Pencarian

Kamis, 23 Mei 2024

Musyawarah Menuju Al-Jamaah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Orang-orang yang mengikuti langkah beliau SAW kembali kepada Allah kelak akan mengetahui bahwa beliau SAW berkedudukan di sisi Allah sebagai pemimpin semesta alam dalam beribadah kepada Allah. Sangat banyak makhluk berakal akan diberi kemampuan hadir di hadapan Allah dalam barisan-barisan yang ditentukan, dan pemimpin seluruh makhluk dalam barisan itu adalah Rasulullah SAW. Mereka adalah makhluk-makhluk yang akan memperoleh kenikmatan perhiasan di sisi Allah.

Di antara orang-orang yang akan hadir di hadirat Allah demikian adalah orang-orang yang bermusyawarah, yaitu musyawarah dalam kategori khusus. Penciptaan semesta raya pada dasarnya dilakukan untuk suatu amr dari Allah bagi setiap makhluk. Segala sesuatu yang terwujud di alam semesta ini hanya hadir bersama dengan suatu amr yang seharusnya dipahami oleh makhluk sebagai sarana ibadah kepada Allah, dan setiap makhluk hendaknya memahami suatu amr tertentu yang diperuntukkan bagi dirinya. Seluruh amr penciptaan semesta raya itu diberikan kepada makhluk melalui Rasulullah SAW. Orang yang memperoleh urusan diri melalui Rasulullah SAW demikian termasuk dalam kelompok bermusyawarah.

﴾۸۳﴿وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
Dan (bagi) orang-orang yang menjawab seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka dimusyawarahkan antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (QS As-Syuura : 38)

Syura (شُورَىٰ) bermakna mencari nasihat, yaitu berusaha mengetahui cara pandang orang lain atau komunitas terhadap suatu masalah untuk menjadi pemikiran bersama dalam masalah itu. Seseorang yang bermusyawarah dengan sahabatnya berarti ia menyampaikan suatu masalah dan ingin mengetahui cara pandang sahabatnya terhadap masalah yang dibicarakannya, dan mengambil manfaatnya untuk digunakan dalam cara pandang mereka bersama. Nabi Muhammad SAW melakukan syura agar setiap pihak mempunyai pemahaman yang sama dalam suatu masalah dan melakukan sesuai dengan keadaan bersama. Umat Rasulullah SAW melakukan syura untuk lebih mengisi cara pandang masing-masing terhadap suatu masalah agar lebih sempurna pemahamannya, dan dapat bekerja sama dalam pikiran bersama masyarakat.

Musyawarah dalam ayat di atas adalah musyawarah dalam urusan yang diperoleh manusia melalui nabi Muhammad SAW. Ini adalah musyawarah dalam derajat yang paling utama, dan hendaknya setiap bentuk musyawarah mengarah pada musyawarah dalam bentuk khusus demikian. Dengan musyawarah demikian, pembicaraan di antara masyarakat berupa amr Allah yang harus mereka kerjakan, maka masyarakat akan menjadi cerdas dalam mensikapi setiap masalah. Hal ini membutuhkan keberadaan orang-orang yang memperoleh amr mereka melalui Rasulullah SAW. Manakala tidak ada orang demikian, mengarahkan pembicaraan untuk mengikuti kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW merupakan usaha yang baik untuk mengarahkan musyawarah. Bila tidak demikian, pembicaraan di antara masyarakat hanya akan berupa perdebatan dan pertikaian yang membosankan layaknya debat kusir, dan masyarakat akan menjadi terbelakang akalnya.

Orang yang memperoleh amr Allah melalui Rasulullah SAW hendaknya mengarahkan musyawarah untuk membangun cara berpikir masyarakat mengikuti amr Rasulullah SAW. Manakala tidak dilakukan, umat akan membicarakan hal-hal yang terjadi secara liar tanpa arah yang jelas. Tidak jarang umat membicarakan hal-hal yang tidak berguna dan justru mengabaikan apa-apa yang penting untuk diperhatikan. Pembicaraan tanpa arah akan membangkitkan suatu kaum yang bodoh, satu orang menularkan kegemarannya kepada orang lain hingga masyarakat menjadi bodoh berdebat satu dengan yang lain tanpa mendatangkan kebaikan kepada umatnya. Umat hendaknya memperhatikan amr yang disampaikan oleh ulil amr dengan berdasarkan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Amr bagi dirinya akan ditemukan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan mendengarkan apa yang disampaikan ulil amr. Mungkin amr dirinya tidak terhubung secara langsung kepada ulil amr tertentu tersebut, akan tetapi ia bisa mencarinya berdasarkan informasi dari ulil amr tersebut.

