Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan. Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah.
Akhlak al-karimah pada diri Rasulullah SAW adalah Alquran. Beliau SAW merupakan makhluk yang terbentuk akhlaknya serupa dengan seluruh tuntunan Allah dalam kitabullah Alquran, mengetahui dengan akhlak diri beliau timbangan seluruh perkara di alam semesta sesuai dengan tuntunan kitabullah Alquran. Setiap kejadian dapat beliau ketahui timbangan kebenarannya secara tepat sesuai tuntunan firman Allah karena akhlak al-karimah yang terbentuk dalam diri beliau SAW mencapai derajat sempurna.
Orang-orang yang berkeinginan untuk mengikuti langkah beliau SAW hendaknya membentuk akhlak mengikuti akhlak Rasulullah SAW, maka ia akan mengetahui kandungan kebenaran yang disebut di dalam kitabullah Alquran dan terpancar pada kauniyah dirinya. Akhlak qur’ani, ayat kitabullah Alquran dan ayat kauniyah merupakan satu kesatuan ayat Allah yang menjelaskan di dalam orang-orang yang diberi ilmu. Ilmu yang diterima oleh seorang hamba dalam bentuk demikian merupakan pengetahuan kebenaran (ilmu hakikat/al-haq) yang diperoleh karena akhlak al-karimah, turunan dari ilmu Rasulullah SAW yang diperoleh karena akhlak al-karimah yang sempurna.
Pengetahuan hakikat (al-haq) demikian itulah yang kelak akan menjadi bobot timbangan setiap hamba di hadapan Allah. Suatu amal akan menjadi berat timbangannya bila disertai pengetahuan hakikat (al-haqq) yang banyak, dan menjadi ringan timbangannya bila tidak disertai dengan pengetahuan hakikat. Amal kebaikan sebesar gunung yang dilakukan oleh orang yang musyrik dalam melakukan amalnya tidak akan mendatangkan bobot sedikitpun, sebaliknya suatu amal yang tampak ringan di mata manusia bisa menjadi amal yang sangat berat bobot timbangannya karena pengetahuan tentang hakikat yang besar. Berat ringannya timbangan seorang hamba tergantung pada pengetahuannya terhadap kebenaran, tidak dapat dinilai dari besar kecil amalnya.
﴾۸﴿وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (al-haq), maka barangsiapa berat timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Al-A’raaf : 8)
Bobot kebenaran yang dilakukan oleh setiap orang dan suatu kaum akan dikisahkan kembali kelak ketika manusia telah berada di hadapan Allah. Bagi sebagian orang atau kaum yang dzalim dalam tingkatan tertentu, suatu bobot kebenaran yang mereka ingkari dapat mereka lihat manakala mereka tertimpa oleh adzab Allah karena kedzaliman mereka. Orang yang lebih ringan kedzalimannya akan melihat kesalahan mereka lebih awal dalam mengingkari kebenaran sehingga adzab yang menimpa menjadi ringan atau adzab terhindar dari mereka, dan orang yang lebih bodoh akan tetap bertahan pada kedzaliman mereka hingga masa yang lebih lama, bahkan mungkin hingga ketika kebenaran yang sampai kepada mereka dikisahkan di hadapan Allah.
Hakikat Sebagai Kebenaran dari Sisi Allah
Haqiqat itu adalah kebenaran yang diturunkan Allah kepada manusia. Alquran adalah kebenaran mutlak yang tidak ada kesalahan di dalamnya, dan Rasulullah SAW merupakan insan yang mewujudkan kebenaran hingga alam dunia tanpa kesalahan. Orang-orang yang mengikuti tuntunan Alquran dan langkah beliau SAW akan memperoleh bagian dari hakikat yang menjadi bobot bagi timbangan kebenaran di hadapan Allah kelak. Banyak kebenaran yang diturunkan kepada makhluk lain sebagai turunan dari kebenaran Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, akan tetapi tidak semua yang ada pada makhluk lain tersebut merupakan kebenaran. Umat manusia dapat mengambil pengajaran kebenaran dari orang-orang lainnya selama selaras dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.
﴾۳﴿اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti wali-wali selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya) (QS Al-A’raaf : 3)
Allah memerintahkan orang beriman untuk mengikuti apa yang diturunkan Allah kepada mereka, dan melarang orang beriman untuk mengikuti wali-wali selain Allah. Perintah itu juga berlaku di alam dunia di mana kebenaran dan kebathilan bercampur-campur, bahkan di mana kitab suci pun kemudian diberi campuran oleh makhluk-makhluk yang durhaka dan tidak bertakwa. Perintah demikian akan menjadikan orang memperoleh pelajaran, akan tetapi hanya sedikit orang yang memperoleh pelajaran. Orang yang memperoleh pelajaran adalah orang-orang yang dapat memahami kebenaran yang diturunkan Allah di antara kebenaran dan kebathilan yang bercampur-campur di alam dunia. Maha Suci Allah telah menurunkan kitabullah Alquran dan mengutus Rasulullah SAW sebagai pemberi penjelasan terhadap kitabullah Alquran, yang tidak ada kesalahan atau campuran kesalahan sedikitpun di dalamnya, maka manusia memperoleh landasan untuk menilai kebenaran segala hal yang diturunkan Allah.
Larangan mengikuti wali selain Allah adalah menjadikan suatu makhluk sebagai wali secara keliru tanpa mempunyai landasan kebenaran dari Allah. Larangan itu tidak melarang manusia untuk mengambil wali yang benar. Menjadikan Rasulullah SAW sebagai wali tidak membuat seseorang tergolong orang yang menjadikan selain Allah sebagai wali. Demikian pula menjadikan para wali Allah dan orang-orang beriman sebagai wali tidak menjadikan seseorang termasuk golongan yang mengikuti wali selain Allah, selama kewalian itu dilakukan dalam landasan kebenaran yang jelas dari Allah. Bahkan seseorang tidak bisa menjadikan Allah sebagai wali tanpa menjadikan Rasulullah SAW sebagai wali. Seseorang tergolong orang kafir manakala mendustakan Rasulullah SAW. Demikian pula dalam beberapa kasus pendustaan terhadap kebenaran yang disampaikan oleh manusia termasuk dalam sikap kafir. Setiap orang harus mempunyai landasan yang tepat dalam mengambil kewalian.
Alquran dan sunnah Rasulullah SAW adalah landasan yang benar terhadap kewalian seseorang kepada Allah. Manakala mengambil kewalian dari selain keduanya, hendaknya setiap orang memperhatikan kesesuaian kewaliannya dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. bahkan ketika mengikuti kewalian terhadap wali Allah, setiap orang memperhatikan kewaliannya berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Seorang wali Allah akan berada pada kewalian Allah ketika mengajarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, maka pengikutnya harus memperhatikan pengajaran itu. Mungkin suatu saat seorang wali Allah mengajarkan suatu kebenaran tanpa mengkaitkan dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah secara langsung, maka hendaknya para murid mencari landasannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW secara mandiri.
Kewalian yang utama dari seorang wali Allah adalah pengajarannya terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan pada dasarnya mereka tidak ingin dilihat kewaliannya pada masalah selain itu. Wali Allah benar-benar hanya akan berusaha menunjukkan manusia kepada hakikat yang ada, baik ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW ataupun ayat yang terhampar di alam kauniyah mereka. Kadangkala manusia terlalu takjub dengan karunia yang diturunkan kepada wali Allah sedangkan sang wali tidak ingin menunjukkan karunia itu karena bisa menjadikan manusia mengambil kewalian kepada selain Allah. Orang yang suka memperlihatkan karunia Allah kepada manusia akan cenderung mudah tergelincir. Wali Allah hanya akan menunjukkan keajaiban kepada manusia yang lemah akalnya, dan ia harus berjuang keras ketika itu dengan melawan syaitan yang sangat kuat karena syaitan merupakan pemuja keajaiban Allah.
Ketika manusia memandang makhluk sebagai wali tanpa suatu landasan dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW maka mereka mengambil wali selain Allah. Kewalian seseorang terhadap wali Allah hanya berada pada wilayah pengetahuan orang itu terhadap urusan dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kewalian yang lebih dari itu hanya merupakan kewalian semu tanpa landasan, bukan kewalian yang sebenarnya. Sebagian kewalian semu merupakan kewalian kepada selain Allah. Bila kewalian seseorang terhadap wali Allah masih berada pada wilayah abu-abu, ia harus berusaha memperjelas dengan berusaha memahami pengajaran walinya berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila tidak, ia akan terjatuh mengambil kewalian kepada selain Allah atau justru menjadikan wali mereka sebagai tuhan selain Allah.
Manakala manusia menganggap segala sesuatu yang muncul dari seseorang tertentu sebagai perwujudan suatu kebenaran tanpa (atau tanpa merasa perlu) mengetahui landasan hakikat itu dari tuntunan kitabullah, mereka telah mengambil orang tersebut sebagai wali selain Allah. Hal demikian tidak dibolehkan bagi umat islam. Sikap demikian tidak jarang (biasanya) diikuti dengan sikap tidak mengenal (atau tidak mau mendengar) pembacaan yang benar atas hakikat sesuatu yang terjadi di alam kauniyah di sekitar mereka, menyingkirkan akal mereka untuk memahami kehendak Allah. Karena sikap demikian maka mereka kehilangan bagian dari akal-akal yang seharusnya diperoleh. Bila sikap demikian dilakukan hingga menghalalkan apa yang diharamkan Allah atau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah karena mengikuti wali mereka, maka mereka telah menjadikan wali mereka sebagai tuhan selain Allah.
Suatu pemahaman hakikat akan diperoleh manakala seseorang mempunyai pengetahuan terhadap ayat Allah yang terhampar pada kauniyah mereka sesuai dengan ayat Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Mereka akan memuji Allah karena hakikat yang tersingkap, dan bersujud kepada Allah untuk mengikuti kehendak Allah yang tersingkap kepada mereka melalui ayat Allah. Kadangkala orang menghadirkan ayat Allah tetapi tidak mengandung hakikat di dalamnya atau justru hanya sebagai alat untuk memanipulasi manusia sehingga manusia yang mendengar tidak bertasbih dan bersujud dan justru melampiaskan hawa nafsu saja. Kadangkala manusia yang diseru tidak memahami hakikat yang disampaikan orang lain sehingga mereka tidak bertasbih dan bersujud terhadap ayat Allah. Suatu hakikat akan terbuka hingga seseorang memahami makna ayat Allah bagi nafs mereka.
Contoh Kasus
Suatu hakikat akan membuat seseorang mengetahui akar masalah dari suatu fenomena yang terjadi pada kauniyah mereka, dan mengetahui jalan keluar paling baik berdasar petunjuk Allah. Setiap orang mungkin memahami suatu hakikat dalam bentuk yang berbeda-beda akan tetapi seluruhnya terhubung pada kehendak Allah Yang Maha Esa. Seorang hamba mungkin memahami suatu hakikat dalam ayat tertentu, dan hamba yang lain memahami suatu hakikat dari ayat yang lain. Atau boleh jadi beberapa orang memahami suatu hakikat berdasarkan ayat kitabullah yang sama tetapi pemahaman keduanya berbeda dan saling melengkapi.
Suatu hakikat tidak hanya berupa sesuatu yang bersifat ruhani. Sangat banyak hakikat yang merupakan penjelasan operasional di tingkat jasmaniah duniawi, dan lingkup hakikat itu mencakup hal yang komprehensif yang tidak dapat dilihat dengan logika biasa manusia. Sekalipun bersifat operasional duniawi, suatu hakikat akan menjadikan orang memahami hingga tingkat ruhani. Berikut ini contoh ayat yang terkait operasional di tingkat duniawi :
﴾۲۰۱﴿وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan atas kerajaan Sulaiman, padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi syaitan-syaitan lah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan (mengajarkan) apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka (syaitan) mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan itu mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (syaitan) tidak memberi mudharat dengan kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka (manusia) mempelajari sesuatu yang mendatangkan mudharat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa barangsiapa yang membeli ilmu itu, tiadalah baginya akhlak demikian di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan ilmu itu, kalau mereka mengetahui. (QS Al-Baqarah : 102)
Ayat di atas merupakan penjelasan atas kauniyah yang dapat dilihat pada jaman sekarang terkait dengan bangsa Israel yang mengikuti bacaan syaitan tentang suatu kerajaan yang harus mereka bentuk. Dewasa ini terlihat dengan jelas bahwa bangsa Israel bertindak mengikuti petunjuk syaitan menghancurkan umat manusia untuk kerajaan yang akan mereka bentuk. Sepak terjang bangsa Israel itu sebenarnya terkait dengan gerakan-gerakan lain yang bersifat syaitaniah yang terjadi di dunia.
Sihir, ilmu Harut dan Marut dan rusaknya pernikahan merupakan sebagian kunci gerakan syaitan bersama bangsa Israel membentuk negara Babilon yang dirumuskan oleh syaitan. Allah telah menunjukkan kepada umat islam kunci-kunci gerakan syaitan bersama bangsa Israel terhadap umat manusia, maka seharusnya umat islam melakukan langkah-langkah sesuai yang difirmankan Allah. Kunci-kunci itu menunjukkan daya dan upaya syaitan merusak umat manusia dari inti manusia hingga tingkatan persepsi-persepsi duniawi, dari perusakan nafs wahidah sebagai inti, pembentukan akhlak mulia semu hingga tipuan terhadap persepsi manusia. Upaya syaitan beserta pengikutnya demikian harus diimbangi insan dengan upaya pembinaan manusia secara fundamental, berupa pembinaan nafs wahidah hingga akal yang mampu mempersepsi fenomena kauniyah selaras hakikatnya secara tepat.
Orang yang memperhatikan petunjuk Allah tersebut dan memahami hakikatnya akan memperoleh pengetahuan hakikat yang sangat banyak dan akan menjadi insan yang berakal kuat. Mereka akan memberi manfaat yang sangat besar bagi umat manusia. Akan tetapi bagi orang kebanyakan, mereka bisa saja tampak bagaikan orang-orang yang keblinger berpikir tidak semestinya, karena manusia kebanyakan tidak mengetahui hubungan amalnya dengan masalah yang terjadi. Berurusan dengan sihir dan ilmu Harut Marut akan membuat seseorang tampak bagaikan orang yang tidak mempunyai pikiran dan mengada-ada. Tidak terbatas demikian, manakala orang yang mengenal hakikat berusaha menegakkan sendi-sendi rumah tangga sebagai sendi bangsa, bisa saja rumah tangganya sendiri dibuat buntung oleh syaitan dan ia kehilangan hak di masyarakat untuk membina rumah tangga yang baik sesuai petunjuk Allah. Maka ia harus berusaha bagi bangsanya dari keadaan minus. Hal-hal demikian bisa menjadi gambaran warna kehidupan dan tantangan orang yang ingin berjuang untuk merealisasikan wujud dari hakikat yang dikenalnya.
Seluruh perbuatan yang membantu atau melancarkan upaya mendirikan negara kufur itu termasuk membantu syaitan, baik sengaja ataupun karena terjebak tipuan syaitan. Ekstrimnya, bukan tidak mungkin seseorang membantu syaitan berdasarkan sesuatu yang dianggap sebagai petunjuk, sedangkan petunjuk itu sangat merusak kehidupan umat manusia. Untuk mengurangi kasus demikian, setiap orang harus berkeinginan untuk mengenal Allah Ar-Rahman Ar-rahim dalam kehidupannya. Turunan pertama dari Ar-Rahman di alam semesta ini adalah kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Petunjuk dan amal shalih yang harus diwujudkan seseorang hendaknya merupakan realisasi turunan dari tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap petunjuk yang diterima seseorang hendaknya ditimbang kesesuaiannya dengan tuntunan kitabullah Alquran. Bila suatu petunjuk diyakini kebenarannya tanpa timbangan kebenaran, petunjuk itu bisa saja bersifat merusak dengan kerusakan yang sangat besar. Orang-orang yang berusaha berdasar pengenalan suatu hakikat dari ayat Allah tidak boleh disingkirkan dengan petunjuk tanpa menimbangnya dengan hakikat yang menyertai petunjuk itu.
Hakikat merupakan bobot yang menentukan nilai manusia di hadapan Allah, bersifat mutlak sampai ke hadapan Allah karena terhubung langsung dengan firman Allah. Sebenarnya bobot manfaat amal bagi umat manusia dan alam semesta juga ditentukan oleh hakikat, akan tetapi manfaat itu bisa tereliminir oleh sikap manusia terhadap hakikat itu. Suatu petunjuk tidak bersifat mutlak di hadapan Allah, karena suatu petunjuk bisa bernilai salah, temporer, atau benar, berbeda dengan hakikat yang terhubung langsung dengan firman Allah. Alih-alih menjadi bobot di hadapan Allah, bisa saja suatu petunjuk kepada seseorang justru akan menjadi beban yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Orang yang memperoleh pengetahuan tentang suatu hakikat akan meyakini bahwa Allah telah menjelaskan alhaqq. Orang yang menerima petunjuk hendaknya memanfaatkan petunjuk itu untuk memperoleh pengetahuan hakikat, tidak disalahgunakan untuk yang lain, karena bobot manusia di hadapan Allah adalah hakikat yang diketahuinya. Atau bentuk lainnya, suatu petunjuk hendaknya muncul di atas suatu pemahaman terhadap hakikat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar