Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.
Setiap rasul akan menyeru umatnya untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ibadahnya. Kemurnian ibadah seorang hamba seringkali disebut sebagai keikhlasan. Sebenarnya keikhlasan tidak hanya merupakan kuatnya iktikad melayani, tetapi juga pengetahuan terhadap kehendak Allah. Seseorang yang mengenal Allah dengan lebih baik mempunyai tingkat keikhlasan yang lebih baik dibandingkan orang biasa. Seseorang tidak dapat dikatakan ikhlas manakala ia salah atau tidak mampu memahami kehendak Allah. Orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi karena merasa menjadi hamba-hamba Allah tidaklah menunjukkan tauhid yang benar. Orang demikian hanya menyangka ikhlas dengan hawa nafsunya.
Pengetahuan seseorang tentang jalan kehidupan duniawi dirinya termasuk sebagai tanda keikhlasan ibadah kepada Allah. Orang yang kembali kepada Allah akan memperoleh pengetahuan tentang kehendak Allah termasuk amal-amal yang perlu dilakukan, dan amal-amal itu akan mendatangkan kepadanya rezeki-rezeki duniawi yang baik bagi mereka. Orang-orang yang memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosanya dan menempuh jalan kembali kepada Allah akan memperoleh perhiasan duniawi dan memperoleh keutamaan.
﴾۳﴿وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ
dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. (QS Huud : 3)
Allah akan memberikan kenikmatan kepada hamba yang memohon ampunan dan bertaubat. Ayat di atas menyebutkan kenikmatan sebagai mata' (متاع) yang menunjukkan perhiasan-perhiasan kehidupan, dan secara khusus menyebutnya sebagai perhiasan yang dibutuhkan dalam kehidupan yang terbatas. Keterbatasan kehidupan itu menunjukkan kehidupan duniawi. Artinya, Allah akan memberikan kepada hamba-Nya pahala hingga dalam bentuk perhiasan kehidupan duniawi mereka, tidak hanya untuk kehidupan akhirat saja. Harta benda, kedudukan dan pangkat dalam kehidupan dunia akan diberikan Allah kepada hamba-Nya yang memohon ampunan dan bertaubat.
Makna sekunder ayat di atas selain seruan memohon ampun dan taubat adalah memberikan penjelasan kepada hamba Allah jalan untuk memperoleh perhiasan dunia. Seseorang yang ikhlas akan menjadikan ayat tersebut sebagai tanda perjalanan taubat yang sudah ditempuh, tidak mengutamakan menuntut balasan-balasan duniawi. Penjelasan itu harus dipahami secara lebih terperinci dan setiap orang harus menempuh jalan yang terperinci tersebut, tidak hanya berprasangka buruk bahwa ia telah melakukan istighfar dan taubat tetapi tidak muncul perhiasan yang difirmankan. Bila seseorang berprasangka buruk terhadap ketentuan Allah, mungkin ia sebenarnya ia hanya berharap terhadap perhiasan kehidupan dunia dan lalai belum melakukan istighfar dan taubat itu dengan benar, maka ia menganggap ayat tersebut salah.
Pengetahuan Melalui Taubat
Hal utama yang akan tumbuh terlebih dahulu dari proses istighfar dan taubat adalah munculnya pengetahuan tentang kehendak Allah yang tercermin pada kauniyah mereka. Balasan berupa perhiasan duniawi merupakan wujud dari pengetahuan yang tumbuh di dalam diri seorang hamba manakala ia dapat hidup selaras dengan tuntunan yang dipahaminya. Tanpa pengetahuan yang diturunkan, tidak muncul perhiasan duniawi dari Allah. Pengetahuan ini bagi seorang hamba kadangkala mencapai tingkatan hakikat berupa pengetahuan urusan dari sisi Allah. Tumbuhnya perhiasan duniawi akan menyertai tumbuhnya pengetahuan dari Allah yang diturunkan dari langit, akan tetapi kadangkala baru tercapai setelah seseorang memahami hakikat atau setelahnya. Sebenarnya bila seseorang bisa mengikuti pengetahuan yang diturunkan Allah, dunia mereka juga akan tumbuh, tetapi kadangkala seseorang terhalang untuk mengikutinya.
Nabi Nuh a.s menggambarkan dalam Alquran pertumbuhan duniawi bagi umatnya layaknya hujan deras yang menumbuhkan kemakmuran-kemakmuran duniawi. Suatu pengetahuan dari langit akan turun layaknya hujan deras bagi orang-orang yang memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah terjadi. Hujan deras berupa pengetahuan dari langit itu akan menumbuhkan harta dan anak-anak, dan menumbuhkan kebun-kebun dan sungai-sungai.