Suatu amal yang didasari pengetahuan terhadap hakikat akan mendatangkan manfaat yang banyak. Hakikat tidak hanya berlaku atas orang-orang yang menerimanya saja, akan teapi orang-orang yang mengikuti juga akan memperoleh manfaat yang sangat banyak apabila ia memahami hakikat tersebut. Amal yang dilakukan di atas landasan pemahaman atas suatu hakikat tertentu akan mempunyai bobot yang sangat besar, baik di akhirat kelak ataupun manfaatnya secara duniawi. Manakala suatu ayat kitabullah dibacakan ulil amr, setiap orang hendaknya berusaha memahami tidak hanya berbuat mengikuti tanpa suatu pemahaman. Hakikat yang diperoleh bergantung pada pemahaman terhadap kitabullah, bukan kesertaan terhadap ulil amri tersebut. Bobot hakikat dan manfaat yang ditimbulkan akan bergantung pada pemahamannya, tidak bergantung pada amalnya. Ketika tidak memahami, seseorang tidak akan mendatangkan manfaat yang banyak karena amalnya.

Sangat tidak mudah menemukan amr Allah tanpa mengikuti kitabullah dan ulil amr yang ada di antara mereka. Bila seseorang mengabaikan tuntunan kitabullah yang disampaikan oleh seorang ulil amr, ia akan kehilangan sebagian akal yang seharusnya diperoleh. Kekuatan akal seseorang terhubung secara langsung dengan pemahaman dirinya terhadap kitabullah yang selaras dengan keadaan dirinya. Tidak jarang syaitan menipu manusia untuk mencari amr bagi dirinya dengan menghadirkan urusan lain yang banyak dan bathil tanpa landasan kitabullah sedangkan tuntunan kitabullah yang dibacakan seorang ulil amr diabaikan, maka mereka tidak akan menemukan amr Allah melalui kitabullah Alquran.

Peradaban umat islam akan bangkit apabila umat islam menemukan amr Allah melalui kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Memajukan peradaban umat islam tanpa menemukan amr masing-masing orang melalui kitabullah merupakan hal yang mustahil. Menemukan amr tanpa berpegang pada kitabullah merupakan kesesatan yang lebih jauh. Hal demikian itu telah dicontohkan sejak Adam a.s dan siti Hawa masih berada di surga ketika mendekati pohon khuldi. Syura merupakan salah satu langkah penting yang harus dilakukan di kalangan orang-orang beriman.

Musyawarah Berdasar Rahmat

Rasulullah SAW diperintahkan untuk bermusyawarah kepada umatnya dengan hati yang lunak karena rahmat Allah sekalipun umat beliau SAW melakukan banyak keburukan dan dosa-dosa. Hati yang lunak karena rahmat Allah itu merupakan modal utama dalam melakukan syura. Seandainya tidak karena rahmat Allah, akan sulit bagi seseorang untuk dapat berhati lunak dan hal itu akan menyebabkan manusia dapat menyatu. Seandainya seseorang bersikap keras dan berhati kasar, niscaya manusia akan menjauhkan diri dari orang tersebut. Modal demikian itu harus dimiliki atau dibina pada setiap diri penyeru kepada Allah.

﴾۹۵۱﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali Imran : 159)

Lemah lembut (لين ) bermakna luwes. Keluwesan orang beriman tidak boleh berwujud sikap permisif membolehkan segala hal tanpa mentaati pagar yang ditentukan. Keluwesan dihasilkan oleh keinginan untuk mengajak pada langkah yang terbaik dengan cara yang baik dengan berdasar pengetahuan terhadap kehendak Allah. Hal ini melibatkan perasaan simpati dan keinginan baik pada diri penyeru musyawarah, termasuk ketika harus menghadapi keburukan dan dosa orang lain. Bila seseorang menyimpan keinginan untuk menyerang kekurangan atau dosa pada orang lain (فَظًّا) dan atau tidak mau memahami keadaan dan kekurangan orang lain (غَلِيظَ الْقَلْبِ), maka akan sulit bagi penyeru untuk mengajak orang lain bermusyawarah dalam urusan Allah.

Nilai-nilai intrinsik dalam nafs di atas harus terwujud dalam bentuk dzahir. Hal ini membutuhkan keterampilan. Tidak jarang seseorang mempunyai wujud fisik yang berbeda dengan nilai intrinsik. Seseorang boleh jadi mempunyai nilai intrinsik cukup baik tetapi tidak mempunyai cukup keterampilan untuk mewujudkan di amaliah jasmaninya. Sangat banyak bentuk kombinasi nilai intrinsik dan wujud fisik yang berbeda. Masalah lainnya, kadangkala seseorang yang baik mempunyai beban yang sangat berat hingga jasmaninya mengalami kesulitan untuk mewujudkan amal yang menarik. Mungkin saja seorang nabi menginginkan kebinasaan karena keadaan umatnya. Demikian pula tidak semua orang baik mampu melahirkan kebaikan dalam dirinya secara menarik. Kemampuan seseorang melahirkan kebaikan di amal jasmani dipengaruhi oleh lingkungan. Manakala seseorang mempunyai keluarga dan masyarakat yang baik, ia akan mempunyai keterampilan dan kekuatan yang lebih baik untuk melahirkan kebaikan dalam amal jasmaniah.

Secara khusus, keluarga dalam bentuk pernikahan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi seseorang tidak hanya dalam bentuk kekuatan dan keterampilan jasmaniah tetapi juga kekuatan intrinsik dalam nafs. Rasulullah SAW menyampaikan, tanpa Khadijah r.a sebagai isteri, niscaya beliau SAW tidak menjadi nabi. Pengandaian beliau SAW itu terkait perkembangan kemampuan intrinsik nafs dan perkembangan kemampuan lahiriah beliau SAW dan kelayakan sebagai nabi. Bila tidak bersama Khadijah r.a sebagai isteri, masalah pengetahuan dan kebaikan-kebaikan lain mungkin akan tetap diperoleh beliau SAW, akan tetapi beliau SAW tidak terbentuk sebagai rasulullah. Pernikahan merupakan ladang bagi pertumbuhan pohon diri manusia yang akan menjadikannya tumbuh subur dan berbuah.

Demikian pula umat beliau SAW bila tidak membentuk pernikahan yang baik dengan orang yang tepat, mereka tidak akan terbentuk sebagai manusia dengan kedudukan yang ditentukan Allah sekalipun mungkin bisa mempunyai pengetahuan sesuai kedudukannya. Rasulullah SAW dalam perkara di atas tampak hanya berandai-andai. Sebenarnya beliau SAW tidak berandai-andai tetapi memberikan pengajaran kepada umatnya untuk memperhatikan pernikahan mereka, tidak bermain-main dalam urusan pernikahan. Urusan demikian mempunyai arti sangat penting bagi keumatan. Apabila seseorang mengetahui kedudukan dirinya di hadapan Allah, mengenal rabb-nya, tetapi rusak pernikahannya, ia tidak akan bisa berada pada kedudukan dirinya. Seandainya umatnya memaksakan untuk menjadikannya sebagaimana kedudukan dirinya di hadapan Allah, ia tidak akan mampu melaksanakannya. Umat manusia akan cenderung tidak mengetahui atau tidak mengakui kebenaran ilmunya karena keadaannya. Karena hal itu orang-orang yang baik mungkin saja tidak mampu memberikan kontribusi sebagaimana layaknya bagi umat mereka.

Mengenal rabb pada manusia tidaklah menunjukkan pengenalan kepada Allah secara keseluruhan. Manusia sebenarnya hanya diperkenalkan kepada salah satu asma-Nya saja, tidak mengenal Allah, tetapi kemudian dikatakan telah mengenal Allah. Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Rasululullah SAW dalam wujud tajaliat paling sempurna di alam semesta berupa asma Ar-Rahman yang beristiwa’ di atas ‘arsy. Nabi Ibrahim a.s diperkenalkan kepada asma Ar-Rahim yang berkedudukan sangat tinggi melekat pada ‘arsy, dan kepada khalifatullah Al-Mahdi diperkenalkan asma Malik yang berkedudukan di kursi-Nya. Seluruh manusia yang dikatakan mengenal Allah sebenarnya hanya mengenal Dia pada asma tertentu yang hendak Dia diperkenalkan. Asma Allah yang diperkenalkan kepada umat manusia merupakan nafakh Ar-Rahman yang memperkenalkan amr rububiyah bagi seorang hamba, membacakan bagian kitabullah Alquran sebagai amanat yang harus ditunaikan. Pengenalan diri seseorang terhadap kedudukan dirinya di hadapan Allah harus disertai dengan pengenalan seseorang terhadap asma yang Dia perkenalkan secara khusus kepada dirinya, bukan pengenalan terhadap Allah atau terhadap Ar-Rahman. Mungkin seseorang mengetahui Ar-Rahman Yang Maha Tinggi yang beristiwa’ di atas ‘arsy, tetapi ia sebenarnya tidak memahami. Hanya Rasulullah SAW yang mengenal Ar-Rahman dengan sempurna. Pengenalan seseorang terhadap nafakh Ar-Rahman merupakan bukti pengenalan kedudukan diri dalam al-jamaah sebagai pengikut Rasulullah SAW.

