ditimbulkan akan bergantung pada pemahamannya, tidak bergantung pada amalnya. Ketika tidak memahami, seseorang tidak akan mendatangkan manfaat yang banyak karena amalnya.

Sangat tidak mudah menemukan amr Allah tanpa mengikuti kitabullah dan ulil amr yang ada di antara mereka. Bila seseorang mengabaikan tuntunan kitabullah yang disampaikan oleh seorang ulil amr, ia akan kehilangan sebagian akal yang seharusnya diperoleh. Kekuatan akal seseorang terhubung secara langsung dengan pemahaman dirinya terhadap kitabullah yang selaras dengan keadaan dirinya. Tidak jarang syaitan menipu manusia untuk mencari amr bagi dirinya dengan menghadirkan urusan lain yang banyak dan bathil tanpa landasan kitabullah sedangkan tuntunan kitabullah yang dibacakan seorang ulil amr diabaikan, maka mereka tidak akan menemukan amr Allah melalui kitabullah Alquran.

Peradaban umat islam akan bangkit apabila umat islam menemukan amr Allah melalui kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Memajukan peradaban umat islam tanpa menemukan amr masing-masing orang melalui kitabullah merupakan hal yang mustahil. Menemukan amr tanpa berpegang pada kitabullah merupakan kesesatan yang lebih jauh. Hal demikian itu telah dicontohkan sejak Adam a.s dan siti Hawa masih berada di surga ketika mendekati pohon khuldi. Syura merupakan salah satu langkah penting yang harus dilakukan di kalangan orang-orang beriman.

Musyawarah Berdasar Rahmat

Rasulullah SAW diperintahkan untuk bermusyawarah kepada umatnya dengan hati yang lunak karena rahmat Allah sekalipun umat beliau SAW melakukan banyak keburukan dan dosa-dosa. Hati yang lunak karena rahmat Allah itu merupakan modal utama dalam melakukan syura. Seandainya tidak karena rahmat Allah, akan sulit bagi seseorang untuk dapat berhati lunak dan hal itu akan menyebabkan manusia dapat menyatu. Seandainya seseorang bersikap keras dan berhati kasar, niscaya manusia akan menjauhkan diri dari orang tersebut. Modal demikian itu harus dimiliki atau dibina pada setiap diri penyeru kepada Allah.

﴾۹۵۱﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali Imran : 159)

Lemah lembut (لين ) bermakna luwes. Keluwesan orang beriman tidak boleh berwujud sikap permisif membolehkan segala hal tanpa mentaati pagar yang ditentukan. Keluwesan dihasilkan oleh keinginan untuk mengajak pada langkah yang terbaik dengan cara yang baik dengan berdasar pengetahuan terhadap kehendak Allah. Hal ini melibatkan perasaan simpati dan keinginan baik pada diri penyeru musyawarah, termasuk ketika harus menghadapi keburukan dan dosa orang lain. Bila seseorang menyimpan keinginan untuk menyerang kekurangan atau dosa pada orang lain (فَظًّا) dan atau tidak mau memahami keadaan dan kekurangan orang lain (غَلِيظَ الْقَلْبِ), maka akan sulit bagi penyeru untuk mengajak orang lain bermusyawarah dalam urusan Allah.

Nilai-nilai intrinsik dalam nafs di atas harus terwujud dalam bentuk dzahir. Hal ini membutuhkan keterampilan. Tidak jarang seseorang mempunyai wujud fisik yang berbeda dengan nilai intrinsik. Seseorang boleh jadi mempunyai nilai intrinsik cukup baik tetapi tidak mempunyai cukup keterampilan untuk mewujudkan di amaliah jasmaninya. Sangat banyak bentuk kombinasi nilai intrinsik dan wujud fisik yang berbeda. Masalah lainnya, kadangkala seseorang yang baik mempunyai beban yang sangat berat hingga jasmaninya mengalami kesulitan untuk mewujudkan amal yang menarik. Mungkin saja seorang nabi menginginkan kebinasaan karena keadaan umatnya. Demikian pula tidak semua orang baik mampu melahirkan kebaikan dalam dirinya secara menarik. Kemampuan seseorang melahirkan kebaikan di amal jasmani dipengaruhi oleh lingkungan. Manakala seseorang mempunyai keluarga dan masyarakat yang baik, ia akan mempunyai keterampilan dan kekuatan yang lebih baik untuk melahirkan kebaikan dalam amal jasmaniah.

Secara khusus, keluarga dalam bentuk pernikahan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi seseorang tidak hanya dalam bentuk kekuatan dan keterampilan jasmaniah tetapi juga kekuatan intrinsik dalam nafs. Rasulullah SAW menyampaikan, tanpa Khadijah r.a sebagai isteri, niscaya beliau SAW tidak menjadi nabi. Pengandaian beliau SAW itu terkait perkembangan kemampuan intrinsik nafs dan perkembangan kemampuan lahiriah beliau SAW dan kelayakan sebagai nabi. Bila tidak bersama Khadijah r.a sebagai isteri, masalah pengetahuan dan kebaikan-kebaikan lain mungkin akan tetap diperoleh beliau SAW, akan tetapi beliau SAW tidak terbentuk sebagai rasulullah. Pernikahan merupakan ladang bagi pertumbuhan pohon diri manusia yang akan menjadikannya tumbuh subur dan berbuah.

Demikian pula umat beliau SAW bila tidak membentuk pernikahan yang baik dengan orang yang tepat, mereka tidak akan terbentuk sebagai manusia dengan kedudukan yang ditentukan Allah sekalipun mungkin bisa mempunyai pengetahuan sesuai kedudukannya. Rasulullah SAW dalam perkara di atas tampak hanya berandai-andai. Sebenarnya beliau SAW tidak berandai-andai tetapi memberikan pengajaran kepada umatnya untuk memperhatikan pernikahan mereka, tidak bermain-main dalam urusan pernikahan. Urusan demikian mempunyai arti sangat penting bagi keumatan. Apabila seseorang mengetahui kedudukan dirinya di hadapan Allah, mengenal rabb-nya, tetapi rusak pernikahannya, ia tidak akan bisa berada pada kedudukan dirinya. Seandainya umatnya memaksakan untuk menjadikannya sebagaimana kedudukan dirinya di hadapan Allah, ia tidak akan mampu melaksanakannya. Umat manusia akan cenderung tidak mengetahui atau tidak mengakui kebenaran ilmunya karena keadaannya. Karena hal itu orang-orang yang baik mungkin saja tidak mampu memberikan kontribusi sebagaimana layaknya bagi umat mereka.

Mengenal rabb pada manusia tidaklah menunjukkan pengenalan kepada Allah secara keseluruhan. Manusia sebenarnya hanya diperkenalkan kepada salah satu asma-Nya saja, tidak mengenal Allah, tetapi kemudian dikatakan telah mengenal Allah. Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Rasululullah SAW dalam wujud tajaliat paling sempurna di alam semesta berupa asma Ar-Rahman yang beristiwa’ di atas ‘arsy. Nabi Ibrahim a.s diperkenalkan kepada asma Ar-Rahim yang berkedudukan sangat tinggi melekat pada ‘arsy, dan kepada khalifatullah Al-Mahdi diperkenalkan asma Malik yang berkedudukan di kursi-Nya. Seluruh manusia yang dikatakan mengenal Allah sebenarnya hanya mengenal Dia pada asma tertentu yang hendak Dia diperkenalkan. Asma Allah yang diperkenalkan kepada umat manusia merupakan nafakh Ar-Rahman yang memperkenalkan amr rububiyah bagi seorang hamba, membacakan bagian kitabullah Alquran sebagai amanat yang harus ditunaikan. Pengenalan diri seseorang terhadap kedudukan dirinya di hadapan Allah harus disertai dengan pengenalan seseorang terhadap asma yang Dia perkenalkan secara khusus kepada dirinya, bukan pengenalan terhadap Allah atau terhadap Ar-Rahman. Mungkin seseorang mengetahui Ar-Rahman Yang Maha Tinggi yang beristiwa’ di atas ‘arsy, tetapi ia sebenarnya tidak memahami. Hanya Rasulullah SAW yang mengenal Ar-Rahman dengan sempurna. Pengenalan seseorang terhadap nafakh Ar-Rahman merupakan bukti pengenalan kedudukan diri dalam al-jamaah sebagai pengikut Rasulullah SAW.

Menyeru Musyawarah

Setelah hati menjadi lunak karena rahmat Allah, hendaknya seseorang memaafkan orang-orang yang diajak untuk bermusyawarah dan memohonkan ampunan bagi mereka, dan kemudian mengajak mereka untuk bermusyawarah tentang suatu urusan. Sifat lunak hati tidak boleh menutup mata seseorang terhadap dosa dan keburukan yang terjadi pada suatu kaum. Keluwesan orang beriman berupa sifat memahami keadaan orang lain dan mengarahkan orang untuk menjadi lebih baik tanpa keinginan menyerang dan menghukum keadaan buruk tersebut. Memaafkan (اعْفُ) menunjuk pada perbuatan memandang orang lain sebagai manusia baru tanpa meyakini tetapnya keburukan dan dosa yang telah dilakukan, tidak mengikuti stigma buruk terhadap orang lain. Memohonkan ampunan (اسْتَغْفِرْ لَهُمْ) menunjuk pada perbuatan berharap agar Allah tidak memberikan hukuman atas dosa yang dilakukan. Dengan kedua amal tersebut, maka hendaknya seseorang kemudian mengajak kepada orang lain bermusyawarah dalam urusan mereka, sesuai dengan keadaan mereka.

Usaha memaafkan dan memintakan ampun bagi orang yang diseru kadangkala tidak mudah. Mungkin saja seorang penyeru menemukan kesalahan dan dosa masyarakatnya sulit untuk diluruskan atau diajak melangkah menuju kebaikan. Para nabi-pun menghadapi hal yang berat untuk memaafkan dan memintakan ampun bagi umatnya. Bila masyarakat masih tetap menyimpang langkahnya, para nabi tidak menutup mata terhadap keburukan yang terjadi. Kemampuan memaafkan dan memintakan ampun oleh seorang penyeru selaras dengan kelapangan dada para penyeru tersebut. Bukan tidak mungkin para penyeru musyawarah itu kemudian menumpahkan rasa kesal dalam diri mereka kepada umatnya manakala menyeru umatnya. Kadangkala keadaan orang yang diseru berada pada batas kemampuan dan kelapangan dada penyeru, dan kemudian mereka justru memilih berada di luar kemampuan penyeru maka mungkin penyeru itu tidak cukup lapang dada dengan pilihan itu. Hal demikian tidak menunjukkan adanya keinginan buruk pada penyeru, tetapi karena keterbatasan dada mereka terhadap masalah yang dihadapi dari umatnya.

Dalam beberapa kasus, Allah membiarkan suatu kaum tidak memperoleh manfaat dari suatu syura amr dari sisi Allah, dan memerintahkan hamba-Nya untuk membiarkan mereka mendengar atau tidak mendengar. Itu gambaran tersirat dari Allah mengenai adanya batas kemampuan untuk menyeru. Batas kemampuan seorang penyeru boleh jadi tidak mencapai keadaan itu. Hal ini tidak menunjukkan larangan untuk menyeru umat memahami amr Allah, tetapi hendaknya penyeru membiarkan suatu kaum untuk mengerjakan amal sesuai dengan keadaan mereka. Suatu kaum dibiarkan demikian karena lebih mengikuti tata tuntunan mereka sendiri daripada mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka mungkin mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah, tetapi tidak mengutamakan dalam langkah nyata. Mereka akan mengalami kesulitan mendengarkan syura suatu amr dari sisi Allah karena keadaan diri mereka sendiri. Apabila mereka menjadikan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai tuntunan utama, maka mereka akan mendengar syura suatu amr dari sisi Allah, tetapi apabila mereka tetap menjadikan tuntunan yang lain sebagai penuntun bagi mereka melebihi tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka mereka tidak mendengar syura suatu amr dari sisi Allah, mengikuti penuntunnya sendiri.

Senin, 20 Mei 2024

Selalu Mengharap Rahmat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Akhlak Rasulullah SAW adalah Alquran. Rasulullah SAW dan Alquran merupakan representasi rahmat Allah yang tertinggi dari sisi Allah bagi seluruh alam. Hanya orang-orang tertentu yang diberi rahmat dalam bentuk keterbukaan pemahaman kitabullah Alquran dan pengenalan dan kesertaan dalam sunnah Rasulullah SAW. Orang-orang demikian berasal dari golongan orang-orang yang diberi nikmat Allah. Sebagian orang-orang yang diberi nikmat Allah kemudian berbalik dan memilih bentuk-bentuk yang lain selain yang ditentukan sebagai rahmat bagi mereka.

﴾۳۸﴿وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَؤُوسًا
Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan memilih yang selainnya; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (QS Al-Isra : 83)

Rahmat yang tertinggi bagi seseorang adalah keterbukaan pemahaman terhadap kitabullah Alquran dan kesertaan dalam sunnah Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Sebagian manusia yang telah memperoleh nikmat Allah tidak meneruskan langkah untuk memperoleh rahmat yang agung demikian, tetapi justru berpaling dan memilih untuk mencari ketetapan yang lain selain rahmat tertinggi dari Allah.

Manusia merupakan bentuk ciptaan Allah yang terbaik, diciptakan dari alam yang paling jauh dari sumber cahaya dan mampu menempuh perjalanan taubat yang sangat panjang menuju sisi Allah, hingga seseorang mampu menempati kedudukan yang paling dekat dengan wajah Allah. Beliau adalah Rasulullah SAW. Orang-orang yang mengikuti langkah beliau SAW akan menemukan kedudukan masing-masing di sisi Allah sebagai pengikut Rasulullah SAW.

Sebagian manusia menempuh langkah mengikuti Rasulullah SAW akan tetapi pada tahap tertentu mereka tidak lagi mengikuti langkah beliau SAW dan kitabullah sebagai penuntun, berpaling mengikuti sesuatu yang lain, maka perbuatan demikian dikatakan sebagai berpaling. Bila seseorang tidak berpaling, mereka akan bersaksi bahwa pemimpin mereka adalah Rasulullah SAW, tidak mencari amal selain yang menjadi bagian dari Rasulullah SAW dengan mengutamakan amal mengikuti yang lain. Bahkan bila seseorang telah mi’raj hingga menempati kursinya di hadapan Allah, ia akan bersaksi bahwa pemimpin dirinya adalah Rasulullah SAW, ia tidak duduk sendirian di hadapan Allah tanpa suatu washilah.

Berpaling dan Berharap yang Lain

Terdapat dua penyebab yang menjadikan seseorang tidak lagi mengharap rahmat Allah setelah memperoleh nikmat-Nya. Ada orang-orang yang berpaling (أَعْرَضَ) dan ada orang yang memilih selain yang ditentukan Allah ( نَأَىٰ بِجَانِبِهِ). Orang-orang yang berpaling menunjukkan kepada orang-orang yang tidak lagi menghadapkan wajah kepada Allah dengan arah yang benar. Sedangkan orang-orang yang memilih selain yang ditentukan Allah menunjuk kepada orang-orang yang memandang bahwa ada hal-hal lain yang lebih baik selain apa-apa yang ditentukan Allah bagi dirinya.

Dalam kehidupan dunia, seseorang belum menempati kursi dirinya di hadapan Allah. Bentuk persaksian itu hendaknya diwujudkan melalui bentuk-bentuk duniawi dirinya. Alquran dan sunnah merupakan bentuk-bentuk duniawi yang dihadirkan Allah bagi setiap pengikut Rasulullah SAW, maka persaksian itu hendaknya terwujud dalam bentuk berusaha mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang mengikuti selain tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan meninggalkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka ia telah berpaling. Orang yang berpaling adalah orang yang telah menemukan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetapi bersikap lebih memilih mengikuti tuntunan yang lain.

Berpalingnya seseorang dapat terjadi hingga pada orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Ada bentuk-bentuk karunia yang diperoleh oleh orang yang memperoleh nikmat Allah yang menjadikan diri mereka berbeda dengan orang-orang umumnya. Mungkin mereka tidak menampakkan, tetapi mereka mengetahui bahwa diri mereka berbeda karena ada beberapa karunia yang diberikan Allah. Sebenarnya, karunia demikian itupun merupakan ujian apakah mereka akan tetap mengikuti langkah Rasulullah SAW atau mereka akan mengikuti karunia yang diberikan kepada mereka. Bila seseorang memilih lebih mengikuti karunia itu, ia bisa berpaling. Mungkin ia menyangka karunia itu sepenuhnya kebenaran hingga suatu saat manakala Allah berkenan, ia akan menyadari langkahnya telah menyimpang dari Alquran dan langkah Rasulullah SAW. Bila tidak menyadari, ia akan terus melangkah hingga celaka. Karunia yang diberikan itu hendaknya digunakan untuk memahami tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bukan dijadikan tempat berpaling.

Sebagian lainnya, orang berpaling dari rahmat Allah dengan memilih ketentuan selain yang dikehendaki Allah bagi dirinya ( نَأَىٰ بِجَانِبِهِ), yaitu orang-orang yang mengetahui apa yang dikehendaki Allah bagi dirinya kemudian memilih sesuatu yang diinginkannya sendiri. Gambaran hal ini seperti masalah memilih jodoh setelah memperoleh petunjuknya. Manusia pada dasarnya diciptakan dari suatu nafs wahidah tertentu, dan dari nafs wahidah tertentu itu dijadikan nafs-nafs yang berpasangan. Dari nafs-nafs itu kemudian diciptakan jasmani yang merupakan manifestasi masing-masing manusia di dunia. Manusia harus bertaubat kepada Allah dari alam jasmaniah hingga kembali kepada Allah bersama dengan nafs dirinya. Nafs diri masing-masing adalah jalan kembali setiap manusia kepada Allah, atau dengan kata lain setiap manusia harus kembali kepada Allah melalui jalan pengenalan terhadap nafs dirinya. Orang yang mengenal nafs-nya merupakan orang yang mengenal rabb-nya.

Dalam jalan taubat itu orang-orang beriman memperoleh petunjuk jodoh. Petunjuk jodoh ini merupakan bentuk turunan pertama dari petunjuk untuk mengenal nafs wahidah, petunjuk turunan yang paling dekat dengan nafs wahidah. Bentuk-bentuk petunjuk lain merupakan turunan yang lebih jauh dari nafs wahidah. Bahkan jasmani masing-masing manusia merupakan wujud yang terbentuk setelah keberpasangan nafs terjadi, maka kedudukan jasmani masing-masing merupakan bentuk turunan yang lebih jauh daripada keberpasangan nafsnya. Mengenal nafs wahidah lebih mudah dilakukan melalui keberpasangan nafs daripada berusaha mengenali diri melalui jasmaniah dirinya. Dengan realitas demikian, memilih jodoh lain setelah memperoleh petunjuknya bisa menjadi contoh utama tindakan berpaling dari rahmat Allah dengan memilih ketentuan selain yang dikehendaki Allah bagi dirinya ( نَأَىٰ بِجَانِبِهِ).

Hal ini tidak membatasi kebolehan pernikahan yang dilakukan dengan berdasarkan rasa suka atau dijodohkan selama tidak mengingkari petunjuk. Seandainya seseorang dinikahkan dengan seorang fir’aun, ia tidaklah dikatakan berpaling dari rahmat Allah. Ketentuan ini berlaku atas diri yang menerima petunjuk, tidak berlaku untuk memaksa orang lain mengikuti petunjuknya tersebut. Bukan tidak mungkin petunjuk pada seseorang bukan merupakan petunjuk yang benar, terutama manakala suatu petunjuk disertai dengan hawa nafsu dan keinginan syahwatiah. Suatu petunjuk yang benar akan mengarahkan langkah seseorang menuju Allah, sedangkan petunjuk yang keliru akan menyimpangkan langkahnya, karenanya perlu diperhatikan dengan seksama kebenaran dari petunjuk yang diterima.

Seseorang yang memperoleh petunjuk yang benar hendaknya tidak menghindari petunjuknya untuk memilih yang lain dengan jalan apapun. Kadang seseorang membuat langkah tersamar untuk memperoleh keinginannya dan menghindar dari pilihan Allah. Misalnya mungkin seseorang menggunakan orang lain untuk menyebabkan dirinya terpisah dari jodoh petunjuknya. Hal itu termasuk perbuatan memilih selain yang dikehendaki Allah. Meminta orang lain untuk mencegah terjadinya perjodohan setelah memperoleh petunjuk, meminta orang lain memberi baginya jodoh lain, hingga sekadar tidak memberitahukan petunjuknya kepada walinya agar bisa memperoleh jodoh yang lain, hal itu termasuk contoh memilih selain yang dikehendaki Allah. Melibatkan orang lain untuk urusan demikian akan menambah masalah, bisa menularkan dosa kepada orang lain tanpa mengurangi dosa dirinya sendiri, dan akan mempersulit langkah manakala memperoleh masalah. Allah menetapkan suatu masalah tertentu yang akan menghadang orang yang memilih demikian.

Setiap orang harus berusaha menjauhkan diri dari sikap mengambang, harus berusaha untuk bersikap jelas memilih apa yang dikehendaki Allah dan menjelaskan sikap itu bila dibutuhkan. Kadangkala seseorang membutuhkan waktu untuk memahami pilihan Allah, maka hendaknya ia menghindari kecenderungan menolak petunjuk itu ketika berusaha memahaminya. Dalam proses demikian, tidak jarang seseorang mengalami keadaan rumit ketika ingin mengikuti petunjuk Allah hingga kemudian memunculkan kesimpulan yang salah menghindari petunjuk Allah dan menganggap tindakan menghindar itu tepat. Manakala suatu informasi yang jelas datang, hendaknya seseorang mempertimbangkan kembali bahwa tindakan itu salah. Bila kecenderungan menghindari tetap ada atau diikuti, seringkali keadaan akan menjadi bertambah rumit untuk kembali kepada petunjuk Allah.

Memilih selain pilihan Allah tidak hanya terkait jodoh. Sebenarnya Allah selalu mempunyai kehendak terhadap setiap manusia dalam setiap momen kehidupan mereka. Hanya saja kehidupan bumi merupakan bentuk kehidupan yang paling temaram, maka mungkin saja manusia tidak mengerti pilihan Allah bagi masing-masing. Pengetahuan terhadap kehendak Allah harus dibangun di atas keinginan bertauhid membina diri sesuai dengan kehendak Allah.

Bila Allah berkenan, orang-orang yang berpaling dan menginginkan hal selain yang dikehendaki Allah akan tertimpa suatu masalah agar mereka kembali kepada Allah melalui jalan yang benar. Masalah yang buruk itu sesuatu yang ditetapkan bagi mereka karena pilihan mereka, baik ditemui kelak di akhirat ataupun ketika hidup di dunia. Mereka akan mengalami kesulitan karena pilihan mereka sendiri. Manakala jalan kembali masih terbuka, hendaknya mereka kembali ke jalan Allah untuk menemukan jalan yang dimudahkan. Bila nikmat Allah itu telah hilang, ia harus mencari pencapaian terbaik yang dapat dilakukan. Bila tidak memperhatikan masalah itu, masalah yang akan terjadi atas mereka karena mengabaikan nikmat Allah akan sangat besar hingga mereka akan berputus asa. Perjalanan yang akan ditempuh selanjutnya akan semakin sulit.

Lebih Mengikuti Petunjuk

Ketika manusia memperoleh karunia nikmat Allah, terdapat tiga jenis manusa yang mungkin terwujud dari mereka. Ada orang-orang yang tetap berharap rahmat Allah yang diturunkan melalui Rasulullah SAW dan kitabullah Alquran, sebagian orang berpaling dengan mengikuti tuntunan yang lain mengesampingkan rahmat Allah yang dapat diperoleh melalui kitabullah dan sunnahh Rasulullah SAW, dan sebagian lain menginginkan sesuatu yang lain selain yang menjadi kehendak Allah atas dirinya.

Sebagai orang yang memperoleh nikmat Allah, mereka akan menjadi orang-orang yang mengetahui amal yang ditentukan bagi mereka. Akan tetapi sebenarnya ada perbedaan bobot amal-amal yang dilakukan ketiga jenis manusia demikian. Setiap orang akan berbuat sesuai dengan keadaan masing-masing.

﴾۴۸﴿قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS Al-Israa’ : 84)

Bagi orang yang tetap benar-benar mengharap rahmat Allah dengan kitabullah Alquran dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, Allah memerintahkan mereka untuk mengatakan tentang amal-amal mereka : " (baiklah), tiap-tiap orang (dari kita silakan) berbuat menurut keadaan masing-masing". Mereka sendiri akan tetap beramal untuk mengharap rahmat Allah yang tertinggi mengikuti Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, dan mempersilakan yang lain untuk beramal sesuai keadaan mereka masing-masing. Orang yang berpaling mengikuti tuntunan yang lain dipersilahkan beramal dengan keadaan mereka, dan orang yang menginginkan selain yang dikehendaki Allah silakan beramal dengan keadaan mereka. Bagi yang tetap berharap rahmat, mereka akan melakukan amal-amal dengan tetap mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak akan mengambil tuntunan yang lain tanpa mencari keterkaitannya dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Allah lebih mengetahui siapa di antara orang-orang itu yang jalannya paling mengikuti petunjuk Allah. Ketiga jenis manusia itu akan mengira diri mereka mengikuti petunjuk. Umat manusia umum mungkin akan sulit melihat perbedaan amal-amal di antara orang-orang yang sama-sama memperoleh nikmat Allah, sedangkan sebenarnya bobot amal mereka berbeda-beda sesuai dengan keadaan masing-masing yang berbeda-beda. Kadangkala umat manusia memandang terbalik dalam menilai bobot amal-amal orang yang memperoleh nikmat Allah. Mungkin muncul pula pertanyaan di antara mereka mengapa satu pihak harus berbeda dengan yang lain atau berselisih jalan sedangkan semuanya memperoleh nikmat Allah. Manusia mungkin akan mengalami kesulitan menilai amal-amal mereka, tetapi Allah lebih mengetahui siapa di antara mereka yang lebih mengikuti petunjuk Allah.

Sebenarnya tidak sulit bagi umat manusia untuk mengetahui pihak yang lebih mengikuti petunjuk Allah, yaitu orang-orang yang tetap mengharapkan rahmat Allah melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kesulitan manusia dalam hal itu adalah mengalahkan waham mereka sendiri. Orang yang berharap rahmat Allah adalah orang yang mencari urusannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mencari dari tuntunan yang lain mengalahkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin saja mereka mencari tuntunan yang lain, tetapi hanya sebagai tambahan yang mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak mungkin bagi mereka meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti tuntunan yang lain. Bila seseorang mendahulukan tuntunan yang lain mengalahkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka bukan orang yang tetap berharap rahmat Allah.

Suatu masalah akan menimpa orang-orang yang tidak lagi mengharapkan rahmat Allah melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Allah pasti akan menimpakan kepada mereka suatu masalah yang akan membuat mereka berputus asa, dan menyadari bahwa jalan terbaik adalah berharap rahmat melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebenarnya ada bagian amr Allah yang telah mereka tinggalkan karena sikap berpaling dan mengharap selain yang menjadi kehendak Allah sehingga memunculkan masalah itu. Amr yang mereka tinggalkan itu tetap akan menjadi tanggung jawab mereka, baik mereka kerjakan atau mereka tinggalkan. Ketika mereka meninggalkan, dampak dari amr yang ditinggalkan itu akan menimpa mereka. Perbuatan itu sebenarnya berdampak pula pada masyarakat, akan tetapi barangkali masyarakat tidak segera menyadari adanya potensi yang hilang atau munculnya potensi bahaya yang mengancam akibta perbuatan itu. Bila bertaubat, orang yang meninggalkan amr itu akan bisa melihat masalah yang mendatangi mereka karena amr yang mereka tinggalkan.

Tidak jarang kedua penyebab itu saling memperkuat satu dengan yang lain. Sikap seseorang berpaling bisa kemudian memperkuat keinginannya terhadap selain yang dikehendaki Allah, dan keinginannya terhadap selain yang dikehendaki Allah kemudian membuatnya berpaling. Atau bisa jadi seseorang yang berkeinginan terhadap selain yang dikehendaki Allah bersinergi dengan orang lain yang berpaling hingga kedua orang tersebut saling menguatkan satu dengan yang lain. Bila demikian, masalah yang akan menimpa akan menjadi besar dan penyesalan akan semakin besar manakala keduanya tidak kembali mengharap rahmat Allah melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Jumat, 17 Mei 2024

Menyeru Pada Kebenaran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Seruan Rasulullah SAW terhadap umatnya utamanya berbentuk seruan ibadah kepada Allah tanpa menyekutukan dengan selain Allah. Bentuk seruan demikian tidak hanya berupa seruan ibadah kepada Allah, tetapi juga seruan untuk membentuk suatu hubungan masyarakat berdasar mawaddah antara satu dengan yang lainnya. Bentuk ibadah kepada Allah harus diwarnai dengan manifestasi asma dan sifat Allah pada orang-orang yang beribadah kepada-Nya, tidak hanya berupa syariat yang ditentukan Allah. Hamba yang membina sifat dirinya sesuai dengan asma dan sifat yang mulia akan merepresentasikan kehambaan yang lebih hakiki. Kadangkala manusia merasa telah menjadi hamba Allah sedangkan ia tidak membina dirinya sebagaimana citra Ar-rahman, maka ia melakukan perbuatan berdasarkan hawa nafsu dan disangka sebagai ibadah kepada Allah.

Seruan para rasul Allah sangatlah mulia. Akan tetapi tidak semua orang dapat menerima seruan para rasul itu. Banyak manusia memperolok-olok seruan tersebut sejak jaman dahulu kala sebelum Rasulullah SAW di utus. Demikian pula orang-orang yang menyeru manusia untuk mengikuti Rasulullah SAW akan diperolok-olok oleh manusia. Mereka hendaknya tetap mengikuti langkah Rasulullah SAW dan tetap menyeru manusia untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW.

﴾۱۴﴿وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِّن قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِؤُونَ
Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu maka tetaplah atas orang-orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu (ketentuan terhadap) apa-apa yang selalu mereka perolok-olokkan. (QS Al-Anbiyaa : 41)

Ayat di atas menyatakan realitas orang-orang yang memperolok-olokkan seruan rasul, penjelasan bagi mukminin untuk disikapi dengan sebaik-baiknya. Barangkali seorang penyeru akan merasa heran mengapa manusia memperolok-olok seruannya. Hal demikian sebenarnya telah berlaku sejak dahulu, tidak hanya terjadi atas dirinya. Bilamana ada suatu saran dan penilaian orang lain terhadap seruannya bahwa seruan itu tidak perlu dilakukan, atau pendapat bila seruan itu baik maka manusia akan mengikuti seruan itu dengan sendirinya tanpa perlu disampai-sampaikan, maka penilaian demikian itu tidak selaras dengan sejarah yang telah terjadi. Sejarah telah membuktikan bahwa kebanyakan manusia cenderung hanya mengikuti pikiran mereka sendiri tidak mengerti langkah mengikuti perintah Allah. Bahkan manakala seorang rasul diutus kepada mereka, banyak orang yang memperolok-olokkan seruan rasul yang diutus Allah tersebut. Hanya sedikit manusia yang benar-benar berusaha mendengarkan perintah Allah dengan benar, termasuk umat manusia jaman sekarang. Bila manusia telah paham terhadap kehendak Allah niscaya umat islam akan pandai. Hendaknya seorang penyeru tetap menyeru orang lain untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW tidak kehilangan semangat untuk menyeru manusia memahami dan mentaati kehendak Allah.

Pernyataan ini hendaknya disikapi secara setimbang. Setiap orang harus mau mendengarkan perkataan orang lain, karena boleh jadi terdapat kebenaran yang muncul dari orang lain, dan boleh jadi ada kekeliruan dalam pemahaman dirinya dalam perintah Allah. Hanya saja hendaknya seorang penyeru tidak lemah hati terhadap olok-olok yang mungkin mereka terima. Suatu kebenaran yang bernilai tinggi tetaplah harus dinilai sebagai hal berharga, baik bagi dirinya dan bagi orang lain. Bila seseorang atau suatu kaum menolak nilai berharga itu, kebenaran itu tidak menjadi sampah. Barangkali ada orang lain yang bisa menghargai dengan selayaknya. Manusia pada dasarnya hanya menyukai apa-apa yang dianggap baik bagi dirinya, sebagaimana kerbau menganggap lumpur layaknya surga. Manusia tidak menyukai berkubang lumpur seperti kerbau karena berbeda keadaannya. Demikian gambaran bahwa pada setiap manusia nilai suatu kebenaran bagi masing-masing berbeda-beda. Sebagian mempunyai nilai bahwa tuntunan kitabullah adalah yang terbaik, tetapi tidak semua paham sikap demikian kecuali hanya lisan saja. Apabila memungkinkan, setiap orang hendaknya diseru untuk semakin dekat kepada seruan Rasulullah SAW. Apabila tidak memungkinkan, cukuplah bagi mereka bahwa seseorang tidak bertanggung jawab atas orang lain, hanya bertanggung jawab sebatas menyeru saja.

Dengan Cara yang Baik

Termasuk dalam tanggung jawab dalam menyeru adalah melakukan seruan dengan sebaik-baiknya. Manakala menyeru, hendaknya seseorang menggunakan pakaian yang sesuai dengan apa yang diserukan. Pakaian-pakaian itu akan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap seruannya untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW. Bentuk pakaian itu terdapat pada beberapa lapis pada dirinya, berupa pakaian ketaqwaan dalam dirinya, pernikahannya, dan pakaian materi duniawi yang tepat yang diperuntukkan bagi dirinya. Tanpa pakaian yang memadai, umat manusia akan sulit untuk memahami seruannya dengan tepat.

Ia harus memperhatikan ketakwaan sebagai pakaian paling intrinsik bagi dirinya. Pahamnya seorang penyeru terhadap kebenaran yang disampaikan tergantung pada ketakwaannya. Bila ia tidak bertakwa, ia tidak akan benar-benar memahami kebenaran yang diserukannya. Sebagian orang mengenal tujuan yang harus dicapai tetapi tidak mengetahui jalan-jalan untuk mewujudkannya. Sebagian orang dapat disimpangkan langkahnya oleh syaitan dan tidak menyadari bahwa langkahnya tidak menuju tujuan yang ditentukan. Banyak contoh lain yang merupakan kekeliruan dalam meangkah. Hal-hal demikian menjadi warna yang tumbuh dalam proses menyeru. Seruan yang benar dan tepat terlahir dari ketakwaan dalam diri seseorang, maka hendaknya ia memperhatikan ketakwaan dirinya.

Pakaian intrinsik berikutnya yang harus diperhatikan seseorang dalam menyeru adalah pernikahannya. Isteri adalah pakaian bagi suaminya, dan sebaliknya suami merupakan pakaian bagi isterinya. Manakala suatu pernikahan berantakan, sebenarnya pakaian mereka juga berantakan, dan hal itu akan mempengaruhi pandangan umat manusia. Pandangan masyarakat terhadap seseorang akan menjadi buruk kepada mereka apabila pakaian berupa pernikahan mereka berantakan. Untuk menjadi seorang penyeru terhadap sunnah Rasulullah SAW, seseorang harus memperhatikan hubungan pernikahan mereka.

Pakaian bentuk luar hendaknya juga diperhatikan sesuai dengan orang-orang yang diseru, karena umat manusia kebanyakan terlebih dahulu memperhatikan pakaian luar. Pakaian berbentuk materi duniawi hendaknya berasal dari harta benda sesuai kehendak Allah yang diperuntukkan bagi dirinya. Ia tidak berlebih dalam mengumpulkan harta duniawi, dan tidak bermalas-malas dalam mengerjakan amal. Berlebihnya pakaian duniawi pada dasarnya akan merusak diri dan merusak pula cara pandang umat terhadap dirinya. Cara pandang masyarakat itu merupakan reaksi terhadap pakaiannya berupa harta benda dan kedudukan seseorang. Sebaliknya pada keadaan tertentu, umat manusia tidak mampu memandang adanya kebenaran yang disampaikan oleh orang-orang yang dianggap lemah di antara mereka. Ketakwaan sebagai pakaian dalam diri penyeru boleh jadi tidak terlihat oleh orang yang diseru karena tertutup oleh pakaian luar yang tidak memadai. Hal sering diikuti dengan sikap masyarakat mengikuti orang-orang yang berpakaian secara palsu.

Ada kalanya seseorang tidak dapat memperoleh pakaian-pakaian yang seharusnya ia kenakan, maka dalam hal demikian ia tidak harus memaksakan diri untuk dapat menyeru orang lain. Syaitan kadangkala memperoleh jalan untuk mencabik pakaian seseorang hingga ia tampak buruk dalam pandangan masyarakat. Misalnya manakala suatu pernikahan terenggut oleh syaitan, ketakwaan suatu nafs yang seharusnya tumbuh dan subur melalui penyatuan nafs wahidah suami dan isteri mungkin akan terganggu, maka pakaian berbentuk ketakwaan nafs akan menjadi kerdil atau mati. Pakaian dalam bentuk hubungan pernikahan itu sendiri juga akan menjadi tercabik-cabik. Tidak jarang hal demikian menyebabkan pakaian berupa materi duniawi bagi pasangan itu juga tidak terkumpul atau menghilang. Syaitan mempunyai pengetahuan tentang jalan-jalan yang dapat merusak pakaian orang-orang yang ingin mengikuti langkah Rasulullah SAW. Dalam kasus demikian, seseorang tidak harus memaksakan diri untuk dapat tampil menarik di masyarakat. Penggunaan ilmu-ilmu yang bathil tidak diijinkan untuk digunakan sekalipun untuk menyeru manusia ke jalan Allah, dan justru ilmu-ilmu itu akan menjadi alat syaitan menjerat langkahnya mengikuti Rasulullah SAW dan memunculkan madlarat yang besar bagi umat manusia.

Setelah mengusahakan yang terbaik dari dirinya, seseorang hendaknya menyeru umat manusia untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW sesuai dengan kebaikan yang diketahuinya, dan sesuai dengan keadaan masyarakatnya. Ia tidak dituntut untuk berhasil melaksanakan seruannya. Karena itu hendaknya ia tidak memaksakan diri dengan jalan-jalan selain yang ditentukan Allah. Manakala ia tidak berhasil karena pakaiannya yang buruk oleh tipu daya syaitan, tanggung jawab kegagalan itu pada syaitan dan orang-orang yang mengikutinya, serta umat manusia yang diseru itu sendiri. Ayat di atas menyatakan realitas keadaan orang-orang yang memperolok-olokkan seruan rasul untuk disikapi dengan sebaik-baiknya, tidak menyentuh masalah tanggung jawab penyeru.

Wajar bagi para penyeru bersedih hati dengan keadaan demikian, dan Allah menghibur dengan menunjukkan kepada mereka banyaknya seruan rasul-rasul yang diperolok-olok kaumnya. Hendaknya para penyeru tidak terlalu bersedih dengan perlakuan kaumnya. Akan tetapi hendaknya selalu disadari bahwa ada suatu ketentuan Allah yang menyertai sikap mengolok-olok seruan demikian. Ketentuan itu suatu saat akan terjatuh terhadap orang-orang yang terus mengolok-olok seruan terhadap kebenaran. Hendaknya para penyeru tetap berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya dalam menyeru umat mereka, baik mempersiapkan diri mereka sendiri untuk menyeru dengan sebaik-baiknya, ataupun secara aktif berhadapan dengan kaumnya untuk menjelaskan.

Membangkitkan Pengetahuan

Manakala umat sulit untuk diseru mengikuti langkah Rasulullah SAW dan tuntunan kitabullah, hendaknya ditanyakan kepada mereka tentang keselamatan diri mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka permasalahan dalam diri mereka yang mendatangkan bahaya berupa suatu ketentuan Allah. Membuka permasalahan demikian hendaknya dilakukan hingga timbul pertanyaan dalam diri mereka sendiri apakah mereka akan selamat dengan keadaan mereka yang demikian.

﴾۲۴﴿قُلْ مَن يَكْلَؤُكُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مِنَ الرَّحْمٰنِ بَلْ هُمْ عَن ذِكْرِ رَبِّهِم مُّعْرِضُونَ
Katakanlah: "Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari dari (Allah) Yang Maha Pemurah?" Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Tuhan mereka. (QS Al-Anbiyaa : 42)

Perkataan memelihara ( يَكْلَؤُ ) menunjukkan makna memelihara sebagaimana para penanam mencabut rumput-rumput dan tanaman-tanaman pengganggu lain agar tidak mengganggu tanaman yang dipelihara. Dalam konteks di atas, Ar-Rahman merupakan penanam dan manusia merupakan tanaman yang dipelihara. Terkait dengan ayat sebelumnya, para rasul yang diutus kepada manusia merupakan para pembersih tanaman pengganggu. Allah tidak mengutus rasul tanpa ilmu dari kitabullah yang dapat digunakan untuk membersihkan tanaman pengganggu. Rasulullah SAW dan Alquran pada dasarnya merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. Selain bisa digunakan oleh para rasul, kitabullah Alquran dapat digunakan pula oleh kaum mukminin untuk membersihkan tanaman-tanaman pengganggu diri manusia.

Pada masa tanaman itu dipelihara, sebenarnya akan tumbuh pula banyak tanaman-tanaman pengganggu baik rumput-rumputan atau semak belukar. Syaitan akan menebarkan benih-benih tanaman pengganggu bagi pertumbuhan manusia. Hawa nafsu manusia sendiri juga mengandung benih-benih rumput yang akan mengganggu tanaman yang seharusnya dipelihara. Manakala tidak dipelihara, maka tanaman itu sendiri tidak dapat membersihkan tanaman-tanaman pengganggunya. Lebih rumit lagi bila Allah (Yang Maha Pemurah) ridla tidak membersihkan tumbuhnya tanaman pengganggu bagi seorang manusia, maka siapakah yang akan mampu memelihara tanaman yang seharusnya dipelihara? Sangat sulit bagi seseorang untuk memelihara dirinya sendiri dari tanaman pengganggu demikian.

Orang-orang yang memperolokkan seruan para rasul merupakan orang-orang yang tanaman pengganggunya tumbuh lebih subur daripada tanaman yang dipelihara. Secara intrinsik, apa yang terbentuk dalam diri mereka lebih menyerupai kebathilan, karenanya mereka tidak dapat mencerap kebenaran yang disampaikan oleh para rasul. Karena keadaan diri demikian, mereka merasa lebih membutuhkan cahaya yang bathil daripada cahaya kebenaran. Mereka memandang bahwa pengetahuan yang mereka miliki lebih baik daripada seruan para rasul, maka kemudian mereka memperolok-olok seruan para rasul. Apabila tanaman yang seharusnya dipelihara dalam diri manusia itu masih ada, mungkin mereka dapat mencerap cahaya kebenaran yang disampaikan akan tetapi akan dipengaruhi oleh keadaan para penyeru. Apabila para penyeru berpakaian pantas, mereka akan lebih mudah mencerap yang disampaikannya daripada bila penyeru itu berpakaian tidak sepantasnya.

Keadaan memperolok-olok demikian bisa terjadi pada kalangan orang-orang yang mementingkan duniawi maupun orang-orang yang telah berkecimpung dalam bidang agama. Orang-orang yang mementingkan kehidupan duniawi pada dasarnya merupakan orang-orang yang hidup dalam kegelapan malam, sedangkan orang yang berkecimpung dalam bidang agama telah menempuh kehidupan yang lebih terang. Tanaman-tanaman pengganggu dapat tumbuh pada semua kalangan baik yang duniawi maupun agamawan, sehingga mereka tidak dapat mencerap cahaya kebenaran yang disampaikan oleh para rasul.

Orang-orang yang memperolokkan pengajaran para rasul itu sebenarnya orang-orang yang tidak mengambil pelajaran tentang rabb mereka. Orang-orang beriman adalah orang yang berkeinginan untuk mengenal rabb mereka Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Orang-orang yang memperolok-olokkan seruan para rasul tidak bergerak menuju pengenalan yang lebih baik terhadap rabb mereka. Boleh jadi mereka bertuhan kepada tuhan yang mereka ciptakan sendiri, atau terhijab waham bahwa diri mereka adalah para hamba tuhan tetapi sebenarnya tidak berkeinginan untuk lebih mengenal rabbnya. Seruan para rasul itu akan menjadikan umat manusia yang mengikutinya menjadi lebih mengenal Allah, dan orang-orang yang memperolok-olokkan hanya terhijab oleh jati diri palsu diri mereka sendiri tanpa keinginan untuk lebih mengenal rabb mereka. Bila keinginan itu kuat, niscaya seseorang akan mampu mengenali kebenaran dalam seruan para rasul karena adanya suatu kebutuhan dalam nafs mereka terhadap kebenaran.