﴾۰۱﴿فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
﴾۱۱﴿يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
﴾۲۱﴿وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
(10)maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun- (11)niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,(12) dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (QS Nuh : 10-12)
ayat-ayat di atas menceritakan tumbuhnya kemakmuran seseorang karena permohonan ampunan yang dilakukan. Allah akan menurunkan pengetahuan dari langit layaknya hujan deras yang turun ke bumi yang menumbuhkan kebun-kebun dan sungai. Pengetahuan yang turun dari langit itu akan memanjangkan harta dan hal-hal yang dapat dilahirkan dari diri seorang hamba.
Keseluruhan proses pemakmuran tersebut hendaknya diperhatikan orang beriman. Kadangkala seorang hamba yang benar-benar meminta ampunan kepada Allah hanya memperoleh pahala berupa hujan yang deras dari langit hingga ia memperoleh pengetahuan yang banyak, tetapi tidak memperoleh banyaknya harta dan tidak mampu melahirkan hal-hal yang tersimpan dalam dirinya. Terwujudnya harta yang banyak dan hal-hal yang tersimpan dalam diri membutuhkan keterpaduan antara aspek langit dan bumi. Manakala aspek bumi diri seorang hamba belum menyatu dengan aspek langitnya, maka hal-hal demikian tidak terwujud. Dalam beberapa hal penyatuan itu harus berupa penyatuan seseorang dengan isterinya, maka hal-hal duniawi itu baru dapat terwujud.
Penyatuan aspek-aspek itu merupakan wujud kebersyukuran. Setiap orang harus bersyukur atas keadaan dirinya, tidak lebih memperhatikan sesuatu selain Allah. Bila seseorang lebih memperhatikan keinginan duniawinya daripada taubatnya, hujan deras itu mungkin tidak tersimpan ke jasmaniahnya hingga ia tidak merasakan adanya hujan. Kadangkala seseorang tidak memperhatikan keadaan duniawinya berupa tumbuhnya semak belukar dan rumput-rumput yang menghalangi pertumbuhan kebunnya, maka hal-hal duniawi itu tidak tumbuh bagi mereka. Adapun hal-hal duniawi yang mungkin tumbuh barangkali lebih merupakan rumput atau semak belukar.
Kotor dan menyimpangnya nafs seseorang dari keikhlasan akan menjadikan akalnya lemah, dan bersihnya nafs akan meningkatkan kekuatan akal untuk memahami kehendak Allah. Kotornya dan menyimpangnya nafs disebabkan oleh adanya hawa nafsu dan syaitan. Keduanya akan mengganggu pertumbuhan akal dan menyimpangkannya. Manakala hujan pengetahuan turun, pengetahuan-pengetahuan itu bisa menyuburkan hawa nafsu atau pengetahuan yang salah. Di sisi lain, pengetahuan tidak sampai kepada akal mereka. Kasus lainnya, air yang terserap pohon kebun itu tercampur dengan esensi dari semak dan rumput yang tidak dibersihkan, maka buah dari pohon itu menjadi berubah. Manfaat dari buah yang seharusnya diperoleh mungkin saja berbalik menjadi madlarat karena pengaruh rumput dan semak belukar itu.
Hambatan dalam Bersyukur
Setiap hamba harus mensyukuri setiap keadaan dirinya secara menyeluruh, baik nafs maupun rasa jasmaniahnya. Kebersyukuran seorang hamba dapat diibaratkan selarasnya langkah antara suami dan isteri. Hubungan suami dan isteri merupakan bentuk perluasan dari nafs dan jasmani setiap manusia. Terbentuknya perhiasan duniawi yang baik terkait dengan kebersyukuran dalam berpasangan. Pada tingkat perorangan manakala seseorang tidak mau menerima keadaan dirinya dan berharap keadaan lain setelah berusaha sebaik-baiknya, maka ia tidak akan mengetahui kelebihan dari Allah yang ada dalam dirinya. Ketidaksungguh-sungguhan berusaha akan mengganggu ketenangan seseorang dalam menerima keadaan, tetapi ia harus berusaha berlapang menerima agar dapat mengetahui kelebihan dari Allah dalam dirinya, bagaimanapun usaha yang telah dilakukan.
Demikian pula setiap pasangan harus selaras dapat memandang keadaan mereka sesuai dengan kehendak Allah, tidak tercampuri waham keliru. Bila demikian maka mereka akan melihat keutamaan yang ada pada keberpasangannya. Bila tercampuri suatu waham, seseorang akan sulit melihat keutamaan yang ada mereka untuk disyukuri secara keberpasangan. Misalkan seorang suami telah mempunyai pengetahuan, tetapi isterinya tidak mau memahami dan tidak mau melangkah selaras untuk mewujudkan bentuk duniawi pengetahuan itu, maka mereka tidak dapat bersyukur dan tidak akan menemukan perhiasan duniawi yang tersedia bagi mereka. Perhiasan duniawi yang baik tidak akan diperoleh manakala pasangan itu tidak bersyukur.
Sebagian dari waham yang merusak kebersyukuran terbentuk karena pengajaran atau informasi yang salah, dan sebagian waham terbentuk karena adanya perbuatan keji. Keduanya merusak kebersyukuran dalam intensitas yang berbeda. Pengajaran atau masukan yang salah akan lebih mudah diperbaiki manakala para pihak bisa menyadari kesalahannya dan berkeinginan untuk mengikuti kebenaran. Bila disebabkan oleh suatu kekejian, seringkali akan sangat sulit bagi seseorang menyadari kekejian yang terjadi. Sekalipun keji, mereka bisa saja memandang baik perbuatan keji itu atau bahkan mungkin saja mengira kekejian mereka itu adalah perintah Allah.
Informasi yang salah, sekalipun lebih ringan pengaruhnya, tetapi mungkin akan berkelindan dengan hawa nafsu dan waham lainnya yang kadangkala menjadi masalah baru yang rumit. Setiap pihak harus berusaha memilih informasi yang benar agar dapat bersyukur bersama pasangan, baik informasi yang besar layaknya menerima pengajaran landasan hidup ataupun sekadar informasi ringan layaknya ghibah orang lain. Manakala salah satu atau kedua pihak menjalani hidup dengan landasan ajaran yang keliru, akan sulit bagi mereka untuk bersyukur di atas kebenaran. Manakala mengetahui ajaran yang benar sebagai landasan untuk melangkah, hendaknya setiap pihak mau mengubah landasannya di atas landasan bersama. Komunikasi yang baik akan membantu setiap pihak untuk memahami pihak lainnya. Manakala salah satu pihak bersikeras untuk mengikuti wahamnya meninggalkan kebenaran, sikap itu itu akan menjadi masalah yang akan mengganggu terbentuknya kebersyukuran dalam pernikahan.
Dalam interaksi antara suami isteri, setiap pihak harus membangun kesepahaman dengan pihak lainnya secara langsung tanpa ada pihak lain yang mempengaruhi persepsi satu terhadap yang lain secara buruk. Hanya Allah yang lebih menentukan bentuk persepsi antara suami dan isteri, tidak boleh ada orang lain yang menentukan pembentukan persepsi kecuali hanya bersifat masukan. Bahkan untuk jihad bersama Rasulullah SAW para perempuan mukminin diperintahkan untuk memperhatikan suaminya. Manakala seseorang mempunyai waham salah, interaksi antara suami dan isteri tersebut akan mudah terganggu. Ketika suatu kekejian terjadi walaupun hanya secara bathin, persepsi antara suami dan isteri akan terganggu karena kekejian itu. Seorang suami mungkin akan memandang buruk isterinya, dan seorang isteri mungkin memandang buruk suaminya atau justru menghukumi pasangannya menurut perkataan orang lain. Kadangkala suatu langkah ditentukan oleh satu pihak karena mengikuti orang lain secara keji, maka pihak lainnya menjadi terdzalimi. Hal demikian harus dihindari karena mereka tidak dapat bersyukur dengan keadaan demikian.
Tetap Memohon Ampunan dan Taubat
Terlahirnya
banyak harta dan potensi-potensi dalam diri seorang mukmin ke alam
mulkiyah, terwujudnya kebun-kebun dan sungai-sungai akan dapat
terjadi manakala terwujud kebersyukuran pada setiap hamba Allah. Itu
adalah perhiasan duniawi yang baik ( مَّتَاعًا
حَسَنًا )
yang disematkan Allah bagi orang yang bersyukur. Sifat perhiasan
duniawi demikian adalah baik/hasan, tidak menjadikan seseorang lalai
dari berdzikir kepada Allah. Banyak harta benda duniawi yang
menjadikan seseorang lalai dari berdzikir kepada Allah karena
kesibukan mencari harta benda duniawi maka harta benda demikian tidak
bersifat hasan. Perhiasan yang bersifat hasan justru akan mendukung
mereka untuk dapat berdzikir kepada Allah dengan sebaik-baiknya,
tidak sulit mencari dan tidak sulit menggunakan pada tempatnya, baik
harta benda itu sedikit ataupun banyak. Terbentuknya komunitas yang
bersyukur akan mendukung terbentuknya perhiasan-perhiasan dunia dari
setiap orang dalam komunitas, dan sebaliknya komunitas yang kufur nikmat Allah akan mempersulit terwujudnya perhiasan-perhiasan dunia yang baik.