Menyeru Musyawarah

Setelah hati menjadi lunak karena rahmat Allah, hendaknya seseorang memaafkan orang-orang yang diajak untuk bermusyawarah dan memohonkan ampunan bagi mereka, dan kemudian mengajak mereka untuk bermusyawarah tentang suatu urusan. Sifat lunak hati tidak boleh menutup mata seseorang terhadap dosa dan keburukan yang terjadi pada suatu kaum. Keluwesan orang beriman berupa sifat memahami keadaan orang lain dan mengarahkan orang untuk menjadi lebih baik tanpa keinginan menyerang dan menghukum keadaan buruk tersebut. Memaafkan (اعْفُ) menunjuk pada perbuatan memandang orang lain sebagai manusia baru tanpa meyakini tetapnya keburukan dan dosa yang telah dilakukan, tidak mengikuti stigma buruk terhadap orang lain. Memohonkan ampunan (اسْتَغْفِرْ لَهُمْ) menunjuk pada perbuatan berharap agar Allah tidak memberikan hukuman atas dosa yang dilakukan. Dengan kedua amal tersebut, maka hendaknya seseorang kemudian mengajak kepada orang lain bermusyawarah dalam urusan mereka, sesuai dengan keadaan mereka.

Usaha memaafkan dan memintakan ampun bagi orang yang diseru kadangkala tidak mudah. Mungkin saja seorang penyeru menemukan kesalahan dan dosa masyarakatnya sulit untuk diluruskan atau diajak melangkah menuju kebaikan. Para nabi-pun menghadapi hal yang berat untuk memaafkan dan memintakan ampun bagi umatnya. Bila masyarakat masih tetap menyimpang langkahnya, para nabi tidak menutup mata terhadap keburukan yang terjadi. Kemampuan memaafkan dan memintakan ampun oleh seorang penyeru selaras dengan kelapangan dada para penyeru tersebut. Bukan tidak mungkin para penyeru musyawarah itu kemudian menumpahkan rasa kesal dalam diri mereka kepada umatnya manakala menyeru umatnya. Kadangkala keadaan orang yang diseru berada pada batas kemampuan dan kelapangan dada penyeru, dan kemudian mereka justru memilih berada di luar kemampuan penyeru maka mungkin penyeru itu tidak cukup lapang dada dengan pilihan itu. Hal demikian tidak menunjukkan adanya keinginan buruk pada penyeru, tetapi karena keterbatasan dada mereka terhadap masalah yang dihadapi dari umatnya.

Dalam beberapa kasus, Allah membiarkan suatu kaum tidak memperoleh manfaat dari suatu syura amr dari sisi Allah, dan memerintahkan hamba-Nya untuk membiarkan mereka mendengar atau tidak mendengar. Itu gambaran tersirat dari Allah mengenai adanya batas kemampuan untuk menyeru. Batas kemampuan seorang penyeru boleh jadi tidak mencapai keadaan itu. Hal ini tidak menunjukkan larangan untuk menyeru umat memahami amr Allah, tetapi hendaknya penyeru membiarkan suatu kaum untuk mengerjakan amal sesuai dengan keadaan mereka. Suatu kaum dibiarkan demikian karena lebih mengikuti tata tuntunan mereka sendiri daripada mengikuti tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka mungkin mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah, tetapi tidak mengutamakan dalam langkah nyata. Mereka akan mengalami kesulitan mendengarkan syura suatu amr dari sisi Allah karena keadaan diri mereka sendiri. Apabila mereka menjadikan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai tuntunan utama, maka mereka akan mendengar syura suatu amr dari sisi Allah, tetapi apabila mereka tetap menjadikan tuntunan yang lain sebagai penuntun bagi mereka melebihi tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka mereka tidak mendengar syura suatu amr dari sisi Allah, mengikuti penuntunnya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar