Pencarian

Jumat, 13 Juni 2025

Shirat Al Mustaqim untuk Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Secara umum ditemukaan 3 golongan manusia dalam urusan Allah. Golongan yang utama adalah orang-orang yang diberi nikmat Allah. Selain itu ada golongan orang-orang yang dimurkai Allah karena hanya mempertuhankan kepentingan diri mereka sendiri sama sekali mengabaikan atau bahkan melawan urusan Allah. Di antara kedua golonga itu ada orang-orang yang berusaha mendekat kepada Allah tetapi tidak memperhatikan urusan Allah dengan benar. Kaum muslimin hendaknya berdoa agar dapat menyatukan diri dengan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah dan beramal mengikuti mereka dengan benar.

﴾۷﴿صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)

Ada orang-orang yang diberi nikmat Allah. Mereka adalah orang-orang yang mengenal kehendak Allah untuk ruang dan jaman mereka sesuai dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, dan memahami urusan yang harus ditunaikan dalam kehidupan diri untuk mengikuti kehendak Allah. Mereka memahami suatu hakikat yang menghubungkan peristiwa di alam dunia dengan kehendak-Nya sehingga dapat memahami fenomena kauniyah sesuai dengan kehendak-Nya. Hakikat itu berupa penjelasan (bayyinah) atau/dan petunjuk yang diturunkan Allah kepada mereka mengikuti tuntunan suatu ayat dalam kitabullah. Demikian itulah keadaan orang-orang yang diberi nikmat Allah. Kadangkala seseorang menggunakan akalnya untuk memahami kauniyah mereka maka Allah memberitahukan kepadanya hakikat dari yang ada pada akalnya, kemudian ia mencari penjelasannya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Ada kalanya seseorang membaca ayat dalam kitabullah maka Allah memberitahukan hakikat dari apa yang dibacanya. Kebenaran dari hakikat itu kemudian diperiksa melalui hubungan antara suatu ayat dengan ayat kitabullah lainnya.

Tidak semua manusia memperoleh nikmat Allah sekalipun jika mereka bukan termasuk orang-orang yang celaka. Nikmat Allah merupakan hadiah bagi hamba-Nya yang baik. Umat manusia hendaknya berusaha mengikuti golongan yang diberi nikmat Allah maka ia akan memperoleh hidayah. Sekalipun mungkin belum sampai memperoleh nikmat Allah, mereka akan bergerak menuju nikmat Allah tidak berjalan menuju neraka yang menyiksa. Yang dimaksud mengikuti dengan benar adalah tumbuhnya akhlak mulia diri di atas sifat rahman dan rahim. Banyak orang yang berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang paling benar mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetapi tidak tumbuh pada mereka sifat rahman dan rahim. Itu menunjukkan bahwa mereka hanya meniru syariat Rasulullah SAW tanpa landasan pengetahuan tentang arah kehidupan yang harus ditempuh sehingga tidak dapat dikatakan mengikuti orang-orang yang diberi nikmat Allah.

Perkembangan akhlak setiap hamba harus melalui tanda-tanda yang mengarah kedekatan kepada Allah sesuai dengan langkah yang dicontohkan para nabi. Pada tahap awal, melangkah mendekat kepada Allah harus dilakukan dengan tazkiyatun-nafs hingga seorang hamba dapat memahami petunjuk Allah secara tepat tanpa interferensi dari petunjuk lain. Akal dan pikiran seseorang harus menjadi kuat dalam memahami kehendak Allah. Hal ini akan mengantarkan seseorang untuk memahami fitrah penciptaan diri masing-masing. Ini adalah melangkah hijrah menuju tanah suci. Setelah seseorang telah mengenal fitrah dirinya, ia harus berusaha meninggikan dan mendzikirkan asma Allah melalui pembentukan bayt yang diijinkan untuk itu. Seseorang yang telah mengenal diri tidaklah bertujuan untuk menonjolkan diri, tetapi memberikan manfaat dari pengenalan dirinya kepada Allah dengan meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Ini adalah akhir perjalanan yang dapat diusahakan oleh setiap hamba Allah. Adapun langkah didekatkan kepada Allah dengan mi’raj sepenuhnya merupakan kehendak Allah, apakah Dia memberikan mi’raj atau tidak kepada hamba-Nya sedangkan hamba Allah tidak perlu mengusahakannya.

Perlu ketelitian bagi setiap hamba Allah dalam menempuh perjalanan dengan berpegang pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Semakin jauh perjalanan seorang hamba kembali kepada Allah untuk menjadi hamba yang diberi nikmat, akan semakin terbuka pemahaman terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga suatu saat mungkin Allah berkenan membukakan kepadanya keterbukaan yang menjelaskan (fathan mubiinan). Apabila pemahaman seseorang terhadap tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak semakin bertambah, mungkin ia terkungkung oleh waham. Hal ini bisa menjadi pangkal kesesatan dalam perjalanan taubat. Kadangkala kungkungan waham tidak menjadikan seseorang tersesat tetapi hanya mengurungnya terus dalam keadaan berpegang pada waham yang diyakininya tidak dapat memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW bahkan manakala orang lain membacakan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah kepadanya terkait ayat kitabullah. Bila seseorang melangkah dengan benar, mereka akan semakin mudah memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Membaca keadaan kauniyah akan membantu seseorang untuk memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tidak terjebak dalam waham yang menghambat perjalanan. Tuntunan kitabullah merupakan berita tentang hakikat yang menjadi sumber peristiwa kauniyah. Manakala berita itu dipahami dengan tepat maka langkah yang dilaksanakan berdasar pemahaman itu akan mendatangkan kebaikan bagi alam kauniyah. Manakala pemahaman tidak tepat atau kurang lengkap, langkah yang dilaksanakan mungkin tidak efektif mendatangkan hasil yang baik. Tidak jarang manusia tidak memperhatikan tuntunan kitabullah maka upaya mendatangkan kebaikan hanya berputar-putar tidak mendatangkan hasil yang layak. Misalnya manakala suatu bangsa muslim mengusahakan kesejahteraan dan keadilan, mereka seringkali diguncang oleh oligarki dengan tatanan ekonomi riba sedangkan muslimin tidak memperhatikan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Bila kaum muslimin berharap kepada Allah untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan dengan memperhatikan tuntunan kitabullah dan melakukan usaha perubahan keadaan secara bertahap menuju tuntunan yang terbaik, akan sulit bagi para kepitalis untuk mengguncang langkah mewujudkan kesejahteraan dan keadilan. Kebanyakan kaum muslimin hanya mengikuti tatanan ribawi tanpa memikirkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sesuai dengan keadaan kauniyah, maka kaum muslimin tampak seperti dipermainkan oleh para kapitalis.

Pengajaran Allah dan Kesempitan Kehidupan

Berpegang pada tuntunan kitabullah akan menjadikan umat menemukan jalan keluar dari kesempitan kehidupan mereka. Banyak masalah kesempitan kehidupan dunia disebabkan karena manusia berpaling dari pengajaran Allah, dan kesempitan karena hal itu akan diangkat Allah dengan melaksanakan pengajaran-pengajaran Allah. Sebaliknya orang-orang beriman akan terpuruk pada kehidupan yang sempit manakala mereka meninggalkan pengajaran-pengajaran Allah.

﴾۴۲۱﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS Thaahaa :124)

Pengajaran Allah ( ذِكْرِي ) pada ayat di atas menunjuk pada petunjuk yang telah dipahami oleh orang beriman secara matang hingga siap untuk dilaksanakan. Ayat-ayat kitabullah merupakan petunjuk paling benar yang diturunkan Allah kepada umat manusia agar manusia dapat memahami kehendak Allah atas diri mereka. Selain kitabullah, Allah menurunkan pula petunjuk-petunjuk kepada umat manusia hingga banyak makhluk diperintahkan untuk memberikan petunjuk kepada manusia. Misalnya Allah mengutus alam langit menurunkan hujan deras yang merupakan pengetahuan bathiniah bagi manusia yang memohon ampunan Allah. Petunjuk-petunjuk demikian sebenarnya bertujuan agar manusia memahami ayat kitabullah. Kumpulan petunjuk-petunjuk pada diri manusia yang menjadikan akalnya dapat memahami urusan Allah yang tertera dalam kitabullah Alquran akan membentuk suatu pengajaran Allah ( ذِكْرِي ) yang merupakan jalan keluar untuk mengatasi kesempitan kehidupan dunia.

Dalam perjalanan taubat seorang muslim, sangat banyak ditemukan bentuk petunjuk yang benar dan tiruan-tiruan dari petunjuk yang muncul dari syahwat ataupun hawa nafsu diri, dan juga syaitan yang membuat petunjuk-petunjuk yang menyesatkan. Petunjuk yang benar adalah petunjuk-petunjuk yang mengantarkan seseorang untuk bisa memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW hingga mereka menemukan jalan ibadah sesuai kehendak Allah. Manakala suatu petunjuk tidak dapat mengantarkan seseorang untuk dapat memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, petunjuk demikian belum diketahui nilai kebenarannya. Segala petunjuk yang bertentangan dengan tuntunan kitabullah merupakan petunjuk yang salah menyesatkan perjalanan manusia bertaubat kepada Allah. Nilai kebenaran ini akan diketahui oleh orang-orang yang mempunyai keikhlasan dalam mencari jalan kembali kepada Allah dengan berusaha mengenal kehendak Allah dengan benar.

Banyak orang bertaubat tidak tepat mensikapi petunjuk dalam mencari jalan taubat, utamanya tidak bersungguh-sungguh berusaha memahami tuntunan kitabullah untuk kehidupan diri mereka. Mereka tidak memperhatikan sesuatu berdasarkan cara pandang kitabullah. Petunjuk dari alam kauniyah, petunjuk yang diturunkan dalam hati dan petunjuk-petunjuk lain disikapi tanpa terintegrasi dengan tuntunan kitabullah. Kadangkala suatu kaum lebih mengikuti perkataan manusia dibandingkan dengan tuntunan kitabullah, bahkan sekalipun jelas bertentangan. Kadangkala seseorang memperoleh suatu petunjuk yang jelas di dalam hatinya, Rasululullah SAW dalam buku-buku hadits shahih telah berbicara tentang petunjuk dalam hatinya tersebut, dan demikian pula Alquran membicarakan tema dalam petunjuk itu, tetapi orang tersebut tidak mempunyai suatu keinginan untuk mengetahui makna petunjuk yang diterimanya menurut tuntunan Allah. Manakala orang lain menunjukkan ayat Allah terkait petunjuknya, mereka tidak mau mengikuti ayat Allah tersebut karena manusia tidak mengatakannya. Hal ini menunjukkan sikap tidak menggunakan akal untuk memahami kehendak Allah, justru mempertuhankan manusia.

Bila bersikap dengan cara demikian, orang bertaubat tidak akan tumbuh memahami kehendak Allah. Hal terpenting bagi setiap orang adalah memahami tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, baik dengan petunjuk yang lain ataupun tidak. Bila suatu petunjuk bentuk lain tidak digunakan untuk memahami tuntunan Allah, petunjuk itu sebenarnya tidak bermanfaat. Seringkali petunjuk demikian itu hanya mengombang-ambingkan manusia dalam ombak hawa nafsu. Sebaliknya suatu petunjuk yang sesat sekalipun akan bisa bermanfaat manakala digunakan untuk memahami tuntunan Allah dengan benar. Manakala syaitan membisikkan sesuatu kesesatan, seseorang bisa membalik kesesatan itu untuk memahami kehendak Allah dengan berpegang pada kitabullah Alquran. Pemahaman petunjuk-petunjuk secara terintegrasi dengan tuntunan Allah akan membentuk pengajaran, dan langkah mengikuti pengajaran itu akan mengentaskan manusia dari kesempitan kehidupan baik untuk diri sendiri ataupun untuk umatnya.

Dewasa ini umat islam tampak tertinggal dari kaum lainnya dalam kehidupan dunia. Hal ini tidak menunjukkan ketiadaan orang yang memperoleh pengajaran Allah hingga menyebabkan pengetahuan kaum muslimin tertinggal. Boleh jadi orang-orang yang memperoleh pengajaran Allah tidak dapat berbuat leluasa karena keadaan umat yang tidak baik, bukan karena tidak adanya pengajaran Allah. Manakala mereka mengungkapkan suatu kebenaran, kaum yang tidak baik mungkin akan menyalahgunakan apa yang diungkapkan. Kadangkala umat sendiri membatasi ruang gerak orang yang memperoleh pengajaran Allah karena wahamnya hingga sulit memberikan kebaikan bagi umat. Seringkali umat manusia terjebak dalam waham sendiri sehingga menghambat perbaikan keadaan.

Kadangkala jebakan waham itu berupa pemikiran deterministik. Misalnya ketika seseorang atau suatu kaum dalam keadaan sulit mereka menganggap secara terus menerus bahwa Allah memberikan ujian kesulitan atas diri mereka. Pemikiran itu mungkin benar untuk sementara waktu, tetapi boleh jadi bila seseorang membaca tuntunan kitabullah dan keadaan kauniyah dengan benar ia akan menemukan bahwa sebenarnya masalah mereka muncul dari ketidaktaatan dalam melaksanakan petunjuk Allah. Atau mungkin akan banyak persoalan yang berkelindan mendatangkan masalah bagi dirinya diterangkan dalam kitabullah. Tentu saja Allah menimpakan kehidupan yang sempit bagi mereka karena keberpalingan dari melaksanakan petunjuk Allah atau menghalangi manusia untuk melaksanakan pengajaran Allah, dan kelak Allah akan menghimpunkan mereka dalam keadaan buta di alam makhsyar. Hal-hal semacam ini harus diperhatikan oleh orang-orang yang berusaha berpegang pada tuntunan kitabullah agar tidak terjebak pada suatu waham yang menghambat pemahaman terhadap kehendak Allah.

Setiap orang hendaknya berusaha untuk berpegang pada tuntunan kitabullah dengan sebaik-baiknya untuk dapat mengikuti langkah dan menjadikan diri dalam golongan orang-orang yang diberi nikmat Allah. Orang-orang yang diberi nikmat Allah merupakan orang yang dapat memahami sesuatu yang terjadi sesuai dengan tuntunan Allah. Kebersamaan dengan orang-orang yang diberi nikmat Allah akan mendatangkan manfaat yang besar bagi kehidupan di alam dunia. Sekalipun seseorang belum memahami suatu hakikat, kebersamaan dengan orang-orang yang diberi nikmat Allah akan mendatangkan manfaat yang besar karena benarnya langkah yang dilakukan oleh umat manusia melaksanakan kehendak Allah. Kebersamaan itu dalam bentuk pelaksanaan amanah dalam kitabullah bukan kebersamaan membuta. Mungkin saja orang-orang yang diberi nikmat Allah tidak dapat berbuat banyak karena sedikitnya orang-orang yang benar-benar berharap petunjuk shirat al-mustaqim, atau justru karena halangan yang dibuat oleh umat terhadap langkah yang perlu dilakukan untuk mengikuti pengajaran Allah, maka keadaan mereka tidak baik. Walaupun sebenarnya mengetahui jalan untuk memperbaiki keadaan umat, orang yang diberi nikmat Allah belum tentu diberi kemampuan untuk mewujudkannya karena keadaan umatnya. Bila memungkinkan untuk beramal, mereka akan beramal dengan sebaik-baiknya memberikan kebaikan umat.







Senin, 09 Juni 2025

Berjamaah dengan Nikmat Allah

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW harus dilakukan dalam al-jamaah. Al-jamaah adalah persatuan orang-orang yang membangun akhlak mulia di atas sifat rahman dan rahim. Mereka orang-orang yang berusaha mewujudkan kehendak Allah dengan benar dalam suatu jalinan bersama dalam satu urusan Allah yaitu amr jami’ yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Masing-masing mengetahui kedudukan diri dalam urusan amr jami’ tersebut dan dapat berjalin rapi dengan orang lain yang bersama dalam urusan itu tanpa mengunggulkan diri. Di antara mereka diberi urusan yang lebih luas sebagai ulil amri yang memegang urusan tertentu dalam al-jamaah. Manakala proses pengusahaan kebaikan justru membuat seseorang keluar dari al-jamaah, mereka sebenarnya tidak berbuat kebaikan karena kebaikan yang mereka lakukan sebenarnya justru merusak.

﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)

Pokok dari al-jamaah itu adalah ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah SAW dengan pelaksanaan urusan-urusan-Nya dan menghindari hal-hal yang merusaknya, sedangkan wujud al-jamaah itu ditunjukkan oleh ulul amri, dalam urusan ulul amri itu. Umat manusia hendaknya berusaha mentaati ulul amri di antara mereka karena ulul amri dapat menunjukkan kepada al-jamaah. Pada setiap jaman, ada orang-orang yang memahami urusan Allah yang harus ditunaikan umat, maka mereka itulah ulul amr. Mereka adalah pokok yang akan mengarahkan masyarakat untuk menuju tatanan Aljamaah. Manakala orang-orang atau masyarakat memperhatikan dan mentaati penjelasan-penjelasan yang disampaikan para ulul amri, mereka akan bisa mengarahkan kehidupan untuk menyatukan diri dengan al-jamaah. Sebaliknya manakala mereka mengabaikan penjelasan-penjelasan dari para ulul amri, mereka akan terjebak pada kerumitan kehidupan alam dunia.

Para ulil amr tidaklah selalu menjadi pemimpin bagi para manusia, dan sebaliknya para pemimpin manusia tidak selalu dari kalangan ulil amri. Pada umat yang buruk, pemimpin yang diangkat bagi mereka adalah pemimpin yang buruk. Pada umat yang baik, pemimpin yang diangkat bagi mereka adalah pemimpin yang baik. Manakala umat dalam keadaan buruk, para ulul amri itu akan berkedudukan layaknya orang-orang yang dipandang rendah oleh umatnya karena rendahnya akal umat hingga melihat yang baik tampak rendah dan yang buruk tampak baik. Hanya umat yang baik yang akan menempatkan para ulul amri sebagai para pemimpin dalam urusan mereka karena pahamnya umat terhadap kebenaran. Allah menempatkan ulil amri sebagai pemimpin karena baiknya keadaan umat. Sangat sulit bagi para ulul amr untuk melaksanakan peran sebagai pemimpin bagi umat yang buruk, dan Allah berbuat adil tidak menjadikan mereka sebagai pemimpin umat untuk kehidupan dunia.

Ketaatan terhadap ulul amr harus ditemukan oleh setiap orang beriman dengan memperhatikan urusan Allah bagi ruang dan jaman mereka. Urusan Allah adalah apa-apa yang diturunkan melalui Rasulullah SAW baik Alquran maupun sunnah Rasulullah SAW dan penjelasan yang disampaikan para ulul amri terkait Alquran maupun sunnah Rasulullah SAW, bukan yang berupa urusan bebas ulul amr itu sendiri. Sebenarnya ayat-ayat kauniyah juga menceritakan tentang urusan Allah yang harus ditunaikan oleh manusia, tetapi tidak banyak orang yang dapat memahami urusan itu secara tepat sesuai kehendak Allah hanya dengan membaca kauniyah. Hanya orang-orang yang memahami kauniyah sesuai dengan ayat kitabullah-lah orang yang benar dalam memahami urusan Allah untuk ruang dan jamannya. Membantu setiap urusan ulul amr merupakan kebaikan bagi diri seseorang, tetapi hendaknya ia tidak menyangka telah melaksanakan urusan Allah dengan membantu ulul amri sedangkan ia belum memahami urusan itu sebagai bagian dari urusan Allah.

Setiap orang dapat mencari urusan Allah bagi dirinya melalui tuntunan kitabullah, sunnah Rasulullah SAW dan penjelasan-penjelasan para ulul amri yang berdekatan dengan keadaan diri masing-masing. Mereka dapat mencari urusan untuk diri mereka dari satu ulul amri. Para ulul amr mempunyai kedudukan tertentu dalam al-jamaah yang terhubung pada suatu struktur jamaah dengan hubungan vertikal ataupun sejajar. Kadangkala struktur al-jamaah itu layaknya sebuah keluarga, terdiri dari seorang kepala keluarga yang memimpin al-jamaah, seorang berperan sebagai ibu yang mendidik anak-anak untuk dapat membantu mewujudkan perjuangan kepala keluarga, dan anak-anak harus berusaha memahami dan membantu mewujudkan perjuangan kepala keluarga. Mereka harus berjuang untuk memberikan kesejahteraan bagi masyarakat luas bersama-sama layaknya suatu bayt yang digunakan mendzikirkan dan meninggikan asma Allah. Seorang imam agama dan pembimbing tazkiyatun-nafs bisa menjadi contoh struktur jamaah demikian selama tidak terjadi kedurhakaan atau pengkhianatan di antara keduanya. Kedurhakaan dan pengkhianatan terjadi manakala ada yang melangkah menentang kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Orang yang belum mengetahui kedudukan diri dalam al-jamaah dapat menempatkan diri dengan membantu urusan para ulul amri dengan ketaatan terhadap arahan dan perintah mereka dan mencari pemahaman terhadap dasar perintah yang mereka laksanakan itu berupa tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala seseorang tidak mengetahui pertentangan tuntunan Allah dengan urusan dan perintah seorang ulul amr, mereka tidak boleh menentang ulul amr, dan langkah yang terbaik adalah berusaha memahami dan melaksanakan arahan mereka.

Urusan Allah yang harus diperhatikan umat dalam memakmurkan bumi adalah urusan yang tertera dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Urusan demikian menyentuh suatu hakikat dari sisi Allah, dan juga merupakan petunjuk melaksanakan amal-amal di tingkatan praktis. Amal-amal praktis yang perlu dilakukan oleh setiap orang lebih mudah diketahui dengan mengikuti arahan para ulul amr, maka suatu kaum mengetahui langkah untuk mewujudkan urusan dalam tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Tanpa tuntunan Allah, suatu urusan tidak mempunyai kedudukan yang jelas dalam urusan Allah. Para ulul amr berperan dalam mempermudah umat manusia untuk beramal mewujudkan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Memperhatikan urusan Allah harus dilakukan secara utuh hingga setiap amal dilakukan sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini perlu dilakukan tanpa menghalangi amal yang dilakukan berdasar pemahaman parsial selama tidak menjadi penyebab terjadinnya penyimpangan dan tidak menutup pemahaman yang lebih utuh. Ketaatan terhadap ulul amr sangat mempengaruhi keutuhan pemahaman sebagai landasan dalam beramal. Kadangkala suatu kaum memperhatikan tuntunan Allah hanya sekilas perhatian dan kemudian beramal secara serampangan dan amal itu menutup pemahaman yang lebih sempurna atau menjadi sebab terjadinya penyimpangan.. Misalnya kadang suatu kaum berkeinginan untuk mencapai sistem bermasyarakat meritokratif. Keinginan menempatkan orang sesuai keahlian itu bisa saja justru menjadi sebab hilangnya kesempatan para ulul amr untuk berkiprah karena pemahaman parsial tanpa memperhatikan tuntunan kitabullah secara utuh. Seseorang yang menjelaskan bayinah dari sisi Allah mungkin saja tidak memperoleh tempat di antara mereka karena waham yang terlalu diagungkan. Mereka memperhatikan hanya potongan urusan tentang meritokrasi tanpa memahami urusan Allah tentang meritokrasi secara lebih utuh hingga timbul penolakan terhadap pemahaman meritokrasi yang lebih utuh. Keutuhan landasan pemahaman sangat terkait dengan ketaatan terhadap ulul amr.

Berharap Nikmat Allah

Secara umum ditemukaan 3 golongan manusia dalam urusan Allah. Golongan yang utama adalah orang-orang yang diberi nikmat Allah. Selain itu ada golongan orang-orang yang dimurkai Allah karena hanya mempertuhankan kepentingan diri mereka sendiri sama sekali mengabaikan atau bahkan melawan urusan Allah. Di antara kedua golonga itu ada orang-orang yang berusaha mendekat kepada Allah tetapi tidak memperhatikan urusan Allah dengan benar. Kaum muslimin hendaknya berdoa agar dapat menyatukan diri dengan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah dan beramal mengikuti mereka dengan benar.

﴾۷﴿صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah : 7)

Aljamaah adalah orang-orang yang diberi nikmat Allah dan orang-orang yang mengikutinya dengan benar. Yang dimaksud mengikuti dengan benar adalah tumbuhnya diri seseorang dengan akhlak mulia di atas sifat rahman dan rahim. Banyak orang yang berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang paling benar mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW tetapi tidak tumbuh pada mereka sifat rahman dan rahim. Mereka hanya meniru syariat Rasulullah SAW tanpa landasan pengetahuan tentang arah kehidupan yang harus ditempuh sehingga tidak dapat dikatakan mengikuti orang-orang yang diberi nikmat Allah.

Perkembangan akhlak setiap hamba harus melalui tanda-tanda yang mengarah kedekatan kepada Allah sesuai dengan langkah yang dicontohkan para nabi. Pada tahap awal, melangkah mendekat kepada Allah harus dilakukan dengan tazkiyatun-nafs hingga seorang hamba dapat memahami petunjuk Allah secara tepat tanpa interferensi dari petunjuk lain. Akal dan pikiran seseorang harus menjadi kuat dalam memahami kehendak Allah. Hal ini akan mengantarkan seseorang untuk memahami fitrah penciptaan diri masing-masing. Ini dapat dicapai melalui langkah hijrah menuju tanah suci. Setelah seseorang telah mengenal fitrah dirinya, ia harus berusaha meninggikan dan mendzikirkan asma Allah melalui pembentukan bayt yang diijinkan untuk itu. Seseorang yang telah mengenal diri tidaklah bertujuan untuk menonjolkan diri, tetapi memberikan manfaat dari pengenalan dirinya kepada Allah dengan meninggikan dan mendzikirkan asma-Nya. Ini adalah akhir perjalanan yang dapat diusahakan oleh setiap hamba Allah. Adapun langkah didekatkan kepada Allah dengan mi’rajnya sepenuhnya merupakan kehendak Allah, apakah Dia memberikan mi’raj atau tidak kepada hamba-Nya sedangkan hamba Allah tidak perlu mengusahakannya.

Ada orang-orang yang keliru dalam menempuh langkah kembali kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang tersesat. Kadangkala kesesatan para hamba sangat kabur dalam pandangan manusia karena halusnya kesesatan atau tingginya tingkatan kesesatan itu. Sebagian kesesatan tampak jelas kesesatannya. Semakin halus kesesatan seorang hamba, semakin besar bahaya yang dapat timbul. Kesesatan yang kabur itu akan tampak bagi manusia manakala dipandang dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, serta penjelasan para ulul amr yang mengetahui kesesatan yang tersembunyi itu. Beberapa ulul amr mungkin tidak dapat menjelaskan suatu kesesatan yang terjadi karena urusan mereka tidak lebih tinggi dari kesesatan yang terjadi, tetapi akan mengetahui manakala memandangnya dengan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap muslim tidak boleh membantah kebenaran yang dituntun kitabullah karena mungkin ada bahaya yang sangat besar terkandung dalam bantahan terhadap tuntunan kitabullah. Mustahil suatu akal bisa mengetahui adanya suatu kebenaran sedangkan kebenaran itu bertentangan dengan kitabullah.

Amal-amal orang yang dimurkai Allah akan tampak dalam pandangan orang-orang baik, tetapi mungkin tersembunyi dari pandangan orang-orang yang jahat. Dampak dari perbuatan mereka akan merugikan masyarakat luas. Sebagian orang mungkin tidak dapat menilai kebaikan atau keburukan yang dilakukan oleh orang-orang yang dimurkai Allah karena kelihaian para pelakunya tetapi masyarakat akan menemukan dampak buruk mereka setelah amal itu mendatangkan dampaknya. Para pelaku yang dimurkai Allah itu seringkali mempunyai keahlian dalam menutupi keburukan perbuatan mereka maupun tata cara melakukan keburukan itu. Manakala masyarakat luas mengetahui keburukan perbuatan mereka, mereka telah menyiapkan beberapa lapis yang menutupi tata cara perbuatan itu terkait dengan diri mereka. Dengan demikian mereka mungkin tetap dipandang baik oleh masyarakat luas walaupun telah diketahui oleh sebagian orang yang peduli.

Orang-orang yang memperoleh nikmat Allah adalah orang-orang yang merealisasikan urusan Allah di bumi. Selain orang yang memperoleh nikmat Allah dan orang-orang yang mengikutinya, mereka adalah orang-orang yang menghambat terealisasinya urusan Allah di bumi. Manakala seseorang belum mengetahui urusan Allah bagi diri mereka, hendaknya mereka benar-benar berharap kepada Allah untuk dapat mengikuti orang-orang yang memperoleh nikmat Allah. Bahkan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah hendaknya berharap kepada Allah untuk tetap bersama dengan langkah Rasulullah SAW dan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah, tidak terlena dengan keadaan diri mereka sendiri. Ketetapbersamaan dalam al-jamaah itu ditandai dengan ketaatannya terhadap ulul amr. Manakala ia tidak mengenal kedudukan dirinya dalam al-jamaah, sekalipun seseorang mengenal fitrah dirinya sebenarnya ia tidak benar-benar memperoleh nikmat Allah karena ia tidak bersama orang-orang yang memperoleh nikmat. Ada jalan pintas yang disukai syaitan untuk menjadikan seseorang mengenal pohon dirinya.

Nikmat Allah itu ada pada Al-jamaah, dan setiap orang hendaknya berharap nikmat Allah dengan membersamai orang-orang yang memperoleh nikmat Allah dalam al-jamaah. Salah satu tanda keberjamaahan adalah ketaatan kepada ulul amr yang merealisasikan urusan-urusan Allah dalam kehidupan di bumi. Mengingkari ketaatan kepada ulul amr akan menutup jalan untuk bersama al-jamaah, dan menutup jalan untuk memperoleh nikmat Allah, kecuali orang-orang yang berselisih dengan ulul amr karena mengikuti tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW sekalipun tidak mengetahui hakikat dari tuntunan kitabullah itu.


 

Rabu, 04 Juni 2025

Tauhid dengan Akhlak dan Amal

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW dilakukan dengan langkah membina tauhid pada setiap diri orang-orang beriman hingga setiap orang beriman dapat beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya terbebas dari syirik dan kekufuran. Tauhid harus dibina dalam diri setiap mukmin dengan cara membina akhlak mulia yang tumbuh di atas sifat pengasih dan penyayang. Hampir setiap orang islam mengetahui terminologi tauhid, tetapi sangat banyak yang tidak mengetahui jalan yang harus ditempuh untuk meningkatkan kualitas tauhid dalam diri mereka. Sebagian besar kaum muslimin menempuh cara pemurnian ibadah dengan membayangkan diri hanya beribadah semata-mata untuk Allah, dan dengan cara itu mereka merasa telah menjadi hamba terbaik dalam beribadah kepada Allah. Sebenarnya tidak demikian. Pembinaan akhlak mulia hanya dapat dilakukan dengan membina sifat rahman dan sifat rahim sebagai landasan pertumbuhan akhlak.

﴾۱﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.(QS Al-Fatihah : 1)

Sifat rahman menunjukkan pada pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah. Hal itu ditunjukkan dengan kekuatan akal dalam memahami firman Allah dalam Alquran dan pada ayat kauniyah secara sinergis. Sifat rahim menunjuk pada keinginan untuk memberikan kebaikan bagi makhluk lain. Gambaran besar sifat ini terdapat pada diri perempuan yang menyayangi anaknya dengan selalu siap memberikan yang terbaik untuk anaknya. Sebenarnya semua manusia mempunyai potensi untuk menumbuhkan rasa sayang terhadap makhluk lain sebagaimana seorang ibu menyayangi anaknya, walaupun mungkin dalam intensitas yang lebih rendah. Setiap orang harus berusaha menumbuhkan sifat demikian dengan sebaik-baiknya.

Sifat rahman harus dibina dengan menempuh jalan taubat, melakukan tazkiyatun-nafs sebagai awal melangkah dan membina nafs untuk mencintai tuntunan-tuntunan yang diturunkan Allah. Pembinaan demikian ini akan menjadikan seseorang sebagai misykat cahaya yang dapat membentuk bayangan cahaya Allah dalam dirinya. Ia dapat mengarahkan cahaya Allah yang datang untuk membentuk bayangan kehendak-Nya secara tepat, dan dapat menahan kebathilan-kebathilan untuk mencampuri bayangan yang terbentuk. Sifat rahman harus disertai dengan pembinaan sifat rahim. Sifat pembinaan sifat rahim mengikuti sifat rahman. Mengusahakan kebaikan harus dilakukan dengan seksama dengan mengikuti tuntunan. Tanda mengikuti tuntunan itu adalah terbentuknya diri dalam jamaah Rasulullah SAW. Manakala proses pengusahaan kebaikan justru membuat seseorang keluar dari al-jamaah, mereka sebenarnya tidak berbuat kebaikan karena kebaikan yang mereka lakukan sebenarnya justru merusak.

Pertumbuhan akhlak mulia akan menjadikan seseorang mengenal Allah. Ini adalah pengenalan kepada Allah yang sebenarnya, terjadi karena terbinanya sifat-sifat baik pada diri seseorang. Kemuliaan sifat Allah akan dikenali oleh orang-orang yang memperoleh percikan sifat mulia. Misalnya seseorang dengan sifat pemaaf-lah yang akan mempunyai penghormatan terhadap sifat pemaaf Allah. Seseorang yang menyimpan sifat pendendam akan memandang buruk sifat pemaaf karena mungkin dipandang lemah. Terbangunnya sifat-sifat mulia pada diri seseorang itulah yang akan mengantarkan mereka untuk mengenal Allah. Dengan pengenalan terhadap Allah, seseorang dapat menunaikan kehendak Allah dengan benar tidak menyimpang baik karena mengikuti hawa nafsu ataupun karena tipuan syaitan, maka ia dapat beribadah kepada Allah dengan lebih murni. Manakala seseorang tidak mengenal Allah, barangkali ia berkeinginan bersembah kepada Allah tetapi berbuat justru mengikuti dorongan hawa nafsu atau syaitan, maka ia tidak dapat beribadah dengan benar kepada Allah, sebagaimana Dzulkhuwaisirah merasa beribadah dengan baik kepada Allah.

Mewujudkan Keadaan yang Baik

Mengusahakan kebaikan harus dilakukan dengan seksama dengan mengikuti tuntunan. Tanda mengikuti tuntunan itu adalah terbentuknya diri dalam jamaah Rasulullah SAW. Manakala proses pengusahaan kebaikan justru membuat seseorang keluar dari al-jamaah, mereka sebenarnya tidak berbuat kebaikan karena kebaikan yang mereka lakukan sebenarnya justru merusak. Hal ini seperti seorang perempuan yang berjuang untuk agama tetapi berbuat durhaka terhadap suaminya, maka ia sebenarnya berbuat kerusakan bagi bangsanya. Fungsi diri seorang perempuan sebagai tiang negara akan rusak manakala ia durhaka terhadap suaminya. Setiap orang beriman harus berusaha sebaik-baiknya untuk berbuat kebaikan dengan mengikuti tuntunan yang diturunkan Allah hingga ia termasuk dalam golongan al-jamaah.

Al-jamaah merupakan persatuan orang-orang yang membangun akhlak mulia di atas sifat rahman dan rahim. Mereka orang-orang yang berusaha mewujudkan kehendak Allah dengan benar dalam suatu jalinan bersama yang berjalin satu dengan yang lain dalam satu urusan Allah yaitu amr jami’ yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Masing-masing mengetahui kedudukan diri dalam urusan amr jami’ tersebut dan dapat berjalin rapi dengan orang lain yang bersama mereka dalam urusan itu tanpa mengunggulkan diri. Di antara mereka diberi urusan yang lebih luas sebagai ulil amri yang memegang urusan tertentu dalam al-jamaah.

﴾۹۵﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS An-Nisaa : 59)

Orang-orang beriman hendaknya menyatukan diri mereka dalam urusan Allah melalui ketaatan kepada Rasulullah SAW dan ketaatan pada para ulil amri di antara mereka dalam suatu al-jamaah. Mereka harus berusaha untuk memahami urusan Allah untuk ruang dan jaman mereka sebagai bagian dari amr jami’ Rasulullah SAW dan menemukan para ulil amri di antara mereka untuk dapat mengerjakan urusan Allah dengan tepat. Manakala kaum muslimin tidak berusaha, mereka akan terjebak dalam urusan-urusan yang memayahkan diri mereka tidak mendapatkan sahabat yang berusaha membersamai berusaha memberikan kebaikan bagi kehidupan di alam semesta. Perjalanan menemukan al-jamaah membutuhkan usaha sungguh-sungguh dengan berusaha memahami tuntunan Allah.

Setiap orang harus berusaha menempatkan diri dalam al-jamaah melalui para ulil amr yang ada di antara mereka. Pokok dari al-jamaah itu adalah ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah SAW, sedangkan wujud al-jamaah itu ditunjukkan oleh ulul amri dalam urusan ulul amri itu. Umat manusia hendaknya berusaha mentaati ulul amri di antara mereka karena dapat menunjukkan kepada al-jamaah. Tetapi ketaatan pada ulul amri berlaku dengan syarat tidak menyelisihi atau menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Manakala menentang tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW, mereka tidak menunjukkan kepada Aljamaah. Manakala menyelisihinya, mereka tidak tepat dalam menunjukkan manusia kepada Al-jamaah. Dalam kasus tertentu, umat manusia boleh tidak bersepakat dengan para ulul amri tetapi harus mendasarkan pendapatnya pada tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.

Manusia ditempatkan di alam bumi yang diberi kerumitan kehidupan tinggi. Manakala tidak berusaha sungguh-sungguh menemukan al-jamaah, mereka akan menemukan pemimpin yang keliru mengarahkan kehidupan tidak menuju kebaikan. Sebagian manusia berusaha menempatkan diri sebagai pemimpin dengan berbagai pencitraan yang menipu tanpa mempunyai pengetahuan tentang ketentuan Allah atau bahkan tidak mempunyai iktikad yang baik. Banyak di antara pemimpin manusia sebenarnya hanya mencari keuntungan duniawi yang memuaskan syahwat dan hawa nafsu tidak memikirkan kebaikan bersama-sama dengan yang lain, apalagi mengusahakan terwujudnya tatanan mengikuti kehendak Allah. Mereka menonjolkan diri dengan kekuatan diri yang kadangkala disertai suatu persekutuan dengan syaitan. Orang-orang yang berkeinginan baik ditenggelamkan kiprahnya dari tata bermasyarakat, dan orang-orang yang buruk diikutsertakan dalam kiprah mereka seraya dijebak dengan berbagai jeratan untuk membuat mereka tunduk. Orang-orang yang bodoh dibuat terpesona dengan keunggulan dirinya agar menjadikannya pemimpin, dan dengan mudahnya manusia tertipu untuk menjadikan orang-orang demikian sebagai pemimpin.

Aljamaah merupakan keadaan terbaik yang benar-benar dapat dicapai oleh umat manusia, dan pangkal keberjamaahan adalah para ulul amr. Pada setiap jaman, ada orang-orang yang mengerti urusan yang harus ditunaikan sesuai dengan penciptaan dirinya hingga ia menjadi seorang ulul amr. Mereka adalah pokok yang akan mengarahkan masyarakat untuk menuju tatanan Aljamaah. Manakala orang-orang atau masyarakat memperhatikan dan mentaati penjelasan-penjelasan yang disampaikan para ulul amri, mereka akan dapat mengarahkan kehidupan untuk menyatukan diri dengan al-jamaah. Sebaliknya manakala mereka mengabaikan penjelasan-penjelasan dari para ulul amri, mereka akan terjebak pada kerumitan kehidupan alam dunia hingga dipimpin oleh orang-orang yang menjadikan diri sebagai pemimpin dengan jalan yang kotor hingga kehidupan mereka akan menjadi semakin sulit. Ketaatan kepada ulil amri setidaknya akan menjadikan seseorang mempunyai arah kehidupan sekalipun masyarakat besar sedang terjebak pada tata bermasyarakat yang buruk. Semakin baik ketaatan masyarakat pada ulul amr maka akan semakin baik pula tatanan masyarakat besar mereka.

Ketaatan pada ulul amr tidak selalu ditunjukkan dengan ketaatan pada pemimpin. Para ulil amr tidaklah selalu menjadi pemimpin bagi para manusia, dan sebaliknya para pemimpin manusia tidak selalu dari kalangan ulil amri. Pada umat yang buruk, pemimpin yang diangkat bagi mereka adalah pemimpin yang buruk. Pada umat yang baik, pemimpin yang diangkat bagi mereka adalah pemimpin yang baik. Manakala umat dalam keadaan buruk, ketaatan sepenuhnya seseorang pada pemimpin  sangat mungkin akan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang buruk. Para pemimpin buruk itu akan menjadikan orang yang sepenuhnya mentaati mereka sebagai pelaksana perbuatan-perbuatan yang buruk, sedangkan orang yang mengusahakan kebaikan akan mereka singkirkan. Manakala umat dalam keadaan buruk, hendaknya setiap orang mengusahakan kebaikan yang diketahuinya, tidak terlarut dalam kehidupan yang buruk, tetapi harus dengan sebisa mungkin menghindari perbuatan membangkang terhadap pemimpin.

Perlawanan terhadap pemimpin masyarakat pada satu sisi merupakan kebodohan masyarakat terhadap keadaan diri mereka sendiri. Pada dasarnya pemimpin suatu masyarakat diangkat sesuai dengan keadaan diri terutama orang-orang beriman, maka perbaikan tatanan masyarakat harus dimulai dengan memperhatikan diri orang beriman sendiri. Manakala pemimpin mereka buruk, maka keburukan itu ada pada diri mereka sendiri. Bila masyarakat tidak mengenali dan memperbaiki keburukan diri itu, mereka tidak akan dapat mermperbaiki keburukan tatanan masyarakat. Setiap usaha memperbaiki keadaan tatanan masyarakat harus disertai dengan usaha mengenali dan memperbaiki keburukan dalam diri orang-orang beriman, terutama dalam hubungan mereka kepada para ulul amr yang tergabung dalam jamaah Rasulullah SAW. Para ulul amri itulah orang-orang yang mengetahui keburukan yang ada pada diri mereka dalam urusan Allah. Melakukan perlawanan terhadap pemimpin-pemimpin masyarakat tanpa disertai dengan memperbaiki keburukan dalam tatanan orang-orang beriman akan menyebabkan keburukan yang lebih besar.

Manakala terjadi suatu proses menuju keadaan yang lebih baik, proses perubahan seringkali terjadi dengan cara yang berat, karena itu setiap orang beriman harus banyak berdoa kepada Allah. Syaitan dan orang-orang yang mengikuti mereka cenderung untuk mempertahankan keadaan yang buruk untuk keuntungan mereka dengan menghambat usaha-usaha orang-orang yang keadaan mereka telah berubah. Secara ideal, seharusnya orang beriman menjadi aktor-aktor perubahan masyarakat menuju kebaikan, tetapi kadangkala keadaan tidak memungkinkan terjadi demikian. Boleh jadi kebanyakan orang beriman hanya menjadi orang tidak terpandang di masyarakat karena keadaan yang buruk maka mereka tidak mempunyai kuasa untuk ikut serta dalam melakukan perubahan, tetapi perubahan tetap berjalan karena suatu perubahan pada keadaan orang beriman. Oleh karena itu mereka harus memberikan dukungan perubahan dalam bentuk doa-doa agar perubahan itu dapat berjalan dengan baik.

Hendaknya orang-orang beriman tidak memaksakan diri melakukan perubahan melebihi perbaikan tatanan masyarakat lebih dari perbaikan diri yang telah dilakukan. Dorongan perbaikan demikian merupakan dorongan hawa nafsu. Manakala orang-orang beriman dalam keadaan buruk, mungkin saja diangkat bagi mereka pemimpin yang justru menjual kekayaan negeri mereka kepada orang asing dan memberikan orang asing layanan melebihi kepada masyarakat sendiri. Apabila keadaan masyarakat telah benar-benar baik, mereka akan mengetahui para ulul amr dan menempatkan ulul amr untuk menjadi pelaksana urusan di masyarakat, dan orang-orang yang baik akan memperoleh tempat secara layak di antara mereka dalam sistem meritokrasi. Ada banyak macam keadaan yang mungkin diberikan kepada orang beriman di antara dua ujung keadaan tersebut, dan keadaan itu ditentukan keadaan masyarakatnya. Manakala menginginkan perubahan, hendaknya masyarakat mengukur keadaan diri mereka terutama dalam pelaksanaan urusan Allah, termasuk hubungan mereka dengan para ulul amr. Hubungan yang buruk dengan ulul amr akan melahirkan keadaan yang buruk. Menginginkan perubahan melebihi perbaikan keadaan diri akan menjadikan usaha mereka mudah ditunggangi oleh pihak-pihak lain yang tidak baik. Sebaliknya perubahan keadaan yang terjadi menuju kebaikan hendaknya didoakan agar terkabul diiringi perbaikan dalam diri masing-masing orang beriman karena perubahan yang terjadi mungkin menunjukkan perbaikan yang harus dilakukan orang beriman.

Baiknya keadaan masyarakat adalah bagaimana urusan Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dilaksanakan oleh orang-orang beriman. Para ulul amr dalam sudut pandang tertentu adalah orang yang dijadikan Allah sebagai pengawas pelaksana urusan-Nya. Manakala umat manusia tidak memperhatikan arahan mereka, mereka tidak memperhatikan urusan Allah. Mungkin seseorang berkeinginan baik tetapi tidak memperhatikan tuntunan Allah, maka keinginan itu hanya kebaikan tingkatan rendah. Kadangkala suatu kaum terlalu taat dengan arahan yang buruk tentang urusan Allah, maka kaum tersebut merupakan kaum yang bodoh karena sama saja dengan orang yang tidak memperhatikan urusan Allah dalam kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, maka keadaan masyarakat mereka menjadi buruk. Baiknya keadaan akan diperoleh masyarakat manakala mereka memperhatikan dan melaksanakan urusan Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, melalui perhatian kepada para ulil amr.

Kadangkala suatu masyarakat memandang diri mereka sebagai hamba Allah yang baik tetapi keadaan mereka buruk dan semakin memburuk. Hal ini mungkin terjadi karena mereka tidak benar dalam memperhatikan urusan Allah. Mereka mungkin hanya merasa memperhatikan urusan Allah sedangkan mungkin saja ulul amr mereka tidak diperhatikan. Atau mungkin saja seorang ulul amr keliru dalam menjelaskan urusan Allah kepada umat manusia maka manusia tidak memperhatikan urusan Allah. Dalam hal ini urusan Allah adalah apa-apa yang diturunkan melalui Rasulullah SAW baik Alquran maupun sunnah Rasulullah SAW, bukan urusan ulul amr itu sendiri. Mungkin saja manusia berselisih dengan ulul amr manakala seorang ulul amr tidak selaras dengan kitabullah Alquran dan sunnah Rasulullah SAW dan orang tersebut tidak berdosa karena perselisihannya. Untuk memperoleh perbaikan, hendaknya mereka memperhatikan dan melaksanakan urusan Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW melalui arahan ulul amr di antara mereka dengan ketaatan.

Senin, 02 Juni 2025

Membina Tauhid

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Mengikuti langkah Rasulullah SAW dilakukan dengan langkah membina tauhid pada setiap diri orang-orang beriman hingga setiap orang beriman dapat beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya terbebas dari syirik dan kekufuran. Tauhid harus dibina dalam diri setiap mukmin dengan cara membina akhlak mulia yang tumbuh di atas sifat pengasih dan penyayang.

﴾۱﴿بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.(QS Al-Fatihah : 1)

Hampir setiap orang islam mengetahui terminologi tauhid, tetapi sangat banyak yang tidak mengetahui jalan yang harus ditempuh untuk meningkatkan kualitas tauhid dalam diri mereka. Sebagian besar kaum muslimin menempuh cara pemurnian ibadah dengan membayangkan diri hanya beribadah semata-mata untuk Allah, dan dengan cara itu mereka merasa telah menjadi hamba terbaik dalam beribadah kepada Allah. Sebenarnya tidak demikian. Perasaan menjadi hamba Allah yang beribadah secara murni kepada Allah tidak benar-benar menunjukkan seseorang telah beribadah secara murni kepada Allah. Tauhid tidak dapat dicapai dengan cara hanya mengolah pikiran demikian, tetapi harus dibina dengan selalu melakukan pembinaan akhlak mulia sepanjang kehidupan masing-masing. Pembinaan akhlak mulia hanya dapat dilakukan dengan membina sifat rahman dan sifat rahim sebagai landasan pertumbuhan akhlak.

Setiap orang dituntun untuk selalu berdoa dalam setiap amal yang dilakukan dengan suatu doa yang disebutkan dalam ayat di atas. Itu merupakan tuntunan tentang harapan yang harus ditumbuhkan dalam setiap diri muslim berupa permohonan untuk dapat membina diri dalam sifat rahman dan rahim. Hanya dengan landasan kedua sifat itulah akhlak mulia akan tumbuh dengan benar. Tanpa kedua sifat itu tumbuh dalam diri muslim, mustahil bagi diri mereka untuk membangun akhlak mulia mengikuti Rasulullah SAW, dan sebenarnya mereka tidak akan dapat membina tauhid dalam beribadah kepada Allah. Allah hanya akan dikenal manusia yang membina akhlak mulia, tidak dapat dikenal dengan membangun teori-teori tentang Allah, karena itu tauhid yang sebenarnya hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang membina akhlak mulia dengan landasan sifat rahman dan rahim.

Sifat rahman menunjukkan pada pengenalan seseorang terhadap kehendak Allah. Hal itu ditunjukkan dengan kekuatan akal dalam memahami firman Allah dalam Alquran dan pada ayat kauniyah secara sinergis. Ayat kauniyah sebenarnya hanya terwujud berdasarkan firman Allah, karena itu ayat kauniyah merupakan ayat Allah sebagaimana ayat dalam kitabullah, walaupun kebenaran dan kebathilan diijinkan untuk wujud bersama-sama di alam kauniyah. Kebenaran di alam kauniyah itu akan dikenali oleh orang-orang beriman berupa keselarasan ayat kauniyah dengan ayat dalam kitabullah. Sifat rahman dalam diri mukmin menunjuk pada pemahaman mereka terhadap ayat kitabullah selaras dan sinergis dengan ayat kauniyah.

Sifat rahim menunjuk pada keinginan untuk memberikan kebaikan bagi makhluk lain. Gambaran besar sifat ini terdapat pada diri perempuan yang menyayangi anaknya dengan selalu siap memberikan yang terbaik untuk anaknya. Sebenarnya semua manusia mempunyai potensi untuk menumbuhkan rasa sayang terhadap makhluk lain sebagaimana seorang ibu menyayangi anaknya, walaupun mungkin dalam intensitas yang lebih rendah. Setiap orang harus berusaha menumbuhkan sifat demikian dengan sebaik-baiknya.

Sifat rahman berkedudukan lebih utama daripada sifat rahim karena sifat rahim dalam diri seseorang harus tumbuh mengikuti pengetahuan terhadap kehendak Allah. Setiap mukmin hendaknya berusaha untuk memberikan kebaikan dengan sepenuhnya kepada orang-orang yang berusaha mewujudkan kehendak Allah hingga kehendak Allah dapat terwujud di alam dunia. Sebaliknya muslimin tidak boleh memberikan sarana yang terbaik bagi orang-orang yang ingin berbuat jahat karena Allah tidak menyukai orang berbuat jahat. Sifat rahim itu harus tumbuh mengikuti sifat rahman, tidak tumbuh tanpa tuntunan Allah. Bila suatu sifat rahim tumbuh tanpa mengikuti tuntunan Allah, umat manusia tidak akan mengarah menuju kebaikan tetapi akan selalu terjadi pertikaian antara pihak yang taat kepada Allah dengan pihak yang mempunyai sifat jahat kepada makhluk lain.

Akan terjadi sinergi pertumbuhan antara sifat rahman dan rahim manakala seseorang berusaha membina sifat baik. Manakala seseorang berusaha mengikuti kehendak Allah, akan tumbuh dalam diri mereka sifat untuk memberikan kebaikan kepada orang lain secara terarah. Demikian pula manakala seseorang tumbuh keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain, maka ia akan mudah memahami kehendak Allah yang terpancar pada ayat kitabullah dan ayat kauniyah yang terjadi di sekitar mereka. Kedua sifat itu akan tumbuh sinergis pada diri mukmin yang membina akhlak mulia. Hanya saja setiap orang akan mempunyai komposisi kandungan yang berbeda-beda. Para mukminat akan tumbuh lebih dominan dalam sifat rahim dibandingkan rahmaniahnya karena akal mereka tidak sekuat laki-laki. Mukminin akan tumbuh lebih dominan dalam sifat rahmaniah karena akal mereka yang kuat. Setiap orang akan tumbuh dengan komposisi yang berbeda-beda tetapi selalu ada kandungan kedua sifat itu pada setiap diri masing-masing yang ingin membina akhlak mulia.

Pertumbuhan akhlak mulia pada diri akan menjadikan seseorang mengenal Allah. Ini adalah pengenalan kepada Allah yang sebenarnya yang terjadi karena terbinanya sifat-sifat baik pada diri seseorang. Kemuliaan sifat Allah akan dikenali oleh orang-orang yang memperoleh percikan sifat mulia. Misalnya seseorang dengan sifat pemaaf-lah yang akan mempunyai penghormatan terhadap sifat pemaaf Allah. Seseorang yang menyimpan sifat pendendam akan memandang buruk sifat pemaaf karena mungkin dipandang lemah. Terbangunnya sifat-sifat mulia pada diri seseorang itulah yang akan mengantarkan mereka untuk mengenal Allah. Pengenalan kepada Allah tidak dapat dibangun dengan mengikuti teori-teori tentang Allah kecuali hanya merupakan waham pengenalan.

Ada sekelompok manusia yang mengajarkan tauhid berupa teori tauhid yang sebenarnya dapat selesai dipahami dalam lima menit, tetapi ditumbuhkan waham bahwa tauhid mereka adalah yang paling baik. Dampak tauhidnya, mereka melakukan penyerangan terhadap muslimin lain dengan tuduhan-tuduhan bid’ah dan kesyirikan atau bahkan serangan dalam bentuk serangan pedang. Hal itu semisal dengan perbuatan Dzulkhuwaisirah yang sangat memperhatikan ritual-ritual kepada Allah tetapi tidak memahami tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak membina akhlak mulia untuk memahami jalan ibadah kepada Allah yang sebaik-baiknya, dan memandang bahwa ritual yang mereka lakukan itu adalah ibadah yang paling bersih dari kesyirikan. Ibadah yang paling bersih dari kesyirikan hanya diperoleh oleh orang yang berakhlak mulia yang tumbuh di atas landasan sifat rahman dan rahim.

Berharap Pertemuan dengan Rabb

Tanda tumbuhnya pengenalan seseorang terhadap kemuliaan Allah adalah tumbuhnya harapan pada diri mereka untuk berjumpa dengan Allah. Mereka mempunyai penghormatan terhadap sifat-sifat mulia dan mengetahui bahwa sumber kemuliaan itu adalah Allah, maka mereka mempunyai suatu harapan dan keinginan untuk bertemu dengan Allah. Mungkin harapan itu bercampur dengan rasa takut, tetapi ada harapan yang tumbuh terhadap pertemuan dengan Allah. Orang yang tidak mempunyai harapan untuk bertemu Allah menunjukkan belum tumbuhnya pengenalan dalam diri mereka terhadap kemuliaan Allah. Demikian itulah pengharapan terhadap pertemuan dengan rabb yang seharusnya tumbuh pada diri manusia.

Sebagian orang tidak mengharapkan pertemuan dengan keadaan demikian. Mereka berangan-angan bahwa pertemuan dengan rabb itu berupa diutusnya malaikat untuk menjumpai mereka, atau mereka berharap pertemuan itu berupa perjumpaan dengan rabb. Manakala seseorang berharap dengan cara demikian, sebenarnya mereka belum mempunyai harapan terhadap pertemuan dengan rabb-nya. Sebagian orang yang tidak mengharap perjumpaan dengan rabb-nya mengukur kedudukan di antara mereka melalui perjumpaan dengan malaikat atau perjumpaan dengan rabb-nya, sedangkan sebenarnya kemuliaan terletak pada ketakwaan kepada Allah.

﴾۱۲﴿ وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَىٰ رَبَّنَا لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنفُسِهِمْ وَعَتَوْ عُتُوًّا كَبِيرًا
Berkatalah orang-orang yang tidak mengharap pertemuan(nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman". (QS Al-Furqan : 21)

Ayat di atas secara khusus menjelaskan bahwa harapan yang sebenarnya pada seorang hamba terhadap pertemuan dengan rabb lebih dilatarbelakangi keinginan untuk bertemu Dia yang dicintainya karena kemuliaan-Nya. Hal itu hanya tumbuh pada orang yang membina akhlak mulia. Harapan pertemuan dengan rabb yang sebenarnya muncul karena harapan terhadap pertemuan dengan Sang Maha Mulia. Hal ini tidak mengingkari adanya pertemuan wajah seorang hamba dengan rabb-nya, tetapi hal itu merupakan sesuatu yang berat bagi orang-orang yang bertakwa. Orang bertakwa barangkali akan lebih menyukai pertemuan dengan rabb-nya setelah kematiannya kelak karena rasa takutnya, sedangkan ia di dunia lebih menyukai cahaya Allah cukup melalui kitabullah dan ayat-ayat-Nya yang lain.

Sebagian orang memandang bahwa pertemuan dengan Allah itu sebagai hal yang biasa saja, karena itu mereka memandang pertemuan dengan Allah serupa dengan pertemuan dengan manusia. Dengan ringan mereka berkata seandainya Allah menurunkan malaikat kepada mereka, atau seandainya mereka bertemu dengan rabb. Mereka menganggap pertemuan dengan rabb itu biasa saja tanpa perlu kondisi kemuliaan. Hal itu sebenarnya merupakan buah dari kesombongan yang ada dalam diri, memandang besar dirinya hingga merasa layak bertemu rabb-nya atau menerima utusan dari kalangan malaikat Allah tanpa urusan yang jelas.

Kecintaan hamba Allah terhadap kemuliaan harus dibangun dengan kecintaan terhadap kebenaran dari sisi Allah. Kebenaran dari sisi Allah itu terbentang dari sisi Allah menjangkau kehidupan di alam dunia, akan tetapi banyak hal-hal bathil di alam yang jauh dari sisi Allah yang mencampuri kebenaran. Setiap hamba Allah harus memperhatikan ayat-ayat Allah agar mempunyai akal yang mampu memahami kebenaran di antara segala sesuatu yang bercampur-campur antara kebenaran, kecintaan hawa nafsu ataupun tipuan-tipuan syaitan yang mendorong manusia memandang kebathilan sebagai kebenaran. Di setiap saat Allah memberikan hal yang dijadikan pendorong bagi manusia untuk mengenal kebenaran. Ada prinsip-prinsip kebenaran yang selalu diberitakan melalui kitabullah Alquran agar manusia mengenal kebenaran, dan hingga ada kebutuhan-kebutuhan praktis yang sematkan pada setiap orang untuk mendorong manusia mengenal kebenaran sebagaimana hajat terhadap lawan jenis melalui pernikahan.

Banyak manusia yang akalnya tidak cukup untuk memahami kebenaran sehingga mengikuti kebathilan-kebathilan yang dipandang memudahkan kehidupan. Kebanyakan orang tidak mempunyai kemampuan memahami tuntunan ayat-ayat kitabullah yang bermanfaat bagi kehidupan duniawi yang seharusnya menjadi sumber kebaikan yang harus dialirkan melalui diri mereka masing-masing. Akal mereka tertutup waham rasa takut terhadap dogma-dogma kebenaran yang diajarkan kepada mereka tanpa dipahami. Bukan ajarannya salah, tetapi sikap manusia yang menjadikan ajaran yang benar itu sebagai dogma. Sebagian orang memandang diri mereka mencintai kitabullah Alquran yang diturunkan dari sisi Allah, tetapi bisa menentang tuntunan kitabullah yang dibacakan kepada mereka, maka sebenarnya mereka belumlah mencintai kemuliaan dari sisi Allah. Kadangkala keadaan itu tergambar nyata dengan gejala mudahnya mereka tidak menghormati ketentuan-ketentuan dasar dari sisi Allah.

Kecintaan kepada Allah terbentuk melalui akhlak mulia, dan bentuk rincian akhlak mulia itu adalah ketakjuban terhadap cahaya tuntunan Allah yang terpancar hingga di alam dunia serta kecintaan mereka terhadap makhluk lain dengan mengikuti tuntunan Allah. Kedua perincian itu harus ada bersama-sama pada setiap hamba, walaupun setiap orang mungkin mempunyai komposisi yang berbeda-beda. Semakin jelas tuntunan Allah yang tercerap akalnya melalui ayat kitabullah dan ayat kauniyah, akan semakin besar ketakjuban dan kecintaan seorang hamba kepada Allah. Demikian pula semakin besar kecintaan terhadap makhluk lain maka ia akan semakin memahami arti kecintaan kepada Allah. Kecintaan demikian itu akan menumbuhkan harapan pertemuan dengan Allah.

Pembinaan akhlak itu harus dimulai dengan ketaatan dalam menjalankan tuntunan-tuntunan yang ditetapkan. Dengan ketaatan-ketaatan demikian, setiap orang hendaknya menggunakan pikiran untuk mencari pengetahuan yang benar dan menalarnya dengan benar. Dengan berpegang pada tuntunan kitabullah, akal harus digunakan bersama dengan pikiran untuk memahami petunjuk Allah terkait dengan sendi-sendi kehidupan, maka seseorang akan bisa merasakan kebenaran tuntunan Allah dengan rasa takjub yang membangkitkan kecintaan kepada Allah. Tanpa langkah yang benar, pemahaman terhadap kebenaran tuntunan-tuntunan Allah tidak terbentuk, dan tidak terbentuk pula akhlak mulia. Pemahaman terhadap tuntunan Allah lebih utama dari keinginan memberikan kebaikan kepada orang lain. Sangat banyak bentuk-bentuk yang dipandang sebagai kebaikan sebenarnya justru mendatangkan kerusakan.

Mengusahakan kebaikan harus dilakukan dengan seksama dengan mengikuti tuntunan. Tanda mengikuti tuntunan itu adalah terbentuknya diri dalam jamaah Rasulullah SAW. Manakala proses pengusahaan kebaikan justru membuat seseorang keluar dari al-jamaah, mereka sebenarnya tidak berbuat kebaikan karena kebaikan yang mereka lakukan sebenarnya justru merusak. Seringkali orang yang keluar dari al-jamaah memandang diri mereka sebagai kaum yang paling benar, tetapi tidak dapat menunjukkan pemahaman mereka berlandaskan tuntunan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. Kadangkala mereka menunjukkan sebagian tuntunan yang bisa mereka gunakan tetapi menyalahgunakan tuntunan yang lain. Kadangkala mereka menggunakan tuntunan dengan penalaran yang salah. Hal demikian menjadikan mereka kesulitan atau tidak dapat menyadari dan memperbaiki diri untuk kembali mengikuti al-jamaah.

Manakala seseorang mengetahui amal terbaik yang dapat dilakukan seseorang atau suatu kaum atau umat manusia seluruhnya, ia bisa menyeru orang lain untuk mengerjakan karena akan menjadi amal shalih bagi orang lain juga. Pengetahuan itu terutama bila seseorang mengetahui urusan al-jamaah untuk ruang dan waktunya. Manakala seseorang tidak mengenal kedudukan dirinya dalam al-jamaah, setiap orang harus berusaha memberikan kebaikan dengan melihat keadaan diri masing-masing. Kebaikan itu kadangkala berwujud hal yang tampak kecil misalnya menghormati orang lain berbuat baik sesuai dengan keadaan diri. Hal itu mungkin tidak terlihat sebagai kebaikan dalam pandangan kebanyakan orang, tetapi merupakan hal yang sangat berharga bagi orang yang berbuat. Besarnya nilai ini tidak bersifat subjektif. Besarnya nilai terkait dengan ketentuan amal shalih yang telah ditetapkan Allah bagi setiap orang. Manakala seseorang menghormati perbuatan baik orang lain, ia menghormati ketentuan Allah. Sebaliknya, bila seseorang berusaha menghormati ketentuan Allah ia akan menghormati kebaikan dari seseorang. Bahwa seseorang mungkin tidak benar-benar berada pada amal shalih yang ditentukan, hal itu merupakan tanggung jawab dirinya sendiri bukan tanggung jawab publik.



Kamis, 29 Mei 2025

Bayyinah dan Pemakmuran

Allah telah mengutus Rasulullah SAW ke alam dunia untuk menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia dalam beribadah kepada Allah. Hendaknya seluruh umat manusia mengikuti jejak langkah beliau SAW dengan membentuk akhlak al-karimah dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Dengan mengikuti Rasulullah SAW, seseorang akan menemukan jalan untuk kembali kepada Allah menjadi hamba yang didekatkan.

Untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW setiap orang beriman harus mencari tuntunan dari kitabullah Alquran. Allah telah menurunkan kitabullah Alquran kepada Rasulullah SAW, dan Allah sebenarnya juga menurunkan penjelasan-penjelasan dan petunjuk-petunjuk terkait dengan ayat-ayat dalam kitabullah Alquran kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Dengan berpegang pada tuntunan kitabullah, kaum muslimin akan memperoleh jalan untuk mengikuti langkah Rasulullah SAW.

﴾۹۵۱﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِن بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati (QS Al-Baqarah : 159)

Penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah itu sangat bermanfaat untuk mewujudkan pemakmuran di bumi. Penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah berasal dari hakikat-hakikat di sisi Allah, dan hakikat-hakikat itu banyak terhubung dengan fenomena kauniyah yang terjadi di alam dunia, tidak hanya suatu kisah tentang keadaan di alam yang tinggi. Bagian-bagian Alquran yang terhubung dengan fenomena kauniyah di alam dunia merupakan bagian yang diperuntuhkkan utamanya bagi manusia untuk dijadikan jalan untuk melakukan pemakmuran dunia.

Setiap orang hendaknya memperhatikan penjelasan-penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah untuk melakukan pemakmuran bumi, karena firman Allah-lah yang menjadi sumber pemakmuran. Perintah-perintah Allah tidaklah semata-mata berbentuk ketentuan-ketentuan dasar syariat, tetapi ada yang berbentuk amal-amal duniawi terkait dengan keadaan kauniyah. Manakala seseorang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang ayat kitabullah, ia dapat beramal mengikuti penjelasan dan petunjuk itu dan apa yang dilaksanakan darinya merupakan amal-amal yang diperintahkan Allah. Apa-apa yang perlu dilaksanakan untuk mewujudkan penjelasan-penjelasan yang diturunkan Allah hendaknya dilaksanakan, dan apa-apa yang akan merusak penjelasan-penjelasan dan petunjuk itu hendaknya dihindari. Amal-amal demikian akan mendatangkan pemakmuran di bumi.

Penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang ayat kitabullah merupakan bentuk petunjuk tertinggi yang dapat diperoleh makhluk Allah. Tidak ada bentuk petunjuk yang lebih baik daripada penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang ayat kitabullah. Ayat kitabullah Alquran itu sendiri merupakan bentuk petunjuk yang tertinggi, maka penjelasan serta petunjuk yang diturunkan Allah terkait suatu ayat Alquran akan membukakan bagi seseorang kandungan dari petunjuk tertinggi itu sehingga seseorang memperoleh penjelasan dan petunjuk yang paling baik. Mungkin terdapat perbedaan derajat di antara penjelasan dan petunjuk demikian yang diberikan kepada setiap makhluk yang menerima, tetapi setiap keterbukaan penjelasan dan petunjuk demikian itu termasuk pada kelompok petunjuk yang paling tinggi.

Mengikuti penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah merupakan petunjuk yang lebih terang daripada mengikuti seseorang yang beramal semata berdasar ayat kitabullah. Tidak jarang seseorang yang beramal berdasar ayat kitabullah sebenarnya tidak terlalu memahami ayat kitabullah yang diamalkannya. Hal ini bukan sesuatu yang buruk, bahkan hal yang baik, tetapi ada perbedaan derajat pemahaman pada orang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah. Mereka adalah orang-orang yang memahami tuntunan kitabullah untuk semesta kauniyah mereka, maka mereka melakukan amal-amal yang merupakan perintah Allah, maka ada perbedaan derajat yang sangat banyak antara seseorang yang sekadar beramal dengan kitabullah dengan orang yang beramal berdasarkan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang kitabullah. Tidak ada orang dengan derajat demikian beramal dengan amal yang bertentangan dengan kitabullah. Adapun amal yang bertentangan dengan kitabullah tidak dapat dikatakan sebagai amal mengikuti tuntunan Allah.

Kadangkala dijumpai orang-orang yang mengikuti petunjuk yang tampak tidak terkait langsung dengan tuntunan kitabullah. Derajat nilai petunjuk demikian harus diukur berdasarkan tuntunan kitabullah. Meninggalkan langkah mengukur ini kadang bisa menjadi sangat berbahaya. Setiap petunjuk yang ditampakkan kepada manusia hendaknya diperiksa dengan tuntunan kitabullah. Mungkin saja suatu petunjuk merupakan bagian dari ayat kitabullah tertentu yang harus diikuti, maka kewajiban mengikuti petunjuk itu berlaku manakala seseorang mengetahui tuntunan kitabullah untuk urusan itu. Seseorang tidak harus mengikuti suatu penglihatan atau pendengaran manakala belum memahami apa yang dicerap inderanya. Atau boleh jadi ada petunjuk dari alam-alam yang tampak tinggi tetapi bukan merupakan kebenaran, maka mengikuti petunjuk demikian akan menjadikan manusia tersesat dari jalan Allah. Ada banyak potensi masalah yang dapat terjadi jika seseorang meninggalkan tuntunan kitabullah.

Kesengsaraan dapat muncul karena orang-orang yang beramal dengan berdasar petunjuk tanpa memeriksa kedudukan petunjuknya dalam tuntunan kitabullah. Bisa saja petunjuk demikian berbenturan dengan penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang kitabullah, maka petunjuk yang diturunkan Allah kemudian menjadi terhambat. Kadangkala suatu penglihatan atau pendengaran menjadikan seseorang bertindak melawan petunjuk Allah maka ia kemudian berbuat kerusakan terhadap keadaan mereka. Suatu kesengsaraan bisa mengikuti orang-orang yang tidak berpegang pada tuntunan kitabullah. Hal demikian itu akan mendatangkan laknat Allah. Orang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang kitabullah hanya melaksanakan amal shalih mereka mengikuti tuntunan kitabullah dengan suatu pemahaman terhadap kauniyah mereka, maka mereka akan mendatangkan pemakmuran di bumi. Mungkin ada bagian amal yang bukan merupakan amal shalih tetapi mereka mengetahui bahwa mereka beramal dengan keinginan mereka sendiri, tidak mengatakan amal yang mereka laksanakan semata karena Allah.

Mewujudkan Bayyinah untuk Pemakmuran

Untuk mewujudkan pemakmuran bumi, hendaknya setiap orang berusaha untuk mengikuti penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang suatu ayat kitabullah manakala menjumpainya. Pemakmuran di bumi akan terwujud mengikuti langkah berdasar tuntunan kitabullah. Tanpa mengikuti kitabullah, akan sulit terwujud kemakmuran yang sebenarnya. Suatu masalah seringkali timbul karena suatu kaum tidak mengikuti penjelasan kitabullah atau justru menghambatnya. Manakala terjadi masalah, kaum demikian seringkali kemudian menebak masalah mereka berdasarkan prasangka atau rekaan-rekaan pikiran tanpa melihat akar masalah menurut kitabullah. Rekaan pikiran demikian bisa saja justru menjadi jerat prasangka atas mereka dalam mengenali kehendak Allah tetapi dipandang sebagai kehendak Allah, sedangkan prasangka itu tidak menolong mereka untuk mengenali jalan yang dikehendaki Allah. Kaum demikian dapat berjalan berputar-putar dalam waham sendiri yang dipandang baik tanpa kemampuan mengenali masalah yang sebenarnya terjadi dan tidak mengetahui jalan yang disediakan Allah bagi masalah tersebut. Orang beriman hendaknya tidak terus-menerus hanya mengikuti prasangka dengan mencari pengetahuan tentang keadaan mereka dari kitabullah. Bila mereka mau membaca tuntunan kitabullah yang disampaikan, mereka akan melihat secercah jalan untuk mengenal kehendak Allah. Bila terus mengikuti tuntunan kitabullah secara jujur, mereka akan mengenali kehendak Allah dengan utuh.

Tidak ada keburukan pada langkah orang-orang yang berusaha mengikuti tuntunan kitabullah. Kadangkala seseorang berbuat salah meskipun mengikuti kitabullah, dan sebaliknya dapat berbuat benar tanpa mengetahui landasan dari kitabullah. Salah ataupun benar suatu langkah yang diambil, bila seseorang berusaha untuk mengikuti tuntunan kitabullah ia akan mempunyai hujjah atas kesalahan atau kebenaran yang dilakukannya, dan tanggungannya hanya berupa hawa nafsunya. Bila langkah yang benar dilakukan tanpa landasan pengetahuan kitabullah, kebenaran yang dilakukan itu mungkin hanya berbobot ringan di sisi Allah. Tanggung jawab manusia atas suatu perbuatan tidak hanya ditimbang berdasar benar dan salahnya. Manakala seseorang menentukan sesuatu perbuatan yang harus dilakukan dengan meninggalkan tuntunan kitabullah yang disampaikan, perbuatannya itu akan menjadi pertanyaan yang berat di sisi Allah.

Untuk mengikuti kitabullah, perkataan orang yang mengenal penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang suatu ayat kitabullah akan sangat membantu suatu kaum untuk memahami kandungan kitabullah. Secara khusus penjelasan dan petunjuk itu terutama yang terkait kitabullah, bukan petunjuk dalam bentuk bebas. Penjelasan dan petunjuk yang terkait kitabullah itu kemungkinan besar diturunkan Allah dari sisi-Nya, tidak diturunkan hanya dari suatu alam langit yang derajat kebenarannya belum dapat ditentukan. Boleh jadi orang yang menerima penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang ayat kitabullah demikian tidak benar-benar mengetahui keadaan bumi kecuali sekadar yang diberitakan kepadanya, tetapi penjelasan dan petunjuk itu bisa dijadikan visi pedoman arah bagi setiap orang untuk mengarahkan langkah bersama karena berita itu ada dalam kitabullah dari sisi Allah. Apa yang merusak langkah menuju pedoman itu merupakan kesesatan.

Penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang kitabullah kepada seorang hamba membawa amanah yang harus ditunaikan. Hal itu harus ditunaikan. Tetapi kadangkala seseorang yang memperoleh penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah tentang suatu ayat kitabullah tidak serta merta harus bertugas setelah turunnya penjelasan dan petunjuk itu. Misalnya bila seseorang diberi amanah sebagai pemimpin negara, mungkin saja ia akan diperintahkan melaksanakan amanahnya hanya setelah mi’rajnya atau terpenuhi kondisi-kondisi lainnya. Ia mungkin mengetahui hak dan kewajibannya sebagai pemimpin negara, tetapi hak dan kewajiban itu belum melekat kepada dirinya. Kemampuan untuk melaksanakan tugas itu mungkin juga tidak diberikan. Tetapi bukan berarti ia boleh menganggur selama masa tunggunya menjalankan amanah. Ia harus beramal shalih dengan berdasarkan penjelasan dan petunjuk yang diberikan kepadanya, tanpa perlu bersikap mengharap datangnya kedudukan atau amanahnya. Demikian pula masyarakat hendaknya tidak mengabaikan perkataannya dalam urusan penjelasan dan petunjuk. Keilmuannya tentang bernegara harus diserukan kepada orang lain agar terbentuk baldatun thayibah wa rabbun ghafur sebagaimana yang dikehendaki Allah. Ia hendaknya melakukan amal shalih tanpa bertujuan mencapai kedudukan sebagai kepala negara dengan usahanya, tetapi bertujuan agar manusia dapat memahami kehendak Allah dalam urusan bernegara, sedangkan ia tidak perlu mengingat kedudukan yang dijanjikan baginya cukup beramal untuk kebaikan bagi semua.

Usaha menyeru manusia untuk melaksanakan urusan Allah hanya dapat dilakukan dengan baik secara berjamaah, karena setiap manusia hanya merupakan pelaksana suatu bagian dari urusan Allah yang sangat besar. Titik tumbuh keberjamaahan itu terletak pada pernikahan. Manakala seseorang tidak membentuk keluarganya untuk memahami dan melaksanakan kehendak Allah, ia tidak akan dapat terhubung dengan umatnya dalam urusan Allah. Kadangkala syaitan merusak keluarga untuk memutuskan hubungan keberjamaahan seseorang. Hal ini akan memutuskan seorang laki-laki shalih untuk terhubung kepada umatnya. Walaupun mungkin ia tetap dapat terhubung dengan para washilahnya hingga kepada Rasulullah SAW, ia tidak dapat terhubung dengan umatnya. Dampak dari terputusnya hubungan keberjamaahan pada titik tumbuh ini sangat besar terhadap keadaan masyarakat. Masyarakat akan mengalami kerugian yang sangat besar manakala titik kritis ini rusak. Dampak buruk ini tetap menimpa walaupun manakala seseorang belum mendapatkan mandat untuk melaksanakan amanah. Bagi orangnya, ia mungkin kehilangan salah satu kesempatan membentuk bayt untuk meninggikan dan mendzikirkan asma Allah.

Manakala suatu penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat Allah dipatuhi oleh hanya segelintir manusia, pemakmuran yang akan terjadi hanya sedikit atau kadang-kadang hanya berada pada tataran wacana pemakmuran tanpa ada realisasi pemakmuran. Masyarakat luas sebenarnya akan terjebak pada masalah kemasyarakatan tanpa suatu pengetahuan tentang langkah yang baik untuk mentas dari masalah mereka. Hal ini merupakan suatu ketentuan manakala suatu kebenaran diabaikan maka masalah akan muncul menjerat manusia. Hal ini merupakan bayangan dari ketentuan manakala suatu penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait ayat kitabullah disembunyikan maka laknat Allah akan menimpa orang-orang yang menyembunyikannya. Pemakmuran akan terjadi manakala umat manusia mengikuti penjelasan dan petunjuk yang diturunkan Allah terkait dengan ayat kitabullah.