Ada fadhilah Allah yang akan diberikan setelah perhiasan dunia tersebut apabila seseeorang tetap memohon ampunan dan bertaubat. Apabila seseorang tidak lagi memohon ampunan dan melangkah kembali kepada Allah setelah penyematan perhiasan-perhiasan bagi dirinya, maka ia akan mengarah pada keadaan yang menakutkan. Ada suatu adzab yang mungkin akan menimpa seseorang manakala ia menyimpang atau berbalik langkah dari memohon ampun dan taubat kepada Allah. Setiap orang harus tetap berhati-hati dalam setiap langkah kehidupannya dengan selalu berharap ampunan dan rahmat Allah. Sikap hati-hati demikian harus tertanam di dalam kalbu, tidak hanya pikiran.
Merasa diri telah menjadi orang suci akan memutuskan langkah seseorang dari memohon ampunan Allah. Sifat ini kadangkala dimulai dengan penekanan martabat diri kepada umatnya lebih dari semestinya, baik dengan perhiasan-perhiasan dunia yang disematkan Allah ataupun dengan fadhilah-fadhilah yang diberikan, kemudian diikuti sikap berkuasa pada suatu urusan atas umatnya tanpa melihat hakikat yang terjadi. Mereka tidak lagi mengikuti kebenaran. Bukan tidak mungkin orang-orang demikian kemudian melakukan pembangkangan terhadap washilahnya, menentang arahan dalam melaksanakan amanah Allah tanpa alasan yang benar. Suatu bentuk adzab akan tiba bagi dirinya manakala ia tidak kembali memohon ampunan kepada Allah.
Menyimpang dari jalan taubat kepada Allah terjadi manakala langkah seseorang tidak lagi mengikuti langkah Rasulullah SAW untuk kembali kepada Allah. Mungkin ia menempuh jalannya sendiri untuk kembali kepada Allah. Langkah taubat Rasulullah SAW adalah mi’raj melalui bayt yang memperoleh ijin Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Setiap orang yang memperoleh fadhilah Allah hendaknya berusaha mendzikirkan dan meninggikan asma Allah, dan hal itu dapat dilakukan dengan membentuk bayt sesuai dengan millah nabi Ibrahim a.s. Bayt tersebut berupa tatanan sosial yang paling dekat yaitu rumah tangga dirinya. Manakala langkah seseorang menyimpang dari tujuan mendzikirkan dan meninggikan asma Allah, atau membentuk bayt yang menyimpang dari tuntunan Allah, mungkin saja suatu adzab ditetapkan baginya yang akan diturunkan pada hari yang besar.
Keselamatan seseorang dalam hal ini akan tergantung pada keteguhan memohon ampunan dan ketaatan mengikuti langkah Rasulullah SAW dalam bertaubat. Bila seseorang mengandalkan perhiasan kehidupan yang disematkan Allah atau mengandalkan fadhilah Allah maka ia akan mudah tersesat. Perhiasan yang disematkan dan fadhilah dari Allah seringkali menjadikan seseorang silau dalam memandang tujuan yang hakiki, menyangka bahwa perhiasan dan fadhilah itu merupakan tujuan yang harus dicapai. Sebenarnya tidaklah demikian. Seseorang yang tidak disemati perhiasan dunia dan tidak mencapai fadhilah dari Allah tetapi tetap memohon ampunan dan tetap pada jalan taubat yang benar lebih baik daripada orang yang memperoleh perhiasan dunia dan fadhilah tetapi berbalik dari memohon ampun dan bertaubat. Sekalipun ia mungkin baru memperoleh sedikit tetapi ia tetap selamat daripada yang memperoleh banyak tetapi berbalik. Yang paling baik keadaannya adalah orang yang tetap memohon ampunan dan bertaubat setelah memperoleh perhiasan dunia dan fadhillah dari Allah.