Pencarian

Senin, 20 Mei 2024

Selalu Mengharap Rahmat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Akhlak Rasulullah SAW adalah Alquran. Rasulullah SAW dan Alquran merupakan representasi rahmat Allah yang tertinggi dari sisi Allah bagi seluruh alam. Hanya orang-orang tertentu yang diberi rahmat dalam bentuk keterbukaan pemahaman kitabullah Alquran dan pengenalan dan kesertaan dalam sunnah Rasulullah SAW. Orang-orang demikian berasal dari golongan orang-orang yang diberi nikmat Allah. Sebagian orang-orang yang diberi nikmat Allah kemudian berbalik dan memilih bentuk-bentuk yang lain selain yang ditentukan sebagai rahmat bagi mereka.

﴾۳۸﴿وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَؤُوسًا
Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan memilih yang selainnya; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (QS Al-Isra : 83)

Rahmat yang tertinggi bagi seseorang adalah keterbukaan pemahaman terhadap kitabullah Alquran dan kesertaan dalam sunnah Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Sebagian manusia yang telah memperoleh nikmat Allah tidak meneruskan langkah untuk memperoleh rahmat yang agung demikian, tetapi justru berpaling dan memilih untuk mencari ketetapan yang lain selain rahmat tertinggi dari Allah.

Manusia merupakan bentuk ciptaan Allah yang terbaik, diciptakan dari alam yang paling jauh dari sumber cahaya dan mampu menempuh perjalanan taubat yang sangat panjang menuju sisi Allah, hingga seseorang mampu menempati kedudukan yang paling dekat dengan wajah Allah. Beliau adalah Rasulullah SAW. Orang-orang yang mengikuti langkah beliau SAW akan menemukan kedudukan masing-masing di sisi Allah sebagai pengikut Rasulullah SAW.

Sebagian manusia menempuh langkah mengikuti Rasulullah SAW akan tetapi pada tahap tertentu mereka tidak lagi mengikuti langkah beliau SAW dan kitabullah sebagai penuntun, berpaling mengikuti sesuatu yang lain, maka perbuatan demikian dikatakan sebagai berpaling. Bila seseorang tidak berpaling, mereka akan bersaksi bahwa pemimpin mereka adalah Rasulullah SAW, tidak mencari amal selain yang menjadi bagian dari Rasulullah SAW dengan mengutamakan amal mengikuti yang lain. Bahkan bila seseorang telah mi’raj hingga menempati kursinya di hadapan Allah, ia akan bersaksi bahwa pemimpin dirinya adalah Rasulullah SAW, ia tidak duduk sendirian di hadapan Allah tanpa suatu washilah.

Berpaling dan Berharap yang Lain

Terdapat dua penyebab yang menjadikan seseorang tidak lagi mengharap rahmat Allah setelah memperoleh nikmat-Nya. Ada orang-orang yang berpaling (أَعْرَضَ) dan ada orang yang memilih selain yang ditentukan Allah ( نَأَىٰ بِجَانِبِهِ). Orang-orang yang berpaling menunjukkan kepada orang-orang yang tidak lagi menghadapkan wajah kepada Allah dengan arah yang benar. Sedangkan orang-orang yang memilih selain yang ditentukan Allah menunjuk kepada orang-orang yang memandang bahwa ada hal-hal lain yang lebih baik selain apa-apa yang ditentukan Allah bagi dirinya.

Dalam kehidupan dunia, seseorang belum menempati kursi dirinya di hadapan Allah. Bentuk persaksian itu hendaknya diwujudkan melalui bentuk-bentuk duniawi dirinya. Alquran dan sunnah merupakan bentuk-bentuk duniawi yang dihadirkan Allah bagi setiap pengikut Rasulullah SAW, maka persaksian itu hendaknya terwujud dalam bentuk berusaha mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang mengikuti selain tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dengan meninggalkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka ia telah berpaling. Orang yang berpaling adalah orang yang telah menemukan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetapi bersikap lebih memilih mengikuti tuntunan yang lain.

Berpalingnya seseorang dapat terjadi hingga pada orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Ada bentuk-bentuk karunia yang diperoleh oleh orang yang memperoleh nikmat Allah yang menjadikan diri mereka berbeda dengan orang-orang umumnya. Mungkin mereka tidak menampakkan, tetapi mereka mengetahui bahwa diri mereka berbeda karena ada beberapa karunia yang diberikan Allah. Sebenarnya, karunia demikian itupun merupakan ujian apakah mereka akan tetap mengikuti langkah Rasulullah SAW atau mereka akan mengikuti karunia yang diberikan kepada mereka. Bila seseorang memilih lebih mengikuti karunia itu, ia bisa berpaling. Mungkin ia menyangka karunia itu sepenuhnya kebenaran hingga suatu saat manakala Allah berkenan, ia akan menyadari langkahnya telah menyimpang dari Alquran dan langkah Rasulullah SAW. Bila tidak menyadari, ia akan terus melangkah hingga celaka. Karunia yang diberikan itu hendaknya digunakan untuk memahami tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bukan dijadikan tempat berpaling.

Sebagian lainnya, orang berpaling dari rahmat Allah dengan memilih ketentuan selain yang dikehendaki Allah bagi dirinya ( نَأَىٰ بِجَانِبِهِ), yaitu orang-orang yang mengetahui apa yang dikehendaki Allah bagi dirinya kemudian memilih sesuatu yang diinginkannya sendiri. Gambaran hal ini seperti masalah memilih jodoh setelah memperoleh petunjuknya. Manusia pada dasarnya diciptakan dari suatu nafs wahidah tertentu, dan dari nafs wahidah tertentu itu dijadikan nafs-nafs yang berpasangan. Dari nafs-nafs itu kemudian diciptakan jasmani yang merupakan manifestasi masing-masing manusia di dunia. Manusia harus bertaubat kepada Allah dari alam jasmaniah hingga kembali kepada Allah bersama dengan nafs dirinya. Nafs diri masing-masing adalah jalan kembali setiap manusia kepada Allah, atau dengan kata lain setiap manusia harus kembali kepada Allah melalui jalan pengenalan terhadap nafs dirinya. Orang yang mengenal nafs-nya merupakan orang yang mengenal rabb-nya.

Dalam jalan taubat itu orang-orang beriman memperoleh petunjuk jodoh. Petunjuk jodoh ini merupakan bentuk turunan pertama dari petunjuk untuk mengenal nafs wahidah, petunjuk turunan yang paling dekat dengan nafs wahidah. Bentuk-bentuk petunjuk lain merupakan turunan yang lebih jauh dari nafs wahidah. Bahkan jasmani masing-masing manusia merupakan wujud yang terbentuk setelah keberpasangan nafs terjadi, maka kedudukan jasmani masing-masing merupakan bentuk turunan yang lebih jauh daripada keberpasangan nafsnya. Mengenal nafs wahidah lebih mudah dilakukan melalui keberpasangan nafs daripada berusaha mengenali diri melalui jasmaniah dirinya. Dengan realitas demikian, memilih jodoh lain setelah memperoleh petunjuknya bisa menjadi contoh utama tindakan berpaling dari rahmat Allah dengan memilih ketentuan selain yang dikehendaki Allah bagi dirinya ( نَأَىٰ بِجَانِبِهِ).

Hal ini tidak membatasi kebolehan pernikahan yang dilakukan dengan berdasarkan rasa suka atau dijodohkan selama tidak mengingkari petunjuk. Seandainya seseorang dinikahkan dengan seorang fir’aun, ia tidaklah dikatakan berpaling dari rahmat Allah. Ketentuan ini berlaku atas diri yang menerima petunjuk, tidak berlaku untuk memaksa orang lain mengikuti petunjuknya tersebut. Bukan tidak mungkin petunjuk pada seseorang bukan merupakan petunjuk yang benar, terutama manakala suatu petunjuk disertai dengan hawa nafsu dan keinginan syahwatiah. Suatu petunjuk yang benar akan mengarahkan langkah seseorang menuju Allah, sedangkan petunjuk yang keliru akan menyimpangkan langkahnya, karenanya perlu diperhatikan dengan seksama kebenaran dari petunjuk yang diterima.

Seseorang yang memperoleh petunjuk yang benar hendaknya tidak menghindari petunjuknya untuk memilih yang lain dengan jalan apapun. Kadang seseorang membuat langkah tersamar untuk memperoleh keinginannya dan menghindar dari pilihan Allah. Misalnya mungkin seseorang menggunakan orang lain untuk menyebabkan dirinya terpisah dari jodoh petunjuknya. Hal itu termasuk perbuatan memilih selain yang dikehendaki Allah. Meminta orang lain untuk mencegah terjadinya perjodohan setelah memperoleh petunjuk, meminta orang lain memberi baginya jodoh lain, hingga sekadar tidak memberitahukan petunjuknya kepada walinya agar bisa memperoleh jodoh yang lain, hal itu termasuk contoh memilih selain yang dikehendaki Allah. Melibatkan orang lain untuk urusan demikian akan menambah masalah, bisa menularkan dosa kepada orang lain tanpa mengurangi dosa dirinya sendiri, dan akan mempersulit langkah manakala memperoleh masalah. Allah menetapkan suatu masalah tertentu yang akan menghadang orang yang memilih demikian.

Setiap orang harus berusaha menjauhkan diri dari sikap mengambang, harus berusaha untuk bersikap jelas memilih apa yang dikehendaki Allah dan menjelaskan sikap itu bila dibutuhkan. Kadangkala seseorang membutuhkan waktu untuk memahami pilihan Allah, maka hendaknya ia menghindari kecenderungan menolak petunjuk itu ketika berusaha memahaminya. Dalam proses demikian, tidak jarang seseorang mengalami keadaan rumit ketika ingin mengikuti petunjuk Allah hingga kemudian memunculkan kesimpulan yang salah menghindari petunjuk Allah dan menganggap tindakan menghindar itu tepat. Manakala suatu informasi yang jelas datang, hendaknya seseorang mempertimbangkan kembali bahwa tindakan itu salah. Bila kecenderungan menghindari tetap ada atau diikuti, seringkali keadaan akan menjadi bertambah rumit untuk kembali kepada petunjuk Allah.

Memilih selain pilihan Allah tidak hanya terkait jodoh. Sebenarnya Allah selalu mempunyai kehendak terhadap setiap manusia dalam setiap momen kehidupan mereka. Hanya saja kehidupan bumi merupakan bentuk kehidupan yang paling temaram, maka mungkin saja manusia tidak mengerti pilihan Allah bagi masing-masing. Pengetahuan terhadap kehendak Allah harus dibangun di atas keinginan bertauhid membina diri sesuai dengan kehendak Allah.

Bila Allah berkenan, orang-orang yang berpaling dan menginginkan hal selain yang dikehendaki Allah akan tertimpa suatu masalah agar mereka kembali kepada Allah melalui jalan yang benar. Masalah yang buruk itu sesuatu yang ditetapkan bagi mereka karena pilihan mereka, baik ditemui kelak di akhirat ataupun ketika hidup di dunia. Mereka akan mengalami kesulitan karena pilihan mereka sendiri. Manakala jalan kembali masih terbuka, hendaknya mereka kembali ke jalan Allah untuk menemukan jalan yang dimudahkan. Bila nikmat Allah itu telah hilang, ia harus mencari pencapaian terbaik yang dapat dilakukan. Bila tidak memperhatikan masalah itu, masalah yang akan terjadi atas mereka karena mengabaikan nikmat Allah akan sangat besar hingga mereka akan berputus asa. Perjalanan yang akan ditempuh selanjutnya akan semakin sulit.

Lebih Mengikuti Petunjuk

Ketika manusia memperoleh karunia nikmat Allah, terdapat tiga jenis manusa yang mungkin terwujud dari mereka. Ada orang-orang yang tetap berharap rahmat Allah yang diturunkan melalui Rasulullah SAW dan kitabullah Alquran, sebagian orang berpaling dengan mengikuti tuntunan yang lain mengesampingkan rahmat Allah yang dapat diperoleh melalui kitabullah dan sunnahh Rasulullah SAW, dan sebagian lain menginginkan sesuatu yang lain selain yang menjadi kehendak Allah atas dirinya.

Sebagai orang yang memperoleh nikmat Allah, mereka akan menjadi orang-orang yang mengetahui amal yang ditentukan bagi mereka. Akan tetapi sebenarnya ada perbedaan bobot amal-amal yang dilakukan ketiga jenis manusia demikian. Setiap orang akan berbuat sesuai dengan keadaan masing-masing.

﴾۴۸﴿قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS Al-Israa’ : 84)

Bagi orang yang tetap benar-benar mengharap rahmat Allah dengan kitabullah Alquran dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, Allah memerintahkan mereka untuk mengatakan tentang amal-amal mereka : " (baiklah), tiap-tiap orang (dari kita silakan) berbuat menurut keadaan masing-masing". Mereka sendiri akan tetap beramal untuk mengharap rahmat Allah yang tertinggi mengikuti Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, dan mempersilakan yang lain untuk beramal sesuai keadaan mereka masing-masing. Orang yang berpaling mengikuti tuntunan yang lain dipersilahkan beramal dengan keadaan mereka, dan orang yang menginginkan selain yang dikehendaki Allah silakan beramal dengan keadaan mereka. Bagi yang tetap berharap rahmat, mereka akan melakukan amal-amal dengan tetap mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak akan mengambil tuntunan yang lain tanpa mencari keterkaitannya dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Allah lebih mengetahui siapa di antara orang-orang itu yang jalannya paling mengikuti petunjuk Allah. Ketiga jenis manusia itu akan mengira diri mereka mengikuti petunjuk. Umat manusia umum mungkin akan sulit melihat perbedaan amal-amal di antara orang-orang yang sama-sama memperoleh nikmat Allah, sedangkan sebenarnya bobot amal mereka berbeda-beda sesuai dengan keadaan masing-masing yang berbeda-beda. Kadangkala umat manusia memandang terbalik dalam menilai bobot amal-amal orang yang memperoleh nikmat Allah. Mungkin muncul pula pertanyaan di antara mereka mengapa satu pihak harus berbeda dengan yang lain atau berselisih jalan sedangkan semuanya memperoleh nikmat Allah. Manusia mungkin akan mengalami kesulitan menilai amal-amal mereka, tetapi Allah lebih mengetahui siapa di antara mereka yang lebih mengikuti petunjuk Allah.

Sebenarnya tidak sulit bagi umat manusia untuk mengetahui pihak yang lebih mengikuti petunjuk Allah, yaitu orang-orang yang tetap mengharapkan rahmat Allah melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kesulitan manusia dalam hal itu adalah mengalahkan waham mereka sendiri. Orang yang berharap rahmat Allah adalah orang yang mencari urusannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, tidak mencari dari tuntunan yang lain mengalahkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mungkin saja mereka mencari tuntunan yang lain, tetapi hanya sebagai tambahan yang mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tidak mungkin bagi mereka meninggalkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk mengikuti tuntunan yang lain. Bila seseorang mendahulukan tuntunan yang lain mengalahkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka bukan orang yang tetap berharap rahmat Allah.

Suatu masalah akan menimpa orang-orang yang tidak lagi mengharapkan rahmat Allah melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Allah pasti akan menimpakan kepada mereka suatu masalah yang akan membuat mereka berputus asa, dan menyadari bahwa jalan terbaik adalah berharap rahmat melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Sebenarnya ada bagian amr Allah yang telah mereka tinggalkan karena sikap berpaling dan mengharap selain yang menjadi kehendak Allah sehingga memunculkan masalah itu. Amr yang mereka tinggalkan itu tetap akan menjadi tanggung jawab mereka, baik mereka kerjakan atau mereka tinggalkan. Ketika mereka meninggalkan, dampak dari amr yang ditinggalkan itu akan menimpa mereka. Perbuatan itu sebenarnya berdampak pula pada masyarakat, akan tetapi barangkali masyarakat tidak segera menyadari adanya potensi yang hilang atau munculnya potensi bahaya yang mengancam akibta perbuatan itu. Bila bertaubat, orang yang meninggalkan amr itu akan bisa melihat masalah yang mendatangi mereka karena amr yang mereka tinggalkan.

Tidak jarang kedua penyebab itu saling memperkuat satu dengan yang lain. Sikap seseorang berpaling bisa kemudian memperkuat keinginannya terhadap selain yang dikehendaki Allah, dan keinginannya terhadap selain yang dikehendaki Allah kemudian membuatnya berpaling. Atau bisa jadi seseorang yang berkeinginan terhadap selain yang dikehendaki Allah bersinergi dengan orang lain yang berpaling hingga kedua orang tersebut saling menguatkan satu dengan yang lain. Bila demikian, masalah yang akan menimpa akan menjadi besar dan penyesalan akan semakin besar manakala keduanya tidak kembali mengharap rahmat Allah melalui kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar