Pencarian

Selasa, 14 Mei 2024

Harapan Rasulullah SAW terhadap Kaum Mukminin

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.

Dalam seruannya, Rasulullah SAW tidaklah mempunyai suatu harapan terhadap upah dari umatnya kecuali upah berupa tumbuhnya rasa mawaddah dalam kedekatan (الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ). Itu adalah upah yang diharapkan Rasulullah SAW dari umatnya, dan tidak ada upah lain yang diharapkan Rasulullah SAW dari umatnya kecuali dalam bentuk mawaddah tersebut. Allah memberikan perintah kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan harapan upah dari umatnya tersebut.

﴾۳۲﴿ذٰلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
Itulah (keadaan) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah (wahai Muhammad) : "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kedekatan". Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS As-Syura : 23)

Upah merupakan balasan dari seseorang kepada orang yang telah memberikan keuntungan karena pekerjaan atau amal yang telah dilakukan. Sebenarnya Rasulullah SAW telah bekerja dan memberikan keuntungan yang sangat banyak kepada umat manusia dan alam semesta seluruhnya. Karena hal itu maka umat manusia hendaknya memberikan upah bagi pekerjaan yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW tidaklah mengharapkan upah dari umat beliau kecuali hanya dalam bentuk terbinanya rasa mawaddah dalam kedekatan (الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ). Manakala tidak terbentuk mawaddah dalam kedekatan, pada dasarnya umat manusia belum memberikan upah kepada Rasulullah SAW.

Kedekatan (الْقُرْبَىٰ) menunjukkan kedekatan seperti keluarga, yaitu kedekatan yang terjadi dengan adanya keserupaan antara satu orang dengan yang lain. Rasa mawaddah Rasulullah SAW akan diperoleh seseorang manakala ia membentuk akhlak serupa dengan akhlak beliau, meskipun hanya pada bagian yang diperuntukkan bagi dirinya. Demikian pula mawaddah yang terbentuk di antara orang-orang beriman akan tumbuh manakala terbentuk kewalian di antara mereka. Seorang isteri akan memperoleh rasa mawaddah dari suaminya manakala ia membentuk akhlaknya sebagai bagian dari suaminya. Ia memahami kehendak Allah bersama suaminya dalam urusan penghambaannya, tidak menentang suaminya untuk mengikuti bentuk penghambaan orang lain. Seorang beriman akan mempunyai rasa mawaddah terhadap orang-orang beriman yang memperoleh bagian dari dirinya melalui suatu perwalian.

Pokok dari tumbuhnya mawaddah itu adalah pemahaman umat terhadap tuntunan kitabullah Alquran untuk memperoleh keserupaan akhlak dengan akhlak Rasulullah SAW. Kitabullah Alquran merupakan akhlak Rasulullah SAW, dan orang yang memperoleh akhlak dari Alquran memperoleh keserupaan dengan akhlak Rasulullah SAW selama tidak dikotori dengan mengikuti langkah syaitan. Akhlak tidak hanya menunjuk kepada etika atau adab, tetapi termasuk dan terutama kekuatan akal dalam memahami kehendak Allah. Akal yang lurus ini merupakan faktor utama yang menentukan keserupaan akhlak seseorang dengan Rasulullah SAW.

Tatanan Di Kalangan Mukminin

Kewalian hendaknya dibentuk di antara kaum mukminin hingga terjadi perwalian antara orang beriman terhadap orang beriman lainnya agar tumbuh rasa mawaddah yang merata di kaum mukminin. Dalam kewalian demikian, akhlak seseorang dari bagian kitabullah Alquran hendaknya dijadikan materi perwalian. Hal ini tidak hanya berlaku terhadap kategori wali Allah secara khusus. Seseorang yang memahami bagian dirinya dari Alquran hendaknya dijadikan wali bagi kaum mukminin pada bagiannya tersebut. Umat tidak boleh mengabaikan atau meremehkan bagian Alquran yang ada di antara mereka. Kadangkala umat enggan menggunakan akalnya dan memilih mengikuti pendapat hawa nafsu mereka sendiri, maka mereka kehilangan manfaat Alquran yang besar yang diturunkan Allah melalui seseorang di antara mereka. Kemuliaan suatu umat akan tergantung pada manfaat kitabullah yang mereka syukuri, dan kehinaan umat akan menimpa sesuai dengan manfaat kitabullah yang mereka dustakan atau abaikan. Mungkin saja ada di kalangan umat yang merasa sebagai kaum terpilih tetapi sebenarnya mereka hanya mengikuti hawa nafsu mengabaikan kitabullah, tidak mampu melihat bahwa kemuliaan bagi mereka hanya berasal dari manfaat kitabullah yang mereka peroleh, sedangkan kehinaan menimpa umat karena sikap pendustaan dan pengabaian mereka.

Tidak jarang dijumpai umat bersikap berlebihan terhadap para wali Allah di antara mereka. Umat tidak boleh menjadikan wali-wali Allah yang ada di antara mereka sebagai tuhan selain Allah. Rasulullah SAW dijadikan Allah sebagai tauladan bagi seluruh alam semesta karena kesempurnaan pemahaman beliau SAW terhadap Alquran hingga tidak ada kesalahan sedikitpun di dalamnya. Makhluk yang lain hanya memperoleh bagian dari pemahaman Rasulullah SAW terhadap kitabullah Alquran, maka cukuplah manusia mengambil kewalian dari orang beriman lain pada bagiannya dari kitabullah tersebut. Bagian dari kitabullah itu merupakan keserupaan seseorang terhadap akhlak Rasulullah SAW yang memunculkan mawaddah pada Rasulullah SAW.

Bagi orang-orang yang mengetahui, ada hubungan struktural yang seharusnya dibentuk pada hubungan kewalian di antara orang-orang beriman berupa hubungan washilah. Tidak semua orang beriman mengenali hubungan washilah bagi dirinya, tetapi setiap orang beriman harus berusaha menemukan perwalian untuk mengenal urusan dari kitabullah bagi dirinya. Setiap orang yang mempunyai pemahaman dari kitabullah dapat diambil kewaliannya, bukan hanya dari para wali Allah dalam kategori khusus. Pemahaman dalam hal ini menunjuk pada tingkatan lebih intensif daripada mengetahui, ditandai dengan mengenal konteks tuntunan kitabullah dengan kauniyah. Para wali Allah biasanya mempunyai pengetahuan tentang hubungan washilah mereka terhadap wali Allah yang lain, sedangkan bagi kebanyakan orang beriman kewajiban mereka adalah mengikuti Rasulullah SAW tanpa detail tentang washilah kewalian dirinya. Secara populer, hal itu terdapat pada ungkapan : “tidak mengenal wali Allah kecuali para wali Allah”. Semakin banyak pengenalan diri seseorang, ia akan semakin mengenal pula hubungan dirinya dengan yang lain dalam konteks washilah.

Hubungan pengenalan para wali Allah sebenarnya membentuk suatu washilah berupa mawaddah dalam kedekatan (الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ). Gambaran dari struktur washilah ini dapat dilihat dari suatu ungkapan seorang ulama di tanah jawa tentang kewalian di tanah jawa berupa eka sapta. Istilah eka sapta tidak dapat digantikan dengan delapan walaupun jumlahnya sama, karena menunjukkan adanya struktur yang harus dipenuhi, di mana eka tersebut menjadi washilah bagi tujuh yang lain, dan tujuh yang lain tersebut mempunyai urusan yang saling berdekatan satu dengan yang lain. Kaum mukminin secara umum dapat mencari urusan diri mereka masing-masing dari delapan orang tersebut sesuai dengan kecenderungan diri atau jati diri masing-masing manakala telah mengenal jati dirinya.

Hubungan washilah demikian ditentukan lingkup keilmuan yang diberikan Allah. Lingkup ilmu dalam urusan ini tidak bisa dipandang dengan kacamata sederhana, sedangkan ketakwaan berada pada medan yang berbeda dari lingkup keilmuan. Washilah yang lebih tinggi mempunyai lingkup keilmuan lebih luas daripada yang harus mengambil ilmu kepada washilah tersebut, sedangkan orang yang mengikuti mempunyai lingkup keilmuan yang bersifat relatif lebih praktis daripada yang diikuti. Lingkup keilmuan yang lebih luas pada dasarnya mempunyai kedudukan lebih dekat kepada Allah, tetapi kadangkala harus berada di tempat yang jauh. Belum tentu orang yang berkedudukan lebih tinggi mempunyai ilmu pada tingkatan praktis seperti ilmu yang diberikan kepada orang yang mengikutinya, tetapi akan mengetahui kesalahan yang terjadi manakala orang yang mengikuti melakukan kesalahan. Setiap orang harus mentaati washilahnya baik ia memahami perintahnya atau tidak, kecuali ia mengetahui washilahnya menyimpang dari kitabullah.

Contoh kasus tentang hubungan washilah dan lingkup keilmuannya dapat dilihat pada seorang khalifah yang berkedudukan di bumi. Seorang khalifah bumi mungkin saja bisa lebih memahami urusan Allah berdasarkan kitabullah Alquran daripada para ulama yang bersifat langitan. Barangkali ia tidak mempunyai indera bathiniah sekuat ulama langitan, tetapi mungkin saja mengetahui urusan Allah lebih tepat manakala ia harus berurusan bersama para ulama. Hal itu menunjukkan bahwa ia mempunyai kedudukan tinggi. Khalifatullah Al-mahdi akan disertai para awliya lain yang berfungsi sebagai pemberi petunjuk karena kaidah demikian. Manakala seorang pemberi petunjuk kurang bertakwa, khalifah akan kehilangan sebagian petunjuk. Sekalipun misalnya seseorang harus berkedudukan jauh dari sumber cahaya, manakala ia ditentukan menjadi washilah maka ia adalah washilah. Para malaikat muqarrabun dan iblis harus mengambil washilah melalui khalifatullah Al-mahdi yang berkedudukan di bumi untuk menemukan jalan ibadahnya kepada Allah manakala diperintahkan. Sebelum diperintahkan, para malaikat bersujud kepada Allah secara langsung tanpa washilah. Demikian umat manusia akan menemukan suatu fase harus menemukan washilahnya manakala ia telah berada pada kedudukan tertentu dalam berjalan kembali kepada Allah.

Membina Hubungan di Kaum Mukminin

Pada dasarnya mencari washilah telah diperintahkan Allah kepada setiap orang beriman. Prinsip perwalian antara orang-orang beriman akan membantu seseorang dalam menemukan washilah yang sebenarnya. Seorang mukmin hendaknya mencari pengetahuan tentang kitabullah melalui orang lain yang lebih memahami, tidak hanya percaya pada perspektif diri sendiri dalam memahami agama. Ada ilmu-ilmu agama yang diturunkan melalui seseorang yang merupakan kandungan dari kitabullah Alquran, maka ilmu semacam ini merupakan ilmu yang paling utama untuk dipahami. Pemahaman yang dapat diterangkan seseorang tentang Alquran hendaknya dipikirkan dengan sebaik-baiknya hingga seseorang dapat memahami di atas landasan rahman dan rahim. Ada perkataan-perkataan berdasar alquran tetapi sebenarnya bukan penjelasan yang benar terhadap kandungan Alquran. Ilmu yang menjadikan seseorang gemar berdebat hendaknya dihindari, karena ilmu yang benar berfungsi untuk mengantarkan seorang hamba memperoleh jalan kembali kepada Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Washilah akan dikenali oleh orang-orang yang membangun nilai kehidupan mengikuti kitabullah Alquran. Manakala seseorang hidup terus berkubang di alam rendah tanpa keinginan mengenal nilai kebaikan, mereka tidak mengenali nilai-nilai yang lebih baik bagi mereka. Manakala seseorang ingin mengenal nilai kebenaran, maka ia akan mengenal kebenaran, dan mengetahui nilai kebenaran yang diberikan oleh orang lain. Setiap orang akan menghargai sesuatu sesuai dengan keadaan diri mereka. Orang-orang yang mengenal kebaikan akan menghargai nilai kebaikan. Pecinta dunia akan memberikan penghargaan terhadap apa-apa yang mereka anggap berharga, dan orang-orang yang berusaha mengenal kebenaran akan menghargai sesuai keadaan diri mereka. Hanya orang yang mengenal nilai Alquran dan sunnah Rasulullah SAW yang akan menghargai Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dengan penghargaan yang memadai.

Sebagian pencari kebenaran terhijab dengan hawa nafsu mereka, maka apa yang mereka cintai itu menunjukkan keadaan mereka yang sebenarnya, yang harus diukur dengan tuntunan kitabullah Alquran. Tingkat perhatian pengabaian dan pendustaan para manusia terhadap Alquran menunjukkan keadaan diri mereka dalam pandangan Allah. Manakala seseorang memperhatikan atau mengabaikan atau mendustakan tuntunan kitabullah Alquran, maka demikian itu kedudukan Allah bagi mereka dan kedudukan mereka di hadapan Allah. Seseorang tidak bisa mengatakan bahwa dirinya tunduk dan sungguh-sungguh memperhatikan perintah Allah sedangkan tuntunan firman-Nya dalam Alquran diabaikan. Ukuran yang lebih benar adalah perhatiannya terhadap kitabullah Alquran, sedangkan perasaan ketundukan kepada Allah itu hanya berasal dari hawa nafsu.

Manakala mencari kebenaran, suatu waham yang salah dapat menutup akal seseorang dari mengenali kebenaran, karenanya setiap orang harus bersikap hanif untuk selalu berusaha mengenali kebenaran yang lebih baik. Bila bersikap hanif, seseorang akan terus berjalan hingga mampu mengenali washilah yang sebenarnya bagi dirinya. Pencarian seseorang terhadap kandungan kitabullah akan mengantarkan mereka memahami kedudukan diri sendiri di dalam kitabullah hingga mengenal orang-orang lain yang bersama diri mereka. Dengan jalan itu seseorang kemudian akan mengenal washilah yang sebenarnya.

Terbinanya washilah di antara orang-orang beriman hingga tingkatan demikian merupakan bagian dari upah yang diharapkan oleh Rasulullah SAW berupa kedekatan (الْقُرْبَىٰ). dengan keadaan itu, akan tumbuh mawaddah di antara kaum mukminin yang akan melengkapi upah bagi beliau. Beliau SAW beramal dengan amal-amal beliau SAW agar umat manusia membentuk mawaddah di antara mereka dengan kedekatan, yaitu kedekatan masing-masing orang di antara umat dalam jihad mewujudkan amanah masing-masing dalam kitabullah Alquran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar