Pencarian

Selasa, 12 Agustus 2025

Beriman Terhadap Nikmat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dengan hati-hati dan berdisiplin. Banyak hal dapat membelokkan langkah seseorang dalam mengikuti Rasulullah SAW apabila tidak berhati-hati, baik pada masa awal melangkah ataupun manakala telah jauh mengikuti langkah Rasulullah SAW. Selain akan menjumpai shirat al-mustaqim, mungkin pula seseorang akan menjumpai banyak hal-hal bathil ketika melangkah.

﴾۷۶﴿أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ
Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah haram yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka apakah mereka beriman kepada yang bathil dan kufur terhadap nikmat Allah? (QS Al-Ankabuut : 67)

Ayat di atas bercerita secara khusus tentang orang-orang yang tiba di tanah haram bagi diri mereka. Dalam perjalanan mengikuti millah nabi Ibrahim a.s dan sunnah Rasulullah SAW, tibanya seseorang di tanah haram menunjukkan pada tibanya seseorang pada fase pengenalan jati diri penciptaannya. Seseorang mengenal untuk apa dirinya diciptakan dan harus menetap pada amal-amal yang ditentukan bagi dirinya. Ia mengenal ayat-ayat Allah pada kauniyah dirinya sesuai dengan tuntunan ayat kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan mengetahui kedudukan dirinya dalam Al-jamaah dalam melaksanakan amr jami’ Rasulullah SAW. Mereka itu adalah orang yang tiba di tanah haram bagi diri mereka. Tidak ada yang bisa menggantikan kedudukan diri mereka karena amal-amal bagi mereka itu telah ditentukan secara khusus.

Sebenarnya manakala seseorang tiba di tanah haram dirinya, akan banyak hal terbuka kepada dirinya baik yang haq maupun yang bathil. Segala sesuatu yang haq akan mempunyai hubungan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW baik secara langsung ataupun terhubung melalui hubungan yang rumit. Orang yang dekat kedudukannya dengan Rasulullah SAW mungkin akan melihat hubungan langsung pengetahuan hakikat yang terbuka kepada dirinya dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Amal yang harus ia tunaikan tercantum secara jelas dalam kitabullah Alquran tanpa perlu pembenaran dari pihak lainnya. Dalam kedudukan yang agak jauh, seseorang mungkin perlu pembenaran dari pihak lain, misalnya dari pihak yang perlu ditolong dalam urusan pelaksanaan amr jami’ Rasulullah SAW. Seseorang yang menemukan cara membuat senjata yang efektif mungkin harus meminta persetujuan dari wasilahnya sebelum membuat senjata agar pembuatan senjata dapat menempati kedudukan yang tepat dalam urusan jihad menolong Allah. Banyak kemungkinan bahaya yang timbul karena senjata yang dibuat tanpa persetujuan washilah.

Banyak hal yang haq dan bathil dapat terbuka pada seseorang manakala mereka tiba pada tanah haram yang ditetapkan bagi diri mereka. Apabila seseorang tidak memperhatikan kebenaran dan kebathilan yang terbuka kepada dirinya, syaitan akan bermain dalam amalnya. Seseorang akan terjatuh pada keimanan terhadap yang bathil dan kekufuran terhadap nikmat Allah. Syaitan mungkin saja ikut membukakan kepada diri mereka hal-hal bathil yang harus diikuti dan menutup pandangan mereka dari nikmat Allah yang harus ditunaikan untuk menemukan shirat almustaqim. Sangat banyak cara yang bisa dipakai syaitan untuk menjadikan seseorang beriman terhadap hal yang bathil dan kufur terhadap nikmat Allah apabila seseorang tidak memperhatikan nikmat Allah dan tidak menimbang kebathilan dalam urusan mereka. Mungkin saja syaitan hadir sebagai thaghut menjadikan dirinya tuhan bagi seseorang dalam melaksanakan amal-amal sedemikian menyeretnya dan manusia yang mengikutinya dari cahaya menuju kegelapan.

Nikmat Allah merupakan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah bagi setiap hamba-Nya. Orang yang memperoleh nikmat Allah mengetahui ketentuan-ketentuan yang diberikan Allah bagi dirinya termasuk jati diri penciptaannya ataupun ketetapan keadaan kauniyah yang dihadirkan Allah, dan ia berusaha untuk beramal sesuai dengan ketentuan-ketentuan tersebut. Ketentuan-ketentuan Allah bagi orang yang memperoleh nikmat Allah itu berupa ketentuan yang tercantum dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala seseorang menyangka mengetahui ketentuan Allah bagi dirinya tetapi tidak mengetahui tuntunan kitabullah Alquran tentang ketentuan itu, maka pengetahuan itu bukan suatu pengetahuan yang kokoh. Mungkin pengetahuannya benar atau mungkin pula keliru. Nikmat Allah yang benar adalah berupa pengetahuan tentang ketentuan Allah yang mempunyai landasan dalam tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW.

Ketentuan demikian diturunkan sebagai bagian pada suatu urusan Al-jamaah. Mustahil bagi seseorang mengenal dengan benar ketentuan Allah melalui pemisahan diri dari al-jamaah. Seseorang yang memperoleh nikmat Allah setidaknya mengetahui urusan bagi dirinya sebagai bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW. Keadaan itu seringkali akan lebih diperkuat dengan pengenalan terhadap washilah dirinya kepada Rasulullah SAW dan pengenalan terhadap sahabat-sahabatnya. Ketika seseorang berbuat durhaka terhadap washilah yang benar, ia tidak mungkin mengenal dengan benar ketentuan Allah bagi dirinya. Benar atau salahnya para pihak ditentukan dari ketentuan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan dari derajat masing-masing pihak atau dari pendapat diri masing-masing. Seorang washilah mungkin saja berbuat salah tidak berpegang pada tuntunan yang benar dan itu merupakan tanggung jawab dirinya. Manakala seorang washilah berbuat benar sesuai tuntunan sedangkan pengikutnya durhaka, para pengikutnya tidak akan mengenal ketentuan Allah dengan benar.

Mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW

Bagi para pencari kebenaran, para washilah akan sangat membantu langkah dalam mengikuti Rasulullah SAW apabila disertai dengan usaha memahami tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Hal pokok yang menjadikan para pengikut tumbuh adalah kegemaran mereka terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, karena keduanya merupakan benih dari kalimah thayibah yang harus tumbuh dalam diri para pengikut Rasulullah SAW. Tanpa suatu keinginan untuk memahami dan beramal dengan tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, tidak ada benih yang dapat ditumbuhkan sekalipun lahan untuknya selalu diolah dengan sebaik-baiknya. Manakala tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW ditinggalkan, para washilah itu tidak akan mampu memberikan pemahaman apapun. Mungkin mereka juga tidak mau memberikan kecuali peringatan-peringatan.

Pengikut Rasulullah SAW hendaknya menempatkan prioritas utama perhatiannya terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan kemudian mencari dan mengikuti washilah yang dapat mengajarkan tuntunan itu dengan sebaik-baiknya. Banyak pengikut Rasulullah SAW salah menempatkan prioritas dalam urusan ini dan menjadikan perhatian terhadap washilah lebih tinggi daripada perhatian terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Banyak madlarat pada cara demikian. Sebenarnya banyak orang yang menghafalkan kitabullah tanpa memahaminya, sedangkan kitabullah itu digunakan untuk mengaku bahwa diri mereka adalah ulama yang seharusnya diikuti umat manusia. Mereka tidak memahami nilai-nilai kebaikan dalam tuntunan kitabullah. Orang-orang musyrik sangat menyukai mereka dan memberikan bantuan dengan cara yang tidak terlihat atau cara yang indah agar umat Rasulullah SAW mengikuti jalan mereka dan menjadi lemah dalam memahami tuntunan kitabullah. Kesalahan dalam menempatkan prioritas perhatian bisa mendatangkan bahaya bagi umat Rasulullah SAW.

Termasuk bahaya yang dapat timbul dari salah menempatkan prioritas demikian terjadi manakala seseorang yang tiba di tanah haramnya lebih beriman terhadap hal yang bathil dan kufur terhadap nikmat Allah. Skala bahaya yang bisa menimpa umat karena peristiwa demikian lebih tinggi dibandingkan dengan kesalahan mengikuti orang bodoh. Mungkin kesalahan demikian hanya berpengaruh pada masyarakat yang berjumlah tidak besar tetapi merupakan golongan terbaik. Kadangkala umat merasa takjub dengan kedudukan seseorang di antara mereka hingga terlupa untuk lebih memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala ada orang lain yang menyeru untuk lebih memperhatikan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk memahami keadaan dan melahirkan amal-amal, mereka mengabaikan seruan itu karena lebih memilih mengikuti kehebatan orang yang telah sampai di tanah haramnya. Mereka tidak bisa memahami ayat kauniyah dan kitabullah dengan benar karena salah menempatkan prioritas perhatian terhadap tuntunan mereka.

Bila umat menempatkan perhatian terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sebagai tuntunan utama, berbagai masalah yang mungkin terjadi di antara mereka tidak menimbulkan bahaya yang besar. Musuh tidak dapat melemahkan mereka dan mereka tidak menyimpang dari kehendak Allah. Apabila salah seorang di antara mereka menyimpang dan tidak mau menempuh jalan yang lurus, ia akan menyimpang sendiri tanpa menyimpangkan yang lain. Bila tidak demikian, umat akan menyimpang dari jalan lurus beramai-ramai manakala seseorang di antara mereka menyimpang. Sayangnya mungkin kebanyakan orang islam tidak memprioritaskan perhatian terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Memprioritaskan perhatian terhadap kitabullah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Setiap pembacaan kitabullah yang tepat hendaknya diperhatikan kebenarannya tidak mengabaikannya sekalipun banyak orang mencemooh. Mencemooh pembacaan Alquran yang tepat akan menjadikan manusia bodoh terkurung dalam waham kebenaran. Hal demikian pasti melibatkan syaitan yang ingin menjadikan manusia bersikap semau sendiri, bodoh dan menyimpang dalam memahami kehendak Allah. Para pencemooh demikian sebenarnya mengikuti kebodohan dirinya sendiri walaupun mungkin tampak terpandang di antara manusia. Mungkin seseorang perlu waktu berpikir untuk mengikuti kebenaran, tetapi hal demikian hendaknya tidak berlebihan hingga bersikap mencemooh. Apabila telah mempunyai keyakinan tentang kebenarannya, hendaknya ia bersegera mengikuti langkah atau ia akan digoyahkan lagi oleh syaitan.

Kebenaran dan Pemakmuran

Dalam proses pemakmuran, keimanan terhadap hal yang bathil dan kufur terhadap nikmat Allah akan menghambat keberhasilan proses yang dilakukan. Hal ini terkait dengan keterhubungan langkah yang ditempuh dengan hakikat dari sisi Allah. Pemakmuran akan terjadi apabila manusia mengalirkan khazanah dari sisi Allah hingga terwujud ke alam dunia. Pengaliran khazanah demikian itu merupakan fungsi manusia sebagai khalifah. Peran demikian tidak boleh tersimpangkan tergantikan dengan pengaliran kebathilan dari alam yang tinggi ke alam dunia karena justru akan merusak bumi dan proses pemakmuran di bumi. Proses demikian sebenarnya memutuskan pengaliran khazanah dari sisi Allah bagi alam dunia.

Proses pengaliran khazanah dari sisi Allah dapat dilakukan dengan baik oleh manusia melalui proses al-jamaah berupa terwujudnya hubungan antara satu orang beriman dengan orang beriman lain sesuai dengan urusan masing-masing yang dikehendaki Allah. Manakala seorang beriman hanya berusaha sendirian tanpa mengenal sahabatnya yang lain yang juga berusaha mewujudkan kehendak Allah dengan benar, tidak akan diperoleh hasil yang baik dari usaha mereka, atau dalam tingkat tertentu bisa saja tidak ada hasil yang bisa diperoleh dari usaha mereka sendiri-sendiri. Pada keberjamaahan di tingkatan pernikahan misalnya, nabi Nuh a.s dan nabi Luth a.s tidak bisa memberikan hasil pemakmuran bumi secara memadai dan justru mendatangkan adzab karena kedurhakaan isteri masing-masing. Pernikahan merupakan bentuk inti keberjamaahan bagi setiap mukmin yang akan menentukan terbentuknya lingkar-lingkar keberjamaahan lebih luas bagi diri mereka yang akan membangkitkan pemakmuran lebih besar bagi dunia.

Pemakmuran bumi akan terwujud apabila seseorang yang mengenal hakikat dari sisi Allah membentuk jamaah bersama mukminin lain. Mukminin lain akan dapat mengikuti atau merasakan hakikat yang dikenal oleh mukminin tersebut. Apabila pembentukan jamaah itu terpotong, akan terpotong pula pengaliran dan proses pemakmuran di bumi sesuai dengan tingkat keterpotongan aljamaah yang harus terbentuk. Bila terpotong pada tingkatan pernikahan, pengaliran pemakmuran melalui orang itu akan terpotong seluruhnya. Semakin banyak orang yang bersama atau mengikuti, akan semakin besar hasil yang dapat diwujudkan, yaitu bila masing-masing berusaha mewujudkan firman Allah. Apabila jamaah yang mengikuti tidak berusaha mengenal hakikat dari sisi Allah yang disediakan bagi mereka, pemakmuran yang terjadi hanya akan mengalir sedikit saja sesuai dengan hakikat yang dikenal oleh orang yang mengenalnya. Apabila setiap orang berusaha mengenali hakikat yang disediakan bagi diri mereka, pemakmuran itu akan mengalir deras sesuai dengan hakikat yang dialirkan. Hal itu tetap berlaku sekalipun seluruhnya hanya berusaha mewujudkan satu ayat yang sama.

Hakikat adalah kebenaran di sisi Allah yang diperkenalkan kepada makhluk melalui tuntunan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Ada banyak tingkatan kebenaran di alam semesta ini, dari realitas yang benar di alam dunia hingga kebenaran yang ada di sisi Allah. Sangat banyak kebenaran yang ada di antara realitas alam dunia hingga sisi Allah, bukan hanya kebenaran pada keduanya saja. Permen yang manis adalah kebenaran, frekuensi suatu dawai adalah kebenaran, malaikat penjaga merupakan kebenaran, dan firman-firman Allah dalam Alquran merupakan kebenaran yang dapat menjadi materi pemakmuran. Di antara semua kebenaran, firman Allah merupakan bentuk kebenaran paling tinggi dan paling penting diperhatikan. Pengenalan seseorang terhadap kandungan ayat dalam kitabullah Alquran merupakan pengetahuan hakikat, dan sebenarnya pengetahuan demikian merupakan pengetahuan terhadap urusan paling penting.

Keimanan terhadap yang bathil dan kufur terhadap nikmat Allah merupakan satu jenis penyebab terpotongnya suatu sumber pengaliran hakikat dari sisi Allah, atau tercemarnya hakikat dari sisi Allah. Seseorang yang beriman kepada yang bathil akan mengubah sumber dari khazanah Allah menuju kebathilan, dan bisa jadi ia memotong pula pengaliran khazanah melalui jalur yang lain karena keingkaran terhadap nikmat Allah melalui orang lain sehingga tidak terwujud pemakmuran bumi berdasarkan khazanah di sisi Allah. Manakala suatu masyarakat berkembang semakin buruk, itu bisa menjadi tanda bahwa khazanah dari sisi Allah tidak mengalir kepada mereka. Setiap pengaliran khazanah dari sisi Allah akan mendatangkan perbaikan di bumi, adapun munculnya keburukan yang menyertai itu berbentuk perlawanan dari alam yang kurang baik. Keimanan terhadap yang bathil akan memunculkan keburukan internal pada masyarakat yang mungkin sebelumnya baik, sedangkan alam syaitan mungkin saja justru mendukung melancarkan perkembangan masyarakat menuju keburukannya tidak mendatangkan halangan-halangan. Kadangkala sesuatu yang telah mapan berubah menjadi buruk melalui proses internal.

Mekanisme demikian harus disadari oleh setiap orang beriman agar dapat mengalirkan khazanah dari sisi Allah sebagai pemakmuran bumi. Merusak mekanisme demikian tidak mungkin mendatangkan pemakmuran. Boleh jadi lebih baik membiarkan orang lain mengerjakan amal daripada mengatur mereka dengan cara yang salah misalnya menyalah-nyalahkan tanpa alasan orang yang mengenal nikmat Allah untuk dirinya. Pengaturan yang salah akan mendatangkan kesulitan bagi manusia untuk melakukan pemakmuran, bahkan kesulitan hingga tingkat yang rendah. Mukminin tidak boleh terkurung waham agar bisa menjadi agen pengaliran khazanah, baik pada tingkatan pokok yang tinggi ataupun pada tingkatan cabang di alam yang rendah. Suatu kaum yang terkurung waham akan tumbuh sebagai kaum yang berakhlak buruk. Mungkin seseorang akan berselisih dengan orang lain tanpa memahami apa yang mereka perselisihkan, bahkan mungkin tetap gemar berselisih sekalipun dengan orang yang membacakan hakikat dengan tepat. Lebih buruk lagi mungkin kemudian mengutuk orang lain untuk membela orang-orang yang sepaham dengannya. Syaitan akan mengikuti mereka dan memanfaatkannya untuk merusak secara lebih luas. Ketika berselisih, seseorang mungkin didorong syaitan untuk mengutuk keluarga lawannya, bukan mengutuk lawannya, maka syaitan melebarkan masalah hingga kepada keluarga lawannya. Hal demikian akan menjadi pemicu kekisruhan lebih luas. Sekadar mengutuk seseorangpun merupakan perilaku yang buruk, dan meluaskan kutukan itu mendatangkan keburukan lebih luas. Bukan pemakmuran yang terwujud di alam dunia tetapi kekisruhan dalam membela kebenaran.

Rabu, 06 Agustus 2025

Menumbuhkan Keikhlasan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Untuk menjadi hamba yang didekatkan, setiap hamba Allah harus berusaha untuk memurnikan ibadah mereka hingga terlepas dari syirik, kebodohan dan kesalahan dalam memahami kehendak Allah agar ibadahnya benar-benar bersih hingga Allah menyukai-nya.

﴾۵﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya secara hanif, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS Al-Bayyinah : 5)

Ikhlas menunjukkan pada kemurnian ibadah yang dilakukan semata-mata untuk melaksanakan urusan Allah. Setiap orang harus berusaha untuk melaksanakan perintah Allah bagi dirinya secara tepat tanpa suatu campuran urusan dari yang lain sebagai ibadah dirinya kepada Allah. Hanif menunjuk pada sikap mengikuti kebenaran yang terbaik tidak terkungkung pada waham-waham. Sikap hanif tidak menunjukkan larangan untuk bersikap teguh, tetapi menunjukkan bersikap teguh dengan mengikuti perkataan yang terbaik. Hendaknya seseorang bersikap teguh berpegang dengan perkataan yang mempunyai nilai terbaik tidak meragukannya, tetapi harus tetap bisa menimbang dan mengikuti perkataan yang lebih baik manakala sampai kepadanya atau timbul pemahamannya. Hanif tidak ditunjukkan dengan bersikap tidak mengetahui apa-apa. Tauladan utama sikap hanif terdapat pada nabi Ibrahim a.s ketika mencari pengenalan terhadap Allah.

Sangat banyak tingkatan keikhlasan dan kehanifan ibadah di antara manusia. Tingkat keikhlasan manusia ditunjukkan oleh tingkat pengetahuannya terhadap kehendak Allah. Semakin tepat dan tinggi pengetahuan seseorang terhadap kehendak Allah atas dirinya, semakin baik tingkat keikhlasan yang terbentuk pada dirinya. Atau sebaliknya, semakin baik keikhlasan dan kehanifan diri seseorang, akan semakin tepat pengetahuan dirinya terhadap kehendak Allah yang harus ditunaikan. Keikhlasan dan kehanifan berbanding lurus dengan ketepatan seseorang dalam mengenal kehendak Allah.

Ada beberapa penyebab yang dapat mengotori pemahaman seseorang terhadap kehendak Allah. Keinginan syahwatiah duniawi, hawa nafsu dan bisikan syaitan dapat mengotori pemahaman seseorang terhadap kehendak Allah. Manakala pemahaman seseorang terkotori, ia tidak dapat dikatakan telah benar-benar ikhlas sekalipun ia beramal dengan amal-amal yang baik. Bukan berarti keikhlasan tidak bisa dilakukan oleh orang awam. Suatu keikhlasan akan terbentuk apabila seseorang berusaha melaksanakan perintah Allah secara tepat dengan menghindarkan pengotor-pengotor yang mungkin menghinggapi. Keikhlasan seseorang ditimbang dari ketepatan dalam beramal sesuai dengan kehendak Allah. Setiap usaha bertindak dengan benar berlandaskan pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah merupakan bentuk keikhlasan.

Tingkatan Keikhlasan

Bentuk terbaik ibadah yang ikhlas dan hanif yang dapat dicapai seseorang adalah terwujudnya bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Ini merupakan puncak dari millah nabi Ibrahim a.s yang harus diikuti hamba Allah baik mukminin, muslimin ataupun para ahli kitab. Hanya kaum mukminin yang bisa mencapai pengetahuan sebagai ahlul-bayt dengan benar, sedangkan yang lain akan terhalang pada kemampuan akal ataupun konsep-konsep kebenaran yang disimpangkan. Walaupun demikian, setiap hamba Allah hendaknya memperhatikan dengan sebaik-baiknya rumah tangganya karena merupakan manifestasi dari puncak millah Ibrahim a.s yang dihadirkan bagi masing-masing. Baiknya rumah tangga setiap orang akan mendatangkan manfaat yang besar bagi umat manusia, sedangkan setiap kerusakan rumah tangga akan mendatangkan kerusakan yang besar bagi umat manusia.

Banyak tahap dan tingkatan pengetahuan pada diri seseorang yang menjadi prasyarat membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Tahap dan tingkatan ini merupakan suatu proses yang berkelanjutan, tidak dapat diabaikan pada salah satu tahapannya. Setiap tahap harus dilakukan dengan benar tidak menyimpang, dan hendaknya setiap hamba Allah menyempurnakan proses pada masing-masing tahapan tanpa terburu-buru menempuh tahapan yang lebih lanjut. Tahap selanjutnya tidak bisa ditempuh dengan meninggalkan tahapan sebelumnya. Manakala seseorang meninggalkan suatu tahap dari yang tahapan yang telah berhasil ditempuh, tahapan yang ditempuh itu sebenarnya telah gugur seluruhnya.

Tidak menyimpangnya langkah adalah bahwa langkah yang dilakukan bertujuan untuk menjadi dekat kepada Allah. Kedekatan kepada Allah dicontohkan oleh langkah Rasulullah SAW dimi’rajkan ke ufuq yang tertinggi, dan langkah itu merupakan hasil dari akhlak mulia. Manakala suatu langkah memunculkan akhlak buruk, seseorang mungkin telah menyimpang. Akhlak mulia ditunjukkan dengan bertambahnya pengetahuan terhadap makna tuntunan kitabullah dan tumbuhnya rasa kasih sayang terhadap makhluk lain. Manakala kedua tanda tersebut menjadi rusak, seseorang telah menyimpang langkahnya. Kadangkala suatu kerusakan akhlak tertutupi oleh bertambah luasnya pengetahuan seseorang tetapi bertentangan dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Dalam banyak hal ilmunya itu mungkin terlihat baik tetapi ada beberapa ilmu bertentangan dengan tuntunan kitabullah yang sangat membahayakan kehidupan umat sedangkan umat mungkin tidak menyadari. Kadangkala kerusakan terjadi pada sifat kasih sayang yang berubah menjadi suatu kesombongan menyepelekan orang lain, tetapi masih terlihat aktif membina manusia. Hal-hal demikian menunjukkan adanya penyimpangan yang harus diwaspadai oleh orang yang ingin menjadi dekat kepada Allah.

Tazkiyatun Nafs

Tahap pertama yang harus ditempuh setiap muslimin untuk membentuk bayt demikian adalah melakukan tazkiyatun-nafs. Langkah tazkiyatun-nafs berfungsi untuk membentuk nafs agar mampu memahami firman-firman Allah dengan benar baik berupa ayat kitabullah ataupun ayat-ayat kauniyah. Pada tahap ini, setiap orang hendaknya berusaha mengenali gejolak syahwatiah dan hawa nafsu diri, serta mengenali dorongan-dorongan syaitan yang akan menyesatkan. Itu adalah hal-hal yang mempengaruhi kelurusan pemahaman diri terhadap kitabullah Alquran. Proses demikian akan diikuti dengan munculnya pemahaman-pemahaman terhadap kebenaran apabila ia membaca kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Pada awalnya pemahaman tersebut mungkin tampak bersifat acak, tetapi semakin lama akan semakin bertambah dan menunjukkan penyatuan pemahaman terhadap ayat-ayat Allah. Proses demikian tidak boleh dilakukan secara terburu-buru, harus dengan waspada bahwa selalu terbuka kemungkinan adanya pengaruh syahwat, hawa nafsu ataupun syaitan dalam pengenalan dirinya terhadap kebenaran.

Pengenalan Fitrah Diri

Pengenalan terhadap kehendak Allah akan mengantarkan seseorang pada jenjang berikutnya, yaitu pengenalan terhadap fitrah diri. Tahap pengenalan fitrah diri ini ditandai dengan suatu keterbukaan (al-fathu) terhadap keadaan kauniyah dan kedudukan fitrah dirinya dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Pengetahuan yang terbuka demikian dapat ditemukan tuntunannya dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW. Keterbukaan ini disertai dengan tanda lain berupa suatu pengenalan terhadap bentuk tajalliat Allah bagi dirinya. Pengenalan ini tidak berupa pertemuan seseorang dengan rabb-nya, tetapi berupa terbentuknya citra yang benar dari cahaya Allah. Terbentuk dalam hatinya suatu citra dari cahaya Allah tentang bagaimana Allah akan memperkenalkan diri-Nya kepadanya maka ia dikatakan mengenal rabb-nya, sedangkan selanjutnya ia harus terus berjuang untuk dapat mendekat kepada Allah hingga diberi karunia pertemuan (liqa’). Pengenalan terhadap fitrah diri ini merupakan gerbang awal seseorang memasuki agama, menunjukkan bahwa seseorang telah sampai pada tanah suci dirinya., dan harus dilanjutkan dengan membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah sebagai sarana untuk didekatkan kepada Allah.

Kebenaran pengenalan fitrah diri ditandai dengan pengenalan amanah berupa tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang harus ditunaikan. Pengenalan diri tanpa disertai pengetahuan tentang amanah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak menunjukkan pengenalan fitrah diri yang benar. Syaitan menyukai pengenalan diri demikian dari jaman penciptaan manusia di surga. Mencari jati diri dengan benar hanya dapat dilakukan dengan berusaha menemukan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW untuk ruang dan jamannya. Fitrah diri tidak boleh dipandang dari sudut status kepakaran seseorang pada suatu masalah, tetapi hanya dari sudut pandang pengetahuan terhadap amanah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang harus ditunaikan. Benar bahwa seseorang akan terlihat menguasai masalah lebih baik manakala mengenal fitrah diri, tetapi hendaknya setiap orang lebih memperhatikan amanah kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang harus ditunaikan bukan kepandaian dan penguasaan masalah.

Kadangkala pandangan suatu kaum tersilaukan terhadap status pengenalan fitrah diri seseorang hingga terlupa untuk menemukan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang harus ditunaikan. Tentu saja orang yang mengenal fitrah diri sangat membantu usaha suatu kaum untuk menemukan amanah Allah, tetapi ini bisa berakibat terbalik. Kaum yang bersama mereka justru bisa terlupa untuk berusaha menemukan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW karena silau terhadap status seseorang di antara mereka. Manakala suatu ayat Allah dibacakan oleh orang lain, kaum tersebut tidak dapat mengenali kebenaran pembacaan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang disampaikan. Ini menunjukkan prioritas kaum tersebut terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW berada di bawah prioritas status di antara manusia. Mungkin mereka tidak berusaha menemukan tuntunan kitabullah manakala mengikuti langkah seseorang di antara mereka. Hal itu menunjukkan prioritas yang salah. Kadangkala manakala terjadi suatu kesalahan semua orang menyetujui untuk membenarkan kesalahan yang terjadi.

Kesalahan bisa terjadi pada berbagai tingkatan manusia, termasuk manakala seseorang telah mengenal diri. Banyak orang yang kemudian menjadi kufur ketika telah tiba di tanah haramnya, beriman dengan hal-hal yang bathil dan kufur terhadap nikmat Allah (QS 29:67). Mereka mungkin merasa beriman, tetapi sebenarnya beriman terhadap hal-hal bathil dan justru kufur terhadap nikmat Allah. Allah mempertanyakan keadaan diri mereka. Banyak hal-hal bathil yang bisa terbuka kepada seseorang manakala mereka mengenal diri selain keterbukaan terhadap hakikat. Bila mereka beriman kepada hal-hal bathil yang terbuka, mereka akan kufur terhadap nikmat Allah. Tidak ada jaminan bahwa seseorang yang mengenal fitrah diri telah terbebas dari masalah. Jaminan kebenaran hanya terdapat pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Untuk menghindari kerancuan, setiap orang yang mengenal diri hendaknya memperhatikan dan memahami sungguh-sungguh ayat kitabullah tentang amanah yang harus mereka tunaikan. Bila seseorang tidak memperhatikan hal ini, ia bisa terseret pada keimanan terhadap hal bathil dan kufur terhadap nikmat Allah. Umat dapat terseret pada kejatuhan seseorang dengan keimanan terhadap yang bathil atau seseorang menyeret umatnya dalam kesulitan.

Membentuk Bayt

Setelah pengenalan terhadap fitrah diri, seseorang harus melangkah membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Hal ini dilakukan dengan membangun kesepahaman dan sinergi dalam rumah tangga untuk melaksanakan amal yang ditentukan bagi mereka. Mungkin sebenarnya seseorang telah membina rumah tangga dengan baik sebelumnya, tetapi tidak mengetahui urusan Allah yang harus diperjuangkan. Secara khusus membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah adalah membina rumah tangga untuk menunaikan amanah Allah yang telah diketahui. Bentuknya berupa penataan peran masing-masing pihak dalam suatu tatanan yang dikehendaki Allah. Penataan demikian akan menjadi pondasi pertama penataan sosial umat mereka, lingkar sosial pertama terdekat yang menentukan terbentuknya lingkar-lingkar sosial berikutnya. Perubahan sosial tidak akan mungkin terwujud tanpa lingkar sosial yang memadai. Manakala tatanan keluarga tidak terbentuk, penataan sosial mengikuti kehendak Allah tidak akan bisa dilakukan.

Dalam hal kehendak Allah, seringkali seseorang memperoleh petunjuk tentang kesatuan nafs dirinya yang harus dibentuk dalam wujud keluarga. Kadangkala kesatuan nafs itu diketahui melalui inderawi dan pikiran, dan dikuatkan dengan petunjuk. Mungkin pula seseorang lain memperoleh perintah untuk memberitahukan keberjodohan suatu pasangan sedangkan pasangan itu sebelumnya tidak mengetahui. Banyak jalan yang bisa menjadi pemberitahuan bentuk kesatuan nafs di antara manusia. Tidak jarang bayt harus dibentuk dalam bentuk rumah tangga ta’addud dan masing-masing pihak harus berperan bagi yang lain dengan sebaik-baiknya sesuai urusannya. Suami mengarahkan keluarganya untuk memikul amanah Allah dan memastikan bahwa mereka merupakan bagian dari lingkar jamaah bagi Rasulullah SAW, para isteri mendoakan dan menolong suaminya untuk dapat mengemban amanahnya, serta isteri satu dengan yang lain saling memahami dan membantu melancarkan urusannya.

Dalam membentuk bayt, hendaknya benar-benar diperhatikan bahwa bayt itu merupakan lingkar jamaah Rasulullah SAW. Suami hendaknya memperhatikan bahwa urusan yang harus ditunaikannya merupakan bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW, dan para isteri berusaha memahami hal tersebut. Kadangkala syaitan menipu seseorang hingga tumbuh menjadi megaloman yang merasa harus menjadi pelopor dalam suatu urusan tanpa memperhatikan syariat. Urusan demikian akan mencelakakan umat dan langkah yang ditempuh merupakan tauladan yang sangat buruk. Penting bagi setiap orang untuk memperhatikan bahwa urusan yang harus ditunaikan merupakan bagian dari urusan Rasulullah SAW, dan jalan mewujudkannya berada pada pagar-pagar syariat yang telah diajarkan. Manakala urusan meninggikan dan mendzikirkan asma Allah dilakukan dengan cara yang keluar dari tuntunan Rasulullah SAW, seseorang akan terlempar dari al-jamaah dan menjadi bagian dari pembantu syaitan karena syaitan pasti memanfaatkannya.

Membina bayt harus dilakukan dengan seksama dengan memperhatikan setiap pihak. Kadangkala usaha untuk membentuk bayt justru mendatangkan kerusakan terhadap salah satu atau beberapa pihak yang seharusnya membentuk kesatuan nafs alih-alih mendatangkan kebaikan. Masalah yang menghambat bisa terdapat pada diri masing-masing pasangan atau bisa pula ada pada perusak dari luar. Setiap isteri harus diajak untuk memahami dan menolong urusan Allah dengan kesadaran yang tumbuh tanpa suatu paksaan. Apabila perlu menikah lagi, pasangannya hendaknya mempunyai kemauan untuk menolong Allah. Perempuan yang mensyaratkan standar kemakmuran tinggi seringkali kurang kemauan dalam berjihad hingga akan memberatkan langkah membina bayt. Kadangkala perempuan memaki suaminya karena kurangnya harta, maka itu akan menjadi beban dalam membentuk bayt. Di pihak luar, bisa saja syaitan mempunyai agen yang mempunyai kuasa besar untuk merusak terbentuknya bayt, maka keadaan ini harus disikapi dengan tepat. Kadangkala satu pihak atau dua pihak tidak bisa memahami arti penting membentuk bayt. Kadangkala ketika para pihak bersepakat tentang kesatuan nafs yang harus dibentuk, datang isu yang merusak kesepakatan para pihak. Kadangkala bukan hanya isu yang mendatangi, tetapi suatu kuasa syaitan datang merusak para pihak yang bersepakat.

Membentuk bayt demikian seringkali tidak mudah dilakukan. Syaitan sangat berusaha untuk memisahkan para isteri dari suaminya terutama pada pasangan yang seharusnya membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Sekalipun isteri shalihah, syaitan akan tetap berusaha menghantam pasangan itu untuk memisahkan dengan segala cara yang bisa mereka peroleh. Para syaitan itu mungkin saja telah mempersiapkan metode-metode dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk melakukan hantaman bagi pasangan itu jauh sebelum pengenalan diri seseorang terjadi. Masing-masing pihak di antara suami isteri dijadikan mudah berprasangka buruk atau bangkit kemarahan mereka hingga sulit untuk saling memahami. Termasuk dalam dalam hal ini syaitan mungkin melakukan bisikan-bisikan tentang amal shalih yang salah kaprah kepada orang lain untuk memisahkan isteri dari pasangan yang hendak membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Minggu, 03 Agustus 2025

Memurnikan Ibadah Kepada Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW dapat dilakukan dengan beribadah dengan ikhlash kepada Allah secara hanif.

﴾۵﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya secara hanif, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS Al-Bayyinah : 5)

Hanif menunjuk pada sikap mengikuti kebenaran yang terbaik tidak terkungkung pada waham-waham. Tauladan utama sikap hanif terdapat pada nabi Ibrahim a.s ketika mencari pengenalan terhadap Allah. Beliau berusaha mengenali kebenaran-kebenaran yang terhampar pada semesta dirinya, kemudian berusaha menemukan ilah yang terbaik untuk tujuan dari ibadah yang harus dilakukannya tidak terjebak pada suatu waham. Demikian setiap manusia harus berusaha seperti nabi Ibrahim a.s menemukan ilah yang terbaik. Tentunya di jaman ini manusia tidak perlu mencari ilah dalam bentuk makhluk karena para nabi dan rasul yang telah diutus telah mengajarkan tentang ilah yang benar maka mengulang perbuatan nabi Ibrahim a.s akan merepotkan dan akan menyimpang karena kekuatan akal yang tidak sama. Tetapi setiap orang pada setiap jaman harus tetap berusaha menemukan pengenalan yang terbaik terhadap bentuk ibadah dirinya kepada Allah mengikuti sikap hanif nabi Ibrahim a.s.

Menumbuhkan sikap hanif dapat dilakukan dengan berusaha mencerap dan menimbang nilai-nilai kebaikan dalam kebenaran yang dapat diikuti. Tidak semua kebenaran yang didengar harus diuji misalnya dalam hal tuntunan syariat, tetapi pemahaman yang terbentuk ditingkatkan. Kadangkala seseorang mendengar atau melihat suatu kebenaran dalam suatu perkara yang dapat dipahami dan kemudian mengikutinya tetapi tidak pernah berusaha menimbang nilai kebaikan pada kebenaran itu maka ia berhenti pada suatu kejumudan dan menjadi seorang fanatik tanpa suatu pemahaman. Hal demikian merupakan tindakan tidak hanif. Setiap sikap hanif akan mengantarkan seseorang untuk memahami masalah dengan lebih baik dan menjadi landasan bertindak yang lebih baik.

Sikap hanif ini sangat penting diperhatikan oleh setiap orang beriman agar mereka terbentuk sebagai pohon thayibah yang berakar kuat dan dapat memberikan buah di setiap waktu. Di jaman ini, sikap hanif jarang ditemukan di antara manusia bahkan di antara kaum mukminin. Kaum muslimin banyak terjebak pada ajaran-ajaran yang tidak mengakar pada buminya seperti pohon yang buruk tercerabut dari buminya. Konsep-konsep ibadah dibentuk sedemikian oleh orang-orang yang tidak bertakwa kepada Allah atau bahkan oleh kaum musyrikin dan diajarkan kepada orang beriman sedemikian orang beriman tidak dapat tumbuh berakar pada buminya. Sebagian ajaran itu bahkan menjadikan orang yang berusaha menumbuhkan akar pada buminya justru tercerabut kembali hingga tersisa konsep-konsep yang hanya dapat diceritakan. Hal ini bisa terjadi karena kurangnya umat islam atau orang-orang beriman dalam bersikap hanif.

Ikhlas menunjukkan pada kemurnian ibadah yang dilakukan semata-mata untuk melaksanakan urusan Allah. Setiap orang harus berusaha untuk melaksanakan perintah Allah bagi dirinya secara tepat tanpa suatu campuran urusan dari yang lain sebagai ibadah dirinya kepada Allah. Campuran-campuran terhadap ibadah seorang muslim bisa muncul dari keinginan badaniah terhadap materi duniawi ataupun lawan jenis, keinginan hawa nafsu berupa kehormatan di antara makhluk ataupun muncul dari bisikan syaitan dan thaghut-thaghut yang mungkin muncul kepada seseorang. Adapun kesyirikan dalam bentuk nyata merupakan akibat dari adanya ketiga sebab tersebut yang dapat dibersihkan bila dibersihkan sebabnya. Ketiga hal tersebut bisa memunculkan kotoran yang mengotori keikhlasan ibadah seseorang. Suatu keikhlasan akan terbentuk apabila seseorang berusaha melaksanakan perintah Allah secara tepat dengan menghindarkan pengotor-pengotor yang mungkin menghinggapi.

Membina Keikhlasan dan Kehanifan

Sangat banyak tingkatan keikhlasan dan kehanifan ibadah di antara manusia. Bentuk terbaik ibadah yang ikhlas dan hanif yang dapat dicapai adalah terwujudnya bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Unsur bayt demikian adalah seorang laki-laki yang mengenal dengan tepat perintah Allah untuk dirinya, dan isteri atau isteri-isterinya dan anak-anaknya mengikuti dan menolong mewujudkan pemahaman suaminya terhadap urusan Allah yang dikenalinya. Ini adalah puncak millah nabi Ibrahim a.s dalam mewujudkan keikhlasan dan kehanifan beribadah kepada Allah. Millah ini merupakan pokok tauladan kebenaran dalam beribadah kepada Allah. Seseorang yang terhubung dengan benar kepada millah Ibrahim a.s akan terhubung kepada Rasulullah SAW. Setiap penentangan atau penyimpangan dari millah ini merupakan kesesatan. Setiap orang hendaknya berusaha mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membina keikhlasan dan hanif dalam beribadah kepada Allah.

Setiap usaha bertindak dengan benar berlandaskan pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah merupakan bentuk keikhlasan walaupun mungkin baru keikhlasan tahap awal. Kebenaran tindakan dan pemahaman demikian harus dibuktikan dengan kehanifan. Seseorang yang bertindak berdasarkan waham dan/atau kejumudan berpikir tidak termasuk dalam keikhlasan. Tidak sedikit orang yang memandang dirinya berusaha bertindak dengan benar dengan pemahaman yang benar tetapi menutup mata tidak mau berusaha memahami kebenaran yang disampaikan dari orang lain. Hal ini samasekali bukan keikhlasan. Suatu keikhlasan ditunjukkan dengan kemauan untuk berusaha memahami kebenaran. Mungkin seseorang belum benar-benar memahami suatu kebenaran, tetapi ia mau menampung cercah kebenaran yang disampaikan maka ia mempunyai bahan keikhlasan. Manakala seseorang sombong dengan kebenaran yang ada pada dirinya dan memandang rendah kebenaran dari orang lain, maka tidak ada keikhlasan dalam diri mereka. Hal ini berlaku bagi setiap orang yang sombong sekalipun seseorang telah mencapai kedudukan atau ilmu yang tinggi. Dengan cara ini maka seseorang dapat mulai membina keikhlasan dan kehanifan dirinya dalam beribadah kepada Allah.

Arah yang perlu dituju dalam membina keikhlasan dan kehanifan adalah membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Bayt ini adalah rumah tangga yang berusaha meninggikan dan mendzikirkan asma Allah dengan kondisi tertentu. Aspek utama yang harus dibentuk dalam diri setiap manusia sebagai landasan akhlak adalah sifat rahman dan sifat rahim, dan sifat-sifat ini dapat terwujud secara benar dan kokoh bila disertai membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Kadangkala seseorang mengenal kehendak Allah tetapi hanya dapat mewujudkan berupa kata-kata saja sedangkan sifatnya sendiri tidak tumbuh kokoh karena media pernikahan amburadul. Atau kadangkala ia dapat berbuat dengan amal-amal berdasar pemahaman terhadap kehendak Allah tetapi amal-amal itu tidak mendatangkan hasil yang layak karena rumah tangga buruk. Kokohnya pertumbuhan seseorang akan dipengaruhi pernikahannya.

Sebenarnya tidak hanya aspek utama itu saja yang terbentuk dalam proses membina bayt. Sangat banyak aspek terkait dengan akhlak mulia yang dapat terbentuk pada diri setiap orang. Aspek-aspek pembinaan akhlak mulia akan tumbuh mengakar dengan kokoh pada diri setiap orang apabila ia berusaha membina aspek-aspeknya melalui pembinaan rumah tangga mengikuti tuntunan Allah. Membentuk bayt untuk meninggikan asma Allah akan menumbuhkan aspek-aspek akhlak mulia secara kokoh dan benar pada diri seseorang, dan pertumbuhan akhlak mulia akan dipengaruhi rumah tangganya.

Membentuk bayt demikian harus ditempuh dengan memenuhi prasyarat-prasyarat yang ditentukan. Bayt demikian tidak dapat dilakukan sembarangan, hanya dapat dilakukan di tanah suci yang ditentukan berupa fitrah diri. Menempuh jalan tazkiyatun nafs merupakan prasyarat awal agar seseorang dapat memahami kehendak Allah secara benar. Tanpa tazkiyatun-nafs seseorang tidak akan memahami kehendak Allah dengan benar, tercampur dengan syahwat dan hawa nafsu diri atau bahkan syaitan sehingga seseorang tidak dapat memurnikan ibadah kepada Allah. Tazkiyatun-nafs akan membentuk seseorang sebagai misykat cahaya yang membentuk bayangan cahaya Allah dalam dirinya. Pembentukan diri sebagai misykat cahaya akan menjadikan seseorang mengenal untuk apa dirinya diciptakan. Fitrah diri merupakan tanah suci bagi setiap orang tempat mendirikan bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah. Dengan pengenalan fitrah diri, seseorang akan memperoleh tempat untuk membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah bersama dengan isteri-isterinya dan anak-anaknya.

Pengotor Keikhlasan

Menempuh tahapan-tahapan membentuk bayt harus dilakukan dengan proses dan pertumbuhan yang benar. Pada pokoknya, tidak boleh terjadi kekejian dalam menempuh proses membentuk bayt, dan setiap langkah yang ditempuh akan menyibak kemunkaran yang harus dihindari. Proses yang benar akan mendatangkan makrifat terhadap kehendak Allah sehingga seseorang dapat mengenali fitrah penciptaan dirinya. Setiap tahapan ditempuh dengan tertib tanpa kehilangan orientasi dalam melangkah membina tahap keikhlasan dan kehanifan berikutnya, tidak kemudian menimbulkan kerusakan manakala telah mencapai tahap tertentu. Mungkin saja seseorang berbuat kufur manakala mengenal fitrah dirinya dengan merusak pembinaan keikhlasan. Hal demikian tidak boleh terjadi. Manakala telah mengenal fitrah diri, seseorang harus tetap berpegang pada tuntunan Allah untuk dapat membina keikhlasan diri dan kehanifan sebagaimana nabi Ibrahim a.s membina bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, tidak meninggalkan atau berpaling.

Tetapnya berpegang pada tuntunan agama harus dilakukan pada setiap tahapan. Manakala menempuh tahapan proses tazkiyatun-nafs, seseorang bisa memperhatikan gejolak hawa nafsu dan syahwat diri serta syaitan yang dapat mengganggu pertumbuhan pemahaman yang benar dan belajar mengendalikan gejolak tersebut dengan berpegang pada tuntunan Allah. Hendaknya ia tidak berpaling dalam mengikuti millah nabi Ibrahim a.s membentuk bayt. Manakala tazkiyatun nafs tidak diikuti usaha memahami ayat Allah, proses tazkiyatun-nafs tidak mendatangkan manfaat yang seharusnya. Kadangkala seseorang menjadi ujub dengan tazkiyatun-nafs yang dilakukannya. Tazkiyatun nafs harus menjadi bekal untuk memahami ayat-ayat Allah. Demikian pula suatu pengenalan terhadap fitrah diri harus diikuti dengan proses membentuk bayt, tidak berpaling dari millah karena pengenalan fitrah diri itu justru dapat merusak umat manusia manakala tidak disertai dengan membentuk bayt yang diijinkan Allah untuk meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya.

Kekejian menunjukkan tersimpangnya manusia dari yang kebenaran yang menyebabkan kesalahan dalam memahami kehendak Allah. Misalnya manakala seseorang mengikuti suatu pemahaman dari syaitan, ia tersimpangkan dari kebenaran tidak memahami kebenaran dengan tepat. Keadaan demikian itu seperti seorang perempuan yang berbuat keji kepada laki-laki selain suaminya maka akalnya menyimpang tidak lagi dapat memahami maksud suaminya dengan benar. Seringkali seorang suami harus menanggung luapan perkataan-perkataan isteri yang tidak benar karena terjadinya kekejian dalam rumah tangganya. Tidak semua perkataan isteri yang tidak benar muncul dari kekejian, karena sekadar akal yang lemah saja bisa membuat perempuan berkata-kata tidak semestinya, tetapi setiap kekejian akan memunculkan fenomena tidak bisa pahamnya seorang isteri terhadap suaminya. Kekejian seorang laki-laki tampak dalam penyimpangan dalam memahami kehendak Allah, sedangkan kekejian perempuan tampak dalam penyimpangan dalam memahami suaminya.

Kekejian dapat muncul dalam suasana ibadah kepada Allah, tidak hanya muncul dalam suasana durhaka. Orang-orang yang tidak menyukai kebenaran hampir-hampir selalu salah dalam memahami kehendak Allah, sedangkan orang-orang yang ingin beribadah kepada Allah tidak selalu benar dalam memahami kehendak Allah. Orang yang ingin beribadah dengan benar kepada Allah harus berusaha menyertai keinginannya dengan sikap hanif, memahami dan menimbang nilai kebaikan dalam amal yang dilakukan dirinya dan berusaha mengikuti yang terbaik. Jika seseorang berbuat demikian, ia akan terhindar dari kekejian. Bila ia selalu memandang baik keadaan dirinya tanpa menimbangnya dengan tuntunan Allah, mungkin perbuatan memandang baik terhadap keadaan diri akan menjadi celah yang menimbulkan kesalahan pemahaman terhadap kehendak Allah.

Menemukan washilah akan sangat membantu menghindarkan manusia dari kekejian. Para washilah yang mengenal kebenaran mempunyai kepekaan lebih baik terhadap penyimpangan dibandingkan orang kebanyakan, maka mereka dapat mengingatkan orang yang mengikutinya dari penyimpangan. Manakala pengingatan itu diabaikan, orang akan menyimpang dari jalan yang benar karena pelanggarannya. Kadangkala seseorang jatuh menyangka bahwa kebenaran itu hanya ada pada dirinya. Dalam hubungan dengan orang yang dihormati, mereka mungkin membenarkan apa yang sesuai dengan sangkaan dirinya dan hanya menganggap salah kebenaran yang tidak sesuai. Dengan orang lemah, tidak ada kebenaran terlihat dari orang lemah. Sikap demikian bisa menjadi masalah rumit bagi umat, karena mungkin sejumlah besar akan ikut mengabaikan kebenaran.

Gambaran nyata upaya mencari washilah ditemukan pada perempuan yang menikah dengan suami yang tepat. Suami merupakan media bagi isteri untuk memahami kehendak Allah yang terpancar pada semesta dirinya. Apabila seorang suami berkembang akalnya dengan benar dalam memahami kehendak Allah, isteri hendaknya berusaha mengikuti pemahaman suaminya dan menolongnya mewujudkan amal shalih. Keadaan demikian akan merupakan cikal bakal terbentuknya bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, sedangkan rumah tersebut terwarnai dengan sikap mawaddah dan rahmah. Manakala suaminya bukan dari kalangan mukminin, seorang isteri harus berusaha berperan untuk membentuk suaminya dan keluarganya sebagai orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Manakala suami layaknya fir’aun, seorang isteri hendaknya dapat bersikap layaknya siti Asiyah binti Muzahim r.a. Keseluruhan sikap isteri harus dibangun dengan mengikuti tuntunan Allah yang dapat diterapkan pada rumah tangganya. Menyimpangnya perhatian seorang isteri dari suami dan keluarganya merupakan bentuk kekejian yang akan menyimpangkan langkah taubatnya.

Setiap orang harus berusaha membentuk sikap-sikap yang baik agar dapat membangun keikhlasan dan kehanifan. Seorang perempuan yang tidak mau bersyukur dengan petunjuk suami yang diberikan kepadanya akan kesulitan untuk memperoleh tingkat keikhlasan yang lebih baik. Suatu rumah tangga akan menghadapi banyak permasalahan yang harus disikapi dengan baik dengan komitmen terhadap kebenaran, dan hal itu kadangkala harus diwujudkan melalui suatu washilah. Seandainya suaminya menjual diri dan hartanya kepada Allah untuk mengharapkan ridha Allah, seorang isteri tidak boleh mencaci-maki atau merendahkan suaminya ketika tindakannya menyebabkan sedikitnya harta. Sebisa-bisa isteri hendaknya memahami langkah suaminya dan ikut mendukung agar upayanya mendatangkan ridha Allah. Bila para perempuan tidak dapat mengikuti suami, tidak akan terbentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah, atau salah-salah para perempuan itu menjadi kaum yang kafir terhadap nikmat Allah.

Keadaan demikian akan membuat peradaban yang buruk. Suatu bayt pada dasarnya merupakan pondasi perpanjangan sifat rahman dan rahim Allah hingga dapat tersebar ke bumi. Manakala tidak terbentuk bayt, pengetahuan tentang asma tertinggi akan terhenti pada orang yang mengenalnya saja. Manakala terbentuk bayt, pengenalan itu dapat menyebar luas ke bumi melalui bayt tersebut hingga membentuk peradaban yang mulia. Para isteri memegang kunci pokok bangkitnya suatu bangsa untuk membentuk peradaban bangsa yang baik. Manakala para perempuan rusak atau tidak mau membina diri dalam keikhlasan dan hanif beribadah kepada Allah, bangsa mereka akan menjadi buruk atau runtuh karena masyarakat yang tidak dapat diberi pengetahuan tentang hal yang baik. Syaitan sangat menyukai kerusakan pada kaum perempuan suatu bangsa karena akan menimbulkan penderitaan yang besar bagi bangsa tersebut.

Senin, 28 Juli 2025

Menyeru Pada Kebaikan

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan secara berjamaah. Secara khusus, ada orang-orang yang diperintahkan Allah untuk menyeru pada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Orang-orang yang diperintahkan demikian adalah penyeru dari golongan orang-orang yang beruntung.

﴾۴۰۱﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran : 104)

Para penyeru dari golongan orang-orang yang beruntung demikian dapat menunjukkan manusia pada kebaikan (الْخَيْرِ), memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Kebaikan (الْخَيْرِ) menunjuk pada kebaikan yang berwujud nilai-nilai kebaikan, tatanan yang mendatangkan kebaikan maupun kebaikan dalam wujud harta benda yang baik. Al-ma’ruf ( المَعْرُوف ) menunjuk pada pengetahuan terhadap kehendak Allah sedemikian orang-orang yang mengikuti perintah orang-orang demikian akan memahami kehendak Allah atas diri mereka atau diri masing-masing. Al-munkar (الْمُنكَرِ ) menunjuk pada kebodohan terhadap kebenaran.

Kebaikan, al-ma’ruf dan al-munkar dikenali oleh orang-orang yang menggunakan akal untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka bukan sekadar orang-orang yang membaca sekilas tuntunan kitabullah kemudian berbantah-bantah tentang ayat Allah, tetapi berusaha benar-benar memahami maksud Allah sesuai tuntunan yang disampaikan kepada diri mereka. Usaha itu dilakukan dengan upaya melakukan tazkiyatun nafs agar pemahaman yang terbentuk dalam diri mereka tidak terkotori oleh hawa nafsu dan syahwat, bukan sekadar bertanya-tanya tentnag kehendak Allah terkait ayat yang dibaca. Mereka menyadari bahwa akal yang bisa menyentuh tuntunan kitabullah hanyalah akal yang berada pada nafs yang dibersihkan dari pengaruh dosa-dosa hawa nafsu dan syahwat. Selama hawa nafsu dan syahwat berkuasa, seseorang tidaklah mampu menyentuh makna dalam ayat kitabullah dengan benar.

Dengan kata lain, orang-orang yang menempuh langkah tazkiyatun-nafs sebenarnya mempunyai tanggung jawab lebih besar untuk menyeru manusia pada kebaikan, menyuruh dengan al-ma’ruf dan mencegah kemunkaran. Hal ini hendaknya disikapi dengan tepat, bahwa suatu langkah tazkiyatun nafs sebenarnya akan mendatangkan pemahaman yang mengandung tanggung jawab. Manakala pemahaman terhadap tuntunan kitabullah belum diberikan, seseorang tidak harus/tidak boleh mengada-adakan usaha untuk menyeru pada kebaikan, menyuruh dengan alma’ruf dan mencegah dari al-munkar. Manakala proses tazkiyatun nafs telah berjalan lama dan tidak mendatangkan pemahaman, ia harus menimbang bahwa mungkin tazkiyatun nafs yang ia tempuh sebenarnya hanya sia-sia karena tidak mendatangkan pemahaman terhadap ayat Allah berupa ayat kauniyah dan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bukan untuk pergi dari jalan tazkiyatun nafs, tetapi hendaknya mereka memandang diri layaknya orang-orang yang mengolah lahan tanpa menanamkan benih pada lahan-lahan yang mereka olah. Berikutnya hendaknya mereka berusaha menanamkan benih-benih yang ada pada diri mereka, bukan meninggalkan mengolah lahan. Wujud benih itu akan terlihat apabila mereka memperhatikan ayat-ayat Allah, yaitu memperhatikan ayat kauniyah dan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila tidak memperhatikan wujud tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW di alam kauniyah, mereka tidak akan merasakan keberadaan benih dalam diri sendiri.

Dewasa ini sangat banyak tatanan manusia yang justru membuat kesejahteraan menjauh dari bangsa, tetapi seperti tidak ada orang yang mengetahui jalan keluar dari masalah tersebut. Sistem demokrasi menjadikan bangsa semakin melarat terlilit beban yang semakin berat. Demikian pula sistem keuangan menjerat rakyat hingga orang miskin hidup semakin sulit. Sebenarnya hanya musyrikin yang menikmati sistem riba demikian. Sumber daya alam rusak karena keserakahan manusia terhadap harta dan kekuasaan. Tingkat kesehatan manusia semakin rendah dengan kebergantungan terhadap obat-obatan yang semakin tinggi. Pendidikan tidak menjadikan orang-orang yang dididik mampu tumbuh menyatu dengan semesta mereka, sedangkan orang-orang yang berusaha berpikir justru disingkirkan. Fenomena-fenomena tersebut merupakan gambaran-gambaran yang muncul dari kurang utuhnya agama, terjadi pemisahan isteri dari suaminya atau pemisahan manusia dengan akalnya sebagai perusakan setengah bagian dari agama. Sangat banyak persoalan bangsa tidak terbatas pada perkara-perkara di atas yang seharusnya dientaskan oleh orang-orang beriman dengan menyeru pada kebaikan, menyuruh dengan al-ma’ruf dan mencegah dari kemunkaran. Upaya itu dapat dilakukan dengan melakukan upaya penataan akal pada setiap insan dan penataan keluarga sebagai taatanan sosial.

Penataan akal dan pikiran dalam hal ini adalah pengenalan terhadap nilai-nilai kemuliaan dalam kebenaran. Pengajaran untuk penataan akal dan pikiran harus dilakukan agar terjadi pembinaan akhlak mulia, bukan hanya dalam bentuk keterampilan melakukan manipulasi duniawi. Seseorang yang merendahkan orang lain karena pengetahuan dirinya tidak menunjukkan akal dan pikiran yang benar, bahkan bila sekalipun terkait pengetahuan tuntunan kitabullah. Kadangkala suatu kaum tidak bisa mengapresiasi nilai suatu kebenaran yang disampaikan oleh orang lain karena waham yang diajarkan, maka pengajaran kaum itu sebenarnya gagal. Kadangkala seorang isteri tidak bisa menghormati suaminya sekalipun telah diberi pengetahuan kehidupan yang banyak hanya karena sempitnya rezeki. Ia mungkin mengikuti suatu pengajaran dari orang lain. Hal demikian tidak menunjukkan pembinaan akal yang benar. Sekalipun orang banyak memandang hebat pengetahuan yang dimiliki seseorang, bila pengajaran yang dilakukan menghasilkan orang yang tidak mempunyai kepekaan terhadap nilai kebenaran dan kemuliaan dalam tuntunan Allah, sebenarnya pengajaran itu tidak mendidik akal dan pikiran manusia dengan benar. Pembinaan akal dan pikiran harus menghasilkan manusia-manusia yang peka terhadap nilai kebenaran dan kemuliaan di dalamnya.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memperhatikan ayat-ayat Allah dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW terkait berbagai persoalan yang terjadi. Bila orang beriman hanya mengikuti perkataan orang saja, mereka tidak akan mengetahui benih dalam diri mereka dan tidak mempunyai kepekaan terhadap nilai-nilai kebenaran. Seandainya perkataan orang yang diikuti benar, sebenarnya tidak ada manusia yang dapat menjelaskan kebenaran lebih baik dari kitabullah dan Rasulullah SAW. Kebanyakan perkataan manusia terkait kauniyah hanyalah ungkapan kepingan fenomena. Banyak perkataan manusia yang disampaikan hanya untuk menunjukkan ia mengetahui tanpa suatu dorongan untuk berbuat berdasar kebenaran. Sangat banyak perkataan yang diorganisir untuk diarahkan menutup pandangan manusia dari melihat kebenaran yang sesungguhnya, dan hanya sebagian kecil yang dimaksudkan untuk membangkitkan semangat terhadap kebenaran. Perkataan yang paling bermanfaat bagi manusia adalah perkataan yang dimaksudkan agar manusia mengetahui hakikat yang terjadi berdasarkan berita dari sisi Allah, agar manusia dapat berbuat dengan benar hingga diperoleh kebaikan dari sisi Allah. Perkataan demikian berbentuk seruan terhadap kebaikan, menyuruh dengan al-ma’ruf dan mencegah kemunkaran.

Menghindari Keburukan

Menyeru pada kebaikan (الْخَيْرِ), menyuruh dengan al-ma’ruf (المَعْرُوف ), dan mencegah dari al-munkar (الْمُنكَرِ) harus dilakukan oleh orang-orang yang memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW yang mewujud pada fenomena kauniyah pada semesta mereka. Tanda bahwa upaya demikian dilakukan dengan benar adalah apabila umat menjadi mengetahui amr jami’ Rasulullah SAW untuk ruang dan jaman mereka. Bila umat tidak menjadi mengerti urusan Allah untuk mereka, boleh jadi mereka bukan termasuk golongan orang-orang yang seharusnya melakukan amal-amal itu, atau mereka harus berusaha untuk lebih memahami lagi tuntunan Allah secara lebih tepat. Boleh jadi amal mereka menyeru orang lain kepada Allah merupakan amal yang baik yang harus tetap dilakukan terus menerus, hanya saja sebenarnya ayat Allah di atas bukan ditujukan bagi mereka. Ada hal yang harus diperhatikan, bahwa mungkin saja seruan akan menimbulkan perselisihan yang banyak bila tanpa suatu landasan pemahaman yang tepat terhadap ayat-ayat Allah. Di antara langkah syaitan adalah memecah-belah muslimin dengan perselisihan satu dengan yang lain berdasarkan kebanggaan terhadap kebenaran pada diri masing-masing.

Sangat banyak perselisihan terjadi di antara umat manusia karena pemahaman yang berbeda-beda. Perselisihan demikian tidak boleh terjadi, sedangkan perbedaannya hendaknya dijadikan bahan pemikiran. Setiap orang islam hendaknya berusaha mengikuti tuntunan Rasulullah SAW sesuai dengan pengetahuan dirinya. Apabila ia tidak mempunyai pengetahuan tentang suatu perkara, hendaknya ia mengikuti pemahaman yang dapat ia peroleh dari tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW dan menghindari perselisihan dengan orang lain. Ia tidak boleh berselisih dengan orang lain dengan berlandaskan pemahamannya sendiri ataupun berselisih mengikuti orang-orang lain yang menghasut untuk melakukan perselisihan dengan muslimin lain.

Hal ini hendaknya tidak mengurangi kewaspadaan. Di antara kaum muslimin, sebenarnya ada kaum yang dibangkitkan oleh musyrikin agar memudahkan musyrikin mengalahkan kaum mukminin, maka menyelisihi muslimin yang merupakan bagian dari musyrikin diperbolehkan dengan mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, bukan hanya mengikuti perkataan manusia.

﴾۱۳﴿ مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
﴾۲۳﴿مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
(31)dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (32)yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS Ar-Ruum : 31-32)

Kaum musyrikin sebenarnya juga membangkitkan golongan-golongan di antara muslimin sebagai sekutu. Ciri golongan demikian adalah mereka memecah-belah umat islam dalam beberapa golongan, dan setiap golongan berbangga dengan golongannya sendiri. Suatu kelompok yang berbangga-bangga dengan pendapat mereka sendiri dan menuding muslimin lain sebagai kelompok-kelompok yang salah merupakan ciri kuat bahwa mereka kelompok muslim terafiliasi kepada musyrikin. Mereka tidak menyeru muslimin untuk menjadi hamba Allah yang bersifat rahman dan rahim, tetapi lebih mengutamakan kebanggaan terhadap ajaran kelompok sendiri untuk memecah-belah umat islam.

Kebenaran yang bisa digunakan syaitan melalui musyrikin demikian sebenarnya hanya merupakan potongan kebenaran, bukan kebenaran yang utuh. Syaitan mungkin saja merasa senang ketika seseorang mengenal suatu potongan kebenaran apabila bisa dijadikan bahan untuk panutan orang-orang menjadi sesat. Hal pertama yang dilakukan syaitan terhadap orang yang mengenal potongan kebenaran adalah menjadikan mereka memandang potongan kebenaran itu sebagai kebenaran mutlak. Apabila ia berhasil melakukannya kemudian syaitan menjadikannya pemimpin bagi orang-orang lain menuju kesesatan. Ia tidak mengetahui kedudukan dirinya dalam al-jamaah, dan tidak lagi melihat jalan untuk menyatukan diri terhadap amr jami’ Rasulullah SAW. Setiap kebenaran yang terpisah dari amr jami’ Rasulullah SAW merupakan potongan kebenaran, baik ia merupakan pokok yang terpisah maupun cabang dari pokok yang terpisah sedangkan ia tidak berusaha mencari hubungan kepada Rasulullah SAW. Tanda terpisahnya seseorang dari amr jami’ Rasulullah SAW berupa tindakan durhaka terhadap kebenaran sedangkan ia mungkin memandangnya indah.

Suatu kebenaran yang utuh akan menjadikan orang-orang yang mengikutinya dapat menyatukan langkah dengan amr jami’ Rasulullah SAW. Mungkin saja seseorang hanya memahami sebagian dari kebenaran, tetapi bersifat utuh yaitu apabila kebenaran itu menjadikannya dapat menyatukan diri terhadap urusan jamannya, atau dengan kata lain menyatukan diri terhadap amr jami’ Rasulullah SAW. Mustahil bagi para makhluk untuk dapat memahami seluruh kebenaran yang digelar Allah kecuali bagi Rasulullah SAW. Seluruh makhluk hanya dapat memahami kebenaran yang menjadi bagian bagi dirinya, tetapi kebenaran itu sebenarnya telah menjadi kebenaran yang utuh manakala dapat menjadikannya menyatukan diri dalam amr jami’ Rasulullah SAW. Manakala seseorang memahami kebenaran secara utuh, ia akan mengetahui arah seruan yang harus dilakukan kepada orang lain, mengetahui adanya kemungkinan kebenaran pada mukminin lain dan tidak memecahbelah dirinya dari mukminin lain yang berjihad di jalan Allah terutama tidak memisahkan diri dari para washilah bagi dirinya kepada amr jami’ Rasulullah SAW.

Sekutu musyrikin dari kalangan muslimin demikian benar-benar ada dan mereka memperjuangkan kemenangan musyrikin dengan tampilan muslimin. Manakala suatu kelompok dalam islam berjuang melawan kaum musyrikin, sebagian kelompok muslim lain memecah-belah umat islam yang lain agar memusuhi muslimin yang berjuang. Mungkin hanya para pemimpin mereka yang benar-benar terhubung dengan pergerakan kaum musyrikin, sedangkan para pengikutnya hanya orang-orang bodoh yang mudah dihasut untuk memusuhi orang islam dan jihadnya. Sekalipun hanya karena kebodohan, tetapi kebodohan mereka merepotkan kaum mukminin. Para pemimpin mereka duduk mesra dengan musyrikin agar diberi kekayaan atau kekuasaan dengan menggunakan pakaian muslim dan potongan-potongan kebenaran sebagai bahan hasutan kepada muslimin. Ajaran mereka itu terutama digunakan untuk memecah belah muslimin dalam berbagai kelompok, dan membangkitkan kebanggaan terhadap kelompok mereka sendiri agar dapat digunakan memunculkan permusuhan di antara muslimin.

Masalah besar yang mungkin timbul dari sekutu musyrikin dari kelompok muslimin adalah agitasi terhadap dunia muslimin. Mungkin saja mereka tampak berperang dengan musyrikin yang telah memberikan kepada mereka kekayaan dan kekuasaan tetapi sebenarnya perang itu hanya suatu sandiwara untuk menimbulkan kesengsaraan yang besar terhadap seluruh umat manusia termasuk kepada kaum muslimin. Manakala kaum mukminin berperang terhadap musyrikin, mereka masing-masing berperang untuk dapat mengakhiri upaya dari pihak lain. Mungkin berlangsung lama tetapi mempunyai tujuan yang jelas. Bila musyrikin berperang dengan sekutunya dari kalangan muslimin, mereka bisa memanjang-manjangkan perang tanpa keinginan untuk mengakhiri, hanya bertujuan untuk menimbulkan kesengsaraan bagi umat manusia. Mungkin orang lapangan bertempur sangat hebat, tetapi keputusan-keputusan yang diambil para pemimpin mereka lebih bertujuan menyengsarakan umat manusia secara menyeluruh daripada strategi untuk menang. Syaitan berkeinginan demikian, dan demikian pula kaum musyrikin karena keuntungan yang bisa diperoleh. Sekutu kaum musyrikin dari kaum muslimin akan terhasut karena kebodohan mereka menyangka berjuang untuk agama Allah.